Artikelilmiahs
Menampilkan 50.481-50.499 dari 50.499 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 50481 | 52287 | G1A022112 | Korelasi Nilai Platelet to Lymphocyte Ratio (PLR) dengan Subtipe Kanker Payudara di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto | Latar belakang: Kanker Payudara (Carcinoma mammae) merupakan kanker dengan insidensi tinggi pada wanita di seluruh dunia. Kanker payudara memiliki karakteristik biologis yang berbeda berdasarkan subtipe molekuler, seperti Luminal A, Luminal B, HER2, dan Triple Negative Breast Cancer (TNBC). Inflamasi sistemik berperan dalam proses karsinogenesis dan progresivitas tumor. Salah satu parameter inflamasi adalah Platelet to Lymphocyte Ratio (PLR) yang mencerminkan keseimbangan antara aktivitas trombosit dan respon imun tubuh oleh limfosit terhadap sel tumor sehingga berpotensi digunakan sebagai penanda tambahan dalam karakterisasi subtipe kanker payudara. Namun, bukti hubungan antara nilai PLR dengan subtipe kanker payudara masih terbatas di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Tujuan: Mengetahui korelasi antara nilai Platelet to Lymphocyte Ratio (PLR) dengan subtipe kanker payudara di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 63 kanker payudara dipilih melalui metode consecutive sampling. Data dikumpulkan dari rekam medis mencakup usia, indeks massa tubuh (IMT), riwayat keluarga, nilai PLR, subtipe kanker payudara dan parameter hematologik untuk perhitungan PLR. Hasil: Mayoritas subjek (58,7%) menunjukkan profil inflamasi sistemik dengan nilai PLR kategori tinggi. Distribusi subtipe carcinoma mammae menunjukkan dominasi Luminal B (36,5%), diikuti TNBC (23,8%), HER2 (22,2%), dan Luminal A (17,5%). Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat korelasi yang signifikan antara nilai PLR dengan subtipe kanker payudara (p = 0,302). Kesimpulan: Nilai PLR tidak menunjukkan korelasi yang signifikan dengan subtipe kanker payudara. | Background: Breast cancer (carcinoma mammae) is a cancer with a high incidence among women worldwide. Breast cancer has distinct biological characteristics based on molecular subtypes, such as Luminal A, Luminal B, HER2, and Triple Negative Breast Cancer (TNBC). Systemic inflammation plays a role in carcinogenesis and tumor progression. One inflammatory parameter is the Platelet to Lymphocyte Ratio (PLR), which reflects the balance between platelet activity and the immune response mediated by lymphocytes against tumor cells thus having potential as an additional marker in characterizing breast cancer subtypes. However, evidence regarding the association between PLR values and breast cancer subtypes is still limited at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Objective: To determine the correlation between Platelet to Lymphocyte Ratio (PLR) values and breast cancer subtypes at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Methods: This study was an analytic observational study with a cross-sectional design using medical record data of breast cancer patients. Data collected included age, body mass index (BMI), family history, PLR values, and breast cancer subtypes. Statistical analysis was performed using the Chi-Square test to assess the association between PLR values and breast cancer subtypes. Results: A total of 63 subjects were analyzed. Most patients had high PLR values (58.7%). The most common subtype of carcinoma mammae was Luminal B (36.5%), followed by TNBC (23.8%), HER2 (22.2%), and Luminal A (17.5%). The analysis showed no statistically significant association between PLR values and breast cancer subtypes (p = 0.302). Conclusion: The PLR values did not show a significant association with breast cancer subtypes. | |
| 50482 | 52288 | E1A022087 | PENERAPAN PRINSIP TANGGUNG JAWAB MUTLAK (STRICT LIABILITY) DALAM PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN HIDUP (STUDI KASUS PT. AGRO BUMI SENTOSA) | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability) pada penyelesaian sengketa lingkungan hidup, dengan fokus pada perkara kebakaran hutan dan lahan oleh PT Agro Bumi Sentosa. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya inkonsistensi putusan antara pengadilan tingkat pertama dan tingkat banding, khususnya terkait hubungan antara pertanggungjawaban substantif dan aspek prosedural dalam hukum lingkungan. Prinsip strict liability sebagaimana diatur dalam Pasal 88 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup meniadakan kewajiban pembuktian unsur kesalahan dalam hal kegiatan menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan hidup. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengadilan tingkat pertama telah mengimplementasikan prinsip strict liability secara tepat, namun putusan tersebut dibatalkan oleh pengadilan tingkat banding dengan alasan gugatan prematur karena tidak ditempuhnya mekanisme penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Hal ini menunjukkan adanya ketegangan antara formalitas prosedural dan keadilan substantif dalam penegakan hukum lingkungan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa inkonsistensi tersebut berpotensi melemahkan kepastian hukum dan efektivitas penerapan prinsip strict liability. Oleh karena itu, diperlukan penguatan konsistensi putusan hakim serta penegasan hubungan antara aspek prosedural dan prinsip tanggung jawab mutlak guna mendukung penegakan hukum lingkungan yang efektif di Indonesia. | This study aims to analyze the application of the strict liability principle in environmental dispute resolution, with a particular focus on the forest and land fire case involving PT Agro Bumi Sentosa. The study is motivated by inconsistencies between first-instance and appellate court decisions, particularly regarding the relationship between substantive liability and procedural aspects in environmental law. The principle of strict liability, as stipulated in Article 88 of Law No. 32 of 2009 on Environmental Protection and Management, eliminates the requirement to prove fault when activities pose a serious threat to the environment. This research employs a normative juridical method, using statutory and case study approaches. The findings indicate that the court of first instance correctly applied the strict liability principle; however, the decision was overturned by the appellate court on the grounds that the claim was premature due to the absence of prior non-litigation dispute resolution mechanisms. This reflects a tension between procedural formalism and substantive justice in environmental law enforcement. The study concludes that such inconsistency may undermine legal certainty and weaken the effectiveness of the strict liability principle. Therefore, strengthening judicial consistency and clarifying the relationship between procedural requirements and strict liability are essential to support effective environmental law enforcement in Indonesia. | |
| 50483 | 52289 | E1A022179 | TANGGUNG JAWAB HUKUM DINAS KESEHATAN TERHADAP PENANGANAN KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) PENYAKIT MENULAR DALAM PERSPEKTIF HUKUM ADMINISTRASI NEGARA | ABSTRAK Kejadian Luar Biasa (KLB) merupakan timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu, dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. Indonesia masih sering menghadapi fenomena KLB. Dinas Kesehatan memiliki peran strategis sebagai perangkat daerah yang menjalankan urusan pemerintahan bidang Kesehatan berdasarkan pasal 352 (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, analitis, dan konseptual. Data yang digunakan berupa data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan dan dianalisis secara normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan tanggung jawab hukum Dinas Kesehatan terhadap penanganan kejadian luar biasa penyakit menular dalam perspektif hukum administrasi negara telah menunjukkan taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal. Artinya peraturan yang lebih rendah telah didasarkan pada peraturan yang lebih tinggi. Peraturan-peraturan tersebut tidak saling bertentangan antara satu dengan yang lain. Bentuk tanggung jawab hukum Dinas Kesehatan terhadap penanganan kejadian luar biasa penyakit menular pada struktur peraturan perundang-undangan Indonesia, yaitu: tanggung jawab secara administrasi diatur dalam Pasal 159, Pasal 162, Pasal 169 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1 Tahun 2026 tentang KLB, Wabah, Krisis Kesehatan. | ABSTRACT An Extraordinary Event (KLB) is the emergence or increase in the incidence of morbidity and/or mortality that is epidemiologically significant in a region within a certain period of time, and is a condition that can lead to an epidemic. Indonesia still frequently faces the KLB phenomenon. The Health Service has a strategic role as a regional apparatus that carries out government affairs in the health sector based on Article 352 (1) of Law Number 17 of 2023 concerning Health. The research method used is normative juridical research with a statutory, analytical, and conceptual approach. The data used are secondary data obtained through literature studies and analyzed using qualitative normative methods. The results of the study indicate that the regulation of the Health Service's legal responsibility for handling extraordinary events of infectious diseases from a state administrative law perspective has shown a level of vertical and horizontal synchronization. This means that lower regulations have been based on higher regulations. These regulations do not contradict each other. The form of legal responsibility of the Health Service for handling extraordinary incidents of infectious diseases in the structure of Indonesian legislation, namely: administrative responsibility is regulated in Article 159, Article 162, Article 169 of the Regulation of the Minister of Health Number 1 of 2026 concerning KLB, Epidemics, Health Crises. | |
| 50484 | 52010 | H1B022003 | PENDEKATAN BERBASIS CITERA SATELIT DALAM ESTIMASI ANGKUTAN SEDIMEN DAN PERUBAHAN GARIS PANTAI DI PELABUHAN PLTU ADIPALA CILACAP | Bencana Perubahan garis pantai merupakan fenomena dinamis yang dipengaruhi oleh proses oseanografi, aktivitas manusia, serta keberadaan bangunan pantai seperti breakwater. Penelitian ini bertujuan untuk Mengidentifikasi pergerakan garis pantai di perairan Pelabuhan PLTU Adipala Cilacap, Menentukan laju perubahan garis pantai di Pelabuhan PLTU Adipala Cilacap, Mengestimasi volume angkutan sedimen di Pelabuhan PLTU Adipala Cilacap. Metode pengolahan data pada penelitian ini menggunakan citra satelit berupa Google Earth Engine (GEE), ArcMap, dan Digital Shoreline Analysis System (DSAS). Berdasarkan hasil overlay garis pantai multitemporal dengan mempertimbangkan arah arus dominan dari timur, diketahui bahwa pada sisi barat breakwater terjadi erosi yang berlangsung secara berkelanjutan. Sementara itu, pada sisi timur breakwater juga terjadi erosi, namun dengan intensitas yang lebih kecil dibandingkan sisi barat. Selanjutnya, berdasarkan hasil analisis kuantitatif menggunakan Digital Shoreline Analysis System (DSAS), diperoleh nilai Shoreline Change Envelope (SCE) sebesar 166,432 m, Net Shoreline Movement (NSM) sebesar −36,321 m, End Point Rate (EPR) sebesar −4,325 m/tahun, dan Linear Regression Rate (LRR) sebesar −3,361 m/tahun. Secara keseluruhan, hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa garis pantai pada rentang waktu pengamatan mengalami kecenderungan erosi. Selain itu, berdasarkan perhitungan estimasi angkutan sedimen, diperoleh volume perubahan sedimen total sebesar −82.629,37 m³, yang semakin menguatkan bahwa proses yang dominan terjadi di wilayah penelitian adalah erosi. | Shoreline change is a dynamic phenomenon influenced by oceanographic processes, human activities, and the presence of coastal structures such as breakwaters. This study aims to identify shoreline movement in the waters of the Adipala PLTU Port, Cilacap, to determine the rate of shoreline change, and to estimate the volume of sediment transport in the Adipala PLTU Port, Cilacap. The data processing methods used in this study involve satellite imagery processed using Google Earth Engine (GEE), ArcMap, and the Digital Shoreline Analysis System (DSAS). Based on the results of multitemporal shoreline overlay analysis considering the dominant eastward current direction, continuous erosion was observed on the western side of the breakwater. Meanwhile, the eastern side of the breakwater also experienced erosion, but with a lower intensity compared to the western side. Furthermore, based on quantitative analysis using the Digital Shoreline Analysis System (DSAS), the Shoreline Change Envelope (SCE) value was 166.432 m, the Net Shoreline Movement (NSM) was −36.321 m, the End Point Rate (EPR) was −4.325 m/year, and the Linear Regression Rate (LRR) was −3.361 m/year. Overall, these results indicate that the shoreline during the observation period tended to experience erosion. In addition, based on the estimation of sediment transport, the total sediment volume change was −82,629.37 m³, further confirming that erosion is the dominant process occurring in the study area. | |
| 50485 | 52290 | H1A022047 | ANALISIS PENGARUH GANGGUAN SHORT CIRCUIT PADA FEEDER MILL E TERHADAP OPERASI RELAY BUCHHOLZ PADA TRANSFORMATOR AUXILIARY DI PLTU CIREBON POWER | Penelitian ini membahas kejadian false trip pada relay buchholz di Unit Auxiliary Transformer (UAT) akibat gangguan hubung singkat pada Feeder Mill E di PLTU Cirebon Power pada 1 Mei 2025. Relay buchholz yang seharusnya mendeteksi gangguan internal justru terpicu oleh gangguan eksternal pada feeder, sehingga menyebabkan trip unit pembangkit tanpa adanya kerusakan internal transformator. Analisis dilakukan menggunakan perhitungan manual dan simulasi ETAP, serta divalidasi dengan data aktual. Hasil menunjukkan bahwa gangguan line-to-line menghasilkan arus hubung singkat sebesar 14,5 kA, dengan selisih kurang dari 10% dibandingkan hasil perhitungan dan simulasi. Nilai ini melebihi ambang teoritis 11,95 kA, sehingga menimbulkan gaya elektromagnetik yang memicu fenomena oil surge di dalam transformator. Hal ini menyebabkan relay buchholz langsung mengaktifkan trip dalam waktu sangat singkat (≈0,055 s) tanpa alarm. Evaluasi koordinasi proteksi menunjukkan bahwa relay buchholz bekerja lebih cepat dibandingkan proses isolasi gangguan (≈0,129 s). Pengujian pascagangguan menunjukkan kondisi transformator tetap normal, sehingga dipastikan terjadi false trip akibat efek mekanis arus transien eksternal. Penelitian merekomendasikan optimasi waktu kerja relay feeder dan evaluasi sensitivitas relay buchholz untuk meningkatkan keandalan sistem. | This research discusses a false trip event of the Buchholz relay in the Unit Auxiliary Transformer (UAT) caused by a short circuit fault on Feeder Mill E at PLTU Cirebon Power on May 1, 2025. The Buchholz relay, which is designed to detect internal transformer faults, was instead triggered by an external fault in the feeder, resulting in a unit trip without any internal transformer damage. The analysis was carried out using manual calculations and ETAP simulation, validated with actual field data. The results show that a line-to-line fault produced a shortcircuit current of 14.5 kA, with a deviation of less than 10% compared to the calculated and simulated values. This current exceeded the theoretical threshold of 11.95 kA, generating electromagnetic forces strong enough to trigger an oil surge phenomenon inside the transformer. Consequently, the Buchholz relay activated the trip almost instantaneously (≈0.055 s) without a prior alarm signal. The protection coordination evaluation indicates that the Buchholz relay operated faster than the fault isolation process (≈0.129 s). Post-fault testing confirmed that the transformer remained in normal condition, proving that the event was a false trip caused by the mechanical effects of external transient currents. This study recommends optimizing the feeder relay operating time and evaluating the sensitivity of the Buchholz relay to improve system reliability | |
| 50486 | 52150 | H1A022071 | ANALISIS KINERJA ENERGI GEDUNG REKTORAT UNSOED TAHUN 2025 BERDASARKAM BASELINE ENERGI 2024 DENGAN MENGACU PADA ISO 50001 | Gedung Rektorat Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) merupakan pusat aktivitas administrasi yang memerlukan pasokan energi listrik secara stabil dan berkelanjutan. Dengan meningkatnya biaya energi serta tuntutan terhadap praktik pengelolaan energi yang efisien, analisis kinerja energi menjadi langkah strategis untuk mendukung penerapan Sistem Manajemen Energi (EnMS) sesuai ISO 50001. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja energi Gedung Rektorat Unsoed pada tahun 2025 berdasarkan baseline energi tahun 2024. Baseline ditetapkan melalui pengumpulan dan analisis data konsumsi energi tahun 2024 untuk membentuk model konsumsi energi dasar gedung. Selanjutnya, data konsumsi energi aktual tahun 2025 diukur dan diverifikasi secara sistematis. Proses verifikasi dilakukan dengan membandingkan konsumsi aktual terhadap baseline dengan mempertimbangkan variabel relevan, seperti perubahan jam operasional, tingkat aktivitas pengguna, serta penambahan beban peralatan. Hasil penelitian ini diharapkan mampu menyajikan gambaran kinerja energi gedung secara terukur, menghitung nilai Intensitas Konsumsi Energi (IKE), serta mengidentifikasi potensi penghematan atau peningkatan konsumsi energi. Temuan tersebut dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan manajerial dalam upaya peningkatan efisiensi energi di lingkungan kampus. | The Rectorate Building of Jenderal Soedirman University (Unsoed) serves as the central hub for administrative activities and requires a continuous and reliable supply of electrical energy. With rising energy costs and growing sustainability demands, effective energy management has become increasingly crucial. This study aims to analyze the energy performance of the Unsoed Rectorate Building in 2025 based on the 2024 energy baseline, in accordance with ISO 50001 principles. The baseline was established by collecting and analyzing the building’s 2024 electricity consumption data to form a reference energy model. Subsequently, the actual energy consumption data for 2025 were systematically measured and verified. The verification process was conducted by comparing the 2025 consumption data with the 2024 baseline while considering relevant adjustment factors, such as changes in operating hours, occupancy levels, and additional equipment loads. The results of this study are expected to provide accurate and verified information on the building’s energy consumption patterns, calculate the Energy Use Intensity (EUI), and quantitatively identify the magnitude of energy savings or increases. These findings serve as a strategic reference for managerial decision-making in efforts to improve energy efficiency within the university environment. | |
| 50487 | 53612 | F1C022113 | Penerimaan Generasi Z terhadap Diskursus Childfree sebagai Pilihan Hidup pada Video “SEPAK TERJANG CHILDFREE” | Penelitian ini menganalisis resepsi Generasi Z terhadap diskursus childfree sebagai pilihan hidup dalam video dokumenter "SEPAK TERJANG CHILDFREE" produksi Watchdoc Image di YouTube. Fenomena ini memicu pro-kontra di Indonesia yang berkultur pro-natalis. Generasi Z dipilih sebagai khalayak karena aktif secara digital dan berpikir kritis. Menggunakan metode kualitatif berparadigma konstruktivisme dengan pendekatan Analisis Resepsi encoding-decoding Stuart Hall, penelitian ini melibatkan 7 mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman sebagai informan yang dipilih melalui teknik purposive sampling variasi maksimum. Data dikumpulkan via wawancara mendalam, observasi nonpartisipan, dan dokumentasi, lalu dianalisis menggunakan model Miles & Huberman. Hasil penelitian menunjukkan penerimaan informan terhadap childfree sangat beragam dan dinamis. Mayoritas informan berada pada posisi negosiasi, di mana mereka menyetujui hak otonomi tubuh, namun tetap mempertimbangkan norma sosial, agama, dan kesiapan tanggung jawab. Sementara itu, sebagian informan menempati posisi dominan karena menilai keputusan tersebut logis demi tuntutan profesi dan realitas ekonomi. Kesimpulannya, proses decoding Generasi Z bersifat kontekstual, yang sangat dipengaruhi oleh latar belakang sosial-budaya, ekonomi, pola asuh, keilmuan, dan pengalaman personal mereka. | This study analyzes Generation Z's reception of the childfree discourse as a lifestyle choice in the documentary video "SEPAK TERJANG CHILDFREE" produced by Watchdoc Image on YouTube. This phenomenon has sparked pros and cons in Indonesia, a country with a strong pro-natalist culture. Generation Z was selected as the audience due to their digital literacy and critical thinking skills. Using a qualitative method within a constructivist paradigm and employing Stuart Hall's encoding-decoding Reception Analysis approach, this study involved 7 students from Universitas Jenderal Soedirman as informants, selected through maximum variation purposive sampling. Data were collected via in-depth interviews, non-participant observation, and documentation, and then analyzed using the Miles & Huberman model. The results show that the informants' reception of the childfree lifestyle is highly diverse and dynamic. The majority of informants occupy a negotiated position, where they agree with the right to bodily autonomy but continue to consider social norms, religion, and readiness for responsibility. Meanwhile, some informants occupy a dominant position because they view the decision as logical in response to professional demands and economic realities. In conclusion, Generation Z's decoding process is highly contextual, heavily influenced by their socio-cultural background, economy, upbringing, academic discipline, and personal experiences. | |
| 50488 | 53311 | G1B022031 | PENGARUH EKSTRAK ETANOL DAUN AWAR-AWAR (Ficus septica Burm. F.) TERHADAP BIOFILM BAKTERI Prevotella intermedia PENYEBAB PERIODONTITIS | Periodontitis merupakan penyakit periodontal dengan prevalensi tinggi yang disebabkan oleh kolonisasi bakteri patogen dalam bentuk biofilm, salah satunya Prevotella intermedia. Daun awar-awar diketahui mengandung senyawa alkaloid, saponin, flavonoid, dan tanin yang berpotensi dikembangkan sebagai agen antibiofilm pada perawatan periodontitis. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol daun awar-awar terhadap biofilm bakteri P. intermedia penyebab periodontitis. Penelitian berupa true experimental laboratoris in-vitro dengan rancangan posttest only control group design. Penelitian ini menggunakan 8 kelompok ekstrak etanol daun awar-awar konsentrasi 0,78 mg/mL, 1,56 mg/mL, 3,125 mg/mL, 6,25 mg/mL, 12,5 mg/mL, 25 mg/mL, 50 mg/mL, 100 mg/mL, serta kontrol positif berupa Chlorhexidine gluconate 0,2%, dan kontrol negatif berupa DMSO 1%. Penghambatan dan degradasi biofilm diuji menggunakan microtiter plate assay dengan pewarnaan kristal violet 1% pada panjang gelombang 620 nm. Data dianalisis dengan One-Way ANOVA dan Post-Hoc Tukey HSD. Analisis regresi probit untuk mendapatkan nilai MBIC50 dan MBEC50. Persentase penghambatan maupun degradasi biofilm pada seluruh konsentrasi ekstrak menunjukkan aktivitas yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan kontrol negatif (p≤0,05). Ekstrak 100 mg/mL merupakan konsentrasi efektif dengan aktivitas penghambatan biofilm sebesar 86,1%±3,75% dan degradasi sebesar 71,32%±4,17% yang menunjukkan hasil tidak berbeda signifikan dibandingkan dengan kontrol positif (p≥0,05). Nilai MBIC50 pada penelitian ini ditunjukkan pada konsentrasi 9,16 mg/mL, sedangkan nilai MBEC50 ditunjukkan pada konsentrasi 23,44 mg/mL. Simpulan penelitian ini yaitu terdapat pengaruh ekstrak etanol daun awar-awar terhadap penghambatan dan degradasi biofilm P. intermedia ATCC 25611, sehingga berpotensi dikembangkan menjadi bahan alternatif perawatan periodontitis. | Periodontitis is a periodontal disease with high prevalence caused by the colonization of pathogenic bacteria in the form of biofilms, one of which is Prevotella intermedia. Awar-awar leaves are known to contain alkaloids, saponins, flavonoids, and tannins, which have potential to be developed as antibiofilm agents in the treatment of periodontitis. This study aimed to determine the effect of ethanol extract of awar-awar leaves on the biofilm of P. intermedia, a bacterium associated with periodontitis. This study was a true experimental in vitro laboratory study using a post-test only control group design. The study used eight treatment groups of awar-awar leaf ethanol extract at concentrations of 0,78 mg/mL, 1,56 mg/mL, 3,125 mg/mL, 6,25 mg/mL, 12,5 mg/mL, 25 mg/mL, 50 mg/mL, and 100 mg/mL, as well as a positive control using 0,2% chlorhexidine gluconate and a negative control using 1% DMSO. Biofilm inhibition and degradation were tested using the microtiter plate assay with 1% crystal violet staining at a wavelength of 620 nm. Data were analyzed using One-Way ANOVA and post-hoc Tukey HSD tests. Probit regression analysis was used to determine MBIC₅₀ and MBEC₅₀ values. The percentage of biofilm inhibition and degradation across all extract concentrations showed significantly higher activity compared to the negative control (p≤0,05). The 100 mg/mL extract concentration was the most effective, showing biofilm inhibitory activity of 86,1% ± 3,75% and biofilm degradation of 71,32% ± 4,17%, with no significant difference compared to the positive control (p≥0,05). The MBIC₅₀ value obtained in this study was 9,16 mg/mL, while the MBEC₅₀ value was 23,44 mg/mL. In conclusion, ethanol extract of awar-awar leaves has an effect on the inhibition and degradation of P. intermedia ATCC 25611 biofilm, indicating its potential to be developed as an alternative material for periodontitis treatment. | |
| 50489 | 53780 | K1C022040 | OPTIMASI FAKTOR EKSPOSI RADIOGRAFI PADA PEMERIKSAAN MANUS UNTUK MENGHASILKAN KUALITAS CITRA TERBAIK DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO | Pemanfaatan sinar-X di bidang medis berperan penting dalam mendukung proses diagnosis, namun paparan radiasi yang dihasilkan tetap berpotensi menimbulkan risiko kesehatan sehingga diperlukan optimasi faktor eksposi agar diperoleh kualitas citra yang optimal dengan dosis serendah mungkin. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai tegangan tabung (kVp) dan arus tabung (mAs) yang optimal pada pemeriksaan radiografi manus menggunakan phantom manus akrilik dengan ketebalan 2 cm dan 3 cm. Variasi tegangan tabung dilakukan pada rentang 40–50 kVp dengan interval 1 kVp, sedangkan variasi arus tabung menggunakan 3,2 mAs, 4 mAs, 5 mAs, dan 6,4 mAs. Tahap awal penelitian dilakukan dengan evaluasi parameter Exposure Index (EI) dan Deviation Index (DI) pada detektor radiografi untuk menilai tingkat paparan radiasi. Tahap kedua dilakukan analisis kualitas citra menggunakan parameter Mean Gray Value (MGV) dan Signal to Noise Ratio (SNR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh nilai EI dan DI masih berada dalam rentang toleransi klinis. Tegangan tabung optimal diperoleh pada 44 kVp untuk phantom ketebalan 2 cm dan 46 kVp untuk phantom ketebalan 3 cm, sedangkan arus tabung optimal diperoleh pada 3,2 mAs untuk kedua ketebalan phantom. Parameter tersebut mampu menghasilkan kualitas citra yang optimal dengan paparan radiasi yang lebih efisien. | The use of X-rays in the medical field plays a crucial role in supporting the diagnostic process; however, the resulting radiation exposure still poses potential health risks, making it necessary to optimize exposure parameters to achieve optimal image quality at the lowest possible dose. This study aims to determine the optimal tube voltage (kVp) and tube current (mAs) values for hand radiography using acrylic hand phantoms with thicknesses of 2 cm and 3 cm. Tube voltage was varied within the range of 40–50 kVp in 1 kVp increments, while tube current was varied using 3.2 mAs, 4 mAs, 5 mAs, and 6.4 mAs. The initial phase of the study involved evaluating the Exposure Index (EI) and Deviation Index (DI) parameters on the radiographic detector to assess the level of radiation exposure. The second stage involved image quality analysis using the Mean Gray Value (MGV) and Signal-to-Noise Ratio (SNR) parameters. The results showed that all EI and DI values remained within the clinical tolerance range. The optimal tube voltage was 44 kVp for the 2-cm-thick phantom and 46 kVp for the 3-cm-thick phantom, while the optimal tube current was 3.2 mAs for both phantom thicknesses. These parameters produced optimal image quality with more efficient radiation exposure. | |
| 50490 | 53884 | A1F022025 | Optimasi Proporsi Tepung Sorgum Terfermentasi dan Isolat Protein Kedelai pada Pembuatan Flakes menggunakan Metode Simplex Lattice Design | Sarapan merupakan kegiatan yang seringkali dilewatkan karena keterbatasan waktu sehingga perlu produk yang praktis dan bergizi seperti flakes. Sorgum merupakan komoditas lokal yang dapat dikembangkan sebagai bahan dasar pembuatan flakes. Fermentasi sorgum dilakukan untuk mengurangi zat antinutrisi dan meningkatkan kecernaan. Isolat protein kedelai dikombinasikan dengan sorgum untuk meningkatkan kandungan protein pada flakes. Namun, penambahan isolat protein kedelai yang melebihi ambang batas dapat menurunkan penerimaan sehingga perlu dilakukan optimasi. Penelitian ini betujuan untuk (1) mengetahui perbandingan optimum tepung sorgum terfermentasi dan isolat protein kedelai pada flakes berdasarkan kadar protein total, kadar abu, dan kadar karbohidrat; (2) mengetahui karakteristik fisikokimia flakes hasil perlakuan optimum tepung sorgum terfermentasi dan isolat protein kedelai; (3) mengetahui karakteristik sensori flakes hasil perlakuan optimum tepung sorgum terfermentasi dan isolat protein kedelai; (4) mengetahui keunggulan flakes hasil perlakuan optimum dibandingkan dengan flakes komersial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Simplex Lattice Design dengan menggunakan software Design Expert v.13. Respon optimasi didapatkan berdasarkan hasil seleksi variabel respon dengan uji Analysis of Variance (ANOVA). Respon optimasi yang terpilih meliputi kadar protein total, kadar abu, dan kadar karbohidrat by difference. Formula optimum yang diperoleh kemudian dilakukan verifikasi dan validasi, serta karakterisasi sifat fisikokimia (kadar abu, kadar air, kadar lemak, kadar protein terlarut, kadar β-karoten, warna dengan color reader, dan total energi), dan sensori (warna, aroma khas isolat protein kedelai, rasa khas sorgum, tekstur/kerenyahan, mouthfeel, aftertaste, dan kesukaan keseluruhan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula optimum diperoleh pada proporsi 25% tepung sorgum terfermentasi dan 8,33% isolat protein kedelai (IPK) dengan nilai desirability 0,921 menghasilkan flakes dengan kadar protein total 12,94%, kadar abu 3,69%, dan kadar karbohidrat by difference 69,29%. Karakterisasi flakes formula optimum menunjukkan kadar air sebesar 4,09%, kadar lemak 14,08%, kadar protein terlarut 0,41%, β-karoten 63,90µg/100 g, nilai L* 52,85, a* 13,15, b* 27,80, dan total energi 4,56 kkal/g, sedangkan secara sensori menunjukkan bahwa flakes optimum memiliki warna kuning kecoklatan (5,0) aroma khas IPK agak kuat (3,8), rasa khas sorgum agak kuat (4,3), tekstur/kerenyahan sangat renyah (5,5), mouthfeel tidak berpasir (4,5), aftertaste sangat tidak pahit (5,6), dan kesukaan keseluruhan dalam kategori suka (5,9) yang tidak berbeda signifikan dengan produk flakes komersial. | Breakfast is a meal that is often skipped due to time constraints, making practical and nutritious products like cereal flakes particularly important. Sorghum is a local crop that can be developed as a raw material for making cereal flakes. Sorghum is fermented to reduce anti-nutritional factors and improve digestibility. Soy protein isolate is mixed with sorghum to increase the protein content of the cereal flakes. However, adding soy protein isolate beyond a certain limit can reduce palatability, so optimization is necessary. This study aims to: (1) determine the optimum ratio of fermented sorghum flour and soy protein isolate in flakes based on total protein content, ash content, and carbohydrate content; (2) identify the physicochemical characteristics of flakes produced from the optimum treatment of fermented sorghum flour and soy protein isolate; (3) evaluate the sensory characteristics of flakes produced from the optimum treatment of fermented sorghum flour and soy protein isolate; and (4) examine the superiority of flakes produced from the optimum treatment compared to commercial flakes. The method used in this study was the Simplex Lattice Design using Design Expert v.13 software. The optimization responses were obtained based on the results of response variable selection using Analysis of Variance (ANOVA). The selected optimization responses included total protein content, ash content, and carbohydrate content based on the difference. The optimal formula obtained was then verified and validated, and its physicochemical properties (ash content, moisture content, fat content, soluble protein content, β-carotene content, color measured with a colorimeter, and total energy) as well as its sensory properties (color, characteristic aroma of soybean protein isolate, characteristic taste of sorghum, texture/crunchiness, mouthfeel, aftertaste, and overall acceptability) were characterized. The results showed that the optimal formula was obtained at a ratio of 25% fermented sorghum flour and 8.33% soy protein isolate (SPI) with a desirability value of 0.921, yielding flakes with a total protein content of 12.94%, ash content of 3.69%, and carbohydrate content based on the difference of 69.29%. Characterization of the optimal formula flakes showed a moisture content of 4.09%, fat content of 14.08%, soluble protein content of 0.41%, β-carotene of 63.90 µg/100 g, L* value of 52.85, a* value of 13.15, b* 27.80, and total energy 4.56 kcal/g, while sensory evaluation indicated that the optimal flakes had a light yellow-brown color (5.0), a characteristic and fairly strong IPK aroma (3.8), a characteristic sorghum flavor with moderate intensity (4.3), a very crisp texture (5.5), a non-sandy mouthfeel (4.5), a very non-bitter aftertaste (5.6), and an overall liking in the “like” category (5.9), which was not significantly different from commercial flakes. | |
| 50491 | 53873 | B1A022014 | Keanekaragaman Tanaman Jeruk (Citrus spp.) di Kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga | Citrus merupakan salah satu genus dari famili Rutaceae yang tersebar luas di wilayah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini memiliki tingkat keragaman yang tinggi, karena beberapa spesiesnya dapat saling bersilangan sehingga menunjukkan variasi karakter morfologi dan genetik. Penelitian mengenai keanekaragaman tanaman Citrus (jeruk) di wilayah Bukateja masih terbatas, sehingga diperlukan studi lebih lanjut untuk mengidentifikasi dan mengkarakterisasi variasi morfologi Citrus yang terdapat di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan hubungan kemiripan Citrus berdasarkan karakter morfologi di Kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini dilakukan di lima desa yang ada di Kecamatan Bukateja, yaitu Desa Kembangan, Cipawon, Karangcengis, Karanggedang, dan Kutawis menggunakan metode survei dengan teknik purposive sampling. Penelitian telah dilakukan pada bulan Maret hingga Mei 2026. Variabel yang digunakan adalah karakter morfologi batang, daun, bunga, buah, dan biji. Parameter yang diamati meliputi habitus, tinggi tanaman, diameter dan warna kulit batang, keberadaan duri pada ranting, bentuk daun, panjang dan lebar daun, ujung daun, tepi daun, pangkal daun, keberadaan sayap tangkai daun, bentuk sayap tangkai daun, panjang dan lebar sayap daun, struktur permukaan atas dan bawah daun, warna permukaan atas dan bawah daun, panjang tangkai daun, jumlah bunga dalam satu tangkai, panjang tangkai bunga, warna dan jumlah kelopak bunga, warna dan jumlah mahkota, berat buah, diameter dan panjang buah, bentuk buah, ujung buah, pangkal buah, warna kulit buah muda dan matang, tekstur permukaan kulit buah, warna bulir buah, rasa buah, bentuk biji, jumlah dan warna biji. Data dianalisis secara deskriptif dan hubungan kemiripan dianalisis menggunakan metode UPGMA (Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean) melalui software MEGA 12 (Molecular Evolutionary Genetic Analysis version 12). Hasil penelitian didapatkan tujuh anggota genus Citrus yang terdiri atas enam spesies dan satu kultivar yang ditemukan di wilayah Kecamatan Bukateja. Enam spesies yang diperoleh meliputi C. sinensis, C. limon, C. aurantiifolia, C. hystrix, C. maxima, C. amblycarpa, serta satu kultivar yaitu C. reticulata ‘Shiranui’. Hubungan kemiripan paling dekat yaitu antara C. aurantiifolia dan C. amblycarpa dengan nilai indeks ketidakmiripan sebesar 0,415, sedangkan hubungan kemiripan terjauh yaitu antara C. reticulata ‘Shiranui’ dan C. maxima dengan nilai indeks ketidakmiripan sebesar 1,691. | Citrus is a genus of the family Rutaceae widely distributed in tropical and subtropical regions, including Indonesia. This plant exhibits a high level of diversity, as some species can interbreed, exhibiting variations in morphological and genetic characteristics. Research on the diversity of citrus plants in the Bukateja region is still limited, so further studies are needed to identify and characterize the morphological variations of citrus species found in the region. This study aims to determine the diversity and similarity of citrus species based on morphological characteristics in Bukateja District, Purbalingga Regency. This research was conducted in five villages within Bukateja District: Kembangan, Cipawon, Karangcengis, Karanggedang, and Kutawis, using a survey method with purposive sampling. The study was conducted from March to May 2026. The variables used were the morphological characteristics of stems, leaves, flowers, fruits, and seeds. The parameters observed included habitus, plant height, diameter and color of stem bark, presence of thorns on branches, leaf shape, leaf length and width, leaf tip, leaf edge, leaf base, presence of leaf petiole wings, leaf petiole wing shape, leaf wing length and width, leaf structure of upper and lower surfaces of leaves, color of upper and lower surfaces of leaves, leaf stalk length, number of flowers in one stalk, flower stalk length, color and number of petals, color and number of crowns, fruit weight, fruit diameter and length, fruit shape, fruit tip, fruit base, color of young and ripe fruit skin, fruit skin surface texture, fruit grain color, fruit taste, seed shape, number and color of seeds. Data were analyzed descriptively and similarity relationships were analyzed using the UPGMA method (Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean) through MEGA 12 software (Molecular Evolutionary Genetic Analysis version 12). The results of the study obtained seven members of the genus Citrus consisting of six species and one cultivar found in the Bukateja District area. The six species obtained include C. sinensis, C. limon, C. aurantiifolia, C. hystrix, C. maxima, C. amblycarpa, and one cultivar, namely C. reticulata ‘Shiranui’. The closest similarity relationship is between C. aurantiifolia and C. amblycarpa with a dissimilarity index value of 0.415, while the furthest similarity relationship is between C. reticulata ‘Shiranui’ and C. maxima with a dissimilarity index value of 1.691. | |
| 50492 | 53897 | B1A022105 | Perbandingan Karakter Morfologi dan Kandungan Sawi Langit [Cyanthillium cinereum (L.) H.Rob.] Berdasarkan Letak Daun | Tumbuhan obat tradisional telah digunakan sejak lama oleh masyarakat sebagai alternatif pengobatan alami yang aman dan efektif. Salah satu spesies tumbuhan yang menarik perhatian adalah sawi langit [Cyanthillium cinereum (L.) H.Rob.] yang dikenal kaya akan metabolit sekunder seperti flavonoid. Flavonoid merupakan metabolit sekunder yang umum ditemukan pada tumbuhan, dikenal karena aktivitas antioksidan tingginya. Senyawa ini membantu menetralkan radikal bebas yang dihasilkan tumbuhan saat mengalami stres kekeringan, sehingga melindungi sel dan jaringan dari kerusakan. Selain bermanfaat bagi tumbuhan, flavonoid juga digunakan dalam kosmetik dan obat-obatan. Flavonoid berfungsi sebagai antioksidan yang melindungi sel dari kerusakan, bersifat antiinflamasi, menjaga fungsi sel, dan membantu mengatur proses biokimia di dalam sel. Sawi langit sering dimanfaatkan secara empiris dalam pengobatan tradisional masyarakat, namun data ilmiah mengenai variasi karakter morfologi dan kandungan flavonoid berdasarkan letak daun masih minim. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakter morfologi serta kandungan flavonoid pada daun sawi langit berdasarkan letak daun (ke-1 sampai ke-5, ke-6 sampai ke-10, dan ke-11 sampai ke-15). Pengambilan sampel dilakukan di Kecamatan Pekuncen dan Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan, yaitu letak daun ke-1 sampai ke-5 (L1), letak daun ke-6 sampai ke-10 (L2), dan letak daun ke-11 sampai ke-15 (L3). Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali ulangan, sehingga terdapat 15 unit percobaan. Pengamatan morfologi dilakukan secara deskriptif melalui pengumpulan dokumentasi serta deskripsi dari bagian daun yang diamati, seperti panjang daun, lebar daun, bentuk daun, warna daun, permukaan daun, tepi daun, dan ujung daun. Analisis flavonoid dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Data kuantitatif dianalisis menggunakan uji Analysis of Variance (ANOVA) satu arah pada tingkat kesalahan 5% dan 1% serta dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa letak daun berpengaruh terhadap karakter morfologi dan kandungan flavonoid sawi langit dengan hasil kandungan flavonoid tertinggi pada daun letak 1-5. Variasi morfologi pada setiap letak daun ditunjukkan pada parameter bentuk daun, warna daun, panjang daun dan lebar daun, sedangkan pada parameter permukaan daun, ujung daun, dan tepi daun menunjukkan karakter morfologi yang sama. Kandungan flavonoid total tertinggi terdapat pada letak daun 1-5 yaitu dengan rata-rata sebesar 118,724 ± 4,33 mg QE/g dibandingkan dengan letak daun 6-10 dan 11-15. | Traditional medicinal plants have long been used by communities as a safe and effective alternative for natural treatment. One of the medicinal plant species that has attracted considerable attention is Cyanthillium cinereum (L.) H.Rob., commonly known as sawi langit, which is rich in secondary metabolites, particularly flavonoids. Flavonoids are secondary metabolites widely distributed in plants and are well known for their high antioxidant activity. These compounds help neutralize free radicals produced by plants under drought stress, thereby protecting cells and tissues from oxidative damage. In addition to their role in plants, flavonoids are also widely utilized in pharmaceutical and cosmetic industries due to their antioxidant and anti-inflammatory properties, their ability to protect cells from damage, maintain cellular function, and regulate various biochemical processes within cells. Although C. cinereum has been traditionally used in folk medicine, scientific information regarding variations in its morphological characteristics and flavonoid content based on leaf position remains limited. Therefore, this study aimed to compare the morphological characteristics and flavonoid content of C. cinereum leaves at different leaf positions (1st–5th, 6th–10th, and 11th–15th leaves). Samples were collected from Pekuncen and Cilongok Districts, Banyumas Regency. The experiment was arranged using a Completely Randomized Design (CRD) consisting of three treatments: leaf positions 1st–5th (L1), 6th–10th (L2), and 11th–15th (L3). Each treatment was replicated five times, resulting in a total of 15 experimental units. Morphological observations were conducted descriptively by documenting and describing leaf characteristics, including leaf length, leaf width, leaf shape, leaf color, leaf surface, leaf margin, and leaf apex. Flavonoid analysis was performed qualitatively and quantitatively. Quantitative data were analyzed using one-way Analysis of Variance (ANOVA) at 5% and 1% significance levels, followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT). The results showed that leaf position significantly affected the morphological characteristics and flavonoid content of C. cinereum, with the highest flavonoid content found in leaves at positions 1st–5th. Morphological variation among leaf positions was observed in leaf shape, leaf color, leaf length, and leaf width, whereas leaf surface, leaf apex, and leaf margin exhibited similar characteristics across all leaf positions. The highest total flavonoid content was recorded in leaves at positions 1st–5th, with an average value of 118.724 ± 4.33 mg QE/g, compared with leaves at positions 6th–10th and 11th–15th. | |
| 50493 | 53859 | B1A022132 | KERAGAMAN MIKROBIOTA PADA SALURAN NASOFARING ANAK-ANAK USIA <5 TAHUN DENGAN ANALISIS METAGENOMIK | Saluran pernapasan nasofaring merupakan ekosistem kompleks berbagai mikroorganisme. Struktur komunitas mikrobiota nasofaring berperan dalam homeostasis imunologi dan meningkatkan perlindungan terhadap penyakit infeksi saluran pernapasan akut pada anak-anak usia di bawah lima tahun. Komposisi mikroba bersifat dinamis dan terus-menerus mengalami maturasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor fisiologis, terutama seiring dengan bertambahnya usia anak. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil keragaman, struktur komposisi, dan dinamika taksonomi mikrobiota nasofaring pada anak-anak usia di bawah lima tahun berdasarkan tingkatan kelompok usia. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan analisis metagenomik berbasis sekuensing amplikon gen 16S rRNA terhadap 53 sampel swab nasofaring. Sekuensing dilakukan dengan teknologi sekuensing rantai panjang berbasis platform Oxford Nanopore Technologies (ONT). Seluruh data mentah sekuensing diolah secara in silico melalui tahap kontrol kualitas, pemangkasan adapter, dan filtering panjang bacaan, dan identifikasi taksonomi hingga tingkat resolusi spesies menggunakan pipeline bioinformatika EMU berbasis expectation-maximization. Evaluasi keanekaragaman komunitas mikroba dianalisis secara statistik, mencakup keanekaragaman alfa melalui indeks Shannon, Simpson, Observed Species dan Chao1, serta keanekaragaman beta berbasis matriks jarak PCoA Bray-Curtis yang diuji signifikansi statistiknya menggunakan uji PERMANOVA. Hasil analisis menunjukkan bahwa sekuensing berhasil menghasilkan data berkualitas tinggi yang mampu menghasilkan profil komposisi mikrobiota nasofaring hingga tingkat spesies. Analisis keanekaragaman alfa mengindikasikan adanya variasi komunitas mikroba antar kelompok usia, pada kelompok usia yang lebih tua menunjukkan kecenderungan nilai keanekaragaman yang relatif lebih tinggi dan stabil. Uji PERMANOVA pada keanekaragaman beta mengonfirmasi tidak adanya perbedaan struktur komposisi mikrobiota yang signifikan antar kelompok usia. Profil kelimpahan relatif taksa didominasi oleh genus Streptococcus, Haemophilus, Moraxella, dan Corynebacterium. Penelitian ini memberikan pemahaman epidemiologi molekuler mengenai ekosistem mikroba saluran pernapasan anak. | The nasopharyngeal respiratory tract harbors a complex ecosystem of diverse microorganisms. The structure of the nasopharyngeal microbiota community plays a role in immunological homeostasis and enhances protection against acute respiratory infections in children under five years of age. Microbial composition is dynamic and undergoes continuous maturation influenced by various physiological factors, particularly as the child ages. Therefore, this study aimed to analyze the diversity profile, compositional structure, and taxonomic dynamics of the nasopharyngeal microbiota in children under five, stratified by age group. This study employed a metagenomic analysis approach based on 16S rRNA gene amplicon sequencing of 53 nasopharyngeal swab samples. Sequencing was performed using long-read technology on the Oxford Nanopore Technologies (ONT) platform. Raw sequencing data underwent in silico processing, including quality control, adapter trimming, and read-length filtering, followed by taxonomic identification down to the species level using the expectation-maximization-based EMU bioinformatics pipeline. Microbial community diversity was statistically evaluated, encompassing alpha diversity via Shannon, Simpson, Observed Species, and Chao1 indices and beta diversity based on Bray-Curtis PCoA distance matrices, with statistical significance tested via PERMANOVA. The analysis demonstrated that sequencing successfully yielded high-quality data capable of profiling nasopharyngeal microbiota composition down to the species level. Alpha diversity analysis indicated variations in microbial communities across age groups, with older age groups tending to exhibit relatively higher and more stable diversity values. PERMANOVA testing of beta diversity confirmed the absence of significant differences in microbiota compositional structure between age groups. The relative abundance profile of taxa was dominated by the genera Streptococcus, Haemophilus, Moraxella, and Corynebacterium. This study provides molecular epidemiological insights into the microbial ecosystem of the pediatric respiratory tract. | |
| 50494 | 53901 | E1A022210 | PERLINDUNGAN HUKUM PEMBIAYAAN ATAS PENARIKAN SEPIHAK OBJEK JAMINAN FIDUSIA DALAM SENGKETA KONSUMEN | Berdasarkan UU tentang jaminan fidusia, aturan ini dibuat untuk memberikan kepastian hukum kepada kreditur yang debiturnya telah melakukan cidera janji terhadap hutang hutangnya. Berkaitan dengan sengketa konsumen, kajian ini ditujukan untuk menelaah bentuk pertanggungjawaban sekaligus perlindungan hukum dari lembaga pembiayaan atas tindakan penarikan objek fidusia secara sepihak. Analisis tersebut ditinjau melalui perspektif nomor 8 Tahun 1999 mengenai Perlindungan Konsunen, dengan mengambil rujukan pada Putusan N o . 1/Pdt.Sus-BPSK/2025/PN ldm. Studi ini mengaplikasikan pendekatan yuridis normatif yang bersifat preskriptif dengan bersandar pada penggunaan data sekunder. Adapun teknik penghimpunan bahan hukum dijalankan lewat penelusuran pustaka yang dipaparkan dalam wujud uraian naratif, untuk selanjutya dikaji menggunakan teknik analisis kualitatif. Temuan dari riset ini menegaskan bahwa hak eksekutorial atas objek jaminan fidusia tidaklah bersifat mutlak, melainkan wajib dijalankan dengan berpedoman pada mekanisme Undang-Undang Jaminan Fidusia beserta Putusan MK N o . l8/PUU-XVU/2019, Pelaksanaan eksekusi agunan fidusia baru sah dijalankan apabila pihak pengutang secara nyata ingkar janji dan merelakan penyerahan barang tersebut tanpa paksaan. Penarikan oleh debt collector tanpa prosedur yang sesuai dan Ketiadaan landasan yuridis yang pasti menjadikan tindakan tersebut tergolong sebagai pelanggaran hukum karena melanggar hak konsumen. Perlindungan hukum diberikan melalui peraturan perundang-undangan sebagai upaya preventif dan melalui penyelesaian sengketa, termasuk putusan BPSK, sebagai upaya represif. Meskipun penarikan dilakukan oleh debt collector, perusahaan pembiayaan tetap bertanggung jawab karena pihak tersebut bertindak atas nama perusahaan. | Based on the Law on Fiduciary Security, this regulation was enacted to provide legal certainty for creditors when debtors default on their obligations. In the context of consumer conflicts, this research investigates the accountability of financing institutions and the legal safeguards provide against the one-sided confiscation of fiduciary assets. The evaluation is framed by Law Number 8 of 1999 on Consumer Protection, utilizing Judgment Number l/Pdt.Sus-BPSK/2025/PN ldm as the primary case study. Utilizing a prescriptive normative legal framework, this paper relies on secondary data gathered via literature reviews, which are then detailed descriptively and processed through qualitative analysis. The results reveal that executory powers over such collateral are restricted and must strictly adhere to the Fiduciary Guarantee Law alongside Constitutional Court Ruling Number 18/PUU-XVIl/2019. Consequently, creditors can only seize these assets if the borrower's default is clearly established and they willingly relinquish the property. Repossession by debt collectors without following the prescribed legal procedures constitutes an unlawful act that violates consumers' rights. Legal protection is provided through statutory regulations as a preventive measure and through dispute resolution mechanisms, including decisions of the Consumer Dispute Settlement Agency (BPSK), as a repressive measure. Although the repossession is carried out by debt collectors, the finance company remains legally responsible because the debt collectors act on its behalf Keywords: consumer protection, fiduciwy security, legal liability, unilateral repossession | |
| 50495 | 53902 | E1A022104 | IMPLEMENTASI PRINSIP ACCESS AND BENEFIT SHARING DALAM PROTOKOL NAGOYA TERHADAP PERLINDUNGAN VARIETAS TANAMAN SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN BIOPIRACY DI INDONESIA | Alam beserta kekayaannya berkontribusi aktif dalam kehidupan umat manusia, khususnya terkait pemanfaatan sumber daya genetik (SDG). Prinsip kedaulatan negara atas SDG-nya menggeser paradigma common heritage of mankind sehingga setiap negara memiliki kedaulatan penuh atas SDG dalam wilayahnya untuk melindungi dari biopiracy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prinsip Access Benefit Sharing (ABS) dalam Protokol Nagoya sebagai upaya pencegahan biopiracy serta mengetahui implementasi ABS dalam sistem hukum nasional atas perlindungan varietas tanaman dari biopiracy. Penelitian ini bersifat yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan dan konseptual serta spesifikasi penelitian konsistensi hukum melalui studi kepustakaan dan disajikan melalui teks naratif. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa prinsip ABS diterapkan dalam Protokol Nagoya sebagai bentuk upaya tercapainya keadilan distributif bagi pemulia lokal dan masyarakat adat dari pemanfaatan SDG. Protokol Nagoya yang mengatur pembagian manfaat merupakan langkah preventif dari praktik biopiracy oleh negara maju. Indonesia memiliki Undang-Undang tentang Perlindungan Varietas Tanaman sebagai penghargaan atas pemuliaan tanaman namun belum mengatur pembagian manfaat yang adil. Sejauh ini belum ada undang-undang nasional yang membahas prinsip Access and Benefit Sharing terkait perlindungan varietas tanaman. | Nature and its wealth actively contribute to human life, particularly regarding the utilization of genetic resources (GR). The principle of state sovereignty over its GR has shifted the paradigm from the common heritage of mankind, ensuring that every country has full sovereignty over the genetic resources within its territory to protect them from biopiracy. This study aims to determine the Access and Benefit Sharing (ABS) principle in the Nagoya Protocol as an effort to prevent biopiracy, as well as to understand the implementation of ABS within the national legal system regarding the protection of plant varieties from biopiracy. This research is a normative juridical study utilizing statutory and conceptual approaches, with a research specification focused on legal consistency through literature review, presented via narrative text. The results obtained from this study indicate that the ABS principle is applied in the Nagoya Protocol as a form of effort to achieve distributive justice for local breeders and indigenous communities from the utilization of GR. The existence of the Nagoya Protocol regulating benefit-sharing serves as a preventive measure against biopiracy practices by developed nations. Indonesia has a Plant Variety Protection Act as an appreciation for plant breeding; however, it has not yet regulated fair and equitable benefit-sharing. There is no national law addressing the principles of Access and Benefit Sharing (ABS) in relation to plant variety protection. | |
| 50496 | 53903 | E1B022006 | ANALYSIS OF JUDGES' LEGAL CONSIDERATIONS AGAINST THE PERPETRATOR CRIMINAL ACTS OF PHARMACEUTICAL PRACTICE WITHOUT MEETS SAFETY STANDARDS (Study of District Court Decision Number 397/Pid.Sus/2025/PN Cjr) | Kesehatan merupakan hak asasi manusia yang pelaksanaannya di bidang kefarmasian menuntut keahlian dan kewenangan khusus guna menjamin keselamatan konsumen. Praktik distribusi sediaan farmasi oleh pihak tanpa kompetensi hukum merupakan kejahatan yang mengancam ketahanan kesehatan publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hukum hakim (ratio decidendi) serta akibat hukum terhadap pelaku tindak pidana praktik kefarmasian yang tidak memenuhi standar keamanan, difokuskan pada Putusan Nomor 397/Pid.Sus/2025/PN Cjr. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan kasus (case approach). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertimbangan hakim telah mencerminkan penalaran yudisial yang progresif dalam menerapkan Pasal 435 UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Hakim menafsirkan ketiadaan Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA) dan izin edar bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan perbuatan melawan hukum materiil yang menggugurkan jaminan keamanan produk farmasi. Pembuktian ini juga ditopang secara mutlak oleh alat bukti ilmiah (scientific evidence) berupa uji laboratorium forensik. Akibat hukum yang ditanggung terdakwa adalah pidana penjara selama 2 tahun 3 bulan serta perampasan barang bukti obat keras. Penjatuhan sanksi tersebut dinilai berhasil mengharmonisasikan tiga pilar teori tujuan hukum Gustav Radbruch, yaitu kepastian hukum melalui penerapan sanksi yang tegas, kemanfaatan hukum untuk memutus rantai peredaran obat berbahaya di kalangan generasi muda, serta keadilan proporsional yang mengalkulasi latar belakang sosiologis dan sikap kooperatif terdakwa. | Health is a human right whose implementation in the pharmaceutical field requires specific expertise and authority to ensure consumer safety. The practice of distributing pharmaceutical preparations by parties without legal competence is a crime that threatens public health security. This study aims to analyze the judge's legal consideration (ratio decidendi) and the legal consequences for the perpetrator of a criminal act of pharmaceutical practice that does not meet safety standards, focusing on Decision Number 397/Pid.Sus/2025/PN Cjr. This research employs a normative juridical research method with a statute approach and a case approach. The results indicate that the judge's consideration reflects progressive judicial reasoning in applying Article 435 of Law Number 17 of 2023 concerning Health. The judge interprets the absence of a Pharmacist Practice License (SIPA) and distribution license not merely as an administrative violation, but as a material unlawful act that nullifies the safety guarantees of pharmaceutical products. This evidentiary process is also absolutely supported by scientific evidence in the form of forensic laboratory tests. The legal consequence borne by the defendant is imprisonment for 2 years and 3 months, as well as the confiscation of evidence in the form of hard drugs. The imposition of these sanctions is considered successful in harmonizing the three pillars of Gustav Radbruch's theory of legal objectives, namely legal certainty through the application of strict sanctions, legal utility to break the distribution chain of dangerous drugs among the younger generation, and proportional justice that takes into account the sociological background and the cooperative attitude of the defendant. | |
| 50497 | 53801 | J1E022067 | English Teachers’ Perspectives on the Use of Warming-Up Activities in Teaching Speaking (A Descriptive-Qualitative Study at Britania English Course Purwokerto) | Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi kegiatan warming-up dalam pembelajaran berbicara (speaking) serta mengeksplorasi perspektif guru bahasa Inggris terhadap penggunaannya di Britania English Course Purwokerto. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya keterampilan berbicara dalam pembelajaran EFL (English as a Foreign Language), khususnya karena adanya kecemasan, kurangnya rasa percaya diri, serta keterbatasan kesiapan siswa dalam berpartisipasi pada komunikasi lisan, serta perlunya kesiapan kognitif, emosional, dan fisik siswa sebelum melakukan aktivitas berbicara. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan melibatkan dua guru bahasa Inggris berpengalaman di Britania Purwokerto. Data dikumpulkan melalui observasi kelas dan wawancara semi-terstruktur pada April 2026, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik Braun dan Clarke (2006). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan warming-up secara konsisten diterapkan pada awal pembelajaran berbicara melalui pengulangan berbasis tata bahasa, latihan vokal, gerakan fisik, small talk, serta interaksi kolaboratif. Guru memandang kegiatan warming-up secara positif karena membantu meningkatkan fokus, pemahaman tata bahasa, rasa percaya diri, kelancaran berbicara, dan kesiapan siswa dalam berbicara. Kegiatan tersebut juga membantu mengurangi kecemasan serta menciptakan suasana belajar yang mendukung. Meskipun demikian, ditemukan beberapa tantangan, seperti rasa malu siswa, kondisi fisik, dan perbedaan motivasi belajar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kegiatan warming-up berperan sebagai strategi pedagogis yang mendukung kesiapan berbicara dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran berbicara EFL. | This study aims to investigate the implementation of warming-up activities in teaching speaking and explored English teachers’ perspectives regarding their use at Britania English Course Purwokerto. The study was motivated by the importance of speaking as one of the most challenging skills for EFL learners, particularly due to anxiety, lack of confidence, and limited readiness to participate in oral communication. Warming-up activities were considered important because they could prepare students cognitively, emotionally, and physically before engaging in speaking tasks. This research employed a descriptive qualitative design involving two experienced English teachers at Britania Purwokerto. The data were collected through classroom observations and semi-structured interviews conducted in April 2026. The data were analyzed using thematic analysis proposed by Braun and Clarke (2006). The findings revealed that warming-up activities were consistently implemented at the beginning of speaking lessons as part of the teachers’ instructional routines. The activities included grammar-based repetition, vocal exercises, physical movement, gestures, small talk, and collaborative interaction. Teachers used warming-up activities as lesson-opening and transitional strategies to prepare students before entering the main speaking activities. Furthermore, teachers perceived warming-up activities positively because they helped improve students’ focus, grammar understanding, confidence, fluency, and speaking readiness while reducing anxiety and creating a supportive classroom atmosphere. However, several challenges were identified, including students’ shyness, physical limitations, and varying motivation levels. Overall, the study concluded that warming-up activities functioned as meaningful pedagogical strategies that supported speaking preparation, classroom engagement, and students’ communicative readiness in EFL speaking classes. | |
| 50498 | 53904 | A1D022028 | Pengendalian Penyakit Moler dengan Bakteri Rizosfer Bawang Merah Tunggal dan Konsorsium pada Pola Tanam Berbeda | Penyakit moler adalah salah satu penyakit utama tanaman bawang merah yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum f.sp. cepae (Hanz.) Snyd. & Hans. Kerugian yang disebabkan oleh penyakit ini mencapai 50%. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan yaitu menggunakan bakteri rizosfer. Bakteri rizosfer yang digunakan yaitu 5 isolat berupa Bm1, Bm2, Bm3, Bm4, dan konsorsium. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menguji potensi bakteri rizosfer bawang merah secara tunggal dan konsorsium sebagai biokontrol terhadap jamur F. oxysporum f.sp. cepae in vitro dan mengevaluasi efektivitas isolat bakteri rizosfer bawang merah secara tunggal dan konsorsium sebagai pengendali penyakit moler pada pola tanam berbeda. Penelitian dilakukan pada bulan April sampai November 2025 di lahan Desa Linggasari, Kec. Kembaran, Kab. Banyumas dengan ketinggian tempat 117 mdpl (7°23′43″S 109°17′30″E) dan Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini dimulai dengan persiapan alat dan bahan, pembuatan formula cair, penanaman, aplikasi, pengamatan, uji laboratorium, dan analisis data. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok faktorial (RAKF) dengan pola faktorial 2×6 dengan 3 ulangan (lahan) serta rancangan acak lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan (in vitro). Hasil pengamatan dianalisis dengan ANOVA 5% dan jika berpengaruh nyata dilanjutkan dengan DMRT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bakteri rizosfer bawang merah tunggal dan konsorsium cukup efektif sebagai agens biokontrol (in vitro), hal ini dibuktikan dengan indeks kitinolitik tertinggi pada Bm1 sebesar 1,8 serta hasil uji daya hambat konsorsium yang memiliki kemampuan penghambatan tertinggi sebesar 20,83%. Di lahan, hasil penelitian menunjukkan penekanan penyakit moler dengan perlakuan P4 (Bm4) yang menekan intensitas penyakit dengan efektivitas 66,01%, mengurangi nilai AUDPC menjadi 25,27 %.hari, dan menekan laju infeksi menjadi 0,0054 unit/hari dibandingkan dengan perlakuan kontrol serta tumpang sari dengan isolat Bm4 berpotensi memberikan hasil terbaik dengan efektivitas penekanan penyakit yaitu 74,86%. | Moler disease is one of the major diseases affecting shallots, caused by the fungus Fusarium oxysporum f.sp. cepae (Hanz.) Snyd. & Hans. Losses caused by this disease can reach 50%. One possible alternative is the use of rhizosphere bacteria. The rhizosphere bacteria used in this study were five isolates: Bm1, Bm2, Bm3, Bm4, and a consortium. The objective of this study was to test the potential of red onion rhizosphere bacteria, both individually and as a consortium, as biocontrol agents against the fungus F. oxysporum f.sp. cepae in vitro and to evaluate the effectiveness of individual red onion rhizosphere bacterial isolates and the consortium in controlling root rot under different cropping patterns. The study was conducted from April to November 2025 on land in Linggasari Village, Kembaran Subdistrict, Banyumas Regency, at an elevation of 117 meters above sea level (7°23′43″S 109°17′30″E), and at the Plant Protection Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. This study began with the preparation of equipment and materials, the formulation of the liquid solution, planting, application, observation, laboratory testing, and data analysis. This study used a factorial randomized block design (RAKF) with a 2×6 factorial pattern and 3 replicates (field) as well as a completely randomized design (RAL) with 6 treatments and 3 replicates (in vitro). The observation results were analyzed using ANOVA at the 5% level, and if a significant effect was found, the analysis was continued using DMRT at the 5% level. The results of the study indicate that the rhizosphere bacteria of single shallots and the consortium are quite effective as biocontrol agents (in vitro), as evidenced by the highest chitinolytic index of 1.8 for Bm1 and the inhibition test results showing that the consortium had the highest inhibition rate of 20.83%. In the field, the results showed suppression of moler disease with treatment P4 (Bm4), which reduced disease intensity by 66.01%, decreased the AUDPC to 25,27 %.day, and reducing the infection rate to 0.0054 units/day compared to the control treatment while others intercropping with the Bm4 isolate has the potential to yield the best results, with a disease suppression effectiveness of 74.86%. | |
| 50499 | 53905 | J1D022042 | NILAI MORAL TOKOH UTAMA DALAM NOVEL DARI AKU YANG HAMPIR MENYERAH KARYA KHOIRUL TRIAN | Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai moral yang terkait dengan berbagai dimensi dan permasalahan kehidupan, nilai moral tersebut meliputi hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusa dengan manusia lain, dan hubungan manusia dengan lingkungan serta alam. Metode dalam penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif, metode penelitian kualitatif deskriptif data dikumpulkan berupa kata dan kutipan dengan teknik membaca dan mencatat. Hasil yang ditemukan hubungan manusia dengan Tuhan seperti, manusia lain, diri sendiri serta lingkungan sosial dalam penelitian yang terdapat nilai moral. Nilai moral yang terdapat dari analisis tersebut yaitu Hubungan nili moral dan fungsi nilai, nilai moral keteguhan hati, ketekunan, harmoni, dan empati. Dalam penelitian ini terdapat nilai moral yang domina yaitu hubungan manusia dengan diri sendiri yaitu nilai moral ketekunan sedangkan fungsi nilai moral yang paling dominan yang menyampaikan ajaran baik dan buruk pedoman perilaku sebagai penbentukan karakter manusia dalam sosial yang paling dominan nilai moral reflektif dalam novel Dari Aku Yang Hampir Menyerah karya Khoirul Trian. | This study aims to describe moral values related to various dimensions and issues of life. These moral values include the relationship between humans and God, the relationship between humans and themselves, the relationship between humans and other humans, and the relationship between humans and the environment and nature. This study employed a descriptive qualitative research method. Data were collected in the form of words and quotations using reading and note-taking techniques. The results revealed that the relationship between humans and God, other humans, themselves, and the social environment contained moral values. The moral values identified from this analysis include the relationship between moral values and their functions, and the moral values of fortitude, perseverance, harmony, and empathy. In this study, there is a dominant moral value, namely the relationship between humans and themselves, namely the moral value of perseverance, while the most dominant function of moral values is to convey good and bad teachings, behavioral guidelines as the formation of human character in the most dominant social reflective moral value in the novel From Me Who Almost Surrender by Khoirul Trian. |