Artikel Ilmiah : A1A022034 a.n. IKFA IKHSANDRA

Kembali Update Delete

NIMA1A022034
NamamhsIKFA IKHSANDRA
Judul ArtikelRantai Nilai Sawdust Hasil Program Hutan Tanaman Energi (HTE) di Kabupaten Cilacap
Abstrak (Bhs. Indonesia)Kebutuhan energi di Indonesia terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan ekonomi, namun pemenuhannya masih didominasi oleh energi fosil yang berdampak pada peningkatan emisi karbon. Pemerintah mendorong pemanfaatan biomassa melalui program co-firing pada PLTU untuk mendukung target Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Salah satu bentuk biomassa yang dimanfaatkan adalah sawdust, yang dikembangkan melalui Program Hutan Tanaman Energi (HTE) di Kabupaten Cilacap yang diinisiasi oleh PLN EPI. Program ini masih menghadapi kendala pada pasokan bahan baku, terbatasnya fasilitas produksi, serta koordinasi antar pelaku. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengidentifikasi pemetaan rantai nilai sawdust dalam program Hutan Tanaman Energi (HTE) di Kabupaten Cilacap, 2) menghitung margin pemasaran yang diperoleh dalam rantai nilai sawdust, 3) menghitung nilai tambah yang diperoleh dalam rantai nilai sawdust.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, literature review, dan dokumentasi. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Cilacap yang difokuskan di Desa Keleng Kecamatan Kesugihan sebagai pusat pengolahan sawdust pada bulan Februari dan Maret 2026. Penelitian ini melibatkan 6 informan kunci dan 2 informan pendukung, serta responden pemasok yang terdiri dari 7 petani dan 2 pelaku usaha. Pengambilan responden pemasok dengan purposive sampling. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis rantai nilai teori Porter, margin pemasaran, dan analisis nilai tambah Hayami.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses inti dalam rantai nilai sawdust hasil program Hutan Tanaman Energi (HTE) di Kabupaten Cilacap terdiri dari enam tahapan yaitu penyediaan bibit, budidaya dan penanaman, penyediaan bahan baku sawdust, pengolahan sawdust, distribusi dan transportasi, serta co-firing. Pelaku yang terlibat dalam rantai nilai tersebut meliputi petani, pelaku usaha limbah kayu, Kelompok Tani Hutan (KTH) Sri Rahayu, BUMDes SEMAR Keleng, Mitra PT PLN EPI, PT PLN EPI, dan PLTU Indonesia Power Adipala. Berdasarkan perhitungan margin pemasaran dalam rantai nilai sawdust, margin pemasaran tertinggi diperoleh oleh BUMDes SEMAR Keleng sebagai produsen sawdust yaitu sebesar Rp302.000/ton. Analisis nilai tambah dalam rantai nilai sawdust menunjukkan bahwa pengolahan kayu dan limbah kayu menjadi sawdust menghasilkan nilai tambah sebesar Rp200.000/ton serta keuntungan yang diperoleh sebesar Rp164.720/ton. Rasio nilai tambah sebesar 47% yang artinya termasuk dalam kategori rasio tinggi.
Abtrak (Bhs. Inggris)The need for energy in Indonesia continues to increase along with the growth of population and economy, but fossil fuels are still the dominant source of energy, leading to increased carbon emissions. The government is promoting biomass utilization through a co-firing program at coal-fired power plants to support New and Renewable Energi targets. One form of biomass utilized is sawdust, developed through the Energy Plantation Forest (EPF) Program in Cilacap Regency, initiated by PLN EPI. This program still faces constraints in raw material supply, limited production facilities, and coordination between stakeholders. This study aims to: 1) identify the sawdust value chain mapping within the Energy Plantation Forest (EPF) program in Cilacap Regency, 2) calculate the marketing margins obtained within the sawdust value chain, and 3) calculate the added value obtained within the sawdust value chain.
The research method used in this study is a case study. This research employs descriptive qualitative and quantitative approaches. Data were collected through interviews, observations, literature reviews, and documentation. The research was conducted in Cilacap Regency, focusing on Keleng Village, Kesugihan District, as a sawdust processing center, in February and March 2026. Six key informants and two supporting informants were involved, as well as seven farmer and two business owners as supplier respondents. Supplier respondents were selected using purposive sampling. Data analysis used in this study included Porter value chain analysis, marketing margin analysis, and Hayami value-added analysis.
The results indicate that the core process in the sawdust value chain resulting from the Energy Plantation Forest (EPF) program in Cilacap Regency consists of six stages: seedling provision, cultivation and planting, sawdust raw material provision, sawdust processing, distribution and transportation, and co-firing. The actors involved in this value chain include farmers, wood waste business owners, the Sri Rahayu Forest Farmers Group (FFG), BUMDes SEMAR Keleng, PT PLN EPI and partners, and the Indonesia Power Adipala PLTU. Based on the marketing margin calculation in the sawdust value chain, the highest marketing margin was obtained by BUMDes SEMAR Keleng as a sawdust producer, namely Rp302,000/ton. Analysis of the added value in the sawdust value chain shows that processing wood and wood waste into sawdust generates added value of Rp200,000/ton and a profit of Rp164,720/ton. The value-added ratio is 47%, which means it is included in the high ratio category.
Kata kuncibiomass; co-firing; value chain; marketing margin; added value
Pembimbing 1Dr. Dindy Darmawati Putri, S.P.,M.P.
Pembimbing 2Malinda Aptika Rachmah, S.P.,M.Sc.
Pembimbing 3
Tahun2026
Jumlah Halaman91
Tgl. Entri2026-07-27 11:50:05.403429
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.