Artikelilmiahs
Menampilkan 50.541-50.560 dari 50.611 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 50541 | 53859 | B1A022132 | KERAGAMAN MIKROBIOTA PADA SALURAN NASOFARING ANAK-ANAK USIA <5 TAHUN DENGAN ANALISIS METAGENOMIK | Saluran pernapasan nasofaring merupakan ekosistem kompleks berbagai mikroorganisme. Struktur komunitas mikrobiota nasofaring berperan dalam homeostasis imunologi dan meningkatkan perlindungan terhadap penyakit infeksi saluran pernapasan akut pada anak-anak usia di bawah lima tahun. Komposisi mikroba bersifat dinamis dan terus-menerus mengalami maturasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor fisiologis, terutama seiring dengan bertambahnya usia anak. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil keragaman, struktur komposisi, dan dinamika taksonomi mikrobiota nasofaring pada anak-anak usia di bawah lima tahun berdasarkan tingkatan kelompok usia. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan analisis metagenomik berbasis sekuensing amplikon gen 16S rRNA terhadap 53 sampel swab nasofaring. Sekuensing dilakukan dengan teknologi sekuensing rantai panjang berbasis platform Oxford Nanopore Technologies (ONT). Seluruh data mentah sekuensing diolah secara in silico melalui tahap kontrol kualitas, pemangkasan adapter, dan filtering panjang bacaan, dan identifikasi taksonomi hingga tingkat resolusi spesies menggunakan pipeline bioinformatika EMU berbasis expectation-maximization. Evaluasi keanekaragaman komunitas mikroba dianalisis secara statistik, mencakup keanekaragaman alfa melalui indeks Shannon, Simpson, Observed Species dan Chao1, serta keanekaragaman beta berbasis matriks jarak PCoA Bray-Curtis yang diuji signifikansi statistiknya menggunakan uji PERMANOVA. Hasil analisis menunjukkan bahwa sekuensing berhasil menghasilkan data berkualitas tinggi yang mampu menghasilkan profil komposisi mikrobiota nasofaring hingga tingkat spesies. Analisis keanekaragaman alfa mengindikasikan adanya variasi komunitas mikroba antar kelompok usia, pada kelompok usia yang lebih tua menunjukkan kecenderungan nilai keanekaragaman yang relatif lebih tinggi dan stabil. Uji PERMANOVA pada keanekaragaman beta mengonfirmasi tidak adanya perbedaan struktur komposisi mikrobiota yang signifikan antar kelompok usia. Profil kelimpahan relatif taksa didominasi oleh genus Streptococcus, Haemophilus, Moraxella, dan Corynebacterium. Penelitian ini memberikan pemahaman epidemiologi molekuler mengenai ekosistem mikroba saluran pernapasan anak. | The nasopharyngeal respiratory tract harbors a complex ecosystem of diverse microorganisms. The structure of the nasopharyngeal microbiota community plays a role in immunological homeostasis and enhances protection against acute respiratory infections in children under five years of age. Microbial composition is dynamic and undergoes continuous maturation influenced by various physiological factors, particularly as the child ages. Therefore, this study aimed to analyze the diversity profile, compositional structure, and taxonomic dynamics of the nasopharyngeal microbiota in children under five, stratified by age group. This study employed a metagenomic analysis approach based on 16S rRNA gene amplicon sequencing of 53 nasopharyngeal swab samples. Sequencing was performed using long-read technology on the Oxford Nanopore Technologies (ONT) platform. Raw sequencing data underwent in silico processing, including quality control, adapter trimming, and read-length filtering, followed by taxonomic identification down to the species level using the expectation-maximization-based EMU bioinformatics pipeline. Microbial community diversity was statistically evaluated, encompassing alpha diversity via Shannon, Simpson, Observed Species, and Chao1 indices and beta diversity based on Bray-Curtis PCoA distance matrices, with statistical significance tested via PERMANOVA. The analysis demonstrated that sequencing successfully yielded high-quality data capable of profiling nasopharyngeal microbiota composition down to the species level. Alpha diversity analysis indicated variations in microbial communities across age groups, with older age groups tending to exhibit relatively higher and more stable diversity values. PERMANOVA testing of beta diversity confirmed the absence of significant differences in microbiota compositional structure between age groups. The relative abundance profile of taxa was dominated by the genera Streptococcus, Haemophilus, Moraxella, and Corynebacterium. This study provides molecular epidemiological insights into the microbial ecosystem of the pediatric respiratory tract. | |
| 50542 | 53873 | B1A022014 | Keanekaragaman Tanaman Jeruk (Citrus spp.) di Kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga | Citrus merupakan salah satu genus dari famili Rutaceae yang tersebar luas di wilayah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini memiliki tingkat keragaman yang tinggi, karena beberapa spesiesnya dapat saling bersilangan sehingga menunjukkan variasi karakter morfologi dan genetik. Penelitian mengenai keanekaragaman tanaman Citrus (jeruk) di wilayah Bukateja masih terbatas, sehingga diperlukan studi lebih lanjut untuk mengidentifikasi dan mengkarakterisasi variasi morfologi Citrus yang terdapat di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan hubungan kemiripan Citrus berdasarkan karakter morfologi di Kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini dilakukan di lima desa yang ada di Kecamatan Bukateja, yaitu Desa Kembangan, Cipawon, Karangcengis, Karanggedang, dan Kutawis menggunakan metode survei dengan teknik purposive sampling. Penelitian telah dilakukan pada bulan Maret hingga Mei 2026. Variabel yang digunakan adalah karakter morfologi batang, daun, bunga, buah, dan biji. Parameter yang diamati meliputi habitus, tinggi tanaman, diameter dan warna kulit batang, keberadaan duri pada ranting, bentuk daun, panjang dan lebar daun, ujung daun, tepi daun, pangkal daun, keberadaan sayap tangkai daun, bentuk sayap tangkai daun, panjang dan lebar sayap daun, struktur permukaan atas dan bawah daun, warna permukaan atas dan bawah daun, panjang tangkai daun, jumlah bunga dalam satu tangkai, panjang tangkai bunga, warna dan jumlah kelopak bunga, warna dan jumlah mahkota, berat buah, diameter dan panjang buah, bentuk buah, ujung buah, pangkal buah, warna kulit buah muda dan matang, tekstur permukaan kulit buah, warna bulir buah, rasa buah, bentuk biji, jumlah dan warna biji. Data dianalisis secara deskriptif dan hubungan kemiripan dianalisis menggunakan metode UPGMA (Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean) melalui software MEGA 12 (Molecular Evolutionary Genetic Analysis version 12). Hasil penelitian didapatkan tujuh anggota genus Citrus yang terdiri atas enam spesies dan satu kultivar yang ditemukan di wilayah Kecamatan Bukateja. Enam spesies yang diperoleh meliputi C. sinensis, C. limon, C. aurantiifolia, C. hystrix, C. maxima, C. amblycarpa, serta satu kultivar yaitu C. reticulata ‘Shiranui’. Hubungan kemiripan paling dekat yaitu antara C. aurantiifolia dan C. amblycarpa dengan nilai indeks ketidakmiripan sebesar 0,415, sedangkan hubungan kemiripan terjauh yaitu antara C. reticulata ‘Shiranui’ dan C. maxima dengan nilai indeks ketidakmiripan sebesar 1,691. | Citrus is a genus of the family Rutaceae widely distributed in tropical and subtropical regions, including Indonesia. This plant exhibits a high level of diversity, as some species can interbreed, exhibiting variations in morphological and genetic characteristics. Research on the diversity of citrus plants in the Bukateja region is still limited, so further studies are needed to identify and characterize the morphological variations of citrus species found in the region. This study aims to determine the diversity and similarity of citrus species based on morphological characteristics in Bukateja District, Purbalingga Regency. This research was conducted in five villages within Bukateja District: Kembangan, Cipawon, Karangcengis, Karanggedang, and Kutawis, using a survey method with purposive sampling. The study was conducted from March to May 2026. The variables used were the morphological characteristics of stems, leaves, flowers, fruits, and seeds. The parameters observed included habitus, plant height, diameter and color of stem bark, presence of thorns on branches, leaf shape, leaf length and width, leaf tip, leaf edge, leaf base, presence of leaf petiole wings, leaf petiole wing shape, leaf wing length and width, leaf structure of upper and lower surfaces of leaves, color of upper and lower surfaces of leaves, leaf stalk length, number of flowers in one stalk, flower stalk length, color and number of petals, color and number of crowns, fruit weight, fruit diameter and length, fruit shape, fruit tip, fruit base, color of young and ripe fruit skin, fruit skin surface texture, fruit grain color, fruit taste, seed shape, number and color of seeds. Data were analyzed descriptively and similarity relationships were analyzed using the UPGMA method (Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean) through MEGA 12 software (Molecular Evolutionary Genetic Analysis version 12). The results of the study obtained seven members of the genus Citrus consisting of six species and one cultivar found in the Bukateja District area. The six species obtained include C. sinensis, C. limon, C. aurantiifolia, C. hystrix, C. maxima, C. amblycarpa, and one cultivar, namely C. reticulata ‘Shiranui’. The closest similarity relationship is between C. aurantiifolia and C. amblycarpa with a dissimilarity index value of 0.415, while the furthest similarity relationship is between C. reticulata ‘Shiranui’ and C. maxima with a dissimilarity index value of 1.691. | |
| 50543 | 53901 | E1A022210 | PERLINDUNGAN HUKUM PEMBIAYAAN ATAS PENARIKAN SEPIHAK OBJEK JAMINAN FIDUSIA DALAM SENGKETA KONSUMEN | Berdasarkan UU tentang jaminan fidusia, aturan ini dibuat untuk memberikan kepastian hukum kepada kreditur yang debiturnya telah melakukan cidera janji terhadap hutang hutangnya. Berkaitan dengan sengketa konsumen, kajian ini ditujukan untuk menelaah bentuk pertanggungjawaban sekaligus perlindungan hukum dari lembaga pembiayaan atas tindakan penarikan objek fidusia secara sepihak. Analisis tersebut ditinjau melalui perspektif nomor 8 Tahun 1999 mengenai Perlindungan Konsunen, dengan mengambil rujukan pada Putusan N o . 1/Pdt.Sus-BPSK/2025/PN ldm. Studi ini mengaplikasikan pendekatan yuridis normatif yang bersifat preskriptif dengan bersandar pada penggunaan data sekunder. Adapun teknik penghimpunan bahan hukum dijalankan lewat penelusuran pustaka yang dipaparkan dalam wujud uraian naratif, untuk selanjutya dikaji menggunakan teknik analisis kualitatif. Temuan dari riset ini menegaskan bahwa hak eksekutorial atas objek jaminan fidusia tidaklah bersifat mutlak, melainkan wajib dijalankan dengan berpedoman pada mekanisme Undang-Undang Jaminan Fidusia beserta Putusan MK N o . l8/PUU-XVU/2019, Pelaksanaan eksekusi agunan fidusia baru sah dijalankan apabila pihak pengutang secara nyata ingkar janji dan merelakan penyerahan barang tersebut tanpa paksaan. Penarikan oleh debt collector tanpa prosedur yang sesuai dan Ketiadaan landasan yuridis yang pasti menjadikan tindakan tersebut tergolong sebagai pelanggaran hukum karena melanggar hak konsumen. Perlindungan hukum diberikan melalui peraturan perundang-undangan sebagai upaya preventif dan melalui penyelesaian sengketa, termasuk putusan BPSK, sebagai upaya represif. Meskipun penarikan dilakukan oleh debt collector, perusahaan pembiayaan tetap bertanggung jawab karena pihak tersebut bertindak atas nama perusahaan. | Based on the Law on Fiduciary Security, this regulation was enacted to provide legal certainty for creditors when debtors default on their obligations. In the context of consumer conflicts, this research investigates the accountability of financing institutions and the legal safeguards provide against the one-sided confiscation of fiduciary assets. The evaluation is framed by Law Number 8 of 1999 on Consumer Protection, utilizing Judgment Number l/Pdt.Sus-BPSK/2025/PN ldm as the primary case study. Utilizing a prescriptive normative legal framework, this paper relies on secondary data gathered via literature reviews, which are then detailed descriptively and processed through qualitative analysis. The results reveal that executory powers over such collateral are restricted and must strictly adhere to the Fiduciary Guarantee Law alongside Constitutional Court Ruling Number 18/PUU-XVIl/2019. Consequently, creditors can only seize these assets if the borrower's default is clearly established and they willingly relinquish the property. Repossession by debt collectors without following the prescribed legal procedures constitutes an unlawful act that violates consumers' rights. Legal protection is provided through statutory regulations as a preventive measure and through dispute resolution mechanisms, including decisions of the Consumer Dispute Settlement Agency (BPSK), as a repressive measure. Although the repossession is carried out by debt collectors, the finance company remains legally responsible because the debt collectors act on its behalf Keywords: consumer protection, fiduciwy security, legal liability, unilateral repossession | |
| 50544 | 53902 | E1A022104 | IMPLEMENTASI PRINSIP ACCESS AND BENEFIT SHARING DALAM PROTOKOL NAGOYA TERHADAP PERLINDUNGAN VARIETAS TANAMAN SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN BIOPIRACY DI INDONESIA | Alam beserta kekayaannya berkontribusi aktif dalam kehidupan umat manusia, khususnya terkait pemanfaatan sumber daya genetik (SDG). Prinsip kedaulatan negara atas SDG-nya menggeser paradigma common heritage of mankind sehingga setiap negara memiliki kedaulatan penuh atas SDG dalam wilayahnya untuk melindungi dari biopiracy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prinsip Access Benefit Sharing (ABS) dalam Protokol Nagoya sebagai upaya pencegahan biopiracy serta mengetahui implementasi ABS dalam sistem hukum nasional atas perlindungan varietas tanaman dari biopiracy. Penelitian ini bersifat yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan dan konseptual serta spesifikasi penelitian konsistensi hukum melalui studi kepustakaan dan disajikan melalui teks naratif. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa prinsip ABS diterapkan dalam Protokol Nagoya sebagai bentuk upaya tercapainya keadilan distributif bagi pemulia lokal dan masyarakat adat dari pemanfaatan SDG. Protokol Nagoya yang mengatur pembagian manfaat merupakan langkah preventif dari praktik biopiracy oleh negara maju. Indonesia memiliki Undang-Undang tentang Perlindungan Varietas Tanaman sebagai penghargaan atas pemuliaan tanaman namun belum mengatur pembagian manfaat yang adil. Sejauh ini belum ada undang-undang nasional yang membahas prinsip Access and Benefit Sharing terkait perlindungan varietas tanaman. | Nature and its wealth actively contribute to human life, particularly regarding the utilization of genetic resources (GR). The principle of state sovereignty over its GR has shifted the paradigm from the common heritage of mankind, ensuring that every country has full sovereignty over the genetic resources within its territory to protect them from biopiracy. This study aims to determine the Access and Benefit Sharing (ABS) principle in the Nagoya Protocol as an effort to prevent biopiracy, as well as to understand the implementation of ABS within the national legal system regarding the protection of plant varieties from biopiracy. This research is a normative juridical study utilizing statutory and conceptual approaches, with a research specification focused on legal consistency through literature review, presented via narrative text. The results obtained from this study indicate that the ABS principle is applied in the Nagoya Protocol as a form of effort to achieve distributive justice for local breeders and indigenous communities from the utilization of GR. The existence of the Nagoya Protocol regulating benefit-sharing serves as a preventive measure against biopiracy practices by developed nations. Indonesia has a Plant Variety Protection Act as an appreciation for plant breeding; however, it has not yet regulated fair and equitable benefit-sharing. There is no national law addressing the principles of Access and Benefit Sharing (ABS) in relation to plant variety protection. | |
| 50545 | 53903 | E1B022006 | ANALYSIS OF JUDGES' LEGAL CONSIDERATIONS AGAINST THE PERPETRATOR CRIMINAL ACTS OF PHARMACEUTICAL PRACTICE WITHOUT MEETS SAFETY STANDARDS (Study of District Court Decision Number 397/Pid.Sus/2025/PN Cjr) | Kesehatan merupakan hak asasi manusia yang pelaksanaannya di bidang kefarmasian menuntut keahlian dan kewenangan khusus guna menjamin keselamatan konsumen. Praktik distribusi sediaan farmasi oleh pihak tanpa kompetensi hukum merupakan kejahatan yang mengancam ketahanan kesehatan publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hukum hakim (ratio decidendi) serta akibat hukum terhadap pelaku tindak pidana praktik kefarmasian yang tidak memenuhi standar keamanan, difokuskan pada Putusan Nomor 397/Pid.Sus/2025/PN Cjr. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan kasus (case approach). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertimbangan hakim telah mencerminkan penalaran yudisial yang progresif dalam menerapkan Pasal 435 UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Hakim menafsirkan ketiadaan Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA) dan izin edar bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan perbuatan melawan hukum materiil yang menggugurkan jaminan keamanan produk farmasi. Pembuktian ini juga ditopang secara mutlak oleh alat bukti ilmiah (scientific evidence) berupa uji laboratorium forensik. Akibat hukum yang ditanggung terdakwa adalah pidana penjara selama 2 tahun 3 bulan serta perampasan barang bukti obat keras. Penjatuhan sanksi tersebut dinilai berhasil mengharmonisasikan tiga pilar teori tujuan hukum Gustav Radbruch, yaitu kepastian hukum melalui penerapan sanksi yang tegas, kemanfaatan hukum untuk memutus rantai peredaran obat berbahaya di kalangan generasi muda, serta keadilan proporsional yang mengalkulasi latar belakang sosiologis dan sikap kooperatif terdakwa. | Health is a human right whose implementation in the pharmaceutical field requires specific expertise and authority to ensure consumer safety. The practice of distributing pharmaceutical preparations by parties without legal competence is a crime that threatens public health security. This study aims to analyze the judge's legal consideration (ratio decidendi) and the legal consequences for the perpetrator of a criminal act of pharmaceutical practice that does not meet safety standards, focusing on Decision Number 397/Pid.Sus/2025/PN Cjr. This research employs a normative juridical research method with a statute approach and a case approach. The results indicate that the judge's consideration reflects progressive judicial reasoning in applying Article 435 of Law Number 17 of 2023 concerning Health. The judge interprets the absence of a Pharmacist Practice License (SIPA) and distribution license not merely as an administrative violation, but as a material unlawful act that nullifies the safety guarantees of pharmaceutical products. This evidentiary process is also absolutely supported by scientific evidence in the form of forensic laboratory tests. The legal consequence borne by the defendant is imprisonment for 2 years and 3 months, as well as the confiscation of evidence in the form of hard drugs. The imposition of these sanctions is considered successful in harmonizing the three pillars of Gustav Radbruch's theory of legal objectives, namely legal certainty through the application of strict sanctions, legal utility to break the distribution chain of dangerous drugs among the younger generation, and proportional justice that takes into account the sociological background and the cooperative attitude of the defendant. | |
| 50546 | 53801 | J1E022067 | English Teachers’ Perspectives on the Use of Warming-Up Activities in Teaching Speaking (A Descriptive-Qualitative Study at Britania English Course Purwokerto) | Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi kegiatan warming-up dalam pembelajaran berbicara (speaking) serta mengeksplorasi perspektif guru bahasa Inggris terhadap penggunaannya di Britania English Course Purwokerto. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya keterampilan berbicara dalam pembelajaran EFL (English as a Foreign Language), khususnya karena adanya kecemasan, kurangnya rasa percaya diri, serta keterbatasan kesiapan siswa dalam berpartisipasi pada komunikasi lisan, serta perlunya kesiapan kognitif, emosional, dan fisik siswa sebelum melakukan aktivitas berbicara. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan melibatkan dua guru bahasa Inggris berpengalaman di Britania Purwokerto. Data dikumpulkan melalui observasi kelas dan wawancara semi-terstruktur pada April 2026, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik Braun dan Clarke (2006). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan warming-up secara konsisten diterapkan pada awal pembelajaran berbicara melalui pengulangan berbasis tata bahasa, latihan vokal, gerakan fisik, small talk, serta interaksi kolaboratif. Guru memandang kegiatan warming-up secara positif karena membantu meningkatkan fokus, pemahaman tata bahasa, rasa percaya diri, kelancaran berbicara, dan kesiapan siswa dalam berbicara. Kegiatan tersebut juga membantu mengurangi kecemasan serta menciptakan suasana belajar yang mendukung. Meskipun demikian, ditemukan beberapa tantangan, seperti rasa malu siswa, kondisi fisik, dan perbedaan motivasi belajar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kegiatan warming-up berperan sebagai strategi pedagogis yang mendukung kesiapan berbicara dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran berbicara EFL. | This study aims to investigate the implementation of warming-up activities in teaching speaking and explored English teachers’ perspectives regarding their use at Britania English Course Purwokerto. The study was motivated by the importance of speaking as one of the most challenging skills for EFL learners, particularly due to anxiety, lack of confidence, and limited readiness to participate in oral communication. Warming-up activities were considered important because they could prepare students cognitively, emotionally, and physically before engaging in speaking tasks. This research employed a descriptive qualitative design involving two experienced English teachers at Britania Purwokerto. The data were collected through classroom observations and semi-structured interviews conducted in April 2026. The data were analyzed using thematic analysis proposed by Braun and Clarke (2006). The findings revealed that warming-up activities were consistently implemented at the beginning of speaking lessons as part of the teachers’ instructional routines. The activities included grammar-based repetition, vocal exercises, physical movement, gestures, small talk, and collaborative interaction. Teachers used warming-up activities as lesson-opening and transitional strategies to prepare students before entering the main speaking activities. Furthermore, teachers perceived warming-up activities positively because they helped improve students’ focus, grammar understanding, confidence, fluency, and speaking readiness while reducing anxiety and creating a supportive classroom atmosphere. However, several challenges were identified, including students’ shyness, physical limitations, and varying motivation levels. Overall, the study concluded that warming-up activities functioned as meaningful pedagogical strategies that supported speaking preparation, classroom engagement, and students’ communicative readiness in EFL speaking classes. | |
| 50547 | 53963 | J1D022053 | ANALISIS SEMIOTIKA RIFFATERRE PADA PUISI SELAMAT TIDUR DAN LAUT KARYA JOKO PINURBO | Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemaknaan melalui pembacaan heuristik, hermeneutik, matriks, model, varian, dan hipogram pada puisi Selamat Tidur dan Laut karya Joko Pinurbo menggunakan pendekatan semiotika Michael Riffaterre. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa teks puisi Selamat Tidur dan Laut. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik baca dan catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara heuristik, puisi Selamat Tidur merepresentasikan keinginan telepon genggam untuk beristirahat, sementara puisi Laut merepresentasikan rekreasi telepon genggam ke pantai. Secara hermeneutik, Selamat Tidur merupakan perjalanan menuju keheningan bermakna sebagai bentuk kepasrahan melepaskan diri dari kebisingan digital. Di sisi lain, Laut bermakna sebagai upaya mencari ketenangan alam namun tetap terganggu oleh tuntutan kebisingan telepon genggam. Matriks yang ditemukan pada Selamat Tidur adalah regresi, dengan model kalimat telepon genggam mau tidur dan varian berupa regresi agensi, linguistik, pra-linguistik, serta pra-bunyi. Hipogram yang melatarbelakangi puisi ini meliputi fenomena penggunaan SMS tahun 2003, puisi angkatan 45, serta biografi Beethoven. Sementara itu, matriks pada puisi Laut adalah paradoks mediasi, dengan model kalimat sekali-sekali telepon genggam perlu diajak piknik dan varian berupa pemberian objek aktif pada benda mati, batas ontologis teknologi dan alam, pembalikan hierarki subjek, dan resolusi melalui kerentanan. Hipogram puisi Laut mencakup narasi kemajuan teknologi, tradisi puisi lirik alam, simbol laut, serta tradisi kosmologis kondisi sakit. Secara keseluruhan, kajian ini mengungkap bahwa kedua puisi tersebut merefleksikan pencarian ketenangan manusia di tengah kebisingan digital, sekaligus menjadi refleksi kritis untuk menggunakan perangkat teknologi secara lebih bijak. | This study aims to describe the meaning-making process through heuristic and hermeneutic readings, as well as the analysis of matrices, models, variants, and hypograms of the poems Selamat Tidur and Laut by Joko Pinurbo, utilizing Michael Riffaterre’s semiotic approach. This is a qualitative descriptive study. The research data consists of the texts of the poems Selamat Tidur and Laut. Data collection was conducted using the read and note technique. The results indicate that, heuristically, Selamat Tidur represents a mobile phone's desire to rest, while Laut represents a mobile phone's excursion to the beach. Hermeneutically, Selamat Tidur signifies a journey toward meaningful silence as an act of surrender and detachment from digital noise. Conversely, Laut signifies an attempt to seek natural tranquility that remains disrupted by the clamorous demands of the mobile phone. The matrix identified in Selamat Tidur is regression, with the model being the sentence "the mobile phone wants to sleep, and variants comprising agency, linguistic, pre-linguistic, and pre-sound regressions. The hypograms underlying this poem include the phenomenon of SMS usage in 2003, the poetry of the Generation of '45, and the biography of Beethoven. Meanwhile, the matrix in Laut is the paradox of mediation, with the model being the sentence occasionally, the mobile phone needs to be taken on a picnic and variants including the attribution of active agency to an inanimate object, the ontological boundary between technology and nature, the reversal of subject hierarchy, and resolution through vulnerability. The hypograms for Laut encompass narratives of technological progress, the tradition of nature lyric poetry, sea symbolism, and the cosmological tradition regarding illness. Overall, this study reveals that both poems reflect the human quest for tranquility amidst digital noise, while simultaneously serving as a critical reflection on the need for wiser use of technological devices. | |
| 50548 | 53904 | A1D022028 | Pengendalian Penyakit Moler dengan Bakteri Rizosfer Bawang Merah Tunggal dan Konsorsium pada Pola Tanam Berbeda | Penyakit moler adalah salah satu penyakit utama tanaman bawang merah yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum f.sp. cepae (Hanz.) Snyd. & Hans. Kerugian yang disebabkan oleh penyakit ini mencapai 50%. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan yaitu menggunakan bakteri rizosfer. Bakteri rizosfer yang digunakan yaitu 5 isolat berupa Bm1, Bm2, Bm3, Bm4, dan konsorsium. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menguji potensi bakteri rizosfer bawang merah secara tunggal dan konsorsium sebagai biokontrol terhadap jamur F. oxysporum f.sp. cepae in vitro dan mengevaluasi efektivitas isolat bakteri rizosfer bawang merah secara tunggal dan konsorsium sebagai pengendali penyakit moler pada pola tanam berbeda. Penelitian dilakukan pada bulan April sampai November 2025 di lahan Desa Linggasari, Kec. Kembaran, Kab. Banyumas dengan ketinggian tempat 117 mdpl (7°23′43″S 109°17′30″E) dan Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini dimulai dengan persiapan alat dan bahan, pembuatan formula cair, penanaman, aplikasi, pengamatan, uji laboratorium, dan analisis data. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok faktorial (RAKF) dengan pola faktorial 2×6 dengan 3 ulangan (lahan) serta rancangan acak lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan (in vitro). Hasil pengamatan dianalisis dengan ANOVA 5% dan jika berpengaruh nyata dilanjutkan dengan DMRT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bakteri rizosfer bawang merah tunggal dan konsorsium cukup efektif sebagai agens biokontrol (in vitro), hal ini dibuktikan dengan indeks kitinolitik tertinggi pada Bm1 sebesar 1,8 serta hasil uji daya hambat konsorsium yang memiliki kemampuan penghambatan tertinggi sebesar 20,83%. Di lahan, hasil penelitian menunjukkan penekanan penyakit moler dengan perlakuan P4 (Bm4) yang menekan intensitas penyakit dengan efektivitas 66,01%, mengurangi nilai AUDPC menjadi 25,27 %.hari, dan menekan laju infeksi menjadi 0,0054 unit/hari dibandingkan dengan perlakuan kontrol serta tumpang sari dengan isolat Bm4 berpotensi memberikan hasil terbaik dengan efektivitas penekanan penyakit yaitu 74,86%. | Moler disease is one of the major diseases affecting shallots, caused by the fungus Fusarium oxysporum f.sp. cepae (Hanz.) Snyd. & Hans. Losses caused by this disease can reach 50%. One possible alternative is the use of rhizosphere bacteria. The rhizosphere bacteria used in this study were five isolates: Bm1, Bm2, Bm3, Bm4, and a consortium. The objective of this study was to test the potential of red onion rhizosphere bacteria, both individually and as a consortium, as biocontrol agents against the fungus F. oxysporum f.sp. cepae in vitro and to evaluate the effectiveness of individual red onion rhizosphere bacterial isolates and the consortium in controlling root rot under different cropping patterns. The study was conducted from April to November 2025 on land in Linggasari Village, Kembaran Subdistrict, Banyumas Regency, at an elevation of 117 meters above sea level (7°23′43″S 109°17′30″E), and at the Plant Protection Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. This study began with the preparation of equipment and materials, the formulation of the liquid solution, planting, application, observation, laboratory testing, and data analysis. This study used a factorial randomized block design (RAKF) with a 2×6 factorial pattern and 3 replicates (field) as well as a completely randomized design (RAL) with 6 treatments and 3 replicates (in vitro). The observation results were analyzed using ANOVA at the 5% level, and if a significant effect was found, the analysis was continued using DMRT at the 5% level. The results of the study indicate that the rhizosphere bacteria of single shallots and the consortium are quite effective as biocontrol agents (in vitro), as evidenced by the highest chitinolytic index of 1.8 for Bm1 and the inhibition test results showing that the consortium had the highest inhibition rate of 20.83%. In the field, the results showed suppression of moler disease with treatment P4 (Bm4), which reduced disease intensity by 66.01%, decreased the AUDPC to 25,27 %.day, and reducing the infection rate to 0.0054 units/day compared to the control treatment while others intercropping with the Bm4 isolate has the potential to yield the best results, with a disease suppression effectiveness of 74.86%. | |
| 50549 | 53905 | J1D022042 | NILAI MORAL TOKOH UTAMA DALAM NOVEL DARI AKU YANG HAMPIR MENYERAH KARYA KHOIRUL TRIAN | Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai moral yang terkait dengan berbagai dimensi dan permasalahan kehidupan, nilai moral tersebut meliputi hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusa dengan manusia lain, dan hubungan manusia dengan lingkungan serta alam. Metode dalam penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif, metode penelitian kualitatif deskriptif data dikumpulkan berupa kata dan kutipan dengan teknik membaca dan mencatat. Hasil yang ditemukan hubungan manusia dengan Tuhan seperti, manusia lain, diri sendiri serta lingkungan sosial dalam penelitian yang terdapat nilai moral. Nilai moral yang terdapat dari analisis tersebut yaitu Hubungan nili moral dan fungsi nilai, nilai moral keteguhan hati, ketekunan, harmoni, dan empati. Dalam penelitian ini terdapat nilai moral yang domina yaitu hubungan manusia dengan diri sendiri yaitu nilai moral ketekunan sedangkan fungsi nilai moral yang paling dominan yang menyampaikan ajaran baik dan buruk pedoman perilaku sebagai penbentukan karakter manusia dalam sosial yang paling dominan nilai moral reflektif dalam novel Dari Aku Yang Hampir Menyerah karya Khoirul Trian. | This study aims to describe moral values related to various dimensions and issues of life. These moral values include the relationship between humans and God, the relationship between humans and themselves, the relationship between humans and other humans, and the relationship between humans and the environment and nature. This study employed a descriptive qualitative research method. Data were collected in the form of words and quotations using reading and note-taking techniques. The results revealed that the relationship between humans and God, other humans, themselves, and the social environment contained moral values. The moral values identified from this analysis include the relationship between moral values and their functions, and the moral values of fortitude, perseverance, harmony, and empathy. In this study, there is a dominant moral value, namely the relationship between humans and themselves, namely the moral value of perseverance, while the most dominant function of moral values is to convey good and bad teachings, behavioral guidelines as the formation of human character in the most dominant social reflective moral value in the novel From Me Who Almost Surrender by Khoirul Trian. | |
| 50550 | 53906 | A1A022053 | STRATEGI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KOPI ROBUSTA DI KECAMATAN DAYEUHLUHUR KABUPATEN CILACAP | Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya konsumsi kopi dalam negeri yang tidak diimbangi dengan peningkatan produksi kopi nasional secara optimal. Kecamatan Dayeuhluhur Kabupaten Cilacap merupakan salah satu wilayah potensial penghasil kopi robusta di Jawa Tengah dengan luas areal perkebunan dan tingkat produksi yang cukup tinggi di Kabupaten Cilacap. Usahatani kopi di wilayah tersebut masih menghadapi berbagai permasalahan seperti rendahnya konsistensi petani dalam budidaya kopi, terbatasnya kegiatan penyuluhan, lemahnya kelembagaan petani, serta masih minimnya pengolahan pascapanen yang menyebabkan rendahnya nilai tambah produk kopi. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman pada usahatani kopi robusta di Kecamatan Dayeuhluhur, mengetahui karakteristik strategi yang sesuai, merumuskan alternatif strategi pengembangan, serta menentukan prioritas strategi yang dapat diterapkan dalam pengembangan usahatani kopi robusta di wilayah tersebut. Metode yang digunakan pada penelitian adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penentuan lokasi dilakukan secara purposive. Teknik pengambilan informan dilakukan secara purposive sampling dengan melibatkan petani kopi, penyuluh pertanian, pemerintah desa, pengepul, pemilik coffee shop, konsumen, serta informan ahli. Data yang digunakan terdiri dari data primer dan data sekunder yang diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, kuesioner, studi pustaka, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan analisis deskriptif, matriks IFE (Internal Factor Evaluation), matriks EFE (External Factor Evaluation), matriks SWOT, dan matriks QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani kopi robusta di Kecamatan Dayeuhluhur memiliki beberapa kekuatan berupa produk kopi berkualitas, hasil produksi yang besar, lahan perkebunan yang luas, pertukaran ilmu pengetahuan, aspek ekonomis yang menjanjikan, serta adanya metode tumpangsari. Kelemahan yang dihadapi yaitu terbatasnya pengolahan pascapanen, teknik budidaya belum optimal, rendahnya akses penyuluhan, ketiadaan kelembagaan, dan minimnya sumberdaya manusia di subsistem hilir dan penunjang. Peluang yang dimiliki antara lain meningkatnya konsumsi kopi, potensi jalinan kemitraan, dan dukungan dari pemerintah atau dinas terkait. Ancaman yang dihadapi berupa persaingan pasar, potensi bencana alam, penutupan lahan ilegal, perubahan iklim, serta fluktuasi harga kopi. Berdasarkan analisis SWOT dan QSPM diperoleh beberapa alternatif strategi pengembangan dengan karakteristik strategi yaitu hold and maintain, dengan strategi prioritas berupa penguatan lembaga penyuluhan (penambahan SDM dan pelatihan berkala), reaktivasi kelompok tani, lembaga permodalan dan korporasi petani. | This research was motivated by the increasing domestic coffee consumption which has not been accompanied by an optimal increase in national coffee production. Dayeuhluhur Subdistrict, Cilacap Regency, is one of the potential robusta coffee-producing areas in Central Java, with a relatively large plantation area and high production level within Cilacap Regency. However, robusta coffee farming in this area still faces several problems, including low farmer consistency in coffee cultivation, limited extension activities, weak farmer institutions, and minimal post-harvest processing, which reduce the added value of coffee products. This study aimed to identify the strengths, weaknesses, opportunities, and threats of robusta coffee farming in Dayeuhluhur Subdistrict, formulate alternative development strategies, and determine priority strategies for the development of robusta coffee farming in the area. This study employed a qualitative descriptive method using a case study approach. The research location was selected purposively. Informants were selected through purposive sampling and involved coffee farmers, agricultural extension officers, village governments, collectors, coffee shop owners, consumers, and expert informants. The data used consisted of primary and secondary data obtained through observation, in-depth interviews, questionnaires, literature review, and documentation. Data analysis was conducted using descriptive analysis, the IFE (Internal Factor Evaluation) matrix, EFE (External Factor Evaluation) matrix, SWOT matrix, and QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). The results showed that robusta coffee farming in Dayeuhluhur Subdistrict has several strengths, including high-quality coffee products, high production output, extensive plantation areas, knowledge-sharing practices among farmers, promising economic prospects, and the implementation of intercropping systems. The main weaknesses identified were limited post-harvest processing, suboptimal cultivation techniques, low access to agricultural extension services, the absence of strong farmer institutions, and limited human resources in the downstream and supporting subsystems. Opportunities include increasing coffee consumption, potential partnership development, and support from the government and related agencies. Meanwhile, the main threats consist of market competition, potential natural disasters, illegal land closure, climate change, and fluctuations in coffee prices. Based on the SWOT and QSPM analyses, several alternative development strategies were formulated, with the priority strategy focusing on strengthening extension institutions through additional human resources and regular training programs, reactivating farmer groups, and strengthening rural financial institutions and farmer corporations. | |
| 50551 | 53908 | A1F022006 | Evaluasi Penerapan Good Manufacturing Practice (GMP) Pada UMKM Grubi Ubi Pawone Mboke Di Desa Babakan, Kecamatan Karanglewas | Penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) pada industri rumah tangga pangan merupakan upaya penting dalam menjamin mutu dan keamanan pangan. UMKM Grubi Ubi Pawone Mboke sebagai produsen grubi ubi masih menghadapi beberapa ketidaksesuaian dalam penerapan GMP, seperti pada aspek fasilitas produksi, higiene karyawan, sanitasi lingkungan, dan penyimpanan produk yang berpotensi memengaruhi mutu serta keamanan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengkaji kondisi penerapan GMP, 2) mengidentifikasi aspek yang telah sesuai maupun yang belum sesuai dengan standar yang berlaku, serta 3) memberikan rekomendasi perbaikan untuk meningkatkan jaminan mutu produk grubi ubi. Kegiatan penelitian dilaksanakan di UMKM Grubi Ubi Pawone Mboke, Desa Babakan, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, selama empat bulan yaitu Desember 2025 hingga April 2026. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan observasional. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan pemeriksaan menggunakan checklist GMP yang mengacu pada pedoman Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB). Tahapan penelitian meliputi identifikasi kondisi awal, analisis ketidaksesuaian, penyusunan dan implementasi rekomendasi perbaikan, serta evaluasi akhir melalui pemeriksaan ulang menggunakan checklist GMP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi awal penerapan GMP pada UMKM Grubi Ubi Pawone Mboke berada pada Level IV dengan beberapa ketidaksesuaian pada aspek bangunan dan fasilitas produksi, higiene karyawan, sanitasi, penyimpanan, dan pengawasan proses. Hasil identifikasi menunjukkan beberapa aspek GMP telah sesuai, seperti lokasi dan lingkungan produksi, penyediaan air bersih, sebagian fasilitas sanitasi, peralatan, dan pencatatan. Namun, masih diperlukan perbaikan pada tata letak bangunan, pengawasan internal, dan pelatihan keamanan pangan. Implementasi rekomendasi perbaikan selama penelitian mampu meningkatkan kebersihan lingkungan produksi, fasilitas sanitasi, sistem penyimpanan, serta kesadaran karyawan terhadap keamanan pangan. Evaluasi akhir menunjukkan bahwa tingkat penerapan GMP meningkat dari Level IV menjadi Level III, yang menunjukkan adanya peningkatan kesesuaian terhadap persyaratan GMP dan mendukung peningkatan mutu serta keamanan produk grubi ubi secara berkelanjutan. | The implementation of Good Manufacturing Practices (GMP) in the household food industry is a crucial effort in ensuring food quality and safety. Grubi Ubi Pawone Mboke, an MSME that produces grubi ubi, still faces several non- conformities in its GMP implementation such as in production facilities, employee hygiene, environmental sanitation, and product storage which have the potential to affect food quality and safety. This study aims to 1) assess the status of GMP implementation, 2) identify aspects that comply with and those that do not meet applicable standards, and 3) provide recommendations for improvement to enhance the quality assurance of Grubi Ubi products. The research was conducted at the Grubi Ubi Pawone Mboke MSME in Babakan Village, Karanglewas Subdistrict, Banyumas Regency, over a four-month period from December 2025 to April 2026. A descriptive method with an observational approach was used. Data were collected through observation, interviews, documentation, and inspections using a GMP checklist based on the Good Manufacturing Practices for Processed Foods (CPPOB) guidelines. The research stages included identifying the initial conditions, analyzing nonconformities, developing and implementing improvement recommendations, and conducting a final evaluation through a re-inspection using the GMP checklist. The research results show that the initial status of GMP implementation at the Grubi Ubi Pawone Mboke MSME was at Level IV, with several non- conformities in the areas of production buildings and facilities, employee hygiene, sanitation, storage, and process control. The results of the assessment showed that several aspects of GMP were in compliance, such as the production site and environment, the supply of clean water, some sanitation facilities, equipment, and record-keeping. However, improvements are still needed in building layout, internal monitoring, and food safety training. The implementation of improvement recommendations during the study improved the cleanliness of the production environment, sanitation facilities, and storage systems, as well as employee awareness of food safety. The final evaluation showed that the GMP implementation level increased from Level IV to Level III, indicating improved compliance with GMP requirements and supporting the continuous improvement of the quality and safety of Grubi Ubi products. | |
| 50552 | 53909 | E1A022247 | ANALISIS YURIDIS PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KONSUMEN TERHADAP KLAUSULA EKSONERASI DALAM PERJANJIAN BAKU PT. CAKRAWALA SERVIS RESOLUSINDO (Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Kediri No. 33/Pdt.G/2024/PN Kdr) | Perkembangan industri jasa kebersihan hunian memunculkan praktik perjanjian baku yang lazim digunakan oleh pelaku usaha jasa cleaning service, yang dalam pelaksanaannya sering kali memuat klausula eksonerasi berupa pembatasan atau pengalihan tanggung jawab pelaku usaha kepada konsumen. Meskipun Pasal 18 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen secara tegas melarang pencantuman klausula semacam itu, pelanggaran dalam praktiknya tetap terjadi sebagaimana tercermin dalam perkara antara Fransiscus Leo melawan PT Cakrawala Servis Resolusindo dalam Putusan Pengadilan Negeri Kediri Nomor 33/Pdt.G/2024/PN Kdr. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perlindungan hukum bagi konsumen berdasarkan UUPK terhadap klausula eksonerasi dalam Terms of Service PT CSR, serta mengkaji akibat hukum yang timbul dari putusan tersebut bagi pelaku usaha. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan kasus (case approach), dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga klausula dalam Terms of Service PT CSR yakni klausula pengecualian garansi pada area pasca pembangunan, pembatasan ganti rugi sebesar nilai pekerjaan harian, dan kewenangan mutlak manajemen dalam menentukan kompensasi terbukti melanggar Pasal 18 ayat (1) huruf a dan huruf f UUPK, sehingga dinyatakan batal demi hukum. Perlindungan hukum bagi konsumen dalam perkara ini telah terwujud secara preventif melalui norma larangan UUPK, dan secara represif melalui putusan pengadilan yang mengabulkan gugatan Penggugat. Adapun akibat hukum bagi PT CSR bersifat multidimensional, secara perdata diwajibkan membayar ganti rugi materiil sebesar Rp103.851.000,00 dan immateriil sebesar Rp100.000.000,00 secara tanggung renteng; secara administratif diwajibkan menyesuaikan Terms of Service nya berdasarkan Pasal 18 ayat (4) UUPK; serta berpotensi dikenai sanksi pidana berdasarkan Pasal 62 ayat (1) UUPK apabila terdapat pengaduan yang ditindaklanjuti. Kata Kunci: Perlindungan Konsumen, Klausula Eksonerasi, Perjanjian Baku | The growing residential cleaning service industry has given rise to widespread use of standard contracts by service providers, which frequently contain exoneration clauses that limit or transfer the business operator's liability to consumers. Although Article 18 of Law Number 8 of 1999 on Consumer Protection explicitly prohibits the inclusion of such clauses, violations continue to occur in practice, as evidenced by the dispute between Fransiscus Leo and PT Cakrawala Servis Resolusindo in Kediri District Court Decision Number 33/Pdt.G/2024/PN Kdr. This study aims to analyze consumer legal protection under the Consumer Protection Law against the exoneration clauses contained in PT CSR's Terms of Service, and to examine the legal consequences arising from the court's decision for the business operator. The research employs a normative juridical method with a statute approach, a case approach, and a conceptual approach. The findings reveal that the three clauses in PT CSR's Terms of Service namely the warranty exclusion clause for post-construction areas, the limitation of compensation to the daily service fee, and the absolute authority granted to management in determining compensation were found to be in violation of Article 18 paragraph (1) letters a and f of the Consumer Protection Law, and were consequently declared null and void. Consumer legal protection in this case was realized preventively through the prohibitive norms of the Consumer Protection Law, and repressively through the court's decision upholding the plaintiff's claim. The legal consequences for PT CSR are multidimensional, in civil terms, PT CSR is obligated to pay material damages of Rp103,851,000.00 and non-material damages of Rp100,000,000.00 jointly and severally; in administrative terms, PT CSR is required to revise its Terms of Service in accordance with Article 18 paragraph (4) of the Consumer Protection Law; and potentially subject to criminal sanctions under Article 62 paragraph (1) of the Consumer Protection Law should a formal complaint be filed and pursued. Keywords: Consumer Protection, Exoneration Clause, Standard Contract | |
| 50553 | 53910 | E1A021229 | IMPLEMENTASI HUKUM PROGRAM PENGENDALIAN PENDUDUK DALAM MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT (STUDI DI DINAS KESEHATAN, PENGENDALIAN PENDUDUK, DAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN CILACAP) | Kabupaten Cilacap sebagai wilayah dengan jumlah penduduk terbesar di Jawa Tengah menghadapi tantangan dalam pengendalian penduduk akibat kepadatan tinggi, persebaran tidak merata, dan tekanan layanan publik yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Meskipun telah tersedia landasan hukum yang mengatur pengendalian penduduk, implementasinya di tingkat daerah masih menghadapi berbagai kendala. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi hukum program pengendalian penduduk serta faktor-faktor yang memengaruhinya dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Cilacap. Penelitian menggunakan metode yuridis empiris dengan pendekatan kualitatif dan spesifikasi deskriptif-analitis. Data diperoleh melalui wawancara dengan pejabat Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kabupaten Cilacap, serta studi peraturan perundang-undangan, dokumen kebijakan, dan literatur yang dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi hukum program pengendalian penduduk telah berjalan cukup baik, ditandai dengan tersedianya regulasi sebagai dasar pelaksanaan, terlaksananya berbagai program pengendalian penduduk, serta adanya sistem monitoring dan evaluasi secara berjenjang. Implementasi tersebut didukung oleh kejelasan regulasi, komitmen aparatur, partisipasi kader, dukungan sistem data, dan koordinasi lintas sektor. Adapun faktor penghambat meliputi kebijakan yang belum sepenuhnya kontekstual, keterbatasan aparatur, belum meratanya sarana pelayanan, rendahnya pemahaman sebagian masyarakat, serta pengaruh nilai budaya tertentu. Penelitian ini menyarankan perlunya penguatan kebijakan teknis daerah yang lebih kontekstual, peningkatan kapasitas aparatur, pemerataan sarana pelayanan keluarga berencana, serta pendekatan sosial dan kultural yang lebih intensif dengan melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama. | Cilacap Regency, as the most populous region in Central Java, faces challenges in population control due to high population density, uneven distribution, and pressure on public services, all of which impact community well-being. Although a legal framework governing population control is in place, its implementation at the local level still faces various obstacles. This study aims to analyze the implementation of population control programs and the factors influencing them in achieving community welfare in Cilacap Regency. The study employs an empirical legal method with a qualitative approach and a descriptive-analytical focus. Data were collected through interviews with officials from the Cilacap Regency Health, Population Control, and Family Planning Office, as well as through a qualitative analysis of legislation, policy documents, and relevant literature. The research findings indicate that the implementation of population control programs has proceeded fairly well, as evidenced by the availability of regulations serving as the basis for implementation, the execution of various population control programs, and the existence of a tiered monitoring and evaluation system. This implementation is supported by clear regulations, the commitment of government officials, the participation of community cadres, a robust data system, and cross-sectoral coordination. Conversely, inhibiting factors include policies that are not yet fully context-specific, limited civil service capacity, uneven distribution of family planning services, low levels of understanding among some segments of the population, and the influence of certain cultural values. This study recommends the need to strengthen more context-specific local technical policies, enhance civil service capacity, ensure equitable distribution of family planning services, and adopt more intensive social and cultural approaches by involving community and religious leaders. | |
| 50554 | 53911 | H1C022043 | IDENTIFIKASI MIGRASI HIDROKARBON MENGGUNAKAN PEMODELAN FAULT SEAL ANALYSIS: IMPLIKASI TERHADAP KARAKTERISTIK SESAR SUB CEKUNGAN NORTH PADANG CEKUNGAN SUMATERA TENGAH | Sub Cekungan North Padang pada Cekungan Sumatera Tengah merupakan salah satu wilayah yang memiliki sistem petroleum aktif dengan keberadaan sesar yang berperan penting dalam mengontrol migrasi dan akumulasi hidrokarbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik sesar sebagai sealing atau leaking, menentukan potensi sesar sebagai jalur migrasi atau penghambat migrasi hidrokarbon, serta mengintegrasikan hasil analisis Shale Gouge Ratio (SGR) dan Juxtaposition untuk menentukan pola migrasi hidrokarbon menuju area akumulasi. Metode penelitian meliputi analisis data sumur, interpretasi seismik, pemodelan struktur bawah permukaan, pemodelan fasies dan petrofisika, serta Fault Seal Analysis menggunakan parameter vshale, porositas, fault throw, juxtaposition, dan nilai SGR. Hasil penelitian menunjukkan pada sumur MSOA-01, MSBA-01, MSDU-01 memiliki lingkungan pengendapan pada lokasi penelitian berada di sistem tidal dengan fasies intertidal–inner shelf yang dicirikan oleh pola log cylindrical, serrated, dan beberapa segmen funnel dan bell serta mempunyai litologi batupasir dan batulempung. Pemodelan petrofisika memperlihatkan hubungan terbalik antara porositas dan vshale, dimana peningkatan kandungan shale menyebabkan penurunan kualitas reservoir. Hasil Fault Seal Analysis terhadap 2 sesar utama menunjukkan bahwa mayoritas sesar di daerah penelitian memiliki nilai SGR yang tinggi sehingga cenderung bersifat sealing, namun pada beberapa segmen sesar ditemukan nilai SGR yang lebih rendah sehingga berpotensi menjadi jalur migrasi hidrokarbon. Integrasi parameter SGR dan juxtaposition mengindikasikan bahwa migrasi hidrokarbon berlangsung dari area depresi menuju closure melalui segmen sesar yang bersifat lebih permeabel. Berdasarkan hasil tersebut, penelitian ini mengusulkan 4 leads area yang memiliki potensi prospek hidrokarbon untuk diteliti lebih lanjut. | The North Padang Sub-Basin, located within the Central Sumatra Basin, is one of Indonesia's active petroleum provinces, where fault systems play a critical role in controlling hydrocarbon migration and accumulation. This study aims to identify fault characteristics as either sealing or leaking, evaluate the potential of faults to act as hydrocarbon migration pathways or barriers, and integrate Shale Gouge Ratio (SGR) and Juxtaposition analyses to determine hydrocarbon migration patterns toward accumulation areas. The research methodology includes well-log analysis, seismic interpretation, subsurface structural modeling, facies modeling, petrophysical modeling, and Fault Seal Analysis (FSA) using parameters such as Vshale, porosity, fault throw, juxtaposition, and Shale Gouge Ratio (SGR). The results indicate that the MSOA-01, MSBA-01, and MSDU-01 wells were deposited within a tidal depositional system, specifically in intertidal to inner shelf environments. These depositional settings are characterized by cylindrical, serrated, and locally funnel and bell-shaped gamma-ray log motifs, with alternating sandstone and shale lithologies. Petrophysical modeling demonstrates an inverse relationship between porosity and Vshale, indicating that increasing shale content leads to a reduction in reservoir quality. Fault Seal Analysis conducted on the two major faults reveals that most fault segments exhibit relatively high SGR values, suggesting predominantly sealing behavior. However, several fault segments display lower SGR values, indicating their potential to function as hydrocarbon migration pathways. The integration of SGR and juxtaposition analyses suggests that hydrocarbons migrated from depocenters toward structural closures through relatively permeable fault segments. Based on these findings, the study proposes four prospective lead areas with significant hydrocarbon potential for future exploration. | |
| 50555 | 53913 | J1C022007 | Standar Kecantikan dalam Dunia Modeling pada tokoh Natsume Hyakuta dalam serial Followers | Penelitian ini menganalisis bagaimana standar kecantikan dalam dunia modeling melalui tokoh Natsume Hyakuta dalam serial Followers (2020) yang disutradarai oleh Mika Ninagawa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan teoriThe Beauty Myth Naomi Wolf. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik simak catat. Tujuan penelitian ini mengidentifikasistandar kecantikan yang berlaku dalam dunia modeling. . Hasil penelitian mengungkapkan bahwa tokoh Natsume Hyakuta dapat merepresentasikan standar kecantikan yang menekankan penampilan fisik ideal, seperti tubuh yang langsing, wajah yang simetris, kulit yang bersih, gaya berbusana yang mengikuti tren, serta kemampuan mempertahankan citra yang menarik di hadapan publik dan media sosial. | This study analyzes how beauty standards in the modeling industry are represented through the character of Natsume Hyakuta in the television series Followers (2020), directed by Mika Ninagawa. This research employs a descriptive qualitative method and applies Naomi Wolf's The Beauty Myth as its theoretical framework. Data were collected using the observation and note-taking technique. The purpose of this study is to identify the beauty standards that prevail in the modeling industry. The findings reveal that the character of Natsume Hyakuta represents beauty standards that emphasize an ideal physical appearance, including a slim body, a symmetrical face, bright and clear skin, fashionable clothing that follows current trends, and the ability to maintain an attractive public image both in front of the public and on social media. The study concludes that beauty standards in the modeling industry are a social construct that places continuous pressure on women to conform to ideal standards of beauty. Furthermore, the character of Natsume Hyakuta represents how the beauty myth shapes women's identities and social positions amid the pressures of the fashion industry and modern media. | |
| 50556 | 53893 | B1A022134 | Profil Senyawa Bioaktif dan Aktivitas Sitotoksik Ekstrak Tubuh Buah Jamur Pleurotus cystidiosus terhadap Sel Kanker Payudara T47D dan Serviks HeLa | Pleurotus cystidiosus atau jamur tiram cokelat adalah jamur konsumsi dan diketahui memiliki beragam senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai agen antikanker. Potensi tersebut berkaitan dengan kemampuan senyawa bioaktif dalam menghambat pertumbuhan sel abnormal yang berperan dalam perkembangan kanker. Jenis kanker seperti payudara dan serviks merupakan kanker dengan jumlah penderita terbanyak di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keberadaan golongan senyawa alkaloid, flavonoid, dan terpenoid dalam ekstrak n-heksana dan etil asetat tubuh buah P. cystidiosus menggunakan pengujian KLT dan mengetahui aktivitas sitotoksiknya terhadap sel kanker payudara T47D dan serviks HeLa secara in vitro. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif dalam mengidentifikasi golongan senyawa bioaktif berdasarkan hasil pengujian KLT, serta metode eksperimental melalui pengujian MTT assay untuk mengetahui potensi sitotoksik ekstrak dalam penghambatan pertumbuhan sel kanker payudara T47D serta serviks HeLa. Variabel bebas penelitian yaitu variasi pelarut dalam proses ekstraksi (n-heksana serta etil asetat) dan variasi konsentrasi ekstrak n-heksana serta etil asetat (31,25; 62,50; 125; 250; 500) μg/mL, sedangkan variabel terikat yaitu penghambatan pertumbuhan sel kanker. Parameter utama penelitian meliputi golongan senyawa bioaktif yang teridentifikasi melalui pengujian KLT dan nilai IC50, dengan parameter pendukung meliputi persentase rendemen ekstrak dan nilai retardation factor (Rf). Analisis data dilakukan dengan regresi linear untuk memperoleh nilai IC50, sedangkan hasil identifikasi golongan senyawa bioaktif dilakukan secara deskriptif dengan mengacu pada warna noda yang terbentuk dari hasil pemisahan senyawa melalui uji KLT. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan adanya keberadaan golongan senyawa bioaktif alkaloid, flavonoid, dan terpenoid yang terdapat pada ekstrak n-heksana dan etil asetat tubuh buah P. cystidiosus. Hasil pengujian aktivitas sitotoksik menunjukkan bahwa ekstrak n-heksana tubuh buah P. cystidiosus memiliki nilai IC50 masing-masing sebesar 91,29 µg/mL pada sel kanker T47D dan 138,13 µg/mL pada sel kanker HeLa, sedangkan ekstrak etil asetat menghasilkan nilai IC50 sebesar 51,21 μg/mL pada sel T47D dam 40,66 µg/mL pada sel kanker HeLa. Nilai IC50 yang diperoleh menunjukkan bahwa ekstrak tubuh buah P. cystidiosus mempunyai aktivitas sitotoksik terhadap kedua lini sel kanker yang diuji. | Pleurotus cystidiosus or the brown oyster mushroom is an edible mushroom known to contain various bioactive compounds that may have anticancer properties. This potential is related to these bioactive compounds to prevent the growth of abnormal cells involved in cancer development. In Indonesia, the most common types of cancer are breast and cervical cancer. This study was conducted to identify the presence of alkaloids, flavonoids, and terpenoids in n-hexane and ethyl acetate extracts of P. cystidiosus fruiting bodies using TLC analysis and to evaluate their cytotoxic activity against T47D breast cancer cells and HeLa cervical cancer cells in vitro. The study used a descriptive method to identify classes of bioactive compounds based on TLC test results, as well as an experimental method using the MTT assay to determine the cytotoxic potential extracts in inhibiting the growth of T47D breast cancer cells and HeLa cervical cancer cells. The independent variables of the study were variations in the solvents used in the extraction process (n-hexane and ethyl acetate) and variations in the concentrations of the n-hexane and ethyl acetate extracts (31.25, 62.50, 125, 250, and 500 μg/mL), while the dependent variable was the inhibition of cancer cell growth. The primary parameters of the study included the classes of bioactive compounds identified through TLC testing and IC50 values, with supporting parameters including the percentage yield of the extract and the retardation factor value (Rf). Data analysis was performed using linear regression to determine the IC50 values, while the identification of bioactive compound classes was conducted descriptively based on the color of the spots formed from the separation of compounds via TLC. The results of the study indicate the presence of bioactive compounds belonging to the alkaloid, flavonoid, and terpenoid groups in the n-hexane and ethyl acetate extracts of the fruit of P. cystidiosus. The results of cytotoxic activity testing showed that the n-hexane extract of the P. cystidiosus fruit body had IC50 values of 91.29 µg/mL against T47D cancer cells and 138.13 µg/mL against HeLa cancer cells, while the ethyl acetate extract yielded IC50 values of 51.21 µg/mL against T47D cells and 40.66 µg/mL against HeLa cancer cells. The IC50 values obtained indicate that the P. cystidiosus fruit body extract exhibits cytotoxic activity against both tested cancer cell lines. | |
| 50557 | 53915 | A1D022182 | Potensi Daun Mangkokan (Nothopanax scutellarium Merr.) sebagai Moluskisida Nabati untuk Pengendalian Hama Keong Mas (Pomacea canaliculata L.) pada Tanaman Padi | Keong mas merupakan salah satu hama utama pada tanaman padi. Daun mangkokan diketahui memiliki senyawa aktif yang berpotensi sebagai moluskisida nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak daun mangkokan dalam menyebabkan mortalitas keong mas, mengetahui konsentrasi efektif ekstrak daun mangkokan terhadap mortalitas keong mas, mengetahui efektivitas ekstrak daun mangkokan dalam menekan intensitas serangan keong mas, dan mengetahui efek fitotoksisitas ekstrak daun mangkokan terhadap tanaman padi. Penelitian dilakukan di rumah kaca pada bulan November 2025-Februari 2026. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) melalui 4 tahap pengujian, yaitu uji toksisitas ekstrak daun mangkokan terhadap mortalitas keong mas, uji efektivitas ekstrak terhadap mortalitas keong mas, uji pengaruh ekstrak terhadap intensitas serangan keong mas, dan uji fitotoksisitas ekstrak pada tanaman padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun mangkokan potensial sebagai moluskisida nabati karena dapat menyebabkan mortalitas pada keong mas, konsentrasi efektif ekstrak daun mangkokan diperoleh pada 3,027 g/L, ekstrak daun mangkokan pada konsentrasi 3,027 g/L dapat menekan intensitas serangan keong mas hingga 100%, dan pemberian ekstrak daun mangkokan pada tanaman padi tidak menimbulkan adanya gejala fitotoksisitas. | Golden apple snail is one of the major pests of rice plants. Mangkokan leaves are known to contain active compounds that have potential as plant-based molluscicides. This study aims to determine the potential of mangkokan leaf extract in causing golden apple snail mortality, find out the effective concentration of mangkokan leaf extract on the mortality of golden apple snails, find out the effectiveness of mangkokan leaf extract in suppressing the intensity of golden apple snail attacks on rice plants, and find out the phytotoxicity effect of mangkokan leaf extract on rice plants. The study was conducted in a geenhouse from November 2025 to February 2026. This study employed a Randomized Block Design (RBD) through four testing phases: a toxicity test of mangkokan leaf extract on golden apple snail mortality, an efficacy test of the extract on golden apple snail mortality, a test of the extract’s effect on the intensity of golden apple snail infestation, and a phytotoxicity test of the extract on rice plants. The results showed that mangkokan leaf extract has potential as a botanical molluscicide because it can cause mortality in golden apple snails, the effective concentration of the mangkokan leaf extract was determined to be 3,027 g/L, at a concentration of 3,027 g/L, the extract can reduce the intensity of golden apple snail infestation by up to 100%, and the application of the mangkokan leaf extract to rice plants did not cause any phytotoxicity symptoms. | |
| 50558 | 53918 | C1G022017 | THE EFFECT OF BANKING PERFORMANCE AND MACROECONOMIC FACTORS ON CREDIT IN INDONESIA | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variabel internal bank seperti CAR, ROA, DPK, serta variabel makroekonomi seperti Pertumbuhan Ekonomi dan Suku Bunga terhadap kredit bank. Objek penelitian ini adalah bank-bank yang diklasifikasikan berdasarkan modal, yaitu KBMI 1 hingga KBMI 4 di sektor perbankan Indonesia, khususnya bank komersial. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan data sekunder. Data yang digunakan adalah data deret waktu yang terdiri dari data triwulanan dari tahun 2017 hingga 2025. Analisis dilakukan dengan menggunakan regresi OLS. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa CAR untuk KBMI 3 memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap kredit, sedangkan untuk KBMI lainnya tidak terdapat pengaruh yang signifikan. Selanjutnya, untuk semua KBMI, ROA tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kredit. Untuk variabel DPK, hasil menunjukkan bahwa pada semua KBMI, DPK memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kredit. Selain itu, Pertumbuhan Ekonomi pada KBMI 3 memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap kredit, sedangkan pada KBMI lainnya tidak terdapat pengaruh yang signifikan. Untuk variabel Suku Bunga, hasil menunjukkan bahwa pada KBMI 1, 2, dan 3, Suku Bunga memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kredit, sedangkan pada KBMI 4, tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap kredit. Adapun mengenai variabel dummy, hasil penelitian menunjukkan bahwa pada KBMI 1, periode KBMI memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kredit dibandingkan dengan periode BUKU. Pada KBMI 3, periode KBMI memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap kredit dibandingkan dengan periode BUKU, sedangkan pada KBMI 2 dan 4, periode KBMI tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kredit dibandingkan dengan periode BUKU. | This study aims to analyze the effects of internal bank variables such as CAR, ROA, TPF and macroeconomic variables such as Economic Growth, Interest Rates on bank credit. The object of this study is banks classified by capital, that is Banks 1 through 4 in the Indonesian banking sector, specifically commercial banks. This study uses quantitative method with secondary data. The data used is time-series data consisting of quarterly data from 2017 to 2025. The analysis employs OLS regression. Based on the results of the study, it was found that the CAR for KBMI 3 had a significant negative effect on credit, meanwhile there is no significant effect for others KBMI. Furthermore, for all KBMI, ROA did not have a significant effect on credit. For the TPF variable, the results show that all KBMI has a significant positive effect on credit. Furthermore, Economic Growth in KBMI 3 has a significant negative effect on credit, meanwhile there is no significant effect for others KBMI. For the Interest Rates variable, the results show that in KBMI 1, 2, and 3, Interest Rates have a significant positive effect on credit, meanwhile in KBMI 4, there is no significant effect on credit. As for the dummy variable, the results show that in KBMI 1, the KBMI period has a significant positive effect on credit compared to the BUKU period. In KBMI 3, the KBMI period has a significant negative effect on credit compared to the BUKU period, whereas in KBMI 2 and 4, the KBMI period had no significant effect on credit compared to the BUKU period. | |
| 50559 | 53922 | A1F022047 | Optimasi Pembuatan Cookies Berbasis Tepung Jagung Fermentasi, Isolat Protein Kedelai, dan Tepung Kelapa Menggunakan Metode Optimal Mixture Design | Cookies merupakan salah satu camilan yang banyak digemari oleh masyarakat sehingga memiliki potensi untuk dijadikan cemilan sehat pencegah stunting. Pengembangan cookies menjadi camilan sehat dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang kayak akan gizi sebagai substitusi tepung terigu, salah satu produk lokal yang dapat digunakan adalah tepung jagung. Untuk meningkatkan karakteristik fisikokimia dan sensoris pada tepung maupun produk olahannya, dilakukan fermentasi pada tepung jagung. Penambahan isolat protein kedelai dalam formulasi cookies sebagai sumber protein yang mampu meningkatkan kadar protein pada cookies. Penambahan tepung kelapa dalam formulasi cookies mampu berperan sebagai sumber serat serta memperbaiki mutu sensori pada produk cookies. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui formula optimum cookies berbasis tepung jagung fermentasi, isolat protein kedelai, dan tepung kelapa 2) mengetahui karaktersitik fisikokimia dan sensori cookies yang dihasilkan dari formula optimum. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode Optimal Mixture Design untuk menentukan formula optimum cookies tepung jagung fermentasi dengan penambahan isolat protein kedelai dan tepung kelapa dengan respon protein total, protein terlarut, lemak, dan karbohidrat. Formula optimal yang didapatkan kemudian dilakukan verifikasi serta karakterisasi sifat kimia (protein total, protein terlarut, kadar air, kadar abu, karbohidrat, lemak, serat pangan, dan beta karoten) dan sensori (mutu hedonik dan hedonik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula optimum diperoleh pada proposi tepung jagung fermentasi 40%, isolat protein kedelai 35%, dan tepung kelapa 25% dengan nilai desirability 1,000. Formula optimum memiliki nilai protein total sebesar 8,65%, protein terlarut 0,30%, lemak 17,76%, serta karbohidrat 71,08%. Formula optimum memiliki nilai karakteristik kimia kadar air 10,35%, kadar abu 2,59% kadar protein total 8,44%, kadar protein terlarut 0,48%, kadar lemak 17,57%, kadar karbohidrat by difference 68,10, kadar serat pangan 6,24%, dan kadar beta karoten 25,51%. Hasil uji mutu hedonik cookies formula optimum menunjukkan warna 4,97 (kuning kecoklatan), aroma IPK 4,23 (agak kuat), rasa khas jagung 4,23 (agak kuat), tekstur (kerenyahan) 3,80 (agak renyah), aftertaste (pahit IPK) 4,43 (agak pahit), dan mouthfeel 3,60 (agak berpasir). Hasil uji hedonik cookies formula optimum menunjukkan nilai parameter warna 5,17 (agak suka), aroma IPK 5,13 (agak suka), rasa khas jagung 4,73 (agak suka), tekstur (kerenyahan) 4,20 (netral), aftertaste (pahit IPK) 4,60 (agak suka), mouthfeel 4,43 (netral), serta nilai kesukaan keseluruhan 4,50 (netral) yang lebih rendah daripada cookies kontrol yaitu 5,47 (agak suka) dan cookies komersial yaitu 6,37 (suka). | Cookies are a popular snack among the general public and therefore have the potential to be developed into a healthy snack that helps prevent stunting. Cookies can be a developed into a healthy snack by using locally sourced, nutrient-rich ingredients as a subtitute for wheat flour, one such local product is cornflour. To improve the physicochemical and sensory characteristics of the flour and its processed products, fermentation was carried out on the cornflour. The addition of soy protein isolate to the cookie formulation serves as a protein source capable of increasing the protein content of the cookies. The addition of coconut flour to the cookie formulation acts as a source of fibre and improves the sensory quality of the cookies. This study aims to 1) determine the optimal formulation for cookies based on fermented cornflour, soy protein isolate, and coconut flour; and 2) determine the physicochemical and sensory characteristics of the cookies produced from the optimal formulation. The study was conducted using the Optimal Mixture Design method to determine the optimal formulation for fermented maize flour cookies with the addition of soy protein isolate and coconut flour, with total protein, soluble protein, fat, and carbohydrate as response variables. The optimal formula obtained was then verified and characterised in terms of its chemical properties (total protein, soluble protein, moisture content, ash content, carbohydrates, fat, dietary fibre, and beta-carotene) and sensory properties. The results of the study indicate that the optimum formulation was obtained with a composition of 40% fermented maize flour, 35% soya protein isolate and 25% coconut flour, with a desirability value of 1.000. The optimal formula has a total protein content of 8.65%, soluble protein of 0.30%, fat of 17.76%, and carbohydrates of 71.08%. The optimal formula has the following chemical characteristics: moisture content 10.35%, ash content 2.59%, total protein content 8.44%, soluble protein content 0.48%, fat content 17.57%, carbohydrate content by difference 68.10%, dietary fibre content 6.24%, and beta-carotene content 25.51%. The results of the hedonic quality test for the cookies made using the optimal formula showed a colour score of 4.97 (light brown), an ISP aroma score of 4.23 (moderately strong), a characteristic maize flavour score of 4.23 (moderately strong), a texture (crispness) score of 3.80 (moderately crisp), aftertaste (bitter ISP) 4.43 (slightly bitter), and mouthfeel 3.60 (slightly gritty). The results of the hedonic test for the optimal cookie formula showed a colour parameter value of 5.17 (somewhat liked), ISP aroma 5.13 (somewhat liked), characteristic maize flavour 4.73 (somewhat liked), texture (crispness) 4.20 (neutral), aftertaste (bitter ISP) 4.60 (somewhat liked), mouthfeel 4.43 (neutral), and an overall liking score of 4.50 (neutral), which was lower than that of the control cookies (5.47, somewhat liked) and the commercial cookies (6.37, liked). | |
| 50560 | 53919 | H1B022053 | Investigasi Sirkulasi Arus di Perairan Cilacap Akibat Adanya Angin dan Pengaruh Debit Air Sungai Serayu Menggunakan Delft3D | Perairan Cilacap merupakan kawasan muara yang memiliki dinamika hidrodinamika kompleks akibat interaksi pasang surut, debit Sungai Serayu, dan angin. Interaksi ketiga faktor tersebut memengaruhi pola sirkulasi arus yang berperan penting terhadap transport massa air dan pengelolaan wilayah pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan sirkulasi arus di Perairan Cilacap menggunakan Delft3D, menganalisis interaksi antara angin, debit sungai, dan pasang surut, serta mengidentifikasi perubahan pola sirkulasi arus yang dihasilkan Penelitian dilakukan menggunakan model hidrodinamika tiga dimensi (3D) Delft3D-FLOW dengan data sekunder berupa batimetri, pasang surut, debit Sungai Serayu selama 10 tahun, dan data angin ECMWF. Model divalidasi menggunakan parameter Root Mean Square Error (RMSE) dan RMSE-Observation Standard Deviation Ratio (RSR), kemudian digunakan untuk mensimulasikan berbagai skenario kombinasi debit sungai dan arah angin barat maupun timur pada kondisi pasang dan surut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model hidrodinamika mampu merepresentasikan kondisi lapangan dengan baik, yang ditunjukkan oleh nilai RMSE sebesar 0,0398 m dan nilai RSR sebesar 0,0927 dengan kategori Very Good. Simulasi memperlihatkan bahwa pembentukan sirkulasi arus di Perairan Cilacap merupakan hasil interaksi antara pasang surut, debit Sungai Serayu, dan angin. Pasang surut berperan sebagai pengendali utama fluktuasi muka air dan arah arus, sedangkan debit sungai mengontrol besarnya aliran menuju laut. Pengaruh angin tidak mengubah karakteristik dasar pola sirkulasi arus, tetapi memodifikasi orientasi vektor arus, distribusi arus di wilayah pesisir, serta membentuk sirkulasi lokal (eddy) di sekitar muara. Perubahan kecepatan arus akibat angin juga tidak menunjukkan kecenderungan yang selalu meningkat ataupun menurun pada setiap kala ulang, sehingga dinamika arus di Perairan Cilacap dipengaruhi oleh interaksi simultan antara angin, debit sungai, pasang surut, geometri pantai, dan batimetri. | The Cilacap waters are an estuary characterized by complex hydrodynamic dynamics resulting from the interaction of tides, the flow of the Serayu River, and wind. The interaction of these three factors influences current circulation patterns, which play a crucial role in water mass transport and coastal zone management. This study aims to model current circulation in the Cilacap waters using Delft3D, analyze the interaction between wind, river discharge, and tides, and identify the resulting changes in current circulation patterns The study was conducted using the Delft3D-FLOW three-dimensional (3D) hydrodynamic model with secondary data consisting of bathymetry, tidal data, Serayu River discharge over a 10-year period, and ECMWF wind data. The model was validated using the Root Mean Square Error (RMSE) and RMSE-Observation Standard Deviation Ratio (RSR) parameters, and was then used to simulate various scenarios combining river discharge with westward and eastward wind directions under high and low tide conditions. The research results show that the hydrodynamic model is able to represent field conditions well, as indicated by an RMSE value of 0.0398 m and an RSR value of 0.0927, which falls into the “Very Good” category. The simulation shows that the formation of current circulation in the Cilacap Waters is the result of the interaction between tides, the discharge of the Serayu River, and wind. Tides act as the primary driver of water level fluctuations and current direction, while river discharge controls the magnitude of outflow toward the sea. The influence of wind does not alter the fundamental characteristics of the current circulation pattern but modifies the orientation of current vectors, the distribution of currents in the coastal region, and forms local eddies around the estuary. Changes in current velocity due to wind also do not show a consistently increasing or decreasing trend over each recurrence interval; thus, current dynamics in the Cilacap Waters are influenced by the simultaneous interaction of wind, river discharge, tides, coastal geometry, and bathymetry. |