Home
Login.
Artikelilmiahs
49213
Update
PANDU WISNU PUTRA
NIM
Judul Artikel
PERAN EDITOR DALAM PRODUKSI FILM DOKUMENTER "NAPAS TERAKHIR DALANG JEMBLUNG"
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Film dokumenter Napas Terakhir Dalang Jemblung diciptakan sebagai upaya untuk mendokumentasikan dan melestarikan kesenian tradisional Jemblung asal Banyumas yang kini semakin terancam punah akibat pergeseran budaya dan arus modernisasi. Tujuan dari penciptaan karya ini adalah untuk meningkatkan kesadaran publik, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya menjaga warisan budaya lokal melalui media visual yang bersifat informatif sekaligus menyentuh secara emosional. Karya ini menggunakan metode kualitatif dalam bentuk dokumenter ekspositori. Proses produksi melibatkan tahap praproduksi, pengambilan data langsung, wawancara dengan dalang Jemblung dari berbagai generasi, serta pendokumentasian pertunjukan Jemblung di wilayah Banyumas. Pencipta berperan sebagai editor dan terlibat aktif dalam keseluruhan proses produksi film. Film berdurasi 36 menit 6 detik ini menunjukkan bahwa kesenian Jemblung bukan sekadar hiburan, melainkan juga media penyampai nilai moral, narasi sejarah, dan identitas budaya lokal. Proses penyuntingan berperan penting dalam membangun narasi yang kohesif dan menggugah, sehingga mampu menumbuhkan empati serta apresiasi audiens terhadap kesenian tradisional yang mulai terpinggirkan. Karya dokumenter ini tidak hanya memberikan kontribusi terhadap upaya revitalisasi kesenian Jemblung, tetapi juga menjadi media advokasi budaya melalui penyebaran digital dan pemutaran berbasis komunitas. Secara akademis, penciptaan karya ini memberikan sumbangsih dalam bidang studi budaya visual dengan menekankan peran editor dalam pelestarian warisan budaya takbenda melalui pendekatan dokumenter kreatif.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The documentary film Napas Terakhir Dalang Jemblung (The Last Breath of the Jemblung Puppeteer) was created to document and preserve Jemblung, a traditional Banyumas performing art that is increasingly endangered due to cultural shifts and modernization. The purpose of this creative work is to raise public awareness, especially among younger audiences, about the urgency of protecting local cultural heritage through a visual medium that is both informative and emotionally engaging. This project employed a qualitative creative method within an expository documentary format. The production process involved pre-production planning, live documentation, interviews with senior and young Jemblung puppeteers (dalang), and performance recordings in Banyumas. The creator served as the editor and was actively involved throughout the filmmaking process. The final film, with a runtime of 36 minutes and 6 seconds, demonstrates that Jemblung is more than entertainment it serves as a vessel for transmitting moral values, historical narratives, and regional identity. The editing process was central in constructing a coherent and affective narrative that amplifies audience empathy and encourages cultural appreciation. This documentary not only contributes to the revitalization of Jemblung art but also functions as a cultural advocacy tool through digital dissemination and community based screenings. Academically, this work contributes to the field of visual cultural studies by showcasing the editor’s role in preserving intangible heritage through creative documentary storytelling.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save