Artikel Ilmiah : C1A006134 a.n. AYU RESTIAN WIDIASTI
| NIM | C1A006134 |
|---|---|
| Namamhs | AYU RESTIAN WIDIASTI |
| Judul Artikel | Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pemerintah Dalam Memprivatisasi PT. Jasa Marga |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemerintah Indonesia mendirikan BUMN dengan dua tujuan utama, yaitu tujuan yang bersifat ekonomi dan tujuan yang bersifat sosial.Dalam tujuan yang bersifat ekonomi, BUMN dimaksudkan untuk mengelola sektor-sektor bisnis strategis agar tidak dikuasai pihak-pihak tertentu. Bidang-bidang usaha yang menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti perusahaan listrik, minyak dan gas bumi, sebagaimana diamanatkan dalam pasal 33 UUD 1945, dikuasai oleh BUMN. Dengan adanya BUMN diharapkan dapat terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat yang berada di sekitar lokasi BUMN. Tujuan BUMN yang bersifat sosial antara lain dapat dicapai melalui penciptaan lapangan kerja serta upaya untuk membangkitkan perekonomian lokal. Penciptaan lapangan kerja dicapai melalui perekrutan tenaga kerja oleh BUMN. Salah satu contoh perusahaan BUMN adalah PT Jasa Marga (Persero). Dibentuk pada tanggal 1 Maret 1978 dengan tujuan menyelenggarakan jalan tol di Indonesia. Jalan tol pertamanya yaitu Jalan Tol Jagorawi Ruas Jakarta – Cibinong sepanjang 24 km. Pada tanggal 9 Maret 1978, Presiden Soeharto meresmikan jalan tol tersebut sebagai jalan tol pertama di Indonesia yang diberi nama Jagorawi dengan karyawan 200 orang. Banyak definisi yang diberikan oleh para ahli terhadap konsep “privatisasi”. Adapun Savas pada tahun 1987, menyatakan privatisasi sebagai “an act of reducing the role of government, or increasing the role of the private sector, in an activity or in the ownership of assets”. Savas sangat menekankan pentingnya privatisasi, yang ditunjukkan dari pernyataannya: “the role of government is to steer, not to mean the oars. Adanya pro dan kontra dari kebijakan privatisasi BUMN di Indonesia semakin menjadi bagian penting dari kebijakan ekonomi pemerintah. Program privatisasi BUMN akan tetap dilanjutkan dengan mengembangkan berbagai metode privatisasi seperti strategic sales, initial public offering (IPO) terhadap 35% saham milik pemerintah yang didukung dengan langkah-langkah sosialisasi program privatisasi, peningkatan koordinasi dengan departemen/instansi terkait dan mempelajari kemungkinan berbagai alternatif metode privatisasi. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemerintah Memprivatisasi PT.Jasa Marga”. B. Perumusan Masalah PT. Jasa Marga merupakan salah satu BUMN yang diprivatisasi oleh Pemerintah. Banyak nya pro dan kontra tentang privatisasi d kalangan masyarakat membuat menarik untuk diteliti. Adanya opini tentang privatisasi dilakukan karena perusahaan BUMN tersebut hampir bangkrut atau bangkrut perlu dibuktikan. Atau privatisasi tidak mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan. Berdasarkan masalah tersebut, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pemerintah memprivatisasi PT. Jasa Marga? 2. Metode privatisasi apa yang digunakan pemerintah untuk memprivatisasi PT.JasaMarga? 3. Apakah privatisasi tersebut benar-benar memperbaiki efisiensi dan profitabilitas PT. Jasa Marga? C. Pembatasan Masalah Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi privatisasi yang diteliti dan dibahas adalah hanya yang paling utama sehingga pemerintah merasa sudah pantas memprivatisasi PT. Jasa Marga. 2. Menganalisis efisiensi dan profitabilitas sebelum privatisasi dan sesudah privatisasi. D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian a. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemerintah memprivatisasi PT.Jasa Marga. b. Untuk mengetahui metode privatisasi yang digunakan pemerintah untuk memprivatisasi PT.Jasa Marga. c. Untuk mengetahui apakah privatisasi PT.Jasa Marga meningkatkan profitabilitas dan efisiensi atau tidak. 2. Manfaat Penelitian a. Bagi peneliti, untuk mendapatkan pengalaman dan ilmu pengetahuan dalam studi di lingkungan BUMN dan privatisasi serta sebagai persyaratan dalam menyelesaikan studi pada Program Sarjana Jurusan IESP Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman. b. Bagi pembaca, diharapkan penelitian ini mampu menjadi bahan informasi bagi penelitian selanjutnya. III. METODOLOGI PENELITIAN DAN ANALISIS A. Metode Penelitian 1. Sasaran Penelitian Sasaran penelitian ini adalah PT. Jasa Marga (Persero)Tbk sebagai salah satu perusahaan BUMN yang di privatisasi oleh Pemerintah 2. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini adalah di kantor pusat PT. Jasa Marga (Persero)Tbk di Plaza Tol Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, penentuan perusahaan yang akan diambil untuk sampel penelitian dilukan secara sengaja (purposive). Alasan memilih lokasi tersebut karena merupakan kantor pusat, lokasi tersebut juga mudah dijangkau. 3. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis data-data sekunder dari Kantor pusat PT. Jasa Marga (Persero)Tbk dan metode survei yaitu pengumpulan informasi tentang sekelompok manusia, melalui suatu cara yang sistematisseperti observasi, wawancara, dan sebagainya. (M. Suparmoko, 1999:35). 4. Sumber Data a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dari interview atau wawancara kepada beberapa pegawai BUMN, observasi pada pelayanan jasa dan pengembangan jalan tol. b. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dari literatur, PT.Jasa Marga , dan data lainnya serta publikasi hasil penelitian yang berkaitan dengan penelitian ini. 5. Metode Pengumpulan Data a. Interview atau wawancara yang dilakukan terhadap beberapa pegawai PT. Jasa Marga yang terkait dengan data yang ingin diperoleh. b. Observasi, yaitu pengumpulan data melalui pengamatan langsung untuk mengetahui langsung pelayanan dan pengembangan jalan tol yang dilakukan PT. Jasa Marga. 6. Definisi Operasional Variabel-variabel penelitian yang digunakan oleh peneliti untuk menguji hipotesis adalah: a. Efisiensi Adalah mengukur efisiensi penggunaan aset yang dimiliki perusahaan berupa aktiva tetap, persediaan dan piutang usaha dalam menghasilkan aktivitas penjualan.Rasio yang biasa digunakan adalah Total Asset Turnover yang mana jika semakin besar maka semakin baik karena efisien.Total Asset Turnover (Penjualan Bersih/Total Aset) x100% b. Profitabilitas Profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkankeuntungan (Riyanto, 1996). Rasio yang biasa digunakan adalah Return on Asset (ROA) yaitu rasio yang mengukur profitabilitas dari aset, Return on Equity (ROE) yaitu rasio yang mengukur profitabilitas dari ekuitas dan Return on Sales (ROS) yaitu rasio yang mengukur profitabilitas dari penjualan. Semakin besar profitabilitas maka semakin baik kinerja keuangan perusahaan. Return On Asset (ROA) = (Laba Bersih / Total Aset) x 100% , Return On Equity (ROE) = (Laba Bersih / Total Ekuitas) x 100%., Return On Sales (ROS) = (Laba Bersih/Total Penjualan) x 100%. 7. Variabel Penelitian Tabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah efisiensi dan profitabilitas sebelum privatisasi (X1) dan setelah privatisasi (X2). A. Metode Analisis B. Tabel 3. Definisi Operasional VARIABEL INDIKATOR SKALA Kinerja Keuangan BUMN sebelum Privatisasi (X1) Total Asset Turnover = (Pendapatan usaha/Asset) x 100% Rasio Return on Assets (ROA) = (Laba Bersih/Aset) x 100% Rasio Return on Equity (ROE) = (Laba Bersih/Ekuitas) x 100% Rasio Return on Sales (ROS) =(Laba Bersih/Pendapatan usaha) x 100% Rasio Kinerja Keuangan BUMN setelah Privatisasi (X2) Total Asset Turnover = (Pendapatan usaha/Asset) x 100% Rasio Return on Assets (ROA) = (Laba Bersih/Aset) x100% Rasio Return on Equity (ROE) = (Laba Bersih/Ekuitas)x 100% Rasio Return on Sales (ROS) = (Laba Bersih/Pendapatan usaha) x100% Rasio Keterangan : untuk menghitung efisiensi yang digunakan adalah rumus TOT yaitu total asset turnover yaitu laba bersih dibagi asset dikali 100% untuk mengetahui rasio. Untuk menghitung profitabilitas digunakan tiga rumus yaitu ROA yaitu return on asset caranya laba bersih dibagi asset dan dikali 100%. Kedua return on equitas (ROE) caranya laba bersih dibagi equitas lalu dikali 100%. Terakhir return on sales (ROS) caranya laba bersih dibagi pendapatan usaha dan dikali 100%. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum PT. Jasa Marga Sejarah dan perkembangan jalan tol di Indonesia tidak terlepas dari keberadaan PT. Jasa Marga yang selama 32 tahun ini mampu menunjukkan eksistensinya sebagai perusahaan jalan tol pertama di Indonesia. Selama 32 tahun berkiprah sebagai operator dan investor jalan tol, Jasa Marga mampu menunjukkan kapasitas dan kapabilitasnya sehingga terus mempertahankan posisinya sebagai leader operator jalan tol di Indonesia. Dimulai dari Jalan Tol Jagorawi tahun 1978 dan hingga yang Jalan Tol Cipularang tahun 2003 serta JORR ruas Jatiasih-Cikunir pada tahun 2007 Jasa Marga telah mempunyai 13 ruas jalan tol yang kesemuanya dibangun dan dikelola sendiri oleh Jasa Marga. Manfaat jalan tol dalam menumbuhkan perekonomian nasional juga sudah dirasakan masyarakat maupun Pemerintah. Daerah-daerah yang dilalui jalan tol juga mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Bahkan, manfaat jalan tol bukan hanya dirasakan pada saat jalan tol tersebut sudah beroperasi, tetapi mulai dari masa pembangunannya juga sudah membawa dampak positif dalam memacu pertumbuhan perekonomian baik secara nasional maupun di daerah tersebut. Sebab, seluruh material untuk pembangunan jalan tol tidak ada yang berasal dari luar negeri tetapi seluruhnya berasal dari dalam negeri. B. Analisis Data dan Pembahasan 1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pemerintah Memperivatisasi PT. Jasa Marga. Faktor-faktor yang mempengaruhi keptusan pemerintah memperivatisasi PT. Jasa Marga menurut adalah sebagai berikut: a) MembangunDaya Saing Tumbuhnya minat perusahaan swasta dalam investasi jalan tol menciptakan persaingan dalam bisnis ini, terutama dalam memperoleh konsesi jalan tol dari pemerintah.Namun dalam realitas bisnis, memperoleh konsesi jalan tol bukanlah satu-satunya faktor persaingan dalam bisnis ini.Besarnya nilai investasi untuk pembangunan dan pengelolaan jalan tol juga mendorong bisnis ini memasuki persaingan untuk memperoleh sumber pendanaan. b) Tumbuh dengan Dukungan Pendanaan yang Kuat Investasi jalan tol merupakan bisnis yang strategis dan prospektif, namun bersifat jangka panjang dengan paybackperiod 15 tahun atau lebih. Investasi terbesar terjadi pada awal konsesi untuk pembangunan konsesi jalan. Sedangkan pada awal tahun operasi biaya bunga peminjaman akan mendominasi struktur laporan rugi-laba. Karakter ini sangat disadari Jasa Marga, sehingga masalah pendanaan menjadi strategi yang penting. c) APBN dan Pinjaman Luar Negeri Anggaran Pendapatan Negara dan Belanja Negara (APBN) dan pinjaman luar negeri merupakan skema pendanaan pertama dalam pembangunan jalan tol di Indonesia. Skema ini dipakai untuk membangun jalan tol Jagorawi (46 km) yang dibangun dengan biaya Rp 33,9 miliar. Sebesar 40% dana diperoleh dari APBN dan selebihnya pemerintah memperoleh pinjaman lunak dari United State Agency for International Development (USAID). d) Mengurangi Beban APBN dan Menutup Defisit APBN Defisit anggaran negara, yang merupakan perbedaan antara pengeluaran dan penerimaannya, dapat dibelanjai dengan menambah hutang negara dan/atau menjual aktiva atau asset negara termasuk penggunaan dananya yang ada di perbankan. Berdasarkan analisis yang didapatkan, pembangunan jalan tol yang dibiayai oleh pengguna jalan justru mengurangi beban APBN. Dengan demikian pemerintah bisa lebih fokus memanfaatkan dana dalam anggaran Negara untuk program-program yang sangat membutuhkan biaya dari APBN, seperti program peningkatan kesehatan dan kesejahteraan rakyat miskin . Untukmengetahui hubungan antara laba bersih dan total aset dengan APBN, dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment. Dalam melakukan penghitungan peneliti akan menggunakan bantuan program Statistics Package for Social Science (SPSS) for windows release 13,0. Tabel 8.1 Perhitungan Korelasi Product Moment Laba Bersih APBN Laba Bersih Correlation Coefficient 1.000 .900* Sig. (2-tailed) . .037 N 5 5 APBN Correlation Coefficient .900* 1.000 Sig. (2-tailed) .037 . N 5 5 Berdasarkan tabel 8.1 di ketahui nilai korelasi Product Moment sebesar 0,900 dengan tingkat signifikansi 95% (persen), hal ini menunjukan bahwa terdapat hubungan positif dan kuat antara laba bersih Jasa Marga dengan APBN. Tabel 8.2. Perhitungan Korelasi Product Moment Total Aset Total Aset Correlation Coefficient 1.000 .976* Sig. (2-tailed) . .005 N 5 5 APBN Correlation Coefficient .976* 1.000 Sig. (2-tailed) .005 . N 5 5 Berdasarkan tabel 8.2 di ketahui nilai korelasi Product Moment sebesar 0,976 dengan tingkat signifikansi 95% (persen), hal ini menunjukan bahwa terdapat hubungan positif dan kuat antara total aset Jasa Marga dengan APBN. Hal ini sesuai dengan pedoman untuk menentukan koefisien korelasi di antara dua variabel tersebut, dengan membandingkan harga r dengan tabel interpretasi nilai r sebagai berikut: Tabel 8.3. PedomanInterpretasi terhadap Koefisien Korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0,80 – 1,000 Sangat Kuat 0,60 – 0,799 Kuat 0,40 – 0,599 Cukup Kuat 0,20 – 0,399 Rendah 0,00 – 0,199 Sangat Rendah Sumber: Sugiono,2003 Setelah privatisasi, campur tangan pemerintah sudah sangat berkurang. Berdasarkan kutipan wawancara dengan bapak Rudi,SE selaku sekper PT. Jasa Marga, setelah privatisasi pemerintah hanya membantu dalam proses pembebasan tanah kalau tidak terjadi kesepakatan harga yg sudah dipersiapkan PT. Jasa Marga kepada pihak pemilik tanah. Dana untuk pembebasan tanah tersebut pun milik PT. Jasa Marga. Lebih jelasnya pemerintah dapat membantu dengan menyediakan dana talangan untuk pembebasan lahan (revolving fund) melalui Badan Layanan Umum (BLU) atau kebijakan sharing risiko antara pengelola jalan tol an pemerintah dalam menanggung biaya pembebasan lahan yg melampaui rencana investasi (land capping). 2. Metode dan Prosedur Privatisasi Privatisasi BUMN dapat dilaksanakan dengan memilih strategi yang paling cocok, sesuai dengan tujuan privatisasi, jenis BUMN, kondisi BUMN, serta situasi sosial politik dari suatu negara. a. Public Offering Pada strategi public offering, pemerintah menjual kepada publik semua atau sebagian saham yang dimiliki atas PT. Jasa Marga kepada publik melalui pasar modal.Umumnya, pemerintah hanya menjual sebagian dari saham yang dimiliki atas BUMN tersebut. Strategi ini akan menghasilkan suatu perusahaan yang dimiliki bersama antara pemerintah dan swasta. Proporsi kepemilikan pemerintah atas perusahaan ini akan menurun. Public offering ini cocok untuk memprivatisasi BUMN yang cukup besar, memiliki potensi keuntungan yang memadai dalam waktu dekat dapat direalisasi.PT. Jasa Marga harus bisa memberikan informasi lengkap tentang keuangan, manajemen, dan informasi lainnya, yang diperlukan masyarakat sebagai calon investor. Public offering ini akan dapat terealisasi apabila telah tersedia pasar modal, atau suatu badan formal yang dibentuk dalam rangka menginformasikan, menarik, dan menjaring publik. Tabel 23. Indikator Efisiensi dan Profitabilitas ` VARIABEL INDIKATOR SKALA Kinerja Keuangan PT. Jasa Marga sebelum Privatisasi (X1)pada tahun 2006 dan 2007 Total Asset Turnover =(Pendapatan usaha / Asset 2006) x 100% =(2.296.143/10.255.697)x 100% = (Pendapatan usaha / Asset 2007) x 100% =(2.645.043/13.847.227 ) x 100% Rasio = 22,39 = 19,10 Return on Assets (ROA) =(Laba Bersih / Asset 2006) x 100% =(462.567/10.255.697) x 100% = (Laba Bersih / Asset 2007) x 100% =(277.982/13.847.227 ) x 100% Rasio = 4,51 = 2,01 Return on Equity (ROE) = (Laba Bersih / Ekuitas 2006) x 100% =(462.567/2.385.547) x 100% = (Laba Bersih / Ekuitas 2007) x 100% =(277.982/5.975.316) x 100% Rasio = 19,39 = 4,65 Return on Sales (ROS) = (Laba Bersih / Pendapatan 2006) x 100% =(462.567/2.296.143) x 100% = (Laba Bersih / Pendapatan) x 100% = (277.982/2.645.043) x 100% Rasio = 19,39 = 10,51 Kinerja Keuangan PT. Jasa Marga setelah Privatisasi (X2) pada tahun 2009 dan 2010 Total Asset Turnover = (Pendapatan usaha / Asset 2009) x 100% =(3.692.000/16.174.264) x 100% = (Pendapatan usaha / Asset 2010) x 100% =(4.378.584/18.952.129) x100% Rasio = 22,82 =23,10 Return on Assets (ROA) = (Laba Bersih / Asset 2009) x100% =(992.694/16.174.264) x 100% = (Laba Bersih / Asset 2010) x100% =(1.193.486/18.952.129) x 100% Rasio = 6,14 = 6,30 Return on Equity (ROE) = (Laba Bersih / Ekuitas 2009)x 100% =(992.694/7.183.379) x 100% = (Laba Bersih / Ekuitas 2010)x 100% =(1.193.486/7.740.014) x 100% Rasio =13,82 =15,42 Return on Sales (ROS) = (Laba Bersih /Pendapatan usaha 2009) x100% =(992.694/3.692.000) x 100% = (Laba Bersih /Pendapatan usaha) x100% =(1.193.486/4.837.584) x 100% Rasio = 26,89 =24,67 Berdasarkan hasil yang sudah dihitung, pertama tentang jumlah total asset turnover (TAT) pada tahun 2006 besarnya 22,39% (persen) dan tahun 2007 besarnya adalah 19,10% (persen). Adanya penurunan sebesar 3,29% (persen). Perhitungan pada tahun itu sebelum adanya privatisasi. Pada tahun 2009 besarnya total asset turnover nya (TAT) adalah 22,82% (persen) dan tahun 2010 sebesar 23,10% (persen). Ini menunjukan adanya peningkatan sebesar 0,28% (persen). Perhitungan pada tahun tersebut setelah adanya privatisasi. Selanjutnya tentang jumlah return on asset (ROA) pada tahun 2006 besarnya 4,51% (persen) dan tahun 2007 besarnya adalah 2,01% (persen). Terjadi penurunan sebesar 2,5% (persen) sebelum adanya privatisasi. Pada tahun 2009 ROA nya sebesar 6,14% (persen) dan tahun 2010 besarnya 6,29% (persen). Disini juga terjadi peningkatan sebesar 0,15% setelah adanya privatisasi. Lalu besarnya return on equity (ROE) pada tahun 2006 besarnya adalah 19,39% dan tahun 2007 besarnya adalah 4,65%. Terjadi penurunan yang besar yaitu 14,74% sebelum adanya privatisasi. Tahun 2009 besarnya ROE adalah 13,82% dan Thun 2010 besarnya adalah 15,42%. Adanya peningkatan yaitu 1,6%. Terakhir besarnya return on sales (ROS) pada tahun 2006 besarnya 19,39% dan tahun 2007 10,51%. Terjadi lagi penurunan sebesar 8,88% sebelum privatisasi. Pada tahun 2009 besarnya ROS adalah 26,89% dan tahun 2010 adalah 24,67%. Adanya penurunan sebesar 2,22% setelah adanya privatisasi. Kesimpulannya sebelum privatisasi besarnya TOT,ROA,ROE dan ROS mengalami penurunan setiap tahunnya. Sedangkan setelah privatisasi hampir semua indicator mengalami peningkatan setiap tahunnya kecuali ROS. V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan : 1. PT. Jasa Marga diprivatisasi oleh pemerintah karena adanya persaingan terhadap swasta agar BUMN jauh lebih mandiri dan dapat mengurangi beban APBN juga defisit APBN. 2. Metode privatisasi yang dipakai adalah initial public offering (IPO), Karena saham yang dijual sebesar 30%. Sesuai dengan kriteria initial public offering (IPO). PT. Jasa marga sudah go pubic, artinya investor nya adalah investor public. 3. Privatisasi ternyata meningkatkan efisiensi dan profitabilitas pada PT. Jasa Marga per-tahunnya. Dibuktikan lagi dengan perhitungan efisiensi dengan indikator total asset turnover (TAT) dan profitabilitas yang terdiri dari return on asset (ROA), return on equitas (ROE) dan return on sales (ROS) sebelum privatisasi dan sesudah privatisasi adalah meningkat. Dari sampel tahun 2006 dan 2007 untuk sebelum privatisasi,dan tahun 2009 juga 2010 untuk setelah privatisasi. Untuk total asset turnovernya selisih rata-ratanya meningkat sebesar 2,22. Return on assetnya meningkat sebesar 2,96. Return on equitas meningkat sebesar 2,6. Terakhir adalah return on sales meningkat sebesar 10,75. B. Implikasi 1. Dilihat dari tujuan privatisasi untuk PT. Jasa Marga, sebaiknya itu terus dijalankan. Mengingat PT. Jasa Marga harus selalu memberi pelayanan terbaik pada masyarakat. Sehingga harus memperlihatkan kinerja yang baik. 2. Metode initial public offering (IPO) yang dipakai PT. Jasa Marga harus dimanfaatkan dengan baik. Sebaiknya dengan saham yang dijual 30% dipergunakan sebaik-baiknya untuk penambahan fasilitas jalan tol sesuai kebutuhan masyarakat. 3. Dengan meningkatnya efisiensi dan profitabilitas pada PT. Jasa Marga, diharapkan kinerja perusahaan tersebut terus bertambah baik. Agar kepercayaan masyarakat tidak berkurang dan berdampak pada penurunan besarnya efisiensi dan profitabilitas. DAFTAR PUSTAKA Artjan, M. Faisal., IPO Sebagai Alternatif Privatisasi BUMN, Majalah Usahawan No. 02 Thn. XXIX, Februari 2000. Basri, Faisal. 2002. Perekonomian Indonesia. Jakarta. Penerbit Erlangga. Dwidjowijoto, Riant dan Randy Wrihatnolo. 2008. Manajemen Privatisasi BUMN. Jakarta : PT Elex Media Komputindo-Gramedia. Herdinata, Christian. 2007. “Hubungan antara Struktur Kepemilikan, Corporate Governance, dan Nilai Perusahaan yang Go Public di BEJ pada EraGlobalisasi.” Tesis Ciputra’. Herwanto, Hengky. 2007. Membangun Jalan ke Masa Depan, Perjalanan 30 tahun Jasa Marga. PT. Jasa Marga (PERSERO) Tbk. Lubis, Maria. 2004. ”Dampak Privatisasi terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan.” Tesis Pascasarjana Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Mohd. Nur, Noorul Ainur. 2003. op. cit. hal. 24 . Moeljono. 2004. “Dasar Pembentukan BUMN.” Munggaran, Ady Kurnia. 2007. ”Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan BUMN Sebelum dan Sesudah Privatisasi.” Skripsi Universitas Widyatama, Nugroho, Riant. 2008. “Business and Economics”. Savas, E., 1987. The Key to Better Governments.hal. 3. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemerintah Indonesia mendirikan BUMN dengan dua tujuan utama, yaitu tujuan yang bersifat ekonomi dan tujuan yang bersifat sosial.Dalam tujuan yang bersifat ekonomi, BUMN dimaksudkan untuk mengelola sektor-sektor bisnis strategis agar tidak dikuasai pihak-pihak tertentu. Bidang-bidang usaha yang menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti perusahaan listrik, minyak dan gas bumi, sebagaimana diamanatkan dalam pasal 33 UUD 1945, dikuasai oleh BUMN. Dengan adanya BUMN diharapkan dapat terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat yang berada di sekitar lokasi BUMN. Tujuan BUMN yang bersifat sosial antara lain dapat dicapai melalui penciptaan lapangan kerja serta upaya untuk membangkitkan perekonomian lokal. Penciptaan lapangan kerja dicapai melalui perekrutan tenaga kerja oleh BUMN. Salah satu contoh perusahaan BUMN adalah PT Jasa Marga (Persero). Dibentuk pada tanggal 1 Maret 1978 dengan tujuan menyelenggarakan jalan tol di Indonesia. Jalan tol pertamanya yaitu Jalan Tol Jagorawi Ruas Jakarta – Cibinong sepanjang 24 km. Pada tanggal 9 Maret 1978, Presiden Soeharto meresmikan jalan tol tersebut sebagai jalan tol pertama di Indonesia yang diberi nama Jagorawi dengan karyawan 200 orang. Banyak definisi yang diberikan oleh para ahli terhadap konsep “privatisasi”. Adapun Savas pada tahun 1987, menyatakan privatisasi sebagai “an act of reducing the role of government, or increasing the role of the private sector, in an activity or in the ownership of assets”. Savas sangat menekankan pentingnya privatisasi, yang ditunjukkan dari pernyataannya: “the role of government is to steer, not to mean the oars. Adanya pro dan kontra dari kebijakan privatisasi BUMN di Indonesia semakin menjadi bagian penting dari kebijakan ekonomi pemerintah. Program privatisasi BUMN akan tetap dilanjutkan dengan mengembangkan berbagai metode privatisasi seperti strategic sales, initial public offering (IPO) terhadap 35% saham milik pemerintah yang didukung dengan langkah-langkah sosialisasi program privatisasi, peningkatan koordinasi dengan departemen/instansi terkait dan mempelajari kemungkinan berbagai alternatif metode privatisasi. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemerintah Memprivatisasi PT.Jasa Marga”. B. Perumusan Masalah PT. Jasa Marga merupakan salah satu BUMN yang diprivatisasi oleh Pemerintah. Banyak nya pro dan kontra tentang privatisasi d kalangan masyarakat membuat menarik untuk diteliti. Adanya opini tentang privatisasi dilakukan karena perusahaan BUMN tersebut hampir bangkrut atau bangkrut perlu dibuktikan. Atau privatisasi tidak mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan. Berdasarkan masalah tersebut, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pemerintah memprivatisasi PT. Jasa Marga? 2. Metode privatisasi apa yang digunakan pemerintah untuk memprivatisasi PT.JasaMarga? 3. Apakah privatisasi tersebut benar-benar memperbaiki efisiensi dan profitabilitas PT. Jasa Marga? C. Pembatasan Masalah Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi privatisasi yang diteliti dan dibahas adalah hanya yang paling utama sehingga pemerintah merasa sudah pantas memprivatisasi PT. Jasa Marga. 2. Menganalisis efisiensi dan profitabilitas sebelum privatisasi dan sesudah privatisasi. D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian a. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemerintah memprivatisasi PT.Jasa Marga. b. Untuk mengetahui metode privatisasi yang digunakan pemerintah untuk memprivatisasi PT.Jasa Marga. c. Untuk mengetahui apakah privatisasi PT.Jasa Marga meningkatkan profitabilitas dan efisiensi atau tidak. 2. Manfaat Penelitian a. Bagi peneliti, untuk mendapatkan pengalaman dan ilmu pengetahuan dalam studi di lingkungan BUMN dan privatisasi serta sebagai persyaratan dalam menyelesaikan studi pada Program Sarjana Jurusan IESP Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman. b. Bagi pembaca, diharapkan penelitian ini mampu menjadi bahan informasi bagi penelitian selanjutnya. III. METODOLOGI PENELITIAN DAN ANALISIS A. Metode Penelitian 1. Sasaran Penelitian Sasaran penelitian ini adalah PT. Jasa Marga (Persero)Tbk sebagai salah satu perusahaan BUMN yang di privatisasi oleh Pemerintah 2. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini adalah di kantor pusat PT. Jasa Marga (Persero)Tbk di Plaza Tol Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, penentuan perusahaan yang akan diambil untuk sampel penelitian dilukan secara sengaja (purposive). Alasan memilih lokasi tersebut karena merupakan kantor pusat, lokasi tersebut juga mudah dijangkau. 3. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis data-data sekunder dari Kantor pusat PT. Jasa Marga (Persero)Tbk dan metode survei yaitu pengumpulan informasi tentang sekelompok manusia, melalui suatu cara yang sistematisseperti observasi, wawancara, dan sebagainya. (M. Suparmoko, 1999:35). 4. Sumber Data a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dari interview atau wawancara kepada beberapa pegawai BUMN, observasi pada pelayanan jasa dan pengembangan jalan tol. b. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dari literatur, PT.Jasa Marga , dan data lainnya serta publikasi hasil penelitian yang berkaitan dengan penelitian ini. 5. Metode Pengumpulan Data a. Interview atau wawancara yang dilakukan terhadap beberapa pegawai PT. Jasa Marga yang terkait dengan data yang ingin diperoleh. b. Observasi, yaitu pengumpulan data melalui pengamatan langsung untuk mengetahui langsung pelayanan dan pengembangan jalan tol yang dilakukan PT. Jasa Marga. 6. Definisi Operasional Variabel-variabel penelitian yang digunakan oleh peneliti untuk menguji hipotesis adalah: a. Efisiensi Adalah mengukur efisiensi penggunaan aset yang dimiliki perusahaan berupa aktiva tetap, persediaan dan piutang usaha dalam menghasilkan aktivitas penjualan.Rasio yang biasa digunakan adalah Total Asset Turnover yang mana jika semakin besar maka semakin baik karena efisien.Total Asset Turnover (Penjualan Bersih/Total Aset) x100% b. Profitabilitas Profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkankeuntungan (Riyanto, 1996). Rasio yang biasa digunakan adalah Return on Asset (ROA) yaitu rasio yang mengukur profitabilitas dari aset, Return on Equity (ROE) yaitu rasio yang mengukur profitabilitas dari ekuitas dan Return on Sales (ROS) yaitu rasio yang mengukur profitabilitas dari penjualan. Semakin besar profitabilitas maka semakin baik kinerja keuangan perusahaan. Return On Asset (ROA) = (Laba Bersih / Total Aset) x 100% , Return On Equity (ROE) = (Laba Bersih / Total Ekuitas) x 100%., Return On Sales (ROS) = (Laba Bersih/Total Penjualan) x 100%. 7. Variabel Penelitian Tabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah efisiensi dan profitabilitas sebelum privatisasi (X1) dan setelah privatisasi (X2). A. Metode Analisis B. Tabel 3. Definisi Operasional VARIABEL INDIKATOR SKALA Kinerja Keuangan BUMN sebelum Privatisasi (X1) Total Asset Turnover = (Pendapatan usaha/Asset) x 100% Rasio Return on Assets (ROA) = (Laba Bersih/Aset) x 100% Rasio Return on Equity (ROE) = (Laba Bersih/Ekuitas) x 100% Rasio Return on Sales (ROS) =(Laba Bersih/Pendapatan usaha) x 100% Rasio Kinerja Keuangan BUMN setelah Privatisasi (X2) Total Asset Turnover = (Pendapatan usaha/Asset) x 100% Rasio Return on Assets (ROA) = (Laba Bersih/Aset) x100% Rasio Return on Equity (ROE) = (Laba Bersih/Ekuitas)x 100% Rasio Return on Sales (ROS) = (Laba Bersih/Pendapatan usaha) x100% Rasio Keterangan : untuk menghitung efisiensi yang digunakan adalah rumus TOT yaitu total asset turnover yaitu laba bersih dibagi asset dikali 100% untuk mengetahui rasio. Untuk menghitung profitabilitas digunakan tiga rumus yaitu ROA yaitu return on asset caranya laba bersih dibagi asset dan dikali 100%. Kedua return on equitas (ROE) caranya laba bersih dibagi equitas lalu dikali 100%. Terakhir return on sales (ROS) caranya laba bersih dibagi pendapatan usaha dan dikali 100%. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum PT. Jasa Marga Sejarah dan perkembangan jalan tol di Indonesia tidak terlepas dari keberadaan PT. Jasa Marga yang selama 32 tahun ini mampu menunjukkan eksistensinya sebagai perusahaan jalan tol pertama di Indonesia. Selama 32 tahun berkiprah sebagai operator dan investor jalan tol, Jasa Marga mampu menunjukkan kapasitas dan kapabilitasnya sehingga terus mempertahankan posisinya sebagai leader operator jalan tol di Indonesia. Dimulai dari Jalan Tol Jagorawi tahun 1978 dan hingga yang Jalan Tol Cipularang tahun 2003 serta JORR ruas Jatiasih-Cikunir pada tahun 2007 Jasa Marga telah mempunyai 13 ruas jalan tol yang kesemuanya dibangun dan dikelola sendiri oleh Jasa Marga. Manfaat jalan tol dalam menumbuhkan perekonomian nasional juga sudah dirasakan masyarakat maupun Pemerintah. Daerah-daerah yang dilalui jalan tol juga mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Bahkan, manfaat jalan tol bukan hanya dirasakan pada saat jalan tol tersebut sudah beroperasi, tetapi mulai dari masa pembangunannya juga sudah membawa dampak positif dalam memacu pertumbuhan perekonomian baik secara nasional maupun di daerah tersebut. Sebab, seluruh material untuk pembangunan jalan tol tidak ada yang berasal dari luar negeri tetapi seluruhnya berasal dari dalam negeri. B. Analisis Data dan Pembahasan 1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pemerintah Memperivatisasi PT. Jasa Marga. Faktor-faktor yang mempengaruhi keptusan pemerintah memperivatisasi PT. Jasa Marga menurut adalah sebagai berikut: a) MembangunDaya Saing Tumbuhnya minat perusahaan swasta dalam investasi jalan tol menciptakan persaingan dalam bisnis ini, terutama dalam memperoleh konsesi jalan tol dari pemerintah.Namun dalam realitas bisnis, memperoleh konsesi jalan tol bukanlah satu-satunya faktor persaingan dalam bisnis ini.Besarnya nilai investasi untuk pembangunan dan pengelolaan jalan tol juga mendorong bisnis ini memasuki persaingan untuk memperoleh sumber pendanaan. b) Tumbuh dengan Dukungan Pendanaan yang Kuat Investasi jalan tol merupakan bisnis yang strategis dan prospektif, namun bersifat jangka panjang dengan paybackperiod 15 tahun atau lebih. Investasi terbesar terjadi pada awal konsesi untuk pembangunan konsesi jalan. Sedangkan pada awal tahun operasi biaya bunga peminjaman akan mendominasi struktur laporan rugi-laba. Karakter ini sangat disadari Jasa Marga, sehingga masalah pendanaan menjadi strategi yang penting. c) APBN dan Pinjaman Luar Negeri Anggaran Pendapatan Negara dan Belanja Negara (APBN) dan pinjaman luar negeri merupakan skema pendanaan pertama dalam pembangunan jalan tol di Indonesia. Skema ini dipakai untuk membangun jalan tol Jagorawi (46 km) yang dibangun dengan biaya Rp 33,9 miliar. Sebesar 40% dana diperoleh dari APBN dan selebihnya pemerintah memperoleh pinjaman lunak dari United State Agency for International Development (USAID). d) Mengurangi Beban APBN dan Menutup Defisit APBN Defisit anggaran negara, yang merupakan perbedaan antara pengeluaran dan penerimaannya, dapat dibelanjai dengan menambah hutang negara dan/atau menjual aktiva atau asset negara termasuk penggunaan dananya yang ada di perbankan. Berdasarkan analisis yang didapatkan, pembangunan jalan tol yang dibiayai oleh pengguna jalan justru mengurangi beban APBN. Dengan demikian pemerintah bisa lebih fokus memanfaatkan dana dalam anggaran Negara untuk program-program yang sangat membutuhkan biaya dari APBN, seperti program peningkatan kesehatan dan kesejahteraan rakyat miskin . Untukmengetahui hubungan antara laba bersih dan total aset dengan APBN, dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment. Dalam melakukan penghitungan peneliti akan menggunakan bantuan program Statistics Package for Social Science (SPSS) for windows release 13,0. Tabel 8.1 Perhitungan Korelasi Product Moment Laba Bersih APBN Laba Bersih Correlation Coefficient 1.000 .900* Sig. (2-tailed) . .037 N 5 5 APBN Correlation Coefficient .900* 1.000 Sig. (2-tailed) .037 . N 5 5 Berdasarkan tabel 8.1 di ketahui nilai korelasi Product Moment sebesar 0,900 dengan tingkat signifikansi 95% (persen), hal ini menunjukan bahwa terdapat hubungan positif dan kuat antara laba bersih Jasa Marga dengan APBN. Tabel 8.2. Perhitungan Korelasi Product Moment Total Aset Total Aset Correlation Coefficient 1.000 .976* Sig. (2-tailed) . .005 N 5 5 APBN Correlation Coefficient .976* 1.000 Sig. (2-tailed) .005 . N 5 5 Berdasarkan tabel 8.2 di ketahui nilai korelasi Product Moment sebesar 0,976 dengan tingkat signifikansi 95% (persen), hal ini menunjukan bahwa terdapat hubungan positif dan kuat antara total aset Jasa Marga dengan APBN. Hal ini sesuai dengan pedoman untuk menentukan koefisien korelasi di antara dua variabel tersebut, dengan membandingkan harga r dengan tabel interpretasi nilai r sebagai berikut: Tabel 8.3. PedomanInterpretasi terhadap Koefisien Korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0,80 – 1,000 Sangat Kuat 0,60 – 0,799 Kuat 0,40 – 0,599 Cukup Kuat 0,20 – 0,399 Rendah 0,00 – 0,199 Sangat Rendah Sumber: Sugiono,2003 Setelah privatisasi, campur tangan pemerintah sudah sangat berkurang. Berdasarkan kutipan wawancara dengan bapak Rudi,SE selaku sekper PT. Jasa Marga, setelah privatisasi pemerintah hanya membantu dalam proses pembebasan tanah kalau tidak terjadi kesepakatan harga yg sudah dipersiapkan PT. Jasa Marga kepada pihak pemilik tanah. Dana untuk pembebasan tanah tersebut pun milik PT. Jasa Marga. Lebih jelasnya pemerintah dapat membantu dengan menyediakan dana talangan untuk pembebasan lahan (revolving fund) melalui Badan Layanan Umum (BLU) atau kebijakan sharing risiko antara pengelola jalan tol an pemerintah dalam menanggung biaya pembebasan lahan yg melampaui rencana investasi (land capping). 2. Metode dan Prosedur Privatisasi Privatisasi BUMN dapat dilaksanakan dengan memilih strategi yang paling cocok, sesuai dengan tujuan privatisasi, jenis BUMN, kondisi BUMN, serta situasi sosial politik dari suatu negara. a. Public Offering Pada strategi public offering, pemerintah menjual kepada publik semua atau sebagian saham yang dimiliki atas PT. Jasa Marga kepada publik melalui pasar modal.Umumnya, pemerintah hanya menjual sebagian dari saham yang dimiliki atas BUMN tersebut. Strategi ini akan menghasilkan suatu perusahaan yang dimiliki bersama antara pemerintah dan swasta. Proporsi kepemilikan pemerintah atas perusahaan ini akan menurun. Public offering ini cocok untuk memprivatisasi BUMN yang cukup besar, memiliki potensi keuntungan yang memadai dalam waktu dekat dapat direalisasi.PT. Jasa Marga harus bisa memberikan informasi lengkap tentang keuangan, manajemen, dan informasi lainnya, yang diperlukan masyarakat sebagai calon investor. Public offering ini akan dapat terealisasi apabila telah tersedia pasar modal, atau suatu badan formal yang dibentuk dalam rangka menginformasikan, menarik, dan menjaring publik. Tabel 23. Indikator Efisiensi dan Profitabilitas ` VARIABEL INDIKATOR SKALA Kinerja Keuangan PT. Jasa Marga sebelum Privatisasi (X1)pada tahun 2006 dan 2007 Total Asset Turnover =(Pendapatan usaha / Asset 2006) x 100% =(2.296.143/10.255.697)x 100% = (Pendapatan usaha / Asset 2007) x 100% =(2.645.043/13.847.227 ) x 100% Rasio = 22,39 = 19,10 Return on Assets (ROA) =(Laba Bersih / Asset 2006) x 100% =(462.567/10.255.697) x 100% = (Laba Bersih / Asset 2007) x 100% =(277.982/13.847.227 ) x 100% Rasio = 4,51 = 2,01 Return on Equity (ROE) = (Laba Bersih / Ekuitas 2006) x 100% =(462.567/2.385.547) x 100% = (Laba Bersih / Ekuitas 2007) x 100% =(277.982/5.975.316) x 100% Rasio = 19,39 = 4,65 Return on Sales (ROS) = (Laba Bersih / Pendapatan 2006) x 100% =(462.567/2.296.143) x 100% = (Laba Bersih / Pendapatan) x 100% = (277.982/2.645.043) x 100% Rasio = 19,39 = 10,51 Kinerja Keuangan PT. Jasa Marga setelah Privatisasi (X2) pada tahun 2009 dan 2010 Total Asset Turnover = (Pendapatan usaha / Asset 2009) x 100% =(3.692.000/16.174.264) x 100% = (Pendapatan usaha / Asset 2010) x 100% =(4.378.584/18.952.129) x100% Rasio = 22,82 =23,10 Return on Assets (ROA) = (Laba Bersih / Asset 2009) x100% =(992.694/16.174.264) x 100% = (Laba Bersih / Asset 2010) x100% =(1.193.486/18.952.129) x 100% Rasio = 6,14 = 6,30 Return on Equity (ROE) = (Laba Bersih / Ekuitas 2009)x 100% =(992.694/7.183.379) x 100% = (Laba Bersih / Ekuitas 2010)x 100% =(1.193.486/7.740.014) x 100% Rasio =13,82 =15,42 Return on Sales (ROS) = (Laba Bersih /Pendapatan usaha 2009) x100% =(992.694/3.692.000) x 100% = (Laba Bersih /Pendapatan usaha) x100% =(1.193.486/4.837.584) x 100% Rasio = 26,89 =24,67 Berdasarkan hasil yang sudah dihitung, pertama tentang jumlah total asset turnover (TAT) pada tahun 2006 besarnya 22,39% (persen) dan tahun 2007 besarnya adalah 19,10% (persen). Adanya penurunan sebesar 3,29% (persen). Perhitungan pada tahun itu sebelum adanya privatisasi. Pada tahun 2009 besarnya total asset turnover nya (TAT) adalah 22,82% (persen) dan tahun 2010 sebesar 23,10% (persen). Ini menunjukan adanya peningkatan sebesar 0,28% (persen). Perhitungan pada tahun tersebut setelah adanya privatisasi. Selanjutnya tentang jumlah return on asset (ROA) pada tahun 2006 besarnya 4,51% (persen) dan tahun 2007 besarnya adalah 2,01% (persen). Terjadi penurunan sebesar 2,5% (persen) sebelum adanya privatisasi. Pada tahun 2009 ROA nya sebesar 6,14% (persen) dan tahun 2010 besarnya 6,29% (persen). Disini juga terjadi peningkatan sebesar 0,15% setelah adanya privatisasi. Lalu besarnya return on equity (ROE) pada tahun 2006 besarnya adalah 19,39% dan tahun 2007 besarnya adalah 4,65%. Terjadi penurunan yang besar yaitu 14,74% sebelum adanya privatisasi. Tahun 2009 besarnya ROE adalah 13,82% dan Thun 2010 besarnya adalah 15,42%. Adanya peningkatan yaitu 1,6%. Terakhir besarnya return on sales (ROS) pada tahun 2006 besarnya 19,39% dan tahun 2007 10,51%. Terjadi lagi penurunan sebesar 8,88% sebelum privatisasi. Pada tahun 2009 besarnya ROS adalah 26,89% dan tahun 2010 adalah 24,67%. Adanya penurunan sebesar 2,22% setelah adanya privatisasi. Kesimpulannya sebelum privatisasi besarnya TOT,ROA,ROE dan ROS mengalami penurunan setiap tahunnya. Sedangkan setelah privatisasi hampir semua indicator mengalami peningkatan setiap tahunnya kecuali ROS. V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan : 1. PT. Jasa Marga diprivatisasi oleh pemerintah karena adanya persaingan terhadap swasta agar BUMN jauh lebih mandiri dan dapat mengurangi beban APBN juga defisit APBN. 2. Metode privatisasi yang dipakai adalah initial public offering (IPO), Karena saham yang dijual sebesar 30%. Sesuai dengan kriteria initial public offering (IPO). PT. Jasa marga sudah go pubic, artinya investor nya adalah investor public. 3. Privatisasi ternyata meningkatkan efisiensi dan profitabilitas pada PT. Jasa Marga per-tahunnya. Dibuktikan lagi dengan perhitungan efisiensi dengan indikator total asset turnover (TAT) dan profitabilitas yang terdiri dari return on asset (ROA), return on equitas (ROE) dan return on sales (ROS) sebelum privatisasi dan sesudah privatisasi adalah meningkat. Dari sampel tahun 2006 dan 2007 untuk sebelum privatisasi,dan tahun 2009 juga 2010 untuk setelah privatisasi. Untuk total asset turnovernya selisih rata-ratanya meningkat sebesar 2,22. Return on assetnya meningkat sebesar 2,96. Return on equitas meningkat sebesar 2,6. Terakhir adalah return on sales meningkat sebesar 10,75. B. Implikasi 1. Dilihat dari tujuan privatisasi untuk PT. Jasa Marga, sebaiknya itu terus dijalankan. Mengingat PT. Jasa Marga harus selalu memberi pelayanan terbaik pada masyarakat. Sehingga harus memperlihatkan kinerja yang baik. 2. Metode initial public offering (IPO) yang dipakai PT. Jasa Marga harus dimanfaatkan dengan baik. Sebaiknya dengan saham yang dijual 30% dipergunakan sebaik-baiknya untuk penambahan fasilitas jalan tol sesuai kebutuhan masyarakat. 3. Dengan meningkatnya efisiensi dan profitabilitas pada PT. Jasa Marga, diharapkan kinerja perusahaan tersebut terus bertambah baik. Agar kepercayaan masyarakat tidak berkurang dan berdampak pada penurunan besarnya efisiensi dan profitabilitas. DAFTAR PUSTAKA Artjan, M. Faisal., IPO Sebagai Alternatif Privatisasi BUMN, Majalah Usahawan No. 02 Thn. XXIX, Februari 2000. Basri, Faisal. 2002. Perekonomian Indonesia. Jakarta. Penerbit Erlangga. Dwidjowijoto, Riant dan Randy Wrihatnolo. 2008. Manajemen Privatisasi BUMN. Jakarta : PT Elex Media Komputindo-Gramedia. Herdinata, Christian. 2007. “Hubungan antara Struktur Kepemilikan, Corporate Governance, dan Nilai Perusahaan yang Go Public di BEJ pada EraGlobalisasi.” Tesis Ciputra’. Herwanto, Hengky. 2007. Membangun Jalan ke Masa Depan, Perjalanan 30 tahun Jasa Marga. PT. Jasa Marga (PERSERO) Tbk. Lubis, Maria. 2004. ”Dampak Privatisasi terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan.” Tesis Pascasarjana Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Mohd. Nur, Noorul Ainur. 2003. op. cit. hal. 24 . Moeljono. 2004. “Dasar Pembentukan BUMN.” Munggaran, Ady Kurnia. 2007. ”Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan BUMN Sebelum dan Sesudah Privatisasi.” Skripsi Universitas Widyatama, Nugroho, Riant. 2008. “Business and Economics”. Savas, E., 1987. The Key to Better Governments.hal. 3. |
| Kata kunci | Privatisasi,efisiensi,profitabilitas,ROA,ROE,ROS |
| Pembimbing 1 | Abdul Aziz Akhmad.SE,Msc |
| Pembimbing 2 | Drs. Hary Pudjianto,MM |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2012 |
| Jumlah Halaman | 91 |
| Tgl. Entri | (belum diset) |