Artikelilmiahs

Menampilkan 48.221-48.240 dari 48.725 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4822151484F1C022059Peran Campaign Manager dalam Kampanye Kehumasan “Dari Jeruji Besi Menjadi Inspirasi”Kampanye kehumasan “Dari Jeruji Besi Menjadi Inspirasi” membahas peran campaign manager dalam upaya mengurangi stigma negatif masyarakat terhadap warga binaan dan mantan warga binaan. Kampanye dirancang dalam bentuk event kolaboratif yang melibatkan institusi pembinaan, pelaku usaha dan UMKM, tokoh masyarakat, serta generasi muda. Kegiatan kampanye meliputi talkshow inspiratif, penampilan musik, dan pameran karya warga binaan serta mantan warga binaan, dengan masyarakat sebagai objek utama dalam proses reintegrasi sosial. Efektivitas kampanye diukur melalui kuesioner pre-test dan post-test. Hasil pre-test menunjukkan persetujuan terhadap pernyataan bernuansa negatif sebesar 61,46% yang menurun menjadi 42,38% pada post-test. Sementara itu, persetujuan terhadap pernyataan bernuansa positif meningkat dari 68,63% menjadi 81,79%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan kampanye oleh campaign manager melalui pendekatan event kolaboratif efektif dalam membangun persepsi positif dan humanis masyarakat terhadap mantan warga binaan.The public relations campaign “From Behind Bars to Inspiration” examines the role of a campaign manager in reducing negative public stigma toward inmates and former inmates. The campaign was designed as a collaborative event involving correctional institutions, entrepreneurs and MSMEs, community leaders, and young generations. The campaign activities included inspirational talk shows, music performances, and exhibitions of works created by inmates and former inmates, with the public as the main target in the social reintegration process. The effectiveness of the campaign was measured using pre-test and post-test questionnaires. The pre-test results showed a 61.46% level of agreement with negatively framed statements, which decreased to 42.38% in the post-test. Meanwhile, agreement with positively framed statements increased from 68.63% to 81.79%. These results indicate that a collaboratively designed event campaign managed strategically by a campaign manager is effective in fostering more positive and humanistic public perceptions toward former inmates.
4822251618L1A019061Komposisi Hasil Tangkapan Ikan Menggunakan Alat
Tangkap Anco (Lift Nets) Di Waduk Darma, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi hasil
tangkapan ikan, jenis dan ukuran ikan dengan alat tangkap Anco di Waduk
Darma, Desa Jagara, Kab. Kuningan, Jawa Barat. Waduk Darma merupakan
perairan umum yang dimanfaatkan masyarakat, terutama dalam perikanan
tangkap tradisional. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kuantitatif
melalui survei, observasi lapangan, wawancara nelayan, dan pencatatan hasil
tangkapan berdasarkan jenis, jumlah individu, dan berat total ikan.
Pengambilan data berfokus di Desa Jagara jadi tidak mencakup seluruh Waduk
Darma. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis ikan yang tertangkap adalah
ikan nila (Oreochromis niloticus), yang menjadi spesies terbanyak dengan jumlah
64 ekor (47,06%). Ikan mas (Cyprinus carpio L.) menjadi spesies yang paling
sedikit tertangkap, yaitu 10 ekor (7,35%). Selain itu, ikan mujaer (Oreochromis
mossambicus) tercatat sebanyak 21 ekor (15,44%), ikan siklit mayan (Cichlasoma
urophthalmus) 27 ekor (19,85%), dan ikan siklit red devil (Amphilophus labiatus)
14 ekor (10,29%). Hasil lainya menunjukkan bahwa total hasil tangkapan
selama penelitian mencapai 25.069 gram. Ukuran ikan yang tertangkap
bervariasi antara 14 cm hingga 27 cm. Penggunaan Anco sebagai alat tangkap
memiliki dampak minimal terhadap kelestarian lingkungan perairan. Temuan
ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengelolaan sumber daya ikan di
Waduk Darma secara berkelanjutan.
This study aims to identify the composition of fish catches, fish species
and sizes using Anco fishing gear in the Darma Reservoir, Jagara Village,
Kuningan Regency, West Java. Darma Reservoir is a public water body used by
the community, especially for traditional fishing. The research was conducted
using a quantitative descriptive method through surveys, field observations,
interviews with fishermen, and recording of catches based on type, number of
individuals, and total weight of fish. Data collection focused on Jagara Village
and did not cover the entire Darma Reservoir. The results of the study showed
that the type of fish caught was tilapia (Oreochromis niloticus), which was the
most abundant species with 64 fish (47.06%). Carp (Cyprinus carpio L.) was the
least caught species, with 10 fish (7.35%). In addition, there were 21 tilapia
(Oreochromis mossambicus) (15.44%), 27 mayan cichlids (Cichlasoma urophthalmus)
(19.85%), and 14 red devil cichlids (Amphilophus labiatus) (10.29%). Other results
show that the total catch during the study reached 25,069 grams. The size of the
fish caught varied between 14 cm and 27 cm. The use of Anco as a fishing tool
has a minimal impact on the sustainability of the aquatic environment. These
findings are expected to serve as a reference in the sustainable management of
fish resources in the Darma Reservoir.
4822351628F1B019088Pengaruh Kompensasi dan Lingkungan Kerja Terhadap Tingkat Kepuasan Kerja Pegawai PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) ULP Purbalingga Pelayanan publik terus perlu ditingkatkan dan salah satu aspek penting yakni optimalisasi sumber daya manusia dalam administrasi publik. Kepuasan kerja yang baik dapat meningkatkan kinerja pegawai, namun masih ada keluhan mengenai aspek kepuasan kerja pegawai yang terabaikan. Kompensasi yang diterima oleh pegawai masih ada yang kurang sesuai dengan tuntutan pekerjaan para pegawai. Penelitian ini berfokus pada pengaruh kompensasi dan lingkungan kerja terhadap kepuasan kerja pegawai PT. PLN ULP Purbalingga melalui Teori Dua Dimensi Kepuasan Kerja oleh Frederick Herzbeg. Metode yang digunakan yakni metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan yakni kuisoner, observasi, dan dokumentasi. Penelitian menggunakan teknik analisis data Uji Asumsi Klasik, Analisis Regresi Linear Berganda, Koefisien Determinasi (R²), kemudian dilanjut dengan Uji F dan Uji T pada taraf kesalahan 5%. Data disajikan dalam bentuk grafik tabel. Sampel penelitian diambil secara keseluruhan dengan jumlah sebanyak 53 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompensasi dan lingkungan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja pegawai PT. PLN ULP Purbalingga yang diukur melalui indikator kompensasi, lingkungan kerja, dan kepuasan kerja.Public services need to continue to be improved and one important aspect is optimizing human resources in public administration. Good job satisfaction can improve employee performance, but there are still complaints about aspects of employee job satisfaction being neglected. Compensation received by employees is still not in accordance with the demands of their work. This study focuses on the influence of compensation and work environment on employee job satisfaction at PT. PLN ULP Purbalingga through the Two-Dimensional Theory of Job Satisfaction by Frederick Herzbeg. The method used is a quantitative method with data collection techniques used, namely questionnaires, observation, and documentation. The study used data analysis techniques such as the Classical Assumption Test, Multiple Linear Regression Analysis, the Coefficient of Determination (R²), then continued with the F Test and T Test at a 5% error level. Data are presented in the form of a table graph. The research sample was taken as a whole with a total of 53 respondents. The results of the study indicate that compensation and work environment have a positive and significant effect on employee job satisfaction at PT. PLN ULP Purbalingga as measured by indicators of compensation, work environment, and job satisfaction.
4822451678J1E021054AN ENGLISH TEACHER’S PERCEPTION OF USING YOUTUBE VIDEOS AS A LEARNING MEDIUM TO TEACH VOCABULARY TO YOUNG LEARNERS AT A SCHOOL WITH INADEQUATE TEACHING FACILITIES (A Narrative Inquiry at SDN 2 Rejasari)
Dhinullah, Sandi., 2026. An English Teacher’s Perception of Using Youtube Videos As A Learning Medium to Teach Vocabulary to Young Learners in School with Limited Resources. Dosen Pembimbing 1: Laxmi Mustika Cakrawati, S.Pd., M.Pd., Dosen Pembimbing 2: Nisa Roiyasa, S.Pd., M.TESOL., Dosen Penguji 1: Dian Adiarti, S.Pd., M.Hum., Dosen Penguji 2: Musytasyfa Thabib Kariadi, S.Pd., M.Pd. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Universitas Jenderal Soedirman. Fakultas Ilmu Budaya. Jurusan Pendidikan Bahasa. Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Purwokerto. 2026.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi seorang guru bahasa Inggris terhadap penggunaan video YouTube sebagai media pembelajaran untuk mengajarkan kosakata kepada pembelajar muda, khususnya di sekolah dengan fasilitas pembelajaran yang tidak memadai. Penguasaan kosakata bahasa Inggris merupakan hal yang mendasar bagi pembelajar muda sebagai landasan pemerolehan bahasa; namun, pembelajaran yang berpusat pada buku teks konvensional sering kali terbukti kurang mampu mempertahankan minat siswa dalam konteks sekolah dengan keterbatasan sumber daya. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan narrative inquiry untuk menggali pengalaman hidup dan cerita personal guru dalam menghadapi manfaat serta tantangan dalam mengintegrasikan YouTube ke dalam pembelajaran di kelas. Partisipan penelitian ini adalah seorang guru bahasa Inggris di SDN 2 Rejasari yang dipilih melalui purposive sampling dan memiliki pengalaman langsung dalam mengintegrasikan media digital ke dalam pembelajaran meskipun hanya memiliki satu proyektor LCD dan akses internet yang tidak stabil. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi non-partisipan, kemudian dianalisis secara tematik untuk mengungkap persepsi guru, manfaat yang dirasakan dari penggunaan YouTube, serta strategi yang digunakan untuk mengatasi kendala instruksional dan infrastruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memandang YouTube sebagai media yang sangat bermanfaat dalam mendukung pemahaman kosakata melalui input multimodal yang menggabungkan unsur visual dan auditori. Penggunaan video YouTube meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa, serta mengubah suasana kelas yang sebelumnya pasif menjadi lebih interaktif. Meskipun demikian, beberapa tantangan teridentifikasi, termasuk fasilitas pembelajaran yang tidak memadai, konektivitas internet yang tidak stabil, serta perbedaan tingkat pemahaman siswa. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, guru menerapkan strategi adaptif seperti mengunduh video terlebih dahulu, menghentikan video untuk memberikan penjelasan, serta memberikan scaffolding guna membantu siswa memahami materi. Oleh karena itu, penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi platform digital gratis seperti YouTube dapat membantu meminimalkan keterbatasan pembelajaran di sekolah dengan fasilitas yang tidak memadai, selama guru menerapkan pertimbangan profesional dalam memilih konten yang selaras dengan kebutuhan siswa dan tujuan kurikulum. Penelitian ini menyimpulkan bahwa video YouTube dapat berfungsi sebagai media pembelajaran yang suportif dalam pengajaran kosakata kepada pembelajar muda.

Kata Kunci: persepsi guru; penggunaan YouTube; pembelajaran kosakata;pembelajar usia dini; fasilitias pembelajaran yang tidak memadai.
Dhinullah, Sandi., 2026. An English Teacher’s Perception of Using Youtube Videos As A Learning Medium to Teach Vocabulary to Young Learners in School with Limited Resources. Thesis Supervisor 1: Laxmi Mustika Cakrawati, S.Pd., M.Pd., Thesis Supervisor 2: Nisa Roiyasa, S.Pd., M.TESOL., Chief External Examiner: Dian Adiarti, S.Pd., M.Hum., External Examiner: Musytasyfa Thabib Kariadi, S.Pd., M.Pd. Ministry Of Higher Education, Science, And Technology Jenderal Soedirman University. Faculty Of Humanities. Department Of Language Education. English Education Study Program Purwokerto.
This study aimed to explore an English teacher’s perception of using YouTube videos as a learning medium to teach vocabulary to young learners, specifically in a school with inadequate teaching facilities. Mastery of English vocabulary was fundamental for young learners as a foundation for language acquisition; however, conventional textbook-centered instruction often proved insufficient to sustain student’s interest in under-resourced school contexts. This qualitative study employed a narrative inquiry approach to explore the teacher’s lived experiences and personal stories in navigating both the benefits and challenges of integrating YouTube into classroom instruction. The participant was an English teacher at SDN 2 Rejasari, selected through purposive sampling, who had direct experience integrating digital media into the lessons despite having only one LCD projector and unstable internet access. Data were collected through semi-structured interviews and non-participant observations and were analyzed thematically to uncover the teacher’s perceptions, the perceived benefits of YouTube, and the strategies the teacher used to address instructional and infrastructural constraints. The findings revealed that the teacher perceived YouTube as a highly beneficial tool that supported vocabulary comprehension through multimodal input combining visual and auditory elements. The use of YouTube videos increased student engagement and motivation, transforming a previously passive classroom atmosphere into a more interactive learning setting. Despite these advantages, several challenges were identified, including inadequate teaching facilities, unstable internet connectivity, and varying levels of student understanding. To address these issues, the teacher employed adaptive strategies such as pre-downloading videos, pausing the videos for clarification, and providing scaffolding to assist students in understanding the content. Therefore, this study suggested that the integration of free digital platforms such as YouTube could help minimize instructional limitations in schools with inadequate facilities, provided that teachers applied professional judgment in selecting content aligned with students’ needs and curriculum objectives. The study concluded that YouTube videos served as a supportive learning medium for teaching vocabulary to young learners.

Keywords: Teacher’s perception; YouTube as a learning medium; vocabulary instruction; young learners; inadequate school facilities.
4822551620F1C022108Peran Creative Director Dalam Kampanye Kehumasan "Dari Jeruji Besi Menjadi Inspirasi"Event “Dari Jeruji Besi Menjadi Inspirasi” merupakan kegiatan kampanye kehumasan yang diselenggarakan dengan tujuan mengikis stigma sosial terhadap mantan narapidana melalui pendekatan komunikasi berbasis event. Dalam pelaksanaan kegiatan ini, Creative Director memiliki peran strategis dalam merancang konsep kreatif, mengemas pesan kampanye, serta memastikan konsistensi penyampaian pesan di seluruh rangkaian acara.

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran Creative Director dalam pelaksanaan event “Dari Jeruji Besi Menjadi Inspirasi” mulai dari tahap perencanaan hingga pasca- event. Event digunakan sebagai pengarah media implementasi kampanye kehumasan, sementara Creative Director berperan sebagai pengarah utama konsep dan visual kampanye. Hasil pelaksanaan menunjukan bahwa peran Creative Director berkontribusi signifikan dalam membangun narasi acara yang inspiratif, humanis dan juga selaras dengan tujuan kampanye.


The event "From Iron Bars to Inspiration" is a public relations campaign activity held with the aim of eroding social stigma against former inmates through an event-based communication approach. In the implementation of this activity, the Creative Director has a strategic role in designing creative concepts, packaging campaign messages, and ensuring consistency in message delivery throughout the series of events.
This paper aims to describe the role of the Creative Director in the implementation of the event "From Iron Bars to Inspiration" starting from the planning stage to the post-event. The event is used as the media director for the implementation of the public relations campaign, while the Creative Director acts as the main director of the campaign concept and visuals. The results of the implementation show that the role of the Creative Director contributes significantly in building an inspiring, humanist event narrative that is also in line with the campaign objectives.

4822651621E1A022108Perbandingan Putusan Tindak Pidana Korupsi Antara Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi (Studi Perbandingan Putusan Nomor 25/Pid.Sus-TPK/2024/PN. Bgl dan Putusan Nomor 15/Pid.Sus-TPK/2024/PT. Bgl)Tindak pidana korupsi merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang memiliki dampak serius terhadap keuangan negara dan kepercayaan publik, sehingga memerlukan penegakan hukum yang konsisten dan berkeadilan. Dalam praktiknya, penerapan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi kerap menimbulkan perbedaan penafsiran yang berdampak pada disparitas putusan. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan pasal serta perbedaan penafsiran unsur Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dalam Putusan Nomor 25/Pid.Sus-TPK/2024/PN. Bgl dan Putusan Nomor 15/Pid.Sus-TPK/2024/PT. Bgl terkait perkara Pembangunan Gedung Laboratorium RSUD Curup. Metode penelitian yang digunakan yaitu yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, kasus, konseptual serta perbandingan. Sumber bahan hukum terdiri atas bahan hukum primer dan sekunder yang dianalisis secara normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengadilan Negeri Bengkulu menerapkan Pasal 3 dengan menitikberatkan pada penyalahgunaan kewenangan, sedangkan Pengadilan Tinggi Bengkulu menerapkan Pasal 2 ayat (1) dengan menitikberatkan pada akibat berupa kerugian keuangan negara dan penambahan kekayaan. Perbedaan tersebut tidak disebabkan oleh perbedaan fakta hukum, melainkan oleh perbedaan metode penafsiran hukum yang digunakan oleh masing-masing hakim. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan Pasal 2 ayat (1) lebih tepat dalam perkara a quo mengingat besarnya kerugian keuangan negara dan terpenuhinya unsur memperkaya. Oleh karena itu, diperlukan penguatan konsistensi penafsiran serta pedoman normatif yang tegas untuk menjamin kepastian hukum dan keseragaman putusan dalam perkara tindak pidana korupsi. Corruption is an extraordinary crime that has serious impacts on state finances and public trust, thereby requiring consistent and equitable law enforcement. In practice, the application of Article 2 paragraph (1) and Article 3 of the Law on the Eradication of Corruption Crimes often gives rise to differences in interpretation, resulting in disparities in court decisions. This study aims to analyze the application of legal provisions and the differences in the interpretation of the elements of Article 2 and Article 3 of the Law on the Eradication of Corruption Crimes in Decision Number 25/Pid.Sus-TPK/2024/PN. Bgl and Decision Number 15/Pid.Sus-TPK/2024/PT. Bgl concerning the construction of the RSUD Curup Laboratory Building. This research employs a normative juridical method using statutory, case, conceptual, and comparative approaches. The sources of legal materials consist of primary and secondary legal materials, which are analyzed using qualitative normative analysis. The findings indicate that the Bengkulu District Court applied Article 3 by emphasizing the abuse of authority, whereas the Bengkulu High Court applied Article 2 paragraph (1) by focusing on the consequences in the form of state financial losses and the enrichment of assets. These differences are not caused by differing legal facts, but rather by the different methods of legal interpretation adopted by each panel of judges. This study concludes that the application of Article 2 paragraph (1) is more appropriate in the a quo case, considering the substantial state financial losses and the fulfillment of the element of enrichment. Therefore, strengthening consistency in legal interpretation and establishing clear normative guidelines are necessary to ensure legal certainty and uniformity of court decisions in corruption cases.
4822751622I1E022093KONTRIBUSI KONSENTRASI, KOORDINASI MATA - KAKI, DAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI TERHADAP KETEPATAN SHOOTING PESERTA EKSTRAKURIKULER FUTSAL PADA SISWA SMA NEGERI 1 SALEM
Futsal mengandalkan kecepatan dan gerak dinamis, serta gol sebagai penentu kemenangan. Maka dari itu, futsal harus memiliki penguasaan teknik dasar yang baik, khususnya kemampuan shooting. Hasil wawancara dengan pelatih SMA Negeri 1 Salem menemukan bahwa kemampuan shooting belum dilakukan secara optimal. Penelitian ini untuk mengetahui kontribusi konsentrasi, koordinasi mata kaki, dan kekuatan otot tungkai terhadap ketepatan shooting. Penggunaan metode penelitian adalah metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Populasi penelitian memakai siswa ekstrakurikuler futsal SMA Negeri 1 Salem sebanyak 46 siswa. Teknik penggunaan sampel yang dipakai adalah teknik purposive sampling, sampel berjumlah 20 siswa. Uji hipotesis memakai uji pearson correlation, korelasi ganda, regresi linear, regresi berganda, SE dan SR. Hasil yang didapatkan adanya kontribusi secara signifikan antara konsentrasi dengan ketepatan shooting sebesar 37%, koordinasi mata kaki dengan ketepatan shooting sebesar 36%, dan kekuatan otot tungkai dengan ketepatan shooting sebesar 27%. konsentrasi dan koordinasi mata kaki dengan ketepatan shooting sebesar 44,9%, konsentrasi dan kekuatan otot tungkai dengan ketepatan shooting sebesar 46%, koordinasi mata kaki dan kekuatan otot tungkai dengan ketepatan shooting sebesar 46,5%. secara simultan konsentrasi, koordinasi mata kaki, dan kekuatan dengan ketepatan shooting memiliki kontribusi sebesar 47,3%. Terdapat kontribusi antara konsentrasi, koordinasi mata kaki dan kekuatan otot tungkai terhadap ketepatan shooting pada siswa SMA Negeri 1 Salem.
Futsal relies on speed and dynamic movement, as well as goals as the determinant of victory. Therefore, futsal must have a good mastery of basic techniques, especially shooting skills. The results of the interview with the coach of SMA Negeri 1 Salem found that the shooting ability had not been done optimally. This study was to determine the contribution of concentration, ankle coordination, and leg muscle strength to shooting accuracy. The use of the research method is a quantitative method with a correlational approach. The research population used 46 students of SMA Negeri 1 Salem's futsal futsal extracurricular students. The sample technique used is the purposive sampling technique, the sample uses 20 students. The hypothesis test uses Pearson correlation, double correlation, linear regression, multiple regression, SE and SR. The results obtained showed a significant contribution between concentration and shooting accuracy of 37%, foot-eye coordination with shooting accuracy of 36%, and leg muscle strength with shooting accuracy of 27%. Concentration and foot-eye coordination with shooting accuracy of 44.9%, concentration and leg muscle strength with shooting accuracy of 46%, foot-eye coordination and leg muscle strength with shooting accuracy of 46.5%. Simultaneously, concentration, foot-eye coordination, and strength with shooting accuracy had a contribution of 47.3%. There is a contribution between concentration, foot- eye coordination and leg muscle strength towards shooting accuracy in students at SMA Negeri 1 Salem.
4822851625E1A022034PENERAPAN PIDANA PERINGATAN TERHADAP ANAK BERKONFLIK DENGAN HUKUM (Studi di Pengadilan Negeri Purbalingga)
Pidana peringatan merupakan bentuk pidana paling ringan dalam Sistem Peradilan Pidana Anak yang bersifat non-kustodial dan berorientasi pada pembinaan serta perlindungan anak. Pidana ini dirancang untuk menghindarkan Anak yang Berkonflik dengan Hukum (ABH) dari dampak negatif perampasan kemerdekaan, stigmatisasi, dan gangguan terhadap tumbuh kembang anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pidana peringatan terhadap anak berkonflik dengan hukum di Pengadilan Negeri Purbalingga serta menilai kesesuaiannya dengan asas- asas Sistem Peradilan Pidana Anak berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis empiris dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Data diperoleh melalui studi kepustakaan dan wawancara, kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pidana peringatan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, hanya terdapat satu putusan yang menjatuhkan pidana peringatan di Pengadilan Negeri Purbalingga karena hakim dan Balai Pemasyarakatan sangat berhati-hati dalam menilai kondisi anak, khususnya lingkungan keluarga dan sosial. Penetapan pidana peringatan telah mempertimbangkan asas kepentingan terbaik bagi anak serta tujuan pembinaan dan perlindungan anak. Oleh karena itu penerapan pidana peringatan terhadap Anak Berkonflik dengan Hukum harus lebih di lebih dioptimalkan melalui penguatan pedoman penerapan serta mekanisme pembinaan dan pengawasan pasca putusan, agar pidana peringatan tidak hanya bersifat simbolik, tetapi benar-benar efektif dalam mencegah pengulangan tindak pidana dan menjamin perlindungan serta masa depan anak secara berkelanjutan. Warning penalties are the lightest form of punishment in the Juvenile Criminal Justice System, which is non-custodial and oriented towards guidance and protection of children. These penalties are designed to protect Children in Conflict with the Law from the negative effects of deprivation of liberty, stigmatisation, and disruption to their growth and development. This study aims to analyse the application of warning penalties for children in conflict with the law at the Purbalingga District Court and assess their compliance with the principles of the Juvenile Criminal Justice System based on Law No. 11 of 2012. The research method used was empirical juridical with a legislative and conceptual approach. Data was obtained through literature study and interviews, then analysed qualitatively. The results of the study show that in the last ten years, there has only been one decision to impose a warning penalty at the Purbalingga District Court because judges and correctional institutions are very careful in assessing the condition of children, especially their family and social environment. The imposition of warning penalties has taken into account the principle of the best interests of the child and the objectives of optimal child guidance and protection.
4822951624E1B021008ISLAMIC BOARDING SCHOOLS AS PROVIDERS OF WORK TRAINING IN THE JUVENILE JUSTICE SYSTEM (Study at Islamic Boarding Schools Qommarul Hudda Kabupaten Banjarengara) Pidana pelatihan kerja merupakan salah satu bentuk sanksi pidana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, sebagaimana tercantum dalam Pasal 71 ayat (1) huruf c, yang dijatuhkan kepada anak yang melakukan tindak pidana. Pidana ini bertujuan untuk memberikan pembinaan serta menghindarkan anak dari pidana perampasan kemerdekaan yang berpotensi berdampak negatif terhadap perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pelaksanaan pidana pelatihan kerja serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi hambatan dalam pelaksanaannya. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis sosiologis dengan pendekatan kualitatif.Jenis data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder, yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Qomarrul Huda Banjarnegara. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pelaksanaan pidana pelatihan kerja di banjarnegara terdiri dari, pelatihan infrastruktur, menjahit, perbengkelan telah berjalan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2012. Namun,Pelaksanaanya belum optimal karena masih menghadapi sejumlah hamnbatan. Hambatan tersebut kesadaran anak, sarana prasarana, pembimbing khusus yang mengawasi anak serta stigma negatif dari masyarakat terhadap anak yang menjalani pidana pelatihan kerja. Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan dukungan kelembagaa,peningkatan kualitas pembinaan, penguatan sinergi antara lembaga pelaksana, balai pemasyarakatan, serta masyarakat guna mencapai rehabilitasi dan reintegrasi sosial anak secara optimal. Job training is a form of criminal sanction regulated in Law Number 11 of 2012 concerning the Juvenile Criminal Justice System, as stated in Article 71 paragraph (1) letter c, which is imposed on children who commit criminal acts. This sanctions aims to provide guidance and prevent children from the crime of deprivation of independence which has the potential to have a negative impact on children's development. This study aims to examine the effectiveness of the implementation of vocational training as a criminal penalty and to identify the obstacles encountered in its implementation. The research method used is sociological juridical with a qualitative approach. The types of data used include primary data and secondary data, which are obtained through interviews, observations, and literature studies. This research was conducted at the Qomarrul Huda Islamic Boarding School, Banjarnegara. The results of this study show that the implementation of criminal job training in Banjarnegara consists of infrastructure training, sewing, workshops have been running in accordance with the provisions of Law Number 11 of 2012. However, the implementation is not optimal because it still faces a number of obstacles. These obstacles are child awareness, infrastructure, special supervisors who supervise children and negative stigma from the community towards children undergoing criminal work training. This condition indicates the need to strengthen institutional support, improve the quality of coaching, and enhance synergy among implementing institutions, correctional centers, and the community in order to achieve optimal rehabilitation and social reintegration of children.

4823051626H1E021005IMPLEMENTASI MACHINE LEARNING PADA PERAMALAN PERMINTAAN MENGGUNAKAN ALGORITMA LONG SHORT-TERM MEMORY (LSTM) BERBASIS WEB APPLICATION (STUDI KASUS: MARISA FOOD)Peramalan permintaan berperan penting dalam mendukung pengambilan keputusan produksi dan pengelolaan persediaan. Marisa Food, sebagai industri kecil menengah pengolah ikan lele, menghadapi pola permintaan abon lele original 80 gram yang bersifat non-linier dan fluktuatif, sehingga menimbulkan kondisi overstock dan understock. Metode peramalan konvensional dinilai kurang mampu menangani karakteristik data tersebut, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih adaptif. Penelitian ini bertujuan menghasilkan peramalan permintaan abon lele original 80 gram untuk 12 minggu ke depan menggunakan model Long Short-Term Memory (LSTM) dengan konfigurasi terbaik, serta mengimplementasikannya ke dalam web application. Data historis penjualan diolah melalui tahap preprocessing dan feature engineering, kemudian digunakan untuk membangun dan mengevaluasi berbagai konfigurasi model LSTM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model terbaik menggunakan dua layer LSTM dengan 128–128 neuron, learning rate 0,001, dropout rate 0,2, 225 epoch, batch size 18, dan optimizer Adam, serta menghasilkan nilai RMSE sebesar 7,75, yang menunjukkan rata-rata kesalahan prediksi berada pada kisaran ±8 unit. Model tersebut menghasilkan peramalan permintaan selama 12 minggu ke depan dengan total permintaan sebesar 722 unit. Model LSTM diintegrasikan ke dalam aplikasi web berbasis Streamlit yang menyediakan fitur unggah data, pelatihan model, serta visualisasi dan tabel hasil peramalan, sehingga dapat mendukung pengambilan keputusan produksi dan pengelolaan persediaan secara lebih efektif bagi Marisa FoodDemand forecasting plays an important role in supporting production planning and inventory management decisions. Marisa Food, a small and medium enterprise engaged in catfish processing, faces a non-linear and highly fluctuating demand pattern for its main product, original 80-gram catfish floss, which often leads to overstock and understock conditions. Conventional forecasting methods are considered insufficient to handle these data characteristics, making a more adaptive approach necessary. This study aims to generate demand forecasts for original 80-gram catfish floss for the next 12 weeks using a Long Short-Term Memory (LSTM) model with the best configuration, as well as to implement the model within a web application. Historical sales data were processed through preprocessing and feature engineering stages and then used to build and evaluate various LSTM model configurations. The results show that the best-performing model employs two LSTM layers with 128–128 neurons, a learning rate of 0.001, a dropout rate of 0.2, 225 epochs, a batch size of 18, and the Adam optimizer, achieving an RMSE value of 7.75, which indicates an average prediction error of approximately ±8 units. This model was used to generate demand forecasts for the next 12 weeks, with a total predicted demand of 722 units. The LSTM model was integrated into a Streamlit-based web application that provides data upload, model training, and visualization and tabular presentation of forecasting results, thereby supporting more effective production planning and inventory management for Marisa Food
4823151627H1A022084PERANCANGAN SISTEM MONITORING NILAI EFISIENSI TURBIN UAP BERBASIS HMI MENGGUNAKAN IAPWS-IF97 TERINTEGRASI DENGAN PROTOKOL MQTTEfisiensi turbin uap merupakan indikator utama kinerja pembangkit listrik tenaga panas bumi. Pada sistem Distributed Control System (DCS) PT Pertamina Geothermal Energy Area Karaha, nilai efisiensi ditampilkan melalui modul Geothermal Performance Advisory Distributed Control System (GPADCS). Namun, ditemukan perbedaan antara nilai tersebut dengan hasil perhitungan manual berbasis standar termodinamika IAPWS-IF97, yang berpotensi menimbulkan ketidakakuratan evaluasi kinerja. Penelitian ini bertujuan memvalidasi nilai efisiensi turbin dengan menghitung ulang data historis GPADCS menggunakan metode IAPWS-IF97 berbasis pemrograman Python. Hasil perhitungan diintegrasikan melalui protokol MQTT dan ditampilkan pada Human Machine Interface (HMI) berbasis Streamlit secara real-time. Sistem yang dikembangkan mampu menampilkan nilai efisiensi GPADCS, hasil perhitungan manual, serta deviasi efisiensi sebagai parameter validasi, dengan rentang ideal deviasi sebesar 5%–10%. Data historis disimpan dalam basis data MySQL untuk analisis performa turbin berdasarkan waktu tertentu. Sistem ini berfungsi sebagai pendukung monitoring yang independen tanpa memengaruhi sistem kontrol utama pembangkit.Steam turbine efficiency is a key performance indicator in geothermal power plants. In the Distributed Control System (DCS) of PT Pertamina Geothermal Energy Area Karaha, turbine efficiency is displayed through the Geothermal Performance Advisory Distributed Control System (GPADCS). However, discrepancies were identified between the GPADCS values and manual calculations based on the IAPWS-IF97 thermodynamic standard, potentially leading to inaccurate performance evaluation. This study aims to validate turbine efficiency by recalculating historical GPADCS data using the IAPWS-IF97 method implemented in Python. The recalculated results are integrated via the Message Queuing Telemetry Transport (MQTT) protocol and visualized on a Streamlit-based Human Machine Interface (HMI) in near real-time. The developed system presents both GPADCS efficiency values and manually calculated results, along with efficiency deviation as a validation parameter, where a deviation range of 5%–10% is considered ideal. Historical data are stored in a MySQL database to support time-based performance analysis. The system operates as an independent monitoring support tool without affecting the main control system.
4823251638C1G021023ANALYSIS OF THE INFLUENCE OF TRAVEL COSTS AND SOCIO-ECONOMIC FACTORS ON THE NUMBER OF VISITS TO SERULINGMAS WILDLIFE RECREATION PARKJudul penelitian ini adalah Analisis Pengaruh Biaya Perjalanan dan Faktor Sosial Ekonomi terhadap Jumlah Kunjungan di Serulingmas Wildlife Recreation Park. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum tercapainya target jumlah kunjungan wisatawan ke TRMS yang ditetapkan sebesar 300.000 pengunjung per tahun. Padahal, TRMS memiliki potensi yang besar sebagai destinasi wisata berbasis konservasi, edukasi, dan rekreasi keluarga yang dapat memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah. Oleh karena itu, diperlukan analisis mengenai faktor-faktor yang memengaruhi jumlah kunjungan wisatawan serta estimasi nilai ekonomi yang dihasilkan dari aktivitas wisata di lokasi tersebut.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh biaya perjalanan, gender, jarak, pendapatan, pengalaman berkunjung, dan usia terhadap jumlah kunjungan wisatawan ke TRMS, serta untuk mengestimasi nilai ekonomi TRMS menggunakan metode Individual Travel Cost Method (ITCM). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Data yang digunakan terdiri dari data primer yang diperoleh melalui wawancara dan kuesioner kepada 100 pengunjung TRMS, serta data sekunder yang diperoleh dari pihak pengelola. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan analisis deskriptif, analisis regresi linear berganda dengan bantuan SPSS, uji asumsi klasik, serta analisis valuasi ekonomi menggunakan metode Individual Travel Cost Method.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel biaya perjalanan dan jarak memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap jumlah kunjungan wisatawan. Semakin tinggi biaya perjalanan dan semakin jauh jarak tempat tinggal wisatawan, maka frekuensi kunjungan cenderung menurun. Sementara itu, variabel gender, pendapatan, pengalaman berkunjung, dan usia tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap jumlah kunjungan. Berdasarkan perhitungan menggunakan ITCM, diperoleh koefisien biaya perjalanan sebesar –6,64557 yang menunjukkan sensitivitas kunjungan terhadap perubahan biaya perjalanan. Nilai surplus konsumen rata-rata per individu per tahun sebesar Rp1.329.081,00, dan surplus konsumen per individu per kunjungan sebesar Rp1.121,59. Dengan jumlah pengunjung TRMS pada tahun 2024 sebanyak 177.701 orang, maka estimasi nilai ekonomi total TRMS adalah sebesar Rp199.307.192,70 per tahun.
Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan aksesibilitas, pengurangan hambatan biaya perjalanan, serta peningkatan infrastruktur dan transportasi menuju lokasi wisata merupakan faktor penting dalam meningkatkan jumlah kunjungan. Selain itu, besarnya nilai ekonomi yang dihasilkan menunjukkan bahwa TRMS memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat dan layak untuk terus dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis konservasi dan edukasi. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi acuan bagi pengelola dan pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengembangan pariwisata TRMS yang berkelanjutan
The title of this research is Analysis of the Influence of Travel Costs and Socio-Economic Factors on the Number of Visits to Serulingmas Wildlife Recreation Park. This study was motivated by the fact that the target number of tourist visits to TRMS, set at 300,000 visitors per year, has not yet been achieved. In fact, TRMS has significant potential as a conservation, educational, and family recreation tourism destination that can contribute to the local economy. Therefore, an analysis of the factors influencing the number of tourist visits and an estimation of the economic value generated from tourism activities at this site are necessary.
The objective of this study is to analyze the effect of travel cost, gender, distance, income, visiting experience, and age on the number of tourist visits to TRMS, as well as to estimate the economic value of TRMS using the Individual Travel Cost Method (ITCM). This research employs a descriptive quantitative approach. The data used consist of primary data obtained through interviews and questionnaires administered to 100 TRMS visitors, as well as secondary data obtained from the site management. The sampling technique used is purposive sampling. Data analysis was conducted using descriptive analysis, multiple linear regression analysis with the assistance of SPSS, classical assumption tests, and economic valuation analysis using the Individual Travel Cost Method.
The results show that the travel cost and distance variables have a negative and significant effect on the number of tourist visits. The higher the travel cost and the farther the distance from the tourist’s residence, the lower the frequency of visits. Meanwhile, gender, income, visiting experience, and age do not have a significant effect on the number of visits. Based on calculations using the ITCM, the travel cost coefficient is –6.64557, indicating the sensitivity of visits to changes in travel costs. The average consumer surplus per individual per year is IDR 1,329,081.00, and the consumer surplus per individual per visit is IDR 1,121.59. With a total of 177,701 visitors to TRMS in 2024, the total economic value of TRMS is estimated at IDR 199,307,192.70 per year.
The implications of this study indicate that improving accessibility, reducing travel cost barriers, and enhancing infrastructure and transportation to the tourist site are important factors in increasing the number of visits. In addition, the substantial economic value generated demonstrates that TRMS provides tangible economic benefits to the community and is worthy of further development as a conservation- and education-based tourism destination. The findings of this study can also serve as a reference for site managers and local governments in formulating sustainable tourism development policies for TRMS.
4823351641P2H024003Upaya Peningkatan Kinerja Penyuluh Pertanian di Kawasan Hortikultura Kabupaten WonosoboSubsektor hortikultura merupakan kontributor terbesar terhadap perekonomian Kabupaten Wonosobo dengan sumbangan sebesar 29,6% terhadap PDRB daerah, namun produktivitas beberapa komoditas mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan ini diduga berkaitan dengan efektivitas kinerja penyuluh pertanian sebagai ujung tombak penyampaian inovasi dan pendampingan petani. Selama ini penilaian kinerja penyuluh lebih banyak dilakukan melalui self-assessment, sehingga penting untuk memperoleh gambaran objektif dari sisi petani sebagai penerima manfaat kegiatan penyuluhan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persepsi petani hortikultura tentang kinerja penyuluh pertanian serta merumuskan strategi peningkatan kinerja penyuluh melalui analisis SWOT. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif eksplanatif yang dilaksanakan di tiga kecamatan sentra hortikultura, yakni Garung, Kertek, dan Kalikajar di Kabupaten Wonosobo, yang dipilih secara purposif berdasarkan data produksi hortikultura dan dinamika kelembagaan kelompok tani. Responden berjumlah 82 orang merupakan petani hortikultura yang tergabung dalam kelompok tani, dengan pengumpulan data menggunakan kuesioner skala Likert. Persepsi petani dinilai melalui tiga aspek utama kinerja penyuluh, yaitu persiapan penyuluhan, pelaksanaan penyuluhan, serta evaluasi dan pelaporan penyuluhan. Selain itu, analisis SWOT digunakan untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kinerja penyuluh guna merumuskan strategi peningkatannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi petani terhadap kinerja penyuluh berada pada kategori baik di seluruh aspek. Sebanyak 93,90% petani menilai penyuluh telah melakukan persiapan penyuluhan dengan baik dengan indeks skor persepsi 70,96%; 82,93% menilai pelaksanaan penyuluhan baik dengan indeks skor persepsi 69,30%; dan 98,78% menyatakan bahwa aspek evaluasi dan pelaporan sudah terlaksana secara baik dengan indeks skor persepsi 72,34%. Uji Chi Square menunjukkan bahwa karakteristik responden seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pengalaman berusahatani tidak menunjukkan perbedaan signifikan terhadap persepsi. Uji korelasi rank spearman pada ketiga aspek menunjukkan hubungan positif yang cukup-baik (0,505, 0,502 dan 0,569) berarti terdapat hubungan antara persepsi petani tentang kinerja penyuluh pertanian di kawasan hortikultura dengan tingkat produktivitas komoditas pertanian. Hasil analisis IFAS dan EFAS menghasilkan skor selisih kekuatan–kelemahan sebesar 1,008 dan peluang–ancaman sebesar 1,060, menempatkan posisi strategi pada Kuadran I (Strategi Agresif/SO). Strategi yang direkomendasikan meliputi pemanfaatan kekuatan penyuluh untuk menangkap peluang, penguatan kompetensi teknis, optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi, pengembangan program penyuluhan unggulan, serta peningkatan kerja sama dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya.

Kata Kunci : Persepsi petani; Kinerja penyuluh; Hortikultura; Analisis SWOT.

The horticulture subsector is the largest contributor to the economy of Wonosobo Regency, accounting for 29.6% of the regional GDP; however, the productivity of several commodities has declined in recent years. This decline is presumed to be related to the effectiveness of agricultural extension workers, who play a crucial role in delivering innovations and providing farmer assistance. Performance assessment of extension workers has mostly relied on self-assessment, making it important to obtain an objective evaluation from farmers as the beneficiaries of extension services. This study aims to determine horticulture farmers’ perceptions of the performance of agricultural extension workers and to formulate strategies for improving their performance using SWOT analysis. The research was conducted in three major horticultural centers—Garung, Kertek, and Kalikajar subdistricts of Wonosobo Regency—purposively selected based on horticultural production data and the dynamics of farmer group institutions. A total of 82 respondents, who are horticulture farmers organized in farmer groups, participated in the study. Data were collected using a Likert-scale questionnaire. Farmers’ perceptions were assessed through three main aspects of extension performance: preparation of extension activities, implementation of extension activities, and evaluation and reporting. In addition, SWOT analysis was used to identify internal and external factors influencing extension performance and to formulate appropriate improvement strategies. The research results indicate that farmers' perceptions of extension workers' performance are in the good category across all aspects. As many as 93.90% of farmers rated the extension preparation as good with a perception score index of 70.96%; 82.93% rated the implementation of extension activities as good with a perception score index of 69.30%; and 98.78% stated that the evaluation and reporting aspects were carried out well with a perception score index of 72,34%. The Chi-Square test showed that respondent characteristics such as age, gender, education, and farming experience did not exhibit significant differences in perceptions. The Spearman rank correlation test on the three aspects shows a moderately strong positive relationship (0.505, 0.502, and 0.569), indicating a correlation between farmers' perceptions of the performance of agricultural extension workers in horticultural areas and the productivity level of agricultural commodities.The IFAS and EFAS analyses yielded a strength-weakness differential score of 1.008 and an opportunity-threat score of 1.060, positioning the strategy in Quadrant I (Aggressive/SO Strategy). Recommended strategies include leveraging extension workers' strengths to capture opportunities, strengthening technical competencies, optimizing the use of information technology, developing flagship extension programs, and enhancing collaboration with local governments and other stakeholders.
Keywords: Farmer perception; Extension worker performance; Horticulture; SWOT analysis.
4823451632H1A022095ANALISIS SUSUT UMUR TRANSFORMATOR TENAGA AKIBAT SUHU OPERASIONAL DI GARDU INDUK 150kV KALIBAKAL PURWOKERTO
Transformator tenaga merupakan komponen vital dalam sistem tenaga listrik yang berfungsi menjaga keandalan penyaluran energi. Namun, salah satu permasalahan utama pada transformator adalah penurunan umur pakai akibat pengaruh suhu operasional yang tinggi. Suhu berlebih dapat mempercepat proses penuaan isolasi, sehingga mengurangi keandalan dan memperpendek masa operasional transformator. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh variasi suhu operasional terhadap susut umur transformator tenaga 5 di Gardu Induk 150 kV Kalibakal Purwokerto. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi variasi suhu operasional, menghitung susut umur akibat suhu, serta mengestimasi sisa umur transformator berdasarkan standar internasional.
Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan perhitungan berbasis standar IEC 60076-7 tentang Loading Guide for OilImmersed Power Transformers. Data yang digunakan meliputi spesifikasi transformator, data operasi harian (beban, suhu minyak, dan suhu hotspot), serta data suhu lingkungan. Analisis dilakukan melalui perhitungan faktor beban, kenaikan suhu minyak (top-oil), kenaikan suhu hotspot, serta perhitungan Loss of Life (LOL) untuk mengetahui percepatan penuaan isolasi. Dari hasil perhitungan LOL, dilakukan estimasi sisa umur transformator dibandingkan umur rancangannya. Penelitian ini dilaksanakan di GI Kalibakal selama periode September–November 2025.
Kata kunci: susut umur transformator, suhu operasional, loss of life, IEC 60076-7, keandalan sistem tenaga
Power transformers are critical components in the electrical power system, ensuring reliable energy transmission and distribution. However, one of the main challenges in their operation is the reduction of service life caused by excessive operational temperature. Elevated temperatures accelerate insulation aging, thereby reducing transformer reliability and shortening its operational lifespan. This research aims to analyze the impact of operational temperature variations on the life loss of Power Transformer 5 at the 150 kV Kalibakal Substation in Purwokerto. The objectives are to examine temperature variation conditions, calculate the life loss due to temperature effects, and estimate the remaining life of the transformer based on international standards.
The study employed a quantitative approach using calculations based on IEC 60076-7 standards (Loading Guide for Oil-Immersed Power Transformers). The data used included transformer specifications, daily operation records (load, top-oil temperature, and hotspot temperature), as well as environmental temperature data. The analysis covered load factor calculation, top-oil temperature rise, hotspot temperature rise, and the determination of Loss of Life (LOL) to evaluate insulation aging acceleration. Based on LOL values, the remaining life of the transformer was estimated and compared with its design life. The research was conducted at Kalibakal Substation over the period of September–November 2025.
The results indicate that operational temperature variations significantly influence transformer life loss. The annual LOL value obtained reveals that the transformer experiences faster aging compared to its 30-year design life. The estimated remaining life of Transformer 5 at Kalibakal Substation is still within a safe operational range, although further evaluations are required, particularly during peak loads and high ambient temperature conditions. Therefore, this study provides valuable insights for PLN to develop maintenance, operation, and replacement strategies to enhance power system reliability.
Keywords: transformer life loss, operational temperature, loss of life, IEC 60076-7, power system reliability
4823551517P2E024011KELAYAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN LUMBUNG PANGAN MASYARAKAT UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN
(STUDI KASUS PADA LPM GAPOKTAN NGUDI TANI)
Pangan merupakan kebutuhan mendasar yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945, dengan definisi yang mencakup segala sesuatu dari sumber hayati untuk konsumsi manusia. Ketahanan pangan melibatkan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi pangan, di mana cadangan pangan nasional terdiri dari cadangan pemerintah, daerah, dan masyarakat. Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) dikembangkan untuk memperkuat cadangan pangan melalui pemberdayaan masyarakat, fasilitasi bangunan gudang, pengisian cadangan, dan penguatan kelembagaan. Tujuan penelitian adalah menganalisis kelayakan usaha dari aspek finansial dan non-finansial (legalitas, organisasi, pemasaran, sosial-ekonomi), serta merumuskan strategi pengembangan lumbung pangan masyarakat untuk mendukung ketahanan pangan. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus pada LPM Gapoktan Ngudi Tani Desa Karangpetir Kecamataan Tambak Kabupaten Banyumas. Analisis finansial meliputi Net Present Value, Internal Rate of Return, Payback Period, dan Return on Investment. Analisis non-finansial mencakup aspek legalitas, organisasi, pemasaran, dan sosial-ekonomi. Strategi pengembangan dianalisis menggunakan SWOT, matriks IFE-EFE, dan QSPM untuk menentukan prioritas strategi.
Kelayakan usaha LPM Gapoktan Ngudi Tani dari aspek finansial dan aspek non finansial layak untuk dijalankan. Strategi pengembangan lumbung pangan masyarakat yang utama adalah memperkuat kemitraan untuk meningkatkan penjualan, yang dapat diimplementasikan melalui kebijakan, optimalisasi sumber daya, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Dukungan pemerintah untuk modal operasional, peningkatan partisipasi petani, dan evaluasi berkala untuk keberlanjutan usaha.
Food is a fundamental necessity guaranteed by the 1945 Constitution, with a definition encompassing all products derived from biological sources for human consumption. Food security involves availability, affordability, and the fulfillment of food consumption, where national food reserves consist of government, regional, and community reserves. The Community Food Granary (LPM) was developed to strengthen food reserves through community empowerment, warehouse facilitation, reserve replenishment, and institutional strengthening. The objective of this research is to analyze business feasibility from financial and non-financial aspects (legality, organization, marketing, socio-economics), as well as to formulate development strategies for community food granaries to support food security. This research employs a case study method at the LPM Gapoktan Ngudi Tani, Karangpetir Village, Tambak District, Banyumas Regency. Financial analysis includes Net Present Value, Internal Rate of Return, Payback Period, and Return on Investment. Non-financial analysis covers legality, organizational, marketing, and socio-economic aspects. Development strategies were analyzed using SWOT, IFE-EFE matrices, and QSPM to determine strategic priorities.
The results indicate that the business feasibility of LPM Gapoktan Ngudi Tani is viable from both financial and non-financial perspectives. The primary development strategy for the community food granary is to strengthen partnerships to increase sales, which can be implemented through policy-making, resource optimization, and human resource capacity building. Government support for operational capital, increased farmer participation, and regular evaluations are essential for business sustainability.
4823651631A1A022072Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perilaku Penggunaan Sayurbox sebagai Platform Belanja Hasil PertanianPerkembangan teknologi digital mendorong transformasi sistem pemasaran hasil pertanian melalui pemanfaatan platform belanja daring seperti Sayurbox. Platform ini menawarkan kemudahan akses terhadap produk pertanian segar serta efisiensi dalam proses distribusi. Namun, pada periode pascapandemi COVID-19, penggunaan platform e-grocery menunjukkan dinamika seiring dengan perubahan preferensi belanja konsumen. Kondisi tersebut mendorong perlunya kajian mengenai karakteristik konsumen serta faktor-faktor yang memengaruhi perilaku penggunaan platform agribisnis digital. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengidentifikasi karakteristik konsumen pengguna platform Sayurbox sebagai media belanja hasil pertanian dan 2) menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi perilaku penggunaan Sayurbox berdasarkan pendekatan Technology Acceptance Model (TAM), yang meliputi perceived ease of use, perceived usefulness, attitude toward using technology, behavioral intention to use, dan actual system use.
Penelitian ini menerapkan metode studi kasus dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel dilakukan menggunakan purposive sampling dengan jumlah 100 responden, yaitu konsumen yang berusia minimal 20 tahun, berdomisili di wilayah Jabodetabek, serta pernah menggunakan platform Sayurbox minimal dua kali dalam satu tahun terakhir. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner, selanjutnya data dianalisis menggunakan pendekatan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan dukungan perangkat lunak SmartPLS 4.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pengguna Sayurbox didominasi oleh konsumen usia produktif yang tinggal di wilayah perkotaan dan memiliki aktivitas yang relatif tinggi, sehingga membutuhkan layanan belanja hasil pertanian yang praktis dan efisien. Karakteristik tersebut mencerminkan tingginya kebutuhan terhadap pemanfaatan platform belanja daring dalam mendukung aktivitas sehari-hari. Sementara itu, hasil analisis model Technology Acceptance Model (TAM) menunjukkan bahwa perceived ease of use berpengaruh signifikan terhadap perceived usefulness dan attitude toward using technology. Selanjutnya, perceived usefulness dan attitude toward using technology berpengaruh signifikan terhadap behavioral intention to use, yang pada akhirnya berpengaruh signifikan terhadap actual system use. Temuan ini mengindikasikan bahwa keberlanjutan penggunaan Sayurbox sebagai platform belanja hasil pertanian pascapandemi sangat dipengaruhi oleh tingkat penerimaan teknologi oleh konsumen, khususnya persepsi terhadap kemudahan dan kemanfaatan penggunaan platform.
The development of digital technology has driven the transformation of agricultural product marketing systems through the use of online shopping platforms such as Sayurbox. This platform offers easy access to fresh agricultural products and efficiency in the distribution process. However, in the post-COVID-19 pandemic period, the use of e-grocery platforms has shown dynamics in line with changes in consumer shopping preferences. This condition encourages the need for a study of consumer characteristics and factors that influence the behavior of using digital agribusiness platforms. This study aims to 1) identify the characteristics of consumers who use the Sayurbox platform as a medium for purchasing agricultural products and 2) analyze the factors that influence the behavior of using Sayurbox based on the Technology Acceptance Model (TAM) approach, which includes perceived ease of use, perceived usefulness, attitude toward using technology, behavioral intention to use, and actual system use.
This study applies a case study method with a quantitative descriptive approach. The sampling technique was carried out using purposive sampling with 100 respondents, namely consumers who were at least 20 years old, resided in the Greater Jakarta area, and had used the Sayurbox platform at least twice in the past year. Data collection was conducted through the distribution of questionnaires, and the data was analyzed using the Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) approach with the support of SmartPLS 4 software.
The findings of this study indicate that Sayurbox users are predominantly productive-aged consumers who live in urban areas and have relatively high activity levels, thus requiring practical and efficient agricultural product shopping services. These characteristics reflect the high demand for online shopping platforms to support daily activities. Meanwhile, the results of the Technology Acceptance Model (TAM) analysis show that perceived ease of use has a significant effect on perceived usefulness and attitude toward using technology. Furthermore, perceived usefulness and attitude toward using technology have a significant effect on behavioral intention to use, which ultimately has a significant effect on actual system use. These findings indicate that the continued use of Sayurbox as an agricultural product shopping platform after the pandemic is greatly influenced by the level of technology acceptance by consumers, particularly their perceptions of the ease and usefulness of using the platform.
4823751633C1A022061PENGARUH SUBSEKTOR PERIKANAN TERHADAP PDRB DI INDONESIA 2021-2023Sektor perikanan memiliki peran penting dalam perekonomian daerah di Indonesia, khususnya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayah pesisir dan pasca pandemi Covid-19. Namun, peningkatan aktivitas dan kapasitas fisik sektor perikanan tidak selalu sejalan dengan peningkatan nilai tambah ekonomi daerah. Oleh Karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh volume produksi perikanan, nilai ekspor perikanan, jumlah kapal perikanan, investasi sektor perikanan, APBD sektor perikanan, dan angka konsumsi ikan terhadap PDRB sektor perikanan di Indonesia pada 2021-2023. Penelitian ini menggunakan data panel dari 34 provinsi di Indonesia dengan periode pengamatan tahun 2021-2023, sehingga diperoleh 102 observasi. Metode analisis yang digunakan adalah regresi data panel dengan pendekatan Fixed Effect Model (FEM). Hasil Penelitian menunjukkan bahwa APBD sektor perikanan dan angka konsumsi ikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap PDRB sektor perikanan. Sementara itu, volume produksi perikanan, nilai ekspor perikanan, jumlah kapal perikanan, dan investasi sektor perikanan tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa selama pemulihan pasca pandemi Covid-19, pertumbuhan PDRB sektor perikanan lebih ditentukan oleh belanja pemerintah daerah dan permintaan domestik dibandingkan oleh penginkatan kapasitas produksi, ekspor, maupun investasi. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan pembangunan sektor perikanan perlu diarahkan pada penguatan APBD sektor perikanan yang bersifat produktif serta peningkatan konsumsi ikan masyarakat. Pemerintah perlu memfokuskan belanja public pada peningkatan kualitas infrastruktur, efisiensi usaha, dan pengembangan sumber daya manusia, serta memperkuat strategi berbasis pasar domestik guna mendorong pertumbuhan PDRB sektor perikanan yang berkelanjutan.The fisheries sector plays an important role in regional economic development in Indonesia, particularly in supporting coastal economies during the post-covid-19 recovery period. However, increases in physical capacity and sectoral activity do not always translate into higher regional value added. Therefore, this study aims to analyze the effects of fisheries production volume, fisheries export value, number of fishing vessels, fisheries sector investment, regional government expenditure on fisheries, and fish consumption per capita on the fisheries sector's Gross Domestic Product (GRDP) in Indonesia during 2021-2023. This study employs panel data from 34 provinces in Indonesia covering the period from 2021 to 2023, resulting in a total of 102 observations The results indicate that regional government expenditure on the fisheries sector and fish consumption per capita have a positive and significant effect on the fisheries sector GRDP. In contrast, fisheries production volume, export value, number of fishing vessels, and fisheries sector investment do not show a significant impact. These findings suggest that during the post-pandemic recovery period, the growth of the fisheries sector in Indonesia was driven more by public spending and domestic demand than by exports, production capacity, or investment. The implications of this study emphasize strengthening productive public expenditure in the fisheries sector and increasing domestic fish consumption. Policy efforts should focus on improving infrastructure quality, enhancing efficiency and human resource development, and reinforcing domestic market-oriented strategies to support sustainable growth of the fisheries sector GRDP.
4823851634I2B024002PENGARUH ABDOMINAL WARM BELT THERAPY TERHADAP SKOR NYERI PADA PASIEN ABDOMINAL PAIN DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSUD AJIBARANGPENGARUH ABDOMINAL WARM BELT THERAPY TERHADAP SKOR NYERI PADA PASIEN ABDOMINAL PAIN
DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSUD AJIBARANG
Junianto¹, Sidik Awaludin², Iwan Purnawan²
¹Mahasiswa Magister Keperawatan, Universitas Jenderal Soedirman
²Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman

ABSTRAK
Latar Belakang: Nyeri merupakan rasa indrawi dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan yang nyata atau berpotensi rusak atau tergambarkan seperti adanya kerusakan jaringan. Abdominal warm belt therapy sebagai salah satu tindakan non farmakologi berbasis aplikasi yang memberikan efek hangat pada area nyeri, dikembangkan untuk mengurangi nyeri pada pasien abdominal pain.
Tujuan: Tujuan penelitian ini Adalah mengetahui pengaruh abdominal warm belt therapy terhadap skor nyeri pada pasien abdominal pain.
Metode: Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan dua tahap. Tahap pertama adalah pengembangan prototipe alat Abdominal warm belt therapy dengan desain ringan dan mudah digunakan. Tahap kedua adalah uji kuantitatif dengan desain true experimental pre-post-test design. Sebanyak 58 pasien dibagi secara acak menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Skor nyeri diukur sebanyak tiga kali yaitu sebelum terapi (pretest), menit ke-10 saat terapi dan setelah terapi (posttest) menggunakan Numeric Rating Scale. Analisis data menggunakan uji Friedman, Wilcoxon Signed-Rank, dan Mann-Whitney U Test.
Hasil: Nilai CVI rata-rata adalah 1,00, menunjukkan validitas sangat baik, dan nilai ICC sebesar 0,879, menunjukkan reliabilitas tinggi. Kelompok intervensi menunjukkan penurunan signifikan skor nyeri dari pretest (mean = 9,20 ± 0,761) ke posttest (mean = 1,60 ± 0,498) (p < 0,05. Perbedaan penurunan skor nyeri antara kelompok intervensi dan kontrol signifikan (p < 0,05). Nilai Z = –5,933 sehingga nilai r sebesar 0,77 yang menunjukkan efek besar dari intervensi terhadap penurunan nyeri.
Kesimpulan: Abdominal warm belt therapy berbasis aplikasi efektif menurunkan nyeri pada pasien abdominal pain di IGD.
Kata Kunci: Abdominal pain, abdominal warm belt therapy, Instalasi Gawat Darurat, nyeri.
THE EFFECT OF ABDOMINAL WARM BELT THERAPY ON PAIN SCORES IN ABDOMINAL PAIN PATIENTS IN THE EMERGENCY DEPARTMENT OF AJIBARANG REGIONAL HOSPITAL
Junianto¹, Sidik Awaludin², Iwan Purnawan²
¹Master's Degree Student in Nursing, Universitas Jenderal Soedirman
² Department of Nursing, Faculty of Health Sciences, Universitas Jenderal Soedirman
ABSTRACT
Background: Pain is an unpleasant sensory and emotional experience resulting from actual or potential tissue damage or perceived tissue damage. Abdominal warm belt therapy, a non-pharmacological, application-based treatment that provides a warming effect to the painful area, was developed to reduce pain in patients with abdominal pain.
Objective: The objective of this study is to determine the effect of abdominal warm belt therapy on pain scores in abdominal pain patients.
Method: The study used a two-stage Research and Development (R&D) method. The first stage was the development of a prototype of an abdominal warm belt therapy device with a lightweight and easy-to-use design. The second stage was a quantitative test with a true experimental pre-posttest design. A total of 58 patients were randomly divided into intervention and control groups. Pain scores were measured three times: before therapy (pretest), 10 minutes into therapy, and after therapy (posttest) using a Numeric Rating Scale. Data analysis used the Friedman test, Wilcoxon Signed-Rank test, and Mann-Whitney U test.
Result: The average CVI value was 1.00, indicating very good validity, and the ICC value was 0.879, indicating high reliability. The intervention group showed a significant decrease in fatigue scores from pretest (mean = 9.20 ± 0.761) to posttest (mean = 1.60 ± 0.498) (p < 0.05). The difference in pain score reduction between the intervention and control groups was significant (p < 0.05). The Z value = -5.933 so that the r value was 0.77 which indicated a large effect of the intervention on pain reduction.
Conclusion: App-based abdominal warm belt therapy is effective in reducing pain in abdominal pain patients in the emergency room.
Keyword: Abdominal pain, abdominal warm belt therapy, emergency room, pain.
4823951635E1A022103PENERAPAN BUSINESS JUDGMENT RULE DALAM PERKARA PERBUATAN MELAWAN HUKUM OLEH DIREKTUR DAN KOMISARIS YANG MENIMBULKAN KERUGIAN BAGI PERUSAHAAN (Studi Putusan Pengadilan Negeri Klaten Nomor 105/Pdt.G/2024/PN Kln)Doktrin Business Judgment Rule memberikan perlindungan dari pertanggungjawaban secara pribadi bagi direksi dan komisaris perseroan atas kerugian yang disebabkan oleh pengambilan suatu keputusan bisnis dengan berdasarkan itikad baik dan kehati-hatian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan doktrin Business Judgment Rule terhadap Direktur dan Komisaris PT. Barokah Sejahtera Sentosa dalam Putusan Pengadilan Negeri Klaten Nomor 105/Pdt.G/2024/PN Kln. untuk menentukan pertanggungjawaban ganti rugi atas perbuatan melawan hukum berdasarkan Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus serta sumber data sekunder dengan metode analisis data normatif kualitatif.
Hasil penelitian serta pembahasan menunjukan bahwa doktrin Business Judgment Rule tidak dapat diterapkan untuk melindungi Direktur dan Komisaris dalam Putusan Nomor 105/Pdt.G/2024/PN Kln karena keputusan bisnis yang diambil tidak didasari itikad baik dan prinsip kehati-hatian, serta dilakukan dalam kondisi adanya benturan kepentingan, sehingga unsur-unsur pembebasan tanggung jawab sebagaimana diatur dalam Pasal 97 ayat (5) dan 114 ayat (5) Undang-Undang Perseroan Terbatas tidak terpenuhi secara kumulatif. Berdasarkan hal tersebut, maka Direktur dan Komisaris dikenakan tanggung jawab pribadi berupa ganti rugi atas perbuatan melawan hukum berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata dengan unsur-unsur yang telah terpenuhi secara kumulatif, yaitu unsur adanya perbuatan melawan hukum berupa melanggar hak subjektif orang lain meliputi hak Penggugat atas pelunasan transaksi pembelian methanol dan bertentangan dengan kewajiban hukum pelaku berupa bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, unsur adanya kesalahan berupa para Tergugat yang secara nyata dan dengan sengaja bekerja sama melakukan penipuan dalam transaksi jual beli methanol dengan Penggugat, unsur adanya kerugian berupa piutang dari sisa kewajiban pembayaran transaksi pembelian methanol yang tidak kunjung dibayar oleh para Tergugat sejumlah Rp3.872.638.200,00., dan unsur adanya hubungan kausal antara perbuatan melawan hukum dengan kerugian berupa Perbuatan yang dilakukan oleh para Tergugat secara bersama-sama menimbulkan adanya kerugian yang dialami oleh Penggugat.

The Business Judgment Rule doctrine provides protection from personal liability for directors and commissioners of a company for losses caused by business decisions made in good faith and with due care. This study aims to analyze the application of the Business Judgment Rule doctrine to the Directors and Commissioners of PT. Barokah Sejahtera Sentosa in the Klaten District Court Decision Number 105/Pdt.G/2024/PN Kln. to determine liability for damages for unlawful acts based on Article 1365 of the Civil Code.
This study uses a normative juridical research method with a legislative, conceptual, and case approach as well as secondary data sources with a qualitative normative data analysis method.
The results of the research and discussion show that the Business Judgment Rule doctrine cannot be applied to protect the Director and Commissioner in Decision Number 105/Pdt.G/2024/PN Kln because the business decisions made were not based on good faith and the principle of prudence, and were made in a situation of conflict of interest, so that the elements of exemption from liability as stipulated in Article 97 paragraph (5) and 114 paragraph (5) of the Limited Liability Company Law were not cumulatively fulfilled. Based on this, the Director and Commissioner are subject to personal liability in the form of compensation for unlawful acts under Article 1365 of the Civil Code with elements that have been cumulatively fulfilled, namely the element of unlawful acts in the form of violating the subjective rights of others, including the Plaintiff's right to payment for the methanol purchase transaction and contrary to the legal obligations of the perpetrators in the form of violating laws and regulations, the element of fault in the form of the Defendants who clearly and intentionally collaborated to commit fraud in the methanol sale and purchase transaction with the Plaintiff, the element of loss in the form of receivables from the remaining payment obligations for the methanol purchase transaction that have not been paid by the Defendants in the amount of IDR 3,872,638,200.00, and the element of a causal relationship between the unlawful act and the loss in the form of the actions committed by the Defendants jointly causing the loss suffered by the Plaintiff.
4824051897F1B020119IMPLEMENTASI PROGRAM KAMPUNG KELUARGA BERENCANA
DALAM UPAYA MENDUKUNG KELUARGA BERENCANA MANDIRI DI
DESA BRECEK KECAMATAN KALIGONDANG KABUPATEN
PURBALINGGA
Program Kampung Keluarga Berencana (Kampung KB) merupakan upaya pemerintah
untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga melalui penguatan layanan kependudukan,
KB, dan pembangunan keluarga berbasis masyarakat. Desa Brecek ditetapkan sebagai
Kampung KB karena tingginya angka stunting, rendahnya partisipasi KB, dan terbatasnya
edukasi kesehatan reproduksi. Penelitian kualitatif deskriptif ini menunjukkan bahwa
implementasi program berjalan cukup efektif, ditandai dengan koordinasi antaraktor yang
baik, pelaksanaan kegiatan yang konsisten, serta meningkatnya partisipasi masyarakat.
Keberhasilan program didukung oleh kepemimpinan fasilitatif, kelembagaan yang jelas,
dan kolaborasi lintas sektor, meskipun masih terdapat kendala keterbatasan sumber daya.
Secara umum, program berjalan baik dan memerlukan penguatan sosialisasi, edukasi, serta
kemitraan untuk keberlanjutan.
The Family Planning Village Program (Kampung KB) is a government initiative to
improve the quality of family life by strengthening population services, family planning,
and community-based family development. Brecek Village was designated as a Family
Planning Village due to its high stunting rate, low family planning participation, and
limited reproductive health education. This descriptive qualitative study shows that the
program implementation has been quite effective, marked by good coordination among
actors, consistent implementation of activities, and increased community participation. The
program's success is supported by facilitative leadership, clear institutional frameworks,
and cross-sectoral collaboration, although there are still constraints due to limited
resources. Overall, the program is running well and requires strengthening of outreach,
education, and partnerships for sustainability.