Artikelilmiahs

Menampilkan 51.261-51.280 dari 51.321 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5126154679F1C022022Analisis Strategi Promosi PT Brexa Raya Indonesia (Outsourcing Inc. Jepang) dalam Program Pekerja Berketerampilan Spesifik (SSW) Kepada AudiensPT Brexa Raya Indonesia merupakan suatu Perusahaan outsourcing yang menjadi salah satu Perusahaan yang bermitra dengan negara Jepang dalam program yang disediakan oleh Jepang yaitu Specified Skilled Worker (SSW), sebuah program yang lahir sebagai suatu respons atas krisis demografi yang dialami oleh negara Jepang sekaligus menjadi solusi dalam tingginya angka pengangguran yang ada di Indonesia. Di Tengah kondisi tersebut, calon pekerja masih dihadapkan pada berbagai tantangan seperti adanya hambatan dalam penggunaan Bahasa, adaptasi budaya kerja, dan proses administratif, sehingga strategi promosi yang efektif menjadi krusial bagi Perusahaan terutama bagi Brexa dalam meyakinkan audiens. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan mengenai strategi promosi yang diterapkan oleh PT Brexa Raya Indonesia dalam program SSW kepada audiens. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivisme, melalui Teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dengan informan, dan observasi secara online terhadap tim tecruitment Perusahaan serta calon pekerja yang dianalisis menggunakan model AIDA (Attention, Interest, Desire, dan Action). Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa PT Brexa Raya Indonesia menerapkan strategi promosi melalui media offline (job fair, sosialisasi ke sekolah, dan kerja sama dengan institusi formal seperti Pendidikan dan pemerintahan), serta melalui media online menggunakan platform Instagram brexa.id dan kerjadijepang.brexa, serta menggunakan website resmi Perusahaan untuk informasi mengenai program yang ditawarkan termasuk program SSW. Meskipun strategi ini berhasil dalam menarik minat dari audiens falam jumlah yang besar, ditemukan adanya kesenjangan yang signifikan antara audiens yang tertarik dengan yang benar-benar melakukan pendaftaran dan lolos dalam tahap seleksi.PT Brexa Raya Indonesia is an outsourcing company that partners with Japan on the “Specified Skilled Worker” (SSW) program an initiative launched in response to Japan’s demographic crisis that also serves as a solution to Indonesia’s high unemployment rate. Amidst this context, prospective workers face various challenges such as language barriers, work culture adaptation, and administrative processes making effective promotional strategies crucial for the company, particularly for Brexa, in persuading its audience. This study aims to identify and describe the promotional strategies implemented by PT Brexa Raya Indonesia regarding the SSW program. Employing a qualitative approach within a constructivist paradigm, the study gathered data through in-depth interviews with informants and online observations of the company’s recruitment team and prospective workers, the data were analyzed using the AIDA (Attention, Interest, Desire, and Action). The findings indicate that PT Brexa Raya Indonesia employs promotional strategies via offline channels (job fairs, school outreach, and partnerships with formal educational and government institutions) and online channels (using the Instagram accounts @brexa.id and @kerjadijepang,brexa, as well as the official company website for information on offered programs, including the SSW program). Although these strategies successfully attracted a large audience, a significant gap was observed between those who showed interest and those who actually registered and passed the selection process.
Keywords: Promotional Strategy, Specified Skilled Worker, AIDA
5126254680I1A022115FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PERILAKU AKTIVITAS FISIK PADA MAHASISWA UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANLatar Belakang: Aktivitas fisik merupakan salah satu perilaku kesehatan yang berperan penting dalam menjaga kebugaran dan mencegah berbagai penyakit tidak menular. Namun, aktivitas fisik pada mahasiswa cenderung menurun akibat tingginya tuntutan akademik dan perubahan gaya hidup. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor mempengaruhi perilaku aktivitas fisik pada mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Dari total populasi mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman, 116 responden dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Instrumen penelitian menggunakan angket. Analisis data meliputi univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan uji regresi multinomial.
Hasil: Hasil analisis menunjukan sebagian besar responden memiliki aktivitas fisik kategori sedang (69,8%), pengetahuan baik (86,2%), sikap baik (59,5%), ketersediaan sarana baik (73,3%), paparan media sosial baik (69,0%), dan dukungan teman baik (69,2%). Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel ketersediaan sarana (p=0,001) dan paparan media sosial (p=0,018) berhubungan signifikan dengan perilaku aktivitas fisik. Variabel paling berpengaruh terhadap perilaku aktivitas fisik adalah ketersediaan sarana. Sementara itu, pengetahuan (p=0,424), sikap (p=0,478), dan dukungan teman (p=0,705) tidak memiliki hubungan dan pengaruh dengan perilaku aktivitas fisik.
Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian ketersediaan sarana dan paparan media sosial merupakan faktor yang berpengaruh terhadap perilaku aktivitas fisik mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan akses terhadap fasilitas olahraga serta optimalisasi media sosial sebagai media promosi kesehatan untuk mendukung peningkatan aktivitas fisik mahasiswa.
Kata Kunci : Promosi Kesehatan, Perilaku Aktivitas Fisik, Mahasiswa
Background: Physical activity is a health behavior that plays a crucial role in maintaining fitness and preventing various non-communicable diseases. However, physical activity levels among university students tend to decline due to high academic demands and lifestyle changes. This study aimed to identify the factors influencing physical activity behavior among students at Universitas Jenderal Soedirman.
Methods: This study employed a quantitative design with a cross-sectional approach. From the total student population at Universitas Jenderal Soedirman, 116 respondents were selected using proportionate stratified random sampling. A questionnaire served as the research instrument. Data analysis included univariate analysis, bivariate analysis using the chi-square test, and multivariate analysis using multinomial regression.
Results: The analysis showed that the majority of respondents engaged in moderate physical activity (69.8%) and demonstrated good knowledge (86.2%), positive attitudes (59.5%), good facility availability (73.3%), good social media exposure (69.0%), and good peer support (69.2%). The results indicated that facility availability (p=0.001) and social media exposure (p=0.018) were significantly associated with physical activity behavior. Facility availability was the most influential factor regarding physical activity behavior. Conversely, knowledge (p=0.424), attitude (p=0.478), and peer support (p=0.705) showed no significant association or influence on physical activity behavior.
Conclusion: The analysis showed that the majority of respondents engaged in moderate physical activity (69.8%) and demonstrated good knowledge (86.2%), positive attitudes (59.5%), good facility availability (73.3%), good social media exposure (69.0%), and good peer support (69.2%). The results indicated that facility availability (p=0.001) and social media exposure (p=0.018) were significantly associated with physical activity behavior. Facility availability was the most influential factor regarding physical activity behavior. Conversely, knowledge (p=0.424), attitude (p=0.478), and peer support (p=0.705) showed no significant association or influence on physical activity behavior.
Keywords: Health Promotion, Physical Activity Behavior, University Students.
5126354681A1D022033Identifikasi, Penilaian Kerusakan, dan Pola Penyebaran Layu Bakteri Tomat dan Terung di Kecamatan SumbangSektor hortikultura, khususnya komoditas tomat (Solanum lycopersicum) dan terung (Solanum melongena), memiliki nilai ekonomi tinggi namun produktivitasnya di Kecamatan Sumbang mengalami ketidakstabilan akibat serangan patogen tular tanah Ralstonia solanacearum. Penelitian ini bertujuan untuk mendiagnosis dan mengidentifikasi patogen R. solanacearum, menentukan tingkat kerusakan (insidensi dan nilai AUDPC), serta menganalisis pola sebaran spasial penyakit layu bakteri di lapangan. Metode penelitian meliputi eksplorasi sampel bergejala dari lahan pertanian di Kecamatan Sumbang, isolasi pada medium NA dan CPG-TTC, karakterisasi morfologi dan biokimia, serta uji patogenisitas dan uji hipersensitivitas pada tanaman cocor bebek (Crassula ovata) Penilaian kerusakan lapangan dievaluasi selama empat minggu secara kuantitatif yang dilengkapi dengan pemetaan sketsa petak lahan untuk menentukan pola sebaran spasial. Hasil penelitian berhasil mengidentifikasi dua isolat R. solanacearum (asal tomat dan terung) yang terbukti Gram-negatif, berbentuk batang, serta positif pada uji biokimia utama termasuk katalase, oksidase, KOH 3%, dan motilitas. Uji patogenisitas dan hipersensitivitas mengonfirmasi virulensi kedua isolat dengan memicu gejala layu mendadak serta nekrosis. Pengamatan lapangan menunjukkan insidensi penyakit tomat tertinggi terjadi di Desa Banteran (86,67%, AUDPC 1581,99)dengan pola sebaran merata, sedangkan insidensi penyakit terung tertinggi ditemukan di Desa Sumbang 2(71,67%, AUDPC 1190,46) dengan pola sebaran mengelompok. Karakteristik pola sebaran penyakit di Kecamatan Sumbang didominasi oleh tipe mengelompok (patch), diikuti oleh pola acak dan merata. Data ini menyediakan peta informasi karakteristik isolat patogen dan dinamika penyakit di lapangan sebagai rujukan strategi pengendalian yang tepat sasaran bagi petani setempat.The horticulture sector, particularly tomato (Solanum lycopersicum) and eggplant (Solanum melongena) commodities, holds high economic value; however, its productivity in Sumbang District experiences instability due to the attack of the soil-borne pathogen Ralstonia solanacearum. This study aimed to diagnose and identify the R. solanacearum pathogen, determine the damage severity (incidence and AUDPC values), and analyze the spatial distribution patterns of bacterial wilt disease in the field. The research methods included the exploration of symptomatic samples from agricultural lands in Sumbang District, isolation on NA and CPG-TTC media, morphological and biochemical characterization, as well as pathogenicity and hypersensitivity testing on Kalanchoe pinnata. Field damage assessments were evaluated quantitatively over four weeks, accompanied by land plot sketch mapping to determine spatial distribution patterns. The results successfully identified two R. solanacearum isolates (from tomato and eggplant) that were proven to be Gram-negative, rod-shaped, and positive in key biochemical tests, including catalase, oxidase, 3% KOH, and motility. Pathogenicity and hypersensitivity tests confirmed the virulence of both isolates by inducing sudden wilting symptoms and necrosis. Field observations revealed that the highest tomato disease incidence occurred in Banteran Village (86.67%, AUDPC 1581.99) with a uniform distribution pattern, whereas the highest eggplant disease incidence was found in Sumbang 2 Village (71.67%, AUDPC 1190,46) with a clustered distribution pattern. The characteristics of the disease distribution patterns in Sumbang District were dominated by the clustered (patch) type, followed by random and uniform patterns. These data provide an informational map of pathogen isolate characteristics and field disease dynamics as a reference for targeted control strategies for local farmers.
5126454545F1A022047Sintesis Literatur Strategi Bertahan Pedagang Pakaian di Pasar Tradisional pada Era DigitalPenelitian ini mengkaji strategi bertahan pedagang pakaian di pasar tradisional Indonesia yang menghadapi tekanan digital e-commerce. Platform belanja daring seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop menggeser preferensi konsumen dan menurunkan omset pedagang hingga 20-30%. Penelitian bertujuan menganalisis tren strategi bertahan pedagang serta memetakan kerangka teoretis sosiologi yang digunakan dalam penelitian terdahulu. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) mengikuti protokol PRISMA, menganalisis 20 artikel ilmiah terakreditasi dari berbagai wilayah Indonesia (2020-2025) melalui analisis isi dan tematik. Hasil menunjukkan strategi bertahan pedagang terklasifikasi ke dalam tiga tipologi: Strategi Aktif (inovasi usaha dan diversifikasi produk), Strategi Pasif (efisiensi biaya dan pengurangan stok/karyawan), dan Strategi Jaringan (modal sosial). Ditemukan kesenjangan respons digital antara pedagang urban yang lebih adaptif teknokratis-digital dengan pedagang sub-urban dan rural yang bertumpu pada relasi personal. Empat teori dominan yang digunakan adalah Teori Adaptasi Bennett, Modal Sosial Bourdieu, Strategi Bersaing Porter, dan Strategi Bertahan Suharto. Penelitian merekomendasikan Teori Strukturasi Anthony Giddens untuk penelitian selanjutnya, serta regulasi pemerintah guna menciptakan ekosistem ekonomi digital yang lebih adil bagi pedagang lokal.
This study examines the survival strategies of clothing vendors in traditional Indonesian markets facing pressure from digital e-commerce. Online shopping platforms such as Shopee, Tokopedia, and TikTok Shop are shifting consumer preferences and reducing vendors’ sales by as much as 20–30%. The study aims to analyze trends in vendors’ survival strategies and map the sociological theoretical frameworks used in previous research. A qualitative method was employed using a Systematic Literature Review (SLR) approach following the PRISMA protocol, analyzing 20 accredited scientific articles from various regions in Indonesia (2020–2025) through content and thematic analysis. The results show that merchants’ survival strategies are classified into three typologies: Active Strategies (business innovation and product diversification), Passive Strategies (cost efficiency and reduction of inventory/staff), and Network Strategies (social capital). A digital response gap was found between urban merchants, who are more technologically and digitally adaptive, and suburban and rural merchants, who rely on personal relationships. The four dominant theories used were Bennett’s Adaptation Theory, Bourdieu’s Social Capital Theory, Porter’s Competitive Strategy, and Suharto’s Survival Strategy. The study recommends Anthony Giddens’ Structuration Theory for future research, as well as government regulations to create a more equitable digital economic ecosystem for local merchants.
5126554683F1C022119Penggunaan Meta Ads sebagai Strategi Marketing Communication PT Indracipta Purisatria dalam Mempertahankan Perumahan PuriPerkembangan teknologi digital mendorong perusahaan untuk menyesuaikan strategi komunikasi pemasarannya melalui media digital. Salah satu media yang banyak dimanfaatkan adalah Meta Ads karena mampu menjangkau target audiens secara lebih spesifik. PT Indracipta Purisatria menggunakan Meta Ads sebagai strategi komunikasi pemasaran untuk mempertahankan brand awareness Perumahan Puri di tengah persaingan industri properti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi komunikasi pemasaran melalui Meta Ads yang diterapkan perusahaan dalam mempertahankan brand awareness Perumahan Puri. Penelitian ini menggunakan konsep komunikasi pemasaran, Meta Ads, brand awareness, serta Social Network Theory sebagai landasan teori. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan paradigma konstruktivisme. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap lima informan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana, sedangkan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Meta Ads telah menjadi bagian penting dalam strategi komunikasi pemasaran PT Indracipta Purisatria. Strategi yang dilakukan meliputi penentuan target audiens, penyusunan konten pemasaran, pengelolaan iklan, serta evaluasi performa iklan melalui data Meta Ads. Selain itu, perusahaan menyesuaikan konten dan target iklan dengan karakteristik setiap wilayah pemasaran sehingga pesan yang disampaikan lebih tepat sasaran. Penggunaan Meta Ads juga mampu meningkatkan interaksi audiens, memperluas jangkauan informasi, serta membantu mempertahankan brand awareness Perumahan Puri sehingga merek tetap dikenal dan diingat oleh masyarakat.The advancement of digital technology has prompted companies to adapt their marketing communication strategies to digital media. Meta Ads is one of the widely utilized platforms due to its ability to reach target audiences with greater precision. PT Indracipta Purisatria employs Meta Ads as a marketing communication strategy to maintain brand awareness for "Perumahan Puri" amidst competition in the property industry. This study aims to examine the marketing communication strategy—specifically the use of Meta Ads implemented by the company to sustain brand awareness for Perumahan Puri. The study draws upon concepts of marketing communication, Meta Ads, brand awareness, and Social Network Theory as its theoretical framework. A descriptive qualitative method within a constructivist paradigm was employed. Data were gathered through in-depth interviews, observation, and documentation involving five informants selected via purposive sampling. Data analysis followed the Miles, Huberman, and Saldana model, while data validity was verified through source triangulation. The findings indicate that Meta Ads has become a crucial component of PT Indracipta Purisatria's marketing communication strategy. The strategy encompasses defining target audiences, creating marketing content, managing advertisements, and evaluating ad performance using Meta Ads data. Furthermore, the company tailors content and targeting to the characteristics of specific marketing regions, ensuring messages are effectively directed at the intended audience. The use of Meta Ads has also succeeded in boosting audience interaction, expanding the reach of information, and helping to maintain brand awareness for Perumahan Puri, thereby ensuring the brand remains recognized and remembered by the public.
5126654687F1C019037ANALISIS ISI ELECTRONIC WORD OF MOUTH (e-WOM) PRODUK “THE ORDINARY” DI TIKTOKFenomena electronic word-of-mouth (e-WOM) melalui konten yang dibuat pengguna (user-generated content) berkembang seiring dengan meningkatnya penggunaan media sosial sebagai ruang berbagi informasi mengenai produk. Fenomena tersebut menjadi relevan dalam konteks popularitas The Ordinary di Indonesia, meskipun merek tersebut tidak secara resmi masuk ke pasar Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik e-WOM dalam konten mengenai The Ordinary di TikTok melalui analisis terhadap dimensi e-WOM. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Data penelitian terdiri atas lima konten TikTok mengenai The Ordinary yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi karakteristik e-WOM berdasarkan dimensi e-WOM pada konten yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga dari lima konten didominasi oleh dimensi e-WOM content. Dari tiga konten tersebut, dua di antaranya menunjukkan karakteristik berupa edukasi mengenai produk dan warning terkait penggunaan produk. Temuan ini menunjukkan bahwa konten e-WOM mengenai The Ordinary tidak hanya memuat penyampaian pengalaman atau penilaian terhadap produk, tetapi juga menghadirkan informasi yang berkaitan dengan produk dan penggunaannya. Perspektif produsage dan popularization discourse digunakan untuk membantu menginterpretasikan karakteristik komunikasi yang ditemukan dalam konten e-WOM tersebut.The phenomenon of electronic word-of-mouth (e-WOM) through user-generated content (UGC) has developed alongside the increasing use of social media as a space for sharing information about products. This phenomenon is particularly relevant to the popularity of The Ordinary in Indonesia, despite the brand not being officially available in the Indonesian market. This study aims to identify the characteristics of e-WOM in TikTok content about The Ordinary by analyzing the dimensions of e-WOM. The study employs a qualitative approach using content analysis. The data consist of five TikTok contents about The Ordinary selected through purposive sampling. The analysis was conducted by identifying the characteristics of e-WOM based on the dimensions of e-WOM found in the selected contents. The findings show that three out of five contents were dominated by the e-WOM content dimension. Among these three contents, two demonstrated characteristics involving product education and warnings regarding product use. These findings indicate that e-WOM content about The Ordinary does not merely convey consumers’ experiences or evaluations of the product, but also provides information concerning the product and its use. The concepts of produsage and popularization discourse are used to interpret the characteristics of communication identified in the e-WOM contents.
5126754682A1C022065ANALISIS IMPLEMENTASI SERTIFIKASI HALAL PADA JASA PENYAJIAN MAKANAN MELALUI MODEL SYSTEM DYNAMIC Sertifikasi halal pada jasa penyajian makanan di Indonesia diwajibkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, namun implementasinya masih rendah, tercatat pada Badan Pusat Statistik tahun 2024 hanya 2,94% saja jasa penyajian makanan yang terverifikasi halal, hal ini dikarenakan melibatkan banyak aktor dan faktor yang saling berkaitan mulai dari ketersediaan bahan baku halal, kompetensi dan jumlah Lembaga Pemeriksa Halal, biaya sertifikasi, hingga kesadaran pelaku usaha. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor kunci yang memengaruhi penerapan Sistem Jaminan Halal pada jasa penyajian makanan di Kabupaten Banyumas, memetakan hubungan sebab-akibat antaraktor dan variabel, serta menyusun model konseptual sistem dinamik sebagai dasar rekomendasi kebijakan.
Penelitian menggunakan pendekatan systems thinking yang dipadukan dengan pemodelan Sistem Dinamik. Data primer dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan Focus Group Discussion bersama pelaku usaha dan pemangku kepentingan di Banyumas, sementara data kuantitatif untuk pemodelan menggunakan data sekunder tingkat nasional. Model dibangun bertahap mulai dari Causal Loop Diagram untuk memetakan pola umpan balik antarvariabel, dilanjutkan Stock and Flow Diagram untuk kuantifikasi dinamika sistem, kemudian divalidasi menggunakan uji Mean Absolute Percentage Error sebelum digunakan untuk menguji berbagai skenario kebijakan. Hasil validasi menunjukkan akurasi yang baik pada variabel jumlah Lembaga Pemeriksa Halal, jumlah jasa penyajian makanan, dan pendapatan usaha, meski variabel jasa penyajian makanan terverifikasi halal masih perlu perbaikan. Simulasi tiga skenario kebijakan menemukan bahwa penambahan bahan baku halal semata tidak berdampak signifikan tanpa peningkatan kesadaran pelaku usaha, sedangkan mempemudah regulasi yang dipadukan penambahan jumlah Lembaga Pemeriksa Halal memberikan dampak paling besar (meningkatkan jasa penyajian makanan tersertifikasi halal hingga lebih dari satu juta unit pada tahun kelima), dan penurunan biaya sertifikasi halal reguler juga berdampak positif secara konsisten.
Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan sertifikasi halal ditentukan oleh interaksi kompleks antara ketersediaan bahan baku, kapasitas kelembagaan pemeriksa halal, biaya sertifikasi, serta kesadaran pelaku usaha—bukan oleh satu faktor tunggal. Strategi paling efektif adalah kombinasi penguatan regulasi, peningkatan kapasitas lembaga pemeriksa, dan pengurangan hambatan biaya sertifikasi. Pendekatan sistem dinamik dalam penelitian ini memberikan alat bantu kebijakan bagi pemangku kepentingan untuk memprediksi dampak kebijakan sebelum diterapkan, guna mendukung perumusan strategi jaminan produk halal yang lebih tepat sasaran pada sektor jasa penyajian makanan di Indonesia.
Halal certification for food service businesses in Indonesia is mandatory under Law Number 33 of 2014 concerning Halal Product Assurance. However, its implementation remains low—Statistics Indonesia (BPS) recorded in 2024 that only 2.94% of food service businesses had verified halal status. This is due to the involvement of many interrelated actors and factors, ranging from the availability of halal raw materials, the competence and number of Halal Inspection Agencies, certification costs, to business actors' awareness. This study aims to analyze the key factors influencing the implementation of the Halal Assurance System in food service businesses in Banyumas Regency, map the cause-and-effect relationships between actors and variables, and develop a conceptual system dynamics model as a basis for policy recommendations.
The research employs a systems thinking approach combined with System Dynamics modeling. Primary data were collected through observation, in-depth interviews, and Focus Group Discussions with business actors and stakeholders in Banyumas, while quantitative data for modeling used national-level secondary data. The model was built in stages, starting with a Causal Loop Diagram to map feedback patterns among variables, followed by a Stock and Flow Diagram to quantify system dynamics, then validated using a Mean Absolute Percentage Error test before being used to test various policy scenarios. Validation results showed good accuracy for the variables of the number of Halal Inspection Agencies, the number of food service businesses, and business revenue, although the variable of halal-verified food service businesses still requires improvement. Simulation of three policy scenarios found that adding halal raw materials alone had no significant impact without increasing business actors' awareness, whereas tightening regulations combined with increasing the number of Halal Inspection Agencies had the greatest impact (increasing halal-certified food service businesses to more than one million units by the fifth year), and reducing regular halal certification costs also had a consistently positive impact.
These findings confirm that the success of halal certification is determined by the complex interaction between raw material availability, the institutional capacity of halal inspection agencies, certification costs, and business actors' awareness—not by a single factor alone. The most effective strategy is a combination of strengthening regulations, enhancing the capacity of inspection agencies, and reducing certification cost barriers. The system dynamics approach in this study provides a policy tool for stakeholders to predict the impact of policies before implementation, in order to support the formulation of more targeted halal product assurance strategies for the food service sector in Indonesia.
5126854684I1D022089HUBUNGAN KADAR HEMOGLOBIN DAN TINGKAT KECUKUPAN PROTEIN DENGAN VO2MAX PELARI REKREASIONAL DI BANYUMASLatar Belakang: Perkembangan olahraga lari cukup pesat dan diikuti meningkatnya jumlah pelari rekreasional yang memerlukan VO2max yang baik. VO2max merupakan indikator daya tahan kardiorespirasi yang dapat dipengaruhi kadar hemoglobin dan tingkat kecukupan protein. Kebutuhan protein berbeda pada hari latihan dan tidak latihan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kadar hemoglobin, tingkat kecukupan protein hari latihan, dan tidak latihan dengan VO2max pelari rekreasional di wilayah Kabupaten Banyumas.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang. Sampel berjumlah 48 pelari rekreasional di Kabupaten Banyumas berusia 20-39 tahun. Sampel dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Data kadar hemoglobin diperoleh menggunakan easy touch GCHb, data asupan protein diperoleh dari recall 24-hours, dan data VO2max diperoleh dari cooper test 2,4 km. Analisis data menggunakan uji pearson product moment untuk variabel kadar hemoglobin dan independent t-test untuk variabel tingkat kecukupan protein dengan nilai signifikan p<0,05.
Hasil Penelitian: Karakteristik responden berusia 20-29 tahun (77,1%), IMT normal (79,1%0, massa otot kurang (laki-laki 96,9%; perempuan 93,8%) dan persen lemak tubuh kategori acceptable (37,5%). Kadar hemoglobin responden normal (laki-laki 96,9%; perempuan 75%), Tingkat kecukupan protein cukup pada hari latihan (68,8%) dan tidak latihan (77,1%). Terdapat hubungan signifikan antara tingkat kecukupan protein hari latihan dengan VO2max (p=0,036). Tidak terdapat hubungan signifikan antara kadar hemoglobin laki-laki dan perempuan (p=0,964 dan p=0,939) serta tingkat kecukupan protein hari tidak latihan dengan VO2max (p=0,190).
Kesimpulan: Tingkat kecukupan protein hari latihan memiliki hubungan yang signifikan dengan VO2max, sedangkan kadar hemoglobin dan tingkat kecukupan protein hari tidak latihan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan VO2max.
Background: The sport of running has grown rapidly, accompanied by an increase in the number of recreational runners who need a good VO2max. VO2max is an indicator of cardiorespiratory endurance that can be influenced by hemoglobin levels and protein intake. Protein requirements differ between training and non-training days. This study aims to analyze the relationship between hemoglobin levels, protein intake on training days and non-training days, and VO2max in recreational runners in Banyumas Regency.
Methods: This study employed a cross-sectional design. The sample consisted of 48 recreational runners in Banyumas Regency aged 20–39 years. Participants were selected using consecutive sampling. Hemoglobin level data were obtained using the Easy Touch GCHb, protein intake data were obtained from a 24-hour recall, and VO2max data were obtained from the 2.4-km Cooper test. Data analysis used the Pearson product-moment correlation test for the hemoglobin level variable and an independent t-test for the protein adequacy level variable, with a significance level of p<0.05.
Research result: Characteristics of the respondents: aged 20–29 years (77,1%), normal BMI (79,1%), low muscle mass (men 96,9%; women 93,8%), and body fat percentage in the “acceptable” category (37,5%). Respondents hemoglobin levels were normal (men 96,9%; women 75%), and protein intake was adequate on training days (68,8%) and non-training days (77,1%). There was a significant association between protein adequacy on training days and VO₂max (p=0,036). There was no significant association between hemoglobin levels in men and women (p=0,964 and p=0,939) or between protein adequacy on non-training days and VO2max (p=0,190).
Conclusion: Protein intake on training days is significantly associated with VO2max, whereas hemoglobin levels and protein intake on non-training days are not significantly associated with VO2max.
5126954685K1B022010PENYELESAIAN PERMASALAHAN RUTE TERPENDEK PADA JARINGAN TRANSPORTASI BUS TRANS BANYUMAS MENGGUNAKAN ALGORITMA A-STAR
Penelitian ini membahas implementasi algoritma A-Star untuk menentukan rute terpendek pada jaringan transportasi Bus Trans Banyumas melalui pembangunan program menggunakan bahasa pemrograman Python. Jaringan transportasi Bus Trans Banyumas dimodelkan ke dalam bentuk graf berarah berbobot, dengan titik pemberhentian bus sebagai simpul dan jalur layanan antartitik pemberhentian bus sebagai sisi. Penelitian ini menggunakan data berupa titik pemberhentian bus, koordinat titik pemberhentian bus, serta jarak antartitik pemberhentian yang diperoleh dari peta jaringan transportasi Bus Trans Banyumas dengan bantuan Google Maps. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan data, pemodelan jaringan transportasi ke dalam bentuk graf berarah berbobot, serta implementasi algoritma A-Star pada program pencarian rute terpendek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program yang dibangun mampu menentukan rute terpendek berdasarkan simpul awal dan simpul tujuan yang dipilih oleh pengguna, menampilkan proses pencarian rute terpendek melalui iterasi algoritma, serta menghasilkan lintasan rute terpendek beserta total jarak tempuh. Hasil pengujian menunjukkan bahwa rute terpendek yang dihasilkan program sesuai dengan hasil perhitungan manual menggunakan algoritma A-Star. This study discusses the implementation of the A-Star algorithm to determine the shortest path in the Bus Trans Banyumas transportation network through the development of a shortest path search program using the Python programming language.. The Bus Trans Banyumas transportation network is modeled as a weighted directed graph, where bus stops are represented as vertices and the routes connecting bus stops are represented as edges. This study uses data consisting of bus stop locations, coordinate of bus stop points, and distances between bus stop obtained from the Bus Trans Banyumas transportation network map with the assistance og Google Maps. The research stages include data collection, modeling the transportation network into a weighted directed graph, and implementing the A-Star algorithm in a shortest path search program. The results show that the developed program is capable of determining the shortest path based on the source and destination nodes selected by the user, displating the shortest path search process through the algorithm’s iterations, and producing the shortest path along with the total distance. The testing results indicate that the shortest path generated by the program is consistent with the results of thr manual calculations using the A-Star algorithm.
5127054686F2D024011Trajektori Wacana Politik Kesejahteraan Prabowo – Gibran
dalam Pemilu 2024 : Analisis Wacana Kritis Fairclough
Isu kesejahteraan merupakan salah satu komoditas politik yang kerap dimanfaatkan oleh kandidat presiden untuk memperoleh dukungan publik dalam kontestasi elektoral. Penelitian ini menganalisis trajektori wacana politik kesejahteraan Prabowo – Gibran dalam Pemilu 2024 melalui dokumen visi-misi, debat calon presiden, dan pidato pelantikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif
dengan metode Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough yang mencakup dimensi teks, praktik diskursif, dan praktik sosial. Analisis diinterpretasikan menggunakan perspektif politik kesejahteraan Esping-Andersen, sedangkan perspektif Gramsci digunakan sebagai horizon interpretasi dalam memahami hubungan antara wacana dan kekuasaan sesuai dengan ruang lingkup penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa trajektori wacana politik kesejahteraan tidak ditandai oleh perubahan substansi yang mendasar, melainkan oleh perkembangan bentuk artikulasi yang mengikuti perubahan arena politik. Wacana kesejahteraan
berkembang dari perumusan agenda dalam dokumen visi-misi, artikulasi dan negosiasi makna dalam debat calon presiden, hingga penegasan arah pemerintahan dalam pidato pelantikan. Pembacaan menggunakan perspektif Esping-Andersen memperlihatkan konsistensi orientasi terhadap hak sosial (social rights), dekomodifikasi (decommodification), stratifikasi sosial (social stratification), dan hubungan negara–pasar (state–market nexus). Sementara itu, Pembacaan melalui perspektif Gramsci memperlihatkan adanya kecenderungan konsolidasi orientasi wacana politik kesejahteraan dalam relasinya dengan kekuasaan, namun belum memberikan dasar empiris yang memadai untuk menyimpulkan terbentuknya
hegemoni. Penelitian ini menyimpulkan bahwa trajektori wacana politik kesejahteraan merupakan proses adaptasi komunikasi politik yang mempertahankan orientasi kesejahteraan sekaligus menyesuaikan bentuk artikulasinya terhadap perubahan konteks politik.
Welfare issues constitute one of the central political narratives frequently employed by presidential candidates to gain public support in electoral contests. This study examines the trajectory of Prabowo – Gibran’s welfare political discourse during Indonesia’s 2024 Presidential Election through the analysis of their electoral platform (vision and mission document), presidential debate transcripts, and the presidential inaugural address. The study adopts a qualitative approach using Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis (CDA), encompassing the dimensions of text, discursive practice, and social practice. The findings are interpreted through Esping-Andersen’s welfare politics perspective, while
Gramsci’ perspective serves as an interpretive horizon for understanding the relationship between discourse and power within the scope of this study. The findings reveal that the trajectory of welfare political discourse is characterized not by fundamental changes in its substantive orientation, but by the evolution of its modes of articulation across different political arenas. Welfare discourse develops from the formulation of policy agendas in the electoral platform, to the articulation and negotiation of meanings during the presidential debates, and ultimately to the affirmation of governmental direction in the presidential inaugural address. Interpreted through Esping-Andersen’s framework, the findings demonstrate a consistent orientation toward social rights, decommodification, social stratification, and the state–market nexus. Meanwhile, a Gramscian reading
suggests a tendency toward the consolidation of welfare political discourse in relation to power, although the findings do not provide sufficient empirical evidence to conclude that hegemony has been established. This study concludes that the trajectory of welfare political discourse represents an adaptive process of political communication that maintains a consistent welfare orientation while adjusting its modes of articulation to changing political contexts.
5127154692A1A022112ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN BUAH DI PASAR INDUK MAJENANG KABUPATEN CILACAPPasar tradisional merupakan salah satu saluran distribusi utama komoditas hortikultura segar, termasuk buah-buahan. Penurunan jumlah pasar tradisional yang terjadi seiring dengan pertumbuhan pasar modern dan berkembangnya belanja daring menunjukkan adanya perubahan dalam struktur sarana perdagangan. Kondisi tersebut meningkatkan persaingan antarsaluran perdagangan sekaligus menggeser preferensi masyarakat dalam memilih tempat berbelanja. Pedagang buah di Pasar Induk Majenang masih mengandalkan pola penjualan konvensional, sementara fluktuasi harga serta kualitas buah yang tidak selalu konsisten menyebabkan konsumen semakin selektif dalam memilih tempat membeli buah yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan dan harapan mereka. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memahami faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pembelian konsumen sebagai dasar penyusunan strategi pemasaran yang sesuai dengan karakteristik konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi karakteristik konsumen yang membeli buah di Pasar Induk Majenang (2) menganalisis pengaruh faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis terhadap keputusan pembelian konsumen buah di Pasar Induk Majenang. Penelitian ini dilaksanakan di Pasar Induk Majenang, Kabupaten Cilacap pada bulan April hingga Juni 2026. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pendekatan kuantitatif eksplanatori terhadap 40 responden. Objek penelitian ini adalah faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pembelian buah di Pasar Induk Majenang, yang meliputi faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis. Subjek penelitiannya yaitu konsumen yang melakukan pembelian buah di Pasar Induk Majenang. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik non probability sampling dengan metode accidental sampling. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS).Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik konsumen buah di Pasar Induk Majenang didominasi oleh perempuan berusia produktif (18–59 tahun), berstatus menikah, berpendidikan SMA, serta sebagian besar merupakan ibu rumah tangga. Mayoritas responden memiliki sumber pendapatan keluarga yang berasal dari pekerjaan di instansi/perusahaan maupun usaha sendiri dengan pendapatan berkisar Rp2 juta hingga Rp3 juta per bulan, memiliki 1–2 tanggungan keluarga, serta berdomisili pada jarak sekitar 1–4 km dari Pasar Induk Majenang. Perilaku pembelian menunjukkan bahwa frekuensi pembelian buah cenderung tidak menentu dan dilakukan sesuai kebutuhan rumah tangga, dengan jeruk keprok sebagai jenis buah yang paling banyak dibeli serta rata-rata jumlah pembelian berkisar 1,1–2,0 kg per transaksi. Hasil analisis SEM-PLS menunjukkan bahwa faktor budaya, pribadi, dan psikologis berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian buah di Pasar Induk Majenang, sedangkan faktor sosial tidak berpengaruh signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa keputusan konsumen lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan berbelanja, karakteristik pribadi, serta pengalaman dan persepsi selama berbelanja, sementara pengaruh keluarga maupun kelompok referensi belum menjadi pertimbangan utama dalam menentukan tempat pembelian buah.Traditional markets serve as one of the primary distribution channels for fresh horticultural commodities, including fruits. The decline in the number of traditional markets, accompanied by the growth of modern retail markets and the expansion of online shopping, reflects changes in the structure of the retail distribution system. These developments have intensified competition among retail channels while shifting consumer preferences in choosing where to shop. Fruit vendors at Pasar Induk Majenang continue to rely on conventional selling practices, while fluctuations in fruit prices and inconsistent product quality have made consumers more selective in choosing where to purchase fruit based on their needs and preferences. This condition highlights the importance of understanding the factors influencing consumer purchase decisions as a basis for developing marketing strategies that are aligned with consumer characteristics. This study aims to (1) identify the characteristics of consumers purchasing fruits at Pasar Induk Majenang and (2) analyze the influence of cultural, social, personal, and psychological factors on consumers' fruit purchasing decisions at Pasar Induk Majenang. This research was conducted at Pasar Induk Majenang, Cilacap Regency, from April to June 2026. A survey method with a quantitative explanatory approach was employed involving 40 respondents. The object of this study was the factors influencing fruit purchasing decisions at Pasar Induk Majenang, including cultural, social, personal, and psychological factors. The research subjects were consumers who purchased fruits at Pasar Induk Majenang. The samples were selected using a non-probability sampling technique with an accidental sampling method. The collected data were analyzed using descriptive analysis and Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS). The findings revealed that fruit consumers at Pasar Induk Majenang were predominantly married women of productive age (18–59 years), with a senior high school education, and most were housewives. The majority of respondents came from households whose primary sources of income were employment in companies or government institutions and self-employment, with monthly household incomes ranging from IDR 2 million to IDR 3 million. Most respondents had one to two family dependents and resided approximately 1–4 km from Pasar Induk Majenang. Their fruit purchasing behavior was generally irregular and based on household needs, with jeruk keprok (mandarin oranges) being the most frequently purchased fruit and an average purchase quantity of 1.1–2.0 kg per transaction. The SEM-PLS analysis showed that cultural, personal, and psychological factors had a positive and significant influence on fruit purchasing decisions at Pasar Induk Majenang, whereas social factors had no significant effect. These findings indicate that consumers' purchasing decisions were primarily influenced by shopping habits, personal characteristics, and their shopping experiences and perceptions, while the influence of family and reference groups was not a major consideration in determining where to purchase fruits.
5127254688K1A022062Transesterifikasi Minyak Biji Nyamplung, Formulasi Nanoemulsi, dan Uji Aktivitas Antioksidannya Menggunakan Metode DPPHMinyak biji nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) memiliki aktivitas antioksidan yang berpotensi menghambat radikal bebas penyebab penuaan dan berbagai penyakit degeneratif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi
aktivitas antioksidan minyak biji nyamplung dan produk transesterifikasinya, serta mengembangkan produk transesterifikasi dengan aktivitas antioksidan tertinggi ke dalam sediaan emulsi dan nanoemulsi. Metil ester disintesis melalui reaksi transesterifikasi pada suhu 60 ºC selama 6 jam dan dikarakterisasi menggunakan GC-MS. Aktivitas antioksidan minyak biji nyamplung dan metil ester dievaluasi dengan metode DPPH. Metil ester diformulasikan ke dalam sediaan emulsi dengan variasi konsentrasi 0, 1, 3, 5, dan 7%, kemudian formula dengan karakteristik terbaik dikembangkan menjadi sediaan nanoemulsi. Karakterisasi emulsi meliputi pengujian pH, viskositas, dan stabilitas fisik, sedangkan nanoemulsi dikarakterisasi menggunakan PSA. Aktivitas antioksidan sediaan juga dievaluasi menggunakan metode DPPH. Hasil analisis GC-MS menunjukkan komponen utama metil ester adalah metil oleat, metil palmitat, metil linoleat, dan metil stearat. Transesterifikasi meningkatkan aktivitas antioksidan minyak biji nyamplung yang ditunjukkan dengan nilai IC50 metil ester sebesar 398,5040 ppm. Formula emulsi terbaik diperoleh pada FE3 yang mengandung 3% metil ester dengan pH 6,4; viskositas 23,5 mPa.s; serta stabilitas fisik yang baik selama penyimpanan, ditandai dengan tidak adanya perubahan warna signifikan, tetap jernih, homogen, dan tidak beraroma tengik. Nanoemulsi FE3 memiliki ukuran partikel 14,16 nm dengan distribusi 100% dan nilai PDI 0,1198. Uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa nilai IC50 nanoemulsi FE3 (283,316 ppm) lebih rendah dibandingkan emulsi FE3 (362,745 ppm), yang mengindikasikan aktivitas antioksidan lebih kuat.

Kata kunci: minyak biji nyamplung, transesterifikasi, metil ester, emulsi, nanoemulsi, antioksidan.
Nyamplung seed oil (Calophyllum inophyllum L.) possesses antioxidant activity that has the potential to inhibit free radicals, which cause aging and various degenerative diseases. This study aims to evaluate the antioxidant activity of nyamplung seed oil and its transesterification products, as well as to develop the transesterification product with the highest antioxidant activity into emulsion and nanoemulsion formulations. The methyl ester was synthesized via a transesterification reaction at 60 °C for 6 hours and then characterized using GC- MS. The antioxidant activity of nyamplung seed oil and the methyl ester was evaluated using the DPPH method. The methyl esters were formulated into emulsion formulations with varying concentrations of 0, 1, 3, 5, and 7%; the formulation with the best characteristics was then developed into a nanoemulsion formulation. Characterization of the emulsions included testing for pH, viscosity, and physical stability, while the nanoemulsions were characterized using PSA. The antioxidant activity of the formulations was also evaluated using the DPPH method. GC-MS analysis results showed that the main components of the methyl esters were methyl oleate, methyl palmitate, methyl linoleate, and methyl stearate. Transesterification enhanced the antioxidant activity of nyamplung seed oil, as indicated by an IC50 value of 398.5040 ppm for the methyl esters. The best emulsion formula was obtained for FE3, which contained 3% methyl ester, had a pH of 6.4 and a viscosity of 23.5 mPa·s, and exhibited good physical stability during storage, as indicated by the absence of significant color changes; it remained clear, homogeneous, and free of rancid odors. The FE3 nanoemulsion has a particle size of 14.16 nm with a 100% distribution and a PDI value of 0.1198. Antioxidant activity testing showed that the IC50 value of the FE3 nanoemulsion (283.316 ppm) was lower than that of the FE3 emulsion (362.745 ppm), indicating stronger antioxidant activity.

Keywords: nyamplung seed oil, transesterification, methyl ester, emulsion,
nanoemulsion, antioxidant.
5127354689I1A019087Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Pencegahan Diabetes Tipe 2 pada Atlet Remaja di Klub Basket Wilayah PurwokertoLatar Belakang : Diabetes melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit yang prevalensinya terus meningkat dan sebagian besar dapat dicegah melalui perilaku hidup sehat. Atlet remaja tetap berisiko mengalami DM tipe 2 akibat pola makan, gaya hidup, dan kurangnya pemahaman mengenai pencegahan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan, sikap, dukungan orang tua, dan sumber informasi dengan perilaku pencegahan DM tipe 2 pada atlet remaja di klub basket wilayah Purwokerto.
Metode : Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional ini dilakukan di Wolf Basketball Klub, Satria Basketball Klub, dan Eagles Basketball Klub. Populasi penelitian adalah 60 atlet remaja usia 10–18 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan teknik total sampling. Variabel bebas meliputi pengetahuan, sikap, dukungan orang tua, dan sumber informasi, sedangkan variabel terikat adalah perilaku pencegahan DM tipe 2. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner wawancara pada Juli 2026 dan dianalisis secara univariat serta bivariat.
Hasil Penelitian : Hasil univariat menunjukkan sebagian besar responden berusia 10–13 tahun (41,7%), berjenis kelamin laki-laki (53,3%), berpendidikan SMA (38,3%), memiliki pengetahuan baik (61,7%), sikap baik (53,3%), dukungan orang tua baik (53,3%), sumber informasi kurang baik (51,7%), dan perilaku pencegahan DM tipe 2 yang baik (61,7%). Hasil bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara pengetahuan, sikap, dan dukungan orang tua dengan perilaku pencegahan DM tipe 2, sedangkan sumber informasi tidak berhubungan.
Simpulan : Faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan DM tipe 2 pada atlet remaja basket di klub basket wilayah Purwokerto adalah pengetahuan, sikap, dan dukungan orang tua.
Background: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a disease with an increasing prevalence, and most cases can be prevented through healthy lifestyle behaviors. Adolescent athletes remain at risk of developing T2DM due to unhealthy dietary habits, lifestyle factors, and limited understanding of disease prevention. This study aimed to analyze the association between knowledge, attitudes, parental support, and sources of information with T2DM preventive behaviors among adolescent basketball athletes in all basketball clubs in the Purwokerto area.
Methods: This quantitative study employed a cross-sectional design and was conducted at Wolf Basketball Club, Satria Basketball Club, and Eagles Basketball Club. The study population consisted of 60 adolescent athletes aged 10–18 years who met the inclusion and exclusion criteria. Total sampling was used to select the participants. The independent variables were knowledge, attitudes, parental support, and sources of information, while the dependent variable was T2DM preventive behavior. Data were collected through interviewer-administered questionnaires in July 2026 and analyzed using univariate and bivariate analyses.
Results: Univariate analysis showed that most respondents were aged 10–13 years (41.7%), male (53.3%), had a senior high school education (38.3%), had good knowledge (61.7%), positive attitudes (53.3%), good parental support (53.3%), poor sources of information (51.7%), and good T2DM preventive behavior (61.7%). Bivariate analysis revealed significant associations between knowledge, attitudes, and parental support with T2DM preventive behavior, whereas sources of information were not significantly associated.
Conclusion: Knowledge, attitudes, and parental support were significantly associated with T2DM preventive behavior among adolescent basketball athletes in all basketball clubs in the Purwokerto area.
5127454691F1D022077Relasi Kuasa dalam Implementasi Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak di Kabupaten BanyumasPerlindungan anak merupakan indikator penting kualitas penyelenggaraan pemerintahan daerah yang berkaitan dengan pemenuhan hak anak. Kabupaten Banyumas telah menetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 1 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak sebagai instrumen hukum untuk menjamin pencegahan, penanganan, dan pemulihan korban kekerasan terhadap anak. Namun demikian, data yang dimiliki oleh UPTD PPA Banyumas menunjukkan bahwa kasus kekerasan terhadap anak di Banyumas masih tinggi dan cenderung fluktuatif, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas implementasi kebijakan tersebut. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana relasi kuasa antaraktor lokal memengaruhi implementasi Perda Nomor 1 Tahun 2021 di Kabupaten Banyumas. Artikel ini didasarkan pada penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen terkait. Data dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Kerangka analisis menggunakan teori implementasi kebijakan dan relasi kuasa dari Grindle. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan perlindungan anak di Banyumas dipengaruhi oleh relasi kuasa antaraktor formal yang cenderung sinergis dan kolaboratif, khususnya Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Kabupaten Banyumas, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satreskrim Banyumas, dan Lembaga Bantuan Hukum, namun sinergi tersebut berhadapan dengan kuasa informal berbasis kekerabatan. Temuan ini menegaskan bahwa efektivitas kebijakan perlindungan anak tidak cukup ditentukan oleh regulasi formal semata, melainkan juga memerlukan strategi implementasi yang mengakomodasi dinamika kuasa informal di tingkat satuan lingkungan setempat. Oleh karena itu, penguatan koordinasi lintas sektor baik formal maupun informal menjadi rekomendasi penting dalam implementasi kebijakan ke depannya.Child protection is a key indicator of the quality of local government administration as it relates to the fulfillment of children’s rights. Banyumas Regency has enacted Banyumas Regency Regional Regulation No. 1 of 2021 on the Implementation of Child Protection as a legal instrument to ensure the prevention, handling, and recovery of victims of violence against children. However, data from the Banyumas Child Protection Technical Implementation Unit (UPTD PPA) indicate that cases of violence against children in Banyumas remain high and tend to fluctuate, raising questions about the effectiveness of the policy’s implementation. This article aims to analyze how power relations among local actors influence the implementation of Regional Regulation No. 1 of 2021 in Banyumas Regency. This article is based on qualitative research using a case study approach through in-depth interviews, observations, and a review of relevant documents. The data were analyzed using Miles and Huberman’s interactive analysis model, which consists of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The analytical framework draws on Grindle’s theories of policy implementation and power relations. The research findings indicate that the implementation of child protection policies in Banyumas is influenced by power relations among formal actors that tend to be synergistic and collaborative, particularly the Banyumas Regency Office of Social Affairs, Women’s Empowerment, and Child Protection; the Women and Children Protection Unit of the Banyumas Criminal Investigation Unit; and the Legal Aid Institute. However, this synergy is countered by informal power based on kinship ties. These findings underscore that the effectiveness of child protection policies is not determined solely by formal regulations but also requires implementation strategies that accommodate the dynamics of informal power at the local community level. Therefore, strengthening cross-sectoral coordination—both formal and informal—is a key recommendation for future policy implementation.
5127554690F1D022070Personal Branding Politik Jamaludin Malik melalui Karakter Ultraman pada Pemilu 2024Perkembangan teknologi mendorong terjadinya perubahan bentuk kampanye
politik dari konensional menuju kampanye yang lebih kreatif mellaui kampanye
digital. Dalam kampanye para kandidat mempromosikan diri dengan menunjukan
visi dan misi serta citra yang positif kepada masyarakat. Pada Pemilu 2024,
fenomena tersebut terlihat melalui pemanfaatan karakter Ultraman oleh Jamaludin
Malik sebagai strategi personal branding politik untuk menarik perhatian
masyarakat, khususnya pemilih muda sebagai dominasi pemilih pada pemilu 2024.
Dengan penggunaan karakter Ultraman dalam pembentukan personal branding
menjadi menarik untuk dikaji karena tidak hanya berfungsi sebagai media
komunikasi politik, tetapi juga menjadi pembeda dalam membentuk citra kandidat
di era persaingan politik yang semakin kompetitif. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis personal branding Jamaludin Malik melalui karakter Ultraman pada
pemilu 2024. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif interpretative
dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui analisis dokumen,
pemberitaan media online, konten media sosial, podcat, dan beberapa literatur yang
relevan. Analisis dilakukan menggunakan analisis tematik dengan menggunakan
delapan konsep “The Eight Laws of Personal Branding” Peter Montoya sebagai
kerangka analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan karakter
Ultraman merepresentasikan tujuh konsep personal branding Peter Montoya,
specialisation melalui ciri khasnya dengan karakter Ultraman; visibility melalui
penggunaan karakter yang telah dikenal masyarakat; personality melalui karakter
heroik Ultraman; distinctiveness melalui identitas yang berbeda dari kandidat lain;
persistence melalui penggunaan Ultraman secara berulang; unity melalui
pembentukan Ultraman sebagai identitas kandidat; serta goodwill melalui asosiasi
karakter dengan nilai-nilai positif. Temuan tersebut menunjukkan bahwa karakter
Ultraman menjadi instrumen dalam membangun identitas Jamaludin Malik sebagai
kandidat yang unik, mudah dikenali, dan memiliki citra positif.
Technological advancements have driven a shift in the nature of political campaigns
from conventional methods toward more creative approaches through digital
campaigns. During campaigns, candidates promote themselves by presenting their
vision and mission, as well as a positive image to the public. In the 2024 general
election, this phenomenon was evident in Jamaludin Malik’s use of the Ultraman
character as a political personal branding strategy to attract public attention,
particularly from young voters, who will constitute the majority of the electorate in
the 2024 election. The use of the Ultraman character in personal branding is an
intriguing subject for study because it not only serves as a medium for political
communication but also acts as a distinguishing factor in shaping a candidate’s
image in an era of increasingly competitive political rivalry. This study aims to
analyze Jamaludin Malik’s personal branding through the Ultraman character in
the 2024 general election. This study employs a qualitative descriptive interpretive
method using a case study approach. Data were collected through document
analysis, online media coverage, social media content, podcasts, and relevant
literature. The analysis was conducted using thematic analysis based on Peter
Montoya as the analytical framework. The results indicate that the use of the
Ultraman character embodies seven of Peter Montoya’s personal branding
concepts: specialization through the character’s distinctive traits; visibility through
the use of a character already familiar to the public; personality through
Ultraman’s heroic nature; distinctiveness through an identity that sets the candidate
persistence through the repeated use of Ultraman; unity through the establishment
of Ultraman as the candidate’s identity; and goodwill through the association of the
character with positive values. These findings indicate that the Ultraman character
serves as a tool in building Jamaludin Malik’s identity as a unique, easily
recognizable candidate with a positive image.
5127654693I1A022076FAKTOR YANG MEMENGARUHI KETIDAKPATUHAN PENGOBATAN TUBERKULOSIS (TB) PARU PADA ANAK USIA 0-14 TAHUN DI KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2024-2025
Latar Belakang: Ketidakpatuhan pengobatan tuberkulosis (TB) paru anak dapat menyebabkan kegagalan terapi, resistansi obat, komplikasi, hingga kematian. Data SITB Kabupaten Banyumas tahun 2024 menunjukkan satu kasus gagal pengobatan dan 33 kasus (2,26%) putus berobat pada pasien anak. Anak usia 0–14 tahun memerlukan perhatian khusus karena keberlangsungan pengobatannya bergantung pada orang tua atau wali. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor yang memengaruhi ketidakpatuhan pengobatan TB paru pada anak di Kabupaten Banyumas tahun 2024–2025.
Metode: Observasional analitik menggunakan desain case-control retrospektif dengan 25 kasus dan 50 kontrol (1:2). Kasus adalah pasien TB anak usia 0-14 tahun yang tidak menyelesaikan pengobatan selama 6 bulan, sedangkan kontrol menyelesaikan pengobatan minimal 6 bulan. Kasus dipilih menggunakan total sampling, sedangkan kontrol menggunakan purposive sampling dengan pencocokan usia, jenis kelamin, dan wilayah kerja puskesmas. Variabel penelitian meliputi usia, jenis kelamin, komorbiditas, akses ke fasilitas kesehatan, efek samping OAT, dukungan keluarga, dan peran tenaga kesehatan. Analisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik ganda.
Hasil Penelitian: Komorbiditas, akses ke fasilitas kesehatan, efek samping OAT, dukungan keluarga, dan peran tenaga kesehatan berhubungan dengan ketidakpatuhan, sedangkan usia dan jenis kelamin tidak berhubungan. Analisis multivariat menunjukkan bahwa peran tenaga kesehatan yang kurang baik dan adanya komorbiditas berpengaruh terhadap ketidakpatuhan. Efek samping OAT dan dukungan keluarga berperan sebagai variabel perancu.
Kesimpulan: Peran tenaga kesehatan yang kurang baik dan adanya komorbiditas memengaruhi ketidakpatuhan pengobatan TB paru anak. Penguatan pendampingan tenaga kesehatan dan pemantauan anak dengan komorbiditas perlu ditingkatkan untuk mendukung ketuntasan pengobatan.

Background: Nonadherence to pulmonary tuberculosis (TB) treatment in children can lead to treatment failure, drug resistance, complications, and death. Data from the Banyumas Regency Tuberculosis Control Program (SITB) in 2024 recorded one case of treatment failure and 33 cases (2.26%) of treatment discontinuation among children with TB. Children aged 0–14 years require special attention because treatment continuity depends on their parents or guardians. This study aimed to identify the factors affecting nonadherence to pulmonary TB treatment among children in Banyumas Regency during 2024–2025.
Methods: An analytical observational study used a retrospective case-control design involving 25 cases and 50 controls (1:2). Cases were children with TB aged 0–14 years who did not complete 6 months of treatment, whereas controls completed treatment for at least 6 months. Cases were selected using total sampling, while controls were selected using purposive sampling and matched by age, sex, and community health center service area. The variables included age, sex, comorbidities, access to health facilities, side effects of anti-tuberculosis drugs, family support, and the role of healthcare workers. Data were analyzed using the chi-square test and multiple logistic regression.
Study Results: Comorbidities, access to health facilities, side effects of anti-tuberculosis drugs, family support, and the role of healthcare workers were associated with nonadherence, whereas age and gender were not associated. Multivariate analysis showed that an inadequate role of healthcare workers and the presence of comorbidities affected nonadherence. Side effects of anti-tuberculosis drugs and family support acted as confounding variables.
Conclusion: Inadequate support from healthcare workers and the presence of comorbidities affected nonadherence to pulmonary TB treatment among children. Strengthening healthcare worker support and monitoring of children with comorbidities are necessary to improve treatment completion.
5127754695A1D022142Pengaruh Konsentrasi Pupuk Mono Kalium Fosfat Terhadap Beberapa Varietas Tanaman Melon Pada Sistem Hidroponik Rakit ApungMelon (Cucumis melo L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang banyak diminati masyarakat karena memiliki cita rasa manis, kandungan gizi yang tinggi, serta berpotensi memberikan keuntungan yang besar bagi petani. Permintaan buah melon yang terus meningkat perlu diimbangi dengan upaya peningkatan produktivitas dan kualitas buah. Salah satu teknologi budidaya yang mampu mendukung produksi melon secara efisien adalah sistem hidroponik rakit apung. Penelitian dilaksanakan di Screenhouse Desa Pasir Kulon, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas dan Laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman pada bulan Februari hingga Mei 2026. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri atas dua faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi pupuk MKP yang terdiri atas tiga taraf, yaitu 0 g/L, 4 g/L, dan 8 g/L. Faktor kedua adalah varietas melon yang terdiri atas tiga varietas, yaitu Sweet Hami, Golden Aroma, dan Golden Langkawi. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) pada taraf 5%, kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) apabila terdapat pengaruh nyata. Interaksi antara konsentrasi MKP dan varietas memberikan pengaruh nyata terhadap bobot buah, ketebalan daging buah, dan total padatan terlarut. Perlakuan pupuk terbaik didapat pada konsentrasi MKP 8 g/L untuk variabel bobot buah, diameter buah, dan ketebalan daging buah, serta varietas Sweet Hami pada pupuk 4 g/L untuk variabel total padatan terlarut. Varietas melon memberikan pengaruh yang berbeda terhadap beberapa parameter pertumbuhan dan hasil.The melon (Cucumis melo L.) is a high-value horticultural commodity in high demand due to its sweet taste and high nutritional content, offering significant profit potential for farmers. The steadily increasing demand for melons necessitates efforts to enhance both productivity and fruit quality. One cultivation technology capable of supporting efficient melon production is the floating raft hydroponic system. This research was conducted at a screenhouse in Pasir Kulon Village (Karanglewas District, Banyumas Regency) and at the Agronomy and Horticulture Laboratory of the Faculty of Agriculture, Universitas Jenderal Soedirman, between February and May 2026. A factorial Randomized Block Design (RBD) involving two factors was employed. The first factor was the concentration of MKP fertilizer, comprising three levels: 0 g/L, 4 g/L, and 8 g/L. The second factor was the melon variety, comprising three varieties: Sweet Hami, Golden Aroma, and Golden Langkawi. Data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at the 5% significance level, followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) where significant effects were observed. The interaction between MKP concentration and variety significantly influenced fruit weight, flesh thickness, and total soluble solids. The best fertilizer treatment was the 8 g/L MKP concentration for the variables of fruit weight, fruit diameter, and flesh thickness, while the Sweet Hami variety treated with 4 g/L fertilizer yielded the best results for total soluble solids. The melon varieties exhibited differing effects on several growth and yield parameters.
5127854215C1A019091DETERMINAN KEMISKINAN DI PULAU JAWA-BALI TAHUN 2017-2024Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pertumbuhan ekonomi, indeks gini, IPM, dan indeks pembangunan TIK terhadap kemiskinan di tujuh provinsi Pulau Jawa-Bali dan mengetahui variabel yang memiliki pengaruh paling dominan terhadap kemiskinan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Analisis data menggunakan analisis regresi data panel dengan model terpilih Fixed Effect Model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama pertumbuhan ekonomi, indeks gini, IPM, dan indeks pembangun TIK berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan. Secara parsial, pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan serta indeks gini berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan. Sebaliknya, IPM dan indeks pembangunan TIK tidak berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan. Variabel dengan pengaruh dominan terhadap kemiskinan dalam penelitian ini yaitu indeks gini.This study aims to analyze the impact of economic growth, the gini index, the HDI, and the ICT development index on poverty across seven provinces in the Java-Bali region, and to identity the variable with the most dominant influence on poverty. A quantitative approach was employed, utilizing panel data regression analysis with the Fixed Effect Model selected as the analytical framework. The result indicate that, collectively, economic growth, the gini index, the HDI, and the ICT development index have a significant impact on poverty. Individually, economic growth has a significant negative effect on poverty, while the gini index has a significant positive effect. Conversely, the HDI and the ICT development index do not have a significant impact on poverty. The variable exerting the most dominant influence on poverty in this study is the gini index.
5127954696F1D022053
SOFT POWER DAN EKONOMI POLITIK BUDAYA POPULER: Perbandingan Cool Japan dan Hallyu Wave Korea Selatan serta Penyebarannya di Indonesia
Jepang dan Korea Selatan merupakan dua negara Asia Timur yang memanfaatkan budaya populer sebagai instrumen soft power melalui strategi Cool Japan dan Hallyu Wave. Meskipun memiliki karakteristik yang relatif serupa, kedua negara menunjukkan perbedaan dalam pola dan strategi penyebaran budaya populer, khususnya di Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk membandingkan strategi penyebaran budaya populer Jepang dan Korea Selatan di Indonesia serta menganalisis dampaknya terhadap perkembangan ekonomi budaya kedua negara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan komparatif dan desain Most Similar System Design (MSSD). Data diperoleh melalui studi kepustakaan melalui jurnal ilmiah, buku, laporan resmi pemerintah dan lembaga terkait, serta sumber data dan artikel relevan. Analisis dilakukan secara deskriptif-komparatif dengan membandingkan peran pemerintah, model industri budaya populer, dan media penyebaran untuk mengidentifikasi perbedaan strategi kedua negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jepang cenderung mengembangkan budaya populer melalui peran pemerintah sebagai fasilitator, model industri yang bertahap dan culturally odorless, serta penyebaran organik berbasis komunitas. Sebaliknya, Korea Selatan mengembangkan budaya populer melalui peran pemerintah sebagai penggerak, model industri yang terintegrasi dengan identitas nasional, serta penyebaran yang terkoordinasi dan berorientasi digital. Perbedaan strategi tersebut menghasilkan jangkauan pengaruh yang berbeda, dengan budaya populer Jepang yang kuat pada komunitas tertentu, sedangkan budaya populer Korea Selatan menjangkau masyarakat secara lebih luas dan mendalam. Dari sisi ekonomi, Jepang menunjukkan perkembangan ekonomi budaya yang berkelanjutan dalam jangka panjang, sementara Korea Selatan memperlihatkan pertumbuhan yang lebih cepat dan ekspansif.Japan and South Korea are two East Asian countries that utilise popular culture as an instrument of soft power through the Cool Japan and Hallyu Wave strategies. Although the two countries share relatively similar characteristics, they demonstrate different strategies for disseminating popular culture, particularly in Indonesia. This article aimed to compare the dissemination strategies of Japanese and South Korean popular culture in Indonesia and analyse their effects on the development of the two countries’ cultural economies. The study employed a qualitative method with a comparative approach and a Most Similar System Design (MSSD). Data were obtained through a literature review of academic journals, books, official government and institutional reports, as well as relevant data sources and articles. The data were analysed descriptively and comparatively by examining the roles of government, popular culture industry models, and dissemination media to identify differences in the strategies employed by the two countries. The results show that Japan tends to develop its popular culture through a facilitating role of government, a gradual and culturally odorless industry model, and organic, community-based dissemination. In contrast, South Korea develops its popular culture through a driving role of government, an industry model integrated with national identity, and coordinated, digitally oriented dissemination. These differences result in different levels of cultural influence, with Japanese popular culture remaining strong within specific communities, while South Korean popular culture reaches broader segments of society more extensively and deeply. Economically, Japan demonstrates sustainable long-term cultural economic development, whereas South Korea exhibits faster and more expansive growth.
5128054698H1E022025USULAN MITIGASI RISIKO OPERASIONAL PELAYANAN BUS TRANS BANYUMAS MENGGUNAKAN METODE HOUSE OF RISK DAN ANALYTIC HIERARCHY PROCESSBus Trans Banyumas sebagai layanan Bus Rapid Transit (BRT) yang dikelola oleh PT Banyumas Raya Transportasi tidak luput dari berbagai risiko operasional, baik yang bersumber dari faktor internal seperti ketidaksesuaian pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM), maupun faktor eksternal seperti kepadatan lalu lintas dan keterbatasan jalan, yang berpotensi menurunkan kualitas pelayanan serta membahayakan keselamatan penumpang. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi risk event dan risk agent, merancang strategi mitigasi, serta menentukan prioritas strategi mitigasi risiko yang paling efektif untuk diterapkan perusahaan, dengan menggabungkan metode House of Risk (HOR) untuk identifikasi risiko dan perancangan aksi mitigasi, serta Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk penentuan prioritas strategi mitigasi berdasarkan kriteria Standar Pelayanan Minimal (SPM). Hasil pengolahan HOR Tahap 1 mengidentifikasi 9 risk event dan 37 risk agent yang berpotensi mengganggu operasional pelayanan bus Trans Banyumas, kemudian diseleksi menggunakan prinsip pareto 80/20 menjadi 9 risk agent prioritas untuk segera ditangani. Pada HOR Tahap 2, dirumuskan 6 preventive action sebagai strategi mitigasi, dengan aksi "Melakukan pelatihan berkala dan menerapkan sistem reward untuk pengemudi" memperoleh nilai Effectiveness to Difficulty Ratio (ETDk) tertinggi sebesar 1.930,5. Selanjutnya, pembobotan menggunakan AHP menghasilkan alternatif "Menambah petugas di dalam bus" sebagai strategi mitigasi dengan prioritas tertinggi, dengan bobot sebesar 0,23062. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi bagi PT Banyumas Raya Transportasi dalam meningkatkan keandalan serta kualitas pelayanan Bus Trans Banyumas secara berkelanjutan.Bus Trans Banyumas, as a Bus Rapid Transit (BRT) service operated by PT Banyumas Raya Transportasi, is not exempt from various operational risks, originating from both internal factors, such as non-compliance with the Minimum Service Standard (SPM), and external factors, such as traffic congestion and road limitations, which have the potential to reduce service quality and endanger passenger safety. This study aims to identify risk events and risk agents, design mitigation strategies, and determine the priority of the most effective risk mitigation strategies to be implemented by the company, by combining the House of Risk (HOR) method for risk identification and mitigation action design with the Analytic Hierarchy Process (AHP) method for determining mitigation strategy priorities based on Minimum Service Standard (SPM) criteria. The results of HOR Phase 1 processing identified 9 risk events and 37 risk agents that could potentially disrupt the operational service of Bus Trans Banyumas, which were then selected using the Pareto 80/20 principle into 9 priority risk agents requiring immediate action. In HOR Phase 2, 6 preventive actions were formulated as mitigation strategies, with the action "conducting regular training and implementing a reward system for drivers" obtaining the highest Effectiveness to Difficulty Ratio (ETDk) value of 1,930.5. Subsequently, weighting using AHP resulted in the alternative "adding officers inside the bus" as the mitigation strategy with the highest priority, with a weight of 0.23062. The results of this study are expected to serve as a recommendation for PT Banyumas Raya Transportasi in improving the reliability and quality of Bus Trans Banyumas services on a sustainable basis.