Artikelilmiahs

Menampilkan 5.541-5.560 dari 48.836 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
554115150A1C010084ANALISIS KONTRIBUSI PENDAPATAN USAHA PEMANFAATAN LAHAN PEKARANGAN TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA MASYARAKAT DESA SAMBIRATA KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMASKemiskinan merupakan keadaan lemahnya dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi, solusi pemenuhan kebutuhan pada tingkat keluarga dan masyarakat yaitu adanya upaya pemanfaatan lahan pekarangan, untuk pemenuhan kebutuhan pangan, gizi, dan peningkatan pendapatan dengan tujuan akhir dapat meningkatkan kesejahteran keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi macam-macam komoditas yang diusahakan di pekarangan, mengetahui besarnya pendapatan yang diperoleh dari usaha pemanfaatan lahan pekarangan, dan mengetahui kontribusi pendaptan dari hasil usaha pemanfaatan lahan pekarangan. Metode penelitian yang digunakan adalah survey. Pengambilan data dilakukan sejak 24 Agustus sampai 24 September 2015, dengan sasaran penelitian adalah masyarakat Desa Sambirata Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas. Penentuan responden dilakukan dengan metode SRS (Simple Random Sampling) dan mendapatkan sampel sejumlah 30 rumah tangga. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif, biaya, penerimaan, pendapatan, dan income share. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan usaha pemanfaatan lahan pekarangan di Desa Sambirata masih belum optimal baik dari segi pengelolaan dan hasil yang didapatkan. Pemanfaatan lahan masih terbilang konvensional dengan tidak adanya pola tanam yang tetap, serta hanya menjadi kegiatan sampingan dalam keluarga yang hasilnya tidak diperhitungkan. dilihat dari keadaan monografi, Desa Sambirata mempunyai pontensi yang besar untuk budidaya berbagai jenis komoditas di pekarangannya. Terdapat beragam jenis dan komoditas yang diusahakan antara lain jenis tanaman sayur, buah, tahunan, dan TOGA. Jenis ternak yaitu sapi, kambing dan ayam, serta ikan. Rata-rata pendapatan yang diperoleh dari kegiatan usahatani pemanfaatan lahan pekarangan yaitu sebesar Rp76.537,00. Terdiri dari pendapatan budidaya tanaman yaitu Rp59.967,00 budidaya ternak yaitu Rp42.010,00 dan budidaya ikan yaitu sebesar -Rp25.440,00 per bulan. Nilai kontribusi pendapatan diperoleh 3,6 persen, artinya kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan terhadap pendapatan rumah tangga nilai kontribusi yang diberikan kecil dan hanya sebagai kegiatan sampingan keluarga.Poverty is a State of weakness in the economy, needs fulfillment, fulfillment solutions at the level of families and communities, namely the existence of a land use yards, attempts to fulfill the needs of food, nutrition, and increased revenue with the end goal can improve the wellbeing of the family. This research aims to know and identify the various commodities grown in yards, knowing the magnitude of the revenues generated from land use lawns, and knowing the contributions of business results income land use lawns. The research method used was a survey. Data retrieval done since 24 August until September 24 2015, with the goal of the research was the villagers Sambirata Banyumas Regency Cilongok District. The respondent's determination is done by the method of SRS (Simple Random Sampling) and get a sample of a number of 30 households Methods of analysis used i.e. descriptive analysis, costs, revenues, earnings, and income share. The results showed that the utilization of business activities by the yard in the village of Sambirata still not optimal both in terms of the management and the results obtained. Utilization by still relatively conventional in the absence of a fixed cropping period patterns, as well as just being a sideline activities in the family that the results are not taken into account. Judging from the State of the monograph, the village of Sambirata has potentials to a great area with various kinds of commodities at lawns. There are various types of commodities sought among other types of vegetable crops fruit annual, and TOGA. Livestock type i.e. cows, goats and chickens, as well as fish. The average revenue generated from activities of farming land use lawns i.e. Rp76.537,00. Revenue consists of cultivation i.e. Rp59.967,00, livestock cultivation i.e. Rp42.010,00 and fish farming i.e. amounting to -Rp25.440,00 per month. The value of the contribution revenue obtained 3.6 percent, acting especially by the yard against the household for the value of the contribution provided small and just as family sideline activities.
554215351C1A012096Analisis dan Perbedaan Kinerja Keuangan Bank Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri tahun 2003-2014Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kuantitatif pada rasio keuangan Bank Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri. Penelitian ini mengambil judul “Analisis dan Perbedaan Kinerja Keuangan Bank Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri tahun 2003-2014”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis perbandingan kinerja keuangan Bank Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri dilihat dari rasio keuangannya, serta menganalisis tren nilai rasio keuangan kedua bank tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis dengan menggunakan teknik independent sample t-test menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan secara signifikan pada kinerja keuangan Bank Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri yang meliputi rasio FDR, ROA, ROE, BOPO, CAR, dan NPF. Selain itu jika dilihat dari rata-rata nilai rasio kedua bank selama 12 tahun, Bank Syariah Mandiri meunjukkan kinerja keuangan yang lebih baik daripada Bank Muamalat Indonesia. Selanjutnya, berdasarkan hasil penelitian dan analisis dengan menggunakan tren dengan metode kuadrat terkecil menunjukkan bahwa tren rasio keuangan Bank Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri selama 12 tahun cenderung fluktuatif.
Implikasi dari kesimpulan diatas yaitu bank-bank di Indonesia perlu untuk melakukan penilaian pada kinerja keuangannya untuk mengevaluasi kinerjanya pada periode sebelumnya, dengan begitu kekurangan-kekurangan pada periode sebelumnya dapat diperbaiki. Disamping itu, untuk meningkatkan kualitas kinerjanya, bank harus mampu mengelola seluruh modal dan aset yang dimilikinya sehingga bank mampu melakukan kegiatan operasionalnya, terutama yang mengandung risiko. Tidak hanya dari sisi perusahaan perbankan, nasabah juga dituntut untuk lebih cermat dalam mengevaluasi, memilih dan menentukan bank yang dapat dipercayai sebagai mitra usaha sebelum melakukan investasi.
This research is a quantitative approach on financial ratios of Bank Muamalat Indonesia and Bank Syariah Mandiri. This study entitled "Analysis and Difference Financial Performance of Bank Muamalat Indonesia and Bank Syariah Mandiri years 2003-2014". The purpose of this study was to determine and analyze the comparative performance of Bank Muamalat Indonesia and Bank Syariah Mandiri views of financial ratios, and analyze the trend value of financial ratios of the two banks.
Based on the results of research and analysis by using a technique independent sample t-test showed that there is no significant difference in the performance of Bank Muamalat Indonesia and Bank Syariah Mandiri covering FDR ratio, ROA, ROE, ROA, CAR, and NPF. In addition, when viewed from the average value of the ratio of the two banks for 12 years, Bank Syariah Mandiri conveniently indicates better financial performance than the Bank Muamalat Indonesia. Furthermore, based on the results of research and trend analysis using the least squares method shows that the trend of financial ratios of Bank Muamalat Indonesia and Bank Syariah Mandiri for 12 years tends to fluctuate.
The implications of the above conclusion that banks in Indonesia need to make an assessment on the financial performance to evaluate its performance in the previous period, so the deficiencies in the previous period can be improved. In addition, to improve the quality of its performance, the bank should be able to manage the entire capital and its assets so that the bank is able to conduct its operations, particularly those that contain risks. Not only in terms of banking companies, customers are also required to be more careful in evaluating, selecting and determining a bank that can be trusted as a business partner before investing.
554315321D1E012341KECERNAAN BAHAN KERING DAN BAHAN ORGANIK PAKAN SAPI BALI YANG DISUPLEMENTASI DENGAN TEPUNG DAUN WARUPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung daun waru (Hibiscus tiliaceus) dalam ransum sapi Bali terhadap kecernaan bahan kering (KBK) dan bahan organik (KBO) secara in vivo. Penelitian menggunakan 18 ekor sapi bali jantan berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) umur 2 tahun dengan bobot badan awal rata-rata 287,56+35,82kg (KK:12,46%). Penelitian ini menggunakan pola faktorial 3x2 yang dirancang sesuai dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktor pertama adalah level tepung daun waru yaitu 0% (W1), 0.24% (W2), dan 0.48% (W3). Faktor kedua adalah imbangan jerami padi dan konsentrat yaitu 40:60 (I1) dan 35:65 (I2). Dengan demikian, pola faktorial 3x2 menghasilkan kombinasi I1W1, I1W2, I1W3, I2W1, I2W2, dan I2W3 sebagai perlakuan. Sebagai kelompok perlakuan adalah bobot badan awal yaitu 247.33±21.66kg, 293.5±15.64kg, dan 321.83±15.99kg masing-masing untuk kelompok I, II, dan III. Peubah yang diukur adalah KBK dan KBO. Data dianalisis menggunakan analisis variansi.The research aimed to determine the effect of supplementing Hibiscus leaf meal (Hibiscus tiliaceus) in bali cattle rations on the digestibility of dry matter (DMD) and organic matter (OMD) by in vivo. It used 18 male bali cattle from East Nusa Tenggara aged year old whose average initial body weight were 287.56kg±35.82kg (KK: 12.46%). This research used a 3x2 factorial design which was arranged in a Randomized Block Design (RBD). While the first factor was the levels of hibiscus leaf meal consisting of 0% (W1), 0.24% (W2), and 0.48% (W3), the second factor was the ratios of DM of straw to concentrate which were 40:60 (I1) and 35:65 (I2). Therefore, this 3x2 factorial experiment formed the combination I1W1, I1W2, I1W3, I2W1, I2W2, and I2W3 as the treatments. The block was the initial body weight which were 247.33±21.66kg, 292.83±14.81kg and 322.50±15.32kg for group I, II, and III, respectively. The measured variabel were DMD and OMD. The data which was analysed by an analysis of variance.
554415305A1M012075KAJI TINDAK PELAKSANAAN GMP DAN SSOP PRODUK DODOL SIRSAK: STUDI KASUS PADA IKM DODOL SIRSAK SUPER IBU NUR
DI AJIBARANG
Jaminan mutu dan keamanan dalam pangan merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan preferensi masyarakat terhadap produk. Industri Kecil Menengah (IKM) Dodol Sirsak Super Ibu Nur berkeinginan untuk menciptakan produk dodol sirsak yang bermutu dan aman dipasarkan sesuai dengan tuntutan konsumen. Syarat mendasar dalam penjaminan mutu yaitu telah dilaksanakannya Good Manufacturing Practices (GMP) dan Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP). Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui pengaruh sosialisasi dan pendampingan terhadap tingkat pelaksanaan GMP di IKM Dodol Sirsak Super Ibu Nur, 2) Mengetahui pengaruh sosialisasi dan pendampingan terhadap tingkat pelaksanaan SSOP di IKM Dodol Sirsak Super Ibu Nur, 3) Mengetahui pengaruh sosialisasi dan pendampingan terhadap karakteristik mutu dodol sirsak IKM Dodol Sirsak Super Ibu Nur berdasarkan SNI 01-4297-1996. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kaji tindak. Penelitian diawali dengan melakukan evaluasi kondisi awal di IKM Dodol Sirsak Super Ibu Nur dengan metode (Focus Group Discussion) FGD yang melibatkan seluruh karyawan IKM. Kegiatan sosialisasi dan pendampingan dilakukan dengan pemasangan spanduk budaya mutu, pemasangan spanduk SNI dodol sirsak, sosialisasi GMP dan SSOP oleh pakar/ahli, sosialisasi SNI oleh pakar/ahli, perancangan dokumen GMP dan SSOP, perancangan dokumen rencana HACCP dan dokumen sistem penjaminan mutu, pendampingan pelaksanaan GMP dan SSOP serta pendampingan untuk memperoleh sertifikat SNI. Evaluasi kondisi akhir dilakukan setelah kegiatan sosialiasi dan pendampingan selama 6 bulan dengan metode FGD yang melibatkan seluruh karyawan IKM dan dilakukan pengujian sampel untuk mengetahui perbandingan karakteristik mutu dodol sirsak. Hasil penelitian menunjukkan kegiatan sosialisasi dan pendampingan meningkatkan tingkat pelaksanaan GMP yaitu lokasi dan lingkungan, bangunan dan fasilitas, perawatan, kebersihan dan sanitasi, personil dan kamar kecil. Selain itu, hasil sosialisasi dan pendampingan meningkatkan tingkat pelaksanaan SSOP yaitu sanitasi ruang pengolahan dan higiene karyawan. Sosialisasi dan pendampingan GMP dan SSOP di IKM Dodol Sirsak Super Ibu Nur memperbaiki karakteristik mutu dodol sirsak dan menekan kontaminasi mikroba dan cemaran logam pada dodol sirsak.Quality assurance and safety in food is one of the factors that can enhance the community's preferences towards products. Industri kecil menengah (IKM) of Dodol Sirsak Super Ibu Nur wished to create a soursop dodol product which had a good quality and safely marketed in accordance with the demands of the consumers. A fundamental requirement in quality assurance are Good Manufacturing Practices(GMP) and Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP) has to be done . This research aims: 1) To find out the influence of socialization and accompaniment towards the level of implementation of GMP in IKM Dodol Sirsak Super Ibu Nur. 2) To know the influence of socialization and accompaniment towards the level of implementation of the SSOP at IKM Dodol Sirsak Super Ibu Nur. 3) To know how the socialization and accompaniment influence the quality characteristics of soursop dodol IKM Dodol Sirsak Super Ibu Nur based on SNI 01-4297-1996. This Research conducted by the method of action research. The research starts with doing the evaluation of the initial conditions at IKM Dodol Sirsak Super Ibu Nur with Focus Group Discussion (FGD) method which involves all employees of IKM. Socialization activities and accompaniment are done with the installation of quality practice banner, the installation of the SNI of soursop dodol’s banner, SSOP and GMP socialization by experts, SNI socialization by experts, designing GMP and SSOP document, designing HACCP plan document and quality assurance systems document, accompaniment of GMP and SSOP implementation and accompaniment in order to obtain a certificate of SNI. The final condition evaluation is done after socializing and accompaniment activities for 6 months with FGD method which involves all employees IKM and testing samples is conducted to know the comparison of quality characteristics of soursop dodol. The research results showed the activities of socialization and accompaniment can increase the level of GMP implementation with the results; location and buildings, buildings and facilities, treatments, cleanliness and sanitation, personnel and the toilet. The other results are activities of socialization and accompaniment can also increase the level of SSOP implementation which is the sanitary of the processing room and the hygiene of employees. The activities of socialization and accompaniment can decrease microbial and metal contamination on soursop dodol in IKM Dodol Sirsak Super Ibu Nur based on SNI 01-4297-1996.
554515353A1C010050FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT PEMUDA TERHADAP PEKERJAAN DI SEKTOR PERTANIAN DI DESA GOMBONG KECAMATAN BELIK KABUPATEN PEMALANGABSTRAK
Minat merupakan kecenderungan yang mengarahkan manusia terhadap bidang yang ia sukai dan tekuni tanpa adanya keterpaksaan dari siapapun.Minat pula yang mengarahkan manusia untuk berprestasi dalam berbagai hal atau bidang yang ia sukai dan tekuni. Mengetahui minat pemuda terhadap perkerjaan pertanian menjadi sesuatu yang penting demi peningkatan pembangunan nasional yang notabene adalah negara agraris. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis minat pemuda terhadap pekerjaan sektor pertanian di Desa Gombong, 2) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi minat pemuda terhadap pekerjaan sektor pertanian di Desa Gombong. Penelitian ini dilakukan di Desa Gombong Kecamatan Belik Kabupaten Pemalang. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive). Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus hingga September 2015 dengan objek penelitian pemuda berumur 16 hingga 30 tahun. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode Stratified Random Sampling. Analisis yang digunakan yaitu analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Minat pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian secara keseluruhan adalah sedang 2) Faktor yang mempengaruhi minat pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian adalah pendapatan, peran orang tua, dan kesempatan bekerja, sedangkan umur, pendidikan, kepemilikan lahan, pengalaman bekerja, kontak media, dan tanggungan keluarga tidak berpengaruh terhadap minat pemuda terhadap pekerjaan pertanian di Desa Gombong. Saran yang dapat diajukan yaitu 1) Upaya peningkatan minat pemuda melalui kajian secara rutin dalam wadah kelompok tani ataupun organisasi pemuda tentang segala hal yang menyangkut pertanian 2) Perlu adanya kajian lanjutan mengenai pengaruh organisasi atau kelompok terhadap minat pemuda bekerja di sektor pertanian.
ABSTRACT
Interest is the tendency that leads people to the field that he likes and elaborated without the necessity of anyone. Interest also directing people to excel in a variety of things or field that he likes and commitment.Knowing the interest of the youth towards agriculture jobs to be important for the improvement of national development which incidentally is an agricultural country. This study aims to 1) analyze the interest of the youth to work in the agricultural sector Gombong Village, 2) determine the factors that affect the interest of the youth to work in the agricultural sector of Gombong Village. Research method that use is case study. This research was conducted in the village of the District Gombong Belik Pemalang. The choice of location research done intentionally (purposive). This research was conducted from August to September 2015 with the object of study of youth aged 16 to 30 years residing in the village Deal. The sampling method used is Stratified Random Sampling method. The analysis used is multiple linear regression analysis. The results of this study indicate that 1) the interest of youth to work in the agricultural sector as a whole is currently 2) Factors affecting the interest of the youth to work in the agricultural sector is income, the role of parents, and employment opportunities, while age, education, tenure, experience work, media contacts, and dependents do not affect the interest of the youth to farm work in the Gombong Village. Suggestions can be submitted: 1) Efforts to increase the interest of youth through regular assessment in farmer groups or youth organizations on all matters relating to agriculture 2) Need for further studies on the effect of the interest of the organization or group of youth working in agriculture.
554615355C1A012110ANALISIS SUB SEKTOR POTENSIAL INDUSTRI PENGOLAHAN DI KAUPATEN BANYUMAS TAHUN 2010-2014Penelitian yang berjudul “Analisis Sub Sektor Industri Pengolahan di Kabupaten Banyumas Tahun 2010-2014”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sub sektor industri pengolahan yang termasuk ke dalam sektor basis di Kabupaten Banyumas, untuk menganalisis sub sektor industri pengolahan yang memiliki potensi untuk dapat dijadikan sub sektor dominan di Kabupaten Banyumas dari tahun 2010-2014 dan mendeskripsikan sub sektor industri pengolahan yang dominan berdasarkan kriteria pertumbuhan dan kriteria kontribusi di Kabupaten Banyumas dari tahun 2010-2014.
Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Location Quotient (LQ), Model Rasio Pertumbuhan (MRP), dan Overlay. Untuk melakukan pengolaha data, dalam penelitian ini digunakan Software Microsoft Excel 2013.
Berdasarkan hasil analisis Location Quotient (LQ) dari tahun 2010 sampai tahun 2014 yang teridentifikasi sebagai sub-sektor basis adalah adalah industri makanan dan minuman; industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki; industri kayu, barang dari kayu dan gabus dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya; industri barang galian bukan logam; industri kimia, farmasi dan obat tradisional. Sub sektor yang memiliki potensi untuk dapat dijadikan sub sektor dominan di Kabupaten Banyumas tahun 2010 sampai 2014 berdasarkan hasil analisis Overlay adalah industri makanan dan minuman; dan industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki.
The research entitled “Analysis of The Potential Sub-Sector of Processing Industries in Banyumas Year 2010-2014”is aimed at anlyzing the sub-sector processing industries that are included into the basic sectors, to analyze sub-sectors have a potential to be dominant sectors in Banyumas year 2010-2014 and to describe sub-sectors processing industries that are dominant based on growth criteria and contribution criteria in Banyumas from the year 2010-2014.
The analytical methods that have been used for this research are the Location Quotient (LQ), the Growth Ratio Model (GRM) analysis, and the Overlay analysis.
Based on the analysis of LQ from 2010 till 2014 that indentified as basis sub-sectors are food and beverage industry; leather, leather goods and footwear industry; timber industry, wood products and cork and wickerwork of bamboo, rattan and the like; nonmetallic mineral products industry; chemical, pharmaceutical and traditional medicine industry. Sub-sectors that have the potential to be used as the dominant sub-sector in Banyumas in 2010 to 2014 based on the analysis Overlay is the food and beverage industry; and leather, leather goods and footwear industry.
As an implication, Banyumas government need to establish cooperation with the private sector in developing potential resources, especially food and beverage industry; and leather, leather goods and footwear to increase production competitiveness in order to contribute to economic growth in Banyumas.
554715354D1E011173PENGARUH SUPLEMENTASI FITOBIOTIK DALAM PAKAN TERHADAP TOTAL PROTEIN PLASMA DAN ALBUMIN DARAH ITIK ENTOKABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi suplementasi fitobiotik dalam pakan terhadap total protein plasma dan albumin darah itik dan entok. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dua ratus ekor Day Old Duck (DOD) yang terdiri atas seratus ekor DOD itik lokal dan seratus ekor DOD entok. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang didesain dengan Rancangan Acak Lengkap Pola Faktorial. Faktor pertamanya adalah bangsa itik yaitu B1= itik lokal (Anas plathyrhynchos) dan B2= entok (Cairina moschata). Faktor keduanya adalah suplementasi fitobiotik yaitu: P0= pakan basal; P1= pakan basal + penambahan bawang putih 3%; P2= pakan basal + penambahan kunyit 3%; P3= pakan basal + penambahan jahe 3%; P4= pakan basal + penambahan kencur 3%. Pengukuran total protein plasma menggunakan alat refractometer sedangkan untuk albumin darah menggunakan Reagen: kit reagen DiaSys (Jerman). Data dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan kadar total protein plasma itik dan entok berkisar antara 2,75 g/dl sampai dengan 4,85 g/dl dan rataan kadar albumin darah itik dan entok 6,248 mg/dl sampai dengan 8,665 mg/dl. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa interaksi antara bangsa dengan suplementasi fibiotik berpengaruh tidak nyata (P>0.05) terhadap total protein plasma dan albumin darah itik, namun suplementasi fitobiotik berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap total protein plasma tetapi tidak mempengarui albumin darah itik dan entok. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa interaksi antara bangsa itik dan suplementasi fitobiotik pada pakan tidak menyebabkan perbedaan kadar total protein plasma dan albumin darah itik dan entok, dan suplementasi fitobiotik tersebut tidak menyebabkan perbedaan kadar albumin darah itik maupun entok.
ABSTRACT
This study aims at determining the effects of the interaction of phytobiotics supplementation in the native and muscovy ducks’ feed on their total plasma protein and albumin blood. The research materials were two hundred one-Day Old Ducks (DOD) consisting one hundred native ducks and one hundred muscovy ducks. By using an experimental method, this research was designed within Completely Randomized Factorial Design. The first factor was the duck breed consisting of B1= local duck (Anas plathyrhynchos) and B2= Muscovy ducks (Cairina moschata), and the second factor was the phytobiotics supplementation consisting of P0= basal feed; P1= basal feed + garlic 3%; P2= basal feed + turmeric 3%; P3= basal feed + ginger 3%; P4= feed basal + Kaempferia galanga L 3%. The total plasma proteins was measured by using a refractometer, while the blood albumin was by reagents: DiaSys Reagents (Germany). Data were analyzed by using an analysis of variance and continued with honestly significant difference test. The results showed that the average levels of total plasma protein of native and Muscovy ducks ranged from 2.75 g/dl up to 4.85 g/dl and the mean levels of albumin blood were 6.248 mg/dl up to 8.665 mg /dl. The results of tha analysis of variance showed that the interaction between breed and phytobiotics supplementation in the ducks’ feed insignificantly affected (P> 0.05) the total plasma protein and albumin blood of both ducks, while feeding the ducks with the supplementation significantly affected (P<0.05) their total plasma proteins but not their albumin blood. This study concludes that the interaction between the breed of ducks and the phytobiotics supplementation does not make any differences in the levels of the ducks’ total plasma protein and albumin blood, while the phytobiotics supplementation does not make any differences in the albumin levels of both ducks.
554815356D1F012008ANALISIS SALURAN PEMASARAN DAN PROFIT MARGIN USAHA PETERNAKAN SAPI POTONG DI KABUPATEN KEBUMEN
(Analysis Of Marketing Channels And Profit Margin of Beef Cattle Business In Kebumen)
ABSTRAK
Penelitian yang dilaksanakan di Kabupaten Kebumen pada bulan Maret hingga Mei tahun 2016 ini bertujuan untuk mengetahui keragaan saluran pemasaran dan tingkat efisiensi pemasaran usaha sapi potong di Kabupaten Kebumen serta mengetahui profit margin pada masing-masing lembaga pemasarannya. Metode penelitian menggunakan metode survei dengan kuisioner dan wawancara untuk memperoleh data primer. Data sekunder diperoleh dari laporan ilmiah, catatan atau dokumen dari instansi terkait dan literatur. Penetapan wilayah ditentukan dengan cara purposive sampling pada dua pasar hewan yang terdapat di Kabupaten tersebut. Sampel untuk pedagang ditentukan dengan menggunakan teknik snowballs sampling sedangkan untuk saluran pemasaran dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua saluran pemasaran ternak sapi potong, yaitu saluran pemasaran I (Peternak→ Pedagang Pengumpul→ Pejagal) dan saluran pemasaran II (Peternak→ Pedagang Pengumpul→ Pedagang Besar→ Pejagal), yang kesemuanya menguntungkan dan efisien. Margin pemasaran dari peternak sampai pedagang pejagal adalah Rp 310.875,00. Saluran pemasaran yang paling efisien ditunjukan oleh saluran pemasaran I. Pedagang pengumpul memiliki kemampuan menghasilkan laba lebih baik berdasarkan persentase profit margin yaitu sebesar 0,66% dibandingkan dengan pedagang besar yang memiliki persentase profit margin lebih kecil yaitu sebesar 0,57%.
ABSTRACT
The study which had been conducted at Kebumen from March to May 2016 aimed to investigate the performance of marketing channels and efficiencies of beef cattle business and to determine the profit margin of its marketing agencies. To obtain primary data, this research used a survey method with questionnaires and interviews while secondary data was obtained from scientific reports, records or documents from the relevant agencies and literature. The research area was determined by purposive sampling at the two animal markets in Kebumen. The sample of traders was determined by using snowballs sampling techniques. The marketing channels were analyzed by using a descriptive analysis. The results showed there are two marketing channels, i.e. channel I (farmers→ collector traders→ beef butchers) channels II (farmers→ collector traders→ big traders→ beef butchers), all of which are profitable and efficient. The marketing margin from the farmers to the butcher is Rp 310,875.00. The most efficient channel was indicated by channel I. the collector treaders have the ability to generate a better profit based on the percentage of profit margin that is 0.66 % compared to the big traders having the smaller one which is 0.57%.
554915340C1A012044Analisis Daya Saing Biji Kakao Indonesia, Pantai Gading dan Ghana di Pasar InternasionalPenelitian ini dilakukan untuk menganalisis daya saing komoditas biji kakao Indonesia, Pantai Gading dan Ghana di Pasar Internasional. Hasil analisis menunjukan Indonesia memiliki comparative disadvantage terhadap Pantai Gading dan Ghana, Pantai Gading memiliki comparative advantage terhadap Ghana dan Indonesia serta Ghana juga memiliki comparative advantage terhadap Indonesia dan Pantai Gading.
Selanjutnya hasil analisis keunggulan kompetitif ketiga negara memiliki nilai Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) positif, yaitu Indonesia dengan rata-rata nilai sebesar 0,79 berada di tahap pertumbuhan, sedangkan Pantai Gading dan Ghana memiliki nilai rata-rata 1 atau berada di tahap kematangan. Nilai ISP tersebut menunjukkan bahwa komoditas biji kakao Indonesia, Pantai Gading dan Ghana memiliki keunggulan kompetitif di pasar internasional atau ketiganya cenderung sebagai negara pengekspor. Sedangkan trend ekspor Pantai Gading dan Ghana terhadap Indonesia didominasi oleh Pantai Gading, trend ekspor Indonesia dan Ghana terhadap Pantai Gading didominasi oleh Ghana, dan trend ekspor Indonesia dan Pantai Gading terhadap Ghana didominasi oleh Pantai Gading.
This research have a purpose to analyze competitiveness commodities cocoa beans Indonesia, Ivory Coast and Ghana in the international market. The result of analysis shows that Indonesia has a comparative disadvantage toward Ivory Coast and Ghana, Ivory Coast has a comparative advantage toward Ghana and Indonesia, and Ghana has a comparative advantage toward Indonesia and Ivory Coast.
Competiive advantage analysis shows that those three countries have a positive value of ISP, Indonesia with an average value of 0,79 in the growing stage, whereas Ghana and Ivory Coast have an average value of 1 and put them into maturity stage. That ISP value indicates cocoa beans of Indonesia, Ivory Coast and Ghana have a competitive advantage in international trade, besides of those three countries are trend to be an exporter of cocoa beans. However exporting trend of Ivory Coast and Ghana toward Indonesia is dominated by Ivory Coast, exporting trend of Indonesia and Ghana toward Ivory Coast is dominated by Ghana, and exporting trend of Indonesia and Ivory Coast toward Ghana is dominated by Ivory Coast.
555015357G1F012015IDENTIFIKASI FITOKIMIA FRAKSI ETIL ASETAT EKSTRAK ETANOLIK DAUN JARAK PAGAR
(Jatropha curcas Linn.)
Jarak pagar dikenal oleh masyarakat untuk berbagai keperluan pengobatan. Fraksi etil asetat dari daun jarak pagar (Jatropha curcas) telah terbukti memiliki aktivitas farmakologi sebagai antiinflamasi. Daun jarak pagar mengandung senyawa fitokimia, seperti flavonoid, saponin, tanin, triterpenoid, dan steroid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kelompok senyawa yang terkandung dalam fraksi etil asetat daun jarak pagar.
Ekstrak jarak pagar diperoleh melalui proses maserasi menggunakan etanol 96% selama 3x24 jam. Ekstrak yang diperoleh difraksinasi dengan metode ekstraksi padat-cair menggunakan pelarut n-heksan, kloroform, dan etil asetat. Fraksi etil asetat diidentifikasi golongan senyawanya menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Selanjutnya, komponen senyawa dalam fraksi etil asetat diisolasi dengan metode kromatografi kolom.
Hasil KLT menunjukan bahwa fraksi etil asetat mengandung senyawa golongan flavonoid dan terpenoid. Eluen kloroform-etil asetat 9:1 (v/v) menunjukkan adanya spot berwarna ungu di bawar sinar tampak (hRf 85) mengindikasikan adanya senyawa golongan terpenoid dan adanya spot berwarna kuning di bawah sinar UV366 (hRf 20; 30; 50; 65) mengindikasikan senyawa golongan flavonoid. Pada pemeriksaan spektroskopi inframerah menunjukan adanya gugus O-H, C-H, C=O, C=C, C-O, N=C=O, dan C-N yang mengindikasikan adanya senyawa golongan flavonoid, terpenoid, dan alkaloid. Hasil isolasi menunjukan spot tunggal dengan tiga sistem eluen yang berbeda sehingga isolat telah diketahui murni secara KLT.
Jatropha curcas is known for various medicinal uses. Anti-inflammatory activity from ethyl acetate fraction of J. curcas leaves have been recognized. Leaves of Jatropha curcas contained compounds, such as flavonoids, saponins, tannins, triterpenes and steroids. This study was conducted to identify the compound groups contained in the ethyl acetate fraction of Jatropha curcas leaves.
Extract of Jatropha curcas were obtained through a solvent extraction process using ethanol 96% by maseration during 3x24 hours and fractionated with solid-liquid extraction method using n-hexane, chloroform, and ethyl acetat. Ethyl acetat fraction were identified by phytochemical screening Thin Layer Chromatography (TLC) test and Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Furthermore, the isolation of compounds were done by column chromatography.
The TLC procedure was identified the flavonoid and terpenoid group present in sample fraction. The mobile phase consisting of Kloroform-Ethyl acetate 9:1 (v/v) showed violet spot in visible (hRf 85) for terpenoid group and yellow fluorescent spot under UV 366 (hRf 20; 30; 50; 65) for flavonoid group. In addition to this, FTIR peaks showed the presence of functional groups O-H, C-H, C=O, C=C, C-O, N=C=O, and C-N, which may be characterized by the presence of flavonoids, terpenoids, and alkaloids. Results of isolation which presence as one single spot in three different system solvents indicate that the isolated compound was single pure compound.
555115359C1B009134Analisis Pengaruh Motivasi Pelatihan Kerja dan Kompensasi Terhadap Kinerja Perawat Di Rumah Sakit Umum Daerah MajenangRumah Sakit Umum Daerah Majenang dipilih menjadi obyek dalam penelitian ini karena RSUD Majenang merupakan tempat pelayanan kesehatan terutama untuk masyarakat daerah cilacap barat. Oleh karena itu, kinerja memiliki peranan penting dalam meningkatkan pelayanan kesehatan bagi suatu Rumah Sakit. Sebab dalam lingkungan Rumah Sakit masalah pelayanan kesehatan banyak ditekankan pada tenaga medis yang berperan didalamnya terutama perawat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh motivasi, pelatihan kerja, dan kompensasi terhadap kinerja perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Majenang dengan permasalahan yang telah diidentifikasi sebagai berikut : bahwa untuk meningkatkan kinerja perawat, Rumah Sakit harus mempertimbangkan beberapa faktor seperti motivasi, pelatihan kerja, dan kompensasi.
Tujuan penelitian ini adalah 1) untuk menganalisis pengaruh motivasi terhadap kinerja perawat di RSUD Majenang, 2) untuk menganalisis pengaruh pelatihan kerja terhadap kinerja perawat di RSUD Majenang, 3) untuk menganalisis pengaruh kompensasi terhadap kinerja perawat di RSUD Majenang.
Penelitian ini merupakan studi kasus di Rumah Sakit Umum Daerah Majenang, metode survey yang digunakan untuk pengumpulan data dan informasi dari responden adalah dengan wawancara dan kuisioner. Responden dari penelitian ini adalah perawat pada Rumah Sakit Umum Daerah Majenang yang sudah menjadi pegawai negeri sipil berjumlah 80 orang. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda, uji F, dan uji T.
Kesimpulan penelitian ini adalah 1) motivasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja di Rumah Sakit Umum Daerah Majenang, 2) pelatihan kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja di Rumah Sakit Umum Daerah Majenang, 3) kompensasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja di Rumah Sakit Umum Daerah Majenang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin baik motivasi, pelatihan kerja, dan kompensasi yang diberikan kepada perawat, maka akan semakin baik kinerja perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Majenang.

RSUD Majenang have been selected become the object of this study because RSUD Majenang is a place of public health services, especially for cilacap western region. Therefore, the performance has an important role in improving health services for a hospital. For the hospital environment's, health care problem are emphasized on medical staff that play a role in it especially nurses.This study purpose to determine the effect of motivation, job training, and compensation for the performance of nurses at RSUD Majenang with issues that have been identified as follows : that in order to improve the performance of nurses, hospitals should consider several factors such as motivation, job training, and compensation.
The purpose of this study were 1) to analyze the influence of motivation on the performance of nurses in RSUD Majenang, 2) to analyze the effects of job training on the performance of nurses in RSUD Majenang, 3) to analyze the influence of compensation on performance of nurses in RSUD Majenang.
This research is a case study in RSUD Majenang, the survey method used for collecting data and information of the respondent is by interview and questionnaire. Respondents of this study is a nurses at RSUD Majenang already become civil servants amounted to 80 people. The analytical method used in this study is multiple regression analysis, F test, and T test.
The conclusion of this study is 1) motivation has a significant effect on the performance in RSUD Majenang, 2) job training has a significant effect on the performance in RSUD Majenang, 3) compensation has a significant effect on the performance in RSUD Majenang. Thus it can be concluded that the better the motivation, job training, and compensation given to the nurse, then the performance of the nurses will be better at the RSUDMajenang.
555215360D1E012056PENGARUH PENGGUNAAN ASAM ASETAT DAN LAMA WAKTU DEGREASING TERHADAP VISKOSITAS DAN KEKUATAN GEL GELATIN TULANG AYAM BROILERPenelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh konsentrasi asam asetat dan lama waktu degreasing terhadap viskositas dan kekuatan gelatin tulang ayam broiler. Materi yang digunakan tulang paha atas ayam broiler sebanyak 13.5 kg, aquades dan asam asetat. Penelitian dengan metode eksperimental ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola Faktorial. Perlakuan yang diterapkan terdiri dari dua faktor, yaitu faktor A berupa konsentrasi asam asetat yang terdiri dari C1: 2%, C2: 4%, dan C3: 6%, dan faktor B berupalama waktu degreasing yang terdiri dari L1: 4 jam, L2: 6 jamdan L3: 8 jam. Kombinasi perlakuan diulang tiga kali. Variabel yang diukur yaitu viskositas dan kekuatan gel. Rata-rata visksositas dengan konsentrasi asam asetat dan lama waktu degreasing yaitu C1=3.1 ± 0.9 cP, C2= 2.7 ± 0.7 cP, C3=1.7 ± 0.7 cP, L1=2.7 ± 0.3 cP, L2=2.6 ± 0.5 cP, L3=2.2 ± 0.5 cP. Rata-rata kekuatan gel dengan konsentrasi asam asetat dan lama waktu degreasing yaitu C1=64.04 ± 4.22 g Bloom, C2=60.04 ± 3.53 g Bloom, C3=57.82 ± 2.83 g Bloom, L1=55.59 ± 3.47 g Bloom, L2=62.26 ± 5.66 g Bloom, L3=64.04 ± 4.06 g Bloom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi asam asetat berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap viskositas dan kekuatan gel. Lama waktu degreasing tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap viskositas namun berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap kekuatan gel. Konsentrasi asam asetat optium untuk menghasilkan viskositas dan kekuatan gel yang baik adalah 2% dan lama waktu degreasing terbaik untuk menghasilkan viskositas adalah 4 jam dan kekuatan gel adalah 8 jam.The objective of this research was to investigate the effect of acetate acid concentration usage and different degreasing periods on the viscosity and strength of broiler’s bone gelatin. The materials were 13.5 kg of upper thigh of broiler’s bone, aquades, and acetat acid. Using experimental method, this research was arranged within a completely randomized factorial design. The applied treatments consisted of two factors; the A factor was the acetate acid concentrations namely C1: 2%, C2: 4%, and C3: 6%, and the B factor was degreasing durations namely L1: 4 hours, L2: 6 hours and L3: 8 hours. The combination of each treatment was replicated three times. The measured variables were the viscosity and strength of the gel. The average of the gel viscosity with the acetate acid consentrations and degreasing durations were C1=3.1 ± 0.9 cP, C2= 2.7 ± 0.7 cP, C3=1.7 ± 0.7 cP, L1=2.7 ± 0.3 cP, L2=2.6 ± 0.5 cP, L3=2.2 ± 0.5 cP, while that of gel strength were C1=64.04 ± 4.22 g Bloom, C2 =60.04 ± 3.53 g Bloom, C3 =57.82 ± 2.83 g Bloom, L1 =55.59 ± 3.47 g Bloom, L2=62.26 ± 5.66 g Bloom, L3=64.04 ± 4.06 g Bloom. The result of the research shows that acetate acid concentrations have highly significant effects (P<0.01) on the viscosity and the strength of the gel. The degreasing duration is not significant (P>0.05) to the viscosity, but highly significant (P<0.01) to the strength. It concludes that, in order to produce a good viscosity and strength of the gel, the most appropriate concentration of acetate acid is at 2%. Mean while, the best degreasing period is 4 hours for the viscosity and 8 hours for the gel strength.
555315358D1E012272HUBUNGAN ANTARA JUMLAH TELUR CACING DENGAN CACING DEWASA TREMATODA (FASCIOLA SP. DAN PARAMPHISTOMUM SP.) PADA KAMBING MUDA DI RUMAH POTONG HEWAN SOKARAJA Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat prevalensi jumlah telur cacing pergram feses, jumlah parasit cacing trematoda dan mengetahui hubungan jumlah telur cacing di feses dengan cacing dewasa trematoda (fasciola sp. pada hati dan paramphistomum sp. pada rumen) pada kambing muda di Rumah Potong Hewan Sokaraja (RPH). Materi yang digunakan adalah feses kambing, methylene blue, gula jenuh, NaOH10%, NaCl. Penelitian menggunakan metode survey dengan pengambilan sampel secara sensus menggunakan Regresi Korelasi dan pemeriksaan sampel menggunakan metode McMmaster, centrifuge, parfft and bank yang dilakukan di Laboratorium Kesehatan Ternak UNSOED dengan jumlah sampel 30 ekor kambing. Variabel yang diukur adalah jumlah cacing dewasa dan telur cacing Fasciola sp. dan Paramphistomum sp. Hasil prevalensi Fasciola sp. adalah 96% sedangkan Paramphistomum sp. 53 %, koefisien korelasi -0,039 dengan sig> 0.05. Artinya, tidak ada hubungan antara jumlah telur cacing dengan cacing dewasa Fasciola sp., sedangkan besar pengaruh koefisien korelasinya negative lemah. Koefisien korelasi Paramphistomum sp. adalah 0,468 dengan sig > 0,01 yang artinya ada hubungan antara jumlah telur cacing dengan cacing dewasa. Besar pengaruh koefisien korelasinya adalah positif sedang.The study aims to measure the prevalence rates of the number of pergram fecal worm eggs, the number of trematodes parasitic worms, and to determine the relationship between the number of worm eggs in feces and adult trematodes worms (Fasciola sp. in liver and paramphistomum sp. in rumen) in young goats at Abattoir Sokaraja (RPH). The research materialswere the goat feces, methylene blue, saturated sugar, 10% NaOH, and NaCl. Conducted at the Laboratory of Animal Health UNSOED, the research used a survey method. Its census sampling employed correlation and regression analyses while the sample inspection used the methods of Mc Master technique, centrifuge, parfft and bank towards 30 goats. The measured variables were the number of Fasciola sp. and Paramphistomum sp adult worms and their eggs. The results showed that the prevalence of Fasciola sp. is 96% while that of Paramphistomum sp. is 53%, with a correlation coefficient of -0.039 sig> 0.05 which indicates the lack of any relationship between the number of worm eggs with adult worm Fasciola sp.,. The value of correlation coefficient influence is negatively weak. The correlation coefficient of Paramphistomum sp. Is 0.468 with sig> 0.01 which means that there is a relationship between the number of worm eggs and adult worms. The value ofthe correlation coefficient influence is positively moderate.
555415361D1E012029HUBUNGAN ANTARA JUMLAH TELUR CACING DENGAN CACING DEWASA TREMATODA (FASCIOLA SP. DAN PARAMPHISTOMUM SP.) PADA KAMBING DEWASA DI RUMAH POTONG HEWAN SOKARAJATujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat prevalensi jumlah telur cacing pergram feses pada kambing dewasa, jumlah parasit cacing trematoda dan untuk mengetahui hubungan antara jumlah telur cacing pada feses dengan cacing dewasa trematoda (Fasciola sp. pada hati dan Paramphistomum sp. pada rumen) pada kambing dewasa di Rumah Potong Hewan Sokaraja. Pemeriksaan telur dilakukan di Laboratorium Kesehatan Ternak, Fakultas Peternakan, UNSOED, menggunakan metode Centrifuge, Parfitt and Bank dan Mc Master pada 30 sampel feses dari tanggal 11 April – 25 April 2016. Materi yang digunakan adalah feses kambing dewasa, NaOH10%, Methylene blue, NaCl jenuh, gula jenuh dan air. Penelitian ini menggunakan metode Survei dengan pengambilan sampel secara sensus dan menggunakan analisis data Regresi Korelasi Sederhana. Variabel yang diukur adalah jumlah cacing dewasa dan jumlah telur cacing Fasciola sp. dan Paramphistomum sp. Hasil penelitian prevalensi Fasciola sp. dan Parmphistomum sp. adalah 96.67% dan 50 %. Rata–rata jumlah telur cacing pada kambing dewasa menggunakan Metode Mc Master yaitu 198.33 telur pergram feses dan 41.67 telur pergram feses. Terdapat korelasi negatif yang sangat lemah antara jumlah telur dengan cacing dewasa Fasciola sp. dengan koefisien korelasi sebesar -0.088 dengan sig >0.05. Terdapat korelasi positif sedang dengan koefisien korelasi 0.607dengan sig <0.01 antara jumlah telur cacing dengan cacing dewasa.This research aims to measuring the prevalence levels of the number of worm eggs of pergram feces in adult goats, the number of trematode worm parasites, and to determining the relationship beteween the number of the worm eggs and the adult trematode worms (Fasciola sp. in the liver and Paramphistomum sp. in the rumen) in adult goats at Sokaraja abattoir. The inspection of worm eggs had been conducted at the Laboratory of Animal Health, UNSOED, by using Centrifuge, Parfitt and Bank and Mc Master method on 30 sample of feces, from April 11– April 25, 2016. The research materials were goat feces, NaOH 10%, Methylene blue, saturated NaCl, saturated sugar, and water. This research used a survey method with census sampling by using a Simple Linear Regression. The variables were the number of adult worms and the number of worm eggs Fasciola sp. and Paramphistomum sp. The result of prevalence showed that Fasciola sp. and Paramphistomum sp. are 96.67% and the 50%, respectively. The average number of worm eggs in adult goats which was measured with Mc Master method is 198.33 eggs/g and 41.67 eggs/g. There is a very weak negative correlation between the number of worm eggs and the adult worms Fasciola sp. with a correlation coefficient -0.088 with sig >0.05. There is a moderate positive correlation with a correlation coefficient 0.607 with sig <0.01 between the number of worm eggs and adult worms.
555515362D1E012297KECERNAAN SERAT KASAR DAN PROTEIN KASAR RANSUM SAPI SUMBA ONGOLE YANG DIBERI JERAMI PADI AMONIASI DAN KONSENTRAT YANG DITAMBAHKAN DENGAN TEPUNG DAUN WARUPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji interaksi antara tepung daun waru (Hibiscus tiliaceus) dalam ransum sapi sumba ongole dengan imbangan jerami padi amoniasi dan konsentrat yang berbeda terhadap kecernaan serat dan protein kasar secara in vivo. Materi penelitian mengggunakan sapi sumba ongole jantan 18 ekor dengan umur 3-4 tahun dengan bobot badan rata-rata 218,67±17,62 kg (KK : 8,06%)yang berasal dari Sumbawa, NTT. Ada dua faktor yang diuji, faktor pertama adalah level tepung daun waru (Hibiscus tiliaceus) 0% (W1), 0.24% (W2), dan 0.48% (W3) dan faktor kedua adalah imbangan jerami padi dan konsentrat 35 : 65 (I1) dan 30 : 70 (I2). Penelitian ini menggunakan pola faktorial 3 x 2 yang dirancang sesuai dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dengan demikian, pola faktorial 3 x 2 menghasilkan kombinasiI1W1, I1W2,I1W3,I2W1,I2W2, danI2W3 sebagai perlakuan. Peubah yang diukur adalah kecernaan serat kasar dan kecernaan protein kasar. The research aimed to evaluate the interaction between the addition of leaf meal hibiscus (Hibiscus tiliaceus) in sumba ongole cattle’s rations with different proportions of ammoniated rice straw and concentrate on crude fiber and crude protein digestibilitiesby in vivo. The research materials were eighteen male Sumba Ongole cattle from Sumbawa, East Nusa Tenggara (NTT) aged 3-4 years old whose initial body weight averaged 218,67±17,62 kg (KK : 8,06%). There are two factors tested, the first factor was the levels of hibiscus leaf meal (Hibiscus tiliaceus) consisting of 0% (W1), 0.24% (W2), and 0.48% (W3) and the second factor was the ratios of amoniated rice straw and concentrate consisting of 35: 65 (I1) and 30 : 70 (I2). This study used 3x2 factorial design within a completely randomized design (CRD). Therefore, the 3x2 factorial design resulted in a combination of I1W1, I1W2, I1W3, I2W1, I2W2, and I2W3 as the treatments. The parameters measured were the crude fiber and crude protein digestibilities.
555615366A1H011047PENDUGAAN UMUR SIMPAN SERBUK JAMU JAHE DENGAN METODE ACCELERATED SHELF LIFE TESTING (ASLT) MODEL ARRHENIUSJahe adalah salah satu rempah-rempah yang sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan obat dan banyak dikonsumsi sebagai minuman kesehatan oleh masyarakat. Serbuk jamu jahe diracik dengan jahe sebagai bahan bak selanjutnya ditambahkan cengkeh, sereh, dan kapulaga sebagai penguat aroma jamu. Penentuan umur simpan perlu dilakukan untuk mengetahui selang waktu antara awal produksi hingga tidak dapat diterima konsumen akibat adanya penurunan mutu. Mutu serbuk jamu jahe selama penyimpanan dapat dipertahankan dengan perlakuan pengemasan dan suhu yang tepat. Tujuan dari penelitain ini adalah 1) Mengetahui perubahan mutu serbuk jamu jahe selama penyimpanan, 2) Melakukan pendugaan umur simpan serbuk jamu jahe berdasarkan parameter terpilih dengan metode Accelerated Shelf Life Testing (ASLT) model Arrhenius dan 3) Mengetahui jenis kemasan yang terbaik mempertahankan mutu serbuk jamu jahe selama penyimpanan. Parameter pada pengamatan serbuk jamu jahe meliputi kadar air dan kecerahan selama penyimpanan. Pengamatan serbuk jamu jahe dikemas dengan menggunakan aluminium foil¸plastik, dan kertas yang disimpan pada suhu ruang penyimpanan sebesar 30oC, 40oC, dan 50oC. Serbuk jamu jahe dalam kemasan aluminium foil mengalami penurunan kadar air berturut-turut adalah 0,2%; 0,5%; 0,7%, penurunan kadar air serbuk jamu jahe dalam kemasan plastik berturut-turut adalah 0,29%; 0,44%; 0,7%, dan kemasan kertas mengalami penurunan kadar air berturut-turut adalah 0,21%, 0,41% dan 0,79%. Pengamatan kecerahan serbuk jamu jahe pada ruang penyimpanan didapatkan penurunan dalam kemasan aluminium foil berturut-turut sebesar 5,67%, 6,06%, 5,98%, penurunan kecerahan serbuk jahe dalam kemasan plastik berturut-turut adalah 5,73%, 5,5%, 5,5% dan kemasan plastik mengalami penurunan kecerahan berturut-turut adalah 5,68%, 5,5% dan 5,2%. Metode pendugaan umur simpan serbuk jamu jahe yaitu dengan metode Accelerated Shelf Life Testing (ASLT) dengan persamaan model Arrhenius. Hasil perhitungan model Arrhenius didapatkan umur simpan serbuk jamu jahe pada suhu ruang (28oC) kemasan aluminium foil, plastik dan kertas berturut-turut adalah 387 hari, 213 hari dan 155 hari.Ginger is one herb that has long been used as medicine and is widely consumed as a health drink by community. The shelf lifes of ginger herbal powders have a time interval between initial productions until unacceptable consumer, because of quality degradation. In order to maintain the quality of ginger powder to do the packaging and the ringht temperatur. The aim of this research are 1) To determine quality changes of ginger powder during retention processing, 2) to do fathoming shelf life of herbal ginger powder based on the chosen parameter with method of Accelerated Shelf Life Testing (ASLT) Arrhenius models and 3) to know the best packaging type that can maintain the quality of ginger powder during retention processing. The observation parameters of ginger powders include moisture content and brightness during retention storage. The observations of ginger powders are packaging with uses aluminum foil¸ plastics and paper are stored with room storage temperature at 30oC, 40oC and 50oC. The ginger powder with aluminum foil packaging decreased water levels are respectively 0,2%, 0,5%, 0,7%, decrease in water content plastics packaging ginger powders are respectively 0,29%, 0,44%, 0,7% and paper packaging decreased water levels are respectively 0,21%, 0,41% and 0,79%. The brightness observations ginger powder with aluminum foil packaging in the storage space respectively for 5,67%, 6,06%, 5,98%, the brightness of plastic packaging have a decreasing respectively 5,73%, 5,5%, 5,5% and plastic packaging decreased brightness in a row is 5,68%, 5,5% and 5,2%. The method for determining the shelf life by using Accelerated Shelf Life Testing (ASLT) with Arrhenius model equations. Arrhenius model calculation results obtained herbal ginger powder shelf life at room temperature (28oC) aluminum foil, plastic and paper in a row was 387 days, 213 days and 155 days.
555715367E1A012025EFEKTIVITAS UPAYA PENYANDERAAN (GIJZELING) TERHADAP PENANGGUNG PAJAK DALAM PELUNASAN UTANG PAJAKABSTRAK
Pajak ialah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang dengan tiada mendapat jasa timbal yang langsung dapat ditunjuk dan yang digunakan untuk membiayai pengeluaran umum. Wajib Pajak memiliki kewajiban untuk membayar pajak sesuai dengan tanggal jatuh tempo yang ditetapkan. Apabila sampai dengan jatuh tempo wajib pajak tidak membayar kewajibannya tersebut akan menimbulkan utang pajak yang selanjutnya harus dilakukan proses penagihan oleh aparat pajak. Salah satu alat penagihan pajak adalah penyanderaan, penyanderaan adalah pengekangan sementara waktu kebebasan wajib pajak atau penanggung pajak dengan menempatkannya di tempat tertentu.
Pokok permasalahan yang di sampaikan dalam skripsi ini adalah Bagaimanakah efektivitas upaya penyanderaan (gijzeling) terhadap penanggung pajak dalam pelunasan utang pajak dan apa faktor penghambat dalam proses penyanderaan.
Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif empiris. Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan dan wawancara. Data yang terkumpul kemudian disajikan dalam bentuk teks naratif yang disusun secara sistematis.
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa penyanderaan efektif dalam pelunasan utang pajak, karena tujuan penyanderaan ialah memaksa penanggung pajak melunasi utang pajaknya, hal tersebut dibuktikan dari beberapa kasus khususnya kasus penanggung pajak DW yang terjadi di KPP Pratama Purwokerto yang melunasi utang pajaknya setelah disandera selama kurang dari 1 bulan, dan faktor-faktor penghambat dalam proses penyanderaan ialah penanggung pajak mengalihkan aset, berpura-pura sakit, dan mengajukan gugatan.
ABSTRACT

Tax is the public contribution for the state treasury based on the ordinance without obtaining the reciprocal service that directly can be appointed and used to finance the public expenditure. Tax Payer has the obligation to pay the tax based on the due to date that has been determined. If until due to date the tax payer does not pay their obligation so it will emerge the tax debt that subsequently it must be conducted collection process by tax officer. One of tool of tax collection is gijzeling, gijzeling is restriction temporary of freedom time of tax payer by placing them in the certain place.
The main problem that is explained in this thesis is ‘how is the effectiveness of the gijzeling effort to the tax payer in paying the tax debt and what factors that imped in the gijzeling process.
This research is the empirical normative law research. Method of data collection is conducted by literature study and interview. Data that have been collected then presented in the form of narrative text that are arranged systematically.
Result of this research proves that the effective gijzeling in paying the tax debt, because the purpose of gijzeling is to force the tax payer to pay their tax debt, this is proven with some of cases especially case of tax payer DW that happens at KPP PratamaPurwokerto who pay his tax debt after doing gijzeling for one month, and obstacle factor in the process of gijzeling is that tax payer transfers their assets, pretending sick, and propose the prosecution.
555815368A1M012015Analisis Deskriptif Kuantitatif Produk Brownies Dengan Variasi Proporsi Substitusi Tepung Kacang Merah Utuh Dan KupasBrownies merupakan produk bakery yang termasuk dalam kategori cake. Proses pembuatan brownies biasanya dibuat dengan bahan baku tepung terigu. Penelitian ini memanfaatkan penambahan tepung kacang merah (Phaseolus vulgaris L.) karena memiliki kandungan serat yang tinggi dan kaya akan protein. Penelitian ini bertujuan untuk: (1). Mendeskripsikan atribut sensori brownies dengan variasi proporsi substitusi tepung kacang merah utuh dan kupas yang signifikan. (2). Menetapkan variasi proporsi substitusi tepung kacang merah utuh dan kupas terbaik terhadap atribut yang yang signifikan pada brownies yang terpilih. (3). Menetapkan tingkat kesukaan panelis pada proporsi substitusi tepung kacang merah utuh dan kupas yang terpilih. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini mengkaji dua faktor percobaan yaitu variasi proporsi substitusi tepung terigu dengan tepung kacang merah utuh dan kupas. Proporsi tepung terigu dengan tepung kacang merah utuh dalam pembuatan brownies yaitu 80% :20% (K1), 60% : 40% (K2), 40% : 60% (K3). Proporsi tepung terigu dengan tepung kacang merah kupas dalam pembuatan brownies yaitu 80% :20% (NK1), 60% : 40% (NK2), 40% : 60% (NK3). Analisis yang dilakukan yaitu analisis deskriptif kuantitatif dan uji hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa deskripsi atribut pada brownies kacang merah utuh dan kupas terdapat 28 atribut yang terdeskripsi diantaranya ada 4 atribut yang signifikan yaitu warna coklat, rasa cokelat, rasa kacang merah, dan tekstur berpasir. Semakin tinggi proporsi substitusi tepung kacang merah utuh dan kupas maka semakin tinggi peningkatan profil intensitas pada atribut warna coklat, rasa cokelat, rasa kacang merah, dan tekstur berpasir. Substitusi tepung kacang merah utuh memiliki nilai intensitas profil lebih tinggi dibandingkan kupas. Variabel perlakuan tertinggi terdapat pada tepung kacang merah utuh. Perlakuan tepung kacang merah utuh dan kupas yang optimal yaitu perlakuan dengan substitusi tepung kacang merah utuh 60% (K3). Tingkat kesukaan brownies terbaik secara keseluruhan yaitu suka pada penambahan tepung kacang merah utuh adalah K2 (tepung kacang merah utuh 40 %). Sedangkan tingkat kesukaan tertinggi pada brownies kacang merah kupas adalah NK3 (tepung kacang merah kupas 60 %).Brownies is one of bakery product which categorized as cake and it is usually made using wheat flour as its based ingredients. This research used red bean (Phaseolus vulgaris L.) flour as subtitution at the ingredients because it has high on fiber and protein. The purposes of this researched are : 1) to Describe about Brownies sensory attributes by the significant variant of whole- and peeled off-red bean flour substitute proportion. (2) to determine the best variant of whole- and peeled off-red bean flour substitute proportion for the significant attributes on the choosen brownies, (3) to determine the rate of panelists likeliness on the choosen of whole- and peeled off-red bean flour substitutes proportion. This research is conducted at Agricultural Technology Laboraotium, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. This research studied about two experiment factors which are variant of the proportion of wheat flour with whole red bean flour and variant of the proportion of wheat flour with peeled off-red bean flour. The proportion between wheat flour and whole red bean flour on the making proccess were 80%:20% (K1), 60%:40% (K2), 40%:60% (K3), while the proportion between wheat flour and peeled- red bean flour on the making poccess were 80%:20% (NK1), 60%:40% (NK2), 40%:60% (NK3). As for methods, the research used quantitative descriptive analysis and hedonic test. The result showed that there were twenty eight description of attributes on whole-and peeled off-red bean brownies and four of them are significant which are brown-colored, chocolate taste, red bean taste, and sandy texture. The higher the proportion among flours, the higher intensity profile on the attributes raise. Whole red bean flour substitute has higher profile intencity value than the peeled off one. The highest variable experiment is on the substitution of whole red bean. The optimal treatment from the whole and peeled off red bean is the substitution of 60% (K3) whole red bean. The best brownies likeliness rate is the likeliness of K2 (adding about 40% whole red bean). While the highest likeliness rate on peeled of red bean brownies is NK3 (60% of peeled of red bean).
555915352C1A012094Analisis Industri Perbankan Indonesia dengan Pendekatan Structure Conduct and Performance Periode Tahun 2010-2014Paradigma structure conduct performance (SCP) adalah paradigma ilmu ekonomi industri yang digunakan untuk menghubungkan elemen-elemen struktur pasar dengan perilaku dan kinerja suatu industri. Terdapat tiga hipotesis dalam menganalisis hubungan antara struktur pasar dan kinerja dengan menggunakan paradigma SCP. Pertama hipotesis tradisional yang mendasarkan pada perilaku kolusi, yang kedua hipotesis diferensiasi yang mendasarkan pada diferensiasi produk, dan yang ketiga hipotesis efisiensi yang mendasarkan pada perilaku efisien perusahaan.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sepuluh bank umum terbesar dalam penguasaan pangsa pasar aset, dana pihak ketiga (DPK), dan kredit tahun 2010-2014. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah perhitungan rasio konsentrasi empat bank terbesar untuk mengetahui bentuk struktur pasar industri perbankan Indonesia dan regresi data panel untuk mengetahui pengaruh perilaku terhadap kinerja perbankan serta untuk mengetahui hipotesis mana yang dapat menjelaskan pengaruh struktur pasar dan perilaku terhadap kinerja pada perbankan Indonesia.
Hasil perhitungan rasio konsentrasi empat bank terbesar menunjukkan bahwa struktur pasar perbankan Indonesia berbentuk persaingan monopolistik atau oligopoli longgar dengan nilai CR4 (Four-Firm Concentration Ratio) hampir mencapai 50 persen. Perilaku perbankan yang diproksi dengan beban operasional, aset, dan jumlah kantor cabang memberikan hasil beban operasional berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap return on assets (ROA), aset berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA, dan kantor cabang berpengaruh positif tidak signifikan terhadap ROA. Struktur pasar yang diproksi oleh CR4 dan market share memberikan hasil, CR4 berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA dan market share berpengaruh positif signifikan terhadap ROA. Dalam penelitian ini perbankan Indonesia menganut hipotesis diferensiasi dan menolak hipotesis tradisional maupun hipotesis efisiensi.
Paradigm structure conduct performance (SCP) is the paradigm of industrial economics used to connect elements of market structure with the behavior and performance of an industry. There are three hypotheses in analyzing the relationship between market structure and performance by using the paradigm structure conduct performance (SCP). The first is traditional hypothesis based on behavior of collusion, the second is differentiation hypothesis based on product differentiation, and the third is efficiency hypothesis based on behavior of efficient companies.
The sample used in this research are the ten largest public bank in the mastery of the market share of assets, third party funds (DPK), and credits in 2010-2014. Analytical tools used in this research are the calculation concentration ratio of the four largest bank to figure out the shape of the banking industry's market structure in Indonesia and panel data regression to know the behavior of banking performance as well as to find out which hypothesis can explain the influence of market structure and behavior towards banking performance in Indonesia.
The results of calculate the concentration ratio from four largest banks showed that Indonesia’s banking market structure is monopolistic competition with CR4 (Four-Firm Concentration Ratio) value nearly 50 percent. Banking behavior or in this research as operating expenses, assets, and total of branch offices provides the results operating expenses influential negative not significant to the return on assets (ROA), assets influential negative significant to the ROA, and the total of branch offices influential positive not significant to the ROA. The market structure or in this research as CR4 and market share provides the results CR4 influential negative significant to the ROA and market share influential positive significant to the ROA. In this research the banking Indonesia approve to the differentiation hypothesis and reject the traditional hypothesis nor the efficiency hypothesis.
556015372A1L012063KUALITAS DAN UMUR SIMPAN STRAWBERRY (Fragaria spp.) PADA BERBAGAI KONSENTRASI KITOSAN DAN JENIS PLASTIK PENGEMASPenelitian bertujuan untuk mengkaji konsentrasi kitosan yang tepat, jenis plastik pengemas yang terbaik, dan pengaruh kitosan dan jenis plastik pembungkus terhadap kualitas dan umur simpan buah strawberry. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Unsoed pada bulan Mei hingga Juni 2016. Buah strawberry berasal dari Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 12 perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali. Variabel yang diamati adalah variabel fisikokimia meliputi kekerasan buah, susut bobot buah, kadar air buah, Padatan Terlarut Total (PTT), Vitamin C dan variabel organoleptik yang terdiri atas tekstur buah, warna buah, aroma khas buah, rasa buah, dan kesukaan buah. Data pengamatan variabel fisikokimia dianalisis dengan menggunakan uji F pada taraf 5% dilanjutkan dengan uji lanujut DMRT (Duncan Multiple Range Test), sedangkan data pengamatan organoleptik menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi Kitosan dan pengemas dapat meminimalisir susut bobot dan kehilangan kadar air. Kombinasi perlakuan Kitosan dan pengemas plastik dapat mempertahankan kekerasan, kadar air, serta warna, tekstur, rasa, dan kesukaan.This research aims to study about: 1) the suitable chitosan concentration, 2) the best type of packaging plastic and 3) the effect of chitosan and the type of packaging plastic on strawberry quality and storage time. The research conducted in Agronomy and Horticulture Laboratory Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University on May until June 2016. Strawberry harvested at Serang Village, Karangreja Sub-district, Purbalingga. The research used Completed Randomized Block Design (CRBD) with twelve treatments and repeated by three times. Variables observed were fruit hardness, weight loss, water content, Total dissolved solid (TDS), and Vitamin C while texture, color, scent, taste, and likeliness as variables of organoleptic test. Data was analyzed using analysis of variance (F test), followed by Duncan Multiple Range Test at the level of 5 % and descriptif analycis. The research shows that chitosan concentration and packaging plastic affected the weight loss, and water content, while treatment combination affected hardness, water content, and organoleptic variable such as color, taste, and likeliness.