Artikelilmiahs

Menampilkan 9.061-9.080 dari 48.912 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
906112081A1C010001PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI RUMAH TANGGA EMPING MELINJO DI DESA BINANGUN KECAMATAN BANYUMAS KABUPATEN BANYUMASDesa Binangun adalah salah satu penghasil emping melinjo di Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Profil usaha emping melinjo di Desa Binangun Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas, 2) Analisis usaha finansial industri rumah tangga emping melinjo, 3) Besarnya nilai tambah melinjo setelah diolah menjadi emping melinjo, 4) Prospek pengembangan industri rumah tangga emping melinjo.
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Binangun Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas pada bulan Maret 2015 sampai dengan April 2015. Pengambilan data secara sensus dengan jumlah responden sebanyak 45 orang. Analisis data yang digunakan analisis deskriptif, analisis biaya dan pendapatan, analisis R/C rasio, analisis Break Even Point (BEP), Analisis nilai tambah dan Analisis peramalan.
Hasil penelitian menunjukkan usaha pembuatan emping melinjo di Desa Binangun merupakan kegiatan usaha yang dilakukan sudah sejak tahun 1998 dan masih menggunakan peralatan tradisional. Emping melinjo dijual langsung ke pedagang, warung, pasar, dan konsumen yang datang langsung ke Desa Binangun. Produksi emping melinjo yang dihasilkan pengrajin di Desa Binangun rata-rata setiap bulannya adalah 66,31 kg. Analisis biaya, penerimaan dan pendapatan per bulan pada tahun 2014 menunjukkan bahwa rata-rata biaya sebesar Rp1.305.100,00, penerimaan sebesar Rp1.657.750,00, dan pendapatan sebesar Rp352.650,00. Industri rumah tangga emping melinjo di Desa Binangun layak dikembangkan karena nilai R/C rasio 1,27. BEP produksi 5,02 kilogram dan BEP penerimaan sebesar Rp148.700,00. Nilai tambah setelah diolah menjadi emping melinjo sebesar Rp5.915,73. Usaha emping melinjo di Desa Binangun mempunyai prospek yang baik.
Binangun Village is one of the melinjo chips producer in Banyumas Regency. This research aims to know: 1) Business profil in Binangun Village Banyumas Regency, 2) Analysis of financial businesses from melinjo chips home industry, 3) The value-added melinjo after have been processed into melinjo chips, 4) Expension prospects in melinjo chips home industy.
This research conducted in Binangun Village Banyumas Regency on March 2015 until April 2015. Data have been taken by sensus with 45 respondents. The data analysis used is descriptive analysis, cost and revenue analysis, Break Even Point analysis, the value-added analysis and forecasting analysis.
The result showed the business of chips melinjo in Village Binangun was already exist since 1998 and production activities used traditional equipment. Chips melinjo sold to seller, small hop, market and consumers who come directly to Binangun Village. Every craftsmen in Village Binangun can produce 66,31 kg every month. Cost, revenue and income analysis monthly in 2014 showed the average cost Rp1.305.100,00, revenue Rp1.657.50,00 and income Rp352.650,00. Melinjo chips home industy in Binangun Village already qualified to be operated because the value of R/C ratio is 1,27. BEP production 5,02 kg and BEP revenue Rp148.700,00. The value-added after been processed into melinjo chips Rp5.915,73. Businesses chips melinjo in Binangun Village has great prospect.
906212186A1L011009INDEKS PANEN DAN SISTEM PERAKARAN SEPULUH GALUR PADI TIPE BARU PADA KONDISI LAHAN AEROB DAN ANAEROBPenelitian ini bertujuan untuk: 1) mengkaji pengaruh kondisi lahan aerob dan anaerob terhadap indeks panen dan sistem perakaran sepuluh galur padi tipe baru, 2) mengkaji respon galur padi tipe baru terhadap kondisi lahan aerob dan anaerob, dan 3) mengkaji korelasi antara karakter agronomik dan hasil. Penelitian telah dilaksanakan dengan menggunakan percobaan pot di Screen House, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman selama 6 bulan dari bulan September 2014 hingga Maret 2015. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama yaitu sepuluh galur padi tipe baru. Faktor kedua yaitu kondisi lahan anaerob (A1) dan kondisi lahan aerob (A2). Variabel penelitian yang diamati adalah panjang akar (cm), bobot basah akar (g), volume akar (ml), bobot kering akar (g), bobot kering tajuk (g), bobot gabah per rumpun (g), dan indeks panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Nilai indeks panen tinggi pada kondisi lahan aerob adalah G4 (16-4-3-(6-4-2) dan nilai indeks panen tinggi pada kondisi lahan anaerob adalah G6 (4-4-5-(2-4-5). Sistem perakaran yang menunjukkan daya adaptasi tinggi adalah G3 (5-7-4-3-3). Kondisi lahan anaerob berpengaruh untuk meningkatkan bobot basah akar, volume akar, bobot kering tajuk, dan bobot gabah per rumpun, 2) Respon galur padi tipe baru terhadap kondisi lahan aerob dan anaerob memberikan pengaruh nyata pada bobot kering akar adalah G1 (5-7-3-3-3), G3 (5-7-4-3-3), G7 (16-4-2-(5-4-6), dan G8 (21-4-2-(18-4-2), dan 3) Korelasi antara bobot kering tajuk dan bobot gabah per rumpun, bobot kering akar dan bobot gabah per rumpun, serta volume akar dan bobot gabah per rumpun menunjukkan pengaruh nyata dan positif.This research aimed to: 1) assess the effect of aerobic and anaerobic soil conditions on harvest index and root system of ten lines new-type rice, 2) assess the response of the lines of a new-type rice at aerobic and anaerobic soil conditions, and 3) assess the correlation between agronomic characters and yield. The research has been conducted using pot experiment in Screen House, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, for 6 months start from September 2014 to March 2015. The design of this research was Randomized Block Design Complete (RBCD) with 3 repetitions. The first factor was ten lines of new-type rice. The second factor was anaerobic soil conditions (A1) and aerobic soil conditions (A2). The research variables measured were root length (cm), root-wet weight (g), root volume (ml), root-dry weight (g), canopy-dry weight (g), grain weight per clump (g), and harvest index. The results showed that: 1) The high of harvest index on aerobic soil conditions was G4 (16-4-3-(6-4-2) and the high of harvest index on anaerobic soil conditions was G6 (4-4-5-(2-4-5). The root system with high adaptability was G3 (5-7-4-3-3). Anaerobic soil conditions could increase the root-wet weight, root volume, canopy-dry weight, and grain weight per clump, 2) Response of the lines on aerobic and anaerobic soil conditions that gives significant effect on root dry weight was found in G1 (5-7-3-3-3), G3 (5-7-4-3-3), G7 (16-4-2-(5-4-6), and the G8 (21-4-2-(18-4-2), and 3) Correlations between canopy dry weight and grain weight per clump, root-dry weight and grain weight per clump, as well as root volume and grain weight per clump had shown the significant effect and positive.
90639279C1L010056The Influence of Independence Auditor and Executive Integrity on Corporate Fraud in Chinese listed Companies Penelitian ini menguji pengaruh auditor kemerdekaan sebagai perangkat eksternal tentang pemberantasan kecurangan perusahaan yang dilakukan oleh eksekutif dengan integritas rendah di China yang dikenal memiliki perlindungan investor yang lemah dengan kontrol media yang ketat dan kurangnya penegakan hukum. Studi regresi logistik digunakan untuk mengaitkan korelasi auditor independen, integritas eksekutif dan kecurangan. Studi ini menemukan bahwa tingkat tinggi manipulasi produktif terkait dengan integritas eksekutif rendah dan penipuan perusahaan. Penelitian ini menunjukkan bahwa penerbitan opini audit modifikasi berhubungan positif dengan kurangnya integritas dan kecurangan yang dilakukan oleh integritas eksekutif dapat dicegah dengan penerbitan opini dimodifikasi. Temuan ini memiliki implikasi bahwa auditor independen secara efektif dapat berfungsi sebagai mekanisme peringatan untuk mencegah dan mengekspos eksekutif dengan integritas yang rendah dari melakukan penipuan. Hasil penelitian ini memiliki implikasi kebijakan bahwa pemerintah harus memperkuat kualitas dan independensi profesi audit dalam rangka mewujudkan peran potensial mereka dan nilai sebagai mekanisme governance eksternal dan otoritas tertinggi harus memperkuat penegakan hukum dan perlindungan hukum terhadap investor untuk meningkatkan kinerja tata kelola.This study examines the influence of independence auditor as external device on combating corporate fraud that done by executive with low integrity in Chinese listed companies which is known have weak investor protection with tight of media control and lack legal law enforcement. This study use logistic regression to associate the correlation of independence auditor, executive integrity and fraud. This study finds that the high degree of earning manipulation is associated with the low executive integrity and corporate fraud. This study show that the issuance of modified audit opinion is positively related with the lack of executive integrity and fraud that doing by the lack executive integrity can be prevented by issuance of modified opinion. This finding has implication that independence auditors can effectively serve as warning mechanism to discourage and expose the executive with low integrity from committing fraud. The results of this study have policy implications that the government should strengthen the quality and independence of auditing profession in order to realize their potential role and value as an external governance mechanism and highest authority should strengthen of legal law enforcement and investor protection to improve the governance performance.
90649280B1J007083POPULASI BAKTERI PADA BIOFERTILIZER KOMERSIALPerlu upaya dalam mengembangkan biofertilizer, pupuk anorganik yang telah terbukti memiliki dampak negatif terhadap pencemaran lingkungan antara lain penurunan kesuburan tanah, pencemaran air dan tanah, bahaya residu pestisida, penurunan keanekaragaman hayati dan ketergantungan terhadap sumber energi yang tidak terbarukan. Maka, perlu suatu upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah di atas salah satunya yaitu dengan penggunaan pupuk hayati (biofertilizer) yang diinokulasikan dengan bakteri juga sebagai salah satu teknologi alternatif ramah lingkungan.
Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui jenis bakteri pada biofertilizer komersial; (2) Untuk mengetahui berapa kandungan bakteri pada biofertilizer komersial. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif analitis yang dilakukan di labolatorium mikrobiologi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman untuk penuangan bakteri dan perhitungan jumlah populasi bakteri. Perlakukan terdiri dari lima macam media selektif pertumbuhan bakteri dan pada media NA kemudian dilakukan pengenceran bertingkat, setiap pengenceran digunakan dua cawan petri (duplo). Media selektif yang digunakan adalah: (1) Ashby; (2) Caceres; (3) Kings B; (4) TSA; dan (5) YEMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis-jenis bakteri beserta jumlah yang ditemukan dalam biofertilizer komersial adalah Azospirillum spp., Azotobacter spp., Bacillus spp., Pseudomonas spp., dan Rhizobium spp. Jumlah bakteri biofertilizer komersial yang ditumbuhkan pada media selektif berbeda yaitu media King’s B tumbuh Pseudomonas spp. sejumlah 1,5 x 108 cfu/ml, media Caceres tumbuh Azospirillum spp. sejumlah 1,87 x 108 cfu/ml, media Asbhy tumbuh Azotobacter spp. sejumlah 5,2 X 105 cfu/ml, media TSA tumbuh Bacillus spp. sejumlah 6 x 104 cfu/ml, media YEMA untuk bakteri Rhizobium spp sejumlah. 1,35 x 106 cfu/ml.
Need an attempt to develop biofertilizer, inorganic fertilizers have been shown to have a negative impact on environmental pollution. So, should an attempt was made to solve the above problems one of which is the use of biological fertilizers (biofertilizer).The purpose of this study is (1) To determine the type of bacteria in commercial biofertilizer; (2) To determine how the bacterial content in commercial biofertilizer. Treat consists of five different selective media and bacterial growth media dilution NA then conducted stratified, each dilution used two petri dishes (Duplo). Selective media used were: (1) Ashby; (2) Caceres; (3) Kings B; (4) TSA; and (5) YEMA. Experiments conducted over two days. The results showed that the types of bacteria and the amount that is found in commercial biofertilizer Azospirillum spp., Azotobacter spp., Bacillus spp., Pseudomonas spp., And Rhizobium spp. The number of commercial biofertilizer bacteria grown on different selective media that King's B medium grew Pseudomonas spp. 1.5 x 108 cfu / ml, Caceres growing media Azospirillum spp. 1.87 x 108 cfu / ml, medium Asbhy grown Azotobacter spp. 5.2 X 105 cfu / ml, TSA media to grow Bacillus spp. 6 x 104 cfu / ml, YEMA media for Rhizobium spp. 1.35 x 106 cfu / ml.
90659281H1C007046ANALISIS UNJUK KERJA INTERKONEKSI PLTS DENGAN JALA-JALA LISTRIK SATU FASA MENGGUNAKAN HALF-BRIDGE INVERTER SUMBER TEGANGAN DAN TRAFOPembangkit Listrik Tenaga Surya adalah suatu teknologi pembangkit listrik yang mengkonversikan energi surya menjadi energi listrik dengan menggunakan “Photovoltaic Cell (PV)”. Arus listrik DC (Direct Current) keluaran dari PV diubah menjadi arus listrik AC (Alternating Current) melalui sebuah inverter. Dalam penelitian ini akan dikaji mengenai jenis inverter sumber tegangan / Voltage Source Inverter (VSI) untuk PLTS terhubung jala-jala listrik satu fasa. Melihat cukup pentingnya peran dan keuntungan yang dimiliki inverter sumber tegangan / Voltage Source Inverter (VSI) pada sebuah sistem PLTS, maka sebuah sistem PLTS menggunakan VSI yang terhubung dengan Power Grid diharapkan memberikan kualitas yang baik dari sisi tegangan, arus, faktor daya, harmonisa, dan efisiensi keluaran dari sistem tersebut. Hasil penelitian menunjukan nilai faktor daya yang dihasilkan sebesar 0.989 dengan daya aktif sebesar 609.54 Watt, daya semu sebesar 616.27 VA, dan daya reaktif yang dihasilkan 90.84 VAR. Efisiensi dari sistem didapat sebesar 98.57% pada saat indeks modulasi 1.1. Hal ini menunjukkan tingkat kehandalan yang baik dari sistem.Solar power plant is a power plant technology that convert solar energy into electrical energy by using”Photovoltaic Cell (PV)”. The output DC electric current from PV is converted into AC electric current through an inverter. In this research will be examined about the type of Voltage Source Inverter (VSI) for solar power plant are connected single phase electric networks. Seen enough the importance of the role and advantage possessed the Voltage Source Inverter (VSI) on a solar power plant system, then a solar power plant system using three phase VSI which are connected with the Power Grid is expected to provide a good quality of voltage, current, power factor, harmonic distortion, and the output efficiency of the system. Research results showed the value of a power factor produced 0.989 with active power of 609.54 Watt, apparent power of 616.27 VA, and reactive power produced 90.84 VAR. The efficiency of the system is obtained by 98.57% during the modulation index 1.1. This indicates a good level of reliability of the system.
90669282H1C008065Analisis Perbaikan Rugi Daya Dan Jatuh Tegangan Dengan Metode Pemerataan Beban Pada Jaringan Distribusi 20 kV Feeder 04 Gardu Induk 150 KV Rawalo PT. PLN (persero) APJ Purwokerto.Meningkatnya aktifitas kehidupan masarakat dan bertambah pesatnya alat-alat yang menggunakan energy listrik mengakibatkan penambahan beban pada jaringan listrik. Penambahan beban listrik mengakibatkan adanya perluasan jaringan listrik, semakin panjang jaringan maka konduktor yang digunakan juga akan semakin panjang. Pada sistem distribusi dibedakan atas jaringan primer dan sekunder.Jaringan distribusi primer adalah jaringan dari travo gardu induk ke gardu distribusi lebih dikenal dengan jaringan tegangan menengah (sistem distribusi 20 kV).Sedangkan distribusi sekunder adalah jaringan saluran dari travo gardu distribusi hingga konsumen atau lebih dikenal dengan jaringan tegangan rendah (JTR 220/380 V).Rugi-rugi daya dapat diminimalisir dengan rekonfigurasi jaringan salah satunya dengan metode pemerataan beban yaitu dengan memindah beban dalam hal ini adalah travo distribusi pada fasa beban lebih ke fasa dengan beban sedikit, sehingga beban menjadi seimbang.Berdasarkan hasil analisis dan pemodelan simulasi menggunakan ETAP 7.0.0 setelah dilakukanpemerataan beban, maka didapatkan penurunanrugi daya pada sistem distribusi 20 kV feederRWO 04 dari 262.2 kW menjadi 229,0 kW, selain itu juga menurunkan persentase ketidakseimbangan beban dari 49 % menjadi 1.3 % dimana persentase ketidakseimbangan beban tersebut telah memenuhi standar SPLN 12 : 1978 yaitu perbedaan arus antar fasa tidak >25%.


Increased activity of their community life and the rapid increase tools that use electrical energy resulting in additional load on the power grid. The addition of electrical load resulted in the expansion of the electricity network, the longer the network is used then the conductor will also become longer. In the distribution system divided into primary and sekunder. network primary distribution is a transformer substations to distribution substations, better known by the medium voltage network (20 kV distribution system) .whereas secondary distribution is a channel of distribution transformer substations to consumers or better known the low voltage network (JTR 220/380 V) . power-loss can be minimized with one network reconfiguration with load equalization method is to move the load in this case is the phase distribution transformer load is into phase with the load a little, so that the load becomes balance. Be based results of analysis and simulation modeling using ETAP 7.0.0 after performed equalization load, then obtained decrease in loss power at 20 kV distribution system feeder RWO 04 from 262.2 kW to 229.0 kW, but it also reduced the percentage of load imbalance of 49% to 1.3% where the percentage of load imbalance that meets the standards SPLN 12: 1978 is the difference between the phase currents is not > 25%.

Keywords: repair power loss and voltage drop, 20 kV distribution network, load equalization
906710696D1E010130PENGARUH LAMA PERENDAMAN DALAM AIR KELAPA YANG BERBEDA TERHADAP DAYA IKAT AIR DAN pH KARKAS AYAM PETELUR AFKIRPengaruh Lama Perendaman Dalam Air Kelapa Yang Berbeda Terhadap Daya Ikat Air Dan pH Karkas Ayam Petelur Afkir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama perendaman dengan umur kelapa yang berbeda terhadap daya ikat air dan pH karkas petelur afkir. Materi yang digunakan pada penelitian ini yaitu karkas ayam petelur afkir, air kelapa muda, air kelapa tua, aquades, buffer. Peralatan yang digunakan pada penelitian ini yaitu pH meter, oven, desikator, colony counter. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 3 x 2. Faktor pertama yaitu lama perendaman (L) terdiri dari lama perendaman 30 menit (L1), lama perendaman 45 menit (L2), lama perendaman 60 menit (L3). Faktor kedua yaitu umur kelapa (A) terdiri dari air kelapa muda (A1), air kelapa tua (A2). Penelitian ini terdapat 6 kombinasi perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Data penelitian dianalisis menggunakan analisis variansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi lama perendaman dan umur kelapa tidak berpengaruh nyata terhadap daya ikat air dan pH karkas ayam petelur afkir. Lama perendaman karkas yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap daya ikat air dan pH karkas ayam petelur afkir. Umur kelapa yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap daya ikat air dan pH karkas ayam petelur afkir. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan air kelapa tidak dapat meningkatkan kualitas fisik karkas ayam petelur afkir. Effect of Immersion Time and Coconut Water on Water Holding Capacity and pH of Spent Hen Carcasses. This research was aimed to know the effects of immersion time and coconut water on holding capacity and pH of spent hen carcasses. The research used spent hen carcasses, young and old coconut water, aquades, and buffer solution. Equipment used in this research included pH meters, oven, desiccator, colony counters. The method used was experimental method using a completely randomised design factorial pattern 3 x 2. The first factor was immersion time (L), 30 minutes (L1), 45 minutes (L2), and 60 minutes (L3). The second factor was state of coconut (A), young coconut water (A1), and old coconut water (A2). In total, there were 6 treatment combinations and each treatment was repeated four times. Data were analyzed using analysis of variance. Results showed that immersion time, coconut water and their interaction has no significant effect on the physical quality of spent hen carcass. In conclusion, coconut water is not suitable to improve spent hen carcasses.
906810697A1C110020EFEKTIVITAS KINERJA PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PEDESAAN (PUAP) DI KECAMATAN PAGUYANGAN KABUPATEN BREBESProgram Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) merupakan salah satu terobosan yang dilakukan pemerintah untuk penanggulangan kemiskinan dipedesaan. Kecamatan paguyangan dipilih secara sengaja (purposive) karena pada tahun 2008 telah dilaksanakan program tersebut. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Menganalisis proses pengelolaan dana bergulir program pengembangan usaha agribisnis pedesaan (PUAP) di Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes; (2) Menganalisis tingkat efektivitas penyaluran dana bantuan kredit modal program pengembangan usaha agribisnis pedesaan (PUAP) di Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2014 sampai dengan Oktober 2014 dengan sasaran penelitian adalah anggota kelompok tani penerima dana bantuan program PUAP. Penelitian dilakukan di 4 Gapoktan yang ada di wilayah Kecamatan Paguyangan, yaitu Gapoktan Sejahtera (Desa Paguyangan), Gapoktan Tani Mulya (Desa Kedung Oleng), Gapoktan Sari Tani Mandiri (Desa Pandansari) dan Gapoktan Sumber Rizki (Desa Pagojengan). Keempat Gapoktan tersebut merupakan Gapoktan yang masih aktif mengelola dana bantuan program PUAP. Kinerja Gapoktan pengelola dana program PUAP dianalisis menggunakan metode deskriptif dengan sistem pemberian skor berdasarkan skala likert.
Hasil penelitian menunjukkan proses pengelolaan dana bantuan program PUAP yang dilakukan oleh gapoktan di Kecamatan Paguyangn dapat dikatakan “baik”. Dari 12 item pernyataan yang ada dalam kuisioner terkait kinerja Gapoktan mayoritas responden menjawab “baik”. Salah satu item pernyataan “prosedur pengajuan kredit dana PUAP” mayoritas responden menjawab “Mudah” hal ini dikarenakan persyaraan pengajuan kredit hanya dengan fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). Tingkat efektivitas penyaluran dana bantuan program PUAP juga tergolong “efektif”. Jika dilihat dari aspek kinerja Gapoktan pengelola dana PUAP pengurus gapoktan sudah berusaha menjalankan tugasnya dan berusaha melayani anggota dengan baik. Selain itu, bersadarkan laporan keuangan dan perkembangan gapoktan pengguliran dana PUAP kepada anggota maupun kelompok tani juga tergolong lancar terbukti semakin banyaknya anggota yang meminjam dana bantuan program PUAP.
Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) is the one of the breakthroughs made by the government for poverty alleviation in rural areas. Paguyangan district selected intentionally (purposive) because on 2008 has been implemented that program. The purposes of this research are : (1) Analyzing the process of managing the revolving fund rural program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP); (2) Analyzing the level of effectiveness of aid flows of capital credits program pengembangan usaha agribisnis pedesaan (PUAP) in Paguyangan district Brebes regency.
This research was conducting in September 2014 to October 2014 with the goal of research is the farmer group members grant recipients PUAP program. The research was conducted in 4 Gapoktan in the subdistrict Paguyangan, which are Gapoktan Sejahtera (Paguyangan Village), Gapoktan Tani Mulya (Kedung Oleng Village), Gapoktan Sari Tani Mandiri (Pandansari Village) and Gapoktan Sumber Rizki (Pagojengan Village). The fourth Gapoktan is still active Gapoktan manage aid programs PUAP. Performance Gapoktan PUAP program is analyzed by descriptive method with a scoring system based on the Likert scale.
The resultsof research shows the process of grant management program conducted by gapoktan PUAP in District Paguyangn can say "good". the 12 items of the questionnaire statements related to the performance of Gapoktan majority of respondents answerering "good". The One of item statement "PUAP fund loan application procedure" the majority of respondents answered "easy" it is because of persyaraan credit application only copying Kartu Tanda Penduduk (KTP) and Kartu Keluarga (KK). The effectiveness of aid flows PUAP program also classified as "effective". If viewed from the aspect of performance Gapoktan PUAP fund administrators gapoktan already tried duties and strive to serve members well. In addition, financial and progress reports bersadarkan gapoktan scrolling PUAP funds to members and farmer groups are also classified as current proved the increasing number of members who borrow funds PUAP program.
90695352C1L009039THE INFLUENCE OF MANAGERIAL OWNERSHIP, WORKING CAPITAL, FIRM AGE AND FIRM SIZE ON THE FINANCIAL PERFORMANCE OF CHINESE MERCHANDISING SMEs IN PURWOKERTOTionghoa memegang peranan penting dalam perkembangan ekonomi Indonesia, namun belum banyak penelitian yang membahas tentang hal ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepemilikan manajerial, modakl kerja, umur usaha dan ukuran usaha terhadap kinerja keuangan pada Usaha Kecil Menengah bidang perdagangan orang Tionghoa di Purwokerto. populasi pada penelitian ini adalah seluruh UKM dagang yang dimiliki atau dikelola oleh orang Tionghoa yang berada di daerah pecinan di Purwokerto. Metode pengambilan sampel menggunakan purposive method. Tiga puluh lima UKM terpilih sebagai sampel. Uji hipotesis dilakukan dengan multiple regression analysis dan asumsi klasik. hasilnya menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial tidak berpengaruh pada kinerja keuangan, namun modal kerja, umur usaha dan ukuran usaha berpengaruh terhadap kinerja keuangan. ini menunjukkan bahwa orang Tionghoa lebih mengandalkan pengalaman dan koneksi dibandingkan dengan keahlian teknis atau pelatihan bisnis dalam menjalani usaha mereka. Di sisi lain, kebanyakan dari mereka tidak mempersiapkan dan tidak membuat perhitungan tentang kekayaan atau pendapatan yang mereka miliki atau biaya yang mereka keluarkan, sehingga sulit untuk menganalisa berapa besar kemampuan mereka untuk menghasilkan pendapatan dan seberapa banyak mereka mengeluarkan biaya.
Chinese plays important role in Indonesian economic development, but not many research about them. This research aims to find out the influence of managerial ownership, working capital, firm age and firm size on financial performance of Chinese Merchandising SMEs in Purwokerto. The population in this research is all of Merchandising SMEs owned/managed by Chinese in Chinatown in Purwokerto. The sampling method usepurposive method.Thirty fiveunits of SMEs were selected. Hypothesis testing was done by the multiple regression analysis and prior to the classic assumption. The result shows there is no influence of managerial ownership on financial performance but the working capital, firm age and firm size has influence on financial performance. It implied that Chinese is prefer to run their business using their experience and connection than technical system or business training. Other side, most of them are not prepared and not make any real calculation about their assets or revenue and cost, so it’s difficult to realize how much exactly they can earn and their cost.
907010698A1L009142PENGARUH KOSENTRASI LARUTAN HARA AB-Mix DAN VARIASI MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L) SECARA HIDROPONIK TETESPenelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh variasi media tanam terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah (2) mengetahui pengaruh konsentrasi larutan hara terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah (3) menetapkan kombinasi antara variasi media tanam dan kosentrasi larutan hara paling baik atas dasar pertumbuhan dan hasil bawang merah. Percobaan yang dilakukan yaitu menanam bawang merah pada kantong plastik (40 cm x 50 cm) dengan kosentrasi dan variasi media tanam arang sekam dan pasir. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAKL faktorial dengan 2 faktor dan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah variasi media tanam, yang terdiri atas 4 taraf, yaitu: M0 (1 pasir : 0 arang sekam), M1 (1 pasir : ½ arang sekam), M2 (1 pasir : 1 arang sekam), M3 (1 pasir : 2 arang sekam). Faktor kedua adalah variasi kosentrasi, yang terdiri atas 3 taraf, yaitu: K1 (5 ml larutan induk A dan B/L air), K2 (8 ml larutan induk A dan B/L air) dan K3 (10 ml larutan induk A dan B/L air). Larutan induk A = 500 g serbuk untuk larutan A/2,5 L air dan larutan induk B = 500 g serbuk untuk larutan B/2.5 L air, atau 200.000 mg serbuk A dan B/L air. Hasil penelitian menunjukkan: 1) variasi media tanam berpengaruh terhadap bobot tajuk segar dan bobot umbi segar, 2) peningkatan kosentrasi larutan hara menurunkan tinggi tanaman, jumlah daun, bobot akar segar, bobot akar kering, bobot tajuk segar, bobot tajuk kering, luas daun, panjang akar dan bobot umbi segar, 3) kombinasi antara kosentrasi pupuk AB-Mix dan variasi media tanam terbaik bagi pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah adalah media tanam M1 yaitu 1 bahan pasir dan ½ bahan arang sekam dan kosentrasi 5 ml/l. Terdapat interaksi antara kosentrasi dan variasi media tanam pada luas daun.This research aims to: (1) find out the best composition of the planting media for the growth and the yield of shallot (2) know the best concentration of the nutrient solution for the growth and the yield of shallot (3) Set the best combination of planting media variations and concentrations of nutrient solution for the growth and the yield of shallot. The experiment was carried out by planting shallot in polybag (40 cm x 50 cm), with variation in concentration of A-B solution and planting media. This research used a complete randomized block design (CRBD) with 2 factors and 3 replications. The first factor was the planting media variations, namely : M0 (1 sand: 0 husk charcoal), M1 (1 sand: 0,5 husk charcoal), M2 (1 sand: 1 husk charcoal), M3 (1 sand: 2 husk charcoal). The second factor was the electrical conductivity variations, namely: K1 (5 ml parent A and B/L water solution ), K2 (8 ml parent A and B/L water solution), K3 (10 ml parent A and B/L water solution). The parent solution = 500 g powder for solution A/2.5 L water and the parent solution = 500 g powder for solution of B/2.5 L water, or 200,000 mg A and B/L water. The results of study showed that: 1) treatment of planting media influenced on the weight of fresh canopy and weight of fresh bulb, 2) the treatment of concentrations affected on plant height, leaf number, fresh plant weight, dry plant weight, fresh root weight, dry root weight, root length,fresh weight and diameter, 3) the best combination of concentrations and planting medium for the growth and yield of onion was M1 (1 sand: 0,5 husk charcoal) and K1 (5 ml/l). There was interaction between media and concentrations on leaf area.
90719285G1D010016HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS DAN MOTORIK KASAR ANAK RETARDASI MENTAL RINGAN DAN SEDANG DI SLB-C YAKUT PURWOKERTOLatar Belakang :Retardasi mental adalah keadaan perkembangan daya pikir yang kurang atau tidak lengkap, termasuk keterlambatan perkembangan motorik halus dan motorik kasar. Dukungan keluarga adalah tindakan atau tingkah laku serta informasi yang bertujuan untuk membantu seseorang dalam mencapai tujuannya tau mengatasi suatu masalah seseorang pada situasi tertentu.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan perkembangan motorik kasar dan motorik halus anak retardasi mental ringan dan sedang di SLB-C Yakut Purwokerto.
Metode :Penelitian ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini sebanyak 22 responden yang dipilih dengan metode total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner. Pengolahan dan analisis hubungan dukungan keluarga dengan perkembangan motorik kasar dan motorik halus menggunakan uji Gamma and Somer’s.
Hasil : Rata-rata usia anak adalah 10 tahun, jenis kelamin anak adalah laki-laki, pendidikan responden mayoritas pendidikan rendah, penghasilan responden adalah <Rp 795.000, status pernikahan responden mayoritas menikah, agama responden mayoritas beragama Islam, dukungan keluarga baik (81,8%), motorik kasar anak tinggi (59,1%) dan motorik halus anak tinggi (45,5%). Uji Gamma and Somer’s diketahui bahwa nilai p=0,908 untuk motorik kasar dan nilai p=0,242 motorik halus, yaitu p>α (0,05).
Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan perkembangan motorik kasar dan motorik halus anak retardasi mental ringan dan sedang di SLB-C Yakut Purwokerto.
Background: Mental Retardation is a less or incomplete intellectual development, including gross and fine motor skills development delay. Family support is an action, behaviour, and information to help people in achieving their goals.
Purpose : The purpose of this research is knowing the relation between family support to the development of gross and fine motor skills on mild and moderate mental-retarded children at SLB-C Yakut Purwokerto.
Method: Correlation design with cross sectionalapproach was used in this research. Study participants were 22 responents who was selected using total sampling. Data collection was used questionnaires. Observation analysis was used Gamma and somer’s test.
Result : The majority of was respondents 10 years old and male. The parents educational background was basic education with income less than Rp795.000, marital status is married, and mostly moslem, Family support is good (81,8%). Children’s mental-retarded ability is high, 59,1% of gross motor skills and 45,5% of dine motor skills. Gamma and Somer’s test showed that p=0,908 of gross motor skills, and p=242 of fine motor skills, with p>α (0,05).
Conclusion : There is no significant relation between family support and motor skill (gross and fine) on mild and moderate mental-retarded children at SLB-C Yakut Purwokerto.
90729287G1B010027PERILAKU POLA ASUH IBU YANG MEMILIKI BALITA BAWAH GARIS MERAH USIA 25-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANYUMASPeriode balita merupakan masa kritis bagi pertumbuhan dan perkembangan balita. Permasalah kurang gizi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan dapat menjadi penyebab kematian terutama pada kelompok resiko tinggi (bayi dan balita). Pola asuh makan, kesehatan dan pendidikan yang masih rendah menyebabkan status gizi dan tumbuh kembang balita tidak optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perilaku pola asuh ibu yang memiliki balita BGM di wilayah kerja Puskesmas Banyumas yang meliputi pola asuh makan, pola asuh kesehatan dan pola asuh pendidikan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan wawancara mendalam kepada 4 orang subyek penelitian utama yaitu ibu yang memiliki balita BGM usia 25-60 bulan dan 6 orang subyek penelitian pendukung yaitu bidan desa dan kader terdekat. Hasil penelitian didapatkan bahwa perilaku pola asuh pemberian makan ibu yang memiliki balita bawah garis merah usia 25-59 bulan yaitu ibu balita memberikan makanan yang bervariasi kepada anak sebanyak 3 kali sehari, memberikan vitamin bila anak susah makan dan memberikan sayuran setiap hari kepada anak. Perilaku pola asuh kesehatan ibu balita yaitu ibu balita selalu membawa balita berobat ke bidan desa terdekat, imunisasi dan rutin datang ke posyandu. Perilaku pola asuh pendidikan yaitu ibu balita masih memberikan permainan berupa boneka dan mobil- mobilan pada balita dan belum memberikan alat permainan edukatif (APE) yang diberikan baru berupa buku dan poster bergambar. Saran yang dapat diberikan adalah ibu balita sebaiknya lebih kreatif dalam memberikan makan balita yaitu dengan mengganti susunan menu, membujuk balita agar mau makan dan memberikan APE sesuai usia kepada balita.
Keywords: Perilaku, Pola Asuh, Bawah Garis Merah,
Referensi: 47 (2002-2014)
Toddler period is a critical period for the growth and development of under five years children. This period is a period of brain growth and development optimization. Malnutrition remains a public health problem and can be a cause of mortality, especially in high risk groups (infants and toddlers). The low of eating behavior, health behavior and education behavior in mothers has caused un optimal growth and nutritional status. The purpose of this study is knowing about parenting behaviors in mothers who have under nutrition in the Banyumas Public Health Center. This study used a qualitative descriptive research that is to know the description parenting behaviors in mothers of under nutrition toddlers in the district of Banyumas. Research conducted in-depth interviews with 4 main research subjects and 6 supporting research subjects. The research showed that toddler's mother gives the child a varied diet 3 times a day, give a child vitamins if difficult to eat, vegetables every day has given to the child. The mothers always go to the nearest midwife if the toddler sick, immunizations and came to posyandu regularly. The toddler’s mother give a doll and car-toy as a toys and hasn’t give educational game yet to the toddler. The advice can be given are the toddler's mother should be more creative in feeding a toddler by changing the composition of the menu, persuade the toddler so that the toddler want to eat and give an educational game tool to the toddler.
Keyword : Under nutrition, Parenting Behavior
Reference :47 (2002-2014)

90735358G1B008076HUBUNGAN FAKTOR PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP KEJADIAN MALARIA DI DESA KEDUNGGUBAH KECAMATAN KALIGESING KABUPATEN PURWOREOJURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2012

INTISARI

AHMAD LUTHFIL HAKIM
HUBUNGAN FAKTOR PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP KEJADIAN MALARIA DI DESA KEDUNGGUBAH KECAMATAN KALIGESING KABUPATEN PURWOREJO

Desa Kedunggubah merupakan desa dengan kasus malaria paling banyak. Kejadian terbanyak merupakan kasus indigenous. Beberapa faktor penyebab kejadian malaria antara lain bersumber dari perilaku masyarakat yang menganggap malaria bukan merupakan penyakit yang berbahaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara faktor perilaku masyarakat dengan kejadian malaria di Desa Kedunggubah Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo. Jenis penelitian yang digunakan adalah kasus kontrol. Kasus adalah orang yang positif menderita malaria berdasarkan tes pemeriksaan darah sebanyak 41 orang. Kontrol adalah orang yang dinyatakan negatif menderita malaria berdasarkan tes pemeriksaan darah sebanyak 41 orang. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat (uji Chi-Square) dan perhitungan Odds Ratio (OR). Hasil penelitian menunjukkan ada beberapa perilaku yang berhubungan dengan kejadian malaria, yaitu kebiasaan memakai kelambu (OR= 2,864 ; 95% CI= 1,138-7,209 ; p= 0,024), kebiasaan memakai repellent pada saat tidur (OR= 9,697 ; 95% CI=1,153-81,545 ; p= 0,013), kebiasaan memakai obat anti nyamuk (OR= 5,824 ; 95% CI= 2,161-15,692 ; p= 0,001) dan kebiasaan menutup pintu dan jendela (OR= 109,091 ; 95% CI= 13,344-891,866 ; p= 0,000). Upaya yang perlu dilakukan untuk mencegah kejadian malaria antara lain dengan memakai kelambu, repellent, dan obat anti nyamuk saat tidur serta menutup pintu dan jendela atau melangkapinya dengan kasa.


Kata Kunci : Purworejo, Perilaku Masyarakat, Malaria
Kepustakaan : 35 (1991-2011)
DEPARTMENT OF PUBLIC HEALTH
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES
JENDERAL SOEDIRMAN UNIVERSITY
PURWOKERTO
2012
ABSTRACT
AHMAD LUTHFIL HAKIM
RELATION BETWEEN HUMAN BEHAVIOUR FACTORS WITH MALARIA INCIDENT IN KEDUNGGUBAH VILLAGE, SUBDISTRICTOF KALIGESING, PURWOREJO REGENCY

Kedunggubah village was a most of malaria diseases. A lot of the cases was indigienous. Some factors cause of malaria incident based on people who believe in seeing this disease was not harmful disease. The aim of this research to know the relation between human behavior factors with malaria incident in Kedunggubah Village, Subdistrict of Kaligesing, Purworejo Regency. The kind of research that used was case control. The case was the positive people suffer malaria based on the investigation of blood test, there are 41 peoples. The control was negative people or the people do not suffer malaria based on the investigation of blood test, there are 41 peoples. The analysis data was done univariate and bivariate (test of Chi Square). The result of this research shown there was behavior that related with malaria incident, there are people habit in mosque net using (OR= 2,864 ; 95% CI= 1,138-7,209 ; p= 0,024), the people habit a repellent using they are sleeping (OR= 9,697 ; 95% CI=1,153-81,545 ; p= 0,013), habit in using anti mosquito chemical (OR= 5,824 ; 95% CI= 2,161-15,692 ; p= 0,001) and the people habit close the door and window at night (OR= 109,091 ; 95% CI= 13,344-891,866 ; p= 0,000). The efforts must be done to prevent this incident such as mosquito net using, repellent, and anti mosquito chemical while they are sleeping and closing the door and window or complete it with the casa.


Keywords : Purworejo, People Behavior, Malaria
Bibliography : 35 (1991-2011)

90749288C1C010032PENGARUH PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT TEGURAN DAN SURAT PAKSA TERHADAP PENCAIRAN TUNGGAKAN PAJAKPenelitian ini merupakan studi kasus pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Purwokerto. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh penerbitan surat teguran dan surat paksa terhadap pencairan tunggakan pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Purwokerto. Sampel dalam penelitian ini adalah besar tunggakan pajak selama tahun 2011-2013. Metode pengumpulan data adalah dengan dokumentasi. Data yang diolah menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penagihan pajak dengan menggunakan surat teguran dan surat paksa berpengaruh signifikan terhadap pencairan tunggakan pajak secara parsial dan simultan.ABSTRACT
This research is study case at Taxservice Office Primary of Purwokerto. This research purpose to know the effect of tax collection with a reprimand letter and force letter to the disbursement of tax arrears at Taxservice Office Primary of Purwokerto. Sample in this research is nominal disbursement tax arrears 2011 until 2013. Collection data method is documentation method. Data treated with multiple regression analysis. Result from this research shows that the partial results of hypothesis testing ( t-test ) or simultaneously (F-test) to prove that tax collection with a reprimand letter and force letter a significant effect on the disbursement of tax arrears.
90759148F1C010062PENGGUNAAN BAHASA DALAM INTERAKSI MASYARAKAT DWIBAHASA SUNDA DAN JAWA
(Studi Etnografi Komunikasi di Desa Wanareja Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap Jawa Tengah)
ABSTRAKSI
Judul penelitian ini adalah “Penggunaan Bahasa Dalam Interaksi Masyarakat Dwibahasa Sunda dan Jawa (Studi Etnografi Komunikasi di Desa Wanareja Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap Jawa Tengah.” Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui peritiwa komunikasi dwibahasa yang terjadi secara berulang dan komponen-komponen komunikasi yang mempengaruhi peristiwa komunikasi tersebut. Desa Wanareja merupakan desa yang memiliki dua etnik yaitu Etnik Sunda dan Etnik Jawa. Dua etnik ini memiliki bahasa yang berbeda. Etnik Sunda menggunakan Bahasa Sunda dan Etnik Jawa menggunakan Bahasa Jawa. Penelitian ini menjelaskan bagaimana penggunaan bahasa dalam interaksi masyaraakat dwibahasa di Desa Wanareja dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan etnografi komunikasi. Informan dipilih dengan cara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam dan dokumentasi.
Hasil dari penelitian ini adalah komponen komunikasi yang berperan besar dalam membentuk suatu peristiwa komunikasi pada masyarakat dwibahasa di Desa Wanareja adalah setting, partisipan, bentuk pesan, kaidah interaksi dan norma-norma interpretasi. Peristiwa komunikasi dwibahasa yang terjadi secara berulang adalah komunikasi sesama Etnik Sunda yang menggunakan Bahasa Sunda, komunikasi sesama Etnik Jawa yang menggunakan Bahasa Jawa, komunikasi Etnik Jawa dengan Etnik Sunda atau sebaliknya yaitu menyesuaikan bahasa lawan bicaranya tergantung siapa yang bertanya terlebih dahulu dan komunikasi Etnik Sunda dan Etnik Jawa yaitu menggunakan bahasa campuran Sunda dan Jawa. Masyarakat Desa Wanareja menggunakan Bahasa Sunda dan Jawa ngoko (kasar). Jadi tidak ada tingkatan bahasa atau bebasan di Desa Wanareja.

Kata kunci : Etnografi komunikasi, Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Wanareja, Dwibahasa.
ABSTRACT
The title of this research is “Language Usage in Bilingual Interaction of Sundanese and Javanese People (An Ethnography Communication Study in Wanareja Village Wanareja Subdistrict Cilacap Regency Central Java). The purpose of this study to determine Bilingual communication event that occur repeatedly and communication components that influence communication event. Wanareja Village has 2 ethnic, they are Javanese Ethnic and Sundanese Ethnic. They have different language. This research explain how languages usage in bilingual interaction at Wanareja Village. This research is a qualitative research by using communication ethnography. Informant was chosen by using purposive sampling. The data are taken by participant observation, in depth interview and documentation.
The result of this research is communication components that have big influence on the communication event using Sundanese and Javanese in the Wanareja people are setting, participant, message and the rule of interaction and interpretation norms. Bilingual communication event that occur repeatedly is communication among Sundanese Ethnic and Sundanese Ethnic use Sundanese, communication among Javanese Ethnic and Javanese Ethnic use Javanese, communication Sundanese Ethnic with Javanese Ethnic or otherwise adjust with his interlocutor, depending on who’s asking first and communication Sundanese Ethnic with Javanese Ethnic using commixture Sundanese and Javanese. Wanareja people use ngoko (rude) Sundanese and ngoko (rude) Javanese. Therefore, there is no language level or bebasan in the communication among people in Wanareja village.

Key words : Ethnography of Communication, Sundanese, Javanese, Wanareja, Bilingual.
907610699D1E010122KECERNAAN BAHAN KERING DAN BAHAN ORGANIK PADA BERBAGAI BANGSA SAPI YANG DIBERI PAKAN JERAMI PADI AMONIASI DAN KONSENTRATKecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik Pada Berbagai Bangsa Sapi Lokal Yang Diberi Pakan Jerami Amoniasi dan Konsentrat. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 6 Oktober 2013 sampai 30 Januari 2014 di Desa Datar Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh bangsa sapi terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik yang diberi pakan jerami amoniasi dan konsentrat. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah empat bangsa sapi lokal yang terdiri atas sapi persilangan, Sapi Madura, Sapi Bali dan Sapi Peranakan Ongole (PO)berjumlah 16 ekor (masing-masing 4 ekor) dengan bobot badan 230-280 kg. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu : P1 = SapiCrossing, P2 = Sapi Madura, P3 = Sapi Bali, P4 = Sapi PO. Setiap perlakuan diulang 4 kali.Peubah yang diamati adalah kecernaan bahan kering dan bahan organik menggunakan metode koleksi total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecernaan bahan kering dipengaruhi (P<0.01) oleh bangsa sapi, akan tetapi kecernaan bahan organik tidak dipengaruhi (P<0.05) oleh bangsa sapi. Uji BNJ menunjukkan sapi Bali mempunyai kecernaan bahan kering lebih tinggi (P<0.01) dari sapi Crossing akan tetapi sama dengan sapi Madura dansapi PO. Sapi PO juga tidak berbeda nyata (P<0.05) dengan sapi Crossing. Pada kecernaan bahan organik nilai analisis dicapai oleh sapi Madura, diikuti oleh sapi Bali, sapi PO dan sapi Crossing. Digestibility of Dry Matter and Organic MatterIn Various Local Cattle fed ammoniated straw and Concentrate. The study was conducted term October 6, 2013 until January 30, 2014 in the village of Data District of Banyumas. The purpose of this study was to determine the influence of the cows on digestibility of dry matter and organic matter of fed concentrates and type of ammoniated. The materials used in this study were a four breeds of local cattle namely Madura, Bali Cattle andPeranakanOngole (PO) Beef catle totaled of 16 individuals (each experimental unit crusiated 4 heads) with body weights of 230-280 kg. The method used was experiment,using completely randomized design (CRD) with four treatments, ie: P1 = Cattle Cross, P2 = Madura Cattle, Bali Cattle P3, P4 = PO Cattle. Each treatment was replicated 4 times. Variables measured were dry matter and organic matter digestibilitie using the total collection method.The results showed that dry matter digestibility was influenced (P <0.01) by the breeds of cattle, but organic matter digestibility was not affected (P >0.05) by the breeds of cattle. HSD test showed Bali cattle had higher dry matter digestibility (P <0.01) than Cattle Cross but equal to PO and Madura cattle. PO Cattle also was not significantly different (P >0.05) toCross Cattle. The organic matter digestibility value analysis was achieved by Madura cattle, followed by Bali cattle, beef and beef cattle PO and Cross cattle.
907711098F1B010022Implementasi Kebijakan Transportasi Massal Bus Trans Metro Bandung (TMB) Koridor II Jurusan Cicaheum – Cibeureum Di Kota BandungPemerintah Kota Bandung untuk menyelesaikan permasalahan pada sistem transportasi dan kemacetan lalu lintas telah mengoperasikan moda transportasi massal Trans Metro Bandung (TMB). Penelitian tentang transportasi massal di Kota Bandung menjadi penting guna mengetahui implementasi kebijakan ini di lapangan yang sesungguhnya. Penelitian ini difokuskan kepada faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi diantaranya komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi. Penelitian telah dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dan teknik pemilihan informan menggunakan purposive sampling dan teknik aksidental. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi Trans Metro Bandung koridor II belum menunjukkan hasil yang maksimal dikarenakan masih rendahnya minat masyarakat Kota Bandung untuk menggunakan bus Trans Metro Bandung, kondisi sarana dan prasarana pada Trans Metro Bandung koridor II belum mencukupi dari kualitas maupun kuantitas, serta masih terdapat petugas yang kurang berkomitmen dalam menjalankan tugasnya.Bandung City Government to resolve the problem of transportation systems and traffic congestion has been operating mode of mass transportation Trans Metro Bandung. Research on mass transportation in the city of Bandung be important in understanding the implementation of this policy on the real field. This study focused on the factors that affect the successful implementation such communication, resources, disposition and bureaucratic structure. Research has been conducted by using descriptive qualitative approach, and the informant selection techniques using purposive sampling and accidental techniques. The results of this study indicate that the implementation of Trans Metro Bandung corridor II not show maximum results due to very low interest of people in Bandung to use Trans Metro Bandung, the condition of infrastructure in the Trans Metro Bandung corridor II insufficient of quality and quantity, and there are officers who less committed in carrying out their duties.
907811294F1B010041EFEKTIVITAS PROGRAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)
DI KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS
Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan program layanan pendidikan sekaligus pengembangan kepada anak usia dini secara terintegrasi. Pendidikan anak usia dini adalah salah satu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir (0 tahun) sampai dengan usia 6 tahun yang diakukan melalui rangsangan pendidikan. Tujuan dari program PAUD adalah memberikan contoh konkrit cara merangsang anak, memberikan wahana bermain anak dan memperkuat wahana pelayanan anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster sampling dan random sampling dengan jumlah kelompok sasaran yakni 55 orang. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner, dokumentasi, dan wawancara. Metode analisis data menggunakan analisis distribusi frekuensi, Kendall Tau, dan Regresi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa efektivitas program PAUD yang diukur melalui dimensi ketepatan sasaran, sosialisasi program, tujuan program dan pemantauan tergolong baik yakni 78,18 persen untuk ketepatan sasaran; 69,09 persen untuk sosialisasi program; 80,9 persen untuk tujuan program; dan 68,19 persen untuk pemantauan. Untuk uji pengaruh variabel akses (X1) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap efektivitas program (Y) dengan Z hitung 4,280 ( lebih besar dari Z tabel yaitu 1,671), uji pengaruh variabel cakupan (X2) terhadap efektivitas program (Y) adalah signifikan diperoleh hasil Z hitung sebesar 5,651 ( lebih besar dari Z tabel yaitu 1,671 ), uji pengaruh variabel frekuensi (X3) terhadap efektivitas program (Y) hasilnya adalah signifikan dengan hasil Z hitung adalah 3,247 ( lebih besar dari Z tabel yaitu 1,671 ), dan uji pengaruh untuk variabel akuntabilitas (X4) terhadap efektivitas program (Y) adalah signifikan dengan hasil Z hitung adalah 3,044 ( lebih besar dari Z tabel yaitu 1,671 ). Permasalahan dalam penelitian ini terkait dengan akses adalah keterbatasan alat teknologi kemudian ada beberapa persepsi yang menyatakan bahwa pelayanan informasi tidak merata pada seluruh PAUDProgram Early Childhood Education (ECD) is a program of educational services at the same time to the development of integrated early childhood. Early childhood education is one of the development efforts aimed at children from birth (0 years) until the age of 6 years which transactions are carried out through educational stimulation. The purpose of early childhood education program is to provide concrete examples how to stimulate the child, giving rides and a children's playground rides strengthen children's services. This study uses a quantitative approach. The sampling technique used was cluster sampling and random sampling with the target group 55 people. Methods of data collection using questionnaires, documentation, and interviews. Methods of data analysis using frequency distribution analysis, Kendall Tau, and Regression. These results indicate that the effectiveness of early childhood programs targeting accuracy is measured by dimensions, socialization programs, objectives and monitoring program that is 78.18 percent is fair to target accuracy; 69.09 percent for socialization programs; 80.9 percent for the purpose of the program; and 68.19 per cent for monitoring. To test the effect of access variables (X1) has a significant influence on the effectiveness of the program (Y) with Z count 4.280 (greater than Z table is 1.671), test the effect of variable scope (X2) on the effectiveness of the program (Y) is obtained significant results of Z count equal to 5.651 (greater than Z table is 1.671), test the effect of variable frequency (X3) on the effectiveness of the program (Y) is a significant result with the result Z count was 3.247 (greater than Z table is 1.671), and test the effect of variable accountability (X4) on the effectiveness of the program (Y) is significant with the result Z count was 3,044 (greater than Z table is 1.671). Problems in this study related to the access is limited technological tools then there is some perception that states that the service information is not evenly distributed in the entire ECD.
90799289C1B010010ANALISIS PENGARUH PERSEPSI HARGA, KUALITAS PRODUK,
DIFFERENSIASI PRODUK, KUALITAS PELAYANAN, PROMOSI DAN CITRA
MEREK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh persepsi harga, produk kualitas, diferensiasi produk, kualitas layanan, promosi, dan citra merek untuk membeli keputusan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman. Dengan menggunakan purposive sampling, penelitian ini menggunakan 100 siswa sebagai sampel. Dengan menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi harga, kualitas produk, diferensiasi produk, promosi, dan citra merek berpengaruh positif untuk keputusan pembelian. Dan kualitas pelayanan berpengaruh negatif terhadap keputusan pembelian.The purpose of this research was to analyze the influence of price perception, product
quality, product differentiation , service quality, promotion, and brand image to purchasing
decisions. The population in this study are all student on Economic and Business Faculty of
Jenderal Soedirman University. By using purposive sampling, this research used 100 student
as the sample. Using multiple regression analysis. The result show that price perception,
product quality, product differentiation, promotion, and brand image has positive influence
to purchasing decisions. And service quality has negative influence to purchasing decisions.
90809290H1B010028ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSENTASE KEMISKINAN DI JAWA TENGAH TAHUN 2004-20011 DENGAN PENDEKATAN MODEL REGRESI DATA PANEL DUA ARAHPada penelitian ini dibahas analisis faktor-faktor yang mempengaruhi persentase kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2004-2011. Adapun variabel bebas yang diduga berpengaruh ada empat, yaitu pertumbuhan ekonomi, kepadatan penduduk, pendidikan, dan desentralisasi fiskal. Data yang digunakan adalah data sekunder yang terdiri dari data times series selama periode 2004-2011 dan data cross section 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Pendekatan yang digunakan adalah regresi data panel dua arah dengan efek tetap dan efek acak. Model efek tetap dua arah mengasumsikan bahwa perbedaan intersep terjadi karena adanya faktor yang tidak diketahui pada unit individu dan unit waktu, sedangkan model efek acak dua arah mengasumsikan perbedaan intersep terjadi karena faktor yang tidak diketahui dan bersifat acak pada unit individu dan unit waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kepadatan penduduk dan pendidikan berpengaruh negatif secara signifikan terhadap persentase penduduk miskin. Artinya semakin tinggi tingkat kepadatan penduduk dan tingkat pendidikan, maka akan menurunkan tingkat persentase penduduk miskin.

This study discusses the analysis of the factors affecting poverty in Central Java in 2004-2011. There are four independent variables suspected to effect poverty, economic growth, population density, education, and fiscal desentralization. The data used in the research are secondary data consisting of time series data for the period 2004-2011 and cross section data of 35 districts / cities in Central Java. The modeling approach used is a two-way panel data regression with fixed effects and random effects. Two-way fixed effects model assumes that the intercept difference is due to the unknown factors in the individual units and units of time, while the two-way random effects model assumes the intercept differences occur due to factors unknown and is random in individual units and units of time. The results showed that the population density variable and education give significantly negative effect on the percentage of the poor. It means that the higher the population density and level of education, the lower the percentage rate of the poor.