Artikel Ilmiah : A1C012030 a.n. DEWANTI RISA UTAMI

Kembali Update Delete

NIMA1C012030
NamamhsDEWANTI RISA UTAMI
Judul ArtikelAnalisis Komparatif Usahatani Tumpangsari Wortel dan Caisim dengan Monokultur Wortel di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga
Abstrak (Bhs. Indonesia)Petani di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga menanam wortel dengan sistem tanam monokultur dan tumpangsari dengan caisim. Petani wortel di Kecamtan Karangreja dihadapkan pada pilihan usahatani dengan sistem tanam mana yang paling menguntungkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) besarnya biaya, penerimaan dan pendapatan dari usahatani monokultur wortel dan tumpangsari wortel dengan caisim; (2) perbedaan pendapatan antara usahatani monokultur wortel dan tumpangsari wortel dengan caisim; (3) perbedaan efisiensi usahatani monokultur wortel dan tumpangsari wortel dengan caisim di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga.
Penelitian dilaksanakan tanggal 6 April sampai 26 Mei 2016 di Desa Serang dan Desa Kutabawa. Sasaran Penelitian adalah petani yang melakukan usahatani monokultur wortel maupun tumpangsari wortel dengan caisim pada musim tanam Oktober 2015 sampai Maret 2016. Metode penelitian yang digunakan adalah survey. Pengambilan sampel petani menggunakan metode simple random sampling, diperoleh 32 petani wortel dengan sistem tanam tumpangsari dengan caisim dan 31 petani wortel dengan sistem tanam monokultur yang dijadikan responden. Pengambilan data dilakukan dengan observasi dan teknik wawancara dengan menggunakan kuisoner. Data dianalisis menggunakan analisis biaya, penerimaan dan pendapatan, analisis efisiensi usahatani dan analisis uji beda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pada usahatani tumpangsari wortel dengan caisim per hektar per musim tanam total biaya sebesar Rp10.675.935,74, penerimaan sebesar Rp24.057.501,61, pendapatan sebesar Rp13.381.565,87 dan R/C ratio sebesar 2,27. Pada usahatani monokultur wortel per hektar per musim tanam total biaya sebesar Rp8.985.157,14, penerimaan sebesar Rp19.487.769,23, pendapatan sebesar Rp10.502.611,78 dan R/C ratio sebesar 2,13. (2) Besarnya pendapatan usahatani tumpangsari wortel dengan caisim lebih besar daripada pendapatan usahatani monokultur wortel. (3) Nilai R/C ratio usahatani tumpangsari wortel dengan caisim dan nilai R/C ratio usahatani monokultur wortel secara statistik tidak terdapat perbedaan atau tidak ada beda.
Abtrak (Bhs. Inggris)Farmer at Karangreja Sub-district, Purbalingga is cultivating Carrot using monoculture system and intercropping with caisim. Carrot farmer at Karangreja sub district faced with the option of which cultivation system will earn more profit. The aims of this study are to 1) find out how much the cost, revenue, and income from cultivating by monoculture and intercropping system, 2) find out the differences in income between using monoculture and intercropping with caisim ,and 3) the difference in efficiency between monoculture and intercropping with caisim, at Karangreja sub-district, Purbalingga.
The study conducted at Serang and Kutabawa Village, on April 6th – May 26th 2016. The object of this study are farmers who cultivate carrot in monoculture system as well as intercropping with caisim on October 2015- Maret 2016 growing season. The research method which is used in this research is survey. Determination of respondents used was Simple Random Sampling, obtained 32 carrots monoculture farmers and 31 intercropping with caisim farmers. Data retrieval has been done using observation and interview method by quitionaers. Data was analyzed using cost, income, and profit analysis, farming efficiency analysis, and different test analysis. The result of this study shows that: 1) on carrot cultivation by intercropping with caisim, has spend total cost of Rp10.675.935,74, earned Rp24.057.501,61 of revenue, and Rp13.381.565,87 as income with R/C ratio of 2.27 per hectare in one growing season, while on carrot monoculture has spend total cost of Rp8.985.157,14, earned Rp19.057.501,61 of revenue, and Rp10.502.611,78 as income and 2.13 of R/C Ratio. 2) the income of carrot cultivation by intercropping with caisim is more than the income of carrot cultivation by monoculture. 3) Statistically, there are no difference between R/C ratio of carrot cultivation by intercropping with caisim and R/C ratio of carrot cultivation by monoculture.
Kata kunciwortel, penerimaan, pendapatan, analisis komparatif, tumpangsari.
Pembimbing 1Dr. Ir. Agus Sutanto, M.P.
Pembimbing 2Ir. H. Adwi Herry K.E., M.P.
Pembimbing 3
Tahun2016
Jumlah Halaman19
Tgl. Entri2016-11-10 12:19:24.404366
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.