Artikelilmiahs

Menampilkan 48.301-48.320 dari 48.725 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4830151700E1A021053PENERAPAN ASAS PERTANGGUNGJAWABAN PIMPINAN DALAM TINDAK PIDANA PERZINAHAN YANG DILAKUKAN OLEH ANGGOTA PERWIRA TNI
(Studi Putusan Nomor 1-K/PMU/BDG/AU/I/2023)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya ketidakkonsistenan penerapan sanksi dalam perkara tindak pidana perzinahan yang dilakukan oleh anggota Perwira TNI, pada khususnya dalam Putusan Nomor 1-K/PMU/BDG/AU/I/2023, di mana pidana tambahan berupa pemecatan dari dinas militer tidak dijatuhkan oleh Majelis Hakim Mahkamah Militer Tinggi. Permasalahan penelitian ini berfokus pada penerapan asas kepentingan militer dan asas pertanggungjawaban pimpinan dalam pertimbangan hukum hakim serta kedudukan Surat Telegram Panglima TNI dalam perkara tindak pidana perzinahan yang dilakukan oleh sesama anggota TNI. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif yang diterapkan melalui pendekatan peraturan perundang-undangan, pendekatan kasus, serta pendekatan analitis. Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini meliputi bahan hukum primer, sekunder, serta tersier. Data penelitian dikumpulkan melalui metode kepustakaan dan dianalisis dengan metode normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan asas kepentingan militer dalam putusan tersebut belum dilakukan secara optimal, karena pertimbangan hakim lebih menitikberatkan pada aspek yuridis formal tanpa mengakomodasi kepentingan disiplin, moral, dan kehormatan militer. Selain itu, Surat Telegram Panglima TNI belum ditempatkan secara proporsional sebagai pertimbangan normatif tidak langsung. Penelitian ini menyarankan perlunya konsistensi hakim militer dalam menerapkan asas kepentingan militer serta mengintegrasikan kebijakan internal TNI sebagai dasar pertimbangan untuk memperkuat penegakan disiplin dan kepastian hukum.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya ketidakkonsistenan penerapan sanksi dalam perkara tindak pidana perzinahan yang dilakukan oleh anggota Perwira TNI, pada khususnya dalam Putusan Nomor 1-K/PMU/BDG/AU/I/2023, di mana pidana tambahan berupa pemecatan dari dinas militer tidak dijatuhkan oleh Majelis Hakim Mahkamah Militer Tinggi. Permasalahan penelitian ini berfokus pada penerapan asas kepentingan militer dan asas pertanggungjawaban pimpinan dalam pertimbangan hukum hakim serta kedudukan Surat Telegram Panglima TNI dalam perkara tindak pidana perzinahan yang dilakukan oleh sesama anggota TNI. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif yang diterapkan melalui pendekatan peraturan perundang-undangan, pendekatan kasus, serta pendekatan analitis. Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini meliputi bahan hukum primer, sekunder, serta tersier. Data penelitian dikumpulkan melalui metode kepustakaan dan dianalisis dengan metode normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan asas kepentingan militer dalam putusan tersebut belum dilakukan secara optimal, karena pertimbangan hakim lebih menitikberatkan pada aspek yuridis formal tanpa mengakomodasi kepentingan disiplin, moral, dan kehormatan militer. Selain itu, Surat Telegram Panglima TNI belum ditempatkan secara proporsional sebagai pertimbangan normatif tidak langsung. Penelitian ini menyarankan perlunya konsistensi hakim militer dalam menerapkan asas kepentingan militer serta mengintegrasikan kebijakan internal TNI sebagai dasar pertimbangan untuk memperkuat penegakan disiplin dan kepastian hukum.
4830251701A1A022018PENGARUH BAURAN PEMASARAN (MARKETING MIX) 7P TERHADAP KEPUTUSAN PETANI NANAS MADU DALAM MENGGUNAKAN SISTEM TEBAS PANEN DI DESA BELIK, KABUPATEN PEMALANGDesa Belik yang terletak di Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang merupakan wilayah agraris di dataran tinggi Pegunungan Serayu Selatan yang memiliki kondisi lahan berlereng, tanah yang subur, dan iklim yang mendukung untuk melakukan kegiatan pertanian. Komoditas unggulan Desa Belik adalah nanas madu, di mana lebih dari 83% lahan desa dimanfaatkan untuk budidaya nanas madu. Petani nanas madu di Desa Belik umumnya berada pada usia produktif dengan pengalaman bertani cukup lama, namun didominasi oleh tingkat pendidikan formal yang rendah serta lahan yang dikelola oleh petani masih dalam skala kecil. Kondisi tersebut berdampak pada produksi dan pendapatan petani yang relatif rendah, di mana sebagian besar petani hanya menghasilnya 5.000 sampai 10.000 butir nanas per musim tanam dengan pendapatan bersih kurang dari Rp 5.000.000 per tahun.
Pemasaran yang digunakan oleh petani adalah sistem tebas panen karena memberikan kemudahan dalam transaksi, penghematan tenaga dan waktu, serta kepastian pendapatan. Namun, sistem ini juga menyebabkan posisi tawar petani menjadi rendah dan nilai tambah komoditas nanas madu lebih banyak dirasakan oleh pihak penebas. Selain itu, dalam pelaksanaannya terdapat risiko keterlambatan bahkan tidak terlaksananya pelunasan pembayaran oleh penebas yang semakin merugikan petani. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi komoditas unggulan dan pendapatan riil yang diterima petani, meskipun nanas madu telah memiliki sertifikasi Indikasi Geografis (IG).
Hasil analisis menunjukkan bahwa keputusan petani nanas madu dalam menggunakan sistem tebas panen dipengaruhi secara signifikan oleh bauran pemasaran (marketing mix) 7P, khususnya variabel place, promotion, people, process, dan physical evidence. Variabel people menjadi faktor paling dominan yang menegaskan bahwa hubungan sosial dan kepercayaan petani dan penebas berperan besar dalam pengambilan keputusan. Model regresi yang digunakan menjelaskan secara kuat dengan nilai Adjusted R Square sebesar 0,929, yang menunjukkan bahwa 92,9% variasi keputusan petani dapat dijelaskan oleh variabel dalam model. Sementara itu, variabel product dan price tidak berpengaruh signifikan, yang mengindikasikan bahwa kualitas dan harga nanas madu telah dianggap sebagai faktor standar oleh petani.
Belik Village is an agricultural region in the highlands of the South Serayu Mountains with sloping terrain, rich soil, and a climate that supports farming. It is situated in the Belik District of Pemalang Regency. Belik Village's main product is honey pineapple, which is grown on more than 83% of the village's territory. The majority of Belik Village's honey pineapple growers are of productive age and have a great deal of agricultural experience, although their formal education levels are generally poor, and the amount of land they cultivate is still tiny. Even though honey pineapples have received Geographical Indication (GI) certification, most farmers only produce 5,000 to 10,000 pineapples per planting season and earn less than IDR 5,000,000 annually due to this circumstance.
Farmers adopt the slash-and-harvest approach for marketing because it makes transactions simple, saves time and work, and guarantees revenue. The extra value of honey pineapples is mostly felt by harvesters, and this system also gives farmers a weak negotiating position. Additionally, there is a chance that the harvesters won't pay at all or will pay late, which would hurt the farmers much more. Despite the geographical indication (GI) certification of honey pineapples, this circumstance demonstrates a discrepancy between the potential of superior commodities and the actual income earned by farmers.
The analysis's findings show that the 7P marketing mix—specifically, the variables of site, promotion, people, process, and tangible evidence—has a major impact on honey pineapple growers' decisions to employ the harvest-slash technique. The most important aspect is the people variable, which emphasizes how important trust and social ties are to decision-making between farmers and harvesters. The regression model used provides a strong explanation with an Adjusted R Square value of 0.929, indicating that 92.9% of the variation in farmers' decisions can be explained by the variables in the model. Meanwhile, the product and price variables have no significant effect, suggesting that the quality and price of honey pineapples are regarded as standard factors by the farmers.
4830351702G4A016052Karakteristik Luka-Luka Penyebab Kematian Pada Kecelakaan Lalu-lintas Kepolisian Resort Banyumas Peruode Juni 2013-Juni 2014Penelitian ini meninjau tentang Karakteristik Luka-Luka Penyebab Kematian Pada Kecelakaan Lalu-lintas Kepolisian Resort Banyumas Peruode Juni 2013-Juni 2014. Pengumpulan data dilakukan di RS Margono Purwokerto, karena diasumsikan sama dengan data kepolisian. Luka-luka yang secara spesifik ingin ditinjau oleh peneliti adalah tentang Luka Kepala Penyebab Kematian, Luka Thorax Penyebab Kematian, Luka Abdomen Penyebab kematian, dan Luka Eksentrisitas penyebab kematian. Data penelitian ini disajikan dalam bentuk diagram, hal ini karena peneliti ingin menampilkan tren pada periode tersebut. Analisis data dalam penelitian ini adalah univariat, karena peneliti hanya ingin melihat tren tidak untuk menganalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luka kepala adalah penyebab kematian terbanyak, dan Contusio Cerebri adalah yang paling banyak

Kata kunci : luka, kematian, lalu lintas
This study examines the characteristics of injuries causing death in traffic accidents at the Banyumas Police Resort between June 2013 and June 2014. Data collection was conducted at Margono Hospital in Purwokerto, as it was assumed to be the same as police data. The injuries specifically reviewed by the researchers were head injuries causing death, thoracic injuries causing death, abdominal injuries causing death, and eccentric injuries causing death. The data is presented in diagram form because the researchers wanted to show trends over the period. Data analysis in this study was univariate, as the researchers only wanted to observe trends, not analyze them. The results showed that head injuries were the most common cause of death, and cerebral contusion was the most common.

Keywords: injuries, death, traffic
4830451703F1C022054Pola Komunikasi Organisasi Redaksi Serayu News dalam Produksi Berita
Serayu News merupakan media berita lokal yang berdiri sejak tahun 2018 yang memiliki jangkauan audiens yang luas. Namun, masih ditemukan kritik publik terkait kesalahan informasi dalam beberapa konten berita yang mengindikasikan adanya permasalahan dalam pola komunikasi organisasi redaksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola komunikasi organisasi redaksi Serayu News dalam proses produksi berita. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dengan metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap anggota redaksi yang dipilih secara purposive sampling. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman, serta diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa redaksi Serayu News menerapkan tiga pola komunikasi organisasi, yaitu pola rantai, roda, dan bintang, sesuai tahapan produksi berita. Namun, penerapannya belum seimbang antar divisi. Tingginya tingkat kepercayaan dalam iklim organisasi menyebabkan tidak diterapkannya pola komunikasi roda sebagai mekanisme penyaringan berita pada divisi SEO Content Writer dan Media Sosial. Kondisi ini berimplikasi pada munculnya kesalahan informasi, yang dalam penelitian ini ditemukan pada konten berita yang diunggah melalui media sosial Serayu News.Serayu News is a local news media outlet established in 2018 with a wide audience reach. However, there has been public criticism regarding misinformation in some news content, indicating problems in the editorial team's communication patterns. This study aims to analyze the communication patterns of the Serayu News editorial team in the news production process. This study uses a constructivist paradigm with a descriptive qualitative method. Data collection was conducted through interviews, observations, and documentation of editorial members selected through purposive sampling. The data were analyzed using the Miles and Huberman model and tested for validity through source triangulation. The results showed that the Serayu News editorial team applied three organizational communication patterns, namely chain, wheel, and star patterns, according to the stages of news production. However, their application was not balanced across divisions. The high level of trust in the organizational climate has led to the non-implementation of the wheel communication pattern as a news filtering mechanism in the SEO Content Writer and Social Media divisions. This condition has implications for the emergence of misinformation, which in this study was found in news content uploaded through Serayu News' social media.
4830551704E1A022213IMPLIKASI YURIDIS PEMBERIAN ABOLISI TERHADAP TOM LEMBONG PADA PROSES PERADILAN PIDANAPemberian abolisi merupakan kewenangan Presiden yang diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Undang-Undang Darurat Nomor 11 Tahun 1954. Dalam praktiknya, pemberian abolisi menimbulkan perdebatan ketika diterapkan pada perkara pidana yang masih berada dalam proses peradilan, salah satunya dalam kasus Tom Lembong. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemberian abolisi dalam kasus Tom Lembong berdasarkan asas-asas hukum acara pidana di Indonesia serta implikasi yuridisnya terhadap proses peradilan pidana. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan peraturan perundang undangan dan pendekatan kasus, dengan data sekunder berupa bahan hukum primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian abolisi dalam kasus Tom Lembong memiliki dasar kewenangan yang sah secara konstitusional, namun pelaksanaannya menimbulkan persoalan dari sudut pandang asas legalitas dan asas due process of law karena diberikan pada saat proses peradilan pidana belum berkekuatan hukum tetap. Selain itu, pemberian abolisi tersebut berimplikasi terhadap bekerjanya sistem peradilan pidana, khususnya terhadap peran lembaga yudisial dan kepastian hukum. Oleh karena itu, pemberian abolisi dalam perkara pidana perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak mengganggu prinsip hukum acara pidana dan keseimbangan sistem peradilan pidana.The granting of abolition is the authority of the President as stipulated in the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia and Emergency Law No. 11 of 1954. In practice, the granting of abolition has sparked debate when applied to criminal cases that are still in the judicial process, one of which is the case of Tom Lembong. This study aims to analyze the granting of abolition in the Tom Lembong case based on the principles of criminal procedure law in Indonesia and its legal implications for the criminal justice process. This study uses a normative legal research method with a regulatory and case approach, with secondary data in the form of primary and secondary legal materials. The results of the study show that the granting of abolition in the Tom Lembong case has a constitutionally valid basis of authority, but its implementation raises issues from the perspective of the principle of legality and the principle of due process of law because it was granted when the criminal judicial process had not yet become final and binding. In addition, the granting of abolition has implications for the functioning of the criminal justice system, particularly for the role of judicial institutions and legal certainty. Therefore, the granting of abolition in criminal cases needs to be done carefully so as not to interfere with the principles of criminal procedure and the balance of the criminal justice system.
4830651705G1A022109HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG ANEMIA DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA SISWI KELAS X
SMA NEGERI 1 AJIBARANG

Latar Belakang – Anemia merupakan masalah kesehatan yang banyak terjadi pada remaja putri dan dapat berdampak pada penurunan kemampuan belajar, kebugaran, serta kesehatan jangka panjang. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam kejadian anemia adalah tingkat pengetahuan mengenai anemia, yang memengaruhi perilaku gizi dan upaya pencegahan. Tujuan – Penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan tentang anemia dengan kejadian anemia pada siswi kelas X SMA Negeri 1 Ajibarang. Metode – Penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional melalui teknik total sampling pada siswi kelas X SMA Negeri 1 Ajibarang. Tingkat pengetahuan diukur menggunakan kuesioner terstruktur tervalidasi, sementara kejadian anemia didiagnosis melalui pemeriksaan kadar hemoglobin metode Point of Care Testing (POCT). Analisis data mencakup uji univariat dan bivariat menggunakan Chi-Square. Hasil – Penelitian ini diikuti oleh 261 responden setelah dieksklusikan. Sebanyak 153 responden (58,6%) berusia ≤15 tahun. Prevalensi anemia ditemukan sebesar 41% (107 responden). Mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan baik (85,8%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kejadian anemia (p=0,014; OR=2,111). Kesimpulan – Penelitian pada responden siswi kelas X SMA Negeri 1 Ajibarang diketahui terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan tentang anemia dengan kejadian anemia pada remaja putri.Background – Anemia is a health problem that is still commonly found among adolescent girls and may adversely affect learning ability, physical fitness, and long-term health outcomes. One factor that may influence the occurrence of anemia is the level of knowledge about anemia, which affects dietary behavior and preventive practices. Objective – This study aimed to determine the relationship between the level of knowledge about anemia and the occurrence of anemia among tenth-grade female students at SMA Negeri 1 Ajibarang. Method – This was an observational analytical study using a cross-sectional approach using a total sampling technique among 10th-grade female students of SMA Negeri 1 Ajibarang. Knowledge levels were measured using a validated structured questionnaire, while anemia was diagnosed using the Point of Care Testing (POCT) method. Data analysis included univariate and bivariate tests using Chi-Square. Results – This study involved 261 respondents after exclusions. A total of 153 respondents (58.6%) were aged ≤15 years. The prevalence of anemia was found to be 41% (107 respondents). The majority of respondents had a good level of knowledge (85.8%). Bivariate analysis showed a significant association between knowledge level and anemia incidence (p=0.014; OR=2.111). Conclusion – This research was conducted on 261 respondents, class X female students of SMA Negeri 1 Ajibarang, which found that there was a relationship between the level of knowledge about anemia and the incidence of anemia in adolescent girls.
4830751706C1L021012PENGARUH PENERAPAN METODE GAME-BASED LEARNING TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA SMA NEGERI 3 PURWOKERTOPenelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan model eksperimen yang dilakukan terhadap siswa di SMA Negeri 3 Purwokerto. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan dan pengaruh penerapan metode pembelajaran Game-Based Learning terhadap motivasi dan hasil belajar siswa SMA Negeri 3 Purwokerto. Penelitian ini menggunakan model Quasi Experimental Design dengan bentuk Nonequivalent Control Group Designl. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 3 Purwokerto yang berjumlah 180 siswa. Penentuan sampel menggunakan teknik Purposive Sampling dan analisis data berupa uji validitas, uji reliabilitas, uji tingkat kesukaran soal, uji daya pembeda soal, uji normalitas, uji homogenitas, uji independent sample t-test, dan regresi linier sederhana. Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa: 1) Terdapat pengaruh positif penerapan metode pembelajaran Game-Based Learning terhadap motivasi belajar siswa; 2) Terdapat pengaruh positif penerapan metode pembelajaran Game-Based Learning terhadap hasil belajar siswa; 3) Terdapat perbedaan motivasi belajar antara siswa yang menggunakan metode Game-Based Learning dengan siswa yang menggunakan metode pembelajaaran konvensional; 4) Terdapat perbedaan motivasi belajar antara siswa yang menggunakan metode Game-Based Learning dengan siswa yang menggunakan metode pembelajaaran konvensional.
Kata Kunci: Metode Pembelajaran, Game-Based Learning, Motivasi Belajar, Hasil Belajar
This research is a quantitative research with an experimental model conducted on students at SMA Negeri 3 Purwokerto. The purpose of this study is to analyze the differences and effects of the application of the Game-Based Learning learning method on the motivation and learning outcomes of students at SMA Negeri 3 Purwokerto. This study uses a Quasi Experimental Design model with a Nonequivalent Control Group Design. The population in this study were 180 students of class XI of SMA Negeri 3 Purwokerto. The sample determination used Purposive Sampling techniques and data analysis in the form of validity tests, reliability tests, test levels of difficulty of questions, test of question discrimination power, normality tests, homogeneity tests, independent sample t-tests, and simple linear regression. In this study, the results obtained are: 1) There is a positive effect of the application of the Game-Based Learning learning method on student learning motivation; 2) There is a positive effect of the application of the Game-Based Learning learning method on student learning outcomes; 3) There is a difference in learning motivation between students who use the Game-Based Learning method and students who use conventional learning methods; 4) There is a difference in learning motivation between students who use Game-Based Learning and those who use conventional learning methods.
Keywords: Learning Method, Game-Based Learning, Learning Motivation, Learning Outcomes.
4830851707F1D022080Politik Kerukunan Beragama: Studi tentang Komunitas Vihara Buddha Dipa dalam Mendukung Persatuan Umat di PurwokertoPenelitian ini mengkaji dukungan komunitas Vihara Buddha Dippa dalam politik kerukunan beragama di Purwokerto. Kajian ini menarik karena keberadaan umat Buddha yang tergabung dalam Vihara Buddha Dipa, merupakan komunitas yang kecil namun dapat hidup berdampingan dengan baik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, dan untuk mengkaji dukungan komunitas Vihara Buddha Dipa dalam mendukung politik kerukunan beragama di Purwokerto, penelitian ini difokuskan pada tiga hal, nilai-nilai ajaran Buddha, keterlibatan di FKUB, dan menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar Vihara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas Vihara Buddha Dippa secara aktif menginternalisasi nilai-nilai ajaran Buddha yang mendorong sikap inklusif dalam kehidupan sosial. Selain itu, keterlibatan komunitas dalam FKUB Kabupaten Banyumas memperkuat solidaritas antarumat beragama. Hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar vihara membantu memupuk persatuan dan menghindari konflik sosial. Temuan penelitian menunjukkan bahwa keharmonisan antarumat beragama di Purwokerto relatif stabil, namun komunitas Vihara Buddha Dipa sebagai minoritas tetap perlu melakukan upaya adaptif agar dapat hidup berdampingan dengan masyarakat sekitar. Implikasi dari temuan ini menegaskan pentingnya penerapan nilai-nilai keagamaan yang inklusif dan universal dalam menjaga stabilitas serta persatuan masyarakat multikultural, sekaligus memperkaya kajian multikulturalisme dan demokrasi deliberatif.This research examines the support of the Vihara Buddha Dippa community in the politics of religious harmony in Purwokerto. This study is interesting because the presence of Buddhists who are part of Vihara Buddha Dipa constitutes a small community that can coexist well. This research uses a qualitative method with a case study approach, and to examine the support of the Vihara Buddha Dipa community in promoting interfaith harmony in Purwokerto, the study focuses on three aspects: the values of Buddhist teachings, involvement in FKUB, and maintaining good relations with the surrounding community. The research results show that the Vihara Buddha Dipa community actively internalizes Buddhist teachings that encourage an inclusive attitude in social life. Additionally, the community's involvement in the FKUB of Banyumas Regency strengthens interfaith solidarity. A harmonious relationship with the community around the temple helps foster unity and avoid social conflicts. Research findings indicate that interfaith harmony in Purwokerto is relatively stable; however, the Vihara Buddha Dipa community, as a minority, still needs to make adaptive efforts to coexist with the surrounding society. The implications of these findings underscore the importance of applying inclusive and universal religious values to maintain stability and unity in a multicultural society, while also enriching the study of multiculturalism and deliberative democracy.
4830951662J1D022013Kelayakan Materi dan Bahasa serta Kandungan Nilai Kreativitas pada Buku Ajar Bahasa Indonesia SMK/MAK Terbitan Kemendikbud dan ErlanggaBuku ajar sebagai sumber belajar utama harus memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. Salah satu kriteria penting dalam kelayakan buku ajar ialah materi dan bahasa. Aspek materi yang sesuai akan mendukung keberhasilan tujuan pembelajaran, sedangkan penggunaan bahasa yang tepat akan memudahkan peserta didik dalam memahami materi. Selain itu, buku ajar perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kurikulum yang berlaku. Kreativitas menjadi salah satu keterampilan abad ke-21 dan Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeksripsikan kelayakan materi, bahasa, dan kandungan nilai kreativitas pada buku ajar SMK/MAK kelas X terbitan Kemendikbud dan Erlangga. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dekriptif dengan teknik pengumpulan data dokumentasi dan cuplikan. Sementara analisis data menerapkan model interaktif, yaitu kondensasi, penyajian, dan penarikan simpulan. Adapun validitas data dengan triangulasi teori, sumber, dan teknik. Hasil penelitian kelayakan materi menunjukkan buku ajar terbitan Kemendikbud memperoleh persentase sebesar 81%, sedangkan Erlangga 84%. Kelayakan bahasa pada buku ajar Kemendikbud sebesar 94%, sedangkan Erlangga 92%. Kandungan nilai Kreativitas dalam buku ajar Kemendikbud mendapatkan persentase 74%, sedangkan Erlangga 73%. Dari hasil persentase, dapat disimpulkan bahwa buku ajar Bahasa Indonesia SMK/MAK kelas X terbitan Kemendikbud dan Erlangga layak digunakan. Coursebooks as the main learning resource must meet the established criteria. One of the important criteria for the suitability of coursebooks is the material and language. Appropriate material will support the success of learning objectives, while the use of appropriate language will make it easier for students to understand the material. In addition, coursebooks need to be adapted to the times and the applicable curriculum. Creativity is one of the 21st-century skills and the Profil Pelajar Pancasila in the Merdeka Curriculum. Therefore, this study aims to describe the appropriateness of the material, language, and creative values in coursebooks for vocational high schools (SMK/MAK) tenth grade published by Kemendikbud and Erlangga. This study uses a descriptive qualitative approach with documentation and excerpt data collection techniques. Meanwhile, data analysis applies an interactive model, namely condensation, presentation, and conclusion drawing. Data validity was ensured through triangulation of theory, sources, and techniques. The results of the material feasibility study show that coursebooks published by Kemendikbud obtained a percentage of 81%, while Erlangga obtained 84%. The language feasibility of coursebooks published by Kemendikbud was 94%, while Erlangga obtained 92%. The creativity content in coursebooks published by Kemendikbud obtained a percentage of 74%, while Erlangga obtained 73%. From the percentage results, it can be concluded that the Indonesian language coursebooks for vocational high schools (SMK/MAK) for tenth grade published by Kemendikbud and Erlangga are suitable for use.
4831051685C1B022096Pengaruh Job Demands dan Job Resources Terhadap Work Engaggement Dengan Job Satisfaction Sebagai Variabel Mediasi (Studi Pada Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Kabupaten Cilacap)Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh job demands dan job resources terhadap work engagement dengan job satisfaction sebagai variabel mediasi pada pegawai DPUPR Kabupaten Cilacap. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui metode survei terhadap 174 responden, dengan teknik analisis regresi mediasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa job demands berpengaruh negatif dan signifikan terhadap job satisfaction, sedangkan job resources berpengaruh positif dan signifikan terhadap job satisfaction. Selain itu, job satisfaction berpengaruh positif dan signifikan terhadap work engagement serta terbukti memediasi pengaruh job demands dan job resources terhadap work engagement. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan tuntutan kerja dan optimalisasi sumber daya kerja dalam meningkatkan kepuasan dan keterikatan kerja pegawai sektor publik.This study aims to analyze the effect of job demands and job resources on work engagement, with job satisfaction serving as a mediating variable among employees of the Public Works and Housing Office (DPUPR) of Cilacap Regency. A quantitative approach was employed using a survey method involving 174 respondents. The data were analyzed using mediation regression analysis. The results indicate that job demands have a negative and significant effect on job satisfaction, while job resources have a positive and significant effect on job satisfaction. Furthermore, job satisfaction has a positive and significant effect on work engagement and is proven to mediate the relationship between job demands, job resources, and work engagement. These findings highlight the importance of balancing job demands and optimizing job resources to enhance job satisfaction and work engagement in the public sector.
4831151711H1C022014ANALISIS PETROFISIKA DAN PERHITUNGAN SUMBER DAYA HIDROKARBON PADA LAPANGAN “X” FORMASI TALANG AKAR CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA, PROVINSI JAWA BARATIndonesia yang berkembang sebagai back-arc basin sejak Paleogen. Formasi Talang Akar merupakan interval prospektif yang berperan sebagai reservoir batupasir fluvio-deltaic. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi zona reservoir potensial dan mengestimasi sumber daya hidrokarbon pada Lapangan X melalui analisis petrofisika dan integrasi data bawah permukaan. Metode yang digunakan meliputi analisis well logging (gamma ray, resistivitas, densitas, neutron, dan sonic), perhitungan parameter petrofisika berupa volume serpih (Vsh), porositas efektif (Φe), dan saturasi air (Sw), serta interpretasi struktur untuk perhitungan volumetrik. Hasil menunjukkan bahwa Formasi Talang Akar didominasi batupasir berselingan serpih dengan nilai Vsh 15–35%, porositas efektif 12–22%, dan saturasi air 20–45%. Struktur geologi berupa sesar normal dan antiklin terpatahkan berperan sebagai perangkap hidrokarbon utama. Estimasi volumetrik menghasilkan nilai Original Oil in Place (OOIP) sebesar ±129.447 MMSTB pada interval target. Hasil ini menunjukkan bahwa Lapangan X masih memiliki potensi hidrokarbon yang prospektif untuk pengembangan lebih lanjut.The North West Java Basin is one of Indonesia’s most productive hydrocarbon basins, developed as a back-arc basin since the Paleogene. The Talang Akar Formation represents a prospective interval acting as a fluvio-deltaic sandstone reservoir. This study aims to identify potential reservoir zones and estimate hydrocarbon resources in Field “X” through integrated subsurface and petrophysical analysis. The methodology includes qualitative and quantitative well log analysis (gamma ray, resistivity, density, neutron, and sonic), calculation of petrophysical parameters such as shale volume (Vsh), effective porosity (Φe), and water saturation (Sw), as well as structural interpretation for volumetric estimation. Results indicate that the Talang Akar Formation is dominated by interbedded sandstone and shale with shale volume ranging from 15–35%, effective porosity of 12–22%, and relatively low water saturation of 20–45%. Geological structures in the form of normal faults and faulted anticlines serve as the main hydrocarbon traps. Volumetric calculation yields an estimated Original Oil in Place (OOIP) of approximately ±129.447 MMSTB within the target interval. These findings suggest that Field “X” retains promising hydrocarbon potential for further development.
4831251713J1D022068TINDAK TUTUR ILOKUSI EKSPRESIF DALAM PODCAST YOUTUBE GITA WIRJAWAN EPISODE “BAGI DR. TIRTA, KEPINTARAN TIDAK PERNAH CUKUP”Penelitian ini merupakan kajian pragmatik yang didasarkan pada keberadaan bentuk dan fungsi tindak tutur dalam suatu percakapan, khususnya pada podcast YouTube Gita Wirjawan episode “Bagi dr. Tirta, Kepintaran Tidak Pernah Cukup”. Oleh karena itu, fenomena tersebut perlu dikaji agar dapat memahami unsur-unsur yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi tindak tutur ekspresif yang terdapat dalam podcast tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan data berupa tuturan-tuturan yang diambil dari podcast YouTube Gita Wirjawan episode “Bagi dr. Tirta, Kepintaran Tidak Pernah Cukup”. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak dengan teknik dasar sadap, serta teknik lanjutan berupa simak bebas libat cakap (SBLC) dan teknik catat. Analisis data dilakukan menggunakan metode padan dengan teknik dasar pilah unsur penentu (PUP) dan teknik lanjutan berupa hubung banding menyamakan (HBS). Keabsahan data diuji melalui triangulasi teori. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam podcast tersebut bahwa tindak tutur ilokusi ekspresif tidak hanya digunakan untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga untuk membangun hubungan dan kedekatan dalam percakapan. Temuan ini memperlihatkan bahwa penggunaan tindak tutur ekspresif berperan penting dalam menciptakan komunikasi yang reflektif, apresiatif, dan sejalan dengan nilai pembelajaran serta pengembangan diri.


This study is a pragmatic study based on the existence of the form and function of speech acts in a conversation, specifically in the YouTube podcast by Gita Wirjawan, episode "For dr. Tirta, Intelligence is Never Enough." Therefore, this phenomenon needs to be studied in order to understand the elements contained therein. This study aims to describe the form and function of expressive speech acts found in the podcast. This study uses a qualitative descriptive approach with data in the form of utterances taken from Gita Wirjawan's YouTube podcast episode "For dr. Tirta, Intelligence Is Never Enough." The data collection techniques used were the listening method with the basic technique of tapping, as well as advanced techniques in the form of free listening and talking (SBLC) and note-taking techniques. Data analysis was carried out using the matching method with the basic technique of sorting determining elements (PUP) and advanced techniques in the form of comparative connections (HBS). The validity of the data was tested through theory triangulation. The results of the analysis show that in the podcast, expressive illocutionary acts are not only used to convey ideas but also to build relationships and closeness in conversation. These findings show that the use of expressive speech acts plays an important role in creating reflective, appreciative communication that is in line with the values of learning and self-development.


4831351712J1D022005TINDAK TUTUR ILOKUSI EKSPRESIF DAN REPRESENTATIF PADA TAYANGAN YOUTUBE CATATAN DEMOKRASI TV ONE EPISODE “PAGAR LAUT”Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk tindak tutur ilokusi ekspresif dan tindak tutur ilokusi representatif yang digunakan dalam tayangan YouTube Catatan Demokrasi TV One episode “Pagar Laut”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Sumber data berasal dari tayangan program Catatan Demokrasi episode “Pagar Laut” yang tersedia di kanal resmi YouTube TV One. Data dalam penelitian ini berupa tuturan verbal peserta diskusi yang memuat tindak tutur ilokusi ekspresif dan representatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menerapkan metode simak, teknik lanjutan yang diterapkan dalam adalah teknik simak bebas libat cakap (SBLC). Teknik analisis data menggunakan metode padan yang dilengkapi dengan teknik dasar analisis, yaitu teknik pilah unsur penentu (PUP). Adapun teknik lanjutan yang digunakan adalah teknik hubung banding menyamakan (HBS) dan teknik hubung banding membedakan (HBB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan berbagai bentuk tindak tutur ilokusi ekspresif, antara lain mengucapkan terima kasih, meminta maaf, dan menyambut. ketiga bentuk tersebut berperan untuk mengatur alur interaksi dan menjaga kesantunan di tengah perbedaan pendapat. Adapun, ditemukan juga bentuk tindak tutur ilokusi representatif yang meliputi, memberitahukan, menyatakan, menjelaskan, menyarankan, berspekulasi, dan menunjukkan. Keenam bentuk yang ditemukan digunakan penutur untuk menyampaikan informasi, membangun dan mempertahankan argumen, serta merespons pandangan lawan tutur dalam diskusi. Temuan ini menunjukkan bahwa tindak tutur ilokusi ekspresif dan representatif berperan penting dalam membangun dinamika diskusi politik serta membentuk opini publik dalam konteks komunikasi digital. Penelitian ini menggunakan teknik validasi berupa triangulasi teori, yaitu hasil penelitian akan dibandingkan dengan teori Austin. This study aims to describe the forms of expressive illocutionary acts and representative illocutionary acts used in the YouTube broadcast of TV One's Catatan Demokrasi episode “Pagar Laut.” This study uses a qualitative approach with content analysis methods. The data source comes from the Catatan Demokrasi episode “Pagar Laut” broadcast available on TV One's official YouTube channel. The data in this study consists of verbal utterances from discussion participants that contain expressive and representative illocutionary acts. Data collection was carried out by applying the observation method, with the advanced technique applied being the non-conversation partisipant observation. The data analysis technique used the matching method, supplemented with a basic analysis technique, namely the determining element sorting technique (PUP). The advanced techniques used were the comparative connection technique (HBS) and the contrasting connection technique (HBB). The results of the study showed that various forms of expressive illocutionary acts were found, including expressing gratitude, apologizing, and welcoming. These three forms play a role in regulating the flow of interaction and maintaining politeness amid differences of opinion. Representative illocutionary acts were also found, including informing, stating, explaining, suggesting, speculating, and demonstrating. These six forms were used by speakers to convey information, construct and maintain arguments, and respond to the views of their interlocutors in discussions. These findings show that expressive and representative illocutionary acts play an important role in building the dynamics of political discussions and shaping public opinion in the context of digital communication. This study uses a validation technique in the form of theory triangulation, whereby the research results will be compared with Austin's theory.
4831451724J1D022065Studi Kasus Pembelajaran Bahasa Indonesia Pada Tema Kewirausahaan Kelas XII-1 di SMAN 2 PurwokertoTujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pembelajaran Bahasa Indonesia pada tema kewirausahaan di kelas XII-1 SMA Negeri 2 Purwokerto tahun 2025/2026. Fokus penelitian diarahkan pada proses perencanaan, pelaksanaan, serta penilaian dan juga mengidentifikasi kendala juga solusi yang muncul selama proses pembelajaran berlangsung. Dalam penelitian ini pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus digunakan untuk menganalisis subjek penelitian yaitu guru dan peserta didik kelas XII-1 SMA Negeri 2 Purwokerto. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi partisipatif, wawancara terstruktur, dan dokumentasi. Di samping itu, keabsahan diuji menggunakan teknik triangulasi sumber dan teknik. Sementara analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Berdasarkan analisis yang dilakukan, hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada tema kewirausahaan terdapat sebuah kasus suatu masalah di pembelajaran Bahasa Indonesia. Seperti dalam perencanaan yang guru harus merancang maupun mengambil modul ajar dari pemerintah. Selain itu, pelaksanaan pembelajaran berlangsung aktif dan interaktif dengan dukungan media pembelajaran yang menarik. Dalam penelitian ini, proses penilaian dilakukan secara formatif melalui dua tahap yaitu berupa progres masing-masing peserta didik atau kelompok, dan keaktifan peserta didik. Selain itu, kendala yang dihadapi meliputi perencanaan yang tidak sesuai waktunya, terlambatnya pengadaan bahan produk, keterbatasan sarana prasarana kelas, keterbatasan waktu peserta didik dalam membagi fokus antara pembelajaran Bahasa Indonesia pada tema kewirausahaan dan persiapan TKA.This study aims to describe Indonesian language learning with an entrepreneurship theme in class XII-1 of SMA Negeri 2 Purwokerto. The research focuses on the planning, implementation, and learning processes, as well as identifying obstacles and solutions that arise during the learning process. A qualitative approach with a case study design was employed, involving teachers and students from XII-1 of SMA Negeri 2 Purwokerto as research participants. Data were collected through participant observation, structured interviews, and documentation. Data credibility was ensured through source and technique triangulation. Beside that data analysis was conducted through data reduction, data display, and conclusion drawing and verification. Based on the analysis, the findings indicate that Indonesian language learning with an entrepreneurship theme encountered several instructional problems. In the planning stage, teachers developed lesson plans by designing their own teaching modules or adopting government-provided modules. The implementation of learning was active and interactive, supported by engaging learning media. In this study, the assessment process was conducted formatively through two stages, monitoring the progress of each student or group and evaluating students’ participation. In addition, the obstacles encountered included mismatches between planning and time allocation, delays in procuring product materials, limited classroom facilities, and students’ limited time due to preparation for the national assessment.
4831551767J1D022047Bahasa Slang pada Interaksi Virtual di Platform Roblox dalam Gim Indo Camp: Kajian SosiolinguistikPerkembangan teknologi digital mendorong munculnya variasi bahasa slang dalam interaksi virtual, khususnya pada platform gim daring seperti Roblox. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan menguraikan fungsi penggunaan bahasa slang dalam gim “Indo Camp” di platform Roblox. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui simak bebas libat cakap, teknik rekam, dan teknik catat selama bulan September 2025. Data dianalisis menggunakan metode padan dengan teknik pilah unsur penentu, teknik hubung banding menyamakan, dan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan lima bentuk bahasa slang dengan bentuk singkatan paling dominan sebanyak 11 data, diikuti pemendekan sebanyak 9 data, salah ucap yang lucu sebanyak 4 data, interjeksi sebanyak 3 data, dan adaptasi bahasa asing sebanyak 3 data. Fungsi penggunaan bahasa slang mencakup enam kategori dengan fungsi ringkas dan konkret paling dominan sebanyak 20 data, diikuti humor sebanyak 4 data, berbeda dari yang lain sebanyak 3 data, menghindari makna negatif sebanyak 3 data, memperkaya kosakata sebanyak 2 data, serta keintiman dan keakraban sebanyak 2 data. Penelitian ini menyimpulkan bahwa platform gim Roblox dapat menjadi wadah kreativitas linguistik. Bahasa slang dalam gim Roblox juga bersifat temporal serta gaya bahasa yang digunakan pemain didominasi bentuk singkatan dan fungsi ringkas dan konkret karena disesuaikan dengan kebutuhan komunikasi cepat sesuai karakteristik platform Roblox yang menyediakan fitur live chat dan voice chat.Digital technology development encourages the emergence of slang language variations in virtual interactions, particularly on online game platforms such as Roblox. This research aims to describe the forms and elaborate the functions of slang language usage in the “Indo Camp” game on the Roblox platform. The research method employed is descriptive qualitative with data collection techniques through non-participatory observation, recording technique, and note-taking technique during the month of September 2025. Data were analyzed using the referential method with determining element sorting technique, equalizing comparison connection technique and data analysis. Research findings reveal five forms of slang language with abbreviation as the most dominant at 11 data, followed by clipping at 9 data, funny misspellings at 4 data, interjection at 3 data, and foreign language adaptation at 3 data. Slang language usage functions encompass six categories with brevity and concreteness as the most dominant at 20 data, followed by humor at 4 data, distinctiveness at 3 data, avoiding negative connotations at 3 data, vocabulary enrichment at 2 data, and intimacy at 2 data. This research concludes that the Roblox platform can be a medium for linguistic creativity. Slang in Roblox games is also temporary in nature and that the language style used by players is dominated by abbreviations and concise and concrete functions because it is adapted to the need for rapid communication in line with the characteristics of the Roblox platform, which provides live chat and voice chat features.
4831651714F1A020111AKULTURASI TRADISI “NJENENGI” DAN AKIKAH DI DESA KARANGNANGKA KECAMATAN KEDUNGBANTENG KABUPATEN BANYUMAS Tradisi njenengi dan akikah memiliki keterkaitan erat dalam kehidupan masyarakat Muslim Indonesia, khususnya di Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Pemberian nama tidak hanya berfungsi sebagai identitas, tetapi juga merepresentasikan harapan dan nilai-nilai keluarga. Penelitian ini bertujuan mengkaji proses akulturasi antara tradisi njenengi sebagai budaya lokal Jawa dan praktik akikah sebagai ajaran Islam yang dilaksanakan secara bersamaan dalam prosesi kelahiran. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi non-partisipatif, dan dokumentasi. Informan meliputi tokoh masyarakat, tokoh agama, dukun bayi, serta orang tua yang melaksanakan kedua tradisi tersebut. Analisis data dilakukan melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan dengan uji keabsahan menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akulturasi berlangsung melalui strategi integrasi budaya, di mana unsur adat seperti bubur merah putih dan peran dukun bayi tetap dipertahankan, tetapi dimaknai ulang agar selaras dengan nilai-nilai Islam. Pelaksanaan kedua tradisi dalam satu rangkaian prosesi menjadi wujud syukur, doa, serta penguatan solidaritas sosial masyarakat.The njenengi tradition and the practice of aqiqah are closely intertwined in the lives of Indonesian Muslim communities, particularly in Karangnangka Village, Kedungbanteng District, Banyumas Regency. Naming a child functions not only as a marker of identity but also as an expression of familial hopes and values. This study aims to examine the process of acculturation between the njenengi tradition as a local Javanese culture and aqiqah as an Islamic practice, both of which are performed together in a single birth ceremony. This research employs a qualitative approach, utilizing in-depth interviews, non-participant observation, and documentation as data collection techniques. Informants include community leaders, religious leaders, traditional birth attendants, and parents who perform both traditions. Data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing, with source triangulation to ensure validity. The findings reveal that acculturation occurs through a strategy of cultural integration, in which traditional elements such as red-and-white porridge and the role of traditional birth attendants are maintained but reinterpreted to align with Islamic values. The combined implementation of both traditions represents gratitude, prayer, and the strengthening of social solidarity within the community.
4831751715F1D022011Pengarusutamaan Gender dalam Implementası Perbup Nomor 29 Tahun 2020 sebagai Petunjuk Pelaksanaan Perda Nomor 6 Tahun 2016 tentang BUMDESPenelitian ini bertujuan menganalisis integrasi prinsip pengarusutamaan gender (PUG)
dalam implementasi kebijakan BUMDes di Kabupaten Banyumas berdasarkan Perbup
Nomor 29 Tahun 2020. Kajian ini penting dan menarik karena meskipun kebijakan
BUMDes tidak secara eksplisit menyebutkan PUG, pasal-pasalnya memuat nilai
kesetaraan dan partisipasi yang membuka peluang bagi peran perempuan dalam
pembangunan ekonomi desa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan
metode penelitian studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam,
observasi, dan dokumentasi, dengan pemilihan informan menggunakan teknik
purposive dan snowball sampling. Analisis data dilakukan dengan model interaktif
Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara normatif, Perbup
Nomor 29 Tahun 2020 telah memuat semangat kesetaraan yang menekankan
pentingnya partisipasi perempuan, dan dalam praktiknya didukung pada inisiatif
pemerintah desa masing-masing. BUMDes di Desa Rempoah dan Kalibagor
merefleksikan realisasi prinsip Gender and Development (GAD) di tingkat lokal. Pada
tahap pendirian, perempuan berperan aktif dalam musyawarah desa dan turut
memengaruhi arah pengembangan usaha. Dalam kepengurusan, Desa Rempoah
menunjukkan tingkat partisipasi yang lebih tinggi melalui keterlibatan perempuan
dalam struktur inti dan unit usaha, sedangkan Desa Kalibagor masih didominasi lakilaki namun mulai membuka ruang partisipasi. Pada tahap pengelolaan, perempuan di
Rempoah berperan dalam pengambilan keputusan dan peningkatan kapasitas,
sedangkan di Kalibagor partisipasinya bersifat dinamis dan diarahkan kembali melalui
kegiatan ekonomi berbasis potensi lokal. Temuan penelitian menunjukkan bahwa
keterlibatan perempuan dalam BUMDes lebih banyak didorong oleh praktik sosial,
kebutuhan operasional, dan inisiatif lokal desa. Partisipasi tersebut cenderung
memenuhi kebutuhan gender praktis, belum sepenuhnya mencerminkan PUG yang
terintegrasi sebagaimana ditekankan dalam pendekatan Gender and Development
(GAD).
Kata kunci: Pengarusutamaan Gender, BUMDes, Partisipasi, Banyumas.
This study aims to analyze the integration of gender mainstreaming (PUG) principles
in the implementation of Village-Owned Enterprises (BUMDes) policies in Banyumas
Regency, based on Regent Regulation No. 29 of 2020. This study is significant and
interesting because, although the BUMDes policy does not explicitly mention PUG, its
articles contain values of equality and participation that open up opportunities for
women's roles in village economic development. This research used a qualitative
approach with a case study method. Data were obtained through in-depth interviews,
observation, and documentation, with informants selected using purposive and
snowball sampling techniques. Data analysis was conducted using the Miles and
Huberman interactive model. The results show that normatively, Regent Regulation
No. 29 of 2020 embodies a spirit of equality that emphasizes the importance of
women's participation, and in practice, this is supported by initiatives from the
respective village governments. The BUMDes in Rempoah and Kalibagor villages
reflect the implementation of Gender and Development (GAD) principles at the local
level. During the establishment stage, women play an active role in village
deliberations and influence the direction of business development. In terms of
management, Rempoah Village demonstrates a higher level of participation through
women's involvement in core structures and business units. Kalibagor Village remains
male-dominated but is beginning to open up opportunities for participation. In the
management phase, women in Rempoah play a role in decision-making and capacity
building, while in Kalibagor, their participation is dynamic and redirected through
economic activities based on local potential. Research findings indicate that women's
involvement in BUMDes is driven primarily by social practices, operational needs, and
local village initiatives. This participation tends to address practical gender needs and
does not fully reflect the integrated gender mainstreaming (PUG) emphasized in the
Gender and Development (GAD) approach.
Keywords: Gender Mainstreaming, BUMDes, Participation, Banyumas
4831851716J1D022078STUDI KOMPARASI REPRESENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM BUKU TEKS CERDAS CERGAS DAN BUKU TEKS CAKAP BERBAHASA DAN BERSASTRA INDONESIA KELAS XIPenelitian ini dilatarbelakangi pentingnya integrasi kearifan lokal dalam buku teks Bahasa Indonesia SMA sebagai sarana internalisasi nilai luhur bangsa. Melalui pembelajaran kontekstual berbasis budaya, bahan ajar diharapkan mampu memperkuat karakter dan identitas nasional peserta didik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan representasi nilai pendidikan multikultural dan mengidentifikasi persamaan serta perbedaan nilai pendidikan multikultural dalam dua buku teks Bahasa Indonesia kelas XI Kurikulum Merdeka, yaitu Cerdas Cergas dan Cakap Berbahasa dan Bersastra Indonesia. Bentuk penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Data penelitian ini adalah teks wacana dalam kedua buku teks. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode simak dengan teknik lanjutan simak bebas libat cakap (SBLC) dilanjutkan dengan teknik catat. Data penelitian ini dianalisis menggunakan metode analisis konten. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai pendidikan multikultural dalam kedua buku teks memiliki karakteristik yang berbeda. Buku teks Cerdas Cergas menampilkan distribusi nilai pendidikan multikultural yang merata pada setiap teks wacana, sedangkan buku teks Cakap Berbahasa dan Bersastra Indonesia menunjukkan distribusi yang tidak merata dengan dominasi nilai demokrasi/kebebasan. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh sasaran pengguna buku, yaitu kelas reguler dan kelas peminatan tingkat lanjut yang menuntut tingkat berpikir kritis dan analitis peserta didik lebih tinggi.This study is motivated by the importance of integrating local wisdom into Indonesian high school textbooks as a means of internalizing the noble values of the nation. Through culturally based contextual learning, teaching materials are expected to strengthen students character and national identity. This study aims to describe the representation of multicultural educational values and identify the similarities and differences in values in two Indonesian language textbooks for grade XI of the Merdeka Curriculum, namely Cerdas Cergas and Cakap Berbahasa dan Bersastra Indonesia. This research is qualitative research. The research data consists of discourse texts found in both textbooks. The data collection method in this study used the observation method with the advanced technique of free listening involving discussion (SBLC), followed by the note taking technique. The research data were analyzed using content analysis methods. Based on the research that has been carried out, it can be concluded that the multicultural education values in the two textbooks have different characteristics. The textbook Cerdas Cergas displays a fairly even distribution of multicultural education values in each discourse text, whereas the textbook Cakap Berbahasa dan Bersastra Indonesia shows an uneven distribution with a dominance of democratic/freedom values. These differences are influenced by the target users of the books, namely regular classes and advanced specialization classe which require a higher level of critical and analytical thinking from the students.
4831951717G5A021009Efektifitas Dexmedetomidine dibandingkan Sufentanil terhadap Saturasi Oksigen Serebral Pasien Cedera Otak Traumatik Latar Belakang: Tingkat mortalitas dari cedera otak traumatik (COT) dapat berkurang apabila cedera iskemia serebral dapat dicegah dan oksigenasi otak dipertahankan. Kraniotomi pada COT memerlukan manajemen anestesi yang optimal, dan dexmedetomidine semakin banyak digunakan untuk efek neuroprotektifnya. Tujuan: Mengetahui efektivitas dexmedetomidine terhadap saturasi regional otak (rSO2) pada pasien COT yang menjalani pembedahan. Metode: Uji acak terkontrol melibatkan 28 pasien COT pasca pembedahan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo yang memenuhi kriteria inklusi. Subjek diacak ke dalam kelompok intervensi yang mendapatkan dexmedetomidine 0.3 mcg/kg/jam dan kelompok kontrol yang mendapatkan sufentanil 0.2 mcg/kgBB. Nilai rSO2 diukur sebelum, 1 jam, dan 2 jam setelah operasi menggunakan near-infrared spectroscopy (NIRS). Hasil: Karakteristik dasar subjek kedua kelompok ditemukan serupa. Nilai rSO2 1 jam (65,21 ± 8,53% vs 55,57 ± 10,97%; p=0,015) dan 2 jam post-operasi (68,42 ± 7,91% vs 58,85 ± 4,62%; p<0,001) pada kelompok dexmedetomidin secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok sufentanil. Pemberian dexmedetomidin menghasilkan peningkatan rSO2 yang signifikan pada setiap waktu pengukuran, dibandingkan sufentanil yang menghasilkan peningkatan signifikan pada 2 jam postoperasi. Kesimpulan: Pasien COT yang mendapatkan dexmedetomidine memiliki nilai rSO2 signifikan lebih tinggi pada pengukuran 1 jam dan 2 jam pasca pembedahan serta menunjukan peningkatan nilai rSO2 yang signifikan pada tiap waktu pengukuran dibandingkan pasien yang mendapatkan sufentanil.
Kata Kunci : Cedera otak traumatik, rSO2, NIRS, dexmedetomidine, sufentanil
Background: The mortality rate of traumatic brain injury (TBI) can be reduced if cerebral ischemic injury is prevented and adequate brain oxygenation is maintained. Craniotomy in TBI requires optimal anesthetic management, and dexmedetomidine is increasingly used for its neuroprotective effects. Objective: To evaluate the effectiveness of dexmedetomidine on regional cerebral oxygen saturation (rSO₂) in TBI patients undergoing surgery. Methods: A randomized controlled trial involving 28 post-surgical TBI patients at Prof. Dr. Margono Soekarjo General Hospital who met the inclusion criteria. Subjects were randomly assigned to an intervention group receiving dexmedetomidine at 0.3 mcg/kg/h and a control group receiving sufentanil at 0.2 mcg/kgBW. rSO₂ values were measured before, 1 hour, and 2 hours after surgery using near-infrared spectroscopy (NIRS). Results: Baseline characteristics were similar between groups. rSO₂ values at 1 hour (65.21 ± 8.53% vs. 55.57 ± 10.97%; p=0.015) and 2 hours postoperatively (68.42 ± 7.91% vs. 58.85 ± 4.62%; p<0.001) were significantly higher in the dexmedetomidine group compared to the sufentanil group. Dexmedetomidine administration resulted in a significant increase in rSO₂ at all time points, whereas sufentanil showed a significant increase only at 2 hours postoperatively. Conclusion: In patients with traumatic brain injury (TBI), administration of dexmedetomidine was associated with significantly higher rSO₂ values at 1 hour and 2 hours postoperatively. Furthermore, these patients demonstrated a consistent and significant increase in rSO₂ values across all measurement time points compared to those who received sufentanil.
Keywords: Traumatic Brain Injury, rSO2, NIRS, dexmedetomidine, sufentanil
4832051718C1C022037ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI DURASI PERUSAHAAN BERADA DI PAPAN PEMANTAUAN KHUSUS (PPK) BURSA EFEK INDONESIA (BEI) TAHUN 2021-2024Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepemilikan mayoritas, financial distress, ukuran perusahaan, listing age, dan TVA terhadap durasi perusahaan berada di PPK BEI selama periode 2021 – 2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder yang diperoleh dari situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI).

Populasi pada penelitian ini mencakup 122 perusahaan yang telah keluar dari Papan Pemantauan Khusus (PPK) pada periode 2021 – 2024. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, sehingga diperoleh 110 perusahaan sebagai sampel penelitian dengan total 128 observasi data panel. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi data panel dengan bantuan perangkat lunak E-Views. Model yang digunakan pada penelitian ini yaitu Random Effect Model (REM).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan mayoritas, financial distress, dan TVA tidak berpengaruh signifikan terhadap durasi perusahaan berada di PPK. Sebaliknya, ukuran perusahaan dan listing age terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap durasi perusahaan berada di PPK. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor internal perusahaan memiliki peran yang lebih dominan dalam menentukan cepat atau lambatnya perusahaan dapat keluar dari PPK.

Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi investor, perusahaan tercatat, dan regulator. Bagi investor, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menilai kualitas perusahaan sebelum berinvestasi. Bagi perusahaan tercatat, temuan ini dapat menjadi bahan evaluasi untuk mempercepat perbaikan kinerja internal. Sementara itu, bagi regulator, khususnya BEI, hasil penelitian ini dapat menjadi masukan untuk memberikan perhatian khusus bagi perusahaan yang terindikasi mengalami hambatan birokrasi dalam proses pemulihannya agar dapat segera keluar dari PPK.
This study aims to analyze the influence of majority ownership, financial distress, firm size, listing age, and Trading Volume Activity (TVA) on the duration of companies' stay in the Papan Pemantauan Khusus (PPK) IDX for the period 2021–2024. This research adopts a quantitative approach, utilizing secondary data obtained from the official website of the Indonesia Stock Exchange (IDX).

The population includes 122 companies that exited the Papan Pemantauan Khusus (PPK) during the 2021–2024 period. Using a purposive sampling technique, 110 companies were selected as the research sample, resulting in 128 panel data observations. The data were analyzed using panel data regression with E-Views software, and the Random Effect Model (REM) was determined as the most appropriate estimation model.

The results indicate that majority ownership, financial distress, and TVA do not have a significant effect on the duration of companies in the PPK. Conversely, firm size and listing age are proven to have a positive significant effect on the duration. These findings suggest that internal organizational factors play a more dominant role in determining how quickly or slowly a company can exit the special monitoring board.

This study provides practical implications for investors, listed companies, and regulators. For investors, the findings may serve as a consideration in assessing firm quality prior to making investment decisions. For listed companies, the results can be used as an evaluation tool to accelerate improvements in internal performance. Meanwhile, for regulators, particularly the IDX, the findings may serve as input to provide special attention to companies indicated to experience bureaucratic constraints in their recovery process, so that they can exit the PPK more promptly.