| NIM | I2A023015 |
| Namamhs | ENI WIDHIYAASTUTI |
| Judul Artikel | Model Dukungan Orang Tua dalam Peningkatan Kepatuhan Konsumsi Tablet Tambah Darah pada Remaja Putri di Kabupaten Cilacap
|
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Latar belakang: Remaja putri memiliki risiko tinggi mengalami anemia akibat peningkatan kebutuhan zat besi, menstruasi, dan pola makan yang kurang seimbang. WHO (2020) mencatat kenaikan kasus anemia global dari 1,42 menjadi 1,74 miliar, sementara prevalensi di Indonesia meningkat menjadi 32% dan di Jawa Tengah mencapai 57,7%. Di wilayah kerja Puskesmas Kawunganten, prevalensi anemia remaja putri sebesar 19,8% (2024). Program konsumsi tablet tambah darah (TTD) masih terkendala rendahnya kepatuhan remaja, dan hanya 19,2% yang memperoleh dukungan orang tua, padahal dukungan keluarga berperan penting dalam perilaku kesehatan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, observasi, dan dokumentasi. Informan terdiri dari 8 informan kunci, 5 informan utama, dan 5 informan pendukung. Analisis data dilakukan dengan ATLAS.ti 9.0.3.1 melalui proses coding, kategorisasi, dan tematisasi dengan triangulasi sumber dan metode. Hasil: Kepatuhan remaja dipengaruhi oleh faktor internal seperti pemahaman, pengalaman emosional, dan motivasi, serta faktor eksternal berupa dukungan orang tua, sekolah, dan tenaga kesehatan. Dukungan orang tua mencakup lima bentuk emosional, instrumental, informasional, penghargaan, dan spiritual yang saling melengkapi dalam membangun motivasi dan keyakinan remaja. Sekolah membentuk kebiasaan melalui kegiatan minum TTD bersama dan pengawasan guru, sedangkan tenaga kesehatan memperkuat pemahaman melalui edukasi, klarifikasi efek samping, dan pendampingan. Kesimpulan: Kepatuhan remaja putri terhadap TTD terbentuk melalui interaksi persepsi, pengalaman emosional, serta dukungan keluarga dan sekolah. Dukungan orang tua menjadi pondasi penting dalam membentuk motivasi dan rasa aman remaja. Model dukungan yang dirumuskan menunjukkan bahwa kepatuhan merupakan hasil sinergi antara keluarga sebagai pemberi motivasi, sekolah sebagai pembentuk kebiasaan, dan tenaga kesehatan sebagai penguat keyakinan melalui edukasi dan pendampingan yang menenangkan. Sinergi ini menciptakan ekosistem yang mendukung kepatuhan secara berkelanjutan. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Background: Adolescent girls are at high risk of anemia due to increased iron requirements, menstruation, and an unbalanced diet. WHO (2020) reported a global increase in anemia cases from 1.42 to 1.74 billion, while prevalence in Indonesia rose to 32% and in Central Java reached 57.7%. In the Kawunganten Public Health Center working area, the prevalence of anemia among adolescent girls was 19.8% (2024). The iron tablet (TTD) consumption program is still hindered by low adolescent compliance, and only 19.2% receive parental support, although family support plays an important role in health behavior. Methods: This study used a qualitative phenomenological approach through in-depth interviews, focus group discussions, observations, and documentation. The informants consisted of 8 key informants, 5 principal informants, and 5 supporting informants. Data analysis was conducted using ATLAS.ti 9.0.3.1 through coding, categorization, and thematization processes with source and method triangulation. Results: Adolescent adherence is influenced by internal factors such as understanding, emotional experience, and motivation, as well as external factors in the form of support from parents, school, and healthcare providers. Parental support includes five forms emotional, instrumental, informational, appraisal, and spiritual which complement each other in building adolescents' motivation and confidence. School shapes habits through joint iron-folic acid (IFA) supplement consumption activities and teacher supervision, while healthcare providers reinforce understanding through education, clarification of side effects, and guidance. Conclusion: Adolescent girls' adherence to IFA supplements is formed through the interaction of perception, emotional experience, and support from family and school. Parental support is an important foundation in shaping adolescents' motivation and sense of security. The formulated support model shows that compliance is the result of synergy between the family as a source of motivation, the school as a habit shaper, and healthcare professionals as confidence boosters through education and reassuring guidance. This synergy creates an ecosystem that supports sustained compliance. |
| Kata kunci | dukungan orang tua, kepatuhan konsumsi tablet tambah darah, remaja putri, tablet tambah darah, model dukungan, anemia. |
| Pembimbing 1 | Dr. Arih Diyaning Intiasari, S.KM, MPH |
| Pembimbing 2 | Suratman, S.KM, M.Kes, Ph.D |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2025 |
| Jumlah Halaman | 78 |
| Tgl. Entri | 2025-11-18 12:59:40.052211 |
|---|