Artikelilmiahs
Menampilkan 11.661-11.680 dari 50.476 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 11661 | 4620 | F1B008071 | PERAN PERUM BADAN URUSAN LOGISTIK (BULOG) SUB DIVISI REGIONAL (SUBDIVRE) CIREBON DALAM MENJAGA KESTABILAN HARGA BERAS DI WILAYAH CIREBON | Komoditas beras memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah melalui BULOG, membentuk Sub Divisi Regional (Subdivre) yang ada di tiap wilayah di Indonesia salah satunya Subdivre Cirebon yang ada di wilayah Cirebon. Wilayah kerja Subdivre Cirebon ini adalah Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka. Subdivre Cirebon memiliki peran untuk menjaga kestabilan harga beras di wilayah Cirebon. Penelitian ini berjudul “Peran Badan Urusan Logistik (BULOG) Sub Divisi Regional (Subdivre) Cirebon Dalam Menjaga Kestabilan Harga Beras Di Wilayah Cirebon”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah peran Subdivre Cirebon dalam menjaga kestabilan harga beras di wilayah Cirebon. Metode penelitian yang dipakai adalah Metode kualitatif dengan teknik analisis deskriptif. Teknik pemilihan informannya adalah Purposive Sampling. Teknik pengambilan datanya adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini difokuskan pada peran Subdivre Cirebon melalui peran koordinasi, stimulasi, dan fasilitasi dalam rangka menjaga kestabilan harga beras di wilayah Cirebon. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini, Subdivre Cirebon melakukan koordinasi yang cukup baik dengan seluruh lembaga dan instansi terkait. Selain itu Subdivre Cirebon perlu memperbaiki jaringan internet yang ada karena Sistem Informasi Logistik masih sering mengalami gangguan. Penambahan loket dan jumlah pegawai yang ada perlu dilakukan guna mempercepat pelayanan. Kata kunci : peran subdivre, kestabilan, harga beras. | The comodity of rice has important role for the Indoesian people. The government, in this case BULOG, built Regional Sub Divison (Subdivre) that placed in every region in Indonesia either Subdivre Cirebon in Cirebon. The responsibility of Subdivre Cirebon are Cirebon City, Cirebon Regency, Kuningan Regency and Majalengka Regency. Subdivre Cirebon has the role to save the rice price in Cirebon region. This research entitled “The Role of Perum Logistical Agency (BULOG) Regional Sub Division (Subdivre) Cirebon in Keeping The Stability of The Rice Price in Cirebon Region. This research aims to know how is the role of Subdivre Cirebon in protect the rice price in Cirebon Region. The research used qualitative descriptive method by analysis technique. The informant selection technique is purposive sampling. The data collection techniques is interviews, observation, and documentation. This research focused on the role of Subdivre Cirebon in coordination role, facilitacy, and stimulaty in order to protect rice price in Cirebon Region. The conclusions obtained in this study, Subdivre Cirebon did good coordinaty with all the agency and departement. Subdivre Cirebon must fix the internet line because Logistical Information System (SIL) was troble. The increases of the pay box and the employer must be done for faster service. Key Words: the role of subdivre, stability, rice price. | |
| 11662 | 4621 | L1A006081 | PERSEPSI PESERTA JAMSOSTEK TENTANG KUALITAS PELAKSANA PELAYANAN KESEHATAN (PPK) TINGKAT I SEBAGAI PENYEDIA LAYANAN KESEHATAN DI WILAYAH PURWOKERTO TAHUN 2012 | Bentuk perlindungan dan peningkatan kesejahteraan tenaga kerja diselenggarakan dalam bentuk program (Jamsostek). Penyelenggaraan pelayanan kesehatan di Jamsostek bekerja sama dengan PPK I. Rendahnya utilisasi kunjungan peserta disebabkan rendahnya kualitas pelayanan. Tujuan penelitian adalah mengetahui persepsi kualitas pelayanan PPK I sebagai penyedia layanan kesehatan bagi peserta Jamsostek di wilayah Purwokerto. Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif. Informan terdiri dari 4 Informan (peserta Jamsostek) dan 3 Informan Kunci (Dokter). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari dimensi tangible (penampilan fisik) di PPK I bagus, dilihat dari kondisi lantai dan kamar mandi bersih dan wangi, alat-alat yang dipakai lengkap dan bersih, penampilan petugas bersih dan rapi, ruang tunggu memadai, dari segi interior dan exterior tertata rapi. Hasil dimensi Reliability (kehandalan) yaitu pelayanan oleh Dokter atau petugas kesehatan dilakukan dengan cepat dan segera, diagnosa dokter akurat. Hasil dimensi Responsiveness (daya tanggap) yaitu Dokter mendengarkan keluhan pasien, informasi yang diberikan Dokter jelas, pemberitahuan keterlambatan dari Dokter disampaikan oleh petugas pelayanan. Hasil dimensi Assurance (kepastian) yaitu Dokter di PPK 1 ramah, sabar, dan sopan, pasien percaya dengan pelayanan dan obat yang diberikan Dokter, pasien merasa nyaman, aman dan cocok berobat di PPK 1. Hasil dimensi Emphaty (empati) yaitu Dokter di PPK 1 memiliki sifat komunikatif, selalu menanyakan keadaan pasien dan belum pernah terjadi kesalahan pemeriksaan. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa persepsi peserta Jamsostek tentang kualitas pelayanan di PPK I bagus. PPK I di wilayah Purwokerto lebih memperluas ruang periksa atau ruang tunggu. PT. Jamsostek lebih rutin melaksanakan evaluasi kinerja PPK I setiap bulan. | Form of protection, and welfare improvement of the labor was organized in the form of programs (Jamsostek). Organization ofhealth services conducted in Jamsostek cooperation with the PPK I. The low rate of visit utilization memberbecause of the low quality of existing services. The purpose of this study was to determine how perceptions of PPK I service quality as a provider of health care services for Jamsostek member in regionPurwokerto.This is a Qualitative research,we have 4 informan (member of jamsostek) and 3 key informan (doctors). The results showed that the tangible dimension (physical appearance) in the PPK I was good, it can be seen from the clean condition of the floors, and the bathroom , the tools are complete and clean, the workers looks clean and tidy, the waiting room quite adequate, aspect of interior and exterior are quite well organized. Reliability dimensional results that the services provided by doctors or other health care executive was done quickly and promptly, diagnosis is accurate. Responsiveness dimensional results that a doctors listening to patient complaints, the Doctors information provided is quite clear, doctors delays of service notice delivered by the other health care.Assurance dimensional Results (certainty) that doctors in PPK I are friendly, patient and polite, patients believe the services and medications provided by doctors, patients feel comfortable, safe and suitable treatment in PPK I. Emphaty dimensional results (empathy) that is doctor in PPK I has a communicative nature, always ask the patient and unprecedented examination error of doctor. Overall it can be concluded thatperceptions of PPK I service quality as a provider of health care services for Jamsostek member was good. PPK I in regionPurwokerto further expand the examination room or waiting room. PT. Jamsostek more routinely carry out performance evaluation of the PPK I monthly. | |
| 11663 | 4622 | F1C007095 | DINAMIKA KELOMPOK DALAM MEMBENTUK SOLIDARITAS SOSIAL DI KOMUNITAS “GRAND PURBALINGGA LOVERS” | Manusia sebagai makhluk sosial cenderung bergabung dalam suatu kelompok tertentu, yang disebut sebagai komunitas. Pertumbuhan manusia mengakibatkan pengelompokan-pengelompokan di dalam lapisan masyarakat berdasarkan ikatan bathin, tujuan, visi, misi maupun persamaan hobi. Berbeda dengan komunitas lainnya seperti komunitas pecinta barang antik, komunitas atau club motor justru mendapatkan penilaian negatif dari lingkungan sekitar. Masyarakat menganggap bahwasannya komunitas motor hanyalah ajang adu gengsi antar sesama anggota komunitas, sarana ugal-ugalan bagi setiap pengendaranya, bahkan komunitas motor menjadi buruk dalam pencitraannya ketika plonco bagi calon anggota komunitas yang bersifat kriminal (kekerasan). Namun di balik itu semua komunitas motor, khususnya astrea grand memiliki keistimewaan yaitu eratnya tali persaudaraan (solidarisme). Salah satu komunitas motor yang terbilang cukup muda namun mampu eksis di Purbalingga adalah komunitas Grand Purbalingga Lovers. Penelitian ini berjudul Dinamika Kelompok dalam Membentuk Solidaritas Sosial di Komunitas Grand Purbalingga Lovers. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dinamika kelompok dalam membentuk solidaritas sosial di Komunitas Grand Purbalingga Lovers . Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif, untuk melihat permasalahan yang terjadi secara mendalam. Fokus yang dikaji adalah dinamika kelompok dalam membentuk solidaritas sosial dengan subfokus memecahkan masalah dan pengambilan keputusan. Dalam menetapkan informan peneliti menggunakan teknik purposive sampling serta snowball sampling. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif deskriptif dengan model interaktif. Hasil di lapangan menunjukan bahwa dinamika kelompok yang terjadi dalam Grand Purbalingga Lovers cukup beragam, terbukti dengan adanya konflik intragroup yang terjadi di dalam komunitas tersebut yaitu : perbedaan pendapat dalam proses pembentukan kepengurusan baru maupun perselisihan pendapat dalam menentukan waktu istirahat pada saat touring bersama. Dinamika kelompok yang terjadi di dalam Grand Purbalingga Lovers ini dibentuk oleh faktor kepemimpinan di dalam Grand Purbalingga Lovers dan anggota kelompok. Hal ini karena keputusan yang diambil oleh ketua berdasarkan kepentingan bersama dan pertimbangan mayoritas. | Human as the social creature tends to enter in a certain group, that is called as community. The human growth causes the categorization groups in the social class based on the spiritual connection, purpose, mission, and vision of similarities of hobby. Difference with the other community like the community of antique lover, community or club of motorcycle fortunately get the negative judgment from the surrounded environment. The society considers that the motorcycle community just as the competition of image between the community members of motorcycle, the time for doing indiscipline racing for every the rider, furthermore the motor community image is getting worst for their image when doing the basic doing education for the new community member that has the criminal characteristic. That behind all those motor community especially astrea grand has specially which has the strong relation between them (solidarism). One of the young motorcycle community that is quite young but able to exist in a community Purbalingga Grand Purbalingga Lovers. The title of this research is “Group Dynamics in Forming Social Solidarity in Community of Grand Purbalingga Lovers”. The purpose of this research is to know, how Group Dynamics in Forming Social Solidarity in Community of Grand Purbalingga Lovers. This research uses the type of descriptive qualitative research, to see the problems that occurs deeply. The focus that is examined is the dynamics of group with the sub focus to solve the problem, taking decision and the establishment of social solidarity. Technique sampling uses the purposive sampling method and snowball sampling. Analytical data methods was using qualitative descriptive with interactive model. The result in the field shows that the dynamics of group that occurs in the Grand Purbalingga Lovers is enough vary, it is proven with the some conflicts intragroup that occurs in the community, it is the difference opinion in new management forming or the opinion conflict in determining of time to take rest when touring together. Group dynamics that happened in this Grand Purbalingga Lovers is ormed by leadership factor in Grand Purbalingga Lovers and group member. This matter because decision taken by chief of pursuant to common interest and majority consideration. | |
| 11664 | 4623 | C1B009048 | Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi willingness to recommend jasa lembaga pendidikan non formal (studi pada siswa dan alumni LKP KABUL Jatilawang - Banyumas) | Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan untuk merekomendasikan jasa pendidikan non formal (survei pada siswa dan alumni LKP KABUL Jatilawang-Banyumas). Penelitian ini menggunakan dua variabel bebas, kualitas layanan dan citra lembaga, kepuasan sebagai variabel mediasi dan variabel tergantungnya adalah kesediaan merekomendasi. Variabel-variabel tersebut digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kesediaan merekomendasikan LKP KABUL. Data dianalisis menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) dan menggunakan purposive sampling untuk mengambil sampel sebanyak 150 responden. Hasil dari penelitian ini mengindikasi bahwa kualitas layanan dan citra lembaga berpengaruh positif terhadap kepuasan, kepuasan berpengaruh positif terhadap kesediaan merekomendasi, dan juga kepuasan memediasi hubungan antara kualitas layanan dan citra lembaga terhadap kesediaan merekomendasi. | This study aimed to analyze the influence of willingness to recommend non formal education service (survey of students and graduates LKP KABUL Jatilawang-Banyumas). This study use two independent variables, service quality and intitution image, satisfaction as mediation variabel and the dependent variable is willingness to recommend. Variables that using in this study are expected to know about factors that create word of mouth or willingness to recommend LKP KABUL. Data was analyzed using Structural Equation Modelling (SEM) and use a purposive sampling to recruite 150 respondents . The result of this study indicate that service quality and intitution image have positive influence toward satisfaction, satisfaction have positive influence toward willingness to recommend and also satisfaction mediated relation service quality and intitution image toward willingness to recommend. | |
| 11665 | 4630 | C1K007017 | THE IMPORTANCE OF BRAND CUES TOWARDS BRAND IMAGE IN AN INTANGIBLE SERVICE INDUSTRY. (A STUDY OF PT. BUKIT MAYANA JAKARTA) | Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang dilakukan di Jakarta. Judul penelitian ini adalah Pentingnya “Isyarat Merek terhadap Brand Image dalam Industri Jasa tidak berwujud”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi klien dari PT Bukit Mayana dengan produk SafeShields. Dengan menggunakan metode purposive sampling, penelitian ini menggunakan 100 responden sebagai sampel. Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda. Berdasarkan analisa dan hasil data dari SPSS menunjukkan bahwa: (1) merek iklan isyarat ekstrinsik berpengaruh positif terhadap citra merek dalam industri jasa tidak berwujud, (2) merek Harga isyarat ekstrinsik berpengaruh positif terhadap citra merek dalam industri jasa tidak berwujud. (3) isyarat merek arahan Personal ekstrinsik (dari mulut ke mulut) berpengaruh positif terhadap citra merek dalam industri jasa tidak berwujud. Implikasi dari kesimpulan di atas dalam berusaha untuk meningkatkan citra merek di industri jasa tidak berwujud oleh tiga elemen di bawah merek isyarat eksternal yang iklan, harga dan pribadi (dari mulut ke mulut), pengelolaan Safe shield perlu meningkatkan dan menjaga baik pada kualitas produk harga rata-rata, dengan mudah pada kata saluran promosi mulut. Selain itu, manajemen harus menjaga nama merek mudah diingat. Selain itu, manajemen harus meningkatkan frekuensi komunikasi promosi antara klien dan membuat mudah, menarik pada pesan iklan untuk mendapatkan sebuah goal dalam kompetisi tender. | This was a quantitative research conducted at Jakarta. The title of this research was The Importance of Brand Cues Towards Brand Image in an Intangible Service Industry. The aims of this research were to analyze the factors that influence clients of PT Bukit Mayana to deal with SafeShields product. By using purposive sampling method, this research used 100 respondents to be the sample. This study used multiple regression analysis. Based on the data analysis and results of SPSS showed that: (1) Extrinsic brand cues advertising has positive effect on brand image in intangible service industry, (2) Extrinsic brand cues Pricing has positive effect on brand image in intangible service industry. (3) Extrinsic brand cues Personal referrals (i.e. Word of mouth) has positive effect on brand image in intangible service industry. Implications from above conclusion in attempted to improve brand image on intangible service industry by three elements in under external brand cues which is advertising, pricing and personal (i.e. Word of mouth), management of Safe shields need to increase and keep good on quality of product average price, easily on channel word of mouth promotion. Besides, management should keep brand name easily remembered. Furthermore, management should increase frequency of promotion communication between clients and make easily, attractive on message of advertisement to get clients intention to deal. | |
| 11666 | 4625 | F1D007007 | GERAKAN MAHASISWA DI INDONESIA (REPRESENTASI KEKUATAN POLITIK MAHASISWA UNTUK MELAWAN REZIM ORDE BARU DALAM FOTO-FOTO DOKUMENTASI PERISTIWA MEI 1998) | Artikel hasil penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan gerakan mahasiswa di Indonesia dalam foto-foto dokumentasi Peristiwa Mei 1998 yang merepresentasikan kekuatan politik mahasiswa pada saat itu untuk melawan Rezim Orde Baru. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan semiotika dalam bingkai perspektif pascastruktural dan paradigma dekonstruksionisme, hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa fenomena gerakan mahasiswa Indonesia dapat diteliti melalui foto-foto dokumentasi Peristiwa Mei 1998. Selain itu, hasil penelitian tersebut juga membuktikan bahwa gerakan mahasiswa dalam foto-foto dokumentasi Peristiwa Mei 1998 merepresentasikan gerakan perlawanan terhadap Rezim Orde Baru. Melalui foto-foto yang menjadi sasaran dalam penelitian tersebut, bentuk-bentuk gerakan yang terlihat adalah gerakan demonstrasi secara masif, gerakan konfrontasi dengan pihak aparat keamanan, gerakan penggalangan massa dengan rakyat, dan gerakan pemboikotan fasilitas negara. Bentuk-bentuk gerakan tersebut merepresentasikan kekuatan politik mahasiswa dalam melawan dan menumbangkan Rezim Orde Baru tersebut. Kekuatan politik mahasiswa itu sendiri terbagi menjadi dua peta kekuatan, yaitu kekuatan moral dan kekuatan massa. | This research-based paper aims at describing and explaining the student movement in Indonesia in the Documentation Photographs of the Incident of May 1998 representing the political power of the students at that time to fight against the New Order regime. By using a qualitative method and semiotics approach in the framework of the post-structural perspective and the deconstructionism paradigm, the result of the research reveals that the phenomenon of the student movement in Indonesia is able to be analyzed through the documentation photographs of the Incident of May 1998. In addition, this research also proves that the student movement in Indonesia represents the movement of resistance towards the New Order regime. Through the photographs becoming the target of the research, the forms of the movement reflected in the photographs are the movement of massive demonstration, the movement of confrontation with the apparatus of security, the movement of mobilization with people, and the movement of boycott towards the state facilities. The forms of the movement representing the political power of the students in fighting against the New Order regime is split into two maps of power, i.e. the moral power and the mass power. | |
| 11667 | 4669 | I1B006065 | EVALUASI TINGKAT KERUSAKAN JALAN DENGAN METODE PAVEMENT CONDITION INDEX (PCI) (Studi Kasus: Jalan Kota Purbalingga) | Jalan beraspal merupakan sarana transportasi darat yang sangat penting dalam kehidupan manusia modern ini. Kota Purbalinga merupakan salah satu kota dengan aktifitas kegiatan ekonomi, politik, pendidikan, dan perdagangan serta kesehatan sangat sibuk sehingga menuntut jalan-jalan Kota Purbalingga dalam kondisi baik. Penelitian sangat diperlukan untuk memperjelas kondisi ril jalan Kota Purbalingga dalam kondisi baik atau sebaliknya. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah Metode Pavement Condition Index (PCI). Terdapat 13 ruas jalan yang menjadi obyek penelitian dengan panjang total 11,7086 km, setiap ruas jalan dibagi menjadi beberapa unit dengan dimensi unit yaitu panjang 100 m dan lebar sebesar ¼ lebar ruas jalan. Setiap unit dihitung nilai PCI dan dirata-ratakan dalam satu ruas jalan. Kemudian dirata-ratakan nilai PCI tiap ruas jalan menjadi nilai PCI umum Jalan Kota Purbalingga. Setelah dilakukan penelitian secara umum kondisi jalan Kota Purbalingga dalam rating excellent dengan nilai PCI 94,78. Untuk jenis kerusakan yang sering dijumpai adalah Weathering/Raveling yang mencapai 502,46 m² atau 45,59% dari seluruh kerusakan jalan dalam penelitian ini. Kerusakan yang terjadi harus segera diperbaiki dengan prioritas penanganan pada unit-unit yang memiliki nilai PCI kecil seperti pada unit 9-2 (sta. 900 pada jalur 2) Jalan Mayjend. Panjaitan dengan PCI 14 (very poor). | Paved road is a means of land transportation that is very important in the life of modern man. Purbalingga city is one of the cities with the activity of economic, politic, education, trade, and health are very busy so demanding Purbalingga City roads in good condition. Research is needed to clarify the real condition of Purbalingga city roads in good condition or otherwise. In this study the method used is Pavement Condition Index Method (PCI). There are 13 roads that became the object of study with a total length of 11.7086 km. Each road is divided into several units with the dimensions of the unit length of 100 m and a width of ¼ the width of the road. Each unit is calculated PCI values and averaged in a road. Then, the researcher averaged PCI value of each road segment to the value of common PCI Purbalingga City Road. After that, the researcher observed the general condition of roads in the rating of excellent Purbalingga Cities with PCI 94.78 value. For this type of damage that often occurs is weathering / raveling which reached 502.46 m² or 45,59% of all damage to roads in the study. The damage must be repaired with priority handling on units that have a value in units of PCI as small as 9-2 (sta. 900 at line 2) Road Mayjend. Panjaitan with PCI 14 (very poor). | |
| 11668 | 4624 | C1B009129 | ANALISIS VARIABEL PEMBEDA ANTARA PERUSAHAAN YANG MENGALAMI FINANCIAL DISTRESS DAN TIDAK PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA | Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji secara empiris kemampuan Aktiva lancar terhadap kewajiban lancar, aktiva cepat terhadap kewajiban lancar, aktiva tetap bersih terhadap total aktiva, ekuitas terhadap total aktiva, ekuitas terhadap aktiva tetap, aktiva tetap dengan hutang jangka panjang, penjualan terhadap aktiva tetap, penjualan terhadap total aktiva, penjualan terhadap aktiva lancar, laba bersih terhadap total aktiva, laba kotor terhadap penjualan dan laba bersih terhadap penjualan dalam kondisi kesulitan keuangan dalam memperkirakan perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia 2009-2011. Sampel terdiri dari 13 perusahaan manufaktur yang mengalami kesulitan keuangan dan validasi 20 perusahaan manufaktur yang tidak mengalami kesulitan keuangan. Sampel akhir memerlukan 33 perusahaan dan dianalisis dengan menggunakan analisis diskriminan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio keuangan mampu dalam memperkirakan perusahaan menjadi kelompok perusahaan mengalami kesulitan keuangan yaitu aktiva cepat terhadap kewajiban lancar, ekuitas terhadap aktiva tetap, penjualan terhadap aktiva tetap, penjualan terhadap aktiva lancar, laba kotor terhadap penjualan dan laba bersih terhadap penjualan. Sedangkan aktiva lancar terhadap kewajiban lancar, aktiva tetap bersih terhadap total aktiva, ekuitas terhadap total aktiva, aktiva tetap terhadap kewajiban jangka panjang, penjualan terhadap total aktiva dan laba bersih terhadap jumlah aktiva tidak dapat memperkirakan perusahaan ke dalam kelompok perusahaan mengalami kesulitan keuangan yang kelompok perusahaan yang tidak mengalami kesulitan keuangan. Modelnya 92,93% akurat dalam memprediksi tekanan dari perusahaan tidak kesulitan. | Purpose of this research is to test empirically the ability of Current assets to current liabilities, quick assets to current liabilities, net fixed assets to total assets, equity to total assets, equity to fixed assets, fixed assets to long-term debt, sales to fixed assets, sales to total assets, sales to current assets, net income to total assets, gross profit to sales and net income to sales in estimating financial distress condition of manufacturing companiesin Indonesia Stock Exchange 2009-2011. The sample consists of 13 manufacturing companies experiencing Financial Distress and 20 validation manufacturing companies of company does not experiencing of financial distress. Final sample entail 33 companies and was analyzed using Discriminant analysis. The result indicate that financial ratios are capable in estimating companies into group of companies experiencing financial distress namely quick assets to current liabilities,equity to fixed assets,sales to fixed assets,sales to current assets, gross profit to sales and net income to sales. While current assets to current liabilities, net fixed assets to total assets, equity to total assets, fixed assets to long-term debt, sales to total assets and net income to total assets are unable to estimate company into group of company experiencing financial distress an group of company that is not experiencing of financial distress. The model is 92,93% accurate in predicting the distress from non distress firms. | |
| 11669 | 4626 | G1C008008 | HUBUNGAN ANTARA KUALITAS PELAYANAN DENGAN KEPUASAN PELAYANAN KB DI PUSKESMAS KARANGANYAR KABUPATEN PURBALINGGA. | INTISARI ANI FAIQOH EFENTI HUBUNGAN ANTARA KUALITAS PELAYANAN DENGAN KEPUASAN PELAYANAN KB DI PUSKESMAS KARANGANYAR KABUPATEN PURBALINGGA Data menunjukkan peserta KB yang memafaatkan pemasangan alat kontrasepsi di Puskesmas Karanganyar selama 3 tahun terakhir mengalami penurunan. Tahun 2009 terdapat 3,78% PUS, tahun 2010 mengalami penurunan menjadi 3,16% PUS, dan tahun 2011 mengalami penurunan lagi yaitu 2,11% PUS. Berdasarkan observasi di lokasi penelitian rendahnya PUS yang memanfaatkan pelayanan KB membuat peneliti ingin meneliti kualitas pelayanan KB dan kepuasan Peserta KB. Tujuan penelitian ini untuk Mengetahui hubungan antara kualitas pelayanan dengan kepuasan pelayanan KB di Puskesmas Karanganyar Kabupaten Purbalingga. Penelitian cross sectional ini dilakukan pada 41 responden. Analisis data menggunakan analisis univariat, dan bivariat (uji Chi-Square). Hasil analisis gap menunjukkan gap kenyataan dan harapan sebesar -0.1 dikategorikan dalam kepuasan tidak puas. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan antara tampilan fisik, daya tanggap, kehandalan, jaminan dan, empati dengan kepuasan pelayanan KB di Puskesmas Karanganyar. Saran kepada puskesmas sosialisasi kepada warga Kecamatan Karanganyar tentang adanya pelayanan KB di Puskesmas Karanganyar. | CORRELATION BETWEEN HEALTH SERVICES QUALITY WITH CONTRACEPTIVE HEALTH SERVICES SATISFACTION AT KARANGANYAR PURBALINGGA PUBLIC HEALTH CENTER Ani Faiqoh Efenti1, Elviera Gamelia2, Colti Sistiarani3 Abstrack The data showed that participants installation contraceptives in public health centers Karanganyar past 3 years has decreased. In 2009 there were 247, in 2010 decreased to 206, and in 2011 fell back as 137. Based on observations at the sites low fertile couples who use family planning services to make researchers wanted to examine the quality of family planning and family planning Participant satisfaction. The purpose of this study to Knowing the relationship between service quality and satisfaction of family planning services at community health centers Karanganyar Purbalingga. Cross-sectional study was conducted on 41 respondents. Analysis of the data using univariate and bivariate (Chi-Square test). Gap analysis results show the reality and expectation gap of -0.1 categorized in satisfaction was not satisfied. The results of the bivariate analysis showed no association between physical appearance, responsiveness, reliability, assurance and empathy with satisfaction with family planning services at community health centers Karanganyar. Advice to community health centers Karanganyar socialization to District residents about the presence of family planning services at community health centers Karanganyar. | |
| 11670 | 4628 | G1C008031 | FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADAN DROP OUT IMUNISASI CAMPAK PADA MUNISASI DASAR LENGKAP DI PUSKESMAS TEGAL BARAT KOTA TEGAL TAHUN 2012 | URUSAN KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2013 INTISARI RUSLI AL HANZAH FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DROP OUT IMUNISASI CAMPAK PADA IMUNISASI DASAR LENGKAP DI PUSKESMAS TEGAL BARAT KOTA TEGAL TAHUN 2012 Cakupan imunisasi yang rendah dan tingginya angka bayi yang drop out imunisasi Campak di Puskesmas Tegal Barat salah satu faktor penyebab tingginya angka kejadian Campak klinis di Puskesmas Tegal Barat tahun 2012. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor yang berhubungan dengan kejadian drop out imunisasi Campak. Jenis penelitian adalah penelitian analitik dengan pendekatan kasus kontrol. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari populasi kasus sebanyak 216 orang dan populasi kontrol sebanyak 505 orang. Jumlah sampel sebanyak 76 responden yang terdiri dari 38 responden kasus dan 38 responden kontrol dengan perbandingan kasus dan kontrol adalah 1:1. Hasil penelitian adalah faktor yang terbukti berhubungan dengan kejadian drop out imunisasi Campak adalah faktor persepsi keparahan penyakit Campak (p = 0,021, OR =3,375 dan CI= 1,303 – 8,744) dan persepsi efek samping imunisasi Campak ( p = 0,039, OR= 2,949 dan CI = 1,159 – 7,503) dengan p value <0,05. Faktor yang tidak berhubungan adalah pendidikan, pekerjaan, persepsi kerentanan, persepsi manfaat imunisasi Campak, persepsi hambatan imunisasi Campak dengan p value > 0,05. Saran untuk masyarakat Kelurahan Tegalsari, Muarareja dan Kraton untuk meningkatkan pengetahuan tentang penyakit Campak dengan cara membuka diri terhadap informasi kesehatan serta meningkatkan kepercayaan pada petugas kesehatan setempat. Kata Kunci : Imunisasi, Campak, Drop out Pustaka : 67 (2000-2012) | PUBLIC HEALTH DEPARTMENT FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE JENDRAL SUDIRMAN UNIVERSITY PURWOKERTO 2013 ABSTRACT RUSLI AL HANZAH THE RELATED FACTORS TO DROP OUT GENESIS IN MEASLES IMMUNIZATION TO PRIMARY FULL IMMUNIZATION IN PUBLIC HEALTH CENTRAL WEST TEGAL 2012 Low improved immunization coverage and high drop out rate of infant measles immunization in West Tegal Health Center one factor contributing to the high incidence of clinical measles in West Tegal Health Centers in 2012. The purpose of this research was to analyze the factors associated with the incidence of measles immunization drop out. Type of research was a case-control analytic approach. The population in this research consisted of a population of cases as many as 216 people and as many as 505 people control population. Total sample of 76 respondents consisting of 38 respondents and 38 respondents control cases with comparison of cases and controls was 1:1. The results are the factors shown to be associated with the incidence of drop-out is a factor Measles Measles perception of disease severity (p = 0,021, OR = 3,375 and CI = 1,303-8,744) and perceived side effects of measles immunization (p = 0,039, OR = 2,949 and CI = 1,159-7,503) with a p value <0.05. Unrelated factors are education, employment, perceived susceptibility, perceived benefits Measles, Measles obstacle perception with p value> 0.05. Suggestions for the Village Tegalsari, Muarareja and Kraton to increase knowledge about the disease Measles in a way open to health information and to improve confidence in the local health officer. Keywords: Immunization, measles, Drop out Ref : 67 (2000-2012) | |
| 11671 | 4629 | F1A008027 | Hubungan Jenis Kelamin dan Tingkat Pemahaman Gender dengan Perilaku Organisasi dalam Unit Kegiatan Mahasiswa di FISIP Unsoed | Isu ketidakadilan gender merupakan fenomena sosial yang terjadi di hampir semua masyarakat, termasuk mahasiswa. Penelitian ini dilakukan terhadap mahasiswa FISIP Unsoed dengan pertimbangan mereka memiliki pertimbangan teoritik mengenai gender yang diperoleh dalam perkuliahan dan dianggap sebagai kelompok yang peka dan kritis terhadap setiap tindak ketidakadilan di masyarakat. Sosialisasi gender yang diperoleh melalui keluarga, masyarakat, dan pendidikan memberikan pengaruh yang berbeda pada sikap dan perilaku laki-laki dan perempuan. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan hubungan jenis kelamin dan tingkat pengetahuan gender dengan perilaku organisasi dalam UKM di FISIP Unsoed. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif eksplanatif. Sasaran penelitian adalah pengurus UKM di FISIP Unsoed yang diambil dengan menggunakan teknik sampel jenuh, sebanyak 164 responden. Data penelitian dianalisis menggunakan cross tab, chi square, dan korelasi tau kendall untuk mengetahui hubungan antarvariabel yang diuji. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang tidak signifikan antara jenis kelamin dengan perilaku oraganisasi dengan nilai p value ≥ 0,05 dan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pemahaman gender dengan perilaku organisasi dengan nilai p value ≤ 0,05. Bias gender dalam bentuk stereotip jenis kelamin dalam struktur organisasi pada posisi ketua, bendahara, dan sekretaris masih terlihat. Sebagian besar responden menganggap laki-laki dan perempuan memiliki karakter dan sifat tertentu yang tidak dimiliki satu sama lain. Karakter tersebut menciptakan peran sosial yang berbeda termasuk perannya dalam organisasi. Sebagian responden menentukan posisi ketua sebaiknya ditempati oleh laki-laki, sementara posisi bendahara dan sekretaris sebaiknya ditempati oleh perempuan. Hal tersebut menunjukkan adanya stereotip jenis kelamin pada pembagian posisi dalam struktur organisasi. Pengetahuan gender secara teoritis yang diperoleh dalam perkuliahan perlu diaplikasikan dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam perilaku berorganisasi. Kata kunci : jenis kelamin, pemahaman gender, dan perilaku organisasi | Gender issue is social phenomena which almost happened in social class including student of university. This research was done at student of Social and Political Science Faculty, Jendral Soedirman University which is considerately they have theoretical knowledge about gender which they had got during learning process in their college and they are also reputed as a group of society who have sensitive and critical sense toward every injustice in society. Gender socialization which is gained from family, society, and education give different influence toward each men and women behavior. This research objective is to explain gender relationship and the degree of gender knowledge with organizational behavior in UKM at Social and Political Science Faculty, Jendral Soedirman University. This research used explanative quantitative method. The object of this research is committee of UKM at Social and Political Science Faculty, Jendral Soedirman University by using sampling technique of “jenuh” in 164 respondents. The data analysis of this research used cross tab, chi square, and tau kendall correlation in order to know the relationship between the tested variables. The result of this research showed that there was no significant relationship between gender and organizational behavior which p value ≥ 0,05 and there was significant relationship between degree of gender comprehension and organizational behavior which p value ≤ 0,05. Gender bias on gender stigma in organization structure of chief position, chamberlain, and secretary was still showed. Most of respondents considered that men and women have certain character which is not owned by each other. This character created different social role including their role in organization. Some respondents stated that the position in organization structure must be placed by certain gender because they have character which is not owned by other gender. Most of respondent determined chief position should be placed by men, while chamberlain and secretary position should be placed by women. It showed that there was gender stigma in the division of organization structure. Gender knowledge which is gained theoretically during learning process in their college should be applied in their daily behavior including when they are in the organization. Key words: sex, gender comprehension, and organizational behavior. | |
| 11672 | 4654 | C1A006134 | Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pemerintah Dalam Memprivatisasi PT. Jasa Marga | I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemerintah Indonesia mendirikan BUMN dengan dua tujuan utama, yaitu tujuan yang bersifat ekonomi dan tujuan yang bersifat sosial.Dalam tujuan yang bersifat ekonomi, BUMN dimaksudkan untuk mengelola sektor-sektor bisnis strategis agar tidak dikuasai pihak-pihak tertentu. Bidang-bidang usaha yang menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti perusahaan listrik, minyak dan gas bumi, sebagaimana diamanatkan dalam pasal 33 UUD 1945, dikuasai oleh BUMN. Dengan adanya BUMN diharapkan dapat terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat yang berada di sekitar lokasi BUMN. Tujuan BUMN yang bersifat sosial antara lain dapat dicapai melalui penciptaan lapangan kerja serta upaya untuk membangkitkan perekonomian lokal. Penciptaan lapangan kerja dicapai melalui perekrutan tenaga kerja oleh BUMN. Salah satu contoh perusahaan BUMN adalah PT Jasa Marga (Persero). Dibentuk pada tanggal 1 Maret 1978 dengan tujuan menyelenggarakan jalan tol di Indonesia. Jalan tol pertamanya yaitu Jalan Tol Jagorawi Ruas Jakarta – Cibinong sepanjang 24 km. Pada tanggal 9 Maret 1978, Presiden Soeharto meresmikan jalan tol tersebut sebagai jalan tol pertama di Indonesia yang diberi nama Jagorawi dengan karyawan 200 orang. Banyak definisi yang diberikan oleh para ahli terhadap konsep “privatisasi”. Adapun Savas pada tahun 1987, menyatakan privatisasi sebagai “an act of reducing the role of government, or increasing the role of the private sector, in an activity or in the ownership of assets”. Savas sangat menekankan pentingnya privatisasi, yang ditunjukkan dari pernyataannya: “the role of government is to steer, not to mean the oars. Adanya pro dan kontra dari kebijakan privatisasi BUMN di Indonesia semakin menjadi bagian penting dari kebijakan ekonomi pemerintah. Program privatisasi BUMN akan tetap dilanjutkan dengan mengembangkan berbagai metode privatisasi seperti strategic sales, initial public offering (IPO) terhadap 35% saham milik pemerintah yang didukung dengan langkah-langkah sosialisasi program privatisasi, peningkatan koordinasi dengan departemen/instansi terkait dan mempelajari kemungkinan berbagai alternatif metode privatisasi. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemerintah Memprivatisasi PT.Jasa Marga”. B. Perumusan Masalah PT. Jasa Marga merupakan salah satu BUMN yang diprivatisasi oleh Pemerintah. Banyak nya pro dan kontra tentang privatisasi d kalangan masyarakat membuat menarik untuk diteliti. Adanya opini tentang privatisasi dilakukan karena perusahaan BUMN tersebut hampir bangkrut atau bangkrut perlu dibuktikan. Atau privatisasi tidak mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan. Berdasarkan masalah tersebut, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pemerintah memprivatisasi PT. Jasa Marga? 2. Metode privatisasi apa yang digunakan pemerintah untuk memprivatisasi PT.JasaMarga? 3. Apakah privatisasi tersebut benar-benar memperbaiki efisiensi dan profitabilitas PT. Jasa Marga? C. Pembatasan Masalah Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi privatisasi yang diteliti dan dibahas adalah hanya yang paling utama sehingga pemerintah merasa sudah pantas memprivatisasi PT. Jasa Marga. 2. Menganalisis efisiensi dan profitabilitas sebelum privatisasi dan sesudah privatisasi. D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian a. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemerintah memprivatisasi PT.Jasa Marga. b. Untuk mengetahui metode privatisasi yang digunakan pemerintah untuk memprivatisasi PT.Jasa Marga. c. Untuk mengetahui apakah privatisasi PT.Jasa Marga meningkatkan profitabilitas dan efisiensi atau tidak. 2. Manfaat Penelitian a. Bagi peneliti, untuk mendapatkan pengalaman dan ilmu pengetahuan dalam studi di lingkungan BUMN dan privatisasi serta sebagai persyaratan dalam menyelesaikan studi pada Program Sarjana Jurusan IESP Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman. b. Bagi pembaca, diharapkan penelitian ini mampu menjadi bahan informasi bagi penelitian selanjutnya. III. METODOLOGI PENELITIAN DAN ANALISIS A. Metode Penelitian 1. Sasaran Penelitian Sasaran penelitian ini adalah PT. Jasa Marga (Persero)Tbk sebagai salah satu perusahaan BUMN yang di privatisasi oleh Pemerintah 2. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini adalah di kantor pusat PT. Jasa Marga (Persero)Tbk di Plaza Tol Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, penentuan perusahaan yang akan diambil untuk sampel penelitian dilukan secara sengaja (purposive). Alasan memilih lokasi tersebut karena merupakan kantor pusat, lokasi tersebut juga mudah dijangkau. 3. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis data-data sekunder dari Kantor pusat PT. Jasa Marga (Persero)Tbk dan metode survei yaitu pengumpulan informasi tentang sekelompok manusia, melalui suatu cara yang sistematisseperti observasi, wawancara, dan sebagainya. (M. Suparmoko, 1999:35). 4. Sumber Data a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dari interview atau wawancara kepada beberapa pegawai BUMN, observasi pada pelayanan jasa dan pengembangan jalan tol. b. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dari literatur, PT.Jasa Marga , dan data lainnya serta publikasi hasil penelitian yang berkaitan dengan penelitian ini. 5. Metode Pengumpulan Data a. Interview atau wawancara yang dilakukan terhadap beberapa pegawai PT. Jasa Marga yang terkait dengan data yang ingin diperoleh. b. Observasi, yaitu pengumpulan data melalui pengamatan langsung untuk mengetahui langsung pelayanan dan pengembangan jalan tol yang dilakukan PT. Jasa Marga. 6. Definisi Operasional Variabel-variabel penelitian yang digunakan oleh peneliti untuk menguji hipotesis adalah: a. Efisiensi Adalah mengukur efisiensi penggunaan aset yang dimiliki perusahaan berupa aktiva tetap, persediaan dan piutang usaha dalam menghasilkan aktivitas penjualan.Rasio yang biasa digunakan adalah Total Asset Turnover yang mana jika semakin besar maka semakin baik karena efisien.Total Asset Turnover (Penjualan Bersih/Total Aset) x100% b. Profitabilitas Profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkankeuntungan (Riyanto, 1996). Rasio yang biasa digunakan adalah Return on Asset (ROA) yaitu rasio yang mengukur profitabilitas dari aset, Return on Equity (ROE) yaitu rasio yang mengukur profitabilitas dari ekuitas dan Return on Sales (ROS) yaitu rasio yang mengukur profitabilitas dari penjualan. Semakin besar profitabilitas maka semakin baik kinerja keuangan perusahaan. Return On Asset (ROA) = (Laba Bersih / Total Aset) x 100% , Return On Equity (ROE) = (Laba Bersih / Total Ekuitas) x 100%., Return On Sales (ROS) = (Laba Bersih/Total Penjualan) x 100%. 7. Variabel Penelitian Tabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah efisiensi dan profitabilitas sebelum privatisasi (X1) dan setelah privatisasi (X2). A. Metode Analisis B. Tabel 3. Definisi Operasional VARIABEL INDIKATOR SKALA Kinerja Keuangan BUMN sebelum Privatisasi (X1) Total Asset Turnover = (Pendapatan usaha/Asset) x 100% Rasio Return on Assets (ROA) = (Laba Bersih/Aset) x 100% Rasio Return on Equity (ROE) = (Laba Bersih/Ekuitas) x 100% Rasio Return on Sales (ROS) =(Laba Bersih/Pendapatan usaha) x 100% Rasio Kinerja Keuangan BUMN setelah Privatisasi (X2) Total Asset Turnover = (Pendapatan usaha/Asset) x 100% Rasio Return on Assets (ROA) = (Laba Bersih/Aset) x100% Rasio Return on Equity (ROE) = (Laba Bersih/Ekuitas)x 100% Rasio Return on Sales (ROS) = (Laba Bersih/Pendapatan usaha) x100% Rasio Keterangan : untuk menghitung efisiensi yang digunakan adalah rumus TOT yaitu total asset turnover yaitu laba bersih dibagi asset dikali 100% untuk mengetahui rasio. Untuk menghitung profitabilitas digunakan tiga rumus yaitu ROA yaitu return on asset caranya laba bersih dibagi asset dan dikali 100%. Kedua return on equitas (ROE) caranya laba bersih dibagi equitas lalu dikali 100%. Terakhir return on sales (ROS) caranya laba bersih dibagi pendapatan usaha dan dikali 100%. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum PT. Jasa Marga Sejarah dan perkembangan jalan tol di Indonesia tidak terlepas dari keberadaan PT. Jasa Marga yang selama 32 tahun ini mampu menunjukkan eksistensinya sebagai perusahaan jalan tol pertama di Indonesia. Selama 32 tahun berkiprah sebagai operator dan investor jalan tol, Jasa Marga mampu menunjukkan kapasitas dan kapabilitasnya sehingga terus mempertahankan posisinya sebagai leader operator jalan tol di Indonesia. Dimulai dari Jalan Tol Jagorawi tahun 1978 dan hingga yang Jalan Tol Cipularang tahun 2003 serta JORR ruas Jatiasih-Cikunir pada tahun 2007 Jasa Marga telah mempunyai 13 ruas jalan tol yang kesemuanya dibangun dan dikelola sendiri oleh Jasa Marga. Manfaat jalan tol dalam menumbuhkan perekonomian nasional juga sudah dirasakan masyarakat maupun Pemerintah. Daerah-daerah yang dilalui jalan tol juga mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Bahkan, manfaat jalan tol bukan hanya dirasakan pada saat jalan tol tersebut sudah beroperasi, tetapi mulai dari masa pembangunannya juga sudah membawa dampak positif dalam memacu pertumbuhan perekonomian baik secara nasional maupun di daerah tersebut. Sebab, seluruh material untuk pembangunan jalan tol tidak ada yang berasal dari luar negeri tetapi seluruhnya berasal dari dalam negeri. B. Analisis Data dan Pembahasan 1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pemerintah Memperivatisasi PT. Jasa Marga. Faktor-faktor yang mempengaruhi keptusan pemerintah memperivatisasi PT. Jasa Marga menurut adalah sebagai berikut: a) MembangunDaya Saing Tumbuhnya minat perusahaan swasta dalam investasi jalan tol menciptakan persaingan dalam bisnis ini, terutama dalam memperoleh konsesi jalan tol dari pemerintah.Namun dalam realitas bisnis, memperoleh konsesi jalan tol bukanlah satu-satunya faktor persaingan dalam bisnis ini.Besarnya nilai investasi untuk pembangunan dan pengelolaan jalan tol juga mendorong bisnis ini memasuki persaingan untuk memperoleh sumber pendanaan. b) Tumbuh dengan Dukungan Pendanaan yang Kuat Investasi jalan tol merupakan bisnis yang strategis dan prospektif, namun bersifat jangka panjang dengan paybackperiod 15 tahun atau lebih. Investasi terbesar terjadi pada awal konsesi untuk pembangunan konsesi jalan. Sedangkan pada awal tahun operasi biaya bunga peminjaman akan mendominasi struktur laporan rugi-laba. Karakter ini sangat disadari Jasa Marga, sehingga masalah pendanaan menjadi strategi yang penting. c) APBN dan Pinjaman Luar Negeri Anggaran Pendapatan Negara dan Belanja Negara (APBN) dan pinjaman luar negeri merupakan skema pendanaan pertama dalam pembangunan jalan tol di Indonesia. Skema ini dipakai untuk membangun jalan tol Jagorawi (46 km) yang dibangun dengan biaya Rp 33,9 miliar. Sebesar 40% dana diperoleh dari APBN dan selebihnya pemerintah memperoleh pinjaman lunak dari United State Agency for International Development (USAID). d) Mengurangi Beban APBN dan Menutup Defisit APBN Defisit anggaran negara, yang merupakan perbedaan antara pengeluaran dan penerimaannya, dapat dibelanjai dengan menambah hutang negara dan/atau menjual aktiva atau asset negara termasuk penggunaan dananya yang ada di perbankan. Berdasarkan analisis yang didapatkan, pembangunan jalan tol yang dibiayai oleh pengguna jalan justru mengurangi beban APBN. Dengan demikian pemerintah bisa lebih fokus memanfaatkan dana dalam anggaran Negara untuk program-program yang sangat membutuhkan biaya dari APBN, seperti program peningkatan kesehatan dan kesejahteraan rakyat miskin . Untukmengetahui hubungan antara laba bersih dan total aset dengan APBN, dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment. Dalam melakukan penghitungan peneliti akan menggunakan bantuan program Statistics Package for Social Science (SPSS) for windows release 13,0. Tabel 8.1 Perhitungan Korelasi Product Moment Laba Bersih APBN Laba Bersih Correlation Coefficient 1.000 .900* Sig. (2-tailed) . .037 N 5 5 APBN Correlation Coefficient .900* 1.000 Sig. (2-tailed) .037 . N 5 5 Berdasarkan tabel 8.1 di ketahui nilai korelasi Product Moment sebesar 0,900 dengan tingkat signifikansi 95% (persen), hal ini menunjukan bahwa terdapat hubungan positif dan kuat antara laba bersih Jasa Marga dengan APBN. Tabel 8.2. Perhitungan Korelasi Product Moment Total Aset Total Aset Correlation Coefficient 1.000 .976* Sig. (2-tailed) . .005 N 5 5 APBN Correlation Coefficient .976* 1.000 Sig. (2-tailed) .005 . N 5 5 Berdasarkan tabel 8.2 di ketahui nilai korelasi Product Moment sebesar 0,976 dengan tingkat signifikansi 95% (persen), hal ini menunjukan bahwa terdapat hubungan positif dan kuat antara total aset Jasa Marga dengan APBN. Hal ini sesuai dengan pedoman untuk menentukan koefisien korelasi di antara dua variabel tersebut, dengan membandingkan harga r dengan tabel interpretasi nilai r sebagai berikut: Tabel 8.3. PedomanInterpretasi terhadap Koefisien Korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0,80 – 1,000 Sangat Kuat 0,60 – 0,799 Kuat 0,40 – 0,599 Cukup Kuat 0,20 – 0,399 Rendah 0,00 – 0,199 Sangat Rendah Sumber: Sugiono,2003 Setelah privatisasi, campur tangan pemerintah sudah sangat berkurang. Berdasarkan kutipan wawancara dengan bapak Rudi,SE selaku sekper PT. Jasa Marga, setelah privatisasi pemerintah hanya membantu dalam proses pembebasan tanah kalau tidak terjadi kesepakatan harga yg sudah dipersiapkan PT. Jasa Marga kepada pihak pemilik tanah. Dana untuk pembebasan tanah tersebut pun milik PT. Jasa Marga. Lebih jelasnya pemerintah dapat membantu dengan menyediakan dana talangan untuk pembebasan lahan (revolving fund) melalui Badan Layanan Umum (BLU) atau kebijakan sharing risiko antara pengelola jalan tol an pemerintah dalam menanggung biaya pembebasan lahan yg melampaui rencana investasi (land capping). 2. Metode dan Prosedur Privatisasi Privatisasi BUMN dapat dilaksanakan dengan memilih strategi yang paling cocok, sesuai dengan tujuan privatisasi, jenis BUMN, kondisi BUMN, serta situasi sosial politik dari suatu negara. a. Public Offering Pada strategi public offering, pemerintah menjual kepada publik semua atau sebagian saham yang dimiliki atas PT. Jasa Marga kepada publik melalui pasar modal.Umumnya, pemerintah hanya menjual sebagian dari saham yang dimiliki atas BUMN tersebut. Strategi ini akan menghasilkan suatu perusahaan yang dimiliki bersama antara pemerintah dan swasta. Proporsi kepemilikan pemerintah atas perusahaan ini akan menurun. Public offering ini cocok untuk memprivatisasi BUMN yang cukup besar, memiliki potensi keuntungan yang memadai dalam waktu dekat dapat direalisasi.PT. Jasa Marga harus bisa memberikan informasi lengkap tentang keuangan, manajemen, dan informasi lainnya, yang diperlukan masyarakat sebagai calon investor. Public offering ini akan dapat terealisasi apabila telah tersedia pasar modal, atau suatu badan formal yang dibentuk dalam rangka menginformasikan, menarik, dan menjaring publik. Tabel 23. Indikator Efisiensi dan Profitabilitas ` VARIABEL INDIKATOR SKALA Kinerja Keuangan PT. Jasa Marga sebelum Privatisasi (X1)pada tahun 2006 dan 2007 Total Asset Turnover =(Pendapatan usaha / Asset 2006) x 100% =(2.296.143/10.255.697)x 100% = (Pendapatan usaha / Asset 2007) x 100% =(2.645.043/13.847.227 ) x 100% Rasio = 22,39 = 19,10 Return on Assets (ROA) =(Laba Bersih / Asset 2006) x 100% =(462.567/10.255.697) x 100% = (Laba Bersih / Asset 2007) x 100% =(277.982/13.847.227 ) x 100% Rasio = 4,51 = 2,01 Return on Equity (ROE) = (Laba Bersih / Ekuitas 2006) x 100% =(462.567/2.385.547) x 100% = (Laba Bersih / Ekuitas 2007) x 100% =(277.982/5.975.316) x 100% Rasio = 19,39 = 4,65 Return on Sales (ROS) = (Laba Bersih / Pendapatan 2006) x 100% =(462.567/2.296.143) x 100% = (Laba Bersih / Pendapatan) x 100% = (277.982/2.645.043) x 100% Rasio = 19,39 = 10,51 Kinerja Keuangan PT. Jasa Marga setelah Privatisasi (X2) pada tahun 2009 dan 2010 Total Asset Turnover = (Pendapatan usaha / Asset 2009) x 100% =(3.692.000/16.174.264) x 100% = (Pendapatan usaha / Asset 2010) x 100% =(4.378.584/18.952.129) x100% Rasio = 22,82 =23,10 Return on Assets (ROA) = (Laba Bersih / Asset 2009) x100% =(992.694/16.174.264) x 100% = (Laba Bersih / Asset 2010) x100% =(1.193.486/18.952.129) x 100% Rasio = 6,14 = 6,30 Return on Equity (ROE) = (Laba Bersih / Ekuitas 2009)x 100% =(992.694/7.183.379) x 100% = (Laba Bersih / Ekuitas 2010)x 100% =(1.193.486/7.740.014) x 100% Rasio =13,82 =15,42 Return on Sales (ROS) = (Laba Bersih /Pendapatan usaha 2009) x100% =(992.694/3.692.000) x 100% = (Laba Bersih /Pendapatan usaha) x100% =(1.193.486/4.837.584) x 100% Rasio = 26,89 =24,67 Berdasarkan hasil yang sudah dihitung, pertama tentang jumlah total asset turnover (TAT) pada tahun 2006 besarnya 22,39% (persen) dan tahun 2007 besarnya adalah 19,10% (persen). Adanya penurunan sebesar 3,29% (persen). Perhitungan pada tahun itu sebelum adanya privatisasi. Pada tahun 2009 besarnya total asset turnover nya (TAT) adalah 22,82% (persen) dan tahun 2010 sebesar 23,10% (persen). Ini menunjukan adanya peningkatan sebesar 0,28% (persen). Perhitungan pada tahun tersebut setelah adanya privatisasi. Selanjutnya tentang jumlah return on asset (ROA) pada tahun 2006 besarnya 4,51% (persen) dan tahun 2007 besarnya adalah 2,01% (persen). Terjadi penurunan sebesar 2,5% (persen) sebelum adanya privatisasi. Pada tahun 2009 ROA nya sebesar 6,14% (persen) dan tahun 2010 besarnya 6,29% (persen). Disini juga terjadi peningkatan sebesar 0,15% setelah adanya privatisasi. Lalu besarnya return on equity (ROE) pada tahun 2006 besarnya adalah 19,39% dan tahun 2007 besarnya adalah 4,65%. Terjadi penurunan yang besar yaitu 14,74% sebelum adanya privatisasi. Tahun 2009 besarnya ROE adalah 13,82% dan Thun 2010 besarnya adalah 15,42%. Adanya peningkatan yaitu 1,6%. Terakhir besarnya return on sales (ROS) pada tahun 2006 besarnya 19,39% dan tahun 2007 10,51%. Terjadi lagi penurunan sebesar 8,88% sebelum privatisasi. Pada tahun 2009 besarnya ROS adalah 26,89% dan tahun 2010 adalah 24,67%. Adanya penurunan sebesar 2,22% setelah adanya privatisasi. Kesimpulannya sebelum privatisasi besarnya TOT,ROA,ROE dan ROS mengalami penurunan setiap tahunnya. Sedangkan setelah privatisasi hampir semua indicator mengalami peningkatan setiap tahunnya kecuali ROS. V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan : 1. PT. Jasa Marga diprivatisasi oleh pemerintah karena adanya persaingan terhadap swasta agar BUMN jauh lebih mandiri dan dapat mengurangi beban APBN juga defisit APBN. 2. Metode privatisasi yang dipakai adalah initial public offering (IPO), Karena saham yang dijual sebesar 30%. Sesuai dengan kriteria initial public offering (IPO). PT. Jasa marga sudah go pubic, artinya investor nya adalah investor public. 3. Privatisasi ternyata meningkatkan efisiensi dan profitabilitas pada PT. Jasa Marga per-tahunnya. Dibuktikan lagi dengan perhitungan efisiensi dengan indikator total asset turnover (TAT) dan profitabilitas yang terdiri dari return on asset (ROA), return on equitas (ROE) dan return on sales (ROS) sebelum privatisasi dan sesudah privatisasi adalah meningkat. Dari sampel tahun 2006 dan 2007 untuk sebelum privatisasi,dan tahun 2009 juga 2010 untuk setelah privatisasi. Untuk total asset turnovernya selisih rata-ratanya meningkat sebesar 2,22. Return on assetnya meningkat sebesar 2,96. Return on equitas meningkat sebesar 2,6. Terakhir adalah return on sales meningkat sebesar 10,75. B. Implikasi 1. Dilihat dari tujuan privatisasi untuk PT. Jasa Marga, sebaiknya itu terus dijalankan. Mengingat PT. Jasa Marga harus selalu memberi pelayanan terbaik pada masyarakat. Sehingga harus memperlihatkan kinerja yang baik. 2. Metode initial public offering (IPO) yang dipakai PT. Jasa Marga harus dimanfaatkan dengan baik. Sebaiknya dengan saham yang dijual 30% dipergunakan sebaik-baiknya untuk penambahan fasilitas jalan tol sesuai kebutuhan masyarakat. 3. Dengan meningkatnya efisiensi dan profitabilitas pada PT. Jasa Marga, diharapkan kinerja perusahaan tersebut terus bertambah baik. Agar kepercayaan masyarakat tidak berkurang dan berdampak pada penurunan besarnya efisiensi dan profitabilitas. DAFTAR PUSTAKA Artjan, M. Faisal., IPO Sebagai Alternatif Privatisasi BUMN, Majalah Usahawan No. 02 Thn. XXIX, Februari 2000. Basri, Faisal. 2002. Perekonomian Indonesia. Jakarta. Penerbit Erlangga. Dwidjowijoto, Riant dan Randy Wrihatnolo. 2008. Manajemen Privatisasi BUMN. Jakarta : PT Elex Media Komputindo-Gramedia. Herdinata, Christian. 2007. “Hubungan antara Struktur Kepemilikan, Corporate Governance, dan Nilai Perusahaan yang Go Public di BEJ pada EraGlobalisasi.” Tesis Ciputra’. Herwanto, Hengky. 2007. Membangun Jalan ke Masa Depan, Perjalanan 30 tahun Jasa Marga. PT. Jasa Marga (PERSERO) Tbk. Lubis, Maria. 2004. ”Dampak Privatisasi terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan.” Tesis Pascasarjana Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Mohd. Nur, Noorul Ainur. 2003. op. cit. hal. 24 . Moeljono. 2004. “Dasar Pembentukan BUMN.” Munggaran, Ady Kurnia. 2007. ”Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan BUMN Sebelum dan Sesudah Privatisasi.” Skripsi Universitas Widyatama, Nugroho, Riant. 2008. “Business and Economics”. Savas, E., 1987. The Key to Better Governments.hal. 3. | I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemerintah Indonesia mendirikan BUMN dengan dua tujuan utama, yaitu tujuan yang bersifat ekonomi dan tujuan yang bersifat sosial.Dalam tujuan yang bersifat ekonomi, BUMN dimaksudkan untuk mengelola sektor-sektor bisnis strategis agar tidak dikuasai pihak-pihak tertentu. Bidang-bidang usaha yang menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti perusahaan listrik, minyak dan gas bumi, sebagaimana diamanatkan dalam pasal 33 UUD 1945, dikuasai oleh BUMN. Dengan adanya BUMN diharapkan dapat terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat yang berada di sekitar lokasi BUMN. Tujuan BUMN yang bersifat sosial antara lain dapat dicapai melalui penciptaan lapangan kerja serta upaya untuk membangkitkan perekonomian lokal. Penciptaan lapangan kerja dicapai melalui perekrutan tenaga kerja oleh BUMN. Salah satu contoh perusahaan BUMN adalah PT Jasa Marga (Persero). Dibentuk pada tanggal 1 Maret 1978 dengan tujuan menyelenggarakan jalan tol di Indonesia. Jalan tol pertamanya yaitu Jalan Tol Jagorawi Ruas Jakarta – Cibinong sepanjang 24 km. Pada tanggal 9 Maret 1978, Presiden Soeharto meresmikan jalan tol tersebut sebagai jalan tol pertama di Indonesia yang diberi nama Jagorawi dengan karyawan 200 orang. Banyak definisi yang diberikan oleh para ahli terhadap konsep “privatisasi”. Adapun Savas pada tahun 1987, menyatakan privatisasi sebagai “an act of reducing the role of government, or increasing the role of the private sector, in an activity or in the ownership of assets”. Savas sangat menekankan pentingnya privatisasi, yang ditunjukkan dari pernyataannya: “the role of government is to steer, not to mean the oars. Adanya pro dan kontra dari kebijakan privatisasi BUMN di Indonesia semakin menjadi bagian penting dari kebijakan ekonomi pemerintah. Program privatisasi BUMN akan tetap dilanjutkan dengan mengembangkan berbagai metode privatisasi seperti strategic sales, initial public offering (IPO) terhadap 35% saham milik pemerintah yang didukung dengan langkah-langkah sosialisasi program privatisasi, peningkatan koordinasi dengan departemen/instansi terkait dan mempelajari kemungkinan berbagai alternatif metode privatisasi. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemerintah Memprivatisasi PT.Jasa Marga”. B. Perumusan Masalah PT. Jasa Marga merupakan salah satu BUMN yang diprivatisasi oleh Pemerintah. Banyak nya pro dan kontra tentang privatisasi d kalangan masyarakat membuat menarik untuk diteliti. Adanya opini tentang privatisasi dilakukan karena perusahaan BUMN tersebut hampir bangkrut atau bangkrut perlu dibuktikan. Atau privatisasi tidak mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan. Berdasarkan masalah tersebut, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pemerintah memprivatisasi PT. Jasa Marga? 2. Metode privatisasi apa yang digunakan pemerintah untuk memprivatisasi PT.JasaMarga? 3. Apakah privatisasi tersebut benar-benar memperbaiki efisiensi dan profitabilitas PT. Jasa Marga? C. Pembatasan Masalah Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi privatisasi yang diteliti dan dibahas adalah hanya yang paling utama sehingga pemerintah merasa sudah pantas memprivatisasi PT. Jasa Marga. 2. Menganalisis efisiensi dan profitabilitas sebelum privatisasi dan sesudah privatisasi. D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian a. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemerintah memprivatisasi PT.Jasa Marga. b. Untuk mengetahui metode privatisasi yang digunakan pemerintah untuk memprivatisasi PT.Jasa Marga. c. Untuk mengetahui apakah privatisasi PT.Jasa Marga meningkatkan profitabilitas dan efisiensi atau tidak. 2. Manfaat Penelitian a. Bagi peneliti, untuk mendapatkan pengalaman dan ilmu pengetahuan dalam studi di lingkungan BUMN dan privatisasi serta sebagai persyaratan dalam menyelesaikan studi pada Program Sarjana Jurusan IESP Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman. b. Bagi pembaca, diharapkan penelitian ini mampu menjadi bahan informasi bagi penelitian selanjutnya. III. METODOLOGI PENELITIAN DAN ANALISIS A. Metode Penelitian 1. Sasaran Penelitian Sasaran penelitian ini adalah PT. Jasa Marga (Persero)Tbk sebagai salah satu perusahaan BUMN yang di privatisasi oleh Pemerintah 2. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini adalah di kantor pusat PT. Jasa Marga (Persero)Tbk di Plaza Tol Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, penentuan perusahaan yang akan diambil untuk sampel penelitian dilukan secara sengaja (purposive). Alasan memilih lokasi tersebut karena merupakan kantor pusat, lokasi tersebut juga mudah dijangkau. 3. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis data-data sekunder dari Kantor pusat PT. Jasa Marga (Persero)Tbk dan metode survei yaitu pengumpulan informasi tentang sekelompok manusia, melalui suatu cara yang sistematisseperti observasi, wawancara, dan sebagainya. (M. Suparmoko, 1999:35). 4. Sumber Data a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dari interview atau wawancara kepada beberapa pegawai BUMN, observasi pada pelayanan jasa dan pengembangan jalan tol. b. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dari literatur, PT.Jasa Marga , dan data lainnya serta publikasi hasil penelitian yang berkaitan dengan penelitian ini. 5. Metode Pengumpulan Data a. Interview atau wawancara yang dilakukan terhadap beberapa pegawai PT. Jasa Marga yang terkait dengan data yang ingin diperoleh. b. Observasi, yaitu pengumpulan data melalui pengamatan langsung untuk mengetahui langsung pelayanan dan pengembangan jalan tol yang dilakukan PT. Jasa Marga. 6. Definisi Operasional Variabel-variabel penelitian yang digunakan oleh peneliti untuk menguji hipotesis adalah: a. Efisiensi Adalah mengukur efisiensi penggunaan aset yang dimiliki perusahaan berupa aktiva tetap, persediaan dan piutang usaha dalam menghasilkan aktivitas penjualan.Rasio yang biasa digunakan adalah Total Asset Turnover yang mana jika semakin besar maka semakin baik karena efisien.Total Asset Turnover (Penjualan Bersih/Total Aset) x100% b. Profitabilitas Profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkankeuntungan (Riyanto, 1996). Rasio yang biasa digunakan adalah Return on Asset (ROA) yaitu rasio yang mengukur profitabilitas dari aset, Return on Equity (ROE) yaitu rasio yang mengukur profitabilitas dari ekuitas dan Return on Sales (ROS) yaitu rasio yang mengukur profitabilitas dari penjualan. Semakin besar profitabilitas maka semakin baik kinerja keuangan perusahaan. Return On Asset (ROA) = (Laba Bersih / Total Aset) x 100% , Return On Equity (ROE) = (Laba Bersih / Total Ekuitas) x 100%., Return On Sales (ROS) = (Laba Bersih/Total Penjualan) x 100%. 7. Variabel Penelitian Tabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah efisiensi dan profitabilitas sebelum privatisasi (X1) dan setelah privatisasi (X2). A. Metode Analisis B. Tabel 3. Definisi Operasional VARIABEL INDIKATOR SKALA Kinerja Keuangan BUMN sebelum Privatisasi (X1) Total Asset Turnover = (Pendapatan usaha/Asset) x 100% Rasio Return on Assets (ROA) = (Laba Bersih/Aset) x 100% Rasio Return on Equity (ROE) = (Laba Bersih/Ekuitas) x 100% Rasio Return on Sales (ROS) =(Laba Bersih/Pendapatan usaha) x 100% Rasio Kinerja Keuangan BUMN setelah Privatisasi (X2) Total Asset Turnover = (Pendapatan usaha/Asset) x 100% Rasio Return on Assets (ROA) = (Laba Bersih/Aset) x100% Rasio Return on Equity (ROE) = (Laba Bersih/Ekuitas)x 100% Rasio Return on Sales (ROS) = (Laba Bersih/Pendapatan usaha) x100% Rasio Keterangan : untuk menghitung efisiensi yang digunakan adalah rumus TOT yaitu total asset turnover yaitu laba bersih dibagi asset dikali 100% untuk mengetahui rasio. Untuk menghitung profitabilitas digunakan tiga rumus yaitu ROA yaitu return on asset caranya laba bersih dibagi asset dan dikali 100%. Kedua return on equitas (ROE) caranya laba bersih dibagi equitas lalu dikali 100%. Terakhir return on sales (ROS) caranya laba bersih dibagi pendapatan usaha dan dikali 100%. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum PT. Jasa Marga Sejarah dan perkembangan jalan tol di Indonesia tidak terlepas dari keberadaan PT. Jasa Marga yang selama 32 tahun ini mampu menunjukkan eksistensinya sebagai perusahaan jalan tol pertama di Indonesia. Selama 32 tahun berkiprah sebagai operator dan investor jalan tol, Jasa Marga mampu menunjukkan kapasitas dan kapabilitasnya sehingga terus mempertahankan posisinya sebagai leader operator jalan tol di Indonesia. Dimulai dari Jalan Tol Jagorawi tahun 1978 dan hingga yang Jalan Tol Cipularang tahun 2003 serta JORR ruas Jatiasih-Cikunir pada tahun 2007 Jasa Marga telah mempunyai 13 ruas jalan tol yang kesemuanya dibangun dan dikelola sendiri oleh Jasa Marga. Manfaat jalan tol dalam menumbuhkan perekonomian nasional juga sudah dirasakan masyarakat maupun Pemerintah. Daerah-daerah yang dilalui jalan tol juga mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Bahkan, manfaat jalan tol bukan hanya dirasakan pada saat jalan tol tersebut sudah beroperasi, tetapi mulai dari masa pembangunannya juga sudah membawa dampak positif dalam memacu pertumbuhan perekonomian baik secara nasional maupun di daerah tersebut. Sebab, seluruh material untuk pembangunan jalan tol tidak ada yang berasal dari luar negeri tetapi seluruhnya berasal dari dalam negeri. B. Analisis Data dan Pembahasan 1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pemerintah Memperivatisasi PT. Jasa Marga. Faktor-faktor yang mempengaruhi keptusan pemerintah memperivatisasi PT. Jasa Marga menurut adalah sebagai berikut: a) MembangunDaya Saing Tumbuhnya minat perusahaan swasta dalam investasi jalan tol menciptakan persaingan dalam bisnis ini, terutama dalam memperoleh konsesi jalan tol dari pemerintah.Namun dalam realitas bisnis, memperoleh konsesi jalan tol bukanlah satu-satunya faktor persaingan dalam bisnis ini.Besarnya nilai investasi untuk pembangunan dan pengelolaan jalan tol juga mendorong bisnis ini memasuki persaingan untuk memperoleh sumber pendanaan. b) Tumbuh dengan Dukungan Pendanaan yang Kuat Investasi jalan tol merupakan bisnis yang strategis dan prospektif, namun bersifat jangka panjang dengan paybackperiod 15 tahun atau lebih. Investasi terbesar terjadi pada awal konsesi untuk pembangunan konsesi jalan. Sedangkan pada awal tahun operasi biaya bunga peminjaman akan mendominasi struktur laporan rugi-laba. Karakter ini sangat disadari Jasa Marga, sehingga masalah pendanaan menjadi strategi yang penting. c) APBN dan Pinjaman Luar Negeri Anggaran Pendapatan Negara dan Belanja Negara (APBN) dan pinjaman luar negeri merupakan skema pendanaan pertama dalam pembangunan jalan tol di Indonesia. Skema ini dipakai untuk membangun jalan tol Jagorawi (46 km) yang dibangun dengan biaya Rp 33,9 miliar. Sebesar 40% dana diperoleh dari APBN dan selebihnya pemerintah memperoleh pinjaman lunak dari United State Agency for International Development (USAID). d) Mengurangi Beban APBN dan Menutup Defisit APBN Defisit anggaran negara, yang merupakan perbedaan antara pengeluaran dan penerimaannya, dapat dibelanjai dengan menambah hutang negara dan/atau menjual aktiva atau asset negara termasuk penggunaan dananya yang ada di perbankan. Berdasarkan analisis yang didapatkan, pembangunan jalan tol yang dibiayai oleh pengguna jalan justru mengurangi beban APBN. Dengan demikian pemerintah bisa lebih fokus memanfaatkan dana dalam anggaran Negara untuk program-program yang sangat membutuhkan biaya dari APBN, seperti program peningkatan kesehatan dan kesejahteraan rakyat miskin . Untukmengetahui hubungan antara laba bersih dan total aset dengan APBN, dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment. Dalam melakukan penghitungan peneliti akan menggunakan bantuan program Statistics Package for Social Science (SPSS) for windows release 13,0. Tabel 8.1 Perhitungan Korelasi Product Moment Laba Bersih APBN Laba Bersih Correlation Coefficient 1.000 .900* Sig. (2-tailed) . .037 N 5 5 APBN Correlation Coefficient .900* 1.000 Sig. (2-tailed) .037 . N 5 5 Berdasarkan tabel 8.1 di ketahui nilai korelasi Product Moment sebesar 0,900 dengan tingkat signifikansi 95% (persen), hal ini menunjukan bahwa terdapat hubungan positif dan kuat antara laba bersih Jasa Marga dengan APBN. Tabel 8.2. Perhitungan Korelasi Product Moment Total Aset Total Aset Correlation Coefficient 1.000 .976* Sig. (2-tailed) . .005 N 5 5 APBN Correlation Coefficient .976* 1.000 Sig. (2-tailed) .005 . N 5 5 Berdasarkan tabel 8.2 di ketahui nilai korelasi Product Moment sebesar 0,976 dengan tingkat signifikansi 95% (persen), hal ini menunjukan bahwa terdapat hubungan positif dan kuat antara total aset Jasa Marga dengan APBN. Hal ini sesuai dengan pedoman untuk menentukan koefisien korelasi di antara dua variabel tersebut, dengan membandingkan harga r dengan tabel interpretasi nilai r sebagai berikut: Tabel 8.3. PedomanInterpretasi terhadap Koefisien Korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0,80 – 1,000 Sangat Kuat 0,60 – 0,799 Kuat 0,40 – 0,599 Cukup Kuat 0,20 – 0,399 Rendah 0,00 – 0,199 Sangat Rendah Sumber: Sugiono,2003 Setelah privatisasi, campur tangan pemerintah sudah sangat berkurang. Berdasarkan kutipan wawancara dengan bapak Rudi,SE selaku sekper PT. Jasa Marga, setelah privatisasi pemerintah hanya membantu dalam proses pembebasan tanah kalau tidak terjadi kesepakatan harga yg sudah dipersiapkan PT. Jasa Marga kepada pihak pemilik tanah. Dana untuk pembebasan tanah tersebut pun milik PT. Jasa Marga. Lebih jelasnya pemerintah dapat membantu dengan menyediakan dana talangan untuk pembebasan lahan (revolving fund) melalui Badan Layanan Umum (BLU) atau kebijakan sharing risiko antara pengelola jalan tol an pemerintah dalam menanggung biaya pembebasan lahan yg melampaui rencana investasi (land capping). 2. Metode dan Prosedur Privatisasi Privatisasi BUMN dapat dilaksanakan dengan memilih strategi yang paling cocok, sesuai dengan tujuan privatisasi, jenis BUMN, kondisi BUMN, serta situasi sosial politik dari suatu negara. a. Public Offering Pada strategi public offering, pemerintah menjual kepada publik semua atau sebagian saham yang dimiliki atas PT. Jasa Marga kepada publik melalui pasar modal.Umumnya, pemerintah hanya menjual sebagian dari saham yang dimiliki atas BUMN tersebut. Strategi ini akan menghasilkan suatu perusahaan yang dimiliki bersama antara pemerintah dan swasta. Proporsi kepemilikan pemerintah atas perusahaan ini akan menurun. Public offering ini cocok untuk memprivatisasi BUMN yang cukup besar, memiliki potensi keuntungan yang memadai dalam waktu dekat dapat direalisasi.PT. Jasa Marga harus bisa memberikan informasi lengkap tentang keuangan, manajemen, dan informasi lainnya, yang diperlukan masyarakat sebagai calon investor. Public offering ini akan dapat terealisasi apabila telah tersedia pasar modal, atau suatu badan formal yang dibentuk dalam rangka menginformasikan, menarik, dan menjaring publik. Tabel 23. Indikator Efisiensi dan Profitabilitas ` VARIABEL INDIKATOR SKALA Kinerja Keuangan PT. Jasa Marga sebelum Privatisasi (X1)pada tahun 2006 dan 2007 Total Asset Turnover =(Pendapatan usaha / Asset 2006) x 100% =(2.296.143/10.255.697)x 100% = (Pendapatan usaha / Asset 2007) x 100% =(2.645.043/13.847.227 ) x 100% Rasio = 22,39 = 19,10 Return on Assets (ROA) =(Laba Bersih / Asset 2006) x 100% =(462.567/10.255.697) x 100% = (Laba Bersih / Asset 2007) x 100% =(277.982/13.847.227 ) x 100% Rasio = 4,51 = 2,01 Return on Equity (ROE) = (Laba Bersih / Ekuitas 2006) x 100% =(462.567/2.385.547) x 100% = (Laba Bersih / Ekuitas 2007) x 100% =(277.982/5.975.316) x 100% Rasio = 19,39 = 4,65 Return on Sales (ROS) = (Laba Bersih / Pendapatan 2006) x 100% =(462.567/2.296.143) x 100% = (Laba Bersih / Pendapatan) x 100% = (277.982/2.645.043) x 100% Rasio = 19,39 = 10,51 Kinerja Keuangan PT. Jasa Marga setelah Privatisasi (X2) pada tahun 2009 dan 2010 Total Asset Turnover = (Pendapatan usaha / Asset 2009) x 100% =(3.692.000/16.174.264) x 100% = (Pendapatan usaha / Asset 2010) x 100% =(4.378.584/18.952.129) x100% Rasio = 22,82 =23,10 Return on Assets (ROA) = (Laba Bersih / Asset 2009) x100% =(992.694/16.174.264) x 100% = (Laba Bersih / Asset 2010) x100% =(1.193.486/18.952.129) x 100% Rasio = 6,14 = 6,30 Return on Equity (ROE) = (Laba Bersih / Ekuitas 2009)x 100% =(992.694/7.183.379) x 100% = (Laba Bersih / Ekuitas 2010)x 100% =(1.193.486/7.740.014) x 100% Rasio =13,82 =15,42 Return on Sales (ROS) = (Laba Bersih /Pendapatan usaha 2009) x100% =(992.694/3.692.000) x 100% = (Laba Bersih /Pendapatan usaha) x100% =(1.193.486/4.837.584) x 100% Rasio = 26,89 =24,67 Berdasarkan hasil yang sudah dihitung, pertama tentang jumlah total asset turnover (TAT) pada tahun 2006 besarnya 22,39% (persen) dan tahun 2007 besarnya adalah 19,10% (persen). Adanya penurunan sebesar 3,29% (persen). Perhitungan pada tahun itu sebelum adanya privatisasi. Pada tahun 2009 besarnya total asset turnover nya (TAT) adalah 22,82% (persen) dan tahun 2010 sebesar 23,10% (persen). Ini menunjukan adanya peningkatan sebesar 0,28% (persen). Perhitungan pada tahun tersebut setelah adanya privatisasi. Selanjutnya tentang jumlah return on asset (ROA) pada tahun 2006 besarnya 4,51% (persen) dan tahun 2007 besarnya adalah 2,01% (persen). Terjadi penurunan sebesar 2,5% (persen) sebelum adanya privatisasi. Pada tahun 2009 ROA nya sebesar 6,14% (persen) dan tahun 2010 besarnya 6,29% (persen). Disini juga terjadi peningkatan sebesar 0,15% setelah adanya privatisasi. Lalu besarnya return on equity (ROE) pada tahun 2006 besarnya adalah 19,39% dan tahun 2007 besarnya adalah 4,65%. Terjadi penurunan yang besar yaitu 14,74% sebelum adanya privatisasi. Tahun 2009 besarnya ROE adalah 13,82% dan Thun 2010 besarnya adalah 15,42%. Adanya peningkatan yaitu 1,6%. Terakhir besarnya return on sales (ROS) pada tahun 2006 besarnya 19,39% dan tahun 2007 10,51%. Terjadi lagi penurunan sebesar 8,88% sebelum privatisasi. Pada tahun 2009 besarnya ROS adalah 26,89% dan tahun 2010 adalah 24,67%. Adanya penurunan sebesar 2,22% setelah adanya privatisasi. Kesimpulannya sebelum privatisasi besarnya TOT,ROA,ROE dan ROS mengalami penurunan setiap tahunnya. Sedangkan setelah privatisasi hampir semua indicator mengalami peningkatan setiap tahunnya kecuali ROS. V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan : 1. PT. Jasa Marga diprivatisasi oleh pemerintah karena adanya persaingan terhadap swasta agar BUMN jauh lebih mandiri dan dapat mengurangi beban APBN juga defisit APBN. 2. Metode privatisasi yang dipakai adalah initial public offering (IPO), Karena saham yang dijual sebesar 30%. Sesuai dengan kriteria initial public offering (IPO). PT. Jasa marga sudah go pubic, artinya investor nya adalah investor public. 3. Privatisasi ternyata meningkatkan efisiensi dan profitabilitas pada PT. Jasa Marga per-tahunnya. Dibuktikan lagi dengan perhitungan efisiensi dengan indikator total asset turnover (TAT) dan profitabilitas yang terdiri dari return on asset (ROA), return on equitas (ROE) dan return on sales (ROS) sebelum privatisasi dan sesudah privatisasi adalah meningkat. Dari sampel tahun 2006 dan 2007 untuk sebelum privatisasi,dan tahun 2009 juga 2010 untuk setelah privatisasi. Untuk total asset turnovernya selisih rata-ratanya meningkat sebesar 2,22. Return on assetnya meningkat sebesar 2,96. Return on equitas meningkat sebesar 2,6. Terakhir adalah return on sales meningkat sebesar 10,75. B. Implikasi 1. Dilihat dari tujuan privatisasi untuk PT. Jasa Marga, sebaiknya itu terus dijalankan. Mengingat PT. Jasa Marga harus selalu memberi pelayanan terbaik pada masyarakat. Sehingga harus memperlihatkan kinerja yang baik. 2. Metode initial public offering (IPO) yang dipakai PT. Jasa Marga harus dimanfaatkan dengan baik. Sebaiknya dengan saham yang dijual 30% dipergunakan sebaik-baiknya untuk penambahan fasilitas jalan tol sesuai kebutuhan masyarakat. 3. Dengan meningkatnya efisiensi dan profitabilitas pada PT. Jasa Marga, diharapkan kinerja perusahaan tersebut terus bertambah baik. Agar kepercayaan masyarakat tidak berkurang dan berdampak pada penurunan besarnya efisiensi dan profitabilitas. DAFTAR PUSTAKA Artjan, M. Faisal., IPO Sebagai Alternatif Privatisasi BUMN, Majalah Usahawan No. 02 Thn. XXIX, Februari 2000. Basri, Faisal. 2002. Perekonomian Indonesia. Jakarta. Penerbit Erlangga. Dwidjowijoto, Riant dan Randy Wrihatnolo. 2008. Manajemen Privatisasi BUMN. Jakarta : PT Elex Media Komputindo-Gramedia. Herdinata, Christian. 2007. “Hubungan antara Struktur Kepemilikan, Corporate Governance, dan Nilai Perusahaan yang Go Public di BEJ pada EraGlobalisasi.” Tesis Ciputra’. Herwanto, Hengky. 2007. Membangun Jalan ke Masa Depan, Perjalanan 30 tahun Jasa Marga. PT. Jasa Marga (PERSERO) Tbk. Lubis, Maria. 2004. ”Dampak Privatisasi terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan.” Tesis Pascasarjana Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Mohd. Nur, Noorul Ainur. 2003. op. cit. hal. 24 . Moeljono. 2004. “Dasar Pembentukan BUMN.” Munggaran, Ady Kurnia. 2007. ”Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan BUMN Sebelum dan Sesudah Privatisasi.” Skripsi Universitas Widyatama, Nugroho, Riant. 2008. “Business and Economics”. Savas, E., 1987. The Key to Better Governments.hal. 3. | |
| 11673 | 4631 | F1B008058 | IMPLEMENTASI PROGRAM PENYEDIAAN AIR MINUM DAN SANITASI BERBASIS MASYARAKAT (PAMSIMAS) DI DESA SUDIMARA KECAMATAN CILONGOK | Penelitian ini dilatarbelakangi dari banyaknya wilayah di Indonesia pada umumnya dan wilayah Kabupaten Banyumas pada khususnya yang masih mengalami kekurangan air bersih dan buruknya keadaan sanitasi. Salah satu desa di Kabupaten Banyumas yang mengalami kekeringan yang memprihatinkan pada musim kemarau dan mempunyai sanitasi yang buruk adalah Desa Sudimara di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Dibutuhkan solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Solusinya adalah dengan sebuah Program yang disebut dengan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menggambarkan bagaimana implementasi Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di Desa Sudimara Kecamatan Cilongok. Model implementasi kebijakan yang digunakan milik Merilee S. Grindle dengan aspek isi kebijakan dan lingkungan kebijakan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan analisa deskriptif. Teknik pengambilan informannya adalah purposive sampling dan snowball sampling. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi. Untuk menjamin validitas data yang telah diperoleh, diuji dengan cara triangulasi sumber. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan model analisa interaktif Miles dan Huberman. Di dalam penelitian ini jenis manfaat yang dihasilkan telah mampu meningkatkan akses masyarakat Sudimara terhadap air minum dan sanitasi dengan pengelolaannya secara efektif. Derajat perubahan yang diharapkan adalah tercapainya tingkat kesehatan yang meningkat, karena PHBS yang semakin baik. Sumberdaya yang dilibatkan yaitu Pemerintah Desa, LKM, BPS, serta masyarakat Sudimara. Sumber daya yang lain yaitu sumber dana yang berasal dari swadaya in-cash dan in-kind masyarakat. Kemampuan dan daya tanggap pelaksana dapat dikatakan baik, dibuktikan salah satunya dengan respon yang cepat apabila timbul suatu masalah. Prestasi yang telah diraih oleh Sudimara harus dapat menjadi motivasi bagi agar ke depannya semakin baik, dan Sudimara juga dapat dijadikan desa percontohan atau studi banding bagi desa lain. | The research was motivated from a lot of Indonesian district in common that through seriously dried up in dry season and also has bad sanitation and specially in Banyumas Regency. Sudimara village in District of Cilongok, Banyumas Recency are one of village that through seriously dried up in dry season and also has bad sanitation. Need a solution to solved the problem. The solution are a Programme that known as WSLIC-3 (Third Water Supply and Sanitation for Low Income Communities). This research focuses to know and describe how the implementation of Third Water Supply and Sanitation for Low Income Communities Programme (WSLIC-3) in Sudimara Village District of Cilongok. Implementation model policy that use are Merilee S. Grindle’s model with policy content and policy context. The method used in this research is a qualitative analysis with descriptive analyzed. Researchers intent to select informants are purposive sampling and snowball sampling. The instrument for collecting data are interview, observation and documentation. To ensure the validity of the data that has been acquired, tested by means of triangulation source. The data analysis technique used in this study with interactive analysis model from Miles and Huberman. In this research is that types of advantages result are to the expectant Sudimara’s people accessed to water supply and sanitation with effective used. Reach change expectant are accomplished that healthy prevelation are higher because of healthy and clean life. The resources that involved are Village Government, LKM, BPS, and Sudimara’s people. Beside that, there are money that got from in-cash and in-kind Sudimara’s people. Discipline and responsiveness of the actor are good, with evidence that they have quick respond when met a trouble. Sudimara’s award from PAMSIMAS had to be forward motivation better and Sudimara also can be village model or comparison study for other village. | |
| 11674 | 4632 | F1A008074 | FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT PARTISIPASI ANGKATAN KERJA PEREMPUAN DI PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2008-2010 | Penelitian ini berjudul “Faktor- Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan Tahun 2008- 2010 di Provinsi Jawa Tengah”. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan hubungan antara usia, tingkat pendidikan dan daerah asal dengan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di wilayah Jawa Tengah. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif, sedangkan metode analisis data menggunakan analisis data sekunder (ADS) dan studi pustaka. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang ada di kantor BPS purwokerto. Hasil analisis data yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut: Terdapat hubungan antara usia dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan. Tidak adanya hubungan antara tingkat pendidikan dengan TPAK perempuan. Karena tingkat pendidikan tidak atau belum tamat SD dan SD dengan pendidikan perguruan tinggi sama-sama memiliki TPAK perempuan yang tinggi. Terdapat hubungan antara daerah asal perkotaan dan pedesaan dengan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan. | The title of this research is “The Factors That Correlates With The Level of Participation of Female New Comer Labor In 2008-2010 in the Province of Central Java”. The purpose of this research is to describe the correlation between the age, the level of education and their region with the participation level of female new comer labor in the area of Central Java. The method of research in this research uses the method of quantitative research, and the method of data analysis uses the secondary data analysis (ADS) and literature study. Kind of data in this research is secondary data that has been obtained from the Statistical Central Board (BPS) that has Headquarter in BPS Purwokerto. The result of data analysis that has been conducted it is obtained the result as follow: the factors that correlates with the level of participation of the female new comer labor that is the age, the level of education and their place of birth. And there is the correlation between the age and the level of the Female New Comer Labor Participation (TPAK). There is no any correlation between the education and TPAK female. Because the level of education is not or not graduate in the elementary school SD and Elementary School SD with the university graduation both of them has similarity has high female TPAK. There is the correlation between the area or urban area and countryside area with the level of female new comer labor participation. | |
| 11675 | 4633 | F1G009022 | ABREVIASI DALAM MEDIA KOMUNIKASI SMS (SHORT MESSAGE SERVICE) PADA MAHASISWA BAHASA DAN SASTRA INDONESIA | RINGKASAN Penelitian ini berjudul “Abreviasi dalam Media Komunikasi SMS (Short Message Service) pada Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia”. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi tipe-tipe abreviasi yang digunakan dalam media komunikasi SMS berdasarkan pengekalan huruf dan suku kata dan untuk mengetahui pola-pola pembentukan abreviasi dari tipe-tipe abreviasi tersebut dalam setiap jenis abreviasi yang ada, jenis-jenis abreviasi yang dimaksud meliputi singkatan, penggalan, akronim, kontraksi, dan lambang huruf. Karena terdapat bentuk-bentuk abreviasi yang disertai dengan adanya variasi penulisan, ditambahkan satu jenis abreviasi untuk melengkapi kelima abreviasi tersebut, yaitu bentuk khusus. Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah SMS. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah informan yaitu mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak, dengan teknik sadap, teknik pancing, dan teknik catat. Selanjutnya, metode yang digunakan dalam analisis data adalah metode padan dengan teknik dasar yaitu teknik pilah unsur penentu. Dalam analisis data juga digunakan metode agih dengan teknik dasar yaitu teknik bagi unsur langsung. Metode penyajian hasil analisis data menggunakan metode formal dan informal. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan abreviasi dalam media komunikasi SMS pada mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia ditemukan 48 tipe pembentukan abreviasi. Secara umum, tipe pengekalan yang ditemukan terjadi pada huruf ke-1 suku kata ke-1. Selanjutnya, ke-48 tipe tersebut dimasukkan ke dalam 6 jenis abreviasi sehingga memunculkan pola-pola pembentukan abreviasi. Pola KV-KVKKKK pada pola-pola pembentukan abreviasi secara umum ditemukan pada data abreviasi. Kata kunci : morfologi, abreviasi, SMS | SUMMARY This research is entitled “Abbreviation in Communication of Short Message Service on the Indonesian Language and Literature Students”. The purpose of this research is to identify the types of abbreviation which used in short message service based on constancy letter and syllable, and also to find out the terms of abbreviation forms from those abbreviations to every kind of abbreviation. The types of abbreviation are shorten, deduction, acronym, contraction and symbols of letter. Due to found types of abbreviation that takes the existence of writing variations, append one type of abbreviation to provide with those 5 abbreviations, which is the special form of abbreviation. This research based on descriptive qualitative method. The data on this research is a text on Short Message Service. The source data on this research is an informant from Indonesian Language and Literature students. This data analyse methods are correct reading method, reading observation technique, stimulating technique, and written technique. The method that used for data analysing is an identity method in basically technique within that is choosing certain aspects technique. The researcher also using distributional method with basically technique is immediate constituents technique. Presenting method for data analysed result used formal method and informal method. Based on research result and discussed, abbreviation from communication media SMS on the Indonesian Language and Literature students, found 46 types of abbreviation forming. Generally, constancy type which found shows on the first letter of the first syllable. Furthermore, those 46 abbreviation types to 6 types of abbreviation that caused showing forms of abbreviations. Form KV-KVKKKK on many abbreviation forms generally found on data abbreviation. Key words: morphology, abbreviation, SMS | |
| 11676 | 4634 | C1K006037 | THE EFFECT OF ORGANIZATIONAL JUSTICE, ORGANIZATIONAL COMMITMENT AND JOB SATISFACTION ON ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR (Survey Research on Employees at PT. KAI (Persero) DAOP V Purwokerto) | The aims of research are to analyze the effect of procedural, distributive and interactional justice on affective, normative and continuance commitment, to analyze the effect of procedural, distributive and interactional justice on intrinsic and extrinsic job satisfaction, to analyze the effect of affective, normative, continuance commitment, intrinsic and extrinsic job satisfaction on OCB. Number of respondents in this research was 117 employees. The sampling technique used in this research was probability sampling (selected sample) by simple random sampling, whereas the determination of sample size used Slovin formula. To test hypotheses, it used the Structural Equation Modeling Analysis, which has got the tstatistic value of procedural justice on affective commitment, distributive on normative, interactional on intrinsic and extrinsic job satisfaction, normative and continuance on OCB and tstatistic value of intrinsic on OCB each was smaller than the value of t table, then the tstatistic value of affective on OCB was greater than the value of -t table, while the tstatistic value of procedural on normative and continuance, distributive on affective and continuance, interactional on affective, normative and continuance, procedural and distributive on intrinsic and extrinsic job satisfaction and tstatistic value of extrinsic job satisfaction on OCB each was greater than the value of t table. Based on the result of data analysis, it could be concluded that procedural justice has no significant positive effect on affective commitment, procedural justice has significant positive effect on normative and continuance commitment, distributive justice has no significant positive effect on normative commitment, distributive justice has significant positive effect on affective and continuance commitment, interactional justice has positive and significant effect on affective, normative and continuance commitment, procedural and distributive justice has significant positive effect on intrinsic and extrinsic job satisfaction, interactional justice has no significant positive effect on intrinsic and extrinsic job satisfaction, affective commitment has no significant negative effect on OCB, normative and continuance commitment has no significant positive effect on OCB, intrinsic job satisfaction has no significant positive effect on OCB, on the other hand extrinsic job satisfaction has positive and significant effect on OCB. | The aims of research are to analyze the effect of procedural, distributive and interactional justice on affective, normative and continuance commitment, to analyze the effect of procedural, distributive and interactional justice on intrinsic and extrinsic job satisfaction, to analyze the effect of affective, normative, continuance commitment, intrinsic and extrinsic job satisfaction on OCB. Number of respondents in this research was 117 employees. The sampling technique used in this research was probability sampling (selected sample) by simple random sampling, whereas the determination of sample size used Slovin formula. To test hypotheses, it used the Structural Equation Modeling Analysis, which has got the tstatistic value of procedural justice on affective commitment, distributive on normative, interactional on intrinsic and extrinsic job satisfaction, normative and continuance on OCB and tstatistic value of intrinsic on OCB each was smaller than the value of t table, then the tstatistic value of affective on OCB was greater than the value of -t table, while the tstatistic value of procedural on normative and continuance, distributive on affective and continuance, interactional on affective, normative and continuance, procedural and distributive on intrinsic and extrinsic job satisfaction and tstatistic value of extrinsic job satisfaction on OCB each was greater than the value of t table. Based on the result of data analysis, it could be concluded that procedural justice has no significant positive effect on affective commitment, procedural justice has significant positive effect on normative and continuance commitment, distributive justice has no significant positive effect on normative commitment, distributive justice has significant positive effect on affective and continuance commitment, interactional justice has positive and significant effect on affective, normative and continuance commitment, procedural and distributive justice has significant positive effect on intrinsic and extrinsic job satisfaction, interactional justice has no significant positive effect on intrinsic and extrinsic job satisfaction, affective commitment has no significant negative effect on OCB, normative and continuance commitment has no significant positive effect on OCB, intrinsic job satisfaction has no significant positive effect on OCB, on the other hand extrinsic job satisfaction has positive and significant effect on OCB. | |
| 11677 | 4627 | E1A008347 | NTEGRASI EKONOMI REGIONAL MENUJU MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) 2015 (Kajian mengenai kesiapan Indonesia menghadapi Free Flow of Goods sebagai implementasi dari Single Market and Production Base) REGIONAL ECONOMIC INTEGRATION TOWARDS ASEAN ECONOMIC COMMUNITY (AEC) 2015 (A study on the readiness of Indonesia to face Free Flow of Goods as the implementation of the Single Market and Production Base) | ABSTRAK Globalisasi mempengaruhi munculnya blok-blok perdagangan dunia yang berintegrasi dalam lingkup regional guna memperkuat perekonomian internal negara anggota maupun kawasan ASEAN. ASEAN bermaksud memulihkan perekonomian dari krisis yang terjadi tahun 1997-1998 yang merusak tatanan perekonomian ASEAN melalui Declaration of Bali Concord II dalam KTT ASEAN di Bali pada tanggal 7 Oktober 2003 dengan membentuk Masyarakat ASEAN (ASEAN Community) yang terdiri atas Masyarakat Ekonomi ASEAN, Masyarakat Politik-Keamanan ASEAN, Masyarakat Sosial-Budaya ASEAN. Untuk mengetahui integrasi ekonomi regional ASEAN dalam sudut pandang Hukum Internasional berkaitan dengan kesiapan Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN, maka skripsi ini menggunakan penelitian yuridis normatif dengan pendekatan undang-undang (Statute Approach) dan pendekatan konseptual (Conseptual Approach). Hasil penelitian ini disajikan dalam uraian yang disusun secara sistematis dan dianalisis secara kualitatif kemudian ditarik suatu simpulan. Status ASEAN sebagai organisasi antarnegara mempengaruhi kesepakatan-kesepakatan mengenai integrasi ekonomi regional ASEAN berdasarkan prinsip non-interference dan respect sovereignty yang tercantum dalam Pasal 2 ASEAN Charter 2007, membuat ASEAN tidak dapat secara maksimal berintegrasi sehingga tidak mempunyai kewenangan untuk memberikan sanksi kepada negara anggotanya. Dikorelasikan dengan kesiapan Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN yang tertuang dalam Blueprint ASEAN Economic Community 2003 membutuhkan komitmen yang tinggi dalam berbagai aspek, tidak sejalan dengan realita birokrasi Indonesia yang tidak efektif dan efisien, korupsi dan belum direalisasikannya Undang-Undang Perdagangan membuat Indonesia tidak sepenuhnya siap menghadapi arus bebas barang yang merupakan salah satu elemen dalam implementasi pasar tunggal ASEAN yang berbasis produksi internasional. | ABSTRACT Globalization influence the emergence of trading blocs in the world that integrated in regional scope to strengthen the internal economy of member states and ASEAN’s area. ASEAN intend to restore their economical from the global financial crisis in 1997-1998 which ruin the economical system of ASEAN through the Declaration of Bali Concord II within ASEAN Summit in Bali on October 7th, 2003 to establish ASEAN Community consisting of ASEAN Economic Community, ASEAN Political-Security Community, ASEAN Socio-Cultural Community. To determine the regional economic integration of ASEAN in the viewpoint of international law relating to the readiness of Indonesia to face the ASEAN Economic Community, then this minithesis used a normative juridical of research with statute approach and conceptual approach. The result of this study presented in systematically description and analyzed qualitatively then drawn a conclusion. Status of ASEAN as an intergovernmental organization affected the agreements regarding regional economic integration of ASEAN based on the principles of non-interference and respect sovereignty attached in Article 2 of the ASEAN Charter in 2007, making ASEAN can not optimally integrated that does not have authority to impose sanctions on its members. Correlated with the readiness of Indonesia to face ASEAN Economic Community embodied in the ASEAN Economic Community Blueprint 2003 require high commitment in many aspects, it is not in line with the reality of Indonesian bureaucracy which is ineffective and inefficient, corruption and not realize Trade Act yet, made Indonesia not fully prepared to face free flow of goods, as one of elements in the implementation of ASEAN single market and international production based. | |
| 11678 | 4637 | F1F008105 | DECLARATION OF POWER: A CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS OF BARRACK OBAMA’S ULTIMATUM TO MOAMMAR GHADDAFI | Bahasa dan kekuatan memiliki keterkaitan. Penggunaan bahasa dapat merepresentasikan tingkatan sosial para penuturnya, khususnya ketika penggunaan bahasa itu dilandasi oleh kekuatan dan dominasi. Representasi kekuatan dan dominasi tersebut belum lama ini tergambar di dalam isu politik yang terjadi antara Libya dan Amerika Serikat terkait krisis yang terjadi di Libya. Barrack Obama sebagai perwakilan dari Amerika serikat dan sekutunya menyampaikan sebuah pidato ultimatum yang menunjukkan kekuatan dan dominasi yang lebih kuat dibandingkan dengan Moammar Ghaddafi, presiden Libya. Tujuan penelitian ini antara lain (1) untuk mengetahui properti verbal yang digunakan Barrack Obama untuk menunjukkan kekuatan dan dominasi dan (2) untuk menjelaskan bagaimana Barrak Obama menunjukkan kekuatan yang lebih dominan melalui pidatonya. Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif. Data yang digunakan adalah ujaran-ujaran yang terdapat di dalam pidato Barrak Obama kepada Moammar Ghaddafi. Data tersebut dianalisis menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis yang berkolaborasi dengan pendekatan Pragmatik dan pendekatan Linguistik Sistemik Fungsional. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam menyampaikan pidatonya, Barrack Obama menggunakan properti verbal yang menunjukkan kekuatan dan dominasi. Properti verbal tersebut tertuang dalam bentuk tindak tutur, modality dan tindakan komunikatif dan makna sosial. Dalam tidak tuturnya, Obama menyerang Ghaddafi secara verbal, memberikan perintah, peringatan serta ancaman kepada Ghaddafi terkait krisis yang terjadi di Libya. Melalui modality, Obama mengobligasi Ghaddafi dengan menggunakan kata kerja yang termodulasi. Melalui tindak komunikatif and makna sosial, Obama menghilangkan kata sapa penanda kesopanan “Mister” ketika menyebut nama Ghaddafi. Penggunaan properti verbal-properti verbal tersebut adalah bukti penggunaan kekuatan dan dominasi Obama terhadap Moammar Ghaddafi. Maka dari itu, pidato ultimatum Barrack Obama adalah sebuah pendeklarasian kekuatan; sebuah pidato yang didasari oleh kekuatan dan dominasi. | Language and Power are linked. Language use represents social hierarchy among its interlocutors, especially when its demonstration is determined by power and dominance. The representation of power and dominance through language occurred recently in the political issue between Libya and the United States related to the crisis emerging in Libya. Barrack Obama as the representative of the United States and allies delivered an ultimatum speech which showed power and dominance abuse over Moammar Ghaddafi, the president of Libya. The purposes of this research are (1) to find out the verbal properties used by Barrack Obama that reflect power and domination abuse and (2) to explain how Barrack Obama’s speech reflects the dominant power. This research applied the qualitative research method. The data were the utterances in Barrack Obama ultimatum speech to Moammar Ghaddafi. The data were analyzed using the Critical Discourse Analysis in collaboration with Pragmatic and Systemic Functional Linguistic approach. The result of the research showed that in delivering his ultimatum speech, Barrack Obama used verbal properties that reflect power and dominance. The verbal properties are in forms of speech acts, modality and communicative acts and social meanings. Through his speech acts, Obama verbally attacked, ordered, warned and threatened Ghaddafi due to the concerned crisis in Libya. Through the use of modality, Obama obligated Ghaddafi by using modulated verbs. Through communicative acts and social meanings, Obama omitted the vocative politeness marker “mister’ before Ghaddafi’s name when addressing him. The uses of such verbal properties mentioned above are evidences of Obama’s power and dominance abuse. Hence, Barrack Obama’s ultimatum speech is a declaration of power; a speech which is determined by power and dominance. | |
| 11679 | 4638 | F1C007077 | BUDAYA KOMUNIKASI VERBAL WARIA (Studi Etnografi Komunikasi Di Komunitas Waria “Teruni Bhinneka Organisasi” Purwokerto) | ABSTRAK Komunitas waria adalah sebuah kelompok masyarakat yang mengalami banyak masalah dalam kehidupannya, mulai dari mereka yang telah memutuskan untuk hidup sebagai waria. Mulai dari kejiwaan mereka yang memiliki kebingungan dalam identitas diri, tidak diterimanya waria dalam masyarakat umum sehingga waria mempunyai keterbatasan dalam sosialisasi bermasyarakat, dan mereka juga mengalami kesulitan dalam hal legalitas hokum, baik tertulis ataupun tidak tertulis. Komunitas waria juga memiliki karakter, kebiasaan, bahasa, dan perilaku tersendiri yang membentuk sebuah pola atau kebudayaan yang unik seperti komunikasi dan gaya bahasa mereka cenderung dibuat-buat seperti yang banyak diucapkan oleh waria pada umumnya. Salah satu komunitas waria yang telah cukup lama keberadaannya di Purwokerto dan tetap eksis adalah komunitas Teruni Bhinneka Organisasi (THEBIO). Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif, untuk melihat permasalahan yang terjadi secara mendalam. Fokus yang dikaji adalah budaya komunikasi komunitas THEBIO Purwokerto. Metode penelitian komunikasi kualitatif dengan menggunakan Etnografi komunikasi. Teknik sampling yang digunakan adalah dengan metode purposive sampling. Metode analisis menggunakan analisis interaktif dan dengan validitas data triangulasi sumber. Berdasarkan hasil penelitian mengenai budaya komunikasi komunitas waria THEBIO Purwokerto. maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Dalam komunitas waria THEBIO banyak terjadi peristiwa komunikasi di antaranya adalah penggunaan bahasa prokem atau bahasa gaulnya waria. Penggunaan bahasa prokem digunakan untuk berinteraksi dengan rekan waria, teman yang juga memahami bahasa prokem. Fungsi dari penggunaan bahasa verbal itu sendiri adalah untuk mempermudah mereka menyampaikan informasi dan keinginannya tanpa diketahui orang lain. Komponen komunikasi yang membentuk peristiwa bisa terjadi secara spontanitas dan juga karena sengaja dibentuk. Hubungan komunikasi di dalam komunitas THEBIO didasari antarkomponen dengan adanya rasa kekeluargaan dalam diri para waria, sehingga membentuk berbagai cara agar dapat merekatkan keakraban di antara mereka. Kata kunci : Budaya Komunikasi, Komunitas waria THEBIO Purwokerto. | ABSTRACT Transexual community is a group of people who has a lot of problem in their life start from them who have decided to live as transexual. From psychology they who hafe the confuseness withim personal identify, unacceptable the transexual in common people makes them have the difficultines in a law legality, written or not. Transexual community is also have character, habits, language and behaviour itself that formed a pattern or unique culture such as communication, and their language style intered to an arfificial pattern as much as said by transexual community that still exist in Purwokerto is Teruni Bhinneka Organisasi (THEBIO) Community. This research is using descriptive qualitative, to see the problems that occur in depth. It focuses in the community of communication culture THEBIO PURWOKERTO. The research method qualitative communication is using Ethnography communication. Sampling technique that used by purposive sampling method. The analysis method is using interactive analysis and the validity of the data source triangulation. Based on the research results about communication culture of transexual community THEBIO Purwokerto, can be summarized : Trasexual community THEBIO has many of communication event such as to interact with transexual partner, friend that also understand jargon of youth. The function of verbal language usage it self is to make easy them to give the information and the eager without knowing by another. Communication aspect which is formed the event could be spontaneous and also happened because they want it. The relation of communication in THEBIO community basicly based on interaspect with having to do with family within the transexuals, until make ways to get closer among them. Keywords: Cultural Communication, Community transsexual of THEBIO Purwokerto. | |
| 11680 | 4639 | H1L008057 | Penerapan Metode Analytical Hierarchy Process Dalam Pemilihan Kualitas Benih Padi Sawah (Studi Kasus Di Wilayah Pertanian Kabupaten Banyumas) | Artikel ini membahas tentang pembuatan sistem pendukung keputusan dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk pemilihan kualitas benih padi sawah di wilayah Kabupaten Banyumas. Hasil proses pemilihan kualitas benih padi sawah dapat digunakan sebagai rekomendasi benih padi sawah yang lebih baik digunakan oleh petani agar hasil pertanian yang dihasilkan dapat sesuai dengan yang diharapkan untuk memenuhi kebutuhan dan ketahanan pangan penduduk Indonesia khususnya penduduk di Kabupaten Banyumas. | This article discusses about making of a decision support system using the Analytical Hierarchy Process (AHP) for choosing quality of rice seeds in Banyumas Regency. The result of selection quality process of rice seeds can be used for recommendation of rice seed which is better used by the farmer in order to agricultural product can be appropriate the expectation to fullfill needs and food security of Indonesian society especially Banyumas Regency’s society. |