Artikelilmiahs
Menampilkan 9.121-9.140 dari 48.918 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 9121 | 11101 | F1C008064 | Perempuan dalam Media (Studi Resepsi Mahasiswa Kota Purwokerto tentang Tayangan Mata Lelaki di Trans7) | Media massa menanamkan nilai-nilai dalam tiap produknya, termasuk pada media televisi. Khalayak pun pada dasarnya punya kuasa untuk menolak, menerima, atau menerima sebagian dan menolak sebagian lainnya. Penelitian ini meneliti hal tersebut menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menerapkan studi resepsi, khususnya metode diakronis. Metode pengumpulan data dilakukan dengan Focus Group Disucussion (FGD) dan wawancara mendalam. Informan ditetapkan dengan menggunakan teknik teknik purposive sampling dan dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan diferensiasi latar belakangnya. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah secara umum keseluruhan informan tidak menerima begitu saja pemaknaan yang ditawarkan oleh tayangan. Mereka secara kritis memaknai tayangan berdasarkan sudut pandang mereka masing-masing. Ditemukan beberapa pemaknaan yang dominan dari keseluruhan informan, yaitu terkait perempuan sebagai komoditas di media massa, sudut pandang media yang hanya melihat perempuan dari segi fisik, semakin lunturnya perempuan yang masih memegang erat budaya timur, dan yang terakhir adalah terjadinya bias gender di media massa. Ditemukan tiga faktor yang signifikan terhadap keberagaman pemaknaan informan, yaitu ketaatan terhadap norma-norma agama, latar belakang keharmonisan keluarga, dan latar belakang pendidikan. Sedangkan faktor yang tidak signifikan, yaitu faktor usia dan jenis kelamin. Terdapat persamaan penerimaan makna tentang penggambaran sosok perempuan dalam tayangan pada masing-masing kelompok informan. Persamaan penerimaan pesan tiap informan sebagian besar dipengaruhi oleh pengalaman, sikap, dan keyakinannya masing-masing. Dari hasil analisis spectrum of reading David Morley, kelompok negotiated reading terdiri dari sembilan informan yang tersebar dari ketiga kelompok. Sedangkan kelompok oppositional reading terdiri dari empat informan yang juga tersebar dari ketiga kelompok. Sementara tidak ditemukan satu pun informan yang masuk kelompok dominant reading. | Mass media inculcate values into their products, including on the television media. Audience were basically have the power to reject, accept, or partially accept and reject the others. This research investigate it using qualitative descriptive method by applying the reception analysis, especially diachronic method. As for the method of data collection was done by Focus Group Discussion (FGD) and in-depth interview. Informants determined by using purposive sampling technique and were divided into three groups based on their background differentiation. The results obtained from this study are generally whole informant not take for granted the meaning offered by impressions. They critically interpret their impressions based on their own viewpoint. Found some dominant meaning of the whole informant, which is related to women as a commodity in the media, the media perspective only see women in terms of physical, the erosion of women who still hold tight to eastern culture, and the latter is a gender bias in the media. There were three factors that significantly influence the diversity of meanings informants, namely adherence to the norms of religion, background family harmony, and educational background. While not a significant factor, there is the factor of age and gender. There is a common acceptance of the meaning of women figured in mass media on each group of informants. The common acceptance of the meaning on each informant largely influenced by the experiences, attitudes, and beliefs of each. From the analysis of the spectrum of reading by David Morley, reading negotiated group consists of nine informants spread of the three groups. While oppositional reading group consists of four informants were also spread from the three groups. Meanwhile not found any informant who included in dominant reading group. | |
| 9122 | 9314 | B1J010059 | KAJIAN TAKSONOMI TANAMAN DURIAN (Durio zibethinus Murr.) BERDASARKAN KARAKTER MORFOLOGI DI KECAMATAN KEMRANJEN, BANYUMAS | Penelitian mengenai hubungan kemiripan durian (Durio zibethinus Murr.) berdasarkan karakter morfologi telah dilakukan di Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai dengan teknik pengambilan sampel secara acak terpilih di lima desa Kecamatan Kemranjen. Data yang diperoleh, diidentifikasi dan diamati karakter morfologinya kemudian dianalisis untuk diketahui hubungan kemiripan fenetik tanaman durian menggunakan metode UPGMA (Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean) dengan software MEGA 5. Hasil penelitian diperoleh 6 kultivar yang secara keseluruhan tersebar merata di lokasi penelitian, yakni durian Montong Kromo Banyumas, durian Montong Kani, durian Lokal Kuning, durian Sunan, durian Lokal Putih dan durian Lokal Kuningmas. Montong Kromo Banyumas merupakan kultivar asli daerah Banyumas dengan nama sinonim durian Bawor. Berdasarkan fenogram diperoleh dua kelompok kultivar durian. Kelompok I terdiri dari durian montong Kromo Banyumas dan durian Montong Kani. Kelompok II terdiri dari dua sub kelompok, sub kelompok I terdiri dari durian lokal kuning dan durian lokal putih, sedangkan sub kelompok II terdiri dari durian sunan dan durian lokal kuningmas. Hubungan kemiripan terdekat adalah durian Lokal Putih dan Lokal Kuning dengan nilai dissimilaritas 0,254. Hubungan kemiripan terjauh adalah durian montong kromo Banyumas dan lokal kuningmas dengan nilai dissimilaritas 2,048. | A research about the relationship amongt morphological characters of durian (Durio zibethinus Murr.) has been done in Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas. The research method was explorative survey in which the samplings were obtained through purposive random sampling technique in five villages of Kemranjen Kabupaten Banyumas. The data obtained, identified and observed morphologic character then analyzed to note the similarity relationships fenetik durian using methods UPGMA (Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean) with software MEGA 5. Result of this research obtained 6 cultivars were overall fairly spread on site research, i.e. durian Montong Kromo Banyumas, durian Montong Kani, durian Lokal Kuning, durian Sunan, durian Lokal Putih and durian Lokal Kuningmas. Montong Kromo Banyumas is cultivar original in Banyumas with the name sinonym is durian Bawor. Based on phenogram obtained there are two groups of durians. The first group consist of durian Montong Kromo Banyumas and durian Montong Kani. The Second group consists of two sub groups, sub group I consist of durian Lokal Kuning and durian Lokal Putih, sub group II consist of durian Sunan and Lokal Kuningmas. Closest relationship is between durian Lokal Kuning and durian Lokal Putih with a dissimilarity of 0,254. Farthest relationship is between durian Montong Kromo and durian Lokal kuningmas with a dissimilarity of 2,048. | |
| 9123 | 9257 | C1K010062 | ANALYZING THE EFFECT OF INTERNAL FACTORS ON VALUE OF FINANCIAL SECTOR COMPANIES LISTED AT INDONESIA STOCK EXCHANGE | Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh Return on Investment, Earning per Share, Dividen per Share, Net Profit Margin, dan Return on Equity pada nilai perusahaan sektor keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Populasi penelitian adalah perusahaan sektor keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling, penelitian ini menggunakan 15 perusahaan sebagai sampel. Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda sebagai metode. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Return on Investment memiliki efek negatif pada Nilai Perusahaan; (2) Earning Per Share memiliki efek positif pada Nilai Perusahaan; (3) Dividen per Share tidak berpengaruh pada Nilai Perusahaan; (4) Net Profit Margin memiliki efek positif pada Nilai Perusahaan; (5) Return on Equity memiliki efek positif pada Nilai Perusahaan. | The aims of this research were to examine the effect of Return on Investment, Earning per Share, Dividend per Share, Net Profit Margin, and Return on Equity on value of financial sector companies listed at Indonesia Stock Exchange. The research population was financial sector companies listed at Indonesia Stock Exchange. Chosen by using purposive sampling method, this research used 15 companies as sample. This study used multiple regression analysis as the method. The result of this research indicated that: (1) Return on Investment has a negative effect on Firm Value; (2) Earning per Share has a positive effect on Firm Value; (3) Dividend per Share has no effect on Firm Value; (4) Net Profit Margin has a positive effect on Firm value; (5) Return on Equity has a positive effect on Firm value. | |
| 9124 | 9315 | B1J010014 | STUDI PEMANFAATAN TUMBUHAN PADA UPACARA ADAT KAMPUNG NAGA DI KABUPATEN TASIKMALAYA | Kampung Naga merupakan salah satu perkampungan adat di Indonesia yang masih bertahan dan memegang teguh adat istiadatnya. Salah satunya adalah pemanfaatan tumbuhan pada upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui spesies tumbuhan dan pemanfaatannya dalam berbagai proses upacara adat pada masyarakat Kampung Naga dan mengetahui peran dan usaha masyarakat Kampung Naga dalam melestarikan keanekaragaman tumbuhan yang dimanfaatkan dalam upacara adat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan teknik wawancara semi terstruktur terhadap kuncen/kepala adat, tokoh masyarakat, dan warga masyarakat sekitar mengenai hal-hal yang berhubungan dengan adat istiadat masyarakat Kampung Naga dalam pemanfaatan tumbuhan untuk upacara adat. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 25 spesies tumbuhan dari 15 familia yang dimanfaatkan oleh masyarakat pada upacara adat di Kampung Naga. Spesies tumbuhan tersebut dimanfaatkan masyarakat Kampung Naga pada upacara hajat sasih, upacara nujuh bulan, upacara kelahiran, upacara kematian, upacara perkawinan, upacara khitanan massal, dan upacara penanaman, pemanenan, dan penyimpanan padi. Adapun spesies tumbuhan yang dimanfaatkan pada upacara adat Kampung adalah Falcataria moluccana (Miq.) Barneby & J.W.Grimes, Allium sativum L., Alstonia angustiloba Miq., Areca catechu L., Arenga pinnata (Wurmb) Merr., Artocarpus integer (Thunb.) Merr., Bambusa spinosa Roxb., Bischofia javanica Blume, Carica papaya L., Citrus x aurantium L., Cocos nucifera L., Cordyline fructicosa (L.) A. Chev., Cheilocostus speciosus (J.Koenig) C.D.Specht, Curcuma longa L., Ficus obscura Bl., Homalomena occulta (Lour.) Schott., Ipomea batatas Lam, Kaempferia galanga L., Manihot esculenta Crantz, Musa x paradisiaca L, Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm., Oryza sativa L, Piper betle L., Pogonatherum paniceum (Lam.) Hack., dan Zingiber montanum (J.Koenig) Link ex A.Dietr. Peran dan usaha masyarakat Kampung Naga dalam melestarikan keanekaragaman tumbuhan yang dimanfaatkan pada upacara adat dengan bentuk kearifan lokal berupa nilai, norma, etika, kepercayaan, adat istiadat, hukum adat, dan aturan-aturan khusus. Kata kunci: pemanfaatan tumbuhan, upacara adat, Kampung Naga | Kampung Naga is one of the indigenous villages in Indonesia that still persist and uphold it’s customs. One example is the use of plants in traditional ceremonies conducted by Indigenous Peoples in Kampung Naga at Tasikmalaya Regency. The purpose of this study was to determine the plant species and its utilization in various traditional ceremonies by Kampung Naga’s Indigenous People and determine the roles and efforts of Kampung Naga’s Indigenous People in conserving the plant diversity used in traditional ceremonies. The method used in this study is a survey method with a semi-structured interview technique to Kuncen/head of customs, community leaders , and residents of surrounding communities on matters relating to the customs of Kampung Naga’s Indigenous Peoples in the use of plants for traditional ceremonies . Data were analyzed descriptively . The results showed that there were 25 species of plants from 15 familia used by people in traditional ceremony at Kampung Naga. The plants were used by Kampung Naga’s Indigenous People at hajat sasih ritual, nujuh bulan ritual, birth ritual, death ritual, marriage ritual, mass circumcision ritual, and rice planting, harvesting, and storage ritual. The plant species are Falcataria moluccana (Miq.) Barneby & J.W.Grimes, Allium sativum L., Alstonia angustiloba Miq., Areca catechu L., Arenga pinnata (Wurmb) Merr., Artocarpus integer (Thunb.) Merr., Bambusa spinosa Roxb., Bischofia javanica Blume, Carica papaya L., Citrus x aurantium L., Cocos nucifera L., Cordyline fructicosa (L.) A. Chev., Cheilocostus speciosus (J.Koenig) C.D.Specht, Curcuma longa L., Ficus obscura Bl., Homalomena occulta (Lour.) Schott., Ipomea batatas Lam, Kaempferia galanga L., Manihot esculenta Crantz, Musa x paradisiaca L., Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm., Oryza sativa L, Piper betle L., Pogonatherum paniceum (Lam.) Hack., and Zingiber montanum (J.Koenig) Link ex A.Dietr. Roles and efforts of Kampung Naga’s Indigenous People in conserving plant diversity used in traditional ceremonies was shown in the form of local wisdom such as value, norms, ethics, beliefs, customs, customary law, and special rules. Keywords: use of plants, traditional ceremonies, Kampung Naga | |
| 9125 | 10710 | A1L010034 | PEMANFAATAN EKSTRAK TUMBUHAN BIOAKTIVATOR UNTUK MENEKAN PENYAKIT KUNING PADA CABAI MERAH FASE VEGETATIF | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pengaruh ekstrak tumbuhan bioaktivator terhadap penekanan penyakit kuning pada tanaman cabai, 2) pengaruh ekstrak tumbuhan bioaktivator terhadap pertumbuhan tanaman cabai. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman, Laboratorium Agroekologi, rumah semi kasa di Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (110 m dpl). Penelitian dilaksanakan mulai bulan Maret 2014 sampai Juni 2014. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari 6 perlakuan dengan 4 ulangan sehingga menghasilkan 24 unit percobaan. Perlakuan yang dicoba yaitu: tanpa bioaktivator, tanpa virus (K), tanpa bioaktivator, ditulari virus (KV), insektisida organik antilat, ditulari virus (AV), bioaktivator daun mimba, ditulari virus (NV), daun dan buah pace, ditulari virus (PV), daun dan akar bunga pukul empat, ditulari virus (MV). Variabel yang diamati meliputi: masa inkubasi dan gejala penyakit, intensitas penyakit, tinggi tanaman, jumlah daun, bobot basah dan kering tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun dan buah pace 20g/100ml (b/v) berpotensi menunda masa inkubasi sebesar 17,88 persen, menurunkan intensitas penyakit sebesar 58,23 persen dibandingkan dengan kontrol tanpa ekstrak pace. Ekstrak tumbuhan bioaktivator daun nimba, daun dan akar bunga pukul empat, daun dan buah pace, tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, bobot basah dan kering tanaman. | This research aims to determine: 1) the effect of bio-activator plant extract to minimaze yellow disease on pepper plant, 2) the effect of bio-activator plant extract on the growth of pepper plant. This research was conducted in Laboratory of Plant Protection, Laboratory of Agro-ecology, green house in Agriculture Faculty, Jenderal Soedirman University (110 m asl). This research was conducted from March, 2014 to June, 2014. This research was conducted with using Randomized Block Design (RDB) consisting of 6 treatments and 4 repetitions so that it generated 24 experimental units. The treatments tested were: without bio-activator, without virus (K), without bio-activator, infected virus (KV), antilat organic insecticide, infected virus (AV), bio-activator of neem leaves, infected virus (NV), leaf and fruit of pace, infected virus (PV), leaf and root of four o’clock flower, infected virus (MV). Observed variable included: incubation period and symptoms of disease, disease intensity, plant height, number of leaf, wet and dry weight of plant. The research result indicated that 20g/100ml (b/v) of pace leaf and fruit extract has potential to delay the incubation period of 17,88 percent, reducing disease intensity of 58,23 percent compared to control without pace extract. Bio-activator plant extract of neem leaves, leaf and root of four o’clock flower, pace leaf and fruit do not have influence on plant height, number of leaves, wet and dry weight of plant. | |
| 9126 | 11100 | G1A011038 | HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN DENGAN STADIUM TERDETEKSINYA KARSINOMA NASOFARING DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO | Karsinoma Nasofaring merupakan penyakit tidak menular yang memiliki insidensi tinggi di negara berkembang salah satunya Indonesia. Insidensi Karsinoma Nasofaring relatif tinggi yaitu 5,7 dari laki-laki dan 1,9 dari perempuan per 100.000 dengan prevalensi 4,7 per 100.000 penduduk atau diperkirakan 7.000 sampai 8.000 kasus per tahun. Penyakit ini memiliki prognosis yang lebih baik jika terdeteksi pada stadium awal. Cepat tidaknya deteksi penyakit ini berhubungan dengan berbagai faktor, salah satu faktor yang paling kuat adalah rendahnya pengetahuan pasien tentang Karsinoma Nasofaring. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan pasien dengan stadium terdeteksinya Karsinoma Nasofaring di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Desain penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah pasien baru Karsinoma Nasofaring yang terdapat pada RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto pada bulan Agustus-Desember 2014. Metode sampling yang digunakan adalah consecutive sampling. Jumlah sampel yang didapatkan sebanyak 37 responden. Analisis bivariat dilakukan dengan uji korelasi Spearman dengan stratifikasi pendidikan dan pendapatan. Penelitian ini telah disetujui oleh Komisi Etik Penelitian Kedokteran FK Unsoed. Terdapat korelasi yang bermakna antara tingkat pengetahuan pasien dengan stadium terdeteksinya Karsinoma Nasofaring (p<0,001) dengan arah korelasi negatif dan kekuatan korelasi sedang (r=-0,586). Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan pasien, akan semakin awal stadium terdeteksi karsinoma nasofaringnya dan berlaku sebaliknya. | Nasopharyngeal Carcinoma was a non communicable disease that had a high incidence in developing countries including Indonesia. Incidence Nopharyngeal Carcinoma is a relatively high incidence of 5,7 of the men and 1,9 of women per 100.000 with the prevalence of 4,7 per 100.000 population or estimated 7.000 to 8.000 cases per year. This disease had a better prognosis if it was detected in the early stage. Early detection of the disease related to many factors, one of the strongest factor was the low level of the patients’ knowledge about Nasopharyngeal Carcinoma. The aim of this study was to analyze correlation knowledge level of patients and detection stage of Nasopharyngeal Carcinoma in RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto. This study was an analytical observational with a cross sectional approach with 37 subjects. The sample was the new Nasopharyngeal Carcinoma patients that diagnosed on August-December 2014 in RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Sampling method was consecutive sampling with 37 subjects. Bivariat analysis was done by using Spearman correlation test with stratification on education and income. This study was approved by the Research Ethics Committee of FK Unsoed. There was a significant correlation of knowledge level of patients and detection stage of Nasopharyngeal Carcinoma (p<0,001) with negative direction and moderate correlation (r=-0,586). It was concluded that the higher knowledge level of patients, the earlier the detection stage of Nasopharyngeal Carcinoma, and vice-versa. | |
| 9127 | 11102 | C1A011058 | ANALISIS VARIABEL-VARIABEL YANG BERPENGARUH TERHADAP PENERIMAAN PAJAK HOTEL DAN PAJAK RESTORAN DI WILAYAH BARLINGMASCAKEB (Periode 2007-2012) | Penelitian ini berjudul “Analisis Variabel-Variabel Yang Berpengaruh Terhadap Penerimaan Pajak Hotel dan Pajak Restoran di Wilayah Barlingmascakeb (Periode 2007-2012)”. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui variabel-varieabel yang berpengaruh terhadap penerimaan pajak hotel dan pajak restoran di Barlingmascakeb, yaitu meliputi variabel jumlah hotel, jumlah restoran, jumlah wisatawan, PDRB perkapita dan tingkat inflasi. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan metode analisis regresi Ordinary Least Square (OLS) terhadap model dengan kombinasi time series dan cross section, atau disebut juga data panel (pooled data) menggunakan metode fixed effect dan uji statistik. Berdasarkan uji F baik pajak hotel dan pajak restoran menunjukkan bahwa F hitung lebih besar daripada F tabel. Dari hasil uji F pajak hotel tersebut, maka variabel jumlah hotel, jumlah restoran, jumlah wisatawan domestik dan asing, PDRB perkapita, tingkat inflasi secara bersama-sama berpengaruh terhadap penerimaan pajak hotel dan pajak restoran di wilayah Barlingmascakeb. Sedangkan berdasarkan uji t pajak hotel dapat diketahui bahwa jumlah hotel, jumlah wisatawan domestik dan asing, PDRB perkapita yang memiliki pengaruh signifikan secara parsial terhadap penerimaan pajak hotel di wilayah Barlingmascakeb. Dan uji t pajak restoran dapat diketahui bahwa hanya jumlah restoran dan PDRB perkapita yang memiliki pengaruh signifikan secara parsial terhadap penerimaan pajak restoran di wilayah Barlingmascakeb. Berdasarkan uji variabel yang paling berpengaruh diperoleh nilai koefisien regresi variabel PDRB perkapita paling besar di antara nilai koefisien regresi variabel bebas terhadap penerimaan pajak hotel dan pajak restoran lainnya. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa jumlah hotel, jumlah restoran, jumlah wisatawan domestik dan asing, PDRB perkapita dan tingkat inflasi secara bersama-sama mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pajak hotel dan pajak restoran di Barlingmascakeb, sedangkan secara parsial jumlah hotel, jumlah wisatawan domestik dan asing, PDRB perkapita berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak hotel, tetapi inflasi tidak berpengaruh signifikan dan secara parsial, jumlah restoran, PDRB perkapita berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak restoran, tetapi jumlah wisatawan domestik dan asing, dan inflasi tidak berpengaruh signifikan. Variabel yang paling berpengaruh adalah PDRB perkapita. Implikasi yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah peningkatan jumlah hotel hendaknya juga disamakan dengan peningkatan pelayanan serta fasilitas, sehingga jumlah pengunjung hotel terus bertambah dan pihak hotel mendapatkan keuntungan serta pemerintah dearah juga mendapatkan pemasukan dari pajak hotel. Pengusaha restoran perlu memperhatikan minat masyarakat setempat, sehingga menu makanan disesuaikan dengan kebutuhan dan daya beli masyarakat. | This research, entitled "Analysis of Influential Variables Effect on Hotels Tax Revenue and Restaurants in Barlingmascakeb 2007-2012 period”. The purpose of this research was to determine the variables that affect hotel tax revenues and restaurant tax in Barlingmascakeb, which includes a variable number of hotels, the number of restaurants, tourist numbers, per capita GRDP and the level of inflation. The method used is the method of regression analysis Ordinary Least Square (OLS) for the model with a combination of time series and cross section, also called panel data (pooled data) using the fixed effect and statistical tests. Based on F test result, both variables (hotel tax revenue and restaurant tax) shows that F statistic are higher than F table. From this F test result of tax hotels, the number of hotels, number of restaurants, number of domestic and international tourists, per capita GRDP, inflation rate are simultaneously significant on hotels tax revenue in and restaurant tax in Barlingmascakeb. Meanwhile, based on the t test result of hotel tax, shows that number of hotels, number of domestic and international tourists, per capita GRDP have a partially significant effect on hotel tax revenue in Barlingmascakeb. And t test result of restaurant tax shows that only number of restaurants and per capita GRDP which have partially significant effect on restaurant tax revenue in Barlingmascakeb. Based on the test the most influential variable regression coefficient values obtained the greatest per capita GRDP between the value of the independent variable regression coefficient hotel tax and other restaurant tax. All of the above, it can be concluded that the number of hotels, the number of restaurants, the number of domestic and foreign tourists, per capita GRDP and inflation together have a positive and significant impact on tax revenues hotel and restaurant tax in Barlingmascakeb, while partial number of hotels, the number of domestic and foreign tourists, per capita GRDP significant effect on tax revenue the hotel, but significant inflation and partially, the number of restaurants, per capita GRDP significantly influence the restaurant tax revenue, but the number of domestic and foreign tourists, and significant inflation. The most influential variable is per capita GRDP. Implications that can be derived from this research is an increasing number of hotels should also be equated with increased services and facilities, thus increasing the number of hotel visitors and hotel parties benefit as well as at local governments also get revenue from the hotel tax. Businessman need to pay attention to the local society interest, so the food menus are suitable with the society’s purchasing power. | |
| 9128 | 9316 | B1J007038 | DINAMIKA COLLEMBOLA PADA SERASAH DENGAN C:N BERBEDA YANG TERDEKOMPOSISI DI LAHAN PERTANIAN | Serasah yang jatuh ke permukaan tanah akan segera mengalami dekomposisi sehingga dapat segera diserap kembali oleh tumbuhan. Penelitian ini menggunakan serasah jerami padi karena mengandung C:N yang tinggi sedangkan serasah daun kacang tanah digunakan karena mengandung C:N yang rendah. Perbandingan C:N tinggi menunjukkan bahan penyusun membusuk lebih lama bila dibandingkan dengan C:N yang rendah. Pengelolaan tanah menggunakan serasah daun kacang tanah dan jerami padi dengan kandungan C:N berbeda diharapkan dapat meningkatkan aktivitas Collembola di dalam tanah. Aktivitas Collembola membantu jasad renik dalam merombak bahan-bahan organik sehingga proses dekomposisi menjadi lebih cepat dengan cara menghancurkan sisa-sisa tumbuhan sehingga berukuran lebih kecil. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dinamika Collembola pada serasah dengan C:N <10 dan >60 yang terdekomposisi di lahan pertanian, laju dekomposisi serasah dengan C:N <10 dan >60 yang terdekomposisi di lahan pertanian dan korelasi antara laju dekomposisi, C:N, kelimpahan Collembola, ragam familia Collembola serta faktor lingkungan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dan eksperimen. Variabel yang diamati meliputi variabel bebas dan variabel tergantung. Variabel bebas meliputi C:N serasah jerami padi dan C:N serasah daun kacang tanah. Variabel tergantung berupa dinamika Collembola, sedangkan parameter yang diamati adalah ragam familia Collembola dan jumlah individu pada masing-masing familia Collembola, serta laju dekomposisi serasah jerami padi dan serasah daun kacang tanah. Parameter lain yang diukur adalah faktor fisik dan kimia berupa suhu tanah, kelembaban tanah, pH tanah, C:N yang terdekomposisi , kandungan C dan N serasah daun kacang tanah dan jerami padi serta berat abu serasah. Pengukuran laju dekomposisi dilakukan dengan model Eksponensial menggunakan berat sisa serasah. Korelasi antara komposisi Collembola pada tiap jenis serasah, laju dekomposisi serasah, dan faktor lingkungan dianalisis dengan Canonical Correspondence Analysis (CCA). Komunitas Collembola mengalami fluktuasi yang beragam pada serasah daun kacang tanah dan serasah jerami padi dengan dominasi familia yang berbeda hingga minggu ke-12. Familia Isotomidae, Hypogasturidae dan Entomobryidae merupakan familia yang memberikan karakter komunitas Collembola pada serasah jerami padi sedangkan Paronellidae, Cyphoderidae, dan Sminthuridae pada serasah daun kacang tanah. Pola fluktuasi jumlah Collembola tiap-tiap familia melalui ekstraksi tanah dan metode pitfall trap bervariasi. Laju hilangnya berat serasah menunjukkan laju yang serupa walaupun C:N ratio awal dari tiap serasah berbeda. Kandungan C:N serasah menjadi faktor yang menentukan komposisi dan komunitas Collembola pada serasah dan bersama dengan faktor lingkungan tanah dan laju kehilangan berat menunjukkan korelasi yang kuat terhadap komunitas Collembola. | Litter that falls to the ground will decompose, which resulted minerals are absorbed by the plants. This study used paddy-straw litter with high value of C: N; and peanut leaf litter with low C: N value. High C: N litter mostly decompose longer than that of low C: N litter. The use of peanut leaf litter and paddy-straw litter was expected to increase soil collembola activities. The objectives of this study were to determine the dynamics of Collembola in the decomposing litter with the C: N <10 and> 60 in agricultural land, to measure the rate of decomposition of the litter, and to correlate the rate of decomposition, C : N, Collembola abundance, diversity and environmental factors. The research method used was a survey and litter bag experiments. The independent variables included C: N values of the litter, decomposition rate, soil pH, moisture, litter C:N during decomposition, and temperature. Dependent variable were the dynamics of Collembola consisted of number of familia and individuals. Measurement of the decomposition rate was followed the exponential model. The correlation between the composition of Collembola on each type of litter, litter decomposition rates, and environmental factors were investigated usingCanonical Correspondence Analysis (CCA). Collembola communities were overall increased in both types of litter until week 12. Isotomidae, Hypogasturidae and Entomobryidae characterized litter of paddy-straw while Paronellidae, Cyphoderidae, and Sminthuridae on peanut leaf litter. The number of Collembola was fluctuated over 12 weeks in the soil (extraction and pitfall traps methods). The rate of weight loss of litter was similar, although the C: N ratio of each litter was different at the beginning. The content of C: N litter most likely was the factors that determine the composition and Collembola community in litter. Environmental factors, and the rate of weight loss showed a strong correlation to the Collembola community. | |
| 9129 | 9317 | C1A010097 | Permintaan Variasi Denominasi Rupiah Oleh Masyarakat Kelurahan Tawangsari Kota Tasikmalaya Untuk Kegiatan Transaksi | Penelitian ini berjudul: ”Permintaan Variasi Denominasi Rupiah oleh Masyarakat Kelurahan Tawangsari Kota Tasikmalaya”. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui denominasi rupiah yang diminta oleh masyarakat Kelurahan Tawangsari Kota Tasikmalaya untuk kegiatan transaksi, serta mengetahui perbedaan antara masyarakat Kelurahan Tawangsari Kota Tasikmalaya yang pendapatannya skala 1, skala 2, dan skala 3 dalam melakukan permintaan terhadap denominasi rupiah untuk kegiatan transaksi. Teknik statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistic parametris dengan menggunakan uji asumsi klasik dan analisis statistik deskriptif frekuensi Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif frekuensi diperoleh hasil, pertama, : masyarakat Kelurahan Tawangsari Kota Tasikmalaya cenderung melakukan permintaan terhadap semua denominasi rupiah (denominasi Rp100.000, Rp50.000, Rp20.000, Rp10.000, Rp5.000, Rp2.000, Rp1.000, Rp500, Rp200, dan Rp100 rupiah) untuk tujuan transaksi, kedua: tidak terdapat perbedaan antara masyarakat Kelurahan Tawangsari Kota Tasikmalaya yang pendapatannya skala 1, skala 2, dan skala 3 dalam melakukan permintaan terhadap denominasi rupiah (denominasi Rp100.000, Rp50.000, Rp20.000, Rp10.000, Rp5.000, Rp2.000, Rp1.000, Rp500, Rp200, dan Rp100 ) untuk kegiatan transaksi, | This research is form of hypothesis research testing by survey method. The title of this research: " Demand of Rupiah Denomination by Tawangsari, Tasikmalaya city People for Transaction Activity ". The purpose of this research is to find out rupiah denomination for Tawangsari, Tasikmalaya citizen in daily transaction, and to find out the differences among income scale Tawangsari people from scale 1, scale 2 and scale 3 in demanding rupiah denomination for daily transaction. This research uses parametric statistic which use classical assumption test and descriptive frequency statistic analysis. Based on analysis of descriptive frequency statistical is got the information that: (1) Tawangsari people tent to do demanding toward rupiah denomination in every way (denomination 100.000,50.000, 20.000, 10.000, 5.000, 2.000, 1.000, 500, 200, and 100 Rupiah) in order doing transaction (2)there is a different income scale among Tawangsari people around scale 1, scale 2, and scale 3 in demanding toward rupiah denomination (denomination 20.000, 50.000, and 100.000 rupiah) in cash.. | |
| 9130 | 9318 | G1A010092 | KARAKTERISTIK INDIVIDU, KINERJA KADER POSYANDU DAN PENGARUHNYA TERHADAP KESEHATAN IBU HAMIL DI WILAYAH PUSKESMAS BATURADEN I TAHUN 2013 | KARAKTERISTIK INDIVIDU, KINERJA KADER POSYANDU DAN PENGARUHNYA TERHADAP KESEHATAN IBU HAMIL DI WILAYAH PUSKESMAS BATURADEN I TAHUN 2013 ABSTRAK Peningkatan kesehatan ibu di Indonesia merupakan Millennium Development Goals (MDGs) ke-5, sehingga diperlukan program kesehatan ibu di tingkat dasar seperti Posyandu. Kader Posyandu harus memiliki kinerja yang baik agar tujuan Posyandu dapat terlaksana. Kinerja kader tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor karakteristik individu seperti umur, pendidikan, dan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kinerja kader Posyandu terhadap kesehatan ibu hamil dan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja kader Posyandu. Penelitian ini menggunakan rancangan observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Peneliti mewawancarai 60 kader Posyandu di wilayah Puskesmas Baturaden I, yang diambil menggunakan metode sampling Probability proportional to size (PPS). Karakteristik individu dan kinerja kader diperoleh dari kuesioner dan status kesehatan ibu hamil diperoleh dari Puskesmas Baturaden I. Analisis bivariat dilakukan dengan uji Spearman dan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik individu kader dengan kinerja kader Posyandu, juga tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dan pekerjaan kader dengan kesehatan ibu hamil. Namun demikian, terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan kader dengan kesehatan ibu hamil dengan p = 0,013. Hasil penelitian juga menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kinerja kader Posyandu dengan kesehatan ibu hamil. Variabel umur, pendidikan, dan pekerjaan kader tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja kader. Variabel kinerja kader tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesehatan ibu hamil, tetapi variabel pendidikan kader memiliki pengaruh signifikan terhadap kesehatan ibu hamil dengan p = 0,015. Kesimpulan yang dapat diambil adalah terdapat hubungan dan pengaruh yang signifikan antara pendidikan kader dengan kesehatan ibu hamil di Posyandu wilayah Puskesmas Baturaden I. | INDIVIDUAL CHARACTERISTICS, PERFORMANCE OF POSYANDU CADRES AND ITS EFFECTS TO MATERNAL HEALTH IN BATURADEN I HEALTH CENTER ON 2013 ABSTRACT Improvement of maternal health in Indonesia is the fifth Millennium Development Goals (MDGs). Therefore a basic maternal health programme is needed, such as Posyandu. Performance of cadres must be good to achieve the goals of Posyandu. Cadre’s performance could be affected by its own individual characteristic such as age, education, and occupation. The aim of this study is to determine the effect of cadre’s performance to maternal health and factors that affected it. This research was an observational analytic with cross sectional approach. Researcher interviewed 60 cadres of Posyandu in Baturaden I health center. Respondents were taken by Probability proportional to size (PPS) sampling method. Individual characteristics and performance of cadres obtained by questionnaire and maternal health status were obtained from Baturaden I health center. Spearman test and regression analysis was used to analyze the data. The results of this research showed that there was no signifficant correlations between individual characteristic and cadre’s performance. Also, there were no signifficant correlation between age and occupation to maternal health but there was a signifficant correlation between eduaction and maternal health (p=0,013). The results also showed that there was no correlation between cadre’s performance and maternal health. Individual characteristic had no effects to cadre’s performance. Age and occupation had no effects to maternal health but eduaction had effects to maternal health (p=0,015). Cadre’s performance had no effect to maternal health. It can be concluded that there was a correlation and signifficant effect between education and maternal health. | |
| 9131 | 9319 | C1A009056 | ANALISIS PERMINTAAN KONSUMEN TERHADAP JASA PENERBANGAN PT. MERPATI NUSANTARA AIRLINES (MNA) | Penelitian ini berjudul “Analisis Permintaan Konsumen Terhadap Jasa Penerbangan PT. Merpati Nusantara Airlines (MNA)”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan penumpang dalam memilih menggunakan jasa penerbangan PT. Merpati Nusantara Airlines. Populasi dalam penelitian ini adalah para penumpang maskapai penerbangan PT. Merpati Nusantara Airlines pada tahun 2013. Sampel yang diambil berjumlah 100 orang responden dan ditentukan dengan teknik Accidental Sampling. Variabel yang diteliti yaitu pendapatan penumpang (PP), Tarif (T), Kenyamanan (K), dan tarif maskapai penerbangan lain (TS). Alat analisis yang digunakan di dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda. Uji Asumsi klasik menggunakan uji normalitas, multikolinearitas, uji autokorelsi, dan uji heteroskedastisitas. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai koefisien determinasi disesuaikan (adjusted R-Square) sebesar 0,618, Artinya bahwa pendapatan penumpang, tarif, kenyamanan, dan tarif maskapai penerbangan lain dari model regresi dalam penelitian ini mampu menjelaskan variabel dependen yaitu permintaan jasa penerbangan Merpati sebesar 61,8 persen, sedangkan sisanya 38,2 persen dijelaskan oleh varibel lain yang tidak diteliti. Berdasarkan hasil Uji t dapat diketahui bahwa variabel pendapatan penumpang, tarif, kenyamanan, dan tarif maskapai penerbangan lain secara parsial berpengaruh signifikan terhadap permintaan jasa penerbangan Merpati Nusantara Airlines. Dari keempat variabel independen tersebut yang paling berpengaruh terhadap jumlah permintaan jasa maskapai penerbangan PT. Merpati Nusanta Airlines adalah variabel kenyamanan dengan t hitung sebesar 11,342. | The research entitled "The Analysis of Consumer Demand for Aviation Services PT. Merpati Nusantara Airlines (MNA)”, is conducted to analyze the factors that affect the passenger demand of PT. Merpati Nusantara Airlines aviaton services. The population of the research were the passenger of PT. Merpati Nusantara Airlines in 2013. The total samples had been gathered from 100 respondent and determined by accidental sampling technique. The variabel of the research were passengers revenue (PP), price (T), convenience (K), and price of another airlines (TS). The researcher used multiple linear regression to analyze the data. The classic assumption test used normality test, multicolinearity test, autocorrelation test, and heteroscedasticity test. The result of the analysis shows that the value of coefficient of determination are adjusted (adjusted R-Square) by 0,618, means that passengers revenue, price, convenience, and other airline price from the regression model in this research was able to explain the dependent variable that shows the demand for Merpati aviation services are about 61,8 percent, while the remaining 38,2 percent is explained by other unexamined variables. Based on the t test results, it could be seen that the variabel of passenger revenue, rates, convenience, and other airlines rates partially had significant effect on Merpati Nusantara Airlines demand. One of the most significant influence to demand of Merpati Nusantara Airlines services was the convenience variable, that proven from the t count amount 11,342. | |
| 9132 | 9320 | H1D008076 | ANALISIS KONDISI HIDROOGI AKIBAT PENAMBAHAN KAWASAN TERBANGUN DI PURWOKERTO SELATAN | ANALISIS KONDISI HIDROLOGI AKIBAT PENAMBAHAN KAWASAN TERBANGUN DI PURWOKERTO SELATAN Rencana pembangunan Hotel Karlita tentunya akan banyak membutuhkan air tanah untuk kebutuhan hotel, dimana akan dibuat kamar sebanyak 124 kamar. Mengingat sumber air di hotel ini menggunakan air tanah dari sumur dalam. Dan kondisi daerah tangkapan air yang semakin kritis, maka kesempatan air hujan masuk ke perut bumi menjadi semakin sedikit. Sementara itu pemakaian air tanah melalui pemompaan semakin hari semakin meningkat. Akibatnya terjadi defisit air tanah, yang mengakibatkan makin dalamnya muka air tanah. Penelitian ini menggunakan metode survei berupa pengukuran, dan percobaan peresapan untuk memperoleh data yang dibutuhkan, dan untuk analisis intensitas hujan menggunakan metode mononobe, dan untuk analisis sumur resapan menggunakan metode SK SNI 03-2453-2002. Dari hasil perhitungan hidrologi curah hujan rancangan kala ulang 5 tahun sebesar 68,66 mm/jam. Berdasarkan data dan analisis perhitungan sesuai SK SNI 03-2453-2002, diperoleh kedalaman 1,3 m dan diameter 1 m. Untuk meresapkan limpasan dari atap bangunan sebanyak 265 buah sumur resapan. Kegiatan pemompaan di Hotel Karlita ini mengakibatkan penurunan muka air tanah (drawdown) sebesar 5,7893 cm. Untuk mengembalikan muka air tanah kembali seperti semula dibutuhkan jeda waktu pemompaan selama 45,1949 menit. | ANALYSIS OF HYDROLOGICAL CONDITIONS AS A RESULT OF THE ADDITION OF THE AREA WOKE UP IN SOUTH PURWOKERTO The construction of hotel karlita will need many ground water for the demand of the hotel, which has 124 room. As the surface area which absorb water is getting less, thus the chance to get rainfall absorbed underground is automatically getting smaller each time. In the other hand, the water usage using water pump is increasing. Therefore, the ground water crisis is happens which causes the drawdownof water surface underground. This study used survey methods such as measuring, and percolation test to obtain the required data. And far the analysis intensiti of rainfall use mononobe methods,and for analysis of infiltration wells use SK SNI 03-2453-2002 methods. From the hidrology analysis of the 5 years return period is 68,66 mm/hour. Based on the data and analysis of calculation according to SK SNI 03-2453-2002, Obtained depth 1.3 m and the diameter of 1 m. Based on analysis, the infiltration wells get 265 infiltration wells is to infiltrated the runoff from the roof. Furthermore, the water pumping activity that conducted in Karlita Hotel caused the drawdown for 5,7893 cm. In order to restore the water surface, it will take 45,1949 minute before attempting another pumping each time. | |
| 9133 | 10711 | A1L010141 | Uji Dua Isolat Trichoderma sp. Dalam Formula Cair dan Padat Organik Terhadap Penyakit Antraknosa Cabai Merah (Capsicum annuum L.) | Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menguji tingkat keantagonisan Trichoderma sp. isolat bawang merah dan pisang terhadap penyakit antraknosa cabai merah, 2) mengetahui dan menentukan formula Trichoderma sp. paling efektif dalam mengendalikan penyakit antraknosa cabai merah, 3) mengetahui pengaruh Trichoderma sp. dalam pupuk kandang ayam dan limbah cair tahu terhadap pertumbuhan dan hasil produksi cabai merah. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus-Desember 2014 di Laboratorium Perlindungan Tanaman dan lahan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 10 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas kontrol, pupuk kandang ayam, limbah cair tahu, Trichoderma sp. isolat bawang merah dan isolat pisang, dan fungisida berbahan aktif Mankozeb dan Propineb. Variabel pengamatan meliputi komponen patosistem (kepadatan awal dan akhir Trichoderma sp. masa inkubasi, intensitas penyakit), komponen pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah cabang, panjang akar, bobot tanaman segar, bobot tanaman kering, bobot akar segar, bobot akar kering), komponen hasil (jumlah bunga muncul pertama, jumlah buah, bobot basah buah), dan analisis senyawa fenol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan menggunakan formula cair dan padat organik dengan kombinasi isolat bawang merah dan pisang efektif mampu menekan penyakit antraknosa sebesar 42,41%. Beberapa perlakuan yang menggunakan Trichoderma sp. mampu meningkatkan tinggi tanaman sebesar 0,72%, panjang akar sebesar 9,46%, jumlah cabang sebesar 0,87%, bobot segar tanaman sebesar 9,55%, bobot segar akar sebesar 13,27%, bobot kering akar sebesar 4,40%, jumlah bunga 506,06%, jumlah buah per tanaman sebesar 22, 22%, bobot basah buah sebesar 25,63% dibandingkan kontrol. | This research aimed at examining 1) the antagonistic level of the Trichoderma sp. shallot and banana isolates toward antrachnose disease of red chili, 2) defining the most effective formulatioin of Trichoderma sp. in controlling antrachnose disease of red chili, 3) and the influence of Trichoderma sp. in chicken manure and tofu liquid waste on the growth and yield of red chili. The research has been conducted from August-December 2014 in the Laboratory of Plant Protection and the experimental field of Agriculture Faculty, of Jenderal Soedirman University, Purwokerto. Randomized Block Design (RBD) was used with ten treatments and three replicates. The treatments were include control, chicken manure, tofu liquid waste, two isolates of Trichoderma sp., shallot and banana, and fungicide subtance active of Mankozeb and Propineb. Variables which were observed include pathosystem components (initial and final densities of Trichoderma sp., incubation period, and disease intensity), growth components (crop height, number of branches, root length, fresh weight of crops, fresh weight of root, dry weight of crops and dry weight of root), yield components (number of flowers emerge first, number of fruits, fresh weight of fruits) and phenolic compounds analysis. Result of the research showed that treatment used combination of Trichoderma sp. isolates shallot and banana was effective to suppress the anthracnose disease as high as 42.41%. Some treatments of Trichoderma sp. were effective to increase crop height as 0.72%, number of branches as 0.87%, root length as 9.46%, fresh weight of crops height as 9.55%, fresh weight of root as 13.27%, dry weight of root as 4.40%, number of flowers emerge first as interest 506%, number of fruits as 22.22%, and fresh weight of fruits as 25.63% than control. | |
| 9134 | 10712 | E1A008331 | PENERAPAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 24 TAHUN 1976 TENTANG HAK CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL (STUDY PELAKASANAAN CUTI BERSALIN DI DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN PURBALINGGA) | Penelitian ini meneliti tentang Pegawai Negeri Sipil di lingkup Kabupaten Purbalingga, berkaitan dengan cuti pegawai yang dikarenakan hamil. Bagaimana penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1976 tentang hak Pegawai Negeri Sipil (study pelaksanaan Hak Cuti Bersalin di Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga). hasil penelitian dalam penelitian ini menggunakan bahan primer yaitu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, Undang-Undang 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Peraturan Pemerintah No 24 Tahun 1976 dan bahan hukum sekunder berupa visi dan misi Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga. kesimpulan dari penelitian adalah Dinas pendidikan Kabupaten Purbalingga sudah mengacu pada aturan-aturan yang berlaku yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1976 tentang hak cuti Pegawai Negeri Sipil. | This study researched the civil servants In the district of purbalingga Pertaining to leave an employee who is pregnant How the implementation of government regulation number 24 years of 1976 Regarding the rights of civil servants (Study the enforcement of maternity leave in the education office purbalingga) The results of this research is the primary use the legislation of Civil the state apparatus number 5 years of 2014, the legislation of 23 years of 2014 On local government and Government regulation number 24 years of 1976 and Secondary material in the form of law is Vision and mission of the department of education in district purbalingga The conclusion of the research is department of education in district purbalingga It is in accordance with the prevailing rules which is a government regulation number 24 years of 1976 Regarding the rights of civil servants. | |
| 9135 | 10713 | F1G011007 | REPRESENTASI ADAT ISTIADAT MINANGKABAU DALAM NOVEL TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK KARYA BUYA HAMKA | Penelitian ini berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Karya Buya Hamka”. Alasan yang mendasari memilih novel ini adalah mengenai adat istiadat Minangkabau yang diangkat dalam novel tersebut sangat menarik. Adanya pertentangan tentang hal perbedaan adat istiadat antara Minangkabau dan Mengkasar yang dialami tokoh utama yaitu Zainuddin menjadi ketertarikan tersendiri. Pertentangan adat istiadat pada saat itu memang sangat keras. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan alur, latar, tokoh dan penokohan. Adapun alur yang ada dalam novel ini alur awal, alur tengah, dan alur akhir. Di sisi lain, latar meliputi: latar tempat, latar waktu, dan latar sosial budaya, tokoh dan penokohan meliputi tokoh utama dan tokoh bawahan. Di sisi lain, penelitian ini menggambarkan adat istidat Minangkabau yang meliputi Adat Nan Sabana Adat, Adat Nan Diadatkan, Adat Nan Teradat, Dan Adat Istiadat. Adat Nan Sabana adat adalah aturan dan sifat serta ketentuan yang terletak pada setiap jenis benda alam, Adat Nan Diadatkan adalah adat yang diadatkan oleh nenek moyang yang menciptakan adat Minangkabau, Adat Nan Teradat adalah aturan yang disusun dengan hasil musyawarah mufakat penghulu, Adat Istiadat adalah peraturan yang menampung segala kemauan dan kesukaan anak negri selama menurut alu dan atut. | This research is entitled “Representasi Adat Istiadat Minangkabau dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Buya Hamka”. The purpose of this study to describe the customs of Minangkabau that contained in the novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck by Buya Hamka. This study used an analysis descriptive method, with a focus on the customs that contained in the novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Data collection techniques used are read and understand the contents of the novel, then note the data that is important and relates to a formulation of the problem based on the existing novel structure. Then analyzed with the approach of Anthropological Literature. These results explain descriptively about customs of Minangkabau which includes Adat Nan Sabana Adat, Adat Nan Diadatkan, Adat Nan Teradat, Adat Istiadat. All these customs refer to the custom adopted by the Minangkabau people. Based on these, can produce an image of the customs of Minangkabau as a reflection of people's lives that have been written by Buya Hamka in novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. | |
| 9136 | 10714 | A1L010173 | APLIKASI PENINGKATAN KONSENTRASI SUKROSA PADA KONSENTRASI GERMISIDA (ASAM SITRAT DAN ASAM CUKA) UNTUK MEMPERPANJANG MASA KESEGARAN BUNGA KRISAN (Dendrathema grandiflora) | Bunga krisan (Dendranthema grandiflora) merupakan salah satu jenis bunga potong yang sangat disukai para pecinta tanaman hias, karena mempunyai bentuk, warna, dan ukuran yang bervariasi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh peningkatan konsentrasi sukrosa dan jenis germisida yang optimal serta mengetahui pengaruh interaksi asam cuka, asam sitrat dan sukrosa terhadap masa kesegaran bunga krisan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman mulai 7 Agustus sampai 6 September 2014. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dua faktorial yang terdiri atas 12 perlakuan dan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu konsentrasi sukrosa 30%, 40%, dan 50%. Faktor kedua adalah jenis germisida yaitu non germisida, asam sitrat 500 ppm, asam cuka 10%, dan asam sitrat 500 ppm + asam cuka 10%. Variabel yang diamati adalah masa kesegaran, intensitas warna, diameter mahkota bunga, diameter tangkai, jumlah daun, saat daun mulai layu, saat bunga mulai layu, dan volume air yang terserap. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan sukrosa dan jenis germisida tidak memberikan pengaruh nyata pada semua variabel pengamatan. Kombinasi antara sukrosa 40% dengan tanpa germisida memiliki interaksi sehingga memberikan pengaruh nyata pada variabel saat daun mulai layu yaitu memberikan masa kesegaran pada daun yang dapat bertahan 20,67 hari. | Chrysanthemum (Dendranthema grandiflora) is one kind of cut flowers which are very popular among lovers of ornamental plants, due to its shape, color, and sizes. The study aims to determine the effect of increasing concentrations of sucrose and the optimal type of germicides and determine the effect of interaction acetic acid, citric acid and sucrose to the chrysanthemum flower freshness period. Research conducted at the Laboratory of Agronomy, Faculty of Agriculture, University of General Sudirman starting on August 7 to September 6, 2014. Research using completely randomized design (CRD) factorial consisting of two 12 treatments and 3 replications. The first factor is the concentration of sucrose 30%, 40%, and 50%. The second factor is the type of germicide that is non germicides, 500 ppm citric acid, 10% acetic acid, citric acid and 500 ppm + 10% acetic acid. The variables analyzed were age freshness, intensity of color, flower crown diameter, stem diameter, number of leaves, when the leaves begin to wither, when the flowers begin to wilt, and the volume of water that is absorbed. The results showed sucrose treatment and the type of germicides no significant effect on all variables observation. The combination of sucrose 40% with no interaction so germicides have significant effect on the variable when the leaves begin to wilt which gives freshness period on leaves that can survive 20.67 days. | |
| 9137 | 9321 | B1J010048 | HUBUNGAN ANTARA UNSUR HARA TANAH DAN STRUKTUR VEGETASI TUMBUHAN BAWAH PADA TEGAKAN HUTAN JATI (Tectona grandis L. f.) DI KPH BANYUMAS TIMUR | Ekosistem hutan terdiri dari berbagai kelompok organisme yang saling berinteraksi satu sama lain dan dengan lingkungannya. Salah satu komponen dalam masyarakat hutan adalah tumbuhan bawah. Keberadaan tumbuhan bawah di lantai hutan merupakan hasil interaksi dengan lingkungan tempat tumbuhnya dan dengan tegakan yang berada di atasnya. Penelitian telah dilakukan di RPH Mandirancan yang merupakan wilayah KPH Banyumas Timur dengan tiga umur tegakan jati (T. grandis L. f.) yaitu umur tegakan 7 tahun, 27 tahun, dan 34 tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur vegetasi tumbuhan bawah yang terdapat di bawah tegakan hutan jati pada umur tegakan 7, 27, dan 34 tahun dan mengetahui hubungan antara struktur vegetasi tumbuhan bawah dan unsur hara tanah (N, P, dan K) pada tegakan hutan jati umur 7, 27, dan 34 tahun. Metode survei digunakan dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode garis berpetak ukuran 10 m x 10 m yang kemudian dibagi menjadi petak-petak kecil berukuran 2 m x 2 m untuk pengamatan tumbuhan bawah. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis vegetasi untuk mengetahui struktur vegetasi tumbuhan bawah, Canonical Correspondence Analysis (CCA) untuk mengetahui hubungan struktur vegetasi tumbuhan bawah dan unsur hara tanah. Hasil penelitian menemukan 56 jenis tumbuhan bawah dari 32 familia. Struktur vegetasi tumbuhan bawah mengalami perubahan komunitas secara gradual dari umur tegakan 7 hingga umur tegakan 34. Unsur hara dalam bentuk NH4, PO4, K2O terdapat meningkat pada tegakan jati yang lebih tua, dengan NH4 adalah karakter pada tegakan jati umur 34 tahun, namun Keanekaragaman dan kekayaan jenis tumbuhan bawah mengalami penurunan pada tegakan jati yang lebih tua. Keanekaragaman dan kekayaaan jenis tumbuhan bawah tidak berkorelasi dengan unsur hara tanah, namun kelimpahan tumbuhan bawah pada tegakan jati umur 34 tahun sangat ditentukan oleh NH4. | Forest ecosystem consist of interaction between group of organism and their environment. One of the component of forest ecosystem is understorey. Understorey vegetation presence on forest floor is a result of interaction between their environment where they growth and the forest stands. The research of relationship between understorey vegetation and soil nutrients was conducted in RPH Mandirancan which is region of KPH East Banyumas on three different forest age. The aims of this research were to study understorey vegetation structure on different age of teak (T. grandis L. f.) forest i.e. 7, 27, and 34 years and to study relationship between understorey vegetation structure and soil nutrients (N, P, dan K) on different age of teak forest i.e. 7, 27, and 34 years. The survey method was used. Line quadrat size 10 x 10 m was used to collected data and then each quadrat divided to five 2 x 2 m for understorey vegetation survey. Vegetation analysis was used to find understorey vegetation structure and ordination analysis i.e. CCA Canonical Correspondence Analysis to find relationship between understorey vegetation structure and soil nutrient. This result identified 56 understorey from 32 family. Understorey vegetation structure changes gradually from 7 years to old stand. Soil nutrients NH4, PO4, K2O were increased in older stand of teak, which NH4 was the character on 34 years stand of teak, however understorey species diversity and richness decreased in older stand. Understorey species diversity and richness was not influenced by soil nutrients, but its abundance on 34 year was ditermined by NH4. | |
| 9138 | 9322 | C1A010008 | Pengaruh Kemampuan Keuangan Daerah dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Ketimpangan Regional di Kawasan Subosukawonosraten (Periode 1994-2012) | Penelitian ini berjudul “Pengaruh Kemampuan Keuangan Daerah dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Ketimpangan Regional di Kawasan Subosukawonosraten (Periode 1994-2012)”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kemampuan keuangan daerah, pertumbuhan ekonomi, dan ketimpangan regional Subosukawonosraten serta mengetahui pengaruh kemampuan keuangan daerah dan pertumbuhan ekonomi terhadap ketimpangan regional di kawasan ini. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantatif dengan data sekunder pada 7 kabupaten/kota Subosukawonosraten selama tahun 1994-2012, dimana terlebih dahulu dilakukan perhitungan dengan alat analisis yang ada baru kemudian dijelaskan dalam bentuk deskriptif. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu derajat desentralisasi fiskal untuk mengukur kemampuan keuangan daerah, rumus pertumbuhan ekonomi dengan pendekatan PDRB, indeks ketimpangan Jaime Bonet serta untuk melihat pengaruh kemampuan keuangan daerah dan pertumbuhan ekonomi terhadap ketimpangan regional digunakan regresi data panel. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan (1) selama tahun 1994-2012 tingkat kemampuan keuangan daerah Subosukawonosraten mengalami penurunan. (2) selama tahun 1994-2012 tingkat pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional Subosukawonosraten mengalami peningkatan. (3) hasil estimasi regresi data panel dengan fixed effect model dapat diketahui bahwa variabel kemampuan keuangan daerah dan pertumbuhan ekonomi berpengaruh secara bersama-sama dan signifikan terhadap ketimpangan regional di kawasan Subosukawonosraten. Variabel kemampuan keuangan daerah berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ketimpangan regional dengan koefisien regresi (-0,001457). Variabel pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap ketimpangan regional dengan koefisien regresi 0,002014. Tingkat kemampuan keuangan daerah Subosukaswonosraten yang menurun karena kurang maksimalnya pemungutan pajak dan retribusi daerah sebagai sumber pembiayaan daerah. Penurunan kemampuan keuangan daerah ini diikuti dengan peningkatan ketimpangan regional di Subosukawonosraten. Sebaliknya, tingkat pertumbuhan ekonomi Subosukawonosraten yang meningkat merupakan proses menuju kestabilan ekonomi pasca krisis. Peningkatan pertumbuhan ekonomi ini diikuti dengan peningkatan ketimpangan regional di Subosukawonosraten. peningkatan ketimpangan regional di Subosukawonosraten disebabkan masih terpusatnya kegiatan ekonomi pada satu daerah. Oleh karena itu, perlu upaya peningkatan kemampuan keuangan daerah melalui peningkatan PAD dan perencanaan pembangunan daerah yang berkelanjutan untuk mengurangi ketimpangan regional di Subosukawonosraten. | This research was entitled "Effect of Regional Financial Capability and Economic Growth on the Regional Disparities in Region Subosukawonosraten (Period 1994-2012)". The aim of this research was to know the level of regional financial capability, economic growth, and regional disparities in the region Subosukawonosraten over the years 1994-2012 and know the effect of regional financial capability and economic growth on regional disparities in this region. This research was descriptive quantitative with secondary data in 7 districts/cities Subosukawonosraten during the years 1994-2012. Then first performed calculations with existing analysis tools then described descriptively. The analytical tool used in this research is the degree of fiscal decentralization to measure regional financial capability, the formula economic growth approach to GDP, disparities index Jaime Bonet and to see the effect of regional financial capability and economic growth on regional disparities used panel data regression. Based on the research results showed (1) during the years 1994 to 2012 the level of regional financial capability in the region Subosukawonosraten has decreased. (2) during the years 1994 to 2012 economic growth and regional disparities in region Subosukawonosraten has increased. (3) the estimation results of the panel data regression with fixed effect model can be seen that the variables regional financial capability and economic growth together influential and significant to regional disparities in the region Subosukawonosraten. Variables regional financial capability has negative effect and significant to regional disparities with regression coefficient (-0.001457). Variables economic growth has positive effect and significant to regional disparities with regression coefficient 0.002014. Regional financial capability rate in region Subosukawonosraten decreased due to less than maximum tax and retribution as a source of local financing. Decreased regional financial capability was followed by an increase in regional disparities in region Subosukawonosraten. The rate of economic growth in region Subosukawonosraten increased was the process leading to economic stability after the crisis. Increased economic growth was followed by an increase regional disparities in region Subosukawonosraten. Increased regional disparities in region Subosukawonosraten because the concentration of economic activity in the area. Therefore, efforts should be increase the regional financial capability of the region through increased PAD and sustainable local development planning to reduce regional disparities in region Subosukawonosraten. | |
| 9139 | 9323 | G1B010069 | HUBUNGAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN SCABIES DI PONDOK PESANTREN ROUDLOTUS SOLICHIEN DESA KALIJARAN KECAMATAN KARANGANYAR KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2014 | Scabies banyak terjadi di pondok pesantren yang disebabakan oleh personal hygiene yang buruk dari santriwan dan santriwati di pondok pesantren tersebut. Personal hygiene yang dimaksud meliputi kebersihan kulit, kebersihan tangan, kebersihan genital, kebersihan pakaian, kebersihan handuk dan kebersihan alas tidur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan personal hygiene dengan kejadian Scabies di Pondok Pesantren Roudlotus Solichien Desa Kalijaran Kecamatan Karanganyar Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif mengunakan metode survai analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 46 responden. Hasil penelitian didapatkan bahwa ada hubungan antara kebersihan kulit dengan kejadian Scabies (p=0,000<0,05), ada hubungan antara kebersihan tangan dengan kejadian Scabies (p=0,006<0,05), ada hubungan antara kebersihan pakaian dengan kejadian Scabies (p=0,000<0,05), dan ada hubungan antara kebersihan alas tidur dengan kejadian Scabies (p=0,025<0,05). Saran dalam penelitian ini diharapkan pemilik pondok lebih memperhatikan personal hygiene para santri, pemilik pondok diharapkan memiliki kebijakan penuh untuk mengisolir santri yang menderita Scabies agar tidak menularkan kepada teman satu asrama serta diharapkan poskestren yang sudah berjalan lebih ditingkatkan lagi dalam segi pelayanan. | Many cases of Scabies occurring in islamic boarding school that caused by bad personal hygiene of the students. Personal hygiene is included skin hygiene, hands hygiene, genital hygiene, clothes hygiene, towel hygiene and bedding hygiene. The purpose of this research is to find out the relations of personal hygiene with the incidence of Scabies in Roudlotus Solichien islamic boarding school village of Kalijaran sub-district of Karanganyar regencies of Purbalingga. This research is quantitative research using analytic survey by cross sectional approaching. Sampling technique using simple random sampling by the number of samples about 46 respondents. The research found that there is a relationship between skin hygiene with occurrence of Scabies (p=0,000<0,05), there is a relationship between hands hygiene with occurrence of scabies (p=0,006<0,05), there is a relationship between clothes hygiene with occurrence of Scabies (p=0,000<0,05), there is a relationship between bedding hygiene with occurrence of scabies (p=0,025<0,05). The advice of this research is expecting the management of islamic boarding schools pay more attention to personal hygiene of the students, and having full policy to given a home permission for student who suffers from scabies in order to perform treatment actions so as not to infecting on a friend’s dorm, as well as expected the Poskestren which already run more enhanced in terms of service. | |
| 9140 | 9324 | H1F007061 | GEOLOGI DAN ANALISIS EROSIONAL PADA PERBUKITAN KARST DAERAH CANDIRENGGO DAN SEKITARNYA KECAMATAN CANDIRENGGO, KABUPATEN KEBUMEN, JAWA TENGAH | Daerah Candirenggo Kecamatan Candirenggo merupakan daerah perbukitan yang masuk ke dalam fisiografi Pegunungan Serayu Selatan. Geologi daerah ini terdiri dari Formasi Gabon, Andesit dan Formasi Kalipucang dengan litologi berupa Breksi, Andesit dan Batugamping. Struktur geologi yang berkembang adalah Sesar Mendatar Menganan. Daerah yang sebagian besar merupakan perbukitan karst menjadi hal penting untuk dikaji peruntukannya dengan analisis erosional pada Perbukitan Karst. Faktor pendukung yang digunakan meliputi analisis petrografi, pengukuran pada lapisan batuan kemudian membuat kolom sebagai hasil dari pelarutan pada Perbukitan karst. Hasil akhir dari analisis ini berupa kolom bentukan pelarutan pada Perbukitan Karst. Untuk Kolom hasil pelarutan ditujukan agar dapat melihat pola bentukan demi bentukanpelarutan yang terjadi sebagai proses pelarutan pada Perbukitan Karst dan kemudian dibandingkan dengan klasifikasi mikro karst | Candirenggo area, District Candirenggo a hilly area that goes into Mountains South Serayu physiographic. Geology of the area consists of Gabon Formation, Andesit, and Kalipucang Formation with a marl lithology breccia, andesit and Limestone. Geological structure that develops is Right Slip Fault. Most of the work area is hilly karst be important to assess the allotment with erosional analysis on Karst hills. Supporting factors used include petrographic analysis, measurements on rock layers and then make the column as a result of the dissolution of the karst hills. The end result of this analysis in the form of column leaching Hills karst formations. For column leaching results are intended to be formed in order to see patterns formed by dissolution that occurs as the leaching process on Karst hills and then compared with the classification of micro karst |