Artikelilmiahs

Menampilkan 10.261-10.280 dari 50.313 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
102619988B1J010054PENGARUH PENAMBAHAN NUTRIEN TERHADAP KANDUNGAN β-GLUKAN BIOMASSA MISELIUM DAN FILTRAT KULTUR JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus)
Pleurotus ostreatus merupakan salah satu jenis jamur yang bermanfaat bagi manusia karena mengandung gizi yang baik. Selain itu jamur ini mengandung senyawa bioaktif (β-glukan) yang memiliki potensi sebagai imunomodulator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan nutrien pada medium cair terhadap peningkatan produksi senyawa β-glukan P. ostreatus dan komposisi medium cair yang paling tepat untuk meningkatkan produksi senyawa β-glukan P. ostreatus.
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang dicobakan adalah serbuk biomassa miselium dan filtrat kultur P. ostreatus dari tiga medium cair yang berbeda. Variabel yang digunakan adalah variabel bebas berupa penambahan nutrien pada medium cair, sedangkan variabel tegantung adalah kandungan β-glukan. Parameter utama yang diamati yaitu bobot kering β-glukan biomassa miselium dan filtrat kultur P. ostreatus; parameter pendukung yaitu bobot kering biomassa miselium serta pH akhir medium cair. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA), dan perbedaan nyata antar perlakuan dianalisis lebih lanjut dengan uji Duncan pada tingkat kepercayaan 99%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot kering β-glukan biomassa miselium dan filtrat kultur P. ostreatus berbeda sangat nyata (P < 0,01). Rata-rata bobot kering β-glukan tertinggi dari filtrat kultur terdapat pada perlakuan ekstrak filtrat kultur dari medium FC3 (P6) sebesar 183,75 mg, sedangkan bobot kering β-glukan dari filtrat kultur terendah diperoleh 23 mg pada perlakuan ekstrak filtrat kultur dari medium FC1(P4). Rata-rata bobot kering β-glukan tertinggi dari ekstrak miselium terdapat pada perlakuan ekstrak miselium dari medium FC1 (P1) sebesar 64,75 mg, sedangkan rata-rata bobot kering β-glukan terendah terdapat pada perlakuan ekstrak miselium dari FC3 (P3) sebesar 5 mg.
Pleurotus ostreatus is one type of fungi that are beneficial to humans because they contain good nutrition. In addition, these mushrooms contain bioactive compounds (β-glucan), which has potential as an immunomodulator. This study aims to determine the effect of nutrients in a liquid medium to the increased production of β-glucan compounds of P. ostreatus and composition of the liquid medium is most appropriate to increase the production of β-glucan compounds of P. ostreatus. The method used in the study was experimental with completely randomized design. The treatments tested were powdered mycelium biomass and culture filtrate of P. ostreatus of three different liquid medium. The variables used are the independent variables in the form of addition of nutrients in a liquid medium, while dependent variable is β-glucan content. The main parameters observed is β-glucan dry weight of biomass mycelium; supporting parameters the dry weight of mycelium biomass and final pH of the liquid medium. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA), and significant differences between treatments then further analyzed by Duncan's test at the 99% confidence level. The results showed that β-glucan dry weight biomass of mycelium and culture filtrate of P. ostreatus significantly different (P < 0.01). Average dry weight of β-glucan from the culture filtrate contained the highest in the culture filtrate extract treatment of medium FC3 (P6) of 183.75 mg, while the dry weight of β-glucan on the lowest culture filtrate obtained 23 mg of the extract treated culture filtrate of the medium FC1 (P4). Average dry weight of β-glucan are the highest of the mycelium extract of mycelium extract on the treatment of medium FC1 (P1) of 64.75 mg, while the average dry weight of β-glucan was lowest for the treatment of mycelium extract of FC3 (P3) of 5 mg.
102629990H1K010069TINGKAT PENCEMARAN LOGAM BERAT Cd PADA MATRIKS LINGKUNGAN (AIR DAN SEDIMEN) DI PESISIR BALONGAN INDRAMAYU
Penelitian ini berjudul tingkat pencemaran logam berat Cd pada matriks lingkungan (air dan sedimen) di pesisir Balongan Indramayu.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat Cd pada matriks lingkungan (air dan sedimen) di pesisir Balongan Indramayu, perbedaan kandungan antar stasiun, faktor konsentrasi dan tingkat pencemaran logam berat Cd. Metode yang digunakan yaitu metode survey dengan purposive random sampling pada delapan stasiun. Kandungan logam berat Cd ini dianalisis menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom (AAS). Data dianalisis deskriptif komparatif, Uji F, faktor konsentrasi dan untuk mengetahui tingkat pencemaran menggunakan Contamination Factor (CF), Indeks Geoakumulasi (Igeo) serta Enrichment Factor (EF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kandungan logam berat Cd pada matriks air dan sedimen berkisar antara 0,002-0,018 mg/L dan 0,813-1,317 mg/kg. Perbedaan Kandungan logam Cd pada matriks air sedimen antar stasiun di perairan pesisir Balongan Indramayu ada yang berbeda nyata (P<0,05) dan tidak berbeda nyata (P>0,05). Nilai faktor konsentrasi logam berat Cd tergolong tingkat akumulasi rendah-akumulasi sedang. Nilai CF tergolong terkontaminasi tinggi-sangat tinggi, nilai Igeo tergolong tercemar ringan dan nilai EF tergolong faktor pengayaan antropogeniknya sangat tinggi sekali.
This study entitled level of heavy metal Cd pollution in environmental matrices (water and sediment) in the Balongan Coastal Indramayu. This study aims to determine the content of Cd in environmental matrices (water and sediment) in the Balongan coastal Indramayu, the differences of Cd content each stations, the concentration factors of Cd and determine the level of Cd pollution. The method used is a survey with purposive random sampling technique with eight stations. Cd contents were analyzed using Atomic Absorption Spechtrophotometry (AAS) and then analysis using descriptive comparative method, F-tested, concentration factor and to determine the level of Cd pollution were calculated using Contamination Factor (CF), Geoacummulation Index (Igeo) and Enrichment Factor (EF). The results showed the ranged metal Cd content in the matrices of water and sediment from 0.002 – 0.018 mg/L and 0.813 – 1.317 mg/kg. Metal content differences of Cd in water and sediments between stations in the Balongan coastal Indramayu there are significantly different (P<0.05) and not significantly different (P>0.05). Metal concentration of Cd were classified as low-moderate accumulation. The value of CF were classified as considerable-very high contamination, the value of Igeo were classified as moderately polluted and the value of EF is extremely severe.
102639991H1E010022PENGARUH SUHU SINTERING TERHADAP STRUKTUR DAN SIFAT MAGNETIK MATERIAL STRONSIUM FERITPasir besi cilacap termasuk sumber daya alam melimpah dengan kandungan mineral yang dapat dimanfaatkan yaitu Magnetit. Dalam pembuatan magnet permanen sering digunakan Sr karena dapat meningkatkan sifat-sifat kemagnetan dari magnet ferit. Selanjutnya, penelitian ini membahas material stronsium ferit dengan difokuskan pada pengaruh suhu sintering terhadap struktur dan sifat magnet stronsium ferit.
Pada penelitian ini material stronsium ferit dibuat dengan metode reaksi padatan (solide sate) pada suhu 900 °C, 1000 °C, 1100 °C, menggunakan Fe2O3 dari alam dan SrCO3 (99% Aldrich). Perbandingan campuran menggunakan perhitungan mol yaitu 80% Fe2O3 : 20% SrCO3. Pada penelitian ini hanya akan ditinjau pengaruh variasi suhu sintering dan tidak meninjau sifat-sifat material saat keadaan transisi. Uji XRD dan permagraf digunakan untuk mengkarakterisasi struktur dan sifat magnetiknya, sedangkan uji SEM digunakan untuk mengetahui morfologi material stronsium ferit.
Hasil-hasil dalam penelitian ini menunjukan bahwa suhu sintering berpengaruh pada perubahan fasa, ukuran kristalit, dan morfologi stronsium ferit. Ukuran kristalit dan nilai induksi remanen (Br) meningkat sedangkan nilai koersivitas (Hc) dan (BH)maks menurun dari suhu 900 °C ke suhu 1000 °C kemudian meningkat ke suhu 1100 °C. Morfologi permukaan stronsium ferit semakin menyatu seiring dengan meningkatnya suhu sintering membentuk struktur kristal. Peningkatan nilai induksi remanen (Br) dipengaruh oleh keseragaman daerah domain, sedangkan penurunan nilai koersifitas (Hc) disebabkan oleh turunya fasa pengotor dan naiknya ukuran kristalit. Stronsium ferit yang dihasilkan pada penelitian ini bersifat hard magnetic.
Iron sands in Cilacap are natural resources containing some useful mineral contents such as magnetite. In manufacturing permanent magnets, Sr is the most commonly used because it is able to enhance the magnetic properties of ferrite magnets. Further, the research focusses on the influences of sintering temperature on the structures and magnetic properties of strontium ferrite.
In this research, strontium ferrite materials are prepared by solid reaction method (solide satay) at a temperature of 900 °C, 1000 °C, 1100 °C, using natural Fe2O3 and SrCO3 (99% Aldrich). Materials are mixed by mol ratio of 80% mol Fe2O3 : 20% SrCO3. In this research the effect of variation will only be observed on the stable structures and will not review the transition state. The XRD and permagraf are used to characterize the structures and magnetic properties, while the SEM is used to determine the morphology of strontium ferrite materials.
The research results show that the sintering temperature gives the effect on the phase change, crystallite size, and morphology of strontium ferrite. Crystallite size and value of remanent induction (Br) increases while the value of coercivity (Hc) and (BH)max temperature decrease at the range of 900 °C to 1000 °C and then increase at the range of 1000 oC to 1100 °C. The surface morphology of strontium ferrites tend to form a crystalline structure with the inercase of sintering temperature. Increasing of remanent induction (Br) is influenced by the uniformly domain area while decreasing magnetic of the coercifity (Hc) is caused by the decrease phase impurities and increasing of the crystallites size in the material. The resulted strontium ferrites in this research are categorized as the hard magnetic.
1026410878H1L010008RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI PENERIMAAN SISWA BARU DENGAN FITUR SMS GATEWAY (STUDI KASUS SMA NEGERI 2 PURBALINGGA)Sistem Informasi Penerimaan Siswa Baru merupakan suatu sistem yang dibangun dengan tujuan untuk mengolah data-data yang berhubungan dengan penerimaan siswa baru, seperti pendaftaran siswa baru dan pengumuman jurnal nilai. Pada SMA Negeri 2 Purbalingga, proses pengolahan data masih menggunakan Microsoft Excel dan pengumuman jurnal nilai masih ditampilkan menggunakan LCD proyektor. Hal tersebut tentunya kurang efektif dan efisien baik bagi panitia penerimaan siswa baru maupun calon siswa baru karena menyita banyak waktu. Sehingga dengan dibangunnya sistem ini, dapat membantu panitia penerimaan siswa baru dalam proses mengolah data dan calon siswa baru dapat langsung melihat pengumuman jurnal nilai melalui website maupun dengan mengecek melalui SMS. Sistem ini dikembangkan dengan menggunakan bahasa pemrograman PHP (PHP Hypertext Preprocessor) dan menerapkan fitur SMS Gateway.Information System for Admission of New Students is a system that developed to process data of admission for new students, such as new students registration and announcement of grade journal. In Senior High School 2 Purbalingga, the data process is still using Microsoft Excel and the announcement of grade journal is still using LCD projector. It was certainly less effective and less efficient for the committee of admission for new students and the prospective new students because it takes a lot of time. With establishment of this system, it can assist the committee of admission for new students to process the data and the prospective new students can immediately see the grade journal in website or check via SMS. This system was developed using PHP (PHP Hypertext Preprocessor) and implemented SMS Gateway feature.
1026510899C1C010089Pengaruh pengalaman, due professional care, kompetensi, independensi, dan obyektivitas terhadap mutu hasil reviu pengawasan keuangan daerah aparat inspektorat kabupaten purbalingga dan banyumasPenelitian ini merupakan penelitian survey pada auditor Inspektorat Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengalaman, due professional care, kompetensi, independensi, dan obyektivitas terhadap mutu hasil reviu pengawasan keuangan daerah aparat inspektorat Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Banyumas. Data utama penelitian bersumber dari 33 orang responden auditor Inspektorat Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Banyumas. Data penelitian ini dianalisis dengan regresi linier barganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman, due professional care, kompetensi, independensi, dan obyektivitas secara simultan berpengaruh terhadap mutu hasil reviu pengawasan keuangan daerah. Due professional care, kompetensi, dan obyektivitas secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap mutu hasil reviu pengawasan keuangan daerah. Pengalaman dan independensi tidak berpengaruh signifikan terhadap mutu hasil reviu pengawasan keuangan daerah.
This research is a survey in auditor of the Purbalingga and Banyumas Regency Inspectorate.The aims ofthis research are to know the effect of experience, due professional care, competency, independency, and objectivity on quality of review audit report inspectorate of Purbalingga and Banyumas Regency.Main data of this research is collected from 33 respondents. Theyare auditor in inspectorate of Purbalingga and Banyumas Regency. Data’s were analyzed with multiplelinear regression.
The result of the research showed thatexperience, due professional care, competency, independency, and objectivitysimultaneously affect to thequality of review audit report inspectorate of Purbalingga and Banyumas Regency. Due professional care, competency, and objectivity partially have significant effect to the quality of review audit report insp ectorate of Purbalingga and Banyumas Regency. Experience and independency do not have a significant impact on quality of review audit report inspectorate of Purbalingga and Banyumas Regency.
102669994H1K010021TINGKAT PENCEMARAN LOGAM BERAT Pb PADA MATRIKS LINGKUNGAN (AIR DAN SEDIMEN) DI PESISIR BALONGAN, INDRAMAYUABSTRAK

Penelitian ini berjudul tingkat pencemaran logam berat Pb pada matriks lingkungan (air dan sedimen) di pesisir Balongan, Indramayu. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui kandungan logam Pb pada air dan sedimen, perbedaan konsentrasi, faktor konsentrasi antar stasiun dan tingkat pencemaran laut di perairan pesisir Balongan. Metode yang digunakan adalah survey dan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive random sampling. Logam Pb dianalisis menggunakan AAS (Spektrofotometri Serapan Atom). Data dianalisis secara deskriptif yang kemudian dilanjutkan dengan Uji F (ANOVA). Selain itu dilakukan perhitungan faktor konsentrasi, Enrichment factor (EF), Contamination factor (CF) dan geoacumullation index (Igeo). Hasil penelitian menunjukkan kandungan logam Pb pada air dan sedimen berkisar antara 0,014-0,062 mg/L dan 3,480-7,194 mg/kg. Perbedaan Kandungan logam Pb pada sedimen antar stasiun di perairan pesisir Balongan Indramayu ada yang berbeda nyata (P<0,05) dan tidak berbeda nyata (P>0,05). Faktor konsentrasi yang terjadi yaitu konsentrasi sedang. Nilai EF tergolong pengayaan cukup tinggi-pengayaan tinggi, CF adalah kontaminasi rendah dan Igeo adalah sangat tercemar ekstrim.



ABSTRACT
This study entitled level of heavy metal Pb pollution in environmental matrices (water and sediment) in the Balongan coastal Indramayu. This study aimed to know determine Pb metal content in water and sediment, the difference concentration, the concentration factor between the stations and the level of marine pollution in coastal Balongan . The method used is a survey and sampling techniques using purposive random sampling. The content of metals Pb analyzed using AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry). Data were analyzed descriptively followed by F test (ANOVA). In addition, the calculation of the concentration factor, enrichment factor (EF), Contamination factor (CF) and geoacumullation index (Igeo). The results showed the ranged metal content of Pb in water and sediment from 0.014 to 0.062 mg /L and 3.480 to 7.194 mg/kg. Differences in metal content of Pb in sediments between stations in the coastal Balongan Indramayu there are significantly different (P<0.05) and not significantly different (P>0.05). Metal concentrations factor of Pb categorized were classified as moderate. Classified as EF value is the enrichment of moderately severe-severe enrichment, CF value is contamination is low and Igeo value contamination extreme pollution.


102679993E1A109054TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KEDUDUKAN AHLI WARIS PENGGANTI DALAM PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR: 488 K/AG/2012Penelitian ini mengambil judul tentang “Kedudukan Ahli Waris Pengganti Dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 488 K/AG/2012”. Permasalahan dalam penelitian ini adalah ahli waris pengganti yang di atur dalam Pasal 185 Kompilasi Hukum Islam merupakan suatu terobosan baru dalam hukum waris Islam, namun di sisi lain pengaturan penggantian tepat pewarisan menimbulkan banyak polemik dan permasalahan, antara lain terjadi perdebatan di kalangan ulama mengenai di perbolehkan atau tidaknya penggantian tempat pewarisan dalam hukum Islam. Permasalahan lainnya ialah adanya pertentangan antara penggantian tempat pewarisan dengan sistim hijab dalam hukum waris Islam. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif, dengan spesifikasi penelitian preskriptif. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder. Data yang diperoleh disajikan secara sistematis dan analisis data dilakukan secara kualitatif.
Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa Majelis Hakim mengabulkan gugatan penggugat dengan membatalkan wasiat yang di berikan kepada isteri pewaris dan menetapkan para ahli waris pengganti, serta dilakukan pembagian warisan. Putusan Mahkamah Agung Nomor: 488 K/AG/2012 yang mengabulkan penggantian tempat pewarisan dalam garis lurus kebawah dan dalam garis menyamping, menyebakan sistim hijab tidak memiliki arti lagi. Majelis hakim tampak masih terlalu terpaku dengan rumusan Pasal 185 Kompilasi Hukum Islam dan kurang memperhatikan teori-teori dalam hukum waris islam, sehingga terjadi kekeliruan dalam penetapan ahli waris pengganti dalam putusan tersebut.

Kata Kunci: Ahli Waris Pengganti
The title of this research is “The Position of Heirs Substitute in the Supreme Court Decision Number: 488 K/AG/2012”. The Issues of this research is about the heirs substitute which is regulated in the Article 185 of Islamic Law Compilation constitutes a new breakthrough in the Islamic inheritance law. However, the regulation about the replacement of inheritance evokes many polemic and problems on the other hand. One of the problems is the debate among scholars concerning whether or not about the replacement of inheritance in Islamic law. The other problem said there is a disagreement between a replacement of inheritance and the hijab system in the Islamic inheritance law. This research is using the normative juridical approach and the prescriptive research specifications method. This research used the secondary data as source of data. The data which obtained are presented systematically and the data analysis was done qualitatively.
From the research we can understand that the Panel of Judges granted the plaintiff's claim by canceling the will which is given to the wife’s’ heir and determines the heirs of substitute, then, the allotment of heritage is done. The Supreme Court Decision Number: 488 K/AG/2012 that granted the replacement of inheritance in a straight line down and in the lateral line causing the hijab system has no more meaning. The Panel of Judges seems too fixated by the formulation of Article 185 of Islamic Law Compilation and paying less attention in the theories of Islamic inheritance law, it’s resulting in errors in the determination of the heirs of substitute in this decision.

Key Words: Substitute Heirs
102689992F1D009044GERAKAN BURUH MELALUI FEDERASI: STUDI GERAKAN FEDERASI PERJUANGAN BURUH INDONESIA (FPBI) DI KABUPATEN BEKASIPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan terbentuknya Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI) dan mengetahui cara beroperasi di Kabupaten Bekasi. Dengan menggunakan metode kualitatif hasil penelitian ini menjelaskan bahwa munculnya serikat buruh FPBI merupakan bentuk perlawanan dari kesenjangan di dalam sistem produksi yang dimulai dari rasa kekecewaan buruh atau deprivasi relatif, khususnya decremental deprivation. Dalam gerakannya, FPBI melakukan advokasi kepada anggotanya sebagai bentuk pola pengorganisasian internal. Pola pengorganisasian internal ini dibentuk agar para anggotanya memahami permasalahan buruh. Selain itu, FPBI juga menjalin kerjasama yang melibatkan serikat buruh lainnya sebagai sumber kekuatan dalam ruang lingkup eksternal. Kerja sama atau keterlibatan kritis yang dilakukan FPBI ini dapat dilihat dalam sebuah aliansi bernama Sekber yang melibatkan beberapa serikat buruh lainnya. Gerakan FPBI menunjukan keefektifannya dengan menyelesaikan perselisihan dalam kasus PT. Siliwangi dan mendapatkan tuntutannya. Selain itu, FPBI juga menunjukan eksistensinya bersama Sekber dengan ikut berpartisipasi dalam May Day 2014 di Istana Merdeka. Dalam aksinya, FPBI menuntut kelayakan hak-hak normatif seperti upah layak nasional dan juga bertujuan ingin membentuk partai politik alternatif. Keinginan membentuk partai politik alternatif ini disebabkan ketidakpercayaan FPBI bersama Sekber kepada calon pemimpin dalam pemilu 2014. Hal ini menunjukkan bahwa meningkatnya harapan atau aspiration deprivation yang dialami FPBIThe purpose of this study is to describe the formation of Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI) and to know how to operate in Bekasi. By using qualitative methods, the results of this study explain that the emergence of FPBI trade unions is a form of resistance of the gap in the production system that starts from a sense of disappointment of labor or relative deprivation, especially decremental deprivation. In its movement, FPBI do an advocate for its members as a form of internal organizing pattern. This internal organizing pattern was formed so that members understand the labor issues. In addition, FPBI also make a cooperation involving other unions as a source of strength in the external scope. This cooperation or critical engagement that FPBI do, can be seen in an alliance called the Joint Secretariat involving several other union. FPBI movement shows its effectiveness by resolving disputes in PT. Siliwangi case and gets its claim. In addition, FPBI also shows its existence along with the Joint Secretariat participated in the May Day 2014 at the Istana Merdeka. In the action, FPBI demanding normative rights feasibility as a national living wage and also is intended to form an alternative political party. The desire to form an alternative political party is due to mistrust FPBI and Joint Secretariat to the leader candidate in the 2014 elections. This suggests that the increased expectation or aspiration deprivation experienced by FPBI.
1026911423H1D010050Studi Hidraulika Sungai Cibeureum dan Sungai Cimeneng Menggunakan HEC-RAS 4.1 (Studi Kasus Proyek Pengendalian Banjir Sungai Cibeureum dan Sungai Cimeneng)Sungai Cibeureum dan Sungai Cimeneng merupakan bagian wilayah kerja Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy dan bermuara di Segara Anakan. Daerah – daerah aliran sungai tersebut telah dikembangkan menjadi daerah pertanian dengan irigasi teknis dan dilengkapi prasarana pengendali banjir akibat meningkatnya laju pertumbuhan penduduk. Permasalahan utama di Sungai Cibeureum dan Sungai Cimeneng adalah banjir, yang selalu terjadi pada musim hujan dan berpotensi membanjiri daerah perumahan serta pertanian.
Penelitian ini menganalisis Sungai Cibeureum dan Sungai Cimeneng sebelum dan sesudah adanya proyek “Pengendalian Banjir Sungai Cibeureum dan Sungai Cimeneng” dengan menggunakan software HEC-RAS 4.1. Data masukan yang digunakan adalah data tampang lintang, hidrograf debit banjir, dan data pasang surut, sehingga dapat dihasilkan profil muka air sungai dan banjir yang terjadi pada kedua sungai tersebut.
Berdasarkan hasil analisis software HEC-RAS, kondisi Sungai Cibeureum setelah normalisasi, pada sebagian RS (River Station) memiliki muka air banjir tidak melampaui tanggul, namun bagian hulu sungai masih terjadi limpasan (RS 197-367). Selisih ketinggian muka air dengan tanggul sungai bervariasi dari 0,1-3 m. Setelah normalisasi, sebagian besar Stasiun Sungai Cimeneng tidak mengalami limpasan. Pada Sungai Cimeneng terdapat 45 RS dari 224 RS yang terjadi limpasan (RS 79, RS 85-88, RS 92-121, RS 138-142, RS 213, dan RS 215-218) dengan muka air banjir tidak lebih dari 1,5 m dari tanggul sungai.
Cibeureum River and Cimeneng River is part of the Central Office of Citanduy working area which end in Segara Anakan Lagoon. The watershed region has been developed into an agricultural area and equipped with technical irrigation and flood control infrastructure, because of the population increasing of growth. The main problem of Cibeureum and Cimeneng River is flood, that always happen on rainy season and potentially flooded the residential and agriculture area.
This research analyzed Cibeureum River and Cimeneng River before and after the project "Cibeureum River and Cimeneng River Flood Control Project" using HEC-RAS 4.1 software. The input data that used on the HEC-RAS are cross section data, flow hydrograph, and tide data, so visualization of the analysis can get water surface level and flood in both rivers.
From the HEC-RAS analysis of Cibeureum River after normalization, most of the River Station (RS) flood water surface has not exceeded the existing bank, but in the upstream area still going flood (RS 197-367). The difference between water surface level and bank river varies from 0.1-3 m. After normalization most of RS in Cimeneng River is not going to flood. In Cimeneng River there are 45 RS of 224 RS are going to flood (RS 79, RS 85-88, RS 92-121, 138-142 RS, RS 213, and RS 215-218) with flood water surface less than 1,5 m from bank river.
102709995H1E010009PENGOLAHAN PASIR BESI MENJADI PIGMEN OKSIDA BESI
(MERAH, KUNING, HITAM) MELALUI METODE KALSINASI

Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah berupa pasir besi. Pasir besi mengandung oksida besi di antaranya magnetite (Fe3O4), hematite (Fe2O3), dan maghemite (Fe2O3). Mineral tersebut memilki potensi untuk dibuat pigmen warna. Tujuan penelitian ini untuk menghasilkan pigmen warna hitan, merah, kuning berbasis pasir besi Cilacap. Pembuatan pigmen warna hitam, dilakukan dengan melarutkan Fe3O4 menggunakan larutan NaOH dan NH4OH, sedangkan untuk pigmen merah, dan kuning dengan melarutkan Fe2O3 menggunakan larutan H2SO4, dan HCl. Pigmen hitam, merah, kuning di kalsinasi pada temperatur dan lama kalsinasi 800 ºC selama 2 jam, 650 ºC selama 3 jam, dan 250 ºC selama 4 jam. Pigmen selanjutnya di karakterisasi menggunakan XRD, SEM-EDX, PSA, dan pengukuran uji warna Chromameter L*a*b*. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serbuk pigmen warna hitam, merah, kuning telah berhasil dibuat menggunakan metode kalsinasi dari pasir besi alam. Serbuk pigmen warna hitam, merah, kuning memiliki struktur kristal kubik, rhombohedral, dan orthorhombic. Bentuk morfologi permukaan masing-masing pigmen yakni butiran bulat seragam, butiran bulat dengan ukuran lebih besar, dan bentuk seperti jarum memanjang serta permukaan tampak halus. Dengan ukuran butir partikel 926,4 nm, 79,2 nm, dan 340,9 nm. Ketiga pigmen tersebut memiliki kandungan utama unsur adalah besi (Fe), dan oksigen (O). Serbuk pigmen warna hitam, merah, kuning berdasarkan hasil uji warna chromameter memiliki koordinat L*a*b* dan deltaE adalah (23,99, 2,41, 1,78 dan 2,68), (43,23, 16, 17,3 dan 9,90), (66,76, 14,84, 49,95 dan 4,87). Pigmen warna hitam dinilai dari deltaE yang dibuat telah sesuai dengan standar, sedangkan dinilai dari ukuran partikelnya pigmen warna merah yang telah dibuat dengan ukuran nanometer.Indonesia has abudant natural resource such as iron oxide. Iron oxide containing iron oxides magnetite (Fe3O4), hematite (Fe2O3), and maghemite (Fe2O3). These minerals to be made color pigments. The purpose of this research is to produce a pigment black, red, yellow iron oxide based Cilacap. Making black pigment made by dissolving Fe3O4 using NaOH solution and NH4OH, as for the red oxide pigment, and yellow oxide by dissolving Fe2O3 using solution H2SO4 and HCl. Pigment black, red, yellow on the calcination 800 ºC for 2 hours, 650 ºC for 3 hours, and 250 ºC for 4 hours. Pigments in the subsequent characterization using by XRD, SEM-EX, PSA, and tesr measurement Chromameter color L*a*b*. The result showed that the pigment powder in black, red, yellow has been created using the method of calcination of natural iron oxide. Powder pigment black, red, yellow has a crystal structure cubic, rhombohedral, and orthorhombic.the shape of the surface morphology of each pigment granules round the uniform, spherical granules with a size large, elongated needle like shape and the surface looks smooth. With a grain size of particles 926,4 nm, 79,2 nm, and 340,9 nm. The three main pigments contained an element is iron (Fe), and oxygen (O). Powder pigment black, red, yellow color based on test result chromameter has coordinates L*a*b* and deltaE is (23,99, 2,41, 1,78 and 2,68), (43,23, 16, 17,3 and 9,90), (66,76, 14,84, 49,95 and 4,87). Black pigment assessed from deltaE are made in accordance with the standars, while judged by the size of the particles is the red pigment that has been made with size nanometer.
1027111327A1M011060Pengaruh Perbandingan VCO (Virgin Coconut Oil) dan Air Mineral Serta Konsentrasi Madu Terhadap Sifat Sensori Minuman Emulsi VCO-MaduMinuman emulsi VCO-Madu diklasifikasikan sebagai emulsi minyak dalam air atau oil in water (o/w). Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah: 1) Mengetahui pengaruh perbandingan VCO dan air mineral terhadap sifat sensori Minuman Emulsi VCO-Madu, 2) Mengetahui pengaruh konsentrasi madu terhadap sifat sensori Minuman Emulsi VCO-Madu dan 3) Menentukan kombinasi perlakuan yang lebih baik antara perbandingan VCO dan air mineral serta konsentrasi madu terhadap sifat sensori Minuman Emulsi VCO-Madu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan VCO dan air mineral berpengaruh nyata terhadap aroma VCO dan rasa VCO. Konsentrasi madu berpengaruh nyata terhadap rasa VCO. Kombinasi perlakuan berpengaruh nyata terhadap aroma VCO dan rasa VCO. Kombinasi perlakuan yang menghasilkan sifat sensori yang lebih baik dibandingkan dengan kombinasi perlakuan lainnya pada Minuman Emulsi VCO-Madu yaitu P3K1, P3K2, dan P3K3. Berdasarkan aspek ekonomis untuk menekan biaya produksi perlakuan P3K1 yang dipilih.
Beverage Emulsion of VCO-Honey classified as oil in water emulsion (o/w). The purpose of this research are: 1) Determine the influence of VCO and mineral water ratio on sensory characteristic of Beverage Emulsion of VCO-Honey produced, 2) Determine the influence of honey concentration on sensory characteristic of Beverage Emulsion of VCO-Honey produced and 3) Determine the combination of better treatment between VCO and mineral water ratio with honey concentration on sensory characteristic of Beverage Emulsion of VCO-Honey produced.
The result show that comparison of VCO and mineral water was significant to flavor of VCO and taste of VCO. Concentration of honey was significant to taste of VCO. Combination treatment was significant to flavor of VCO and taste of VCO. Combination treatment that produces better sensory characteristic than other treatment of Beverage Emulsion VCO-Honey were produced by P3K1, P3K2, and P3K3. Based on economic aspect to suppress the production cost, P3K1 treatment selected.
1027211375D1E011010PRODUKSI TELUR DAN INCOME OVER FEED COST BERBAGAI AYAM SENTUL SEBAGAI PENGHASIL TELUR TETASPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan produksi telur dan Income Over Feed Cost berbagai ayam Sentul sebagai penghasil telur tetas. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 125 ekor ayam Sentul. Penelitian menggunakan metode eksperimen, Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima kali ulangan. Perlakuan terdiri atas lima macam ayam Sentul, yaitu: Sa= ayam Sentul Abu, Sb= ayam Sentul Batu, Sd= ayam Sentul Debu, Se= ayam Sentul Emas, dan Sg= ayam Sentul Geni. Setiap perlakuan diulang lima kali dan setiap unit percobaan terdiri atas lima ekor dengan perbandingan 1:4 (jantan:betina). Peubah yang diamati adalah produksi telur dan Income Over Feed Cost. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi, kemudian apabila berpengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukan bahwa rataan produksi telur pada masing-masing ayam Sentul; yaitu: Sa= 46,10%, Sb=35,95%, Sd=40,29%, Se=35,52%, Sg=38,95%. Rataan Income Over Feed Cost pada masing-masing ayam Sentul; yaitu: Sa=Rp 20.654,00; Sb=Rp 12.263,00; Sd=Rp 16.210,00; Se=Rp 12.146,00; Sg=Rp 15.320,00. Hasil analisis variansi menunjukan bahwa berbagai ayam Sentul berpengaruh tidak nyata (p>0,05) terhadap produksi telur dan Income Over Feed Cost. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa berbagai ayam Sentul sebagai penghasil telur tetas mempunyai produksi telur dan Income Over Feed Cost yang sama.The purpose of the experiment was to study the differences of egg production and Income Over Feed Cost of various sentul chicken as hatching eggs producer. The material used was 125 Sentul chicken. This research was conducted using experimental method, completely randomized design (CRD) with 5 times replication. The treatment consisted of feather colours i.e.: Sa= Abu Sentul chicken, Sb= Batu Sentul chicken, Sd= Debu Sentul chicken, Se= Emas Sentul chicken, and Sg= Geni Sentul chicken. The variables observed were the amount of egg production and Income Over Feed Cost. The data obtained were analysed using variance analysis, continued by honestly significance difference test. Research result showed that the average of egg production were Sa= 46.10%, Sb=35.95%, Sd=40.29%, Se=35.52%, Sg=38.95%. Income Over Feed Cost were Sa=Rp 20,654.00; Sb=Rp 12,263.00; Sd=Rp 16,210.00; Se=Rp 12,146.00; Sg=Rp 15,320.00. Variance analysis result showed that the treatment did not have significant effect (p>0.05) on egg production and Income Over Feed Cost. It can be concluded that as a hatching egg producer, Sentul chicken had the same egg production and income over feed cost.
102739996H1E010007Pengaruh Temperatur Sintering Terhadap Struktur, Sifat Magnetik dan Absorpsi Gelombang Mikro pada Ferit Alam Doping Zinc OxidePenelitian mengenai ferit alam yang didoping zinc oxide diharapkan dapat menghasilkan material zinc ferrite dengan tingkat penyerapan gelombang mikro yang optimum. Magnetit (Fe3O4) memiliki sifat soft magnetic. Kriteria untuk suatu material menjadi bahan penyerap radar yaitu memiliki sifat magnetik dan sifat listrik. Untuk sifat magnetik dibutuhkan material yang bersifat soft magnetic, sedangkan untuk sifat listrik dibutuhkan material yang memiliki nilai konduktifitas listrik yang tinggi. Untuk mendapatkan sifat dari keduanya maka dilakukan pendopingan dari dua unsur yang berbeda. Zinc Oxide memiliki sifat konduktivitas listrik yang tinggi sehingga membuat material tersebut tepat diaplikasikan sebagai bahan penyerap radar. Pembuatan zinc ferrite dilakukan menggunakan metode reaksi padatan dengan komposisi 80 Fe3O4 : 20 ZnO dalam kondisi anisotropik (dalam medan magnet). Ferit disintering pada temperatur 500, 800 dan 1100 ºC. Karakterisasi struktur, sifat magnetik dan absorpsi gelombang mikro pada ferit dilakukan masing-masing menggunakan XRD, VSM dan VNA. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa intensitas fasa kristal ZnFe2O4 yang terbentuk meningkat dengan peningkatan temperatur sintering. Sifat magnetik yang meliputi magnetisasi remanen (Mr) dan magnetisasi saturasi (Ms) mengalami penurunan, sedangkan medan koersivitas (Hc) mengalami peningkatan dengan meningkatnya temperatur sintering. Ferit yang diperoleh mempunyai sifat paramagnetik dengan suseptibilitas magnetik (χm) positif bernilai kecil χm<<1. Ferit menyerap gelombang mikro dalam ring frekuensi 7 sampai 18 GHz. Namun demikian, ferit yang disintering pada 800 °C menujukkan performa yang baik dengan ditandai oleh absorpsi gelombang mikro tertinggi pada frekuensi 16,9 GHz dengan reflection loss (RL) sebesar -69 dB. Research on natural ferrite doped zinc oxide is expected to produce zinc ferrite material with a level of optimum absorption of microwaves. Magnetite (Fe3O4) have a soft magnetic properties. Criteria for a material into a radar absorbent materials that have magnetic properties and electrical properties. For the magnetic properties needed to be soft magnetic material, while the electrical properties required for a material that has a high conductivity values. To get the properties of the two then performed pendopingan of two different elements. Zinc Oxide has a high thermal conductivity properties that make these materials appropriately applied as radar absorbent material (radar absorbing material). The zinc ferrite performed using a solid reaction method with composition 80 Fe3O4 : 20 ZnO in anisotropic conditions (the magnetic field). Ferrite materials are sintered at temperature of 500, 800 and 1100 °C. Characterizations of the structure, magnetic properties and microwave absorption in the ferrite are conducted using XRD, VSM and VNA. The respectively intensity of formed ZnFe2O4 crystalline phase increases with increasing sintering temperature. Magnetic properties of this material including remanent magnetization (Mr) and saturation magnetization (Ms) decrease, while the coercivity field (Hc) increase with increasing sintering temperature. The resulted ferrite are paramagnetic with the small value of positive magnetic susceptibility χm <<1. Ferrite absorb microwave at a frequency of 7 to 18 GHz. However, ferrite at 800 °C exhibits good performance for increases absorber, which is proved by high microwave absorption at frequency of 16,9 GHz with reflection loss (RL) of -69 dB.
102749998D1F011011LAJU PERKEMBANGAN TERNAK PADA PETERNAKAN DOMBA KLOWOH
DI KECAMATAN KALIKAJAR KABUPATEN WONOSOBO
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju perkembangan ternak domba klowoh dan untuk mengetahui dinamika populasi domba klowoh di Kecamatan Kalikajar Kabupaten Wonosobo. Penelitian ini merupakan survei terhadap para peternak domba klowoh yang ditentukan berdasarkan metode sensus. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah sebanyak 69 peternak. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis trend. Berdasarkan hasil analisis deskriptif dapat diketahui bahwa laju perkembangan ternak domba klowoh di Kecamatan Kalikajar dengan tolak ukur pendayagunaan ternak terentang dari 2,45 sampai 41,46% dengan rataan dan standar deviasi sebesar 15,70% ±11,26%. Pertumbuhan peternakan terentang antara -31,82 sampai dengan 11,11% dengan rataan dan standar deviasi sebesar -6,10% ±11,20%. Nilai produksi induk ternak terentang antara 0,00 sampai 1,50ST dengan rataan dan standar deviasi sebesar 59,54ST ±35,39ST. Selanjutnya, dari hasil analisis trend dapat diketahui bahwa dinamika populasi domba klowoh di Kecamatan Kalikajar selama periode tahun 2008 sampai 2013 cenderung mengalami penurunan, rata-rata sebesar 6,60% per tahun.The aims of this research were to find out the growth rate of klowoh sheep and to find out the population dynamics of klowoh sheep at Kalikajar District, Wonosobo Regency. Type of this study was survey on the farmers of Klowoh sheep that determined by census method. The number of respondents in the study was 69 farmers. Technique of data analyses that used in this research were descriptive and trend analysis. Based on the result of descriptive analysis, it showed that growth rate of klowoh sheep at Kalikajar District based on benchmarks of livestock utilization was between 2.45 to 41.46% with average and standard deviation values were 15.70 ± 11.26%. Farms growth was between -31.82 to 11.11% with average and standard deviation values of -6.10 ± 11.20%. The value of holding livestock production was range between 0.00 to 1.50AU, with the average and standard deviation values of 59.54 ± 35.39AU. Furthermore, refers to the result of trend analysis, it showed that the population dynamics of klowoh sheep at Kalikajar District during the period of 2008 to 2013 tends to decrease with average value of 6.60% per year.
102759999H1K011050KAJIAN BATIMETRI, ARUS, DAN SEDIMEN DASAR LAUT
DI PERAIRAN LEPAS PANTAI, LAMPUNG TIMUR
Perairan Lampung bagian Timur termasuk wilayah dengan kondisi pemanfaatan yang tinggi di Provinsi Lampung dimana terdapat bebrapa pemanfaatan yang penting yaitu : pelabuhan, wilayah perikanan tangkap, wilayah budidaya air laut maupun penggunaan dalam bidang industri. Paramater yang dikaji untuk meningkatkan pengelolaan wilayah perairan Lampung Timur adalah batimetri, arus dan sedimen yang pengambilan datanya menggunakan alat akustik dan sediment sampler serta kondisi pasang surut yang didapat dari penelitian sebelumnya untuk mendukung penelitian. Metode yang digunakan adalah metode survei dan deskriptif dengan pengambilan stasiun menggunakan metode purposive sampling. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada tahun 2013 dan 2014 didapat bahwa hasil analisis secara spasial kondisi batimetri perairan Lampung Timur termasuk perairan dangkal dengan perubahan kedalaman yang landai, kecepatan arus yang lemah pada bagian dasar dan kuat pada bagian permukaan dipengaruhi oleh spring tide dan neap tide yang dominan mengarah ke utara dan selatan serta kondisi sedimen dasar perairan yang didominasi oleh Lanau dan Lempung. Hubungan dari batimetri, arus dan sedimen dasar laut yaitu arus yang lemah pada dasar membawa sedimen yang tersuspensi dalam bentuk Lempung dan Lanau hampir pada seluruh daerah yang diteliti dan arus yang kuat pada permukaan menyebarkan pasir secara luas hampir diseluruh wilayah yang diteliti.

Kata kunci: Perairan Lampung Timur, batimetri, arus, sedimen
East Lampung waters are areas with high utilization conditions in Lampung Province where there are some important utiliztion i.e a harbors, area of fisheries, aquaculture regions and the use industrial fields. Parameters were studied to improve the management of waters of East Lampung are bathymetry, currents and sediment data retrieval using acoustic instruments and sediment sampler and tidal conditions were obtained from previous studies to support the research. The method used was survey method and descriptive with taking the station using purposive sampling method. Based on the observations made in 2013 and 2014 found that the results analysis spatially of East Lampung waters bathymetric conditions are shallow water depth with changes ramps of depth, a weak flow currents velocity in the bottom and high velocity on the surface is affected by the spring tide and neap tide dominant leading north and south as well as the condition of the bottom sediments were dominated by clay, sand and silt. The relationship of bathymetry, currents and seabed sediments that weak currents in the bottom carry sediment suspended solid in the form of clay and silt almost all studied area and high velocity on the surface spread sands widely in nearly all studied areas.

Keywords: East Lampung waters, bathymetry, currents, sediment
1027610000C1A010055KONTRIBUSI LEMBAGA KEUANGAN MIKRO TERHADAP PENDAPATAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH (UMKM) DI KECAMATAN KESUGIHAN KABUPATEN CILACAPujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kontribusi lembaga keuangan mikro (LKM) dalam mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah dan untuk mengetahui jumlah pendapatan sebelum dan setelah mengambil kredit dari LKM. Hasil analisis tabulasi menunjukkan bahwa kontribusi LKM adalah 20.30 persen, namun jika dilihat dari kontribusi LKM untuk setiap UMKM 28 responden yang kontribusi besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah mengambil pendapatan kredit lebih besar dari laba sebelum mengambil Kredi di LKM.Pendapatan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) meningkat sejak mereka mengambil kredit dari Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Namun, kontribusi LKM untuk pengembangan UMKM masih kecil, perlu untuk meningkatkan kualitas LKM dan sosialisasi kepada UMKM untuk memaksimalkan manfaat dari kredit. Pemerintah juga diharapkan dapat berperan dalam memberikan pelatihan manajemen bagi UMKM untuk mengembangkan usahanya sehingga produk yang dihasilkan lebih berkualitas UMKM sehingga dapat meningkatkan pendapatan.The purpose of this study was to determine the contribution of microfinance institutions (MFIs) in developing micro, small, and medium enterprise and to know the amount of income before and after taking credit from MFIs. The results of the tabulation analysis showed that the contribution of MFIs is 20.30 percent, but when seen from the contribution of MFIs for each MSMEs 28 respondent were major contribution. The results showed that after taking credit income is greater than the income before taking Kredi in MFIs.Income of Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) increased since they take credit from Micro Finance Institutions (MFIs). However, the contribution of MFIs for the development of MSMEs is still small, it is necessary to improve the quality of MFIs and dissemination to MSMEs to maximize the benefits of the credit. The government also expected to play a role in providing management training for MSMEs to develop their business so that the resulting product is more qualified MSMEs so as to increase revenue.
102779997B1J009132KELIMPAHAN DAN DISTRIBUSI CHLOROPHYTA DI PERAIRAN WADUK P. B. SOEDIRMAN KABUPATEN BANJARNEGARAChlorophyta merupakan alga hijau bersel tunggal ada pula yang bersel banyak berbentuk benang, lembaran atau membentuk koloni yang terapung atau terikat. Chlorophyta memiliki dinding sel yang mengandung selulosa sebagai struktur polisakarida utama. Cadangan makanan berupa karbohidrat dalam bentuk tepung dan protein. Kelompok alga yang paling banyak ditemukan di air tawar dan hanya sebagian kecil yang hidup di laut adalah Chlorophyta, tetapi mengenai pola penyebaran Chlorophyta masih sangat jarang diketahui oleh para pengelola yang berkaitan. Kelimpahan Chlorophyta di perairan Waduk P. B. Soedirman berkisar antara 696 ind/l - 2.631 ind/l dengan jumlah 62 spesies dan jumlah rata-rata 2130 ind/l. Spesies Chlorophyta yang paling melimpah selama penelitian adalah Elakatothrix viridis (9,97%), Mougeotia sp. (7,39%), Coelastrum sp. (5,91%), Monoraphidium contortum (5,17%), dan Monoraphidium griffithii (4,43%). Berdasarkan analisis distribusi Poisson didapatkan pola distribusi Chlorophyta untuk setiap spesies Chlorophyta terdistribusi mengelompok dengan nilai varinsi tertinggi pada Monoraphidium griffithii diikuti Elakatothrix viridis, Monoraphidium contortum, Mougeotia sp., dan Closterium gracile.Chlorophyta is a single-cell green algae that have multicellular forms such as filament, sheets, or colonies that be floating algae or attached algae. Chlorophyta have cell-wall that containing of cellulose as the main polysaccharide structure. Algae production has forms in carbohydrates on starch and protein product. The group of algae most commonly found in freshwater and little bit in marine water is Chlorophyta, but the pattern of Chlorophyta spread is rarely known Chlorophyta related managers. Abundance of Chlorophyta in the P. B. Soedirman Reservoir was obtained 696 ind / l -2631 ind / l were 62 species with an average number 2.130 ind/ l. Chlorophyta species are most abundant in this study is (9.97%) Elakatothrix viridis, Mougeotia sp. (7.39%), Coelastrum sp. (5.91%), Monoraphidium contortum (5.17%), and Monoraphidium griffithii (4.43%). Based on analysis of distribution Poisson obtained pattern distribution Chlorophyta to any species Chlorophyta distributed show clumped with the highest variance is Monoraphidium griffithii and than Elakatothrix viridis, Monoraphidium contortum, Mougeotia sp., and Closterium gracile.

1027810003E1A010038PERSEPSI PENEGAK HUKUM TERHADAP PECANDU NARKOTIKA DALAM PASAL 54 UNDANG-UNDANG NOMOR 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA (STUDI DI WILAYAH PURWOKERTO DAN SEMARANG) ABSTRAK




Penjatuhan sanksi pidana terhadap pecandu narkotika saat ini banyak menimbulkan persoalan. Belum adanya persamaan persepsi dalam melakukan tindakan rehabilitasi terhadap pecandu narkotika oleh aparat penegak hukum sehingga mengakibatkan pecandu narkotika tidak memperoleh perawatan dan pemulihan kesehatan secara maksimal. Padahal pemberian rehabilitasi kepada pecandu narkotika merupakan hal yang wajib sebagaimana diatur dalam pasal 54 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi penegak hukum terhadap pecandu narkotika dalam Pasal 54 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dan untuk mengetahui dasar pemikiran dari penegak hukum terhadap tujuan pecandu narkotika yang wajib di rehabilitasi dalam Pasal 54 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.
Metode pendekatan dalam penelitian ini adalah yuridis sosiologis dengan spesifikasi penelitian deskriptif. Lokasi penelitian dilakukan di Purwokerto dan Semarang. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara untuk mendapatkan data primer dan studi pustaka terhadap data sekunder. Data-data yang diperoleh dalam disajikan dalam bentuk matriks dan teks naratif yang disusun secara sistematis. Metode analisis data yang digunakan yaitu kualitatif.
Hasil penelitian menunjukan beberapa hal. Pertama, persepsi penegak hukum di wilayah Purwokerto dan Semarang mengenai pecandu narkotika terdapat kesamaan pemahaman, namun masih ada penegak hukum yang terlalu formalistik dalam menangani kasus pecandu narkotika. Kedua, Dasar pemikiran penegak hukum di Purwokerto dan Semarang mengenai pecandu dalam Pasal 54 Undang-Undang No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika bahwa dilakukannya rehabilitasi dimaksud untuk menyelamatkan kesehatan pecandu narkotika dan melindungi masyarakat dari bahaya narkotika serta untuk mengurangi over capacity di Lapas.




Kata Kunci : Narkotika, Pecandu Narkotika, Penegak Hukum, Rehabilitasi.


ABSTRACT





Nowadays there are many problem appear about criminal sanction towards narcotic addicts. There is no similarity perception on rehabilitate narcotic addicts by law enforcement , it makes narcotic addicts didn’t get maximum treatment and health recovery. Rehabilitation sanction towards narcotic addicts is an obligation which regulated on Laws Number 35 year 2009 about narcotics.
The goal of this research is to know the perceptions of law enforcements toward narcotic addict on article 54 UU No. 35 year 2009 about narcotics and to know the rational of law enforcement towards the goal of narcotic addicts who have to rehabilitate which regulated on article 54 UU No. 35 year 2009 about narcotics.
Approach method of this research is juridic sociologic, the specification of this research is descriptive. The located of research in Purwokerto and Semarang. Method to collected data is interview to get primary data and literature towards secondary data. Data lied on matrix and narrative text systematically. Data analyze by qualitative.
The result of this research showed some result. First, the similarity perception of law enforcement in Purwokerto and Semarang about narcotic addict, but there is still law enforcement doing formalistic on handled narcotic addicts. Second, the rational of law enforcement in Purwokerto and Semarang towards Addicts have to rehabilitate which regulated on article 54 UU No. 35 year 2009 about narcotics is to save the health of narcotic addict and to protect civilian from the dangerous of narcotics to decrease over capacity in prison.


Key word : Narcotic, narcotic addict, law enforcement, rehabilitation .
1027910901H1L009030RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN JARINGAN GERAI HANDPHONE BERBASIS WEBRancang Bangun Sistem Informasi Manajemen Jaringan Gerai Handphone Berbasis Web merupakan sebuah sistem yang ditujukan untuk mengelola gerai handphone yang memiliki cabang lebih dari satu. Sistem ini dapat mengelola kebutuhan informasi gerai handphone yaitu informasi tentang pengguna sistem, barang, pulsa, distributor, ataupun cabang gerai handphone lainnya. Sistem informasi manajemen jaringan gerai handphone dibangun dengan menggunakan metode Waterfall dan Yii Framework sebagai framework-nya. Sistem yang dibangun ini mempunyai tiga aktor didalamnya, yaitu Owner, Admin dan User. Sistem ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk para pemilik gerai handphone yang memiliki cabang lebih dari satu agar lebih mudah pengelolaanya.Design Management Information System Web-based of Mobile Phone Network Outlet is a system which is intended to manage mobile phone outlet that have more than one branch. The system can manage the needs of information outlet, which are information about user of the system, goods, pulse, distributor, or other outlets branch. Management information system of mobile phone network outlet is built using Waterfall and Yii framework as it’s framework. This system has three actors, namely Owner, Admin and User. This system is expected to be one of solutions to the owners of mobile phone outlets that have more than one branch in order to easier manage them.
1028010902F1C010018Analisis Resepsi Tentang Social Climber dalam Serial Televisi Gosip GirlABSTRAK
Universitas Jenderal Soedirman
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Analisis Resepsi Tentang Social Climber dalam Serial Televisi Gossip Girl
Skripsi Jurusan Ilmu Komunikasi
Muftia Oktavialih (F1C010018)
xvii+145+1Lamp+12Gbr+20Tab

Penelitian ini mengambil judul Analisis Resepsi Tentang Social Climber dalam Serial Televisi Gossip Girl. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui resepsi audiens terhadap social climber dalam tayangan serial televisi Gossip Girl.
Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis resepsi. Analisis resepsi dilakukan dengan menganalisis tekstual wacana media dan audiens. Pada penelitian ini, analisis tekstual wacana media dilakukan dengan analisis isi kualitatif. Sedangkan, untuk menganalisis wacana audiens, pengumpulan data dilakukan menggunakan dua metode, yaitu Focus Group Discussion (Diskusi Kelompok Terarah) dan In-Depth Interview (Wawancara Mendalam).
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah mayoritas informan, sejumlah 4 orang, tergolong dalam kategori dominant reading, berdasarkan Morley’s Spectrum of Reading. Golongan ini menganggap bahwa social climber merupakan hal yang wajar saja dilakukan oleh seorang individu dengan berbagai macam cara dalam usahanya untuk memperoleh status sosial yang lebih tinggi. Kemudian, sebanyak 2 orang informan termasuk dalam kategori negotiated reading, yaitu, audiens yang menerima teks media namun menegosiasikan interpretasi mereka sesuai dengan latar belakang sosio-kultural mereka. Pada golongan ini, informan menerima makna social climber, namun menurut mereka social climber tidak selalu dikaitkan dengan hal yang negatif. Terakhir, 2 orang informan termasuk dalam kategori oppositional reading, yaitu audiens yang menolak teks media, dalam hal ini adalah mengenai social climber. Pada golongan ini, mereka mempercayai bahwa social climber tidak seperti apa yang digambarkan dalam tayangan serial televisi Gossip Girl. Menurut mereka, social climber bukanlah mereka yang melakukan segala macam cara agar memperoleh status yang lebih tinggi.
ABSTRACT
Jenderal Soedirman University
Social and Political Science Faculty

Reception Analysis Study about Social Climber in Gossip Girl Television Series
Communication Science Major
Muftia Oktavialih (F1C010018)
xvii+145+1Attach+12Pics+20Tab

The title of this research is “Reception Analysis about Social Climber in Gossip Girl”. The purpose of this research is to find out audience reception about social climber in Gossip Girl Television Series.
The method used in this research is reception analysis. Reception analysis is conducted by analyzing both audience and media textual discourse. In this research, the media textual discourse is conducted by qualitative content analysis. Meanwhile, to analyze the audience discourse, the data is obtained by two methods; Focus Group Discussion and In-Depth Interview.
The result shown in this research is, most of the audiences, which are 4 people, are classified to dominant reading category, based on Morley’s Spectrum of Reading. This group assumed that social climber is a natural thing human could possibly do with any way in order to get higher social status. Then, 2 people are classified to negotiated reading category. This category is consisted of audiences that accept what media text offers but they negotiate the meaning based on their socio-cultural background. The audiences in this category consider social climber as something that not always seen as inappropriate things. The oppositional reading category is consisted by the rest of audiences, which are 2 people. These audiences consider social climber as something that they see differently from the television screen to the reality. The social climber that they know is none of the people who will do anything to get higher social status.