Artikelilmiahs

Menampilkan 11.721-11.740 dari 49.031 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
117214680B1J008100PENGARUH PEMBERIAN IBA DAN KOMPOSISI MEDIA
TERHADAP PERTUMBUHAN STEK
Sansevieria cylindrica var. patula
Sansevieria atau yang lebih dikenal dengan nama lidah mertua merupakan tanaman hias yang memiliki banyak manfaat diantaranya dapat dijadikan obat, bahan industri tekstil dan dapat menyerap polutan, namun karena pertumbuhannya yang lambat, penyediaan bibit dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang singkat sulit dilakukan. Penggunaan ZPT merupakan salah satu cara dalam mempercepat pertumbuhan stek Sansevieria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian IBA dan komposisi media dalam meningkatkan pertumbuhan stek daun Sansevieria cylindrica var. patula dan menentukan konsentrasi IBA yang tepat dan komposisi media tanam yang sesuai dalam memacu pertumbuhannya. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan pola faktorial, faktor I adalah IBA dengan konsentrasi K0 (0 ppm), K1 (50 ppm), K2 (100 ppm), K3 (150 ppm), K4 (200 ppm), faktor II adalah komposisi media pupuk kandang : pasir : sekam bakar dengan perbandingan 1:1:1 (M1), 1:2:1 (M2), 1:1:2 (M3), dengan ulangan sebanyak tiga kali sehingga diperoleh 45 unit percobaan dengan parameter yang diamati yaitu persentase stek hidup, jumlah akar, panjang akar terpanjang, dan jumlah tunas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian IBA pada beberapa komposisi media tidak mampu meningkatkan pertumbuhan stek, namun komposisi media mampu meningkatkan jumlah tunas. Komposisi media yang efektif untuk memacu pertumbuhan stek yaitu komposisi media dengan perbandingan 1:1:1 (pupuk kandang : pasir : sekam bakar).Sansevieria well known as lidah mertua in local name is anornamental plant that has a lot of function such as used as medicine, for textile industry and it can absorb pollutants. However, the growing of Sansevieria is slow, so to supplay the seeds in large quantities in the short time are difficult. The using of Plant Growth Regulator (PGR) is one of way to accelerate the growth of cuttings Sansevieria. This study aims to determine the concentration of IBA and composition of media that can increase the growth of leaf cutting of Sansevieria cylindrica var. Patula, and determined IBA concentration exactly and planting media compositions that suitable for raised the growth. The research method used randomized block design with factorial patterns, factor I is K0 IBA concentration (0 ppm), K1 (50 ppm), K2 (100 ppm), K3 (150 ppm), K4(200 ppm), factor II were media composition of composts : sand : roast chaffs with a ratio 1:1:1 (M1), 1:2:1 (M2), 1:1:2 (M3), with three times repetitions until be obtained 45 experimental units with parameters observed the percentage of slip of plant, number of roots, the longest of root length, number of shoots. The results showed of IBA on some media composition couldn’t increase the growth of cuttings, however media compositions could increase the number of shoots. The effectiveness of media compositions for raised the growth of slip of plant was media composition with ratio 1:1:1 (composts : sand : roast chaff).
117224682B1J008097KEMAMPUAN PREDASI TUNGAU PREDATOR Amblyseius sp TERHADAP Tetranychus urticae PADA BEBERAPA KULTIVAR TANAMAN SINGKONG ( Manihot esculenta Crantz )
PADA SKALA RUMAH KACA
Tetranychus urticae adalah tungau hama tanaman singkong yang menyerang permukaan bagian bawah daun. Amblyseius sp merupakan musuh alami dari T. urticae. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan predasi tungau predator Amblyseius sp terhadap tungau hama T. urticae pada beberapa kultivar tanaman singkong pada skala rumah kaca. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang dicoba pada empat kultivar tanaman singkong, dengan menggunakan tungau hama T. urticae pada stadium larva sedangkan untuk tungau predator Amblyseius sp pada stadium dewasa dengan perbandingan 1:4 dan perlakuan diulang sebanyak 6 kali. Parameter utama yang dihitung adalah banyaknya tungau hama T. urticae yang dipredasi dalam waktu 1x24 jam. Parameter pendukung kerapatan trikoma dan panjang trikoma. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis variansi dengan tingkat kesalahan 5% dan 1%. Hasil penelitian menunjukan bahwa empat kultivar panjang trikoma dan kerapatan trikoma tidak berpengaruh pada kemampuan predasi tungau predator Amblyseius sp terhadap tungau hama T. urticae (P>0.05).Tetranychus urticae is pest in cassava plant that attack under surface of plant leaves. Amblyseius sp is natural enemy from T. urticae which potentially to control pest mite. The purpose of this research was to know predating ability of Amblyseius sp. to T. urticae on some cultivars of cassava in greenhouse scala. This research conducted with Complete Randomized Design (CDR). On four cultivars of cassava applied T. urticae at larva stadium and Amblyseius sp. at adult stadium with 1:4 of comparation.That treatmen was six time repeated. The main parameter of this research is number of T. urticae that player during 1x24 hours. Suporting parameter were density and length of trichome.Data were analysed by variance analysis at 5 % and 1 % error rate. The result showed that density and length of trichome does not influential to predating ability of Amblyseius sp. against T. urticae.
117234683B1J008064KEPADATAN POPULASI TUNGAU PREDATOR FAMILIA Phytoseiidae DAN TUNGAU HAMA
Brevipalpus phoenicis PADA BEBERAPA KLON DI PTPN IX KALIGUA,
BREBES, JAWA TENGAH
Kepadatan populasi tungau Brevipalpus phoenicis dan tungau predator familia Phytoseiidae dari beberapa klon teh di perkebunan Kaligua, Brebes Jawa Tengah telah dipelajari. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara sistematis. Sampel diambil dari empat sudut, samping dan tengah pada setiap lokasi pengambilan sampel dari setiap titik poin, 15 tangkai daun diambil 3 daun terbawah dari tanaman teh. Pengambilan sampel diulang sebanyak 4 kali, dengan interval satu minggu. Sampel diamati di bawah mikroskop, tungau hama dan tungau predator yang ditemukan dihitung per klon dari daun yang diambil. Data pendukung, suhu, kelembaban udara dan curah hujan dicatat. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi (ANOVA) model II, dan diuji lanjut menggunakan uji Duncan dengan tingkat kesalahan 20% dan 10%. Hasil menunjukan bahwa kepadatan populasi jenis tungau hama dan tungau predator sangat dipengaruhi oleh jenis klon (P<0.20). Tungau predator Amblyseius deleoni dan tungau hama B. phoenicis memiliki kepadatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kepadatan populasi tungau predator Phytoseius sp. Faktor lain yang mempengaruhi kepadatan populasi meliputi sudut duduk daun, luas daun, kerapatan dan panjang trikhoma.The population densities of pest mites Brevipalpus phoenicis and their predatory mites of Phytoseiidae from different tea clones at Kaligua Tea Plantation, Brebes Central Java have been studied. This research used a survey method with a systematic sampling technique. Samples were taken from each of four corners, sides, and the midlle of the designated tea plantation of each location. From each sampling point, 15 petioles of tea leaves were taken fron each of 3 representing tea plants. Samplings were repeated 4 times, with an interval of one week. Samples were examined under a stereo microscope and the pest and the predatory mites found were counted per area unit of the tea leaves. Additional data, temperature, air moisture, and humadity were recorded. The data were calculated using “Model II Analysis of Variance” and Duncan Test with confidence limits of 20% and 10%. The results showed that the population densities of both pest and predatory mites were significantly influenced by the tea clones where they lived (P<0.20). The predatory mite Amblyseius deleoni and pest mite Brevipalpus phoenicis have higher density compared to the predator mite population density Phytoseius sp. Other factors which influenced the population densities were the angle and surface are aof the leaf, the density and length of the trichoma.
117244684B1J008060KAJIAN PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH CENDAWAN PADA TANAMAN CABAI MERAH (Capsicum annum L.) DI PERTANAMAN RAKYAT KABUPATEN BREBESTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis penyakit yang disebabkan oleh cendawan, mengetahui cendawan yang menyebabkan penyakit dan mengetahui penyakit yang paling dominan pada tanaman cabai merah (Capsicum annum L.) di pertanaman rakyat Desa Kaligiri, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan teknik Purposive Random Sampling. Sampel diambil pada 5 lokasi, tiap 1 lokasi diambil 5 petak secara diagonal, sedangkan setiap petak diambil 10 tanaman sakit. Dari sampel tanaman yang sakit diidentifikasi penyakitnya kemudian diisolasi dan diidentifikasi cendawannya. Faktor yang diamati meliputi suhu, kelembaban dan pH. Hasil menunjukan bahwa penyakit pada tanaman cabai merah (Capsicum annum L.) yang berada di pertanaman rakyat Desa Kaligiri, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes ialah bercak daun yang disebabkan oleh cendawan Cercospora sp., antraknosa oleh cendawan Colletotrichum sp., dan layu oleh cendawan Fusarium sp.. Sedangkan penyakit yang paling dominan ialah penyakit bercak daun yang disebabkan oleh cendawan Cercospora sp.The aims of this study were to determine various diseases caused by fungi, to identifythe fungi causedthe disease, and to determine the most dominant disease in red chili plants(Capsicum annum L.) from smallholder agriculture located in Kaligiri Village, Sirampog Sub-district, Brebes. The method used was survey method with purposive random sampling technique. Samples were taken at five locations,five plots were taken diagonally in each location, and then 10 sickplants were taken per plot. Samples of sick plants were identified its disease then were isolated and were identified the fungi which caused it. Observed factors were temperature, humidity, and pH. The results showed that the diseases in red chili plants (Capsicum annum L.) from smallholder agriculture located in Kaligiri Village are leaf spot which caused by Cercospora sp., anthracnose caused by Colletotrichum sp., and fusarium wilt caused by Fusarium sp. The most dominant disease is leaf spot disease which caused by Cercospora sp
117254685B1J009144AKTIVITAS SUPEROKSIDA DISMUTASE TIKUS DIABETES YANG DIBERI EKSTRAK BATANG KAPULAGA DAN GLIBENKLAMIDSuperoksida Dismutase (SOD) merupakan enzim antioksidan yang bertanggungjawab mengurangi radikal anion superoksida, yang diketahui sebagai pemicu terjadinya diabetes. Banyak bahan alami mengandung antioksidan, yang diyakini dapat memperbaiki status antioksidan seluler. Batang kapulaga dilaporkan mengandung senyawa flavonoid dan vitamin C, yang telah terbukti berperan sebagai antioksidan secara in vitro. Namun hingga saat ini belum ada data yang mengungkap potensinya secara in vivo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas SOD tikus sprague dawley diabetes yang diberi Ekstrak Batang Kapulaga (EBK) dan glibenklamid. Penelitian eksperimental ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan tujuh ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu tikus diabetes yang diberi Ekstrak Batang Kapulaga (EBK) dengan dosis 100 mg/kg, dan glibenklamid 2 mg/kg. Pengambilan sampel darah dilakukan sebanyak 3 kali dengan interval waktu selama 7 hari yaitu hari ke-0, 7, dan 14. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F, dilanjutkan uji BNT. Berdasarkan hasil uji didapatkan aktivitas SOD meningkat dari 4261,279 menjadi 6604,668 Unit/mg protein (P<0.01) pada kelompok tikus diabetes yang diberi EBK selama 14 hari. Kesimpulannya, ekstrak batang kapulaga mampu meningkatkan aktivitas SOD tikus diabetes.Superoxide Dismutase (SOD) is an antioxidant enzyme which reduce anion superoxide radicals as well as known caused of diabetes. There are many natural additive was believed having capacity to repaired an antioxidant celluler status. Cardamom’s stem were reported containing flavonoid and vitamin C which have been proven as in vitro antioxidant. There was no data showing its in vivo potency. This study aims to knoe the SOD activity of diabetes rats which were given cardamom stem extract (CSE) and glibenclamide. The research carried out with the use of experimentally Randomized Design Complete (RAL) by administering treatment on diabetes rat without CSE and glibenclamide as a control, consist of 100 mg/kg bodymass CSE and 2 mg/kg bodymass glibenclamide. The experiment consists of 3 treatments with 7 repetitions, blood sampling carried out experiments as much as 3 times with intervals of 7 days once. The data was analyzed using a variety of analysis (ANOVA). The result showed that the SOD activity increased from 4261 Unit/mg protein to 6604,668 Unit/mg protein (P<0.01) in diabetes rats treatment by CSE for 14 days.
117264698B1J008033METAZOA PARASIT PADA IKAN KACANGAN (Megalaspis cordyla) DAN IKAN EKOR KUNING (Lutjanus vitta) YANG DIPASARKAN
DI TPI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA CILACAP
Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap merupakan tempat pemasaran ikan hasil tangkapan nelayan dari perairan Cilacap maupun Tegal.
TPI Pelabuhan Perikanan Samudera menjual berbagai jenis ikan tangkap, diantaranya ikan kacangan (Megalaspis cordyla) dan ikan ekor kuning (Lutjanus vitta). Kedua jenis ikan tersebut bersifat karnivora dengan memangsa ikan-ikan kecil dan Crustacea yang merupakan hospes intermedier dari beberapa jenis parasit. Kondisi tersebut memungkinkan ikan kacangan dan ikan ekor kuning dapat terinfeksi metazoa parasit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kelimpahan metazoa parasit pada ikan kacangan dan ikan ekor kuning yang dipasarkan di TPI Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap dan prevalensi ikan kacangan dan ikan ekor kuning yang terinfeksi metazoa parasit serta rasio parasit dari masing-masing spesies. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan pengambilan sampel secara random sampling. Kelimpahan jenis metazoa parasit pada ikan kacangan dan ikan ekor kuning dianalisis menggunakan analisis varian. Besarnya jumlah ikan yang terinfeksi metazoa parasit diketahui dengan menghitung prevalensinya. Rasio parasit yang menginfeksi ikan dilakukan perhitungan persentase jumlah parasit yang ditemukan dibagi total metazoa parasit pada sampel. Hasil penelitian didapatkan 26 metazoa parasit meliputi 16 metazoa parasit ditemukan menginfeksi ikan kacangan dan 10 metazoa parasit menginfeksi ikan ekor kuning. Prevalensi ikan kacangan yang terinfeksi metazoa parasit sebesar 100% dan ikan ekor kuning 97.14%. Rasio metazoa parasit tertinggi pada ikan kacangan adalah Callitetrarhynchus sp. mencapai 20% dengan kelimpahan sebesar 5.536325 individu/individu. Rasio metazoa parasit tertinggi pada ikan ekor kuning adalah Ergasilidae indet. I sebesar 42.86% dengan kelimpahan sebesar 15.39915 individu/individu.
Cilacap’s fishing port is the biggest fishing port in Java which is the best fisheries market from Cilacap and Tegal. Fish sold in this place such as Finny scad (Megalaspis cordyla) and Striped seaperch (Lutjanus vitta). Both fish are predator for small fish and Crustaceans which are intermediate host for some parasites. This condition would allow that both fish to be infected by metazoan parasites. This study aimed to determine diversity and abundance of metazoan parasites, and to determine prevalence of both fish that infected by parasites also ratio of parasite from each species. The used method was survey with random sampling technique. The abundance of each metazoan parasite was analyzed using analysis of variance. The amount of fish infected by metazoan parasites was determined with counting its prevalence. The ratio of each parasite which infected fish could be found out from the percentage of each parasite was found divided by total of metazoan parasites in samples. The result showed that there are 26 metazoan parasites, including 16 metazoan parasites from M. cordyla and 10 metazoan parasites from L. vitta. The prevalence of M. cordyla infected by metazoan parasite was 100%, and L. vitta was 97.14%. The highest infection ratio value in M. cordyla was Callitetrarhynchus sp. (20%) and its abundance value was 5.536325 individu/individu. Whereas, the highest infection ratio in L. vitta was Ergasilidae indet. I (42.86%) and its abundance value was 15.39915 individu/individu.
117274687B1J008025KORELASI KADAR Pb UDARA AMBIEN DENGAN Pb DAUN ANGSANA (Pterocarpus indicus Willd) SEBAGAI PENEDUH JALAN BERDASARKAN KARAKTER ANATOMISNYA DI KOTA PURWOKERTOTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pencemaran Pb udara ambien, akumulasi Pb pada daun Angsana, serta korelasi antara kadar Pb udara ambien dengan akumulasi Pb pada daun Angsana. Metode penelitian menggunakan metode survey dengan teknik Purposive Sampling. Parameter yang diamati adalah kadar Pb udara dan kadar Pb pada daun Angsana, kerapatan stomata perluas daun, ukuran stomata dan tebal mesofil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar Pb udara ambien terbesar berada di Jalan Gerilya sebesar 0,1020 µg/m³ dan masih berada di bawah ambang batas baku mutu udara ambien di Propinsi Jawa Tengah, yaitu sebesar 2 µg/m3. Kadar Pb daun Angsana tertinggi di Jalan H.R. Bunyamin antara 0,4716 – 0,4788 ppm. Kadar Pb udara ambien berkorelasi dengan akumulasi Pb pada daun Angsana. Kadar Pb daun Angsana berkorelasi positif terhadap tebal mesofil dan berkorelasi negatif terhadap lebar stomata daun Angsana, namun tidak berkorelasi terhadap kerapatan stomata dan panjang stomata. Tingginya kadar Pb daun Angsana menyebabkan semakin tebal mesofil dan semakin rendah lebar stomata daun Angsana.The aims of this study were to determine the concentration of ambient air lead (Pb) pollution, the Pb accumulation in Angsana leaves, and the correlation among concentration of ambient air Pb with Pb accumulation in Angsana leaves. Research method which used was survey method with purposive sampling technique. Parameters which observed were ambient air Pb level, Pb level in Angsana leaves, stomata density per leaf area, size of stomata and mesophyll thickness.The results showed that the highest level of ambient air Pb is 0,1020 mg/m3 at Gerilya Street and the values were still below the threshold of the ambient air standard quality in the province of Central Java, which is 2μg/m3. The highest Concentration of Pb in Angsana leaves at H.R. Bunyamin Street, between 0,4716 – 0,4788 ppm. There is correlation among concentration of ambient air Pb with Pb accumulation in Angsana leaves. Concentration of Pb in Angsana leaves positively correlated to mesophyll thickness, negatively correlated to width of stomata, but not correlated to the density and length of stomata. The higher level of Pb in Angsana leaves leads to the higher density of stomata and thickness of mesophyll, but it gives narrower width of stomata.
117284689B1J008019KEANEKARAGAMAN SERANGGA PENYERBUK DAN KEBERHASILAN PENYERBUKAN TANAMAN CABAI (Capsicum frutescens L.) PADA LAHAN YANG DIPERKAYA TUMBUHAN BORRERIA (Spermacoce ocymoides Burm.f.)Tanaman cabai (Capsicum frutescens L.) merupakan tanaman hermaprodit (biseksual) sehingga tanaman dapat melakukan penyerbukan sendiri. Namun untuk mendapatkan hasil buah yang lebih baik, penyerbukan silang lebih diutamakan dengan cara menanamnya pada lahan dalam jumlah banyak. Maka diperlukan peran serangga penyerbuk. Ketersediaan sumber makanan sepanjang tahun mutlak diperlukan bagi serangga penyerbuk untuk kelangsungan hidup dan reproduksinya, sehingga tumbuhan liar berperan penting dalam menyediakan sumber makanan bagi serangga penyerbuk terutama pada saat tanaman budidaya tidak berbunga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman serangga penyerbuk dan keberhasilan penyerbukan tanaman cabai pada lahan yang diperkaya dengan tumbuhan Borreria (Spermacoce ocymoides Burm.f). Metode penelitian yang digunakan yaitu metode eksperiment menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Lokasi penelitian dilakukan di lahan pertanian di lereng Gunung Slamet Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga. Metode analisis yang digunakan yaitu Indeks Shannon-Wiener, Indeks Shannon-Evennes, ANOVA, korelasi, dan regresi. Dari hasil penelitian didapat 6 spesies serangga penyerbuk yaitu Apis cerana Fabricus, Musca domestica L., Polistes sp., Lasioglossum sp., Vanessa sp., dan Episyrphus sp. Pemberian tumbuhan liar tidak berpengaruh terhadap keanekaragaman serangga penyerbuk, namun berpengaruh terhadap jumlah individu tiap spesiesnya. Keanekaragaman serangga penyerbuk termasuk kategori tinggi. Keanekaragaman serangga penyerbuk tidak berpengaruh terhadap jumlah produksi buah cabai, namun jumlah individu tiap spesies serangga penyerbuk berpengaruh terhadap produksi buah cabai.

Kata kunci : Keanekaragaman, serangga penyerbuk, cabai (Capsicum frutescens L.), Borreria (Spermacoce ocymoides Burm.f)
Chili (Capsicum frutescens L.) plant is a bisexual plant that can do self-pollinating crops. But to get the better fruit, preferably cross-pollination by planting on land in large quantities. It needs the role of insect pollinators. Availability of food sources throughout the year is absolutely necessary for insect pollinators for survival and reproduction, so that wild plants play an important role in providing food sources for pollinating insects, especially when the crops are not flowering. The purpose of this study was to determine the diversity of insect pollinators and pollination success of chili plant on land that is enriched with Borreria plant (Spermacoce ocymoides Burm.f). The research method used is the method used completely randomized design experiment. What research is done on the farm on the slopes of Mount Slamet District Karangreja Purbalingga. The method of analysis used the Shannon-Wiener Index, Shannon-Evenness index, ANOVA, correlation, and regression. From the results obtained six species of insect pollinators are Apis Cerana Fabricus, Musca domestica L., Polistes sp., Lasioglossum sp., Vanessa sp., and Episyrphus sp. The provision does not affect wild plant diversity of insect pollinators, but the effect on the number of individuals of each species diversity of insect pollinators were high. The diversity of insect pollinators had no effect on the amount of chili production, but the number of individuals of each species of insect pollinators influence the production of chili.

Keywords: diversity, chili plant (Capsicum frutescens L.), insects pollinators, Borreria (Spermacoce ocymoides Burm.f)
117294663B1J008077EFEKTIVITAS PELET BIOFUNGISIDA Trichoderma harzianum UNTUK MENGENDALIKAN Fusarium sp. PENYEBAB PENYAKIT REBAH SEMAI PADA BIBIT TANAMAN CAISIM (Brassica rapa var. parachinensis L)Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi dosis dan model aplikasi pelet biofungisida T. harzianum terhadap efektivitas pengendalian penyakit rebah semai yang disebabkan oleh Fusarium sp. pada bibit caisim serta mengetahui dosis dan model aplikasi pelet biofungisida T. harzianum yang paling efektif dalam menekan penyakit rebah semai bibit caisim. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor yang dicobakan yaitu dosis pelet biofungisida T. harzianum terdiri dari : 0 g (D0), 12,5 g (D1), 25 g (D2), 37,5 g (D3), 50 g (D4), 62,5 g (D5) dan 75 g (D6) serta model aplikasi pelet biofungisida T. harzianum terdiri dari : T1, T2, T3 dan T4. Metode Analisis yang digunakan adalah Analisis Ragam dengan tingkat kesalahan 5% dan 1%, kemudian dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi dosis dan model aplikasi pelet biofungisida T. harzianum yang berbeda, tidak berpengaruh terhadap efektivitas pengendalian penyakit rebah semai yang disebabkan oleh Fusarium sp. pada bibit caisim, sedangkan dosis pelet T. harzianum dan model aplikasi pelet T. harzianum secara mandiri berpengaruh sangat nyata terhadap keefektifan relatif pengendalian agen hayati T. harzianum terhadap Fusarium sp. pada bibit caisim..Pemberian dosis 37,5 gram per 50 bibit tanaman paling efektif untuk menekan penyakit rebah semai yang disebabkan oleh Fusarium sp. pada bibit caisim dan model aplikasi pelet biofungisida T. harzianum selama 7 hari diaplikasikan dan diinkubasi pada media semai, sebelum diinokulasikan patogen Fusarium sp. secara bersamaan dengan penyemaian lebih baik dibandingkan model aplikasi lain.

This research aims to find out the effect of dose and application models interaction T. harzianum biofungicide pellets on the effectiveness of disease control damping-off caused by Fusarium sp. on mustard green seeds and the dosage and application models of T. harzianum biofungicide pellets that is most effective in suppressing seedling damping-off disease of mustard green. The used method is an experimental method by a completely randomized design (CRD) factorial pattern. Factors that tested was the dose of T. harzianum biofungicide pellets consists of: 0 g (D0), 12.5 g (D1), 25 g (D2), 37.5 g (D3), 50 g (D4), 62.5 g (D5) and 75 g (D6 ) and the application model of T. harzianum biofungicide pellets consists of: T1, T2, T3 and T4. The used analysis method was variety analysis with an error rate of 5% and 1%, continued by Least Significant Difference Test (BNT). The results showed that the interaction between dosage and application models of different T. harzianum biofungicide pellets, it did not affect the effectiveness of disease control of damping-off caused by Fusarium sp. on mustard green seedling, while the dosage of T. harzianum pellets and application model of T. harzianum pellets independently effected significant on the relative effectiveness of biological agents control T. harzianum toward Fusarium sp. on mustard green seedling. The dosing 37.5 grams per 50 seedlings was the most effective way to control damping-off diseases caused by Fusarium sp. the mustard green seedling and application models of biofungicide T. harzianum pellets applied for 7 days and incubated in medium for seedlings, before it inoculated pathogen Fusarium sp. simultaneously with seeding was better than another application model.


117304700P2FB10001PARTISIPASI PUBLIK DALAM PENINGKATAN MUTU PELAYANAN PENDIDIKAN DASAR
(Studi Tentang Peran Komite Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Cilacap Selatan Kabupaten Cilacap)
SLAMET ISWADI. Partisipasi Publik dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Pendidikan Dasar (Studi Tentang Peran Komite Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap). Tesis. Purwokerto : Program Pascasarjana, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, 2012.
Penelitian ini bertujuan untuk Mendeskripsikan Peran Komite Sekolah dalam Peningkatan Mutu Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Cilacap Selatan Kabupaten Cilacap sebagai Badan Pertimbangan (Advisory Agency), Badan Pendukung (Supporting Agency), Badan Pengontrol (Controlling Agency), dan Badan Penghubung (Mediator Agency). Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan analisis deskriptif. Pengumpulan data pokok menggunakan angket dengan penyesuaian melalui uji validitas dan reliabilitas instrumen. Sedangkan data pendukung diambil dengan metode dokumentasi. Populasi dengan menggunakan total sampling yaitu seluruh SD Negeri di Kecamatan Cilacap Selatan dengan responden Kepala Sekolah sebanyak 35 orang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran Komite Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Cilacap Selatan dengan indeks sebagai berikut: peran sebagai badan pertimbangan (Advisory Agency) sebesar 76,04 (berhasil), sebagai Badan Pendukung (Supporting Agency) 78,25 (berhasil), sebagai Badan Pengontrol (Controlling Agency) 77,14 (berhasil), dan sebagai Badan Penghubung (Mediator Agency) 78,44 ( berhasil). Dari perolehan skor setiap peran itu, maka indeks rata-rata adalah 77,45. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa Peran Komite Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Cilacap Selatan Kabupaten Cilacap termasuk kategori “ berhasil”.
SLAMET ISWADI, Public Participation in Improving The Quality of Elementary Education Treatment (The Study of The Role of Elementary School Committee in South Cilacap Subdistrict, Cilacap Regency). Thesis. Purwokerto: Pascasarjana Program, Jenderal Soedirman University, Purwokerto, 2012.
The purpose of this research is to describe the role of School Comitee for Elementary School in Subdistrict South Cilacap as advisory agency, supporting agency, controlling agency, and mediator agency. This research uses quantitative method by descriptive analisys. The collective of the main data uses the questionnaire based, using appropriating validity experiment and instrument reliability.The research respondent is all elementary schools in South Cilacap Subdistrict as much as 35 school, which the headmaster as respondent.
The result of research show that the role of Elementary School Comitee in South Cilacap Subdistrict with indeks, each of them: the role of Advisory Agency: 76,04 (succes), as Supporting Agency: 78,25 ((succes), as Controlling Agency: 77,14 (succes), and as Mediator Agency : 78,44 (succes). From the indeks above so average is 77,45. We can conclude that Elementary School Comitee work in South Cilacap Subdistrict, Cilacap Regency is “Succes”.
117314691H1C008044ANALISA PEMINIMALAN GANGGUAN AKIBAT SURJA PETIR
PADA PENYULANG BTG-02 ZONE TERAKHIR STUDI KASUS PT. PLN (PERSERO) APJ PEKALONGAN
Gangguan yang terbesar dalam sistem tenaga listrik terjadi di daerah penyaluran (transmisi dan distribusi), karena hampir sebagian besar sistem terdiri dari penyaluran. Penyulang BTG-2 terdapat 3 zone, zone pertama yaitu jaringan dari PMT BTG-2 sampai recloser pertama Pole B4-98, zone kedua jaringan dari recloser B4-98 sampai dengan recloser B-165/413, dan zona terakhir (zona tiga) yaitu jaringan dari B-165/413 sampai dengan ABSW W-281/214 yang merupakan NO (normaly open) antarapenyulang BTG-2 dengan WLR-3. Permasalahan diatas perlu dikaji sehingga kita dapat menentukan sistem proteksi terhadap gangguan petir pada penyulang BTG-02 zone terakhir secara efektif agar sistem proteksi dan kehandalan pelayanan menjadi lebih baik, dan dapat menyelesaikan permasalahan tersebut secara ekonomis dan efisien. Berdasarkan hasil dari pembahasan dan analisa perhitungan dihasilkan nilai tahanan grounding arrester no. tiang B-165/443 adalah 42,6Ω, sehingga nilai tahanan grounding yang cukup tinggi menyebabkan arrester tidak bisa arus akibat tegangan lebih ke ground dengan baik. Jumlah arrester yang terpasang dijaringan listrik kurang, sehingga menyebabkan proteksi terhadap gangguan surja petir kurang maksimal. Hasil yang diperoleh setelah melakukan analisa dan perhitungan menunjukkan bahwa penyulang BTG-02 zone terakhir membutuhkan penambahan proteksi yaitu penambahan arrester. Disamping itu, jarak pemasangan arrester pada daerah rawan petir semakin pendek akan semakin baik, karena waktu pengamanan terhadap tegangan lebih surja petir akan semakin cepat.Greatest fault in power systems occur in the delivery (transmission and distribution), because most of the system consists of distribution. BTG-2 Feeders, there are 3 zones, the first zone of the network of PMT BTG-2 to the first recloser Pole B4-98, the second zone of the network recloser B4-98 until the recloser B-165/413, and the last zone (zone three) that network of B-165/413 to ABSW W-281/214 that is NO (normaly open) between feeders with WLR BTG-2-3. Above issues need to be studied so that we can determine a protection system against lightning disturbances on feeders BTG-02 last zone effectively for the system protection and reliability of service for the better, and can solve these problems economically and efficiently. Based on the results of the discussion and analysis of the resulting calculation of the grounding resistance value arresters no. B-165/443 pole is 42.6 Ω, so that the grounding resistance value is high enough cause arresters can not flow due to over voltage to ground properly. The number of arresters are installed in network less electricity, thereby causing interference protection against lightning surges less than the maximum. The results obtained after the analysis and calculations show that the feeders BTG-02 last zone requires additional protection is the addition of arresters. In addition, the mounting distance in areas prone to lightning arresters are getting shorter, the better, because time protection against lightning surge voltages will be faster.
117324694B1J008036KEKAYAAN JENIS DAN KANDUNGAN ALGINAT SARGASSUM DARI PANTAI RANCABABAKAN CILACAPPenelitian kekayaan jenis dan kandungan alginat Sargassum di Pantai Rancababakan Cilacap sangat diperlukan untuk data dasar dalam pengelolaan pantai di Cilacap. Penelitian ini menggunakan metode survai, dengan pengambilan sampel secara acak terpilih dengan metode kuadrat ukuran 1m2. Pada setiap subtrat diambil 10 plot. Pengambilan sampel rumput laut dilakukan pada saat surut terendah. Sargassum yang didapatkan kemudian diidentifikasi berdasarkan morfologi talus yang dimiliki menggunakan foto dan pustaka kunci determinasi dari Wuitner, Taylor, dan Atmadja et al. dan kemudian diekstraksi kandungan alginatnya dengan menggunakan metode ekstraksi Kelco Co.. Berdasarkan hasil identifikasi, didapatkan 9 jenis Sargassum yang hidup di Pantai Rancababakan yaitu S. polycystum, S. crassifolium, S. binderi, S. duplicatum S. polyceratium, S. vulgare, S. hystrix, S. fluitans, S. cinereum. Jenis Sargassum paling banyak ditemukan pada substrat karang. Hasil ekstraksi alginat diketahui bahwa kadar alginat Sargassum berkisar antara 11, 62% sampai 90,72%. Kadar alginat tertinggi yang diperoleh setelah proses ekstraksi dihasilkan oleh Sargassum binderi yaitu sebesar 90,72%, sedangkan kadar alginat terendah dihasilkan oleh Sargassum cinereum sebesar 11,62%.


The study of richness type and alginate content of Sargassum from Rancababakan Cilacap Coast is needed for basic data management of the beach in Cilacap. The research used a survey method, and sampling used random choosen sampling with 1m2 square’s size. On every substrates, taken 10 plots. An observation about the condition of the water environment was done before sampling. Sargassum which obtained, identified based on the morphology of the talus with photos and determination key’s references by Wuitner, Taylor, Atmadja et al. Alginate extraction using extraction methods of Kelco Co.. Based on the identification results, this research obtained 9 Sargassum species live in Rancababakan Coast which are S. polycystum, S. crassifolium, S. binderi, S. duplicatum S. polyceratium, S. vulgare, S. hystrix, S. fluitans, S. cinereum. Sargassum species most commonly found on coral substrate. Alginate extraction result found yield rate ranged between 11.62% to 90.72%. The highest rate of Alginat obtained after extraction process produced by Sargassum binderi with 90.72%, while the lowest rate of Alginat produced by Sargassum cinereum with 11.62%.
117334693B1J008067STRUKTUR KOMUNITAS DAN DISTRIBUSI CACING LAUT (POLYCHAETA) DI HUTAN MANGROVE SEGARA ANAKAN CILACAPPolychaeta merupakan organisme yang banyak ditemukan di kawasan mangrove Segara Anakan. Namun, sedikitnya informasi mengenai struktur komunitas dan distribusi Polychaeta di Segara Anakan menyebabkan perlunya dilakukan penelitian struktur komunitas dan distribusi di Segara Anakan. Penelitian dilakukan menggunakan metode survey dengan penetuan lokasi penelitian menggunakan teknik simple cluster sampling. Setiap lokasi penelitian ditentukan 3 stasiun. Pengambilan sampel dilakukan secara acak dengan 5 unit sampel. Polychaeta yang ditemukan dilokasi penelitian terdiri dari 14 familia dan 15 genus. Genus Nereis dan Lumbrineris merupakan genus yang mendominasi. Nilai keragaman Polycaheta diukur menggunakan indeks Shannon berkisar antara 1,14–1,73 nilai keseragaman cukup tinggi antara 0,73–0,89. Nilai indeks dominansi Simpson’s menunjukkan nilai yang rendah berkisar antara 0,20–0,38. Analisis cluster sampel polychaeta menunjukkan lokasi Sapuregel st.2 dan Donan st.3 memiliki kemiripan paling tinggi dengan nilai kemiripan lebih dari 60%. Analisis MDS (Multi Dimensiol Scaling) diperoleh bahwa Sapuregel st.2 dan Donan st.3 memiliki kemiripan yang paling dekat. Hasil analisis Simper (Similarity Percentages) menunjukkan bahwa Lumbrineris merupakan genus dengan nilai kontribusi tertinggi berkisar antara 63,50%–63,93%. Analisis korelasi polycaheta dengan faktor lingkungan yang dihitung menggunakan Bio-Env menunjukkan kisaran nilai 0,632–0,646 dengan kategori korelasi cukup kuat. Pola sebaran (Indeks Morista) terdapat dua kelompok yaitu seragam dan mengelompok.Polychaeta commonly found in mangrove areas of Segara Anakan. However, lack of information on the community structure of Polychaeta in Segara Anakan has endorsed this study. The study was conducted using a survey method and sampling sites were determined using clustered sampling. Two defined study sites were clustered in 3 sampling stations, and 5 replicates samples were taken from each sampling station. Polychaeta found in this study consists of 14 familia and 15 genera. The genera of Nereis andLumbrineris were found dominants. Polychaetes diversity values measured using Shannon-index ranging between 1.14-1.73, evenness values quite high from 0.73-0.89. Simpson’s dominance index values suggest low values ranging from 0.20-0.38. Cluster analysis of Polychaeta shows the Sapuregel st.2 and Donan st.3 have the highest similarity value more than 60%. MDS (Multi Dimensiol Scaling) suggests Sapuregel st.2 dan Donan st.3 has the closest similirity. Simper analysis results (Similarity Percentages) suggests Lumbrineris having the highest contribution values ranging between 63.50% -63.93%. Correlation of polycaheta and environmental factors were computed using Bio-Env suggests strong correlation category range of values from 0.632-0.646. The pattern of distribution (Morista Index) shows two uniform and clusteres groups.
117344692G1D009078PERBANDINGAN NILAI APGAR SCORE BAYI BARU LAHIR PADA MENIT KE-1 DAN MENIT KE-5 DENGAN METODE PERSALINAN NORMAL KONVENSIONAL DAN METODE WATER BIRTH DI RUMAH BERSALIN (RB) RINJANI CILACAP

Latar Belakang: Penggunaan metode persalinan sangat berkaitan dengan kesehatan ibu dan calon bayi. AKB Indonesia merupakan angka tertinggi di ASEAN. Penyebab kematian bayi BBLR sebesar 38,94% dan asfiksia sebesar 27,97%. Penilaian apgar score diperlukan untuk menilai kualitas daya adaptasi bayi baru lahir.
Tujuan: Mengetahui perbandingan nilai apgar score bayi baru lahir pada menit ke-1 dan ke-5 dengan persalinan normal konvensional dan water birth.
Metode : Rancangan penelitian cross sectional. Pengambilan sampel consecutive sampling. Sampel yaitu 18 bayi dengan persalinan normal konvensional dan 18 bayi melalui water birth. Analisis dengan uji mann-whitney.
Hasil: Rentang usia ibu 20-35 tahun sebesar 88,9% pada persalinan normal konvensional dan water birth sebesar 94,4%. Paritas ibu paling banyak pada konvensional adalah multipara 66,7% dan water birth paling banyak primipara sebesar 83,3%. Rata-rata apgar score menit ke-1 dan ke-5 persalinan normal konvensional 7,78 dan 9,33. Sedangkan water birth 7,94 dan 9,44. Hasil analisis mann-whitney, didapatkan nilai apgar score menit ke-1 dengan p=0,430 dan menit ke-5 dengan p=0,500.
Kesimpulan: Tidak ada perbandingan signifikan apgar score menit ke-1 dan ke-5 pada persalinan normal konvensional dan water birth di RB Rinjani Cilacap.

Saran: Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih besar, pengontrolan suhu dan waktu yang tepat untuk ibu masuk ke kolam agar hasil penelitian lebih signifikan.

Background:The used method delivery associated with maternal health and neonates. IMR Indonesian is highest in ASEAN. Caused of death was low birth weight infants 38.94% and asphyxia birth 27.97%.Assessment apgar score needed to assess quality of adaptation newborn.
Objective: To compare neonates apgar score on first and five minute with normal conventional delivery and water birth method.
Method: The research used cross-sectional design. Sample were 18 neonates with normal conventional delivery and 18 neonates water birth. Bivariate analysis used mann-whitney test.
Result: Maternal age range of 20-35 years was 88.9% normal conventional delivery and water birth 94.4%. Parity most of normal conventional delivery was multiparous 66,7% and water birth most primipara 83.3%. The average of apgar score in the first and five minute on normal conventional delivery and water birth were 7,78 ; 9,33 and 7,94 ; 9,44 respectively. The research of mann-whitney, was got apgar score first minute p value= 0,430 and apgar score five minute with p value= 0,500.
Conclution: There was no significant difference apgar score of neonates born with normal conventional delivery and water birth method on the first and five minute
Recommendations: It suggest continue research with a large sample, controlling temperature and time to get mom into the pool.








117354695K1A005027PERBANDINGAN TINGKAT NYERI PASIEN ISCHIALGIA ANTARA PENGOBATAN STANDAR DAN PENGOBATAN STANDAR AJUVAN FISIOTERAPI DI RS MARGONO SOEKARJOLatar Belakang. Pengbatan konservatif dan fisioterapi merupakan penatalaksaan yg sering diberikan pada pasien ischialgia.
Tujuan Penelitian. Mengetahui perbedaan tingkat nyeri pasien ischialgia terhadap pengobatan standar dengan pengobatan standar ajuvan fisioterapi.
Metode Penelitian. Desain penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Jumlah total sampel 86, semua sampel diambil dari rekam medik RS Margono Soekarjo pada bulan agustus – september 2012. Responden penelitian adalah laki-laki dan perempuan dengan usia dewasa dan terdiagnosis ischialgia. data penelitian ini diambil dengan menggunakan kuesioner. Data analisis dengan menggunakan uji chi-square.
Hasil. Penelitian menunjukkan bahwa pengobatan standar ajuvan fisioterapi menunjukkan hasil tingkat nyeri yang lebih rendah dibandingkan dengan pengobatan standar. Uji chi-square yang membandingkan tingkat nyeri pasien ischialgia terhadap pengobatan standar dengan pengobatan standar ajuvan fisioterapi di RS Margono Soekarjo menunjukkan hasil yang bermakna dengan nilai signifikan p=0,000 (p<0,05)
Kesimpulan. Terdapat perbedaan yang bermakna tingkat nyeri pasien ischialgia antara yang diberi pengobatan standar dengan pengobatan standar ajuvan fisioterapi.
Backgrouds.Conservative medicine and physiotherapy was the treatment that often given to ischialgia’s patient.
Objectives. To know the difference levels of pain in ischialgia’s patient between standard treatment and standard treatment plus adjuvant physiotherapy.
Methods. This research was design by using cross sectional. The total of sample was 86 people, all of sample was taken fron medical record Margono Soekarjo’s on August 2012 – September 2012. The respondents were adult men or women and was diagnosed as an Ischialgia’s patient. The data was analyzed by using chi-square test.
Result. This research indicated that the standard treatment plus adjuvant therapy showed has lower levels of pain than the standard therapy. Chi-square test showed a significant result with significance of p=0,000 (p<0,05).
Conclusions. There was the significant differences levels of pain between ischialgia’s patient with standard therapy and standard therapy plus adjuvant physiotherapy.
117364696B1J008172KEANEKARAGAMAN SERANGGA PENYERBUK DAN KEBERHASILAN PENYERBUKAN TANAMAN CABAI (Capsicum frutescens L.)
PADA LAHAN YANG DIPERKAYA Euphorbia heterophylla
Tanaman cabai (Capsicum frutescens L.) merupakan salah satu tanaman yang penyerbukannya dibantu serangga. Oleh karena itu keberhasilan penyerbukan tanaman cabai sangat bergantung kepada kehadiran serangga. Kehadiran serangga penyerbuk ditentukan oleh jumlah dan keanekaragaman tumbuhan (berbunga) sebagai sumber pakan serangga penyerbuk sepanjang tahun. Pengkayaan Euphorbia heterophylla pada lahan pertanian cabai diharapkan mampu meningkatkan jumlah serangga penyerbuk sehingga mampu menghasilkan produksi buah yang tinggi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keanekaragaman serangga penyerbuk dan tingkat keberhasilan penyerbukan pada tanaman cabai yang diperkaya dengan E. heterophylla. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL), sebagai perlakuan adalah tumbuhan E. heterophylla yang terdiri atas 0, 5, 10 dan 15% dari populasi tanaman cabai. Lokasi penelitian yaitu area lahan pertanian cabai di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Analisis data keanekaragaman serangga penyerbuk dilakukan dengan penghitungan indeks keanekaragaman (Shannon-Winner dan Shanon-Evenness). Analisis data jumlah dan jenis serangga serta perbedaan pengaruh pengkayaan tumbuhan berbunga dianalisis menggunakan analisis varians. Hasil penelitian menunjukkan pengkayaan E. heterophylla pada tanaman cabai berpengaruh terhadap keanekaragaman serangga penyerbuk dan tingkat keberhasilan penyerbukan.Chili (Capsicum frutescens L.) is one of the assisted insect pollinated plants. Therefore the chili crop pollination success relies heavily on the presence of insects. The presence of pollinator insects is determined by the number and diversity of plants (flowering) pollinating insects as food resources throughout the year. Enrichment of Euphorbia heterophylla on chili farms is expected to increase the number of pollinator insects so as to produce a high fruit production. The research was conducted in order to determine the diversity of insect pollinators and pollination success rate in chili enriched with E. heterophylla. The method used is an experimental method with a completely randomized design (CRD), the treatment plant is E. heterophylla consisting of 0, 5, 10 and 15% of the population of chili plants. Research is the area of agricultural land in the village of chili attack, district Karangreja, Purbalingga. Data analysis was performed with the diversity of insect pollinators calculating diversity indices (Shannon-Winner-Evenness and Shannon). Analysis of data on the number and types of insects and different enrichment influences flowering plants will be analyzed using analysis of variance. The results showed enrichment E. heterophylla in chili affect the diversity of insect pollinators and pollination success rate.
117374699P2FB08012Evaluasi Kinerja Sekretaris Desa di Kabupaten PurbalinggaPerwujudan otonomi daerah pada Pemerintah Kabupaten tentunya akan meningkatkan kinerja aparatur Pemerintah Daerah terutama karena ada kesempatan untuk secara aktif melakukan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan seluruh kegiatan di daerah. Pengelolaan administrasi desa dinilai masih banyak kekurangan. Kinerja pelayanan aparat desa saat ini belum memuaskan, sehingga seringkali menjadi bahan pembicaraan masyarakat seperti banyaknya kantor desa yang hanya melayani masyarakat setengah hari kerja, lamanya pengurusan dokumen yang dibutuhkan masyarakat akibat kurang profesionalnya SDM aparat desa, karena sebagian besar dari mereka kurang terampil dalam mengelola administrasi surat menyurat, kearsipan, atau pembukuan, keuangan. Demi mewujudkan sistem pelayanan yang nyata di pemerintahan desa, Pemerintah Pusat mengeluarkan kebijakan yang tertuang dalam Pasal 202 ayat (3) Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004, yang menyatakan “Sekretaris Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diisi dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi persyaratan”.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi kinerja Sekretaris Desa dari adanya kebijakan pengangkatan Sekretaris Desa menjadi PNS dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, jenis penelitiannya adalah survei sedangkan metodenya, yaitu deskriptif analitis. Validitas data yang digunakan adalah validitas konstruk yaitu dengan cara mencari kerangka dari suatu konsep yang akan diteliti. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa dari 78 perangkat desa yang mengkategorikan (menjadi responden) sebagian besar atau 42 responden (53,8 persen) menyatakan bahwa kinerja sekretaris deasa (Sekdes) yang saat ini diangkat menjadi PNS cukup baik. Sementara itu 21 responden (26,9 persen) menyatakan kinerja sekdes sudah baik, dan selebihnya yaitu 15 responden (19,2 persen) memberi pernyataan kurang baik terkait kinerja sekdes yang telah diangkat menjadi PNS. Hasil ini menjadi indikasi kinerja sekdes yang diangkat menjadi PNS belum sepenuhnya baik, artinya mereka belum mampu bekerja secara optimal.Manifestation of regional autonomy in the district government will definitely improve the performance of local government officials, especially because there is an opportunity to actively carry out the planning, implementation and monitoring of all activities in the area. Administrative village is considered still many shortcomings. Performance of services by village officials has not been satisfactory, so often become the talk of the community such as the number of offices serving rural communities only half a day of work, the length of the documents required by the community due to lack of professional HR village officials, because most of them are less skilled in managing the administration correspondence, filing, or bookkeeping, finance. In order to realize the real service system in the village government, the central government issued a policy set out in Article 202 paragraph (3) of Law No. 32 of 2004, which states "Village Secretary referred to in subsection (2) of the Civil Servants filled the meet requirements ". study was conducted to evaluate the performance of the secretary of the village hiring policy secretary of the village becoming a civil servant in the administration of the village. The research approach used in this study is a quantitative approach, whereas the type of research is a survey method, the descriptive analysis. The validity of the data used is that the construct validity of the framework by looking for a concept to be studied. Results from the study showed that out of 78 villages categorize devices (respondents) majority or 42 respondents (53.8 percent) stated that the performance of the secretary deasa (Sekdes) is now fairly well appointed as civil servants. Meanwhile, 21 respondents (26.9 percent) stated sekdes performance has been good, and the rest of the 15 respondents (19.2 percent) gave a statement about the performance sekdes poor who have been appointed as civil servants. These results are an indication of the performance of a civil servant appointed sekdes not completely good, it means they have not been able to work optimally.
117384701B1J008058UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK RHIZOMA KUNYIT (Curcuma domestica) SEBAGAI BIOFUNGISIDA PENGENDALI
damping off PADA BIBIT TANAMAN CABAI
(Capsicum annum L)
Tanaman kunyit memiliki banyak manfaat salah satunya yaitu kandungan kurkuminoid sebagai anti fungi yang diaplikasikan pada bibit tanaman cabai yang diketahui sering terserang damping off. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak rhizoma kunyit terhadap intensitas penyakit damping off pada bibit tanaman cabai dan kosentrasi ekstrak rhizoma kunyit yang efektif untuk menekan penyakit damping off pada bibit tanaman cabai. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 36 unit percobaan pada pemberian ekstrak rhizoma kunyit pada benih cabai. Bibit yang ditanam diberi patogen Rhizoctonia solani (penyebab damping off). Aplikasi awal ekstrak rhizoma kunyit dilakukan dengan cara merendam biji tanaman cabai selama 12 jam pada larutan ekstrak. Perlakuan selanjutnya dilakukan tujuh hari setelah aplikasi inokulum patogen R. solani dengan cara menyemprotkan ekstrak rhizoma kunyit dengan kosentrasi 0%, 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, 30%, 35%, 40%, 45%, 50% dan 55%. Pengamatan dilakukan hingga bibit siap dipindah ke media tanam yang lain atau bibit sudah berumur satu bulan. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Analisis ragam (Uji F) tingkat kepercayaan 95% dan 99% kemudian dilanjutkan dengan Uji BNJ. Hasil menunjukkaan bahwa ekstrak rhizoma kunyit efektif menekan intensitas penyakit damping off pada bibit tanaman cabai. Kosentrasi ekstrak rhizoma kunyit 25% efektif untuk menekan penyakit damping off pada bibit tanaman cabai.


Turmeric has many benefit one of them is the content of curcuminoids as anti-fungal which applied to chili seedling sane frequently attacked by damping off. The purpose of this research is to find out the effect of turmeric rhizome extract on the intensity of damping off disease on chili seedling sand the effective extract of turmeric rhizome concentration to suppress damping off disease on chili seedlings. The research method that will be used is an experimental method by Completely Randomized Design (CRD), which consist of 36 experimental units on turmeric rhizome extract on chili seedlings. The seedlings that were planted given pathogen Rhizoctonia solani (damping off cause). The initial application of turmeric rhizome extract was done by soaking the chili for 12 hours in the extract solution. The next treatment was done for seven days after the application of pathogen inoculums R. solani by sparing extract of turmeric rhizome with concentration of 0%, 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, 30%, 35%, 40%, 50%, and 55%. Data obtained analyzed by using analysis variegated (Test F) the level of trust 95 % and 40 % and continued with Test BNJ. The observations were done until the seedlings are ready to be moved to another planting medium or one month old planting seeds. The result showed that extract of turmeric rhizome was effective in suppressing the intensity of damping off disease in chili seedlings. The concentration of turmeric rhizome extract 25% was effective to suppress damping off disease in chili seedlings.


117394702B1J009196Ukuran organ sistem reproduksi itik jantan yang disuplementasi probiotik MEP+ berbagai dosis selama 30 hariProbiotik MEP+ diketahui dapat meningkatkan bobot unggas dan sebagai pengefisiensi pakan, oleh karena itu penting diketahui efek probiotik MEP+ berbagai dosis terhadap aspek reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ukuran organ Itik jantan yang disuplementasi probiotik MEP+ berbagai dosis selama 30 hari. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu tanpa pemberian probiotik atau kontrol (K), dosis 0,75 ml/kg pakan (P1), dosis 1,5 ml/kg pakan (P2), dan dosis 3 ml/kg pakan (P3). Masing-masing perlakuan diulang 8 kali. Total itik 40 ekor dipelihara dalam kandang model lantai sistem kering. Pada hari ke-31 organ sistem reproduksi itik perlakuan diukur. Hasil penelitian menunjukkan meningkatnya rerata (±SD) bobot testis kanan dan kiri serta bobot hati dengan makin tingginya dosis probiotik yang diberikan, namun hasil analisis statistik tidak signifikan (P>0,05) kecuali proporsi bobot testis kanan kiri dengan bobot tubuh atau indeks gonadosomatik (GSI) yang berbeda sangat nyata (P<0,01) antar semua perlakuan berbagai dosis dibanding kontrol. Hasil penelitian ini mengkonfirmasi bahwa perlakuan probiotik MEP+ berbagai dosis selama 30 hari tidak berpengaruh terhadap ukuran organ sistem reproduksi itik jantan kecuali mempengaruhi GSI itik jantan.Probiotics MEP+ can increase fowl weight and weft efficiency, therefore it is important to know probiotics MEP+ effect at different dosage toward reproduction aspect. This research aimed to examine duck reproduction organ size suplemented with probiotics MEP+ with different dosage within 30 days. This research used Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments with different dosages within 30 days which was without probiotic's application or control (K), 0,75 ml/kg wefts (P1) dose, 1,5 ml/kg wefts (P2) dose, and 3 ml/kg wefts (P3) dose. Each treatment repeated 8 times. Total 40 ducks raised in floor dry cage system. At 31st day of treatment duck reproduction system organ was measured. Whole results show increase average data (±SD) for weight of both right and left testis, and liver weight with highly probiotics dosage it, however the analysis result statistic not significant (P>0,05) except weight of right left testis with duck weight or gonadosomatic indeks (GSI) were very significant (P<0,01) among all treatment at different dosages was compared control. The results is confirmed that probiotic's MEP+ treatment with different dosages within 30 days gave no effect towards duck reproduction system organ size except to gonadosomatic indeks (GSI) male duck.

117404703C1L006005THE EFFECT OF ORGANIZATIONAL COMMITMENT ON BUDGETARY PARTICIPATION AND BUDGETARY SLACK RELATIONSHIP (Study at Regional Water Company in Banyumas Area)The aims of research are first to examine the negative significant effect of budgetary participation on budgetary slack and to examine the role of organizational commitment in strengthening the relationship between budgetary participation and budgetary slack at Regional Water Company in Banyumas Area. The research was conducted at the office of Regional Water Company in Banyumas Area. Number of respondents in the research is 60 managerial. The sampling technique used in this research is probability sampling (selected sample) by simple random sampling, whereas determination of sample size uses Slovin formula. To test hypotheses in this research, it has used simple and moderated regression analysis. Based on the result of simple regression analysis, it has got the value of tstatistic is smaller than value of -ttable, therefore the first hypothesis is accepted. The result of moderated regression analysis shows that the value of tstatistic of moderation variable is smaller than value of t table, therefore the second hypothesis is accepted. Based on the result of data analysis, it can be concluded that budgetary participation negatively and significantly affects budgetary slack at Regional Water Company in Banyumas Area and organizational commitment does not significantly strengthen the relationship between budgetary participation and budgetary slack Regional Water Company in Banyumas AreaThe aims of research are first to examine the negative significant effect of budgetary participation on budgetary slack and to examine the role of organizational commitment in strengthening the relationship between budgetary participation and budgetary slack at Regional Water Company in Banyumas Area. The research was conducted at the office of Regional Water Company in Banyumas Area. Number of respondents in the research is 60 managerial. The sampling technique used in this research is probability sampling (selected sample) by simple random sampling, whereas determination of sample size uses Slovin formula. To test hypotheses in this research, it has used simple and moderated regression analysis. Based on the result of simple regression analysis, it has got the value of tstatistic is smaller than value of -ttable, therefore the first hypothesis is accepted. The result of moderated regression analysis shows that the value of tstatistic of moderation variable is smaller than value of t table, therefore the second hypothesis is accepted. Based on the result of data analysis, it can be concluded that budgetary participation negatively and significantly affects budgetary slack at Regional Water Company in Banyumas Area and organizational commitment does not significantly strengthen the relationship between budgetary participation and budgetary slack Regional Water Company in Banyumas Area