Artikelilmiahs
Menampilkan 8.981-9.000 dari 48.908 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 8981 | 10680 | D1E011071 | PENGARUH LAMA PERENDAMAN EKSTRAK DAUN KECOMBRANG (Etlingera elatior) TERHADAP TOTAL BAKTERI, pH DAN KEEMPUKAN DAGING SAPI | Penelitian bertujuan mempelajari pengaruh dan menentukan lama perendaman yang optimal dengan menggunakan ekstrak daun kecombrang (Etlingera elatior) terhadap total bakteri, pH dan keempukan pada daging sapi. Pengambilan data dilaksanakan tanggal 16 sampai dengan 22 Januari 2015 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan dan Laboratorium Biologi, Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.Materi penelitian yang digunakan adalah 1 kg daging sapi yang berasal dari pejantan jenis Simental umur 3 tahun, bagian silver side,otot bisep femoris, ekstrak daun kecombrang 75 ml dannutrient agar100 gr. Metode penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan terdiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan pada daging sapi dengan metode lama perendaman yang berbeda yaitu: (T0) tanpa perendaman, (T1) perendaman selama 30 menit, (T2) perendaman selama 60 menit, (T3) perendaman selama 90 menit dan (T4) perendaman selama 120 menit. Peubah yang diukur yaitu total bakteri, pH dan keempukan.Data yang diperoleh dianalisis variansi dan dilakukan uji lanjut menggunakan uji Orthogonal Polynomial.Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama perendaman pada ekstrak daun kecombrang (Etlingera elatior) berpengaruh nyata (P < 0,05) terhadap total bakteri dan pH daging sapi, tetapi berpengaruh tidak nyata (P > 0,05) terhadap keempukan daging sapi. Hasil terbaik pada lama perendaman 120 menit dengan rata-rata total bakteri 3,15± 0,21 log cfu/gr, pH 5,16 ± 0,08 dan keempukan 0,03± 0,01. Kesimpulan, perendaman daging sapi selama 120 menit dengan konsentrasi 7,5% ekstrak daun kecombrang dapat digunakan untuk memperpanjang masa simpan bahan pangan karena dapat menurunkan pH dan total bakteri. Kata kunci : Lama perendaman, ekstrak daun kecombrang, total bakteri, pH, dan keempukan. | The research aimed to study the influence and determine the optimum soaking time in kecombrang leaves (Etlingera elatior) extract on total bacteria, pH and tenderness of beef. The experiment was held from January 16th until 22nd 2015 in the Laboratory of Animal Product Technology, Animal Science Faculty and Laboratory of Microbiology, Biology Faculty, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The material consisted of one kg of beef that comes from three years old male Simmental cattle, silver side, extract of kecombrang leaves 75 ml and nutrient agar 100 g. The research was done experimentally, using a completely randomized design (CRD). There were 5 treatments and 4 replications. Treatments consisted of: (T0) without immersion, (T1) immersion for 30 minutes, (T2) immersion for 60 minutes, (T3) immersion for 90 minutes and (T4) immersion for 120 minutes. Variables measured were total bacteria, pH and tenderness. Data were analyzed by using analysis of variances and further tested by using Orthogonal Polynomial test.The results showed that immersion time has significant effects (P < 0.05) on total bacteria and pH of beef, but no significant (P > 0.05) on tenderness of beef. Immersion for 120 minutes produced beef with an average of total bacteria 3.15 ± 0.21 log cfu / g, pH 5.16 ± 0.08 and 0.03 ± 0.01 tenderness. In conclusion, immersion beef in kecombrang leaves extract 7.5% for 120 minutes is recommended to reduce total bacteria and pH. Keywords : Immersion, extract kecombrang leaves, total bacteria, pH and tenderness. | |
| 8982 | 9232 | C1K010033 | ANALYSIS ON THE FINANCIAL PERFORMANCE AT KOPERASI UNIT DESA (KUD) MUSTIKA KECAMATAN SUMBANG | ABSTRAK Judul penelitian ini adalah “Analisis Kinerja Keuangan pada Koperasi Unit Desa (KUD) Mustika Kecamatan Sumbang”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja keuangan dan kecenderungan perubahan sisa hasil usaha pada Koperasi Unit Desa (KUD) Mustika Kecamatan Sumbang dilihat dari rasio keuangan tahun 2008-2012. Hipotesis pada penelitian ini adalah: (1) Kinerja keuangan Koperasi Unit Desa (KUD) Mustika Kecamatan Sumbang dilihat dari rasio keuangan tahun 2008-2012 dalam kondisi tidak baik; (2) Sisa hasil usaha yang dimiliki Koperasi Unit Desa (KUD) Mustika Kecamatan Sumbang tahun 2008-2012 cenderung menurun. Objek penelitian ini adalah laporan keuangan Koperasi Unit Desa (KUD) Mustika Kecamatan Sumbang tahun 2008-2012. Analisis penelitian berdasarkan Keputusan Kementrian Koperasidan UMKM Nomor 14/Per/M.KUKM/XII/2009 seperti Aspek Permodalan, Aspek Kualitas Aktiva Produktif, Aspek Manajemen, Aspek Efisiensi, Aspek Likuiditas, Aspek Kemandirian dan Pertumbuhan, dan Aspek Jati Diri Koperasi. Hasil dari penelitian ini : (1) Perhitungan kinerja keuangan 44.25 dimana termasuk dalam kategori 40<X<60, jadi kinerja keuangan Koperasi Unit Desa (KUD) Mustika Kecamatan Sumbang tahun 2008-2012 dalam kategori tidak baik. Sehingga hipotesis pertama diterima; (2) Berdasarkan perhitungan analisis trend, net income Koperasi Unit Desa (KUD) Mustika Kecamatan Sumbang tahun 2008-2012 menunjukkan koefisien positif (0.025) yang berarti net income cenderung meningkat. Sehingga hipotesis kedua ditolak. Implikasi penelitian ini adalah: (1) Untuk pihak Koperasi Unit Desa (KUD) Mustika Kecamatan Sumbang, manajemen harus meningkatkan kinerjanya. Aspek Keuangan, ada beberapa rasio yang harus ditingkatkan lagi seperti rentabilitas modal sendiri, aspek kualitas aktiva produktif dan aspek efisiensi; (2) Untuk Departemen Koperasi, mereka harus mengadakan sosialisasi secara berkala tentang perhitungan analisis kesehatan koperasi. Keywords : financial performance, ratio analysis, trend analysis, and cooperative. | ABSTRACT The Title of this research is “Analysis on the Financial Performance at Koperasi Unit Desa (KUD) Mustika Kecamatan Sumbang”. The aims of this research were to know the Financial Performance and the tendency of Net Income at Koperasi Unit Desa (KUD) Mustika Kecamatan Sumbang seen from the financial ratio in 2008-2012. The hypotheses in this research were: (1) Financial Performance of Koperasi Unit Desa (KUD) Mustika Kecamatan Sumbang seen from the financial ratio in 2008-2012 is in not good category; (2) Net Income owned by Koperasi Unit Desa (KUD) Mustika Kecamatan Sumbang seen from the financial ratio in 2008-2012 tends to decrease. The research object is the financial statements of Koperasi Unit Desa (KUD) Mustika Kecamatan Sumbang 2008-2012. This study analyzed based on the Decree of Ministry of Cooperative and Small Scale Business of No14/Per/M.KUKM/XII/2009 such as Equity Aspect, Quality Aspect Of Productive Assets, Management Aspect, Efficiency Aspects, Liquidity Aspects, Independence and Growth Aspect, Cooperative Identity Aspect. The result of this research indicated that: (1) Financial Performance obtained was 44.25 where in range 40<X<60 so that financial performance of KUD Mustika Kecamatan Sumbang in 2008-2012 was in not good criteria. Thus, the first hypothesis was accepted.; (2) Based on the Trend Analysis net income of KUD Mustika Kecamatan Sumbang in 2008-2012, from the calculation results the slope was positive with coefficient (0.025) it means the net income tended to increase. Thus, the second hypothesis was rejected. The implication of this research (1) For KUD Mustika Kecamatan Sumbang, the management of the cooperative should to maintain and improve their performance in the future. In their financial aspect, there are several ratios which should be improved such as Return on Equity, Quality Aspect of Productive Asset, Efficiency Aspect; (2) For Cooperative Department, they should carry out socialization of cooperative health assessment periodically and regularly. Keywords : financial performance, ratio analysis, trend analysis, and cooperative. | |
| 8983 | 11518 | A1L008049 | DISTRIBUSI SERANGAN HAMA BURIK (NACOLEIA OCTASEMA) DAN ULAT PENGGULUNG DAUN PISANG (ERIONATA THRAX L) DI KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS | Pisang merupakan tanaman rakyat yang dapat tumbuh di hampir seluruh tipe agroekosistem, sehingga tanaman ini menduduki posisi pertama dalam hal luas bila dibandingkan dengan tanaman buah lainnya. Berbagai faktor dapat menyebabkan kemerosotan produksi pisang, yaitu seperti gangguan hama dan penyakit. Hama yang menyerang tanaman pisang adalah hama burik (Nacoliea octasema) dan ulat penggulung daun pisang (Erionota thrax L). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Mengetahui penyebaran hama burik dan ulat penggulung daun pisang berdasarkan ketinggian tempat. (2) Mengetahui intensitas serangan hama burik dan ulat penggulung daun pisang berdasarkan variaetas pisang. (3) Mengetahui penyebaran hama burik dan ulat penggulung daun pisang berdasarkan daerah administrasi. Penelitan ini dilaksanakan pada pertanaman pisang di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini dimulai dari bulan Oktober sampai Desember 2014. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan metode pengambilan sampel adalah purposive sampling, yaitu dengan pola pengambilan purposive pada daerah pertanaman pisang yang memiliki minimal 20 rumpun di seluruh desa di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Hasil penelitian menunjukan (1) Serangan E. thrax dan N. octasema paling banyak menyerang pisang dengan varietas Ambon. (2) Hama tersebut menyerang seluruh desa di Kecamatan Sumbang, dengan intensitas serangan ringan-berat. (3) Intensitas serangan hama relatif merata pada ketinggian (100-550 m dpl), dengan intensitas serangan ringan-sedang. | Banana is a crop that can grow in almost all types of agro-ecosystem, so that this plant is in the first position in the term of area when compared with other fruit corps. Various factors may cause deterioration of banana production, such as pests and disease. The pests that attack banana plants are banana scab moth (Nacoleia octasema) and banana leaf-roller caterpillars (Erionata thrax L). This research aimed to determine (1) the spread of banana scab moth and banana leaf-roller caterpillars based on altitude, (2) intensity of banana scab moth and banana leaf-roller caterpillars attack based on banana variety, (3) the spread of banana scab moth and banana leaf-roller caterpillars based on administration area. This research was conducted on banana cultivation in Sumbang sub-district, Banyumas district. This research was started from October to December, 2014. This research used a survey method with purposive sampling as sampling method. Purposive sampling is a pattern in taking the sample purposively on banana cultivation area that has at least 20 clumps in all villages in Sumbang sub-district, Banyumas district. The research result indicated (1) E. thrax and N. octasema attack was the most frequent attack on Ambon variety banana, (2) the pests attacked all villages in Sumbang sub-district, with the intensity of mild-heavy, (3) the intensity of pests attack were relatively rampant in the altitude (100-500 m asl), with attack intensity of mild-moderate. | |
| 8984 | 9234 | H1B007054 | PENENTUAN LOKASI INDOMART BARU DI WILAYAH PURWOKERTO DAN PENGARUH LOKASI TERHADAP RUTE DISTRIBUSI PRODUK | ABSTRAK, Penempatan minimarket seperti Indomart dan Alfamart di Purwokerto tidak tersebar secara merata. Jarak minimarket satu dengan minimarket yang lain terlalu dekat satu sama lain. Di lain pihak, Peraturan Pemerintah Banyumas No 9 Tahun 2010 menyatakan bahwa pembangunan minimarket baru harus berjarak minimal 500 meter dari minimarket lainnya dan pasar tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode usulan lokasi optimal pendirian minimarket Indomart baru dengan menggunakan metode pusat gravitasi. Untuk mendapatkan lokasi minimarket baru yang paling optimal di tempat tertentu. Dibutuhkan pertimbangan masing-masing jarak yang saling berhubungan di sekitar tempat yang akan dibangun. Lokasi baru yang telah dipilih, akan mempengaruhi rute distribusi produk dengan Indomart yang sudah ada di daerah Purwokerto. Mencari rute distribusi produk di setiap Indomart merupakan Traveling Salesman Problem. Setelah menemukan lokasi baru dan dicari jarak yang paling pendek dan paling optimal dengan menambahkan ke Indomart yang sudah ada, rute distribusi ke masing-masing Indomart terjadi perubahan secara keseluruhan. Dapat disimpulkan bahwa pendirian lokasi Indomart baru berpengaruh terhadap rute distribusi produk secara drastis. Kata kunci : Indomart, metode pusat gravitasi, dan Traveling Salesman. | ABSTRACT, The placement of minimarket such Indomart and Alfamart in Purwokerto is not spread evenly. The distance of some minimarkets are too close each other. On the other hand, the regulation section 9 year 2010 of local government of Banyumas states that any new minimarket development must have a distance of minimal 500 m from other minimarket and traditional market. This research is aimed to develop a method for determining the optimal location of a new Indomart. The method center gravitation is used.. To get the most optimal new minimarket location in certain place, it is necessary to consider related points in the surrounding place of location building to be. The chosen new location, will influence product distribution rute to the existing Indomart in Purwokerto region. Searching for product distribution rute to every Indomart right once time is Traveling Salesman Problem. After resulting new location and searched the shortest and the most optimal rute by adding to existed indomart, distribution rute to each Indomart occurs the change comprehensively. It can be concluded that the founding of new indomart location influences to product distribution drastically. Keywords : Indomart, Method Center Gravitation, and Traveling Salesman Problem | |
| 8985 | 5256 | A1C008068 | KAPABILITAS PETANI PADI SAWAH SEBELUM DAN SESUDAH MENGIKUTI PROGRAM SEKOLAH LAPANG PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (SL-PTT) - (Studi Kasus pada Kelompok Tani Sudi Rahayu Desa Gentasari Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap) | Padi merupakan bahan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Pemerintah dalam upaya memenuhi kebutuhan beras dari produksi dalam negeri, mulai tahun 2006 mencanangkan program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN). Salah satu strategi yang ditempuh adalah terselenggara Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) di 60.000 unit (sasaran Kelompok Tani). Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis kapabilitas petani padi sawah sebelum dan sesudah mengikuti program SL-PTT, (2) Menganalisis perbedaan kapabilitas petani sebelum dan sesudah mengikuti program SL-PTT, dan (3) Menganalisis hubungan antara kapabilitas petani dengan jumlah produk usahatani padi. Sasaran penelitian ini adalah anggota kelompok tani “Sudi Rahayu” yang melakukan usahatani padi sawah dan telah mengikuti Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) pada musim tanam II (April-September) tahun 2012 di Desa Gentasari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap dengan metode penelitian studi kasus. Rancangan pengambilan responden adalah sensus. Metode analisis yang digunakan adalah descriptive dengan bantuan teknis pengukuran skoring untuk menggambarkan kapabilitas petani padi. Metode uji beda menggunakan Paired Sampel t Test untuk menganalisis perbedaan kapabilitas petani. Uji Korelasi Rank Spearman digunakan untuk menganalisis hubungan kapabilitas petani dengan produksi padi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) Kapabilitas petani sebelum mengikuti program SL-PTT adalah sebesar 2,47, termasuk dalam kategori cukup dan kapabilitas petani sesudah mengikuti program SL-PTT adalah sebesar 2,24, termasuk dalam kategori cukup, (2) Tidak ada perbedaan kapabilitas sebelum dan sesudah mengikuti SL-PTT, dan 3) Tidak ada hubungan antara kapabilitas petani dengan jumlah produksi usahatani padi. | Paddy is a staple food for the majority of the Indonesian population. Government in an effort to meet the needs of rice production in the country, starting in 2006 it is desaigning a program of the National Rice Production Enhancement (NRPE). One of strategy adopted that in 2008 will be carried out Integrated Crop Management Field School (ICM-FS) at 60,000 units (target farmer groups). This research aimed for 1) to analyses capabilities of farmers the paddy before and after following ICM-FS program by the availability of financial capital and material applications (seeds application, organic fertilizer application, inorganic fertilizer application, and pesticide application), 2) to analyses if there is a difference between before and after of farmers capabilities by following ICM-FS program, and 3) to analyses the correlation of farmers capabilities with rice farming productions. Objectives of this research were members of farmer groups "Sudi Rahayu" who do rice farming and has followed the Integrated Crop Management Field School (ICM-FS) in the second growing season (April-September) in the village of Gentasari, Kroja District, Cilacap regency with case study method. Draft decision of the respondents is the census.. A method of analysis used is descriptive with technical assistance measurement skoring to describe capabilities farmers paddy. Test different methods using paired t test samples to analyze distinction capabilities farmer. Test correlation rank spearman used to analyze relations capabilities farmers with rice production. Result of this research showed that 1) the farmers capabilities before following ICM-FS program as much as 2,47, it in middle category and farmers capabilities after following ICM-FS as much as 2,24, at middle category. 2) there was no differences capabilities before and after following ICM-FS, and 3) there was no correlations between farmers capabilities with rice productions. | |
| 8986 | 9235 | P2CC11047 | PENGARUH STATUS EKONOMI, PENGETAHUAN ORANG TUA TENTANG SMK DAN PRESTASI BELAJAR SISWA SMP TERHADAP MINAT MELANJUTKAN PENDIDIKAN DI SMK NEGERI 1 PURWOKERTO | Penelitian ini berjudul “Pengaruh Status Ekonomi, Pengetahuan Orang Tua Tentang SMK Dan Prestasi Belajar Siswa SMP Terhadap Minat Melanjutkan Pendidikan Di SMK Negeri 1 Purwokerto”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh status ekonomi orang tua, pengetahuan orang tua, dan prestasi belajar siswa terhadap minat siswa SMP Negeri di Purwokerto untuk melanjutkan sekolah di SMK Negeri 1 Purwokerto. Penelitian ini merupakan penelitian survey dengan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul datanya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX SMP Negeri di Purwokerto tahun pelajaran 2013/2014 sebanyak 2.068 siswa dan diambil sampel sebanyak 335 siswa dengan teknik purposive proportional random sampling. Analisis data menggunakan uji persamaan regresi linier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status ekonomi orang tua berpengaruh negatif terhadap minat siswa SMP Negeri di Purwokerto untuk melanjutkan sekolah di SMK Negeri 1 Purwokerto (thitung = -8,083). Pengetahuan orang tua berpengaruh positif terhadap minat siswa SMP Negeri di Purwokerto untuk melanjutkan sekolah di SMK Negeri 1 Purwokerto (thitung = 8,165). Prestasi belajar siswa berpengaruh negatif terhadap minat siswa SMP Negeri di Purwokerto untuk melanjutkan sekolah di SMK Negeri 1 Purwokerto (thitung =-5,577). Implikasi dari hasil penelitian yaitu: Sekolah hendaknya memberikan program beasiswa terhadap siswa SMP yang berasal dari keluarga dengan status ekonomi yang kurang agar lebih berminat untuk melanjutkan pendidikanya ke SMK. Sosialisasi tentang pendidikan SMK perlu ditingkatkan, terutama pada orang tua siswa SMP agar orang tua dapat memberikan pertimbangan yang rasional dalam mengarahkan anaknya untuk melanjutkan pendidikan di SMK. Sekolah hendaknya melakukan pendekatan yang persuasif kepada siswa SMP yang berprestasi tinggi agar berminat melanjutkan pendidikan ke SMK seperti menjamin penyaluran kerja ke perusahaan-perusahaan. | This study, entitled “The Effects of Economic Status, Knowledge Parents About SMK And Achievement Student of SMP to the Interests of Continuing Education in SMK 1 Purwokerto”. Objectives of study to identify and analyze the effect of economic status of the parents, parental knowledge, and student achievement to the interest of SMP student to Continuing Education in SMK 1 Purwokerto. This study is a survey and used a questionnaire as a data collection tool. The population of study were all students of class IX SMP in Purwokerto at the school year 2013/2014 as many as 2.068 students and taken a sample of 335 students with a purposive proportional random sampling technique. Analysis of the data used linear regression test. The results of the study show that the economic status of parents negatively affect to the interest of SMP student in Purwokerto to continuing study at SMK Negeri 1 Purwokerto (thitung = -8,083). Knowledge of parents positively affect to the interest of SMP student in Purwokerto to continuing study at SMK Negeri 1 Purwokerto (thitung = 8,165). Student achievement negatively affect affect to the interest of SMP student in Purwokerto to continuing study at SMK Negeri 1 Purwokerto (thitung =-5,577). The implications of the research are: Schools should provide scholarships to junior high school students who come from families with less economic status to be more interested in continuing their education to vocational school. Socialization of vocational education needs to be improved, especially in the junior parents so that parents can provide a rational consideration in directing their children to continue their education at vocational school. Schools should do a persuasive approach to achieving high school students in order interested to continuing education in vocational school such ensure the distribution of work to companies. | |
| 8987 | 10681 | A1L010177 | UPAYA MEMPERPANJANG MASA KESEGARAN BUNGA POTONG KRISAN (Chrysanthemum sp) DALAM KAJIAN LAMA WAKTU PERENDAMAN DAN KOMPOSISI LARUTAN PULSING | Pulsing merupakan perlakuan pengawetan bunga segera setelah panen untuk memberi bekal sumber nutrisi pada bunga dan melindungi tangkai bunga dari serangan mikroorganisme penyebab penyumbatan pembuluh pada tangkai bunga. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi dan lama waktu perendaman larutan pulsing terhadap masa kesegaran bunga potong krisan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman pada bulan Agustus sampai September 2014. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu komposisi larutan pulsing (Air 300 ml (tanpa penambahan bahan kimia); AgNO3 50 ppm + gula pasir 10 % + Asam sitrat 50 ppm + air sampai 300 ml; AgNO3 50 ppm + gula pasir 15 % + Asam sitrat 50 ppm + air sampai 300 ml; AgNO3 50 ppm + gula pasir 20 % + Asam sitrat 50 ppm + air sampai 300 ml). Faktor kedua yaitu lama waktu perendaman larutan pulsing terdiri dari 4 taraf yaitu: (lama perendaman 2 jam, 4 jam, 6 jam dan 8 jam). Variabel yang diamati adalah total larutan pulsing yang terserap, total larutan holding yang terserap, persentase penambahan diameter bunga, warna bunga, saat bunga layu dan masa kesegaran bunga. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan komposisi larutan pulsing air 300 ml (tanpa penambahan bahan kimia) memberikan pengaruh yang paling baik pada variabel masa kesegaran bunga yaitu selama 22,41 hari. Perlakuan lama waktu perendaman larutan pulsing dan interaksinya tidak menunjukkan pengaruh terhadap semua variabel pengamatan. | Pulsing is a treatment of flowers preservation immediately after harvest to provide a provision of nutrients source to the flowers and to protect flower stalks from invading of microorganisms causing vessel blockage on the flower stalks. This research aims to determine the effect of the composition and duration of soaking pulsing solution against the freshness of cut flowers of chrysanthemum. The experiment was conducted in Agronomy Laboratory of Agriculture Faculty, Jenderal Soedirman University from August to September 2014. This research used Completely Randomized Design (CRD) consisting of 16 treatments and 3 replications. The first factor is the composition of the 2 pulsing solution (300 ml water ( without addition of chemicals ); AgNO3 50 ppm + 10 % sugar + 50 ppm citric acid + water until 300 ml; AgNO3 50 ppm + 15 % sugar + 50 ppm citric acid + water until 300 ml; AgNO3 50 ppm + 20 % sugar + 50 ppm citric acid + water until 300 ml. Second factor is the duration of soaking pulsing solution consisting of 4 extents, they are: (2 hours, 4 hours, 6 hours and 8 hours of soaking duration). Observed variables were the total of absorbed pulsing solution, the total of absorbed holding solution, the percentage of increase flowers’ diameter, flowers’ color, when the flowers were wilt and the freshness of flowers. The result of this research showed the composition of the pulsing solution treatment (300 ml water without addition of chemicals) provides the best effect to the freshness of chrysanthemum flowers that can be last during 22.41 days. Duration treatment of soaking pulsing solution and interaction showed no significant effect on all variables observations. | |
| 8988 | 11091 | F1B010038 | Manajemen Bencana Tanah Longsor Oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Di Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas | Kabupaten Banyumas merupakan daerah yang sering bencana tanah longsor. Salah satu daerah yang rawan adalah di Kecamatan Kedungbanteng. Manajemen penanggulangan bencana penting dilakukan untuk dapat mengantisipasi dan menanggulangi bencana, serta untuk meminimalkan jumlah korban. Manajemen penanggulangan bencana dilakukan oleh BPBD sebagai satuan kerja perangkat daerah yang fokus berperan dalam penangulangan bencana. Penelitian ini difokuskan pada manajemen penanggulangan bencana oleh BPBD dalam bencana tanah longsor terkait dalam tahapan pra bencana, saat bencana dan pasca bencana dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dan teknik pemilihan informan purposive sampling. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa manajemen penanggulangan bencana tanah longsor yang dilakukan oleh BPBD Banyumas masih terdapat kendala dalam tahapan pra bencana, tanggap darurat dan pasca bencana dikarenakan masih terdapat hambatan-hambatan yang terjadi dalam proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan dalam tahapan-tahapan manajemen penanggulangan bencana tanah longsor tersebut. | Banyumas district was the region that is often landslides. One of the areas that were vulnerable to is in the sub-district Kedungbanteng. A disaster management is important to be able to anticipate and cope with natural disasters, as well as to minimize number of victims. Management of disaster done by as a work unit BPBD regional equipment that focus penangulangan plays an important role in disaster. This research is focused on management of disaster by BPBD in landslides in relation to the stage pre disaster, when disaster and the post-disaster by using qualitative research method and the actual technique descriptive election informers purposive sampling. Results of research concluded that the management of disaster a landslide that done by BPBD Banyumas there are still problems faced in stages pre disaster, emergency response and the post-disaster because these obstacles there are still in the process of planning, organization, actuating, and controling in stages of disaster management landslides. | |
| 8989 | 11292 | C1A011095 | PENDEKATAN PERSAMAAN SIMULTAN PADA MODEL DETERMINAN CADANGAN DEVISA, INVESTASI ASING LANGSUNG DAN EKSPOR NETO DI INDONESIA PERIODE 1984-2013 | Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor – faktor yang berpengaruh terhadap cadangan devisa, investasi asing langsung atau FDI dan ekspor neto di Indonesia. Selain itu penelitian ini menguji apakah ada hubungan yang saling mempengaruhi dalam persamaan model tersebut menggunakan metode Two Stage Least Squares. Berdasarkan hasil penelitian pada persamaan pertama menunjukkan bahwa variabel FDI, ekspor neto, utang luar negeri dan kebijakan sistem devisa secara simultan berpengaruh terhadap cadangan devisa dan secara parsial variabel yang berpengaruh adalah FDI dan ekspor neto. Persamaan kedua menunjukkan variabel cadangan devisa, PDB, kurs dan inflasi secara simultan dan parsial berpengaruh terhadap FDI. Persamaan ketiga menunjukkan variabel cadangan devisa, kurs dan inflasi secara bersama-sama berpengaruh terhadap ekspor neto dengan variabel yang berpengaruh secara parsial yaitu cadangan devisa dan kurs. Selain itu penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan simultanitas atau saling berpengaruh antara cadangan devisa dengan FDI dan antara cadangan devisa dengan ekspor neto. | This research have a purpose to analyze factors that influence foreign exchange reserves, Foreign Direct Investment (FDI) and net export in Indonesia. The other purpose is to analyze whether there is a common of simultanity among three endogenous variables used analysis method of Two Stage Least Square (TSLS). Using that analyze technique, for the first equation it is found that FDI, net export, external debt and reserves policy simultaneously influenced foreign exchange reserves which FDI and net export are the most influencing variables.Second equation found that foreign exchange reserves, GDP, exchange rate and inflation simultaneously influenced FDI and all variables in this equation individually infuence FDI. The last equation found that foreign exchange reserves, exchange rate and inflation simultaneously influenced net export which foreign exchange reserves and exchange rate are the most influencing variables. In the end, this research conclude that there is a common of simultanity among foreign exchange reserves, FDI and net export. | |
| 8990 | 11431 | A1L008180 | UJI KEMEMPANAN TIGA ISOLAT BAKTERI Pseudomonas flourescens PADA BEBERAPA INSTAR ULAT BAWANG DAUN Spodoptera exigua (Hubner) | Bawang daun (Allium fistulosum L) adalah salah satu jenis tanaman sayuran yang berpotensi dikembangkan secara intensif dan komersil. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui isolat bakteri Pseudomonas fluorescens yang efektif untuk mengendalikan hama S.exigua, (2) mengetahui instar larva S. exigua yang rentan terhadap perlakuan bakteri Pseudomonas fluorescens, (3) mengetahui pengaruh interaksi isolat bakteri Pseudomonas fluorescens dan instar larva terhadap hama S. exigua, (4) mengetahui potensi bakteri Pseudomonas fluorescens terhadap anti peletakan telur pada imago S. exigua, (5) mengetahui pengaruh Pseudomonas fluorescens terhadap anti penetasan telur S. exigua. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian terdiri dari tiga percobaan. Percobaan pertama uji patogenitas bakteri, tahap kedua uji anti peletakan telur dan tahap ketiga uji anti penetasan telur. Rancangan percobaan untuk uji patogenitas bakteri dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial, faktor pertama terdiri dari lima taraf (bakteri Pseudomonas P8, Pseudomonas P16, Pseudomonas P60, Profenofos dan kontrol) dan faktor kedua larva S. exigua instar 3 dan instar 4. Percobaan diulang 3 kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji F dan apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji BNT dengan taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan P. flourescens P8, P. flourescens P16, P. flourescens P60 mampu membunuh instar 3 dan instar 4 larva S. exigua, terutama pada mortalitas larva sebesar 83,33%, 98,33% dan 100,00%, dan lama hidup larva sebesar 4,55 hari dan 4,40 hari. Isolat Pseudomonas P60 mampu mengurangi tingkat konsumsi pakan larva sebesar 16,00%. Dan Isolat bakteri Pseudomonas P8, Pseudomonas P16 dan Pseudomonas P60 tidak dapat menekan peletakan telur akan tetapi mampu mengurangi penetasan telur sebesar 87,70%, 41,69% dan 72,57%. | Leek ( Allium fistulosum L ) is one of vegetable crops that could be developed intensively and commercially. This study aimed in (1) determining Pseudomonas flourescens isolates which were effective to control. exigua, (2) knowing instar larvae of S. exigua which were susceptible to the Pseudomonas fluorescens, (3) knowing the influence of Pseudomonas fluorescens and instar larva interaction to the S. exigua, (4) knowing the potential of Pseudomonas fluorescens against anti laying of S. exigua’s eggs, (5) determining the influence of Pseudomonas fluorescens against anti hatchery of S. exigua. The research was conducted in the Laboratory of Plant Protection, Faculty of Agriculture, Jenderal Sudirman University. The study consisted of three experiments. The first trial of bacterial pathogenicity test , the second phase of testing preventive laying eggs and third- stage trials of preventive hatching eggs . Experimental design to test the pathogenicity of bacteria with randomized block design (RBD) factorial , the first factor consists of five level (Pseudomonas P8, Pseudomonas P16 , Pseudomonas P60 , Profenofos insecticide and control) and second factor are S. exigua larvae instar 3 and 4 . The experiment was repeated 3 times. Data were analyzed by F test and if significantly differentthen followed by LSD test at 5% error level. The results showed that the treatment of P. flourescens P8, P. flourescens P16 P.flourescens P60 able to kill instar 3 and 4 instar larvae of S. exigua, especially on larval mortality at 83,33%, 98,33% and 100,00%, and long live larvae at 4,55 days and 4,40 days. P60 Pseudomonas isolates were able to reduce the consumption rate of 16.00 % larvae feed and Isolates of Pseudomonas P8 , P16 and Pseudomonas P60 can not suppress egg laying but can reduce egg hatching by 87,70 % , 41,69 % and 72,57 %. | |
| 8991 | 9236 | E1A110021 | PEMBINAAN NARAPIDANA WANITA DI RUMAH TAHANAN NEGARA (RUTAN) KELAS II B BANYUMAS (studi di rumah tahanan negara kelas II B Banyumas) | Pelaksanaan pembinaan narapidana wanita merupakan masalah penegakan hukum. hal ini dapat diketahui dari pelaksanaan pembinaan narapidana wanita di Rumah Tahanan Negara Kelas II B Banyumas. Pembinaan narapidana wanita yang dijatuhi hukuman pidana dilaksanakan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan dan Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor :M. 02-PK.04.10 Tahun 1990 Tentang Pola Pembinaan Narapidana/ Tahanan. Pelaksanaan pembinaan yang dilakukan di Rutan Banyumas meliputi pembinaan pendidikan, pembinaan mental spiritual, pembinaan sosial budaya, pembinaan keterampilan dan pembinaan rekreasi. Faktor pendorong dari pelaksanaan pembinaan meliputi Faktor masyarakat , adanya kerjasama dengan pihak ketiga , faktor Sarana dan prasarana , faktor penegak hukumnya dan faktor hukumnya Faktor penghambat dalam proses pembinaan yaitu Faktor dari masyarakat , faktor sarana dan prasarana Khusus di bidang kesenian dan faktor penegak hukumnya | Implementation of construction convict women is a problem of law enforcement. this can be known from the implementation of the construction of female inmates at Remand Home Country Class II B Banyumas. Construction of female inmates who were sentenced to criminal implemented based on Government Regulation No. 31 Year 1999 on Construction and Building Citizens Correctional Counseling and decision of the Minister of Justice of the Republic of Indonesia Number: M. 02-PK.04.10 1990 About Pattern Construction Prisoners / Detainees. Implementation of construction done in Banyumas Rutan cover construction education, mental, spiritual, social construction of culture, recreation building and construction skills. Driving factor of the implementation of construction include community factors, the cooperation with third parties, Facilities and infrastructure factors, factors stand the ruling and the ruling factor Inhibiting factor in the construction process that is factor of community facilities and infrastructure Specific factors in the arts and his law enforcement factor | |
| 8992 | 5261 | A1C009046 | Keunggulan Komparatif-Kompetitif dan Tingkat Proteksi Gula Semut di Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas | Gula Semut merupakan produk gula kelapa yang berbentuk kristal dan memiliki kegunaan antara lain aman dikonsumsi penderita diabetes.Kecamatan Kemranjen merupakan kecamatan di Kabupaten Banyumas yang telah memproduksi gula semut cukup besar yaitu 20 ton per bulan.Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui adanya keunggulan komparatif-kompetitif dan tingkat proteksi yang dilakukan pemerintah terhadap gula semut di Kecamatan Kemranjen.Metode penelitian yang digunakan adalah sensus dan pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara serta observasi langsung. Metode analisis data yang digunakan adalahPolicy Analysis Matriks (PAM), analisis sensitivitas, dan koefisien proteksi. Hasil penelitian menunjukkankeuntungan finansial yang diketahui dari nilai PP sebesar Rp93.815.776,56 dan keuntungan sosialnya dari nilai SP sebesar Rp139.505.227,53, serta nilai DRC sebesar 0,634 dan PCR sebesar 0,635. Hal ini menunjukkan bahwa gula semut di Kecamatan Kemranjen memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif. Besarnya tingkat proteksi yang dilakukan kurang maksimal yaitu dilihat dari NPCO sebesar 0,66, NPCI sebesar 0,62 dan EPC sebesar 0,674, namun berbagai fasilitas dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Banyumas dan Bank Indonesia untuk pengembangan agroindustri gula semut sebagai klaster. | Granular sugar is product of the coconut sugar that have crystals shape and use, such as antidiabetic. Kemrnajen district is a district in Banyumas regency that has been producing granular sugar is large enough that 20 tons per month.This study was conducted to investigate the comparative-competitive advantage and protection level of granular sugar in Kemrnajen district by goverment. The research method used was a survey and data collection was done through interviews and direct observation. Data analysis method used is the Policy Analysis Matrix (PAM), sensitivity analysis, and the coefficient of protection. The results showed that the financial benefits from value of PP was Rp93.815.776, 56 and the social benefits from value of SP was Rp139.505.227, 53, as well as the DRC values was 0.634 and 0.635 for PCR. This suggests that granular sugar in Kemranjen District have comparative and competitive advantages. The level of protection that was less than the maximum that can be seen from NPCO value was 0.66, NPCI value was 0.62 and EPC value was 0.674, but a variety of facilities undertaken by the government of Banyumas and Bank Indonesia for the development agro-industry as a cluster of granular sugar. | |
| 8993 | 9237 | B1J010204 | PERSENTASE PENYAKIT CENDAWAN PADA TANAMAN KACANG PANJANG (Vigna sinensis L.) DI PERTANAMAN RAKYATDESA LINGGASARI KECAMATAN KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS | Kacang panjang (Vigna sinensis L.) termasuk salah satu komoditas sayuran yang dibudidayakan oleh petani Indonesia, salah satunya di Kabupaten Banyumas karena memiliki nilai ekonomis tinggi. Produksi kacang panjang di Indonesia dari tahun 2010 sampai 2012 mengalami penurunan. Penurunan produksi kacang panjang terjadi karena banyaknya hama dan penyakit pada tanaman kacang panjang sehingga para petani banyak yang berpindah ke tanaman lain. Linggasari merupakan salah satu sentra kacang panjang di Kecamatan Kembaran kabupaten Banyumas dengan luas ± 6 ha. Peningkatan produksi kacang panjang di Desa Linggasari memiliki banyak kendala, salah satunya penyakit yang disebabkan cendawan. Besarnya peran cendawan dalam menimbulkan penyakit pada tanaman kacang panjang di desa Linggasari kecamatan Kembaran kabupaten Banyumas belum diketahui, sehingga upaya pencegahan dan pengendalian penyebab penyakit tersebut belum dapat dilakukan dengan tepat. Penelitian ini dilakukan di Desa Linggasari, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, pada bulan April sampai Juli 2014. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis penyakit yang disebabkan oleh cendawan pada tanaman kacang panjang dan penyakit yang paling banyak muncul serta besarnya persentase penyakit yang disebabkan oleh cendawan. Peneitian ini dilakukan menggunakan metode survai dengan teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak sederhana (Simple Random Sampling) pada 3 lokasi dan setiap lokasi dibuat 5 petak secara diagonal sehingga terdapat 15 petak untuk seluruh lokasi. Tiap lokasi diambil sampel sebanyak 125 tanaman atau 25 tanaman setiap petak. Tanaman yang terdapat penyakit pada setiap lokasi didokumentasi, kemudian diambil sampel pada setiap jenis penyakit lalu diidentifikasi berdasarkan gejala dan tanda yang ditunjukkan menggunakan buku “Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia”, “Hama dan Penyakit Tanaman” dan “Dasar-dasar Ilmu Penyakit Tumbuhan”, dilanjutkan dengan menghitung frekuensi kemunculan dan persentase tiap jenis penyakit. Hasil penelitian diperoleh tiga jenis penyakit yang disebabkan oleh cendawan yaitu karat daun, bercak daun dan busuk bunga. Penyakit yang paling banyak muncul adalah penyakit karat daun sebanyak 360 kali sedangkan persentase masing-masing penyakit adalah karat daun 96%, bercak daun 45,6% dan busuk bunga 2,93%. | Beans (Vigna sinesis L.) belong to vegetable comodities which has high economic value cultivated by Indonesian farmers and one of them is from Banyumas Regency. Beans production in Indonesia from 2010 to 2012 run down. This productivity problem happened as a lot of plant disease or pest on it so it made most farmers had to change planting another vegetable varieties. Linggasari was a farm center of beans in Kembaran district Banyumas Regency widely 6 ha. Productivity of beans has many constrains one of them is fungi .The role of fungi that made disease on beans in Linggarsari has not been known yet how to control,so far the control n prevention of this disease could not have been done properly. The research was done in Linggasari, Kembaran district, Banyumas regency on April to July, 2014.The purpose of the research is to know what disease brought by fungi on beans and how big the percentages is. The research was used survey method by simple random sample way in 3 location and each location was built 5 parts diagonally so there were 15 parts in all location. Each location the survey took 125 plants or 25 plants per part as sample and then documented the plant which are indicated of disease every location, took a sample of every disease then identificated by symptom and sign base on using books of “Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura Di Indonesia”, “Hama dan Penyakit Tanaman” and “Dasar-dasar Ilmu Penyakit Tumbuhan”. This, then was counted the emerge and percentages frequently every disease.The result of the research there were 3 diseases by mildew that found such as rust, leaf spot and blossom rot, and the most diseases which attacked is rust much as 360 times, the percentages are rust 96%, leaf spot 45.6% and blossom rot 2.93%. Beans (Vigna sinesis L.) belong to vegetable comodities which has high economic value cultivated by Indonesian farmers and one of them is from Banyumas Regency. Beans production in Indonesia from 2010 to 2012 run down. This productivity problem happened as a lot of plant disease or pest on it so it made most farmers had to change planting another vegetable varieties. Linggasari was a farm center of beans in Kembaran district Banyumas Regency widely 6 ha. Productivity of beans has many constrains one of them is fungi .The role of fungi that made disease on beans in Linggarsari has not been known yet how to control,so far the control n prevention of this disease could not have been done properly. The research was done in Linggasari, Kembaran district, Banyumas regency on April to July, 2014.The purpose of the research is to know what disease brought by fungi on beans and how big the percentages is. The research was used survey method by simple random sample way in 3 location and each location was built 5 parts diagonally so there were 15 parts in all location. Each location the survey took 125 plants or 25 plants per part as sample and then documented the plant which are indicated of disease every location, took a sample of every disease then identificated by symptom and sign base on using books of “Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura Di Indonesia”, “Hama dan Penyakit Tanaman” and “Dasar-dasar Ilmu Penyakit Tumbuhan”. This, then was counted the emerge and percentages frequently every disease.The result of the research there were 3 diseases by mildew that found such as rust, leaf spot and blossom rot, and the most diseases which attacked is rust much as 360 times, the percentages are rust 96%, leaf spot 45.6% and blossom rot 2.93%. | |
| 8994 | 9239 | B1J009174 | PERSENTASE PENYAKIT CENDAWAN PADA TANAMAN TEH (Camellia sinensis L.) DI PT PN IX KALIGUA DESA PANDANSARI KECAMATAN PAGUYANGAN KABUPATEN BREBES | Teh (Camellia sinensis L.)merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan yang banyak dibudidayakan karena memiliki harga jual yang tinggi.Perkebunan teh tersebar luas di Indonesia salah satunya di daerah Brebes di PT PN IX Kaligua Desa Pandansari Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes. Peningkatan produksi teh di Kaligua memiliki, banyak kendala, terutama adalah penyakit yang disebabkan cendawan, yang mampu menurunkan hasil sehingga produksi tidak optimal. Penelitian ini di lakukan di PT PN IX Kaligua Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, pada bulan Maret sampai April 2014 dengan tujuan mengetahui jenis-jenis penyakit yang disebabkan oleh cendawan pada tanaman teh, mengetahui jenis penyakit yang paling banyak ditemukan dan mengetahui besarnya presentase kerusakan tanaman teh yang disebabkan oleh cendawan. Penelitian ini dilakukan metode survey, teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak terpilih (simple Random Sampling) pada 3 lokasi dan setiap lokasi dibuat 5 petak secara diagonal sehingga terdapat 15 petak untuk seluruh lokasi. Tiap lokasi diambil sampel sebanyak 125 tanaman atau 25 tanaman setiap petak. Tanaman yang terdapat penyakit pada setiap lokasi di dokumentasi, kemudian diambil sampel pada setiap jenis penyakit lalu di identifikasi berdasarkan gejala dan tanda yang ditunjukkan menggunakan buku: “Penyakit-Penyakit Tanaman Perkebunan Di Indonesia” (Semangun, 1988) dan “Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Tumbuhan” (Meity, 2003), dilanjutkan dengan menghitung frekuensi kemunculan dan persentase tiap jenis penyakit. Hasil penelitian di PT PN IX Kaligua Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, menunjukkan bahwa pada tanaman teh terdapat empat jenis penyakit yang disebabkan oleh cendawan yaitu penyakit akar merah anggur, bercak coklat, busuk daun dan cacar daun. Penyakit yang paling banyak muncul adalah cacar daun sebanyak 247 kali. Besarnya nilai persentase penyakit cendawan pada tanaman teh adalah 0,27% untuk penyakit Akar merah anggur, 40,53% bercak coklat, 2,4% busuk daun dan 65,87% untuk penyakit cacar daun. | Tea (Camellia sinesis L) is one of the many plantations in caltivating because it has high cost selling. Tea Plantation is widespread in Indonesia one of them in the area Brebes in PN IX kaligua village Pandansari, sub-district Paguyangan, Brebes. The increase of tea production in Kaligua has many obstacles especially is a disease caused fungus, which was able to reduce homelands production could be not optimal. This research did in PT PN IX kaligua village Pandansari, sub-district Paguyangan, Brebes, in March and April 2014, the aim of knowing what kind of disease types caused by fungus in tea plant,to know the type of disease that most dominant and to know percentage damage of tea plant that is caused by fungus. The research was used survey method by simple random sample way in 3 location and each location was built 5 parts diagonally so there were 15 parts in all location. Each location the survey took 125 plants or 25 plants per part as sample and then documented the plant which are indicated of disease every location, took a sample of every disease then identificated by symptom and sign base on using books of “Penyakit-penyakit Tanaman Perkebunan Di Indonesia” and “Dasar-dasar Ilmu Penyakit Tumbuhan” this, then was counted the emerge and percentages frequently every disease. The Research in PT PN IX kaligua village Pandansari, sub-district Paguyangan, Brebes, of result shows the tea plant that four kinds of diseases caused by fungus that is, root red of wine, brown spot, rotten leafand spotted leaf. The most diseases which attacked is spotted leaf as 247 times. Large price of percentage diseases fungus the tea plant is 0.27 % of diseases root red of wine,40.53 %brown spot, 2.4 %rotten leaf and 75.87% of diseases spotted leaf. | |
| 8995 | 10684 | D1E010090 | PROFIL MANAJEMEN DAN REPRODUKSI KAMBING PERANAKAN BOER DI UNIT PELAKSANA TEKNIS DAERAH (UPTD) PERBIBITAN TERNAK UNGGUL MULYOREJO KABUPATEN SEMARANG | “Profil Manajemen dan Reproduksi Kambing Peranakan Boer di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perbibitan Ternak Unggul Mulyorejo Kabupaten Semarang”. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai September 2014. Materi yang digunakan adalah catatan data (recording) produksi dan reproduksi 40 ekor kambing Peranakan Boer sejak tahun 2008-2014. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengetahui profil manajemen dan reproduksi ternak kambing Peranakan Boer (2) mengetahui hubungan antara kepadatan kandang dengan daya hidup kambing Peranakan Boer dan (3) mengetahui hubungn antara umur induk dengan litter size. Rata-rata umur induk 1864,4 ± 679,8 hari (62,15 ± 22,66 bulan), litter size 1,64 ± 0,58 ekor, kidding interval 519,23 ± 281,23 hari (17,3 ± 9,4 bulan), daya hidup prasapih 73,84 ± 37,93%. Kesimpulan dari penelitian ini umur beranak pertama terlambat (29,8 bulan), tipe kelahiran cenderung kembar dua, kidding interval cukup panjang (berkisar 10,4 – 19 bulan) dan daya hidup prasapih relatif sedang. Kepadatan kandang berpengaruh terhadap daya hidup sebesar 32%. Umur induk berpengaruh terhadap litter size sebesar 16%. Perlu dilakukan usaha yang dapat memperpendek kidding interval dengan cara membuat catatan manajemen perkawinan dan kontrol ternak birahi sehingga kambing dapat di kawinkan tepat waktu. | "Profile Management and Crossbreed Boer Goat Reproduction in Regional Technical Implementation Unit (UPTD) Superior Livestock Breeding Mulyorejo Semarang District". The experiment was conducted from August to September 2014. The materials used are recording the production and reproduction of 40 Crossbreed Boer goat since 2008-2014. Purpose of this study were: (1) identify the profile of management and reproduction Crossbreed Boer goats (2) determine the relationship between the density of the cage with pre-weaning survivability Crossbreed Boer goat and (3) determine the relationship between age and litter size. The average age of 1864.4 ± 679.8 days parent (62.15 ± 22.66 months), litter size of 1.64 ± 0.58 goat, kidding interval of 519.23 ± 281.23 days (17.3 ± 9.4 months), pre-weaning survivability of 73.84 ± 37.93%. The conclusions in experiment are the age of first birth to be late (29.8 months), type of birth tend twins, kidding interval is rather long (from 10.4 to 19 months) and pre-weaning survivability relatively moderate. Cage density effect on the survival rate of 28%. Age parent effect on litter size by 16%. Effort should be made to shorten the interval in UPTD Mulyorejo by making the inbred records management and control of animal so the inbred goats can be timely. | |
| 8996 | 9238 | B1J010118 | AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK TUBUH BUAH DAN FILTRAT KULTUR Pleurotus ostreatus PADA MEDIUM BERBEDA TERHADAP BAKTERI Salmonella typhi DAN Bacillus cereus | Pleurotus ostreatus termasuk jamur pangan yang memiliki aktivitas antimikroba berupa senyawa ekstraseluler dan intraseluler. Penelitian bertujuan untuk mengetahui penggunaan jenis medium kultur P. ostreatus yang berbeda terhadap aktivitas antimikroba pada S. typhi dan B. cereus, mengetahui medium yang paling efektif untuk menghasilkan senyawa antimikroba, mengetahui konsentrasi penghambatan minimun ekstrak kultur P. ostreatus. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang dicobakan adalah ekstrak antimikroba dari tubuh buah dan filtrat kultur P. ostreatus pada medium berbeda. Variabel yang digunakan dalam percobaan ini adalah variabel bebas berupa ekstrak P. ostreatus, sedangkan variabel tegantung adalah aktivitas penghambatan pada bakteri uji. Parameter utama yang diamati meliputi diameter zona hambat, sedangkan bobot ekstrak dan nilai MIC diamati sebagai perameter pendukung. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA), dan perbedaan nyata antar perlakuan dianalisis lebih lanjut dengan uji Duncan pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuh perlakuan ekstrak kultur P. ostreatus dari tubuh buah dan filtrat pada medium berbeda menghasilkan zona hambat terhadap S. typhi dan B. cereus dengan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) pada masing-masing bakteri. Hasil zona hambat terendah terhadap S. typhi dan B. cereus berturut-turut adalah FC3 dan FC1 dengan diameter rata-rata 8,63 ± 0,750 mm dan 8,88 ± 0,946 mm, sedangkan hasil zona hambat tertinggi ditunjukkan pada ekstrak Tubuh Buah (TB) 0% dari medium tanpa penambahan tepung jagung. Diameter rata-rata penghambatan ekstrak TB 0% terhadap S. typhi dan B. cereus berturut-turut adalah 28,75 ± 3,227 mm dan 13,625 ± 1,887 mm. Hasil tersebut menunjukkan ektrak intraseluler dari tubuh buah P. ostreatus menghasilkan aktivitas antimikroba yang lebih besar daripada ekstrak ekstraseluler dari filtrat P. ostreatus. Konsentrasi penghambatan minimum ekstrak TB 0% terhadap S. typhi adalah 400 µg/mL, sedangkan B. cereus adalah 600 µg/mL. | Pleurotus ostreatus is a edible mushroom that has active compounds as antimicrobial, may be a compounds from the extracellular and intracellular.The aims of this research were to determine the use of different medium on antimicrobial activity of S. typhi and B. cereus, to determine the most effective extract of P. ostreatus medium to produce antimicrobial substances, to determine the minimum inhibitory concentration (MIC) of the extract P. ostreatus culture. The experimental method which used in this research was completely random design. The treatments tested was the antimicrobial extract from fruiting bodies and P. ostreatus culture filtrate on different medium. The independent variables is consist of P. ostreatus extract, while dependent variable is the inhibitory activity of the bacteria test. The main parameters observed is bacterial inhibition zone diameter, while the weight of extract and MIC values as the support parameters. Data were analyzed by analysis of variance (ANOVA), and significant differences between treatments then further analyzed by Duncan's test at the 95% confidence level. The results showed that seven treatments culture extracts of P. ostreatus fruiting bodies and the filtrate on different medium resulted in bacterial inhibition zone against S. typhi and B. cereus with a very significant different (P <0,01). The results of the lowest inhibition zone against S. typhi and B. cereus, respectively, FC3 and FC1 with average diameter of inhibition zone were 8,63 ± 0,750 mm and 8,88 ± 0,946 mm, while the result of the highest inhibition zone shown in fruit body extract (TB) 0% of the medium without the addition of corn flour. The average diameter of the TB 0% inhibition extract against S. typhi and B. cereus, respectively were 28,75 ± 3,227 mm and 13,625 ± 1,887 mm. These results showed the intracellular extract from P. ostreatus fruiting bodies produced the best antimicrobial activity than extracellular extract from P. ostreatus culture filtrate. The minimum inhibitory concentration of the extract TB 0% against S. typhi was 400µg/ml, while B. cereus was 600µg/ml. | |
| 8997 | 10682 | D1E011069 | PENGARUH LEVEL EKSTRAK DAUN KECOMBRANG (Etlingera elatior) TERHADAP TOTAL BAKTERI, pH DAN KEEMPUKAN DAGING SAPI | Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh level ekstrak daun kecombrang (Etlingera elatior) terhadap total bakteri, pH dan keempukan pada daging sapi sebagai bahan pengawet alami. Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan ulangan sebanyak 4 kali. Perlakuan terdiri dari 6 macam perlakuan yaitu T0 = Daging sapi dengan perendaman aquades, T1 = Perendaman ekstrak daun kecombrang dengan level 1,5%, T2 = Perendaman ekstrak daun kecombrang dengan level 3%, T3 = Perendaman ekstrak daun kecombrang dengan level 4,5%, T4 = Perendaman ekstrak daun kecombrang dengan level 6% dan T5 = Perendaman ekstrak daun kecombrang dengan level 7,5%. Perendaman dilakukan selama 30 menit. Peubah yang diukur adalah total bakteri, pH dan keempukan. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis variansi dilanjutkan dengan uji orthogonal polynomial. Hasil penelitian menunjukan bahwa level ekstrak daun kecombrang berpengaruh sangat nyata (P< 0,01) terhadap total bakteri dan pH. Hasil uji lanjut orthogonal polynomial hubungan level perendaman ektrak daun kecombrang terhadap total bakteri digambarkan secara cubic dengan persamaan garis y = 8,862 – 0,388x + 0,077x2 – 0,009x3 dengan nilai koefisien determinasi (R2) = 55,7%. Hasil yang diperoleh dari total bakteri yaitu tertinggi pada T0 total bakteri sebesar 8,94±0,70 log cfu/gr dan terendah pada T5 sebesar 6,52±0,31 log cfu/gr. Hasil uji lanjut orthogonal polynomial hubungan level perendaman ektrak daun kecombrang terhadap pH digambarkan secara linier dengan persamaan garis y = 5,10 + 0,019x dengan nilai koefisien determinasi (R2) = 53,9%. Hasil pH terendah pada T1 sebesar 5,10 ± 0,03 dan tertinggi pada T5 sebesar 5,20 ± 0,02. Pada keempukan berpengaruh tidak nyata (P> 0,05) dengan rataan kisaran 0,02-0,03 mm/gr/dt. Kesimpulan penelitian ini adalah semakin tinggi level ekstrak daun kecombrang, maka semakin dapat menurunkan total bakteri dan meningkatkan pH daging sapi. Kata kunci : Kecombrang, Daging sapi, Antimikroba, Total bakteri, pH, Keempukan | This study was conducted on January 12, 2015 until January 16, 2015 in Technology Laboratory Faculty of Animal Science and Laboratory of Microbiology, Faculty of Biology, Jenderal Soedirman University Purwokerto. The study aimed to determine the effect of level of kecombrang leaf extract (Etlingera elatior) on total bacteria , pH and tenderness in beef as a natural preservative. The method used was a completely randomized design , replicated 4 times. The treatment consisted of 6 that were T0 = Beef immersed in water, T1 = Immersion in kecombrang leaf extract with level 1.5 %, T2 = Immersion in kecombrang leaf extract with level 3%, T3 = Immersion in kecombrang leaf extract with level 4.5 %, T4 = Immersion in kecombrang leaf extract with level 6 % and T5 = Immersion in kecombrang leaf extract with level 7.5 %. Immersion was performed for 30 minutes. Data were analyzed by analysis of variance followed by orthogonal polynomials test. The results showed that the level of kecombrang leaf extract has highly significant (P<0.01) effect on total bacteria and pH , whereas no significant (P> 0.05) effect on tenderness. The relationship between level kecombrang leaf extract and total bacteria followed equation y = y = 8,862 – 0,388x + 0,077x2 – 0,009x3 with (R2) = 55,7%. The highest total bacteria was 8.94 ± 0.70 log cfu/g without kecombrang leaf extract and the lowest was 6.52 ± 0.31 log cfu/g with 7,5% kecombrang leaf extract. The relationship between level kecombrang leaf extract and pH followed equation y = 5.10 + 0,019x with (R2) = 53,9%. . The highest pH was 5.20 ± 0.02 with 7,5% kecombrang leaf extract and the lowest was 5.10 ± 0.03 mm/g/sec with 1,5% kecombrang leaf extract. The conclusion of this study is that the higher level kecombrang of leaf extract, the lower total bacteria and the higher pH of beef. It is recommended to use 7,5% kecombrang leaf extract to preserve beef. Keywords : Kecombrang, Beef, Antimicrobials, Total Bacteria, pH, Tenderness | |
| 8998 | 10683 | D1E009073 | PERANAN USAHA SAPI POTONG DALAM PENINGKATAN PENDAPATAN RUMAH TANGGA PETERNAK DI KABUPATEN BANJARNEGARA | Penelitian yang berjudul “Peranan Usaha Ternak Sapi Potong dalam Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Peternak di Kabupaten Banjarnegara”. Penelitian ini bertujuan: 1). Mengetahui besarnya pendapatan usaha sapi potong dan usana non sapi potong; 2). Mengetahui kontribusi pendapatan dari usaha ternak sapi potong terhadap pendapatan rumah tangga peternak; 3). Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kontribusi pendapatan usaha sapi potong. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei (Survey Method) terhadap rumah tangga peternak sapi potong. Dari total 20 kecamatan di Kabupaten Banjarnegara yang dijadikan sampel penelitian berdasarkan populasi sapi potong, sampel dikategorikan menjadi tiga, yaitu tinggi, sedang dan rendah menggunakan metode Stratified Random Sampling. Kemudian responden peternak akan dipilih dengan metode Quota Sampling yaitu sebanyak 30 peternak pada masing masing kecamatan yang terpilih sehingga jumlah keseluruhan responden yaitu sebesar 150 peternak. Pendapatan sapi potong dianalisis secara cash flow, kontribusi pendapatan dari usaha ternak sapi potong terhadap pendapatan rumah tangga peternak dengan membandingkan pendapatan usaha saping dengan seluruh pendapatan keluarga peternak, pengaruh variabel independen (jumlah pakan hijauan, skala usaha, curahan tenaga kerja, pendidikan dan lama beternak) terhadap pendapatan usaha sapi potong dianalisis dengan regresi linier berganda. Hasil analisis menunjukan pendapatan peternak sapi potong di Kabupaten Banjarnegara sebesar Rp 3.961.841,00 / tahun dan pendapatan non sapi potong sebesar Rp 23.863.481,00 / tahun. Kontribusi kontribusi pendapatan dari usaha ternak sapi potong terhadap pendapatan rumah tangga peternak sebesar 16,60%. Kontribusi kontribusi pendapatan dari usaha ternak sapi potong terhadap pendapatan rumah tangga peternak dipengaruhi oleh faktor pakan hijuan dan skala usaha. Kesimpulan: 1).Pendapatan peternak sapi potong di Kabupaten Banjarnegara cukup menguntungkan, dan kontribusi pendapatan usaha sapi potong relatif cukup tinggi. ; 2). Pendapatan usaha ternak sapi potong dapat ditingkatkan apabila salah satunya dengan menambah jumlah kepemilikan ternak. Berarti usaha ternak sapi potong dapat menjadi alternatif pilihan sebagai usaha sampingan untuk meningkatkan pendapatan keluarga. | The research entitled "The Role of Beef Cattle Breeders Bussiness within Household Income Enhancement in Banjarnegara". This research purpose is : 1) to know of beef cattle income and non-beef cattle bussiness income; 2) to know contribution of beef cattle business income on household income of farmers; 3) to know factors affecting contribution of beef cattle. The research was conducted using a survey method towards beef cattle farming households. From total 20 districts in Banjarnegara that became sampled beef cattle population based studies, the samples were categorized into three, high, medium and low using stratified random sampling method. Then the farmer respondents will be selected by quota sampling method as many as 30 farmers in each district that be chosen so that the total number of respondents were 150 farmers. Beef cattle bussiness income were analyzed using cash flow analysis, the contribution of beef cattle business income on household income of farmers with campare beef cattle business income to all household income of farmers, the influence of independent variable (forage amount factor, business scale, the outpouring of labor, education, long term breeding) toward operating revenues of cattle cut were analyzed using multiple linear regression analysis. The analysis results showed that the average income of beef cattle business in Banjarnegara is Rp 3.961.842/year and non-beef cattle bussiness income is Rp 23.863.481,00 /year. Beef cattle contribution towards farmers household income about 16.60 percent. The most influence factor towards beef cattle income are forage amount and bussiness scale. The conclusion is : 1) Beef cattle bussiness income in Banjarnegara is a fairly profitable, and contribution of beef cattle income in Banjarnegara relatively high enough; 2) Beef cattle business income can be improved if one of them by increasing the number of ownership of livestock. This means that beef cattle breeders can be to choose a side in an effort to increase household income | |
| 8999 | 10685 | C1K010028 | GREEN MARKETING: FROM CONCERN TO CONSUMPTION; FACTORS INFLUENCING THE REPURCHASE INTENTION OF GREEN CONSUMERS | Pendekatan Pemasaran Hijau pada sektor produk diyakini dapat meningkatkan integrasi isu-isu yang berhubungan dengan lingkungan dalam semua aspek kegiatan perusahaan, mulai dari perumusan strategi, perencanaan, dan persiapan, melalui produksi dan distribusi atau distribusi ke pelanggan. Kecenderungan pergeseran pola konsumsi konsumen dalam mengkonsumsi produk-produk organik dari produk konvensional telah menjadi fenomena yang menarik saat ini. Demikian juga dengan faktor kesehatan, gaya hidup, dan lingkungan telah menjadi hal penting bagi konsumen untuk membeli produk organik. Salah satu sektor industri yang sering disorot masyarakat mengenai suatu produk yaitu hubungannya dengan ramah lingkungan, adalah bisnis produk kosmetik. Meskipun di Indonesia produk hijau belum begitu dikenal oleh konsumen, namun, ada beberapa produk hijau yang diterima dengan baik oleh pasar Indonesia seperti produk kosmetik hijau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh nilai produk hijau yang dirasakan, kepuasan terhadap produk hijau dan risiko produk hijau yang dirasakan terhadap kepercayaan terhadap produk hijau, serta untuk menganalisis pengaruh nilai produk hijau yang dirasakan, kepuasan terhadap produk hijau, risiko produk hijau yang dirasakan dan kepercayaan terhadap produk hijau terhadap minat pembelian kembali produk hijau pada konsumen produk kosmetik hijau. Jumlah sampel yang diambil adalah 150 orang yang pernah membeli produk atau jasa di Larissa Aesthetic Center Purwokerto, dengan teknik pengambilan sampel adalah convenience sampling. Structural Equation Modeling (SEM) digunakan untuk menganalisis variabel. Penelitian ini terdiri dari tujuh hipotesis sebagai model. Berdasarkan hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa nilai produk hijau yang dirasakan dan kepuasan terhadap produk hijau memiliki pengaruh yang signifikan positif terhadap kepercayaan terhadap produk hijau, sedangkan risiko produk hijau yang dirasakan memiliki pengaruh signifikan negatif terhadap kepercayaan terhadap produk hijau. Kemudian, nilai produk hijau yang dirasakan, kepuasan terhadap produk hijau dan kepercayaan terhadap produk hijau memiliki pengaruh yang signifikan positif terhadap minat pembelian kembali produk hijau, sedangkan risiko produk hijau yang dirasakan berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap minat pembelian kembali produk hijau. Kata kunci: Nilai produk hijau yang dirasakan, Kepuasan terhadap produk hijau, Risiko produk hijau yang dirasakan, Kepercayaan terhadap produk hijau, Minat pembelian kembali produk hijau, Produk kosmetik hijau. | Green marketing approach in the product area is believed to improve the integration of environmental issues in all aspects of the company's activities, ranging from strategy formulation, planning, and preparation, through the production and distribution or distribution to customers. The tendency of shifting consumer consumption patterns of consuming organic products from conventional products has become an interesting phenomenon today. Likewise with health factors, lifestyle, and the environment becomes an important interest of consumers to buy organic products. One of industry sectors that are often highlighted in the community regarding its products are often its relationship with environmental friendliness is a cosmetic product business. Although in Indonesia green products have not been so well known by the consumers, however, there are some green products which are well received by the Indonesian market such green product cosmetics. The purpose of this study was to analyze the influence of green perceived value, green satisfaction and green perceived risk on green trust, as well as to analyze the influence of green perceived value, green satisfaction, green perceived risk and green trust on green repurchase intention of green product cosmetics consumers. Using a sample size of 150 people who have ever purchased products or services in Larissa Aesthetic Center Purwokerto, the sampling technique was convenience sampling. Structural Equation Modeling (SEM) was used to analyze the variables. The research processed seven hypotheses development as a model. Based on the results of data analysis, it can be concluded that green perceived value and green satisfaction have positive significant influence on green trust, while green perceived risk has negative significant influence on green trust. Then, green perceived value, green satisfaction and green trust have positive significant influence on green repurchase intention, while green perceived risk has negative insignificant influence on green repurchase intention. Keywords: Green perceived value, Green satisfaction, Green perceived risk, Green trust, Green repurchase intention, Green product cosmetics. | |
| 9000 | 9240 | H1C010006 | Studi Analisis Unjuk Kerja Pembangkit Listrik Dengan Fuell Cell Jenis Proton Exchange Membrane Fuel Cell ( PEMFC ) Kapasitas 48 Watt | Fuel cell merupakan alat konversi elektrokimia yang berfungsi mengubah energi kimia fuel (bahan bakar) secara kontinyu menjadi energi listrik dimana keluarannya Direct Current (DC). Fuel cell memiliki tingkat efisiensi yang cukup tinggi. Fokus utama penelitian yang dilakukan adalah studi analisis mengenai unjuk kerja dari fuel cell dimana jenis fuel cell yang digunakan adalah Proton Exchange Membrane Fuel Cell (PEMFC) dengan bahan bakar hidrogen. PEMFC merupakan jenis dari fuel cell yang dibentuk dari anoda, katoda dan membran yang terdapat diantara anoda dan katoda tersebut dimana proton sebagai konduktor melewati membran dari bahan polimer yang berfungsi sebagai elektrolit dari anoda ke katoda. Dalam penelitian ini akan mengkaji parameter arus, tegangan, daya, dan efisiensi dari 4 stack fuel cell yang terkoneksi secara seri dan paralel dengan perbedaan suhu dan tekanan yang diberikan. Hasil penelitian diperoleh adanya penurunan nilai efisiensi seiring bertambahnya waktu yang disebabkan oleh rugi -rugi. Saat waktu 0.5s dengan beban 3 Ω dan 3 H diperoleh nilai efisiensi 42.5 % sampai 51.25 % terkoneksi paralel dari blok #1 seri dan blok #2 seri, terkoneksi seri dari blok #1 paralel dan blok #2 paralel, dan terkoneksi paralel dari blok #1 paralel dan blok #2 paralel dengan suhu 65 °C dan tekanan 0.6 Bar. Sementara pada kondisi yang sama, nilai tegangan maksimum diperoleh sebesar 12.48 V dengan nilai arus 4,16 A dan daya 51,9168 Watt. Sehingga unjuk kerja dari fuel cell dipengaruhi oleh suhu dan tekanan. Semakin kecil suhu dan tingginya tekanan yang diberikan, maka nilai arus, tegangan, daya, dan efisiensi semakin besar dan baik. | Fuel cell is an electrochemical conversion tool that functions convert chemical energy of fuel (fuel) continuously into electrical energy which output is Direct Current (DC). Fuel cells have a fairly high level of efficiency. Type of Proton Exchange Membrane Fuel Cell (PEMFC) is a type of fuel cell that is formed from the anode, cathode and membrane that exists between the anode and cathode, where the as the conductor protons pass through the membrane of the polymer material that serves as the electrolyte from the anode to the cathode. Obtained a decrease of efficiency value when time increase because lossess. When the time 0.5s with load 3 Ω and 3 H, obtained efficiency value 42.5% until 51.25% that connected parallel from block # 1series and block # 2 series, connected series from block # 1 parallel and block # 2 in parallel, and are connected in parallel from the block # 1 parallel and block # 2 in parallel with a temperature of 65 ° C and a pressure of 0.6 bar. While at the same conditions, the maximum voltage value obtained is 12.48 V with current value 4.16 A and power 51.9168 Watt. So the performance of the fuel cell is affected by temperature and pressure. Smaller or higher the temperature and pressure are given, then the value of the current, voltage, power, and efficiency will be greater and better. |