Artikelilmiahs

Menampilkan 5.501-5.520 dari 48.832 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
550115299D1F014003PENGGUNAAN BERBAGAI MACAM BAHAN PENSTABIL DALAM PEMBUATAN ES KRIM TERHADAP OVERRUN DAN WAKTU MELELEHTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan bahan penstabil yang berbeda dan tanpa bahan penstabil dalam pembuatan es krim terhadap overrun dan waktu meleleh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen yang didesain dengan menggunakan Rancangan Acak Lengap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu P0= tanpa menggunakan bahan penstabil, P1= gelatin 0,4%, P2= karagenan 0,4%, P3= agar-agar 0,4%. Hasil penelitian yang berbeda nyata diuji lanjut dengan menggunakan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasilnya menunjukan bahwa penggunaan bahan penstabil yang berbeda pada pembuatan es krim berpengaruh sangat nyata terhadap overrun dan waktu meleleh es krim (P<0,01). Berdasarkan uji lanjut, es krim dengan menggunakan karagenan memiliki overrun yang lebih rendah dari perlakuan lain. Es krim dengan tanpa bahan penstabil memiliki overrun yang sama dengan es krim yang menggunaan gelatin tetapi lebih rendah dibanding overrun es krim yang menggunakan agar-agar. Es krim yang menggunakan agar-agar paling cepat meleleh dibanding perlakuan lain, sedangkan es krim yang menggunaan gelatin meleleh paling lama. Es krim tanpa penstabil dan es krim yang menggunakan karagenan memiliki waktu meleleh yang lebih lama dibanding es krim dengan agar-agar, tetapi lebih cepat dibanding es krim yang menggunakan gelatin. Kesimpulannya, es krim yang menggunakan penstabil agar-agar menghasilkan overrun tertinggi namun meleleh paling cepat.This research aims at determining the influence of gelatin, carrageenan, and agar in the ice cream making process on the overrun and melting time. This experimental research used a Completely Random Design (CRD) with 4 treatments and 5 replications. The treatments consisted of P0= no stabilizer, P1= gelatin 0,4%, P2= carageenan 0,4%, P3= agar 0,4%. The results of the experiment which were significantly different were tested with an Honestly Significant Difference (HSD). The results showed that the use of different stabilizers in the ice cream making process had high significant effects on the overrun and melting time of the ice cream (P<0.01). Based on the advanced test, ice cream using carrageenan has a lower overrun than that using other treatments. Ice cream without stabilizers has the same overrun with that using gelatin but lower than that using agar. Ice cream using agar melts fastest than other treatments, while ice cream using gelatin melts longest. Ice cream without stabilizers and ice cream using the carrageenan has a longer melting time compared to that using agar, but faster than that using gelatin. In conclusion, ice cream using agar as the stabilizer produces the highest overrun but melts fastest.
550215300A1L012062UJI KONSENTRASI KITOSAN DAN UMUR PANEN TERHADAP KETAHANAN KUALITAS BUAH STROBERI (Fragaria x ananassa)Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh umur panen terhadap umur simpan dan mutu buah stroberi (Fragaria x ananassa), mengetahui pengaruh konsentrasi kitosan terhadap umur simpan dan umur panen buah stroberi (Fragaria x ananassa), mengetahui umur panen dan konsentrasi kitosan yang memberikan hasil terbaik bagi umur simpan dan mutu buah stroberi (Fragaria x ananassa). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai dengan Februari 2016 di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman.Buah stroberi yang digunakan berasal dari salah satu sentra stroberi di Jawa Tengah yaitu Desa Serang, Purbalingga. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial. Data dianalisis dengan Uji F pada taraf 5%, dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test. Faktor yang dikaji adalah konsentrasi larutan kitosan (K) terdiri empat taraf yaitu konsentrasi 0%, 2%, 2,5%, 3%, dan umur panen yang terdiri dari 3 taraf yaitu umur panen tingkat warna merah 50%, umur panen masak fisiologis tingkat warna merah 75%, umur panen setelah masak fisiologis tingkat warna merah 100%. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Variabel yang diamati adalah umur simpan, susut bobot buah, Total Padatan Terlarut (TPT), kekerasan buah, Kadar air, dan uji organoleptik. Hasil penelitan menunjukan perlakuan konsentrasi 2,5% dapat mempertahankan nilai TPT (6.24 ºBrix), warna (2,58; merah), dan rasa buah stroberi (agak asam). kombinasi perlakuan kitosan taraf 2.5% dan umur panen taraf 75% mampu mempertahankan kualitas buah stroberi selama 5 hari pada suhu kamar.The purpose of this research are to determine the effect of harvest age on shelf life and quality of strawberry (Fragaria x ananassa), determine the effect of chitosan concentration on the shelf life strawberry (Fragaria x ananassa),to know the best harvest age and concentration of chitosan for the shelf life and quality of strawberry (Fragaria x ananassa). This research was conducted in December 2015 until February 2016 in the Laboratory of Agronomy and Horticulture Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. The Strawberry used came from Serang village, Purbalingga. The researcher used randomized block design. The data were analyzed by F test at 5%, followed by DMRT (Duncan Multiple Range Test). Treatments consisted of combinations between the concentration of chitosan consists of four levels 0%; 2%; 2.5%; 3%, and the harvesting age, physiological levels of harvesting red color levels of 50%; 75%; and 100%. Each treatment was repeated 3 times. The observed variables were the shelf life, the weight loss, Total Dissolved Solids (PTT), the fruit hardness, water content, and organoleptic tests. The results showed treatment combinations between 2,5% concentration of chitosan and harvesting age level 75% were able to maintain strawberry for 5 days at room temperature.
550315303G1G012020PERBANDINGAN EFEKTIVITAS FREEZE-DRIED AMNIOTIC MEMBRANE DAN AIR-DRIED AMNIOTIC MEMBRANE PADA PROSES PENYEMBUHAN LUKA GINGIVA

(Penelitian Eksperimental In vivo pada Tikus Sprague dawley)
Gingiva merupakan jaringan lunak rongga mulut yang sering mengalami perlukaan baik karena penyakit periodontal, trauma, maupun tindakan bedah. Salah satu bahan alternatif untuk mempercepat penyembuhan luka gingiva yaitu dengan menggunakan membran amnion yang dapat merangsang penyembuhan luka. Terdapat dua jenis membran amnion yang dikembangkan di Indonesia yaitu freeze-dried amniotic membrane dan air-dried amniotic membrane. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektifitas antara freeze-dried amniotic membrane dan air-dried amniotic membrane terhadap jumlah fibroblas dan jumlah pembuluh darah kapiler pada proses percepatan penyembuhan luka gingiva. Penelitian merupakan penelitian laboratorium eksperimental yang dilakukan pada 30 tikus putih jantan galur Sprague dawley yang terbagi dalam 3 kelompok yaitu kelompok yang diberi perlakuan dengan freeze-dried amniotic membrane, kelompok yang diberi perlakuan dengan air-dried amniotic membrane, dan kelompok kontrol. Data didapat dari proses pengamatan parameter penyembuhan luka gingiva. Data pada parameter jumlah jumlah fibroblas dianalisis secara statistik menggunakan Kruskal Wallis test dan data pada parameter jumlah pembuluh darah kapiler dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA. Data hasil penelitian pada seluruh parameter menunjukkan nilai signifikansi p<0,05. Simpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan efektivitas yang signifikan antara freeze-dried amniotic membrane dan air-dried amniotic membrane terhadap jumlah fibroblas dan jumlah pembuluh darah kapiler dalam proses percepatan penyembuhan luka gingiva dan aplikasi freeze-dried amniotic membrane lebih efektif dibandingkan air-dried amniotic membrane.Gingival soft tissues of the oral cavity is often suffered injury either due to periodontal disease, trauma, or surgery. One alternative materials to accelerate gingiva wound healing by using amniotic membrane that can stimulate wound healing. There are two types of amniotic membrane developed in Indonesia, namely freeze-dried amniotic membrane and air-dried amniotic membrane. The aims of this study were to compare the effectiveness of the freeze-dried amniotic membrane and air-dried amniotic membrane to the amount of fibroblasts and the amount of capillary blood vessels in the process of accelerated gingiva wound healing. This was an experimental laboratory research that had been conducted on 30 male Sprague Dawley rats were divided into 3 groups treated with freeze-dried amniotic membrane, the group treated with air-dried amniotic membrane, and the control group. Data had been obtained from observation of the parameters of gingival wound healing. Data on the parameters number of fibroblasts had been statistically analyzed using Kruskal Wallis test, and data on the parameter number of capillary blood vessels had been statistically analyzed using ANOVA. The result of this research indicates that significant value of p <0.05. The conclusions of this study are the differences effectiveness significantly between the freeze-dried amniotic membrane and air-dried amniotic membrane on the amount of fibroblasts and capillary blood vessels in the process of acceleration of gingiva wound healing and application of freeze-dried amniotic membrane more effectively than air-dried amniotic membrane.
550415304D1E012338KORELASI ANTARA BOBOT TELUR DENGAN BOBOT TETAS HASIL PERSILANGAN RESIPROK ITIK TEGAL DENGAN MAGELANGPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi dan perbedaan antara bobot telur dengan bobot tetas hasil persilangan resiprok itik Tegal dan Magelang. Materi yang digunakan adalah telur tetas hasil persilangan resiprok itik Tegal dengan Magelang sebanyak 565 butir (Gallang) dan 448 butir (Maggal). Metode penelitian adalah experimental dan data dikoleksi dengan menggunakan analisis korelasi, regresi dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan bobot telur itik Gallang (pejantan Tegal X induk Magelang) adalah 64,94±4,92 g dan Maggal (pejantan Magelang X induk Tegal) 64,18±4,26 g. Rataan bobot tetas Gallang 42,54±4,32 g dan Maggal 42,61±3,94 g. Berdasarkan hasil uji t diketahui bahwa karakteristik bobot telur dan bobot tetas antara itik Gallang dan Maggal tidak berbeda nyata (P>0,05). Korelasi antara bobot telur dengan bobot tetas menunjukan bahwa terdapat hubungan antara bobot telur dan bobot tetas pada itik Gallang dan Maggal. Besarnya korelasi (r) pada itik Gallang adalah 0,74 dan koefisien determinasi (r2) 55% dengan persamaan regresi Y= 0,233+0,651X, sedangkan pada itik Maggal korelasi (r) 0,48 dan koefisien determinasi (r2) 23,31 % dengan persamaan regresi Y= 13,952+0,447X. Pengaruh bobot telur terhadap bobot tetas pada Maggal sangat kecil. Penelitian ini berkesimpulan bahwa karakteristik bobot telur dan bobot tetas pada itik Gallang dan Maggal relatif sama. Korelasi antara bobot telur dengan bobot tetas pada itik Gallang relatif lebih tinggi dari itik Maggal.The purpose of this research is to study the correlation and difference between egg and hatching weight of the reciprocal cross between Tegal and Magelang duck. The Material used were 565 eggs (Gallang) and 448 eggs (Maggal) of the reciprocal cross between Tegal and Magelang duck. The research was conducted experimentally and the collected data was analyzed by using the regression, correlations and t-test analyses. The result of research showed that the average wight of Gallang duck eggs (male Tegal X female Magelang ducks) was 64,94±4,92 g and that of Maggal (male Magelang X female Tegal ducks) was 64,18±4,26 g. Hatching weight of Gallang was 42,54±4,32 g and that of Maggal was 42,61±3,94 g. The t-test showed that the characteristics of egg weight and hatching weight between those of Gallang and Maggal duck were not significantly different (P>0.05). The correlation between the weight of egg and hatching weight showed there was a relationship between egg weight and hatching weight of Gallang duck and Maggal duck. The correlation value (r) of Gallang was 0,74 and the coefficient of determination (r2) was 55%, with a regression equation Y = 0,233+0,651X, whereas the value of correlation (r) of Maggal duck was 0,48 and the coefficient of determination (r2) was 23,31% with a regression equation Y= 13,952+0,447X. The influence of egg weight on hatching weight in Maggal was very small. It could be concluded that the characteristic of egg weight and hatching weight of Gallang and Maggal duck are relatively the same. The correlation (r) between eggs weight and hatching weight of Gallang duck are relatively higher than that of Maggal duck.
550515306H1L012042RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI PANTI ASUHAN PUTRA MUHAMMADIYAH PURWOKERTO BERBASIS WEBSistem Informasi Panti Asuhan adalah suatu sistem informasi yang digunakan untuk memudahkan dalam proses pengelolaan data anak asuh, data adopsi, data inventaris, data sumbangan, data pengeluaran, dan mencetak laporan. Perancangan Sistem Informasi Panti Asuhan menggunakan Use Case Diagram, Sequence Diagram, Class Diagram, dan Entity Relationship Diagram (ERD). Pengembangan sistem dengan menggunakan metode Waterfall dengan langkah – langkah : Analisis, Design, Coding dan Testing, Penerapan dan Pemeliharaan. Sistem Informasi Panti Asuhan ini dibangun dengan menggunakan database MySQL dan bahasa pemrograman PHP berbasis object oriented. Orphanage Information System is an information system that is used to facilitate management processes data of foster care, data of adoption, data of contribution, data of inventory, data of expenditure and report printing. Orphanage Information System design using Use Case Diagram, Sequence Diagram, Class Diagram and Entity Relationship Diagram (ERD). Development of the system using the Waterfall method with some step: Analysis, Design, Coding and Testing, Implementation and Maintenance. Orphanage Information System is built using the MySQL database and the PHP programming language based on object oriented.
550615309A1M012040KAJIAN KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA, ANTIOKSIDAN DAN SENSORIS MINUMAN FUNGSIONAL SARANG SEMUT DENGAN PENAMBAHAN
ASAM JAWA, KAYU MANIS DAN BERBAGAI JENIS PEMANIS
Sarang semut merupakan umbi tanaman yang mengandung senyawa bioaktif seperti fenolik, flavanoid, tanin dan glikosida. Kandungan antioksidan yang tinggi menyebabkan umbi sarang semut berpotensi untuk dijadikan minuman fungsional teh herbal sarang semut. Namun karena rasa pahit sarang semut menyebabkan penurunan nilai palatabilitas, untuk memperbaiki rasa maka pada penelitian ini diformulasikan kembali dengan penambahan, asam jawa, kayu manis dan gula sehingga dapat diterima dari segi sensoris dan dapat meningkatkan mutu antioksidan teh sarang semut. Tujuan penelitian ini adalah mengtahui pengaruh penambahan berbagai jenis gula, asam jawa, kayu manis terhadap komponen kimia, fisikokimia dan sensoris teh sarang semut dan menentukan kombinasi perlakuan terbaik berdasarkan karakteristik kimia, antioksidan dan sensoris teh sarang semut yang dihasilkan. Penelitian ini d ilakukan menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial dengan diulang 3 kali. Fakor yang diuji meliputi jenis gula; gula kelapa kristal (G1) dan gula pasir (G2); proporsi sarang semut dan gula (b/b) ; 10:90 (P1), 20:80 (P2); 30:70 (P3); proporsi asam jawa : kayu manis; 2:0 (K0), 1:1 (K1). Kombinasi perlakuan terbaik menurut uji indeks efektivitas untuk mendapatkan formulasi mutu teh sarang semut terbaik berdasarkan variabel kimia, fisikokimia, antioksidan dan sensoris yaitu G2P3K0 dengan menggunakan (G2) gula pasir, proporsi sarang semut banding gula (P3) 30:70 dan proporsi asam jawa banding kayu manis (K0) 2:0 (b/b). Produk ini memiliki total fenol sebesar 7,18mgTAE/g, kadar air 8,94%, kadar abu 1,45%, pH 5,17 dan aktivitas antioksidan larutan 86,36%. Memiliki karakteristik sensori warna coklat kekuningan, aroma kayu manis tidak kuat, rasa manis kurang manis, rasa pahit kurang pahit, flavor sarang semut kurang khas dan tingkat kesukaan agak suka.Ant-nest is a plant bulbs that contain bioactive compounds such as phenolic, flavonoids, tannins and glycosides. High antioxidant content causes the bulb ant-nest potential to be functional drinks herbal tea ant-nest. However, because of the bitter taste ant-nest cause impairment palatability, to improve the taste, this research formulated by the addition of tamarind, cinnamon and sugar which are acceptable in terms of sensory and can improve the quality of antioxidants ant-nest tea.
This study aimed to determine the effect of various types of sugar, tamarind, cinnamon against to physicochemical, antioxidant and sensory components of ant-nest tea and determine the best treatment combination based on the chemical characteristics, antioxidant and sensory ant-nest tea. The method used in this study is an experimental method with Randomized Design (RBD) arranged as factorial with repeated 3 times. Factors to be examined include the type of sugar; palm sugar crystals (G1) and white sugar (G2); proportion ant-nest and sugar (w / w); 10:90 (P1), 20:80 (P2); 30:70 (P3); the proportion of tamarind: cinnamon; 2: 0 (K0), 1: 1 (K1).
The best combination obtained of this research given by sugar use a combination of white sugar (G2), proportion ant-nest : sugar of 30:70 (P3), proportion tamarind : cinnamon of 2: 0 (K0) G2P3K0 is best to use a combination. This product has a total phenol by 7,18mgTAE / g, water content 8.94%, ash content of 1.45%, pH 5.17 and 86.36% solution of antioxidant activity. Having a sensory characteristic yellowish brown color, the aroma of cinnamon is not strong, sweet flavor is less sweet, bitter taste less bitter, less distinctive flavor ant nest and the level of preference rather liked.
550715311D1F014006HUBUNGAN BOBOT AWAL KEBUNTINGAN DENGAN BOBOT LAHIR DAN BOBOT BADAN PEDET SAPI FRIESIAN HOLSTEIN UMUR TIGA BULAN DI BBPTU-HPT BATURRADEN
(EARLY PREGNANCY WEIGHT AND BIRTH WEIGHT RELATIONSHIPS WITH CALVES WEIGHT OF HOLSTEIN-FRIESIANS AGED THREE MONTHS AT BBPTU-HPT BATURRADEN)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara bobot awal kebuntingan dengan bobot lahir dan bobot badan pedet sapi Friesian Holstein umur tiga bulan. Penelitian dilakukan pada tanggal 5 Maret - 3 April 2016 di Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Baturraden. Materi penelitian adalah catatan bobot awal kebuntingan sapi perah pada laktasi pertama dan pedetnya, bobot lahir dan bobot badan umur tiga bulan di BBPTU-HPT Baturraden yang diambil secara purposive sampling. Variabel yang diamati adalah bobot awal kebuntingan (kg), bobot lahir (kg), dan bobot badan pedet umur tiga bulan (kg). Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis regresi. Bobot rata-rata awal kebuntingan di BBPTU–HPT Baturraden adalah 349,81±58,59 kg, bobot lahir 39,06±3,94 kg, dan bobot badan pedet umur tiga bulan 90,71±7,34 kg. Hubungan antara bobot awal kebuntingan dengan bobot lahir dinyatakan dalam persamaan Y=34,512+0,013X dengan nilai koefisien korelasi r= 0,194 dan nilai koefisien determinasi r2 =3,75%. Bobot awal kebuntingan memberi sumbangan sebesar 3,75% terhadap bobot lahir pedet. Bobot awal kebuntingan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot lahir pedet. Hubungan bobot awal kebuntingan dan bobot badan pedet umur tiga bulan dinyatakan dalam persamaan Y=62,78+0,080X dengan nilai koefisien korelasi r= 0,637 dan nilai koefisien determinasi r2= 40,64%. Bobot awal kebuntingan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap bobot badan pedet umur tiga bulan. Bobot lahir dengan bobot badan pedet umur tiga bulan dinyatakan dalam persamaan Y=44,60+1,180X dengan nilai koefisien korelasi r= 0,63 dan nilai koefisien determinasi r2= 39,69%. Bobot lahir berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap bobot badan pedet umur tiga bulan. Kesimpulan penelitian adalah bahwa 1) terdapat hubungan nyata antara bobot awal kebuntingan dengan bobot lahir pedet, 2) terdapat hubungan sangat nyata antara bobot awal kebuntingan dengan bobot badan pedet umur tiga bulan, dan 3) terdapat hubungan sangat nyata antara bobot lahir dengan bobot badan pedet umur tiga bulan.This research aims at determining the relationship between the early pregnancy weight of Holstein-Friesians cattle, birth weight and their calves weight aged three months. The study had been conducted from March 5 to April 3 2016 at Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Baturraden. The research materials were the records of the cattle’s early pregnancy weight in the first lactation period and their calves, birth weight and the weight of three month calves, which were collected by purposive sampling from BBPTU-HPT Baturraden. The observed variables were Holstein-Friesian cattle’s early pregnancy wight (kg), birth weight (kg), and the weight of their calves aged three months (kg). The data which were analized with descriptive and regression analyses showed that the average of the cattle’s weight in early pregnancy was 349.81±58.59 kg, the calves’ birth weight was 39.06±3.94 kg, and calves’ weight at the age of three months was 90.71±7.34 kg. The relationship between the early pregnancy weight and the birth weight formed an equation Y=34.512+0.013X with a correlation coefficient r= 0.194 and coefficient of determination r2= 3.75%. The cattle’s early pregnancy weight contribut 3.75% to the their calves birth weight. The early pregnancy weight significantly effected (P<0.05) the birth weight. The relationship between the early pregnancy weight and the calves weight aged three months formed an equation Y=62,78+0,080X with a coefficient correlation r= 0.637 and coefficient determination r2= 40.64%. The early pregnancy weight very significantly effected (P<0.01) the calves weight aged three months. The relationship between the birth weight and the calves weight aged three months formed an equation Y=44,60+1,180X with a coefficient correlation r= 0.63 and coefficient determination r2= 39.69%. The birth weight very significantly effected (P<0,01) the three month-old calves’ weight. The conclusions of the research are that 1) there is a real connection between the early pregnancy weight and the calves birth weight, 2) there is a very real connection between the cattle’s early pregnancy weight and the three month-old calves’ weight aged, and 3) there is a very real connection between the the calves’ birth weight and their weight at the age of three month-old.
550815314H1L011043RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI PENGELOLAAN DATA PEDAGANG DAN RETRIBUSI BERBASIS WEB
(STUDI KASUS DINAS PERINDUSTRIAN, PERDAGANGAN DAN KOPERASI KABUPATEN PURBALINGGA)
Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Purbalingga mempunyai tugas pokok melaksanakan penyelenggaraan urusan Pemerintah Daerah di bidang Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha mikro kecil dan menengah berdasarkan kebijakan yang di tetapkan oleh Bupati. Salah satu tugas dari Disperindagkop adalah melakukan pendataan dan menarik iuran retribusi kepada seluruh pedagang yang ada di wilayah Kabupaten Purbalingga. Jumlah personil yang bertugas untuk menrik retribusi tidaklah banyak, tetapi harus mampu memberikan pelayanan yang tertib dan benar. Penarikan retribusi ini biasa dilakukan setiap hari dan biasanya Disperindagkop menganggarkan sejumlah uang untuk pengadaan kertas guna sebagai bukti telah membayar iuran. Selain menarik retribusi, Disperindagkop juga bertugas untuk memantau jumlah stok barang sembako dan harga sembako yang berada di pasaran. Berdasarkan masalah tersebut, maka dikembangkanlah Sistem Informasi Pengelolaan Data Pedagang dan Retribusi berbasis web. Sistem tersebut dikembangkan dengan menggunakan database MySQL dan bahasa pemrograman Hypertext Preprocessor (PHP) dengan metode pengembangan waterfall. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah sistem informasi yang mampu melakukan pengelolaan data pedagang, retribusi, harga dan stok sembako, sehingga dapat memudahkan, mempercepat proses pendataan dan pencarian data, mengurangi kesalahan dalam pencataan retribusi, harga dan stok sembako yang berada di pasar.Department of Industry, Trade and Cooperatives (Disperindagkop) Purbalingga it has a fundamental duty to implement the Regional implementation of government affairs in the field of Industry, Trade, micro small and medium businesses based on the policies set by the Regent. One of the tasks of Disperindagkop is to collect data and draw dues retribution to all traders in the district of Purbalingga. The number of personnel assigned to intersting retribution is not much, but it should be able to provide services in an orderly and correct. Withdrawal fees are usually done every day and usually Disperindagkop budgeted amount of money for the procurement of paper in order as evidence has paid his dues. In addition to attracting a retribution, Disperindagkop also tasked to monitor the number of stocks groceries and food prices that are on the market. Based on these issues, it is developing Merchant Data Management Information System and web-based levies. The system was developed using MySQL database and programming language Hypertext Preprocessor (PHP) with waterfall development method. Results from this study is an information system that is capable of performing data management vendors, charges, prices and stock basic needs, so as to facilitate, accelerate the process of data collection and data search, reduce errors in pencataan retribution, and stock prices of basic foods that are on the market.
550915313H1D012058Analisis Pengaruh Variasi Sudut Pemasangan Nail Pada Pemodelan Soil Nailing Terhadap Beban CabutMasalah kelongsoran khususnya di Indonesia, sering terjadi disebabkan keadaan geografi yang memiliki curah hujan cukup tinggi dan daerah potensi gempa. Salah satu alternatif perkuatan lereng yang biasa digunakan adalah dengan menggunakan soil nailing. Soil nail adalah jenis perkuatan lereng dengan memasang batangan-batangan baja ke dalam tanah. Perkuatan yang diberikan diperoleh dari kekuatan tegangan baja dan gesekan antara permukaan batangan baja dengan tanah disekelilingnya yang akan memberikan gaya perlawanan tambahan bagi lereng. Beberapa variabel yang mempengaruhi besarnya nilai tegangan yang terjadi pada soil nailing adalah gaya gesek dan luas permukaan baja. Gaya gesek yang terjadi pada perkuatan soil nailing dipengaruhi oleh sudut pemasangan kemiringan nail.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi sudut pemasangan nail terhadap beban cabut yang mengakibatkan kegagalan cabut nail dengan cara membuat pemodelan fisik dengan skala 1:10. Kotak uji dengan dimensi 15 cm x 30 cm x 45 cm digunakan sebagai pemodelan fisik lereng yang diisi tanah yang dipadatkan dengan sudut kemiringan lereng yang dimodelkan sebesar 90º. Untuk pemodelan nail digunakan kawat dengan panjang 22,5 cm dan diameter 2 cm dengan jarak pemasangan horizontal sebesar 10 cm. Sedangkan untuk diameter grouting sebesar 1,5 cm. Kotak uji dibuat 4 buah dengan masing-masing variasi sudut pemasangan nail 0º, 5º, 10º, dan 15º. Satu kotak uji digunakan untuk empat nail dengan variasi sudut pemasangan yang sama, sehingga dalam penelitian ini dibuat empat kotak untuk empat variasi sudut kemiringan nail dengan kondisi pemodelan yang dilakukan secara seragam. Uji cabut nail dilakukan dengan mengaitkan ujung nail dengan tali yang dikaitkan dengan alat bridge crane, lalu diberi beban secara bertahap sampai nail tercabut dari kotak uji.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa variasi sudut pemasangan nail pada pemodelan lereng dengan menggunakan soil nailing berpengaruh terhadap beban cabut, hal ini terlihat dari hasil pengujian pemodelan yang menunjukkan penurunan nilai beban cabut sebesar 2% sampai 5% pada setiap kenaikan sudut pemasangan 5º. Sudut pemasangan nail pada pemodelan laboratorium yang memiliki beban cabut terbesar yaitu sudut 0º dengan beban cabut nail sebesar 62,78 kg. Berdasarkan hasil perhitungan manual diperoleh hasil penurunan yang tidak begitu signifikan. Nilai penurunan beban cabut yang terjadi berdasarkan perhitungan manual yaitu sebesar 0,980% sampai 0,996% pada setiap kenaikan sudut pemasangan 5º. Sudut pemasangan nail yang memiliki beban cabut terbesar berdasarkan perhitungan manual yaitu sudut 0º dengan beban cabut nail sebesar 41,16 kg.
Landslide case especially in Indonesia, often occurs because of the state of geography which having high rainfall intensity and the potential earthquake area. One of the alternatives of soil reinforcement to solve the landslide case is Soil Nailing. Soil nailing is the type of soil reinforcement by installing steel bars into the ground. Reinforcement that given obtained from the stress strength of the steel and the friction between the surface of the steel bars with the soil around it that will give additional resistance force for slope. Some variables affecting the stress value in soil nailing is the friction force and steel surface area. Friction force that occurs in soil nailing reinforcement is affected by the nail angle installation.

The purpose of this research is to know the influence of the nail angle installation variations against nail pullout load by making physical modeling with 1:10 scale. The test box with 15 cm x 30 cm x 45 cm dimension is used as a slope physical modeling that filled with compacted soil that modeled be 90º angle slope. For nail modeling is used wire with a length of 22,5 cm and a diameter of 2 cm with the horizontal space for installation of 10 cm. Whereas for grouting diameter of 1,5cm. The test box is made of 4 units with each nail angle installation variations of 0˚, 5˚, 10˚, dan 15˚. A test box is used for four nails with the same angle installation, so that in this research is made four units test box for four nail angle installation variations with modeling conditions that treated uniformly. The nail pullout test is done with tie the nail tip with the rope that tied with bridge crane on the other side, and then given load gradually until the nail drawn from the test box.

Based on the research result obtained that the nail angle installation variations on the slope modeling using soil nailing affect against nail pullout load, it looks from the modeling test result that shows a decrease of 2 % to 5 % on each 5º addition of the nail angle installation. The nail angle installation on the laboratory modeling, which has the biggest pullout load value is the angle of 0º with nail pullout load of 62,78 kg. Based on manual calculation obtained an insignificant value of the decrease of the pullout load. The decrease of the value of pullout load based on manual calculation is of 0,980% to 0,996% on each 5º addition of the nail angle installation. The nail angle installation which has the biggest pullout load value is the angle of 0º with nail pullout load of 41,16 kg.
551015316A1M012060PENGARUH JENIS KEMASAN DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA DAN SENSORI GULA KELAPA KRISTAL DIPERKAYA MINYAK SAWIT MERAHGula kelapa kristal merupakan salah satu bentuk diversifikasi produk yang dilakukan
untuk meningkatkan nilai tambah gula kelapa. Salah satu tahapan dalam pengolahan gula kelapa adalah menambahkan minyak sayur (minyak goreng) pada tahap penurunan buih yang pada penelitian ini digantikan dengan minyak sawit merah. Minyak sawit merah mengandung provitamin A dan karoten yang bermanfaat bagi tubuh. Namun, kerusakan dapat terjadi apabila tidak dikemas dan disimpan dengan baik. Untuk itu, perlu adanya teknik pengemasan yang baik selama dalam penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menentukan jenis kemasan yang tepat untuk mempertahankan mutu gula kelapa kristal yang diperkaya minyak sawit merah, 2) Mengkaji pengaruh lama penyimpanan terhadap sifat fisikokimia dan sensori gula kelapa kristal yang diperkaya minyak sawit merah, 3) Menentukan kombinasi perlakuan terbaik didasarkan pada aspek kimia, fisik, dan sensori gula kelapa kristal yang diperkaya minyak sawit merah. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial dengan 3 kali ulangan. Faktor yang dicoba meliputi: 1) Jenis kemasan (P), yaitu plastik PP (P1), plastik PP+Paperbag (P2), dan aluminium foil (P3). 2) Lama penyimpanan, yaitu 0 bulan (L1), 1 bulan (L2), 2 bulan (L3) dan 3 bulan (L4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan terbaik gula kelapa kristal diperkaya minyak sawit merah berdasarkan uji indeks efektifitas yaitu pada kemasan aluminium foil dengan lama penyimpanan 1 bulan (P3L2) dengan karakteristik kimia, fisik, dan sensori sebagai berikut: kadar air 2,03%bb; kadar gula reduksi 3,59%bk; kadar gula total 77,35%bk; kadar asam lemak bebas 0,06%bk; kadar lemak 0,05%bk; pro-vitamin A 413,9032 µg/100g; vitamin E 1,67%; densitas kamba 0,52 g/ml; kecerahan (warna) 21,25L; warna coklat (2,903); aroma agak harum (2,744); tekstur agak halus (2,144); tingkat kemanisan manis (2,036); dan off-odor tidak kuat (1,638).
Crystal coconut sugar is one form of diversification product which are being made to increase the added value of coconut sugar. One of the steps in crystal coconut sugar process are adding vegetable oil (cooking oil) at defoaming which were replaced with red palm oil. Red palm oil contains pro-vitamin A and vitamin E which has benefit for body. However, the damage can occur if it isn’t packaged and stored properly. Therefore, it needs suitable packaging techniques during storage. This research aims to: 1) Determine the type of packaging that is appropriate to maintain the quality of crystal coconut sugar enriched red palm oil, 2) Assessing the impact of storage time on the physicochemical properties and sensory crystals coconut sugar enriched red palm oil, 3) Determine the best combination of treatment based on the chemical, physical, and sensory aspects of crystal coconut sugar enriched red palm oil. The experimental design used a randomized block design (RAK) arranged as factorial with three replications. Factors to be observed include: 1) Type of packaging (P) i.e: plastic PP (P1), plastic PP+Paperbag (P2) and aluminum foil (P3). 2) The storage time (L) i.e: 0 months (L1), 1 month (L2), 2 months (L3) and 3 months (L4). The results showed that the combination of the best treatment based on test effectiveness index are in aluminum foil packaging with storage time of 1 month (P3L2) which has characteristics of the chemical, physical, and sensory as follows: water content of 2.03%wb; reducing sugar 3.59%db; total sugar
content 77.35% db; free fatty acid content 0.06%db; fat content 0.05%db; pro-vitamin A
413.9032 µg/100g; vitamin E 1.67%; bulk density 0.52g /ml; brightness (color) 21.25 L;
brown (2.903); aroma slightly fragrant (2.744); texture slightly smooth (2.144); sweetness is sweet (2.036); and off-odor is not strong (1.638)
551115317A1M012037PENGARUH LAMA PEMANASAN DAN SUHU PENYIMPANAN TERHADAP MUTU MINUMAN NIRA KELAPA SELAMA PENYIMPANAN Nira kelapa merupakan bahan organik yang mengandung sukrosa tinggi dan memiliki kadar air sebesar 88,8%. Kandungan air dan sukrosa yang tinggi membuat nira kelapa dapat dijadikan minuman instan alami. Namun, kadar air yang tinggi merupakan salah satu penyebab kerusakan pada nira. Salah satu upaya pengawetan adalah dengan mengurangi kadar air dari minuman nira, dengan cara mengolah dan menyimpan minuman nira dengan baik. Suhu pengolahan dan penyimpanan yang terkontrol dapat menghambat pertumbuhan mikroba pada nira. Tujuan penelitian ini adalah 1) menetapkan lama pemanasan yang tepat untuk memasak nira sehingga dihasilkan minuman nira yang bermutu baik selama penyimpanan; 2) menetapkan suhu punyimpanan yang tepat untuk minuman nira sehingga dihasilkan minuman nira yang bermutu baik selama penyimpanan; 3) menetapkan kombinasi perlakuan terbaik antara lama pemanasan dan suhu penyimpanan agar menghasilkan minuman nira yang memiliki sifat fisikokimia, kimia, mikrobiologi dan sensori yang terbaik selama penyimpanan. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial dengan 3 kali pengulangan. Faktor yang diuji meliputi lama pemanasan terdiri atas 30 menit (L1), 60 menit (L2) dan 90 menit (L3); suhu penyimpanan terdiri atas 5°C (S1), 10°C (S2) dan 15°C (S3); dan lama penyimpanan terdiri atas 0 hari (B1), 4 hari (B2) dan 8 hari (B3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan yang memiliki sifat kimia, fisikokimia, mikrobiologi dan sensori minuman nira terbaik adalah perlakuan L1S2B3 nira yang dipanaskan selama 30 menit dan disimpan pada suhu 10°C selama 8 hari dengan mutu kimia dan fisikokimia sebagai berikut memiliki kadar sukrosa 10,69%; total asam tertitrasi 1,7%; pH 5,83; total padatan terlarut 15,73 obriks; viskositas 0,63 ml/detik dengan total mikroba 3,72x105 CFU/ml; warna 1,4 (putih); kejernihan 2,2 (jernih); aroma 1,1 (tidak harum); rasa 1 (tidak manis) dan kesukaan 1 (tidak suka). Coconut sap is an organic material containing high sucrose and has water content of 88,8%. Its water and high sucrose content make coconut sap can be processed as a natural instant drink. However, high water content is can caused the sap damaged . One of the preservation way is by reducing the sap drinks water content using a well package and storage processing of the sap drinks. Temperature controlled processing and storage that can inhibit microbial growth in sap. The aims of this research are 1) set the proper heating time for cooking the sap to produce good quality sap drinks during storage time; 2) determine the appropriate storage temperature of the sap drink to produce good quality of sap drinks during storage time; 3) determine the best treatment combination between heating time and storage temperature to produce sap drinks that have best physical, chemical, microbiological and sensory characteristics during storage time. This research was conducted using the experimental method with Randomized Complete Block (RCB) arranged as factorial with 3 times repeatation. The factor is heating times of 30 minutes (L1), 60 minutes (L2) and 90 minutes (L3); storage temperature composed of 5 °C (S1), 10 °C (S2) and 15 °C (S3); and storage time was from 0 day (B1), 4 days (B2) and 8 days (B3). The results showed that the combined treatment with the best chemical, physicochemical, microbiological and sensory characteristics is sap drink with L1S2B3 treatment (30 minutes heating time, stored at refrigerator temperatures of 10°C during 8 day). L1S2B3 sap drinks has sucrose content of 10.69%; total titrated acid of 1.7%; pH of 5.83; total dissolved solids of 15.73 obriks; viscosity of 0.63 ml/second and the total microbial of 3.72x105 CFU/ml; 1.4 for color (yellow-white); 2.2 for clarity (clear); 1,1 for scent (fragrant); 1 for flavor (sweet) and 1 for fondness (like).
551215318F1A011045Peran Orang Tua dalam Pendidikan Seksual pada Anak Remaja di Desa Karangmangu, Kecamatan Baturraden, Kabupaten BanyumasSkripsi dengan judul “Peran Orang Tua dalam Pendidikan Seksual pada Anak Remaja di Desa Karangmangu, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas” adalah laporan tentang bagaimana orang tua dalam menjalankan perannya dalam memberikan pendidikan seksual pada anak mereka di Desa Karangmangu, tepatnya di RT 05 RW 02. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat luas tentang makna pendidikan seksual seutuhnya, serta menjadikan orang tua untuk lebih mengerti tentang pentingnya pemberian pendidikan seksual kepada anak-anak mereka, terutama dalam membentengi anak dari keadaan lingkungan yang rawan menyangkut seksualitas, serta pergaulan yang bisa membawa pengaruh buruk terhadap anak, khususnya di Desa Karangmangu. Informan utama dalam penelitan ini adalah orang tua, baik ayah, maupun ibu, yang menjalankan peran untuk anak-anaknya. Sedangkan informan pendukung sebagai sasaran validasinya adalah anak dari orang tua tersebut yang mempunyai kategori usia remaja, yaitu 10-18 tahun (Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 25 Tahun 2014). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik purposive sampling dalam menentukan informannya. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Metode analisis data dalam penelitian ini berpedoman pada model analisis interaktif. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa rasa malu, kurangnya keberanian para orang tua dalam membicarakan seks, masih menjadi faktor utama pendidikan seksual belum berjalan dengan baik di dalam sebuah keluarga. Selain itu, tingginya keyakinan para orang tua akan hal-hal yang berkaitan dengan seksual terjadi dengan alami kepada anak, sehingga tidak diperlukan bimbingan khusus tentang hal tersebut. Para orang tua di Desa Karangmangu menganggap bahwa setiap anak akan mengalami hal-hal yang berkaitan dengan seksual pada waktunya masing-masing. Umumnya para orang di Desa Karangmangu tua tidak mengetahui pengertian pendidikan seksual. Meski demikian, tanpa disadari sebagian dari mereka sudah mengaplikasikan pendidikan seksual; memberikan penanaman etika seksual, penanaman kesadaran peran sosial laki-laki dan perempuan, serta memberikan pengetahuan mengenai anatomi dan fisiologi alat kelamin. Hambatan para orang tua dalam menerapkan pendidikan seksual kepada anak mereka; komunikasi dalam menyampaikan materi pendidikan seksual, orang tua kesulitan untuk memulai dan belum mengetahui bagaimana komunikasi yang baik kepada anak-anak mereka terkait seksualitas.
Thesis with a title “The Role of Parents in Sexual Education of Children in Karangmangu Village, Baturraden Subdistrict, Banyumas Regency” is the reports on how the parents in running their role in giving education sexual to their children at Karangmangu village, especially at RT 05 RW 02. This study was aimed to give knowledge to the general public about the meaning of sexual education completely, and made parents to understand more about the importance of giving sexual education to their children, especially in protect children from the prone environment that related to sexuality, and association that could bring bad influence to children, especially in Karangmangu Villages. The major informant in this research is the parents, both father and mother, who runs the role for their children.While the supporter informant as the targets of validation was the children of the parents may that have the category of early adolescence , namely 10-18 years (Health Minister Regulation Number 25 Year 2014). The research is the qualitative research with used purposive sampling technique in determining the source. Data was obtained by deep interview, observation, and documentation. The method of data analysis in this research based on the model of interactive analysis. The conclusion of the research are the pudency, lack of courage of the parents in talking about sex, still being the main cause education sexual not going well in a family. In addition, the high of the parents confidence related to sexual matters was happened naturally to children, so that, there is no special guidance about it. Parents in Karangmangu Village consider that every children will experience the matters that related to sexual in their each time. Commonly, parents in Karangmangu do not know the understanding of sexual education. However, unconsciously some of them have applied sexual education; giving the implantation of sexual ethic, the implantation of the awareness of the men and women social role, and giving knowledge of anatomy and physiology of genitals. Parents’ obstacle in applying sexual education to their children; the communication in delivering the material of sexual education, parents difficulty to begin and have not known how good communication to their children related to sexuality.
Keywords: role, family, sexual education, teenagers.
551315326H1D012010ANALISIS PENGARUH VARIASI JARAK PEMASANGAN HORIZONTAL
PADA PEMODELAN SOIL NAILING TERHADAP BEBAN CABUT
Longsor atau sering disebut gerakan tanah adalah suatu peristiwa geologi yang terjadi karena pergerakan massa batuan atau tanah dengan berbagai tipe dan jenis. Ada banyak sistem perkuatan lereng yang biasa digunakan untuk mencegah longsor salah satunya adalah dengan menggunakan soil nailing.
Soil nail adalah jenis perkuatan lereng dengan memasang batangan-batangan baja kedalam tanah (Lazarte , 2003). Perkuatan yang diberikan diperoleh dari kekuatan tegangan baja dan gesekan antara permukaan batangan baja dengan tanah disekelilingnya yang akan memberikan gaya perlawanan tambahan bagi lereng (Fauzi, 2012). Pada pelaksanaannya, terdapat beberapa kegagalan internal yang terjadi pada struktur soil nailing, salah satunya adalah nail-soil pullout failure yaitu kegagalan disepanjang permukaan tanah grouting terhadap tanah karena ikatan antara grouting terhadap tanah kurang berfungsi, kegagalan ini juga biasa disebut dengan kegagalan cabut nail. Jarak pemasangan horizontal merupakan salah satu variabel yang berpengaruh terhadap kegagalan beban cabut nail.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak horizontal terhadap beban cabut yang mengakibatkan kegagalan cabut nail yang dilakukan dengan membuat pemodelan fisik dengan skala laboratorium 1:10. Kotak uji dengan ukuran 60 x 30 x 40 digunakan sebagai pemodelan fisik lereng berisi tanah yang dipadatkan. Kotak uji dibuat 4 buah dengan masing-masing variasi pemasangan jarak horizontal nail 10 cm, 15 cm, 20 cm, dan 25 cm. Uji cabut nail dilakukan dengan mengaitkan ujung nail dengan alat bridge crane, lalu diberi beban secara bertahap sampai nail tercabut dari kotak uji.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa beban cabut dengan jarak horizontal 10 cm menghasilkan beban terkecil yaitu 31,215 kg , dan beban cabut maksimum diperoleh pada jarak horizontal 25 cm dengan nilai 66,575 kg. Dan berdasarkan nilai efisiensi pemasangan nail, jarak 10 cm juga mempunyai nilai efisiensi yang paling kecil yaitu 0,9923 dan meningkat sampai jarak 25 cm yaitu 0,994. Hal ini membuktikan bahwa jarak pemasangan mempunyai pengaruh terhadap beban cabut nail.
Landslide or often called movements of the ground is an event geology which occurs because the movement of the mass of rock or soil with various types of and types of. There are many system reinforcement of soil that commonly used to prevent landslide one of them is by using soil nailing.
Soil nailing is the type of soil reinforcement by installing steel bars into the land (Lazarte, 2003). Reinforcement that given obtained from the stress strength of the steel and the friction between the surface of the steel bars with the soil around it that will give additional resistance force for slope (Fauzi, 2012). In the implementation, there is some failure internal happened on the structure of soil nailing, one of them is nail-soil pullout failure along the surface of the ground grouting to the ground because a bond between the grouting to the groundless serves, the failure also of an ordinary called in failure pullout nail. The nail space of horizontal installation is one of the variables that influence the pullout load of nail.
The purpose of this research is to know the influence of the nail space of horizontal variations against nail pullout load by making physical modeling with 1:10 scale. Box test with size 60 x 30 x 40 used as modeling physical slope contains land compact. Box test made 4 pieces with each variation the installation of the nail space of horizontal nail 10 cm , 15 cm , 20 cm , and 25 cm. The nail pullout test is done with tie the nail tip with the rope that tied with bridge crane in the other side, and then given load gradually until the nail drawn from the test box.
Based on the research result obtained that the pullout load to the nail space of horizontal 10 cm produce burden smallest of 31,215 kg and pullout load maximum obtained at a distance horizontal 25 cm with the 66,575 kg. And based on the efficiency of the installation nail , a distance of 10 cm also has the efficiency of the smallest of 0,9923 and increased to distance 25 cm of 0,994. This proved that distance the installation of having the effect on pullout load.
551415319H1L012037RANCANG BANGUN APLIKASI HYBRID LOCATION BASED SERVICE (LBS) TEMPAT PARIWISATA DI PEKALONGAN BERBASIS ANDROID MENGGUNAKAN PHONEGAP FRAMEWORKPekalongan memiliki banyak tempat wisata menarik, akan tetapi kurang diminati wisatawan. Biasanya wisatawan datang ke kota ini hanya tertarik dengan budaya batik. Hal ini disebabkan minimnya informasi mengenai tempat wisata itu sendiri. Aplikasi Android dapat menjadi alternatif untuk memberikan informasi ke wisatawan. Selain itu, dengan menggunakan teknologi Google Map Api dan Global Positioning System (GPS) pada Android, pengguna dapat mengetahui tempat wisata terdekat dan rute menuju tempat tersebut. Aplikasi ini dibangun menggunakan Phonegap framework yang merupakan sebuah framework open source untuk membangun aplikasi mobile cross-platform dengan menggunakan HTML5, JavaScript, dan CSS. Aplikasi ini juga menyediakan informasi mengenai tempat lainnya seperti penginapan, restoran, ATM, SPBU, perbelanjaan, event, dan transportasi. Dengan demikian, wisatawan akan lebih mudah ketika berwisata di Pekalongan dengan informasi yang lengkap dan mudah di akses.Pekalongan city has many interesting sights, but less attractive to tourists. Usually tourists coming to Pekalongan are interested with the batik culture only. This is due to the lack of information about sights. Android apps can be an alternative for providing information to tourists. In addition, by using the Google Map Api technology and Global Positioning System (GPS) on Android, users can find out nearby sights and routes leading to it. These applications are built using Phonegap framework. It is an open source framework for building cross-platform mobile applications using HTML5, JavaScript, and CSS. The application also provides information about other places like hotets, restaurants, ATMs, gas stations, shopping, events, and transportations. Thus, tourists will be easier when travelling in Pekalongan with complete information and easy access.
551515328H1L012034RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS FASILITAS PUBLIK PEMERINTAH DAERAH BANYUMAS MENGGUNAKAN YII FRAMEWORKFasilitas publik merupakan fasilitas – fasilitas yang disediakan oleh pemerintah untuk dipakai secara bersamaan oleh masyarakatnya. Fasilitas publik memiliki ragam jenis dan kegunaan diantaranya kesehatan, pendidikan, transportasi, wisata, dan jalan. Masing – masing jenis tersebut memiliki banyak jenis khusus lainnya. Daerah Banyumas sendiri memiliki banyak sekali fasilitas publik. Dengan banyaknya fasilitas publik yang dimiliki, maka akan sulit bagi pemerintah daerah Banyumas untuk melakukan pengawasan pada masing – masing fasilitas publik tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu sistem yang sudah terkomputerisasi untuk menangani pengawasan dari fasilitas publik tersebut. Sistem tersebut juga harus bisa menampilkan fasilitas publik yang tersedia. Maka dibuatlah sistem informasi geografis fasilitas publik (SIGFPB) pemerintah daerah Banyumas ini. Sistem ini berguna menampung keluhan yang diberikan masyarakat pada masing – masing fasilitas publik yang terdaftar dalam sistem. Sistem ini telah selesai dibangun dengan menggunakan konsep PBO (Pemrograman Berorientasi Objek) yang dirancang menggunakan DFD (Data Flow Diagram), ERD (Entity Relationship Diagram), PDM (Physical Data Model), dan UML (Unified Modeling Language), PHP sebagai bahasa pemrogramannya, PostgreSQL sebagai basis data, dan YII versi 1 sebagai frameworknya.Public facilities are facilities provided by the government to be used simultaneously by society. The public facilities have diverse types and uses including health, education, transportation, travel, and road. Each of these types has many other special types. Banyumas area itself has a lot of public facilities. With so many public facilities, it will be difficult for the government to conduct surveillance of Banyumas on each public facilities. Therefore, we need a system that is already computerized to handle supervision of each public facilities. The system should also be able to show us the public facilities itself that available. So i make a geographic information system of public facilities (SIGFPB) for local government Banyumas. This system is useful to accommodate complaints by a community on each public facilities that is registered in the system. This system has been built using the concept of OOP (Object Oriented Programming) which is designed to use DFD (Data Flow Diagram), ERD (Entity Relationship Diagram), PDM (Physical Data Model), and UML (Unified Modeling Language), PHP as the programming language , PostgreSQL as the database, and YII version 1 as procurement framework.
551615342H1C012023ANALISIS PENGAMAN DAN GANGGUAN SURJA PETIR UNTUK KEHANDALAN SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) 20 kV STUDI KASUS PENYULANG KBL. 02 DI PT. PLN (Persero) AREA PELAYANAN JARINGAN PURWOKERTOGangguan yang besar dalam sistem tenaga listrik terjadi di daerah penyaluran (transmisi dan distribusi). Diantara sekian banyak gangguan yang terjadi, petir merupakan salah satu penyebabnya. Letak Indonesia pada daerah khatulistiwa dengan iklim tropis dan kelembaban yang tinggi, sehingga menyebabkan kerapatan sambaran petir di Indonesia tinggi. Salah satu aset jaringan PT. PLN (PERSERO) APJ PURWOKERTO yang sering mengalami gangguan petir adalah penyulang KBL. 02 terutama di zone 2. Permasalahan diatas perlu dikaji sehingga kita dapat menentukan sistem proteksi terhadap gangguan petir pada penyulang KBL. 02 zone 2 secara efektif agar sistem proteksi dan kehandalan pelayanan menjadi lebih baik, dan dapat menyelesaikan permasalahan tersebut secara ekonomis dan efisien. Berdasarkan dari hasil perhitungan arrester, untuk arrester yang digunakan di lapangan yaitu dengan spesifikasi rating tegangan 18 kV dan arus 5 kA dengan tegangan pelepasan 150 kV, diharapkan arrester bisa meminimalisir gangguan sambaran induksi. Hasil yang diperoleh setelah melakukan simulasi menggunakan ATP Draw, arrester dapat mereduksi tegangan yang cukup besar dengan cepat dengan jarak 200 m dari gangguan dan durasi waktu 1,2-5 ms. Dari simulasi juga diperoleh dengan pemasangan arrester semakin dekat dengan peralatan maka akan semakin baik karena waktu pengaman terhadap tegangan lebih surja petir akan semakin cepat.The big problem of electrical system happened in the distribution territory (transmision & distribution). Among the many disorders that occur, strom is the one of the causes of the problem. Indonesia is on the equator line with the tropical wheather and the high humidity it causes of the high strike density of the strom in Indonesia high. One of the networking aset of PT. PLN (Persero) which is offenly had the storm problem is feeder KBL. 02 especially in the zone 2. The problems above need to be disscussed so we can decide the protection system towards the lightning disturbances of feeder KBL. 02 zone 2 effectivelly so the protection system an the good reliability will be better, and they can solve those problems economically and efficient. Based on the measurement result of the arrester, for the arrester that used in the field which have 18 kV voltage rating and current 5 kA with voltage discharge 150 kV spesification, hopefully the arrester can minimize the induction stroke interruption. The result after we have done the simulation using ATP Draw, arrester can reduce the high voltage quickly with the distance is about 200 m from the problem and with the duration is about 1,2-5 ms. From the simulation we also can get when the arrester is closer with to tools so it will be better because the time of safety towards more voltage of the lightning strike will be faster.
551715320H1D012004PERKUATAN TANAH LEMPUNG LUNAK MENGGUNAKAN ANYAMAN KARET BAN BEKAS DENGAN VARIASI SAMBUNGAN ANYAMAN
(Reinforcement Of Soft Clay Soil Using The Rubber From Recycled Tire With Variation Of Webbing Connection)
Banyak cara yang biasa digunakan untuk memperkuat tanah dasar, salah satu cara yang sering digunakan adalah dengan memasang geogrid. Limbah karet ban bekas sebenarnya mempunyai potensi sebagai alternatife pengganti geogrid. Agar dapat digunakan sebagai perkuatan pada tanah dasar karet ban bekas harus disambung satu sama lain. Tipe sambungan yang digunakan antara lain lem, paku kayu dan paku kelling sebagai control akan diuji anyaman karet ban bekas tanpa perkuatan pada sambungannya Sampel tanah lempung lunak nantinya akan dimasukkan kedalam kotak yang berukuran (1x1x0,5) m3. Kotak uji akan diisi oleh tanah sedalam 30 cm lalu anyaman karet ban bekas diletakkan pada kedalaman 20 cm dari permukaan tanah. Pengujian yang dilakukan meliputi pengujian karakteristik tanah dan pembebanan plat. Hasil pengujian karakteristik tanah didapatkan bahwa tanah tersebut merupakan tanah lempung. Sedangkan untuk hasil pengujian pembebanan plat didapatkan bahwa selisih anyaman yang tidak menggunakan sambungan dan sambungan adalah sebesar 123,3 kg. berdasarkan dari hasil pengujian sambungan lem merupkan sambungan yang dapat menghasilkan nilai kapasitas dukung tanah yang paling besar yaitu sebesar 569,656 kg.Many common ways for strengthening the land base, one way that is often used is to install geogrid. Rubber tire waste have potential as a substitute alternatives geogrid, besides scrap tire rubber prices are also relatively cheaper. In order to be used as reinforcement in subgrade rubber scrap tires to be connected to one another.. The type of connection that will be used in this research. Are glue type, wooden type, and kelling nail. As a control a weaving without connection will be tested. The soil sampel that used ini this research must be a clay. The clay sampel will be filled (1x1x0,5) m3sized box. The box will be filled until 30 cm height, and the weaving will be placed 20 cm deep from the surface of the sampel box. The test that will be done include soil characteristic test, the data processing will be done with tangent intersection. The result of the characteristic soil test showed that the sampel was a clay, as for the plate load test, the result showed that the difference of the weaving that used and not used connection was 123,3 kg. As the result of the connection test, the glue type connection was the strongest connection with 569,656 kg, amount of soil capacity.
551815322H1D012054PERHITUNGAN SUSPENDED LOAD BERDASARKAN PREDIKSI CURAH HUJAN BULANAN DENGAN METODE JARINGAN SYARAF TIRUAN BACKPROGATION DAN PEMODELAN HUJAN LIMPASAN
(STUDI KASUS WADUK MRICA)
Waduk Mrica memiliki luas daerah aliran sungai (DAS) 957,01 km2 dan kapasitas tampungan 187.620.000 m3 dengan curah hujan yang relatif tinggi di area sekitar DAS mengakibatkan terjadinya pengendapan sedimen yang besar, dimana jumlah sedimen yang masuk ke dalam waduk berbanding lurus dengan jumlah air yang membawa sedimen tersebut. Dalam penentuan jumlah sedimen yang masuk kedalam waduk, peramalan curah hujan sangat diperlukan.
Peramalan curah hujan dalam penelitian ini dihitung menggunakan metode Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation. Metode ini menggunakan elemen perhitungan nonlinier dasar yang yang diorganisasikan sebagai jaringan yang saling berhubungan. Hasil pelatihan dan pengujian dari Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation menunjukan data curah hujan bulanan hasil prediksi memenuhi tingkat kepercayaan (confidence interval) 95%. Kemudian dilakukan pemodelan hujan limpasan terhadap prediksi curah hujan dengan Model Mock untuk memperoleh besarnya debit inflow pada Waduk Sempor. Selanjutnya data debit hasil pemodelan digunakan sebagai parameter perhitungan debit dan volume sedimen bersama konsentrasi sedimen hasil pengukuran di lapangan.
Berdasarkan analisis menggunakan JST Backpropagation, prediksi curah hujan selama 15 tahun mendatang memiliki koefisien korelasi 0,957% dengan MSE sebesar 0,00159. Sedangkan analisis pada pemodelan hujan limpasan dengan Model Mock menghasilkan debit inflow untuk 15 tahun mendatang dengan interval koefisien korelasi 0,4 - 0,8 dan kesalahan volume (VE) kurang dari 25%. Perhitungan debit dan volume sedimen dilakukan dengan rumus USBR dengan nilai konsentrasi berdasarkan hasil regresi linear yang diperoleh dari pengambilan dan pengujian sampel. Berdasarkan perhitungan analisis regresi linear, diperoleh konsentrasi suspended load rata-rata sebesar 467,30 mg/liter. Kemudian konsentrasi tersebut dihitung bersama debit inflow prediksi untuk menghitung volume suspended load yang menghasilkan volume sedimen selama 15 tahun sebesar 5.511.523,028 m3 dengan rata-rata 367.434,86 m3/tahun
Mrica reservoir has a watershed area and srorage capacity the watershed area is 957.01 km2 and the srorage capacity is 187.620.000 m3 storage capacity with a relatively high rainfall in the around Mrica watershed area allow sedimentation basin large sediment, where large amounts of sediment into the reservoir is directly proportional to the number of water carrying these sediments. In determining the amount of sediment into the reservoir, forecasting rainfall is very necessary.
Forecasting rainfall in this study was calculated using Backpropagation Neural Network. This method was using a nonlinear element calculation base, that organized as a network of interconnected. The results of the training and testing of Neural Network Backpropagation monthly rainfall data showed that the predicted results got the level of trust (confidence interval) of 95%. Mock Models used to modelling runoff from predicted rainfall for gained Sempor Reservoir inflow discharge. Data from modelling used to calculate the sediment discharge and volume together with sediment concentration that calculated in the field.
According of ANN Backpropagation analysis, rainfall prediction for the next 15 years have 0.957% correlation coefficient with 0.00159 MSE. Analysis from runoff modelling using Mock Models resulting inflow discharge for 15 years later with 0.4 – 0.8 correlation coefficient intervals and volume error (VE) less than 25%. Sediment discharge and volume calculation using USBR formula with concentration value according to linear regression result from sampling and testing of samples. Based on regression linear analysis, the average suspended load concentration was 467,30 mg/liter. Then, the concentration was calculated along with the inflow discharge prediction to calculate the volume of suspended load that generates volume during 15 years later is 5.511.523,028 m3 with an average 367.434,86 m3/year.
551915323D1E012211HUBUNGAN PENDAPATAN DAN JUMLAH KEPEMILIKAN TERNAK ORANGTUANYA DENGAN KEINGINAN BETERNAK PADA ANAK PETERNAK SAPI PERAH
(Studi Kasus Anggota Koperasi Susu “PESAT” Banyumas)
Penelitian yang dilaksanakan dari tanggal 11 April sampai dengan 11 Mei 2016 di Kabupaten Banyumas ini bertujuan untuk mengetahui 1) rata-rata pendapatan per tahun peternak sapi perah, 2) rata-rata jumlah ternak yang dimiliki peternak sapi perah satu tahun terakhir, 3) keinginan beternak pada anak peternak sapi perah dan 4) untuk menganalisis hubungan antara pendapatan dan jumlah kepemilikan ternak orangtua dengan keinginan beternak pada anak peternak. Penelitian dilakukan dengan metode survey dengan sasaran penelitiannya adalah peternak dan anak peternak sapi perah di Kabupaten Banyumas. Metode penetapan sampel wilayah menggunakan stratified random sampling berdasarkan pengelompokan populasi peternak. Setelah dilakukan pengacakan, terpilih Kecamatan Sumbang yang mewakili populasi peternak tertinggi, Kecamatan Karanglewas yang mewakili populasi peternak sedang, dan Kecamatan Kedungbanteng yang mewakili populasi peternak terendah. Penetapan sampel responden yaitu 27 peternak dan 42 orang anak peternak dengan usia 16-31 tahun. Hasil analisis menunjukkan rata-rata pendapatan peternak sebesar Rp 20.290.000 per tahun. Rata-rata jumlah ternak sebanyak 2 ST. Keinginan anak peternak untuk melanjutkan usaha orangtuanya mayoritas dalam kategori sangat kuat. Hasil analisis rank spearman menunjukkan korelasi positif antara pendapatan dengan keinginan beternak pada anak sebesar 0.201 (korelasi sangat lemah). Hasil analisis antara jumlah kepemilikan ternak orangtua dengan keinginan beternak pada anak sebesar 0.348* (korelasi cukup kuat).This research, which had been conducted from 11st April to 11 st May 2016 in Banyumas, aims to measure 1) the average of dairy farmers’ annual income, 2) the average number of their cattle in the recent year, 3) their children’s willingness to sustain their parents’ dairy bussiness, and 4) to analyze the relationship between the farmers’ income and dairy cattle number and the children willingness. Conducted by using a survey method, this research targets at the dairy farmers who are the members of the Dairy Cooperation “Pesat” in Banyumas. In determining the research sample area, this research used a stratified random sampling based on farmer’s population. There were three selected districts: Sumbang, Karanglewas, and Kedungbanteng, which were chosen for representing the highest, medium, and the lowest populations, respectively. The respondent samples were 27 dairy farmers and 42 children of theirs whose ages were between 16 to 31 year old. The average annual income of the farmers’ is Rp 20.290.000. The average number of dairy cattle in the last year is 2 livestock unit. Based on this research, the children’s willingness to inherit their parents’ dairy bussiness is quite strong. The rank spearman analysis showed that there is a positive correlation between the farmers’ income and children’s willingness in farming, which is 0.201 (a very low correlation), while that between the dairy cattle number and children’s willingness is 0,348* (a strong enough correlation).
552015324G1G012025PENGARUH PEMBERIAN SUPLEMEN SERBUK TULANG IKAN TUNA MADIDIHANG (Thunnus albacares) PADA MASA KEHAMILAN, MASA MENYUSUI, DAN MASA KEHAMILAN DILANJUTKAN MENYUSUI TERHADAP KADAR KALSIUM GIGI ANAK (Studi Eksperimental pada Tikus Putih Galur Sprague dawley)Kalsium merupakan mineral makro yang berperan sangat penting di dalam tubuh. Kalsium ditemukan lebih dari 99% pada jaringan keras yaitu tulang dan gigi manusia dalam bentuk kalsium fosfat. Kebutuhan kalsium selama kehamilan dan menyusui harus terus dipenuhi karena berperan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tulang dan gigi anak yang dikandung. Salah satu suplemen kalsium yang dapat digunakan adalah tulang ikan tuna madidihang. Tulang ikan tuna madidihang (Thunnus albacares) mengandung kalsium tinggi dalam bentuk kalsium fosfat yang dapat diserap oleh tubuh dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian suplemen serbuk tulang ikan tuna madidihang pada masa kehamilan, masa menyusui, dan masa kehamilan dilanjutkan masa menyusui terhadap kadar kalsium gigi anak tikus. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan rancangan post-test only control group design. Teknik pengambilan sampel adalah metode purposive sampling. Penelitian ini menggunakan 24 sampel yang dibagi menjadi 4 kelompok yaitu 1 kelompok kontrol yang diberi Na-CMC 0,25% dan 3 kelompok perlakuan yang diberi serbuk tulang ikan tuna madidihang selama masa kehamilan, menyusui, dan kehamilan dilanjutkan menyusui. Subjek penelitian adalah induk tikus Sprague dawley dengan unit analisis yaitu anak tikus yang berusia 15 hari. Sampel penelitian yang diambil berupa empat gigi insisivus anak tikus dan dilakukan pengukuran kadar kalsium menggunakan spektrofotometri serapan atom. Data dianalisis menggunakan uji Saphiro Wilk, uji Levene Test, One Way ANOVA dan Post-Hoc LSD. Hasil penelitian menunjukkan kadar kalsium pada setiap kelompok perlakuan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol(p<0,05). Simpulan dari penelitian ini adalah kadar kalsium gigi anak pada kelompok yang diberi suplemen serbuk tulang ikan tuna madidihang pada masa kehamilan, masa menyusui, dan masa kehamilan dilanjutkan menyusui lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol.Calcium is a very important macro mineral in the body. Calcium is found more than 99% in hard tissue like human bones and teeth in the form of calcium phosphate. Calcium needs during pregnancy and lactation should be maintained because it has important role for growth and development of children’s bones and teeth. One of the calcium supplement that can be used is the yellowfin tuna (Thunnus albacares) bones. The Yellowfin tuna fish bones contain high calcium in the form of calcium phosphate which can be absorbed properly in the body. The purpose of this study was to determine the effect of yellowfin tuna bone powder supplement during pregnancy, lactation, and pregnancy continued lactation period to the calcium level of rat pups teeth. This research used laboratoric experimental and purposive sampling method. This study used 24 samples which was divided into four groups: one control group were given Na-CMC 0.25% and three treatment groups were given yellowfin tuna bone powder during pregnancy, lactation, and pregnancy continued lactation. The subject of this research was the parent of Sprague dawley rats with the analysis unit was the rat pups aged of 15 days. The samples were four incisors teeth of rat pups and the calcium level of teeth measured by atomic absorption spectrophotometry (AAS). Data were analyzed by Shapiro Wilk test, Levene test Test, One Way ANOVA, and Post-Hoc LSD. The result showed that the teeth calcium level in each treatment group was higher than the control group(p<0,05). In conclusion, the calcium level of rat pups teeth of the group given yellowfin tuna bone powder supplement during pregnancy, lactation, and pregnancy continued lactation were higher than the control group.