Artikelilmiahs

Menampilkan 47.221-47.240 dari 48.726 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4722150614A1A019062HARGA POKOK PRODUKSI PADI ORGANIK VARIETAS MENTIK
WANGI SUSU (Studi Kasus pada Kelompok Tani Marsudi Among Tani di
Desa Dawuhan, Kabupaten Banyumas)
Sektor pertanian memegang peranan vital dalam perekonomian Indonesia,
dengan pertanian padi organik menawarkan prospek pasar yang menjanjikan. Padi
organik tidak hanya ramah lingkungan dan sehat, tetapi juga memiliki nilai jual
yang lebih tinggi. Penelitian ini berfokus pada usahatani padi organik yang
dilakukan oleh Kelompok Marsudi Among Tani di Desa Dawuhan, Kecamatan
Banyumas, Kabupaten Banyumas.Penelitian ini bertujuan untuk menghitung harga
pokok produksi (HPP) usahatani padi organik dan menganalisis pengaruh biaya
produksi terhadap HPP yang diperoleh. Metode yang digunakan adalah studi kasus
dengan pendekatan sensus terhadap seluruh petani padi organik di Kelompok
Marsudi Among Tani. Data dikumpulkan melalui wawancara dan kuesioner pada
bulan November 2023 hingga Januari 2024. Analisis data dilakukan secara
deskriptif serta menggunakan analisis struktur biaya dan pendapatan, dengan
perhitungan HPP menggunakan metode full costing. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa usahatani padi organik ini sangat menguntungkan dan layak secara ekonomi.
Dengan total biaya produksi sebesar Rp2.659.651,00, petani dapat memperoleh
keuntungan sebesar Rp5.181.250,00 dan pendapatan bersih Rp2.522.599,00. HPP
per kilogram padi organik adalah Rp3.150,00, yang menghasilkan keuntungan
98,41% atau Rp3.100,00 per kg jika dijual langsung ke kelompok tani. Keuntungan
akan lebih tinggi jika produk dijual dengan harga di atas Rp6.250,00 per kg ke pihak
pengolah. Usahatani padi organik yang dikelola oleh Kelompok Tani Marsudi
Among Tani terbukti menguntungkan dan layak untuk dilanjutkan. Hasil ini
menunjukkan potensi besar pertanian organik dalam meningkatkan pendapatan
petani di Indonesia.
The agricultural sector plays a vital role in the Indonesian economy, with
organic rice farming offering promising market prospects. Organic rice is not only
environmentally friendly and healthy, but also has a higher selling value. This study
focuses on organic rice farming carried out by the Marsudi Among Tani Group in
Dawuhan Village, Banyumas District, Banyumas Regency. This study aims to
calculate the cost of goods produced (COGS) of organic rice farming and analyze
the effect of production costs on the COGS obtained. The method used is a case
study with a census approach to all organic rice farmers in the Marsudi Among
Tani Group. Data were collected through interviews and questionnaires from
November 2023 to January 2024. Data analysis was carried out descriptively and
using cost and revenue structure analysis, with COGS calculated using the full
costing method. The results of the study indicate that this organic rice farming is
very profitable and economically feasible. With a total production cost of
Rp2,659,651.00, farmers can earn a profit of Rp5,181,250.00 and a net income of
Rp2,522,599.00. The cost of goods sold per kilogram of organic rice is Rp3,150.00,
resulting in a profit of 98.41% or Rp3,100.00 per kg if sold directly to farmer
groups. Profits will be higher if the product is sold at a price above Rp6,250.00 per
kg to processors. The organic rice farming business managed by the Marsudi
Among Tani Farmers Group has proven to be profitable and feasible to continue.
These results demonstrate the great potential of organic farming in increasing
farmer incomes in Indonesia.
4722250617D1B023011Studi Komparatif Performa Produksi Ayam Petelur Strain Lohmann Brown Berdasarkan Tahun PemeliharaanPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan membandingkan performa produksi ayam ras petelur strain Lohmann Brown antara tahun 2023 dan 2024 di Wijaya Farm, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Data yang digunakan merupakan data sekunder dari pencatatan produksi selama ayam berumur 28 hingga 40 minggu. Parameter yang diamati meliputi Hen Day Production (HDP), mortalitas, dan Feed Conversion Ratio (FCR). Analisis data dilakukan secara deskriptif dan diuji menggunakan uji t untuk mengetahui signifikansi perbedaan antar tahun. Hasil menunjukkan bahwa HDP mengalami peningkatan dari 89,70% menjadi 91,05%, FCR menurun dari 2,03 menjadi 1,99, dan mortalitas tetap stabil pada angka 0,07%. Namun, seluruh perbedaan tersebut tidak menunjukkan hasil yang signifikan secara statistik (P>0,05). Meskipun demikian, tren positif pada HDP dan FCR menunjukkan adanya perbaikan dalam manajemen produksi. Stabilitas angka mortalitas juga mencerminkan efektivitas pengendalian penyakit dan kondisi pemeliharaan yang baik.This study aimed to evaluate and compare the production performance of Lohmann Brown layer chickens between 2023 and 2024 at Wijaya Farm, Kuningan Regency, West Java. The data used were secondary data obtained from production records during the laying period from 28 to 40 weeks of age. Observed parameters included Hen Day Production (HDP), mortality rate, and Feed Conversion Ratio (FCR). Data were analyzed descriptively and tested using a t-test to determine statistical significance between the two years. Results showed an increase in HDP from 89.70% to 91.05%, a decrease in FCR from 2.03 to 1.99, and a stable mortality rate of 0.07%. However, none of these differences were statistically significant (P>0.05). Despite this, the positive trends in HDP and FCR indicate improvements in production management. The consistently low mortality rate also reflects effective disease control and favorable rearing conditions.
4722350618G1A021058UJI AKTIVITAS ANTI JAMUR EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) TERHADAP ISOLAT JAMUR Aspergillus niger SECARA IN VITRO Latar Belakang : Aspergillosis yang disebabkan oleh Aspergillus niger merupakan penyebab kematian dengan persentase tertinggi pada kasus Aspergilosis. Resistensi Aspergillus niger terhadap berbagai obat antijamur semakin meningkat setiap tahun. Bawang Putih (Allium sativum L.) dapat menjadi alternatif terapi antijamur dengan berbagai kandungan diantaranya allicin, saponin, flavonoid, dan tanin. Tujuan : Mengetahui aktivitas ekstrak bawang putih (Allium sativum L.) dengan konsentrasi 40%, 60%, 80%, dan 100% sebagai antijamur terhadap isolat jamur A. niger secara in vitro. Metode : Metode penelitian ini yaitu true experimental posttest only control group design dengan well diffusion untuk menguji aktivitas antijamur. Konsentrasi ekstrak yang digunakan yaitu 40%, 60%, 80%, dan 100%, kontrol positif, kontrol negatif, dan kontrol DMSO 10%. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis karena data tidak terdistribusi secara normal dan tidak homogen, kemudian dilanjutkan dengan uji Post Hoc Games-Howell. Hasil : Hasil penelitian penunjukkan adanya zona hambat pada pengujian ekstrak bawang putih yang jauh lebih kecil dibandingkan kelompok kontrol positif. Diameter sumuran yang digunakan pada penelitian ini memiliki diameter 6 mm. Zona hambat yang terbentuk pada konsentrasi 40%, 60%, 80%, dan 100% yaitu 7.25 mm, 6.5 mm, 6 mm, dan 6.75 mm. Pada kontrol positif dengan itraconazole 8 µg/mL dihasilkan zona hambat sebesar 17 mm. Kesimpulan : Ekstrak bawang putih tidak menunjukkan aktivitas antijamur yang signifikan terhadap A. niger, ditandai dengan sangat kecilnya zona hambat yang tercipta dibandingkan dengan kelompok kontrol positif.Background: Aspergillosis that caused by Aspergillus niger is one of the leading causes of death in Aspergillosis cases, with the highest mortality rate. Resistance of A. niger to various antifungal drugs continues to increase each year. Garlic (Allium sativum L.) is a potential alternative antifungal therapy due to its bioactive compounds such as allicin, saponin, flavonoid, and tanin. Objective: To determine the antifungal activity of garlic (Allium sativum L.) extract at concentrations of 40%, 60%, 80%, and 100% against A. niger isolates in vitro. Methods: This study used a true experimental posttest-only control group design. The antifungal activity was assessed using the well diffusion method with garlic extract concentrations of 40%, 60%, 80%, and 100%, along with positive, negative, and 10% DMSO controls. Data were analyzed using the Kruskal-Wallis test due to the non-normal and non-homogeneous distribution, followed by the Games-Howell post hoc test. Results: The garlic extract produced inhibition zones that were considerably smaller than those in the positive control group. For this research, wells with a diameter of 6 mm were used. The inhibition zones for 40%, 60%, 80%, and 100% concentrations were 7.25 mm, 6.5 mm, 6 mm, and 6.75 mm, respectively. The positive control (itraconazole 8 µg/mL) produced an inhibition zone of 17 mm. Conclusion: Garlic extract did not exhibit significant antifungal activity against A. niger, as indicated by the minimal inhibition zones compared to the positive control.
4722450620H1D021054Pengembangan Aplikasi Berbasis Web Menggunakan Framework Vue.js Untuk Manajemen Data Tracker di PT ABCPerkembangan platform e-commerce di PT ABC memerlukan sistem pelacakan (tracking system) yang kompleks untuk memahami perilaku pengguna dan mengukur performa platform. Tim Data Analytics yang mengelola sistem tracking menghadapi kendala dalam pengelolaan data karena masih menggunakan platform Confluence yang menyebabkan pencarian informasi yang tidak efisien. Penelitian ini bertujuan mengembangkan aplikasi dashboard berbasis web bernama Tracker Management System (TRMS) menggunakan framework Vue.js 3 untuk menyediakan sistem terpusat dalam pengelolaan data tracker. Pengembangan aplikasi dilakukan menggunakan metodologi Agile Scrum dengan empat Sprint berdurasi dua minggu. Aplikasi dibangun dengan teknologi modern meliputi Vue.js 3 dengan state management Pinia, TailwindCSS untuk styling dan Blu Design System sebagai library UI internal. Optimasi performa aplikasi dilakukan melalui implementasi code splitting menggunakan metode defineAsyncComponent() dan route-level lazy loading, yang berhasil mengurangi ukuran file utama dari 2.08 MB menjadi 978 KB dengan menghasilkan 37 file chunk terpisah. Pengujian performa menggunakan Puppeteer dan Lighthouse menunjukkan peningkatan signifikan dengan skor performa naik dari 48 menjadi 65, First Contentful Paint (FCP) turun dari 3.4 detik menjadi 2.5 detik, dan Total Blocking Time (TBT) berkurang dari 330 milidetik menjadi 60 milidetik. Integration testing dilakukan menggunakan Playwright yang terintegrasi dengan pipeline CI/CD untuk memastikan aplikasi memenuhi standar code coverage minimal 92%. Hasil pengembangan mencakup fitur-fitur utama seperti dashboard tracker, submission system, serta fitur filtering, pencarian, dan detail log yang komprehensif. The development of e-commerce platforms at PT ABC requires a complex tracking system to understand user behavior and measure platform performance. The Data Analytics team managing the tracking system faced challenges in data management due to reliance on Confluence platform, which caused inefficient information retrieval. This research aims to develop a web-based dashboard application named Tracker Management System (TRMS) using Vue.js 3 framework to provide a centralized system for tracker data management. Application development was conducted using Agile Scrum methodology with four two-week Sprints. The application was built with modern technologies including Vue.js 3 with Pinia state management, TailwindCSS for styling, and Blu Design System as internal UI library. Application performance optimization was implemented through code splitting using defineAsyncComponent() method and route-level lazy loading, successfully reducing the main file size from 2.08 MB to 978 KB by generating 37 separate chunk files. Performance testing using Puppeteer and Lighthouse showed significant improvements with performance score increasing from 48 to 65, First Contentful Paint (FCP) decreasing from 3.4 seconds to 2.5 seconds, and Total Blocking Time (TBT) reducing from 330 milliseconds to 60 milliseconds. Integration testing was conducted using Playwright integrated with CI/CD pipeline to ensure the application meets the minimum code coverage standard of 92%.
4722550625A0B022038IDENTIFIKASI CADANGAN BIOMASSA PADA HUTAN KOTA KABUPATEN PURBALINGGAHutan merupakan ekosistem yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan melalui fungsi ekologis, ekonomis, dan sosialnya. Seiring perkembangan zaman, hutan tidak hanya dimanfaatkan sebagai penghasil kayu, tetapi juga berfungsi sebagai penyedia jasa lingkungan, termasuk pengatur iklim, penyerap karbon, dan penopang kehidupan makhluk hidup. Dalam konteks perkotaan, fungsi tersebut diwujudkan melalui keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang berperan menjaga kualitas lingkungan dan mengurangi dampak pemanasan global. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007, minimal 30% dari wilayah suatu daerah harus dialokasikan untuk RTH, terdiri dari 20% RTH publik dan 10% RTH privat.

Kawasan Perkotaan Purbalingga memiliki luas wilayah 2.704,70 hektar dengan ketersediaan RTH eksisting pada tahun 2018 mencapai 1.150,99 hektar atau 42,56% dari total wilayah. Kondisi ini menunjukkan bahwa Purbalingga telah melampaui standar kebutuhan minimal RTH. Namun, peran RTH dan hutan kota dalam penyerapan karbon di wilayah ini belum banyak diteliti. Padahal, hutan kota berpotensi besar dalam menurunkan kadar karbon di udara melalui proses fotosintesis yang menghasilkan biomassa dan cadangan karbon. Penelitian mengenai potensi volume kayu dan cadangan karbon sangat diperlukan untuk menilai kontribusi hutan kota terhadap mitigasi pemanasan global. Dengan demikian, pengembangan dan pengelolaan hutan kota di Kabupaten Purbalingga menjadi langkah strategis dalam upaya pengurangan emisi karbon dan peningkatan kualitas lingkungan perkotaan.
Forests are ecosystems that play a vital role in maintaining environmental balance through their ecological, economic, and social functions. Over time, forests have become increasingly utilized not only as timber producers but also as providers of environmental services, including climate regulation, carbon absorption, and support for living organisms. In an urban context, these functions are realized through the existence of Green Open Spaces (RTH), which play a role in maintaining environmental quality and mitigating the impacts of global warming. Law No. 26 of 2007 stipulates that a minimum of 30% of a region's territory must be allocated for RTH, consisting of 20% public RTH and 10% private RTH.

The Purbalingga urban area covers 2,704.70 hectares, with existing green open space (GOS) reaching 1,150.99 hectares in 2018, or 42.56% of the total area. This indicates that Purbalingga has exceeded the minimum requirement for GOS. However, the role of GOS and urban forests in carbon sequestration in this region has not been widely studied. In fact, urban forests have significant potential to reduce carbon levels in the air through the process of photosynthesis, which produces biomass and carbon reserves. Research on the potential volume of wood and carbon reserves is essential to assess the contribution of urban forests to global warming mitigation. Therefore, the development and management of urban forests in Purbalingga Regency is a strategic step in efforts to reduce carbon emissions and improve the quality of the urban environment.
4722650631F1C021002Analisis Resepsi Generasi Z Terhadap Aspek keunggulan Kognitif Dalam Konten Edutainment: Clash of Champions RuangguruClash of Champions merupakan sebuah konten berbentuk gameshow yang diproduksi oleh Ruangguru yang menonjolkan aspek keunggulan kognitif melalui bentuk soal dan tantangan yang menguji kemampuan aritmatika, memori, dan logika. Latar belakang prestasi peserta dan adanya sistem penilaian menggunakan peringkat semakin mempromosikan kecerdasan kognitif sebagai faktor utama keberhasilan. Mengingat karakteristik Generasi Z yang rentan terhadap tekanan akademik, penelitian ini berusaha mengkaji bagaimana generasi tersebut memaknai aspek keunggulan kognitif dalam konten Clash of Champions yang mempromosikan keunggulan kognitif dari para pesertanya. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan analisis resepsi Stuart Hall. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dokumentasi dari enam informan, yaitu 3 mahasiswa dan 3 siswa SMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima informan dalam posisi negotiated, yang mendukung keunggulan kognitif sebagai standar kecerdasan, tetapi juga tetap mempertimbangkan/mengakui bentuk kecerdasan lain, serta memandangnya sebagai salah satu faktor keberhasilan. Sedangkan satu informan berada pada posisi oppositional, yang menolak standar kognitif tunggal dan mendukung konsep kecerdasan majemuk. Informan dalam posisi ini juga menolak keunggulan kognitif sebagai satu-satunya faktor penentu keberhasilan, dan menekankan peran aspek afektif seperti soft skills dan faktor pendukung lainnya. Penelitian ini menyoroti keragaman interpretasi khalayak terhadap narasi kecerdasan dalam konten edukasi digital, yang dapat menjadi dasar pengembangan konten edukasi yang lebih inklusif bagi Generasi Z.Clash of Champions is a gameshow produced by Ruangguru that highlights cognitive skills through arithmetic, memory, and logic challenges. The show emphasizes participants' academic achievements and uses a ranking system to promote cognitive ability as a key factor for success. Considering Generation Z's vulnerability to academic pressure, this study explores how this generation interprets cognitive excellence in Clash of Champions, which promotes participants' cognitive strengths. This qualitative research uses Stuart Hall's reception analysis approach. Data were collected through in-depth interviews and documentation from six informants, consisting of 3 college student and 3 high school students. The findings show that five informants hold a negotiated position, supporting cognitive ability as a measure of intelligence but also recognizing other forms of intelligence and viewing it as one of several success factors. One informant takes an oppositional position, rejecting a single cognitive standard and supporting the concept of multiple intelligences. This informant also denies cognitive ability as the sole determinant of success, emphasizing affective aspects like soft skills and other supporting factors. This study highlights diverse audience interpretations of intelligence narratives in digital educational content, providing a basis for developing more inclusive educational content for Generation Z.
4722750621L1B021058Laju Pertumbuhan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) pada Budidaya Intensif di Tambak Hurang Jaya Makmur, Nusawungu, CilacapUdang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu komoditas dengan nilai ekspor yang tinggi di Indonesia. Daya saing ekspor yang kompetitif memicu petambak untuk meningkatkan produksi. Teknik budidaya intensif merupakan metode budidaya dengan padat tebar 100-300 ekor/m2. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana laju pertumbuhan udang vaname pada budidaya intensif di tambak Hurang Jaya Makmur, Nusawungu, Cilacap. Padat tebar kolam yang dilakukan pada tambak ini yaitu 187 ekor/m2 (kolam A) dan 150 ekor/m2(kolam B). Penelitian berlangsung selama DOC 43-100. Laju pertumbuhan harian kolam A yaitu 0,197 g/hari dan kolam B 0,176 g/hari, Kenaikan bobot kolam A lebih tinggi dibandingkan kolam B. Hal ini dipengaruhi oleh kualitas media budidaya kolam A lebih baik dibandingkan kolam B. Selain itu, kolam A melakukan penebaran benur lebih awal dari kolam B. Sehingga, pertumbuhan benur pada awal budidaya lebih tinggi dari kolam B dikarenakan media kolam A belum banyak tercemar dari budidaya kolam lain. Pertumbuhan kedua kolam yang tidak seragam yang disebabkan oleh kemampuan udang yang berbeda.Vaname shrimp (Litopenaeus vannamei) is one of the commodities with high export value in Indonesia. Competitive export competitiveness triggers farmers to increase production. Intensive cultivation technique is a cultivation method with a stocking density of 100-300 heads/m2. This study was conducted to determine the growth rate of vaname shrimp in intensive cultivation in Hurang Jaya Makmur pond, Nusawungu, Cilacap. The stocking density of this pond was 187 fish/m2 (pond A) and 150 fish/m2 (pond B). The study took place during DOC 43-100. The daily growth rate of pond A was 0.197 g/day and pond B was 0.176 g/day, the weight gain of pond A was higher than pond B. This was influenced by the quality of the culture medium. This was influenced by the better quality of culture media in pond A compared to pond B. In addition, pond A stocked the fry earlier than pond B. Thus, the growth of fry at the beginning of cultivation in pond A was higher than pond B. Thus, the growth of fry at the beginning of cultivation was higher than pond B because the media in pond A had not been heavily polluted from the cultivation of other ponds. The non-uniform growth of the two ponds due to the different abilities of the shrimp.
4722850622H1D019023SISTEM INFORMASI PENGUKURAN CPL DALAM KURIKULUM BERBASIS OBE DALAM INFORMATIKA UNSOEDSistem informasi yang diusulkan pada penelitian ini adalah sistem pengukuran Capaian Pembelajaran Lulusan berbasis kurikulum Outcome Based Education pada Informatika Unsoed. Berdasarkan Undang Undang No 12/2012 yang tertulis untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. salah satu upaya untuk memecahkan masalah ini yaitu dengan menerapkan kurikulum Outcome Based Education. Sistem yang diusulkan bertujuan untuk memberikan informasi mengenai institusi, dosen dan mahasiswa terhadap pengukuran progress kuliah. Cakupan sistem meliputi aplikasi berbasis website yang dibangun dengan menggunakan metode agile. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sistem informasi pengukuran Cpl berdasarkan OBE sebagai manajemen sistem penilaian Cpl untuk mahasiswa dengan mata kuliah nya. Manfaat studi memungkinkan pengguna website untuk mempermudah dalam peng-implementasian kurikulum berbasis OBE di Informatika Unsoed.The information system proposed in this research is the Outcome Based Education curriculum-based Graduate Learning Outcomes measurement system at Unsoed Informatics. Based on Law No. 12/2012 which is written to improve the quality of higher education. One of the efforts to solve this problem is by implementing an Outcome Based Education curriculum. The proposed system aims to provide information about agencies, lecturers and students on the measurement of college progress. The scope of the system includes web-based applications that are built using the agile method. This study aims to create an OBE-based SLO measurement information system as a management of SLO assessment systems for students with their courses. The benefits of the study allow website users to facilitate the implementation of the OBE-based curriculum at Unsoed Informatics.
4722950623J1B021026Register Selingkung Terbatas sebagai Identitas dari Komunitas Indonesia Main Genshin (Indomi) Tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk dan makna register selingkung terbatas yang digunakan dalam komunitas pemain game online Genshin Impact, yaitu komunitas Indonesia Main Genshin (Indomi) yang hadir di Discord. Penulis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui metode simak dan cakap. Data primer diperoleh dari kanal percakapan #💀.seputar-abyss pada server Discord Indomi, sedangkan data sekunder berasal dari referensi pendukung, seperti penelitian terdahulu, kamus, dan sumber tutorial permainan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas Indomi mengembangkan register khusus berupa kata dan frasa. Beberapa contoh register yang ditemukan meliputi “hydro”, “pyro”, “abyss”, “kuning”, hingga frasa seperti “11-1” dan “set MH”. Register tersebut memiliki makna kontekstual yang hanya dapat dipahami oleh anggota komunitas sehingga mencerminkan identitas kelompok, solidaritas sosial, serta tingkat pemahaman terhadap permainan. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa bahasa dalam komunitas digital tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai simbol identitas sosial dan budaya komunitas virtual.This study aims to identify the forms and meanings of register selingkung terbatas employed within the Indonesian Genshin Impact gaming community—specifically the Discord-based Indonesia Main Genshin (Indomi) community. The author employs a qualitative descriptive approach, with data collection via the simak and cakap methods. Primary data were gathered from the #💀.seputar-abyss channel on the Indomi Discord server, while secondary data were drawn from supporting references, including prior studies, dictionaries, and game tutorials. The research findings reveal that the Indomi community develops a specialized register composed of specific words and phrases. Examples include lexical items such as “hydro”, “pyro”, “abyss”, “kuning”, and phrases like “11‑1” and “set MH”. These registers carry context-dependent meanings understood only by community members, thereby signaling group identity, social solidarity, and in-depth familiarity with the game. The findings strengthen the view that language in digital communities functions not only as a means of communication but also as a marker of social and cultural identity in virtual settings.
4723050624K1A021048Seleksi Metode Perhitungan Kimia Komputasi Density Functional Theory untuk Molekul PolietilenaOptimasi geometri dalam kimia komputasi dilakukan untuk menemukan struktur
paling stabil dari suatu molekul dengan energi paling minimum. Hal ini menjadi
langkah penting dalam melakukan penelitian kimia komputasi, salah satunya untuk
menentukan metode kimia komputasi terbaik. Penelitian ini bertujuan untuk
menentukan energi minimum serta menentukan metode kimia komputasi Density
Functional Theory (DFT) yang terbaik menggunakan struktur molekul tetramer
polietilena. Parameter seperti panjang ikatan, sudut ikatan, spektrum inframerah
(IR), dan spektrum 1H-NMR dari molekul tersebut dilakukan analisis yang
didasarkan pada data eksperimental yang kemudian digunakan sebagai uji
menentukan metode terbaik melalui Prediction Residual Error of Sum Square
(PRESS). Hasil penelitian menunjukkan energi minimum dari struktur molekul
tetramer polietilena sebesar -198.158,922588 kkal/mol menggunakan kombinasi
metode DFT 6-311++G**/EDF1 dan nilai PRESS total sebesar 124.007,387167
yang menyatakan metode DFT 6-311++G**/B3LYP sebagai metode yang terbaik
untuk molekul tetramer polietilena.
Geometry optimization in computational chemistry is carried out to find the most
stable structure of a molecule with the minimum energy. This is an important step
in conducting computational chemistry research, one of which is to determine the
best computational chemistry method. This study aims to determine the minimum
energy and determine the best Density Functional Theory (DFT) computational
chemistry method using the polyethylene tetramer molecular structure. Parameters
such as bond length, bond angle, infrared (IR) spectrum, and 1H-NMR spectrum of
the molecule were analyzed based on experimental data which were then used as a
test to determine the best method through Prediction Residual Error of Sum Square
(PRESS). The results showed the minimum energy of the polyethylene tetramer
molecular structure was -198,158.922588 kcal/mol using a combination of the DFT
6-311++G**/EDF1 method and a total PRESS value of 124.007,387167 which
stated that the DFT 6-311++G**/B3LYP method was the best method for the
polyethylene tetramer molecule.
4723150626J1B021051KOGNISI SOSIAL DAN KONTEKS SOSIAL VAN DJIK DALAM PEMBERITAAN KORUPSI HARVEY MOEIS PADA MEDIA ONLINE DETIK.COMPenelitian ini bertujuan untuk mengilustrasikan penggunaan kognisi sosial dan konteks sosial oleh Teun A. Van Djik dalam menganalisis liputan berita kasus korupsi Harvey Moeis di detik.com. Penelitian ini menggunakan paradigma kritis dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data yang digunakan adalah teks wacana berita daring yang membahas kasus korupsi dan pencucian uang Harvey Moeis, yang diambil dari artikel detik.com. Data yang dipilih adalah artikel-artikel yang membangkitkan opini publik yang luas dan dibahas secara luas. Dalam proses pengumpulan data, penelitian ini menggunakan metode simak bebas libat cakap, dengan teknik pencatatan sebagai teknik lanjutannya. Hasil analisis data disajikan menggunakan metode informal. Hasil analisis menunjukkan bahwa kognisi sosial dan konteks sosial digunakan untuk mengidentifikasi skema dalam wacana. Misalnya, penulis artikel detik.com menyampaikan berita disertai opini langsung dari seseorang yang terlibat dalam kasus tersebut. Hal ini memastikan bahwa berita yang disajikan tidak hanya berisi opini pribadi penulis dan menunjukkan ketidakberpihakan. Lebih lanjut, komentar dan tanggapan terhadap artikel berita daring detik.com menunjukkan bahwa detik.com menyampaikan berita sesuai dengan realitas sosial dan melibatkan publik.This study aims to illustrate Teun A. Van Djik's use of social cognition and social context in analyzing news coverage of the Harvey Moeis corruption case on detik.com. This study employs a critical paradigm with a qualitative descriptive approach. The data used are texts of online news discourses discussing the Harvey Moeis corruption and money laundering case, taken from detik.com articles. The selected data are articles that generated a wide range of public opinion and were widely discussed. In the data collection process, this study employed a free, engaged listening method, with note-taking as a secondary technique.The results of the data analysis are presented using informal methods. The discussion shows that social cognition and social context were used to identify schemas within the discourse. For example, the author of the detik.com article delivered news accompanied by the direct opinion of someone involved in the case. This ensures that the news presented does not merely contain the author's personal opinion and demonstrates impartiality. Furthermore, the comments and responses to detik.com's online news articles demonstrate that detik.com delivers news in accordance with social reality and engages with the public.
4723250627J0A021043Creating A Bilingual Company Profile Video for SME (Small and Medium Enterprise) Jahe Jempol of Desa Wisata NusantaraPenulis melakukan praktek kerja lapangan selama tiga bulan di Desa Wisata Nusantara, pada tanggal 24 September 2023 sampai 24 Desember 2023. Tujuan penulis dalam praktik kerja ini adalah membuat company profile video untuk UMKM Jahe Jempol dengan menggunakan voice over Bahasa Indonesia dan subtitle Bahasa Inggris untuk mempermudah dan mencakup cakupan luas, baik dalam negeri maupun luar negeri.
Pembuatan company profile video menggunakan tiga metode yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode observasi dilakukan untuk menganalisa produk yang dibuat Jahe Jempol, menganalisa proses pembuatan produk Jahe Jempol, dan juga menganalisa proses distribusi produk Jahe Jempol. Metode wawancara dilakukan untuk menggali data yang dibutuhkan seperti, profil perusahaan, produk apa yang diproduksi, dan data lainnya yang dibutuhkan oleh penulis untuk pembuatan video profil perusaahan. Metode dokumentasi dilakukan dengan mengambil gambar serta video yang dibutuhkan dalam pembuatan video profil perusaahan dan melengkapi data lainnya yang dibutuhkan untuk laporan. Proses pembuatan konten melalui tiga tahapan tahapan yaitu pra produksi, produksi dan pasca produksi.
Hasil dari praktik kerja lapangan yang dilakukan adalah sebuah video profil perusahaan yang diunggah dalam YouTube dan Instagram dari Jahe Jempol. Dalam pengerjaannya penulis mengalami beberpa kendala salah satunya adalah komunikasi dengan karyawan Jahe Jempol terkait janji atau jadwal untuk berkunjung ke Jahe Jempol. Hal ini terjadi dikarenakan jarak yang cukup jauh sehingga komunikasi hanya dilakukan melalui handphone. Kendala ini diatasi dengan membuat janji secara langsung dan menentukan jadwal yang pasti untuk berkunjung ke Jahe Jempol.
The author conducted job training at Desa Wisata Nusantara for a period of three months, from September 24, 2023 to December 24, 2023. The author's objective in this job training is to create a company profile video for Jahe Jempol SME using Indonesian voice over and English subtitles to simplify and cover a wide range of coverage, both domestically and abroad.
The process of creating a company profile video utilizes three primary methods: observation, interviews, and documentation. The observation method is employed to analyze the products produced by Jahe Jempol, to analyze the process of production, and to analyze the distribution process of Jahe Jempol products. The interview method is employed to explore the data needed, such as the company profile, the products produced, and other data needed by the author for making company profile videos. The documentation method is carried out by taking pictures and videos, which are then used to create company profile videos and complete other data needed for reports. The content creation process is generally comprised of three primary stages: pre-production, production, and post-production.
The result of the job training carried out is a company profile video uploaded on YouTube and Instagram from Jahe Jempol. During the process, the author experienced several obstacles, one of which was the challenge of communication with Jahe Jempol employees regarding appointments or schedules to visit Jahe Jempol. The necessity for long- distance communication is the primary factor causing communication to be carried out through mobile devices. This challenge was overcome by scheduling an in-person appointment and setting a visit to Jahe Jempol.
4723350628L1C021017ANALISIS STRUKTUR KOMUNITAS PERIFITON DAN HUBUNGANNYA TERHADAP KUALITAS PERAIRAN DI KAWASAN MANGROVE KARANGTALUN CILACAPPerifiton merupakan salah satu biota yang dapat dijadikan sebagai indikator ekologis karena sifatnya yang sensitif terhadap perubahan kualitas perairan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kelimpahan dan struktur komunitas perifiton serta hubungan kualitas perairan terhadap kelimpahan perifiton. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel yaitu menggunakan purpossive sampling dengan total 3 stasiun yang mewakili keseluruhan tempat penelitian. Pengambilan sampel perifiton pada akar mangrove dilakukan dengan cara menyikat permukaan akar sebanyak 3 kali pengulangan pada setiap stasiun dengan luas 50 cm. Pengukuran parameter perairan meliputi salinitas, pH, DO, suhu, dan kecerahan yang dilakukan secara in situ sedangkan analisis nitrat, fosfat, dan kepadatan perifiton dilakukan di laboratorium. Hubungan kelimpahan perifiton dengan parameter air dihitung menggunakan analisis korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan ditemukannya 17 genera yang teridentifikasi tergolong ke dalam 5 kelas yaitu Bacillariophyceae, Cyanophyceae, Klebsormidiophyceae, Zygnematophyceae, dan Trebouxiophyceae. Kelimpahan tertinggi pada stasiun 1 sebesar 37,417sel/cm². Secara keseluruhan, indeks keanekaragaman relatif sedang atau cenderung memiliki struktur komunitas perifiton cukup stabil. Hasil uji korelasi pearson menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara parameter air dengan kelimpahan perifiton yaitu kecerahan, salinitas dan fosfat yang memiliki hubungan sangat kuat. Suhu, pH, dan nitrat memiliki hubungan yang sedang, dan DO memiliki hubungan yang rendah terhadap kelimpahan perifiton.Periphyton is one of the organisms that can be used as an ecological indicator because of its sensitivity to changes in water quality. The purpose of this reasearch is to determine the abundance and structure of the periphyton community, as well as the relationship between water quality and periphyton abundance. The sampling method used was purposive sampling, with a total of 3 stations representing the entire research area. Periphyton samples were collected from mangrove roots by brushing the root surface three times at each station over an area of 50 cm. Water parameter measurements include salinity, pH, DO, temperature, and clarity, which are taken in situ, while nitrate, phosphate, and periphyton density analyzes are performed in the laboratory. The relationship between periphyton abundance and water parameters was calculated using Pearson correlation analysis. The research results showed the identification of 18 genera belonging to 5 classes: Bacillariophyceae, Cyanophyceae, Klebsormidiophyceae, Zygnematophyceae, and Trebouxiophyceae. The highest abundance at station 1 was 37,417 cells/cm². Overall, the relative diversity index is moderate or tends to have a fairly stable periphyton community structure. The results of the Pearson correlation test indicate a relationship between water parameters and periphyton abundance, specifically brightness, salinity, and phosphate, which have a very strong relationship. Temperature, pH, and nitrates have a moderate relationship, while DO has a low relationship with periphyton abundance.
4723450630D1A021123PENGARUH BANGSA SAPI LOKAL YANG DIBERI PAKAN JERAMI PADI DAN KONSENTRAT TERHADAP LAMA WAKTU DAN FREKUENSI MAKANPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bangsa sapi lokal terhadap lama waktu dan frekuensi makan ketika diberi pakan berupa jerami padi dan konsentrat. Penelitian dilakukan menggunakan empat bangsa sapi lokal yaitu Sapi Madura (MM), Madura Flores (MF), Bali Flores (BF), dan Peranakan Ongole (PO) yang masing-masing memiliki bobot badan rata-rata ±300 kg. Pakan yang diberikan berupa jerami padi secara ad libitum dan konsentrat sebanyak 2,5% dari bobot badan. Penelitian dilaksanakan di Amanah Bata Farm, Banyumas, dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah. Hasil analisis menunjukkan bahwa bangsa sapi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap lama waktu makan dan frekuensi makan harian. Rataan lama waktu makan harian masing-masing bangsa sapi yaitu MF (124,2 ± 6,76), BF (143,70 ± 20,20), PO (144,2 ± 10,28), dan MM (173,0 ± 20,57), dengan sapi MM memiliki lama makan yang lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan sapi MF, sapi BF, dan sapi PO, sedangkan diantara sapi MF, BF, dan PO tidak menunjukkan adanya perbedaan nyata (P>0,05) dalam lama aktu makan. Sedangkan rataan frekuensi makan harian yaitu MF (11,00 ± 0,47), PO (11,17 ± 0,76), BF (12,17 ± 0,58), dan MM (12,83 ± 0,58), dengan sapi sapi MM memiliki frekuensi makan yang sama (P>0,05) dengan BF dan PO, akan tetapi lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan MF. Temuan ini menunjukkan bahwa setiap bangsa sapi memiliki kebiasaan makan yang berbeda meskipun diberi pakan dan kondisi lingkungan yang sama. Faktor genetik dan adaptasi fisiologis terhadap jenis pakan di wilayah asal diduga berkontribusi terhadap perbedaan ini.This study aimed to evaluate the effect of local cattle breeds on eating duration and feeding frequency when fed rice straw and concentrate. Four local cattle breeds were used, namely Madura (MM), Madura–Flores (MF), Bali–Flores (BF), and Peranakan Ongole (PO), with an average body weight of ±300 kg. The cattle were offered rice straw ad libitum and concentrate at 2.5% of body weight. The experiment was conducted at Amanah Bata Farm, Banyumas, using a Completely Randomized Design (CRD) with a one-way pattern. The results showed that cattle breed had a significant effect (P<0.05) on both eating duration and feeding frequency. The average eating duration was MF (124.2 ± 6.76 min), BF (143.70 ± 20.20 min), PO (144.2 ± 10.28 min), and MM (173.0 ± 20.57 min). Madura cattle (MM) had a significantly longer eating duration (P<0.05) than MF, BF, and PO, while no significant difference (P>0.05) was observed among MF, BF, and PO. The average feeding frequency was MF (11.00 ± 0.47), PO (11.17 ± 0.76), BF (12.17 ± 0.58), and MM (12.83 ± 0.58). Madura cattle (MM) had a similar feeding frequency (P>0.05) to BF and PO but higher (P<0.05) than MF. These findings indicate that local cattle breeds exhibit different feeding behaviors even when provided with the same feed and environmental conditions. Genetic factors and physiological adaptation to feed resources in their native regions are suggested to contribute to these differences.
4723550632B1A021010Respon Pertumbuhan Tanaman Cabai terhadap Pengayaan Pupuk Organik Hayati C631 pada Tanah Rendah ProduksiRespon pertumbuhan tanaman cabai sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan tanah, meliputi ketersediaan hara dan aktivitas mikroorganisme. Pada lahan rendah produksi, seperti di Desa Gandatapa, Banyumas, produktivitas panen sering menurun akibat degradasi tanah, ketidakseimbangan hara, dan tingginya penggunaan pupuk kimia. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah penggunaan pupuk organik hayati C631 yang mengandung mikro-dekomposer serta unsur hara makro dan mikro.
Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan: tanpa pupuk, pupuk kimia, dan dua dosis pupuk C631 (setara 2 ton/ha dan 4 ton/ha), masing-masing dengan tiga ulangan. Variabel bebas terdiri atas pupuk organik hayati C631 dan variabel terikat terdiri atas pertumbuhan tanaman cabai dengan parameter yang diamati terdiri atas tinggi tanaman, luas daun, diameter batang, dan bobot kering, serta kandungan C organik dan N total tanah sebagai data pendukung. Pengamatan dilakukan setiap 10 hari selama 60 hari setelah tanam. Analisis data dilakukan menggunakan PERMANOVA.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk organik hayati C631 berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan cabai rawit dan kondisi lingkungan tanah. Pemberian dosis 4 ton/ha mampu menghasilkan pertumbuhan setara dengan pupuk kimia, sekaligus memperbaiki pH tanah, menurunkan nilai EC, meningkatkan kadar air, menjaga stabilitas C-organik, serta meningkatkan kandungan N-total. Dosis 2 ton/ha juga memberikan respon positif terhadap pertumbuhan, meskipun tidak seoptimal dosis 4 ton/ha. Secara keseluruhan, pupuk organik hayati C631 terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan cabai pada tanah rendah produksi melalui perbaikan tinggi tanaman, diameter batang, luas daun, dan bobot kering, dengan dosis terbaik yaitu 4 ton/ha.
The growth response of chili plants is greatly influenced by soil health conditions, including nutrient availability and microorganism activity. In low-yielding areas, such as Gandatapa Village, Banyumas, chili productivity often declines due to soil degradation, nutrient imbalance, and high use of chemical fertilizers. One solution that can be applied is the use of C631 bio-organic fertilizer, which contains micro-decomposers as well as macro and micro nutrients.
The study was conducted using a completely randomized design (CRD) with four treatments: no fertilizer, chemical fertilizer, and two doses of C631 fertilizer (equivalent to 2 tons/ha and 4 tons/ha), each with three replicates. The independent variable consisted of C631 bio-organic fertilizer and the dependent variable consisted of chili plant growth with observed parameters consisting of plant height, leaf area, stem diameter, and dry weight, as well as organic C and total N content of the soil as supporting data. Observations were made every 10 days for 60 days after planting. Data analysis was performed using PERMANOVA.
The results showed that C631 bio-organic fertilizer had a significant effect on chili growth and soil conditions. The 4 tons/ha dose produced growth equivalent to chemical fertilizer, while also improving soil pH, lowering EC values, increasing water content, maintaining organic C stability, and increasing total N content. A dose of 2 tons/ha also produced a positive response on growth, although not as optimal as the 4 tons/ha dose. Overall, the C631 bio-organic fertilizer was proven to enhance chili growth in low-yielding soils by improving plant height, stem diameter, leaf area, and dry weight, with the optimal dose being 4 tons/ha.
4723650633H1B021015Penggunaan Data Hujan Satelit PERSIANN Untuk Pemodelan Debit Banjir Di Daerah Aliran Sungai (DAS) SerayuBanjir adalah bencana yang sering terjadi di Indonesia, termasuk pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu yang terletak pada Kabupaten Banyumas, yang menimbulkan kerugian lingkungan maupun sosial. Keterbatasan data hujan terukur dari stasiun pengamatan, maka diperlukan sumber data lain yang lebih lengkap. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan debit banjir di DAS Serayu menggunakan data curah hujan satelit PERSIANN (Precipitation from Remotely Sensed Information using Artifical Neural Networks) yang dimodelkan pada software HEC-HMS (Hydrologic Engineering Center’s Hydrologic Modeling System), serta membandingkan hasil pemodelan dengan data debit terukur. Metode penelitian dilakukan dengan mengunduh data curah hujan harian satelit PERSIANN dari CHRS Data Portal untuk periode 2004–2023, kemudian diolah bersama data Digital Elevation Model (DEM), jenis tanah, dan tutupan lahan sebagai input dalam pemodelan hidrologi. Pemodelan debit banjir menggunakan metode Soil Conservation Service-Curve Number (SCS-CN) pada HEC-HMS dengan tahapan pembuatan DAS, kalibrasi, validasi dan analisis frekuensi debit banjir. Selanjutnya, dilakukan analisis frekuensi debit banjir menggunakan uji Chi-Square dan Smirnov-Kolmogorov. Hasil pemodelan sebelum kalibrasi menunjukkan nilai R2 sebesar 0,35 dan 0,30; untuk nilai NSE sebesar -2,178 dan -0,378; RSME sebesar 1,8 dan 1,2; serta nilai PBias sebesar 87,08% dan 26,03%. Tahapan ini, hanya PBias dengan nilai 26,03% yang masuk ke kategori memuaskan. Setelah dilakukannya kalibrasi, indikator mengalami peningkatan walaupun masih dalam kategori tidak memuaskan dengan nilai NSE sebesar -2,541 dan -0,150; nilai RSME sebesar 1,9 dan 1,1; nilai PBias sebesar 95,25% dan 25,62%. Tahapan ini, hanya PBias dengan nilai 25,62% yang masuk ke kategori memuaskan.. Pada tahap validasi, model semakin membaik dengan nilai R2 sebesar 0,61 dan 0,61; nilai NSE sebesar 0,502 dan 0,495; nilai RSME sebesar 0,7 dan 0,7; serta nilai PBias sebesar 13,98% dan 14,66%. Analisis frekuensi debit banjir menggunakan distribusi Gumbel pada data observasi maupun hasilS simulasi. Dengan demikian, data curah hujan satelit PERSIANN dinilai layak digunakan dalam pemodelan hidrologi, terutama pada wilayah dengan keterbatasan data debit terukur, meskipun penggunaanya akan lebih akurat apabila dikombinasikan dengan data observasi lapangan.
Flooding is a disaster that often occurs in Indonesia, including in the Serayu River Basin (DAS) located in Banyumas Regency, which causes environmental and social losses. The limitations of measured rainfall data from observation stations require other, more complete data sources. This study aims to model flood discharge in the Serayu Watershed using PERSIANN (Precipitation from Remotely Sensed Information using Artificial Neural Networks) satellite rainfall data modeled on HEC-HMS (Hydrologic Engineering Center’s Hydrologic Modeling System) software, and to compare the modeling results with measured discharge data. The research method was carried out by downloading PERSIANN satellite daily rainfall data from the CHRS Data Portal for the period 2004–2023, then processed together with Digital Elevation Model (DEM) data, soil types, and land cover as input in hydrological modeling. Flood discharge modeling uses the Soil Conservation Service-Curve Number (SCS-CN) method on HEC-HMS with the stages of watershed creation, calibration, validation and analysis of flood discharge frequency. Furthermore, flood discharge frequency analysis was conducted using the Chi-Square and Smirnov-Kolmogorov tests. The modeling results before calibration showed R2 values of 0.35 and 0.30; for NSE values of -2.178 and -0.378; RSME of 1.8 and 1.2; and PBias values of 87.08% and 26.03%. At this stage, only PBias with a value of 26.03% fell into the satisfactory category. After calibration, the indicators improved although still in the unsatisfactory category with NSE values of -2.541 and -0.150; RSME values of 1.9 and 1.1; PBias values of 95.25% and 25.62%. At this stage, only PBias with a value of 25.62% fell into the satisfactory category. In the validation stage, the model improved further with R2 values of 0.61 and 0.61; NSE values of 0.502 and 0.495; RSME values of 0.7 and 0.7; and PBias values of 13.98% and 14.66%. Flood discharge frequency analysis uses the Gumbel distribution on observational data and simulation results. Thus, PERSIANN satellite rainfall data is considered suitable for use in hydrological modeling, especially in areas with limited measured discharge data, although its use will be more accurate when combined with field observation data.


4723750634H1B021023PENGGUNAAN DATA HUJAN SATELIT GPM-IMERG UNTUK PEMODELAN DEBIT BANJIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) SERAYUBanjir merupakan bencana alam umum yang merusak, termasuk di Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu dengan sejarah banjir signifikan. Kemajuan teknologi memungkinkan estimasi curah hujan menggunakan data satelit sebagai alternatif sumber hidrologi, penting untuk daerah dengan stasiun pengamatan hujan terbatas, terutama wilayah terpencil. Tujuan penelitian ini untuk memodelkan debit banjir menggunakan HEC-HMS dan membandingkan dengan data hasil observasi di lapangan. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data hujan satelit GPM-IMERG dan data debit sungai observasi harian tahun 2004-2023, yang kemudian dianalisis dengan DEM, peta tata guna lahan dan peta jenis tanah untuk menghasilkan parameter model terbaik. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa sebelum kalibrasi model termasuk tidak memuaskan. Setelah dilakukan kalibrasi, indikator penilaian kinerja model meningkat walaupun masih dalam kategori tidak memuaskan. Pada tahap validasi, kinerja model semakin membaik dengan nilai R² sebesar 0,67, NSE sebesar 0,610 dan 0,609, RSR sebesar 0,6 serta PBIAS masing-masing sebesar -17,10 dan -17,13 yang termasuk kategori baik. Analisis debit kala ulang menggunakan distribusi Gumbel untuk data observasi dan Log Pearson III untuk hasil pemodelan menghasilkan debit kala ulang 2 tahun sebesar 1057,435 m³/s (observasi) dan 975,950 m³/s (pemodelan) dengan pola kenaikan debit yang serupa hingga kala ulang 100 tahun. Dengan demikian, model mampu mempresentasikan hubungan antara debit hasil simulasi dan debit observasi dengan baik sehingga data hujan satelit GPM-IMERG dapat dijadikan alternatif pemodelan hidrologi pada DAS dengan keterbatasan data pengukuran hujan di lapangan.Floods are destructive general natural disasters, including in the Serayu Watershed with a history of significant flooding. Technological advances allow rainfall estimation using satellite data as an alternative source of hydrology, important for areas with limited rainfall observation stations, especially remote areas. The purpose of this study is to model flood discharge using HEC-HMS and compare it with data from observations in the field. The data used in this study are GPM-IMERG satellite rain data and daily observation river discharge data for 2004-2023, which are then analyzed with DEM, land use maps and soil type maps to produce the best model parameters. The modeling results show that before the calibration of the included model was unsatisfactory. After calibration, the model performance assessment indicator increased even though it was still in the unsatisfactory category. At the validation stage, the model's performance improved with an R² value of 0.67, NSE of 0.610 and 0.609, RSR of 0.6 and PBIAS of -17.10 and -17.13 respectively which are in the good category. The re-discharge analysis using the Gumbel distribution for the observation data and the Pearson Log III for the modeling results resulted in a 2-year re-discharge of 1057.435 m³/s (observation) and 975.950 m³/s (modeling) with a similar pattern of discharge increase until the 100-year re-release. Thus, the model is able to present the relationship between the simulation discharge and the observation discharge well so that GPM-IMERG satellite rainfall data can be used as an alternative to hydrological modeling in watersheds with limited rainfall measurement data in the field.
4723850642C1L021048PENGARUH SELF EFFICACY, SELF REGULATED LEARNING (SRL), DAN DIGITAL LITERACY TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KITIS SISWA KELAS XI SMA NEGERI 5 PURWOKERTO Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI SMA Negeri 5 Purwokerto pada mata pelajaran ekonomi. Sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan dalam mengaitkan konsep ekonomi dengan situasi nyata serta menunjukkan hasil belajar yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh self efficacy, self regulated learning (SRL), dan digital literacy baik secara parsial maupun simultan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa, serta menentukan variabel yang memiliki pengaruh paling dominan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Sampel penelitian terdiri dari 108 siswa kelas XI yang dipilih secara purposive sampling dari total populasi sebanyak 391 siswa tahun ajaran 2024/2025. Data diperoleh melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda serta uji elastisitas dengan bantuan program SPSS 22. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self efficacy dan self regulated learning (SRL) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis dengan tingkat sensitivitas masing-masing sebesar 0,4167% dan 0,3489%, sedangkan digital literacy tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Ketiga variabel secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan rasa percaya diri, kemandirian belajar, serta optimalisasi pemanfaatan teknologi digital melalui pembelajaran inovatif guna meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.This study was motivated by the low critical thinking skills of 11th grade students at SMA Negeri 5 Purwokerto in economics subject. Most students still have difficulty relating economic concepts to real-life situations and demonstrate suboptimal learning outcomes. This study aims to analyze the influence of self-efficacy, self-regulated learning (SRL), and digital literacy, both partially and simultaneously, on students' critical thinking skills, as well as to determine the variable that has the most dominant influence. This study uses a quantitative approach with a survey method. The research sample consisted of 108 eleventh-grade students selected by purposive sampling from a total population of 391 students in the 2024/2025 academic year. Data were obtained through questionnaires and analyzed using multiple linear regression and elasticity tests with the help of the SPSS 22 program. The results showed that self-efficacy and self-regulated learning (SRL) had a positive and significant effect on critical thinking skills with sensitivity levels of 0.4167% and 0.3489%, respectively, while digital literacy did not show a significant effect. All three variables simultaneously had a positive and significant effect on students' critical thinking skills. The implications of this study emphasize the importance of strengthening self-confidence, independent learning, and optimizing the use of digital technology through innovative learning to improve students' critical thinking skills.
4723950665F1D022051EMOSI KOLEKTIF DAN PERLAWANAN KULTURAL DALAM KONFLIK AGRARIA WARGA WATES Penelitian ini mengkaji konflik agraria antara warga Wates, Kabupaten Majalengka, dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) yang tidak hanya menjadi persoalan kepemilikan tanah tetapi juga mencerminkan ketimpangan struktural dan dinamika psikologis dalam perlawanan kolektif. Warga Wates memilih jalur kultural dalam mengekspresikan klaim atas tanah leluhur, melalui festival Gotong Rumah dan pendirian Museum Wakare. Penelitian ini bertujuan menganalisis emosi kolektif atas ketidakadilan yang dialami warga serta bagaimana pengalaman historis dan identitas budaya kolektif membentuk sikap dan strategi perlawanan kultural mereka. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan analisis wacana kritis, penelitian ini menjelaskan bagaimana identitas kolektif, memori kolektif, dan emosi kolektif menjadi fondasi dalam perlawanan kultural terhadap institusi negara. Teori yang digunakan pada penelitian ini, yaitu Teori Resistensi James Scott dan Teori Emosi Kolektif Jasper. Teori ini digunakan untuk menganalisis bagaimana emosi yang terakumulasi membentuk perlawanan kultural dan perlawanan tersembunyi yang dimaknai oleh warga untuk menghadapi konflik agraria dengan TNI AU. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emosi, seperti kemarahan, ketakutan, dan kebanggaan, memori kolektif warga yang diturunkan secara lintas generasi, dan identitas kolektif warga Wates dapat mendorong terbentuknya perlawanan kultural yang bisa memperluas pengakuan terhadap klaim mereka secara internasional. This study examines the agrarian conflict between the residents of Wates, Majalengka Regency, and the Indonesian Air Force (TNI AU), which is not only a matter of land ownership but also reflects structural inequality and psychological dynamics in collective resistance. The residents of Wates chose a cultural path to express their claims to their ancestral land, through the Gotong Rumah festival and the establishment of the Wakare Museum. This study aims to analyze the collective emotions over the injustices experienced by residents and how historical experiences and collective cultural identity shape their attitudes and strategies for cultural resistance. Using qualitative research methods and a critical discourse analysis approach, this study explains how collective identity, collective memory, and collective emotions become the foundation for cultural resistance against state institutions. The theories used in this study are James Scott's Theory of Resistance and Jasper's Theory of Collective Emotions. These theories are used to analyze how accumulated emotions shape cultural resistance and hidden resistance that residents use to deal with agrarian conflicts with the Indonesian Air Force. The results of the study show that emotions, such as anger, fear, and pride, the collective memory of citizens passed down across generations, and the collective identity of Wates citizens can encourage the formation of cultural resistance that can broaden international recognition of their claims.
4724050635J0A022044CREATING PROMOTIONAL VIDEOS OF PT. PALAWI RISORSIS BATURRADEN FOR INSTAGRAM Penulis telah membuat video promosi untuk PT. Palawi Risorsis Baturraden melalui Instagram. Tujuan utama pembuatan video promosi ini adalah untuk memberikan informasi tentang atraksi di PT. Palawi Risorsis Baturraden dalam bahasa Inggris dengan subtitle bahasa Indonesia, baik untuk pengunjung lokal maupun wisatawan asing. Di era digital ini, pembuatan konten promosi pariwisata yang tidak hanya informatif tetapi juga menarik bagi audiens sangatlah penting. Video-video tersebut dibuat untuk meningkatkan konten berbahasa Inggris dan membantu pengunjung memahami atraksi wisata yang tersedia. Oleh karena itu, video-video ini berfungsi sebagai jembatan antara PT. Palawi Risorsis dan calon pengunjung, mendorong mereka untuk mengunjungi atraksi-atraksi tersebut.
Proses produksi video dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dan praktik langsung. Penulis mempelajari praktik pembuatan video dengan mengamati proses pengambilan gambar, pengeditan video, dan video yang sudah dipublikasikan di akun Instagram PT. Palawi Risorsis. Untuk metode wawancara, penulis memperoleh data dengan mewawancarai pelanggan dan staf mengenai kurangnya penggunaan produk berbahasa Inggris yang menjelaskan tentang daya tarik perusahaan. Kemudian, praktik langsung meliputi proses pembuatan video promosi, termasuk pengambilan video dan pengeditan untuk memastikan semuanya sesuai dengan storyboard dan skrip. Berdasarkan data yang dikumpulkan, penulis membuat video promosi yang menjelaskan daya tarik dan aktivitas di PT. Palawi Risorsis menggunakan narasi suara dalam bahasa Inggris dengan subtitle bahasa Indonesia.
Penulis menghadapi dua hambatan selama proses pembuatan video promosi, dimana ide awal penulis adalah membuat video sketsa komedi di beberapa lokasi, dimana video-video tersebut saling terkait dan terhubung. Namun, hal ini terhambat oleh manajemen akun dan keterbatasan waktu saat mengambil footage di area di luar Baturraden. Penulis mengatasi hambatan-hambatan tersebut dengan mengumpulkan masukan dari mentor dan pembimbing akademik untuk mengubah ide video sketsa komedi menjadi video promosi. Penulis juga melakukan wawancara sebelum pergi ke lokasi yang ditentukan. Wawancara tersebut melibatkan menanyakan kepada staf di Baturraden tentang pengalaman mereka dengan area tersebut, serta menghubungi manajer atau staf masing-masing lokasi secara langsung.
The writer has created promotional videos for PT. Palawi Risorsis Baturraden through Instagram. The main purpose of creating promotional videos is to provide information about the attractions at PT. Palawi Risorsis Baturraden in English with Indonesian subtitle for both local visitor and foreigners. In this digital era, creating promotional tourism content that is not only informative but also appealing to audiences is crucial. The videos were created to increase English language content and assist in providing understanding about the available tourist attractions for visitors. Therefore, these videos serve as a medium between PT. Palawi Risorsis and potential visitors, encouraging them to visit the attractions.
The video production process was carried out using observation, interview, and direct practice methods. The writer learned video content creation practices by observing the footage capturing process, video editing, and videos already published on PT. Palawi Risorsis Instagram account. For the interview method, the writer gained data by interviewing customers and staffs about the lack of use of English language product that explain about the company's attractions. Then the direct practice consisted of the process of creating promotional videos, including filming the footage of the videos and editing to make sure everything is aligned with the storyboard and script. Based on the collected data, the writer created promotional videos that explained the attractions and activities in PT. Palawi Risorsis using English voiceover with Indonesian subtitle.
The writer faced two obstacles during the creation of the promotional videos where writer’s initial idea was to make a comedy skit video in several places, where the videos are related and connected but it was hindered by account management and the limited amount of time when taking footage in areas outside of Baturraden. The writer overcame these obstacles by gathering feedbacks from mentors and academic supervisors to transform the idea of a comedy skit video into a promotional video and the writer did interviews before going to the designated areas. The interviews involved asking the staffs in Baturraden what their experience was with the area, and also contacted the manager or staff of each site directly.