Artikelilmiahs
Menampilkan 50.561-50.580 dari 50.588 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 50561 | 53946 | C1L022024 | Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Visual Auditori Kinestetik dan Kemandirian Belajar Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Kelas X SMA Muhammadiyah 1 Purwokerto | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran visual auditori kinstetik (model VAK) dan kemandirian belajar terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi. Metode penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen dan survei. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Muhammadiyah 1 Purwokerto berjumlah 227 siswa dan sampel sebanyak 60 siswa yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Analisis data berupa uji instrumen, uji asumsi klasik, dan uji hipotesis dengan menggunakan bantuan SPSS. Pengumpulan data dalam penelitian dilakukan dengan metode tes hasil belajar dan kuesioner dengan skala likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Model pembelajaran VAK berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar ekonomi, dengan nilai thitung 4,778 dan nilai signifikansi 0,000; dan (2) Kemandirian belajar tidak berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar ekonomi, dengan nilai thitung 0,700 dan nilai signifikansi 0,487. | This study aimed to determine the effect of the visual auditory kinesthetic learning model (VAK model) and learning independence on student learning outcomes in economics. The quantitative research method with experimental and survey approach. The population of this study was 227 grade X students at SMA Muhammadiyah 1 Purwokerto with a sample size of 60 students determined by purposive sampling. Data analysis was in the form of instrument testing, classical assumption testing, and hypothesis testing using SPSS. Data collection in the study was carried out using the learning outcome test method and a questionnaire with a Likert scale. The results of the study showed that: (1) ) The VAK learning model significantly influenced economics learning outcomes, with a t-value of 4.778 and a significance value of 0.000.; and (2) Learning independence did not significantly influence economics learning outcomes, with a t-value of 0.700 and a significance value of 0.487. | |
| 50562 | 53947 | E1A022046 | TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PEMBATALAN PENETAPAN PERKAWINAN TANPA PERSETUJUAN SUAMI (Studi Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara Nomor 143/Pdt.G/2023/PN Jkt.Utr) | Perkawinan merupakan ikatan lahir dan batin antara laki-laki dan perempuan yang bertujuan membentuk keluarga bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, sehingga dalam pelaksanaannya harus memenuhi syarat hukum, termasuk adanya persetujuan kedua belah pihak dan pencatatan perkawinan. Permasalahan dalam penelitian ini berfokus pada pertimbangan hukum hakim dalam mengabulkan pembatalan penetapan perkawinan karena ketidakhadiran suami serta akibat hukum dari pembatalan tersebut dalam Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara Nomor 143/Pdt.G/2023/PN Jkt.Utr. Penelitian ini merupakan jenis penelitian yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan, pendekatan konsep dan pendekatan kasus, serta merupakan spesifikasi penelitian preskriptif. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang dikumpulkan melalui studi kepustakaan dan dianalisis secara normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakim mengabulkan gugatan pembatalan penetapan perkawinan karena perkawinan yang dilaksanakan tidak memenuhi syarat sah pada Pasal 2 Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 dan terhadap penetapan perkawinan telah ditemukan cacat prosedural berupa tidak adanya persetujuan serta ketidakhadiran suami dalam proses permohonan penetapan perkawinan, sehingga bertentangan dengan prinsip dasar kesepakatan para pihak dalam perkawinan. Akibat hukum dari pembatalan tersebut adalah penetapan perkawinan dinyatakan tidak sah dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Akibat hukum terhadap anak adalah kedudukannya dianggap sebagai anak luar kawin, status perkawinan kembali pada keadaan semula yaitu status Penggugat dan Tergugat dianggap belum pernah melangsungkan perkawinan, tidak ada pembagian harta bersama, dan terhadap pihak ketiga tidak menghapus hak pihak ketiga yang beritikad baik, namun dalam perkara ini ketentuan tersebut tidak memiliki penerapan secara konkret karena tidak ditemukan adanya hubungan hukum antara para pihak dengan pihak ketiga. Kata kunci: Akibat Hukum; Pembatalan Perkawinan; Penetapan Perkawinan. | Marriage is a physical and spiritual bond between a man and a woman aimed at forming a happy and lasting family based on a belief in the One Supreme God. Therefore, its execution must meet legal requirements, including the consent of both parties and marriage registration. This study focuses on the judge’s legal considerations in granting the annulment of a marriage due to the husband’s absence, as well as the legal consequences of such annulment in the Decision of the North Jakarta District Court No. 143/Pdt.G/2023/PN Jkt.Utr. This study employs a normative legal research design using a statue approach, conceptual approach, and case approach, with a prescriptive research specification. The data utilized are secondary data consisting of primary, secondary, and tertiary legal materials collected through a literature review and analyzed using normative qualitative methods. The results of the study indicate that the judge granted the petition to annul the marriage registration because the marriage did not meet the legal requirements set forth in Article 2 of Marriage Law No. 1 of 1974, and procedural defects were found in the marriage registration, namely the lack of consent and the husband’s absence during the marriage registration process, thereby contradicting the fundamental principle of mutual consent between the parties in a marriage. The legal consequence of this annulment is that the marriage is declared null and void and is deemed to have never existed. The legal consequence for the child is that the child’s status is deemed to be that of a child born out of wedlock; the marital status reverts to its original state, meaning the Plaintiff and Defendant are deemed never to have been married; there is no division of joint property; and with respect to third parties, the rights of third parties acting in good faith are not affected. However, in this case, these provisions do not apply concretely because no legal relationship was found between the parties and any third parties. Keywords: Annulment of Marriage; Determination of Marriage; Legal Consequences. | |
| 50563 | 53949 | A1C022021 | Analisis Sifat Fisik dan Kimia Media Tanam pada Pembibitan Kentang (Solanum tuberosum L.) dengan Sistem Fertigasi Kapiler | Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang umumnya dibudidayakan di dataran tinggi. Keterbatasan lahan di dataran tinggi mendorong pengembangan budidaya kentang pada dataran medium, namun keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh karakteristik media tanam yang mampu menyediakan air, udara, dan unsur hara secara optimal. Selain itu, kondisi lingkungan budidaya juga dapat memengaruhi perubahan sifat fisik dan kimia media tanam selama pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jenis media tanam dan kondisi lingkungan terhadap sifat fisik dan kimia media tanam pada budidaya kentang menggunakan sistem fertigasi kapiler skala polibag. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes pada ketinggian 342 mdpl. Perlakuan yang digunakan terdiri atas empat jenis media tanam, yaitu tanah utuh (TU), arang sekam (AS), cocopeat (CP), dan pasir utuh (PU), serta dua kondisi lingkungan, yaitu di dalam screenhouse (IN) dan di luar screenhouse (OUT). Parameter yang diamati meliputi sifat fisik media tanam berupa konduktivitas hidrolik jenuh (ks), dry bulk density (ρ_d), kadar air, dan porositas, serta sifat kimia media tanam berupa pH, electrical conductivity (EC), nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K). Data dianalisis menggunakan uji parametrik dan nonparametrik sesuai dengan karakteristik data masing-masing parameter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis media tanam berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter sifat fisik dan kimia media tanam yang diamati. Arang sekam (AS) memiliki rata-rata nilai konduktivitas hidrolik jenuh tertinggi sebesar 0,05 cm/s dan pH tertinggi sebesar 6,77. Cocopeat (CP) memiliki rata-rata kadar air tertinggi sebesar 757,13%, nilai porositas tertinggi sebesar 92,77%, nilai EC tertinggi sebesar 525,14 µS/cm, kandungan nitrogen sebesar 25,76 mg/kg, fosfor sebesar 36,26 mg/kg, dan kalium sebesar 84,26 mg/kg. Sementara itu, pasir utuh (PU) memiliki rata-rata dry bulk density tertinggi sebesar 1,40 g/cm³. Tanah utuh (TU) menunjukkan karakteristik sifat fisik dan kimia yang relatif seimbang dibandingkan media tanam lainnya. Faktor lingkungan berpengaruh nyata terhadap nilai EC serta kandungan N, P, dan K, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap konduktivitas hidrolik jenuh, dry bulk density, kadar air, porositas, dan pH media tanam. Kandungan EC, N, P, dan K pada seluruh media tanam cenderung lebih tinggi di dalam screenhouse dibandingkan di luar screenhouse akibat berkurangnya kehilangan unsur hara melalui pencucian oleh air hujan. Secara keseluruhan, cocopeat merupakan media tanam yang paling baik dalam mempertahankan ketersediaan air dan unsur hara, sedangkan penggunaan screenhouse efektif dalam menjaga ketersediaan unsur hara selama budidaya kentang menggunakan sistem fertigasi kapiler. | Potato (Solanum tuberosum L.) was a high-value horticultural crop that was commonly cultivated in highland areas. The limited availability of agricultural land in highland areas encouraged the development of potato cultivation in medium altitude regions; however, its success was strongly influenced by the characteristics of the growing media, which were able to provide adequate water, air, and nutrients for optimal plant growth. In addition, cultivation environmental conditions could affect changes in the physical and chemical properties of the growing media during plant growth. Therefore, this study aimed to analyze the effects of different growing media and environmental conditions on the physical and chemical properties of growing media in potato cultivation using a capillary fertigation system at the polybag scale. The study was conducted in Paguyangan District, Brebes Regency, at an altitude of 342 m above sea level. The treatments consisted of four types of growing media, namely natural soil (TU), rice husk charcoal (AS), cocopeat (CP), and sand (PU), under two environmental conditions: inside a screenhouse (IN) and outside a screenhouse (OUT). The observed parameters included the physical properties of the growing media, namely saturated hydraulic conductivity (Ks), dry bulk density (ρd), water content, and porosity, as well as the chemical properties, including pH, electrical conductivity (EC), nitrogen (N), phosphorus (P), and potassium (K). The data were analyzed using parametric and non-parametric statistical tests according to the characteristics of each parameter. The results showed that the type of growing medium significantly affected all observed physical and chemical properties. Rice husk charcoal (AS) exhibited the highest average saturated hydraulic conductivity of 0.05 cm/s and the highest average pH of 6.77. Cocopeat (CP) exhibited the highest average water content (757.13%), porosity (92.77%), electrical conductivity (525.14 µS/cm), nitrogen content (25.76 mg/kg), phosphorus content (36.26 mg/kg), and potassium content (84.26 mg/kg). Meanwhile, sand (PU) exhibited the highest average dry bulk density of 1.40 g/cm³. Natural soil (TU) exhibited relatively balanced physical and chemical characteristics compared with the other growing media. Environmental conditions significantly affected EC and the concentrations of N, P, and K, but did not significantly affect saturated hydraulic conductivity, dry bulk density, water content, porosity, or pH. The EC values and the concentrations of N, P, and K in all growing media were generally higher inside the screenhouse than outside because nutrient losses through rainfall-induced leaching were reduced. Overall, cocopeat was the most effective growing medium for maintaining water and nutrient availability, whereas the use of a screenhouse effectively preserved nutrient availability during potato cultivation using a capillary fertigation system. | |
| 50564 | 53952 | A1A022105 | Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian Kopi di Kedai Nescafe Purwokerto | Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan yang memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia sebagai sumber pendapatan petani, pencipta lapangan kerja, dan penghasil devisa negara. Seiring meningkatnya konsumsi kopi di Indonesia, industri kedai kopi juga berkembang pesat dengan menghadirkan berbagai konsep yang mampu menarik minat konsumen. Salah satu merek yang mengikuti perkembangan tersebut adalah Nescafe yang tidak hanya dikenal sebagai produk kopi instan, tetapi juga mengembangkan konsep kedai kopi modern. Persaingan yang semakin ketat menuntut pelaku usaha untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pembelian konsumen. Berbeda dengan sebagian besar penelitian terdahulu yang lebih banyak menitikberatkan pada faktor pemasaran seperti harga, kualitas produk, dan kualitas pelayanan, penelitian ini mengkaji keputusan pembelian berdasarkan teori perilaku konsumen melalui faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik konsumen, menganalisis pengaruh faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologi terhadap keputusan pembelian, serta mengidentifikasi faktor yang paling dominan memengaruhi keputusan pembelian kopi di Kedai Nescafe Purwokerto. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner kepada 100 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling dengan kriteria berusia minimal 17 tahun dan telah mengonsumsi produk Nescafe lebih dari satu kali dalam tiga bulan terakhir. Data dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Square (SEM-PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik konsumen Kedai Nescafe Purwokerto didominasi oleh laki-laki, berusia 18–24 tahun, berdomisili di Purwokerto Utara, berstatus mahasiswa, dan memiliki pendapatan bulanan ≥ Rp1.500.000. Hasil analisis SEM-PLS menunjukkan bahwa faktor sosial, faktor pribadi, dan faktor psikologi berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, sedangkan faktor budaya tidak berpengaruh signifikan. Faktor psikologi merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi keputusan pembelian konsumen. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa keputusan pembelian kopi di Kedai Nescafe Purwokerto lebih dipengaruhi oleh aspek psikologis, sosial, dan pribadi dibandingkan faktor budaya. Oleh karena itu, pihak Kedai Nescafe disarankan untuk mempertahankan dan meningkatkan strategi pemasaran yang mampu membangun persepsi positif, motivasi, dan pengalaman konsumen melalui peningkatan kualitas produk, pelayanan, serta pengalaman berkunjung. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menambahkan variabel lain, seperti harga, kualitas produk, kualitas pelayanan, citra merek, dan suasana kedai, agar mampu memberikan penjelasan yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pembelian. | Coffee is one of Indonesia's leading plantation commodities and plays an important role in the national economy as a source of farmers' income, employment opportunities, and foreign exchange earnings. Along with the increasing trend of coffee consumption in Indonesia, the coffee shop industry has experienced rapid growth by offering various concepts and unique customer experiences. One brand that has adapted to this development is Nescafe, which is not only recognized as an instant coffee brand but has also introduced the concept of a modern coffee shop. The increasingly intense competition in the coffee shop industry requires business owners to understand the factors influencing consumers' purchase decisions. Unlike most previous studies that primarily focused on marketing factors such as price, product quality, and service quality, this study examines purchase decisions based on consumer behavior theory through cultural, social, personal, and psychological factors. Therefore, this study aims to analyze consumer characteristics, examine the influence of cultural, social, personal, and psychological factors on purchase decisions, and identify the most dominant factor affecting consumers' purchase decisions at Nescafe Coffee Shop Purwokerto. This study employed a quantitative approach using a survey method. Data were collected through questionnaires distributed to 100 respondents selected using the accidental sampling technique. The respondents were at least 17 years old and had purchased Nescafe products more than once within the last three months. The data were analyzed using the Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) method. The results showed that the consumers of Nescafe Coffee Shop Purwokerto were predominantly male, aged 18–24 years, domiciled in North Purwokerto, mostly university students, and had a monthly income of at least IDR 1,500,000. The SEM-PLS analysis revealed that social, personal, and psychological factors had a significant influence on purchase decisions, whereas cultural factors had no significant effect. Among all variables, psychological factors were found to be the most dominant in influencing consumers' purchase decisions. Based on the findings, it can be concluded that purchase decisions at Nescafe Coffee Shop Purwokerto are primarily influenced by psychological, social, and personal factors rather than cultural factors. Therefore, Nescafe Coffee Shop is recommended to maintain and enhance marketing strategies that strengthen consumers' perceptions, motivations, and experiences through improvements in product quality, service quality, and customer experience. Future research is recommended to incorporate additional variables, such as price, product quality, service quality, brand image, and store atmosphere, in order to provide a more comprehensive explanation of the factors influencing consumers' purchase decisions. | |
| 50565 | 53954 | A1D022164 | KEANEKARAGAMAN SERANGGA HAMA DAN MUSUH ALAMI PADA BEBERAPA VARIETAS PADI HITAM (Oryza sativa indica L.) ORGANIK DI DESA BANJARANYAR, BANYUMAS | Padi hitam (Oryza sativa indica L.) merupakan varietas lokal bernilai ekonomi tinggi karena memiliki kandungan gizi, serat, mineral, dan antioksidan, sehingga potensial dikembangkan dalam sistem pertanian organik. Namun, produktivitas padi hitam organik dapat menurun akibat serangan serangga hama. Salah satu upaya pengendalian yang ramah lingkungan adalah dengan pemanfaaatan serangga musuh alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman serangga hama dan musuh alami pada beberapa varietas padi hitam yang dibudidayakan secara organik. Penelitian dilaksanakan di Desa Banjaranyar, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas serta di Laboratorium Perlindungan Tanaman Universitas Jenderal Soedirman pada November 2025-April 2026. Pengambilan data dilakukan melalui pengamatan langsung pada tanaman sampel dengan metode diagonal dan menggunakan perangkap nampan kuning, yellow sticky trap, serta jaring serangga (sweep net) selama 16 minggu. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif yang meliputi intensitas kerusakan, indeks keanekaragaman, kemerataan, dominansi dan pola persebaran serangga. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 11 jenis hama dengan keanekaragaman kategori sedang (1,11-1,66), kemerataan sedang hingga tinggi (0,48-0,72), dan dominansi rendah hingga sedang (0,25-0,50). Musuh alami yang ditemukan berjumlah 18 jenis, terdiri atas 16 predator dan 2 parasitoid, dengan keanekeragaman sedang (2,20-2,35), kemerataan tinggi (0,76-0,85) dan dominansi rendah (0,12-0,15). | Black rice (Oryza sativa indica L.) is local variety with high economic value due to its nutrional content, fiber, minerals, and antioxidants, making it a promising crop for organic farming system. However, the productivity of organic black rice can decline due to insect pest infestations. One envirnmentally friendly control method is the use of natural enemies. This tudy aims to dtermine the diversity of insect pests and natural enemies on several verieries of black rice cultivated organiclly. The reseach was conducted in Banjaranyar Village, Pekuncen Subdisctrict, Banyumas Regency, and the Plant Protection Laboratory of Jenderal Soedirman University from November 2025 to April 2026. Data collection was performed throught direct observation of plant samples using the diagonal method, aswell as yellow tray traps, yellow sticky trap, and sweep nets, over 16-week period. The data were analyzed using qualitative methods, including damage intensity, diversity index, evenness, dominance, and insect distribution patterns. The results showed that there 11 pets species, with moderate diversity (1,11-1,66), moderate to hight evenness (0,48-0,72), and low moderate to moderate dominance (0,25-0,50). A total of 18 species of natural enemies were identified, cosisting of 16 predators and 2 parasitoids, with moderate diversity (2,20-2,35), high evenness (0,76-0,85), and low dominance (0,12-0,15). | |
| 50566 | 53955 | A1D022038 | Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Melon (Cucumis melo L.) pada Sistem Hidroponik Fertigasi Tetes dengan Berbagai Media Tanam dan Pemangkasan | Melon (Cucumis melo L.) adalah komoditas hortikultura unggulan karena kandungan vitamin, mineralnya, dan rasa yang manis. Produktivitas melon di Indonesia belum memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri secara optimal akibat perubahan iklim yang mengganggu siklus tanam dan ketersediaan air irigasi. Hidroponik sistem fertigasi tetes dimanfaatkan untuk budidaya tanaman melon karena dapat digunakan pada lahan dengan sumber air terbatas melalui pemberian air langsung ke zona perakaran. Penggunaan media dan pemangkasan pada ruas tertentu berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil yang diperoleh. Penelitian ini bertujuan mengetahui media tanam terbaik, pemangkasan terbaik, dan kombinasi perlakuan terbaik antara jenis media tanam dan pemangkasan untuk menghasilkan pertumbuhan dan hasil tanaman melon yang paling optimal. Penelitian ini dilaksanakan di screenhouse yang terletak di Desa Pasir Kulon, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah media tanam, yaitu M1 = cocopeat 100%, M2 = arang sekam 100%, dan M3 = cocopeat 50% + arang sekam 50%. Faktor kedua adalah pemangkasan, yaitu P1 = pemangkasan ruas ke-20, P2 = pemangkasan ruas ke-25, dan P3 = pemangkasan ruas ke-30. Variabel pengamatan terdiri dari tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun total, indeks kehijauan daun, jumlah cabang, jumlah bunga, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, bobot buah, diameter buah, volume buah, total padatan terlarut, ketebalan daging buah, dan uji organoleptik. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) pada taraf kesalahan 5%. Apabila berpengaruh nyata (F hitung > F tabel), maka diuji lanjut menggunakan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kesalahan 5%. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, cocopeat 100% merupakan media tanam terbaik karena menghasilkan jumlah daun, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, dan total padatan terlarut tertinggi. Pemangkasan ruas ke-30 merupakan perlakuan terbaik karena menghasilkan tinggi tanaman, luas daun total, jumlah cabang, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, bobot buah, diameter buah, volume buah, dan ketebalan daging buah tertinggi. Kombinasi arang sekam 100% dan pemangkasan ruas ke-30 ditetapkan sebagai kombinasi terbaik karena menghasilkan bobot buah dan diameter buah tertinggi sebagai indikator utama produktivitas tanaman melon pada sistem hidroponik fertigasi tetes. | Melon (Cucumis melo L.) is a leading horticultural commodity due to its vitamin and mineral content and sweet taste. Melon productivity in Indonesia does not optimally meet domestic market demand because climate change disrupts planting cycles and irrigation water availability. Drip fertigation hydroponic system are used for melon cultivation because they can be applied on land with limited water resources by delivering water directly to the root zone. The use of growing media and pruning at spesific nodes affects the growth and yield obtained. This research aims to determine the best growing media, the best pruning treatment, and the best combination of growing media and pruning treatments to produce the most optimal growth and yield of melon plants. This research was conducted in a screenhouse located in Pasir Kulon Village, Karanglewas Distcrict, Banyumas Regency, used a Randomized Block Design (RBD) consisting of 2 factors. The first factor was the growing media: M1 = 100% cocopeat, M2 = 100% rice husk charcoal, and M3 = 50% cocopeat + 50% rice husk charcoal. The second factor was pruning: P1 = pruning at the 20th node, P2 = pruning at the 25th node, and P3 = pruning at the 30th node. Observation variables consisted of plant height, number of leaves, total leaf area, leaf greenness index, number of branches, number of flowers, plant fresh weight, plant dry weight, fruit weight, fruit diameter, fruit volume, total soluble solids, fruit flesh thickness, and organleptic tests. The research data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) at 5% of error. If the effect was significant (F count > F table), it was further tested using Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at 5% error level. Based on the results of the research, 100% cocopeat was the best growing media because it produced the highest number of leaves, plant fresh weight, plant dry weight, plant dry weight, and total soluble solids. Pruning at the 30th node was the best treatment because it produced the highest plant height, total leaf area, number of branches, plant fresh weight, plant dry weight, fruit weight, fruit diameter, fruit volume, and fruit flesh thickness. The combination of 100% rice husk charcoaland pruning at the 30th node was determined to the best combination because it produced the highest fruit weight and fruit diameter as the main indicators of melon productivity in a drip fertigation hydroponic system. | |
| 50567 | 53958 | E1A022237 | PERLINDUNGAN HUKUM MEREK TERKENAL ASING “BOM” TERHADAP PENDAFTARAN MEREK DENGAN IKTIKAD TIDAK BAIK BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS (Studi Putusan Nomor 86/PDT.SUS-HKI/MEREK/2025/PN NIAGA JKT.PST) | ABSTRAK Merek memiliki peran strategis sebagai identitas produk dan aset ekonomi bagi pelaku usaha, sehingga memerlukan pelindungan hukum yang jelas. Sistem konstitutif (first to file) yang dianut Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis (UU MIG) kerap disalahgunakan untuk mendaftarkan merek terkenal asing yang belum terdaftar di Indonesia dengan iktikad tidak baik, sebagaimana terjadi dalam sengketa merek kosmetik “BOM” antara BSTARLIT Co.,Ltd. dan Stanley Victorius Kurniawan. Penelitian ini bertujuan menganalisis perlindungan hukum terhadap merek terkenal asing “BOM” serta akibat hukum pembatalan merek “BOM Beauty of Majesty” dalam Putusan Nomor 86/Pdt.Sus-HKI/Merek/2025/PN Niaga Jkt.Pst. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan spesifikasi deskriptif analitis, sumber data sekunder, teknik studi kepustakaan, dan analisis normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa merek “BOM” memenuhi kriteria merek terkenal berdasarkan Pasal 18 ayat (3) Permenkumham Nomor 67 tahun 2016 sehingga berhak atas perlindungan hukum meskipun belum terdaftar, prinsip first to file dapat dikesampingkan karena pendaftaran Tergugat terbukti memiliki persamaan pada pokoknya serta dilandasi iktikad tidak baik. Akibat hukumnya adalah hapusnya hak eksklusif Tegugat dan kewajiban DJKI mencoret merek tersebut. Disarankan agar pemilik merek asing segera mendaftarkan mereknya di Indonesia. | ABSTRACT Trademarks play a strategic role as product identity and economic assets for business actors, requiring clear legal protection. Indonesia’s first-to-file constitutive system under Law Number 20 of 2016 on Trademarks and Geographical Indications is often exploited to register unregistered foreign well-known trademarks in bad faith, as occured in the dispute over the cosmetic mark “BOM” between BSTARLIT Co.,Ltd. and Stanley Victorinus Kurniawan. This research aims to analyze legal protection for the foreign well-known trademark “BOM” and the legal consequences of canceliing the “BOM Beauty of Majesty” mark under Decision Number 86/Pdt.Sus-HKI/Merek/2025/PN Niaga Jkt.Pst/ The research employs a normative juridical approach with analytical descriptive spesification, secondary data sources, literature study techniques, and qualitative normative analysis. The findings show that the “BOM” mark meet the well-known trademark criteria under Article 18(3) of Ministerial Regulation No.67 of 2016, entitling it to legal protection despite being unregistered, and that the first-to-file principle may be overridden since the defendant’s registration was proven to have essenstial similirity and bad faith. The leg.al consequence is the loss of the defendant’s exclusive rights and on obligation for the Directorate General of Intellectual Property to remove the mark. Foreign trademark owners are advised to promptly register their marks in Indonesia. | |
| 50568 | 53959 | A1D022117 | Keragaan Agronomik dan Stabilitas Hasil Galur Padi Hitam Unsoed pada Dua Lokasi dengan Ketinggian Tempat yang Berbeda | Padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas utama yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Banyak varietas padi yang kurang diminati oleh masyarakat karena teksturnya yang pera tetapi memiliki kandungan nutrisi yang sangat tinggi, seperti padi hitam. Upaya perakitan varietas dilakukan untuk menghasilkan galur baru dengan daya hasil tinggi dan sesuai dengan permintaan masyarakat. Galur baru harus dilakukan uji stabilitas sebelum dilepas menjadi varietas baru. Uji stabilitas merupakan pengujian yang dilakukan untuk memilih galur yang stabil di berbagai kondisi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan ketinggian tempat terhadap karakter agronomi dan komponen hasil dari galur Padi Hitam Unsoed, mengetahui stabilitas hasil dari galur Padi Hitam Unsoed di kedua lokasi dengan ketinggian yang berbeda, mengidentifikasi adanya interaksi genotipe x lingkungan (GxE) antara galur Padi Hitam Unsoed dengan ketinggian tempat yang berbeda terhadap stabilitas hasil, serta mengetahui galur Padi Hitam Unsoed yang memiliki stabilitas hasil tinggi di kedua lokasi dengan ketinggian yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2025 hingga bulan Desember 2025 di dua lokasi, yaitu lahan sawah Desa Mersi, Kecamatan Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas dan lahan sawah Desa Banjarsari Kulon, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 3 ulangan. Penelitian ini menggunakan tiga galur baru dan satu varietas pembanding yang akan diuji. Variabel yang diamati yaitu karakter kualitatif (warna daun, warna kaki, warna auricle, warna ligula) dan karakter kuantitatif berupa komponen pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah anakan total, jumlah anakan produktif, umur berbunga, umur panen, dan serangan hama) dan komponen hasil (panjang malai, jumlah gabah per malai, bobot gabah per malai, bobot gabah per rumpun, bobot gabah per petak efektif, bobot 1000 butir, bobot brangkasan, indeks panen, kandungan protein dan amilosa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketinggian tempat tidak berpengaruh terhadap karakter kualitatif tetapi berpengaruh terhadap semua karakter kuantitatif kecuali bobot 1000 butir dan kandungan protein. Perbedaan karakter tersebut disebabkan karena adanya interaksi genotipe x lingkungan. Interaksi genotipe dan lingkungan berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, umur panen, panjang malai, jumlah gabah hampa per malai, bobot gabah per petak efektif, bobot brangkasan dan kandungan amilosa. Hasil analisis stabilitas menunjukkan bahwa galur Padi Hitam Unsoed A1, A2 dan A3 menjadi galur yang lebih stabil dibandingkan dengan varietas pembanding yaitu Inpari Unsoed 79 Agritan. Pada keempat genotipe, Lokasi Banjarsari Kulon memberikan hasil yang tinggi dibandingkan dengan lokasi Mersi. | Rice (Oryza sativa L.) was a major commodity widely cultivated in Indonesia. Many rice varieties are less preferred by the public because of their dry and non-sticky texture, despite having very high nutritional content, such as black rice. Plant breeding efforts are conducted to develop new lines with high yield potential and characteristics that meet public demand. New lines must undergo stability testing before being released as new varieties. Stability testing was carried out to select lines that are stable under various environmental conditions. This study aimed to determine the effect of differences in land elevation on the agronomic characters and yield components of Unsoed Black Rice lines, to evaluate the yield stability of Unsoed Black Rice lines grown at two locations with different elevations, to identify the presence of genotype × environment (G×E) interactions between Unsoed Black Rice lines and different land elevations on yield stability, and to determine which Unsoed Black Rice lines possess high yield stability at two locations with different elevations. This research was conducted from April 2025 to December 2025 at two locations: rice fields in Mersi Village, East Purwokerto District, Banyumas Regency, and rice fields in Banjarsari Kulon Village, Sumbang District, Banyumas Regency. The experimental design used was a factorial Randomized Complete Block Design (RCBD) with three replications. The study evaluated three new lines and one comparison variety. The observed variables included qualitative characters (leaf color, basal stem color, auricle color, and ligule color), growth components (plant height, total number of tillers, number of productive tillers, flowering age, harvesting age, and pest infestation), and yield components (panicle length, number of grains per panicle, grain weight per panicle, grain weight per hill, grain weight per effective plot, 1000-grain weight, straw weight, harvest index, protein content, and amylose content). The results showed that land elevation did not affect qualitative characters but significantly affected all quantitative characters except 1000-grain weight and protein content. These differences in characters were caused by genotype × environment interactions. The genotype × environment interaction significantly affected plant height, harvesting age, panicle length, number of empty grains per panicle, grain weight per effective plot, straw weight, and amylose content. Stability analysis indicated that the Unsoed Black Rice lines A1, A2, and A3 were more stable compared to the comparison variety, Inpari Unsoed 79 Agritan. Among the four genotypes, the Banjarsari Kulon location produced higher yields compared to the Mersi location. | |
| 50569 | 53960 | H1B022054 | Analisis Pengaruh Intrusi Air Laut Terhadap Kualitas Air Permukaan pada Sungai di Kabupaten Pekalongan Menggunakan Software Delft3D | Kawasan pesisir merupakan wilayah yang rentan terhadap intrusi air laut, termasuk Kabupaten Pekalongan yang memiliki topografi relatif landai dan dipengaruhi oleh pasang surut. Intrusi air laut pada sungai dapat meningkatkan kadar garam dan memengaruhi kualitas air permukaan. Sungai Pencongan dan Sungai Sragi merupakan sungai yang bermuara langsung ke Laut Jawa sehingga berpotensi mengalami intrusi air laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola sebaran intrusi air laut, pengaruhnya terhadap kualitas air permukaan, serta kondisi intrusi berdasarkan proyeksi kenaikan muka air laut 10 tahun mendatang. Penelitian dilakukan melalui survei lapangan dan pemodelan numerik menggunakan software Delft3D. Parameter kualitas air yang diukur meliputi salinitas, Total Dissolved Solids (TDS), Electrical Conductivity (EC), suhu, dan pH. Pemodelan dilakukan menggunakan model dua dimensi horizontal dengan satu lapisan vertikal untuk mensimulasikan hidrodinamika dan sebaran salinitas. Hasil model divalidasi menggunakan Root Mean Square Error (RMSE) dan RMSE-observations Standard Deviation Ratio (RSR), sedangkan pengaruh intrusi terhadap kualitas air dianalisis berdasarkan hubungan salinitas dengan TDS dan EC. Metode penelitian dalam tugas akhir memang memadukan survei kualitas air, pemodelan Delft3D, dan validasi numerik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang intrusi air laut pada Sungai Pencongan mencapai 7,97 km dan Sungai Sragi 8,12 km, dengan pola salinitas yang menurun dari muara menuju hulu. Validasi model menghasilkan nilai RSR sebesar 0,685 pada Sungai Pencongan dengan kategori memuaskan dan 0,455 pada Sungai Sragi dengan kategori sangat baik. Proyeksi kenaikan muka air laut sebesar 0,1175 m menunjukkan peningkatan salinitas dan kecenderungan pergeseran intrusi ke arah hulu. Peningkatan salinitas juga diikuti oleh peningkatan nilai TDS dan EC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sungai Sragi cenderung mengalami intrusi air laut yang lebih besar dibandingkan Sungai Pencongan. | Coastal areas are vulnerable to seawater intrusion, including Pekalongan Regency, which has relatively flat topography and is influenced by tidal conditions. Seawater intrusion into rivers can increase salt concentrations and affect surface water quality. The Pencongan River and Sragi River flow directly into the Java Sea and are therefore potentially affected by seawater intrusion. This study aims to analyze the distribution pattern of seawater intrusion, its effects on surface water quality, and future intrusion conditions based on a 10-year sea level rise projection. This study was conducted through field surveys and numerical modeling using Delft3D software. The measured water quality parameters included salinity, Total Dissolved Solids (TDS), Electrical Conductivity (EC), temperature, and pH. A two-dimensional horizontal model with one vertical layer was used to simulate hydrodynamic conditions and salinity distribution. The model results were validated using Root Mean Square Error (RMSE) and RMSE-observations Standard Deviation Ratio (RSR), while the effects of seawater intrusion on water quality were analyzed based on the relationships between salinity, TDS, and EC. The results showed that seawater intrusion extended 7.97 km along the Pencongan River and 8.12 km along the Sragi River, with salinity decreasing from the estuary toward the upstream areas. Model validation produced an RSR value of 0.685 for the Pencongan River, indicating satisfactory model performance, and 0.455 for the Sragi River, indicating very good model performance. A projected sea level rise of 0.1175 m resulted in increased salinity and a tendency for seawater intrusion to shift further upstream. Increasing salinity was also associated with higher TDS and EC values. The results indicate that the Sragi River tends to experience greater seawater intrusion than the Pencongan River. | |
| 50570 | 53962 | A1A022034 | Rantai Nilai Sawdust Hasil Program Hutan Tanaman Energi (HTE) di Kabupaten Cilacap | Kebutuhan energi di Indonesia terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan ekonomi, namun pemenuhannya masih didominasi oleh energi fosil yang berdampak pada peningkatan emisi karbon. Pemerintah mendorong pemanfaatan biomassa melalui program co-firing pada PLTU untuk mendukung target Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Salah satu bentuk biomassa yang dimanfaatkan adalah sawdust, yang dikembangkan melalui Program Hutan Tanaman Energi (HTE) di Kabupaten Cilacap yang diinisiasi oleh PLN EPI. Program ini masih menghadapi kendala pada pasokan bahan baku, terbatasnya fasilitas produksi, serta koordinasi antar pelaku. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengidentifikasi pemetaan rantai nilai sawdust dalam program Hutan Tanaman Energi (HTE) di Kabupaten Cilacap, 2) menghitung margin pemasaran yang diperoleh dalam rantai nilai sawdust, 3) menghitung nilai tambah yang diperoleh dalam rantai nilai sawdust. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, literature review, dan dokumentasi. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Cilacap yang difokuskan di Desa Keleng Kecamatan Kesugihan sebagai pusat pengolahan sawdust pada bulan Februari dan Maret 2026. Penelitian ini melibatkan 6 informan kunci dan 2 informan pendukung, serta responden pemasok yang terdiri dari 7 petani dan 2 pelaku usaha. Pengambilan responden pemasok dengan purposive sampling. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis rantai nilai teori Porter, margin pemasaran, dan analisis nilai tambah Hayami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses inti dalam rantai nilai sawdust hasil program Hutan Tanaman Energi (HTE) di Kabupaten Cilacap terdiri dari enam tahapan yaitu penyediaan bibit, budidaya dan penanaman, penyediaan bahan baku sawdust, pengolahan sawdust, distribusi dan transportasi, serta co-firing. Pelaku yang terlibat dalam rantai nilai tersebut meliputi petani, pelaku usaha limbah kayu, Kelompok Tani Hutan (KTH) Sri Rahayu, BUMDes SEMAR Keleng, Mitra PT PLN EPI, PT PLN EPI, dan PLTU Indonesia Power Adipala. Berdasarkan perhitungan margin pemasaran dalam rantai nilai sawdust, margin pemasaran tertinggi diperoleh oleh BUMDes SEMAR Keleng sebagai produsen sawdust yaitu sebesar Rp302.000/ton. Analisis nilai tambah dalam rantai nilai sawdust menunjukkan bahwa pengolahan kayu dan limbah kayu menjadi sawdust menghasilkan nilai tambah sebesar Rp200.000/ton serta keuntungan yang diperoleh sebesar Rp164.720/ton. Rasio nilai tambah sebesar 47% yang artinya termasuk dalam kategori rasio tinggi. | The need for energy in Indonesia continues to increase along with the growth of population and economy, but fossil fuels are still the dominant source of energy, leading to increased carbon emissions. The government is promoting biomass utilization through a co-firing program at coal-fired power plants to support New and Renewable Energi targets. One form of biomass utilized is sawdust, developed through the Energy Plantation Forest (EPF) Program in Cilacap Regency, initiated by PLN EPI. This program still faces constraints in raw material supply, limited production facilities, and coordination between stakeholders. This study aims to: 1) identify the sawdust value chain mapping within the Energy Plantation Forest (EPF) program in Cilacap Regency, 2) calculate the marketing margins obtained within the sawdust value chain, and 3) calculate the added value obtained within the sawdust value chain. The research method used in this study is a case study. This research employs descriptive qualitative and quantitative approaches. Data were collected through interviews, observations, literature reviews, and documentation. The research was conducted in Cilacap Regency, focusing on Keleng Village, Kesugihan District, as a sawdust processing center, in February and March 2026. Six key informants and two supporting informants were involved, as well as seven farmer and two business owners as supplier respondents. Supplier respondents were selected using purposive sampling. Data analysis used in this study included Porter value chain analysis, marketing margin analysis, and Hayami value-added analysis. The results indicate that the core process in the sawdust value chain resulting from the Energy Plantation Forest (EPF) program in Cilacap Regency consists of six stages: seedling provision, cultivation and planting, sawdust raw material provision, sawdust processing, distribution and transportation, and co-firing. The actors involved in this value chain include farmers, wood waste business owners, the Sri Rahayu Forest Farmers Group (FFG), BUMDes SEMAR Keleng, PT PLN EPI and partners, and the Indonesia Power Adipala PLTU. Based on the marketing margin calculation in the sawdust value chain, the highest marketing margin was obtained by BUMDes SEMAR Keleng as a sawdust producer, namely Rp302,000/ton. Analysis of the added value in the sawdust value chain shows that processing wood and wood waste into sawdust generates added value of Rp200,000/ton and a profit of Rp164,720/ton. The value-added ratio is 47%, which means it is included in the high ratio category. | |
| 50571 | 53965 | E1B022034 | ACQUITTAL (VRIJSPRAAK) IN THE CASE OF HARIS AZHAR REGARDING THE CRIMINAL OFFENSE OF DEFAMATION (District Court Decision Study No 202/Pid.Sus/2023/PN Jkt.Tim) | Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah pola penyampaian informasi dan pendapat masyarakat melalui media elektronik. Perkembangan tersebut di satu sisi memberikan ruang bagi kebebasan berekspresi, namun di sisi lain menimbulkan berbagai persoalan hukum, khususnya berkaitan dengan tindak pidana pencemaran nama baik. Salah satu perkara yang menjadi perhatian publik adalah Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Timur Nomor 202/Pid.Sus/2023/PN Jkt.Tim yang menjatuhkan putusan bebas (vrijspraak) terhadap Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti dalam perkara dugaan tindak pidana pencemaran nama baik melalui media elektronik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hukum hakim dalam menjatuhkan putusan bebas (vrijspraak) terhadap terdakwa serta menganalisis akibat hukum yang timbul dari putusan tersebut. Penelitian menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan kasus. Bahan hukum yang digunakan terdiri atas bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang dianalisis secara kualitatif menggunakan metode berpikir deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertimbangan hukum Majelis Hakim didasarkan pada tidak terbuktinya secara sah dan meyakinkan seluruh unsur tindak pidana pencemaran nama baik sebagaimana didakwakan oleh Penuntut Umum. Hakim menilai bahwa alat bukti yang diajukan belum mampu membentuk keyakinan mengenai adanya kesengajaan untuk menyerang kehormatan atau nama baik pelapor, serta mempertimbangkan bahwa pernyataan para terdakwa disampaikan dalam konteks pembahasan isu yang berkaitan dengan kepentingan publik sehingga tidak dapat dikualifikasikan sebagai perbuatan pidana. Serta akibat hukum yang timbul dari putusan bebas tersebut adalah berakhirnya pertanggungjawaban pidana para terdakwa, pemulihan hak, kedudukan hukum, harkat, dan martabat terdakwa, serta tidak adanya dasar hukum untuk menjatuhkan pidana atas dakwaan yang diajukan. | Advances in information and communication technology have transformed the way the public conveys information and expresses its opinions through electronic media. While these advances have, on the one hand, created space for freedom of expression, they have, on the other hand, given rise to various legal issues, particularly those related to the criminal offense of defamation. One case that has drawn public attention is the East Jakarta District Court Decision No. 202/Pid.Sus/2023/PN Jkt.Tim, which acquitted (vrijspraak) Haris Azhar and Fatia Maulidiyanti in a case involving alleged criminal defamation via electronic media. This study aims to analyze judges’ legal reasoning in issuing an acquittal (vrijspraak) for defendants and the legal consequences arising from this decision. This study employs a normative legal research method using statutory, conceptual, and case-based approaches. The legal materials used consisted of primary, secondary, and tertiary sources, which were analyzed qualitatively using deductive reasoning. The results of the study indicate that the judges’ legal considerations were based on the failure to prove, beyond a reasonable doubt, all elements of the criminal offense of defamation as charged by the Public Prosecutor. The judges determined that the evidence presented was insufficient to establish a conviction regarding the existence of intent to attack the complainant’s honor or good name, and considering that the defendants’ statements were made in the context of a discussion of issues of public interest, they cannot be classified as criminal acts. Furthermore, the legal consequences arising from this acquittal include the termination of the defendants’ criminal liability, restoration of their rights, legal status, dignity, and honor, as well as the absence of a legal basis for imposing a criminal sentence on the charges brought against them. | |
| 50572 | 53705 | K1C022011 | SIMULASI PENENTUAN FAKTOR EKSPOSI OPTIMAL PESAWAT SINAR-X PADA PEMERIKSAAN PHANTOM ABDOMEN MENGGUNAKAN PHITS | Organ dalam abdomen dapat menderita berbagai penyakit. Penyakit ini membutuhkan pencitraan sinar-x untuk didiagnosis. Citra yang baik membutuhkan dosis 1,7 mGy, kualitas citra berbanding lurus dengan dosis yang diberikan, namun paparan berlebih dapat menyebabkan berbagai dampak buruk. Perka BAPETEN no 1211 tahun 2021 mengatur bahwa dosis pada Abdomen untuk sinar-x radiodiagnostik tidak boleh melebihi 2 mGy. Sehingga diperlukan upaya untuk mengoptimasi dosis pesawat sinar-x. Upaya ini dapat dilakukan secara eksperimen maupun simulasi. Penelitian ini bertujuan memodelkan pesawat sinar-x serta phantom abdomen pada Positron Heavy Ion Transport System (PHITS) dan memverifikasi serta memvalidasi model dan mencari faktor eksposi optimum untuk bagian abdomen. Model pesawat sinar-x didasarkan pada pesawat sinar-x model C50 merek Philips. Model pesawat sinar-x dibuat menggunakan fungsi PHITS dengan material yang sedekat mungkin dengan material asli. Phantom abdomen dibuat berdasarkan phantom abdomen AAPM. Phantom abdomen ini terbuat dari akrilik yang mewakili jaringan manusia dan alumunium yang mewakili tulang belakang. Phantom berukuran 30,5 × 30,5 × 17,78 cm dengan bagian aluminium pada phantom berukuran 7 × 30,5 × 0,45 cm. Phantom diatur pada source to distance (SSD) 100 cm. Simulasi dilakukan dengan memvariasikan tegangan (60, 67, 75, 83, 90 kV) dan arus (15, 19, 24, 28, 32 mA). Hasil fluensi foton dari PHITS kemudian dikonversi menjadi dosis ESAK menggunakan koefisien konversi ICRP 74. Model pesawat sinar-x dan phantom berhasil dibuat menggunakan PHITS yang dilihat melalui tampilan tiga dimensi model. Hasil verifikasi dan validasi menunjukan model pesawat sinar-x dan phantom siap digunakan untuk pengukuran dosis. Hasil verifikasi menunjukan tidak adanya partikel yang hilang dan berhasilnya model menjalankan simulasi yang ditandai dengan berhasilnya mengeluarkan jejak partikel foton. Hasil validasi menunjukan adanya sinar-x bremsstahlung dan sinar-x karakteristik yang dilihat dari spektrum yang dihasilkan. Hasil pengukuran dosis menunjukan faktor eksposi 75 kV dengan 32 mAs, 83 kV dengan 24 mAs serta 90 kV dengan 24 mAs menghasilkan dosis sesuai kriteria. | The abdominal organs can be affected by various diseases. These conditions require X-ray imaging with good quality to diagnose. High-quality images require a dose of 1.7 mGy; image quality is directly proportional to the dose administered, but excessive exposure can cause various adverse effects. BAPETEN Regulation No. 1211 of 2021 stipulates that the dose to the abdomen for diagnostic X-rays must not exceed 2 mGy. Therefore, efforts are needed to optimize the X-ray tube dose. These efforts can be carried out experimentally or through simulation. This study aims to model an X-ray machine and an abdominal phantom in the Positron Heavy Ion Transport System (PHITS) and verify also validate the model and determine the optimal exposure parameters for the abdominal region. The X-ray machine model is based on the Philips C50 X-ray machine. The X-ray machine model was created using PHITS functions with materials as close as possible to the actual materials. The abdominal phantom was created based on the AAPM abdominal phantom. This abdominal phantom is made of acrylic, representing human tissue, and aluminum, representing the spine. The phantom measures 30.5 × 30.5 × 17.78 cm, with the aluminum portion of the phantom measuring 7 × 30.5 × 0.45 cm. The phantom was positioned at a source-to-distance (SSD) of 100 cm. Simulations were performed by varying the voltage (60, 67, 75, 83, 90 kV) and current (15, 19, 24, 28, 32 mA). The photon flux results from PHITS were then converted to ESAK doses using the ICRP 74 conversion coefficients. The X-ray machine and phantom models were successfully created using PHITS, as viewed through the model’s three-dimensional display. The verification and validation results indicate that the X-ray machine and phantom models are ready for use in dose measurements. Verification results showed no missing particles and the model’s successful execution of the simulation, as evidenced by the successful generation of photon particle tracks. Validation results indicated the presence of X-ray bremsstrahlung and characteristic X-rays, as seen in the generated spectrum. Dose measurement results showed that exposure factors of 75 kV with 32 mAs, 83 kV with 24 mA, and 90 kV with 24 mA produced doses in accordance with the criteria. | |
| 50573 | 53967 | F1B022107 | EVALUASI PENGAWASAN PERIZINAN PENELITIAN DAN KEPATUHAN PELAPORAN HASIL PENELITIAN ORANG ASING DI INDONESIA TAHUN 2024 | Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengawasan perizinan penelitian dan kepatuhan pelaporan hasil penelitian orang asing di Indonesia tahun 2024, mengidentifikasi hambatan, serta merumuskan rekomendasi perbaikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan analisis data interaktif serta triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengawasan belum optimal, ditandai dengan tingkat kepatuhan pelaporan yang hanya mencapai 16,06%. Hambatan utama meliputi belum optimalnya pengawasan pasca penelitian, keterbatasan sumber daya manusia, belum terintegrasinya sistem informasi, terbatasnya sosialisasi, dan lemahnya penegakan sanksi. Penelitian merekomendasikan monitoring berkelanjutan, integrasi sistem digital, penguatan koordinasi, penyempurnaan regulasi, serta penegakan sanksi. | This study aims to evaluate the supervision of foreign research permits and compli-ance with research results reporting in Indonesia in 2024, identify the main chal-lenges, and formulate recommendations for improvement. A qualitative case study approach was employed using interviews, observations, and document analysis, with data analyzed through an interactive model and validated by source and tech-nique triangulation. The findings indicate that the supervision system remains suboptimal, as reflected in the reporting compliance rate of only 16.06%. The main challenges include inadequate post-research supervision, limited human resources, unintegrated information systems, limited dissemination of reporting requirements, and weak enforcement of sanctions. The study recommends continuous monitoring, integrated digital systems, stronger inter-agency coordination, regulatory improve-ments, and stricter enforcement of sanctions. | |
| 50574 | 53971 | E1A022202 | IMPLEMENTASI DIVERSI DALAM PENYELESAIAN PERKARA PIDANA ANAK PELAKU TINDAK PIDANA PENCURIAN (Studi Penetapan No.1/Pid.Sus-Anak/2021/PN Pwt) | Anak sebagai generasi penerus bangsa memiliki hak untuk memperoleh perlindungan hukum yang menempatkan kepentingan terbaik bagi dirinya sebagai prioritas utama. Meningkatnya kasus tindak pidana yang melibatkan anak di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan perlunya penanganan yang berbeda dibandingkan pelaku dewasa, yaitu dengan mengedepankan pendekatan pemulihan dan pembinaan daripada sekadar pemberian sanksi pidana. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak mengatur mekanisme diversi sebagai upaya penyelesaian perkara di luar peradilan formal dengan pendekatan keadilan restoratif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan diversi dalam perkara pencurian oleh anak serta menilai efektivitasnya berdasarkan Penetapan Nomor 1/Pid.Sus-Anak/2021/PN Pwt. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan studi kasus, menggunakan bahan hukum primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan diversi telah berjalan sesuai ketentuan dan menghasilkan kesepakatan damai antara pelaku dan korban. Efektivitas tersebut dianalisis menggunakan teori Soerjono Soekanto yang mencakup faktor hukum, penegak hukum, sarana, masyarakat, dan kebudayaan. Diversi terbukti mampu memberikan perlindungan terhadap hak anak, menghindarkan dampak negatif peradilan, serta mendukung reintegrasi sosial secara lebih manusiawi. Namun demikian, masih diperlukan upaya perbaikan terutama dalam pemulihan kerugian korban dan peningkatan pemahaman masyarakat. Dengan demikian, diversi tidak hanya menjadi alternatif penyelesaian perkara, tetapi juga sarana pembinaan berkelanjutan bagi anak agar dapat berkembang secara optimal dan terhindar dari pengulangan tindak pidana di masa mendatang serta mampu memperkuat peran keluarga dan lingkungan sosial dalam mendukung proses pembinaan anak secara konsisten dan berkelanjutan sehingga tujuan keadilan restoratif dapat tercapai secara lebih menyeluruh bagi semua pihak yang terlibat dalam perkara tersebut secara lebih adil. | As the nation’s future generation, children have the right to legal protection that prioritizes their best interests. The rising number of criminal cases involving children across various regions of Indonesia underscores the need for an approach different from that used for adult offenders, one that emphasizes rehabilitation and guidance rather than merely imposing criminal sanctions. Law No. 11 of 2012 on the Juvenile Criminal Justice System regulates the mechanism of diversion to resolve cases outside the formal court system using a restorative justice approach. This study aims to analyze the application of diversion in theft cases involving children and assess its effectiveness based on Decision No. 1/Pid.Sus-Anak/2021/PN Pwt. The method used is a normative legal analysis employing a legislative and case study approach, utilizing primary and secondary legal sources of information. The research results indicate that the implementation of diversion has proceeded in accordance with regulations and has resulted in a peace agreement between the perpetriser and the victim. This effectiveness was analyzed using Soerjono Soekanto’s theory, which encompasses legal factors, law enforcement, resources, society and culture. Diversion has proven capable of protecting children’s rights, mitigating the negative impacts of the judicial process, and supporting social reintegration in a more humane way. However, further improvements are still needed, particularly regarding the restitution of victims losses and enhancing public understanding of the issue. Thus, diversion is not only an alternative for resolving cases but also a means of continuous guidance for children to develop optimally and avoid future criminal recidivism while strengthening the role of families and the social environment in consistently and sustainably supporting the child’s rehabilitation process. This ensures that the goals of restorative justice are achieved more comprehensively and fairly for all parties involved. | |
| 50575 | 53972 | A1C022031 | ANALISIS KARAKTERISTIK TERMAL ALAT PENGERING ENERGI SURYA TIPE RAK DENGAN PENAMBAHAN ISOLATOR DAN HEATER | Pengeringan merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengawetkan hasil pertanian karena mampu menurunkan kadar air dan memperlambat proses kerusakan. Alat pengering surya tipe rak menjadi alternatif dari pengeringan konvensional, tetapi kinerjanya masih dipengaruhi oleh intensitas radiasi matahari yang fluktuatif, sehingga suhu ruang pengering menjadi tidak stabil akibat kehilangan panas (heat loss) melalui dinding kolektor. Alat dimodifikasi dengan menambahkan isolator berupa kombinasi multipleks dan sterofoam pada dinding luar ruang kolektor untuk menekan heat loss, serta heater di dalam ruang pengering sebagai sumber panas tambahan ketika radiasi surya rendah atau tidak ada. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis kinerja isolator pada ruang kolektor dalam mengurangi kehilangan panas serta kaitannya dengan karakteristik termal ruang pengering, dan 2) menganalisis karakteristik termal ruang pengering dengan penambahan heater sebagai sumber panas tambahan. Penelitian dilaksanakan di lingkungan Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman pada bulan September 2025 hingga Februari 2026. Penelitian dilakukan dengan memodifikasi alat pengering surya tipe rak melalui penambahan isolator berupa kombinasi multipleks (tebal 2 cm) dan sterofoam (tebal 1,5 cm) pada dinding luar ruang kolektor, serta penambahan heater tipe plat 210 Watt di dalam ruang pengering, sumber energi heater dari batterai 120 Ah. Pengambilan data dibagi menjadi dua tahap, yaitu pukul 08.00–16.00 WIB untuk mengamati kinerja isolator dan pukul 17.00–20.00 WIB untuk mengamati kinerja heater. Variabel yang diukur meliputi suhu, kelembapan relatif, kecepatan udara, dan intensitas radiasi surya yang digunakan untuk menghitung energi sumber, energi terpakai, heat loss, dan efisiensi. Data dianalisis secara kuantitatif dan deskriptif, kemudian disajikan dalam bentuk grafik dan tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan isolator kombinasi sterofoam dan multipleks pada dinding luar kolektor terbukti mampu mengurangi kehilangan panas pada sistem kolektor. Kehilangan panas konduksi tanpa isolator sebesar 825,70 W sedangkan dengan isolator kombinasi sebesar 56,53 W. Penambahan isolator meningkatkan efisiensi kolektor dari 46,17% menjadi 55,96% serta efisiensi alat pengering dari 20,84% menjadi 24,61%. Penambahan isolator juga dapat meningkatkan suhu ruang pengering yang ditunjukkan oleh selisih suhu ruang pengering terhadap lingkungan yang lebih tinggi pada perlakuan dengan isolator mencapai 8,1°C, lebih tinggi dibandingkan perlakuan tanpa isolator sebesar 3,8°C. Penambahan heater sebagai sumber panas tambahan mampu mempertahankan suhu ruang pengering secara konsisten pada 38°C hingga 45,7°C dengan selisih suhu terhadap lingkungan 8°C–15°C selama pukul 17.00–20.00 WIB. Kelembapan relatif ruang pengering juga secara konsisten lebih rendah dibandingkan lingkungan dengan selisih tertinggi 16%. Efisiensi heater diperoleh sebesar 80,86%, menunjukkan heater bekerja efektif dalam mengkonversi energi listrik menjadi energi termal untuk proses pengeringan. | Drying is one of the methods used to preserve agricultural products because it can reduce moisture content and slow down the deterioration process. The rack-type solar dryer serves as an alternative to conventional drying, but its performance is still affected by fluctuating solar radiation intensity, causing the drying chamber temperature to become unstable due to heat loss through the collector walls. The device was modified by adding an insulator consisting of a combination of plywood and styrofoam on the outer wall of the collector chamber to reduce heat loss, as well as a heater inside the drying chamber as an additional heat source when solar radiation is low or absent. This research aims to 1) analyze the performance of the insulator in the collector chamber in reducing heat loss and its relationship to the thermal characteristics of the drying chamber, and 2) analyze the thermal characteristics of the drying chamber with the addition of a heater as an additional heat source. The research was conducted at the Department of Agricultural Technology, Faculty of Agriculture, Universitas Jenderal Soedirman, from September 2025 to February 2026. The research was carried out by modifying the rack-type solar dryer through the addition of an insulator consisting of a combination of plywood (2 cm thick) and styrofoam (1.5 cm thick) on the outer wall of the collector chamber, as well as the addition of a 210-Watt plate-type heater inside the drying chamber. Data collection was divided into two stages, namely 08.00–16.00 WIB to observe the performance of the insulator and 17.00–20.00 WIB to observe the performance of the heater. The measured variables included temperature, relative humidity, air velocity, and solar radiation intensity, which were used to calculate the source energy, useful energy, heat loss, and efficiency. The data were analyzed quantitatively and descriptively, then presented in the form of graphs and tables. The results showed that the addition of a combined styrofoam and plywood insulator on the outer wall of the collector was proven to reduce heat loss in the collector system. The conductive heat loss without insulation was 825.70 W, while with the combined insulation it was 56.53 W. The addition of insulation increased the collector efficiency from 46.17% to 55.96% and the dryer efficiency from 20.84% to 24.61%. The addition of insulation also increased the drying chamber temperature, as indicated by the higher temperature difference between the drying chamber and the ambient environment in the insulated treatment, which reached 8.1°C, compared to 3.8°C in the treatment without insulation. The addition of a heater as an additional heat source was able to consistently maintain the drying chamber temperature between 38°C and 45.7°C, with a temperature difference of 8°C–15°C compared to the ambient environment during 17.00–20.00 WIB. The relative humidity of the drying chamber was also consistently lower than the ambient environment, with a maximum difference of 16%. The heater efficiency was obtained at 80.86%, indicating that the heater worked effectively in converting electrical energy into thermal energy for the drying process. | |
| 50576 | 53973 | A1C022005 | Analisis Strategi Pengembangan Industri Mocaf (Modified Cassava Flour) di Banjarnegara Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process | Penelitian ini dilatarberlakangi oleh besarnya potensi singkong di Banjarnegara yang dapat dimanfaatkan menjadi produk nilai tambah. Salah satu bentuk pengolahan singkong yang memiliki potensi untuk dikembangkan adalah mocaf. Pengembangan industri mocaf di Banjarnegara diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas singkong. Pengembangan industri mocaf masih menghadapi beberapa masalah, sehingga diperlukan analisis yang komprehensif untuk menentukan strategi pengembangan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi strategi pengembangan industri mocaf, 2) mengidentifikasi aktor yang mempengaruhi strategi pengembangan industri mocaf, 3) dan menentukan prioritas strategi pengembangan industri mocaf di Kabupaten Banjarnegara menggunakan metode AHP. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan merupakan data primer yang diperoleh melalui wawancara dan kuesioner terhadap 50 responden yang terdiri dari pelaku UMKM, dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, pemasok, konsumen, dan akademisi yang dipilih menggunakan purposive sampling. Variabel penelitian terdiri dari faktor, aktor, dan alternatif strategi. Analisis dilakukan melalui penyusunan hirarki, perbandingan berpasangan, perhitungan bobot prioritas, serta uji konsistensi dengan nilai Cosistency Ratio (CR ≤ 0,1) menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor teknis menjadi faktor paling berpengaruh dengan bobot sebesar 0,40 (40%), diikuti faktor sosial sebesar 0,22 (22%), faktor ekonomi sebesar 0,18 (18%), faktor lingkungan 0,11 (11%), dan faktor regulasi 0,09 (9%). Aktor yang paling berpengaruh adalam pelaku UMKM dengan bobot sebesar 0,38 (38%), diikuti dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah sebesar 0,22 (22%), pemasok singkong 0,16 (16%), konsumen sebesar 0,14 (14%), dan akademisi 0,10 (10%). Strategi prioritas utama dalam pengembangan industri mocaf adalah penguatan hulu dengan bobot sebesar 0,44 (44%), diikuti pengembangan teknologi sebesar 0,24 (24%), kemitraan sebesar 0,17 (17%), dan penguatan pemasaran 0,15 (15%). Hasil ini menunjukkan bahwa pengembangan industri mocaf di Banjarnegara sangat dipengaruhi oleh aspek teknis produksi serta kestabilan bahan baku. | This research was motivated by the high potential of cassava production in Banjarnegara Regency, which can be ultized as a value added product. One from cassava processing with development potential is mocaf (Modified Cassava Flour). The development of the mocaf industry in Banjarnegara is expected to increase the added value of cassava commodities. The development of the mocaf industry still faces several challenges, requiring a comprehensive analysis to determine appropriate development strategies. This study aimed 1) identify the factors inflencing the development strategy of the mocaf industry, 2) identify the actors involved in the development strategy, and 3) determine the priority strategies for developing the mocaf industry in Banjarnegara Regency using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method. This study employed a quantitative approach. Primary data were collected through interviews and questionnaries involving 50 respondents consisting of MSME owners, Departement of Coorperative, Small and Medium Enterprises, supplier, consummers, and academics selected using purposive sampling. The research variables include factors, actors, and alternative strategies. The analysis was carried out through hierarchy structuring, pairwise comparisons, priority weighg calculations, and consistency testing with a Consistency Ratio (CR ≤ 0,1) under the Analythical Hierarchy Process (AHP) method. The results show that technical factors are the most influential, with a weight of 0,40 (40%), followed by the social factor at 0,22 (22%), the economic factor 0,18 (18%), the environmental factor 0,11 (11%), and the regulatory factor at 0,09 (9%). The most dominant actors is MSME actors, with a weight of 0,38 (38%), followed by Departement of Coorporatives, Small, and Medium Enterprises at 0,22 (22%), cassava suppliers 0,16 (16%), consumers at 0,14 (14%), and academics at 0,10 (10%). The main priority strategy for developing the mocaf industry is upstream strengthening, with a weight 0,44 (44%), followed by technological development at 0,24 (24%), partnership at 0,17 (17%), and marketing strengthening at 0,15 (15%). These findings indicate that the development of the mocaf industry in Banjarnegara is highly influenced by technical production aspects and the stability of raw material supply. | |
| 50577 | 53974 | A1F022052 | Pengaruh Aplikasi Active Coating dan Wrapping Terhadap Kualitas Buah Anggur Varietas Ninel Selama Penyimpanan | Produksi buah anggur di Indonesia meningkat dari 134.055 ton pada tahun 2023 menjadi 185.90.8,22 ton pada tahun 2024. Tingginya tingkat produksi buah anggur diharapkan dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Namun, anggur memiliki karakteristik kulit buah yang tipis, tekstur yang lembut, dan memiliki kandungan air yang tinggi sehingga rentan mengalami penurunan kualitas, akibat kehilangan air, serta perubahan fisiologis selama penyimpanan dan transportasi. Edible coating dan edible film menjadi salah satu solusi untuk mempertahankan kualitas buah anggur selama penyimpanan. Hal tersebut dikarenakan keduanya mampu mengurangi laju respirasi dan kehilangan air, sehingga mampu mempertahankan tekstur, memperpanjang umur simpan, serta meningkatkan visual pada buah. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh aplikasi active coating dan wrapping terhadap kualitas fisik dan kimia, serta umur simpan buah anggur varietas ninel. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Pertanian dan Laboratorium II Teknologi Hasil Ternak, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor yaitu metode coating dan hari penyimpanan. Variabel pengukuran yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi sifat fisik (susut bobot, decay rate, tekstur, dan warna), sifat kimia (TPT, TAT, Vit C, dan kadar air), serta umur simpan Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan coating dan wrapping mampu mempertahankan kualitas fisik lebih baik dibandingkan kontrol, seperti menekan susut bobot, decay rate, dan mempertahankan tekstur. Namun, coating dan wrapping menunjukkan tidak terdapat perbedaan nyata terhadap perubahan warna anggur. Sementara itu, coating dan wrapping juga mampu mempertahankan sifat kimia seperti menekan kadar air dan total padatan terlarut. Di sisi lain, vitamin C dan total asam tertitrasi menunjukkan tidak terdapat perbedaan nyata pada semua perlakuan. Umur simpan yang dihasilkan kontrol lebih rendah yaitu sebesar 8,59 hari dibandingkan coating dan wrapping dalam rentang 15,18-17,28 hari. | Grape production in Indonesia increased from 134,055 tons in 2023 to 185,908.22 tons in 2024. The high level of grape production is expected to meet consumer demand. However, grapes have thin skin, soft texture, and high moisture content, making them susceptible to quality deterioration due to water loss and physiological changes during storage and transportation. Edible coatings and edible films are considered promising approaches to maintain grape quality during storage, as they can reduce respiration rate and moisture loss, thereby preserving texture, extending shelf life, and improving the visual appearance of the fruit. Based on these considerations, this study aimed to evaluate the effect of active coating and wrapping applications on the physical and chemical quality, as well as the shelf life, of ninel grape variety. This research was conducted at the Agricultural Technology Laboratory and Laboratory II of Animal Product Technology, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. The experiment employed a Completely Randomized Design (CRD) with two factors, namely coating method and storage period. The observed variables included physical properties (weight loss, decay rate, texture, and color), chemical properties (total soluble solids, titratable acidity, vitamin C, and moisture content), and shelf life The results showed that coating and wrapping treatments were more effective than the control in maintaining the physical quality of grapes by reducing weight loss and decay rate and preserving texture. However, no significant differences in color changes were observed among the treatments. In addition, coating and wrapping treatments were able to maintain chemical quality by suppressing changes in moisture content and total soluble solids. On the other hand, vitamin C content and titratable acidity were not significantly affected by the treatments. The shelf life of grapes under the control treatment was 8.59 days, whereas coating and wrapping treatments extended shelf life to 15.18–17.28 days. | |
| 50578 | 53977 | B1A022104 | Pengaruh Cekaman Garam (NaCl) dan Penambahan Biochar terhadap Kandungan Flavonoid Bayam Merah (Amaranthus tricolor 'Mira') | Bayam merah (Amaranthus tricolor ‘Mira’) merupakan tanaman sayur yang mengandung berbagai zat gizi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan sekaligus tanaman obat. Tanaman ini mengandung antioksidan alami berupa flavonoid yang bermanfaat untuk kesehatan. Flavonoid termasuk metabolit sekunder yang berfungsi dalam mekanisme perlindungan tanaman terhadap stres lingkungan, seperti cekaman garam atau salinitas. Cekaman salinitas dapat meningkatkan produksi flavonoid, tetapi dapat menghambat pertumbuhan tanaman melalui stres osmotik, toksisitas ion, dan stres oksidatif. Biochar berpotensi mengurangi dampak negatif tersebut dengan memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah, sehingga meningkatkan toleransi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh interaksi NaCl dan biochar terhadap kandungan flavonoid bayam merah, serta menentukan konsentrasi NaCl dan biochar yang menghasilkan kandungan flavonoid tertinggi. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor, yaitu NaCl (0; 50; 100; dan 150 mM) dan biochar sekam padi (0; 2,5; dan 5%, b/b), masing-masing dengan tiga ulangan. Penelitian dilakukan pada bulan Februari hingga Mei 2026. Variabel bebas yang diuji yaitu NaCl dan biochar, sedangkan variabel terikat yang diuji yaitu kandungan flavonoid bayam merah. Parameter yang diamati berupa kandungan flavonoid total, panjang akar, volume akar, laju pertumbuhan tinggi tanaman, dan laju pertumbuhan jumlah daun. Data dianalisis menggunakan software SPSS dengan uji ANOVA taraf signifikansi 5% dan 1%, serta hasil yang berpengaruh nyata diuji lanjut dengan uji Duncan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi yang sangat nyata antara NaCl dan biochar terhadap kandungan flavonoid daun bayam merah (p<0,01). Kombinasi 100 mM NaCl dengan 2,5% biochar (N2B1) menghasilkan kandungan flavonoid tertinggi, yaitu 60,02 ± 1,72 mgQE/g. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat interaksi yang sangat nyata antara NaCl dan biochar terhadap panjang akar bayam merah (p<0,01). Kombinasi perlakuan yang menghasilkan panjang akar tertinggi yaitu NaCl 100 mM dan biochar 5% (N2B2) sebesar 25,10 ± 3,72 cm. Namun, interaksi NaCl dan biochar tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan volume akar. | Red spinach (Amaranthus tricolor 'Mira') is a leafy vegetable rich in nutrients, making it valuable as both a food source and a medicinal plant. This plant contains flavonoids, natural antioxidants that provide various health benefits. Flavonoids are secondary metabolites that play an important role in the plant's defense mechanism against environmental stresses, including salt stress (salinity). Salinity stress can enhance flavonoid production but may also inhibit plant growth through osmotic stress, ion toxicity, and oxidative stress. Biochar has the potential to alleviate these adverse effects by improving the physical and chemical properties of the soil, thereby enhancing plant tolerance to salinity. This study aimed to evaluate the interaction effect of NaCl and biochar on the flavonoid content of red spinach and to determine the NaCl and biochar concentrations that produce the highest flavonoid content. The experiment was conducted using a factorial completely randomized design with two factors: NaCl concentrations (0, 50, 100, and 150 mM) and rice husk biochar rates (0, 2.5, and 5% w/w), with three replications for each treatment. The study was carried out from February to May 2026. The independent variables were NaCl concentration and biochar application, while the dependent variable was the flavonoid content of red spinach. The observed parameters included total flavonoid content, root length, root volume, plant height growth rate, and leaf number growth rate. Data were analyzed using SPSS software by analysis of variance (ANOVA) at the 5% and 1% significance levels, followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) at the 5% significance level for variables showing significant differences. The results showed a highly significant interaction between NaCl and biochar on the flavonoid content of red spinach leaves (p < 0.01). The combination of 100 mM NaCl and 2.5% biochar (N2B1) produced the highest flavonoid content, reaching 60.02 ± 1.72 mgQE/g. A highly significant interaction was also observed for root length (p < 0.01), with the longest roots obtained from the combination of 100 mM NaCl and 5% biochar (N2B2), measuring 25.10 ± 3.72 cm. However, the interaction between NaCl and biochar had no significant effect on plant height growth rate, leaf number growth rate, or root volume. | |
| 50579 | 53980 | E1A022238 | ANALISIS YURIDIS TERHADAP TINDAK PIDANA MENYURUH MELAKUKAN DAN TURUT SERTA MELAKUKAN PEMALSUAN SURAT OTENTI (Studi Putusan Pengadilan Negeri Semarang Nomor 773/Pid.B/2021/PN Smg) | Tindak pidana menyuruh melakukan dan turut serta melakukan pemalsuan surat otentik adalah perbuatan pidana yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan membuat atau memalsukan surat otentik sehingga seolah-olah asli dan benar, padahal tidak sesuai dengan kenyataan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis penerapan unsur-unsur tindak pidana serta pertimbangan hukum hakim dalam Putusan Pengadilan Negeri Semarang Nomor 773/Pid.B/2021/PN Smg terkait tindak pidana menyuruh melakukan dan turut serta melakukan pemalsuan surat otentik. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif yang bersifat preskriptif dengan data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan dan dianalisis secara normatif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian, Majelis Hakim dalam Putusan Nomor 773/Pid.B/2021/PN Smg menyatakan bahwa seluruh unsur tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 264 ayat (1) juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP telah terbukti secara sah dan meyakinkan. Para terdakwa terbukti terlibat dalam pembuatan akta otentik palsu yang digunakan seolah-olah benar sehingga menimbulkan kerugian bagi pihak lain. Majelis Hakim juga tidak menemukan adanya alasan pembenar maupun alasan pemaaf yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana para terdakwa. Pertimbangan hukum hakim didasarkan pada fakta-fakta yang terungkap di persidangan yaitu terpenuhinya unsur-unsur pasal yang didakwakan oleh penuntut umum, pembuktian berdasarkan alat bukti yang sah sesuai dengan Pasal 184 KUHAP, serta keadaan yang memberatkan dan meringankan para terdakwa. Atas dasar pertimbangan tersebut, Majelis Hakim menjatuhkan pidana penjara kepada Terdakwa I selama 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan dan Terdakwa II selama 1 (satu) tahun 4 (empat) bulan serta menetapkan para terdakwa tetap berada dalam tahanan. | The criminal act of instigating and participating in the falsification of an authentic deed is a criminal offense committed by two or more persons by making or falsifying an authentic document so that it appears genuine and valid, whereas in fact it does not correspond to reality. The purpose of this study is to determine and analyze the application of the elements of the criminal offense and the judges’ legal considerations in Semarang District Court Decision Number 773/Pid.B/2021/PN Smg concerning the criminal act of instigating and participating in the falsification of an authentic deed. This research employs a normative juridical method with a prescriptive approach, using secondary data obtained through library research and analyzed qualitatively in a normative manner. Based on the research findings, the Panel of Judges in Decision Number 773/Pid.B/2021/PN Smg stated that all elements of the offense as regulated under Article 264 paragraph (1) in conjunction with Article 55 paragraph (1) point 1 of the Indonesian Criminal Code (KUHP) were legally and convincingly proven. The defendants were proven to have been involved in the creation of a falsified authentic deed used as if it were genuine, thereby causing losses to other parties. The Panel of Judges also found no grounds for justification or excuse that could eliminate the defendants’ criminal responsibility. The judges’ legal considerations were based on the facts revealed during the trial, namely the fulfillment of the charged offense elements, evidence based on valid legal proof under Article 184 of the Criminal Procedure Code (KUHAP), as well as mitigating and aggravating circumstances of the defendants. Based on these considerations, the Panel of Judges sentenced Defendant I to 1 (one) year and 6 (six) months imprisonment and Defendant II to 1 (one) year and 4 (four) months imprisonment, and ordered that both defendants remain in detention. | |
| 50580 | 53981 | B1B022016 | Analysis of Antioxidant, Anti-Tyrosinase, Anti-Hyaluronidase, and Anti-Acne Properties and Compound Profiling of Morchella rinjaniensis for Cosmeceutical Purpose | Ketertarikan akan produk yang aman untuk kulit telah mendorong peningkatan formulasi kosmetik yang menggunakan bahan-bahan alami dibandingkan dengan bahan kimia sintetis. Morchella dikenal sebagai jamur yang dapat dimakan dan memiliki potensi dalam kosmetik. Spesies baru Morchella, Morchella rinjaniensis, ditemukan di Gunung Rinjani, Lombok, Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas kosmetik ekstrak M. rinjaniensis, termasuk aktivitas antioksidan, anti-tirosinase, anti-hialuronidase, dan anti-jerawat, serta untuk mengidentifikasi senyawa bioaktif yang ditemukan dalam ekstrak tersebut. Pendekatan eksperimental berbasis laboratorium digunakan untuk mengevaluasi ekstrak tubuh buah dan miselium M. rinjaniensis dari berbagai pelarut, termasuk etanol 70%, metanol, dan air suling. Pengujian mencakup pengujian penghambatan radikal bebas 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH), pengujian penghambatan tirosinase, pengujian penghambatan hialuronidase, pengujian anti-jerawat, dan analisis Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Konsentrasi ekstrak bervariasi selama pengujian, berkisar dari 50 hingga 1000 ppm. Keefektifan ekstrak M. rinjaniensis bervariasi pada setiap sifat kosmetik. Keefektifan antioksidan ditemukan pada ekstrak air suling miselium pada 1000 ppm (70,06 ± 0,36%). Aktivitas penghambatan tirosinase efektif pada ekstrak metanol miselium pada 1000 ppm (37,95 ± 1,80%) dan ekstrak etanol miselium pada 1000 ppm (33,31 ± 1,73%). Aktivitas penghambatan hialuronidase efektif pada ekstrak metanol tubuh buah pada konsentrasi 100 ppm (70,27 ± 6,28%). Aktivitas anti-jerawat efektif pada ekstrak etanol miselium pada konsentrasi 1000 ppm (74,52 ± 0,94%), ekstrak metanol tubuh buah pada konsentrasi 500 ppm (68,49 ± 3,92%), dan ekstrak air suling tubuh buah pada konsentrasi 500 ppm (65,04 ± 3,99%). Berbagai senyawa bioaktif yang berkontribusi pada aktivitas biologis yang diamati diidentifikasi melalui analisis GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik miselium maupun tubuh buah M. rinjaniensis merupakan sumber senyawa bioaktif yang berkontribusi dalam aktivitas kosmeseutikal yang mencakup aktivitas antioksidan, anti-tirosinase, anti-hialuronidase, dan anti-jerawat. Identifikasi senyawa bioaktif melalui GC-MS mendukung dan membuktikan potensi ekstrak M. rinjaniensis dalam formulasi perawatan kulit. | The desire for skin-safe products has driven an increase in cosmeceutical formulations utilizing natural ingredients instead of synthetic chemicals. Morchella is known as an edible mushroom that has potential in cosmeceuticals. A new species of Morchella, Morchella rinjaniensis, was found in Mount Rinjani, Lombok, Indonesia. This research aims to evaluate the cosmeceutical properties of M. rinjaniensis extract, including antioxidant, anti-tyrosinase, anti-hyaluronidase, and anti-acne activity, and to identify the bioactive compounds found in the extract. A laboratory-based experimental approach was employed to evaluate the extracts of M. rinjaniensis fruiting body and mycelium from different solvent extracts, including ethanol 70%, methanol, and distilled water. Assays encompassed the 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) scavenging assay, tyrosinase inhibition assay, hyaluronidase inhibition assay, anti-acne assay, and Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) analysis. The concentration of the extract varied during the assay, ranging from 50 to 1000 ppm. The efficacy of M. rinjaniensis extract varied in each cosmeceutical property. Antioxidant efficacy was found in the mycelium distilled water extract at 1000 ppm (70.06 ± 0.36%). Tyrosinase inhibitory activity was observed in mycelium methanol extract at 1000 ppm (37.95 ± 1.80%) and mycelium ethanol extract at 1000 ppm (33.31 ± 1.73%). Hyaluronidase inhibitory activity was demonstrated in the fruiting body methanol extract at 100 ppm (70.27 ± 6.28%). Anti-acne activity was seen in the mycelium ethanol extract at 1000 ppm (74.52 ± 0.94%), fruiting body methanol extract at 500 ppm (68.49 ± 3.92%), and fruiting body distilled water extract at 500 ppm (65.04 ± 3.99%). Furthermore, a variety of bioactive compounds that may have contributed to the observed biological activities were identified through GC-MS analysis. The results indicate that both the mycelium and fruiting body of M. rinjaniensis are desirable sources of bioactive compounds in cosmeceuticals, owing to their antioxidant, anti-tyrosinase, anti-hyaluronidase, and anti-acne properties. The identification of bioactive compounds through GC-MS emphasizes their potential value in skincare formulations. |