Artikelilmiahs

Menampilkan 11.641-11.660 dari 49.031 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
116414591B1J008023DOMINANSI DAN PROPORSI RUMPUT LAUT MERAH (Rhodophyta) PADA BERBAGAI SUBSTRAT DI PANTAI PERMISAN CILACAPPantai Permisan Nusakambangan diduga memiliki keanekaragaman hayati cukup tinggi salah satunya yaitu rumput laut. Pertumbuhan rumput laut dipengaruhi oleh faktor lingkungan, diantaranya substrat, suhu, salinitas dan derajat keasaman (pH). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dominansi dan proporsi rumput laut merah (Rhodophyta) pada berbagai substrat di Pantai Permisan, Cilacap. Penelitian ini menggunakan metode survai, dengan pengambilan sampel secara acak terpilih dengan metode kuadrat ukuran 1m2. Pada setiap subtrat diambil 20 plot. Pengambilan sampel rumput laut dilakukan pada saat surut terendah. Semua jenis rumput laut merah diidentifikasi dengan menggunakan buku identifikasi Trono, Atmadja, dan Anggadireja, kemudian dianalisis secara deskriptif ciri-ciri morfologi, dominansi dan proporsinya. Hasil penelitian diperoleh rumput laut merah di Pantai Permisan sebanyak 5 jenis yaitu Acanthophora muscoides (Vahl) Boergesen, Eucheuma serra J. Agardh, Gelidium rigidum (Vahl) Grev, Gracilaria foliifera (Forsskal) Boergesen, Rhodymenia palmata (Linnaeus) Greville. Jenis Gelidium rigidum mendominansi di substrat karang dan substrat campuran di Pantai Permisan. Berdasarkan indeks dominansi simpson, indeks dominansi tertinggi pada substrat karang 0,644058 kemudian diikuti substrat campuran 0,552418.

Kata kunci: Dominansi, Proporsi, Substrat dasar, Pantai Permisan, Cilacap
Permisan seashore in Nusakambangan alleged of having on biological diversity is quite high one of them is seaweed. Seaweed growth is influenced by environmental factors including, substrate, temperature, salinity, acidity (pH). The objective of the observation is to find out the dominance and the proportion of Red seaweeds (Rhodophyta) on various substrates at Permisan seashore, in Cilacap. The research used a survey method, sampling was conducted selected random sampling selected sampling with size squared 1m2 method. On every sybstrates taken 20 plot. The sample seaweed carried on at low tide lowest. All kinds of Red seaweed is identified by using the Trono, Atmadja, Anggadireja book identification, then analyzed by descriptive morphological traits, dominance and proportion. The research resulted that there were 5 kinds of red algae at Permisan seashore, Cilacap those are Acanthophora muscoides (Vahl) Boergesen, Eucheuma serra J. Agardh, Gelidium rigidum (Vahl) Grev, Gracilaria foliifera (Forsskal) Boergesen, Rhodymenia palmata (Linnaeus) Greville. A kind of Gelidium rigidum dominant in a reef substrate and a mixture of sand and reef in permisan seashore. Based on Simpson dominant index, the highest dominant index was found on 0,644058 reef substrate, followed by a mixture of 0,552418 sand and reef.

Keywords: Dominance, Proportion, Substrates, Permisan Seashore, Cilacap
116424593F1D007068LOCAL STRONGMAN DALAM POLITIK LOKAL (Studi Kasus Peranan Kiai Dalam Kaderisasi Politik Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Wonosobo Provinsi Jawa Tengah)Penelitian ini membahas tentang Local Strongman melalui Peranan Kiai Dalam Kaderisasi Politik sebagai bagian dari kekuatan politik lokal, untuk mengetahui lebih jauh tentang fenomena peranan kiai dalam kaderisasi politik PPP di Kabupaten Wonosobo yang sedang berlangsung maupun yang sudah terjadi dengan menggunakan kajian secara kualitatif. Kiai merupakan tokoh masyarakat dengan sosoknya yang memiliki kewibawaan, berkharisma, serta memiliki kekuasaan yang mampu mempersatukan elemen yang ada didalam masyarakat untuk sama-sama memperjuangkan aspirasi bagi ummat Islam. Kelompok kiai telah banyak berperan aktif menjabat sebagai Pimpinan Majelis Pakar dan Majelis Pertimbangan DPC PPP Kabupaten Wonosobo. Melalui pengajian yang diadakan secara periodik untuk menyampaikan pesan-pesan politiknya tentang keunggulan PPP. Hal tersebut yang membuat Program dakwah di PPP menjadi bagian dari kaderisasi politik. Dalam interaksi antara kiai dengan pemerintah, kiai merupakan jembatan untuk menyampaikan aneka ragam pendapat dan aspirasi masyarakat Islam terhadap pemerintahan lokal. Namun, pada masa reformasi ini kiai hanya dimanfaatkan ketokohanya oleh elit poltik, sehingga memunculkan anggapan bahwa kekuatan politik kiai pada masa demokrasi langsung ini membutuhkan akumulasi modal sosial, yaitu simbolik (ketokohan) dan pragmatis (uang).This research discussed the “Local Strongman” through scholars role In Politics regeneration as part of the local political power, for know more about the the phenomenon of the role scholars in political regeneration PPP in Wonosobo progress and that has been the case with using a qualitative study. Scholars is a public figure who has the authority, charismatic, and has a power that is able to unite the elements that exist within the community to are equally fight for the aspirations of the Islamic community. The group has many active scholars served as Chairman of the Assembly of Experts and the Advisory Council DPC PPP Wonosobo. Through lectures are held periodically to convey political messages about the advantages of PPP. This is makes da'wah Programs of PPP became part of the regeneration of politics. The interactions between scholars and the government, scholars is a bridge for deliver diversity of opinions and aspirations of the people of Islam to the local government. But, during this reform scholars stature used only by the elite politically. giving rise to the assumption that scholars political power during direct democracy requires the accumulation of social capital, that is a symbolic (figure) and pragmatic (money).
116434595C1A008011"PENGARUH JUMLAH WISATAWAN YANG MENGINAP DI HOTEL, JUMLAH KAMAR HOTEL DAN PDRB SUB-SEKTOR PERHOTELAN TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA BIDANG PERHOTELAN DI KABUPATEN BANYUMAS (1991-2013) "Penelitian ini berjudul “ Pengaruh Jumlah Kunjungan Wisata Yang Menginap di Hotel, Jumlah Kamar Hotel Dan PDRB Sub.Sektor Perhotelan Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Bidang Perhotelan di Kabupaten Banyumas (1991-2011)” . Tujuan penelian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah kunjungan wisatawan yang menginap di hotel, jumlah kamar hotel dan PDRB sub.sektor perhotelan baik secara parsial maupun bersama-sama terhadap penyerapan tenaga kerja bidang perhotelan di Kabupaten Banyumas dan untuk mengetahui antara ketiga faktor tersebut manakah yang memiliki pengaruh terbesar terhadap penyerapan tenaga kerja perhotelan di Kabupaten Banyumas .
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :
1. Variabel Jumlah Kunjungan Wisatawan yang menginap di Hotel, Jumlah Kamar Hotel dan PDRB Sub-Sektor Perhotelan secara parsial dan bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja.
2. Variabel yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap tingkat penyerapan tenaga kerja perhotelan di Kabupaten Banyumas adalah variabel jumlah kamar hotel.
Metode penelitian dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data sekunder dari BPS kemudian diolah dengan menggunakan alat analisis regresi linear berganda dan perhitungan elastisitas.
Dari hasil penelitian didapatkan hasil secara bersama-sama jumlah kunjungan wisatawan yang menginap di hotel, jumlah kamar hotel dan PDRB sub.sektor perhotelan memberikan pengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja perhotelan di Kabupaten Banyumas, secara parsial jumlah kunjungan wisatawan yang menginap di hotel dan jumlah kamar hotel memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja perhotelan di Kabupaten Banyumas sedangkan PDRB Sub.sektor perhotelan tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja perhotelan di Kab.Banyumas.
Penyerapan tenaga kerja bidang perhotelan di Kabupaten Banyumas dapat ditingkatkan dengan cara lebih mempromosikan sektor pariwisata Kabupaten Banyumas secara meluas misalnya melalui media online, juga untuk menunjang perkembangan perhotelan di Kabupaten Banyumas maka pemerintah Banyumas dapat mempermudah prosedur perizinan pendirian bangunan misalnya dengan meringankan pajak Bumi dan bangunan karena semakin banyak pembangunan hotel maka tenaga kerja bidang perhotelan yang terserap pun akan semakin meningkat jumlahnya.
This study entitled "The Effect of Number of Visits Tourism who Stay in Hotel, Number of Rooms and Hospitality GDP Sub-Sector toward Hospitality Sector Labour Absorption in Banyumas (1991-2011)". Research objective was to determine the effect of the number of tourists who stay at the hotel, the number of hotel rooms and hospitality GDP sub-sector either partially or simultaneously on employment in hospitality in Banyumas and to determine which of the three factors that have the highest effect on hospitality employment in Banyumas.
The hypothesis of this study is :
1. Variable Number of visits Travelers who stay at the hotel, Number of Rooms and Hospitality GDP sub-sector partially and simultaneously have significant effect on employment of hospitality.
2. The variable that has the most effect on the level of employment in the hospitality Banyumas is a variable number of hotel rooms.
To determine the effect of the number of tourists who stay at the hotel, the number of hotel rooms and hospitality sub-sector GDP on employment hospitality, done by collecting secondary data from BPS then processed by using a multiple linear regression analysis and calculation of elasticity. From the research results obtained together a number of tourist stays, number of rooms and hospitality sub.sector GDP have a significant effect on employment in the hospitality Banyumas, partially tourists who stay in hotels and number of rooms hotels have a significant effect on employment in the hospitality district. Banyumas Sub.sector hospitality while GDP did not have a significant effect on employment in the hospitality Banyumas District.
Employment in hospitality in Banyumas district could be improved by further promote the tourism sector Banyumas widely through online media, as well as to support the development of hospitality in Banyumas government to simplify licensing procedures to ease the construction of the buildings such as the Earth and building tax due the more development the hotel hospitality field labour will be absorbed in increasing numbers.
116444596F1F007044SOCIOPOLITICAL SENTIMENTS AS REFLECTED IN ANTI-FLAG'S SONGS ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Sociopolitical Sentiments as Reflected in Anti-Flag’s Songs.” bertujuan untuk menganalisis jenis pandangan masyarakat dan politik yang terdapat pada lagu-lagu Anti-Flag, dan cara Anti-Flag untuk menggambarkan hal tersebut dalam lirik lagu-lagu mereka.
Dalam penelitian ini, metode deskriptif kualitatif digunakan untuk menganalisis data, yaitu tiga buah lagu karya Anti-Flag yang berjudul 911 for Peace, Fuck Police Brutality, dan Protest Song. Data utama dari penelitian ini dianalisis menggunakan strukturalisme genetik. Terdapat beberapa langkah yang dilakukan dalam menganalisis dan mengetahui jawaban dari pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini. Pertama adalah menentukan obyek yang akan dianalisis yakni lirik dari lagu-lagu Anti-Flag yang berjudul 911 for Peace, Fuck Police Brutality, dan Protest Song. Langkah yang kedua adalah menganalisis gaya bahasa yang terdapat pada lirik-lirik lagu tersebut karena gaya bahasa merupakan salah satu dari unsur-unsur intrinsik dari karya sastra. Kemudian, menghubungkannya dengan fakta masyarakat dan politik yang terjadi pada sa’at lagu-lagu tersebut diciptakan.
Dari hasil analisis, didapat kesimpulan bahwa lagu-lagu Anti-Flag yang berjudul 911 for Peace, Fuck Police Brutality, dan Protest Song merupakan lagu-lagu yang berisi tentang pandangan masyarakat dan politik seperti ajakan untuk membuat dunia menjadi damai, gagasan anti-perang, menerima keberanekaragaman manusia, kebencian terhadap para polisi, dan protes terhadap pemerintah.
ABSTRACT

This research entitled “Sociopolitical Sentiments as Reflected in Anti-Flag’s Songs” is aimed to analyze the kinds of society and political sentiments as reflected on Anti-Flag’s songs, and Anti-Flag’s way to show their sociopolitical sentiments through their song lyrics.
In this research, descriptive qualitative method is used to analyze the data: three Anti-Flag’s songs entitled 911 for Peace, Fuck Police Brutality, and Protest Song. The main data of this research is analyzed by using Genetic Structuralism. There are steps done in analyzing and extracting the song lyrics as the answer of the research questions. The first is determining the object which is going to be analyzed they are 911 for Peace, Fuck Police Brutality and Protest Song lyrics. The second is analyzing the language style of the song lyrics due to language style is one of the intrinsic elements of literary works. Then, connect it with the society and political facts those happen when those songs were created. The last step is concluding.
From the research result, Anti-Flag’s songs entitled 911 for Peace, Fuck Police Brutality, and Protest Song contain of sociopolitical sentiments. They are persuasion to make the world peace, anti-war idea, receiving the human diversities, hatred of police brutality, and protest to the government.
116454598B1J007200POTENSI REPRODUKSI IKAN BELANAK (Mugil cephalus) DI MUARA SUNGAI SENTOLO AREA PENAMBANGAN PASIR BESI DESA SELOK KABUPATEN CILACAP
Distribusi ikan belanak (Mugil cephalus) relatif luas, meliputi daerah estuaria, perairan tawar, maupun perairan pantai. Ikan belanak memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi dan mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan. Daging dan telur ikan belanak cukup disenangi masyarakat dan banyak dikonsumsi baik sebagai ikan segar maupun ikan asin. Ikan belanak merupakan jenis ikan laut tetapi sering masuk ke daerah estuaria bahkan ke perairan air tawar terutama banyak ditemukan di muara sungai. Salah satu perairan yang memiliki sumberdaya ikan belanak adalah perairan sungai Sentolo Desa Selok, Cilacap Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Potensi reproduksi ikan belanak yang ditangkap di Sungai Sentolo area penambangan pasir besi Desa Selok Kabupaten Cilacap. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan pengambilan sampel secara random sampling. Variabel yang diamati meliputi Indeks kematangan gonad (IKG), Tingkat kematangan gonad (TKG), fekunditas dan diameter telur. Parameter utama yang diamati adalah pengukuran panjang total, pengukuran bobot tubuh, pengukuran bobot gonad, dan diameter telur. Parameter pendukung berupa kualitas air, meliputi temperatur, pH, salinitas, oksigen terlarut, karbondioksida bebas, dan kadar Fe perairan. Data kualitatif dianalisis secara diskriptif berupa tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG), fekunditas dan diameter telur, sedangkan hubungan antara fekunditas dengan panjang atau bobot tubuh ikan belanak dianilisis secara regresi linier. Hasil pengamatan selama penelitian mempunyai nilai TKG ikan belanak beragam, yaitu TKG I, II, III, dan IV dengan IKG betina 0,78 – 4,49%, dan IKG jantan berkisar antara 0,42-2,07%. Fekunditas ikan TKG III berkisar antara 3.920-10.780 dan ikan TKG IV antara 4.440-22.270 butir telur. Disimpulkan ikan belanak reproduksinya bertipe partial spawner dan politelik.Mullets (Mugil cephalus) distribution are widespread from estuary, freshwater, and coastal waters. They have a high economic value and good prospects for commercialization, because people like to consume the product (meat and eggs) in fresh or dried fish. Sentolo Selok Village, Cilacap, Central Java is former iron sand mining has many mullets. The aim of this study was to determine the reproductive potential of mullet fish caught in the River Sentolo iron sand mining area Selok Cilacap village. The methode in this research used was survey method applied random sampling. The observed variables include gonad maturity index (IKG), gonad maturity level (TKG), fecundity, and egg diameter. The main parameters observed was the total fish length measurement, measurement of body weight, gonad weight measurements, and egg diameter. Supporting parameters were water qualities: temperature, pH, salinity, dissolved oxygen, free carbon dioxide, and Fe concentration. Qualitative data were analyzed in descriptive form of gonad maturity level (TKG), gonad maturity index (IKG), fecundity and egg diameter. The relationship between fecundity and fish body length or weight of mullets analyzed by linear regression. Results of total catched Mullets were 34, consisting of 12 males and 22 females. Result showed that catched mullets have teens maturity level of for the TKG I, II, III, and IV. The maturity index range for mullet females was from 0,78 to 4,49%, and for the males ranged from 0,42 to 2,07%. Fecundity of TKG III female ranged betwen 3.920-10.780 and of TKG IV female, the fecundity ranged from 4.440-22.270 eggs. It concludes that mullets's type of reproduction was partial spawner, and polytelic species.
116464667B1J008094KERAGAMAN SERANGGA PENYERBUK DAN PRODUKSI TOMAT (Lycopersicon esculentum Mill.) PADA LAHAN YANG DIPERKAYA DENGAN TUMBUHAN Borreria laevicaulis Ridl.Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) merupakan tanaman berbiji dan berumah satu (monoecious) yang penyerbukannya dapat menyerbuk sendiri atau dengan bantuan serangga penyerbuk. Serangga penyerbuk merupakan serangga yang dapat membantu proses penyerbukan. Keragaman serangga penyerbuk di alam menurun karena berkurangnya keragaman tumbuhan berbunga. Upaya peningkatan keragaman serangga penyerbuk dilakukan dengan pengkayaan tumbuhan liar, dalam hal ini kami menambahkan tumbuhan Borreria laevicaulis Ridl.Tumbuhan ini berbunga sepanjang tahun, warna bunga cerah, menghasilkan nektar banyak, dan berbau harum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman serangga penyerbuk pada lahan tanaman tomat yang diperkaya tumbuhan B. laevicaulis Ridl., mengetahui dampak pengkayaan tumbuhan B. laevicaulis Ridl. terhadap produksi jumlah buah tomat, dan mengetahui hubungan antara keragaman serangga penyerbuk dengan jumlah buah tomat. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode eksperiment menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Lokasi penelitian dilakukan di lahan pertanian di desa Serang yang terletak di lereng Gunung Slamet Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga. Metode analisis yang digunakan yaitu Indeks Shannon-Winner dan Indeks Shannon Evennes, ANOVA, uji korelasi dan regresi.Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan hasil bahwa jumlah spesies serangga penyerbuk yang ditemukan tergolong sedang, tingkat keberhasilan penyerbukan tanaman tomat paling tinggi pada pengkayaan B. laevicaulis Ridl. sebanyak 15 %, semakin tinggi jumlah individu tiap spesies serangga penyerbuk semakin tinggi pula produksi buah tomat.Tomato (Lycopersicon esculentum Mill.) is a monoecious plant seedthat is self-pollinated or pollinated with the help of pollinatorinsects. Pollinator insects are insects that can help the process of pollination. The diversity of pollinatorinsects in the wild has declined due to reduced diversity of flowering plants. One effort to increase the diversity of pollinatorinsects is to enrich wild plants, in this case herbs Borreria laevicaulis Ridl. are added which are expected to increase the diversity of plants that affect the diversity of pollinatorinsects. The purpose of this study were to determine the diversity of pollinatorinsects on crop lands enriched by tomato plants (B. laevicaulis Ridl.), to determine the impact of the precentage of enrichment of plant B. laevicaulis Ridl. to the amount of production of tomatoes, and determine the relationship between diversity of pollinatorinsects by the number of tomatoes. The method used was experiments using completely randomized design. Research was done on the farm in Serang which was located on the slope of Mount Slamet, Karangreja, Purbalingga. Data were analyzed using the Shannon-Winner index, Shannon Evenness Index, ANOVA, correlation and regressiontest. The result showed that the diversity of pollinatorinsects that were found on tomato plants enriched with wild B. laevicaulis Ridl. was appertain being. Most high levels of pollination of tomato plants found in enriched as much as 15%. The higher number of individuals of each species of pollinator insects and so higher the production of tomato.
116474599I1B006043EVALUASI KINERJA SEISMIK STRUKTUR BETON PADA GEDUNG LABORATORIUM RISET UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO DENGAN ANALISIS PUSHOVERIndonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng dunia, yaitu Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Dengan keadaan geografis ini menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara dengan resiko rawan gempa. Gempa bumi dapat menyebabkan kerusakan bangunan secara struktural hingga bangunan itu runtuh. Oleh karena itu perlunya evaluasi kinerja seismik pada bangunan yang telah ada. Tujuan evaluasi ini adalah untuk mengetahui taraf kriteria kinerja struktur dan skema kelelehan sendi plastis. Evaluasi dilakukan pada gedung Laboratorium Riset Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Gedung ini memiliki 2 buah gedung dengan masing-masing gedung memiliki 3 lantai. Pada saat performance point level kinerja untuk kedua gedung masuk kedalam level kinerja Immediate Occupancy (IO) dengan nilai drift ratio gedung A arah x sebesar 0,286% dan arah y sebesar 0,227% sedangkan untuk gedung B arah x sebesar 0,356% dan arah y sebesar 0,514%.Indonesia is located on the confluence of three plates the world, the Indo-Australian, Eurasian and Pacific. With this geography circumstances cause Indonesia has one of the risks of earthquake prone country. Earthquakes can cause structural damage to the building until the building collapsed. Hence the need to evaluate the seismic performance of existing buildings. The purpose of this evaluation is to determine the level of structural performance criteria and schemes melting plastic joints. Evaluations were made on building at a Laboratorium Riset Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. This building has 2 buildings with each building has 3 story. At performance point, level performance for both buildings into the level of performance Immediate Occupancy (IO), with the value of building A drift ratio of direction x at 0.286% and direction y at 0.227%, while for building B drift ratio direction x of 0.356% and direction y at 0.514%
116484600E1A008007PENERAPAN KONSEP KONSTITUSI HIJAU (GREEN CONSTITUTION) UNDANG-UNDANG DASAR 1945 TERHADAP KEBIJAKAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN YANG BERKELANJUTAN.Abstrak
Undang-Undang Dasar 1945 sebagai Suprem law of the land, dimana konstitusi sebagai petunjuk, konstitusi sebagai pedoman dan konstitusi sebagai alat ukur bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai aturan mutlak bahwa peraturan perundang-undangan yang berada dibawah Undang-Undang Dasar 1945 harus sesuai dengan staatsfundamentalnorms yaitu Undang-Undang Dasar 1945.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan konsep konstitusi hijaun (green constitution) Undang-Undang Dasar 1945 terhadap kebijakan lingkungan hidup dan pembangunan yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif. Data yang dikumpulkan adalah data sekunder. Metode penyajian data dalam penyusunan penelitian ini disajikan dalam bentuk uraian yang disusun secara sistematis. Analisis data dilakukan secara normatif kualitatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan konseptual (conceptual approach), pendekatan perbandingan (comparative approach).
Hasil penelitian menujukkan bahwa penerapan konsep konstitusi hijau (green constitution) Undang-Undang Dasar 1945 terhadap kebijakan lingkungan hidup dan pembangunan yang berkelanjutan sebagaimana dirumuskan dalam ketentuan Pasal 28H ayat (1) dan Pasal 33 ayat (4) Undang-Undang Dasar 1945 masih belum mengatur secara jelas tentang hak subjektif lingkungan hidup.
Konstitusi hijau negara Indonesia masih terbilang masih muda hijaunya (light green) apabila dibandingkan dengan negara-negara yang berkomitmen dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, salah satunya dengan penormaan lingkungan hidup ke tingkatan lebih tinggi dari undang-undang, yaitu konstitusi. Walaupun kita sudah memiliki undang-undang yang mengatur tentang perlindungan dan pengelolaan yaitu Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, akan tetapi sampai saat ini permasalahan lingkungan belum dapat diselesaikan terutama kebijakan-kebijakan yang inkonstitutional.

Kata Kunci: Konstitusi Hijau, Undang-Undang Dasar 1945, Lingkungan Hidup.
Abstract
Constitution of 1945 as supreme law of the land, which the constitution as a guide, the constitution as the guidelines and the constitution as a gauge for the nation and state. As an absolute rule that legislation under the Constitution of 1945 must comply with the staatsfundamentalnorms Act of 1945.
This study aims to determine the application of the concept of green constitution Act of 1945 on environmental policy and sustainable development. This study uses normative. The data collected is secondary data. Methods of presenting the data in the preparation of this study are presented in the form of descriptions systematically arranged. Normative data were analyzed qualitatively with the statute approach, conceptual approach, comparative approach.
The results showed that the application of the constitutional concept of green constitution Act of 1945 on environmental policy and sustainable development, as defined in Article 28H Paragraph (1) and Article 33 paragraph (4) Act of 1945 is still not set clearly about the subjective rights of the environment.
Constitution of Indonesia is still fairly young green (light green) when compared with countries that are committed to the protection and management of environment, one with constitutionalism of environment to a higher level of legislation, namely the constitution. Although we already have laws pertaining to the protection and management of the Law No. 32 Year 2009 on the Protection and Management of the Environment, but so far the problem has not been resolved, especially policies that unconstitutional.
116494601F1C008094PERAN HUMAS PERUM PERURI DALAM MENINGKATKAN EFEKTIFITAS PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)Beberapa waktu belakangan ini, sejumlah perusahaan berlomba-lomba melakukan aktivitas tanggungjawab sosial perusahaan untuk menjalin hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar lingkungan perusahaan. Pada pelaksanaannya, kegiatan CSR tidak terlepas dari peran humas perusahaan. Berdasarkan pemikiran tersebut, peneliti mengambil judul Peran Humas Perum Peruri dalam Meningkatkan Efektifitas Program Corporate Social Responsibility.

Tujuan yang ingin diperoleh dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana peran humas perum peruri meningkatkan program CSRnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Subjek penelitian ini adalah bagian humas perum peruri atau yang disebut biro komunikasi dan administrasi perusahaan (Rokominper).

Melalui penelitian ini, peneliti dapat menyimpulkan bahwa humas perum peruri memiliki peran pada setiap tahapan implementasi program CSRnya. Tahapan tersebut terdiri dari:(1) perencanaan, humas bertanggungjawab dalam evaluasi proposal pengajuan program yang diajukan pemohon bantuan (2) pelaksanaan, humas menjadi tim pemantau keberlangsungan program CSR di lapangan (3) evaluasi, humas termasuk dalam tim evaluasi sekaligus menjadi pelapor atau memberi informasi program CSR kepada tamu dan rekanan perum peruri. Dari tahapan tersebut yang nantinya akan menentukan keefektifan program CSR yang dilaksanakan perusahaan.
Recently, a number of companies are competing to hold CSR programs to build a harmonious relationship with the communities. During the execution, CSR programs are closely related to the public relations department of the company. Based on that fact, the researcher titled this essay “The role of public relation department of Perum Peruri in increasing the effectiveness of Corporate Social Responsibility programs”.

The goal of this research is to find out how the role of public relation department of Perum Peruri may increase the effectiveness of its CSR programs. This research uses descriptive qualitative method through interviews, observations and documentation studies on the subject of the research called “biro komunikasi dan administrasi perusahaan (Rokominper)”.

Based on the result of this research, the researcher concluded that the public relations department of Perum Peruri has an important role in every step of the implementation of its CSR programs. The steps are: (1) Planning; public relations department is responsible in evaluating the proposal made by the applicant. (2) Executing; public relations department monitors the execution of CSR program. (3) Evaluating; public relation department belongs to the evaluation team that reports or provides information about CSR program to the guests or partners of Perum Peruri. The result of those steps will finally measure the effectiveness of CSR programs held by the company.
116504603A1G006027NILAI TAMBAH SUSU DARI PENGOLAHAN SUSU SEGAR
MENJADI SUSU PASTEURISASI
(Kasus di Koperasi Peternak Satria “PESAT” Kecamatan Karang Lewas Kabupaten Banyumas)
Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui besarnya biaya produksi yang
dibutuhkan dan besarnya pendapatan yang diperoleh dari pengolahan susu
pasteurisasi, (2) mengetahui nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan susu
segar menjadi susu pasteurisasi. Penelitian ini dilaksanakan di Koperasi Peternak
Satria “PESAT” Kecamatan Karang Lewas Kabupaten Banyumas, dengan
pertimbangan lokasi tersebut merupakan satu-satunya koperasi yang
mengumpulkan susu segar dari para peternak sapi yang ada di daerah Kabupaten
Banyumas. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2012. Data primer
diperoleh dengan wawancara, data seknder diperoleh dari laporan-laporan
koperasi. Besarnya biaya dan pendapatan yang diperoleh pengolahan susu
pasteurisasi dianalisis dengan menggunakan analisis biaya dan pendapatan. Nilai
tambah yang diperoleh dari pengolahan susu segar menjadi susu pasteurisasi
dianalisis dengan menggunakan analisis nilai tambah. Hasil penelitian adalah ratarata
biaya produksi untuk mengolah susu segar menjadi susu pasteurisasi adalah
Rp 55.749.190,-. Dengan total pendapatan selama satu bulan produksi sebanyak
Rp 72.000.000,-. Total pendapatan penjualan susu segar sebesar Rp 34.425.000,-.
Hal ini berarti pendapatan yang didapat dari penjualan pengolahan susu
pasteurisasi lebih besar dari pendapatan yang didapat dari penjualan susu segar.
Nilai tambah bahan baku yang dihasilkan dalam memproduksi susu pasteurisasi
sebesar Rp 3.230
The aims of this research were (1) knowing the cost of production was
needed and sum of income getting from pasteurized milk process (2) Knowing
added value getting from process of fresh milk to be pasteurized milk.
This research was conducted in Coopertive Breeders Satria ‘’PESAT’’
Karang Lewas subdistrict, Banyumas regency, with consideration that location
2
was only cooprative that collect fresh milk from cow breeders in Banyumas
regency. This research was done from November 2012. The primer data was
gotten by interview , sekunder data was gotten from reports of cooprative. Sum of
cost and income that were gotten from pasteurized milk process was analized
using cost and income analysis. Added value that was gotten from processing of
fresh milk into paturized milk was analized using added value analysis.
The result of the research were the average of cost of production for
processing fresh milk into pasteurized milk was Rp. 55.749.190,-., the total
income in a month was Rp. 72.000.000,-. The average of fresh milk total income
was Rp. 34.500.000,-. It means that the income was gotten from selling of
pateurized milk process was bigger than income was gotten from fresh milk
selling. Added value of material produced in producing pasteurized milk was
Rp.3.230
116514604C1A008082ANALISIS PENDAPATAN SOPIR ANGKUTAN KOTA PURWOKERTO KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini berjudul “Analisis Pendapatan Sopir Angkutan Kota
Purwokerto Kabupaten Banyumas”. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk
mengetahui apakah pendapatan sopir angkutan kota telah mencukupi Kebutuhan
Hidup Layak (KHL) Kabupaten Banyumas Tahun 2012, (2) untuk mengetahui
hubungan antara usia, jam kerja, dan masa kerja terhadap pendapatan sopir angkutan
kota, (3) untuk mengetahui apakah ada perbedaan pendapatan antara sopir trayek B,
D dan G.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dan analisis
kuantitatif dengan menggunakan data primer yang diperoleh melalui wawancara dan
kuisioner. Teknik analisis data menggunakan analisis tabulasi silang. Responden
dalam penelitian ini sebanyak 83 sopir angkutan kota yang ada di jalur B, D dan G.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, (1) pendapatan rata-rata sopir
angkutan kota sebesar Rp1.221.000,00, KHL Kabupaten Banyumas sebesar
Rp965.000,00. Pendapatan rata-rata yang diterima sopir lebih besar dari angka KHL
sehingga dianggap sudah mencukupi kebutuhan rumah tangganya. (2) Variabel jam
kerja mempunyai hubungan positif yang kuat dan signifikan terhadap pendapatan.
Variabel usia memiliki hubungan negatif terhadap pendapatan. Sementara masa kerja
relatif tidak terbukti mempunyai hubungan positif yang kuat dengan pendapatan
sopir angkutan kota pada daerah penelitian. Terakhir, Pendapatan sopir angkot antar
trayek terbukti memiliki perbedaan. Pendapatan rata-rata sopir B merupakan yang
tertinggi, yakni Rp1.375.2500,00. Sementara sopir trayek G pendapatannya
Rp1.191.000,00. Serta pendapatan sopir D dengan pendapatan terendah, yakni
Rp1.055.000,00.
Implikasi pada penelitian ini, pertama sopir perlu meningkatkan
pendapatannya sesuai dengan jumlah tanggungannya. Salah satu cara yang perlu
dilakukan adalah dengan meningkatkan pelayanan dan melakukan inovasi seperti
membuat variasi mobil agar lebih menarik sesuai ketentuan. Kedua, sopir perlu
memperhatikan usianya, sopir muda perlu memaksimalkan potensinya sementara
sopir tua harus menjaga kondisi fisik dan beroperasi pada jam-jam ramai saja,
dimana banyak calon penumpang yang ingin naik angkot. Sedangkan masa kerja
relatif tidak perlu menjadi perhatian karena tidak berpengaruh signifikan terhadap
pendapatan. Terakhir, sopir masing-masing trayek perlu memberikan informasi
untuk perkembangan jasa angkot. Selain itu masing-masing trayek juga perlu alokasi
waktu dan rasio jumlah angkot dan penumpang lebih efektif lagi pada setiap jam agar
tidak menumpuk sehingga pendapatan yang diterima dapat meningkat terutama di
trayek yang tergolong sepi penumpang.
The purposes of this study are (1) to determine whether incomes of City Transport
Drivers are sufficient to living needs (KHL) Banyumas Residence in the 2012 Year, (2) to
determine the relationship between age, labor hour, and tenure about driver income, (3) to
find out if there are income disparities among drivers of Route B, D, and G in the area of
research. The research methods are descriptive and quantitative analyses using primary
data obtained through interviews and questionnaires. Data analysis techniques use cross
tabulation analysis. Respondents in this study are 83 Drivers on route B, D, and G.
These results indicate that, (1) the average income driver at Rp1.221.000,00, KHL
Banyumas Regency for Rp965.000, 00. The average income received by driver is greater
than the number of KHL that considered to be sufficient of household needs. (2) working
hour variable has a strong positive relationship and significant impact on income. Age
variable has a strong negative relationship and significant impact on income. Tenure has
not proven relatively strong positive relationship with income trader in the study area.
Finally, income by driver route has proved the difference. The average income for driver of
route B is higher at Rp1.645.000,00. While income of route G driver is Rp1.191.000, 00,
and route D driver is Rp1.055.000,00 as lower than others.
116524610F1B008033RESTRUKTURISASI SUMBER DAYA MANUSIA MELALUI PROGRAM PENSIUN DINI ATAS PERMINTAAN SENDIRI
PT. TELKOM AREA CIREBON
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hadirnya program pensiun dini atas permintaan sendiri yang di lakukan PT.Telkom kepada karyawan. Program ini dilakukan perusahaan karena adanya perkembangan dan kemajuan teknologi saat ini dimana masih banyak karyawan Telkom yang kurang dalam mengikuti kemajuan teknologi. PT.Telkom Area Cirebon yang merupakan cabang reperesentativ ikut menjalani kebijakan tersebut untuk mendukung pencapaian tujuan perusahaan dalam efektivitas, efisiensi dan produktivitas kinerja perusahaan dari segi sumber daya manusianya.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan restrukturisasi sumber daya manusia melalui program pensiun dini atas permintaan sendiri PT.Telkom Area Cirebon. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pemilihan informan menggunakan purposive sampling dan snowball. Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa mekanisme restrukturisasi program pensiun dini PT.Telkom Area Cirebon dalam teknis pelaksanaanya sudah dilaksanakan dengan baik sesuai dengan peraturan. Program pensiun dini atas permintaan sendiri merupakan suatu program perusahaan yang ditujukan dalam rangka mendukung optimalisasi kinerja dan kemajuan perusahaan dari segi penyesuaian jumlah dan kualitas SDM menuju efektivitas SDM, efisiensi dari biaya perusahaannya, dan produktivitas di segala bidang. Dalam mengkaji proses restrukturisasi SDM yang dilakukan PT.Telkom Area Cirebon melalui pensiun dini, meminjam 7S Mc.kinsey yang diambil 4 faktor yaitu struktur, system, skill, staff. Dalam restrukturisasi SDM melalui program pensiun dini masih terdapat beberapa kendala diantaranya keterlambatan pemberian gaji pensiunan setiap bulan dan tunjangan kesehatan yang diberikan tahun berikutnya. Sedangkan dalam proses kegiatan perusahaan masih banyak karyawan yang tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi,upaya pengembangan karyawan untuk pendidikan S1,S2 belum dilaksanakan, dan masih ada karyawan yang lalai dalam bekerja karena sanksi yang kurang tegas.
Kata kunci: Restrukturisasi, Manajamen Sumber Daya Manusia, Model 7S Mc.Kinsey, Pensiun Dini
The research was motivated by the presence of an early retirement program at his own request which is done PT.Telkom to employees.This program made the company because of the development and advancement of technology today where there are many less Telkom employees in following the progress of technology. PT.Telkom Cirebon area reperesentativ which is a branch underwent follow the policy to support the achievement of corporate objectives in the effectiveness, efficiency and productivity of the company's performance in terms of human resources. The purpose of this study is to find out and describe the restructuring of human resources through an early retirement program at the request PT.Telkom Cirebon area. The research method used in this study is a descriptive qualitative research methods. Informant selection techniques using purposive sampling and snowball. Data collection techniques using in-depth interviews, observation and documentation. The results showed that the mechanism of the early retirement program restructuring PT.Telkom Cirebon area in the technical implementation was done properly in accordance with the regulations. It can be seen a decrease in the number of employees. Early retirement program at the request of the company itself is a program aimed to support the optimization of the performance and progress of the company in terms of adjustments towards the number of qualified human resources effectiveness, the efficiency of the company's cost, and productivity in all fields. In reviewing the restructuring process undertaken PT.Telkom HR Cirebon area through early retirement, borrow 7S Mc.kinsey taken 4 factors: structure, systems, skills, staff. In this restructuring of human resources through an early retirement program, there are still some obstacles such as delays in the provision of monthly retired pay and medical benefits for a given year. While in the process of the company is still a lot of employees who are not able to keep up with technology, employee development efforts for education S1, S2 has not been implemented, and there is still an employee who fails to work because of less stringent the sanctions.


116534545C1B007090ANALISIS PERBANDINGAN PEMETAAN KINERJA KEUANGAN
BERDASARKAN MODEL Z SCORE ALTMAN DAN Z SCORE FOSTER PADA
PERUSAHAAN TEXTILE DAN GARMENT YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN
2007-2010
Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi kondisi kesehatan keuangan perusahaan berdasarkan model Z-Score Altman dan Z-Score Foster pada perusahaan textile dan garment. Perusahaan membutuhkan analisis keuangan untuk kelangsungan hidup peusahaan agar perusahaan dapat tetap berjalan dan melakukan perbaikan kinerja keuangan bila perusahaan diprediksi dalam kondisi yang kurang baik. Poulasi penelitian ini adalah 8 perusahaan textile dan garment yang terdaftar dalam BEI selama tahun 2007-2010 dipilih berdasarkan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan tahunan perusahaan dan harga saham saat dikeluarkannya laporan keuangan. Alat analisis penelitian ini menggunakan uji paired sample t-test. Penelitian ini menunjukan bahwa tidak ada perbedaan antara model Z-Score Altman dan Z-Score Foster dalam memprediksi kondisi kinerja keuangan perusahaan. Sebagian besar perusahaan sampel diprediksi dalm kondisi berpotensi bangkrut, berdasarkan laporan keuangan menunjukan perusahaan tersebut mengakumulasi kerugian selama periode penelitian ataupun mengalami penurunan laba yang cukup signifikan.

-
116544606I1B006057EVALUASI KINERJA SEISMIC BANGUNAN GEDUNG JURUSAN FARMASI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN DENGAN ANALISIS PUSHOVERBerdasarkan peta zonasi gempa, Purwokerto adalah salah satu kota yang meiliki bahaya gempa sedang (SNI-03-1726-2003). Gedung Jurusan Farmasi Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) beralamat di Jl.DR. Soeparno Purwokerto dengan fungsi bangunan dipertuntukan sebagai fasilitas umum atau gedung perkuliahan dengan jumlah orang yang beraktifitas di dalamnya cukup banyak, maka jika terjadi gempa diharapkan gedung tersebut harus memiliki tingkat keamanan yang memadai. Oleh karenanya evaluasi perlu di lakukan untuk mengetahui taraf kinerja gedung tersebut akibat pengaruh gempa. Hasil Akhir dari Analisis Pushover Gedung Farmasi Universitas Jenderal Soedirman di dapatkan Level Kinerja IO (Immediate Occupancy) pada level kinerja ini, tidak ada kerusakan yang berarti pada struktur, dimana kekuatan dan kekakuannya kira-kira hampir sama dengan kondisi sebelum gempa. Komponen non-struktural masih berada pada tempatnya dan sebagian besar masih berfungsi jika utilitasnya tersedia. Bangunan tetap dapat berfungsi tanpa terganggu masalah perbaikan baik Level kinerja arah-X maupun arah -Y dengan nilai daktalitas untuk arah-X sebesar 6,43 sedangkan daktalitas arah-Y sebesar 4,68. Sedangkan sendi plastis pada saat kondisi performance point pada arah -X jatuh pada step 36 dengan beban gempa sebesar 221,148 ton sedangkan nilai Performance point pada arah-Y jatuh pada step 44 dengan beban gempa sebesar 217,36 ton. Based on the seismic zoning map, Purwokerto is one city that has particularly moderate seismic hazard (SNI-03-1726-2003). Building of Pharmacy, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) located at Jl.DR. Soeparno Purwokerto, building functions as a public facility or building lecture by the number of many people, so if there was an earthquake the building is expected to have an adequate level of security. Therefore, the evaluation needs to be done to determine the level of performance of the building is due to the influence of the earthquake. The purpose of this evaluation is to determine the level of structural performance criteria. Final Results from Pushover Analysis of Building Farmasi at University General Sudirman get Level Performance IO (Immediate Occupancy) at the level of performance, there is no significant damage to the structure, in which the strength and stiffness roughly similar to the condition before the earthquake. Non-structural components are in place and most still function if the utility is available. The building still works without being disturbed either repair issue towards the performance of Level-X and-Y direction daktalitas value for the X-direction at 6.43 while daktalitas direction-Y of 4.68. While plastic joints during performance conditions point to the direction of the X-36 falls in step with the earthquake loads of 221.148 tons, while the value of Performance points in Y-direction in step 44 with earthquake load of 217.36 tons.
116554607B1J008026PENGARUH PERENDAMAN ETIL METAN SULFONAT (EMS) TERHADAP
DAYA TAHAN TANAMAN KECIPIR (Psophocarpus Tetragonolobus (L.)DC)
POLONG PENDEK DARI SERANGAN PATOGEN Rhizoctonia solani
Mutasi induksi dengan EMS (Etil Metan Sulfonat) telah banyak dilaporkan dapat meningkatkan keragaman dan memperbaiki kualitas genetik tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman EMS terhadap daya tahan tanaman kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.)DC) polong pendek dari serangan patogen Rizoctonia solani dan mengetahui konsentrasi yang optimal untuk mendapatkan tanaman mutan yang tahan dari serangan patogen R.solani. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini ada 2 macam yaitu variabel bebas berupa EMS dengan 4 taraf konsentrasi yaitu E0 = tanpa pemberian EMS, E1 = diberi EMS 0,1 %, E2 = diberi EMS 0,3 % dan E3 = diberi EMS 0,5 %, dan variabel tergantungnya berupa ketahanan tanaman kecipir terhadap intensitas penyakit yang disebabkan R.solani. Parameter yang diamati berupa intensitas penyakit rebah semai yang disebabkan R.solani. Percobaan diulang sebanyak 6 kali. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Uji F dengan tingkat kesalahan 5% atau 1%, untuk mengetahui pengaruh perlakuan yang diberikan terhadap variabel yang diamati. Selanjutnya dilakukan uji BNT (Beda Nyata Terkecil) untuk mengetahui perbedaan masing-masing perlakuan. Hasil penelitian ini menunjukkan EMS menyebabkan daya tahan tanaman kecipir polong pendek lebih rentan terhadap serangan patogen R.solani. Katagori mutan didapatkan pada tiga perlakuan konsentrasi EMS. Mutan didapatkan perlakuan E1, E2 dan E3 pada intensitas penyakit rebah semai oleh patogen R.solani masing-masing pada katagori 1 dan 4; 4; 3 dan 4.Induced Mutations with EMS (Ethyl Methane Sulfonate) has been widely reported to increase genetic diversity and improve quality of the crop. This study aimed to find out the effect of EMS immersion on short pod winged bean plant (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC) resistance from Rhizoctonia solani pathogens attack and to determine the optimum concentration to obtain mutan plants which resistant to R. solani pathogen attack. The method was experimental with Completely Randomized Design (CRD). Variables used were 2, i.e. independent and dependent variables. The independent variable was 4 levels of EMS concentrations (E0= no EMS, E1= 0,1% EMS, E2= 0,3% EMS and E3= EMS 0,5 %) and the dependent variable was the resistance of plants against disease intensity caused by R. solani. Observed parameters were dumping-off disease intensity caused by R. solani. The experiment was replicated 6 times. Data were analyzed using F test with confident levels of 5% and 1%. Furthermore, LSD (Least Significant Difference) test were carried out to determine the differences of each treatment. The results indicated that EMS caused the short pods winged bean plants more vulnerable against the attack of R. solani. Mutants categories obtained in the three treatments of EMS concentrations. Mutants were found in E1, E2 and E3 treatments in the intensity of dumping-off disease of R. solani pathogens in categories 1 and 4; 4; 3 and 4, respectively.
116564609F1C007016ANALISIS SEMIOTIKA MAKNA PERLENGKAPAN UPACARA PERNIKAHAN ADAT SUKU BATAK TOBA DI PAGUYUBAN POMPARAN PARSADAAN SOMBA DEBATA SIAHAAN (PPSD) WILAYAH XVII BEKASIIndonesia merupakan negara majemuk yang terdiri atas beragam suku, adat, ras, budaya, dan agama. Kebudayaan sendiri tersebut merupakan ciri khas dari setiap suku bangsa di Indonesia. Suku (etnis) yang satu dengan yang lainnya itu memiliki nilai budaya yang dapat membedakan ciri satu dengan yang lainnya, salah satu suku tersebut adalah suku Batak. Pada masyarakat suku Batak, seseorang akan melewati siklus kehidupan, yaitu dari lahir, kemudian dewasa, berketurunan sampai meninggal. Dalam melewati masa peralihan dan peristiwa – peristiwa penting tersebut, biasanya dilakukan upacara – upacara yang bersifat adat, kepercayaan, dan agama. Salah satunya pernikahan adat suku Batak Toba. Dalam pernikahan adat tersebut banyak sekali digunakan perlengkapan – perlengkapan yang tentunya memiliki makna dan pesan sosial yang terkandung di dalamnya.
Penelitian ini merupakan penelitian semiotika. Oleh karena itu, penelitian ini bersifat interpretatif kualitatif. Fokus penelitian ini adalah pada perlengkapan – perlengkapan yang diberikan kepada sepasang mempelai saat pernikahan adat yaitu ulos, ikan mas ’dekke si mundur-undur’, uang ‘hepeng’, beras ’boras sipir ni tondi’, daun sirih ‘napuran’, dan daging babi ’jambar’. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode analisis semiotik Roland Barthes yaitu analisis denotatif & konotatif, intertekstual dan intersubjektivitas dalam menganalisis perlengkapan – perlengkapan tersebut.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perlengkapan – perlengkapan yang diberikan kepada sepasang mempelai saat pernikahan adat itu memiliki pesan sosial menggambarkan kehidupan baru dari dua orang yang menjadi satu dan diharapkan dapat melewati permasalahan bersama - sama dalam menjalani bahtera rumah tangga serta menghormati kesakralan dan kesucian dari pernikahan tersebut.
ABSTRACT
Indonesia is a unitary state composed of diverse tribes, peoples, races, cultures, and religions. Culture itself is a characteristic of any ethnic groups in Indonesia. Tribes (ethnic) with each other it has a cultural value that can distinguish characteristics of one another, one tribe is the Bataknese. In the Bataknese tribe, someone will pass the life cycle, from birth, then adults, bred to death. In the past the transition period and events - important events, usually performed the ceremony - a ceremony that is custom, belief, and religion. One was the wedding traditional Batak Toba tribe. In a customary marriage are a lot of used equipments that would have meaning and social message contained therein.
This research is semiotics. Therefore, qualitative research is interpretive. The focus of this research is on the equipments given to the bride and groom at the wedding, that are ulos, ikan mas ’dekke si mundur-undur’, uang ‘hepeng’, beras ’boras sipir ni tondi’, daun sirih ‘napuran’, dan daging babi ’jambar’. In this study, researchers used a method of analysis from Roland Barthes semiotic analysis of denotative and connotative, intertextuality and intersubjectivity in analyzing equipments.
The results of this study indicate that the equipments provided to the bride and groom at the wedding that have a social message describing the new life of two people into one, and is expected to pass through the problem together in living ark household and respect the sanctity and sacredness of the marriage.
116574668C1B007018PENGARUH KOMPENSASI DAN PEMBERDAYAAN KARYAWAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN DENGAN KEPUASAN KERJA SEBAGAI VARIABEL INTERVENING PADA KARYAWAN TETAP RSU.SANTA ELISABETH PURWOKERTOPENGARUH KOMPENSASI DAN PEMBERDAYAAN KARYAWAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN DENGAN KEPUASAN KERJA SEBAGAI VARIABEL INTERVENING PADA KARYAWAN TETAP RSU.SANTA ELISABETH PURWOKERTOEFFECT OF COMPENSATION AND EMPOWERING EMPLOYEES TO PERFORMANCE OF EMPLOYEES WITH JOB SATISFACTION AS AN INTERVENING VARIABLE in ELISABETH HOSPITAL of PUWOKERTO
116584614B1J008137DIVERSITAS TERITIP INTERTIDAL PADA HABITAT ALAMI DI BEBERAPA PANTAI SUMATERA UTARATeritip hidup mendominasi hampir di seluruh wilayah intertidal dunia dan hidup kosmopolit pada substrat keras dan mendiami laut di semua kedalaman mulai dari zona intertidal hingga laut dalam. Teritip biasa menempel pada bebatuan sepanjang pantai serta ada pula yang menempel pada substrat alami seperti batang dan daun mangrove. Diversitas jenis dan kepadatan populasi teritip umumnya sangat tinggi. Teritip sangat bervariasi dalam hal karakter morfologinya sebagai hasil adaptasi terhadap tekanan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui diversitas teritip intertidal yang meliputi kekayaan spesies dan komposisi spesies teritip intertidal pada substrat alami di beberapa pantai Sumatera Utara serta mengetahui wilayah regional spesies teritip interidal yang ditemukan di beberapa pantai Sumatera Utara dalam regional fauna teritip Indonesia. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survei dengan penentuan lokasi sampling menggunakan metode pertimbangan (Purpossive Sampling). Data yang diperoleh antara lain jumlah teritip yang ditemukan pada tiap lokasi sampling kemudian dikompilasi dengan data sekunder Prabowo tahun 2005 yang kemudian diidentifikasi karakter morfologinya serta dianalisis dengan multivariate analysis menggunakan non-metric Multi Dimensional Scaling (MDS). Faktor lingkungan yang diukur antara lain meliputi suhu air, pH, salinitas, serta jenis substrat. Pada penelitian ini didapatkan 5 spesies yang tersusun dalam 4 genera, 3 subfamilia, dan 2 familia, antara lain: Amphibalanus reticulatus, Amphibalanus amphitrite, Fistulobalanus patteliformis, Microeuraphia withersi, dan Chthamalus malayensis. Hasil analisi MDS memperlihatkan bahwa teritip intertidal beberapa pantai Sumatera Utara termasuk dalam regional teritip Indonesia Barat.Barnacles live dominant in almost throughout the world intertidal region, cosmopolite on hard substrate, and inhabit the sea at all depths from the intertidal zone to the deep ocean. Barnacles usually stick on the rocks along the shore, and some of which stick on natural substrate such as stems and leaves of mangrove. Species diversity and population density of barnacles are generally very high. Barnacles highly varied in morphological characters as a result of adaptation to environmental stresses. This study aimed to determine the diversity of intertidal barnacles including its species richness and composition on the natural substrate from several North Sumatran coast and to classify the diversity of intertidal barnacles found in several North Sumatran coast to the animals regional of Indonesian barnacles. The research method used was survey method with purposive sampling technique to determine sampling locations. Data obtained from the amount of barnacles were found at each sampling location were compiled with Prabowo’s secondary data (2005), then were identified and analyzed morphologically with multivariate analysis using non-metric Multi Dimensional Scaling (MDS). Measured-environmental-factors were water temperature, pH, salinity, and substrate type. In this research, there are 5 species of barnacles belonging to 4 genera, 3 subfamilies, and 2 families, i.e.: Amphibalanus reticulatus, Amphibalanus amphitrite, Fistulobalanus patteliformis, Microeuraphia withersi, and Chthamalus malayensis. MDS analysis results showed that intertidal barnacles from several North Sumatran coast can be classified to West Indonesian barnacles regional.
116594605A1G007013PERAN PENYULUH PERTANIAN DALAM PENERAPAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU

THE ROLE OF AGRICULTURAL EXTENSION IN IMPLEMENTATION OF INTEGRATED CROP MANAGEMENT TECHNOLOGIES
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana peran penyuluh pertanian dalam penerapan teknologi pengelolaan tanaman terpadu. Penelitian ini terdiri dari dua pokok pembahasan tentang bagaimana peran penyuluh pertanian dan bagaimana penerapan teknologi pengelolaan tanaman terpadu pada tanaman padi. Berdasarkan fungsinya, peran penyuluh pertanian sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Sedangkan penerapan teknologi dalam pengelolaan tanaman memberi pengaruh terhadap produktivitas tanaman padi. Penerapan teknologi pengelolaan tanaman di suatu tempat ditentukan oleh peran penyuluh pertanian. Hasil penelitian menunjukan bahwa peran penyuluh pertanian sangat tinggi, semua responden memberikan nilai tinggi yaitu pada interval 90,2 – 135. Sedangkan nilai yang di berikan responden untuk penerapan teknologi juga sangat tinggi dengan interval 76,68 – 115.Purpose of this study was to determine how The Role of Agricultural Extension in implementation of integrated crop management technologies. The study consisted of two main discussion on the role of agricultural extension and how the implementation of integrated crop management technologies in rice plant. Based on the function, the role of agricultural extension is essential in improving the welfare of farmers. While the application of technology in crop management influence on the productivity of rice plants. Application of crop management technologies in one place is determined by the role of agricultural extension. The results showed that the role of agricultural extension services is very high, all the respondents gave high marks to the interval from 90.2 to 135. While the value of a given respondent to the application of the technology is also very high with the interval from 76.68 to 115.
116604615F1B008077Implementasi Program Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) di Puskesmas Wilayah Kecamatan BaturradenKebijakan BOK juga diterapkan di puskesmas wilayah Kecamatan Baturraden yaitu Puskesmas I dan II Baturraden. Penelitian bertujuan untuk menggambarkan dan mengetahui implementasi BOK di Puskesmas Wilayah Kecamatan Baturraden. Teori yang digunakan milik Merille S Grindle, metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling dan snowball. Instrument penelitian yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Sedangkan untuk teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif Miles dan Hubermans. Implementasi program BOK di Puskesmas I dan II Baturraden sudah berjalan dengan baik. Manfaatnya antara lain ada tambahan dana untuk operasionalisasi, menumbuhkan program baru yang belum dapat direalisasikan, meningkatkan program yang vakum, mengadakan pembekalan materi kader kesehatan, memacu kinerja petugas, laporan lebih terkonsep dan dapat dipertanggung jawabkan secara financial. Program sesuai dengan kebutuhan puskesmas karena disusun agar mengacu pada SPM bidang kesehatan. Kemudian untuk petugas sejauh ini sudah menjalankan tugasnya masing-masing sesuai dengan Planning Of Action (POA). Walaupun tidak terlepas dari permasalahan antara lain bantuan dana yang terbilang kecil sehingga dirasa masih kurang karena ada beberapa kegiatan yang belum dapat terbiayai. Laporan pertanggung jawaban yang masih sering mengalami keterlambatan waktu. Karena petugas puskesmas memiliki tugas lebih dari satu sehingga waktu terbatas. Harapan yang dikemukakan adalah anggaran dana BOK ditingkatkan, laporan pertanggung jawaban diperingkas dan alokasi untuk dana kesehatan dari APBD sebesar 5 % dipenuhi.Policy BOK applied at Health Center Baturraden District is health centers I and II. The study aims to describe and determine the implementation of BOK in Baturraden Sub Regional Health Center. Selection of informants using purposive sampling and snowball. Research instruments used were interviews, observation and documentation. As for the data analysis techniques using interactive analysis model and Hubermans Miles. BOK implementation at Health Center Baturraden District is health centers I and II already well underway. Benefits include no additional funds for operations, develop new programs that can not be realized, increasing the vacuum program, held a briefing material health cadres, spur performance officer, reporting more open concept and financially accountable. Programs that have been implemented in accordance with the needs of any clinic because it has been prepared in order to refer to the health care field SPM. Then for officers so far have been carrying out their duties in accordance with their respective Planning Of Action (POA). Although not free from problems such as financial aid is relatively small so it is still not as there are some events that can not be funded. A further problem is that accountability reports are often delayed time. Because the clinic staff have more than one job so time is limited. Then to the expectations expressed are enhanced BOK budget, reports summarize accountability and allocation of budget for health funding by 5% filled.