Artikelilmiahs
Menampilkan 5.401-5.420 dari 48.831 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 5401 | 15200 | B1J012097 | STUDI FENOTIPE LIMA KULTIVAR PADI (Oryza sativa L.) BERDASARKAN KARAKTER ANATOMI DAUN | Padi (Oryza sativaL.) merupakan sumber makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Usaha peningkatan hasil panen terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan padi yang semakin meningkat. Salah satu usaha yang dilakukan yaitu pemuliaan tanaman dengan perbaikan genetik tanaman sesuai dengan sifat-sifat yang diharapkan. Penelitian terus dilakukan sehingga menghasilkan berbagai kultivar padi yang memiliki keunggulan yang berbeda-beda. Kultivar yang telah ada secara morfologi sulit dibedakan, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut berupa pengamatan karakter anatomi untuk membantu proses identifikasi dan klasifikasi serta menunjang pengembangan kultivar unggul tanaman padi. Berdasarkan pemikiran tersebut maka dilakukan penelitian dengan judul “Studi Fenotipe Lima Kultivar Daun Padi (Oryza sativaL.) Berdasarkan Karakter Anatomi Daun” pada bulan Desember 2015 sampai Mei 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fenotipe lima kultivar padi berdasarkan karakter anatomi daun. Penelitian ini menggunakan metode survai dengan teknik pengambilan sampel secara acak (Purposive Random Sampling) dari lima kultivar daun padi. Pembuatan preparat anatomi menggunakan metode parafin dan preparat segar. Variabel yang diamati berupa karakter anatomi daun. Parameter yang diukur meliputi tebal kutikula, tebal epidermis, tebal mesofil, ukuran stomata (panjang dan lebar), jumlah stomata dan trikomata per 1 mm2 luas daun serta jumlah sel motor. Data yang diperoleh dianalisis secara ANOVA model random dengan tingkat kepercayaan 95% atau 99%. Hasil analisis yang berbeda nyata dilakukan uji lanjut menggunakan BNT. Hasil penelitian menunjukan bahwa struktur anatomi daun kelima kultivar padi seragam yang terdiri dari 3 sistem jaringan yaitu epidermis, mesofil, dan berkas pengangkut. Pengamatan anatomi daun kelima kultivar padi menunjukan adanya perbedaan yaitu tebal epidermis bawah, tebal mesofil dan kerapatan stomata atas. Padi kultivar IR-64 memiliki epidermis bawah paling tebal dan padi kultivar Situbagendit paling tipis. Padi kultivar Ciherang memilliki mesofil paling tebal dan padi kultivar Situbagendit paling tipis. Kerapatan stomata atas yang tinggi pada Padi kultivar Logawa, sedangkan yang paling sedikit padi kultivar IR-64. | Rice (Oryza sativa L.) is a staple food source for the majority of the Indonesian people. Efforts to increase crop yields still continue to meet the increase needs of rice. One of the efforts is plant breeding by genetic improvement in accordance to the characteristics which are expected. The end results is to obtain a variety of rice cultivars which have superior characteristics. Cultivars that are available are morphologically indistinguishable, so further research is needed in the form of anatomical characters observation to assist the process of identification and classifications and to support the superior rice cultivar plant development. Based on these ideas, the research entitled “Phenotype characteristics of five rice leaves cultivars based on leaf anatomical characters” was carried out in December 2015 until May 2016. The study aimed to determine the phenotype characteristics of five rice cultivars by leaf anatomical characters. This study used survey method with purposive random sampling on five cultivars of rice leaves. Anatomy preparations were made using parafin method and fresh preparations. Variables observed were in in the form of leaf anatomical characters. The parameters measured including thickness of cuticle, epidermis, mesophyll, stomatal size (length and width), the amount of stomata and tricomata per 1 mm2 of the leaf area and also the amount of motor cells. The data obtained were analyzed by random models of ANOVA with signigicant level of 95% or 99% then continued by HSD test. After that the leaf anatomycal character of five cultivars were interpreted. The results showed that the anatomical structure of five rice leaves cultivars observed consisted of three systems that were epidermis, mesophyll, and vascular bundle. The anatomical observations of five leaf rice cultivars showed the differences in several observed parameter namely the thickness of epidermis, mesophyll and the density of the top of stomata. | |
| 5402 | 15201 | B1J012057 | KONSUMSI OKSIGEN DAN KADAR HEMOGLOBIN IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy Lac) DENGAN PERBEDAAN LEVEL SUPLEMENTASI Spirulina platensis | Ikan gurami (Osphronemus gouramy) merupakan jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi, akan tetapi laju pertumbuhannya lambat maka dari itu perlu diberikan pakan bergizi tinggi seperti Spirulina platenis yang memiliki kandungan protein tinggi dan fikosianin. Pengukuran laju metabolisme pada ikan dapat dilakukan dengan mengukur konsumsi oksigen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsumsi oksigen dan kadar Hb ikan gurami setelah diberi pakan dengan suplementasi Spirulina platensis dan mengatahui level terbaik dalam meningkatkan konsumsi oksigen dan kadar hemoglobin. Penelitian ini dilakukan di Stasiun percobaan Program Studi D-III PSDP Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 (P1: kontrol, P2: suplementasi 2g/kg pakan, P3: 4g/kg pakan dan P4: 6g/kg pakan) perlakuan dan 3 ulangan, sehingga terdapat 12 unit percobaan. Variabel bebas adalah level suplementasi S. platensis dan variabel terikat adalah konsumsi oksigen dan kadar hemoglobin. Parameter yang diamati adalah konsumsi oksigen dan kadar hemoglobin ikan gurami (O. gouramy). Pengukuran konsumsi oksigen dan kadar hemoglobin ikan gurami dilakukan setiap 4 minggu selama 2 bulan. Konsumsi oksigen diukur setiap jam berturut-turut hingga jam ke-3 setelah diberi pemberian pakan dan 24 jam setelah pemberian pakan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA pada tingkat kesalahan 5%, hasil yang berbeda nyata, dilanjutkan dengan uji BNT pada tingkat kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan konsumsi oksigen signifikan pada perlakuan 4g/kg pakan pada pengukuran jam ke-3. Konsumsi oksigen hari ke-28 berkisar antara 0,13 - 0,253 mg/g/jam pada jam ke-1, 0,12 -0,2 mg/g/jam pada jam ke-2 dan 0,07 -0.33 mg/g/jam pada jam ke-3 setelah pemberian pakan, pada hari ke-56 konsumsi oksigen berkisar antara 0,067 -0,21 mg/g/jam pada jam-ke1, 0,15 -0,195 mg/g/jam pada jam ke-2 dan 0,097 -0,21 mg/g/jam pada jam ke-3 setelah pemberian pakan. Konsumsi oksigen 24 jam setelah makan tidak berbeda secara signifikan. Hasil rata-rata pengukuran konsumsi oksigen 24 jam setelah diberi pakan pada hari ke-28 0.093 mg/g/jam ada perlakuan kontrol, 0.099 mg/g/jam pada perlakuan P2, 0.103 mg/g/jam pada perlakuan 4 g/kg pakan dan 0.100 mg/g/jam pada perlakuan 6 g/kg pakan. Hasil pengukuran konsumsi oksigen pada hari ke-56 adalah 0.117 mg/g/jam pada perlakuan kontrol, 0,083 pada perlakuan 2 g/kg pakan, 0,113 mg/g/jam pada perlakuan 4 g/kg pakan dan 0,101 mg/g/jam pada perlakuan 6 g/kg pakan. Pengukuran kadar Hb memberikan hasil yang signifikan pada perlakuan P3 menunjukkan nilai tertinggi (7,6 g/dl). Perbedaan level suplementasi Spirulina platensis dapat meningkatkan hemoglobin ikan gurami akan tetapi tidak dapat meningkatkan konsumsi oksigen. | Osphronemus gouramy has a high economic value but has slow growth rate, therefore it is necessary for high nutritional food to enhance the metabolic processes for better growth. Spirulina platenis has a high protein content and phycocyanin were able to increase hemoglobin that used for metabolic processes. This study aimed to determine the oxygen consumption and hemoglobin of carp after supplementation fed with S.platensis and know the best level to increasing them. The research conducted in experimental stations D-III Faculty of Biology, University of Jenderal Sudirman using completely randomized design with 4 treatments and 3 replicates. Parameters measured were oxygen consumption and hemoglobin, measurement every 4 weeks for 2 months. Data were analyzed using ANOVA at an error rate of 5%. The results obtained are giving Supplementation S.platensis only significant effect on the consumption of oxygen for the treatment of 2g/kg of food on measurements hour to 3 hours after feeding with an average value of 0.207 mg / g / h. oxygen consumption in day-28 showed result 0,13 - 0,253 mg/g/hour on first hour, 0,12 -0,2 mg/g/hour on second hour, 0,07 -0.33 mg/g/hour on third hour, in day-56 showed result 0,067 -0,21 mg/g/hour on first hour, 0,15 -0,195 mg/g/hour on second hour and 0,097 -0,21 mg/g/hour on third hour. 24 oxygen consumption after a meal also did not differ significantly, In day-28 showed average result for control 0.093 mg/g/hour, 0.099 mg/g/hour on traetment 2 g/kg of food, 0.103 mg/g/hour on treatment 4 g/kg food dan 0.100 mg/g/hour on treatment 6 g/kg of food, in day-56 showed result 0.117 mg/g/hour on control, 0,083 mg/g/hour on traetment 2 g/kg of food, 0,113 mg/g/hour on treatment 4 g/kg of food dan 0,101 mg/g/hour on treatment 6 g/kg of food. measurement of hemoglobin concentration to yield significant results in the treatment of P3 showed the highest value (7.6 g / dl). S. platensis supplementation increasing hemoglobin of Carp but not increasing oxygen consumption. | |
| 5403 | 15202 | B1J012126 | KERAGAMAN SERANGGA PENYERBUK PADA TANAMAN CAISIN (Brassica rapa) DI DESA SERANG, PURBALINGGA | Serangga merupakan salah satu bagian yang tak dapat dipisahkan dari sebuah komunitas dalam ekosistem. Perannya dalam ekosistem membuatnya menjadi penting untuk dijaga tetap seimbang, termasuk juga serangga penyerbuk (polinator). Penyerbukan merukapan proses ekologis yang mendasar untuk pemeliharaan kelangsungan hidup dan keragaman tanaman berbunga serta menyediakan jasa ekosistem, yang merupakan syarat terjadinya proses pembuahan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keragaman, populasi dan kelimpahan serangga penyerbuk pada tanaman Caisin (Brassica rapa) dan mengetahui dominasi spesies serangga penyerbuk tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survey dengan teknik sampling simple random sampling di Desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga. Serangga di koleksi dengan menggunakan kite netting. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah jenis serangga penyerbuk, jumlah individu (populasi) pada setiap jenis serangga penyerbuk. Selanjutnya sample yang didapat kemudian dihitung dan dianalisis dengan menggunakan Indeks Shannon-Wiener, Indeks Shanon-Evennes, Indeks Dominasi dan dianalisis dengan menggunakan software BDPro. Hasil Penelitian didapatkan 285 individu dari 3 lahan yang diamati dan diperoleh 6 spesies serangga yang terdiri dari Lasioglossum malachurum, Apis cerana, Rhynchium haemorrhoidale, Syrphus torvus, Musca domestica dan Chrysolina polita. Spesies yang mendominasi pada tanaman Caisin adalah Lasioglossum malachurum (37%) dan Apis cerana (35%). | Insects are one part that cannot be separated from a community in the ecosystem. Itrole in the ecosystem makes it essential to be kept in balance, as well as insects pollinators (pollinators). Pollination is fundamental ecological processes for the maintenance of the viability and diversity of flowering plants and providing ecosystem services, that necessary for a process of fertilization. The purpose of this study is to determine the diversity, population and abundance of pollinating insects on plants caisin (B. rapa) and define the dominance of species of insect pollinators. This research was conducted using a survey method with simple random sampling technique sampling in the Serang village of Kutareja district, Purbalingga. The insects were collected by kite netting. The observed parameters in this study are a type of insect pollinators, the number of individuals (population) on every kind of insect pollinators. Furthermore, the samples were obtained then calculated and analyzed using the Shannon-Wiener index, Shannon index-Evenness, Dominance Index and analyzed using software BDPro. Results found 285 individuals from three land observed and found six species of insects that consists of Lasioglossum malachurum, Apis cerana, Rhynchium haemorrhoidale, Syrphus torvus, Musca domestica and Chrysolina polita. Species that dominate the caisin plant is Lasioglossum malachurum (37%) and Apis cerana (35%). | |
| 5404 | 15203 | B1J012029 | PERBEDAAN LEVEL SUPLEMENTASI Spirulina platensis TERHADAP PROFIL DARAH IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy Lac) | Ikan gurami (Ospronemus gouramy Lac) merupakan salah satu jenis ikan konsumsi yang cukup populer di Indonesia. Secara komersial ikan gurami termasuk ikan air tawar yang memiliki nilai jual tinggi dan semakin hari tingkat konsumsi ikan gurami menunjukkan peningkatan. Permasalahan yang sering timbul dalam budidaya ikan gurami adalah laju pertumbuhan lambat dan mudah terserang penyakit. Solusi untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan pemberian imunostimulan. Spirulina platensis adalah ganggang hijau-biru yang sering kali ditemukan pada air payau yang bersifat alkalis. Spirulina platenis diduga dapat membantu sistem imun dalam melawan penyakit sehingga sering dijadikan sebagai pakan tambahan untuk ikan. Ikan yang terserang penyakit terjadi perubahan nilai hematokrit, kadar hemoglobin, jumlah eritrosit dan jumlah leukosit. Pemeriksaan darah (hematologis) dapat digunakan sebagai indikator kesehatan suatu individu (imunitas). Profil darah pada ikan merupakan kriteria penting untuk diagnosis dan penentuan kesehatan ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi perbedaan level pakan pelet dengan pakan yang disuplementasi Spirulina platensis terhadap profil darah ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac) dan mendapatkan level suplementasi Spirulina platensisyang terbaik dalam meningkatkan profil darah ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac). Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan, sehingga terdapat 12 unit percobaan. Variabel bebas adalah pemberian pelet dengan suplementasi Spirulina platensisdan variabel terikat adalah profil darah ikan serta waktu pengamatan sebagai kelompok. Parameter yang diamati adalah jumlah eritrosit (sel/mm3), kadar hemoglobin (g/dL), jumlah leukosit (sel/mm3), dan nilai hematokrit (%) darah ikan gurami (O.gouramy Lac). Perlakuan yang dicobakan adalah A: pelet komersial sebagai kontrol, B : pelet komersial disuplementasiSpirulina platensis 2 g/kg pakan, C : pelet komersial disuplementasiSpirulina platensis 4 g/kg pakan, D: pelet komersial disuplementasiSpirulina platensis 6 g/kg pakan.Pengambilan data jumlah eritrosit, jumlah leukosit, kadar hemoglobin, dan nilai hematokrit ikan gurami dilakukan selama 56 hari dengan interval waktu 2 minggu sekali. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA pada tingkat kesalahan 5%. Apabila terdapat perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil yang diperoleh adalah suplementasiSpirulina platensis pada perlakuan B, C, dan D memberikan peningkatan pada jumlah eritrosit, jumlah leukosit, kadar hemoglobin, dan nilai hematokrit ikan gurami (O.gouramy).SuplementasiS.platensis dibandingkan dengan kontrolmemberikan nilai yang paling tinggi untuk setiap parameter pada perlakuan B,C, dan D dengan interval pemberian setiap hari. Perlakuan C yaitu suplementasi S.platensis level 4 g/kg pakanpaling efektif untuk meningkatkan kekebalan tubuh ikan yang ditandai dengan adanya peningkatan eritrosit, leukosit, hemoglobin dan hematokrit ikan gurami. Kata kunci:Osphronemus gouramy, Spirulina platensis, profil darah, imunostimulan. | Gourami (Osphronemus gouramy Lac) is one type of fish consumption are quite popular in Indonesia. Commercially carp including freshwater fish that have high sales value and the more the level of consumption of carp showed an increase. Problems often arise in the cultivation of carp is the growth rate is slow and susceptible to disease. The solution to overcome this is by giving imunostimulan.Spirulina platensis is a blue-green algae are often found in brackish water that is alkaline. Spirulina platenis presumed to help the immune system to fight the disease that is often used as a feed supplement for fish. Diseased fish changes in hematocrit, hemoglobin concentration, number of erythrocyte and leukocyte counts. Blood tests (hematologic) can be used as an indicator of the severity of an illness. Blood profile in fish are important criteria for the diagnosis and determine the health of the fish. The purpose of this study was to evaluate differences in the level of feed pellet feed supplemented with Spirulina platensis against blood profile gourami (Osphronemus gouramy Lac) and Spirulina platensis get supplementation level best in improving blood profile gourami (Osphronemus gouramy Lac). Research carried out by an experimental method with Randomized Design (RBD), which consists of 4 treatments and 3 replications., So there are 12 experimental units. The independent variable is the provision pellets supplemented Spirulina platensis and the dependent variable is the profile of fish blood and observation time as a group. The parameters measured were the number of red cells (cells / mm3), hemoglobin (g / dL), leukocyte count (cells / mm3), and hematocrit values (%) of blood gourami (O.gouramy Lac). The treatments were A: pellets commercially as a control, B: pellets commercially supplemented Spirulina platensis 2 g / kg of feed, C: pellets commercially supplemented Spirulina platensis 4 g / kg of feed, D: pellets commercially supplemented Spirulina platensis 6 g / kg of feed. Capturing data on the number of erythrocyte, leukocyte count, hemoglobin level, and hematocrit values carp conducted for 56 days of 2 weeks. Data were analyzed using ANOVA at an error rate of 5%. The results obtained are Spirulina platensis supplementation in treatment B, C, and D provide an increase in the number of erythrocyte, leukocyte count, hemoglobin level, and hematocrit values gourami (O.gouramy Lac) .Suplementasi S.platensis compared with controls provide the highest value for each parameter in treatment B, C, and D with the interval giving every day. Treatment C is supplemented S.platensis level 4 g / kg of feed most effective way to boost immunity of fish characterized by an increase in erythrocytes, leukocytes, hemoglobin and hematocrit carp. Keywords: Osphronemus gouramy, Spirulina platensis, blood profile, immunostimulant. | |
| 5405 | 15365 | A1M012001 | PENGARUH PENAMBAHAN MALTODEKSTRIN DAN METODE PENGERINGAN TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA DAN SENSORI GULA KELAPA KRISTAL DIPERKAYA DENGAN MINYAK SAWIT MERAH1 | Penggunaan minyak sawit merah dalam tahap defoaming dalam pembuatan gula kelapa kristal akan dapat meningkatkan nilai kompetitif produk. Penambahan maltodekstrin dan penggunaan metode pengeringan yang berbeda akan berpengaruh terhadap sifat fisik, kimia, dan sensori gula kelapa kristal. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh penggunaan maltodekstrin dan metode pengeringan terhadap karakteristik fisikokimia dan sensori gula kelapa kristal yang diperkaya minyak sawit merah. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktor yang dikaji yaitu penambahan maltodekstrin (0%, 0,2%, 0,4%) dan metode pengeringan dengan (oven, sinar matahari, dan efek rumah kaca) dengan ulangan sebanyak 3 kali. Hasil kombinasi terbaik yaitu perlakuan metode pengeringan oven tanpa penambahan maltodekstrin yang menghasilkan karakteristik yaitu : nilai kecerahan (L) 30,12, kadar air 3,93%, densitas kamba 0,58 (g/ml), gula reduksi 5,67%, kadar lemak 1,62%, dan FFA 0,05%, aroma 2,85 (harum), tekstur 3,32 (halus), rasa 2,96 (manis), bau minyak sawit merah 1,97 (agak kuat), flavor 3 (enak), kesukaan 3,07 (suka) serta kadar β-karoten 365,21 µg/100 g. | The use of red palm oil in defoaming of the procedure for making granulated coconut sugar will be able to enhance the competitive value of the product. The addition of maltodextrin and the application of dryer methods will influence the physical, chemical, and sensory characteristics of granulated coconut sugar. This study aims to know the effect of the use of maltodextrin and drying methods on physicochemical and sensory characteristics of granulated coconut sugar enriched red palm oil. This study uses a randomized block design (RAK). Factors to be examined is the addition of maltodextrin (0%, 0,2%, 0,4%) and the drying method (oven, sunlight, and the greenhouse effect) with repeat 3 times. The result showed that the combination of oven dryer method without the addition of maltodextrin is the best combination of treatment that produces the granulated coconut sugar with physico-chemical and sensory characteristics : the brightness value (L) 30.12, 3.93% moisture content, density of Kamba 0.58 (g / ml), reducing sugar 5, 67%, fat content 1.62%, and 0.05% FFA, 2,85 aroma (fragrant), 3.32 texture (smooth), 2.96 flavor (sweet), red palm oil smell of 1.97 (rather stronger), flavor 3 (tasty), overall preferrence by panelis 3.07 (like) and also has β-carotene content 365.21 mg / 100 g. | |
| 5406 | 15207 | H1L012011 | PENGEMBANGAN GAME ANDROID “FUN PAINTBALL” MENGGUNAKAN UNITY3D DAN GOOGLE PLAY SERVICE | Perkembangan game telah berkembang dengan pesat. Platform game telah tersedia untuk berbagai varian. Platform game yang awalnya tersedia untuk console, sekarang sudah banyak beralih ke platform mobile. Unity adalah game engine yang dapat membantu developer dalam mengembangkan game untuk berbagai platform. Google Play Service adalah layanan yang digunakan untuk membuat game yang dapat dimainkan oleh banyak pemain. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sebuah game yang dapat dimainkan oleh singleplayer maupun multiplayer dengan judul Fun Paintball menggunakan unity dan Google Play Service. Layanan Google Play Service yang digunakan adalah Leaderboard dan Real Time Multiplayer. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan Google Play Service permainan multiplayer dapat dimulai dengan waktu koneksi rata-rata 20.45 detik. | The development of game has been growing fast. There are many variants of game platforms. In the past, game platforms are just available for console, but now it starts turning to mobile platforms. Unity is a game engine that can help developers in developing games for various platforms. Google Play Service is a service that is used to make games that can be played by many players. The purpose of this research is to develop a game the that can be played by singleplayer or multiplayer with Fun Paintball using unity and Google Play Service. The feature of Google Play Services that used are Leaderboard and Real Time Multiplayer. The result of this research shows that by using Google Play Service, multiplayer games can be started with average connection time 20.45 seconds. | |
| 5407 | 15206 | B1J012148 | VARIASI GENETIK IKAN KERAPU SUNU (Plectropomus leopardus Lac.) DI PULAU JANGANG-JANGANGANG BERDASARKAN ANALISIS SEKUEN PARSIAL GEN SITOKROM C OKSIDASE I (COI) | Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi sumber daya kelautan yang sangat besar, salah satunya ikan kerapu sunu (Plectropomus leopardus). Minat masyarakat pada ikan kerapu sunu meningkat sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ikan kerapu sunu dapat ditemukan di perairan Sulawesi Selatan termasuk di Pulau Jangang-jangangang Kepulauan Spermonde. Penangkapan ikan kerapu sunu di Kepulauan Spermonde menggunakan bom diketahui mencapai 70% dan bius mencapai 26%. Metode penangkapan tersebut dapat menganacam kelestarian sumberdaya ikan kerapu sunu di pulau tersebut. Oleh karena itu, upaya konservasi diperlukan untuk mencegah kelangkaan ikan kerapu sunu, yaitu melalui data tingkat variasi intrapopulasi ikan kerapu sunu di Pulang Jangang-jangangang Data tingkat variasi dapat diperoleh melalui studi variasi genetik menggunakan karakter molekuler seperti gen sitokrom C oksidase I (COI). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data tingkat keragaman haplotipe/gen, keragaman nukleotida, dan polimorfisme pada populasi ikan kerapu sunu di Pulau Jangang-jangangang berdasarkan analisis sekuen parsial gen COI. Sampel ikan kerapu sunu yang digunakan dalam penelitian ini merupakan koleksi laboratorium Taksonomi Hewan yang diambil secara insidental sampling. Tahap penelitian ini diawali dengan melakukan ekstraksi DNA sampel dari sirip ikan, amplifikasi fragmen gen COI mtDNA ikan, elektroforesis gel agarosa, DNA sekuensing, pengeditan sekuen menggunakan Bio-Edit dan pendokumentasian. Keragaman genetik ikan kerapu sunu diduga berdasarkan polimorfime gen COI, keragaman haplotipe, dan keragaman nukleotida yang diperoleh dari analisis secara statistik menggunakan AMOVA dengan bantuan software Arlequin. Analisis dengan model K2P menunjukkan bahwa populasi ikan kerapu sunu tersebut memiliki nilai keragaman haplotipe (h) cukup tinggi yaitu sebesar 0,7000 +/- 0,2184 dan nilai keragaman nukleotida (π) rendah yaitu sebesar 0,46% +/- 0,33%. Analisis polimorfisme menunjukkan populasi ikan kerapu sunu tersebut memiliki polimorfisme rendah atau cenderung monomorfik karena presentase situs polimorfik sebesar 1,06%. | Indonesia is a country which has very large potential of marine resources, one of them is coral trout grouper (Plectropomus leopardus). Public interest in coral trout grouper increased in line with increased prosperity in both developed countries and emerging countries. Coral trout grouper are found in the waters of South Sulawesi, including the Jangangang-jangang Island, Spermonde Islands. It is known that the way fishermen in the Spermonde Islands using bombs reaches 70% and pushers reached 26%. Therefore, conservation efforts are needed to prevent the scarcity of coral trout grouper. The data rate of coral trout grouper intrapopulasi variation in jangang-jangangang Island required in conservation efforts that fish. Data rate variation can be obtained through the study of genetic variation using molecular characters like genes cytochrome c oxidase I (COI). This study aims to get the data rate haplotype/gene diversity, nucleotide diversity, and polymorphisms in the population on the island of coral trout grouper Jangang-jangangang based sequence analysis of partial gene COI. Samples of coral trout grouper is a collection of Animal Taxonomy laboratory drawn at incidental sampling. This study begins with the extraction of DNA samples from fish fins, mtDNA COI gene fragment amplified fish, agarose gel electrophoresis, DNA sequencing, editing sequences using Bio-Edit and documentation. The genetic diversity of sequences that have been edited and analyzed statistically using analysis of molecular variance (AMOVA) with help of software Arlequin. K2P analysis model showed that the coral trout grouper populations were of the haplotype diversity (h) high at 0.7000 +/- 0.2184 and the value of nucleotide diversity (π) low at 0,46% +/- 0,33%, Polymorphism analysis showed that coral trout grouper populations are monomorphic with a percentage of 1.06% polymorphic site. | |
| 5408 | 15208 | B1J012133 | ANALISIS ISI LAMBUNG IKAN BETUTU (Oxyeleotris marmorata) YANG TERTANGKAP DI WADUK PENJALIN | Ikan betutu merupakan salah satu ikan liar yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Ikan betutu termasuk dalam familia Gobiodea tersebar luas di perairan tawar yang berarus tenang dengan dasar lumpur seperti rawa, danau, muara sungai dan waduk. Salah satu waduk yang menjadi habitat dari ikan betutu adalah Waduk Penjalin. Waduk Penjalin terletak di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tingkat budidaya ikan betutu di Waduk Penjalin masih rendah, pada saat ini ikan betutu lebih banyak didapatkan dari tangkapan nelayan. Hal ini diduga disebabkan oleh pertumbuhan ikan betutu yang lambat sehingga menjadi kendala dalam budidaya ikan betutu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi isi lambung ikan betutu (Oxyeleotris marmorata) yang tertangkap di Waduk Penjalin, mengetahui pakan alami yang disukai oleh ikan betutu yang tertangkap di Waduk Penjalin dan mengetahui jenis pakan alami yang menjadi pakan utama ikan betutu (Oxyeleotris marmorata) di Waduk Penjalin. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Sampel yang diambil yaitu sampel air, plankton dan ikan betutu. Ikan yang digunakan terbagi menjadi 2 kelompok berdasarkan ukuran yaitu ≤ 20 cm dan ≥ 20 cm. Data parameter fisika dan kimia perairan dianalisis secara deskriptif. Data plankton di perairan dan di lambung ikan betutu dianalisis menggunakan indeks pilihan (electivity index) dan Index of preponderance. Hasil penelitian diperoleh berdasarkan nilai electivity index yaitu Jenis plankton yang disukai oleh ikan betutu ukuran ≤ 20 cm adalah Cyclotella sp., Melosira sp., Navicula placentullas, Navicula protractoides, Chlamydocapsa sp., Chlorella sp., Closteridium sp., Gonatozygon sp., Neprocytium sp., Scenedesmus sp., Schizochlamys gelatin, Aphanothece sp., Bosmina sp. dan Batrachospermum sp.. Jenis plankton yang disukai oleh ikan betutu ukuran ≥ 20 cm adalah Melosira sp., Neprocytium sp., Stigeoclonium sp., Tribonema sp. dan Rivularia sp.. Berdasarkan hasil analisis Index of preponderance komposisi isi lambung ikan betutu ukuran ≤ 20 cm yaitu fitoplankton, detritus dan zooplankton sedangkan komposisi isi lambung ikan betutu ukuran ≥ 20 yaitu fitoplankton, detritus dan ikan kecil. Jenis pakan utama yang dikonsumsi ikan betutu ukuran ≤ 20 dan ≥ 20 cm adalah fitoplankton. | Betutu fish is one of fish with high economic value that found in the Penjalin reservoir. The aims of this research are to know determine the composition of stomach contents of fish betutu (Oxyeleotris marmorata) are caught in the Penjalin reservoir, knowing the natural food preferred by fish betutu caught in Penjalin reservoir and to know the natural main foods of betutu fish (Oxyeleotris marmorata) in Penjalin reservoir. The method used was a survey method. Samples was taken is water sample, plankton and betutu fish. The fish used are divided into 2 groups based on size (≤ 20 and ≥20 cm). Physical and chemical parameters were analyzed descriptively. Food preferances were analyed by Electivity index and natural main foods were analyed by Index of preponderance. Based on electivity index that betutu fish size ≤ 20 cm selected to Cyclotella sp., Melosira sp., Navicula placentullas, Navicula protractoides, Chlamydocapsa sp., Chlorella sp., Closteridium sp., Gonatozygon sp., Neprocytium sp., Scenedesmus sp., Schizochlamys gelatin, Aphanothece sp., Bosmina sp. and Batrachospermum sp.. Betutu fish with size ≥ 20 cm selected to Melosira sp., Neprocytium sp., Stigeoclonium sp., Tribonema sp. and Rivularia sp.. Based on index of preponderance, composition of stomach contents of betutu fish with size ≤ 20 cm is phytoplankton followed zooplankton and detritus while composition of stomach contents betutu fish with size ≥ 20 is phytoplankton followed detritus and small fish. The natural main food betutu fish with size ≤ 20 and ≥ 20 cm is phytoplankton. | |
| 5409 | 15210 | F1A012003 | “OEMAH BEJO” (STUDI MENGENAI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM PENDIDIKAN NON FORMAL DI DESA RANDEGAN, WANGON) | Skripsi dengan judul “Oemah Bejo” (Studi Mengenai Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Pendidikan Non Formal di Desa Randegan, Wangon) adalah penelitian tentang peran yang dijalankan oleh lembaga pendidikan non formal “Oemah Bejo” serta kendala yang dialami untuk pemberdayaan masyarakat di desa Randegan, Wangon. Penelitian bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran program pendidikan non formal “Oemah Bejo” untuk pemberdayaan masyarakat serta kendala yang dihadapi “Oemah Bejo” dalam pelaksanaan pemberdayaan masyarakat di desa Randegan, Wangon. Sasaran dalam penelitian ini adalah pengurus yang tergabung di “Oemah Bejo” karena tanggungjawab Oemah Bejo berada pada pengurus-pengurusnya. Didukung dengan sumber keterangan dari masyarakat yang mengikuti program di “Oemah Bejo”. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan teknik purposive sampling dalam menentukan informannya. Proses pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Metode analisis kualitatif pada penelitian ini mengacu pada model analisis interaktif milik Miles and Huberman. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa lembaga pendidikan non formal Oemah Bejo memberikan peran kepada pemberdayaan untuk masyarakat melalui program-program yang dijalankannya. Program tersebut meliputi pemberdayaan bidang pendidikan, bidang kebudayaan, bidang lingkungan, bidang ekonomi, dan bidang tambahan. Namun dalam proses pemberdayaan masyarakat di Oemah Bejo ada kendala yang meliputi kendala saat perencanaan program yang meliputi pada terbatasnya kemampuan tutor, pendanaan, dan kurangnya kepedulian sosial dari aparat pemerintah desa. Sedangkan pada saat pelaksanaan kegiatan program pemberdayaan memiliki kendala pada minat belajar anak pada bidang pendidikan, minat latihan ibu-ibu pada bidang kebudayaan, dan berhentinya program usaha kecil pada bidang ekonomi. Kata Kunci : pendidikan non formal, pemberdayaan masyarakat. | The research entitle "Oemah Bejo" (The Study of Community Empowerment through Non formal Education in Randegan village, Wangon) is the study about the role of "Oemah Bejo", the non-formal education institution, as well as the constraints that are faced by them in empowering the people in the Randegan village, Wangon , The purpose of this study is to determine the role of non-formal education program "Oemah Bejo" for community development and to know the obstacles that is faced by "Oemah Bejo" in community empowerment in Randegan, Wangon. The object of this research is the organizer of "Oemah Bejo" because the responsibility of Oemah Bejo are in the organizer. It was also supported by the information from the community that were took part in the program of "Oemah Bejo". This is descriptive qualitative research that used purposive sampling technique in determining the informant. The process of data collection were done by in-depth interviews, observation, and documentation. The qualitative analysis method in this research refers to an interactive model belongs to Miles and Huberman.The result showed that the non-formal education institution Oemah Bejo empower the communities with their programs. The program includes the empowerment of education, the field of culture, the environment, economics, and additional fields. However in the process of community empowerment in Oemah Bejo, there were constraints: when planning programs that include the limited capacity of tutor, funding, and lack of social concern of village officials. While in the implementation of empowerment programs, the constraints were on the child's interest in learning, training interests of mothers in the field of culture, and the cessation of the small business program on the economy. Keywords: non-formal education, community empowerment. | |
| 5410 | 15214 | A1H011056 | DINAMIKA AIR DAN NUTRISI TANAH PADA DEMPLOT TUMPANG SARI KENTANG DAN TEH DENGAN SISTEM GULUDAN HORIZONTAL SERTA VARIASI JENIS PUPUK DAN MULSA | Di Indonesia kentang pada umumnya dibudidayakan di dataran tinggi secara konvensional seperti penggunaan sistem guludan vertikal dan penggunaan pupuk/pestisida kimia yang dapat berdampak negatif pada kelestarian lingkungan. Budidaya kentang secara konvensional menyebabkan erosi yang tidak terkendalikan. Penerapan sistem guludan horizontal pada budidaya kentang terbukti cukup efektif mengendalikan erosi, namun belum optimal meningkatkan produktifitas tanaman terutama pada musim hujan akibat kondisi lewat jenuh air pada guludan. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan sistem guludan horizontal yang dipadukan dengan sistem penanaman tumpang sari, guna meningkatkan keefektifan guludan horizontal dalam menunjang produktivitas kentang maupun upaya konservasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika air dan nutrisi tanah pada demplot tumpang sari tanaman kentang atlantik dan teh dengan sistem guludan horizontal serta variasi jenis pupuk dan mulsa. Penelitian ini dilakukan di demplot tumpang sari tanaman kentang dan teh yang berlokasi di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, serta di Laboratorium Tanah dan Sumberdaya Lahan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan 2 faktor perlakuan, yaitu jenis pupuk (organik dan kimia) dan mulsa (mulsa plastik, mulsa jerami dan tanpa mulsa). Jadi terdapat 6 kombinasi perlakuan yaitu: mulsa plastik pupuk organik (MPPO), mulsa jerami pupuk organik (MJPO), tanpa mulsa pupuk organik (TMPO), mulsa plastik pupuk kimia (MPPK), mulsa jerami pupuk kimia (MJPK), dan tanpa mulsa pupuk kimia (TMPK). Keseluruhan data diambil secara destruktif, dianalisis dengan metode neraca kesetimbangan materi (material balance), serta ditampilkan dalam bentuk grafis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika air yang diwakili oleh Run-off dan perkolasi pada perlakuan MPPO, MJPO, TMPO, MPPK, MJPK dan TMPK berturut-turut yaitu: 16,88; 21,74; 30,38; 17,03; 23,39; 24,34 mm untuk Run-off dan 133,76; 128,89; 120,26; 133,60; 127,24; 126,30 mm untuk perkolasi. Dinamika nutrisi yang diwakili oleh Run-off/perkolasi dan serapan nutrisi tanaman. Run-off/perkolasi pada perlakuan yang sama berturut-turut yaitu 320,29; 313,63; 327,84; 296,15; 342,60 dan 299,80 kg/ha untuk N dan 950,01; 953,44; 940,56; 894,95; 849,23; dan 895,79 kg/ha untuk P. Serapan N tanaman pada perlakuan yang sama berturut-turut yaitu 103,5; 110,16; 95,95; 128,86; 82,40 dan 125,20 kg/ha dan serapan nutrisi P tanaman berturut-turut yaitu 37,6; 33,64; 46,52; 45,34; 91,05 dan 44,50 kg/ha. Dari hasil tersebut, kombinasi penggunaan mulsa dan pupuk yang tepat adalah kombinasi mulsa plastik pupuk kimia. | In Indonesia, potato crop is commonly cultivated at highlands with conventional method, for instance, by using the vertical ridge system and chemical fertilizer/pestiside, which in turn might have negative impact to environmental sustainability. More specifically, the method might cause severe and uncontrollable erosion. On the other hand, the application of the horizontal ridge system in potato crop cultivation has been proven be effective to control erosion, but it has been yet ineffective to enhance the productivity, especially in rainy season, due to waterlogged condition. Therefore, it is necessary to further develop the horizontal ridge system to be combined with intercropping system to improve the effectiveness to maintain the productivity as well as the environmental conservation. This research was aimed to determine soil water and nutrients dynamics on the potato and tea intercropping plots under horizontal ridge system with various type of fertilizer and mulches. The research was conducted in the potato and tea intercropping plots located in Pandansari village, Paguyangan district, Brebes regency, and in Laboratory of Soil and Land Resources, Jenderal Soedirman University, Purwokerto, Central Java province. The experiment was performed using two treated factors, namely fertilizer (organic and chemical fertilizer) and mulch (plastic, rice-straw, and no-mulch), thus there were totally six treated factor combinations, namely: plastic mulch with organic fertilizer (MPPO), rice-straw mulch with organic fertilizer (MJPO), no-mulch with organic fertilizer (TMPO), plastic mulch with chemical fertilizer (MPPK), rice-straw mulch with chemical fertilizer (MJPK), and no-mulch with chemical fertilizer (TMPK). The entire data were collected destructively, analyzed using material balance method, and presented graphically. The results showed that water dynamics represented by Run-off and percolation of MPPO treatment , MJPO , TMPO , MPPK , MJPK and Show at startup consecutively: 16.88; 21.74; 30.38; 17.03; 23.39 and 24.34 mm for Run-off and 133.76; 128.89; 120.26; 133.60; 127.24 and 126.30 mm for percolation. Nutrient dynamics represented by Run-off/percolation and plant nutrient uptake. Run-off/percolation on equal treatment consecutively 320,29; 313,63; 327,84; 296,15; 342,60 and 299,80 kg/ha of N and 950,01; 953,44; 940,56; 894,95; 849,23; and 895,79 kg/ha for P. Uptake N plants in the same treatment consecutively 103,5; 110,16; 95,95; 128,86; 82,40 dan 125,20 kg/ha and P plant nutrient uptake respectively are 37,6; 33,64; 46,52; 45,34; 91,05 dan 44,50 kg/ha The combination of plastic mulch with chemical fertilizer was most effective in maintaining water and nutrients dynamics among others. | |
| 5411 | 15215 | A1H012006 | Pengaruh Warna Kemasan Terhadap Kualitas Bengkuang (Phachyyrhizus erosus) Selama Penyimpanan Dengan Menggunakan Kertas Wajik | Tanaman bengkuang (Pachyrrhizus erosus) dikenal baik oleh masyarakat karena merupakan tanaman yang tidak bermusim dan mudah dicari dengan harga yang terjangkau. Bengkuang jenis gajah banyak ditanam di Indonesia dikarenakan umur tanamnya yang singkat yaitu 4 bulan. Bengkuang sebagai komoditas holtikultura, pada umumnya memiliki sifat mudah rusak karena mengandung banyak air dan setelah dipanen komoditas ini masih mengalami proses hidup. Bengkuang harus mendapatkan teknologi pascapanen yang tepat agar dapat mempertahankan kesegaran sekaligus umur simpannya dapat bertahan lama. Warna merupakan salah satu parameter mutu buah paling penting bagi konsumen, untuk itu warna bengkuang perlu dipertahankan salah satunya dengan cara pengemasan. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui pengaruh warna kemasan terhadap kualitas bengkuang dalam mempertahankan warna, kadar air, kadar brix, kekerasan, dan vitamin C selama penyimpanan, dan 2) Mengetahui warna kemasan terbaik untuk mempertahankan kualitas bengkuang selama penyimpanan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan, Jurusan Teknologi Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penyimpanan dilakukan selama 10 hari dengan suhu ruang dan kelembaban relatif berkisar 74-84%. Perlakuan yang digunakan yaitu mengemas bengkuang menggunakan kertas wajik 2 lapis dengan kemasan warna merah (P1), kemasan kuning (P2), kemasan hijau (P3), kemasan biru (P4), dan tanpa kemasan (P0) masing-masing perlakuan dilakukan 3 kali ulangan. Variabel yang diukur adalah warna, kadar air, kekerasan, kadar brix dan kandungan vitamin C, serta variabel lain yaitu suhu dan kelembaban relatif udara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kinetika perubahan mutu dan data dianalisis menggunakan persamaan kinetika reaksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bengkuang yang dikemas dengan kemasan warna merah dua lapis (P1) dapat mempertahankan kualitas bengkuang | Bengkuang plants(Pachyrrhizus erosus) is well known in society because it is a plants that are not in season and easy to find with an affordable price. Elephant bengkuang grown in Indonesia because of short cropping age that is four month. In general, as horticultural commodities, Bengkuang is easily broken because it contains a lot of water and after harvested this commodities is still have the process of life. Bengkuang should get proper post-harvest technology in order to maintain the freshness and also the shelf life can last a long. Color is one of the most important parameters of fruit quality for consumers, because of that, Bengkuang’s color should be maintained on of them is the use of packaging. This study were aimend to find out: 1) the effect of color packaging toward the quality of bengkuang in maintaining the color, moisture levels, brix levels, hardness, and vitamin C during storage process, and 2)the best packaging color for maintaining the quality of bengkuang during storage process. The study conducted at the Laboratory of Food Process Engineering, Department of Algicultural Technology, JendralSudirman University, Purwokerto. The process of storage is done for 10 days at room temperature and therelative humidityranged from 74-84%. the treatment used is wrap bengkuang wajik paper two layes using red packaging (P1), yellow packaging (P2), green packaging (P3), blue packaging (P4), and without packaging (P0) ach treatment was done in 3 times. Color, moisture levels, hardness, brix levels and vitamin C are the measured variables, while the other variables are temperature and relative humidity. Method of study was kinetics of quality changes method and the data analyzed using the equations of kinetics reaction. Result of the study showed that bengkuang with red two layers packaging (P1) an maintain the quality of bengkuang such as color, moisture levels, hardness, brix levels, and vitamin C during storage. | |
| 5412 | 15197 | A1H012036 | Pengaruh Penggunaan Kemasan Berwarna Terhadap Ketahanan Mutu Buah Mangga Manalagi (Mangifera Indica L.) Selama Penyimpanan. | Buah mangga (Mangifera Indica L.) digolongkan dalam buah klimaterik, dimana akan terjadi perubahan pola respirasi yang tinggi bersamaan saat proses pemasakan. Buah mangga yang masak di pohon setelah dipetik hanya bertahan selama 3-5 hari dalam kondisi ruang. Oleh karena itu, diperlukan alternatif untuk dapat mempertahankan kesegaran buah dan meningkatkan daya simpan buah dengan menekan laju respirasi seperti penggunaan kemasan berwarna. Penggunaan kemasan pada buah bertujuan untuk mengurangi kerusakan mekanis maupun fisiologis mangga. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui pengaruh warna kemasan terhadap kualitas buah mangga manalagi dalam mempertahankan warna, kekerasan, kadar air, kadar brix, dan kandungan vitamin C selama penyimpanan. 2) Mengetahui kemasan yang sesuai untuk mempertahankan kualitas mangga manalagi selama penyimpanan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto pada bulan November 2015. Penelitian ini menggunakan metode kinetika reaksi. Sampel yang digunakan sebanyak 105 sampel. Perlakuan yang digunakan yaitu mengemas mangga manalagi dengan menggunakan kemasan yang terbuat dari kertas wajik yaitu kemasan merah dua lapis (P1T), kemasan kuning dua lapis (P2T), kemasan hijau dua lapis (P3T), kemasan biru dua lapis (P4T), dan tanpa kemasan (P0T) yang disimpan selama 10 hari pada suhu ruang. Variabel pengukuran yang diamati yaitu perubahan warna, kekerasan, kadar brix, kadar air, dan kandungan vitamin C. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis perlakuan kemasan yang sesuai untuk mempertahankan mutu buah mangga manalagi yaitu perlakuan P1T (kemasan merah dua lapis) untuk nilai L; P2T (kemasan kuning dua lapis) untuk nilai a(-) dan kadar brix; P3T (kemasan hijau dua lapis) untuk nilai b(+); serta P4T (kemasan biru dua lapis) untuk nilai kekerasan buah dan kadar air pada buah mangga manalagi. | Mangoes (Mangifera Indica l.) is classed in the klimaterik fruit, there will change a high respiration patterns together when ripening process. A ripeness of mango that had been plucked from its tree will be stand for 3-5 days in the room’s temperature. As the condition, it need to find an alternative way to ressisting a freshness of fruit and provide the longness of life’s shell those mango due to minimize the reaction because of respiration reaction by using color paper packaging. The use of packaging on fruit aims to reduce mechanical damage and physiological mango. The defect of fruit comodity could be controled by using variant way of packaging and its given protection, is determined by characteristich of material’s package and its structure of forming. This research was aimed 1) in order to know an influence a color paper’s packaging toward the quality of mango with kind of variant manalagi, due to maintaining characteristic of fruit such as color, hardness, brix’s content and amount of vitamin C for the storage.2) knowing proper packaging for maintaining quality of mango manalagi during storage. This research was carried out in the laboratory of Food Processing Engineering, Major of Agricultural Technology, Department of Agriculture, University of Jenderal Soedirman, Purwokerto in November 2015. This research using the method of kinetics reactions. The sample used 105 samples. The treatments used are packing the manalagi mango with using packaging which made from glassin paper that are two layers of red packaging (P1T), two layers of yellow packaging (P2T), two layers of green packaging (P3T), two layers of blue packaging (P4T), and without packaging (P0T) stored for 10 days at room temperature. The measurement variables observed are the change of color, hardness, levels of water content, levels of brix, and vitamin C. The research results show that the type of appropriate packaging treatment to maintain quality manalagi mango fruit are P1T treatment (two layers of Red packaging) for a value of L; P2T (two layers of yellow packing) for the value of a (-) and the levels of brix; P3T (two layers of green packaging) to the value of b (+); as well as P4T (two layers of blue packaging) for a value of fruit hardness and level of water content of fruit manalagi mango. | |
| 5413 | 15213 | A1H011039 | ANALISIS KESETIMBANGAN AIR PADA SISTEM PERTANIAN PADI KONVENSIONAL DI SOMAGEDE BANYUMAS | Air merupakan salah satu unsur yang berpengaruh penting pada pertumbuhan tanaman, terutama padi. Akan tetapi dengan tingginya laju pertumbuhan penduduk, kebutuhan akan air terus meningkat sehingga menyebabkan ketersediaan air untuk pertanian padi menjadi terancam. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya pengelolaan dan pemanfaatan air pada pertanian padi yang handal dan komprehensif. Tujuan dari penelitian ini untuk (1) mengetahui kesetimbangan air pada tanaman padi dengan menggunakan metode penanaman konvensional serta (2) mengetahui perbandingan konsumsi air terhadap produktivitas tanaman padi. Penelitian ini menggunakan metode perhitungan menggunakan Ms. Excel. Variabel yang diukur meliputi debit aliran irigasi, drainase, perkolasi, rembesan, evapotranspirasi, kadar air tanah serta kondisi cuaca dalam satu musim tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan kesetimbangan air pada satu lahan berkaitan dengan produktivitas tanaman padi ketika tanaman padi pada fase vegetatif maka nilai kesetimbangan air bergerak ke arah defisit karena membutuhkan air begitu sebaliknya bila tanaman padi mengalami fase pematangan maka nilai kesetimbangan air bergerak ke arah surplus. Produktivitas air tanaman yang memberikan nilai terbaik sebesar 2,41 kg/m3 air, dengan total irigasi sebesar 614,68 mm yang menghasilkan tinggi tanaman maksimal 452,2 mm, dengan biomassa batang maksimal 10,36 gram dan berat hasil panen 118,4 kg pada lahan seluas 0,008 hektar dalam satu musim tanam. | Water is a one of the element that has important effects in plant growth, especially the paddy. However, the high rate of population growth and the increasing water demand causes water availability for the rice farming is threatened. Therefore, it need efforts management and utilization of water in the paddy farming that are reliably and comprehensively. The purposes of this research are (1) to know about water balance in the paddy plants using conventional farming methods and (2) to find out the comparison water consumption of the productivity for the paddy plants. This research uses Ms. Excel calculation methods. The measurement variables include flow rate of irrigation and drainage, percolation, seepage, evapotranspiration, soil moisture and weather conditions in a single growing season. The results showed that water balance management in one field related to the productivity of paddy plants, in the vegetative phase, the equilibrium value of water moving toward the deficit because it requires water and if the paddy crop suffered the mature phase then equilibrium value of water moving toward surplus. Crop water productivity provides the best value of 2.41 kg/m3 water with irrigation total amounted to 614.68 mm which produces maximum plant height 452.2 mm, with a maximal biomass of 10.36 grams and harvest weight of 118.4 kg on 0.008 hectares area in a single growing season. | |
| 5414 | 15216 | B1J012127 | UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK ETIL ASETAT AKTINOMISETES ISOLAT K-2C DAN K-4B | Aktinomisetes merupakan kelompok bakteri yang bersifat Gram positif, saprofit, dan tumbuh perlahan-lahan menyerupai jamur berfilamen. Aktinomisetes mempunyai kemampuan sebagai penghasil antibiotik. Pemanfaatan mikroorganisme sebagai agen penghasil antibiotik, khususnya aktinomisetes mulai dikembangkan sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan antibiotik. Oleh karena itu eksplorasi isolat aktinomisetes potensial terus menerus dilakukan untuk mendapatkan jenis baru. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara waktu inkubasi dan senyawa antibakteri yang dihasilkan oleh isolat K-2C dan K-4B dalam menghambat bakteri patogen E. coli dan S. aureus.Mengetahui konsentrasi optimum senyawa antibakteri dari ekstrak etil asetat isolat K-2C dan K-4B terhadap bakteri patogen E. coli dan S. aureus dengan diameter zona hambat. Mengetahui nilai Rf senyawa antibakteri yang dihasilkan isolat K-2C dan K-4B. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimental dengan perlakuan yang disusun berdasarkan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RAL Faktorial). Variabel yang diamati terdiri atas variabel bebas dan variabel tergantung. Variabel bebas dari penelitian ini adalah jenis isolat bakteri dan waktu inkubasi; serta jenis ekstrak etil asetat dan konsentrasi ekstrak etil asetat sedangkan variabel tergantungnya adalah kemampuan isolat aktinomisetes dalam menghasilkan zat antibakteri. Parameter pendukung terdiri atas bobot miselium, nilai Rf dari TLC. Parameter yang utama adalah diameter zona hambat senyawa antibakteri terhadap bakteri E. coli dan S. aureus. Data hasil pengukuran aktivitas antimikroba ekstraseluler diukur dengan metode one way analysis of variance (ANOVA) menggunakan SPSS versi 16.0 Windows software. Hasil uji ANOVA yang berbeda nyata dilanjutkan dengan uji BNT 5%. Hasil penelitian ini menunjukan waktu inkubasi optimum pada isolat K-2C adalah 28 hari dan K-4B adalah 21 hari.. Konsentrasi ekstrak etil asetat tertinggi yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri E. coli dan S. aureus adalah 10.000 ppm. Nilai Rf senyawa antibakteri yang dihasilkan oleh isolat K-2C yaitu 0,625 sedangkan K-4B yaitu 0,675. | Actynomicetes are a group of gram-positive bacteria which categorized as saprofit and they resemble as filament fungi. Most of actynomicetes well known as antibiotic procedur. The usage of antibiotic based on microorganism has been developing along with the increasing needs of antibiotic. There for, exploration of potential actynomicetes was continuing to produce the new species. This research was aimed to determine the correlation between incubation time and product of antibacterial compound by K-2C and K-4B isolat within inhibits pathogen bacteria of E. coli and S. aureus; determine optimum concentration of antibacterial compound from the isolat of K-2C and K-4B ethyl acetate extract toward pathogen bacteria E. coli and S. aureus with inhibition zone diameter; determine Rf value of bacteria compound which is produced by K-2C and K-4B isolat. The method of this research is using experimental method with treatment which arrange based on complete random factorial design. The independent variables in this research are bacteria isolat type and incubation time, ethyl acetate extract type and ethyl acetate extract concentration. The dependent variables are actinomycetes isolat ability to produce antibacterial substance. The supporting parameter consist of mycelium weight and Rf value of TLC. The main parameter is inhibitor zone diameter of antibacterial compound toward E.coli and S. aureus. The result of extracellular antimicrobe activity measurement is be measured by one way analysis of variance (ANOVA) method which is using SPSS version 16.0 Windows software. The difference of ANOVA result continued with BNT 5% test. The result in this research showed that incubation time has been optimum in 28 days with K-2C isolat and 21 days with K-4B isolat. the growth of E. coli and S. aureus could be inhibit in 10.000 ppm as the highest ethyl acetate extract concentration. The Rf value of antibacterial compound which produced by K-2C isolat is 0,625, while is 0,675. | |
| 5415 | 15218 | C1A011029 | EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI TALAS DI KELURAHAN SITUGEDE KECAMATAN BOGOR BARAT KOTA BOGOR | Penelitian ini berjudul “Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi Usahatani Talas di Kelurahan Situgede Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor”. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh penggunaan faktor produksi (luas lahan, bibit, pupuk, tenaga kerja, dan pestisida) terhadap produksi Talas, menentukan skala hasil pada usahatani Talas di Kelurahan Situgede Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor, dan mengukur efisiensi penggunaan faktor produksi. Metode penelitian adalah survey. Data yang digunakan adalah primer dan sekunder dengan pengambilan sampel secara acak sederhana sebanyak 38 petani. Metode analisis yang digunakan adalah Fungsi produksi Cobb-Douglas, analisis Return to scale, Efisiensi Alokatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Variabel luas lahan, bibit, pupuk, tenaga kerja dan pestisida secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap produksi Talas, secara parsial variabel luas lahan, bibit dan pupuk berpengaruh signifikan, sedangkan variabel tenaga kerja dan pestisida tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi Talas di Kelurahan Situgede Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor. 2) Analisis return to scale seluruh variabel berada pada kaidah increasing return to scale 3) Penggunaan faktor produksi luas lahan, bibit dan pupuk di Kelurahan Situgede belum efisien. Implikasi dari penelitian ini adalah usahatani Talas di Kelurahan Situgede Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor menguntungkan dan layak untuk terus dikembangkan melalui penambahan penggunaan faktor produksi lahan, bibit dan pupuk mengingat variabel lahan, bibit dan pupuk berpengaruh signifikan terhadap produksi Talas. Selain itu dapat dilakukan dengan pemilihan bibit Talas yang berkualitas yang nantinya akan berpengaruh pada hasil produksi Talas. | The title of this research is “The Efficiency Of Utilizing production factor Farm in Situgede Village Subdistrict of Bogor Barat, Bogor City. The purpose of this research are to test the influence of production factors (consist of measurement of area, seed, manure, labor, and pesticide) towards taro production, Analyze return to scale test all variable, to measure the efficiency of utilizing production factors farm in Situgede Village Subdistrict of Bogor Barat, Bogor City. The method of this research is survey and using simple random sampling with lottery technique as many as 38 farmers. The Analyze method this research is Cobb-Douglas production function, Return to scale and Allocative efficiency. The result of this research showed if, 1) Showed the variable of measure of area, seed, manure, labor, and pesticide simultaneously has significant influence, in another hand the result showed the variable of labor and pesticide there is no significant influence towards taro production in Situgede Village Subdistrict Bogor Barat, Bogor City. 2) Analyze return to scale test all variable to increasing return to scale. 3) Allocative efficiency test, utilizing the measure of area, seed and manure in Situgede Village is inefficient The implication of this research is farm in Situgede Village Subdistrict of Bogor Barat, Bogor City still suitable to developed by increase utilizing of production factors area, seed, and manure which has significant influence. Moreover , the quality of seed will influence towards production. | |
| 5416 | 15219 | A1L012051 | APLIKASI METABOLIT SEKUNDER GABUNGAN DUA ISOLAT Pseudomonas fluorescens DAN DUA ISOLAT Trichoderma harzianum UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT KAPANG KELABU PADA STROBERI LEPAS PANEN | ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan metabolit sekunder gabungan dua isolat P. fluorescens dengan dua isolat T. harzianum dalam mengendalikan penyakit kapang kelabu (Botrytis cinerea) dan pengaruhnya terhadap mutu buah stroberi lepas panen. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, mulai dari Desember 2015 sampai Maret 2016. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap pada uji in vitro dan Rancangan Acak Kelompok pada uji in vivo dengan 5 perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan terdiri atas kontrol, gabungan metabolit sekunder T. harzianum isolate jahe dan P. fluorescens P32, metabolit sekunder T. harzianum isolat jahe dan P. fluorescens P60, metabolit sekunder T. harzianum isolate bawang merah dan P. fluorescens P32, serta gabungan metabolit sekunder T. harzianum isolat bawang merah dan P. fluorescens P60. Variabel uji in vitro yaitu tingkat penghambatan antagonis, sedangkan pada uji in vivo yaitu masa inkubasi, intensitas penyakit, luas serangan, kekerasan buah, kadar gula dan uji organoleptik meliputi warna, aroma, tekstur dan rasa. Hasil penelitian bahwa perlakuan menggunakan metabolit sekunder gabungan T. harzianum isolat bawang merah dan P. fluorescens P32 mampu menekan pertumbuhan jamur patogen sebesar 48,40%, sedangkan pada uji in vivo gabungan T. harzianum isolat bawang merah dan P. fluorescens P32 mampu menunda masa inkubasi sebesar 13,04% dan menekan luas serangan sebesar 47,42%. Perlakuan gabungan metabolit sekunder dapat mempertahankan warna dan aroma, namun tidak berpengaruh terhadap rasa dan tekstur buah stroberi. | ABSTRACT This research aimed to test the combination effectiveness of two Pseudomonas fluorescens isolates and two Trichoderma harzianum isolates secondary metabolite toward grey mold of postharvest strawberry and their effect on postharvest strawberry quality. This research was conducted at the Laboratory of Plant Protection, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto, from December 2015 until March 2016. Completely Randomized Design was used in in vitro test and Randomized Block Design in in vivo test with five treatments and five replicates. The treatments consisted of control, secondary metabolite combination of T. harzianum gingger and P. fluorescens P32 isolates, T. harzianum gingger and P. fluorescens P60 isolates, T. harzianum shallot and P. fluorescens P32 isolates, and T. harzianum shallot and P. fluorescens P60 isolates. Variable observed was inhibition zone, inhibition level, incubation period, attack area, disease intensity, soften level, sugar content and organoleptic test (colour, aroma, texture and flavor). Result of the research indicated that secondary metabolite combination of T. harzianum gingger and P. fluorescens P32 isolates could inhibit the pathogen growth in vitro as 48.40%, while combination of T. harzianum shallot and P. fluorescens P32 isolates could delay the incubation period as 13,04% and supress the attack area as 47,42% in vivo. Combination of all secondary metabolites was able to maintain colour and aroma, but not to texture and flavor. | |
| 5417 | 15220 | D1E012236 | HUBUNGAN ANTARA UKURAN LINIER TUBUH DENGAN BOBOT BADAN DAN LUAS URAT DAGING MATA RUSUK SAPI BRAHMAN CROSS DI RPH KUNINGAN | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ukuran linier tubuh yang meliputi panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak, bobot badan dan luas urat daging mata rusuk sapi Brahman Cross dan mempelajari hubungan antara ukuran linier tubuh tersebut dengan bobot badan dan luas urat daging mata rusuk. Materi penelitian yang digunakan adalah 50 sapi Brahman Cross jantan umur 2-4 tahun. Metode penelitian adalah survei dengan teknik pengambilan data secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak, bobot badan dan luas urat daging mata rusuk rataannya 135,76±4,53 cm, 187,20±5,67 cm, 137,86±4,99 cm, 436,98±19,70 kg dan 82,30±10,11 cm2. Hasil analisis regresi berganda antara ukuran linier tubuh dengan bobot badan mengikuti persamaan garis Y = -750,57 + 2,74 X1 + 4,14 X2+ 0,30 X3, dengan nilai r = 0,947 dan r2 = 89,6 persen. Hasil analisis regresi berganda antara ukuran linier tubuh dengan luas udamaru mengikuti persamaan garis Y = -453,84 + 1,21 X1 + 1,93 X2, dengan nilai r = 0,853 dan r2 = 72,8 persen. | The purpose of this research is to measure the size of the body length, girth, shoulder height, body weight and loin eye area of Brahman Cross and the relationship between them. The research material was 50 male Brahman Cross at the age of 2-4 years. Using a survey method, the data of this research was collected with a purposive sampling. The results showed that the body length, girth, shoulder height, body weight, and loin eye area average 135,76±4,53 cm, 187,20±5,67 cm, 137,86±4,99 cm, 436,98±19,70 kg, and 82,30±10,11 cm2, respectively. The results of the multiple regression analysis showed that the relationship between the linear size and the body weight follows the equation Y = -750,57 + 2,74 X1 + 4,14 X2 + 0,30 X3, with the value of r = 0,947 and r2 = 89,6 percent, while that between the linear size and the loin eye area follows the equation Y = -453,84 + 1,21 X1 + 1,93 X2, with the value of r = 0,853 and r2 = 72,8 percent. | |
| 5418 | 15325 | H1D012060 | PERILAKU SAMBUNGAN MUR-BAUT PADA BALOK BETON PRACETAK SEGMENTAL DENGAN TULANGAN BAMBU PADA MUTU BETON K-225 | Balok adalah bagian dari struktural bangunan yang kaku dan dirancang untuk menanggung dan mentransfer beban menuju elemen-elemen kolom penopang. Pembuatan balok beton pracetak dengan tulangan bambu merupakan suatu alternatif untuk mempermudah dan menghemat pelaksanaan konstruksi. Dalam sistem pracetak, sambungan harus didesain lebih kuat dari yang disambung. Untuk mengatasi hal itu, pada penelitian ini digunakan sambungan mur-baut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kapasitas balok pracetak segmental bertulangan bambu dengan variasi jumlah sambungan mur-baut dibandingkan dengan balok konvensional dan mengetahui pola keruntuhan yang terjadi. Metode yang digunakan adalah dengan pembuatan balok pracetak segmental dengan tulangan bambu terlebih dahulu, kemudian disambungkan dengan mur-baut berdiameter 8 mm, dan di-grouting. Parameter pengujian yang dilakukan meliputi kapasitas lentur dan pola retak. Penelitian ini dilakukan terhadap sembilan benda uji dengan dimensi 120 mm x 150 mm x 1000 mm, dimana tiga diantaranya adalah balok kontrol (BK), tiga buah balok segmental dengan empat sambungan (BS4), dan tiga buah balok segmental dengan enam sambungan (BS6). Pengujian dilakukan dengan metode Third Point Loading dengan jarak 1/3 L. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kapasitas balok kontrol tanpa sambungan masih lebih besar dibandingkan kapasitas balok segmental dengan sambungan mur-baut dengan nilai rata-rata kekuatan balok tanpa sambungan, balok segmental dengan empat sambungan (BS4), dan balok segmental dengan enam sambungan (BS6) berturut-turut 13,43 kN; 7,33 kN; dan 5,6 kN. Hal ini terjadi karena pada area sambungan mur-baut cukup kuat sehingga keruntuhan menuju pada keruntuhan geser yang sengkangnya lebih lemah. Pola retak yang terjadi pada balok kontrol merupakan keruntukan lentur, sementara keruntuhan pada balok pracetak segmental dengan sambungan mur-baut semuanya merupakan keruntuhan geser. | Beam is part of structural building which stiff and designed to bear and transfer burden to elements column buttresses. Making beams concrete with bamboo reinforce is an alternative to make it easy and conserve construction execution. In this system, connection have to designed stronger than jointed. To overcome the problem, this research used bolt-nut connection. The purpose of this research is to knowing capacity of beams in a segmental with variations in the quantity of connection bolt-nut compared with conventional beam and to know collapse pattern. The used method in this research is making beams in segmental with bamboo reinforced first, then connected and grouted. Criteria tests conducted include flexible capacity, the cracks , and type of collapse. The research was conducted on the nine of those 120 mm x 150 mm x 1000 mm, in which three of them are beams export control (BK), the three beams segmental with four connection (BS4), and the three beams segmental with six connection (BS6). Testing use the third point loading with distance 1/3 L method. The results show that capacity testing beams control without connection is larger than capacity beams segmental bolt-nut connection with the average force beams without connection, beams segmental connection with 4 (BS4), and beams segmental connection with 6 (BS6) sequent are 13,43 kN; 7,33 kN; and 5,6 kN. This is happens because in the area bolt-nut connection strong enough so collapse lead to sliding collapse bar weaker. The crack happened on the beams control is flexible collapse, while collapse on the beam segmental in connection bolt-nut are all sliding collapse. | |
| 5419 | 15242 | C1A012105 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PRODUKSI DAN TINGKAT EFISIENSI EKONOMIS USAHA PADA SENTRA BATIK CAP DI KABUPATEN PEKALONGAN | Judul penelitian ini adalah “Faktor-Faktor yang Memengaruhi Produksi dan Tingkat Efisiensi Ekonomis Usaha pada Sentra Industri Batik Cap di Kabupaten Pekalongan”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kain mori, lilin batik, obat pewarna, dan tenaga kerja terhadap produksi batik cap kemudian untuk menentukan variabel mana yang paling berpengaruh terhadap produksi batik cap, serta untuk mengetahui tingkat efisiensi ekonomis produksi batik cap di Kabupaten Pekalongan.Penelitian ini dilakukan dengan metode survei. Jenis data primer yang digunakan diperoleh dari responden dengan menggunakan kuesioner. Alat analisis yang digunakan adalah model regresi linear berganda dalam bentuk logaritma natural, untuk mengetahui pengaruh tersebut secara individu digunakan uji t, dan untuk mengetahui secara bersama-sama digunakan koefisien determinasi R-squared dan uji F. Untuk mengetahui penyimpangan asumsi klasik dalam penelitian ini menggunakan uji mutikolinearitas, uji normalitas, uji autokorelasi, dan uji heteroskedastisitas. Hasil uji hipotesis dengan t-test menunjukkan bahwa variabel kain mori memiliki pengaruh positif, variabel tenaga kerja memiliki pengaruh positif, pada variabel lilin batik memiliki pengaruh negatif, obat pewarna memiliki pengaruh negatif. Tenaga kerja adalah variabel yang paling berpengaruh terhadap produksi batik cap di Kabupaten Pekalongan. Untuk mengetahui tingkat efisiensi ekonomis dalam penelitian ini menggunakan Ratio R/C. | The title of this research is the "Factors that Affect Economic efficiency of production and the level of effort at industrial centers in the Regency of Pekalongan Batik Cap". This research aims to know the influence of batik cloth, wax, dyes, drugs and labor against the production of batik cap and then to determine which variables most influence on the production of batik cap, as well as to find out the level of efficiency of the economical production of batik cap Regency in Pekalongan.This research was conducted with survey methods. The primary data type used is obtained from respondents using a questionnaire. Analysis tools are used multiple linear regression model is in the form of the natural logarithm, to know the influence of the individually used t test, and to know collectively used the coefficient of determination R-squared and test F. To find out the deviation of the classical assumption in this study using mutikolinearitas test, test test, autocorrelation, normality and test heteroskedastisitas. Hypothesis test results with the t-test shows that the variable shroud has a positive influence, labor variable has a positive influence, on wax batik variable has a negative influence, dye has the negative influence of the drug. Labor is the most variable influence on the production of batik cap Regency in Pekalongan. To find out the level of economical efficiency in this study using the Ratio R/C. | |
| 5420 | 15221 | A1L010200 | PERTUMBUHAN DAN HASIL TIGA GALUR MURNI PADI PADA TIGA TARAF KETERSEDIAAN AIR | Kekeringan karena efek dari pemanasan global atau siklus tahunan menyebabkan pertanian padi terancam gagal. Fakta tersebut menggambarkan betapa pentingnya air bagi pertumbuhan tanaman padi. Tujuan penelitian ini adalah 1) Mengetahui pengaruh ketersediaan air bagi pertumbuhan dan hasil 3 galur murni padi. 2) Mengetahui perbedaan pertumbuhan dan hasil antara 3 galur murni pada taraf ketersediaan air. 3) Mengetahui respon fisiologis tanaman padi pada 3 taraf ketersediaan air. Faktor yang dicoba ada dua, yaitu galur (G7, G27, G37) dan kondisi air (P1, P2, P3). Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok lengkap. Variabel yang diamati antara lain: panjang akar, tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah total pertanaman, bobot 1000 biji, persentase gabah isi per rumpun, bobot gabah kering per rumpun, total penggunaan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan hasil pada tiap-tiap galur yang diuji paling optimal adalah pada kondisi anaerob. | Drought due to the effects of global warming or an annual cycle causes rice farming threatened to fail. These facts illustrate the importance of water for the growth of the rice plant. The purpose of this study were 1) Know the influence of water availability for growth and yield of 3 pure strain of rice. 2) Know the difference between growth and yield of three pure strains on the level of water availability. 3) Know the physiological responses of rice plants in the 3 levels of water availability. There factors that tried namely (G7, G27, G37) and water condition (P1, P2, P3). This study was conducted by using a randomized complete block design. The variables were observed among others: root length, plant height, number of productive tillers, panicle length, number of total grain crop, the weight of 1000 seeds, the percentage of filled grain per panicle, grain dry weight per hill, total water use. The results showed that the growth and yield in each strain tested was the most optimal in anaerobic conditions. |