Artikelilmiahs

Menampilkan 5.481-5.500 dari 48.834 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
548115281D1E012238PENGARUH KONSENTRASI RENNET PASTA DARI ABOMASUM KAMBING MUDA TERHADAP KADAR AIR DAN YIELD KEJU SEGARPenelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 10 sampai 20 Januari 2016 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh konsentrasi rennet pasta dari abomasum kambing muda terhadap yield dan kadar air keju segar yang dihasilkan dan dibandingkan dengan rennet komersial. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan lima perlakuan dan lima kali ulangan. Peubah yang diukur yaitu kadar air dan yield keju segar. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi, uji contras orthogonal dan regresi korelasi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa perbedaan konsentrasi tidak mempengaruhi yield dan kadar air keju yang dihasilkan. Rennet pasta memiliki kemampuan yang relatif sama dengan rennet komersial dalam menghasilkan kadar air dan yield keju segar.The experiment had been conducted from January 10th until 20th 2016 at the Laboratory of Animal Product Technology, Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University Purwokerto. This research aimed to study the influence of the concentration of rennet paste of the Abomasa’s kid on the mouisture content and yield of fresh cheese and to compare it to that of commersial rennet. Arranged in a completely randomized design (CRD), this research had 5 treatments and 5 replicates for each. Variabels measured were moisture content and yield of fresh cheese. Data were analyzed by using analysis of variance, orthogonal contrast and regression correlation. In conclusion, the differences of rennet paste’s concentration have insignificant influences on the moisture content and yield of fresh cheese. Rennet paste can produce moisture and yield equal to what commersial rennet can.
548215286C1C012119PENILAIAN KONDISI KEUANGAN PADA TINGKAT PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAHRINGKASAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat short term solvency,
budgetary solvency, dan long term solvency pemerintah pusat dan daerah di
Indonesia serta merumuskan suatu model umum rasio laporan keuangan
pemerintah pusat dan daerah.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian campuran
(mixed method) dengan pendekatan sequential explanatory. Statistik deskriptif
digunakan untuk menganalisis kondisi keuangan sedangkan Focus Group
Discussion (FGD) digunakan untuk mengkonfirmasi hasil penelitian kuantitatif
dan merumuskan model baru rasio kondisi keuangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah pusat mempunyai
kondisi keuangan yang tidak baik ditinjau dari short term solvency dan long term
solvency. Sementara itu pemerintah pusat mempunyai budgetary solvency yang
cukup baik. Pemerintah daerah mempunyai tingkat short term solvency, budgetary
solvency, dan long term solvency yang baik. Hasil FGD menunjukan bahwa
kebijakan anggaran defisit pemerintah pusat mengakibatkan kenaikan utang.
Mayoritas pemerintah daerah mengandalkan pembiayaan dari penggunaan SAL
tahun sebelumnya sehingga tidak mengakibatkan kenaikan utang. Mekanisme
pengendalian belanja dalam pemerintahan menyebabkan tingkat budgetary
solvency yang baik. Selain itu, hasil dari FGD juga merekomendasikan
penyusunan rasio laporan keuangan baru yang lebih komprehensif dengan
mempertimbangkan penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) berbasis
akrual, level pemerintahan, dan fungsi lebih dari rasio budgetary solvency.
Sehingga penelitian ini mengusulkan 18 (delapan belas) rasio laporan keuangan
yang secara komprehensif mengukur kondisi keuangan pemerintah pusat dan
daerah. Para pengguna laporan keuangan dapat menilai kondisi keuangan
pemerintah melalui rasio ini. Sedangkan pemerintah pusat dan daerah dapat
menggunakannya sebagai alat analisis tambahan dalam mengelola keuangan
negara secara efektif dan efisien. .
SUMMARY
This study aims to examine short term solvency, budgetary solvency, and
long term solvency of central and local government in Indonesia then formulate
general model of central and local government financial ratios.
Method used in this study is mixed methodology with sequential
explanatory approach. Descriptive statistics used to analyze financial condition
while Focus Group Discussion (FGD) used to confirm the quantitative results and
formulate the new model of financial condition ratios.
The result shows that central government has weak financial condition
based on short term solvency and long term solvency whereas central government
has adequate budgetary solvency. Then local government has good short term
solvency, budgetary solvency, and long term solvency. The results of FGD shows
that deficit budget policy of central government imply to the debt increasing.
Majority of local government rely on the previous year budget surplus balance for
funding the deficit budget so it doesnt influence the liabillities. The expenditures
controlling mechanism in government impact to the good budgetary solvency.
Beside that, the results from FGD suggest new financial statement ratios that
more comprehensive by adopting the accrual governmental accounting standard,
government level, and more function in budgetary solvency ratio. This study
proposed 18 (eighteen) ratios for comprehensive measurement of financial
condition in central and local government. Financial statement users can assess
government financial condition through this ratios. While central and local
government can use the ratios for additional analytical tools in managing the
effective and efficient state finance.
548315282D1E012073PENGGUNAAN SINBIOTIK DALAM RANSUM TERHADAP KADAR FIBRINOGEN DAN TOTAL PROTEIN PLASMA AYAM KAMPUNG JANTANPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan sinbiotik dalam ransum terhadap kadar fibrinogen dan total protein plasma ayam kampung jantan. Materi penelitian yang digunakan adalah 60 ekor ayam kampung jantan umur 2 bulan dan sinbiotik. Dengan menggunakan metode eksperimen, penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masing perlakuan diulangan sebanyak 5 kali di mana setiap ulangan terdiri dari 3 ekor ayam. Perlakuannya terdiri dari R0: Pakan dengan penambahan sinbiotik sebanyak 0%; R1: Pakan dengan penambahan sinbiotik sebanyak 2%; R2: Pakan dengan penambahan sinbiotik sebanyak 4%; dan R3: Pakan dengan penambahan sinbiotik sebanyak 6%. Data dianalisis menggunakan analisis variansi dan diuji lanjut menggunakan orthogonal polinomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sinbiotik dalam ransum berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kadar fibrinogen, tetapi berpengaruh tidak nyata (P<0,05) terhadap kadar protein plasma darah ayam kampung jantan. Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa semakin tinggi level penggunaan sinbiotik maka semakin tinggi kadar fibrinogen yang dihasilkan, namun pada level 4% dihasilkan fibrinogen di atas kisaran normal yaitu 0,54 g/dl dan mengalami penurunan pada level 6%. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa penggunaan level sinbiotik sampai 6% dalam ransum ayam kampung jantan mampu menjaga kadar total protein plasma ayam kampung jantan dalam kisaran normal 4 g/100 ml. Penggunaan sinbiotik sampai level 6% menghasilkan kadar fibrinogen pada kisaran normal yaitu berada pada kisaran 0,1-0,4 (g/dl). This research aims at assessing the effects of sinbiotic which is supplemented in domestic roosters’ feed on their fibrinogen and plasma protein levels. The research materials were 60 roosters aged 2 months and sinbiotic. This experimental research used a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments each of which was repeated 5 times towards 3 roosters. The treatments consisted of R0: Feed with sinbiotic 0%; R1: Feed with sinbiotic 2%; R2: Feed with sinbiotic 4%; and R3: Feed with sinbiotic 6%. The data was analyzed by using an analysis of variance and continued with an orthogonal polinomial test. The results showed that the use of sinbiotic in feed had a significant effect (P>0,05) on the fibrinogen levels, but not significant (P<0,05) on the protein plasma level of the roosters. The experiment outcome indicated that the more sinbiotic level was supplemented, the higher fibrinogen level was produced. However, in the use of sinbiotic at the level 4%, the fibrinogen produced was above the normal range which was 0,54 g/dl and it decreased at the level 6%. This research concludes that the use of sinbiotic level up to 6% in the roosters’ feed is able to maintain the roosters’ of total plasma protein level on the normal range 4 g/100 ml. The use of the sinbiotic level up to 6% produces the fibrinogen level on the normal range 0.1-0.4 per (g/dl).
548415283C1J009009FACTORS INFULENCE POVERTY IN BANYUMAS REGENCY YEAR 2007-2013Penelitian ini berjudul “FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEMISKINAN DI KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2007-2013”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari pendapatan per kapita, pendidikan, dan pengangguran secara simultan dan secara parsial terhadap kemiskinan di Kabupaten Banyumas pada tahun 2007-2013. Penelitian ini dilakukan dengan metode survey, dan data yang digunakan diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banyumas.
Alat analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan model statistik untuk pengujian secara parsial menggunakan uji t dan secara bersama-sama menggunakan uji F. Hasil pengujian dengan uji F dapat disimpulkan bahwa variabel pendapatan per kapita, pendidikan, dan pengangguran secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan di Kabupaten Banyumas tahun 2007-2013. Sedangkan hasil uji secara parisal menggunakan uji t, ketiga variabel bebas berpengaruh signifikan terhadap variabel terikatnya. Hasil dari koefisien determinasi (R2) sebesar 0,563, hal ini berarti variasi kemiskinan dapat dijelaskan oleh variasi pendapatan per kapita, pendidikan, dan pengangguran sebesar 56,3 persen. Sedangkan sisanya sebesar 43.7 persen dijelaskan oleh variabel-variabel lain diluar model yang tidak ikut diteliti.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah semua variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini secara bersama-sama dan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan di Kabupaten Banyumas tahun 2007-2013. Dan untuk implikasi dalam penelitian ini adalah perlunya pengendalian untuk meminimalisir kemiskinan di Kabupaten Banyumas dengan cara mengendalikan faktor-faktor yang memengaruhi kemiskinan melalui program pemerintah yang perlu didukung dengan kesadaran dari masing-masing individu masyarakat.
This study entitled "FACTORS INFULENCE POVERTY IN BANYUMAS REGENCY YEAR 2007-2013". The purpose of this study was to determine the influence of of income per capita, education, and unemployment simultaneously and partially on poverty in Banyumas Regency in the year 2007-2013. This research was conducted by survey method, and the data used were obtained from the Statistic Indonesia (BPS) Banyumas Regency.
Analysis tool that be used is multiple linear regression analysis with the statistical model for partial testing using t test and simultaneously using F test result to test F can be concluded that variable of income per capita, education, and unemployment simultaneously influence significantly to poverty in Banyumas Regency years 2007-2013. While the test results in parital using t test, three independent variables significantly influence the dependent variable. The results of the coefficient determination (R2) of 0.563, this means the poverty variation could be explained by variations in income per capita, education, and unemployment at 56.3 percent. While the remaining 43.7 percent is explained by other variables outside the model who was not researched.
Conclusions of the this research is all the independent variables used in this research simultaneously and partially significant effect to poverty in Banyumas Regency 2007-2013. And to the implications in this research is need to controlling for minimize poverty in Banyumas Regency by controlling factors that influence poverty through a government program that should be supported with the consciousness of the individual society.
548515284A1M012013Pengaruh Metode dan Lama Fermentasi Ubi Kayu dengan Ragi Tape terhadap Karakteristik Kimia dan Fisikokimia Tepung Ubi Kayu Hasil ModifikasiABSTRAK
Tepung ubi kayu hasil modifikasi merupakan tepung yang dibuat dari ubi kayu segar melalui modifikasi. Modifikasi yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan ragi tape dengan metode fermentasi dan waktu fermentasi tertentu untuk menghasilkan tepung ubi kayu yang berkualitas. Metode fermentasi dilakukan dengan perendaman dalam larutan ragi tape dan penaburan serbuk ragi tape. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) pengaruh penggunaan ragi tape dengan metode fermentasi yang berbeda; 2) lama fermentasi ubi kayu yang sesuai untuk menghasilkan tepung ubi kayu dengan karakteristik kimia dan fisikokimia terbaik; 3) perlakuan terbaik yang dihasilkan dari pembuatan tepung ubi kayu hasil modifikasi. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) secara factorial dengan 2 faktor. Faktor yang diuji adalah metode fermentasi (F) terdiri atas metode perendaman dalam larutan ragi tape 4% (F1) dan metode penaburan ragi tape 4% (F2) dan lama fermentasi (L) terdiri atas 2 jam (L1), 4 jam (L2), 6 jam (L3). Diperoleh 6 kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 24 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah tepung F1L3 (metode perendaman dengan lama fermentasi 6 jam). Tepung ubi kayu yang dihasilkan mempunyai kadar total padatan terlarut 17,58%bb (18,88%bk); koefisien rehidrasi 6,1; dan kekentalan relatif 334,3 detik/10ml. Kadar protein total dan kadar lemak tepung ubi kayu hasil modifikasi F1L3 masing-masing sebesar 0,64%bb (0,69%bk) dan 0,55%bb (0,56%bk), sedangkan kadar karbohidrat by difference tepung ubi kayu hasil modifikasi perlakuan F1L3 yaitu 91,94%bb (98,25%bk).
Modified cassava flour is flour made from fresh cassava through modification. Modifications made in this research using ragi tape by fermentation method and timing of certain fermentation to produce high quality cassava flour. Fermentation method is done by immersion in a solution of ragi tape and ragi tape powder sowing. This study aims to determine: 1) the effect of the use of ragi tape with different methods of fermentation; 2) the length of fermentation of cassava that is suitable to produce cassava flour with chemical and physicochemical characteristics of the best; 3) The best treatment resulting from the manufacture of modified cassava flour. The research was conducted using a factorial randomized block design with two factors. Factors to be examined was the method of fermentation (F) consisted of a method of soaking in a solution of ragi tape 4% (F1) and the method of sowing of ragi tape 4% (F2), and fermentation time (L) consisted of 2 hours (L1), 4 hours ( L2), 6 hours (L3). Retrieved 6 combination treatment was repeated 4 times to obtain 24 experimental units. The result showed that the best treatment was F1L3 flour (soaking in a ragi tape solution of 4%; 6 hours). Cassava flour produced had total soluble solid of 17.58%wb (18.88%db); rehydration coefficient of 6.1; and a relative viscosity of 334.3 sec/10ml. Total protein content and fat content of F1L3 flour were of 0.64%wb (0.69%db) and 0.55%wb (0.56%db), respectively while the carbohydrate content (by difference) was 91.94%wb (98.25%db).
548615298H1D012033PERILAKU SAMBUNGAN MUR-BAUT PADA KOLOM BETON PRACETAK SEGMENTAL DENGAN TULANGAN BAMBU PADA MUTU BETON K-225Dalam struktur bangunan, kolom menempati posisi penting di dalam sistem struktur bangunan. Kegagalan kolom akan berakibat langsung pada runtuhnya komponen struktur lain yang berhubungan dengannya. Kolom beton pracetak dengan tulangan bambu merupakan suatu alternatif untuk mempermudah dan menghemat pelaksanaan konstruksi. Dalam sistem pracetak, perencanaan sambungan harus direncanakan dengan baik agar kegagalan tidak terjadi pada sambungan. Untuk mengatasi hal itu, pada penelitian ini digunakan sambungan mur-baut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kapasitas kolom pracetak segmental bertulangan bambu dengan variasi jumlah sambungan mur-baut dibandingkan dengan kolom monolit dan mengetahui pola keruntuhan yang terjadi. Langkah dalam penelitian ini dimulai dengan pembuatan kolom pracetak segmental dengan tulangan bambu terlebih dahulu, kemudian disambungkan dan di-grouting. Parameter pengujian yang dilakukan meliputi kuat lentur, kuat tekan, dan pola runtuh. Penelitian dilakukan terhadap 18 benda uji dengan dimensi 150 mm x 150 mm x 600 mm, dimana enam buah benda uji diantaranya adalah kolom kontrol (KK), enam buah kolom segmental dengan empat sambungan (KS4), dan enam buah kolom segmental dengan delapan sambungan (KS8). Pengujian tekan dilakukan dengan memberikan beban merata terhadap penampang kolom, sedangkan pengujian lentur dilakukan dengan metode Three point bending. Hasil pengujian menunjukkan rata-rata kekuatan tekan dan lentur kolom kontrol KK sebesar 265,23 kN dan 29,33 kN. Sedangkan rasio rata-rata pengujian tekan dan lentur kolom segmental dengan sambungan terhadap kolom kontrol tanpa sambungan berturut-turut untuk KS4 dan KS8 sebesar 0,98 dan 0,81; serta 0,99 dan 0,94. Pola keretakan yang terjadi pada pengujian tekan diawali dengan keretakan pada bagian atas kolom kemudian menuju bagian bawah kolom. Pada pengujian lentur kolom pola keruntuhan untuk benda uji KK seluruhnya pada kondisi keruntuhan lentur sedangkan pada kolom KS4 dan KS8 pada kondisi keruntuhan geser.In the building structures, column occupy the pivotal position in the structure buliding system. Failures of column will cause direct impacts on the collapsing of the other structural components related to it. Pre-cast column concrete with bamboo reinforced is an easy and economical alternative on the construction project. In this pre-cast system, the connection have to be designed well so that the failure doesn’t occur at the connection. To overcome the problem, this research used bolt-nut connection. The purpose of this research is to find out the capacity of segmental pre-cast column with bamboo reinforced using different number variations of connection bolt-nut compared with conventional column and to find out the collapse pattern occur. The step on this research begin with making column in segmental with bamboo reinforced first, then connected and grouted. The testing Criteria conducted include flexible capacity, compressive strength, and type of collapse. The research was conducted on the 18 sample, 150 mm x 150 mm x 600 mm, the six of them are control column (KK), six segmental column with four connection (KS4), and six segmental column with eight connection (KS8).Compressive strength testing conducted with giving the uniform load on the column cross section while the flexible capacity testing use three point bending method. The results of testing showed the average of compressive strength and flexible capacity on control column KK are 265,23 kN and 29,33 kN .While the average ratio on the compressive strength and flexible capacity testing of segmental column with connection to column control without connection for KS4 and KS8 are 0,98 and 0,81; then 0.99 and 0,94. The Crack pattern occured on compressive strength started by crack on the top of a column then toward to the bottom of column. On flexible capacity testing column the failure pattern for KK sample entirely collapse on the flexible condition while in columns KS4 and KS8 the failure pattern are shear condition.
548715285D1E012201PENGARUH BAHAN PEMBAWA EKSTRAK BUNGA WARU DALAM RANSUM SAPI POTONG TERHADAP PRODUKSI GAS TOTAL DAN VOLATILE FATTY ACID (VFA) SECARA IN-VITROPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi interaksi antara bahan pembawa dengan level ekstrak bunga waru terhadap produksi gas total dan Volatile Fatty Acid (VFA). Materi penelitian menggunakan pakan basal berupa jerami padi amoniasi dan konsentrat dengan imbangan bahan kering adalah 55:45. Faktor pertama adalah jenis bahan pembawa ekstrak yaitu jerami padi amoniasi (J), pollard (P) dan bungkil kedelai (B). Faktor kedua adalah dosis ekstrak etanol bunga waru yaitu 0 ppm (E1), 50 ppm (E2) dan 100 ppm (E3). Dengan demikian, pola faktorial 3 x 3 menghasilkan kombinasi JE1, JE2, JE3, PE1, PE2, PE3, BE1, BE2 dan BE3 sebagai perlakuan. Rancangan Acak Kelompok digunakan pada penelitian ini, dan periode pengambilan cairan rumen dari 3 ekor sapi yang berbeda sebagai kelompok perlakuan. Variabel yang diukur adalah gas total dan VFA. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur.The research aims at evaluating the interaction between the carrier and the dose of Hibiscus tiliaceus extract levels and its influence on the total gas and VFA production. The research materials were basal diet consisting of ammoniated rice straw and concentrate with dry matter ratio 55%:45%. The first factor was the types of carrier which were ammoniated rice straw (J), pollard (P) and soybean meal (B). The second factor was the doses of hibiscus tiliaceus extract which were 0 ppm (E1), 50 ppm (E2) and 100 ppm (E3). Therefore, this 3 x 3 factorial pattern combined JE1, JE2, JE3, PE1, PE2, PE3, BE1, BE2 and BE3 as the treatments. This research used a Randomized Block Design with the period of fluid rumen collection from three different cattle as the block. The variables measured were the total gas and VFA. Data were analysed by an analysis of variance and followed by Honestly Significant Difference Test.
548815287D1E010053SUPLEMENTASI HERBAL PADA PUPUK CAIR URIN SAPI BUNTING TERHADAP TINGGI TANAMAN DAN JUMLAH ANAKAN RUMPUT GAJAH DEFOLIASI KEDUAPenelitian yang berjudul “Suplementasi Herbal Pada Pupuk Cair Urin Sapi Bunting Terhadap Tinggi tanaman dan Jumlah Tunas Anakan Rumput Gajah Defoliasi Kedua” ini dilaksanakan mulai tanggal 23 Oktober 2015 sampai dengan 18 Desember 2015, bertempat di Eksperimental Farm Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman. Materi yang digunakan adalah rumput gajah, pupuk organik granul, pupuk cair urin sapi bunting suplementasi herbal, cangkul, sabit, meteran, alat ukur, alat hitung dan pensil. Penelitian menggunakan metode eksperimental. Rancangan penelitian menggunakan rancangan Nested (Grouped) dengan 12 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai rataan tinggi tanaman rumput gajah P1d1 (284,62 cm), P1d2 (274,11 cm), P1d3 (307,17 cm), P2d1 (294,17 cm), P2d2 (283,67 cm), P2d3 (292,83 cm), P3d1 (260,67 cm), P3d2 (280,50), P3d3 (283,45 cm), P4d1 (296,56 cm), P4d2 (266,78 cm), P4d3 (307,89 cm) dan nilai rataan jumlah tunas anakan rumput gajah P1d1 (7,33 tunas), P1d2 (8,45 tunas), P1d3 (10,50 tunas), P2d1 (8,72 tunas), P2d2 (9,89 tunas), P2d3 (7,61 tunas), P3d1 (7,78 tunas), P3d2 (9,89 tunas), P3d3 (8,67 tunas), P4d1 (10,56 tunas), P4d2 (8,17 tunas), P4d3 (11,00 tunas). Hasil analisis variansi menunjukan perlakuan jenis pupuk tidak berpengaruh nyata (P > 0,05) terhadap tinggi tanaman dan jumlah tunas anakan rumput gajah defoliasi kedua. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa suplementasi herbal pada pupuk cair urin sapi bunting pada jenis pupuk belum mampu meningkatkan tinggi tanaman dan jumlah tunas anakan rumput gajah defoliasi kedua. Pada peningkatan dosis pupuk tidak mampu meningkatkan tinggi tanaman akan tetapi mampu meningkatkan jumlah tunas anakan rumput gajah.This research, entitled “The Effect of Supplementation of Herbal in to Liquid Fertilizer of Pregnant Cow Urine on The Height and Amount of Tillers of Bulrush at The Second Defoliation", had been held from 23 October 2015 to 18 December 2015, at the Experimental Farm Faculty of Animal Science, University of Jenderal Soedirman. The materials used were bulrush, granule organic fertilizer, pregnant cow urine and herbal, hoes, sickles, meter, measuring tools, calculators and pencils. The research used experimental methods and was designed with nested design ( grouped ) with 12 treatments and 3 replications. The results showed that the average P1d1 (284.62 cm), P1d2, P1d3 , P2d1, P2d2, P2d3, P3d1, P3d2, P3d3, P4d1, P4d2, and P4d3 value of the height of bulrush 284.63 cm, 274.11 cm, 307.17 cm, 294.17 cm, 283.67 cm, 292.83 cm, 260.67 cm, 280.50 cm, 283.45 cm, 296.56 cm, 266.78 cm, and 307.89 cm respectively. The results of analysis of variance showed that there were no significant effects (P > 0.05) of the supplementation on the height and amount of tillers of bulrush at the second defoliation. Increasing fertilizer doses in this study is not able to increase the height of bulrush but is able to increase the amount of tillers (P < 0.05) at the second defoliation.
548915288D1E010077 PENGARUH LAMA PERENDAMAN DAGING KAMBING BAGIAN PAHA DALAM LARUTAN PERASAN JERUK NIPIS TERHADAP KEEMPUKAN, DAYA IKAT AIR DAN pH DAGINGPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama perendaman pada daging bagian paha yang direndam dalam larutan perasan jeruk nipis konsentrasi 10% terhadap tingkat keempukan, daya ikat air dan pH daging. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 1 sampai dengan 15 Maret 2016, bertempat di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak dan Laboratorium Ilmu dan Bahan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Terdapat 4 perlakuan, P0 yaitu daging kambing bagian paha tanpa perendaman (kontrol), P1 yaitu daging kambing bagian paha direndam air perasan jeruk nipis selama 1 jam, P2 yaitu daging kambing bagian paha direndam air perasan jeruk nipis selama 2 jam dan P3 yaitu daging kambing bagian paha direndam air perasan jeruk nipis selama 3 jam. Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Peubah yang diukur terdiri atas keempukan, daya ikat air dan pH daging. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama perendaman yang lebih lama mampu meningkatkan keempukan dan daya ikat air daging, namun di sisi lain menurunkan pH daging. Kesimpulan dari penelitian ini adalah lama perendaman dalam larutan perasan jeruk nipis sampai dengan 3 jam mampu meningkatkan keempukan dan daya ikat air serta menurunkan pH daging kambing bagian paha.This research aims to determine the effect different immersion duration using lime juice concentrate 10% on the tenderness, water holding capacity (WHC) and pH of goat thigh meat. This experiment had been conducted from March, 1st until 15th 2016 at the Laboratory of Animal Products Technology and Laboratory of Animal Feed Ingredients, Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University Purwokerto. It used a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments, i.e. P0: thigh meat without immersion, P1: 1 hour immersion, P2: 2 hour immersion and P3: 3 hour immersion, each of which was repeated 5 times. The measured variables were the meat tenderness, WHC and pH. The results showed that the longer duration of the Immersion increased the meat tenderness and WHC, but decreased its pH. In conclusion, 3 hour immersion improves the quality goat thigh meat, in term of its tenderness, WHC and pH.
549015289H1D012057PERKUATAN TANAH LUNAK MENGGUNAKAN ANYAMAN KARET BAN BEKAS DENGAN VARIASI JARAK ANTAR STRIPKestabilan struktur sangat dipengaruhi oleh tanah dasar yang mendukung beban diatasnya, sehingga jenis tanah yang mempunyai daya dukung tinggi sangat dibutuhkan untuk menumpu beban tersebut. Adapun jenis tanah yang mempunyai daya dukung rendah yaitu tanah lunak. Oleh karena itu diperlukan suatu upaya perkuatan pada tanah lunak. Perkuatan tanah yang sering dilakukan pada proses konstruksi yaitu pemasangan geogrid. Namun apabila dilihat dari segi ekonomi, penggunaan geogrid relatif mahal sehingga diperlukan adanya alternatif pengganti bahan geogrid. Salah satu bahan pengganti geogrid yang dapat digunakan yaitu anyaman karet ban bekas. Penelitian ini akan mengkaji pengaruh variasi jarak antar strip anyaman yaitu tanpa anyaman, 8 cm, 10 cm, 12 cm, 14 cm, dan 16 cm terhadap kapasitas dukung tanah. Pengujian dilakukan sebanyak 2 kali untuk masing-masing sampel. Anyaman karet ban tersebut diletakkan pada kedalaman 20 cm dari permukaan tanah. Sampel tanah berupa tanah lempung yang diletakkan pada kotak uji dengan ukuran panjang, lebar, dan tinggi masing-masing sebesar 100 cm, 100 cm, dan 50 cm. Pengujian yang dilakukan yaitu pengujian karakteristik tanah dan pengujian pembebanan pelat. Berdasarkan hasil pengujian pembebanan pelat, didapatkan jarak optimum penggunaan anyaman karet ban bekas sebagai pengganti geogrid sebesar 13 cm. Jarak tersebut menghasilkan nilai kapasitas dukung ultimate tanah sebesar 539,99 kg dan mengalami peningkatan sebesar 75,48% jika dilihat dari nilai kapasitas dukung ultimate tanah tanpa anyaman sebesar 307,73 kg.The stability of the structure is highly influenced by the subgrade that support the load above it, so the type of soil that has a high bearing capacity is needed to support the load. There is a type of soil that has a low bearing capacity, it soft soil. Therefore, it required a reinforcement on soft soil. Soil reinforcement which often use on the construction process is the installation of geogrid. One of the geogrid substitute materials that can be used is rubber from recycle tires. This study examined the influence of variations in strip distance to obtain optimal results in the use of rubber from recycle tires as a substitute geogrid for soil reinforcement. This study examined the influence of variations on the strip distance, that is without webbing, 8 cm, 10 cm, 12 cm, 14 cm, and 16 cm of the soil bearing capacity. Test will be done 2 times for each sample. The tire rubber matting is laid at a depth of 20 cm from the ground. Soil samples of clays is placed on a test box with length, width, and height of each is 100 cm, 100 cm, and 50 cm. Testing was conducted on the soil properties test and plate loading test. From these test can be viewed the influence of the use of soil reinforcement of the soil bearing capacity using rubber from recycle tires and the effective distance of the rubber from recycle tires. Based on the results of plate loading test, it obtained the optimum strip distance by using rubber from recycle tires as a substitute geogrid at 13 cm. The distance generates the value of ultimate bearing capacity of 539,99 kg and increased by 75,48 % if viewed from the ultimate bearing capacity of the soil without the webbing of 307,73 kg.
549115291D1E012086PENGARUH BAHAN PENGIKAT YANG BERBEDA TERHADAP DAYA IKAT AIR, PH, DAN SUSUT MASAK TETELAN DAGING KAMBING RESTRUKTURISASIPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh bahan pengikat yang berbeda terhadap daya ikat air, pH, dan susut masak tetelan daging kambing restrukturisasi. Materi penelitian yang digunakan adalah tetelan daging kambing dari Pasar Wage Purwokerto sebanyak 5000 g, garam 100 g, putih telur 7 g, susu skim 7 g, lesitin kedelai 7 g, larutan buffer, dan aquadest. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan yaitu P0= tanpa bahan pengikat, P1= putih telur 0,5%, P2= susu skim 0,5%, dan P3= lesitin kedelai 0,5%. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi dan uji lanjut dengan uji beda nyata jujur (BNJ). Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penggunaan putih telur, susu skim, dan lesitin kedelai sebagai bahan pengikat pada tetelan daging kambing restrukturisasi berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap daya ikat air dan susut masak, tetapi berpengaruh tidak nyata (P>0,05) tehadap penurunan pH tetelan daging kambing restrukturisasi. Hasil uji lanjut beda nyata jujur menunjukan bahwa untuk menaikan daya ikat air dan menurunkan susut masak tetelan daging kambing restrukturisasi maka bahan pengikat yang paling baik adalah yang menggunakan susu skim daripada putih telur dan lesitin kedelai. Kesimpulan hasil penelitian ini menunjukan bahwa bahan pengikat yang baik dalam proses pembuatan daging kambing restrukturisasi yaitu susu skim.This research aims at assessing the effects of using different binding agents on the water holding capacity, pH, and cooking losses of restructured goat meat. The research materials were 5000 g of goat meat pieces from the traditional market Pasar Wage Purwokerto, 100 g of salt, 7 g of albumen, 7 g of skim milk, 7 g of soybean lecitine, buffer solution, and aquadest. This experimental research used a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments, i.e. P0 = without binding agent, P1= 0,5% albumen, P2 = 0,5% skim milk, and P3 = 0,5% soybean lecitine, each of which was repeated 5 times. Data was analyzed by a variance analysis and continued with Honestly Significance Difference (HSD). The results of the variance analysis showed that the use of albumen, skim milk, and soybean lecitine as the binding agents had a highly significant effect (P<0,01) on the water holding capacity and cooking losses, but insignificantly affected (P>0.05) in decreasing the pH of the restructured meat. The results of honestly significant difference test showed that, compared to the two other binding agents, skim milk was the most appropriate binding agent to use in order to increase the water holding capacity and to decrease the cooking lossess of the restructuerd meat. The conclusion of this research is that, compared to albumen and soybean lecitine, skim milk is the best binding agent in producing restructured goat meat.
549215310G1F012054Pengembangan dan Validasi Spektrofotometri dengan Pendekatan Kemometrika Principal Component Regression untuk Analisis Simultan Asam Benzoat dan Salisilat dalam Sediaan LarutanKombinasi asam benzoat dan salisilat memiliki fungsi sebagai fungistatik dan fungisida. Salah satu bentuk sediaan farmasi yang mengandung kedua senyawa tersebut adalah dalam bentuk larutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan, memvalidasi, dan mengaplikasikan sepktrofotometri dengan pendekatan kemometrika principal component regression (PCR) untuk analisis asam benzoat dan salisilat dalam sediaan larutan secara simultan.
Konsentrasi yang digunakan berkisar antara 1,9-7,8 µg/mL (asam benzoat) dan 2,9-11,5 µg/mL (asam salisilat). Model kemometrika dikembangkan menggunakan 16 training set dan 10 test set. Komposisi Training set dibuat berdasarkan ketentuan dalam central composite design (CCD) sedangkan test set diambil secara acak. Larutan campuran dibaca absorbansinya dengan spektrofotometer UV dengan panjang gelombang (200-400 nm), dan selanjutnya diolah dengan model PCR menggunakan Unscrambler. Model divalidasi secara internal dan eksternal. Selanjutnya dilakukan validasi metode analisis berupa linearitas, rentang, akurasi, presisi, LOD, dan LOQ. Aplikasi metode analisis pada sediaan larutan dievaluasi berupa % rata-rata klaim label.
Hasil dari penelitian ini didapatkan panjang gelombang dan PC optimum untuk model PCR adalah 225-235 nm PC 1 (asam benzoat) dan 235-245 nm PC 3 (asam salisilat). Hasil validasi metode pada asam benzoat dan salisilat secara berurutan didapatkan nilai R2 (0,9826 dan 0,9889), % recovery (35,7-39,6% dan 96,8-106,4%), % RSD (2,7-7,1% dan 1,94-5,3%), LOD (0,92 µg/mL dan 1,09 µg/mL), dan LOQ (2,79 µg/mL dan 3,31 µg/mL). Metode yang dikembangkan dapat diaplikasikan pada sediaan larutan yang mengandung asam benzoat dan salisilat.
The combination of benzoic acid and salicylic functions as fungistatic and fungicide. One of pharmaceutical dosage forms containing the two compounds are in solution form. This research aims to develop, validate, and apply sepktrofotometri with chemometrics approach principal component regression (PCR) for analyzing benzoic and salicylic acid in the preparation of the solution simultaneously.
Concentrations used ranged from 1,9-7,8 µg/mL (benzoic acid) and 2,9-11,5 µg/mL (salicylic acid). Chemometrics model is developed using 16 training and 10 test sets. Composition training sets made under the provisions of the central composite design (CCD) while the test sets were drawn randomly. Read mixed solution with an absorbance by UV spectrophotometry with wavelengths (200-400 nm), and further processed by PCR model using Unscrambler. The model is validated internally and externally. Furthermore, the validation of analytical methods such as linearity, range, accuracy, precision, LOD and LOQ. Application analysis methods in preparation solution was evaluated in % average label claims.
The results of this study, the optimum wavelength and PC to the model PCR is 225-235 nm PC 1 (benzoic acid) and 235-245 nm PC 3 (salicylic acid) were selected. The results of the validation method of benzoic and salicylic acid were obtained the value of R2 (0,9826 and 0.9889),% recovery (35,7-39,6% and 96,8-106,4%), % RSD (2,7-3,3% and 3,5-4,2%), LOD (0,92 µg/mL and 1,09 µg/mL), and LOQ (2,79 µg/mL and 3,31 µg/mL), respectively. The method can be applied to the preparation of solution containing benzoic and salicylic acid.
549315290D1E012046KECERNAAN LEMAK KASAR DAN ENERGI PAKAN SAPI POTONG YANG MENDAPAT EKSTRAK BUNGA WARU SECARA IN-VITROPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh interaksi, bahan pembawa, serta taraf ekstrak bunga waru terhadap kecernaan lemak kasar dan kecernaan energi. Materi penelitian yang digunakan adalah campuran cairan rumen yang berasal dari 3 ekor sapi dari Rumah Potong Hewan Mersi (RPH Mersi) segera setelah sapi dipotong, ekstrak bunga waru, bahan pembawa ekstrak bunga waru, yaitu jerami padi amoniasi, pollard dan bungkil kedelai, serta pakan basal dengan imbangan (55:45) yang terdiri dari jerami padi amoniasi dan konsentrat. Penelitian dilaksanakan dengan metode eksperimental secara In vitro menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial 3x3. Faktor pertama adalah jenis bahan pembawa ekstrak yaitu jerami padi amoniasi (J), pollard (P) dan bungkil kedelai (B) dan faktor kedua adalah taraf ekstrak bunga waru yaitu 0 ppm (E1), 50 ppm (E2) dan 100 ppm (E3). Sebagai blok adalah 3 x periode pengambilan cairan rumen. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan Analisis Variansi (ANAVA) dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) dan Uji Orthogonal Polynomial. This study aims to assess the effect of the interaction, feedstuff carriers, and the levels of hibiscus tiliaceus extract with the digestibilities of energy and crude fat. The research materials were a mixture of rumen fluid derived from three cows that were randomly selected from Mersi Slaughterhouse immediately after cutting, hibiscus tiliaceus extract, feedstuff carriers which were ammoniated rice straw, pollard and soybean meal, and basal feed with proportion of (55:45), which consisted of ammoniated rice straw and concentrates. This research was conducted by the experimental method in In vitro with a randomized block design (RBD) in a 3x3 factorial design. The first factor was the types of feedstuff carrier which were ammoniated rice straw (J), pollard (P) and soybean meal (B), while the second factor was the levels of hibiscus’s flower extracts which were 0 ppm (E1), 50 ppm (E2) and 100 ppm (E3). The block was three time period of taking rumen fluid. Data were analyzed with an analysis of variance (ANOVA) and followed with Honest Significant Difference test (HSD) and orthogonal polynomial test.
549415293G1G012054PENGARUH PASTA BLEACHING KOMBINASI DARI EKSTRAK TOMAT (Lycopersicon esculentum Mill) DAN EKSTRAK LEMON (Citrus limon) TERHADAP PERUBAHAN WARNA GIGIBuah tomat (Lycopersicon esculentum mill) diketahui memiliki kandungan hidrogen peroksidasebagaibahandental bleaching serta buah lemon (Citrus limon) yang memiliki kandungan asam sitrat dengan pH rendah yang berfungsi membuka tubuli dentin agar hidrogen peroksida yang terkandung dalam tomat dapat masuk kedalamnya..Tujuan penelitian yaitu mengetahui pengaruh pasta bleaching kombinasi dari ekstrak tomat dan ekstrak lemon terhadap perubahan warna gigi.Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan rancanganpre test - post test control group design. Waktu pengaplikasian pasta selama 45 menit pada 25 gigi premolar 1 rahang atas yang dibagi menjadi lima kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan diaplikasikan tiga formulasi pasta kombinasi ekstrak tomat: ekstrak lemon yaitu 75%:25%, 50%:50%, dan 25%:75% dan menggunakan kontrol positif H2O2 35% serta kontrol negatif basis pasta. Pengambilan foto dilakukan sebelum dan sesudah pengaplikasian bahan bleaching lalu dianalisis menggunakan metode CIELAB dengan aplikasi adobe photoshop. ∆E*ab lalu ditemukan sebagai perubahan warna gigi dan dilakukan analisis statistik yaitu levene test, saphiro-wilk, One Way Anova dan post hoc LSD (Least Significant Different). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengaplikasian pasta kombinasi ekstrak tomat dan ekstrak lemon selama 45 menit dapat menyebabkan perubahan warna gigi. Perubahan warna gigi yang paling baik secara klinis adalah pada pengaplikasian formulasi 2 (50%:50%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah Pasta bleaching kombinasi dari ekstrak tomat dan ekstrak lemon memiliki pengaruh terhadap perubahan warna gigi. Pengaruh paling optimal ditunjukan pada aplikasi formula 2 dengan komposisi ekstrak tomat: ekstrak lemon 50%:50%.Tomato (Lycopersicon esculentum mill) contains hydrogen peroxide which has been known as a dental bleaching material, and citric acid in lemon (Citrus limon) can lower the pH so the dentin tubules are open, making hydrogen peroxide can get into dentin and oxidize dentin’s pigment. The aim of this research is to know effect of combined bleaching paste from tomato and lemon extract to the change in teeth’s color. This research is experimental laboratory with pre-test and post-test control group design. The paste was applied for 45 minutes on 25 first maxillary permolars that divided into five groups. The experimental groups were applied by combined paste with various formulations of tomato and lemon extract 75%:25%, 50:50%, 25:75%, the positive control group was applied by H2O2 35%, and the negative control group was applied by paste base. Photos were taken before and after bleaching materials application and analyzed with CIELAB method using Adobe Photoshop. ∆E*ab was found as change in teeth’s color and procceed with statistical analysist with One Way Anova and continued with post hoc LSD (Least Significant Different). The result of this research showed that application of combined paste from tomato and lemon extract for 45 minutes can change teeth’s color. The best result in teeth’s color changing can be seen in group which applied by formulation 2 (50%:50%). Conclusion of this reserach was combined bleaching paste of tomato and lemon extract can affect in changing teeth’s color. The best formulation was 50%:50%.
549515339F1A012002DOKAR DULU DAN SEKARANG
(Studi Deskriptif Proses Perubahan Pada Penggunaan Sarana Transportasi Dokar
Di Kota Purbalingga)
Dokar merupakan sarana transportasi tradisional yang memiliki nilai budaya, sehingga di era modernisasi seperti sekarang ini pun dokar masih diminati oleh sebagian masyarakat. Begitulah yang terjadi di tengah masyarakat kota Purbalingga, yakni di tengah menjamurnya kendaraan bermotor dan beralihnya masyarakat kota Purbalingga menggunakan kendaraan bermotor, dokar nyatanya masih eksis sampai saat ini. Akan tetapi keberadaan dokar di tengah menjamurnya sarana transportasi modern di kota purbalingga mengakibatkan perubahan pada penggunaan sarana transportasi dokar di kota Purbalingga. Dokar yang awalnya dijadikan sebagai angkutan umum yang beroperasi di kawasan pasar induk kota Purbalingga sekarang secara total sudah dijadikan sebagai angkutan wisata yang beroperasi di kawasan alun-alun kota Purbalingga. Berangkat dari kenyataan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses perubahan pada penggunaan sarana transportasi dokar di kota Purbalingga dan dampaknya terharap perekonomian para kusir dokar.
Melalui penelitian yang sudah peneliti lakukan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses perubahan pada penggunaan sarana transportasi dokar di kota purbalinggga dari angkutan umum menjadi angkutan wisata meliputi tiga kurun waktu, yakni era dokar pasar, era dokar pasar dan alun-alun, dan era dokar alun-alun total. Adapun dampak dari perubahan tersebut bagi perekonomian kusir dokar adalah menurunnya pendapatan mereka, sehingga untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga mereka juga memiliki pekerjaan sampingan seperti bertani, berternak, dan menjual jasa pasang sepatu dokar. Selain memiliki pekerjaan sampingan, dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga, para istri kusir dokar juga turut bekerja, seperti berdagang, dan juga menjadi buruh pabrik.
Dokar is a traditional transportation that has cultural values, so that in the era of modernization today, dokar is still preferred by most people. That is the condition that happened in the middle of the urban community in Purbalingga, which is in the middle of the proliferation of motor vehicles and the shift of urban Purbalingga in using motor vehicles, dokar is still exist today. However, the existence of dokar amid the flourishing of modern transportation in Purbalingga gave impact to the changes of the dokar use as transportation in Purbalingga. Dokar that was originally used as a public transportation that operated in the wholesale market area of Purbalingga, today it has been using as a transport mode as tourist dokar which operates in the area of the Purbalingga town square. Based on this fact, this study aims to determine how the process of change in the use of dokar in Purbalingga and economic impact to the dokar coachman.
The result of this research indicates that the process of change in the use of dokar in Purbalinggga from public transportation into tourist transportation passed three period: the era of dokar market, the era of market dokar and the square area dokar, and the era of full square area dokar. The impact of these changes for the economy of dokar coachman is decreasing their income, so as to meet the needs of family life they also have side jobs such as farming, herding, and servicing the pairs of horse shoes. In addition to having a second job, to meet the needs of households, the dokar coachman’s wife also goes to work, such as do a business, and also as factory worker.
549615294A1M012016PENGARUH PENGGUNAAN JENIS BAHAN PERENDAM DAN LAMA PERENDAMAN UBI KAYU TERHADAP SIFAT KIMIA DAN FISIKOKIMIA DARI TEPUNG UBI KAYU YANG DIHASILKANSalah satu usaha diversifikasi pengolahan ubi kayu yang saat ini sedang dikembangkan adalah tepung mocaf (modified cassava flour). Pada umumnya pembuatan tepung mocaf menggunakan metode fermentasi. Pada penelitian ini dicoba pembuatan tepung mocaf menggunakan berbagai bahan perendam dengan lama perendaman berbeda untuk mengetahui pengaruhnya terhadap sifat kimia dan fisikokimianya. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui pengaruh jenis bahan perendam terhadap sifat kimia dan fisikokimia tepung mocaf; 2) menetapkan lama perendaman yang sesuai untuk menghasilkan tepung mocaf dengan sifat kimia dan fisikokimia yang baik; 3) menentukan unit kombinasi perlakuan terbaik berdasarkan sifat kimia dan fisikokimia tepung mocaf. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial. Perlakuan yang dicoba dalam penelitian ini terdiri atas 2 faktor, jenis bahan perendam (P) terdiri atas P0 (kontrol perendaman) = H2O; P1 = Larutan NaCl 3%; P2 = Larutan Ragi Tape 4%; P3 = Larutan NaHCO3 pH 9; P4 = Larutan NaOH pH 9 dan lama perendaman (L) terdiri atas L1 = 2 jam; L2 = 4 jam; L3 = 6 jam. Dengan demikian diperoleh 15 kombinasi perlakuan yang diulang 3 kali sehingga diperoleh 45 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah tepung ubi kayu P2L3 (perendaman dalam larutan ragi tape 4% dengan lama perendaman 6 jam). Tepung yang dihasilkan mempunyai kadar air 5,78 %; kadar abu 0,32 %bb (0,34 %bk); kadar total asam tertitrasi 0,011 %bb (0,012 %bk); kadar total padatan terlarut 25,27 %bb (26,83 %bk); densitas kamba 0,974 g/ml; koefisien rehidrasi 5,52; derajat putih 82,27; kekentalan relatif 293 detik/10 ml. Kadar protein total dan lemak tepung ubi kayu modifikasi P2L3 masing-masing sebesar 0,64 %bb (0,68 %bk); 0,55 %bb (0,59 %bk), sedangkan kadar karbohidrat by difference tepung ubi kayu hasil modifikasi perlakuan P2L3 yaitu 92,71 %bb (98,39 %bk).

One of the diversified cassava processing that currently being developed is mocaf (modified cassava flour). In general, the manufacture of mocaf using fermentation methods. In this research attempted manufacture of mocaf flour using a variety of soaking solutions and soaking time to determine its effect on the chemical and physicochemical properties. This research aims to: 1) determine the effect of the soaking solutions to the chemical and physicochemical properties of mocaf; 2) establish an appropriate soaking time to produce mocaf with good chemical and physicochemical properties; 3) determine the best treatment combination unit based on the chemical and physicochemical properties of mocaf flour. This research used experimental method Randomized Complete Block Design arranged as factorial. The treatment attempted in this research consisted of two factors i.e. the type of soaking solutions (P) consisted of P0 (control) = H2O; P1 = 3% NaCl solution; P2 = 4% ragi tape solution; P3 = NaHCO3 solution pH 9; P4 = NaOH solution pH 9 and soaking time (L) consisted of L1 = 2 hours; L2 = 4 hours; L3 = 6 hours. Thus obtained 15 combinations of treatment and repeated 3 times to obtain 45 experimental units. The results showed that the best treatment was cassava flour P2L3 (soaking solution of ragi tape 4%; 6 hours soaking time). Flour produced had a water content of 5.78%; ash content of 0.32% wb (0.34% db); total acid content of 0.011% wb (0.012% db); total dissolved solids 25.27% wb (26.83% db); bulk density 0.974 g / ml; rehydration coefficient of 5.52; White degrees of 82.27; and the relative viscosity of 293 sec/10 ml. Protein content and fat content of P2L3 flour were of 0,64 %wb (0.68% db); and 0.55% wb (0.59 %db) respectively, while the carbohydrate content (by difference) was 92.71% wb (98.39 %db).
549715295H1D012048PERMODELAN HIDRAULIK FISIK GERUSAN DI BAHU JALAN DENGAN VARIASI KEMIRINGAN MELINTANG BADAN JALAN SESUAI DENGAN SYARAT ALINEMEN HORIZONTAL
(Studi Kasus : Ruas Jalan Raya Purwokerto-Bumiayu, Jawa Tengah)
Bahu jalan merupakan salah satu bagian penting dari struktur jalan. Salah satu masalah yang sering dijumpai pada bahu jalan yang terbuat dari tanah asli adalah gerusan lokal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kedalaman, lebar dan panjang gerusan serta pola gerusan di bahu jalan pada ruas jalan Purwokerto-Bumiayu dengan variasi kemiringan melintang badan jalan sesuai syarat alinemen horizontal, dan untuk mengetahui hubungan kemiringan melintang badan jalan dengan gerusan yang terjadi.
Penelitian dilaksanakan di laboratorium dengan menggunakan model hidraulik fisik yang dibuat sesuai dengan dimensi pada prototip dengan menggunakan skala geometrik 1:2 dan skala kinematik 1:2. Perilaku gerusan yang diamati terfokus pada 4 variasi kemiringan melintang badan jalan, yaitu 0,54%, 2%, 6% dan 10%. Pengujian dilakukan menggunakan alat simulasi hujan dengan intensitas hujan bervariasi pada model, yaitu 10 mm/jam, 12 mm/jam, 15 mm/jam dan 25 mm/jam. Penelitian dilakukan terhadap 2 sampel material bahu jalan yang diambil pada 2 titik yang berbeda pada ruas jalan Purwokerto-Bumiayu. Sampel 1 adalah jenis tanah lempung, sedangkan sampel 2 adalah pasir.
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan kedalaman, lebar dan panjang gerusan yang disajikan secara berurutan untuk intensitas hujan 10 mm/jam, 12 mm/jam, 15 mm/jam dan 25 mm/jam. Kedalaman gerusan maksimum berdasarkan permodelan di laboratorium untuk sampel 1 berturut-turut adalah sebesar 1 cm, 0,8 cm, 1 cm dan 1,1 cm skala model. Sedangkan kedalaman gerusan maksimum pada sampel 2 yaitu 1 cm, 1,1 cm, 1,1 cm, 1,2 cm skala model. Lebar gerusan maksimum pada sampel 1 berturut-turut adalah sebesar 4,6 cm, 3,7 cm, 8,2 cm dan 15,4 cm skala model. Sedangkan lebar gerusan maksimum pada sampel 2 yaitu 5,9 cm, 11,2 cm, 10,8 cm dan 15,2 cm skala model. Panjang gerusan maksimum pada sampel 1 secara berurutan yaitu 55,4 cm, 60,1 cm, 63,2 cm dan 65,1 cm skala model. Sedangkan panjang gerusan maksimum pada sampel 2 yaitu 62,3 cm, 65,2 cm, 66,5 cm dan 67,6 cm skala model. Semakin besar kemiringan melintang badan jalan maka semakin besar pula kedalaman dan panjang gerusan yang terjadi, namun lebar gerusan yang terjadi semakin kecil. Faktor yang menjadi penyebab terjadinya gerusan di bahu jalan ruas jalan raya Purwokerto-Bumiayu antara lain kemiringan melintang badan jalan (S), intensitas hujan (I), diameter butiran (d50), rapat massa material bahu jalan (s) dan kekentalan kinematik air (). Hasil pengujian juga menunjukkan bahwa pola gerusan pada sampel 1 terjadi tidak beraturan dan cenderung menyebar ke semua bagian bahu jalan. Sedangkan pada sampel 2 pola gerusan yang terjadi membentuk suatu alur sebagai jalan air dan tampak lebih beraturan yang mengikuti gerusan yang pertama kali terjadi.
Shoulder of the road is one of the important part of the road structure. One of the problems frequently occured on the road shoulder that made from soil is scouring. The purpose of the experiment is to determine the depth, width and length of the scour and scour pattern of the road shoulder Purwokerto-Bumiayu roadway with the transverse slope variations of the road according to the terms of horizontal alignment, and to determine the relation of the transverse slope of the road with the scour.
The experiment was held in the laboratory using a physical hydraulic model that was made similar with the dimensions of the prototypes using geometric scale of 1:2 and kinematic scale of 1:2. The scouring focused on four variations slope of the road, i.e 0.54%, 2%, 6% and 10%. The experiment is using rainfall simulator with the variations of rainfall intensity on the model, which are 10 mm/h, 12 mm/h, 15 mm/h and 25 mm/h. Both of the samples of the experiment were taken from the road shoulder on the road section of Purwokerto-Bumiayu. Sample 1 is a type of clay, while sample 2 is sand.
Based on the research, results of the depth, width and length of the scour presented sequentially for rainfall intensity of 10 mm/h, 12 mm/h, 15 mm/h and 25 mm/h. The maximum scour depth of sample 1 simulations are 1 cm, 0,8 cm, 1 cm and 1,1 cm respectively in scale models. While the maximum scour depth of sample 2 simulations are 1 cm, 1,1 cm, 1,1 cm, 1,2 cm respectively in scale models. The maximum scour width of sample 1 simulations are 4,6 cm, 3,7 cm, 8,2 cm and 15,4 cm respectively in scale models. While the maximum scour width of the sample 2 simulations are 5,9 cm, 11,2 cm, 10,8 cm and 15,2 cm respectively in scale models. The maximum scour length of sample 1 simulations are 55,4 cm, 60,1 cm, 63,2 cm and 65,1 cm respectively in scale models. While the maximum scour length of sample 2 simulations are 62,3 cm, 65,2 cm, 66,5 cm and 67,6 cm in scale models. The larger the transverse slope of the road, the greater the depth and length scour happens, but the smaller width scouring. The factors that cause the scouring at the roadway of Purwokerto-Bumiayu i.e transverse slope of the road (S), the rainfall intensity (I), grain diameter (d50), the shoulder material mass density (s) and the kinematic viscosity of water (). The experiment results also show that the scour pattern of sample 1 occurs irregularly and tends to spread to all parts of the road shoulder. While on the sample 2, scour pattern that occurs to form a space as the water and seemed more regular following the first scour occurs.
549815296A1M012068PENGARUH PENAMBAHAN MALTODEKSTRIN DAN SUHU AKHIR PEMASAKAN TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA DAN SENSORI GULA KELAPA SERBUK YANG DIPERKAYA MINYAK SAWIT MERAHGula kelapa serbuk merupakan salah satu bentuk diversifikasi produk olahan nira kelapa. Pada tahap defoaming dapat dilakukan modifikasi dengan cara mengganti minyak sayur dengan minyak sawit merah atau Red Palm Oil (RPO). Penambahan minyak sawit merah selain berpengaruh pada sifat fisik dan kimia, juga akan berpengaruh pada sensori produk terutama off flavor karena adanya bau minyak sawit merah yang kuat. Jenis bahan yang berpotensi meminimalkan off flavor yang ditambahkan adalah maltodekstrin. Selain itu, hal yang dapat mempengaruhi karakteristik fisika, kimia dan sensori gula kelapa serbuk adalah suhu akhir pemasakan atau end point. Penelitian ini bertujuan untuk: Mempelajari pengaruh maltodekstrin dan suhu akhir pemasakan terhadap sifat fisikokimia dan sensoris gula kelapa serbuk Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Faktor yang dicoba yaitu penambahan maltodekstrin yang terdiri dari: 0%, 0.2%, 0.4% dan suhu akhir pemasakan yang terdiri dari: 119oC, 120oC, 121oC, dengan 3 kali ulangan. Parameter yang diuji fisik, kimia dan sensori product. Hasil terbaik didasarkan pada aspek sensori adalah perlakuan tanpa maltodekstrin dengan suhu akhir pemasakan 119oC (M0T1). Produk yang dihasilkan mempunyai spesifikasi: rendemen 29,5%, densitas kamba 0,55 g/ml, warna 27,73, kadar air 3,18%bb, gula reduksi 3,87%bk, gula total 82,12%bk, kadar total lemak 2,41%bk, FFA 0,03%bk. Karakteristik sensori gula kelapa serbuk sebagai berikut : warna cokelat (skor 2,92), aroma harum (skor 3), tekstur halus (skor 2,9), rasa manis (skor 3,14), bau minyak sawit merah agak kuat (skor 1,78), dan disukai panelis (skor 2,960). Selain itu mengandung provitamin A(β-Karoten) sejumlah 389,98/100g dan vitamin E sejumlah 0,4699/100g.Granule coconut sugar is one of diversification of coconut sap processed product. In defoaming step modification can be done by replacing vegetable oil with red palm oil (RPO). Addition red palm oil in granule coconut sugar processing will affect on characteristic of physics, chemical and sensory especially off flavor due to its specific odor. Maltodextrin is potential compound which can added to minimize off flavor. Another factor is end coking temperature (end point) that can affect the characteristic of physics, chemical and sensory granule coconut sugar. The aim of this research to study influence of adding maltodextrin and end cooking temperature on physicochemical and sensory properties of granule coconut sugar. This experimental design which used was Randomized Block Design. The tested factors were adding maltodexstrin consist of 0%, 0.2%, 0.4% and end cooking themperature consist of 119oC, 120oC, 121oC with 3 replications. Parameters which observed were physic, chemical and sensory product. The best treatment based on sensory was the treatment without maltodextrin on end cooking themperatur 119oC (M0T1). Specification of products as follows: rendemen 0.295%, bulk density 0.55 g/ml, colour 27.73, water content of 3.18%wb, reducing sugar of 3.86%db, total sugar of 82.12%db, fat content of 2.41%db, free fatty acid (FFA) content of 0.03%db The sensory characteristic of this sugar were colour brown (scale of 2.92), flavor fragrant (scale of 3), texture smooth (scale of 2.9), taste sweet (scale of 3.14), smell of palm oil smartish (scale of 1.78) and preference panelist of like (scale of 2.906), and also contains provitamin A (β-Carotene) 389.98/100g and vitamin E 0.4699 /100g .
549915297H1A012001VALIDASI METODE ANALISIS KADAR TARTRAZIN DALAM SAMPEL MIE MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VISZat warna tartrazin merupakan salah satu zat warna sintetik yang biasanya digunakan dalam makanan. Salah satu makanan yang menggunakan tartrazin adalah mie. Penggunaan tartrazin dalam mie berfungsi untuk memperbaiki warna pada mie dan membuat lebih menarik. Penelitian ini bertujuan memvalidasi metode analisis kadar tartrazin dalam sampel mie menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dan menentukan kadar tartrazin dalam sampel mie secara spektrofotometri UV-Vis. Sampel diukur serapannya menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 426 nm. Validasi metode dilakukan berdasarkan parameter selektivitas, presisi, akurasi, linearitas, batas deteksi, batas kuantitasi dan rentang metode. Hasil validasi metode analisis yakni dengan selektivitas memberikan hasil panjang gelombang maksimum λmaks yaitu 426 nm; presisi dengan nilai KV 0,40% dan HORAT 0,04; akurasi dengan nilai perolehan kembali (%R) 93,99%; liniearitas (r) 0,99979; batas deteksi 0,29 ppm; batas kuantitasi 0,96 ppm; dan rentang metode 0,96 ppm – 22,12 ppm. Kadar tartrazin yang terkandung dalam sampel mie basah sebesar 16,97 ppm dan sampel mie kering sebesar 4,64 ppm.Tartrazine is one of synthetic dye that normally used in food. One of the food that use the Tartrazine was noodle. The used of tartrazine in noodle was to improve color in noodles and made more catchy. This research aimed to validated the method of analysis levels of tartrazine in noodles using the UV-Vis spectrophotometry and determine levels of tartrazine in noodle samples using UV-Vis spectrophotometry. Absorbance of sample measured by UV-Vis spectrophotometer at a wavelength of 426 nm. Method validation is done based on the parameters of selectivity, linearity, accuracy, precision, limit of detection, limit of quantitation and range method.The results of the validation of analytical methods: with a high selectivity gave a maximum wavelength (λmax) at 426 nm; precision 0.40% KV value and HORAT 0.04; the accuracy value retrieval (%R) 93.99%; linearity (r) 0.99979; the limit of detection is 0.29 ppm; limit of quantitation 0.96 ppm; and 0.96 method ppm range – 22.12 ppm. FD levels contained in a wet noodle samples is 16.97 ppm and dried noodle samples is 4.64 ppm.
550015302C1A012058Valuasi Ekonomi Kawasan Wisata Bukit Sikunir Dieng Desa Sembungan Kecamatan Kejajar Kabupaten WonosoboDalam menjalani kehidupannya baik secara individu maupun berkelompok, masyarakat memiliki kebutuhan berekreasi sebagai penunjang produktivitasnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur nilai ekonomi yang diperoleh pengunjung objek wisata Sikunir Desa Sembungan Kabupaten Wonosobo. Untuk mengukur nilai ekonomi yang diperoleh pengunjung objek wisata Sikunir, penelitian ini menggunakan metode biaya perjalanan individu (Individual Travel Cost Method) yang dioperasionalisasikan menggunakan regresi linier berganda.
Jumlah kunjungan individu sebagai variabel terikat dan 3 (tiga) jenis variabel sebagai variabel bebas yang signifikan yaitu variabel biaya perjalanan ke objek wisata Sikunir, jarak dan pengalaman berkunjung. Nilai ekonomi objek wisata Sikunir yaitu nilai surplus konsumen sebesar Rp 1.252.951,50 per individu per tahun dan Rp 626.475,75 per individu per satu kali kunjungan, sehingga dihitung nilai ekonomi objek wisata Sikunir sebesar Rp 395.932.674.000,00 per tahun (nilai surplus konsumen per individu pertahun dikalikan dengan jumlah pengunjung tahun 2015). Kemampuan untuk membayar pengunjung objek wisata Sikunir untuk satu kali kunjungan adalah sebesar Rp. 171.910,00, masih jauh diatas keinginan untuk membayar yang dilakukan pengujung untuk mengunjungi objek wisata Sikunir.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diajukan saran kaitannya pengembangan objek wisata utamanya adalah pembangunan yang berbasis lingkungan dengan tetap menjaga keasrian dan keindahan alam bukit Sikunir. Hal tersebut guna untuk meningkatkan kualitas objek wisata Sikunir memiliki kualitas tinggi (high class).
In live their lives both individually and collectively, people have a need of recreation as supporting productivity. The purpose of this study was to measure the economic value obtained visitor attractions Sikunir Sembungan village of Wonosobo. To measure the economic value obtained visitor attractions Sikunir, this study uses individual travel cost method (Individual Travel Cost Method) were operationalized using multiple linear regression.
The number of individual visits as the dependent variable and three (3) types of variables as independent variables a significant variable cost of travel to attractions Sikunir, distance and the experience of visiting. The economic value of attraction Sikunir value of consumer surplus of Rp 1,252,951.50 per individual per year and Rp 626,475.75 per individual per one visit, so that calculated the economic value of attraction Sikunir Rp 395,932,674,000.00 per year (consumer surplus value per individual per year multiplied by the number of visitors in 2015). The ability to pay for visitor attractions Sikunir for one visit is Rp. 171,910.00. still well above the desire to pay that do end to visit attractions Sikunir.
Based on the research that has been done, can be submitted suggestions relation to tourism development is primarily based development environment while maintaining the beauty and natural beauty Sikunir hill. This is in order to improve the quality of attractions Sikunir have high quality.