Artikelilmiahs
Menampilkan 45.841-45.860 dari 48.748 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 45841 | 49215 | J1C021032 | Dekonstruksi Tokoh Super Sentai dalam Anime Sentai Daishikaku | Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kontradiksi dalam representasi tokoh superhero dalam anime Sentai Daishikkaku. Kontradiksi ini muncul karena perbedaan antara pengertian superhero menurut Peter Coogan yang menyatakan bahwa superhero adalah tokoh pro-sosial yang menjunjung nilai keadilan dan norma sosial terhadap tokoh super sentai dalam anime tersebut yang justru menunjukkan sifat dan tindakan yang menyimpang dari nilai-nilai tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk dekonstruksi terhadap tokoh Super Sentai dalam anime Sentai Daishikkaku. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan teori dekonstruksi Jacques Derrida, khususnya melalui konsep logosentrisme dan oposisi biner. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi terhadap narasi, percakapan tokoh, dan adegan visual dalam anime. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua kategori utama dekonstruksi, yaitu dekonstruksi terhadap sifat dan tindakan Super Sentai. Dari segi sifat, tokoh supersentai digambarkan sebagai tokoh yang manipulatif, acuh, dan lebih mengutamakan citra diri. Dari segi tindakan, mereka justru melakukan kebohongan publik, kekerasan, dan dominasi yang bertentangan dengan nilai-nilai kepahlawanan yang umum. Dengan demikian, anime Sentai Daishikkaku berhasil membongkar konstruksi baku tokoh superhero melalui pendekatan dekonstruksi. | This study is motivated by the contradiction in the representation of superhero characters in the anime Sentai Daishikkaku. This contradiction arises from the discrepancy between Peter Coogan’s definition of a superhero—defined as a pro-social figure who upholds justice and social norms—and the depiction of the Super Sentai characters in the anime, who display traits and actions that deviate from those values. The objective of this study is to describe the forms of deconstruction applied to the Super Sentai characters in Sentai Daishikkaku. This research employs a qualitative descriptive method with Jacques Derrida’s deconstruction theory as the analytical approach, focusing specifically on the concepts of logocentrism and binary opposition. Data were collected through observation of narrative elements, character dialogues, and visual scenes in the anime. The results reveal two primary categories of deconstruction: the deconstruction of character traits and the deconstruction of actions. In terms of traits, the Super Sentai characters are portrayed as manipulative, indifferent, and image-driven. In terms of actions, they are shown engaging in public deception, violence, and dominance that contradict conventional heroic values. Thus, Sentai Daishikkaku succeeds in deconstructing the conventional image of the superhero through a critical deconstructive lens. | |
| 45842 | 49207 | C1C021075 | PENGARUH AUDIT EFFORT, PROFITABILITAS, DAN KOMPLEKSITAS OPERASIONAL PERUSAHAAN TERHADAP AUDIT DELAY (Studi Empiris pada Perusahaan Sektor Property dan Real Estate yang Terdaftar pada Bursa Efek Indonesia Periode 2021-2024) | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh audit effort, profitabilitas, dan kompleksitas operasional perusahaan terhadap audit delay pada perusahaan sektor property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2021–2024. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan keuangan tahunan dan laporan auditor. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling, dengan total perolehan sampel yang lolos kriteria sebanyak 67 perusahaan dengan 253 data penelitian. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi data panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa audit effort tidak berpengaruh positif terhadap audit delay, profitabilitas berpengaruh negatif signifikan terhadap audit delay, dan kompleksitas operasional perusahaan tidak berpengaruh posiitif terhadap audit delay. | This study aims to analyze the effect of audit effort, profitability, and complexity of company operations on audit delay in property and real estate sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange for the period 2021-2024. The type of data used is secondary data in the form of annual financial reports and auditor reports. Sampling was carried out using purposive sampling technique, with a total sample acquisition that passed the criteria of 67 companies with 253 research data. The data analysis technique used is panel data regression analysis. The results showed that audit effort has no positive effect on audit delay, profitability has a significant negative effect on audit delay, and the complexity of company operations has no positive effect on audit delay. | |
| 45843 | 49208 | L1B021045 | Komunitas Bakteri Proteolitik Saluran Pencernaan Nilem (Osteochilus Sp.) Yang Diberi Pakan Dengan Subsitusi Tepung Daun Ubi Jalar Terfermentasi | Pakan dengan subsitusi tepung daun ubi jalar terfermentasi mempengaruhi komunitas bakteri proteolitik di saluran pencernaan ikan nilem (Osteochilus sp.). Penelitian ini bertujuan mengetahui kelimpahan, proporsi, dan indeks aktivitas bakteri proteolitik pada ikan nilem (Osteochilus sp.). Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan 4 perlakuan (kontrol, substitusi 25%, 50%, dan 75%) dan 3 ulangan. Sampel diambil pada hari ke-25, 35, dan 45 menggunakan seluruh bagian usus ikan, lalu dikultur di media skim milk agar untuk menghitung proporsi dan indeks aktivitas bakteri proteolitik. Hasil menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada kelimpahan dan proporsi bakteri proteolitik (P>0,05), namun terdapat perbedaan signifikan pada indeks aktivitas bakteri proteolitik (P<0,05). Substitusi tepung daun ubi jalar terfermentasi cenderung menurunkan kelimpahan, namun meningkatkan proporsi dan indeks aktivitas bakteri proteolitik dibandingkan perlakuan lain. Nilai kelimpahan bakteri proteolitik berkisar antara 131,25 × 105 - 2821,38 × 105 CFU/g, proporsi bakteri proteolitik berkisar antara 69,33% - 100%, dan nilai indeks aktivitas bakteri proteolitik berkisar antara 0,05 - 0,82. Pakan dengan subsitusi tepung daun ubi jalar terfermentasi cenderung menyebabkan penurunan kelimpahan bakteri proteolitik namun menunjukkan peningkatan pada proporsi dan indeks aktivitas bakteri proteolitik jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya. | The proteolytic bacterial community in the digestive tract of Nilem fish (Osteochilus sp.) can be influenced by incorporating fermented sweet potato leaf flour into their feed. This study evaluates the abundance, proportion, dan activity index of these bacteria. This study used an experimental method with 4 treatments: a control dan three levels of substitution (25%, 50%, dan 75%), each replicated three times. Fish intestines were sampled on days 25, 35, dan 45, dan cultured on skim milk agar to calculate the proportion dan activity index of proteolytic bacteria. Results indicated no significant differences in the abundance dan proportion of proteolytic bacteria (P > 0.05), but a significant difference was noted in the activity index (P < 0.05). The use of fermented sweet potato leaf flour tended to decrease bacterial abundance while increasing its proportion dan activity index. The abundance of proteolytic bacteria ranged from 131.25 × 10^5 to 2821.38 × 105 CFU/g, the proportion from 69.33% to 100%, dan activity index values from 0.05 to 0.82. In summary, substituting fermented sweet potato leaf flour in feed was associated with a decrease in abundance but an increase in the proportion dan activity index of proteolytic bacteria. | |
| 45844 | 49209 | A1C021013 | PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KANDANG SAPI TERHADAP TINGKAT PEMADATAN TANAH PADA KEDALAMAN 0 –50 CM (6 BULAN SETELAH PERLINTASAN TRAKTOR RODA 4) | Perlintasan traktor dapat memadatkan tanah, menghambat pertumbuhan akar, serta mengganggu pergerakan air dan udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk kandang sapi terhadap pemadatan tanah akibat perlintasan traktor roda 4 hingga kedalaman 0–50 cm setelah 6 bulan, serta menganalisis hubungan antar sifat fisik tanah. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 dosis pupuk (0, 15, 20, 25 ton/ha) dan 5 kedalaman tanah (0 – 10, 10 – 20, 20 – 30, 30 – 40, dan 40 – 50 cm). Hasil menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang sapi, terutama dosis 25 ton/ha, menurunkan dry bulk density dan meningkatkan porositas, kadar air, serta konduktivitas hidrolik jenuh. Semakin dalam tanah, pemadatan semakin berkurang. Analisis statistik menunjukkan hubungan linier antar variabel fisik tanah, dan hanya konduktivitas hidrolik jenuh yang berbeda nyata antara 6 bulan dan 0 bulan. | Tractor traffic can compact the soil, inhibit root growth, and disrupt the movement of water and air within the soil. This study aimed to determine the effect of cattle manure application rates on soil compaction caused by four-wheel tractor traffic up to a depth of 0 – 50 cm after six months, as well as to analyze the relationships among soil physical properties. The research employed a Completely Randomized Design with four manure application rates (0, 15, 20, and 25 tons/ha) and five soil depths (0 – 10, 10 – 20, 20 – 30, 30 – 40, and 40 – 50 cm). The results showed that cattle manure application, particularly at a dose of 25 tons/ha, reduced dry bulk density and increased porosity, moisture content, and saturated hydraulic conductivity. Greater soil depths resulted in reduced compaction. Statistical analysis revealed linear relationships among soil physical properties, with only saturated hydraulic conductivity showing significant differences between six months and zero months. | |
| 45845 | 49210 | A1F021045 | Analisis Kelayakan Usaha Minuman Probiotik Kecombrang dengan Penambahan Bakteri Asam Laktat | Minuman probiotik merupakan salah satu produk minuman yang mengalami fermentasi dengan bantuan bakteri asam laktat seperti bakteri Lactobacillus casei yang dapat bermanfaat bagi kesehatan pencernaan. Salah satu inovasi baru dalam pembuatan minuman probiotik yaitu dengan penambahan seduhan kecombrang karena potensinya sebagai antimikroba dan antioksidan. Minuman probiotik kecombrang merupakan produk baru yang belum dikomersialkan sehingga penting untuk dilakukan analisis kelayakan usahanya. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui kelayakan usaha minuman probiotik kecombrang. Pada penelitian ini menggunakan analisis lima aspek pada kelayakan usaha. Pertama, aspek pasar akan menganalisis terkait peluang pasar, analisis pesaing, serta strategi pemasaran produk. Kedua, aspek teknis akan menganalisis terkait ketersediaan bahan baku, pemilihan jenis teknologi yang akan digunakan, penentuan kapasitas produksi, alur proses produksi, dan penentuan tata letak (layout). Ketiga, aspek manajemen operasional akan menganalis terkait struktur organisasi, rancangan jabatan, dan manajemen penggajian di industri. Keempat, aspek yuridis dan pengelolaan limbah akan menganalisis terkait perizinan pendirian usaha, serta pengelolaan limbah industri. Kelima, aspek finansial meliputi perhitungan nilai Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (B/C Ratio), Payback Period (PBP), Break Even Point (BEP), dan analisis sensitivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha minuman probiotik kecombrang layak untuk dijalankan. Dari aspek pasar dinyatakan layak dengan produk yang berkualitas, harga jual produk yang terjangkau, serta proyeksi permintaan produk dimasa mendatang yang menunjukkan hasil peramalan impor yang menurun dan ekspor yang meningkat sehingga menandakan peluang yang baik untuk usaha. Aspek teknis dinyatakan layak dengan proses produksi menggunakan teknologi yang modern, proses produksi mudah, serta kebutuhan bahan baku yang mudah didapat atau dekat dengan tempat produksi. Aspek manajemen operasional dinyatakan layak dengan dibentuknya struktur organisasi dan jabatan-jabatan yang diperlukan di industri, serta manajemen penggajian yang sesuai. Aspek yuridis dan pengelolaan limbah dinyatakan layak dengan prosedur beberapa sertifikasi dan syarat-syarat dalam pendirian usaha serta pengelolaan limbah indsutri yang tepat. Aspek finansial dinyatakan layak dengan nilai NPV Rp185.124.869,00; IRR 16,47%; Net B/C 1,53; PBP 2,42 tahun; serta BEP Rp171.071.730,00 atau 19.008 unit minuman probiotik kecombrang. Analisis sensitivitas pada semua kondisi usaha minuman probiotik kecombrang dinyatakan memiliki nilai investasi yang layak kecuali pada kondisi pendapatan turun 10%. | Probiotic drinks are one of the beverage products that undergo fermentation with the help of lactic acid bacteria such as Lactobacillus casei bacteria which can be beneficial for digestive health. One of the new innovations in making probiotic drinks is the addition of kecombrang brew because of its potential as an antimicrobial and antioxidant. Kecombrang probiotic drink is a new product that has not been commercialized so it is important to analyze its business feasibility. The purpose of this study was to determine the feasibility of probiotic beverage business. This research uses a five-aspect analysis of business feasibility. First, the market aspect will analyze market opportunities, competitor analysis, and product marketing strategies. Second, the technical aspect will analyze the availability of raw materials, selection of the type of technology to be used, determination of production capacity, production process flow, and determination of layout. Third, the operational management aspect will analyze the organizational structure, job design, and payroll management in the industry. Fourth, the juridical and waste management aspects will analyze the licensing of business establishment, as well as industrial waste management. Fifth, financial aspects include the calculation of Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (B/C Ratio), Payback Period (PBP), Break Even Point (BEP), and sensitivity analysis. The results showed that the probiotic kecombrang drink business is feasible to run. From the market aspect, it is declared feasible with quality products, affordable product selling prices, and projections of future product demand which show the results of forecasting declining imports and increasing exports, thus signaling a good opportunity for business. The technical aspect is declared feasible with the production process using modern technology, easy production processes, and the need for raw materials that are easily available or close to the production site. The operational management aspect is declared feasible with the establishment of an organizational structure and the necessary positions in the industry, as well as appropriate payroll management. The juridical and waste management aspects are feasible with several certification procedures and requirements in business establishment and proper industrial waste management. The financial aspect was declared feasible with an NPV value of Rp185.124.869,00; IRR of 16,47%; Net B/C of 1,53; PBP of 2,42 years; and BEP of Rp171,071,730.00 or 19,008 units of kecombrang probiotic drink. Sensitivity analysis on all conditions of the probiotic kecombrang drink business is stated to have a feasible investment value except in the condition of a 10% decrease in income. | |
| 45846 | 49211 | A1F021089 | Pengaruh Penambahan Buah Apel Fuji dan Lama Fermentasi terhadap Aktivitas Antioksidan, Kadar Vitamin C, dan Karakteristik Sensori pada Kombucha Cascara | Kombucha merupakan produk minuman hasil fermentasi larutan teh dan gula dengan menggunakan starter kultur mikroorganisme kombucha seperti Acetobacter spp. dan Saccharomyces cerevisiae. Kombucha adalah salah satu minuman fermentasi populer yang telah dikenal memiliki berbagai manfaat kesehatan, seperti meningkatkan imunitas dan pencernaan. Penelitian ini, cascara yang mengandung polifenol, kafein, dan antioksidan, merupakan limbah pengolahan kopi digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kombucha. Apel fuji dipilih sebagai bahan tambahan untuk variasi rasa kombucha cascara karena memiliki kandungan gula alami yang tinggi, serta kaya akan vitamin C dan antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dan menentukan kombinasi perlakuan terbaik dari penambahan buah apel fuji dan lama fermentasi terhadap aktivitas antioksidan, kadar vitamin C, dan karakteristik sensori pada kombucha cascara. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor yang diteliti berupa bentuk buah yang ditambahkan (B) (B1 = puree; B2 = buah potong), konsentrasi penambahan buah (K) (K1 = 10%; K2 = 20%), dan lama fermentasi (L) (L1 = 7 hari; L2 = 11 hari). Penelitian ini dilakukan pengamatan variabel kimia meliputi aktivitas antioksidan, kadar vitamin C, pH, dan total padatan terlarut. Pengamatan variabel sensori meliputi warna, kenampakan, aroma kombucha, aroma cascara, aroma apel, sensasi soda, rasa asam, rasa manis, dan overall acceptabillity. Masing-masing pengamatan dilakukan sebanyak tiga ulangan. Sampel perlakuan terbaik yang diuji menggunakan indeks efektivitas kemudian dibandingkan dengan kombucha kontrol pada analisis IC50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan buah apel dengan perlakuan buah potong menghasilkan aktivitas antioksidan dan vitamin C yang tinggi. Perlakuan konsentrasi apel 10% meningkatkan kadar vitamin C, sedangkan konsentrasi 20% meningkatkan aktivitas antioksidan. Fermentasi 11 hari menghasilkan antioksidan dan kadar vitamin C lebih tinggi. Kombinasi perlakuan terbaik dihasilkan oleh perlakuan puree, kosentrasi 10%, dan lama fermentasi 11 hari (B2K1L2), yang memiliki kadar vitamin C 32,56 mg/100g, aktivitas antioksidan 92,19%, IC50 25,24 ppm, memiliki warna coklat kekuningan (3,48), kenampakan jernih (4,03), aroma kombucha kuat (3,71), aroma cascara tidak kuat (2,39), aroma apel cukup kuat (2,68), sensasi soda cukup terasa (3,48), rasa cukup asam (3,10), rasa cukup manis (3,29), dan overall acceptabillity suka (3,55). Kombinasi perlakuan terbaik menghasilkan nilai IC50 yang sangat kuat. | Kombucha is a fermented beverage product made from a tea and sugar solution using starter cultures of microorganisms such as Acetobacter spp. and Saccharomyces cerevisiae. Kombucha is a popular fermented beverage known for its various health benefits, such as improving immunity and digestion. In this study, cascara, a coffee processing waste product containing polyphenols, caffeine, and antioxidants, was used as the base ingredient for kombucha. Fuji apples were chosen as an additional ingredient for the cascara kombucha flavor variations due to their high natural sugar content and rich vitamin C and antioxidant content. The purpose of this study was to determine the effect and determine the best combination of treatments—the addition of Fuji apples and fermentation time—on the antioxidant activity, vitamin C content, and sensory characteristics of cascara kombucha. The experimental design used was a Completely Randomized Design (CRD). The factors studied were the form of fruit added (B) (B1 = puree; B2 = apple slices), the concentration of added fruit (K) (K1 = 10%; K2 = 20%), and the fermentation time (L) (L1 = 7 days; L2 = 11 days). This study observed chemical variables including antioxidant activity, vitamin C content, pH, and total soluble solids. Sensory variables observed included color, appearance, kombucha aroma, cascara aroma, apple aroma, soda sensation, sour taste, sweet taste, and overall acceptability. Each observation was conducted three times. The best treatment sample was tested using an effectiveness index and then compared with the control kombucha in an IC50 analysis. The results showed that the addition of apple slices treatment resulted in high antioxidant activity and vitamin C. The 10% apple concentration treatment increased vitamin C levels, while the 20% concentration increased antioxidant activity. The 11-day fermentation resulted in higher antioxidant and vitamin C levels. The best treatment combination was produced by puree treatment, 10% concentration, and 11 days fermentation time (B2K1L2), which had a vitamin C content of 32.56 mg/100g, antioxidant activity of 92.19%, IC50 of 25.24 ppm, had a yellowish brown color (3.48), clear appearance (4.03), strong kombucha aroma (3.71), not strong cascara aroma (2.39), quite strong apple aroma (2.68), soda sensation was quite noticeable (3.48), taste was quite sour (3.10), taste was quite sweet (3.29), and overall acceptability was like (3.55). The best treatment combination produced a very strong IC50 value. | |
| 45847 | 49212 | F1C021045 | Peran Penulis Naskah Dalam Produksi Film Dokumenter “Napas Terakhir Dalang Jemblung” | Kesenian Jemblung merupakan salah satu bentuk seni tutur tradisional dari Banyumas yang mengandalkan kekuatan vokal. Namun seiring perkembangan zaman dan dominasi budaya populer, kesenian ini mengalami penurunan eksistensi serta kehilangan daya tariknya di kalangan generasi muda. Hal ini menjadi ancaman bagi keberlanjutan Jemblung sebagai warisan budaya lokal. Tujuan dari penciptaan film dokumenter "Napas Terakhir Dalang Jemblung" adalah untuk merekam, menyuarakan, dan memperkenalkan kembali kesenian Jemblung kepada publik, khususnya generasi muda. Dalam konteks ini, penulis naskah berperan dalam merancang struktur cerita, menyusun alur narasi, serta membentuk sudut pandang penceritaan agar bisa menyampaikan nilai-nilai dalam kesenian jemblung dalam format film dokumenter. Peran penulis naskah menjadi kunci dalam menyampaikan pesan film secara efektif dan menyentuh, sekaligus memastikan kesinambungan informasi yang ditampilkan dalam dokumenter. Film ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam upaya pelestarian budaya lokal melalui media visual yang informatif dan reflektif. Selain itu, film ini juga berfungsi sebagai bentuk dokumentasi kreatif serta sarana edukasi dan advokasi budaya yang relevan dengan perkembangan zaman. Penyebaran film melalui media digital diharapkan mampu memperluas jangkauan penonton dan menumbuhkan kembali apresiasi terhadap kesenian tradisional. | Jemblung is a form of traditional oral art from Banyumas that relies heavily on vocal performance. However, with the passage of time and the dominance of popular culture, this art form has experienced a decline in existence and lost its appeal among younger generations. This poses a threat to the continuity of Jemblung as a local cultural heritage. The documentary film "Napas Terakhir Dalang Jemblung" (The Last Breath of the Jemblung Puppeteer) aims to document, voice, and reintroduce the Jemblung tradition to the public, particularly to the younger generation. In this context, the scriptwriter plays a crucial role in designing the story structure, developing the narrative flow, and shaping the perspective of storytelling in order to convey the cultural values of Jemblung within the documentary film format. The role of the scriptwriter is essential in delivering the film’s message effectively and emotionally, while also ensuring the continuity and clarity of information throughout the documentary. This film is expected to contribute to the preservation of local culture through a visual medium that is both informative and reflective. Additionally, it serves as a form of creative documentation as well as an educational and cultural advocacy tool that aligns with the times. Through digital media distribution, the film aims to reach a wider audience and revive appreciation for traditional art forms. | |
| 45848 | 49213 | F1C021057 | PERAN EDITOR DALAM PRODUKSI FILM DOKUMENTER "NAPAS TERAKHIR DALANG JEMBLUNG" | Film dokumenter Napas Terakhir Dalang Jemblung diciptakan sebagai upaya untuk mendokumentasikan dan melestarikan kesenian tradisional Jemblung asal Banyumas yang kini semakin terancam punah akibat pergeseran budaya dan arus modernisasi. Tujuan dari penciptaan karya ini adalah untuk meningkatkan kesadaran publik, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya menjaga warisan budaya lokal melalui media visual yang bersifat informatif sekaligus menyentuh secara emosional. Karya ini menggunakan metode kualitatif dalam bentuk dokumenter ekspositori. Proses produksi melibatkan tahap praproduksi, pengambilan data langsung, wawancara dengan dalang Jemblung dari berbagai generasi, serta pendokumentasian pertunjukan Jemblung di wilayah Banyumas. Pencipta berperan sebagai editor dan terlibat aktif dalam keseluruhan proses produksi film. Film berdurasi 36 menit 6 detik ini menunjukkan bahwa kesenian Jemblung bukan sekadar hiburan, melainkan juga media penyampai nilai moral, narasi sejarah, dan identitas budaya lokal. Proses penyuntingan berperan penting dalam membangun narasi yang kohesif dan menggugah, sehingga mampu menumbuhkan empati serta apresiasi audiens terhadap kesenian tradisional yang mulai terpinggirkan. Karya dokumenter ini tidak hanya memberikan kontribusi terhadap upaya revitalisasi kesenian Jemblung, tetapi juga menjadi media advokasi budaya melalui penyebaran digital dan pemutaran berbasis komunitas. Secara akademis, penciptaan karya ini memberikan sumbangsih dalam bidang studi budaya visual dengan menekankan peran editor dalam pelestarian warisan budaya takbenda melalui pendekatan dokumenter kreatif. | The documentary film Napas Terakhir Dalang Jemblung (The Last Breath of the Jemblung Puppeteer) was created to document and preserve Jemblung, a traditional Banyumas performing art that is increasingly endangered due to cultural shifts and modernization. The purpose of this creative work is to raise public awareness, especially among younger audiences, about the urgency of protecting local cultural heritage through a visual medium that is both informative and emotionally engaging. This project employed a qualitative creative method within an expository documentary format. The production process involved pre-production planning, live documentation, interviews with senior and young Jemblung puppeteers (dalang), and performance recordings in Banyumas. The creator served as the editor and was actively involved throughout the filmmaking process. The final film, with a runtime of 36 minutes and 6 seconds, demonstrates that Jemblung is more than entertainment it serves as a vessel for transmitting moral values, historical narratives, and regional identity. The editing process was central in constructing a coherent and affective narrative that amplifies audience empathy and encourages cultural appreciation. This documentary not only contributes to the revitalization of Jemblung art but also functions as a cultural advocacy tool through digital dissemination and community based screenings. Academically, this work contributes to the field of visual cultural studies by showcasing the editor’s role in preserving intangible heritage through creative documentary storytelling. | |
| 45849 | 49214 | L1C021051 | Luasan Upwelling di Perairan Laut Banda Pada Fase El Nino-Southern Oscillation | Upwelling adalah proses naiknya massa air kaya nutrien ke permukaan yang luasannya di Laut Banda dipengaruhi oleh El Nino–Southern Oscillation (ENSO) dan arus lintas Indonesia (Arlindo). Penelitian ini bertujuan menganalisis luasan serta distribusi spasial dan temporal upwelling di Laut Banda pada tiga kondisi ENSO: El Nino 2015, Netral 2018, dan La Nina 2021, menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil menunjukkan upwelling terluas terjadi saat El Nino 2015, ditandai suhu permukaan <27 °C dan klorofil-a ≥1 mg/m³ akibat kuatnya angin muson timur lokal. Pada 2018 (Netral), upwelling lebih terbatas dan terkonsentrasi di timur Laut Banda seiring angin yang stabil. Sementara saat La Nina 2021, meskipun angin lebih kuat, akumulasi massa air hangat di barat Pasifik menyebabkan termoklin lebih dalam, sehingga upwelling menyempit, suhu permukaan meningkat, dan klorofil-a menurun. Variasi kedalaman termoklin tiap tahun memperkuat perbedaan spasial dan temporal upwelling: dangkal pada 2015, fluktuatif pada 2018, dan tetap dalam pada 2021. | Upwelling is the process of rising nutrient-rich water masses to the surface whose extent in the Banda Sea is influenced by the El Nino-Southern Oscillation (ENSO) and the Indonesian Throughflow (Arlindo). This study aims to analyze the extent and spatial and temporal distribution of upwelling in the Banda Sea under three ENSO conditions: El Nino 2015, Neutral 2018, and La Nina 2021, using descriptive analysis method. The results showed that the widest upwelling occurred during El Nino 2015, characterized by surface temperatures <27°C and chlorophyll-a ≥1 mg/m³ due to strong local east monsoon winds. In 2018 (Neutral), upwelling was more limited and concentrated in the eastern Banda Sea as winds stabilized. While during La Nina 2021, despite stronger winds, the accumulation of warm water masses in the western Pacific caused the thermocline to deepen, so that upwelling narrowed, surface temperatures increased, and chlorophyll-a decreased. Variations in thermocline depth each year reinforce the spatial and temporal differences in upwelling: shallow in 2015, fluctuating in 2018, and remaining deep in 2021. | |
| 45850 | 49217 | K1A021019 | Thermogravimetric Analysis Degradasi Polistirena dan Polietilena dalam Sistem Kolom Winogradsky | Sampah plastik semakin tidak terhindarkan dalam kehidupan manusia. Metode pengelolaan konvensional seperti pembakaran menyebabkan pencemaran udara dan masalah kesehatan. Penggunaan mikroorganisme untuk biodegradasi plastik sebagai solusi yang lebih ramah lingkungan, seperti biodegradasi dalam kolom Winogradsky. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kolom Winogradsky dalam mempercepat proses biodegradasi polistirena (styrofoam) dan polietilena (plastik putih), mengkarakterisasi fragmen hasil degradasi, serta mengamati pengaruh pH dan temperatur terhadap proses degradasi yang dianalisis melalui Termogravimetric Analysis (TGA). Kolom Winogradsky dimodifikasi dengan penambahan Bacillus sp. dan diinkubasi selama 35 hari. Parameter pH dan suhu diamati secara berkala, sementara penurunan massa diukur secara manual. Hasil menunjukkan bahwa polietilena mengalami penurunan massa yang lebih signifikan dibandingkan polistirena, menunjukkan tingkat degradasi yang lebih tinggi. Analisis TGA dan FTIR memperlihatkan adanya perubahan struktur kimia pada kedua material, di mana degradasi polietilena menunjukkan peningkatan suhu onset dan peak yang lebih tinggi setelah inkubasi, mengindikasikan terjadinya modifikasi struktur akibat aktivitas mikroba. | Plastic waste is increasingly unavoidable in human life. Management methods such as conventional burning cause air pollution and health problems. The use of microorganisms for plastic biodegradation as a more environmentally friendly solution, such as biodegradation in the Winogradsky column. This study aims to evaluate the effectiveness of the Winogradsky column system in accelerating the biodegradation process of polystyrene (styrofoam) and polyethylene (white plastic), characterize the degradation fragments, and observe the influence of pH and temperature on the degradation process measured by Thermogravimetric Analysis (TGA). The Winogradsky column was modified with the addition of Bacillus sp. and incubated for 35 days. pH and temperature parameters were monitored periodisasi, while mass reduction was measured manually. Results showed that polyethylene experienced a more significant weight loss compared to polystyrene, indicating a higher degradation rate. TGA and FTIR analyses revealed structural changes in both materials, with polyethylene degradation showing increased onset and peak temperatures after incubation, indicating microbial-induced structural modifications. | |
| 45851 | 49218 | L1C021012 | Profil Genomik dan Metabolomik Bakteri Galbibacter pasificus PAP.153 yang Bersimbiosis dengan Spons dari Perairan Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Papua Barat | Galbibacter pasificus PAP.153 merupakan bakteri simbion spons laut yang memiliki potensi dalam menghasilkan senyawa metabolit sekunder. Metabolit sekunder berperan penting dalam pengembangan ilmu bioteknologi, terutama dalam penemuan senyawa bioaktif baru. Dalam penemuan ini memerlukan adanya bantuan analisis genomik dan metabolomik guna mengidentifikasi Biosynthesis Gene Clusters (BGCs) yang berperan dalam sintesis senyawa metabolit sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil genomik dan metabolomik G. pasificus PAP.153 sebagai upaya eksplorasi senyawa bioaktif baru. Analisis genomik dilakukan menggunakan website antiSMASH 7.1.0 dan analisis metabolomik dilakukan dengan menganalisa supernatant,hasil ekstraksi aseton 5% dan metanol metabolit sekunder G. pasificus PAP.153 yang dikultur pada media LB dan NB. Analisis metabolomik dilakukan menggunakan metode LC-HRMS dan pendekatan molecular networking GNPS dan Cytoscape. Hasil analisis genomik menunjukkan adanya 4 klaster BGCs yang terdiri atas terpene, arylpolyene, dan resorcinol. Salah satu klaster menunjukkan kemiripan 75% dengan klaster flexirubin. Analisis metabolomik mendeteksi adanya 256 node dan 4 senyawa bioaktif terdereplikasi yaitu 1,2-dipalmitoyl-sn-glycero-3-phosphoethanolamine, PE-DAG 15:0 16:1, laxaphycin D, dan sarmentoside B. Supernatant menunjukkan node terbanyak dibandingkan ekstrak aseton 5% dan metanol yang mengindikasikan bahwa banyak senyawa bioaktif terdapat pada bagian ekstraselular. Flexirubin sebagai senyawa target dalam penelitian ini tidak teridentifikasi dalam hasil analisis metabolomik diduga karena kurangnya waktu inkubasi. Penelitian ini memperkuat potensi G. pasificus PAP.153 sebagai kandidat sumber senyawa bioaktif baru dari lingkungan laut dan penting untuk diteliti lebih lanjut. | Galbibacter pasificus PAP.153 is a symbiotic bacterium of marine sponges that has the potential to produce secondary metabolite compounds. Secondary metabolites have potential applications in biotechnology, especially in discovering new bioactive compounds. This discovery requires genomic and metabolomic analyses to identify Biosynthesis Gene Clusters (BGCs) involved in the biosynthesis of secondary metabolite compounds. This study aims to analyze the genomic and metabolomic profiles of G. pasificus PAP.153 as part of an effort to explore novel bioactive compounds. Genomic analysis was conducted using the antiSMASH 7.1.0 web platform, while metabolomic analysis was performed by examining the supernatant and extracts obtained with 5% acetone and methanol from G. pasificus PAP.153 which cultured in LB and NB media. Metabolite profiling was carried out using LC-HRMS combined with a molecular networking approach via GNPS and Cytoscape. Genomic analysis revealed four biosynthetic gene clusters (BGCs), including terpene, arylpolyene, and resorcinol clusters. One of the clusters showed 75% similarity to the flexirubin biosynthetic cluster. Metabolomic analysis identified 256 molecular nodes, with four dereplicated compounds: 1,2-dipalmitoyl-sn-glycero-3-phosphoethanolamine, PE-DAG 15:0 16:1, laxaphycin D, and sarmentoside B. The supernatant yield was the highest number of nodes compared to the 5% acetone and methanol extracts, indicated a large number of polar bioactive compounds was retained in the aqueous medium. Flexirubin, the target compound in this study, was not detected in the metabolomic data, possibly due to insufficient incubation time. Further research is needed to identify the unknown compounds and to extend the incubation period. This study confirmed that G. pasificus PAP.153 is a marine derived source of novel compounds and showed that further research is needed. | |
| 45852 | 49219 | A1A021040 | Strategi Pengembangan Agrowisata Artansi Chandra Kahuripan di Desa Karangpucung, Kecamatan Kertanegara, Kabupaten Purbalingga | Agrowisata Artansi Chandra Kahuripan yang terletak di Desa Karangpucung, Kecamatan Kertanegara, Kabupaten Purbalingga dikelola dengan sistem pertanian terintegrasi yang memadukan kegiatan pertanian, peternakan, dan perikanan. Potensi pengembangan Agrowisata Artansi Chandra Kahuripan cukup besar, tetapi masih memiliki beberapa kendala dalam lingkungan internal dan eksternal agrowisata. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kondisi internal dan eksternal yang mempengaruhi perkembangan agrowisata, merumuskan alternatif strategi untuk pengembangan agrowisata, menentukan prioritas strategi pengembangan yang dapat diterapkan oleh agrowisata. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah studi kasus. Penelitian dilaksanakan di Agrowisata Artansi Chandra Kahuripan dengan rentang waktu penelitian dari Bulan April 2025 sampai dengan Bulan September 2024. Metode pengambilan sampel menggunakan sensus (anggota manajemen, kelompok sadar wisata) dan accidental sampling (pengunjung). Analisis data yang digunakan terdiri dari analisis deskriptif, analisis Matriks IFE (Internal Factor Evaluation) dan EFE (External Factor Evaluation) , analisis Matriks IE (Internal-External), analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat), serta analisis QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil analisis Matriks IFE dan EFE sebesar 3,119 dan 3,028. Hasil tersebut menunjukkan bahwa posisi Agrowisata Artansi Chandra Kahuripan di Matriks IE berada di sel I, sehingga strategi yang disarankan untuk pengembangan agrowisata adalah tumbuh dan berkembang. Jumlah alternatif strategi pengembangan berdasarkan analisis SWOT yaitu berjumlah tujuh strategi. Alternatif strategi pengembangan terbaik dari hasil analisis QSPM adalah mengembangkan agrowisata dengan fasilitas sesuai dengan standar usaha wisata agro dengan nilai Total Daya Tarik (TAS) sebesar 7,484. | Agrotourism Artansi Chandra Kahuripan, located in Karangpucung Village, Kertanegara District, Purbalingga Regency, was managed using an integrated farming system that combined agricultural, livestock, and fishery activities. The development potential of Agrotourism Artansi Chandra Kahuripan was considerable; however, it still faced several challenges within its internal and external environments. The objectives of this research were to identify internal and external conditions that influenced the development of the agrotourism site, to formulate alternative development strategies, and to determine the priority strategies that could be implemented. The research method used in this study was a case study. The research was conducted at Agrotourism Artansi Chandra Kahuripan from September 2024 to April 2025. The sampling methods included a census (for management members and the tourism awareness group) and accidental sampling (for visitors). The data analysis methods used were descriptive analysis, the IFE (Internal Factor Evaluation) and EFE (External Factor Evaluation) matrices, the IE (Internal-External) matrix, SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) analysis, and QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) analysis. The results of the study showed that the IFE and EFE matrix scores were 3.119 and 3.028, respectively. These results indicated that the position of Agrotourism Artansi Chandra Kahuripan in the IE matrix was in cell I, suggesting that the recommended strategy for agrotourism development was to grow and expand. Based on the SWOT analysis, there were seven alternative development strategies. The best alternative strategy based on the QSPM analysis was to develop the agrotourism site with facilities in accordance with agro-tourism business standards, with a Total Attractiveness Score (TAS) of 7.484. | |
| 45853 | 49220 | L1B021074 | Indeks Hepatosomatik dan Viscerosomatik pada Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) yang dibudidayakan pada Sistem Budikdamber dengan Padat Tebar Berbeda | Lele dumbo (Clarias gariepinus) merupakan salah salah satu komoditas budidaya yang digemari oleh masyarakat Indonesia karena pertumbuhannya yang cepat, toleransi terhadap kadar oksigen rendah, dan dapat dibudidayakan dalam berbagai jenis wadah seperti ember. Dalam sistem Budikdamber (Budidaya Ikan dalam Ember), padat tebar menjadi faktor penting yang memengaruhi kondisi fisiologis ikan yang tercermin melalui indeks hepatosomatik (IHS) dan viscerosomatik (IVS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh padat tebar yang berbeda pada Indeks Hepatosomatik dan Indeks Viscerosomatik Lele Dumbo yang dibudidayakan pada sistem budikdamber Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan, yaitu ikan dengan padat tebar 30 ekor/70L, 40 ekor/70L, dan 50 ekor/70L dan tiga ulangan. Variabel yang diamati yaitu indeks hepatosomatik dan indeks viscerosomatik dengan parameter pendukung berupa kualitas air. Hasil indeks hepatosomatik berkisar antara 1,79%-4,13%, dan indeks viscerosomatik berkisar antara 5,90%-14,47%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa padat tebar berbeda secara signifikan mempengaruhi IHS lele dumbo (p<0,05), dimana nilai IHS pada P3 (50 ekor/70L) secara signifikan lebih rendah dibandingkan pada P1 (30 ekor/70L) tetapi tidak berbeda nyata pada P2 (40 ekor/70L). Sementara itu, nilai IVS tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antar ketiga perlakuan (p>0,05). Selama masa pemeliharaan, kualitas air berada dalam kisaran optimal untuk pertumbuhan ikan Lele Dumbo. | Dumbo catfish (Clarias gariepinus) is one of the most favored aquaculture commodities in Indonesia due to its rapid growth, tolerance to low dissolved oxygen levels, and ability to be cultured in various types of containers such as buckets. In the Budikdamber system (aquaculture in buckets), stocking density is a key factor affecting the physiological condition of fish, which is reflected through the hepatosomatic index (HSI) and viscerosomatic index (VSI). This study aimed to determine the effect of different stocking densities on the HSI and VSI of dumbo catfish cultured in the Budikdamber system. This study aimed to determine the effect of different stocking densities on the Hepatosomatic Index (HSI) and Viscerosomatic Index (VSI) of Dumbo catfish (Clarias gariepinus) cultivated in the Budikdamber system. The research design used was a Completely Randomized Design (CRD) with three treatments, namely stocking densities of 30 fish/70L, 40 fish/70L, and 50 fish/70L, each with three replications. The observed variables were the hepatosomatic index and viscerosomatic index, supported by water quality parameters. The results showed that the hepatosomatic index ranged from 1.79% to 4.13%, while the viscerosomatic index ranged from 5.90% to 14.47%. The statistical analysis showed that different stocking densities significantly affected the hepatosomatic index (HSI) of Dumbo catfish (p<0.05), with the HSI value in treatment P3 (50 fish/70L) being significantly lower than that in P1 (30 fish/70L), but not significantly different from P2 (40 fish/70L). In contrast, VSI values did not differ significantly among the three treatments (p>0,05). During the rearing period, water quality parameters remained within the optimal range for the growth and survival of Dumbo Catfish. | |
| 45854 | 49221 | A1A021030 | Strategi Pengembangan Usaha Pengolahan Carica Di UD Podangmas Kabupaten Wonosobo | Carica (Carica pubescens) merupakan buah khas Dataran Tinggi Dieng dengan nilai ekonomi tinggi setelah diolah karena karakteristiknya yang tidak dapat dikonsumsi secara langsung. UD Podangmas menjadi pelopor usaha pengolahan carica yang telah berdiri sejak tahun 1981 dan mampu bertahan hingga saat ini, meskipun menghadapi fluktuasi produksi akibat perubahan iklim, ketersediaan bahan baku, dan persaingan pasar. UD Podangmas juga menghadapi berbagai permasalahan internal maupun eksternal, sementara itu UD Podangmas juga memiliki potensi besar untuk berkembang. Oleh karena itu, diperlukan adanya strategi pengembangan usaha yang tepat dengan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi dan menganalisis kondisi lingkungan internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap perkembangan usaha pengolahan carica di UD Podangmas Kabupaten Wonosobo; (2) merumuskan alternatif-alternatif strategi pengembangan usaha yang dapat diupayakan oleh UD Podangmas sesuai dengan kondisi lingkungan usahanya; (3) merekomendasikan prioritas strategi pengembangan usaha yang dapat diimplementasikan untuk keberlanjutan dan pengembangan usaha pengolahan carica di UD Podangmas Kabupaten Wonosobo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi kasus. Informan dalam penelitian ini terbagi menjadi tiga yakni informan kunci, informan utama, dan informan pendukung. Penentuan informan dilakukan secara sengaja (purposive) dengan kriteria informan yang dipilih mengetahui kondisi lingkungan UD Podangmas, mempunyai wewenang dan kemampuan dalam mengambil keputusan, berperan dalam perumusan strategi pengembangan usaha, serta memahami informasi yang diperlukan dalam penelitian. Metode analisis yang digunakan adalah matriks IFE (Internal Factor Evaluation), matriks EFE (External Factor Evaluation), matriks IE (Internal-External), matriks SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) dan matriks QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). Penelitian ini menunjukkan faktor utama lingkungan internal dan eksternal UD Podangmas yakni cita rasa khas produk yang sesuai selera konsumen (kekuatan), aktivitas produksi bergantung pada ketersediaan buah carica (kelemahan), perluasan pasar melalui business to business (B2B) dengan hotel, restoran, kafe, dan toko oleh-oleh (peluang), dan strategi pemasaran usaha pengolahan carica lain yang lebih optimal (ancaman). Hasil matriks IFE diperoleh total skor 3,21, sedangkan total skor matriks EFE sebesar 3,12 menunjukkan posisi internal dan eksternal UD Podangmas kuat. Pada matriks IE diketahui posisi UD Podangmas berada di sel I sehingga dapat menerapkan strategi grow and build atau tumbuh dan membangun. Rumusan alternatif strategi diperoleh dari matriks SWOT yang menghasilkan delapan strategi. Prioritas strategi ditunjukkan pada hasil matriks QSPM yakni mengoptimalkan produksi saat ketersediaan buah carica melimpah. | Carica (Carica pubescens) is a typical fruit of the Dieng Plateau with high economic value after processing due to its characteristics that cannot be consumed directly. UD Podangmas is a pioneer of the carica processing business that has been established since 1981 and has been able to survive until now, despite facing production fluctuations due to climate change, raw material availability, and market competition. UD Podangmas also faces various internal and external problems, while UD Podangmas also has great potential to grow. Therefore, an appropriate business development strategy is needed by identifying internal and external factors that aim to increase competitiveness and business sustainability. The objectives of this research are (1) identify and analyze the internal and external environmental conditions that affect the development of carica processing business at UD Podangmas Wonosobo Regency; (2) formulate alternative business development strategies that can be pursued by UD Podangmas in accordance with the conditions of its business environment; (3) recommend priority business development strategies that can be implemented for the sustainability and development of carica processing business at UD Podangmas Wonosobo Regency. This research uses a case study research method. The informants in this research are divided into three namely key informants, main informants, and supporting informants. The determination of informants is done purposively with the criteria that the selected informants know the environmental conditions of UD Podangmas, have the authority and ability to make decisions, play a role in the formulation of business development strategies, and understand the information needed in the research. The analysis methods used are IFE (Internal Factor Evaluation) matrix, EFE (External Factor Evaluation) matrix, IE (Internal-External) matrix, SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) matrix and QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) matrix. This research shows the main factors of UD Podangmas internal and external environment, namely the distinctive taste of the product that suits consumer tastes (strengths), production activities depend on the availability of carica fruit (weaknesses), market expansion through business to business (B2B) with hotels, restaurants, cafes, and souvenir shops (opportunities), and marketing strategies for other carica processing businesses that are more optimal (threats). The results of the IFE matrix obtained a total score of 3.21, while the total score of the EFE matrix of 3.12 shows that UD Podangmas internal and external positions are strong. In the IE matrix, it is known that UD Podangmas position is in sel I so that it can implement a grow and build strategy. The formulation of alternative strategies obtained from the SWOT matrix resulted in eight strategies. The priority strategy shown in the QSPM matrix results is optimizing production when the availability of carica fruit is abundant. | |
| 45855 | 49222 | A1C021068 | PENGARUH PUPUK ORGANIK, KIMIA, DAN CAMPURAN TERHADAP TINGKAT PEMADATAN TANAH AKIBAT PERLINTASAN TRAKTOR RODA 4 PADA KEDALAMAN 0 – 50 CM (CASE 6 BULAN SETELAH PERLINTASAN TRAKTOR) | ABSTRAK Penggunaan traktor roda 4 dapat mempermudah dan mempercepat proses pengolahan tanah. Namun, penggunaan traktor roda 4 pada lahan juga dapat menimbulkan pemadatan tanah yang berdampak negatif terhadap sifat fisik tanah maupun pertumbuhan tanaman. Pemupukan merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki sifat fisik tanah guna mendukung pertumbuhan dan hasil budidaya tanaman. Namun demikian, kajian tentang pengaruh penggunaan pupuk terhadap sifat fisik tanah dalam kaitannya dengan dampak pemadatan tanah akibat perlintasan traktor roda 4 khususnya pada saat 6 bulan setelah dilakukan perlintasan traktor masih belum banyak dilakukan. Lebih dari itu, penelitian sebelumnya lebih banyak mengkaji hanya pada kedalaman 0 – 30 cm saja. Maka dari itu penelitian ini dilakukan dengan tujuan (1) mengetahui perbedaan pengaruh pupuk organik, kimia, dan campuran terhadap tingkat kepadatan tanah pada kedalaman 0 – 50 cm pada saat 6 bulan setelah dilakukan perlintasan traktor roda, dan (2) mengetahui hubungan antar variabel sifat fisik tanah terkait pengaruh pupuk organik, kimia, dan campuran pada saat 6 bulan setelah dilakukan perlintasan traktor roda 4. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yang terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu: tanpa pupuk (P0), pupuk organik (P1), pupuk kimia (P2), dan pupuk campuran (P3). Variabel yang diukur adalah dry bulk density, konduktivitas hidrolik jenuh, porositas, dan kadar air. Analisis data menggunakan analisis regresi serta Analysis of variance (ANOVA) dengan uji lanjut menggunakan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk organik dan pupuk kimia cenderung memberikan pengaruh terhadap penurunan nilai dry bulk density, diikuti kenaikan nilai porositas dan konduktivitas hidrolik jenuh. | The use of 4-wheel tractors can simplify and speed up the tillage process. However, the use of 4-wheel tractors on land can also cause soil compaction which has a negative impact on soil physical properties and plant growth. Fertilization is one of the efforts to improve soil physical properties to support the growth and yield of crop cultivation. However, studies on the effect of fertilizer use on soil physical properties in relation to the impact of soil compaction due to 4-wheel tractor crossings, especially at 6 months after tractor crossings, have not been conducted. Moreover, previous studies have mostly examined only at a depth of 0-30 cm. Therefore, this study was conducted with the aim of (1) knowing the differences in the effect of organic, chemical, and mixed fertilizers on the level of soil density at a depth of 0 - 50 cm at 6 months after the wheel tractor crossing, and (2) knowing the relationship between variables of soil physical properties related to the effect of organic, chemical, and mixed fertilizers at 6 months after the 4-wheel tractor crossing. The study used a completely randomized design (CRD) with one factor consisting of 4 treatment levels, namely: no fertilizer (P0), organic fertilizer (P1), chemical fertilizer (P2), and mixed fertilizer (P3). The variables measured were dry bulk density, saturated hydraulic conductivity, porosity, and moisture content. | |
| 45856 | 49223 | F1C021039 | DINAMIKA KOMUNIKASI ANTARBUDAYA PADA MAHASISWA PENERIMA BEASISWA IISMA 2024 DI UNIVERSITY OF LIMERICK | Studi ini meneliti dinamika komunikasi antarbudaya di antara kelompok mahasiswa penerima beasiswa IISMA tahun 2024 di University of Limerick dalam berinteraksi dengan budaya Irlandia. Didasarkan pada Teori Pembelajaran Budaya oleh Anne-Marie Masgoret dan Colleen Ward, penelitian ini memandang adaptasi lintas budaya sebagai proses pembelajaran yang melibatkan keterampilan sosial dan komunikasi. Dengan menggunakan penelitian deskriptif kualitatif, terutama melalui wawancara, penelitian ini menyelidiki pengalaman mahasiswa beasiswa IISMA tahun 2024 yang menghadapi gegar budaya ringan karena perbedaan budaya akademik, bahasa, makanan, harga, dan iklim. Para mahasiswa menginformasikan adanya perasaan stres dan takut, meskipun hal ini masih tergolong sedang karena masa tinggal mereka yang hanya empat bulan. Proses adaptasi budaya menunjukkan pembentukan identitas hibrida, memadukan nilai-nilai budaya negara asal dan Irlandia, bukan hanya asimilasi. Temuan ini mendukung teori Ward dan Masgoret dan model Kurva-U Oberg, yang menyoroti pentingnya durasi dalam adaptasi. | This study examines intercultural communication dynamics among the IISMA 2024 cohort at the University of Limerick within the context of Irish culture. Grounded in Anne-Marie Masgoret and Colleen Ward's Culture Learning Theory, it views cross-cultural adaptation as a learning process involving social and communication skills. Utilising qualitative descriptive research, primarily through interviews, the study investigates the experiences of IISMA 2024 scholarship students facing mild culture shock due to differences in academic culture, language, food, pricing, and climate. Students reported feelings of stress and fear, though these were moderate due to their four-month stay. The cultural adaptation process revealed hybrid identity formation, blending home and Irish cultural values rather than simple assimilation. These findings support Ward and Masgoret's theory and Oberg's U-Curve model, which highlights the significance of duration in adaptation. | |
| 45857 | 49224 | J1B021030 | Analisis Id, Ego, dan Superego pada Tokoh Agatha dalam Novel Artha Karya Bayu Permana | Penelitian berjudul “Analisis Id, Ego, dan Superego pada Tokoh Agatha dalam Novel Artha Karya Bayu Permana” mengkaji kepribadian Agatha menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Novel ini menarik diteliti karena menjadi best seller dan bertahan di rak TOP 10 Gramedia, dan meski bertema drama percintaan, novel ini juga mengangkat isu serius yang relevan bagi perkembangan psikologis remaja. Metode yang digunakan deskripsi kualitatif dengan pendekatan psikologi sastra untuk mendeskripsikan tokoh Agatha, alur, latar serta aspek id, ego, dan superego Agatha. Hasil analisis menunjukkan Agatha adalah siswi kelas dua belas yang hidup dalam keluarga disfungsional. Alur menggambarkan konflik yang dialami Agatha secara kronologis dari awal hingga penyelesaian. Dominasi aspek superego pada Agatha lebih kuat dibanding id dan ego, yang tercermin dari kecenderungannya menekan dorongan pribadi demi menaati nilai moral, terutama dalam menghadapi konflik keluarga. Superego di sini berperan sebagai kontrol moral yang berasal dari nilai-nilai sosial dan ajaran orang tua, sehingga Agatha lebih mengutamakan kepatuhan dan norma daripada keinginan naluriahnya (id) atau pertimbangan realistis ego. Dengan demikian, novel ini tidak hanya menyajikan kisah remaja biasa, tetapi juga menggambarkan dinamika psikologis yang kompleks melalui tokoh Agatha, khususnya bagaimana ketidakseimbangan antara id, ego, dan superego mempengaruhi perilaku dan perkembangan dirinya dalam konteks keluarga yang tidak harmonis. Kata kunci: Artha, psikoanalisis, Sigmund Freud, psikologi sastra | The research titled “Analysis of Id, Ego, and Superego in the Character of Agatha in Bayu Permana’s Novel Artha” examines Agatha’s personality using Sigmund Freud’s psychoanalytic theory. This novel is particularly interesting to analyze because it became a best seller and remained in Gramedia’s TOP 10 shelves, and although it centers on a romantic drama, it also raises serious issues relevant to adolescent psychological development. The method used is qualitative description with a literary psychology approach to describe the character of Agatha, plot, setting, and the aspects of id, ego, and superego within her. The analysis reveals that Agatha is a twelfth-grade student living in a dysfunctional family. The plot chronologically depicts the conflicts Agatha experiences from beginning to resolution. The superego aspect dominates Agatha more than the id and ego, reflected in her tendency to suppress personal desires to obey moral values, especially when facing family conflicts. In this context, the superego acts as a moral control derived from social values and parental teachings, causing Agatha to prioritize obedience and norms over her instinctual desires (id) or realistic considerations (ego). Thus, the novel not only presents a typical teenage story but also portrays complex psychological dynamics through Agatha, particularly how the imbalance among id, ego, and superego affects her behavior and development within an unharmonious family context. Keywords: Artha, psychoanalysis, Sigmund Freud, literary psychology | |
| 45858 | 49225 | A1D020054 | Pengaruh Pemberian Mikoriza dan Umur Bibit Terhadap Pertumbuhan, Hasil, serta Frekuensi Serangan Layu Bakteri pada Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum, Mill) | Produktivitas tomat di Provinsi Jawa Barat tahun 2023 mencapai 268,1 ribu ton. Dari jumlah tersebut, Kabupaten Tasikmalaya hanya menyumbang 2.450 ton dengan produktivitas 9,01 ton/ha. Rendahnya produktivitas ini diduga disebabkan oleh adanya layu bakteri Ralstonia solanacearum, patogen yang kerap menyerang tanaman tomat terutama pada musim kemarau sehingga menurunkan produksi. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengendalian terhadap patogen tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian mikoriza dan umur bibit terhadap pertumbuhan, hasil, dan frekuensi serangan layu bakteri pada tanaman tomat. Penelitian dilakukan di Leuwiseeng, Sukaherang, Singaparna, Tasikmalaya dari bulan Juli–November 2024. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi, dua faktor perlakuan, dan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah pemberian mikoriza (tanpa mikoriza dan pemberian mikoriza saat penyemaian) sedangkan faktor kedua adalah umur bibit (16, 21, 26, dan 31 hari). Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang primer, luas daun, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, umur berbunga, umur panen, jumlah buah per tanaman, bobot buah per tanaman, bobot segar per buah, dan frekuensi serangan layu bakteri. Analisis data dilakukan dengan uji F pada taraf kesalahan 5%, dan jika nyata dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kesalahan 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian mikoriza pada saat penyemaian tidak berpengaruh terhadap semua variabel pengamatan. Perlakuan umur bibit berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar tanaman, umur berbunga, umur panen, dan frekuensi serangan layu bakteri pada umur 35 HST. Interaksi pemberian mikoriza dan umur bibit berpengaruh nyata terahadap umur panen dan bobot segar per buah. Umur panen tercepat dicapai oleh perlakuan pemberian mikoriza dan umur bibit 21 hari, serta bobot segar per buah tertinggi dicapai oleh perlakuan tanpa mikoriza dan umur bibit 31 hari. | Tomato productivity in West Java Province in 2023 reached 268.1 thousand tons. Of that total, Tasikmalaya Regency contributed only 2,450 tons, with a productivity of 9.01 tons/ha. This low productivity is suspected to be due to bacterial wilt caused by Ralstonia solanacearum, a pathogen that frequently attacks tomato plants—especially during the dry season—resulting in reduced production. Consequently, control measures against this pathogen are necessary. This study aimed to determine the effect of mycorrhiza application and seedling age on growth, yield, and the frequency of bacterial wilt infection in tomato plants. The research was conducted in Leuwiseeng, Sukaherang, Singaparna, Tasikmalaya from July to November 2024. A split-plot design was used with two treatment factors and three replications. The first factor was mycorrhiza application (no mycorrhiza versus mycorrhiza application at seeding), while the second factor was seedling age (16, 21, 26, and 31 days). The observed variables included plant height, number of leaves, number of primary branches, leaf area, fresh plant weight, dry plant weight, days to flowering, days to harvest, number of fruits per plant, fruit weight per plant, fresh fruit weight, and frequency of bacterial wilt infection. Data analysis was carried out using an F-test at a 5% significance level, and if significant, this was followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at the same significance level. The results showed that mycorrhiza application at seeding did not affect any of the observed variables. Seedling age significantly affected plant height, number of leaves, fresh plant weight, days to flowering, days to harvest, and frequency of bacterial wilt infection at 35 days after transplanting. The interaction between mycorrhiza application and seedling age significantly affected days to harvest and fresh fruit weight. The fastest harvest was achieved by applying mycorrhiza with a seedling age of 21 days, while the highest fresh fruit weight was obtained without mycorrhiza with a seedling age of 31 days. | |
| 45859 | 49226 | J1C021043 | Peran Ikigai dan Proses Adaptasi dalam Kehidupan Personal dan Profesional Orang Indonesia di Jepang | Penelitian ini mengkaji peran konsep Ikigai dan proses adaptasi budaya dalam kehidupan personal maupun profesional orang Indonesia di Jepang Indonesia di Jepang. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dengan lima yang memiliki latar belakang sebagai karyawan, peserta magang, dan mahasiswa pertukaran pelajar. Analisis data dilakukan berdasarkan lima pilar Ikigai menurut Mogi (2017), teori adaptasi budaya U-Curve Lysgaard (1955), dan teori self-concept Carl Rogers (1950), dengan tahapan reduksi, penyajian, serta verifikasi melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman Ikigai informan bervariasi antara pendekatan pragmatis dan filosofis, yang kemudian memengaruhi cara mereka menemukan makna dan motivasi dalam aktivitas sehari-hari dan tugas profesional. Lebih lanjut, integrasi Ikigai pada setiap tahap U-Curve mulai dari honeymoon hingga penyesuaian terbukti mempercepat proses adaptasi dan memperkuat ketahanan psikologis. Perubahan konsep diri (real self dan ideal self) turut terjadi seiring adaptasi budaya dan penerapan Ikigai, sehingga tercipta keseimbangan antara nilai-nilai asal dengan norma lingkungan baru. Temuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan teoritis dan praktis bagi program pembekalan budaya, kebijakan pendukung diaspora. | This research examines the role of the concept of Ikigai and the process of cultural adaptation in the personal and professional lives of Indonesians in Japan. Using a descriptive qualitative approach, data was collected through semi-structured in-depth interviews with five Indonesians who have backgrounds as employees, interns, and exchange students. Data analysis was conducted based on the five pillars of Ikigai according to Mogi (2017), Lysgaard's U-Curve theory of cultural adaptation (1955), and Carl Rogers' self-concept theory (1950), with stages of reduction, presentation, and verification through triangulation. The results show that informants' understanding of Ikigai varies between pragmatic and philosophical approaches, which then influences how they find meaning and motivation in their daily activities and professional tasks. Furthermore, the integration of Ikigai at each stage of the U-Curve from honeymoon to adjustment proved to accelerate the adaptation process and strengthen psychological resilience. Changes in self-concept (real self and ideal self) also occurred along with cultural adaptation and the application of Ikigai, thus creating a balance between the original values and the norms of the new environment. The findings are expected to provide theoretical and practical insights for cultural debriefing programs and diaspora support policies. | |
| 45860 | 49227 | A1C021059 | PENGARUH PERBEDAAN JENIS PUPUK TERHADAP TINGKAT PEMADATAN TANAH AKIBAT PERLINTASAN TRAKTOR RODA DUA: KASUS 6 BULAN SETELAH PERLINTASAN TRAKTOR | Penggunaan traktor roda dua dalam pengolahan tanah dapat meningkatkan produktivitas lahan, namun berdampak negatif terhadap struktur tanah akibat pemadatan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh pupuk organik, pupuk kimia, dan pupuk campuran terhadap tingkat pemadatan tanah pada kedalaman 0–50 cm enam bulan setelah perlintasan traktor roda dua, dan (2) menganalisis hubungan antara sifat fisik tanah terhadap pemadatan tanah akibat perlakuan pemupukan. Penelitian dilaksanakan pada September 2024–Juni 2025 di Desa Karangduren, Sokaraja. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan: tanpa pupuk, pupuk organik, pupuk kimia, dan pupuk campuran, serta lima ulangan pada lima kedalaman. Variabel yang diamati meliputi dry bulk density, porositas, kadar air, dan konduktivitas hidrolik jenuh. Hasil menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik dan campuran menurunkan dry bulk density serta meningkatkan porositas dan konduktivitas hidrolik jenuh. Sebaliknya, pupuk kimia cenderung meningkatkan pemadatan tanah. Korelasi negatif ditemukan antara dry bulk density dan konduktivitas hidrolik jenuh (r = -0,693), sementara porositas dan kadar air menunjukkan korelasi positif terhadap konduktivitas hidrolik jenuh (r = 0,693 dan 0,627). Uji T menunjukkan bahwa hanya konduktivitas hidrolik jenuh yang berbeda nyata antara pengamatan 0 bulan dan 6 bulan setelah perlintasan traktor. | The use of two-wheel tractors for soil tillage can improve land productivity but negatively affects soil structure due to compaction. This study aimed to (1) determine the effects of organic fertilizer, chemical fertilizer, and mixed fertilizer on soil compaction at 0–50 cm depth six months after tractor traffic, and (2) analyze the relationship between soil physical properties and compaction under different fertilization treatments. The study was conducted from September 2024 to June 2025 in Karangduren Village, Sokaraja. A Completely Randomized Design (CRD) was used with four treatments: no fertilizer, organic fertilizer, chemical fertilizer, and mixed fertilizer, with five replications at five depths. Observed variables included dry bulk density, porosity, water content, and saturated hydraulic conductivity. The results showed that organic and mixed fertilizers reduced dry bulk density and increased porosity and saturated hydraulic conductivity. In contrast, chemical fertilizer tended to increase soil compaction. A negative correlation was found between dry bulk density and saturated hydraulic conductivity (r = -0.693), while porosity and water content were positively correlated with saturated hydraulic conductivity (r = 0.693 and 0.627, respectively). T-test results indicated that only saturated hydraulic conductivity differed significantly between 0 and 6 months after tractor traffic. |