Home
Login.
Artikelilmiahs
54696
Update
ICHA KHAIRUNNISA
NIM
Judul Artikel
SOFT POWER DAN EKONOMI POLITIK BUDAYA POPULER: Perbandingan Cool Japan dan Hallyu Wave Korea Selatan serta Penyebarannya di Indonesia
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Jepang dan Korea Selatan merupakan dua negara Asia Timur yang memanfaatkan budaya populer sebagai instrumen soft power melalui strategi Cool Japan dan Hallyu Wave. Meskipun memiliki karakteristik yang relatif serupa, kedua negara menunjukkan perbedaan dalam pola dan strategi penyebaran budaya populer, khususnya di Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk membandingkan strategi penyebaran budaya populer Jepang dan Korea Selatan di Indonesia serta menganalisis dampaknya terhadap perkembangan ekonomi budaya kedua negara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan komparatif dan desain Most Similar System Design (MSSD). Data diperoleh melalui studi kepustakaan melalui jurnal ilmiah, buku, laporan resmi pemerintah dan lembaga terkait, serta sumber data dan artikel relevan. Analisis dilakukan secara deskriptif-komparatif dengan membandingkan peran pemerintah, model industri budaya populer, dan media penyebaran untuk mengidentifikasi perbedaan strategi kedua negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jepang cenderung mengembangkan budaya populer melalui peran pemerintah sebagai fasilitator, model industri yang bertahap dan culturally odorless, serta penyebaran organik berbasis komunitas. Sebaliknya, Korea Selatan mengembangkan budaya populer melalui peran pemerintah sebagai penggerak, model industri yang terintegrasi dengan identitas nasional, serta penyebaran yang terkoordinasi dan berorientasi digital. Perbedaan strategi tersebut menghasilkan jangkauan pengaruh yang berbeda, dengan budaya populer Jepang yang kuat pada komunitas tertentu, sedangkan budaya populer Korea Selatan menjangkau masyarakat secara lebih luas dan mendalam. Dari sisi ekonomi, Jepang menunjukkan perkembangan ekonomi budaya yang berkelanjutan dalam jangka panjang, sementara Korea Selatan memperlihatkan pertumbuhan yang lebih cepat dan ekspansif.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Japan and South Korea are two East Asian countries that utilise popular culture as an instrument of soft power through the Cool Japan and Hallyu Wave strategies. Although the two countries share relatively similar characteristics, they demonstrate different strategies for disseminating popular culture, particularly in Indonesia. This article aimed to compare the dissemination strategies of Japanese and South Korean popular culture in Indonesia and analyse their effects on the development of the two countries’ cultural economies. The study employed a qualitative method with a comparative approach and a Most Similar System Design (MSSD). Data were obtained through a literature review of academic journals, books, official government and institutional reports, as well as relevant data sources and articles. The data were analysed descriptively and comparatively by examining the roles of government, popular culture industry models, and dissemination media to identify differences in the strategies employed by the two countries. The results show that Japan tends to develop its popular culture through a facilitating role of government, a gradual and culturally odorless industry model, and organic, community-based dissemination. In contrast, South Korea develops its popular culture through a driving role of government, an industry model integrated with national identity, and coordinated, digitally oriented dissemination. These differences result in different levels of cultural influence, with Japanese popular culture remaining strong within specific communities, while South Korean popular culture reaches broader segments of society more extensively and deeply. Economically, Japan demonstrates sustainable long-term cultural economic development, whereas South Korea exhibits faster and more expansive growth.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save