Artikelilmiahs

Menampilkan 5.421-5.440 dari 48.831 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
542115222D1F014005PENGGUNAAN BERBAGAI MACAM BAHAN PENSTABIL DALAM PEMBUATAN ES KRIM TERHADAP KEKERASAN DAN TINGKAT KESUKAANPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kekerasan dan tingkat kesukaan es krim dengan penambahan berbagai macam bahan penstabil. Pengambilan data dilaksanakan pada tanggal 16 Februari sampai dengan 23 Februari 2016 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Materi penelitian yang digunakan adalah 10.000g susu sapi segar, 1.000g susu skim, 1.500g butter cream, 2.260g gula, 180g kuning telur, bubuk gelatin, karagenan, dan agar-agar masing–masing 20g. Pengujian tingkat kekerasan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan, yaitu; P0: Es krim tanpa bahan penstabil, P1: Es krim dengan bahan penstabil dari gelatin 0,4%, P2: Es krim dengan bahan penstabil dari karagenan 0,4%, P3: Es krim dengan bahan penstabil dari agar-agar 0,4%. Seluruh perlakuan yang dianalisa diulang sebanyak 5 kali. Sedangkan Pengujian tingkat kesukaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 4 perlakuan dan panelis yang digunakan sebanyak 25 orang. Data dianalisa dengan analisis variansi. Jika terdapat perbedaan yang nyata, dilakukan uji lanjut Beda Nyata Jujur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembuatan es krim dengan berbagai macam bahan penstabil mempunyai pengaruh yang sangat nyata (P< 0,01) terhadap tingkat kekerasan es krim. Pembuatan es krim tanpa bahan penstabil memiliki tingkat kekerasan yang tinggi daripada es krim dengan penambahan bahan penstabil. Es krim dengan bahan penstabil agar memiliki tingkat kekerasan yang paling rendah. Pembuatan es krim dengan berbagai macam bahan penstabil mempunyai pengaruh yang nyata (P< 0,05) terhadap tingkat kesukaan es krim. Pembuatan es krim tanpa bahan penstabil memiliki tingkat kesukaan yang rendah daripada es krim dengan penambahan bahan penstabil. Es krim dengan bahan penstabil agar-agar memiliki tingkat kesukaan yang paling tinggi. Kesimpulan penelitian ini yaitu es krim yang dibuat menggunakan agar-agar sebagai bahan penstabil memiliki tingkat kekerasan yang rendah serta tingkat kesukaan yang tinggi.This research aimed to evaluate the solidness and consumer’s preference of ice cream stabilized with gelatin, carrageenan, or agar-agar. The experiment had been conducted from 16th until 23rd February 2016 at the Laboratory of Animal Products Technology, Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The research materials were 10.000g milk, 1.000g skimmed milk, 1.500g butter cream, 2.260g sugar, 180g egg yolk, dan 20g gelatin, 20g carrageenan, and 20g agar-agar powder. The experiment on the solidness used a Completely Randomize Design with four treatments, consisting of P0: Ice cream without stabilizer, P1: Ice cream with 0,4% gelatin as the stabilizer, P2: Ice cream with 0,4% carrageenan, and P3: Ice cream with 0,4% agar-agar, each of which was repeated five times. The assessment on consumer’s preference used a Randomized Complete Block Design with four treatments and 25 panelists. The collected data was analyzed by using an analysis of variance and followed by Honesty Significant Different (HSD) test. The results showed that using gelatin, carrageenan, or agar-agar as the stabilizer has highly significant effects (P< 0,01) on the solidness of ice cream. Ice cream made without these stabilizers has a higher level of solidness than the one which used them. Ice cream using agar-agar as its stabilizer has the lowest levels of solidness. Meanwhile, the various stabilizer make significant effects (P< 0,05) on consumer’s preference. Those made without stabilizers have the lowest level of consumer’s preference. Ice cream stabilized with agar-agar has the highest levels of consumer’s preference. It can be conclude that ice cream stabilizer with agar-agar has the lowest solidness and is most preferred by consumers. This research recommends using 0,4% agar–agar as ice cream’s stabilizer. Not only will it reduce the production costs and lower the solidness, but also it will be the most favored one.
542215223H1C012016PEMBANGUNAN SMART HOME SYSTEM DENGAN PENDEKATAN BERORIENTASI OBJEKSmart Home merupakan salah satu perangkat “smart” yang telah banyak berkembang pada masa kini. Suatu perangkat, bisa dikatakan “smart” apabila memiliki sebuah perangkat lunak yang baik. Di luar sana, masih terdapat beberapa perangkat smart home yang belum memenuhi kebutuhan penggunanya. Salah satu jalan keluarnya yaitu membangun smart home yang sesuai dengan kebutuhan kita. Namun bagaimana cara membangun sistem smart home yang baik ?. Salah satunya dengan membangun sistem menggunakan pendekatan berorientasi objek. Pembangunan sistem ini diawali dengan pembuatan model UML (Unified Modelling Language) yang diantaranya, penulisan requirements statement/text analysis, use-cases diagram, sequence diagram, class diagram, state machine yang kemudian dilanjutkan ke perancangan program dan perangkat keras. Pembangunan Smart Home system dengan menggunakan pendekatan berorientasi objek akan mempermudah pengubahan struktur sistem ketika diinginkan perubahan atau penyesuaian tanpa harus merubah keseluruhan sistem. Terdapat 5 objek utama yang ada pada sistem ini, diantaranya yaitu objek lampu, gerak, cahaya, suhu dan Buzzer. Masing-masing objek ini memiliki kelas yang merupakan dasar dari objek-objek tersebut. Kelas-kelas tersebut diantaranya kelas lampu, alarm, dan sensor. Untuk berinteraksi dengan pengguna, terdapat sebuah antarmuka web yang berguna untuk menyajikan informasi yang diterima dari sensor. Antarmuka ini juga berfungsi untuk mengontrol fungsi-fungsi pada sistem smart home ini. Ketika dilakukan pengujian dari sistem smart home ini, nilai error rata-rata yang didapatkan pada pengujian sensor cahaya yaitu sebesar 3,5% dalam pembacaan pada serial monitor dan 5,1% pada pembacaan pada antarmuka. Sedangkan nilai error yang dihasilkan pada pengujian sensor suhu, nilai error rata-rata pada pembacaan serial monitor sebesar 1,4% dan pada antarmuka sebesar 3,9%. Dari hasil pembangunan sistem smart home dengan pendekatan berorientasi objek ini dapat bekerja dengan baik. Hal ini dilihat dari sensor cahaya digital dan sensor DHT22 yang memiliki error pembacaan di bawah 10%.Smart Home is one of "smart" device that have grown these days. A device, can be called "smart" if they have a good software. There are still some smart home devices that do not meet the needs of its users out there. One of the solutions is to build a smart home that suits our needs. But how to build a good Smart Home System ?. One of them is building the system using object-oriented approach. The development begins with the UML modeling (Unified Modeling Language), which are writing requirements statement / text analysis, use-cases, sequence diagrams, class diagrams, state machine and then proceed to the design of programs and hardware. Smart Home System development using object-oriented approach will make modification of the system structure or adjustments much easier, without having to change the whole system. There are 5 main objects that exist in this system, they are light, motion, light, temperature and Buzzer. Each object has a class which is the basis of the objects. The classes include lights, alarms, and sensors. To interact with the user, there is a web interface that is useful to present the information received from the sensor. This interface also serves to control the functions on this smart home system. When testing the system, the value of the average error obtained on the light sensor is 3.5% on serial monitor and 5.1% on the web interface. Meanwhile the error value generated from temperature sensors, the average error value on the serial monitor readings is 1.4% and 3.9% on the web interface. The smart home system development using object-oriented approach is working well. It can be seen from the digital light sensor and sensor error DHT22 which has error readings below 10%.
542315224D1F013013SUPLEMENTASI HERBAL DALAM PUPUK CAIR URIN SAPI BUNTING TERHADAP KANDUNGAN ADF DAN KADAR ABU TANAMAN RUMPUT GAJAH(THE EFFECTS OF HERB SUPPLEMENTATION IN LIQUID FERTILIZER OF PREGNANT COW URINE ON THE ADF AND ASH CONTENTS OF ELEPHANT GRASS)Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian suplementasi herbal dalam pupuk cair urin sapi bunting dan dosis pupuk terbaik ditinjau dari kandungan ADF dan kadar abu rumput gajah varietas Thailand. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dan rancangan yang digunakan adalah Nested (grouped). Penelitian menggunakan 12 perlakuan P1(Pupuk organik cair urin sapi bunting); P2(Pupuk organik cair urin sapi bunting + nanas); P3 (Pupuk organik cair urin sapi bunting + nanas + temulawak); P4(Pupuk organik cair urin sapi bunting + nanas + temulawak + mengkudu) dengan dosis pupuk d1 (450 L/ha/defoliasi); d2 (1350 L/ha/defoliasi); d3 (4050 L/ha/defoliasi) dan 3 ulangan. Analisis ragam menunjukan bahwa pemberian suplementasi herbal dalam pupuk cair urin sapi bunting tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap kandungan ADF dan kadar abu tanaman rumput gajah varietas Thailand. Akan tetapi dosis pupuk berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap kandungan ADF dan kadar abu tanaman rumput gajah varietas thailand. Berdasarkan analisis pembahasan dapat disimpulkan bahwa suplementasi herbal dalam pupuk cair urin sapi bunting tidak mampu menurunkan kandungan ADF dan kadar abu tanaman rumput gajah varietas Thailand. The purpose of this study were to assess the effect of herb supplementation in liquid fertilizer made of pregnant cow urine on the ADF and ash contents of Thai variant of elephant grass and to determine the best dose of the fertilizer. This research used experimental method and Nested (group) design in which there were 4 treatments; P1(Liquid Fertilizer of Pregnant Cow Urine), P2(Liquid Fertilizer of Pregnant Cow Urine + Ananas cosmosus), P3 (Liquid Fertilizer of Pregnant Cow Urine + Ananas cosmosus + Curcuma xanthorriza Roxb), P4(Liquid Fertilizer of Pregnant Cow Urine + Ananas cosmosus + Curcuma xanthorriza Roxb + Morinda citrifolia) with dose of fertilizer d1 (450 L/ha/defoliation); d2 (1350 L/ha/defoliation); d3 (4050 L/ha/defoliation) each of which was replicated 3 times. The results of analysis of variance showed that the supplementation did not significantly effect (P> 0.05) the ADF and ash contents of the grass. However, the dose of fertilizer was significantly effective(P<0.05). Based on the results of analysis and discussion, it can be concluded that herb supplementation in liquid fertilizer made of pregnant cow urine is unable to decrease the ADF and ash contents of Thai variant of elephant grass.
542415225D1F013008ANALISIS KOMPARATIF DITINJAU DARI PENDAPATAN DAN EFISIENSI USAHA TERNAK ITIK PEDAGING DAN PETELUR DI KECAMATAN SUMPIUH

(REVENUES AND BUSINESS EFFICIENCY OF BROILER DUCK AND LAYING DUCK BUSINESS IN SUMPIUH DISTRICT: A COMPARATIVE STUDY)
Penelitian yang dilaksanakan pada bulan Agustus hingga September 2015 ini bertujuan untuk membandingkan pendapatan dan efisiensi itik pedaging dan petelur, serta mengkaji faktor jumlah ternak, pakan ternak, pendidikan, curahan kerja, lama beternak dan pola pemeliharaan terhadap pendapatan dan efisiensi usaha ternak pedaging dan petelur di Kecamatan Sumpiuh. Pengambilan sampel menggunakan metode survey dengan metode penetapan sampel kecamatan menggunakan purposive sampling dengan lokasi Kecamatan Sumpiuh ditentukan karena salah satu penghasil itik di Banyumas, sedangkan metode penetapan peternak menggunakan metode stritifed random sampling. Sampel dibagi menjadi dua strata yaitu itik pedaging dan itik petelur masing-masing strata diambil 30% dan minimal 30 responden. Itik pedaging jumlah sampelnya kurang dari 30, maka dibulatkan menjadi 30 responden. Jumlah responden itik pedaging sebesar 30 responden, sedangkan petelur berjumlah 49 responden. Data dianalisis menggunakan student t test dan analisis multiple regresi. Hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan signifikan antara itik pedaging dan petelur pada variabel pendapatan dengan nilai signifikasi pendapatan sebesar 0,002 dan efisiensi sebesar 0,300. Terdapat perbedaan tersebut dikarenakan variabel pendapatan hasil ujinya kurang dari 0,05. Analisis regresi terhadap pendapatan mendapatkan hasil bahwa f signifikan sebsar 0,000000002 yang berarti bahwa jumlah ternak, pakan ternak, curahan kerja, pendidikan, lama berternak dan variabel dummy pola pemeliharan secara bersama-sama berpengaruh terhadap pendapatan dengan tingkat signifikasi 99% (p<0,01). Analisis regresi terhadap efisiensi mendapatkan hasil bahwa f signifikan sebesar 0,000 yang berarti bahwa jumlah ternak, pakan ternak, curahan kerja, pendidikan, lama berternak dan variabel dummy pola pemeliharan secara bersama-sama berpengaruh terhadap efisiensi.Conducted from August to September 2015, this study aims to compare the income and the efficiency of broiler ducks and egg laying ducks business in Sumpiuh District, and to examine how they are influeced by the number of livestock, fodder, education, the outpouring of work, and time of breeding. The sample was collected by using a survey method and was determined by with the purposive sampling. Sumpiuh was chosen because it is one of the most notable duck breeding districts in Banyumas. In determining the breeders, this research used a stratified random sampling method. The sample was divided into two strata, namely broiler ducks and egg laying ducks, each of which was taken 30% and a minimum of 30 respondents. Broiler ducks sample were less than 30, then it was rounded into 30 respondents. The number of duck broiler respondents were 30 respondents, while egg laying duck were 49 respondents. The data were analyzed by using the student t test and multiple regression analysis. The results showed that there were significant differences between broiler ducks and egg laying ducks on the income variable with which the significant value of revenue and efficiency amounted to 0.002 and to 0.300, respectively. The difference is because the test result of the income variable is less than 0.05. The regression analysis of the revenue showed that f is 0.000000002 which means that the number of livestock, livestock feed, the outpouring of work, education, time of farming and the breeding of dummy variables altogether affect the revenue with a 99% significance level (p<0,01). The regression analysis of the efficiency showed that f= 0,000, which means that the number of livestock, livestock feed, the outpouring of work, education, time of farming and the maintenance of dummy variables altogether affect the efficiency.
542515227C1B012041DETERMINAN STRUKTUR MODAL DAN PENGARUHNHYA TERHADAP NILAI PERUSAHAAN TELEKOMUNIKASI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIAPenelitian ini merupakan studi empiris dengan judul “Determinan Struktur Modal dan Pengaruhnya Terhadap Nilai Perusahaan”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji apakah terdapat pengaruh antara Profitabilitas, Tangibility, Ukuran Perusahaan, Pertumbuhan Penjualan, Likuiditas terhadap Struktur Modal dan pengaruhnya terhadap Nilai Perusahaan Telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan telekomunikasi di Indonesia dari tahun 2011 sampai dengan 2015. Prosedur pemilihan sampel adalah purposive sampling sehingga diperoleh 6 perusahaan. Teknik analisis data menggunakan analisis regresi linear bertahap dan uji asumsi klasik.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa variabel profitabilitas, tangibility, ukuran perusahaan dan likuiditas berpengaruh terhadap struktur modal. Sedangkan variabel pertumbuhan penjualan tidak berpengaruh terhadap struktur modal. Serta variabel struktur modal berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
The research is an empirical study entitled “ Determinant of Capital Structure and The Impact of Firm Value “. The purpose of this research was to examine influence between Profitability, Tangibility, Firm Size, Sales Growth, Liquidity on Capital Structure and influence on Firm Value of Telecommunications Company listed on Indonesia Stock Exchange. The population in this research is a telecommunications company in Indonesia from 2011 to 2015. The research method used purposive sampling. There are 6 companies used as observation data. Analized data using stepwise linear regression and the classic assumptions test.
These conclution of this research indicate that the variable profitability, tangibility, firm size and liquidity has affect on the capital structure. While sales growth has no affect on the capital structure. And capital structure has affect on the firm value.
542615228C1B012099PENGARUH ANTESEDEN SOSIO-PSIKOLOGIS DAN POLITIK TERHADAP
ETNOSENTRISME KONSUMEN PADA MEREK SEPATU ASING
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh anteseden sosio-psikologis dan politik terhadap etnosentrisme konsumen pada merek sepatu asing. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa FEB Unsoed Purwokerto. Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 143 responden. Responden ditentukan menggunakan metode random sampling. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dengan menggunakan SEM (Structural Equation Modelling) menunjukkan bahwa: Keterbukaan budaya berpengaruh negatif terhadap etnosentrisme konsumen. Patriotisme, Konservatisme, dan Kolektivisme tidak berpengaruh terhadap etnosentrisme konsumen. Propaganda pemerintah berpengaruh positif terhadap etnosentrisme konsumen. Etnosentrisme konsumen berpengaruh negatif terhadap sikap pada merek asing. Implikasi dari kesimpulan di atas yang dapat dilakukan dalam upaya meningkatkan penjualan sepatu merek lokal adalah dengan meningkatkan intensitas kampanye cintai produk dalam negeri yang didukung oleh pemerintah. Menciptakan event dengan melibatkan komunitas anak muda untuk menanamkan merek lokal.The aims of this research is to find out the effect of socio-pshycological antecedents
and political antecedent on consumer ethnocentrism of foreign shoe brand. The research
population are jenderal soedirman university students. There were 143 customers chosen as
respondents of the research. Then Random sampling method was used to determine the
respondents. Based on result of research and data analysis using Structural Equation
Modelling (SEM) it has got the conclusions: Cultural openness has a negative effect on
consumer ethnocentrism. Patriotism, Conservatism and Collectivism has no effect on
consumer ethnocentrism. Political propaganda has a positive effect on consumer
ethnocentrism. Consumer ethnocentrism has a negative effect on Attitudes towards foreign
brand. As implication of the conclusion above, in order to boots sales of local shoe brand is
to the intensity campaign love domestic product that supported by the government. Creating
event with involve youth communities to infuse local brand.
542715229H1F012008Geologi Bawah Permukaan dan Indikasi Keterdapatan Gas Biogenik Pulau Topang
Kecamatan Rangsang Kabupaten Meranti
Provinsi Riau
Daerah penelitian terletak di Pulau Topang, Kec.Rangsang, Kab.Meranti, Prov.Riau. Penelitian dilakukan untuk mengetahui kondisi geologi di bawah permukaan dan indikasi keterdapatan gas biogenik. Kedalaman laut daerah penelitian 1-18 meter dari muka air laut rata-rata. Morfologi Pulau Topang termasuk tide fluvial delta. Jenis litologi terdiri dari lempung tua,pasir,lanau, dan lempung muda. Proses yang berkembang di daerah penelitian berupa abrasi dan pasang surut. Hasil analisa data rekaman strata box, korelasi pemboran dengan geolistrik, dan analisis Total Organic Contant (TOC) di daerah penelitian menunjukan endapan lempung tua memiliki kandungan material organik melimpah berkisar 50%-78% dari 10 sampel data bor yang diuji sehingga berpotensi sebagai source rock. Endapan pasir memiliki porositas yang baik sehingga berfungsi sebagai reservoir rock, dan endapan lempung muda sebagai batuan penutup atau cap rock. Kondisi geologi di daerah penelitian mendukung pembentukan dan akumulasi gas biogenik, sehingga ditemui 5 closure di darat dan 144 titik indikasi keterdapatan gas biogenik di laut. Indikasi keterdapatan gas biogenik banyak tersebar di bagian Timur dan Selatan Pulau Topang.The study area is located in the Topang Island, Rangsang Subdistrict, Meranti Regency, Riau Province. The study was conducted to determine geological conditions at the subsurface and indication of biogenic gas existence. Sea depth of research area is 1-18 meters from the average of sea level. Morphology of Topang Island is tide fluvial delta. Type of litology consist of old clay, sand, silt, and young clay. The process developed in research areas such as abrasion and tidal. Results of analysis recording strata box data, with geoelectric drilling correlation, and analysis of Total Organic Contant (TOC) in the area of research showed the old clay deposits have abundant organic content ranging from 50% -78% of the 10 samples tested drill data so that potential as source rock. Sand deposits have good porosity so the function as a reservoir rock and young clay deposits as overburden or cap rock. Geological conditions in research area supports the formation and accumulation of biogenic gas, so will be found 5 closure in land and 144 point of indication biogenic gas existence in sea. Many of indication biogenic gas existence spread in Eastern and Southern of Topang Island.
542815230H1F012040GEOLOGI DAN STUDI KONTROL STRUKTUR GEOLOGI TERHADAP POTENSI DEPOSIT MINERAL LOGAM BAWAH LAUT DAERAH SANGEANG, SUMBAWA, NUSA TENGGARA BARATDaerah penelitian berada di Perairan Sangeang, Kabupaten Bima, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Indonesia.Total wilayah meliputi 15% darat dan 85% laut. Penelitian dilakukan untuk mengetahui kondisi geologi dan kontrol struktur geologi terhadap potensi deposit mineral logam bawah laut. Metode yang digunakan dalam penelitian terdiri dari sampling litologi dan mineral butir, batimetri, seismik refleksi, dan geomagnet. Morfologi daerah penelitian meliputi Gunung Sangeang Api dan morfologi bawah laut berupa lereng pada bagian utara dan selatan, morfologi lembah dibagian tengah, serta morfologi gunungapi bawah laut. Litologi terdiri dari material hasil Gunung Sangeang Api yaitu Andesit dan material ekonomis berupa mineral logam bawah laut. Mineral logam yang hadir terdiri dari mineral Magnetit, Hematit, Ilminit, garnet, Kalkopirit serta Emas. Secara stratigrafi bawah laut tersusun atas 4 lapisan batuan yaitu A, B, C, dan D.Struktur geologi daerah penelitian dipengaruhi oleh perkembangan tektonik yang ada di kawasan Timur Indonesia yaitu didominasi oleh sesar naik dengan arah relatif barat-timur. Daerah penelitian memiliki kehadiran anomali magnetik positif yang diduga pada sebaran anomali tersebut berpotensi terdapat deposit mineral logam bawah laut. Sebaran deposit mineral logam bawah laut tersebut memiliki arah barat – timur. Sehingga diketahui struktur geologi mengontrol deposit tersebut karena memiliki arah yang relatif sama.The research area is located in Sangeang Island, Bima, Sumbawa, West Nusa Tenggara. Total region included 15% of land and 85% of sea. This research is done to know the condition of geology and control of geology structure for potential deposite of ore mineral in submarine. The methods that are used in this research consist of lithology sampling, graincounting sampling, bathymetry, seismic refletion, and geomagnet. The morphology included Sangeang Api volcano, while the morphology in submarine are ridge on the north and south side, with valley on the center of both ridge, and seamount. The lithology which consist of material products from Sangeang Api volcano, is Andesite rock and economic materials are submarine ore mineral. Ore minerals that exist are Magnetite, Hematite, Ilmenite, Garnet, Chalcopyrite, and Gold. Based on submarine stratigraphy are consist of 4 layer,these are A, B, C and D layer. Geology structure of the research area is influenced by development of tectonic in Eastern of Indonesia, these are dominance thrust fault with relative west – east direction. The location of research have postive anomaly magnetic presence, which is assumped have potential ore mineral deposite at the spreading of anomaly. The spreading of that potential ore mineral deposite have relative west – eastdirection, so will be known that geology structure which control that deposite because both of that have the same direction.
542915231H1L011009Rancang Bangun Aplikasi E-Commerce Berdasarkan Konsep Customer Relationship ManagementPenjualan suatu produk tidak hanya dilakukan secara langsung tetapi bisa
melalui perantara dunia maya (e-commerce), pelanggan dalam e-commerce dapat
melakukan interaksi secara aktif hanya apabila ada feedback yang baik dari sistem
ke pelanggan serta dengan diperbaharuinya pelayanan secara berkala.Customer
Relationship Management (CRM) adalah strategi pemasaran untuk menjaga dan
menciptakan hubungan yang baik dengan pelanggan dan mencegah pelanggan
untuk beralih ke kompetitor. Metode yang digunakan dalam pembangunan sistem
ini adalah Prototyping. Perancangan sistem menggunakan use case diagram,
sequence diagram, dan perancangan database menggunakan entity relationship
diagram. Dalam membangun aplikasi ini digunakan framework Yii2 dengan basis
PHP dan DBMS MySql. Dengan menerapkan konsep CRM dalam perancangan
dan pembangunan sebuah aplikasi e-commerce diharapkan dapat meningkatkan
kepuasan pelanggan yang secara otomatis dapat meningkatkan penjualan.
Product sales not only can be done physically but also by the cyber media,
customer in e-commerce can do active interaction if only there is a good feedback
from the system to the customer and with the frequent update of the service.
Customer Relationship Management (CRM) is marketing strategy to keep and
create a good relationship with customer and to prevent customer to move to
competitor. Method used on this system development is Prototyping. The
designing used use case diagram, sequence diagram, and entity relationship
diagram. In developing the application, Yii2 framework with PHP base and
MySql DBMS will be used. By applying the CRM concept on designing and
developing an e-commerce website it might increase the level of customer
satisfication that will automatically increase sales.
543015232H1C009053ANALISIS PERBANDINGAN POWER QUALITY ANTARA LAMPU LED, LAMPU PIJAR DAN LAMPU FLUORESCENTLampu LED dalam perkembangannya digunakan sebagai lampu penerangan seperti lampu pijar, lampu neon tabung dan lampu hemat energi (LHE). Karena terbuat dari bahan semikonduktor, lampu LED memiliki tingkat efisiensi yang tinggi sehingga sangat cocok menjadi alternatif pilihan untuk menggantikan lampu konvensional lainnya. Oleh karena itu penelitian tugas akhir ini menganalisa power quality yang dimiliki antara lampu LED, lampu pijar dan lampu LHE dalam kapasitas yang sama dengan melakukan pengukuran untuk mendapatkan perbandingan konsumsi daya, faktor daya, harmonisa dan tingkat pencahayaan.
Hasil yang didapatkan bahwa dalam kapasitas ± 10 watt lampu LED memiliki daya aktif (P) dan daya semu (S) paling rendah. Faktor daya lampu LED dan lampu LHE masih di bawah nilai standar faktor daya PLN dan IEC 60929. Lampu LHE memiliki THD arus paling rendah dalam kapasitas ± 10 watt dan ± 15 watt. Gelombang harmonik arus dan tegangan pada semua lampu berbentuk sinusoidal. Lampu LED memiliki tingkat pencahayaan yang paling tinggi dibandingkan dengan lampu Pijar dan lampu LHE. Semua lampu pada produsen A memiliki konsumi daya paling rendah dibandingkan dengan produsen lainnya.
LED lamps used in its development as lighting, such as Incandescent lamp, fluorescent light tubes and energy saving lamps (LHE). Because it is made of semiconductor materials, LED lamps have a high level of efficiency that would be the ideal alternative to replace other conventional lamps. Therefore, this thesis analyzes the power quality possessed between LED lamps, incandescent lamps and LHE lamps in the same capacity to perform measurements to obtain a comparison of power consumption, power factor, harmonics and lighting levels.
The results showed that in the capacity of ± 10 watt LED lamp has an active power (P) and apparent power (S) the lowest. Power factor LED lamps and LHE lamps still below the standard value power factor of PLN and IEC 60929. LHE lamps have the lowest THD current capacity ± 10 watts and ± 15 watts. Current and voltage harmonic waves on all the lights sinusoidal. LED lamps have the highest light levels compared to Incandescent lamps and LHE lamps. All the lamps on the manufacturer A has the lowest power consumption compared to other manufacturers.
543115233E1A010050PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN PENGGUNA OBAT ANTI NYAMUK YANG MENGANDUNG BAHAN BERBAHAYAMasyarakat sebagai konsumen obat anti nyamuk haruslah mendapat perlindungan hukum agar hak-hak yang dimiliki oleh konsumen dapat diperoleh secara maksimal. Hak-hak tersebut secara rinci telah diatur dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, khususnya dalam Pasal 1 huruf (a) yaitu hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode yuridis normative. Spesifikasi penelitian adalah Deskriptif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan hukum primer dan bahan huum sekunder. Metode pengumpulan data dama penelitian ini adalah studi kepustakaan. Metode penyajian data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penajian data dalam bentuk teks naratif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode normatif kualitatif. Untuk dapat terciptanya hak konsumen maka diperlukan peran serta pemerintah yaitu dengan membuat regulasi dalam bentuk perundang-undangan yang mewajibkan pelaku usaha untuk melakukan pendaftaran produk terlebih dahulu. Selain itu pemerintah juga harus melakukan pembinaan yang dilakukan oleh pemerintah dengan menteri atau menteri teknis terkait dan melakukan pengawasan terhadap pelaku usaha mulai dari proses produksi, penawaran, promosi, hingga penjualanSociety as a consumer mosquito repellent should be protected by law, so that the rights can be obtained maximally. The right is set in Article 4 law of the republic of Indonesia number 8 year 1999 concerning on consumer protection, especially in Article 1(a) is the right of comfort, security, and safety in consumption of the goods and/or services. The approach used in this study is juridical and normatuve method). The specific research is desriptive. Data source used in this research is primary legal material and secondary legal material. Data collection method in this research is literature study. Data presentation method used in this research is narrative method. The method used in this research is normative kualitative method. To be able to create the consumer rights need the role of goverment to make regulation in legislation form that would require businesses to register their product first. Also, the goverment should make a training that conducted by the goverment itself with a relevant minister and controling to businesses from the production process, offers, promotions, to sales.
543215234G1G011021ANALISIS MIXED DENTITION POPULASI ANAK ARAB DI KOTA PEKALONGAN DENGAN METODE MOYERSAnalisis mixed dentition merupakan suatu analisis ortodontik yang bertujuan untuk memprediksi lebar gigi kaninus dan premolar permanen yang belum erupsi, serta menentukan rencana perawatan ortodonti yang akan dilakukan selanjutnya. Metode analisis Moyers (1980) adalah metode analisis non radiografi yang menggunakan model studi untuk memprediksi ukuran gigi kaninus dan premolar permanen berdasarkan korelasinya dengan panjang mesiodistal gigi insisivus permanen rahang bawah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian tabel prediksi Moyers (1980) pada populasi anak Arab di Kota Pekalongan. Penelitian yang digunakan merupakan penilitian kuantitatif dengan metode deskriptif analitik. Populasi dalam penelitian ini adalah anak Arab usia 12-14 tahun dengan pengambilan sampel mengunakan cara accidental sampling. Model studi yang dicetak dari sampel dikumpulkan. Pengukuran menggunakan jangka sorong. Data dianalisis menggunakan independent t-test menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara nilai prediksi ∑ lebar mesiodistal kaninus, premolar 1, dan premolar 2 pada penelitian ini dengan lebar gigi sebenarnya (p > 0,05). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai prediksi ∑ lebar mesiodistal kaninus, premolar 1, dan premolar 2 pada penelitian ini dengan tabel Moyers percentile 35% dan 50% (p > 0,05). Simpulan penelitian ini adalah tabel prediksi ∑ lebar mesiodistal kaninus, premolar 1, dan premolar 2 pada penelitian ini serta tabel Moyers percentile 35% dan 50% dapat digunakan pada populasi Arab di Kota Pekalongan. Saran untuk penelitian selanjutnya sebaiknya memakai sampel yang lebih banyak sehingga dapat menghasilkan nilai prediksi yang lebih akurat.
Mixed dentition analysis is an orthodontic analysis that aims to predict the width of unerupted canine and premolars permanent, and determining the next orthodontic treatment plant. Moyers analysis method (1980) is a non radiographic analysis method that use study model to predict the size of canine and premollars based correlation with the length of the mesiodistal mandibullar permanent incisor. The purpose of this study is to determine the suitability of Moyers prediction table (1980) of Arabian children population in Pekalongan. The study used a quantitative study with descriptive analytic method. The population in this study were Arabian children aged 12-14 year, sampling use accidental sampling method. Study Model who printed from samples were collected. Mesiodistal tooth width were measured with sliding calliper. Data were analyzed using independent t-test that showed no significant difference between the predicted value of Σ mesiodistal width canine, first premollar , and second premollar in this study with Moyers table percentile 35% and 50% (p> 0.05). There was no significant difference between the predicted value of Σ mesiodistal width canine, first premollar , and second premollar in this study with Moyers table percentile 35% and 50% (p> 0.05). We can conclude that prediction table of ∑ mesiodistal width canine, first premollar , and second premollar in this study and Moyers table percentile 35% and 50% can be used on Arabian Children population in Pekalongan. This study suggests further research to use more samples that can produce more accurate prediction value.
543315235G1G012030PERBEDAAN KEKASARAN PERMUKAAN EMAIL SETELAH APLIKASI WHEY EXTRACT DAN CASEIN PHOSPHOPEPTIDE-AMORPHOUS CALCIUM PHOSPHATE (CPP-ACP) PASCA BLEACHING EKSTRAKORONAL SECARA IN VITRO
Demineralisasi adalah proses hilangnya sebagian atau seluruh komponen mineral gigi yang dapat disebabkan oleh lingkungan gigi yang asam, salah satu contohnya akibat proses bleaching ekstrakoronal. Demineralisasi dapat meningkatkan kekasaran permukaan email gigi yang menyebabkan peningkatan akumulasi plak. Whey extract dan calcium phosphopeptide-amorphous calcium phophate (CPP-ACP) mengandung kalsium dan fosfat yang dapat menghentikan demineralisasi melalui proses remineralisasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kekasaran permukaan email setelah aplikasi whey extract dan CPP-ACP pasca bleaching ekstrakoronal secara in vitro. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental murni laboratoris dengan rancangan penelitian pre test-post test control group design. Penelitian dilakukan pada 24 gigi premolar pertama rahang atas yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok I sampel direndam dalam saliva buatan, kelompok II sampel direndam dalam whey extract dan kelompok III sampel direndam dalam CPP-ACP. Whey extract dan CPP-ACP diaplikasikan selama 10 menit setiap 12 jam sekali selama 15 hari. Uji kekasaran permukaan email dilakukan dua kali yaitu setelah bleaching ekstrakoronal dan setelah aplikasi bahan remineralisasi gigi selama 15 hari. Hasil penelitian dianalisis menggunakan Paired T-test, One Way Anova dan LSD. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok I dengan kelompok II dan kelompok III (p<0,05), namun tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok II dengan kelompok III (p>0,05). Penelitian ini menunjukkan bahwa kekasaran permukaan email setelah aplikasi whey extract lebih rendah daripada CPP-ACP namun secara statistik tidak ada perbedaan yang bermakna diantara keduanya, sehingga whey extract dan CPP-ACP memiliki potensi remineralisasi yang sama.Demineralization is a process of partial or full tooth mineral loss which caused by tooth acidic environment, for example the side effect of extracoronal bleaching treatment. Demineralization increase enamel surface roughness which leads plaque accumulation. Whey extract and calcium phosphopeptide-amorphous calcium phophate (CPP-ACP) contains calcium and phosphate that can stop the demineralization through remineralization process. This study aims to determine the differences of enamel surface roughness after whey extract and CPP-ACP application post extracoronal bleaching. This research used experimental laboratory with pretest postest control group design. The study carried out on 24 first maxillary premolar which devided into 3 groups, the sample of group I immersed on artificial saliva, sample of group II immersed on whey extract and sample of group III immersed on CPP-ACP. Whey extract and CPP-ACP was applied 10 minutes every 12 hours for 15 days. The enamel surface roughness test performed twice, after extracoronal bleaching treatment and after 15 days remineralization agent application. The result were analysed using Paired T-test, One Way Anova and LSD. The result showed significant differences between group I and group II and between group I and group III (p<0,05), but there is not significant difference between group II and group III (p>0,05). This study showed that whey extract decrease enamel surface roughness more than CPP-ACP do, but statistically the difference is not significant. So that there is same remineralization potential between whey extract and CPP-ACP.
543415245E1A011001TANGGUNG JAWAB BIRO PERJALANAN PENYELENGGARA IBADAH HAJI KHUSUS (PIHK) DAN UMRAH TERHADAP PEMBATALAN PEMBERANGKATAN PESERTA JAMAAH HAJI KHUSUSHak Penyelenggara Ibadah Haji Khusus adalah menerima biaya pendaftaran dari peserta jamaah haji khusus sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Agama sehingga Penyelenggara Ibadah Haji Khusus harus melaksanakan kewajibannya yaitu memberangkatkan, memulangkan dan melayani peserta jamaah haji khusus sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati antara penyelenggara dan peserta jamaah haji khusus sebagai mana telah diatur dalam Pasal 40 huruf (d) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah. Apabila Penyelenggara tidak melaksanakan kewajibannya maka dikatakan telah wanprestasi, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagai mana tanggung jawab dari Penyelenggara Ibadah Haji Khusus kepada Peserta Jamaah Haji Khusus.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan. Spesifikasi penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yang bertujuan menggambarkan keadaan atau objek yang diteliti. Sumber data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder dari bahan kepustakaan yang didukung dengan data primer dari hasil wawancara. Data berupa uraian yang disusun secara urut dan sistematis. Metode analisis data yang digunakan adalah metode normatif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggung jawab Penyelenggara Ibadah Haji Khusus belum diatur secara khusus dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah, namun berdasarkan wawancara maka tanggung jawab Penyelenggara Ibadah Haji Khusus adalah membayar ganti kerugian sebesar yang dialami peserta jamaah haji khusus.
The right of Special Hajj Group Organizer is accepting registration fee from Hajj Pilgrims based on whatMinistry of Religious Affairshas been regulated, so as Hajj Organizer should conduct its responsibility to despatch, repatriate and serve Hajj Pilgrims based on the agreed arrangement among hajj organizer and participants as of regulated on Article 40 Letter (d) Law Number 13 Year 2008 about Hajj and Umrah. If the Organizer does not perform its obligations then said to have been in default. So this study aims to determine how the responsibility of Hajj Organizer to the Special Hajj Pilgrims.
This research used normative juridical approach to legislation. Specifications of research is descriptive research that aims to describe the situation or object under study. Sources of data in this study using secondary data from the literature and supported by primary data from interviews. Data in the form of descriptions are arranged in sequence and systematically. Data analysis method used was qualitative normative method.
The results showed that the responsibility of Special Hajj Group Organizer is not specifically regulated in Law Number 13 Year 2008 concerning Hajj and Umrah, but based on the interview, the responsibility of Special Hajj Group Organizer is the restitution of experienced Special Hajj Pilgrims.
543515236H1C012034Analisis Pemodelan Sistem Kendali Posisi Dengan Kontroler PID Berbasis Metode Gradient Steepest Descent dan Cohen-CoonAplikasi teknologi lengan robot mulai banyak dijumpai pada beberapa sektor industri, terutama untuk melakukan pengaturan posisi suatu objek secara otomatis. Namun pada kenyataanya, pengaturan posisi secara otomatis pun masih memiliki suatu problematika tersendiri. Bagaimana cara menghasilkan pengaturan posisi secara akurat dan presisi? Penulis mengimplementasikan kontroler manual-autotuning PID guna mengatasi permasalahan tersebut. Autotuning PID diproses menggunakan PID Response Optimization berbasis Metode Gradient Steepest Descent melalui fitur aplikasi Simulink v.7.5. Sedangkan manual-tuning PID diproses atas dasar teoritis dan perhitungan matematis berdasarkan Metode Cohen-Coon. Dalam hal ini sangat perlu dilakukan penelitian awal mengenai pemodelan sistem kendali posisi dengan teknologi lengan robot serta analisisnya sebelum dilakukan realisasi. Sehingga pada saat direalisasikan akan dapat dihasilkan performance terbaik. Pada pemodelan sistem yang dimaksud, input (SV)-nya berupa sudut posisi target (0). Terdapat tiga buah input constant guna merepresentasikan setiap joint dari teknologi lengan robot 3-DOF. Kemudian kontroler autotuning atau manual-tuning yang akan berperan untuk menghasilkan kondisi PV≡SV. Selama kondisi tersebut belum terpenuhi, maka kontroler akan terus melakukan controlling process guna mencapai kondisi tersebut, disamping itu plant berupa motor servo DC masih akan terus berputar untuk menyesuaikan SV. Hasil pengujian sistem menunjukkan bahwa controlling process baik dengan kontroler autotuning maupun manual-tuning PID telah teruji dapat memperbaiki level performance sistem melalui perbaikan respon transient dan steady-state, selain itu %OS sistem yang pada awalnya ±50% juga dapat dikurangi menjadi lebih kecil. Operasi sistem dengan kontroler autotuning PID menghasilkan kecepatan respon sistem yang paling baik dengan durasi rata-rata 9x lebih cepat dari kondisi operasi CLWC, yaitu selama 0.12031 s. Sedangkan kontroler manual-tuning PID menghasilkan kecepatan respon sistem dengan durasi rata-rata 2x lebih cepat dari kondisi operasi CLWC, yaitu selama 0.41907 s. Disamping itu hasil operasi sistem dengan kedua kontroler juga menunjukkan kondisi PV≡SV (ess=0), sehingga dapat disimpulkan bahwa kontroler manual-autotuning PID memenuhi kriteria untuk dapat diimplementasikan pada teknologi lengan robot 3-DOF.Applications of robot arm technology have started to be met in some industry sectors, especially to do position control for certain of object automatically. But in the fact, it has still its own problem. How to produce position control which is accurate and precision?Researcher implement manual-autotuning PID controller to solve it. Autotuning PID is processed by using PID Response Optimization based on Gradient Steepest Descent Method with Simulink (v.7.5) software. Whereas manual-tuning PID is processed based on theory and mathematical calculation of Cohen-Coon Method. In this case, firstly it really need to do something research about system model of position control with robot arm technology for sure, especially its analysis before doing realization. So that’s why, it’ll produce the best performance then, if it’s implemented in the term of hardware. In the system model, its input is the angle of target position (0). There’re three constant inputs to represent every single joint of robot arm 3-DOF technology. Here, either manual or autotuning PID controller has a role to produce PV≡SV condition then. As long as it isn’t reached as yet, then controller will keep doing controlling process to reach it. Beside that, DC servo motor as plant will keep go on operating to match the SV. Based on the test, controlling process both manual and autotuning PID controller have already tested that capable to fix and improve performance level through improvement of transient and steady-state response. Furthermore, system’s %OS that initially almost reach to 50% also can be decreased/damped to be smaller. System operation (PID GSD controller) produce the best response speed with average duration about nine times which is faster than operation condition of CLWC, that’s 0.12031 s. Whereas PID CC controller has response speed with average duration about twice which is faster than operation condition of CLWC, that’s 0.41907 s. Beside that, system operation with both controller also produce PV≡SV condition (ess=0), thus it can be taken a conclusion that both controller fulfill the criterion to be able to be implemented into robot arm 3-DOF technology.
543615237H1C012033analisis pengaruh penggunaan panjang gelombang 1.310 nm dan 1.550 nm terhadap kinerja layanan IndiHome di PT. Telkom JatinegaraPerkembangan teknologi mengakibatkan meningkatnya permintaan pasar pada beberapa layanan. Diantaranya layanan voice, data, video, dan multimedia. Seiring dengan permintaan layanan tersebut, permintaan akan jaringan aksesnya juga meningkat. Jaringan akses yang dibutuhkan tentunya harus memiliki kapasitas yang besar, kecepatan yang tinggi, dan kualitas yang bagus. PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk sebagai Badan Usaha Milik Negara dan penyedia layanan telekomunikasi dan jaringan terbesar di Indonesia kini sedang meningkatkan kualitas layanan sehingga terus mengembangkan produk baru dengan teknologi Triple Play yang dikenal dengan nama IndiHome dan untuk meningkatkan kualitas dari layanan IndiHome, PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk menggunakan serat optik sebagai jaringannya. Analisis yang dilakukan untuk mengetahui seberapa besar efisiensi pada penggunaan panjang gelombang 1.310 nm dan 1.550 nm dengan menggunakan parameter attenuasi, macrobending loss, dispersi, bit rate maximum, signal to noise ratio, dan bit error rate dengan bandwidth 10 MHz, 15 MHz, dan 20 MHz.
Pada panjang gelombang 1.310 nm memiliki nilai loss sistem sebesar 28,37 dB (one stage) dan 28,87 dB (two stage) sedangkan pada 1.550 nm memiliki nilai loss sistem sebesar 24,5 dB (one stage) dan 25 dB (two stage). Dispersi yang dihasilkan pada 1.310 nm sekitar 0,8552 ps/km sedangkan pada 1.550 nm sekitar 14,221 ps/km. Signal to noise ratio dengan bandwidth 10 MHz, 15 MHz dan 20 MHz pada panjang gelombang 1.310 nm dan 1.550 nm memiliki nilai di atas 21,6 dB. Bit error rate dengan bandwidth 10 MHz, 15 MHz dan 20 MHz pada panjang gelombang 1.310 nm dan 1.550 nm memiliki nilai kurang dari 10-9.
Technological developments constantly create increasing market demand in some services. Including voice, data, video, and multimedia. Along with the demand for such services, the demand for network access also increased. Network access is needed would have to have a large capacity, high speed and good quality. PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk as State Owned Enterprises and telecommunications service providers and the largest network in Indonesia is now to improve the quality of service that continues to develop new products with the Triple Play technology known as IndiHome and to improve the quality of service IndiHome, PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk using optical fiber as a network. The analysis was conducted to determine how much the efficiency of the use of the wavelength of 1,310 nm and 1,550 nm by using the parameters of attenuation, macrobending loss, dispersion, bit rate maximum, signal to noise ratio, and bit error rate with a bandwidth of 10 MHz, 15 MHz, and 20 MHz.
At wavelength of 1,310 nm has value of 28.37 dB loss system (one stage) and 28.87 dB (two stage) whereas at 1,550 nm has value of 24.5 dB loss system (one stage) and 25 dB (two stage ). The resulting dispersion at 1310 nm of about 0.8552 ps / km whereas at 1,550 of about 14.221 ps / km. Signal to noise ratio with a bandwidth of 10 MHz, 15 MHz and 20 MHz at wavelength of 1,310 nm and 1,550 nm has value above 21.6 dB. Bit error rate with bandwidth of 10 MHz, 15 MHz and 20 MHz at wavelength of 1,310 nm and 1,550 nm has value of less than 10-9.
543715261D1E012273Pengaruh Persentase Penambahan Garam dan Lama Pengepresan terhadap Kadar Protein, pH dan Kadar Air pada Keju Susu KambingPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan interaksi antara penambahan garam dan lama pengepresan terhadap kadar protein, pH dan kadar air pada keju susu kambing, serta mengetahui persentase penambahan garam dan lama pengepresan terbaik. Penelitian menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dan dilanjutkan dengan analisis variansi dan uji orthogonal polinomial. Terdapat 2 faktor yaitu, penambahan garam dan lama pengepresan, dengan 9 perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara penambahan garam dan lama pengepresan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar protein. Penambahan garam memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pH dan kadar air. Lama pengepresan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar protein dan kadar air. Interaksi terhadap kadar protein menghasilkan persamaan regresi linear Y1= 24,396667 – 0,2925x dengan R2= 96,99%, Y2= 24,802222 – 0,26027x dengan R2 = 95,55%, dan Y3= 24,75556 – 0,20139x dengan R2= 96,69%. Pengaruh penambahan garam terhadap pH menghasilkan persamaan regresi linear Y= 0,574074 + 0,365556x dengan R2= 86,49%, sedangkan terhadap kadar air persamaan regresi linear Y= 6,66889 + 3,797556x dengan R2= 84% dan persamaan regresi linear lama pengepresan Y= 6,66889 + 1,582315x dengan R2= 84% terhadap kadar air. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh bersama antara persentase penambahan garam dan lama pengepresan terhadap kadar protein, serta terdapat pengaruh penambahan garam dan lama pengepresan terhadap kadar protein, pH dan kadar air. Semakin tinggi persentase garam dan lama pengepresan maka kadar air dan protein yang dihasilkan semakin menurun, tetapi pada nilai pH meningkat.
Kata kunci: Keju probiotik, protein, pH, kadar air
This research aims to determine the influences and the interactions between the addition of salt and pressure duration on the levels of protein, pH, and moisture content of the goat milk cheese, and to determine the most appropriate percentage of the addition and the pressure duration. This experimental research has been designed within Completely Randomized Factorial Design and followed with analysis of variance and orthogonal polynomials. There are two factors, namely the addition of salt and pressure duration, with 9 treatments each of which is repeated 3 times. The results show that the interaction between the salt addition and the pressure duration significantly effected (P <0.05) the protein content. The salt addition is highly significant (P<0.01) to the pH value and moisture content, while the pressure duration is highly significant (P<0.01) to the protein and moisture contents. Towards the protein content, the interaction forms regression equations Y1= 24,396667 – 0,2925x with R2 = 96,99%, Y2= 24,802222 – 0,26027x with R2= 95,55%, and Y3= 24,75556 – 0,20139x with R2 = 96,69%. The influence of salt addition to the pH forms a linear regression equation Y= 0.574074 + 0,365556x with R2 = 86.49%, while that to the moisture content forms Y= 6.66889 + 3,797556x with R2= 84% and the influence of pressure duration on the moisture content forms Y= 6.66889 + 1,582315x with R2= 84%. This research concludes that there is co-influence of both the percentage additional salt and pressure duration on the protein content, and there is an influence of salt addition and pressure on the protein content, pH and moisture content. The higher the percentage of salt is added and the longer pressure duration lasts, the less moisture and protein contents remain, but the more pH value increase.
Keywords: Probiotic cheesse, protein, pH, moisture content
543815370A1L012207EFEK FUMIGAN BEBERAPA JENIS EKSTRAK TANAMAN TERPILIH PENGHASIL SENYAWA VOLATIL TERHADAP HAMA BUBUK BERAS Sitophilus oryzae (L)Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui potensi dari beberapa jenis tanaman penghasil senyawa volatil sebagai fumigan terhadap serangga Sitophilus oryzae dan mengetahui jenis penghasil senyawa volatil terbaik sebagai fumigan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto pada bulan Pebruari – Mei 2016. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor dan 3 kali ulangan. Faktor pertama yaitu jenis tanaman penghasil senyawa volatil : P1 = daun pandan wangi, P2 = daun salam , P3 = daun serai wangi, P4 = daun selasih, dan P5 = daun nilam. Faktor kedua taraf konsentrasi : K1= 0 %, K2= 2,5% , dan K3= 5%, K4= 7,5% dan K5= 10 %. Total kombinasi perlakuan adalah 25 kombinasi dan diulang sebanyak 3 kali. Variabel yang diamati adalah mortalitas serangga dan penghambatan aktivitas makan serangga. Data dianalisis dengan cara uji F, apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) pada taraf kesalahan 5%. Hasil dari penelitian ini adalah 1) ekstrak tanaman serai wangi, selasih, nilam, dan salam tidak berpotensi sebagai fumigan terhadap serangga S. oryzae, 2) Selasih merupakan jenis tanaman terbaik penghasil senyawa volatil.The goals of research were to 1) determine the potential of some species of plants that producing volatile compounds as fumigant against rice weevil, S. oryzae and 2) determine the concentration of extracts that giving the best result of fumigant. The research was conducted at the Laboratory of Plant Protection, Faculty of Agriculture Jenderal Soedirman University Purwokerto on February 2015 - May 2016. This research used Completely Randomized Design by using two factors. The first factor was the species of plants that producing volatile compounds: P1= Pandanus amaryllifolius, P2= Syzygium polyanthum, P3= Cymbopogon nardus, P4= Ocimum basillicum, P5=Pogostemon cablin. The second factor was the the level of concentrations: K1 = 0%, K2 = 2,5%, K3 = 5%, K4 =7,5%, and K5 = 10%. Total combined treatment was 25 combinations and each combination treatment was repeated 3 times. The measured variables were mortality of S. oryzae and inhibition of insect feeding activity. Data were analyzed by F test and continued by 5% DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) if it significantly different. The results showed 1) extract of Pandanus amaryllifolius, Syzygium polyanthum, Cymbopogon nardus, Ocimum basillicum, and Pogostemon cablin did not have potential as a fumigant against insects S. oryzae 2) Selasih was the best plant as producer volatile.
543915483H1C011004RANCANG BANGUN DAN ANALISA THREE-LEVEL INVERTER TIGA SAKLAR YANG DILENGKAPI TRAFO DENGAN KONTROL SINUS TERMODIFIKASI BERBASIS MIKROKONTROLER Pertumbuhan industri di indonesia saat ini cukup tinggi, sehingga mengakibatkan kebutuhan akan listrik pun semakin meningkat. Akan tetapi meningkatnya konsumsi energi listrik berkebalikan dengan ketersedian bahan bakar konvensional yang semakin menipis. Sehingga menuntut manusia untuk menggunakan energi alternatif seperti angin, tenaga matahari dan gelombang laut. Penerapan energi alternatif tersebut memerlukan piranti pengkonversi energi seperti inverter. Penggunaan inverter dewasa ini semakin pesat seiring dengan berkembangnya sistem energi terbarukan yang memerlukan konversi sumber tegangan DC seperti pada panel surya ataupun baterai menjadi tegangan AC. Penelitian ini dilakukan dengan simulasi, rancang bangun dan eksperimen di laboratorium pada Three Level Inverter tiga saklar menggunakan kontrol MSPWM yang sinyalnya akan dibangkitkan dengan mikrokontroler. Simulasi komputer dan hasil pengujian di laboratorium terhadap prototype dengan duty cycle 40% mampu menghasilkan output tegangan tiga level yang memiliki nilai harmonisa yang rendah. Pada penelitian ini menggunakan trafo step up dengan input tegangan menggunakan satu sumber dan dua sumber, pada input tegangan satu sumber 24 Vdc mampu menghasilkan tegangan sebesar 247 Vac menggunakan trafo step up 30 A dengan frekuensi 50 Hz dan pada input tegangan dua sumber 12 Vdc mampu menghasilkan tegangan sebesar 226 Vac menggunakan trafo step up 20 A dengan frekuensi 50 Hz.
Industrial growth in Indonesia is currently quite high, resulting in the need for electricity is increasing. But the increasing consumption of electrical energy in contrast to the availability of conventional fuels are dwindling. So sue humans for using alternative energy such as wind, solar and ocean waves. The application of alternative energy requires energy converting devices such as inverters. The use of inverter nowadays more rapidly along with the development of a renewable energy system that requires conversion of the DC voltage source such as solar panels or batteries into AC voltage. This research was carried out by simulation, design and lab experiments on Three Level Inverter three switches using the MSPWM control signal will be generated by the microcontroller. Computer simulations and test results in laboratory prototype with a 40% duty cycle capable of producing output voltages of three levels that have a value lower harmonics. In this study, using a transformer steps up the voltage inputs using a single source and two sources, the input voltage of the source of 24 Vdc able to generate a voltage of 247 Vac using a transformer step-up 30 A with a frequency of 50 Hz and the input voltage of the two sources 12 Vdc able to produce a voltage of 226 Vac using a step-up transformer 20 A with a frequency of 50 Hz.
544015527D1E011193FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KEPUASAN PETERNAK SAPI PERAH TERHADAP PELAYANAN KOPERASI SUSU DI KABUPATEN SEMARANGPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik peternak (pendidikan peternak, lama menjadi anggota koperasi, dan jarak rumah peternak dengan koperasi), unsur-unsur pelayanan koperasi (komunikasi petugas koperasi dan kepemimpinan ketua koperasi), tingkat kepuasan peternak sapi perah sebagai anggota koperasi dilihat dari kehandalan, ketanggapan, dan empati, serta untuk mengetahui hubungan faktor-faktor dari peternak dan unsur-unsur pelayanan koperasi dengan tingkat kepuasan peternak sapi perah di Kabupaten Semarang. Penelitian dilakukan dengan metode survey, dengan sasaran peternak sapi perah aktif menjadi anggota koperasi di Kabupaten Semarang. Teknik pengambilan sampel wilayah yang digunakan yaitu Stratifaid Random Sampling yaitu dengan cara mengelompokkan wilayah dengan jumlah peternak sapi perah anggota koperasi susu tertinggi, sedang, dan terendah di Kabupaten Semarang. Di Kecamatan Getasan 670 peternak, Kecamatan Ungaran Barat 251 peternak, dan Kecamatan Tengaran 104 peternak. Penetapan sampel responden dilakukan dengan metode Random Sampling, sebanyak 10 persen dari jumlah total peternak anggota koperasi susu sebesar 100 responden. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Rank Spearman dan Analisis Tingkat Kepuasan. Hasil menunjukan terdapat hubungan antara pendidikan peternak, kepemimpinan ketua koperasi, dan komunikasi petugas dengan tingkat kepuasan peternak terhadap pelayanan koperasi susu di Kabupaten Semarang, dan tidak terdapat hubungan antara lama menjadi anggota koperasi, dan jarak rumah dengan koperasi dengan tingkat kepuasan peternak terhadap pelayanan koperasi di Kabupaten Semarang. Tingkat kepuasan peternak sapi perah sebagai anggota koperasi diukur dari kehandalan, ketanggapan dan empati petugas koperasi berada pada kriteria tinggi/ memuaskan.This research aims to assess dairy farmers’ characteristics (in terms of their education, membership periods, and the distance between their houses to the cooperatives), the elements of cooperative services (the officers’ communication and leadership), the dairy farmers’ satisfaction for being the members of the cooperatives as seen from the officers’ reliability, responsiveness, empathy, and to determine the relationship between the farmers’ factors, the cooperatives’ services, and the satisfaction levels of the dairy farmers in Semarang Regency. The research was conducted with a survey targeting at the dairy farmers who have joined and are active members at the cooperatives. In collecting the sample area, this research applied the stratifaid random sampling namely by classifying areas according to their dairy farmer populations ranging from the largest to the lowest one. It resulted respectively sub-district Getasan with 670 farmers, Ungaran Barat with 251 farmers, and Tengaran with 104 farmers. The respondents which were determined with the random sampling method resulted in 100 dairy farmers. Data was analyzed with the rank spearman and the importance-performance analysis. The results showed that there are relationships between the farmers’ education, the cooperatives leadership, and the officers’ communication skill with the farmers’ satisfaction. However, there are no relationship between the period membership, the distance between the farmers’ houses to the cooperatives, and their satisfaction levels. The satisfaction level of the farmers’ for being the members of the coopertaives measured from the reliability, responsiveness, and emphaty of the officers is at a high category.