Artikelilmiahs

Menampilkan 13.441-13.460 dari 49.635 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1344116772A1L012192Pertumbuhan Bibit Cabai (Capsicum frustescens L.) Varietas Dewata F1 Setelah Direndam dan Disiram Larutan Kitosan.Cabai merupakan salah satu komoditi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan bibit cabai Varietas Dewata F1 yang diberi berbagai konsentrasi larutan kitosan. Penelitian dilaksanakan di lahan Perumahan Griya Limas Permai Purwokerto Utara, Kecamatan Banyumas dengan ketinggian tempat ±110 mdpl, pada bulan April-Juni 2016. Penelitian ini merupakan percobaan di pot dengan rancangan acak kelompok dengan ulangan sebanyak 10 kali. Perlakuan terdiri atas 0 ppm, 2,5 ppm, 5 ppm, 7,5 ppm dan 10 ppm larutan kitosan. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun, panjang daun, dan luas daun. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa bibit yang sebelumnya benihnya direndam dan setelah tumbuh disiram dengan larutan kitosan 7,5 ppm memiliki jumlah daun yang lebih banyak dan daun yang lebih lebar daripada bahwa bibit yang sebelum benihnya direndam dan setelah tumbuh disiram air. Chili is one of commodities needed by people. This study aimed to study growth of chili seedlings, Dewata F1 variety, treated by soaking and pouring with levels of chitosan solutions. Research conducted in the yard of Griya Permai Limas, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas. leaf area,The altitude ± 110 meters above sea level, in April-June 2016. This was a pot experiment arrange in Completely Randomized Block Design with 10 replications. Treatments were 0 ppm, 2.5 ppm, 5 ppm, 7.5 ppm and 10 ppm chitosan solution. Variabel observed were plant height, leaf number, leaf width, leaf length, and leaf area. Result showed that seedlings that the seeds were soaked and the seedlings were poured with 7.5 ppm chitosan solution have higher number of leaves and higher leaf width than that of seedlings that the seeds were soaked and the seedlings were poured with water.
1344216789A1L012036UJI EFEKTIVITAS BIO T10, BIO P60 SERTA FUNGISIDA TERHADAP PENYAKIT BULAI PADA TANAMAN JAGUNG VARIETAS B18Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan Bio T10, Bio P60, dan fungisida dalam mengendalikan penyakit bulai serta terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto dan lahan jagung di Desa Toyareja, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga mulai Januari sampai Juni 2016. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 11 perlakuan dan 3 ulangan, terdiri atas kontrol, perlakuan benih dan penyemprotan Bio P60, perlakuan benih dan penyemprotan Bio T10, penyemprotan Bio P60, penyemprotan Bio T10, perlakuan benih fenamidon dan penyemprotan Bio P60, perlakuan benih fenamidon dan penyemprotan Bio T10, perlakuan benih dan penyemprotan fenamidon, penyemprotan fenamidon, perlakuan benih dimetomorph dan metalaxyl-M. Variabel pengamatan meliputi masa inkubasi, intensitas penyakit, tingkat keparahan penyakit, laju infeksi, masa perkecambahan, tinggi tanaman, jumlah daun, masa berbunga bunga jantan dan bunga betina, jumlah tongkol pertanaman, bobot basah dan kering tongkol, jumlah baris per tongkol dan panjang tongkol. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan benih dan penyemprotan Bio P60 dan Bio T10 efektif menunda masa inkubasi masing-masing sebesar 36,56% dan 40,02% dibanding kontrol. Perlakuan benih dan penyemprotan Bio P60 efektif terhadap masa perkecambahan, tinggi tanaman, dan jumlah daun masing-masing sebesar 53,91%, 9,29%, dan 12,79% dibanding kontrol. Perlakuan penyemprotan Bio T10 efektif terhadap intensitas penyakit bulai dan masa berbunga jantan dan betina masing-masing sebesar 32,35%, 3,98% dan 4,45% dibanding kontrol.This research aimed to determine the effectiveness of Bio T10, P60 Bio, and fungicides in controlling downy mildew and the growth of the corn as well as the yield. This research was conducted at the Laboratory of Plant Protection, Faculty of Agriculture, Jendral Soedirman University, Purwokerto, and corn fields in Toyareja Village, Purbalingga subdistrict, Purbalingga, from January to June 2016. This research used a randomized block design with 11 treatments and three replications, which consist of control, seed treatment and foliar application Bio P60, seed treatment and foliar application Bio T10, foliar application Bio P60, foliar application Bio T10, a seed treatment fungicide fenamidon and foliar application Bio P60, a seed treatment fungicide fenamidon and foliar application Bio T10, seed treatment and foliar application fungicide fenamidon, foliar application of fungicide fenamidon, seed treatment of dimetomorph fungicide and metalaxyl-M fungicide. The observed variables are the incubation period, the intensity of the disease, severity of disease, infection rate, the period of germination, plant height, number of leaves, the flowering period of male flowers and female flowers, cobs amount per plant, weight of fresh and dry cob, the number of rows per cob and the length of the cob. The result showed that the seed treatment and foliar application of Bio P60 and Bio T10 effectively able to delay the incubation period respectively by 36.56 dan 40.02% compared to control. Seed treatment and foliar application of Bio P60 effectively acelerate the period of germination, plant height, and the number of leaves respectively by 53.91%, 9.29%, 12.79% compared to control. Foliar application treatment of Bio T10 effectively influencing the intensity of downy mildew and accelerating the male and female flowering period respectively by 32.35%, 3.98% and 4.45% compared to control.
1344316775H1D009032ANALISIS PERKUATAN LERENG UNTUK MENCEGAH KELONGSORAN RUAS JALAN GUNUNG TUGEL BANYUMASGunung Tugel merupakan salah satu jalan alternatif bagi warga Purwokerto dan Banyumas menuju Cilacap atau Bandung. Gunung Tugel berada di desa Kedungrandu, Purwokerto Selatan, kabupaten Banyumas. Daerah ini merupakan salah satu kawasan longsor yang terjadi di Banyumas. Jalan menikung yang ambles tersebut sekitar 35m-50m dengan kedalaman sekitar 20cm-80cm dan lebar retakan berkisar 10cm-15cm (Bina Marga, 2014). Longsoran di jalan Gunung Tugel merupakan jenis gerakan tanah nendatan yang bertingkat (multiple successive landslide). Longsoran ini terjadi pada lingkungan kondisi tanah lunak karena penjenuhan air yang tinggi. kondisi tersebut biasanya terjadi pada waktu musim hujan atau setelah hujan lebat (Sumarwoto, 2015).
Untuk mencegah kelongsoran terjadi lagi, Bina Marga (2014) sudah pernah melakukan konstruksi perkuatan Dinding Penahan Tanah dengan jenis pondasi tiang pancang dengan dimensi 25cm x 25cm dan kedalaman 6m, serta jarak tiap tiang pancang adalah 0,5m dan 1,5m. Jenis pondasi tiang pancang dipakai karena letak tanah keras berada pada kedalaman lebih dari 8m. Jarak dan kedalaman tiap pancang masih belum sesuai karena masih terjadi kelongsoran di lokasi. Penelitian ini bertujuan menentukan perkuatan lereng yang sesuai untuk ruas jalan Gunung Tugel. Untuk menentukannya digunakan metode keseimbangan batas dengan menggunakan perkuatan Dinding Penahan Tanah. Analisis yang digunakan yaitu mencari stabilitas lereng meliputi stabilitas guling, stabilitas geser, dan stabilitas daya dukung tanah.
Tugel of mount is an alternative way for Banyumas and Purwokerto residents if they want to go to Cilacap and Bandung. The location of Tugel of mount is in the village of Kedungrandu, South of Purwokerto, Banyumas. This area is one of the risky area because landslides often occur in this area. The winding road disappears around 35m-50m with a depth of about 20cm-80cm and width of cracks ranges from 10cm-15cm (Bina Marga, 2014). Landslide in Mount Tugel road is a kind of ground motion (multiple successive landslide). The landslide occurs on soft soil environment due to high water saturation. The condition usually occurs during the rainy season or after a heavy rain (Sumarwoto, 2015).
To prevent landslide occurs again, Bina Marga (2014) has ever founded a kind of construction to strengthen Retaining Walls with the kind of foundation using piles with dimensions of 25cm x 25cm and a depth of 6 m, and the space of each pile is 0.5m and 1.5m. This pile type for the foundation is used because the location of the hard ground is at a depth of more than 8m. Spacing and depth of each piles is still not appropriate because landslides often occur again at the site. The aim of this study is to determine the appropriate slope reinforcement for Tugel mountain roads. To determine the limit equilibrium method is used by using reinforcement Retaining Walls. The analysis of this study is to look for slope stability includes bolsters stability, shear stability, and the stability of the soil bearing capacity.
1344416774C1A012111Analisis Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Pendapatan Antar Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa BaratPenelitian ini berjudul “Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Pendapatan Antar Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ketimpangan pendapatan yang sedang berlangsung di Jawa Barat, untuk mengetahui hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan distribusi pendapatan antar kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat tahun 2005-2014, dan mengetahui apakah Hipotesis Kuznets berlaku di Indonesia selama periode penelitian. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder menggunakan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2010, pertumbuhan ekonomi, dan jumlah penduduk tahun 2005-2014. Data diperoleh dari BPS Provinsi Jawa Barat serta Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat. Alat analisis yang digunakan adalah perhitungan indeks Williamson, Indeks Entropi Theil, analisis kolerasi produk momen dari Pearson, dan analisis trend.
Berdasarkan hasil perhitungan Indeks Williamson dan Indeks Entropi Theil ketimpangan pendapatan antar kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat termasuk kedalam ketimpangan tinggi. Berdasarkan analisis Trend ketimpangan pendapatan menunjukan trend yang menaik. Hipotesis Kuznets (Kurva Uterbalik)terbukti tidak berlaku di Indonesia selama 2004 sampai dengan 2014, dan justrumenunjukkan ketimpangan yang semakin tinggi.
Implikasi dari penelitian ini adalah Dalam mengurangi tingkat ketimpangan yang tinggi salah satunya adalah melalui kebijakan yang dapat ditempuh oleh pemerintah daerah yaitu dalam perencanaan pembangunan daerah agar diprioritaskan bagi daerah-daerah yang relatif tertinggal dengan tidak melupakan daerah yang lain, maka perlu dilakukan upaya dalam mendorong dan mengembangkan daerah-daerah tertinggal agar dapat tumbuh dan berkembang mengejar ketertinggalan pembangunan dengan daerah lain, pemanfaatan sumberdaya-sumberdaya yang ada secara optimal.Untuk lebih mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan pemerataan distribusi pendapatan perlu dilakukan kebijakan-kebijakan pemerintah daerah yang dapat menerapkan pusat-pusat pertumbuhan baru selain pusat kota, sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi daerah lainnya yang terkena imbas karena adanya pusat pertumbuhan ekonomi yang baru. Pemerintah Provinsi Jawa Barat lebih memperhatikan potensi yang dimiliki tiap kabupaten/kota tentunya berbeda satu sama lain, potensi yang sudah optimal harus dikembangkan lagi sehingga tercipta produk-produk unggulan daerah dengan harapan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Kata kunci : Ketimpangan Pendapatan, Pertumbuhan Ekonomi, Hipotesis Kuznets
This research entitled “Economic Growth and Inter Regency Income Disparitiy in West Java Province Year 2005-2014”. The aim of this research is to find out the coleration betwen economic growth and inter regency income disparity in West Java Province year 2005-2014. This research is analysis of secondary data, using GDRP Based on constant price 2010, economic growth, and total population year 2005-2014. Data obtional from SCA of West Java Province and also the Local Goverment. Analysis model used is Williamson Index and Entropi Theil Index Calculation, Product Moment Colerration Analysis by Pearson, and Trend analysis.
Based on Calculation of Williamson Index and Entropi Theil Index inter regency income disparity in West Java Province considered in high disparity with the average of Williamson Index by 0,628and Entropi Theil Index by 1,421. Based on Trand analysis disparity income show increasing trand. The Kuznets Hypothesis (U-inverted curve) proved to be not applicable in West Java Province during 2005 to 2014, and it shows that inequality is getting worse.
The implication of this research isto reducing the high level of Disparity income is through policies that could be pursued by local goverments in local development plan that
Prior for underdeveloped area by not forgetting the other areas, need to encourage and develop efforts in underdeveloped area to growing development chatch up with other areas, the use resources that is optimally.
To encourge economic growth increase equity the income distribution needs to be conduxted local goverment pollicies that can apply new growth centers in addition to the city center, so that encouraged regional economic growth other because of economic growth centers new economy. The goverment of West Java Province pay more attention to potentials owned every districts certainly different from one another, the potential which already optimal must be developed again so as to create superior products regions with the hope of improving quality of human resources.


Keywords: Income Disparity, Economic Growth, Kuznets Hypothesis.
1344516777E1A112001KEABSAHAN KEPUTUSAN TATA USAHA NEGARA DITINJAU DARI SEGI KEWENANGAN DAN SUBSTANSI
(STUDI PUTUSAN PENGADILAN TATA USAHA NEGARA JAKARTA NO.185/G/2015/PTUN.JKT)
Skripsi ini berjudul : Keabsahan Keputusan Tata Usaha Negara Ditinjau Dari Segi Kewenangan Dan Substansi (Studi Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta No.185/G/2015/PTUN.JKT) Penelitian ini akan menguraikan keabsahan Keputusan Tata Usaha Negara ditinjau dari aspek wewenang, substansi dan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik, serta bagaimana pertimbangan hukum hakim dalam menentukan kebsahan surat keputusan objek sengketa tersebut.
Tergugat dalam perkara a-quo adalah Kepala Badan Kepegawaian Daerah Provinsi DKI Jakarta, dan objek gugatannya yakni Surat Badan Kepegawaian Daerah Provinsi DKI Jakarta Tahun 2015 Tentang Perincian Kelebihan Gaji Utam Rustam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Yuridis Normatif dengan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan konseptual.
Majelis Hakim berpendapat bahwa Tergugat dalam mengeluarkan Surat Keputusan Objek Sengketa tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik, dimana sebenarnya dari segi kewenangan dan substansi penerbitan Surat Keputusan objek sengketa oleh Tergugat telah bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik terutama asas kepastian hukum, dan asas profesionalitas.
Akibat hukum dikabulkannya gugatan penggugat yakni Surat Keputusan objek sengketa batal, Tergugat berkewajiban mencabut Surat Keputusan objek sengketa.


This thesis is entitled: The validity of an administrative decision Seen From Authority And Substance (Study Decision Jakarta State Administrative Court 185/G/2015/PTUN.JKT) This study will describe the validity of an administrative decision from the aspect of authority, substance and Principles General Good Governance, as well as how to judge the legal considerations in determining the decree validity objects such disputes.
Defendants in this case is Head of the Regional Employment Agency of Jakarta, and the object of his complaint that the Regional Employment Board Letter Jakarta 2015 About Excess Salary Details Utam Rustam. The method used in this research is normative juridical approach used is the approach of legislation, case approach, and conceptual approaches.
The judges found the Defendant in issuing the Decree Objects Dispute not in accordance with the legislation in force and Principles of Public Good Governance, which is actually in terms of authority and substance of the issuance of the Decree of the object of dispute by the Defendant was contrary to legislation and General principles of Good Governance, especially the principle of legal certainty, and the principle of professionalism.
As a result of the law granting plaintiff object of the cancellation of administrative decission, the Defendant is obliged to revoke the administration decission that has been the object of the lawsuit.

1344616779A1L012201PEMANFAATAN CITRA SATELIT MODERATE RESOLUTION IMAGING SPECTRORADIOMETER (MODIS) UNTUK DETEKSI ZONASI BANJIR PADA LAHAN SAWAH DI EKS KARESIDENAN PEKALONGANPenelitian bertujuan untuk mengetahui luas lahan sawah yang terdeteksi banjir secara temporal periode 8 harian, Januari – Februari 2015, dan Januari - Februari 2016, mengetahui tingkat kesesuaian data penginderaan jauh dengan data lapangan, dan mengetahui pengaruh banjir terhadap luas panen dan produksi padi untuk periode Januari dan Februari 2016 berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan Badan Ketahanan Pangan Propinsi Jawa Tengah. Penelitian dilaksanakan di Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional yang dilaksanakan selama 4 bulan, mulai Februari sampai Mei 2016, dengan daerah kajian eks Karesidenan Pekalongan. Data yang digunakan adalah data Terra MODIS dan TRMM Januari – Februari 2015 dan Januari – Februari 2016 periode 8 harian, peta luas sawah dan peta administrasi. Variabel yang diamati meliputi pengolahan citra, komposit warna, curah hujan, luas lahan sawah, dan ancaman banjir.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di wilayah eks Karesidenan Pekalongan pada Januari 2015 terjadi 1 hingga 3 kali banjir seluas 10.212,5 Ha, 84.356,25 Ha, dan 39.856,25 Ha. Januari 2016 terjadi 1 kali banjir seluas 22.593,75 Ha. Februari 2015 terjadi 1 hingga 2 kali banjir seluas 55.556,25 Ha dan 1.112,5 Ha. Februari 2016 terjadi 1 hingga 3 kali banjir dengan luas 8.818 Ha, 45.675 Ha dan 69.050 Ha. Tingkat kesesuaian hasil pengolahan dan validasi lapangan sebesar 60 % dengan metode wawancara dengan petani 3 titik di setiap Kabupaten wilayah eks Karesidenan Pekalongan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah produksi padi di wilayah eks Karesidenan Pekalongan mengalami hasil yang tidak stabil semenjak 3 tahun terakhir dari tahun 2013, 2014 dan 2015, sedangkan tahun 2016 masih dalam tahap prediksi. Data Badan Ketahanan Pangan (BKP) menunjukkan penurunan luas panen dari luas areal tanam pada Januari dan Februari 2016 hal tersebut dapat diakibatkan karena jumlah luas lahan sawah yang mengalami banjir mengalami peningkatan, sehingga dapat mengakibatkan gagal panen dan menurunnya jumlah produksi padi
Kata kunci: Terra Modis, TRMM, Zonasi banjir, Penginderaan Jauh
The research aims to determine the area of paddy fields were detected flood temporal period of 8 daily, January-February 2015 and January-February 2016 knows concordance rate of remote sensing data with field data, and determine the effect of flooding on harvested area and production of rice for January and in February 2016 based on data from the Central Statistics Agency and the Food Security Central Java Province. The experiment was conducted at the Center for Remote Sensing Utilization National Institute of Aeronautics and Space held for 4 months, from February to May 2016, with the former residency of Pekalongan study areas. The data used is data Terra MODIS and TRMM January-February 2015 and January-February 8, 2016 period daily, rice area maps and administrative maps. The observed variables include image processing, color composite, rainfall, wetland area, and the threat of flooding.
The results showed that in the former residency of Pekalongan in January 2015 occurred 1 to 3 times a flooded area of 10.212,5 Ha, Ha 84.356,25 and 39.856,25 Ha. January 2016 happened 1 time flood an area of 22.593,75 hectares. February 2015 occurred 1 to 2 times a flooded area of 55.556,25 and 1.112,5 Ha. February 2016 occurred 1 to 3 times with an area of 8.818 Ha flood, 69.050 Ha, and 45.675 Ha. Suistability processing results and field validation by 60% with 3 points interviewing farmers in each district residency of Pekalongan region. Central Statistics Agency (BPS) shows the amount of rice production in the former residency of Pekalongan is the result of unstable since the last 3 years of 2013, 2014 and 2015, while 2016 is still in the stage of prediction. Data Food Security Agency (BKP) showed a decrease in harvested area of the planting area in January and February 2016 it can be caused by the amount of land area flooded rice fields has increased, thus causing crop failure and declining number of rice production.
Keywords: Terra Modis, TRMM, Rainfall, Remote Sensing.
1344716780A1L012177Pemformulaai Mikroba Antagonis dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Tanaman Tomat Varietas Betavila F1Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formula terbaik mikroba antagonis dan daya simpannya selama 8 minggu, serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman tomat. Pada uji in vitro, pemformulaan mikroba antagonis (Bacillus sp. isolat B64 dan B42, Trichoderma sp. TS1) dilakukan pada medium air beras, alginat, tepung jagung, kaldu keong, talk dan limbah tahu dan diamati kepadatannya pada minggu ke-0, 2, 4, 6, dan 8 minggu. Pada uji in planta, digunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan 4 ulangan. Faktor pertama yang diuji adalah mikroba antagonis seperti pada uji in vitro ditambah dengan tanpa mikroba sebagai kontrol. Faktor kedua yang diamati adalah medium formula seperti pada uji in vitro. Variabel yang diamati pada uji in planta yaitu bobot akar segar, panjang akar, tinggi tanaman, bobot segar tanaman, dan waktu kecambah. Hasil penelitian in vitro menunjukkan bahwa medium kaldu keong pada Bacillus sp. B64, alginat pada Bacillus sp. B42, dan Trichoderma sp. TS1 merupakan formula dengan kepadatan mikroba terbaik selama 8 minggu dengan kepadatan 2,2 x 1014;6,6 x 1013;1,2 x 109 upk/mL. Hasil uji in planta menunjukkan bahwa Trichoderma sp. TS1 mampu meningkatkan panjang akar pada minggu ke-4 dan ke-8 sebesar 13,7;36,14%, bobot akar segar di minggu ke-2, 4, dan 6 sebesar 27;33,3;61,7%, bobot segar tanaman di minggu ke-6 sebesar 18,6%, tinggi tanaman di minggu ke-4 sebesar 8,8% dan waktu kecambah di minggu kesebesar 19%. Bacillus sp. B64 mampu meningkatkan panjang akar di minggu ke-0, 2, 4, 6, dan 8 sebesar 34;19;14,9;56,9;44,5%, waktu kecambah di minggu ke-2 dan ke-6 sebesar 23,4;25,8%, tinggi tanaman dan bobot segar tanaman di minggu ke 6 sebesar 9,9;16,2%. Bacillus sp. B42 mampu meningkatkan bobot akar segar di minggu ke-4 sebesar 33,3%, panjang akar pada minggu ke-4, 6 dan 8 sebesar 19,2;29;52,9%, tinggi tanaman pada minggu ke-6 sebesar 6,5%, dan waktu kecambah di minggu ke-6 sebesar 21%. This reasearch aimed to know the best antagonistic formula with longlife for 8 weeks, and quality of tomato growth. Formulation of antagonistic microbes (Bacillus sp. isolates B64 and B42, Trichoderma sp. TS1) in in-vitro test was used rice water, alginates, cornstarch, snail broth, talk, and tofu waste. Randomized Block Design was used in in-planta test, repeated 4 times. First factor tested was antagonistic microbes like in vitro test plus no microorganism as control. Second factor tested was formula medium like in vitro test. Variabels observed were fresh root weight, root length, plant height, plant fresh weight, and germination time. Result of the reasearch indicated that Bacillus sp. B64 on snail broth medium, Bacillus sp. B42 on alginates, and Trichoderma sp. TS1 on tofu waste were the best formula with density 2,2 x 1014;6,6 x 1013;1,2 x x 109 upk/mL. From in-planta test, Trichoderma sp. TS1 increases root lenght on 4th and 8th week as 13,7;36,1%, fresh root weight on 2th, 4th, 6th week as 27;33,3;61,7%, fresh plant weight on 6th week as 18,6%, plant height on 4th week as 8,8%. Bacillus sp. B64 increases root length on 0, 2nd, 4th, 6th, and 8th week as 34;19;14,9;56,9;44,5%, germination time on 2nd and 6th week as 19,2;52,9%. Bacillus sp. B42 increases fresg root weight on 4th week as 33,3%, root length on 4th, 6th and 8th week as 19,2;29;52,9%, plant height on 6th week as 6,5%, and germination time on 6th week as 21%.
1344817137H1F012021GEOLOGI DAN PEMODELAN KEMATANGAN BATUAN INDUK PADA SUMUR KOLA-1, ASM-1, DAN OETA SELATAN-1, CEKUNGAN AKIMEUGAH, PAPUASARI

Cekungan yang berpotensi mempunyai kandungan minyak dan gas bumi yang besar pada Pulau Papua yaitu Cekungan Akimeugah, dengan sumber daya minyak bumi sebesar 22,70 BBO (Billon Barrels of Oil) dan sumber daya gas bumi sebesar 28,92 TCF (Ton Cubic Feet). Pada pemboran beberapa sumur di cekungan ini ditemukan adanya kenampakan minyak dan gas bumi. Cekungan Akimeugah terletak di wilayah Papua bagian selatan, dengan luas cekungan 37.370 km2 dengan pembagian luas daratan sebesar 22.240 km2 dan luas lautan 15.130 km2, hampir sebagian wilayah menyentuh daerah lepas pantai Laut Arafura, dengan koordinat 135° - 139,4° BT dan 5,3°- 4,3° LS. Waktu kematangan batuan induk pada Sumur Kola-1,ASM-1, dan Oeta Selatan-1 didapatkan menggunakan perhitungan TTI Lopatin juga Sweeney dan Burnham. TTI Lopatin dapat dilakukan secara manual sedangkan TTI Sweeney dan Burnham dilakukan menggunakan software Petromod. Cekungan Akimeugah berpotensi menghasilkan hidrokarbon, dengan nilai TOC pada batuan induk berkisar 0,5-3,45. Nilai kematangan batuan induknya sekitar 0,6-0,9 menunjukkan batuan induk telah mengalami pematangan. Perhitungan kematangan batuan induk dapat dilakukan menggunakan pemodelan geokimia. Pemodelan tersebut dilakukan menggunakan data geokimia pada batuan induk.


ABSTRACT


Akimeugah basin is one of basin that has a big potential of oil and gas on Papua Island, the petroleum resources of 22.70 BBO (Billon Barrels of Oil) and natural gas resources amounting to 28.92 TCF (Tonnes Cubic Feet). In the drilling of several wells in this basin found the appearance of oil and gas. Akimeugah basins located in the southern part of Papua, with an area of 37 370 km2 basin with the division of the land area of 22 240 km2 and sea area 15 130 km2, almost touching parts of the offshore area of the Arafura Sea, with coordinates 135 ° - 139.4 ° East and 5, 3 ° - 4.3 ° latitude. Source rock maturity time on Well Kola-1, ASM-1, and South Oeta-1 obtained using a calculation Lopatin’s TTI also Sweeney and Burnham. Lopatin’s TTI can be done manually while TTI Sweeney and Burnham done by using software Petromod. Akimeugah Basin potentially produce hydrocarbons, with TOC values in the host rock ranging from 0.5 to 3.45. Value maturity rocks parent about 0.6 to 0.9 show source rock has undergone maturation. Source rock maturity calculation can be performed using geochemical modeling. The modeling was performed using geochemical data on the source rock.



1344916781A1L012120Efektivitas Interval Fertigasi dan Waktu Pemberian Bahan Pembenah Tanah terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kubis Bunga di Lahan Pasir PantaiPotensi lahan pasir pantai sangat luas. Penelitian ini bertujuan 1) mengetahui pengaruh interval fertigasi yang paling efektif bagi pertumbuhan dan hasil kubis bunga di lahan pasir pantai. 2) mengetahui waktu pemberian bahan pembenah tanah yang paling efektif bagi pertumbuhan dan hasil kubis bunga di lahan pasir pantai. 3) mengetahui kombinasi interval fertigasi dan waktu pemberian bahan pembenah tanah bagi pertumbuhan dan hasil kubis bunga di lahan pasir pantai. Penelitian dilaksanakan di lahan pasir pantai Jetis, Desa Banjarsari, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap, pada bulan Mei sampai Agustus 2016. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan RAKL dengan 2 faktor, 6 perlakuan dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah interval fertigasi terdiri I0 = 7 hari sekali, I1 = 14 hari sekali, I2 = 21 hari sekali. Faktor kedua adalah waktu pemberian bahan pembenah tanah terdiri P0 = sebelum tanam (1 hari sebelum tanam), P1 = sebelum tanam (100%) dan umur 4 minggu (100%). Data dianalisis dengan cara uji F, apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan DMRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) interval fertigasi pupuk nitrogen mempengaruhi komponen pertumbuhan tanaman dengan hasil terbaik diaplikasikan 7 hari sekali yaitu pada variabel tinggi tanaman, panjang daun, luas daun, kadar kehijauan daun, bobot tanaman segar, bobot batang segar, bobot daun segar, bobot tanaman kering, bobot batang kering, bobot daun kering, hasil bunga segar (7,73 t/ha), dan hasil bunga kering (2,88 t/ha) dibanding interval 14 hari sekali maupun 21 hari sekali. (2) waktu pemberian bahan pembenah tanah hanya mempengaruhi panjang akar. Variabel panjang akar terpanjang dengan pemberian 1 kali (sebelum tanam) (28,83 cm) lebih baik dibandingkan dengan 2 kali (sebelum tanam dan 4 minggu setelah tanam) (25,01 cm) dengan selisih 15,27%. Hasil bunga segar pada aplikasi 1 kali (sebelum tanam) (6,27 t/ha) lebih baik dibanding 2 kali (sebelum dan 4 minggu setelah tanam) (5,39 t/ha) dengan selisih 16,32%. (3) interaksi interval fertigasi 21 hari sekali dengan waktu pemberian pembenah tanah 1 kali (sebelum tanam) berpengaruh nyata pada bobot akar kering dan memberikan hasil bunga segar (3,53 t/ha).Potential all the coastal sandy soil is very wide. This research aimed to know 1) the effect of fertigation interval on the growth and yield of cauliflower on coastal sandy soil. 2) the effect time of application of the soil conditioner material on the growth and yield of cauliflower on coastal sandy soil. 3) the interaction between fertigation interval with time of application of the soil conditioner material on the growth and yield of cauliflower on coastal sandy soil. The research was conducted in coastal sandy soil Jetis beach which located in Banjarsari village, Nusawungu subditricts, Cilacap regency, from May to August 2016. Experimental design used was RAKL with 2 factors, 6 treatments and 3 replications. The first factor was fertigation interval consist of: fertigation interval of 7 days (I0), 14 days (I1), and 21 days (I2). The second factor was time of application of the soil conditioner material consist of: before planting (one days before planting) (P0) and before planting (100%) and 4th week after planting (100%)(P1). Data were analyzed by F test, and continued with DMRT if significant. The results showed (1) fertigation nitrogen fertilizer interval effect plant growth component, the highest result reached by application at every 7 days an variable: plant height, leaf length, leaf area, leaf greenness levels, fresh weight of plants, fresh weight of shoot, fresh weight of leaf, dry weight of plants, dry weight of shoot, dry weight of leaf, the results of fresh flowers (7,73 t/ha) and dried flowers results (2,88 t/ha) compared to interval of 14 days or 21 days. (2) the time application of soil conditioner material only affected rooth length, the root length was variably by once application (before planting) (28,83 cm) better than twice (before and 4th weeks after planting) (25,01 cm) with a different of 15,27%. The result of fresh flowers application soil conditioner material by once application (before planting) (6,27 t/ha) better than twice (before and 4th weeks after planting) (5,93 t/ha) with a different of 16,32%. (3) the interaction of addition fertigation interval of 21 days with application time of soil conditioner material before planting was significant of the dry weight of roots and giving the results of fresh flowers (3,53 t/ha).
1345016782A1L012077PERTUMBUHAN DAN HASIL KUBIS BUNGA PADA BERBAGAI JENIS PEMBENAH TANAH DAN INTERVAL FERTIGASI DI LAHAN PASIR PANTAIPenelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui interval fertigasi yang optimum untuk pertumbuhan dan hasil tanaman kubis bunga dilahan pasir pantai, 2) mengetahui jenis pembenah tanah yang efektif untuk pertumbuhan dan hasil tanaman kubis bunga dilahan pasir pantai, 3) mengetahui kombinasi interval fertigasi dan jenis pembenah tanah yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kubis bunga di lahan pasir pantai. Penelitian dilaksanakan di lahan pasir pantai Jetis, Desa Banjarsari, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap, dari Mei sampai Agustus 2016. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 12 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu interval fertigasi: 7 hari, 14 hari, 21 hari dan jenis pembenah tanah: tanpa pembenah, tanah lempung, pupuk kandang, campuran pupuk kandang dan lempung. Data dianalisis dengan uji F dilanjutkan dengan DMRT 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interval fertigasi 7 hari memberikan hasil terbaik pada tinggi tanaman, panjang daun, luas daun kadar kehijauan daun, volume akar, bobot akr segar, bobot akar kering, bobot batang segar, bobot batang kering, bobot daun segar, bobot daun kering, bobot tanaman segar, bobot tanaman kering, hasil bunga segar (6,84 t/ha), hasil bunga kering dan diameter bunga. Pembenah tanah campuran antara lempung dan pupuk kandang memberikan hasil terbaik pada kadar kehijauan daun, bobot batang segar, bobot batang kering, bobot tanaman segar dan bobot tanaman kering. Pembenah tanah campuran menghasilkan bunga segar 5,93 t/ha. Tidak ada interaksi yang terjadi antara perlakuan interval fertigasi dengan perlakuan jenis pembenah tanah. This research aimed to know 1) the optimum interval fertigation for growth and yield of cauliflower in coastal sandy land, 2) determine the effect of soil conditioner types on the growth and yield of cauliflower in coastal sandy land, 3) determine the combinations of fertigation interval with soil conditioner types that can increase growth and yield of cauliflower in coastal sandy land. This research was conducted at Jetis coastal sandy land, Banjarsari village, Nusawungu subdistricts, Cilacap regency, from May to August 2016. This research used Completed Randomised Block Design with 12 treatments and 3 replications. The treatments included fertigation interval consisted of three levels 7, 14, 21 days and soil conditioner consisted of for levels control, clay soil, manure, mixed of manure wih clay. Data were analyzed by F test, then tested further by DMRT 5%. The result showed that 7 days fertigation interval gave a better result in plant height, leaf length, leaf area, leaf greenness levels, root volume, root fresh weight, root dry weight, stem fresh weight, stem dry weight, leaf fresh weight, leaf dry weight, plant fresh weight, plant dry weight, the yield of fresh flower (6,84 t/ha), dried flower yield, and flower diameter. The mixed of manure with clay show a better result in leaf greenness levels, stem fresh weight, stem dry weight, leaf fresh weight, plant fresh weight, and plant dry weight. The mixed soil conditioner material resulted 5,93 t/ha fresh flower. There was no interactions between fertigation interval with types of soil conditioner.
1345116783H1B012051Kuasa dan Ukuran serta Aplikasinya pada Model Regresi Multivariat SederhanaPenelitian ini membahas tentang kuasa dan ukuran untuk distribusi Gamma dan Eksponensial. Hipotesis yang digunakan adalah hipotesis dua arah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kuasa dan ukuran distribusi Gamma dipengaruhi oleh parameter bentuk, yaitu jika parameter bentuk semakin besar maka nilai kuasa dan ukuran semakin menurun, dan ketika nilai parameter bentuk semakin kecil maka nilai kuasa dan ukuran distribusi Gamma semakin meningkat. Kuasa dan ukuran distribusi Gamma juga dipengaruhi oleh batas atas integral, yaitu jika batas atas integral semakin besar maka nilai kuasa dan ukuran semakin meningkat, dan jika batas atas integral semakin kecil maka nilai kuasa dan ukuran semakin menurun. Pada distribusi Eksponensial juga dipengaruhi oleh batas atas integral. Pada aplikasi, kuasa dan ukuran untuk data bangkitan dan data riil sulit digunakan sebagai kesimpulan pada keduanya.This study discussed the power and size of the Gamma and Exponential distribution. The hypothesis is two side hypothesis. The results showed that the power and size of the Gamma distribution is affected by the shape of parameter. Here, if the shape of parameter increases then the power and size decreases, and the power and size of the Gamma distribution is increases when the shape parameter decreases. The power and size of the Gamma distribution is also influenced by upper limit integral, if upper limit integral is increased then the power and size increases, and the power and size of the Gamma distribution is decreases when the upper limit integral decreases. Similarly, the Exponential distribution is influenced by upper limit integral. In the application, the power and size for generate and real data is difficult to be used as conclusion in both.
1345216786E1A012178PENANGGULANGAN TERHADAP PENYALAHGUNAAN MINUMAN KERAS OPLOSAN OLEH POLRES SLEMANABSTRAK

Minuman keras oplosan merupakan minuman yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan penyalahgunaannya menjadi kekhawatiran tersendiri di masyarakat khususnya Kabupaten Sleman. Minuman keras oplosan yang selain dikonsumsi secara berlebihan juga dicampur dengan zat-zat kimia yang mematikan yang seharusnya tidak diperuntukkan untuk dikonsumsi manusia. Istilah kata “oplosan” mempunyai arti “campuran”. Dimana miras oplosan tersebut merupakan minuman keras yang terdiri dari berbagai campuran, diantaranya dioplos dengan alkohol industri (metanol) maupun dengan obat herbal seperti obat kuat atau suplemen kesehatan dan miras oplosan biasanya dibuat dan dijual secara ilegal.
Pemerintah Kabupaten Sleman telah membuat peraturan untuk meminimalisir dan diharapan dapat mengatasi masalah miras oplosan ini. Aparat penegak hukum polres sleman dalam melakukan penanganan penyalahgunaan miras oplosan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 8 Tahun 2007 Tentang Pelarangan Pengedaran, Penjualan Dan Penggunaan Minuman Beralkohol dan Perda Daerah Istimewa yogyakarta Nomor 12 Tahun 2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol serta Pelarangan Minuman Oplosan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang upaya penanggulangan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum Polres Sleman dalam penanggulangan penyalahgunaan minuman keras oplosan di wilayah hukum Polres Sleman dan hambatan apa yang di hadapi Polres Sleman dalam menanggulanginya. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis sosiologis dengan melakukan penelitian di lapangan dan penelitian secara deskriptif analitis dengan mendeskripsikan data primer dan data sekunder dikaitkan dengan teori hukum.
Hasil penelitian adalah penanggulangan penyalahgunaan minuman keras oleh Polres Sleman dilakukan dengan upaya penal dan upaya non penal. Upaya penal yaitu dengan cara represif dengan penindakan dengan proses hukum yaitu menerapkan Peraturan Daerah tentang minuman keras dan minuman keras oplosan terhadap pelanggaran penyalahgunaan miras. Upaya non penal yaitu dengan cara preventif, dilakukan dengan mengadakan penyuluhan-penyuluhan dan sosialisasi tentang Perda miras dan mengenai bahaya minuman keras oplosan kepada masyarakat terutama generasi muda, kemudian melakukan razia atau operasi simpatik.
Kendala yang di hadapi oleh Polres Sleman dalam penanggulangannya adalah dari faktor hukumnya yang kurang tegas dan sanksinya ringan, faktor penegak hukum yang jumlah personilnya kurang dan kurangnya koordinasi di lapangan; faktor sarana dan prasarana dimana adanya hambatan pembiayaan dalam penyidikan. Faktor masyarakat yang belum mendukung Perda Minuman Keras yaitu dengan tidak memberikan informasi/laporan mengenai adanya kegiatan penyalahgunaan minuman beralkohol dan minuman oplosan; Faktor kebudayaan yaitu kebiasaan masyarakat meminum miras dalam acara tertentu.

Kata Kunci : Miras, Miras Oplosan, Preventif, Represif
alcohol oplosan is a drink that is very dangerous for health and the abuse became its own concerns in the community, especially Sleman. Oplosan that besides liquor consumed in excess is also mixed with chemicals that turn off that should not destined for human consumption. The term word "oplosan" has the meaning "mixed". Where oplosan alcohol is a liquor consisting of various mixtures, including mixed with industrial alcohol (methanol) and with medicinal herbs such powerful drugs or health supplements and oplosan alcohol usually made and sold illegally.
Sleman District Government has made regulations to minimize, and is expected to overcome this problem oplosan alcohol. Police law enforcement officials in handling abuse sleman oplosan alcohol based Sleman District Regulation No. 8 of 2007 on the Prohibition of Distribution, Sales and Use of Alcohol and Daerah Istimewa Yogyakarta Regulation No. 12 of 2015 on Control and Supervision of Alcoholic Beverages and Beverage Oplosan Prohibition.
This study aims to find out about the relief effort carried out by law enforcement officials in the Sleman district police abuse prevention adulterated liquor in the jurisdiction of police station and what barriers Sleman in Sleman district police face in overcoming it. This study uses a sociological juridical approach by conducting research in the field of analytical and descriptive research by describing the primary data and secondary data associated with the theory of law.
The research result is prevention of abuse of liquor by the Sleman district police conducted with the efforts of the penal and non-penal efforts. Efforts by way of penal repression with repression by the legal process that is implementing the Provincial Regulation on alcohol and alcohol oplosan against violations of alcohol abuse. Efforts by way of non penal preventive, done by conducting counseling and socialization of the regulation of alcohol and the dangers of adulterated liquor to the public especially the younger generation, then to raid or operation sympathetic.
Constraints faced by the Sleman district police in tackling legal factors are of less assertive and mild sanctions, factors that the number of law enforcement personnel are lacking and the lack of coordination in the field; factor where their infrastructure financing constraints in the investigation. Community factors are contributing Liquor Regulation, namely by not providing information / reports of abuse activities adulterated alcoholic drinks and beverages; Cultural factors are alcohol drinking habits of the people in a particular event.

Keywords: Alcohol, Alcohol Oplosan, Preventive, Repressive
1345316787E1A112103POLIGAMI
(Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Pengadilan Agama Cilacap Nomor : 4470/Pdt.G/2015/PA.Clp)
Poligami adalah perkawinan seorang suami dengan lebih dari seorang isteri. Melaksanakan poligami tidak semudah yang dibayangkan, karena harus memenuhi persyaratan, diantaranya adalah syarat alternatif dan syarat kumulatif. Hakim dalam memberikan permohonan izin poligami seharusnya lebih hati-hati dalam mengabulkan izin Pemohon poligami terutama dalam mengkualifikasi fakta-fakta, karena harus jeli dalam melihat terpenuhi atau tidaknya syarat-syarat tersebut, seperti yang terdapat pada Putusan Pengadilan Agama Cilacap Nomor : 4470/Pdt.G/2015/PA.Clp. yang penulis teliti. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertimbangan hukum hakim dalam mengabulkan izin poligami.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan yuridis normatif, spesifikasi penelitian dengan menggunakan deskriptif analitis, sumber data yang digunakan data sekunder, metode pengumpulan data dengan kepustakaan dan inventarisasi data, dan metode analisis dengan menggunakan normatif kualitatif.
Kesimpulan peneliti, dari hasil penelitian menunjukan bahwa pertimbangan hukum yang dipakai oleh Hakim Pengadilan Agama Cilacap dalam putusan Nomor : 4470/Pdt.G/2015/PA.Clp. dirasa kurang tepat. Hakim dalam putusannya mengacu pada syarat poligami yaitu ketentuan dalam Pasal 5 ayat(1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, dan mengesampingkan alasan poligami yaitu ketentuan dalam Pasal 4 ayat(2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.
Polygamy is a marriage of a husband with more than one wife. Implementation od polygamy is not as easy as imagined, because it must comply the requirements, including alternative requirement and cumulative requirement. The judge in giving permission for polygamy petition should have been more careful in granting the permission especially in qualifying the facts, it must be keen in seeing the requirements are completed or not, such as contained in the decision of Cilacap Religious Court Number : 4470/Pdt.G/2015/PA.Clp. that the writer researched.
The objectives of this research was to determine the legal considerations of the judges in granting the permission for polygamy. The method that used is normative juridical approach, spesifications by using description analytical research, used secondary data as data source, data collection methods with literature and data inventory, and analysis method by using qualitative normative.
The conclusion from the results of the reaserch showed that the legal reasoning used by the jugde of the Cilacap Religious Court in decision Number : 4470/Pdt.G/2015/PA.Clp. is less precise. The judge in his ruling refers to the requirement of polygamy that is provision in article 5 paragraph 1 Act No. 1 of 1974 about merriage, and rule out the polygamy reason, that is the provision in article 4 paragraph (2) Act No. 1 of 1974 about merriage.
1345416788A1H012003APLIKASI EDIBLE COATING PATI GANYONG DENGAN PEMBERIAN VARIASI SORBITOL TERHADAP BUAH PEPAYA TEROLAH MINIMAL
SELAMA PENYIMPANAN
Buah pepaya merupakan salah satu buah tropis yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan berpotensi sebagai sumber pendapatan dan mempunyai peran penting dalam ketersediaan gizi. Masalah yang sering ditemui pada buah pepaya adalah daya simpannya yang relatif singkat dan mudah rusak, karena tergolong kedalam buah klimaterik. Salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya kerusakan dan dapat bertahan lama yaitu dengan cara edible coating. Bahan baku edible coating yaitu pati dari umbi ganyong karena mengandung pati yang cukup tinggi. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah: 1) Mengetahui pengaruh variasi sorbitol sebagai plasticizer terhadap sifat fisik dan kimia buah pepaya terolah minimal dengan pemberian edible coating. 2) Mengetahui komposisi bahan edible coating yang baik untuk mempertahankan umur simpan buah pepaya terolah minimal selama penyimpanan. Metode penelitian yang digunakan adalah uji statistika dengan kinetika perubahan mutu. Buah pepaya diberikan berbagai perlakuan yaitu penyimpanan pada suhu rendah dan suhu ruang dengan konsentrasi sorbitol 0%, 1%, 1,5%, 2% dan 2,5%. Variabel yang diukur meliputi susut bobot, warna, kadar brix dan kadar air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan S2T1 (penyimpanan suhu rendah dengan konsentrasi sorbitol 2%) mampu mempertahankan susut bobot, kadar air, kecerahan (L*) dan warna merah (a+) serta perlakuan S0T1 (penyimpanan suhu rendah dengan konsentrasi sorbitol 0%) mampu mempertahankan warna kuning (b+) dan kadar brix. Secara keseluruhan perlakuan S2T1 (penyimpanan suhu rendah dengan konsentrasi sorbitol 2%) mampu mempertahankan mutu buah pepaya terolah minimal selama penyimpanan.Papaya is a tropical fruit which has high economic value that is potential as an income source and has an important role in nutrient availability. However, storability problems are often found on the fruit, which are relatively short and easy to be damaged and decayed, because papaya is classified into climateric fruits. Edible coating, as one technology, can be used to prevent the damage and decay, and makes the fruit to last for long time. The main raw material used for edible coating is canna tubers’ starch for it contains amyloses and a lot of starch. The objectives of this research were: 1) To find out the influence of sorbitol variation as plasticizer to physical and chemical properties of minimally processed papaya by applying edible coating. 2) To determine good materials composition of edible coating for maintaining the shelf life of minimally processed papaya during the storage. The researcher used statistical test with kinetics of quality changes as the methodology of the research. Papaya was given various treatments, in which the papaya was stored at low temperature and room temperature with sorbitol concentrations of 0%, 1%, 1.5%, 2% and 2.5%. The measured variables included weight loss, color, brix and water levels. The result shows that S2T1 (storage at low temperatures with sorbitol concentration of 1.5%) is able to maintain weight loss, water contents, brightness (L*), and red color (a+) then S0T1 (storage at low temperatures with sorbitol concentration of 0%) is able to maintain levels of brix and yellow color during (b+) its storage. Basically, S2T1 (storage at low temperature with sorbitol consentration of 2%) is able to maintain the quality of minimally processed papaya during the storage.
1345516784E1A012270PEMBERLAKUAN ASAS NON-RETROACTIVITY DALAM
HUKUM PERJANJIAN INTERNASIONAL
(Kajian Tentang Statute of the International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia 1993)
Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi nomor 827 tahun 1993 tentang dibentuknya International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia (ICTY) dan Statuta ICTY. Terbentuknya statuta dan pengadilan ad hoc Yugoslavia dibuat untuk mengakhiri kejahatan kemanusiaan dan mengadili pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kejahatan tersebut yang telah dilakukan sejak tahun 1991. Berlakunya Statuta ICTY menimbulkan bentuk pengecualian terhadap asas non-retroaktif dalam perjanjian internasional. Pengaturan tentang asas non-retroaktif dalam perjanjian internasional tercantum dalam Pasal 28 Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional dan Konvensi Wina 1986 tentang Perjanjian Internasional antara Negara dengan Organisasi Internasional atau antar Organisasi Internasional.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang terkumpul kemudian diolah dan dianalisa secara kualitatif dengan penyajian data teks naratif.
Rumusan Pasal 28 Konvensi Wina 1969 dan Pasal 28 Konvensi Wina 1986 pada dasarnya menghendaki suatu perjanjian internasional berlaku non-retroaktif, namun pemberlakuan retroaktif suatu perjanjian internasional dapat diberlakukan dengan suatu alasan tertentu. Konflik etnis dan pelanggaran berat terhadap Hak Asasi Manusia yang terjadi di negara-negara bekas Yugoslavia mengancam perdamaian dan keamanan internasional, sehingga Dewan Keamanan PBB membentuk pengadilan ad hoc Yugoslavia dan Statuta ICTY.
Pemberlakuan asas non-retroaktif dan retroaktif dalam perjanjian internasional dapat diberlakukan yang pada intinya atas dasar prinsip pacta sunt servanda dan prinsip free consent. Terbentuknya Statuta ICTY karena berkaitan dengan kejahatan yang dilakukan para pelaku termasuk ke dalam pelanggaran serius dan berat terhadap masalah kemanusiaan.
Kata Kunci : non-retroaktif, retroaktif, perjanjian internasional, Dewan Keamanan.
The Security Council of the United Nations has been issued a resolution number 827 on 1993 that concerning the establishment of the International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia (ICTY) and the Statute of the ICTY. The formation of ad hoc tribunals and the Statute of the Yugoslavia made to ended the crimes against humanity and to prosecute those responsible for the crimes that have been committed since 1991. The enactment of the Statute of ICTY gives rise to form exceptions to the principle of non-retroactivity in international treaties. The regulation of the non-retroactivity principle in the international agreements listed in Article 28 of the Vienna Convention1969 on the Law of Treaties and Vienna Convention 1986 on the Law of Treaties between States and International Organizations or between International Organization.
This research used normative juridical method. Data used in this research were secondary data which were qualitatively collected, processed, and analyzed while presented in narrative ways.
The formulation of Article 28 of the Vienna Convention 1969 and Article 28 of the Vienna Convention 1986 essentially wants an international treaties applicable for non-retroactivity, but enactment retroactivity effect a treaty can be eforced with a specific reason. Ethnic conflicts and violations of human rights that accourred in the countries of former Yugoslavia threaten international peace and security, so that the Security Council establish an ad hoc Tribunal Yugoslavia and the Statute of the ICTY.
The enforcement of the principle of non-retroactivity and retroactivity effect in international treaties can be enacted essentially on the basis of the principle of pacta sunt servanda and the principle of free consent. The formation of the Statute of the ICTY it concern to the perpetrators of the crimes commited fall into serious offences and heavy against the problems of humanity.

Keywords : Non-retroactivity, retroactivity, treaties, Security Council.
1345616791A1L112040Pengaruh Dua Nilai Electrical Conductivity (EC) Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tiga Varietas Bayam pada Hidroponik Sistem Rakit ApungPenelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh nilai EC terhadap pertumbuhan dan produksi tiga varietas bayam yang ditanam dengan Hidroponik sistem Rakit Apung, (2) mengetahui varietas terbaik yang ditanam dengan Hidroponik sistem Rakit Apung. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai September 2016, di screen house Pondok Pesantren Dukuh Waluh Purwokerto. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah nilai EC dengan dua taraf, yakni EC 2,0 mS cm-1 (P1), EC 4,0 mS cm-1 (P2). Faktor kedua adalah tiga varietas bayam dengan tiga taraf, yakni Maestro, (V1), Amarin (V2), Mira (V3). Variabel pengamatan: tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, warna daun, diameter batang, panjang akar, volume akar, bobot akar segar, bobot tajuk segar, dan bobot tanaman segar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan EC taraf 4,0 mS cm-1 (P2) mampu meningkatkan variabel jumlah daun, bobot tajuk segar, bobot tanaman segar, dan panjang akar tanaman dibanding perlakuan EC taraf 2,0 mS cm-1 (P1) . Varietas Maestro secara umum menunjukkan perbedaan terhadap variabel yang diamati.Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh nilai EC terhadap pertumbuhan dan produksi tiga varietas bayam yang ditanam dengan Hidroponik sistem Rakit Apung, (2) mengetahui varietas terbaik yang ditanam dengan Hidroponik sistem Rakit Apung. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai September 2016, di screen house Pondok Pesantren Dukuh Waluh Purwokerto. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah nilai EC dengan dua taraf, yakni EC 2,0 mS cm-1 (P1), EC 4,0 mS cm-1 (P2). Faktor kedua adalah tiga varietas bayam dengan tiga taraf, yakni Maestro, (V1), Amarin (V2), Mira (V3). Variabel pengamatan: tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, warna daun, diameter batang, panjang akar, volume akar, bobot akar segar, bobot tajuk segar, dan bobot tanaman segar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan EC taraf 4,0 mS cm-1 (P2) mampu meningkatkan variabel jumlah daun, bobot tajuk segar, bobot tanaman segar, dan panjang akar tanaman dibanding perlakuan EC taraf 2,0 mS cm-1 (P1) . Varietas Maestro secara umum menunjukkan perbedaan terhadap variabel yang diamati.
1345716792A1L012045PENGARUH TINGGI TUNGGUL DAN WAKTU PEMBERIAN PUPUK HAYATI CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SISTEM PADI SALIBUPenelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui tinggi tunggul terbaik untuk budidaya padi sistem salibu pada lahan sawah tadah hujan, (2) mengetahui selang waktu pemupukan terbaik untuk budidaya padi sistem salibu pada lahan sawah tadah hujan, (3) mengetahui kombinasi perlakuan terbaik antara waktu pemberian pemupukan dan tinggi tunggul padi sistem salibu pada lahan sawah tadah hujan. Penelitian dilaksanakan pada lahan sawah tadah hujan di Desa Gandrungmanis Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap selama bulan Maret sampai Juli 2016. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan petak terbagi (split plot design) dengan rancangan dasar RAKL. Petak utama berupa waktu pemberian pupuk hayati cair yang terdiri atas tiga taraf yaitu 7 hari sekali (P1) sebanyak 9 kali, 10 hari sekali (P2) sebanyak 6 kali, dan 13 hari sekali (P3) sebanyak 3 kali. Anak petak berupa tinggi tunggul salibu yang terdiri dari dua taraf yaitu setinggi 5 cm (T1) dan 15 cm (T2) dari permukaan tanah. Data hasil pengamatan dianalisis dengan uji F, jika berbeda nyata dilanjut dengan uji BNT dengan taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan waktu pemberian pupuk 13 hari sekali (P3) dapat meningkatkan hasil. Perlakuan tinggi tunggul 5 cm (T1) berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan umur berbunga. Kombinasi perlakuan terbaik yaitu perlakuan waktu pemberian pupuk 13 hari sekali dengan tinggi tunggul 5 cm (P3T1) menghasilkan produksi 5,92 ton gabah per hektar.This research aimed to (1) know the height of the for rice ratooning (salibu) in rainfed areas, (2) determine the time interval of fertilization for salibu in rainfed areas, (3) the best combination between interval of fertilization and heigh stumps in rainfed areas. Research was conducted in rainfed areas in the Gandrungmanis of Cilacap during March to July 2016. The experimental design used was split plot design with the basic design RAKL which the main plot form of a liquid biological fertilizer consisting of three level: 7 days (P1) of 8 times, 10 days (P2) 5 times, and 13 days (P3) 3 times. Sub plot form of a heigh stump consisting of two level: 5 cm (T1) and 15 cm (T2) from the soil surface. The data were analyzed by F test followed by LSD at level of 5% error. The results showed that the treatment time of fertilizer application 13 days (P3) could increase yields on variable number of productive tiller, total grain number, grain weight per hill and grain weight per plot. Treatment height of the cutting stump 5 cm (T1) effect on plant height and flowering date. The combination of the best treatment in treatment time fertilizer application 13 days with height stumps 5 cm (P3T1) resulted in the production of 5.92 t/ha.
1345816790A1L012029SERAPAN HARA P DAN HASIL PADI CIHERANG PADA BERBAGAI DOSIS PUPUK HAYATI CAIR DAN TRICHOCOMPOSPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Pengaruh dosis pupuk hayati cair yang efisisen terhadap pertumbuhan dan hasil padi Ciherang; 2) Pengaruh dosis tricho-kompos yang efisisen terhadap pertumbuhan dan hasil padi ciherang; 3) Interaksi pupuk hayati cair dan trichokompos terhadap serapan hara P, pertumbuhan dan hasil padi ciherang.
Penelitian ini telah dilaksanakan selama 5 bulan, dimulai Februari 2016 sampai Juni 2016 di Screen House Agronomi, Laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dan Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Sayuran, Lembang, Bandung. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor, yaitu pupuk hayati cair (D) terdiri dari D0 (0 ml/ha), D1 (800 ml/ha), D2 (1.600 ml/ha), D3 (2.400 ml/ha) dan trichokompos (T) terdiri dari T0 (0 t/ha), T1 (2 t/ha), T2 (4 t/ha) dengan 3 kali ulangan. Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah anakan, luas daun, bobot kering tanaman, serapan P, jumlah gabah per malai, persentase gabah isi, bobot gabah total, bobot 1.000 butir dan indeks panen. Data hasil pengamatan dianalisis dengan uji F dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf kesalahan 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Dosis pupuk hayati cair yang efisisen untuk pertumbuhan dan hasil padi Ciherang adalah 800 ml/ha (D1); 2) Dosis trichokompos yang efisisen untuk pertumbuhan dan hasil padi Ciherang adalah 4 t/ha (T2); 3) Pemberian pupuk hayati cair dan trichokompos mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil padi Ciherang.
This study aims to knowing 1) Effect of doses of a liquid biofertilizer that is efficient on the growth and yield of ciherang rice;2) Effect of dose trichocompost efficient on the growth and yield of Ciherang rice; 3) the interaction of liquid biofertilizer and tricho compost on nutrient uptake P, growth and yield of rice ciherang.
The research was conducted by 4 months, starting from February 2016 to June 2016 on Screen House Agronomy; Agronomy and Horticulture Laboratory of Agriculture Faculty, Jenderal Soedirman University, Purwokerto and Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Sayuran, Lembang, Bandung. The experimental used was factorial Randomized Block Design (RBD) which; first factor are liquid biofertilizer (D) consisting D0 (0 ml/ha), D1 (800 ml/ha), D2 (1.600 ml/ha), D3 (2.400 ml/ha) and second factor is trichocompost (T) consisting of T0 (0 t/ha), T1 (2 t/ha), T2 (4 t/ha), T3 (6 t/ha) with three repeats. The character was observed in this research: plant height, number of tiller, leaf area, dry weight of plant, P uptake, number of grains per panicle, filled grain percentage, grain weight per panicle, 1.000 grain weight, and harvest index. The data were analyzed using F test followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at level of 5% error.
The result showed that 1) Efficient dose of liquid biofertilizer on growth and yield of Ciherang rice is 800 ml/ha (D1); 2) Efficient dose of trichocompost on growth and yield of Ciherang rice is 4 t/ha (T2); 3) Giving liquid biofertilizer and trichocompost could increase growth and yield of Ciherang rice.
1345916795A1C012083STRATEGI PEMASARAN PRODUK KERIPIK TEMPE
(Studi Kasus : Toko Oleh-oleh Makanan Khas Banyumas "Eco 21 Sawangan Purwokerto" Kabupaten Banyumas
Toko Eco 21 Sawangan merupakan salah satu produsen keripik tempe di daerah Purwokerto Kabupaten Banyumas yang memiliki potensi cukup besar. Produksi keripik tempe yang banyak setiap harinya, menunjukan tingginya permintaan dari konsumen baik dari dalam daerah maupun dari luar daerah. Tingginya permintaan membuka peluang bagi produsen lain, sehingga muncul persaingan dalam menawarkan produk sejenis. Tujuan penelitian ini untuk : 1) mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan pemasaran internal dan eksternal perusahaan, 2) mengidentifikasi alternatif strategi yang dapat dirumuskan dari faktor-faktor internal dan eksternal perusahaan, 3) memberikan alternatif rumusan strategi pemasaran keripik tempe yang tepat untuk perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus, metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Analisis data menggunakan matriks IFE (Internal Factor Evaluation), EFE (External Factor Evaluation), Internal-Eksternal (IE), SWOT dan QSPM (Quantitative Strategies Planning Matrix). Hasil penelitian menunjukkan dengan menggunakan matriks IFE diperoleh total skor yang dimiliki perusahaan sebesar 3,138, yang artinya perusahaan memiliki posisi internal tinggi. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan matriks EFE diperoleh total skor yang dimiliki perusahaan sebesar 3,777, yang artinya perusahaan mampu merespon faktor eksternal dengan memanfaatkan peluang yang ada untuk mengatasi ancaman. Gabungan antara matriks IFE dan EFE menempatkan perusahaan dalam sel I pada matriks IE artinya perusahaan berada pada posisi tumbuh dan membangun. Hasil analisis QSPM menunjukkan bahwa strategi yang tepat dapat dilakukan perusahaan yaitu meningkatkan sistem manajemen produksi dan manajemen keuangan pada perusahaan serta memodifikasi produk dengan Total Attractive Score (TAS) 6,277. Eco 21 Sawangan is one manufacturer tempeh chips in Purwokerto area Banyumas District that has significant potential. Tempeh Chips production a lot everyday, showed higher demand from consumers both from within the region and outside the region. The higher demand opens opportunities for other producers, so that it appears the competition in offering similar product. The purposes of this research are to : 1) identify the environmental factors of marketing from internal and external of the company, 2) identify the alternative strategy which is formulated based on the company’s internal and external factors, 3) provide the suitable alternative of marketing strategy of tempeh chips for the company. This research applies case of study method and purposive sampling in collecting the data. Furthermore, in analyzing the data, the researcher employs several matrixes such as IFE (Internal Factor Evaluation), EFE (External Factor Evaluation), Internal-External (IE), SWOT, and QSPM (Quantitative Strategies Planning Matrix). Based on the result of IFE matrix, the company obtains 3,138 score as total score of the calculation data, it mean the company’s internal factor is in the high position. Then, using EFE matrix to calculate the data, the company gets a total score of 3,777, it means the company is capable of responding the external factor by utilizing the available opportunity to prevent risk. The combination of IFE and EFE matrixes puts the company in the cell I in the IE matrix. Based on the QSPM analysis shows the best strategy for the company is improve production management system and financial management of the company as well as modify the product with Total Attractive Score (TAS) 6,277.
1346016793E1A012230BENTUK PENGAWASAN BANK INDONESIA DALAM HAL KETERLAMBATAN PENERIMAAN KLIRING MENURUT PASAL 56 PBI No. 18/5/PBI/2016 TENTANG PENYELENGGARAAN TRANSFER DANA DAN KLIRING BERJADWAL OLEH BANK INDONESIALembaga Perbankan merupakan salah satu lembaga keuangan mempunyai nilai strategis dalam kehidupan suatu negara. Salah satu strategi perbankan dalam meningkatkan persaingan bisnis dengan menggunakan e-banking. Kliring merupakan salah satu fasilitas perbankan yang memanfaatkan e-banking tetapi dalam praktiknya tidak semua transaksi yang menggunakan e-banking dapat memberikan kemudahan, adapun dapat memberikan kerugian bagi pihak nasabah. Permasalahan terkait dengan fasilitas e-banking salah satunya yaitu keterlambatan penerimaan kliring yang dialami oleh nasabah dan mengakibatkan kerugian.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bentuk pengawasan Bank Indonesia dalam hal keterlambatan penerimaan kliring. Metode pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa peraturan perundang-undangan, peraturan lain diluar undang-undang, buku literatur, dokumen resmi, dan dengan cara studi pustaka, yaitu dengan menginventarisasi data-data tersebut yang kemudian disajikan dalam bentuk uraian sistematis. Data primer yang digunakan adalah berupa hasil wawancara dengan staff bagian Kliring Bank Indonesia Cabang Purwokerto sebagai data pendukung. Data-data yang diperoleh dianalisa dan dijabarkan berdasarkan norma hukum yang berkaitan dengan obyek penelitian.
Hasil penelitian ini dapat dilihat bahwa sistem pengawasan Bank Indonesia dalam hal keterlambatan kliring menggunakan sistem pengawasan berdasarkan risiko, dan bentuk pengawasan Bank Indonesia dalam hal keterlambatan penerimaan kliring telah sesuai dengan ketentuan Pasal 56 PBI No. 18/5/PBI/2016 tentang Penyelenggaraan Transfer Dana dan Kliring Berjadwal Oleh Bank Indonesia yaitu pengawasan langsung dan pengawasan tidak langsung.
Banking institution is one of financial institutions strategic has value in the life of a country. One strategy banking in improving business competition by using e-banking . Clearing is one of banking facilities which takes advantage of e-banking but in practice not all the transactions who uses e-banking ease , the can provide financial losses for customers. Issues concerning with facilities e-banking one of them is the delay in the receipt clearing that experienced by customers and result in a loss.
The purpose of this research is to know the form of of banking supervision indonesia in terms the delay in the receipt clearing .A method of the approach that was used is the approach juridical normative. The data used was secondary data of legislation , another regulation out the act , book literature , official documents , and by means of the literature study , namely by to thoroughly the data which then presented in the form of a systematic description . Primary data used be the results of interviews with staff part clearing Bank Indonesia the branch purwokerto as the supporting data .The data obtained by analysis and elaborated based on a norm laws relating to object research .
The result of this research can be seen that a monitoring system bank indonesia in terms delay clearing use a monitoring system based on risk , and form of banking supervision indonesia in terms the delay in the receipt clearing is in line with the provision of article 56 pbi no. 5 / 18 / pbi / 2016 on administering transfer funds and clearing berjadwal by a bank indonesia, supervision direct and the supervision is not directly.