Artikelilmiahs
Menampilkan 10.221-10.240 dari 50.313 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 10221 | 9967 | F1D009001 | PERILAKU GOLPUT DI DESA BUNIAYU KECAMATAN TAMBAK PADA PEMILIHAN BUPATI KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2013 | Karya ilmiah ini berjudul “Perilaku Golput di Desa Buniayu Kecamatan Tambak pada Pemilihan Bupati Kabupaten Banyumas Tahun 2013”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami dan menjelaskan perilaku golput dan juga faktor-faktor kontekstual yang mendorong perilaku golput di Desa Buniayu Kecamatan Tambak pada Pilbup Kabupaten Banyumas tahun 2013. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik penetapan informan yang menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan dalam data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam dan studi dokumen. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Desa Buniayu merupakan desa dengan perolehan angka golput tertinggi pada Pilbup Kabupaten Banyumas Tahun 2013, yaitu dengan total angka golput sebesar 1658 (49,78%) dari total 3331 pemilih. Terdapat beberapa hal yang menyebabkan tingginya angka golput di Desa Buniayu, yaitu golput karena merantau, golput karena sikap pragmatis, golput karena kurangnya sosialisasi dari kandidat, dan golput karena rendahnya kesadaran politik. Rendahnya tingkat ekonomi mendorong masyarakat Desa Buniayu untuk kurang memikirkan hal-hal politik, mereka lebih menempatkan kebutuhan ekonomi sebagai prioritas dibandingkan dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Akbiatnya, masih terdapat pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya karena lebih memilih bekerja atau hanya kerena malas untung datang ke TPS. | The title of this research is "Non-voting Behavior in Buniayu Village at Tambak Subdistrict on Banyumas Mayoral Election 2013". The purpose of this research is to understand and explain non-voting behavior and also to explain contextual factors that encourage the behavior of non-voters in the Buniayu Village when Banyumas Mayoral Election 2013. This research used qualitative research method with informant determination using purposive sampling technique. Collecting data in this research used indepth interviews and document studies. The results of this research indicate that Buniayu is the village with highest abstentions on Banyumas Mayoral Election 2013, with the total of non-voters is 1658 (49.78%) of 3331 voters. There are many things that cause high rates of abstention in Buniayu Village, that because go work to outside the village, abstentions as pragmatic action, abstentions because low socialization of the candidates, and abstentions because low political consciousness. The high rate of abstentions has relations with economic factors and education. Low levels of economics at Buniayu encourage villagers to not think of things about politics, they are putting the needs of the economy as a priority compared with other needs. As a result, there are many voters who abstain from voting because it prefers to work or just because they are lazy fortunately came to the polls. Other supporting factors are due to the boredom of the election which was considered not give change to a better life. | |
| 10222 | 9972 | A1L010083 | UJI KEMEMPANAN BEBERAPA MIKROBA ANTAGONIS TERHADAP KEPIK PENGHISAP BUAH KAKAO | Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui kemempanan mikroba antagonis terhadap mortalitas kepik penghisap buah kakao (Helopeltis sp.) di laboratoium; 2) Mengetahui pengaruh beberapa mikroba antagonis terhadap aktivitas antifeedant dan repellent terhadap kepik penghisap buah kakao (Helopeltis sp.) di laboratorium; 3) Mengetahui kemempanan mikroba antagonis terhadap mortalitas dan intensitas serangan kepik penghisap buah kakao (Helopeltis sp.) pada buah kakao di lapangan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan tanaman, Fakultas Pertanian, Univesitas Jenderal Soedirman dan kebun kakao PT. Rumpun Sari Antan IV di Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, penelitian dilaksanakan mulai dari bulan Maret Juli 2014. Penelitian ini dilakukan di laboratorium dan lapangan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 8 perlakuan dan 3 kali ulangan dan dilapangan terdiri dari 4 perlakuan dan 6 kali ulangan, dengan perlakuan bakteri P. frustenscens P60, P. frustenscens P8, Bacillus B11, jamur B. Bassiana, Trichoderma sp. (isolat Jahe), M. anisopliae, insektisida deltametrin dan kontrol. data dianalisis menggunakan kontras ortogonal. Hasil penelitian menunjukan M. anisopliae mampu menolak kepik penghisap buah kakao (Helopeltis sp.) dengan nilai indeks repelen sebesar 29,12 persen dan P. fluorescens P60 sebesar 13,09 %. M. anisopliae dan Trichoderma sp. (isolat jahe) mampu menekan kepik penhisap buah kakao (Helopeltis sp.) di laboraotium sebesar 18,37 %. Pada uji lapangan M. anisopliae mampu menekan kepik penghisap buah kakao (Helopeltis sp.) sebesar 18,3 % dan Trichoderma sp. (isolat jahe) mampu menekan sebesar 20,245 % dan mampu menekan intensitas serangan sebesar 29,52 % dan 31,02 % serta mampu mengurangi jumlah tusukan kepik penghisap buah kakao (Helopeltis sp.) | Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui kemempanan mikroba antagonis terhadap mortalitas kepik penghisap buah kakao (Helopeltis sp.) di laboratoium; 2) Mengetahui pengaruh beberapa mikroba antagonis terhadap aktivitas antifeedant dan repellent terhadap kepik penghisap buah kakao (Helopeltis sp.) di laboratorium; 3) Mengetahui kemempanan mikroba antagonis terhadap mortalitas dan intensitas serangan kepik penghisap buah kakao (Helopeltis sp.) pada buah kakao di lapangan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan tanaman, Fakultas Pertanian, Univesitas Jenderal Soedirman dan kebun kakao PT. Rumpun Sari Antan IV di Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, penelitian dilaksanakan mulai dari bulan Maret Juli 2014. Penelitian ini dilakukan di laboratorium dan lapangan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 8 perlakuan dan 3 kali ulangan dan dilapangan terdiri dari 4 perlakuan dan 6 kali ulangan, dengan perlakuan bakteri P. frustenscens P60, P. frustenscens P8, Bacillus B11, jamur B. Bassiana, Trichoderma sp. (isolat Jahe), M. anisopliae, insektisida deltametrin dan kontrol. data dianalisis menggunakan kontras ortogonal. Hasil penelitian menunjukan M. anisopliae mampu menolak kepik penghisap buah kakao (Helopeltis sp.) dengan nilai indeks repelen sebesar 29,12 persen dan P. fluorescens P60 sebesar 13,09 %. M. anisopliae dan Trichoderma sp. (isolat jahe) mampu menekan kepik penhisap buah kakao (Helopeltis sp.) di laboraotium sebesar 18,37 %. Pada uji lapangan M. anisopliae mampu menekan kepik penghisap buah kakao (Helopeltis sp.) sebesar 18,3 % dan Trichoderma sp. (isolat jahe) mampu menekan sebesar 20,245 % dan mampu menekan intensitas serangan sebesar 29,52 % dan 31,02 % serta mampu mengurangi jumlah tusukan kepik penghisap buah kakao (Helopeltis sp.) | |
| 10223 | 9969 | A1L010031 | TINGKAT SERANGAN HAMA DAN PRODUKSI JAMBU AIR KULTIVAR CITRA DENGAN PEMANGKASAN DAN PEMBERIAN CAMPURAN PUPUK KANDANG DAN NPK | Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui dampak pemangkasan terhadap tingkat serangan serangga hama pada tanaman jambu air varietas citra; 2) Mengetahui pengaruh pemberian dosis pupuk campuran pupuk kandang dan NPK terhadap tingkat serangan hama pada jambu air varietas citra; 3) Mengetahui pengaruh jenis pemangkasan dan dosis campuran pupuk kandang dan NPK terhadap tingkat serangan hama tanaman jambu varietas citra; 4) Mengetahui interaksi pemangkasan dan pemberian campuran pupuk kandang dan NPK terhadap tingkat serangan hama dan hasil produksi jambu air varietas citra. Penelitian dilaksanakan di Desa Karanggude, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas. penelitian dilaksanakan Mei–Agustus 2014. Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial yang terdiri dari 12 perlakuan dan 3 kali ulangan. Faktor ke-1 adalah pemangkasan dan faktor ke-2 adalah pemupukan. Perlakuan yang dicoba adalah pemangkasan (pemangkasan produksi, pemangkasan bentuk), pemupukan(berbagai dosis campuran pupuk kandang dan NPK), kombinasi pemangkasan dan pemupukan serta control (tanpa pemangkasan dan pemupukan). Data dianalisis menggunakan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukan berbagai taraf pemangkasan yang dilakukan belum menunjukkan dampak serius terhadap tingkat serangan hama dan produksi jambu air citra. Perlakuan pemupukan pada berbagai taraf yang dicobakan belum juga menunjukkan hasil yang jelas terhadap tingkat serangan hama dan produksi jambu air citra, begitu pula kombinasi perlakuan antara pemangkasan dan pemupukan yang belum menampakkan perbedaan yang besar terhadap hasil dan tingkat serangan hama pada jambu air citra. | The purpose of this research was: 1) to determine the impact of prunning in jamboos to the infestation intensity of insect-pests; 2) to determine the impact of fertilization (giving different doses of mixed manure-NPK fertilizer) to the infestation intensity of insect-pests in jamboos (Syzigium samarangense); 3) to determine the impact of the interactions between prunning and fertilization to the infestation intensity of insect-pests jamboos; 4) to determine the impact of the interactions between prunning and fertilization to the infestation intensity of insect-pests in jamboos and its production. The research was conducted in Karanggude Village, District Karanglewas, Banyumas. The research was carried out from May to August 2014. This experimental research used Completly Randomized Block Design (CRBD) factorial pattern consisted of 12 treatments and 3 replications. The first factor was prunning and the second was fertilization. The treatments were prunning (production prunning, form prunning), fertilization (different doses of given mixed manure-NPK fertilizer), the combination (prunning and fertilization) and control (without prunning and fertilizing). The data were analized by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) by 5% of error. The results showed that prunnings did not impact the infestation intensity of insect-pests in jamboos yet. Fertilization treatment also did not give obvious difference to the infestation intensity of insect-pests or its production yet. The combination treatments between prunning and fertilization also did not show significantly difference in both the infestation intensity of insect-pests and its production in jamboos yet. | |
| 10224 | 10895 | F1D009062 | EKONOMI POLITIK PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PELABUHAN DI WILAYAH KEPULAUAN KABUPATEN NATUNA KEPULAUAN RIAU | Penelitian ini membahas tentang ekonomi politik pembangunan di wilayah kepulauan kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami dan mendeskripsikan serta menjelaskan tentang pembangunan infrastruktur pelabuhan di wilayahan kepulauan kabupaten Natuna, Kepulauan Riau dan menjelaskan interaksi antara aktor serta pihak mana saja yang diuntungkan dan dirugikan dalam pembangunan infrastruktur pelabuhan di wilayah kepulauan kabupaten Natuna Kepulauan Riau. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendukungnya studi kasus. Berdasarkan hasil penelitian pembangunan infrastruktur pelabuhan dalam pelaksanaannya masih kurang maksimal dan lambat. Aktor-aktor yang terkait langsung dalam pembuatan kebijakan pembangunan infrastruktur pelabuhan masih terfokus pada pemerintah daerah atau media massa dan lembaga swadaya masyarakat masih kurang dilibatkan dalam perumusan kebijakan. Dalam hal pembangunan infrastruktur pelabuhan pihak yang diuntungkan adalah pegawai pemerintah daerah dan oknum DPRD yang mendapatkan keuntungan dari pembangunan yang disahkan dan secara tidak langsung memiliki andil dalam pelaksanaan proyekan pembangunan infrastruktur pelabuhan. Adapun pihak yang dirugikan adalah masyrakat dan pihak swasta karena dengan keterlambatan pembangunan infrastruktur pelabuhan akan berdampak pada terganggunya roda perekonomian atau proses jual beli hasil bumi dan laut ataupun barang-barang kebutuhan masyarakat yang masuk ke Kabupaten Natuna terhambat. Oleh karena itu dalam pembangunan infrastruktur pelabuhan diperlukan rencana anggaran yang jelas, adanya komunikasi dan interaksi antar pihak yang terlibat. | This study discusses the political economy of development in Natuna archipelago district , Riau Islands. The purpose of this research is to understand and describe and explain the development of port infrastructure in the district Natuna archipelago, Riau Islands and explain the interaction between multiple actors and whichever side advantaged and disadvantaged in the development of port infrastructure in the district Natuna archipelago Riau Islands. The method used is qualitative method with supporting case studies . Based on the research results in the implementation of port infrastructure development is still less than the maximum and slow. Actors that are directly related to policy development of port infrastructure is still focused on local government or the mass media and non-governmental society still less involved in policy formulation. In terms of port infrastructure development the beneficiaries are local governments and legislators who benefit from the development of validated and indirectly have contributed to the implementation of port infrastructure development project either . The injured party is society and the private sector due to the delay in the construction of port infrastructure will be disruption to the economy or the process of buying and selling crops and marine or public goods that enter into Natuna hampered. Therefore, the development of port infrastructure required a clear budget plan , communication and interaction between the parties involved . | |
| 10225 | 11185 | A1L010004 | SISTEM TANAM TUMPANGSARI PADI GOGO DENGAN RUMPUT DI LAHAN TADAH HUJAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP KARAKTER PERTUMBUHAN | Penelitian ini bertujuan mengetahui karakter pertumbuhan tiga varietas padi gogo yang ditanam dengan sistem tumpangsari padi-rumput di lahan tadah hujan. Penelitian telah dilaksanakan selama enam bulan, mulai Maret sampai Agustus 2014. di lahan kering Desa Bantarwuni, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas. Tinggi tempat penelitian 106 m dpl. Bentuk rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design), petak utama terdiri atas tanpa rumput, rumput gajah dan sereh dan anak petak terdiri atas varietas Gilirang, varietas Situ Patenggang dan varietas Jatiluhur. Terdapat 9 kombinasi perlakuan yang diulang tiga kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji F (p=0,05) apabila terdapat perbedaan yang nyata dilanjutkan dengan DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) (p=0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan rumput gajah maupun sereh tidak mengganggu karakter pertumbuhan tanaman padi gogo. | This objectives of this study were to determine the pant growth character of three varieties of upland grown in rice-grass intercropping system in rainfed area. This research has been conducted within six months from March to August, 2014 in rainfed area of Bantarwuni village Kembaran sub-district, Banyumas district. The experimental design of Split Plot Design with main plot of without grass, elephant grass and lemon grass. And sub plot of Gilirang variety, Situ Patenggang variety and Jatiluhur variety. Were tested treatment combination was repeated three times. Obtained data were analyzed with using F test (p = 0.05), if there was significant difference, then it was followed with DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) (p= 0.05). The result showed that elephant grass and lemon grass are not disturbing the growth character of upland rice. | |
| 10226 | 11325 | A1L010199 | TUMPANGSARI PADI GOGO-RUMPUT DAN PENGARUHNYA TERHADAP KARAKTER PERTUMBUHAN DAN HASIL PADI | ABSTRAK Penelitian ini bertujuan 1) Mengetahui pengaruh tumpangsari padi gogo-rumput (gajah maupun sereh), terhadap karakter pertumbuhan dan hasil padi, 2) Mengetahui pengaruh tumpangsari dan monokultur terhadap tiga varietas padi gogo. Penelitian telah dilaksanakan selama 6 bulan, mulai Maret sampai Agustus 2014, di lahan kering Desa Cendana, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga. Tinggi tempat penelitian 360 m dpl. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) dengan rancangan dasar Rancangan Acak Kelompok. Faktor yang dicoba ada dua, faktor pertama pola tanam (petak utama) yang terdiri atas: monokultur (R0=Tanpa rumput), tumpangsari (R1=Rumput Gajah dan R2=Sereh). Faktor kedua yaitu varietas padi gogo (anak petak) yang terdiri atas: V1=Varietas Gilirang, V2=Varietas Situ Patenggang dan V3=Varietas Jatiluhur. Berdasarkan dari masing-masing faktor yang dicoba terdapat 9 kombinasi perlakuan yang masing-masing diulang tiga kali sehingga diperoleh 27 unit percobaan. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji F (p=0,05) apabila terdapat perbedaan yang nyata dilanjutkan dengan DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) (p=0,05). Tumpangsari padi gogo-rumput (gajah atau sereh), menunjukkan hasil penelitian bahwa tinggi tanaman, luas daun dan jumlah daun tertinggi pada varietas Jatiluhur dalam sistem monokultur. Jumlah anakan tertinggi pada varietas Situ Patenggang dalam sistem monokultur. Bobot kering tajuk dan bobot kering akar terberat pada varietas Gilirang dalam sistem monokultur. Sistem tanam tumpangsari padi-rumput tidak menyebabkan penurunan hasil gabah per hektar. Kata kunci: padi gogo, rumput dan tumpangsari | ABSTRACT This research aims to 1) Intercropping upland rice - grass and lemongrass , influence of effect to character growth and yield of rice , 2) Knowing the effect of tumpangsari and monoculture into three varieties of upland rice. This research has been conducted for 6 months from March to August, 2014 in dry land of Cendana village Kutasari sub-district Purbalingga district. The experimental design used was Split Plot Design with the basic design of Randomized Block Design. There were two factors tested. The first factor is the type of grass (main plot) which consists of: monoculture (R0=without grass), Intercropping (R1=Napier grassand R2=lemon grass). The second factor is upland rice variety (subplot) which consists of: V1=Gilirang variety, V2=Situ Patenggang variety and V3 =Jatiluhur variety. Based on the type of each factor tested, there were 9 treatment combinations that were repeated three times each, so it was obtained 27 experiment units. Obtained data were analyzed with using F test (p = 0.05), if there was significant difference, then it was followed with DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) (p= 0.05). Intercropping of upland rice-grass showed the result of the research that the hight of plants, leaf width and highest leaf total Jatiluhur varieties in monoculture system. Dry weight of crown and heaviest dry weight of root on Gilirang varieties in monoculture system. Plant model of intercropping upland rice-grass didn’t caused the reduction total of paddy per hectare. Keywords: upland rice, grass and intercropping | |
| 10227 | 9971 | D1E008027 | Analisis fungsi produksi pada usaha ternak sapi potong (study kasus pada kelompok peternak lembu sari di kecamatan gandrungmangu kabupaten cilacap) | NORMA WISNU HAPSARI. Penelitian berjudul ANALISIS FUNGSI PRODUKSI PADA USAHA SAPI POTONG (Studi Kasus pada Kelompok Peternak Lembu Sari di Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap). Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 04 Agustus sampai tanggal 18 Agustus 2014 di Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap. Tujuan penelitianini adalah: 1). Mengetahui faktor produksi dan produksi ternak sapi potong di Kelompok Peternak Lembu Sari di Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap.; 2). Mengetahui pengaruh faktor produksi (lama pemeliharaan, pakan konsentrat, pakan hijuan, dan variabel dummy jenis kelamin) terhadap produksi (PBBH) pada usaha sapi potong di Kelompok Peternak Lembu Sari di Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap. Penelitian dilakukan dengan metode survei yaitu dengan mewawancarai peternak sapi potong, SMD dan ketua kelompok Lembu Sari . Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan metode Purposive Sampling (disengaja) karena dikelompok peternak Lembu Sari memiliki catatan atau rekording yang baik, melakukan penimbangan secara rutin dan input pakan yaitu konsentrat dibuat secara mandiri. Penentuan sampel dilakukan secara sensus dengan sampel sapi yang diteliti sejumlah 30 ekor. Faktor produksi yang diamati dalam penelitian ini adalah lama pemeliharaan, pakan hijauan, pakan konsentrat dan jenis kelamin (dummy). Faktor produksi dan produksi ternak sapi potong di Kelompok Peternak Lembu Sari dianalisis dengan metode diskriptip. Sedangkan untuk mengetahui pengaruh faktor produksi (lama pemeliharaan, pakan konsentrat, pakan hijuan, dan variabel dummy jenis kelamin) terhadap produksi (PBBH) dianalisis dengan fungsi produksi Cobb-Douglas. Hasil analisis menunjukan bahwa: 1). Lama pemeliharaan rata-rata 57 hari, pakan konsentrat untuk ternak rata-rata 7,4kg/har/ekori, pakan hijauan yang diberikan rata-rata 32,5kg/har/ekori.; 2). Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) Pakan konsentrat. Kesimpulan: Memperbaiki menajemen tatalaksana pemeliharaan dan meningkatkan kwalitas pakan konsentrat agar PBBH dapat ditingkatkan. Kata kunci : Fungsi Produksi, Lama Pemeliharaan, Pakan konsentrat, Pakan hijauan, jenis kelamin. | NORMA WISNU HAPSARI. The study titled PRODUCTION FUNCTION ANALYSIS OF BUSINESS CATTLE (Case Study in Calf Breeders Group Sari In District Gandrungmangu Cilacap district). The study was conducted from 04 August to the date of August 18, 2014 in the District Gandrungmangu Cilacap district. The purpose of this study is 1. Knowing the factors of production and the production of beef cattle in Group Sari Calf Breeders in District Gandrungmangu Cilacap district, seen from PBBH, 2. Determine the influence of the factors of production (Old Maintenance, feed concentrates, green feed, and gender (variable dummy)) against PBBH production in beef cattle business in Calf Breeders Group Sari in District Gandrungmangu Cilacap district.The study was conducted by survey method is by interviewing cattle ranchers, SMD and Ox group leader Sari. The determination was conducted using purposive sampling (accidental) for farmers grouped Ox Sari has a good record or recording, weighing in on a regular basis and that the concentrate feed inputs were made independently. Determination of sample census conducted by the studied samples from 30 cows tail. Factors of production observed in this study is a long maintenance, green feed, concentrate feed and sex (dummy). The average maintenance long 57 days, concentrate feed for livestock on average 7.4 kg / day, forage were given an average of 32.5 kg / day, male and female.Coefficient cost of determination (R2) equal to 0 , 3002 percent. This indicates that the dependent variable (daily body weight gain) may be described or explained by the independent variables of 30.02 per cent, while the remaining 69.98 percent is influenced by other variables not included in the research model or not variables examined in this study . Keywords : Production Function , Old Maintenance , feed concentrates, feed forage , sex | |
| 10228 | 9973 | F1C010071 | Strategi Komunikasi Pemasaran Wisata Arung Jeram Bannyuwoong Banjarnegara dalam Meningkatkan Kunjungan Wisatawan | Penelitian ini berjudul Strategi Komunikasi Pemasaran Wisata Arung Jeram Bannyuwoong Banjarnegara dalam Meningkatkan Kunjungan Wisatawan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan bagaimana strategi komunikasi pemasaran wisata arung jeram Bannyuwoong Banjarnegara dalam meningkatkan kunjungan wisatawan melalui empat elemen yaitu humas, periklanan, promosi penjulan dan personal selling. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik pemilihan informan purposive sampling. Informan yang dipilih adalah mereka yang mengetahui strategi komunikasi pemasaran wisata arung jeram Bannyuwoong Banjarnegara dalam meningkatkan kunjungan wisatawan yaitu Direktur Bannyuwoong, Manajer Marketing Bannyuwoong dan staf Marketing Bannyuwoong. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Validitas data dalam penelitian ini yaitu menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa strategi komunikasi pemasaran wisata arung jeram Bannyuwoong yaitu dengan cara menjaga hubungan baik dengan publik seperti wisatawan, pemerintah daerah dan komunitas. Banyuwoong juga bekerjasama dengan berbagai pihak untuk melakukan komunikasi pemasaran. Mulai dari bekerjasama dengan media masa untuk peliputan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara dalam penyelenggraan event dan komunikasi pemasaran, kerjasama dengan agen travel, kerjasama dengan hotel dalam melakukan komunikasi pemasaran dan saling menyuplai tamu. Kemudian Bannyuwoong menyelenggarakan event khusus, mengikuti pameran, menjadi sponsorship di beberapa kegiatan, penggunaan media sosial sebagai media komunikasi pemasaran, dan Bannyuwoong memiliki media identitas. Selain itu, Bannyuwoong juga menggunakan brosur, media luar ruangan, pemberian potongan harga atau voucer, presentasi penjualan, pemasaran jarak jauh/tidak langsung melalui telepon, dan door to door sebagai strategi komunikasi pemasaran wisata arung jeram Bannyuwoong guna meningkatkan kunjungan wisatawan. | The title of this research is Marketing Communications Strategy Bannyuwoong Banjarnegara Rafting Trip In Of Increasing Tourists Visit. This research is conducted to determine and explain the marketing communication strategy of rafting trip Bannyuwoong Banjarnegara for increasing visits of tourists through the four elements that called public relations, advertising, sales promotion and personal selling. The method used in this research is descriptive qualitative method with sampling purposive informant selection techniques. The selected informant is everyone who knows about marketing communication strategy of rafting trip Bannyuwoong Banjarnegara for increasing tourists visit such as director of Bannyuwoong, marketing manager of bannyuwoong, and marketing staff of Bannyuwoong. Data collection have been done by interview, observation, and documentation. Data analysis methods are used by reduction of data, presentation of data, and the withdrawal of the conclusion. The validity used in this research is triangulation source. The result research is indicated that the strategy of marketing communication Bannyuwoong rafting trip by maintain the good relation with the public, such as tourists, the local goverment and communities. Bannyuwoong also collaborates with various sides to conduct the marketing communication. Started by cooperation with mass media for some pervasions, department of culture and tourism Banjarnegara distrisct for organizing events and marketing communication, cooperation with travel agent, cooperation with hotels for doing marketing communication and guest supply for each other. And than, Bannyuwoong organize special event, join to exhibition, sponsorship being followed in some activities, use of the sosial media as marketing communication media and Bannyuwoong have media identity. In addition, Bannyuwoong use brochure, outdoor media, discounts or voucer, sales presentation, indirect marketing, and door to door, as marketing communication strategy of rafting trip Bannyuwoong to enhance the tourist visit | |
| 10229 | 9970 | H1E010010 | PEMBUATAN MEMBRAN SILIKA BERPORI DENGAN METODE MECHANICAL MILLING UNTUK FILTERISASI AIR LAUT | Pembuatan membran keramik untuk filterisasi air laut dilakukan dengan metode mechanical milling, dengan variasi waktu penggilingan 0, 8, 16, 24 jam dan variasi suhu sintering 1100oC, 1200oC. Bahan utama membran menggunakan SiO2 (kuarsa) dengan kemurnian sebesar 95% dari Lumbuk Linggau, Palembang. Dalam penelitian ini, serbuk SiO2 hasil sieving 100 mesh digiling menggunakan mesin PBM-4 dan digranulasi dengan penambahan Polyvinyl Alkohol (PVA) kemudian dikompaksi. Selanjutnya, membran disintering dengan waktu penahanan 3 jam. Karakterisasi XRD menunjukan bahwa, penambahan waktu penggilingan mengakibatkan puncak difraksi semakin melebar dan intensitasnya semakin menurun. Hal ini disebabkan karena, adanya ikatan kristal yang terputus akibat dari semakin kecilnya ukuran butir. Sedangkan peningkatan suhu sintering mengakibatkan penambahan jumlah kristal yang ditandai dengan bertambahnya peak-peak pada pola XRD. Berdasarkan hasil pengujian densitas, penambahan waktu penggilingan menjadikan bahan semakin padat. Hal ini terlihat pada waktu penggilingan 24 jam dari setiap suhu sintering 1100oC dan 1200oC berturut-turut sebesar 2,63 g/cm3 dan 2,54 g/cm3. Di sisi lain, peningkatan suhu sintering mengakibatkan bahan mengalami penyusutan. Hal ini terjadi karena, kandungan PVA pada membran mengalami penguapan akibat energi termal yang tinggi, sehingga menimbulkan celah diantara butir. Karakterisasi BET didapatkan bahwa, penambahan waktu penggilingan dan peningkatan suhu sintering menghasilkan ukuran pori-pori semakin besar sehingga surface area semakin kecil. Hal ini disebabkan karena, pada saat preparasi BET dilakukan proses granulasi pada membran sehingga mengakibatkan struktur pori berubah akibat dari ikatan antar butir yang terputus. Hasil pengujian rejeksi menunjukan bahwa pada suhu sintering 1100oC, peningkatan waktu pengilingan serbuk menghasilkan membran lebih selektif. Namun, ketika suhu sintering dinaikan menjadi 1200oC, peningkatan waktu penggilingan tidak lagi mempengaruhi tingkat rejeksi. Hal ini mengindikasikan semakin besar energi termal, perbedaan dimensi ukuran serbuk hampir tidak lagi mempengaruhi laju proses difusi dan pertumbuhan butir, sehingga pori-pori yang terbentuk memiliki ukuran relatif hampir sama. Selain itu, peningkatan suhu sintering pada membran menghasilkan tingkat rejeksi terhadap koloid Na+ dan Cl- semakin besar. Membran filter terbaik dalam penelitian ini diperoleh pada suhu sintering 1200oC dengan waktu penggilingan 8 jam, dimana tingkat rejeksi didapat sebesar (34,88±0,71)% . | The fabrication of ceramic membrane for filtering sea water was carried out by mechanical milling method, with milling time of 0, 8, 16, 24 hours and sintering temperature of 1100oC, 1200oC. The main matter i.e. SiO2 (quartz) comes from Lumbuk Linggau, Palembang and has a 95% purity. In this research, the powder SiO2 which fielded from 100 mesh sieving, milled using PBM-4 engine, granulated with Polyvinyl Alcohol (PVA) and then compacted. Finally, the membrane were sintered with holding time 3 hours. XRD characterization show that, as the milling time increase, the diffraction peak widened and the intensity are decrease. This is because, there are missing crystal bonding as a result of the decreasing size of grains, but increasing temperature of sintering causing increasingly crystalline which is showed by increasing peaks on XRD patterns. Based on testing of density, when the milling time increase, causing the matter become much more dense. This can be seen when milling time reach to 24 hours the density become 2.63 g/cm3 at T = 1100oC and 2.54 g/cm3 at T = 1200oC. Respectively, increasing of sintering temperature causing shrinkage of the material because the PVA membrane, evaporate cause high thermal energy, thus leading to make gaps between particles. Characterization of the BET show, increasing of milling time and sintering temperature causing the size of the pores gets bigger so the surface area is getting smaller. This is because the process of granulation on BET Characterization causing changed the structure of pores because bond between the particles are missing. Rejection test showed that increasing of milling time at 1100oC, causing the membrane more selective, but when temperature increase up to 1200oC, the increasing of milling time are do nothing to the rejection selectivity. This is showed that when the thermal energy are increase, dimension of the powder size theres no more influence to the difusion process and the grain size, so the pores are relatively have a same dimension. Beside that, increasing of the sintering temperature causing the rejection selectivity for Na+ dan Cl- are increase. The best membrane filter goes to 1200oC sintering temperature and 8 hour milling time cause the rejection selectivity are (34,88 ± 0,71)%. | |
| 10230 | 9975 | H1G010011 | PENGARUH WAKTU KONTAK LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU DENGAN MODIFIKASI CONSTRUCTED WETLAND SISTEM FWS MENGGUNAKAN Pistia Stratiotes DALAM PERBAIKAN KUALITAS AIR | Constructed wetland system merupakan sistem pengolahan terencana atau terkontrol yang telah di desain dan dibangun menggunakan proses alami yang melibatkan vegetasi, media dan mikroorganisme untuk mengolah air limbah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kemampuan, waktu kontak terbaik dan pemenuhan standar baku mutu yang dinjurkan menggunakan Floating Aquatic Plant System dengan jenis tanaman Pistia stratiotes dalam menurunkan kandungan BOD, nitrat dan TSS pada limbah cair industri tahu. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan terbagi menjadi 5 waktu dan diulang sebanyak 4 kali ulangan. Perlakuan tersebut terdiri atas 1 bak kontrol (tanpa tumbuhan dan media), 4 bak perlakuan berisi media (tanah, pasir, kerikil) dan tumbuhan yang diulang sebanyak 4 kali berdasarkan waktu tinggal yaitu 4, 8, 12, dan 16 hari. Penelitian menunjukkan bahwa BOD dan nitrat dapat diturunkan kandungannya sesuai standar baku mutu, untuk nilai TSS mengalami penurunan akan tetapi masih belum sesuai standar baku mutu. Persentase penurunan nilai BOD, nitrat dan TSS berturut-turut sebesar 97%, 40%, dan 43%. Waktu kontak terbaik dalam penurunan BOD dan nitrat adalah pada 8 hari (H8). | Constructed wetland system is planned or controlled processing system which has been designed and built using natural processes involving vegetation, medium and micro-organism waste water. The purpose of this study was determine the ability, the best contact time and the fulfillment of quality standards that the recommended use of Floating Aquatic Plant System with the type of plant Pistia stratiotes in decrease the content of BOD, nitrate and TSS in waste water out. The study was conducted with an experimental method using Completely Randomized Design (CRD). The treatment is divided into 5th time and repeated four replications, such as treatment is the treatment of industrial waste water out with 1 bath with out vegetation and the media as well as 4 treatments containing media (soil, sand and gravel) and plants were repeated 4 times based on thed well timeis 4, 8, 12, and16 days. The results showed that the BOD and nitrates can be derived in accordance implies quality standards, to the value of TSS decreased but still does not meet quality standards. Percentage content of BOD, nitrate and TSS, respectively for 97%, 40%, and 43%. Best retention time in the reduction of BOD and nitrate on day 8 (H8). | |
| 10231 | 10897 | H1L010011 | Rancang Bangun Sistem Informasi Bimbingan Konseling | Sistem informasi bimbingan konseling merupakan sistem yang dibangun dengan menggunakan teknologi play framework. Sistem informasi ini mampu membantu guru bimbingan konseling dalam mengelola data bobot kredit angka pelanggaran yang dilakukan siswa di SMAN 4 Purwokerto. Fitur SMS gateway dan chatting ditambahkan di dalam sistem ini. Fitur SMS gateway ini dapat membantu guru bimbingan konseling dalam menyampaikan informasi pelanggaran kepada orang tua siswa, sedangkan fitur chatting digunakan siswa untuk berkonsultasi online dengan guru bimbingan konseling. | Counseling information system is a system that developed using play framework technological. This information system can help counselor to manage data processing about violation points and give information of violation that student did in SMA Negeri 4 Purwokerto. SMS gateway fitures and chatting fitures is add it in information system. SMS gateway fitures is used to help counselor announcing information for student's parent, but chatting fitures is used student for online consultation with counselor. | |
| 10232 | 11184 | E1A009015 | KEWENANGAN SATUAN POLISI PAMONG PRAJA DALAM PENEGAKAN PERATURAN DAERAH (STUDI DI KABUPATEN BANJARNEGARA) | Kewenangan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) diatur dalam pasal 255 ayat (1) UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang menyebutkan bahwa “Satuan Polisi Pamong Praja dibentuk untuk menegakan Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah, menyelenggarakan ketertiban umum dan ketentraman, serta menyelenggarakan perlindungan masyarakat”. Dari pasal 255 tersebut Satpol PP mempunyai kewenangan secara atribusi, berarti pertanggungjawabannya berada di Kepala Satpol PP baik dalam pelaksanaan tugasnya maupun tanggung gugat apabila ada guagatan. Kemudian dengan adanya pengaturan lebih lanjut mengenai Satpol PP dari Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, lalu Peraturan Daerah, khususnya Peraturan Daerah (Perda) di Kabupaten Banjarnegara yakni Perda Nomor 2 Tahun 2007 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Satuan Polisi Pamong Praja, pada pasal 3 Perda Nomor 2 Tahun 2007 menyebutkan bahwa “Satuan Polisi Pamong Praja adalah unsur perangkat daerah dipimpin oleh seorang kepala yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah”. Pasal 3 tersebut dapat ditafsirkan bahwa Satpol PP mempunyai kewenangan secara mandat dari Bupati/Kepala Daerah, yang berarti pertanggungjawaban pelaksanaan kewenangannya dan tanggung gugat apabila ada gugatan diajukan kepada Kepala Daerah. Pelaksanaan tugas dan fungsi Satpol PP Kabupaten banjarnegara dalam menegakan Peraturan Daerah menghadapi beberapa kendala antara lain kendala normatif yaitu adanya perbedaan dalam cara memperoleh kewenangan Satpol PP, menimbulkan permasalahan dalam hal menentukan subjek hukum yang seharusnya bertanggung jawab dan yang harus menanggung gugat. Kendala internal nya yakni kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki Satpol PP kabupaten Banjarnegara. Kemudian kendala eksternal yang dihadapi yaitu kurangnya koordinasi Satpol PP kabupaten Banjarnegara dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lainnya dan koordinasi dengan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dari SKPD lain. Kinerja Satpol PP Kabupaten Banjarnegara agar bekerja optimal direkomendasikan agar dilakukan perubahan terhadap Perda Nomor 2 Tahun 2007, terutama mengenai sumber kewenangan dan oraganisasi. Satpol PP Kabupaten Banjarnegara agar meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM. Satpol PP Kabupaten Banjarnegara juga disarankan untuk bekerjasama dengan anggota PPNS yang ada di SKPD lain di Kabupaten Banjarnegara dengan cara antara lain dengan membentuk Sekretariat PPNS. | Authority of civil service police force was regulated in Article 255 paragraph (1) Number 23 ratified on 2014 about Regional Government Law which mentions that “civil service police force be formed for enforce Regional Regulation and Regional Head Regulations , organizing public order and peace, and organizing the protection of society ". civil service police force have the authority of attribution based on article of 255, it’s means that accountability in the head of civil service police force either implementation of its duties or responsible if there is a lawsuit. Then with the Regulation further about civil service police force Of the Government Regulation, the Regulation of the Minister , then the Regional Regulation, in particular Regional Regulation in Banjarnegara Which is Regulation Number 2 ratified on 2007 on the Establishment of the Organizational Structure and Work Procedure of civil service police force. In the Regional Regulation number 2 ratified on 2007, article 3 mentions that “civil service police force are elements of regional be conducted by a head which is under and responsible to the regent by means of Secretary area. Based of article 3 can be interpreted that civil service police force have the authority mandate from regent or a regional head. It’s mean that authority implementation of accountability and responsible if there is a lawsuit be submitted to A head Regional. implementation of assignment and civil service police force of Banjarnegara district function of enforce the Regional Regulation encounter some problems. The among others is normative problems that the difference in obtaining authority of civil service police force. give rise to problems in terms of determining the legal subject which should be responsible and who should bear the liability of lawsuit. the internal problems of civil service police force in banjarnegara district is lack of Human Resources. Then the external Problems be faced is minim of coordination between civil service police force of Banjarnegara district and the other Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) for socialization Regional Regulation by SKPD its self. And lack of coordination with Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) from the other SKPD. In order to work optimally, In order to work optimally, the performance of civil service police force of Banjarnegara district be recommended to amend Regulation Number 2 ratified on 2007. Particularly Regarding Sources of authority and organization civil service police force of Banjarnegara district in order to increase the quality and quantity of human resources. And also that civil service police force of Banjarnegara district be advised to cooperate with PPNS members in other SKPD of Banjarnegara district by way of , among others, to establish a PPNS Secretariat. | |
| 10233 | 11186 | A1L010037 | UJI FORMULA BIOAKTIVATOR DALAM BEBERAPA SUPERNATAN ANTAGONIS TERHADAP PENYAKIT KUNING PADA CABAI MERAH | Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui pengaruh formula bioaktivator dalam supernatan antagonis terhadap penyakit kuning pada tanaman cabai merah; 2) Mengetahui pengaruh formula bioaktivator dalam supernatan antagonis terhadap pertumbuhan tanaman cabai merah. Percobaan pot dilaksanakandi Laboratorium Perlindungan Tanaman, rumah semi kasa Agroekologi, Fakultas Pertanian UniversitasJenderal Soedirman Purwokerto pada bulan Maret sampai Juni 2014. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 2 faktor dan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah komposisi formula yaitu tanpa bioaktivator; bioaktivator tanpa supernatan dengan buffer fosfat; bioaktivator dalam supernatan Bacillus subtilis; bioaktivator dalam supernatan Trichoderma harzianum; dan bioaktivator dalam supernatan Pseudomonas fluorescens. Faktor kedua adalah penularan virus yaitu tanpa penularan virus dan penularan virus. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah 1). formula bioaktivator dalam supernatan P. fluorescens berpotensi menunda masa inkubasi sebesar 36,97% dan menekan intensitas penyakit sebesar 37,69%. 2). formula bioaktivator dalam supernatan P. fluorescens, B. subtilis dan T. harzianum tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, bobot tanaman segar dan bobot tanaman kering, tetapi perlakuan bioaktivator dalam supernatan P. fluorescens mampu meningkatkan jumlah daun sebesar 15,36% dan meningkatkan jumlah cabang sebesar 26,19% pada pengamatan ke 7 hari setelah inokulasi. | This study aimed to: 1) determine the influence formula of bioactivator in the supernatant of antagonist against yellow disesase in red chili; 2) determine the influence of formula of bioactivator in the supernatant of antagonist to the growth of red chili plant. Pot experiment was conducted in the Laboratory of Plant Protection, home semi gauze Agroecology, Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman Purwokerto in March to June 2014. The study used a randomized block design with 2 factors and 3 replications. The first factor is the composition of the formula is without a bioactivator; bioactivator without supernatant with phosphate buffer; bioactivator in the supernatant of Bacillus subtilis; bioactivator in the supernatant of Trichoderma harzianum; and bioactivator in the supernatant of Pseudomonas fluorescens. The second factor is the transmission of the virus that is no transmission of the virus and the transmission of the virus. The results obtained from this study were 1) formula of bioactivator in the supernatant of P. fluorescens potentially delay the incubation period of 36,97% and suppress disease intensity of 37,69%. 2) formula of bioactivator in the supernatant of P. fluorescens, B. subtilis and T. harzianum no effect on plant height, number of leaves, number of branches, fresh plant weight and the weight of dried plants, but bioactivator in the supernatant of P. fluorescens treatment can increase the number of leaves at 15,36% and increase the number of branches by 26,19% at the 7 days after inoculation . | |
| 10234 | 11187 | C1A009094 | ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHATANI KENTANG ATLANTIK DI KECAMATAN PEJAWARAN KABUPATEN BANJARNEGARA | Penelitian Ini berjudul “Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-faktor Produksi Usahatani Kentang Atlantik di Kecamatan Pejawaran Kabupaten Banjarnegara”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor produksi tenaga kerja, bibit, pupuk dan obat-obatan secara bersama-sama maupun secara parsial terhadap produksi kentang atlantik dan efisiensi penggunaan faktor produksi kentang atlantik di Kecamatan Pejawaran Kabupaten Banjarnegara. Pengambilan data dilakukan dengan kuesioner. Metode analisis data yang digunakan adalah Fungsi Cobb-Douglas, Uji Asumsi Klasik, Uji Statistik, dan Uji Efisiensi Alokatif. Berdasarkan hasil analisis Fungsi Cobb-Douglas variable pupuk dan obat-obatan secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi kentang atlantik dan variabel tenaga kerja dan bibit secara parsial berpengaruh signifikan terhadap produksi kentang atlantik. Secara bersama-sama variabel tenaga kerja, bibit, pupuk, dan obat-obatan berpengaruh signifikan terhadap produksi kentang atlantik di Kecamatan Pejawaran Kabupaten Banjarnegara. Hasil perhitungan efisiensi alokatif menunjukan bahwa variabel tenaga kerja dan bibit sudah efisien. Implikasi dari penelitian ini adalah para petani kentang atlantik perlu memperhatikan penggunaan faktor produksi tenaga kerja dan bibit dalam proses produksi usahatani kentang atlantik, karena kedua faktor produksi tersebut merupakan faktor produksi yang berpengaruh signifikan terhadap naik turunnya produksi kentang atlantik. Sedangkan untuk faktor produksi pupuk dan obat-obatan, petani perlu memperhatikan penggunaannya dalam proses produksi kentang atlantik sesuai dengan standar penggunaan yang baik dan benar sehingga penggunaan yang berlebih dapat diminimalisir untuk menekan biaya produksi. | This study, entitled “Analysis of the Efficient of Production Factors Using the Atlantic Potato Farming in Sub District Pejawaran Banjarnegara”. This study aimed to analyze the influence of production factors of labor, seed, fertilizer pesticide and herbicide as jointly or partially to the atlantic production and efficiency of way the atlantic potato in Sub Distric Pejawaran Banjarnegara. Data were collected by questionnaire. Data analysis method used is the Cobb-Doughlas Function, Statistic Classical Assumption Test, and Allocative Efficiency Test. Based on the result of the analysis of the Cobb-Doughlas Function, fertilizer and pharmaceuticals variables partially have insignificant effect on the production of atlantic potatoes and labor and variables partially have significant effect on the production. Jointly the variables of labor, seed, fertilizer, pesticide and herbicide have significant effect on atlantic potato production in Sub District Pejawaran Banjarnegara. Allocative efficiency calculation results show that the variable labor and seed are already efficient. The implication of this research is the atlantic potato farmers need to give attention to the use of its production factors (labor and seed) in the production process, the two factors of production significant to the rise and fall of the atlantic potato production. While fertilizer pesticide and herbicide, farmers need to regard attention to their use in the production process of atlantic potato conforming to standard usage that good and right, so that the excessive use can be minimized to reduce the cost of production. | |
| 10235 | 9974 | D1A007048 | KINERJA PRODUKSI DAN REPRODUKSI SAPI JABRES DI KABUPATEN BREBES (PERFORMANCE PRODUCTION AND REPRODUCTION OF JABRES BEEF CATTLES IN BREBES REGENCY) | Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan kinerja produksi dan reproduksi sapi Jawa - Brebes (Jabres) di wilayah Jawa Tengah khususnya di Kecamatan Bantarkawung dan Kecamatan Ketanggungan Kabupaten Brebes. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survai. Wilayah terpilih adalah Kecamatan Bantarkawung dan Kecamatan Ketanggungan. Sampel dipilih dengan menggunakan assidental sampling dan dianalisis menggunakan uji t dan uji chi square dengan sampel 100 ekor ternak setiap kecamatan diambil 50 ekor ternak. Variabel yang diamati kinerja produksi adalah ukuran statistik vital tubuh, body condition score (BCS) dan kinerja reproduksi adalah umur pertama kali dikawinkan, umur pertama kali beranak dan calving interval. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja produksi dan reproduksi sapi Jabres berbeda tidak nyata (P<0,05). Penelitian dapat disimpulkan bahwa dari kedua kecamatan tersebut baik produksi maupun reproduksi memiliki kondisi yang relatif sama. | The aim of the research was to differentiate the performance production and reproduction of Jabres beef cattle in the of region Center Java specifically at Bantarkawung and Ketanggungan, Brebes Regency. The survey was using the method of survey by interviewing Jabres Beef cattle’s farmer, involving female labors. The selected subdistricts were Bantarkawung and Ketanggungan. The samples chosen included accidental sampling and analyzed differentiate t test and test chi square using 100 the head of cattle, every subdistrict was taken 50 heads of cattle. Variable whose observed performance production is vital statistic of the body and body condition score (BCS) and performance reproduction is the age of first given in interbreed, age of first foaled and calving interval. The results of the research showed thatthe performance of the production and reproduction of Jabres Beef Cattle was not significantly different (P<0.05). The research can be concluded that of both subdistrict was production and reproduction the condition of being the same. | |
| 10236 | 6720 | C1C006144 | ANALISIS PENERAPAN PSAK No. 45 TENTANG PELAPORAN KEUANGAN ORGANISASI NIRLABA PADA RUMAH SAKIT UMUM PUBLIK SE-KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini berjudul “Analisis Penerapan PSAK No. 45 Tentang Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba Pada Rumah Sakit Umum Publik se-Kabupaten Banyumas” merupakan penelitian komparatif, yaitu membandingkan penyajian laporan keuangan rumah sakit umum publik dengan standarnya, yaitu PSAK no. 45. Penelitian ini menggunakan metode survey dan metode analisis data menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah PSAK No. 45 telah diterapkan secara memadai pada Rumah Sakit Umum Publik se-Kab. Banyumas. Data penelitian diambil menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada responden. Analisis data menggunakan perhitungan Skor Kriterium dengan kriteria memadai yaitu jumlah skor lebih besar dari 86%. Dari hasil analisis diperoleh skor sebesar 67%, nilai tersebut lebih kecil daripada 86% berarti penyajian laporan keuangan Rumah Sakit Umum Publik Se-Kab. Banyumas belum mengacu secara memadai pada ketentuan PSAK No. 45 dan menurut kriteria penilaian angka tersebut baru mencapai taraf cukup memadai. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pihak manajemen dan pemerintah untuk meningkatkan penerapan PSAK Nomor 45 mencapai taraf memadai. Caranya dengan meningkatkan fungsi kontrol manajemen khususnya pada bagian keuangan untuk menerapkan pengguanaan PSAK Nomor 45 dalam membuat laporan keuangan dan meningkatkan pengetahuan karyawan, khususnya bagian penyusun laporan keuangan melalui pelatihan-pelatihan. | This research about “Application Analizysis of SFAS No. 45 about Nonprofit Organization’s Financial Report at Public Hospital in Banyumas Region”. This is comparative research, that compare public hospital financial statement presentation with the standard, SFAS No. 45. The survey and analyziz data metode of this research using quantitative descriptive metode. The purpose of this research is to know if SFAS No. 45 is adequately applicate at public hospital in Banyumas region. Research data taken using questioner, wich divided into responden. Data analyzis using criteria score calculation with adequate criteria is score higher than 86%. The analyzis result 67% score, that value is lower than 86%, it means presentation of public hospital financial statement in Banyumas region is not very adequate refer SFAS No. 45 and according number of value, that score reach adequately enough grade. Result of this research can be use as comparative material for management and government to increase SFAS No. 45 application into adequate grade. The procedure is with increasing control function of the management, especially in financial department to applicate SFAS No. 45 on financial statement creation and increasing employee’s knowledge, especially in accounting former through trainnings. | |
| 10237 | 11188 | A1L010146 | RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEDELAI (Glycine max (L) Merill) var. SINABUNG TERHADAP DOSIS PUPUK HAYATI DAN JARAK TANAM Growth and Yield Soybeans (Glycine Max ( L ) Merrill) Sinabung Variety Response Biofertilizer Dose and Crop Spacing | Penelitian respon pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai varietas Sinabung perlakuan dosis pupuk hayati E-plus 1-0-1 dan jarak tanam bertujuan untuk: 1) mengetahui dosis pupuk hayati E-plus 1-0-1 terbaik untuk pertumbuhan dan hasil kedelai varietas Sinabung 2) mengetahui pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai varietas Sinabung 3) menentukan interaksi dosis pupuk E-Plus 1-0-1 dan jarak tanam terbaik untuk pertumbuhan dan hasil kedelai varietas Sinabung. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Faktor yang dicoba ada dua, faktor pertama adalah dosis pupuk hayati E-plus yang terdiri dari 3 taraf yaitu, D0 (tanpa dosis E-plus 1-0-1),D1 (2 ℓ dosis E-plus 1-0-1/4m2), dan D2 (4 ℓ dosis E-plus 1-0-1/4m2). Aplikasi dilakukan, 1 tablet dilarutkan dalam 30 ℓ air. Dituangkan ke dalam sprayer ukuran 2 ℓ. Pemupukan dosis E-Plus (D1) setelah pengolahan tanah dan dosis D2 diberikan setelah 3 minggu penyemprotan awal. Faktor kedua adalah jarak tanam terdiri dari J1 (20 x 20)cm, J2 (20 x 25)cm, J3 (25 x 25)cm. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, berat tanaman segar, berat tanaman kering, jumlah polong isi pertanaman, bobot brangkasan kering, berat 100 biji, jumlah biji per tanaman, berat akar basah, berat akar kering, produksi per petak efektif, produksi per satuan luas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Dosis pupuk hayati memberikan pengaruh tidak nyata pada variabel pertumbuhan dan berpengaruh sangat nyata terhadap hasil produksi per satuan luas pada tanaman kedelai varietas Sinabung. 2) Jarak tanam memberikan pengaruh tidak nyata pada variabel pertumbuhan dan berpengaruh sangat nyata terhadap hasil produksi per petak efektif pada tanaman kedelai varietas Sinabung 3) Interaksi dosis pupuk hayati E-plus 1-0-1 dan jarak tanam berpengaruh nyata terhadap hasil produksi per satuan luas kedelai varietas Sinabung. | The research of growth and yield soybeans sinabung variety response on biofertilizer dose E-plus 1-0-1 and crop spacing were aims to 1) determine the best doses of biofertilizer E-plus 1-0-1 for growth and soybean production Sinabung, 2) determine the crop spacing for growth and soyben production of Sinabung variety, and 3) determine the doses intensification of E-plus organic fertilizer and the best spacing of planting for growth an soyben production of Sinabung variety. The experimental design used was Completely Randomize Blocks Design (CRBD) with three repetitions. The first factor was there was there difference doses biofertilizer consist D0 (none biofertilizered), D1 (2 liters E-plus 1-0-1 dose/4m2) and D2 (4 liters E-plus dose 1-0-1/4m2). Application of biofertilizer made 1 tablet E - plus 1-0-1 fertilizer dissoluble in 30 ℓ water. Fertilization E - Plus 1-0-1 ( D1 ) is done after the plot of a given basic fertilizer and for D2 dose is given back after three weeks of spraying early. The second factor different crop spacing consist J1 (20 x 20)cm, J2 (25 x 20 )cm, J3 (25 x 25) cm. The variables measured were plant height, number of leaves, leaf area, root wet weight, dry root weight, fresh plant weight, plant dry weight, consist soybean’s a mount per crops, stover weight, weight of 100 seeds, number of seeds per plant, yield per plot weight, yield per unit area. The results showed that the soybean 1) biofertilizers did not effect on the variable growth and significant effect on yield per unit area on soybean Sinabung variety. 2) the crop spacing significant effect on yield per plot effective on soybean Sinabung variety, and 3) interaction biofertilizer dose and spacing of crop of significant effect on yield per unit area of soybean Sinabung variety. | |
| 10238 | 4142 | H1G008038 | STRUKTUR KOMUNITAS MAKROZOOBENTHOS PADA SALURAN IRIGASI BANJARAN II YANG TERPOLUSI AIR LINDI TPA GUNUNG TUGEL PURWOKERTO | Air lindi adalah cairan yang timbul dari hasil dekomposisi sampah yang membusuk dan mengalami pelarutan akibat masuknya air eksternal, baik dari resapan air hujan maupun air sampah itu sendiri. Lindi sangat berbahaya apabila dialirkan langsung ke dalam perairan. Salah satu organisme yang terkena dampaknya adalah makrozoobenthos. Penelitian ini berjudul “Struktur Komunitas Makrozoobentos Pada Saluran Irigasi Banjaran II Yang Terpolusi Air Lindi TPA Gunung Tugel Purwokerto”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas makrozoobenthos pada daerah sebelum dan sesudah terpolusi air lindi TPA Gunung Tugel di Saluran Irigasi Banjaran II, Purwokerto, serta perbedaan struktur komunitas antara kedua daerah pengamatan. Metode survey dengan teknik group random sampling. Penelitian ini dibedakan menjadi 2 daerah yaitu sebelum dan sesudah terpolusi air lindi, dan masing-masing daerah terbagi menjadi 3 stasiun. Setiap perlakuan diulang 2 kali. Data diuji ‘t’. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur komunitas makrozoobentos pada daerah sebelum terpolusi air lindi yaitu kepadatan individu 81 ind/m2, keragaman spesies 0,963; indeks kemerataan 0,414 dan indeks dominansi 0,516. Daerah sesudah terpolusi air lindi yaitu kepadatan individu 104 ind/m2, keragaman spesies 1,387, indeks kemerataan 0,502 dan indeks dominansi 0,379. Hasil uji “t” menunjukkan kedua daerah tidak berbeda nyata. | Leachate is the liquid arising from the decomposition of rotting waste and dissolved due to the entry of external water, both from the rainwater infiltration and waste water itself. Leachate is very dangerous when flows directly into waters. One of organisms affected are macro-zoobenthos. This study entitled “Macro-zoobenthos Community Structure in water polluted areas in Gunung Tugel, Landfill Leachate Irrigation Channel Banjaran II, Purwokerto". The aim of this research was to know the community stucture of macro-zoobenthos in before and after the polluted leachate areas of TPA Gunung Tugel in Banjaran II irrigation, Purwokerto, and also the community structure differences in the both 2 areas of observation. A survey method used in group random sampling technique, in the 2 areas, and each area divided into 3 stations in duplicates. Data were then t-tested. The result of this research showed that macro-zoobenthos community structure in before leachate polluted area were individual density 81 ind/m2, species diversity 0.963; evenness index 0.414 and dominance index 0.516. In after leachate polluted areas were individual density 104 ind/m2; species diversity 1.387; evenness index 0.502 and dominance index 0.379. Macro-zoobenthos community structures between 2 areas were not significantly different. | |
| 10239 | 11326 | D1E011043 | PENAMBAHAN FERMEHERBAFIT DALAM PAKAN AYAM BROILER TERHADAP KADAR LEMAK DAN KOLESTEROL TOTAL DARAH | Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh suplementasi fermeherbafit dalam pakan ayam broiler terhadap kadar lemak dan kolesterol total darah ayam broiler. Materi penelitian menggunakan menggunakan 100 ekor ayam broiler. Metode penelitian yang digunakan adalah metod eksperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Sebagai perlakuan adalah terdiri atas R0 = kontrol (fermeherbafit 0%), R1 = fermeherbafit (2%), R2 = fermeherbafit (4%), R3 = fermeherbafit (6%). Peubah yang diamati adalah kadar lemak total darah dan kadar kolesterol total darah. Data dianalisis menggunakan analisis variansi. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penambahan fermeherbafit dalam pakan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap kandungan lemak total darah pada ayam broiler dan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar kolesterol total darah pada ayam broiler. Kesimpulan dari penelitian adalah penambahan fermeherbafit dalam pakan menghasilkan kadar lemak total darah yang relatif sama, sedangkan penambahan fermeherbafit dapat menurunkan kolesterol total darah sebesar 22,6% pada ayam broiler. | This study aimed to determine the effect of fermeherbafit supplementation in broiler feed on total blood fat and cholesterol. This research materials used were 100 broiler chickens. The method used is an experimental method using a completely randomized design (CRD). The treatment given is fermeherbafit supplementation consisted of R0 = control (fermeherbafit 0%), R1 = fermeherbafit (2%), R2 = fermeherbafit (4%), R3 = fermeherbafit (6%). Variables measured were level of total blood fat and cholesterol. Data were analyzed using analysis of variance. Results of analysis of variance showed that the fermeherbafit supplementation in feed was not significant (P>0.05) on total fat in the blood of broiler chickens and significant (P<0.05) on total blood cholesterol levels in broiler chickens. The conclusion of the study is fermeherbafit supplementation in the feed resulted the same total blood fat levels relatively, whereas the supplementation of fermeherbafit can lower total blood cholesterol as many as 22,6% in broiler chickens. | |
| 10240 | 9976 | H1H009019 | STUDI INDEKS MORFOANATOMI DAN HISTOLOGI OVARIUM IKAN NILEM (Osteochilus hasselti) DAN IKAN TAWES (Puntius javanicus) | Penelitian ini berjudul Studi Indeks Morfoanatomi dan Histologi Ovarium Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) dan Ikan Tawes (Puntius javanicus), dilakukan pada September-November 2013 di Laboratorium Managemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas Sains dan Teknik dan Laboratorium Pengajaran, Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Tujuan penelitian untuk mengetahui indeks morfoanatomi dan gambaran histologi ovarium pada ikan nilem dan tawes di kolam. Metode penelitian adalah survei yang dilakukan pada populasi budidaya ikan nilem betina di kolam Desa Kutasari, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas dan ikan tawes betina di kolam Unit Pelaksana Teknis Balai Benih Ikan Dinas Peternakan dan Perikanan, Desa Tambaksogra, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Teknik pengambilan sampel yaitu simple random sampling. Sampel 10 ekor ikan nilem dan 10 ekor ikan tawes, diambil dari 2 kali sampling. Variabel penelitian adalah Gonado Somatic Index (GSI), Hepato Somatic Index (HSI), dan Viscero Somatic Index (VSI) dan proporsi sel oogenesis. Hasil penelitian menunjukkan nilai GSI, HSI, VSI pada ikan nilem belum mencapai matang gonad yaitu 3,25±4,28%, 0,589±0,555%, 11,598±5,189%; sedangkan pada ikan tawes sudah mencapai matang gonad yaitu 10,416±6,180%, 0,912±0,431%, 4,844±1,057%. Peningkatan proporsi sel oogenesis ikan nilem dan tawes didominasi oosit vitellogenik endogen sebesar 24,706±2,218% dan 23,232±24,761%. | A research, entitled Morfoanatomy Index and Ovarian Histology Studies in Osteochilus hasselti and Puntius javanicus, was conducted in September-November 2013 at Aquatic Resource Management Laboratory, Fisheries and Marine Department, Science and Engineering Faculty, and Teaching Laboratory, Biology Faculty, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. This study was to determine morfoanatomy indexes and ovarian histology in Osteochilus hasselti and Puntius javanicus maintained in ponds. A survey method was conducted on populations of Osteochilus hasselti in the Kutasari village ponds, and those of Puntius javanicus in Central Hatchery of Tambaksogra village ponds, Kabupaten Banyumas to obtain samples of Osteochilus hasselti and Puntius javanicus of 10 individuals of each by applying simple random sampling. Data were Gonado Somatic Index (GSI), Hepato Somatic Index (HSI), dan Viscero Somatic Index (VSI) and the proportion of oogenesis cells. The results showed that GSI, HSI, VSI in Osteochilus hasselti were not ripe yet being 3.25±4.28%, 0.589±0.555%, 11.598±5.189%; while in Puntius javanicus were matures being 10.416±6.180%, 0.912±0.431%, 4.844±1.057%. Increase in proportion of oogonesis cells of Osteochilus hasselti and Puntius javanicus and endogenous vitellogenic oocyte cells dominated being 24.706±2.218%, and 23.232±24.761%, respectively. |