Artikelilmiahs

Menampilkan 11.641-11.660 dari 50.474 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
116414667B1J008094KERAGAMAN SERANGGA PENYERBUK DAN PRODUKSI TOMAT (Lycopersicon esculentum Mill.) PADA LAHAN YANG DIPERKAYA DENGAN TUMBUHAN Borreria laevicaulis Ridl.Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) merupakan tanaman berbiji dan berumah satu (monoecious) yang penyerbukannya dapat menyerbuk sendiri atau dengan bantuan serangga penyerbuk. Serangga penyerbuk merupakan serangga yang dapat membantu proses penyerbukan. Keragaman serangga penyerbuk di alam menurun karena berkurangnya keragaman tumbuhan berbunga. Upaya peningkatan keragaman serangga penyerbuk dilakukan dengan pengkayaan tumbuhan liar, dalam hal ini kami menambahkan tumbuhan Borreria laevicaulis Ridl.Tumbuhan ini berbunga sepanjang tahun, warna bunga cerah, menghasilkan nektar banyak, dan berbau harum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman serangga penyerbuk pada lahan tanaman tomat yang diperkaya tumbuhan B. laevicaulis Ridl., mengetahui dampak pengkayaan tumbuhan B. laevicaulis Ridl. terhadap produksi jumlah buah tomat, dan mengetahui hubungan antara keragaman serangga penyerbuk dengan jumlah buah tomat. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode eksperiment menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Lokasi penelitian dilakukan di lahan pertanian di desa Serang yang terletak di lereng Gunung Slamet Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga. Metode analisis yang digunakan yaitu Indeks Shannon-Winner dan Indeks Shannon Evennes, ANOVA, uji korelasi dan regresi.Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan hasil bahwa jumlah spesies serangga penyerbuk yang ditemukan tergolong sedang, tingkat keberhasilan penyerbukan tanaman tomat paling tinggi pada pengkayaan B. laevicaulis Ridl. sebanyak 15 %, semakin tinggi jumlah individu tiap spesies serangga penyerbuk semakin tinggi pula produksi buah tomat.Tomato (Lycopersicon esculentum Mill.) is a monoecious plant seedthat is self-pollinated or pollinated with the help of pollinatorinsects. Pollinator insects are insects that can help the process of pollination. The diversity of pollinatorinsects in the wild has declined due to reduced diversity of flowering plants. One effort to increase the diversity of pollinatorinsects is to enrich wild plants, in this case herbs Borreria laevicaulis Ridl. are added which are expected to increase the diversity of plants that affect the diversity of pollinatorinsects. The purpose of this study were to determine the diversity of pollinatorinsects on crop lands enriched by tomato plants (B. laevicaulis Ridl.), to determine the impact of the precentage of enrichment of plant B. laevicaulis Ridl. to the amount of production of tomatoes, and determine the relationship between diversity of pollinatorinsects by the number of tomatoes. The method used was experiments using completely randomized design. Research was done on the farm in Serang which was located on the slope of Mount Slamet, Karangreja, Purbalingga. Data were analyzed using the Shannon-Winner index, Shannon Evenness Index, ANOVA, correlation and regressiontest. The result showed that the diversity of pollinatorinsects that were found on tomato plants enriched with wild B. laevicaulis Ridl. was appertain being. Most high levels of pollination of tomato plants found in enriched as much as 15%. The higher number of individuals of each species of pollinator insects and so higher the production of tomato.
116424599I1B006043EVALUASI KINERJA SEISMIK STRUKTUR BETON PADA GEDUNG LABORATORIUM RISET UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO DENGAN ANALISIS PUSHOVERIndonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng dunia, yaitu Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Dengan keadaan geografis ini menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara dengan resiko rawan gempa. Gempa bumi dapat menyebabkan kerusakan bangunan secara struktural hingga bangunan itu runtuh. Oleh karena itu perlunya evaluasi kinerja seismik pada bangunan yang telah ada. Tujuan evaluasi ini adalah untuk mengetahui taraf kriteria kinerja struktur dan skema kelelehan sendi plastis. Evaluasi dilakukan pada gedung Laboratorium Riset Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Gedung ini memiliki 2 buah gedung dengan masing-masing gedung memiliki 3 lantai. Pada saat performance point level kinerja untuk kedua gedung masuk kedalam level kinerja Immediate Occupancy (IO) dengan nilai drift ratio gedung A arah x sebesar 0,286% dan arah y sebesar 0,227% sedangkan untuk gedung B arah x sebesar 0,356% dan arah y sebesar 0,514%.Indonesia is located on the confluence of three plates the world, the Indo-Australian, Eurasian and Pacific. With this geography circumstances cause Indonesia has one of the risks of earthquake prone country. Earthquakes can cause structural damage to the building until the building collapsed. Hence the need to evaluate the seismic performance of existing buildings. The purpose of this evaluation is to determine the level of structural performance criteria and schemes melting plastic joints. Evaluations were made on building at a Laboratorium Riset Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. This building has 2 buildings with each building has 3 story. At performance point, level performance for both buildings into the level of performance Immediate Occupancy (IO), with the value of building A drift ratio of direction x at 0.286% and direction y at 0.227%, while for building B drift ratio direction x of 0.356% and direction y at 0.514%
116434600E1A008007PENERAPAN KONSEP KONSTITUSI HIJAU (GREEN CONSTITUTION) UNDANG-UNDANG DASAR 1945 TERHADAP KEBIJAKAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN YANG BERKELANJUTAN.Abstrak
Undang-Undang Dasar 1945 sebagai Suprem law of the land, dimana konstitusi sebagai petunjuk, konstitusi sebagai pedoman dan konstitusi sebagai alat ukur bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai aturan mutlak bahwa peraturan perundang-undangan yang berada dibawah Undang-Undang Dasar 1945 harus sesuai dengan staatsfundamentalnorms yaitu Undang-Undang Dasar 1945.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan konsep konstitusi hijaun (green constitution) Undang-Undang Dasar 1945 terhadap kebijakan lingkungan hidup dan pembangunan yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif. Data yang dikumpulkan adalah data sekunder. Metode penyajian data dalam penyusunan penelitian ini disajikan dalam bentuk uraian yang disusun secara sistematis. Analisis data dilakukan secara normatif kualitatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan konseptual (conceptual approach), pendekatan perbandingan (comparative approach).
Hasil penelitian menujukkan bahwa penerapan konsep konstitusi hijau (green constitution) Undang-Undang Dasar 1945 terhadap kebijakan lingkungan hidup dan pembangunan yang berkelanjutan sebagaimana dirumuskan dalam ketentuan Pasal 28H ayat (1) dan Pasal 33 ayat (4) Undang-Undang Dasar 1945 masih belum mengatur secara jelas tentang hak subjektif lingkungan hidup.
Konstitusi hijau negara Indonesia masih terbilang masih muda hijaunya (light green) apabila dibandingkan dengan negara-negara yang berkomitmen dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, salah satunya dengan penormaan lingkungan hidup ke tingkatan lebih tinggi dari undang-undang, yaitu konstitusi. Walaupun kita sudah memiliki undang-undang yang mengatur tentang perlindungan dan pengelolaan yaitu Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, akan tetapi sampai saat ini permasalahan lingkungan belum dapat diselesaikan terutama kebijakan-kebijakan yang inkonstitutional.

Kata Kunci: Konstitusi Hijau, Undang-Undang Dasar 1945, Lingkungan Hidup.
Abstract
Constitution of 1945 as supreme law of the land, which the constitution as a guide, the constitution as the guidelines and the constitution as a gauge for the nation and state. As an absolute rule that legislation under the Constitution of 1945 must comply with the staatsfundamentalnorms Act of 1945.
This study aims to determine the application of the concept of green constitution Act of 1945 on environmental policy and sustainable development. This study uses normative. The data collected is secondary data. Methods of presenting the data in the preparation of this study are presented in the form of descriptions systematically arranged. Normative data were analyzed qualitatively with the statute approach, conceptual approach, comparative approach.
The results showed that the application of the constitutional concept of green constitution Act of 1945 on environmental policy and sustainable development, as defined in Article 28H Paragraph (1) and Article 33 paragraph (4) Act of 1945 is still not set clearly about the subjective rights of the environment.
Constitution of Indonesia is still fairly young green (light green) when compared with countries that are committed to the protection and management of environment, one with constitutionalism of environment to a higher level of legislation, namely the constitution. Although we already have laws pertaining to the protection and management of the Law No. 32 Year 2009 on the Protection and Management of the Environment, but so far the problem has not been resolved, especially policies that unconstitutional.
116444601F1C008094PERAN HUMAS PERUM PERURI DALAM MENINGKATKAN EFEKTIFITAS PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)Beberapa waktu belakangan ini, sejumlah perusahaan berlomba-lomba melakukan aktivitas tanggungjawab sosial perusahaan untuk menjalin hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar lingkungan perusahaan. Pada pelaksanaannya, kegiatan CSR tidak terlepas dari peran humas perusahaan. Berdasarkan pemikiran tersebut, peneliti mengambil judul Peran Humas Perum Peruri dalam Meningkatkan Efektifitas Program Corporate Social Responsibility.

Tujuan yang ingin diperoleh dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana peran humas perum peruri meningkatkan program CSRnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Subjek penelitian ini adalah bagian humas perum peruri atau yang disebut biro komunikasi dan administrasi perusahaan (Rokominper).

Melalui penelitian ini, peneliti dapat menyimpulkan bahwa humas perum peruri memiliki peran pada setiap tahapan implementasi program CSRnya. Tahapan tersebut terdiri dari:(1) perencanaan, humas bertanggungjawab dalam evaluasi proposal pengajuan program yang diajukan pemohon bantuan (2) pelaksanaan, humas menjadi tim pemantau keberlangsungan program CSR di lapangan (3) evaluasi, humas termasuk dalam tim evaluasi sekaligus menjadi pelapor atau memberi informasi program CSR kepada tamu dan rekanan perum peruri. Dari tahapan tersebut yang nantinya akan menentukan keefektifan program CSR yang dilaksanakan perusahaan.
Recently, a number of companies are competing to hold CSR programs to build a harmonious relationship with the communities. During the execution, CSR programs are closely related to the public relations department of the company. Based on that fact, the researcher titled this essay “The role of public relation department of Perum Peruri in increasing the effectiveness of Corporate Social Responsibility programs”.

The goal of this research is to find out how the role of public relation department of Perum Peruri may increase the effectiveness of its CSR programs. This research uses descriptive qualitative method through interviews, observations and documentation studies on the subject of the research called “biro komunikasi dan administrasi perusahaan (Rokominper)”.

Based on the result of this research, the researcher concluded that the public relations department of Perum Peruri has an important role in every step of the implementation of its CSR programs. The steps are: (1) Planning; public relations department is responsible in evaluating the proposal made by the applicant. (2) Executing; public relations department monitors the execution of CSR program. (3) Evaluating; public relation department belongs to the evaluation team that reports or provides information about CSR program to the guests or partners of Perum Peruri. The result of those steps will finally measure the effectiveness of CSR programs held by the company.
116454603A1G006027NILAI TAMBAH SUSU DARI PENGOLAHAN SUSU SEGAR
MENJADI SUSU PASTEURISASI
(Kasus di Koperasi Peternak Satria “PESAT” Kecamatan Karang Lewas Kabupaten Banyumas)
Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui besarnya biaya produksi yang
dibutuhkan dan besarnya pendapatan yang diperoleh dari pengolahan susu
pasteurisasi, (2) mengetahui nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan susu
segar menjadi susu pasteurisasi. Penelitian ini dilaksanakan di Koperasi Peternak
Satria “PESAT” Kecamatan Karang Lewas Kabupaten Banyumas, dengan
pertimbangan lokasi tersebut merupakan satu-satunya koperasi yang
mengumpulkan susu segar dari para peternak sapi yang ada di daerah Kabupaten
Banyumas. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2012. Data primer
diperoleh dengan wawancara, data seknder diperoleh dari laporan-laporan
koperasi. Besarnya biaya dan pendapatan yang diperoleh pengolahan susu
pasteurisasi dianalisis dengan menggunakan analisis biaya dan pendapatan. Nilai
tambah yang diperoleh dari pengolahan susu segar menjadi susu pasteurisasi
dianalisis dengan menggunakan analisis nilai tambah. Hasil penelitian adalah ratarata
biaya produksi untuk mengolah susu segar menjadi susu pasteurisasi adalah
Rp 55.749.190,-. Dengan total pendapatan selama satu bulan produksi sebanyak
Rp 72.000.000,-. Total pendapatan penjualan susu segar sebesar Rp 34.425.000,-.
Hal ini berarti pendapatan yang didapat dari penjualan pengolahan susu
pasteurisasi lebih besar dari pendapatan yang didapat dari penjualan susu segar.
Nilai tambah bahan baku yang dihasilkan dalam memproduksi susu pasteurisasi
sebesar Rp 3.230
The aims of this research were (1) knowing the cost of production was
needed and sum of income getting from pasteurized milk process (2) Knowing
added value getting from process of fresh milk to be pasteurized milk.
This research was conducted in Coopertive Breeders Satria ‘’PESAT’’
Karang Lewas subdistrict, Banyumas regency, with consideration that location
2
was only cooprative that collect fresh milk from cow breeders in Banyumas
regency. This research was done from November 2012. The primer data was
gotten by interview , sekunder data was gotten from reports of cooprative. Sum of
cost and income that were gotten from pasteurized milk process was analized
using cost and income analysis. Added value that was gotten from processing of
fresh milk into paturized milk was analized using added value analysis.
The result of the research were the average of cost of production for
processing fresh milk into pasteurized milk was Rp. 55.749.190,-., the total
income in a month was Rp. 72.000.000,-. The average of fresh milk total income
was Rp. 34.500.000,-. It means that the income was gotten from selling of
pateurized milk process was bigger than income was gotten from fresh milk
selling. Added value of material produced in producing pasteurized milk was
Rp.3.230
116464604C1A008082ANALISIS PENDAPATAN SOPIR ANGKUTAN KOTA PURWOKERTO KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini berjudul “Analisis Pendapatan Sopir Angkutan Kota
Purwokerto Kabupaten Banyumas”. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk
mengetahui apakah pendapatan sopir angkutan kota telah mencukupi Kebutuhan
Hidup Layak (KHL) Kabupaten Banyumas Tahun 2012, (2) untuk mengetahui
hubungan antara usia, jam kerja, dan masa kerja terhadap pendapatan sopir angkutan
kota, (3) untuk mengetahui apakah ada perbedaan pendapatan antara sopir trayek B,
D dan G.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dan analisis
kuantitatif dengan menggunakan data primer yang diperoleh melalui wawancara dan
kuisioner. Teknik analisis data menggunakan analisis tabulasi silang. Responden
dalam penelitian ini sebanyak 83 sopir angkutan kota yang ada di jalur B, D dan G.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, (1) pendapatan rata-rata sopir
angkutan kota sebesar Rp1.221.000,00, KHL Kabupaten Banyumas sebesar
Rp965.000,00. Pendapatan rata-rata yang diterima sopir lebih besar dari angka KHL
sehingga dianggap sudah mencukupi kebutuhan rumah tangganya. (2) Variabel jam
kerja mempunyai hubungan positif yang kuat dan signifikan terhadap pendapatan.
Variabel usia memiliki hubungan negatif terhadap pendapatan. Sementara masa kerja
relatif tidak terbukti mempunyai hubungan positif yang kuat dengan pendapatan
sopir angkutan kota pada daerah penelitian. Terakhir, Pendapatan sopir angkot antar
trayek terbukti memiliki perbedaan. Pendapatan rata-rata sopir B merupakan yang
tertinggi, yakni Rp1.375.2500,00. Sementara sopir trayek G pendapatannya
Rp1.191.000,00. Serta pendapatan sopir D dengan pendapatan terendah, yakni
Rp1.055.000,00.
Implikasi pada penelitian ini, pertama sopir perlu meningkatkan
pendapatannya sesuai dengan jumlah tanggungannya. Salah satu cara yang perlu
dilakukan adalah dengan meningkatkan pelayanan dan melakukan inovasi seperti
membuat variasi mobil agar lebih menarik sesuai ketentuan. Kedua, sopir perlu
memperhatikan usianya, sopir muda perlu memaksimalkan potensinya sementara
sopir tua harus menjaga kondisi fisik dan beroperasi pada jam-jam ramai saja,
dimana banyak calon penumpang yang ingin naik angkot. Sedangkan masa kerja
relatif tidak perlu menjadi perhatian karena tidak berpengaruh signifikan terhadap
pendapatan. Terakhir, sopir masing-masing trayek perlu memberikan informasi
untuk perkembangan jasa angkot. Selain itu masing-masing trayek juga perlu alokasi
waktu dan rasio jumlah angkot dan penumpang lebih efektif lagi pada setiap jam agar
tidak menumpuk sehingga pendapatan yang diterima dapat meningkat terutama di
trayek yang tergolong sepi penumpang.
The purposes of this study are (1) to determine whether incomes of City Transport
Drivers are sufficient to living needs (KHL) Banyumas Residence in the 2012 Year, (2) to
determine the relationship between age, labor hour, and tenure about driver income, (3) to
find out if there are income disparities among drivers of Route B, D, and G in the area of
research. The research methods are descriptive and quantitative analyses using primary
data obtained through interviews and questionnaires. Data analysis techniques use cross
tabulation analysis. Respondents in this study are 83 Drivers on route B, D, and G.
These results indicate that, (1) the average income driver at Rp1.221.000,00, KHL
Banyumas Regency for Rp965.000, 00. The average income received by driver is greater
than the number of KHL that considered to be sufficient of household needs. (2) working
hour variable has a strong positive relationship and significant impact on income. Age
variable has a strong negative relationship and significant impact on income. Tenure has
not proven relatively strong positive relationship with income trader in the study area.
Finally, income by driver route has proved the difference. The average income for driver of
route B is higher at Rp1.645.000,00. While income of route G driver is Rp1.191.000, 00,
and route D driver is Rp1.055.000,00 as lower than others.
116474610F1B008033RESTRUKTURISASI SUMBER DAYA MANUSIA MELALUI PROGRAM PENSIUN DINI ATAS PERMINTAAN SENDIRI
PT. TELKOM AREA CIREBON
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hadirnya program pensiun dini atas permintaan sendiri yang di lakukan PT.Telkom kepada karyawan. Program ini dilakukan perusahaan karena adanya perkembangan dan kemajuan teknologi saat ini dimana masih banyak karyawan Telkom yang kurang dalam mengikuti kemajuan teknologi. PT.Telkom Area Cirebon yang merupakan cabang reperesentativ ikut menjalani kebijakan tersebut untuk mendukung pencapaian tujuan perusahaan dalam efektivitas, efisiensi dan produktivitas kinerja perusahaan dari segi sumber daya manusianya.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan restrukturisasi sumber daya manusia melalui program pensiun dini atas permintaan sendiri PT.Telkom Area Cirebon. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pemilihan informan menggunakan purposive sampling dan snowball. Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa mekanisme restrukturisasi program pensiun dini PT.Telkom Area Cirebon dalam teknis pelaksanaanya sudah dilaksanakan dengan baik sesuai dengan peraturan. Program pensiun dini atas permintaan sendiri merupakan suatu program perusahaan yang ditujukan dalam rangka mendukung optimalisasi kinerja dan kemajuan perusahaan dari segi penyesuaian jumlah dan kualitas SDM menuju efektivitas SDM, efisiensi dari biaya perusahaannya, dan produktivitas di segala bidang. Dalam mengkaji proses restrukturisasi SDM yang dilakukan PT.Telkom Area Cirebon melalui pensiun dini, meminjam 7S Mc.kinsey yang diambil 4 faktor yaitu struktur, system, skill, staff. Dalam restrukturisasi SDM melalui program pensiun dini masih terdapat beberapa kendala diantaranya keterlambatan pemberian gaji pensiunan setiap bulan dan tunjangan kesehatan yang diberikan tahun berikutnya. Sedangkan dalam proses kegiatan perusahaan masih banyak karyawan yang tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi,upaya pengembangan karyawan untuk pendidikan S1,S2 belum dilaksanakan, dan masih ada karyawan yang lalai dalam bekerja karena sanksi yang kurang tegas.
Kata kunci: Restrukturisasi, Manajamen Sumber Daya Manusia, Model 7S Mc.Kinsey, Pensiun Dini
The research was motivated by the presence of an early retirement program at his own request which is done PT.Telkom to employees.This program made the company because of the development and advancement of technology today where there are many less Telkom employees in following the progress of technology. PT.Telkom Cirebon area reperesentativ which is a branch underwent follow the policy to support the achievement of corporate objectives in the effectiveness, efficiency and productivity of the company's performance in terms of human resources. The purpose of this study is to find out and describe the restructuring of human resources through an early retirement program at the request PT.Telkom Cirebon area. The research method used in this study is a descriptive qualitative research methods. Informant selection techniques using purposive sampling and snowball. Data collection techniques using in-depth interviews, observation and documentation. The results showed that the mechanism of the early retirement program restructuring PT.Telkom Cirebon area in the technical implementation was done properly in accordance with the regulations. It can be seen a decrease in the number of employees. Early retirement program at the request of the company itself is a program aimed to support the optimization of the performance and progress of the company in terms of adjustments towards the number of qualified human resources effectiveness, the efficiency of the company's cost, and productivity in all fields. In reviewing the restructuring process undertaken PT.Telkom HR Cirebon area through early retirement, borrow 7S Mc.kinsey taken 4 factors: structure, systems, skills, staff. In this restructuring of human resources through an early retirement program, there are still some obstacles such as delays in the provision of monthly retired pay and medical benefits for a given year. While in the process of the company is still a lot of employees who are not able to keep up with technology, employee development efforts for education S1, S2 has not been implemented, and there is still an employee who fails to work because of less stringent the sanctions.


116484545C1B007090ANALISIS PERBANDINGAN PEMETAAN KINERJA KEUANGAN
BERDASARKAN MODEL Z SCORE ALTMAN DAN Z SCORE FOSTER PADA
PERUSAHAAN TEXTILE DAN GARMENT YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN
2007-2010
Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi kondisi kesehatan keuangan perusahaan berdasarkan model Z-Score Altman dan Z-Score Foster pada perusahaan textile dan garment. Perusahaan membutuhkan analisis keuangan untuk kelangsungan hidup peusahaan agar perusahaan dapat tetap berjalan dan melakukan perbaikan kinerja keuangan bila perusahaan diprediksi dalam kondisi yang kurang baik. Poulasi penelitian ini adalah 8 perusahaan textile dan garment yang terdaftar dalam BEI selama tahun 2007-2010 dipilih berdasarkan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan tahunan perusahaan dan harga saham saat dikeluarkannya laporan keuangan. Alat analisis penelitian ini menggunakan uji paired sample t-test. Penelitian ini menunjukan bahwa tidak ada perbedaan antara model Z-Score Altman dan Z-Score Foster dalam memprediksi kondisi kinerja keuangan perusahaan. Sebagian besar perusahaan sampel diprediksi dalm kondisi berpotensi bangkrut, berdasarkan laporan keuangan menunjukan perusahaan tersebut mengakumulasi kerugian selama periode penelitian ataupun mengalami penurunan laba yang cukup signifikan.

-
116494606I1B006057EVALUASI KINERJA SEISMIC BANGUNAN GEDUNG JURUSAN FARMASI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN DENGAN ANALISIS PUSHOVERBerdasarkan peta zonasi gempa, Purwokerto adalah salah satu kota yang meiliki bahaya gempa sedang (SNI-03-1726-2003). Gedung Jurusan Farmasi Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) beralamat di Jl.DR. Soeparno Purwokerto dengan fungsi bangunan dipertuntukan sebagai fasilitas umum atau gedung perkuliahan dengan jumlah orang yang beraktifitas di dalamnya cukup banyak, maka jika terjadi gempa diharapkan gedung tersebut harus memiliki tingkat keamanan yang memadai. Oleh karenanya evaluasi perlu di lakukan untuk mengetahui taraf kinerja gedung tersebut akibat pengaruh gempa. Hasil Akhir dari Analisis Pushover Gedung Farmasi Universitas Jenderal Soedirman di dapatkan Level Kinerja IO (Immediate Occupancy) pada level kinerja ini, tidak ada kerusakan yang berarti pada struktur, dimana kekuatan dan kekakuannya kira-kira hampir sama dengan kondisi sebelum gempa. Komponen non-struktural masih berada pada tempatnya dan sebagian besar masih berfungsi jika utilitasnya tersedia. Bangunan tetap dapat berfungsi tanpa terganggu masalah perbaikan baik Level kinerja arah-X maupun arah -Y dengan nilai daktalitas untuk arah-X sebesar 6,43 sedangkan daktalitas arah-Y sebesar 4,68. Sedangkan sendi plastis pada saat kondisi performance point pada arah -X jatuh pada step 36 dengan beban gempa sebesar 221,148 ton sedangkan nilai Performance point pada arah-Y jatuh pada step 44 dengan beban gempa sebesar 217,36 ton. Based on the seismic zoning map, Purwokerto is one city that has particularly moderate seismic hazard (SNI-03-1726-2003). Building of Pharmacy, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) located at Jl.DR. Soeparno Purwokerto, building functions as a public facility or building lecture by the number of many people, so if there was an earthquake the building is expected to have an adequate level of security. Therefore, the evaluation needs to be done to determine the level of performance of the building is due to the influence of the earthquake. The purpose of this evaluation is to determine the level of structural performance criteria. Final Results from Pushover Analysis of Building Farmasi at University General Sudirman get Level Performance IO (Immediate Occupancy) at the level of performance, there is no significant damage to the structure, in which the strength and stiffness roughly similar to the condition before the earthquake. Non-structural components are in place and most still function if the utility is available. The building still works without being disturbed either repair issue towards the performance of Level-X and-Y direction daktalitas value for the X-direction at 6.43 while daktalitas direction-Y of 4.68. While plastic joints during performance conditions point to the direction of the X-36 falls in step with the earthquake loads of 221.148 tons, while the value of Performance points in Y-direction in step 44 with earthquake load of 217.36 tons.
116504607B1J008026PENGARUH PERENDAMAN ETIL METAN SULFONAT (EMS) TERHADAP
DAYA TAHAN TANAMAN KECIPIR (Psophocarpus Tetragonolobus (L.)DC)
POLONG PENDEK DARI SERANGAN PATOGEN Rhizoctonia solani
Mutasi induksi dengan EMS (Etil Metan Sulfonat) telah banyak dilaporkan dapat meningkatkan keragaman dan memperbaiki kualitas genetik tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman EMS terhadap daya tahan tanaman kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.)DC) polong pendek dari serangan patogen Rizoctonia solani dan mengetahui konsentrasi yang optimal untuk mendapatkan tanaman mutan yang tahan dari serangan patogen R.solani. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini ada 2 macam yaitu variabel bebas berupa EMS dengan 4 taraf konsentrasi yaitu E0 = tanpa pemberian EMS, E1 = diberi EMS 0,1 %, E2 = diberi EMS 0,3 % dan E3 = diberi EMS 0,5 %, dan variabel tergantungnya berupa ketahanan tanaman kecipir terhadap intensitas penyakit yang disebabkan R.solani. Parameter yang diamati berupa intensitas penyakit rebah semai yang disebabkan R.solani. Percobaan diulang sebanyak 6 kali. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Uji F dengan tingkat kesalahan 5% atau 1%, untuk mengetahui pengaruh perlakuan yang diberikan terhadap variabel yang diamati. Selanjutnya dilakukan uji BNT (Beda Nyata Terkecil) untuk mengetahui perbedaan masing-masing perlakuan. Hasil penelitian ini menunjukkan EMS menyebabkan daya tahan tanaman kecipir polong pendek lebih rentan terhadap serangan patogen R.solani. Katagori mutan didapatkan pada tiga perlakuan konsentrasi EMS. Mutan didapatkan perlakuan E1, E2 dan E3 pada intensitas penyakit rebah semai oleh patogen R.solani masing-masing pada katagori 1 dan 4; 4; 3 dan 4.Induced Mutations with EMS (Ethyl Methane Sulfonate) has been widely reported to increase genetic diversity and improve quality of the crop. This study aimed to find out the effect of EMS immersion on short pod winged bean plant (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC) resistance from Rhizoctonia solani pathogens attack and to determine the optimum concentration to obtain mutan plants which resistant to R. solani pathogen attack. The method was experimental with Completely Randomized Design (CRD). Variables used were 2, i.e. independent and dependent variables. The independent variable was 4 levels of EMS concentrations (E0= no EMS, E1= 0,1% EMS, E2= 0,3% EMS and E3= EMS 0,5 %) and the dependent variable was the resistance of plants against disease intensity caused by R. solani. Observed parameters were dumping-off disease intensity caused by R. solani. The experiment was replicated 6 times. Data were analyzed using F test with confident levels of 5% and 1%. Furthermore, LSD (Least Significant Difference) test were carried out to determine the differences of each treatment. The results indicated that EMS caused the short pods winged bean plants more vulnerable against the attack of R. solani. Mutants categories obtained in the three treatments of EMS concentrations. Mutants were found in E1, E2 and E3 treatments in the intensity of dumping-off disease of R. solani pathogens in categories 1 and 4; 4; 3 and 4, respectively.
116514609F1C007016ANALISIS SEMIOTIKA MAKNA PERLENGKAPAN UPACARA PERNIKAHAN ADAT SUKU BATAK TOBA DI PAGUYUBAN POMPARAN PARSADAAN SOMBA DEBATA SIAHAAN (PPSD) WILAYAH XVII BEKASIIndonesia merupakan negara majemuk yang terdiri atas beragam suku, adat, ras, budaya, dan agama. Kebudayaan sendiri tersebut merupakan ciri khas dari setiap suku bangsa di Indonesia. Suku (etnis) yang satu dengan yang lainnya itu memiliki nilai budaya yang dapat membedakan ciri satu dengan yang lainnya, salah satu suku tersebut adalah suku Batak. Pada masyarakat suku Batak, seseorang akan melewati siklus kehidupan, yaitu dari lahir, kemudian dewasa, berketurunan sampai meninggal. Dalam melewati masa peralihan dan peristiwa – peristiwa penting tersebut, biasanya dilakukan upacara – upacara yang bersifat adat, kepercayaan, dan agama. Salah satunya pernikahan adat suku Batak Toba. Dalam pernikahan adat tersebut banyak sekali digunakan perlengkapan – perlengkapan yang tentunya memiliki makna dan pesan sosial yang terkandung di dalamnya.
Penelitian ini merupakan penelitian semiotika. Oleh karena itu, penelitian ini bersifat interpretatif kualitatif. Fokus penelitian ini adalah pada perlengkapan – perlengkapan yang diberikan kepada sepasang mempelai saat pernikahan adat yaitu ulos, ikan mas ’dekke si mundur-undur’, uang ‘hepeng’, beras ’boras sipir ni tondi’, daun sirih ‘napuran’, dan daging babi ’jambar’. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode analisis semiotik Roland Barthes yaitu analisis denotatif & konotatif, intertekstual dan intersubjektivitas dalam menganalisis perlengkapan – perlengkapan tersebut.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perlengkapan – perlengkapan yang diberikan kepada sepasang mempelai saat pernikahan adat itu memiliki pesan sosial menggambarkan kehidupan baru dari dua orang yang menjadi satu dan diharapkan dapat melewati permasalahan bersama - sama dalam menjalani bahtera rumah tangga serta menghormati kesakralan dan kesucian dari pernikahan tersebut.
ABSTRACT
Indonesia is a unitary state composed of diverse tribes, peoples, races, cultures, and religions. Culture itself is a characteristic of any ethnic groups in Indonesia. Tribes (ethnic) with each other it has a cultural value that can distinguish characteristics of one another, one tribe is the Bataknese. In the Bataknese tribe, someone will pass the life cycle, from birth, then adults, bred to death. In the past the transition period and events - important events, usually performed the ceremony - a ceremony that is custom, belief, and religion. One was the wedding traditional Batak Toba tribe. In a customary marriage are a lot of used equipments that would have meaning and social message contained therein.
This research is semiotics. Therefore, qualitative research is interpretive. The focus of this research is on the equipments given to the bride and groom at the wedding, that are ulos, ikan mas ’dekke si mundur-undur’, uang ‘hepeng’, beras ’boras sipir ni tondi’, daun sirih ‘napuran’, dan daging babi ’jambar’. In this study, researchers used a method of analysis from Roland Barthes semiotic analysis of denotative and connotative, intertextuality and intersubjectivity in analyzing equipments.
The results of this study indicate that the equipments provided to the bride and groom at the wedding that have a social message describing the new life of two people into one, and is expected to pass through the problem together in living ark household and respect the sanctity and sacredness of the marriage.
116524668C1B007018PENGARUH KOMPENSASI DAN PEMBERDAYAAN KARYAWAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN DENGAN KEPUASAN KERJA SEBAGAI VARIABEL INTERVENING PADA KARYAWAN TETAP RSU.SANTA ELISABETH PURWOKERTOPENGARUH KOMPENSASI DAN PEMBERDAYAAN KARYAWAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN DENGAN KEPUASAN KERJA SEBAGAI VARIABEL INTERVENING PADA KARYAWAN TETAP RSU.SANTA ELISABETH PURWOKERTOEFFECT OF COMPENSATION AND EMPOWERING EMPLOYEES TO PERFORMANCE OF EMPLOYEES WITH JOB SATISFACTION AS AN INTERVENING VARIABLE in ELISABETH HOSPITAL of PUWOKERTO
116534614B1J008137DIVERSITAS TERITIP INTERTIDAL PADA HABITAT ALAMI DI BEBERAPA PANTAI SUMATERA UTARATeritip hidup mendominasi hampir di seluruh wilayah intertidal dunia dan hidup kosmopolit pada substrat keras dan mendiami laut di semua kedalaman mulai dari zona intertidal hingga laut dalam. Teritip biasa menempel pada bebatuan sepanjang pantai serta ada pula yang menempel pada substrat alami seperti batang dan daun mangrove. Diversitas jenis dan kepadatan populasi teritip umumnya sangat tinggi. Teritip sangat bervariasi dalam hal karakter morfologinya sebagai hasil adaptasi terhadap tekanan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui diversitas teritip intertidal yang meliputi kekayaan spesies dan komposisi spesies teritip intertidal pada substrat alami di beberapa pantai Sumatera Utara serta mengetahui wilayah regional spesies teritip interidal yang ditemukan di beberapa pantai Sumatera Utara dalam regional fauna teritip Indonesia. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survei dengan penentuan lokasi sampling menggunakan metode pertimbangan (Purpossive Sampling). Data yang diperoleh antara lain jumlah teritip yang ditemukan pada tiap lokasi sampling kemudian dikompilasi dengan data sekunder Prabowo tahun 2005 yang kemudian diidentifikasi karakter morfologinya serta dianalisis dengan multivariate analysis menggunakan non-metric Multi Dimensional Scaling (MDS). Faktor lingkungan yang diukur antara lain meliputi suhu air, pH, salinitas, serta jenis substrat. Pada penelitian ini didapatkan 5 spesies yang tersusun dalam 4 genera, 3 subfamilia, dan 2 familia, antara lain: Amphibalanus reticulatus, Amphibalanus amphitrite, Fistulobalanus patteliformis, Microeuraphia withersi, dan Chthamalus malayensis. Hasil analisi MDS memperlihatkan bahwa teritip intertidal beberapa pantai Sumatera Utara termasuk dalam regional teritip Indonesia Barat.Barnacles live dominant in almost throughout the world intertidal region, cosmopolite on hard substrate, and inhabit the sea at all depths from the intertidal zone to the deep ocean. Barnacles usually stick on the rocks along the shore, and some of which stick on natural substrate such as stems and leaves of mangrove. Species diversity and population density of barnacles are generally very high. Barnacles highly varied in morphological characters as a result of adaptation to environmental stresses. This study aimed to determine the diversity of intertidal barnacles including its species richness and composition on the natural substrate from several North Sumatran coast and to classify the diversity of intertidal barnacles found in several North Sumatran coast to the animals regional of Indonesian barnacles. The research method used was survey method with purposive sampling technique to determine sampling locations. Data obtained from the amount of barnacles were found at each sampling location were compiled with Prabowo’s secondary data (2005), then were identified and analyzed morphologically with multivariate analysis using non-metric Multi Dimensional Scaling (MDS). Measured-environmental-factors were water temperature, pH, salinity, and substrate type. In this research, there are 5 species of barnacles belonging to 4 genera, 3 subfamilies, and 2 families, i.e.: Amphibalanus reticulatus, Amphibalanus amphitrite, Fistulobalanus patteliformis, Microeuraphia withersi, and Chthamalus malayensis. MDS analysis results showed that intertidal barnacles from several North Sumatran coast can be classified to West Indonesian barnacles regional.
116544605A1G007013PERAN PENYULUH PERTANIAN DALAM PENERAPAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU

THE ROLE OF AGRICULTURAL EXTENSION IN IMPLEMENTATION OF INTEGRATED CROP MANAGEMENT TECHNOLOGIES
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana peran penyuluh pertanian dalam penerapan teknologi pengelolaan tanaman terpadu. Penelitian ini terdiri dari dua pokok pembahasan tentang bagaimana peran penyuluh pertanian dan bagaimana penerapan teknologi pengelolaan tanaman terpadu pada tanaman padi. Berdasarkan fungsinya, peran penyuluh pertanian sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Sedangkan penerapan teknologi dalam pengelolaan tanaman memberi pengaruh terhadap produktivitas tanaman padi. Penerapan teknologi pengelolaan tanaman di suatu tempat ditentukan oleh peran penyuluh pertanian. Hasil penelitian menunjukan bahwa peran penyuluh pertanian sangat tinggi, semua responden memberikan nilai tinggi yaitu pada interval 90,2 – 135. Sedangkan nilai yang di berikan responden untuk penerapan teknologi juga sangat tinggi dengan interval 76,68 – 115.Purpose of this study was to determine how The Role of Agricultural Extension in implementation of integrated crop management technologies. The study consisted of two main discussion on the role of agricultural extension and how the implementation of integrated crop management technologies in rice plant. Based on the function, the role of agricultural extension is essential in improving the welfare of farmers. While the application of technology in crop management influence on the productivity of rice plants. Application of crop management technologies in one place is determined by the role of agricultural extension. The results showed that the role of agricultural extension services is very high, all the respondents gave high marks to the interval from 90.2 to 135. While the value of a given respondent to the application of the technology is also very high with the interval from 76.68 to 115.
116554615F1B008077Implementasi Program Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) di Puskesmas Wilayah Kecamatan BaturradenKebijakan BOK juga diterapkan di puskesmas wilayah Kecamatan Baturraden yaitu Puskesmas I dan II Baturraden. Penelitian bertujuan untuk menggambarkan dan mengetahui implementasi BOK di Puskesmas Wilayah Kecamatan Baturraden. Teori yang digunakan milik Merille S Grindle, metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling dan snowball. Instrument penelitian yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Sedangkan untuk teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif Miles dan Hubermans. Implementasi program BOK di Puskesmas I dan II Baturraden sudah berjalan dengan baik. Manfaatnya antara lain ada tambahan dana untuk operasionalisasi, menumbuhkan program baru yang belum dapat direalisasikan, meningkatkan program yang vakum, mengadakan pembekalan materi kader kesehatan, memacu kinerja petugas, laporan lebih terkonsep dan dapat dipertanggung jawabkan secara financial. Program sesuai dengan kebutuhan puskesmas karena disusun agar mengacu pada SPM bidang kesehatan. Kemudian untuk petugas sejauh ini sudah menjalankan tugasnya masing-masing sesuai dengan Planning Of Action (POA). Walaupun tidak terlepas dari permasalahan antara lain bantuan dana yang terbilang kecil sehingga dirasa masih kurang karena ada beberapa kegiatan yang belum dapat terbiayai. Laporan pertanggung jawaban yang masih sering mengalami keterlambatan waktu. Karena petugas puskesmas memiliki tugas lebih dari satu sehingga waktu terbatas. Harapan yang dikemukakan adalah anggaran dana BOK ditingkatkan, laporan pertanggung jawaban diperingkas dan alokasi untuk dana kesehatan dari APBD sebesar 5 % dipenuhi.Policy BOK applied at Health Center Baturraden District is health centers I and II. The study aims to describe and determine the implementation of BOK in Baturraden Sub Regional Health Center. Selection of informants using purposive sampling and snowball. Research instruments used were interviews, observation and documentation. As for the data analysis techniques using interactive analysis model and Hubermans Miles. BOK implementation at Health Center Baturraden District is health centers I and II already well underway. Benefits include no additional funds for operations, develop new programs that can not be realized, increasing the vacuum program, held a briefing material health cadres, spur performance officer, reporting more open concept and financially accountable. Programs that have been implemented in accordance with the needs of any clinic because it has been prepared in order to refer to the health care field SPM. Then for officers so far have been carrying out their duties in accordance with their respective Planning Of Action (POA). Although not free from problems such as financial aid is relatively small so it is still not as there are some events that can not be funded. A further problem is that accountability reports are often delayed time. Because the clinic staff have more than one job so time is limited. Then to the expectations expressed are enhanced BOK budget, reports summarize accountability and allocation of budget for health funding by 5% filled.
116564616F1C007091POLA KOMUNIKASI ANTARA SUAMI ISTRI YANG MENIKAH SIRINikah siri adalah suatu pernikahan yang dilakukan oleh orang-orang Islam Indonesia dengan memenuhi rukun nikah dan syaratnya, tetapi tidak didaftarkan oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Penelitian ini mencoba melihat bagaimana Pola Komunikasi Antara Suami Istri yang Menikah Siri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Pola Komunikasi Antara Suami Istri yang Menikah Siri.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sasaran penelitian ini adalah pasangan suami istri yang menikah siri. Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara dan observasi. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling untuk memilih informan. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif deskriptif dengan model interaktif.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa Pernikahan siri pada dasarnya dilakukan karena adanya faktor-faktor yang dirasa tidak memungkinkan bagi pasangan suami istri untuk menikah secara formal. Kemungkinan ada banyak hal-hal yang melatarbelakangi terjadinya pernikahan siri, yang menurut peneliti semua hal tersebut mengarah kepada posisi perkawinan siri dipandang sebagai jalan keluar yang lebih mudah untuk menghalalkan hubungan suami istri. Setiap keluarga pasti memiliki pola komunikasi yang berbeda-beda. Adanya pola komunikasi yang berbeda itu disebabkan oleh berbagai faktor antara lain faktor latar belakang kebudayaaan dan lingkungan sekitar. Akibat kebudayaan dan lingkungan yang berbeda-beda setiap individunya jelas pola komunikasi yang diterapkan juga pasti berbeda-beda. Dalam konsepnya Devito pola komunikasi keluarga dibagi menjadi 4 pola komunikasi, yaitu pola komunikasi persamaan, pola komunikasi seimbang terpisah, pola komunikasi tak seimbang terpisah dan pola komunikasi monopoli. Maka hasil penelitian dari ketiga informan ini menemukan beberapa pola komunikasi yang berbeda diantaranya pada keluarga informan pertama yaitu keluarga bapak Usen menghasilkan pendominasian pola komunikasi persamaan, sedangkan informan kedua keluarga bapak Warto terdapat pola komunikasi seimbang, untuk informan ketiga yaitu keluarga bapak Ipung menghasilkan pendominasian pola komunikasi monopoli.
Siri marriage is a marriage conducted by Indonesian Muslims to fulfill marital harmony and conditions, but not registered by Act No. 1 of 1974 concerning marriages. This study tried to see how the pattern of Communication Between Husband and Wife were married Siri. The purpose of this study was to determine the pattern of Communication Between Husband and Wife were married Siri.
The method used in this research is descriptive qualitative method. Objectives of this research is that married couples siri. Techniques of data collection using interviews and documentation. This study used purposive sampling to select informants. Data analysis method used is descriptive qualitative analysis with interactive models.
Based on the results of the study concluded that the marriage siri is basically done because the factors were deemed not possible for couples to get married formally. There might be a lot of things behind the siri marriages, according to research all these things lead to marriage siri position is seen as a shortcut that is easier to justify marital relationship. Every family has different communication patterns vary. Different communication pattern is caused by various factors such as background factors cultures and environment. Due cultures and different environments each individual clear communication patterns are applied also certainly vary. In concept Devito family communication patterns were divided into 4 patterns of communication, the communication pattern similarities, seperate balanced communication patterns, separate unbalanced communication patterns and communication patterns monopoly. Then the results of the three informants found several different communication patterns among the family of the first informant that Mr Usen family communication patterns produced pendominasian equation, while the second informant Mr Warto family communication patterns are balanced, for the family of the father of the three informants Mr Ipung generate pendominasian communication patterns monopoly.
116574617B1J008066STUDI KARAKTERISTIK MORFOLOGI TERITIP
Euraphia hembeli DARI PANTAI SELATAN PULAU
SUMBA-NUSA TENGGARA TIMUR
Euraphia hembeli adalah teritip yang tidak mempunyai tangkai atau disebut juga acorn barnacle. sudah di kenal sejak dilaporkan Conrad pada tahun 1837, termasuk ke dalam class Crustacea. Evaluasi taksonomi terkini dikenal hanya 1 spesies tropis dari genus Euraphia yaitu Euraphia hembeli yang tersebar luas di Central Indo-West Pacific. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfologi Euraphia hembeli dari Pantai Bondokondi di selatan Pulau Sumba Nusa Tenggara Timur, dan mengetahui kesesuaian deskripsi Euraphia hembeli dari pantai selatan Pulau Sumba Nusa Tenggara Timur dengan deskrispi holotype Euraphia hembeli. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif-komparatif yang hasilnya diharapkan bermanfaat dalam kajian taksonomi dan biogeografi teritip tropis. Karakteristik morfologi dari semua sampel yaitu warna cangkang putih-kecoklatan, dan ada beberapa sampel memiliki corak warna ungu. Bagian labrum ada yang memiliki gigi pada sampel E.01 da E.02. Bagian penis juga ada yang memiliki rambut dan tidak. Semua memiliki setae bentuk kerucut, dan pada E.01 dan E.02 terdapat bentuk setae pectinate. Morfologi Euraphia hembeli dari pulau selatan sumba tidak berbeda jauh dari morfologi Euraphia hembeli yang ada sebelumnya baik dari morfologi bagian keras maupun bagian lunak dan dengan jumlah rata-rata persamaan morfologi sebesar 74 %. Euraphia hembeli (acorn barnacle) is barnacle without stalks. It has been known since it was reported by Conrad in 1837 which is belonging to Crustaceae. Recent taxonomical evaluation known that is only one tropical species from the genus Euraphia that is E. hembeli which is widespread in Central Indo-West Pacific. This study aimed to determine morphological characters of E. hembeli from Bondokondi shore, southern of Sumba Island, East Nusa Tenggara and to determine the suitability of E. hembeli description from southern shore of Sumba Island, East Nusa Tenggara with its holotype description. This study was a descriptive-comparative research. The results are expected to be useful in the study of the taxonomy and biogeography of tropical barnacles. Morphological characters from all samples are brownish-white shell color, some of which have a purple color. Several samples have teeth on the labrum section (sample E.01 and E.02). The penis may also have hair or not. All samples have conical setae, but E.01 and E.02 samples also have pectinate setae. Morphological characters of E. hembeli from southern Sumba Island do not have much difference than its previous determination, either hard or soft part of its morphology and the average number of morphological similarities of 74%.
116584612F1C007084PERAN KOMUNIKASI ANTARPERSONAL PADA HIPNOTERAPI GUNA MENURUNKAN KEBIASAAN MEROKOK
(Studi Kasus Pada Pasien Perokok Di Sanggar Hipnoterapi Puspita Ardelia Banyumas)
Rokok yang saat ini telah menjadi sebuah budaya dimasyarakat telah memunculkan suatu fenomena merokok ditengah masyarakt yang berdampak pada peningkatan pecandu rokok. Seiring dengan meningkatnya pecandu rokok, maka angka kematian yang disebabkan oleh rokok pun semakin meningkat. Bagi para pecandu yang sadar akan bahaya merokok bagi kesehatan, namun masih kesulitan untuk berhenti, maka saat ini telah muncul media pengobatan hipnoterapi yang menjadi solusi bagi para pecandu rokok yang merasa kesulitan untuk berhenti merokok. Melalui hipnoterapi yang dalam proses pengobatannya menggunakan kajian komunikasi antarpersona, terapis berusaha untuk mengubah mekanisme pikiran manusia dalam menginterpretasikan pengalaman hidupnya dalam hal kecanduan merokok dengan efek berupa perubahan pada persepsi dan tingkah laku untuk berhenti merokok.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sasaran penelitian ini adalah terapis, dan pasien perokok di Sanggar Hipnoterapi Puspita Ardelia Banyumas. Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling untuk memilih informan. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif deskriptif dengan model interaktif.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa peran komunikasi antarpersona pada hipnoterapi terbukti efektif dalam mempersuasi pasien perokok untuk dapat berhenti merokok. Hal tersebut karena formula kata-kata yang disampaikan oleh terapis dalam bentuk pesan berupa sugesti, terbukti efektif mempersuasi pikiran pasien perokok untuk dapat berhenti merokok. Berdasarkan teori komunikasi antarpersona Joseph A. Devito dapat dikemukakan beberapa peran komunikasi antarpersona yang termasuk kedalam kajian penelitian ini adalah untuk menemukan diri sendiri, menemukan dunia luar, membentuk dan menjaga hubungan yang penuh arti, merubah sikap dan tingkahlaku, dan untuk membantu atau menolong.
Today, smoking has become a culture in a community leading a smoking phenomenon which gives the impact on increasing cigarette addiction. And with the increase of the smoking addiction there is also the increase of death numbers. For the addicts who are aware of the danger of smoking but still have difficulties to stop smoking, nowadays there is a new healing method through hypnotherpy which can help the addicts to stop smoking. Hypnotherapy which the process of treatment is using interpersonal communication studies, therapists try to change the mechanism of the human mind in interpreting their smoking addition experiences in the form of changes in perception and behavior for them to stop smoking.
Method that is utilized in this research is qualitative descriptive method. This observational target is therapist, and smoker patient at Puspita Ardelia Navan Hypnotherapy Studio, Banyumas. Data collecting tech utilizes to methodic interview and documentation, This research utilizes tech purposive is sampling to choose informant. analysis method data that is utilized is analysis qualitative descriptive with interactive mode.
Conclution from this research is, the role of interpersonal communication used in hypnotherapy in the term of reducing smoking habits is considered effective if it is applied in cases of smoking addiction. This effectiveness is achieve since the use of words and suggestions are packed in suggestive messages. It is proved perfectly persuade the parients mind to quit smoking. Base Joseph A. Devito, interpersonal communication theory can explainded several role of interpersonal communication that including to this research is are to found thyself, to found outer the world, to form and looks after meaningful relationship, revamping attitude and behaviour, and to help or helping.
116594618F1B008044FORMULASI KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KAWASAN “SENTRA” DI DESA SOKARAJA LOR KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMASProses formulasi pembangunan kawasan sentra (kuliner dan kerajinan) sebagai kawasan prioritas PLPBK di Desa Sokaraja Lor sangat didominasi kelompok kepentingan tertentu. Dikarenakan meskipun telah diupayakan adanya musyawarah, sebagian besar masyarakat bersikap pasif baik dalam mendefinisikan masalah, menetapkan agenda kebijakan, amupun dalam proses formulasi dan legitimasi. Hal tersebut dibuktikan dari sekian banyak masalah yang lolos dalam tahap agenda setting, kuliner dan kerajinan menjadi masalah yang mendapatkan perhatian besar dalam tahap formulasi dan legitimasi meskipun masalah tersebut tidak urgen. Dalam proses agenda settingtidak ditetapkan satu masalah yang masuk ke dalam agenda, karena semua masalah lolos sebagai agenda kebijakan. Selain itu, ide kawasan sentra kuliner dan kerajinan sendiri muncul dari BKM. Kenyataan tersebut merupakan sebuah ironi, mengingat hanya golongan tertentu yang merasakan manfaatnya. Di sisi lain inti dari PLPBK sendiri adalah masyarakat miskin sebagai subyek sekaligus obyek dalam upaya mewujudkan masyarakat sejahtera (madani).

Formulation process of “central” area (art and culinary) were mostly dominated by certain interest of group. Eventhough, there were some discussions, most society responded passively in defining the problem, agenda setting, or even in legitimation and formulation step. It was proven by the great attention for art and culinary though it was not too urgent. In agenda setting process, wasn’t determined only by a handicap in the agenda, since all handicaps became the policy agenda. More over, there were still other problem which needed more attention. Besides, the idea about “central” area was from BKM. This fact was ironic since there were only certain groups who got the benefit from that. In fact, the main problem of PLPBK itself was the poor society as both subject and object in order to realize the prosperous society.
116604619P2CA10009ANALISIS POTENSI EKONOMI WILAYAH KECAMATAN DI KABUPATEN BANYUMAS
Penelitian ini berjudul “Analisis Potensi Ekonomi Wilayah Kecamatan Di Kabupaten Banyumas”. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa PDRB kecamatan di Kabupaten Banyumas, pada kurun waktu 2005 – 2009 dengan tujuan untuk mengetahui dan menganalisa 1) ketimpangan pendapatan masyarakat antar kecamatan di Kabupaten Banyumas yang terjadi kecil, sedang atau tinggi berdasar penelitian terdahulu, 2) masing-masing kecamatan yang memiliki sektor potensial yang tumbuh cepat dan memberikan kontribusi yang besar di Kabupaten Banyumas seperti yang pernah dilakukan peneliti terdahulu, dan 3) pergeseran masing-masing kecamatan di Kabupaten Banyumas yang memiliki tipe pertumbuhan yang termasuk dalam klasifikasi wilayah sesuai dengan Analisis Klassen Typology dengan hasil penelitian terdahulu.
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Indeks Variasi Williamson, Analisis Overlay, Location Quotient, Model Rasio Pertumbuhan (MRP) dan Analisis Klassen Typology.
Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) berdasarkan perhitungan angka indeks Variasi Williamson di Kabupaten Banyumas selama tahun 2005 – 2009 terdapat ketimpangan distribusi pendapatan yang sedang antar wilayah dengan rata-rata per tahun sebesar 0,54., 2) berdasarkan analisis Overlay ada beberapa kecamatan - kecamatan yang memiliki sektor ekonomi potensial yang tumbuh cepat dan memberikan kontribusi yang besar di Kabupaten Banyumas selama kurun waktu 2005 – 2009 berbeda dengan hasil peneltian yang dilakukan oleh Nunik Kadarwati pada tahun 1994 – 2001, dan 3) untuk klasifikasi Tipologi Klassen kecamatan - kecamatan di Kabupaten Banyumas yang terbagi dalam 4 kelompok memberikan hasil yang berbeda dengan penelitian terdahulu, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa hasil penelitian ini telah mengalami beberapa pergeseran perubahan dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Mudrajad Kuncoro dan Sutarno pada tahun 1993 – 2000.
Implikasi dalam penelitian ini adalah yang pertama, untuk dapat mengurangi ketimpangan distribusi pendapatan di wilayah Kabupaten Banyumas maka pembangunan ekonomi disamping tetap harus meningkatkan pertumbuhan ekonomi maka sektor swasta juga menjadi aspek penting yang harus lebih diperhatikan seperti pembangunan masyarakat desa, peningkatan sektor agribisnis, wiraswata dan pengembangan UKM. Yang kedua, untuk membangun kecamatan yang memiliki sektor ekonomi potensial dan memberikan kontribusi yang besar di Kabupaten Banyumas maka pemerintah daerah harus dapat mengoptimalkan tiap sektor ekonomi seperti misalnya peningkatan kwalitas sumber daya manusia dan peningkatan bantuan modal kerja melalui kerja sama antar lembaga pendidikan, lembaga keuangan dan lembaga pemerintahan desa. Dan yang ketiga, dari klasifikasi Tipologi Klassen maka dengan adanya perbedaan pola pertumbuhan ekonomi di tiap kecamatan Kabupaten Banyumas, pemerintah daerah kecamatan bersama masyarakatnya diharapkan mampu meningkatkan dan memacu perekonomian daerah melalui kebijakan yang lebih mengutamakan rakyat miskin di desa tertinggal seperti pemberian bantuan sarana/prasarana yang diikuti dengan bantuan manajemen pengelolaan wirausaha disesuaikan dengan kondisi dan situasi lingkungan setempat.
This study entitled "Analysis of Regional Economic Potential In Banyumas District". This study uses secondary data GDP in Banyumas District, in the period 2005 - 2009 in order to determine 1) whether there is changes to income disparity among sub districts in Banyumas District based on previous research, 2) whether each sub district has the potential sectors fast growing and significant contribution in Banyumas District as had done earlier researchers, and 3) whether there is a shift of each sub district in Banyumas District that has the type of growth that is included in the classification of areas according to Klassen Typology Analysis of the results of previous studies.
The results showed that 1) based on the calculation of index numbers Williamson in Banyumas during the years 2005 to 2009 there is inequality of income distribution among regions with an average of 0.54 per year, 2) based on the analysis of Overlay some sub districts that have potential economic sectors that are growing fast and make a major contribution in Banyumas during the period 2005 - 2009 in contrast to the results of other research conducted by Nunik Kadarwati in 1994 - 2001, and 3) for the Classification Typology Klassen sub districts in Banyumas district, divided into 4 groups give different results with previous studies, so it can be concluded that the results of this study have undergone some changes shift the studies that have been conducted by Mudrajad Kuncoro and Sutarno in the year 1993 - 2000.
The implications that can be given in this study is the first, to be able to reduce the inequality of income distribution in the region of Banyumas District the implementation of economic development in each district area should be evenly distributed and the results should be enjoyed by the whole society, rural society development, agribusiness sector improvement, development of entrepreneurship and also institutions included such as Micro Business Unit. The second, to establish sub districts that have potential economic sectors that are growing fast and make a major contribution in Banyumas District, local governments should be able to optimize each of the dominant sectors of the economy and taking into account other economic sectors are not winning, for example man power increasing and modal helping through of joint venture between education institutions, financing institutions and village government institutions.