Home
Login.
Artikelilmiahs
54682
Update
NADIYA SALSABILA
NIM
Judul Artikel
ANALISIS IMPLEMENTASI SERTIFIKASI HALAL PADA JASA PENYAJIAN MAKANAN MELALUI MODEL SYSTEM DYNAMIC
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Sertifikasi halal pada jasa penyajian makanan di Indonesia diwajibkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, namun implementasinya masih rendah, tercatat pada Badan Pusat Statistik tahun 2024 hanya 2,94% saja jasa penyajian makanan yang terverifikasi halal, hal ini dikarenakan melibatkan banyak aktor dan faktor yang saling berkaitan mulai dari ketersediaan bahan baku halal, kompetensi dan jumlah Lembaga Pemeriksa Halal, biaya sertifikasi, hingga kesadaran pelaku usaha. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor kunci yang memengaruhi penerapan Sistem Jaminan Halal pada jasa penyajian makanan di Kabupaten Banyumas, memetakan hubungan sebab-akibat antaraktor dan variabel, serta menyusun model konseptual sistem dinamik sebagai dasar rekomendasi kebijakan. Penelitian menggunakan pendekatan systems thinking yang dipadukan dengan pemodelan Sistem Dinamik. Data primer dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan Focus Group Discussion bersama pelaku usaha dan pemangku kepentingan di Banyumas, sementara data kuantitatif untuk pemodelan menggunakan data sekunder tingkat nasional. Model dibangun bertahap mulai dari Causal Loop Diagram untuk memetakan pola umpan balik antarvariabel, dilanjutkan Stock and Flow Diagram untuk kuantifikasi dinamika sistem, kemudian divalidasi menggunakan uji Mean Absolute Percentage Error sebelum digunakan untuk menguji berbagai skenario kebijakan. Hasil validasi menunjukkan akurasi yang baik pada variabel jumlah Lembaga Pemeriksa Halal, jumlah jasa penyajian makanan, dan pendapatan usaha, meski variabel jasa penyajian makanan terverifikasi halal masih perlu perbaikan. Simulasi tiga skenario kebijakan menemukan bahwa penambahan bahan baku halal semata tidak berdampak signifikan tanpa peningkatan kesadaran pelaku usaha, sedangkan mempemudah regulasi yang dipadukan penambahan jumlah Lembaga Pemeriksa Halal memberikan dampak paling besar (meningkatkan jasa penyajian makanan tersertifikasi halal hingga lebih dari satu juta unit pada tahun kelima), dan penurunan biaya sertifikasi halal reguler juga berdampak positif secara konsisten. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan sertifikasi halal ditentukan oleh interaksi kompleks antara ketersediaan bahan baku, kapasitas kelembagaan pemeriksa halal, biaya sertifikasi, serta kesadaran pelaku usaha—bukan oleh satu faktor tunggal. Strategi paling efektif adalah kombinasi penguatan regulasi, peningkatan kapasitas lembaga pemeriksa, dan pengurangan hambatan biaya sertifikasi. Pendekatan sistem dinamik dalam penelitian ini memberikan alat bantu kebijakan bagi pemangku kepentingan untuk memprediksi dampak kebijakan sebelum diterapkan, guna mendukung perumusan strategi jaminan produk halal yang lebih tepat sasaran pada sektor jasa penyajian makanan di Indonesia.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Halal certification for food service businesses in Indonesia is mandatory under Law Number 33 of 2014 concerning Halal Product Assurance. However, its implementation remains low—Statistics Indonesia (BPS) recorded in 2024 that only 2.94% of food service businesses had verified halal status. This is due to the involvement of many interrelated actors and factors, ranging from the availability of halal raw materials, the competence and number of Halal Inspection Agencies, certification costs, to business actors' awareness. This study aims to analyze the key factors influencing the implementation of the Halal Assurance System in food service businesses in Banyumas Regency, map the cause-and-effect relationships between actors and variables, and develop a conceptual system dynamics model as a basis for policy recommendations. The research employs a systems thinking approach combined with System Dynamics modeling. Primary data were collected through observation, in-depth interviews, and Focus Group Discussions with business actors and stakeholders in Banyumas, while quantitative data for modeling used national-level secondary data. The model was built in stages, starting with a Causal Loop Diagram to map feedback patterns among variables, followed by a Stock and Flow Diagram to quantify system dynamics, then validated using a Mean Absolute Percentage Error test before being used to test various policy scenarios. Validation results showed good accuracy for the variables of the number of Halal Inspection Agencies, the number of food service businesses, and business revenue, although the variable of halal-verified food service businesses still requires improvement. Simulation of three policy scenarios found that adding halal raw materials alone had no significant impact without increasing business actors' awareness, whereas tightening regulations combined with increasing the number of Halal Inspection Agencies had the greatest impact (increasing halal-certified food service businesses to more than one million units by the fifth year), and reducing regular halal certification costs also had a consistently positive impact. These findings confirm that the success of halal certification is determined by the complex interaction between raw material availability, the institutional capacity of halal inspection agencies, certification costs, and business actors' awareness—not by a single factor alone. The most effective strategy is a combination of strengthening regulations, enhancing the capacity of inspection agencies, and reducing certification cost barriers. The system dynamics approach in this study provides a policy tool for stakeholders to predict the impact of policies before implementation, in order to support the formulation of more targeted halal product assurance strategies for the food service sector in Indonesia.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save