Artikelilmiahs
Menampilkan 10.181-10.200 dari 49.002 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 10181 | 9939 | H1H010035 | STUDI EKSPRESI GEN MHC Iα, MHC IIα, DAN DESKRIPSI KONDISI HEMATOLOGIS INDUK NILA MERAH (Oreochromis sp.) YANG TERINFEKSI Streptococcus agalactiae | Streptococcus agalactiae merupakan bakteri yang menyebabkan penyakit streptococcosis, penyakit ini biasa dihadapi oleh pembudidaya dan dapat menyebabkan kematian 80% pada budidaya nila. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kondisi hematologis dan mengetahui tingkat ekpresi gen MHC Iα dan IIα induk nila merah yang terinfeksi S.agalactiae. Induk diinjeksi bakteri S.agalactiae secara intraperitoneal dengan dosis1,5 ml konsentrasi 107 CFU/ml. Induk dipelihara selama 14 hari dan setiap 3 hari sekali dilakukan pengambilan darah untuk analisis hematologis. Sampling organ untuk ekspresi gen dilakukan setiap 3 hari sekali dari ikan mati, sekarat, dan hidup. Hasil penelitian menunjukkan induk nila merah jantan mempunyai jumlah eritrosit relatif lebih stabil jika dibanding dengan induk betina yang menurun selama percobaan. Kadar hemoglobin induk nila jantan dan betina terlihat fluktuatif, kadar tertinggi pada induk jantan 4,8 g/dl dan betina 6,6 g/dl sedangkan kadar terendah induk jantan 2,8 g/dl dan betina 2,8 g/dl. Kadar hematokrit induk nila jantan menurun pada hari ke-9 yaitu 6,6 % sedangkan betina terlihat lebih stabil berkisar 11,2% - 22,7%. Hasil ini menunjukkan bahwa bakteri S.agalactiae yang mempengaruhi beberapa parameter hematologi induk ikan nila. Tidak ada perbedaan dalam tingkat ekspresi MHC 1α antara ikan hidup, sekarat, dan mati. Tingkat ekspresi MHC 2 tidak terdeteksi. | Streptococcus agalactiae is a causative agent of streptococcosis, a common bacterial disease in freshwater aquaculture that could cause 80% of mortality in nile tilapia cultivation. The purpose of this study was to determine the hematological condition and expression level of MHC Iα and IIα genes in rednile tilapia broodstock infected with S.agalactiae. The fish was intraperitoneal injected with 1.5 ml of bacterial suspension of S.agalactiae at a concentration of 107 CFU / ml. The fish was reared for 14 days and every 3 days blood was sampled for haematological analysis. Sampling organ for genes expression was performed every 3 days from death, dying, and life fish Results showed that number of erythrocytes was relatively consistent in male fish and it was decreased in female fish during the experiment. In both male and female fish, hemoglobin level varied , the highest level of the male fish of 4.8 g / dl and female 6.6 g / dl, while the lowest levels of the male fish of 2.8 g / dl and female 2.8 g / dl. Male tilapia hematocrit level decreased at day 9th (6.6%) and it of female tilapia seemed more stable between 11.2% - 22.7%. These results indicated that S. agalactiae might affect several hematological parameters of tilapia broodstock. There was no difference in expression level of MHC 1α between life, moribund, and dead fish. Expression level of MHC IIα was not detected. | |
| 10182 | 9940 | A1C010043 | ANALISIS MARJIN TATANIAGA JAMUR TIRAM PUTIH DI KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS (Studi Kasus pada CV Ono Jamur, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas.) | Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui besarnya marjin tataniaga pada setiap saluran, 2) mengetahui besarnya keuntungan dari harga di tingkat konsumen dan 3) mengetahui besarnya persentase pendapatan yang diperoleh para pelaku tataniaga pada tiap saluran tataniaga. Metode yang digunakan pada penelitian ini ialah metode survei, dengan pemilihan lokasi secara sengaja (purposive). Pengambilan sampel dilakukan dengan metode snowball sampling. Metode analisis data yang digunakan ialah analisis deskriptif, marjin, farmer share dan profit marjin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Marjin total tataniaga saluran 1 yaitu sebesar Rp4.333,33 per kilogram dengan komponen marjin tataniaga CV Ono Jamur sebesar Rp1.000 per kilogram atau 23,07 persen dari marjin total tataniaga pada saluran 1 dan marjin tataniaga distributor sebesar Rp3.333,33 per kilogram atau 76,92 persen dari marjin total tataniaga pada saluran 1. Marjin total tataniaga pada saluran 2 yaitu sebesar Rp5.800 dengan komponen marjin tataniaga CV Ono Jamur sebesar Rp2.000 per kilogram atau 34,48 persen dari marjin total tataniaga pada saluran 2 dan marjin tataniaga pengecer sebesar Rp3.800 per kilogram atau 65,51 persen dari marjin total tataniaga pada saluran 2. Marjin total tataniaga pada saluran 3 yaitu sebesar Rp3.000 per kilogram dengan komponen marjin tataniaga CV Ono Jamur sebesar Rp3.000 per kilogram atau 100 persen dari marjin total tataniaga pada saluran 3. (2) Laba bersih total pada saluran 1 sebesar Rp2.981,93 per kilogram dengan perincian laba bersih CV Ono Jamur pada saluran 1 sebesar Rp573 per kilogram atau 19,22 persen dari laba bersih total saluran 1, laba bersih distributor sebesar Rp2.408,93 per kilogram atau 80,78 persen dari marjin total saluran 1. Laba bersih total pada saluran 2 yaitu sebesar Rp4.665,64 per kilogram dengan perincian laba bersih CV Ono Jamur sebesar Rp1.154 per kilogram atau 24,73 persen dari laba bersih total saluran 2 dan laba bersih pengecer sebesar Rp3.511,64 per kilogram atau 75,27 persen dari laba bersih total saluran 2. Laba bersih total pada saluran 3 yaitu sebesar Rp2.054 per kilogram dengan laba bersih CV Ono Jamur sebesar Rp2.054 per kilogram atau 100 persen dari laba bersih total saluran 3. (3) Profit marjin CV Ono jamur pada saluran 1 sebesar 5,73 persen, pada saluran 2 sebesar 10,49 persen dan pada saluran 3 sebesar 17,14 persen. Profit marjin distributor pada saluran 1 sebesar 17,28 persen dan profit marjin pengecer pada saluran 2 sebesar 23,67 persen. | This research aimed to 1) determine the amount of marketing margin system on each channel, 2) determine the amount of profit from the price at the consumer level and 3) determine the percentage of income earned by businesses in each channel marketing system. The used method in this study was survey method by using the purposive sites selection. The sampling was done with a snowball sampling method. The used data analysis method was descriptive analysis, margin, farmer share, profit margin. The results showed that: (1) the total marketing margin system is equal to channel 1 Rp4.333,33 per kilogram with a margin component CV Ono Jamur Rp1.000 per kilogram or 23,07 percent of the total margin on channel 1 and the margin distributor by Rp3.333,33 per kilogram or 76,92 percent of the total margin on channel 1. The total margin on channel 2 is equal to Rp5.800 to the margin components CV Ono Jamur of Rp2.000 per kilogram or 34,48 percent of the total margin on channel 2 and the retailers margin is Rp 3.800 per kilogram or 65,51 percent of the total margin on channel 2. Total margin on channel 3 is equal to Rp3.000 per kilogram with a margin CV Ono Jamur of Rp3.000 per kilogram or 100 percent of the total margin on channel 3. (2) The total of net profit on channel 1 is Rp2.981,93 per kilogram of the components of net income CV Ono Jamur on channel 1 is Rp573 per kilogram, or 19,22 percent of the total net profit of channel 1, the net profit distributor of Rp2.408,93 per kilogram, or 80,78 percent of the total margin of channel 1. total net profit on channel 2 that is equal to the components of net income Rp4.665,64 CV Ono Jamur of Rp1.154 per kilogram, or 24,73 percent of the total net profit of channel 2, the retailer's net profit amounted to Rp3.511,64 per kilogram or 75,27 percent of the total margin line 2. Total net profit on channel 3 is equal to Rp2.054 with a net income CV Ono Jamur of Rp2.054 per kilogram or 100 percent of the total net profit of channel 3. (3) profit margin CV Ono on channel 1 is 5,73 percent, on channel 2 is 10,49 percent and on channel 3 is 17,14 percent. Profit margin of distributor on channel 1 is 17,28 percent and a profit margin of retailers on channel 2 is 23,67 percent. | |
| 10183 | 9941 | A1C010085 | faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian Kupedes (kredit umum pedesaan) pertanian di wilayah kerja PT. BRI (persero) Tbk. unit Sukadarma kecamatan sukatani kabupaten bekasi | PT. BRI (Persero) Tbk dalam meminimalisir resiko penyaluran kreditnya khususnya Kredit Umum Pedesaan (Kupedes) di bidang pertanian, harus mempunyai keyakinan yang tepat mengenai kemampuan serta kemauan calon debitur dalam melunasi kewajiban kreditnya sesuai kesepakatan yang telah dibuat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui bagaimana karakteristik debitur Kupedes Pertanian, 2) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian Kupedes Pertanian, dan 3) mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap pemberian Kupedes Pertanian. Penelitian dilaksanakan dengan metode sensus sebanyak 44 orang debitur Kupedes Pertanian di wilayah kerja PT. BRI (Persero) Tbk Unit Sukadarma Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi pada bulan Juni 2014. Metode analisis menggunakan analisis faktor dengan bantuan program SPSS 16.0. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 2 komponen faktor yang mempengaruhi pemberian Kupedes Pertanian di BRI Unit Sukadarma yaitu komponen faktor primer dan sekunder. Faktor primer terdiri dari variabel pendapatan utama, volume produksi, dan luas lahan garapan. Sedangkan faktor sekunder terdiri dari variabel pendapatan sampingan, pendidikan informal, dan banyaknya jenis usaha yang dimiliki. Secara berkelompok faktor primer memiliki pengaruh paling dominan, sedangkan secara parsial variabel pendapatan utama memiliki pengaruh paling dominan terhadap pemberian Kupedes Pertanian di BRI Unit Sukadarma. | PT. BRI (Persero) Tbk. in minimizing the risk of lending specially the lending for farming or agriculcure Kupedes, must be really sure about the ability and willingness of the debtor for paying their obligation according to the agreement that has been made. So that, this research aims 1) to know the characteristic of the debtors, 2) to analyzing the factors that influence the giving of Agriculture Kupedes, 3) to know the factors which have strongest influence. The research was conduct on June 2014 by surveying all the debtor or census, that consist of 44 people in the work area of BRI Sukadarma. Analyzing method was using Factors Analyze by SPSS 16.0. The result said that there is 2 component factors that influencing the giving of Farming Kupedes in BRI Sukadarma which is primary factor and secondary factor. Primary factor consist of the main income, the holding capacity of production, and land area of farming. While the secondary factor consist of side income, informal education, and the number of businesses. According to the component factors, primary factor has the strongest influence in this case. Meanwhile partially, the main income has the strongest influence to the giving of Farming Kupedes in BRI Sukadarma. | |
| 10184 | 11324 | H1K008020 | Struktur Komunitas Gastropoda pada Ekosistem Mangrove di Desa Mojo, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah | Ekosistem mangrove memiliki peranan yang penting sebagai habitat Gastropoda. Gastropoda memiliki peranan yang penting didalam rantai makanan ekosistem mangrove. Penelitian ini berjudul Struktur Komunitas Gastropoda pada Ekosistem Mangrove di Desa Mojo, Kec. Ulujami, Kab. Pemalang, Jawa Tengah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui jenis dan kerapatan mangrove serta mengetahui struktur komunitas Gastropoda yang meliputi Kelimpahan, Keanekaragaman, Keseragaman, dan Dominansi. Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode survey. Pengamatan mangrove menggunakan transek kuadrat 10x10 m2 dan pengamatan Gastropoda menggunakan transek 1x1 m2. Hasil penelitian memperlihatkan terdapat 4 jenis mangrove yaitu Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Avicennia marina, dan Avicennia alba. Kondisi ekosistem mangrove termasuk dalam kategori baik dengan kerapatan 1800-2500 ind/ha2. Gastropoda yang ditemukan sebanyak 6 spesies yaitu Cassidula nucleus, Cassidula aurisfelis, Cerithidae anticipata, Cerithidae cingulata, Neritina violacea, dan Littorina undulata. Cassidula nucleus memiliki kelimpahan tertinggi (62 ind/m2) dan kelimpahan terendah yaitu Littorina undulata (14 ind/m2). Keanekaragaman Gastropoda tergolong rendah (0,68-1,55), Keseragaman tergolong tinggi (0,90-0,99), dan Dominansi tergolong rendah karena tidak terdapat spesies yang mendominasi (0,21-0,49). Kondisi ekosistem mangrove di Desa Mojo dilihat dari vegetasi mangrove dan Gastropoda termasuk kategori baik. | Mangrove ecosystem has an important role for Gastropods Habitat. Gastropods it self has important role in food chain for mangrove ecosystem. This research entitled Gastropod Structure Community in Mojo Village, Ulujami sub-district, Pemalang Regency, Central Java. The purpose of this research is to know about the type and density also structure Gastropods community which includes Abundance, Diversity, Similarity, and Dominance. Method which used is using survey method. Mangrove observation using transect squares 10x10 m2 and gastropods observation using transect squares 1x1 m2. The research result showed there are 4 types of mangrove such as Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Avicennia marina, and Avicennia alba. Mangrove ecosystem condition included in good category with densities 1800-2500 ind/ha2. Gastropods which founded are 6 species such as Cassidula nucleus, Cassidula aurisfelis, Cerithidae anticipate, Cerithidae cingulata, Neritina violacea, and Littorina undulata. Cassidula nucleus has the highest abundance (62 ind/m2) and the lowest abudance is Littorina undulata (14 ind/m2). Gastropods diversity classified as low (0,68-1,55), Similarity classified high (0,90-0,99), and Dominance classified low because there is no species which dominate (0,21-0,49). Mangrove ecosystem condition in Mojo village seen from vegetation mangrove and Gastropods included in good Category. | |
| 10185 | 9942 | P2FB11055 | STRATEGI KOMUNIKASI INFORMASI EDUKASI KELUARGA BERENCANA UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI PESERTA KONTRASEPSI METODE OPERASI PRIA DI KECAMATAN SONGGOM KABUPATEN BREBES | Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis penerapan strategi KIE KB kontrasepsi MOP yang dilaksanakan di Kecamatan Songgom Kabupaten Brebes serta faktor-faktor yang mendukung penerapan strategi KIE KB kontrasepsi MOP di kecamatan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dimana pemilihan informan menggunakan tehnik Purposive Sampling. Analisis data yang digunakan adalah metode interaktif yang diperkaya dengan model SWOT. Hasil penelitian strategi KIE KB kontrasepsi MOP yang diterapkan adalah penggunaan jaringan komunikasi yang terbentuk di antara PLKB, Kader KB, Motivator MOP, tokoh masyarakat, tokoh agama dan tenaga medis. | This study aimed to describe and analyze the implementation of the KIE KB strategy of MOP contraception which was implemented in sub-districtof Songgomdistrict of Brebes and the factors that support the implementation of the KIE KB strategy of MOP contraception in this sub-district. This study used descriptive qualitative method in which the informants’selection were using purposive sampling technique. Interactive method is carried out as the data analysis technique enriched by SWOT model. The result of the KIE KB strategy of MOP contraception planning which applied was the use of communication networks formed between field officers, Kader KB, Motivator MOP, community leaders, religious leaders and medical personnel. | |
| 10186 | 11175 | C1A010049 | Return to Scale Usaha Kasur Lantai Di Desa Banjarkerta Kecamatan Karanganyar Kabupaten Purbalingga | Ringkasan Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah skala produksi kasur lantai Di Desa Banjarkerta, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga tergolong dalam constant return to scale, increasing return to scale, atau decreasing return to scale. Faktor-faktor produksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah jumlah tenaga kerja dan bahan baku produksi kasur lantai. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan skunder yang diperoleh dari hasil survei yang dilakukan di Desa Banjarkerta, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga dalam kurun waktu satu bulan. Dari hasil survei tersebut, terdapat 20 pengrajin kasur lantai. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda atau multiple regression yang menggunakan pendekatan fungsi produksi Cobb-Douglas. Variabel ang digunakan sebagai input adalah bahan baku dan tenaga kerja. Hasil dari penelitian ini yaitu besaran nilai return to scale adalah 0,997 atau nilai return to scale < 1, yang artinya produksi kasur lantai di Desa Banjarkerta, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga berada pada kondisi decreasing return to scale. Artinya setiap penambahan input yang dilakukan mengakibatkan perubahan peningkatan output yang tidak menguntungkan. | summary This study is intended to determine whether the scale of production floor mattresses In Banjarkerta village, District Karanganyar Purbalingga classified in constant return to scale, increasing returns to scale, or decreasing returns to scale. Production factors used in this study is the amount of labor and raw materials production floor mattresses. The data used in this study are primary and secondary data obtained from the survey conducted in Banjarkerta Village, District Karanganyar Purbalingga within one month. From the results of the survey, there were 20 craftsmen floor mattresses. The analysis technique used is multiple linear regression analysis or multiple regression were used approach Cobb-Douglas production function. The variables used as inputs are raw materials and labor. Results from this research that the amount of the value of returns to scale is 0,997 or value returns to scale< 1, which means that the production of mattresses on the floor Banjarkerta Village, District Karanganyar Purbalingga in a state of decreasing returns to scale. This means that any additional inputs that do lead to changes in the output increase unprofitable. | |
| 10187 | 11178 | D1E011027 | PENGARUH SUPLEMENTASI TEPUNG KULIT BAWANG PUTIH PADA PAKAN KAMBING YANG TERCUKUPI MINERAL Se, Cr, Zn TERHADAP KADAR PROTEIN DARAH DAN TOTAL BAKTERI SUSU | Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji pengaruh suplementasi tepung kulit bawang putih (Allium sativum) pada pakan kambing yang tercukupi Se, Cr, dan Zn terhadap kadar protein darah dan total bakteri susu. Materi yang digunakan berupa ternak kambing perah Bangsa Jawa Randu laktasi ke dua berjumlah 15 ekor, pakan komplit kambing perah hijauan (PK: 9,05%) dan konsentrat (PK : 19,07%) dengan perbandingan 70:30. Metode penelitian adalah ekperimental secara in-vivo. Perlakuan yang diujicobakan yaitu R0 terdiri atas Pakan kontrol (Hijauan dan Konsentrat perbandingan 70:30). R1 terdiri atas pakan R0 + Tepung kulit bawang putih (Allium sativum) 30 ppm. R2 terdiri atas pakan R1 + Mineral Organik ( Se 0,3 ppm, Cr 1,5 ppm, Zn 40 ppm). Data dianalisis menggunakan analisis variansi dilanjutkan uji LSD. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap penurunan total bakteri susu (P<0,05). Analisis menggunakan uji lanjut LSD menunjukan adanya perbedaan antar perlakuan R0 dengan perlakuan R1 dan R2, namun perlakuan R1 dan R2 tidak ada perbedaan yang nyata. Hasil rataan berturut-turut adalah 2,082 x 105 (R0), 0,9000 x 105 (R1), dan 0,9950 x 105 (R2). Perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kadar protein darah, tetapi kadar protein darah ternak masih dalam taraf normal dengan rataan berturut-turut 6,8680 mg/dl (R0), 6,6280 mg/dl (R1), dan 6,3920 mg/dl (R2). Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa suplementasi tepung kulit bawang putih (Allium sativum) pada pakan kambing perah secara in-vivo (hijauan 70% dan konsentrat 30%) menurunkan kadar total bakteri dalam susu kambing. Penambahan mineral mikro (0,3 ppm Selenium + 1,5 ppm Chromium + 40 ppm Zink-lysinat) pada pakan kambing yang tersuplementasi tepung kulit bawang putih 30 ppm tidak memberikan pengaruh dalam total bakteri susu. Pemberian tepung kulit bawang putih dan mineral organik pada pakan kambing tidak memberikan pengaruh terhadap kadar protein darah. | The purpose of this research was to examine the effects of supplementation garlic husk flour (Allium sativum) in feed of goat adequated with Se, Cr, and Zn on blood protein levels and total bacteria in milk. The materials used in the research were 15 Jawa Randu dairy goats of second lactation, complete feed of dairy goats forage (CP: 9.05%) and concentrates (CP: 19,07%) given with a comparison of 70: 30. The research method was experimental by in-vivo. The treatments tested were R0 consisted of control feed (forage and concentrates with comparison of 70:30). R1 consisted of R0 + Garlic husk flour (Allium sativum) 30 ppm. R2 consisted of R1 + Organic Minerals (Se of 0.3 ppm, Cr to 1.5 ppm, 40 ppm Zn). The data were analyzed using analysis of variansi and continued with LSD test. The research results showed that there wis a significant effect of the treatments on bacteria in milk (P < 0.05). While the analysis using advanced Test of LSD showed the existence of a difference between the treatment of controls feed (R0) with the treatments of R1 and R2, but between the treatments of R1 and R2, there was no noticeable differences. The mean results were 2,082 x 105 (R0), 0,9000 x 105 (R1), dan 0,9950 x 105 (R2). The treatments had no significant effect (P > 0.05) on protein levels of the blood, but livestock blood protein were still in normal levels with the results 6,8680 mg/dl (R0), 6,6280 mg/dl (R1), dan 6,3920 mg/dl (R2). From result of this study we conclude, the supplementation of garlic husk flour (Allium sativum) in feed of goat by in-vivo (forage 70% and concentrate 30%) lowers the levels of total bacteria in goat milk. The addition of micro minerals (0.3 ppm Selenium + 1.5 ppm Chromium + 40 ppm Zinc-lysinat) on the goat feed supplemented with 30 ppm garlic husk flour does not influence the total bacteria in milk. Giving garlic husk flour and organic minerals in goat feed does not give any effect on the blood protein levels. | |
| 10188 | 9943 | A1G010012 | NILAI TAMBAH SINGKONG UNTUK PEMBUATAN TAPIOKA DIPABRIK SINGKONG JAYA DESA KARANGGINTUNG KECAMATAN GANDRUNGMANGU KABUPATEN CILACAP | abstrak Indonesia merupakan negara yang mempunyai potensi yang besar dalam bidang pertanian, salah satunya adalah pertanian singkong. Singkong atau ubi kayu merupakan salah satu tanaman pangan yang dapat dijadikan berbagai macam bahan makan olahan dan bahan baku industri. Industri tepung tapioka menggunakan singkong sebagai bahan baku yang dapat memberikan nilai tambah sebagai salah satu tolak ukur yang digunakan oleh pemerintah Indonesia dalam menilai kinerja industri. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui besarnya biaya dan pendapatan pada produksi tapioka dan mengetahui besarnya nilai tambah pada industri pengolahan tapioka di Pabrik Singkong Jaya Desa Karanggintung Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap. Metode penelitian dilakukan dengan tiga pendekatan, yaitu observasi langsung, survei dan pencatatan. Alat analisis yang digunakan adalah analisis nilai tambah metode Hayami. Hasil penelitian menunjukan bahwa biaya total yang digunakan pada produksi tapioka di Pabrik Singkong Jaya Desa Karanggintung Kecamatan Gandrumangu Kabupaten Cilacap sebesar Rp. 211.950.600,- per tahun, yang terdiri atas pengeluaran bahan baku Rp. 179.787.000,- dan biaya tenaga kerja dan biaya lainnya Rp. 32.163.600,-. Penerimaan rata-rata Rp. 315.785.300,- per tahun, yang terdiri atas produk utama Rp. 287.138.300,- per tahun dan produk sampingan (onggok) Rp. 29.343.500,- per tahun. Pendapatan total yang diterima Pabrik Singkong Jaya sebesar Rp. 103.834.700,- per tahun. Industri tapioka di Pabrik Singkong Jaya mampu memberikan nilai tambah buat singkong rata-rata Rp. 4.338,- per kg. Nilai tambah ini terdiri atas pendapatan tenaga kerja Rp. 832,- dan keuntungan Rp. 3.506,-. Rasio nilai tambah rata-rata 32,87%, artinya Rp 1.426,- nilai output total per kg merupakan 32,87% dari nilai tambah dari pengolahan produk industri tapioka di Pabrik Singkong Jaya. Kata kunci : singkong, tapioka, biaya total, pendapatan, nilai tambah | Indonesia is a country which has a great potential in the agriculture, one of them is a cassava farm. Cassava or manioc is one of the crops that can be used as a wide variety for basic ingredients of processed food and industrial. Tapioca flour industry using cassava as basic ingredients that can provide value-added which used for measurement by the Indonesian government to assessing the performance of the industry. The purpose of this research were to determine the amount of costs and revenues in the production of tapioca flour and the value-added rate in the tapioca industry at Singkong Jaya Factory, Karanggintung Vilages, Gandrungmangu District, Cilacap Regency. The method that used in this research were done by three approaches, ie. direct observation, survey and recording. The analytical tool that used in this research was Hayami’s value-added method of analysis. The results showed that the total costs used in the production of tapioca in Singkong Jaya Factory, Karanggintung Village, Gandrumangu District, Cilacap Regency are Rp. 211,950,600.- per year, which consists of the feedstock cost at Rp. 179,787,000.- and the labor and other cost at Rp. 32,163,600.-. Average revenues are Rp. 315.785.300.- per year, consists of the main product revenue at Rp. 287,138,300.- per year and the by-product revenue (oilcake) at Rp. 29,343,500.- per year. Total revenue which Singkong Jaya Factory received are Rp. 103.834.700. - per year. Tapioca industry of Singkong Jaya Factory able to provide value-added for the cassava at Rp. 4,338.- per kg. This value-added consists of the labor income at Rp. 832.- and the amount of profit at Rp. 3,506.- The average ratio of value-added is 32.87%, it means, Rp 1.426.- per kg of the output value, are 32.87% of the value-added of product of tapioca industry at Singkong Jaya Factory. Keywords : cassava, tapioca, total costs, revenue, value-added | |
| 10189 | 9944 | A1L010197 | UJI KEMEMPANAN EMPAT ISOLAT JAMUR Trichoderma sp. TERHADAP PENYAKIT LAYU FUSARIUM PADA LADA PERDU (Piper nigrum L.) | Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kemempanan empat isolat Trichoderma sp., menentukan isolat Trichoderma sp. yang paling baik, serta mengetahui pengaruh aplikasi Trichoderma sp. pada pertumbuhan lada perdu. Penelitian dilaksanakan di Screen House dan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman dengan ketinggian tempat 110 m dpl pada bulan April - Juni 2014. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan 15 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan terdiri atas: kontrol; fungisida berbahan aktif propineb 70%; Trichoderma sp. isolat jahe; nenas; pisang; bawang merah; kombinasi Trichoderma sp. isolat jahe dan nenas; jahe dan pisang; jahe dan bawang merah; nenas dan pisang; nenas dan bawang merah; pisang dan bawang merah; jahe, nenas dan pisang; jahe, nenas dan bawang merah; nenas, pisang dan bawang merah; serta jahe, nenas, pisang dan bawang merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat isolat Trichoderma sp. efektif menekan intensitas penyakit layu fusarium pada lada perdu dengan tingkat kemempanan isolat nenas sebesar 54,50%; isolat jahe sebesar 48,00% dan isolat bawang merah sebesar 44,94%; isolat pisang sebesar 11,58%. Isolat terbaik dalam menekan intensitas penyakit layu fusarium adalah kombinasi isolat Trichoderma sp. pisang + bawang merah dengan tingkat kemempanan 56,61%. Perlakuan menggunakan kombinasi isolat Trichoderma sp. pisang + bawang merah efektif meningkatkan bobot tanaman segar sebesar 81,20%; tinggi tanaman sebesar 79,25%; jumlah daun sebesar 78,00%; bobot tanaman kering sebesar 68,24%; bobot akar kering sebesar 62,00%; bobot akar segar sebesar 37,20%. | A research aimed at knowing the effectivenes of four Trichoderma isolates obtaining the best Trichoderm isolate, and knowing the effect of Trichoderma aplication on paper growth. The research was carried out from April up to June 2014 at the screen house and the Laboratory of Plant Protection Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto, with altitude of 110 m above sea level and with alluvial soil. Randomized block design was weed with 15 treatments and 4 replicates. The treatments tested were, control, fungicides with active ingredient of propineb 70%; Trichoderma sp. ginger; pineapple; banana; shallot; combination beetwen. ginger and pineapple; ginger and banana; ginger and shallots; pineapple and bananas; pineapple and shallot; bananas and shallot; ginger, pineapple and banana; ginger, pineapple and shallot; pineapple, banana and shallot; ginger, pineapple, banana and shallot isolates. Variables observed included incubation period, disease intensity, late density of the pathogen, crop height, number of leaves, crop fresh weight, crop dry weight, root fresh weight, root dry weight, and analysis of phenolic compound qualitative. Results of the research showed that the four Trichoderma sp. isolates suppressed effectively the deases intensity with the effectivenes of pineapple, ginger, shallot, and banana isolates as 54.50, 48.00, 44.94, and 11.58%, respectively. The best isolate to suppress the disease was combination of banana and shallot isolates with effectivnes of 56.61%. The application of banana and shallot isolates combination could increase effectively crop fresh weight, crop height, number of leaves, crop dry weight, root dry weight, and root fresh weight as 81.20, 79.25, 78.00, 68.24, 62.00, and 37.20%, respectively. | |
| 10190 | 9945 | A1L009032 | PENGARUH FORMULA LARUTAN HARA DAN UKURAN NOZZLE TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL UMBI DUA VARIETAS KENTANG PADA PEMBIBITAN DALAM SISTEM AEROPONIK | Penelitian ini mengkaji tentang pengaruh formula larutan hara dan ukuran nozzle terhadap pertumbuhan dan hasil umbi dua varietas kentang pada pembibitan dalam sistem aeroponik. Penelitian dilaksanakan di Desa Grogol, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Mei sampai bulan Juli 2012. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan tiga kali ulangan. Faktor yang diteliti terdiri atas kombinasi formula larutan hara dengan ukuran nozzle (FN), dan varietas (V). Variabel yang diamati terdiri atas komponen pertumbuhan dan hasil. Hasil penelitian menunjukkan, bobot umbi tertinggi dicapai dengan perlakuan antara kombinasi pemberian formula vegetatif secara terus menerus dan ukuran nozzle dengan pancaran tinggi dan diameter pancaran yang lebar pada varietas Granola yaitu sebesar 11.58 g per rumpun. Sementara itu, jumlah umbi terbanyak dicapai dengan kombinasi antara pemberian formula vegetatif secara terus menerus dan ukuran nozzle dengan pancaran tinggi dan diameter yang lebar pada varietas Atlantic menghasilkan jumlah umbi terbanyak yaitu 25.93 buah per rumpun. Tinggi tanaman tertinggi pada umur 24 hst dan 36 hst dicapai dengan perlakuan antara kombinasi pemberian formula vegetatif secara terus menerus dan ukuran nozzle dengan pancaran tinggi dan diameter pancaran yang lebar pada varietas Atlantic yaitu 28.57 cm per rumun dan 37.57 cm per rumpun. Jumlah daun terbanyak pada umur 24 hst dicapai dengan perlakuan antara kombinasi pemberian formula vegetatif secara terus menerus dan ukuran nozzle dengan pancaran tinggi dan diameter pancaran yang lebar pada varietas Atlantic yaitu sebanyak 31.73 helai per rumpun. | The experiment about the effect of nutrient solution formula and nozzle size on growth and tuber results in two varieties of potato breending in aeroponic systems.The research was carried out in Grogol village, District Pejawaran, Banjarnegara district. The research began on May until July 2012. Experiment arranged in a Randomized Block Design Complete (RCBD) with three replications. The factors of study consisted of combination of nutrient solution formula (F), and size of the nozzle (N) with varieties (V). Variable are included observed growth and crop yield component. The result showed, weights tuber highest attainable with treatment between combination granting formula vegetative sustainably and size nozzle with the height and diameter of a wide variety as that of granola 11.58 g per clump. Meanwhile, the tuber most achieved by the combination of granting formula vegetative sustainably and size nozzle with the height and diameter of a wide variety atlantic produce sum tuber most namely 25.93 fruit per clump. Tall plant highest at the age of 24 hst and 36 hst achieved by treatment between combination granting formula vegetative sustainably and size nozzle with height and diameter of a wide variety in atlantic namely. 28.57 centimeter per clump and 37.57 centimeter per clump. Most number of leaves at the age of 24 hst achieved by treatment between combination granting formula vegetative sustainably and with size nozzle with height and diameter of a wide variety in atlantic 31.73 strands per clump. | |
| 10191 | 9946 | A1C009030 | Kajian Efisiensi Pemasaran Telur Ayam Buras pada Kelompok Wanita Tani Ternak Wanita Karya Desa Karanggude Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas | ABSTRAK KWTT Wanita Karya adalah kelompok wanita di Desa Karanggude Kecamatan Karanglewas yang membudidayakan ayam buras. Produksi utama KWTT Wanita Karya adalah telur ayam konsumsi. Sifat permintaan telur ayam adalah income elastic demand, yang berarti bila pendapatan penduduk meningkat maka konsumsi telur ayam juga meningkat. Peningkatan permintaan harus didukung dengan saluran pemasaran yang tepat. Pemasaran telur ayam yang dilakukan oleh peternak biasanya melalui berbagai lembaga pemasaran agar produk telur ayam sampai ke tangan konsumen. Proses pemasaran memerlukan biaya untuk melakukan fungsi-fungsi pemasaran. Hal ini perlu adanya perhatian masalah efisiensi pemasaran agar telur ayam sampai di tangan konsumen dengan harga yang wajar dan lembaga pemasaran yang terlibat masih mampu menjalankan fungsi pemasaran secara baik. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui besarnya marjin pemasaran telur ayam pada setiap saluran pemasaran, 2) mengetahui besarnya profit margin, 3) mengetahui besarnya farmer’s share, dan 4) mengetahui saluran manakah yang paling efisien secara teknis dan ekonomis. Penelitian dilaksanakan di KWTT Wanita Karya, Desa Karanggude, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas pada bulan April-Mei 2014. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan studi kasus. Sasaran penelitian ini adalah anggota KWTT dan lembaga pemasaran telur ayam buras. Responden pada penelitian ini adalah anggota KWTT dan pedagang pengecer. Analisis yang digunakan adalah analisis marjin pemasaran, profit margin, farmer’s share, dan efisiensi teknis dan ekonomis. Hasil analisis marjin pemasaran, profit margin, farmer’s share, dan efisiensi operasional (teknis dan ekonomis) penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh saluran pemasaran telur di KWTT Wanita Karya dapat dikatakan sudah efisien. Namun yang paling efisien secara efisiensi teknis-ekonomis adalah saluran II (KWTT – Anggota – Konsumen), karena memiliki nilai indeks efisiensi terkecil dan nilai indeks ekonomi terbesar. Meskipun begitu, KWTT tidak bisa dengan mudah menggunakan saluran II karena keterbatasan daya jual saluran II saat ini hanya sekitar 17% dari total produksi harian serta kontinyunitas pemasarannya masih rendah dan tidak terjamin. Kata kunci: efisiensi pemasaran, telur ayam buras, | ABSTRACT KWTT Wanita Karya is a group of women in Karanggude village, sub-district of Karanglewas which breed free-range chicken. The KWTT’s main products is chicken egg consumption. The character of demand for chicken eggs is income elastic demand, which means that when the incomes of the population increases, the consumption of chicken eggs also increased. Increased demand should be supported by appropriate marketing channels. Marketing chicken eggs are usually carried out by farmers through various marketing agencies that chicken egg product reaches the consumer. The process of marketing need costs to perform marketing functions, then requires attention about the marketing efficiency issues so that egg up to the consumers with reasonable price, and marketing agencies involved are still able to run the marketing function properly. This study aimed to 1) determine the amount of chicken egg marketing margin on any marketing channel, 2) determine the amount of profit margin, 3) determine the amount of the farmer's share, and 4) determine which is the most efficient channel is technically and economically. The study was conducted in KWTT Wanita Karya, Karanggude Village, sub-district of Karanglewas, Banyumas in April-May 2014. The research method used was case study. The objective of this study is a member of KWTT and marketing agencies of free-range chicken eggs. Respondents in this study were members of KWTT and retailers. The analysis method is the analysis of marketing margin, profit margin, the farmer's share, and the technical and economic efficiency. The results of the analysis of the marketing margin, profit margin, the farmer's share, and operational efficiency (technical and economic) of this study indicate that all marketing channels eggs in KWTT Women work can be said to have been efficient. However, the most efficient technical- conomic efficiency is the channel II (KWTT - Member - Consumers). Second marketing channels is the most eficien of all because its have the smallest technical efficiency index and the biggest economical efficiency index. However, KWTT can not easily use the second channel because of limited marketability of the second channel is currently only about 17% of the total daily production and marketing of continuity is still low and is not guaranteed. Keywords: marketing efficiency, free-range chicken eggs, | |
| 10192 | 9947 | A1H009071 | MODEL PERTUMBUHAN TANAMAN KENTANG ATLANTIK SKALA DEMPLOT DENGAN VARIASI JENIS PUPUK DAN DOSIS ARANG | Pertumbuhan dan perkembangan tanaman dipengaruhi oleh banyak faktor dan merupakan sistem yang sangat kompleks menyangkut tanah, tanaman serta atmosfer. Oleh sebab itu, untuk memahami proses yang komplek tersebut, dibutuhkan penyederhanaan sistem tersebut agar dapat memahaminya antara lain melalui penyusunan model simulasi pertanian. Tujuan dari penelitian ini antara lain: (1) Mengembangkan model pertumbuhan dan perkembangan tanaman kentang. (2) Mengetahui respon hasil tanaman terhadap kekurangan air. Penelitian ini menggunakan metode analisis sistem atau model simulasi tanaman yang didukung percobaan lapang. Perlakuan yang dicobakan pada penelitian ini dibedakan berdasarkan komposisi media tanam yang digunakan, yaitu pada perbedaan pupuk (organik dan anorganik), jenis arang (arang kayu dan arang sekam) dan dosis arang (5 ton/ha dan 10 ton/ha). Jumlah total unit percobaan ada 10 perlakuan. Setiap plot perlakuan terdiri dari 20 tanaman, sehingga total tanaman ada 200 tanaman. Variabel yang diamati adalah variabel pertumbuhan, variabel hasil benih kentang serta variabel iklim. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertumbuhan dan perkembangan tanaman kentang pada perlakuan pupuk dapat dimodelkan berdasarkan nilai ILD dengan nilai error (RMSE) 0,25 pada perlakuan pupuk organik dan 0,37 pada perlakuan pupuk anorganik. Potensi kehilangan hasil dapat diprediksi berdasarkan perubahan nilai rasio evapotranspirasi aktual dan maksimum (Eta/Etm) serta faktor respon hasil (Ky) dimana nilainya rata-rata 1,08 pada perlakuan pupuk organik dan 1,04 pada perlakuan pupuk anorganik, ini berarti tanaman kentang tidak tahan terhadap defisit air atau sensitif terhadap kekurangan air. | Plant growth and development are influenced by many factors and is a very complex system involving soil, plant, and atmosphere. To understand the complex process, therefore it requires the simplification of the system in order to understand it, among others, through the development of a simulation model of agriculture. The aim of this study include: (1) To develop a model of growth and development of the potato plant. (2) To knowing the crop response to water shortages. This study used a method of analysis or simulation model plant system supported field trials. The treatments tested in this study are distinguished based on the composition of growing media used, ie the difference fertilizers (organic and inorganic), type of charcoal (wood charcoal and rice husk) and the dose of charcoal (5 ton / ha and 10 ton / ha). The total number of units there are 10 treatment trials. Each treatment plot consisted of 20 plants, so there are 200 total crop plants. The variables measured were the growth variable, the outcome variable and climatic variables. The results showed that the growth and development for potato plant with fertilizer treatments can be modeled based on the value of the ILD with the error (RMSE) value 0,25 for the treatment of organic fertilizer and 0,37 for the treatment of inorganic fertilizers. Potential yield loss can be predicted based on changes in the value of the ratio of the actual and maximum evapotranspiration (Eta / ETM) as well as the results of the response factor (Ky) where the average value of 1.08 on the treatment of organic fertilizer, and 1.04 in the treatment of inorganic fertilizer, this means potato plants not resistant to water deficit or sensitive to lack of water. | |
| 10193 | 9948 | E1A010210 | PEMBUKTIAN TERHADAP PELAKU PASIF ATAS HARTA KEKAYAAN DALAM TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG (Tinjauan Yuridis Putusan No.603/Pid.Sus/2013/PN.Sda) | Beberapa tahun terakhir ini, sering kita mendengar dalam pemberitaan media-media mengenai tindak pidana pencucian uang yang dilakukan oleh pejabat-pejabat negara atau biasa disebut dengan penjahat kerah putih. Seiring dengan perkembangan, pencucian uang sekarang ini juga sudah dilakukan oleh masyarakat biasa yang bukan berlatar belakang pejabat. Di mana uang hasil dari kejahatan ini selanjutnya disimpan di lembaga keuangan seperti bank. Penyimpanan uang ini bertujuan agar uang hasil dari kejahatan itu menjadi legal. Pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dalam perkembangannya tidak hanya fokus kepada pelaku aktifnya saja, tetapi juga penegakkan hukumnya fokus ke pelaku pasifnya. Penelitian ini bertujuan untuk Untuk mengetahui bagaimana proses pembuktian terhadap pelaku pasif dan Untuk mengetahui gambaran mengenai dasar pertimbangan hukum Hakim dalam membuat Putusan pemidanaan terhadap pelaku pasif. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan Yuridis Normatif dengan cara menelaah bahan pustaka (data sekunder) yang ada. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah normatif kualitatif, yaitu mengolah dan menafsirkan berdasarkan pada putusan maupun perundang-undangan yang berkaitan dengan penelitian. Penelitian yang dilakukan terhadap Putusan No.603/Pid.Sus/2013/PN.Sda diperoleh hasil sebagai berikut : Beban pembuktian terbalik dapat diterapkan kepada pelaku pasif pencucian uang. Terdakwa harusnya mengetahui telah menerima uang transferan dari hasil bisnis narkotika suaminya bersama rekannya yang ditransfer melalui rekening Terdakwa. Sehingga Terdakwa telah melanggar Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang No.8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Kata Kunci : Pembuktian, pelaku pasif, tindak pidana pencucian uang. | These last few years, often we hear in the news about money laundering that committed by state officials or commonly called the white-collar criminals (white collar crime). Nowadays, money laundering has also been done by ordinary people who don’t have a background as state officials. Where the proceeds of crime is then stored in a financial institution such as a bank. Storage of money is intended to make the proceeds of the crime becomes legal. Prevention and combating of money laundering nowadays not only focus on the active actors, but also focus on law inforcement to passive actors. This study aims to determine how the process of proving to the passive actors and to find a description of the legal considerations in making the verdict by judges against passive actors. This study uses normative juridical approach to examine library materials (secondary data) that exist. The method used in this study is a qualitative normative, that is to process and interpret based on decisions and legislation relating to the research. Research conducted on Verdict No.603/Pid.Sus/2013/PN.Sda obtained as follows: The burden of proof can be applied to passive actors of money laundering. The defendant should have known that she had received money transfer from the result of narcotics business of her husband with his colleagues that were transferred through the defendant's account. So that the defendant has violated Article 5 paragraph (1) of the Act 8 of 2010 Concerning the Prevention and Combating of Money Laundering. Keywords: Evidence, passive actors, money laundering. | |
| 10194 | 10892 | C1B011108 | Analisis Pengaruh Profitabilitas, Likuiditas, Kebijakan Dividen, Times Interest Earned dan Total Assets Turnover Terhadap Struktur Modal | Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh Return on Asset (ROA) , Current Ratio, Dividend Payout Ratio (DPR), Times Interest Earned dan Total Assets Turnover terhadap Debt to Equity Ratio (DER) . Populasi penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2011-2013. Metode penelitian ini adalah purposive sampling, dengan total 42 perusahaan manufaktur yang digunakan sebagai data observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda dengan asumsi klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Return on Asset (ROA), Current Ratio, Dividend Payout Ratio (DPR) dan Total Assets Turnover memiliki pengaruh pada Debt to Equity Ratio (DER), sedangkan Times Interest Earned tidak berpengaruh pada Debt to Equity Ratio (DER). | The purpose of this research was to analyze the influence of Return on Assets (ROA), Current Ratio, Dividend Payout Ratio (DPR), Times Interest Earned and Total Assets Turnover towards Debt to Equity Ratio (DER). The population of this research were Manufacturing companies that were listed in Bursa Efek Indonesia (BEI) from 2011-2013. The method of this research was purposive sampling, with a total of 42 manufacturing companies used as an observation data. The technique of data analysis used was linier multiple regression with classical assumption. The results indicated that Return on Assets (ROA), Current Ratio, Dividend Payout Ratio (DPR) and Total Assets Turnover have effects on Debt to Equity Ratio (DER), while Times Interest Earned have no effect on Debt to Equity Ratio (DER). | |
| 10195 | 9954 | A1L109024 | KAJIAN PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PAPRIKA (Capsicum annum L.) DENGAN PEMBERIAN PUPUK KANDANG DAN PUPUK ORGANIK CAIR PADA TANAH ULTISOL | Tanaman paprika (Capsicum annuum L.) merupakan tanaman yang mudah dibudidayakan dan banyak manfaatnya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari pemberian berbagai jenis pupuk kandang, jenis pupuk organik cair, dan kombinasi dari jenis pupuk kandang dan pupuk organik cair yang terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman paprika. Penelitian dilaksanakan di Screen House Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman yang mempunyai ketinggian 110 mdpl. Penelitian dilaksanakan selama 5 bulan pada bulan Februari 2014 sampai bulan Juni 2014. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak kelompok lengkap faktorial yang terdiri atas 12 kombinasi perlakuan yang diulang 3 kali sehingga diperoleh 36 unit percobaan. Setiap unit percobaan terdiri dari 2 tanaman, sehingga jumlah tanaman adalah 72 tanaman. Faktor pertama adalah jenis pupuk kandang yang terdiri dari tanpa pupuk kandang, pupuk kandang ayam, pupuk kandang sapi dan pupuk kandang kambing. Faktor kedua adalah jenis pupuk organik cair yang terdiri dari tanpa pupuk organik cair, pupuk organik cair Herbafarm, pupuk organik cair Suburi. Variabel yang diamati adalah variabel pertumbuhan yang meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot segar dan kering tanaman, bobot segar dan kering akar, sedangkan pada variabel hasil meliputi jumlah bunga pertanaman, jumlah buah pertanaman, persentase bunga jadi, persentase buah jadi, dan bobot segar buah pertanaman. Hasil penelitian menunjukkan pupuk kandang kambing hanya berpengaruh pada pertumbuhan tanaman paprika pada tanah ultisol. Pupuk organik cair Suburi dapat meningkatkan persentase bunga jadi sebesar 19,25% dibandingkan dengan persentase bunga jadi tanaman paprika pada tanah ultisol dengan pupuk organik cair Herbafarm. Tidak terdapat kombinasi terbaik antara jenis pupuk kandang dan pupuk organik cair. | Sweet pepper (Capsicum annuum L.) is a plant that is easily cultivated plants and useful. The research is aimed to determine the effect of giving various types of animal manure fertilizer, liquid organic fertilizer and the combination of the type of animal manure fertilizer and liquid organic fertilizer best in improving growth and yield of sweet pepper. The research was conducted at the Faculty of Agriculture, Screen House of Jendral Soedirman University which altitude of 110 meter above sea level. Research carried out for 5 months in February 2014 to June 2014. The research used an experimental method with a factorial complete randomized block design which consists of 12 treatment combinations were repeated three times in order to obtain 36 experimental units. Each experimental unit consisted of two plants, so that the number of plants are 72 plants. The first factor is the type of animal manure fertilizer consisting of without animal manure fertilizer, chicken manure fertilizer, cow manure fertilizer and goat manure fertilizer. The second factor is the type of liquid organic fertilizer consisting of without liquid organic fertilizer, liquid organic fertilizer Herbafarm, liquid organic fertilizer Suburi. The variables observed were growth in terms of height, amount of leaves, leaf area, fresh and dry weight of plant, fresh and dry root weight, while the outcome variables include the amount of planting flowers, the amount of fruit planting, percentage of flowers, percentage of fruits, and the fresh weight of the fruit planting. The results showed that goat manure fertilizer only affect the growth of sweet peppers in ultisol soil. Liquid organic fertilizer Suburi can increase the percentage of flowers by 19.25% compared to the percentage of flowers the sweet peppers in ultisol soil with liquid organic fertilizer Herbafarm. There is not the best combination of the type of animal manure fertilizer and liquid organic fertilizer. | |
| 10196 | 9949 | A1L010240 | PERBANDINGAN PENAMBAHAN ASAM HUMAT DAN LIMBAH CAIR TAPIOKA TERHADAP SERAPAN P DAN HASIL TANAMAN KEDELAI PADA TANAH ULTISOL | Pelarutan fosfat dalam tanah merupakan salah satu faktor penting agar P dapat diserap tanaman kedelai. Telah diketahui bahwa asam organik dapat meningkatkan kelarutan fosfat dalam tanah. Sumber asam organik yang dapat dimanfaatkan adalah asam humat dan limbah cair tapioka. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menentukan serapan P tertinggi terhadap penambahan asam humat, (2) menentukan serapan P tertinggi terhadap penambahan limbah cair tapioka, serta (3) menentukan dosis asam humat dan limbah cair tapioka optimal untuk memperoleh hasil kedelai yang tinggi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial tidak lengkap dengan lima kali ulangan. Faktor yang dicoba adalah K (tanpa penambahan asam humat dan limbah cair tapioka), A1 (asam humat dosis 15 L/Ha dengan pengenceran 200 kali setara dengan 15 ml/polybag), A2 (asam humat dosis 20 L/Ha dengan pengenceran 200 kali setara dengan 20 ml/polybag), T1 (limbah cair tapioka dosis 5.000 L/Ha setara dengan 25 ml/polybag), dan T2 (limbah cair tapioka dosis 10.000 L/Ha setara dengan 50 ml/polybag). Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan asam humat dan limbah cair tapioka dapat meningkatkan pada semua variabel pengamatan. Limbah cair tapioka dapat menggantikan pemberian asam humat. Aplikasi pemberian asam humat terbaik pada dosis 20 ml/polybag, sedangkan penambahan limbah cair tapioka terbaik pada dosis 50 ml/polybag. | Solubilition of phosphate in soil is a necessary prerequisite for the phosphorous to absorbed by soybean plants. It is well known that organic acids can enhance the solubility of phosphate in the soils. Sources of organic acid that could be used is humat acid and liquid waste of tapioca The purpose of this research is to (1) determine the absorbtion of Phosphorous maximum giving of humic acid, (2) determine the absorbtion of Phosphorous maximum of liquid waste of tapioca, (3) determine dosage humic acid and liquid waste of tapioca. The research used a randomized block design (RBD) factorial non complited with is repeated five times. The factor tried is K (without the provision of humic acid and liquid waste of tapioca), A1 (humic acid dosage of 15 L/ha with dilution 200 times the equivalent of 15 mL/polybag), A2 (humic acid a dose of 20 L/ha with dilution 200 times the equivalent of 20 mL/polybag ), T1 (liquid waste of tapioca doses 5.000 L/ha equivalent of 25 mL/polybag ), and T2 (liquid waste of tapioca doses 10.000 L/ha equivalent of 50 mL/polybag). Results of this research showed that the applied of humic acid liquid and the tapioca liquid can improved in all variable observation. Tapioca liquid of waste can replaced the aplication of humic acid. The best aplication of humic acid at dose of 20 mL/polybag, while the best application of tapioca liquid of waste at a dose of 50 mL/ polybag. | |
| 10197 | 9950 | H1G010038 | LAJU PERTUMBUHAN SOTONG (Sepia aculeata) DI PERAIRAN GEBANG MEKAR, KABUPATEN CIREBON, JAWA BARAT | Penangkapan Sepia aculeata di perairan Gebang Mekar dilakukan dengan menggunakan jaring apollo (mini trawl) yang bersifat tidak selektif. Penelitian tentang laju pertumbuhan diperlukan untuk mengelola S. aculeata agar terjaga kelestariannya. Parameter pertumbuhan dan laju pertumbuhan diperlukan sebagai dasar tindakan pengelolaan sotong secara berkelanjutan. Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui parameter pertumbuhan von Bertalanffy dan laju pertumbuhan S. aculeata. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus dan September di Gebang Mekar, Cirebon, Jawa Barat. Penelitian dilakukan dengan metode survey, pengambilan sampel S. aculeata dilakukan dengan metode simple random sampling. Total jumlah sampel yang diperoleh selama 2 bulan penelitian sebanyak 1200 ekor. Analisis data panjang-berat S. aculeata menggunakan model von Bertalanffy yang diolah dengan bantuan software FISAT II. Hasil penelitian menunjukkan nilai parameter pertumbuhan Von Bertalanffy S. aculeata di perairan Gebang Mekar masing-masing adalah L∞ = 21,12 cm, K = 0,91/tahun, t0 = 0,19 tahun, dan persamaan kurva von Bertalanffy S. aculeata adalah L_t=21,12 {(1-〖exp〗^(-0,91(t-0,19309) )). Laju pertumbuhan S. aculeata di Perairan Gebang Mekar termasuk kategori cepat. | Cuttlefish (Sepia aculeata) in Gebang Mekar adjustment waters has been exploited using un-selective apollo nets (mini trawl). Management and conservation of S. aculeata require information about S.aculeata growth rate. This research aimed to determine growth parameters and von Bertalanffy growth rate of S. aculeata. The study was conducted in August and September at Gebang Mekar, Cirebon, West Java using survey method. Sampling method of S. aculeata was simple random sampling. Total number of 1200 S. acuelata were collected in two months. Length-weight data were analyzed using von Bertalanffy models and processed with software FISAT II. Von Bertalanffy growth parameters of S. aculeata in the Gebang Mekar were L∞ = 21.12 cm, K = 0.91/years, t0 = 0.19 year and similarity curve von Bertalanffy growth of S. aculeate is L_t=21,12 {(1-〖exp〗^(-0,91(t-0,19309) )). Growth rate category of S. aculeate at Gebang Mekar is fast. | |
| 10198 | 9951 | A1C008091 | Kelayakan Usaha Keripik Dampleng di Desa Sirkandi Kecamatan Purwareja Klampok Kabupaten Banjarnegara Feasibility Dampleng Chips in the Sirkandi Village District Purwareja Klampok, Banjarnegara | Industri pengolahan hasil pertanian merupakan salah satu subsektor yang sangat penting untuk dikembangkan sebagai pendukung pembangunan pertanian. Pembuatan keripik dampleng merupakan salah satu usaha pengolahan hasil pertanian, yaitu pengolaha ubikayu untuk menghasilkan suatu produk yang relatif awet dengan tujuan untuk menambah jenis produk yang dihasilkan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui usaha pengolahan keripik dampleng di Desa Sirandi sudah layak untuk diusahakan atau belum. Penelitian dilaksanakan di Desa Sirkandi, Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara, dengan responden perajin keripik dampleng di Desa Sirkandi, dan jumlah sampel yang diteliti adalah sebanyak 12 perajin. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis biaya dan pendapatan, break even point (BEP), dan R/C ratio. Hasil penelitian menunjukan bahwa usaha pengolahan keripik dampleng di Desa Sirkandi sudah layak dan efisien untuk dijalankan. Hal ini dilihat dari besarnya biaya total rata-rata selama satu bulan adalah sebesar Rp1.402.300,00, penerimaan rata-rata sebesar Rp1.507.616,67, pendapatan rata-rata sebesar Rp105.300,00, dan nilai BEP (baik BEP unit maupun BEP rupiah) berada dibawah jumlah produksi dan penerimaan usaha, serta nilai R/C ratio usaha lebih dari 1. | Agro-processing industryis one of themost important sub-sector to be developed as supporting agricultural development. Making dampleng chips is one of the agro-processing enterprises, namely cassava processing to produce a product that is relatively durable with the aim to increase the types of products produced. The study aims to determine the processing chips dampleng in the Sirkandi Village been worth the effort or not. The experiment was conducted in the village of Sirkandi, District Purwareja Klampok, Banjarnegara, with respondents dampleng chips artisans in the Sirkandi Village, and the number of samples studied were as many as 12 craftsmen. Data analysis methods used is the analysis of costs and revenues, the Break Even Point (BEP), and the R/C ratio. The results showed that the processing dampleng chips in the Sirkandi Village is feasible and efficient to run. It is seen from the magnitude of the average total cost for one month is Rp1.402.300,00, receiving an average of Rp1.507.616,67, the average income of Rp105.300,00, and the value of BEP (BEP both units and BEP dollars) is below the amount of the production and reception of business, as well as the value of R/C ratio of more than 1 attempt. | |
| 10199 | 9952 | A1H010050 | KAJIAN KARAKTERISTIK MUTU DAN ANALISIS FINANSIAL PADA PENGGORENGAN KERUPUK UDANG DENGAN MEDIA PASIR MENGGUNAKAN ALAT HSF D-50 (Hot Sand Frier D-50cm). | Kerupuk udang merupakan bahan pangan yang banyak disukai konsumen dengan harga jualnya relatif mahal. Penggorengan kerupuk udang biasanya dilakukan dengan menggunakan minyak goreng. Namun demikian, dalam beberapa tahun terakhir diketahui bahwa penggunaan minyak goreng dapat memberikan dampak buruk terhadap kesehatan manusia. Sehubungan dengan hal itu, penelitian ini difokuskan untuk mengkaji metode penggorengan dengan pasir. Adapun tujuan penelitian ini adalah mengetahui lama waktu proses penggorengan, karakteristik mutu, perubahan kadar air, dan analisis kelayakan usaha penggorengan kerupuk udang dengan media pasir menggunakan alat HSF D-50 (Hot Sand Frier D-50). Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, pada bulan Agustus - Oktober 2014 dengan melakukan penggorengan kerupuk udang pada tiga rentang suhu yang berbeda yaitu 171°C-190°C , 191°C -210°C , dan 211°C -230°C. Variabel pengamatannya adalah lama waktu penggorengan, rasio pengembangan, tingkat kekerasan, perubahan kadar air, uji organoleptik, dan analisis finansial. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil pengamatan variabel berturut-turut untuk tiga rentang suhu yang digunakan adalah 45s, 60s, dan 75s; 5,25; 5,75; dan 6; 0,115 N/mm2; 0,124 N/mm2; dan 0,116 N/mm2; 3,36%(bb); 3,61%(bb); dan 3,51 %(bb). Nilai kadar air kerupuk udang dapat diprediksi dengan menggunakan pemodelan matematik yaitu Mθ = Mi.exp{(-2,49. exp((-2462,3)/Tkelvin).θ)}. Hasil uji organoleptik kerupuk udang pada ketiga rentang suhu adalah warna putih kecokelatan, rasa agak enak - enak, tekstur renyah - sangat renyah, dan agak disukai - disukai oleh panelis. Sedangkan berdasarkan analisis finansial diperoleh nilai BEP 44,11 jam/thn (221,3 kg/thn); 33,4 jam/thn (200,4 kg/thn); dan 22,91 jam/thn (183,3 kg/thn), dengan nilai rasio R/C > 1 (1,264; 1,279; 1,34) sehingga usaha tersebut layak untuk dijalankan. | Shrimp cracker is a food that much liked by consumers and the selling price is relatively expensive. The processing of fried shrimp crackers usually using by cooking oil. But, in recent years are relevealed that, the use of cooking oil can be gived bad effect to human health. To respecting the problem that, This research focused to assess a method of frying pan by sand. The research objective were determine the lenght of frying pan process, caracteristic of quality , and appropriate business of shrimp crackers frying pan with medium sand used a HSF D-50 (Hot Sand Frier D-50). This research on august – october 2014 was done at agricultural technology laboratory, faculty agricultural, Jenderal Soedirman University, Purwokerto, with frying the shrimp crackers on three different range of temperatures are 171°C-190°C , 191°C -210°C, and 211°C -230°C . The research variables included length of frying pan time, ratio of segregation, level of firmness, level of water content, consumers acceptance and financial analysis. It was indicated that for three tempereratures of range were 45s; 60s; and 75s; 5.25; 5.75; and 6; 0.115 N/mm2; 0.124 N/mm2; and 0.116 N/mm2; and 3.36%(bb); 3.61%(bb); and 3.51 %(bb). To predictive value of water content shrimp crackers on frying pan procces with sand can be predicted by mathematic modeling Mθ = Mi.exp{(-2,49. exp((-2462,3)/Tkelvin).θ)}. Organoleptic test for shrimp carcker on three temperatures of range are obtained the white tanned of colour, good taste, crispy to very crispy texture, and enough favored to favored examiners. The result of financial analysis was obtained BEP value 46.11 hour/year (221.3 kg/year); 33.4 hour/year (200.4 kg/year); dan 22.91 hour/year (183.3 kg/year), with value of R/C ratio is > 1 (1.264; 1.279; 1.34), so the effort is appropriate to do. | |
| 10200 | 9643 | H1F010042 | GEOLOGI DAN ANALISIS PENGARUH TINGKAT PELAPUKAN PADA GERAKAN TANAH DAERAH PEKANDANGAN DAN SEKITARNYA, KECAMATAN BANJARMANGU, KABUPATEN BANJARENGARA, JAWA TENGAH | Zona lemah yang didalamnya terdapat bidang gelincir merupakan zonasi yang menjadi penyebab terjadinya longsoran karena pada bidang tersebut terdapat titik lemah pada lereng. Titik- titik tersebut menyatu menjadi suatu bidang gelincir. Zona lemah (weak zone) seringkali menjadi fokus penelitian dalam memprediksi suatu lokasi yang berpotensi longsor, terutama potensi longsoran jenis luncuran (sliding). Fokus penelitian adalah mengenai karakteristik bidang gelincir dan profil hasil pelapukan batuan breksi berumur Quarter (Qjo). Penelitian meliputi dua metode, yaitu metode observasi lapangan dan metode laboratorium. Metode observasi lapangan meliputi kegiatan identifikasi, deskripsi longsoran, dan pengukuran penampang profil tingkat pelapukan. Kegiatan laboratorium meliputi analisis kuat geser dan berat isi tanah untuk menganalisis faktor keamanan di lokasi penelitian. Pada hasil akhir yang merupakan penggabungan antara hasil pelapukan dengan hasil pengamatan bidang gelincir. Hasil penggabungan tersebut memberikan interpretasi mengenai terbentuknya bidang gelincir dikaitkan dengan profil tingkat pelapukan, karakteristik teknik, dan kondisi dinamis yang berperan. Perhitungan faktor keamanan juga dilakukan untuk mengetahui kondisi saat lereng kritis Pada hasil akhir menunjukkan bidang gelincir terdapat pada tingkat pelapukan sedang (moderately weathered). Interpretasi kualitatif dari hasil tersebut adalah terjadinya zona bidang gelincir pada daerah pelapukan sedang dikarenakan pada zona ini merupakan zona yang mempunyai komposisi lempung cukup banyak, kemudian di daerah pelapukan ini terdapat akumulasi air yang tinggi pada saat musim hujan. Akumulasi air tidak dapat menembus litologi breksi segar di bawah lapisan pelapukan sedang karena kondisi lapisan yang kedap air sehingga air akan terkonsentrasi pada lapisan ini. Kata Kunci : longsoran, zona lemah, breksi, bidang gelincir, pelapukan sedang. | Weak zone in which slip zone is exist, causes landslide because there are some points of weak area on slope. The points merges into a slip zone . Weak zone often become focus of research to predict the landslide potential location, especially sliding type of landslide. This research focus on the characteristics of slip zone and the result profile of rock breccia quarter (Qjo) weathering. The study includes two methods, which are field observation method and laboratory method. Field observation method involves identification and description of landslide. then measuring the cross-sectional of weathering level profile. Laboratory activities include analysis of shear strength and unit weight of the soil to analyze the safety factor at the study site. The final result is combination between the weathering result with field observations of slide zone. The combination result provide interpretation of emerging slide zone associated with weathering level profile, technical characteristic, and dynamic condition which has contribution. Safety factor calculation also performed to determine the current condition of critical slopes. The final result showed slip zone exist in moderately weathered. In qualitative interpretation, slip zone exist in moderately weathered because this level has much composition of clay. Also, the accumulation of water in moderately weathered is high during rainy season. Accumulated water can not penetrate fresh breccia lithology below the moderately weathered layer because of impermeable condition so that the water will be concentrated in this layer. Keywords: landslide, weak zone, breccia, slip zone , moderately weathered. |