Home
Login.
Artikelilmiahs
15295
Update
PRADIPTA DWI APRILIA
NIM
Judul Artikel
PERMODELAN HIDRAULIK FISIK GERUSAN DI BAHU JALAN DENGAN VARIASI KEMIRINGAN MELINTANG BADAN JALAN SESUAI DENGAN SYARAT ALINEMEN HORIZONTAL (Studi Kasus : Ruas Jalan Raya Purwokerto-Bumiayu, Jawa Tengah)
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Bahu jalan merupakan salah satu bagian penting dari struktur jalan. Salah satu masalah yang sering dijumpai pada bahu jalan yang terbuat dari tanah asli adalah gerusan lokal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kedalaman, lebar dan panjang gerusan serta pola gerusan di bahu jalan pada ruas jalan Purwokerto-Bumiayu dengan variasi kemiringan melintang badan jalan sesuai syarat alinemen horizontal, dan untuk mengetahui hubungan kemiringan melintang badan jalan dengan gerusan yang terjadi. Penelitian dilaksanakan di laboratorium dengan menggunakan model hidraulik fisik yang dibuat sesuai dengan dimensi pada prototip dengan menggunakan skala geometrik 1:2 dan skala kinematik 1:2. Perilaku gerusan yang diamati terfokus pada 4 variasi kemiringan melintang badan jalan, yaitu 0,54%, 2%, 6% dan 10%. Pengujian dilakukan menggunakan alat simulasi hujan dengan intensitas hujan bervariasi pada model, yaitu 10 mm/jam, 12 mm/jam, 15 mm/jam dan 25 mm/jam. Penelitian dilakukan terhadap 2 sampel material bahu jalan yang diambil pada 2 titik yang berbeda pada ruas jalan Purwokerto-Bumiayu. Sampel 1 adalah jenis tanah lempung, sedangkan sampel 2 adalah pasir. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan kedalaman, lebar dan panjang gerusan yang disajikan secara berurutan untuk intensitas hujan 10 mm/jam, 12 mm/jam, 15 mm/jam dan 25 mm/jam. Kedalaman gerusan maksimum berdasarkan permodelan di laboratorium untuk sampel 1 berturut-turut adalah sebesar 1 cm, 0,8 cm, 1 cm dan 1,1 cm skala model. Sedangkan kedalaman gerusan maksimum pada sampel 2 yaitu 1 cm, 1,1 cm, 1,1 cm, 1,2 cm skala model. Lebar gerusan maksimum pada sampel 1 berturut-turut adalah sebesar 4,6 cm, 3,7 cm, 8,2 cm dan 15,4 cm skala model. Sedangkan lebar gerusan maksimum pada sampel 2 yaitu 5,9 cm, 11,2 cm, 10,8 cm dan 15,2 cm skala model. Panjang gerusan maksimum pada sampel 1 secara berurutan yaitu 55,4 cm, 60,1 cm, 63,2 cm dan 65,1 cm skala model. Sedangkan panjang gerusan maksimum pada sampel 2 yaitu 62,3 cm, 65,2 cm, 66,5 cm dan 67,6 cm skala model. Semakin besar kemiringan melintang badan jalan maka semakin besar pula kedalaman dan panjang gerusan yang terjadi, namun lebar gerusan yang terjadi semakin kecil. Faktor yang menjadi penyebab terjadinya gerusan di bahu jalan ruas jalan raya Purwokerto-Bumiayu antara lain kemiringan melintang badan jalan (S), intensitas hujan (I), diameter butiran (d50), rapat massa material bahu jalan (s) dan kekentalan kinematik air (). Hasil pengujian juga menunjukkan bahwa pola gerusan pada sampel 1 terjadi tidak beraturan dan cenderung menyebar ke semua bagian bahu jalan. Sedangkan pada sampel 2 pola gerusan yang terjadi membentuk suatu alur sebagai jalan air dan tampak lebih beraturan yang mengikuti gerusan yang pertama kali terjadi.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Shoulder of the road is one of the important part of the road structure. One of the problems frequently occured on the road shoulder that made from soil is scouring. The purpose of the experiment is to determine the depth, width and length of the scour and scour pattern of the road shoulder Purwokerto-Bumiayu roadway with the transverse slope variations of the road according to the terms of horizontal alignment, and to determine the relation of the transverse slope of the road with the scour. The experiment was held in the laboratory using a physical hydraulic model that was made similar with the dimensions of the prototypes using geometric scale of 1:2 and kinematic scale of 1:2. The scouring focused on four variations slope of the road, i.e 0.54%, 2%, 6% and 10%. The experiment is using rainfall simulator with the variations of rainfall intensity on the model, which are 10 mm/h, 12 mm/h, 15 mm/h and 25 mm/h. Both of the samples of the experiment were taken from the road shoulder on the road section of Purwokerto-Bumiayu. Sample 1 is a type of clay, while sample 2 is sand. Based on the research, results of the depth, width and length of the scour presented sequentially for rainfall intensity of 10 mm/h, 12 mm/h, 15 mm/h and 25 mm/h. The maximum scour depth of sample 1 simulations are 1 cm, 0,8 cm, 1 cm and 1,1 cm respectively in scale models. While the maximum scour depth of sample 2 simulations are 1 cm, 1,1 cm, 1,1 cm, 1,2 cm respectively in scale models. The maximum scour width of sample 1 simulations are 4,6 cm, 3,7 cm, 8,2 cm and 15,4 cm respectively in scale models. While the maximum scour width of the sample 2 simulations are 5,9 cm, 11,2 cm, 10,8 cm and 15,2 cm respectively in scale models. The maximum scour length of sample 1 simulations are 55,4 cm, 60,1 cm, 63,2 cm and 65,1 cm respectively in scale models. While the maximum scour length of sample 2 simulations are 62,3 cm, 65,2 cm, 66,5 cm and 67,6 cm in scale models. The larger the transverse slope of the road, the greater the depth and length scour happens, but the smaller width scouring. The factors that cause the scouring at the roadway of Purwokerto-Bumiayu i.e transverse slope of the road (S), the rainfall intensity (I), grain diameter (d50), the shoulder material mass density (s) and the kinematic viscosity of water (). The experiment results also show that the scour pattern of sample 1 occurs irregularly and tends to spread to all parts of the road shoulder. While on the sample 2, scour pattern that occurs to form a space as the water and seemed more regular following the first scour occurs.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save