Artikelilmiahs
Menampilkan 45.881-45.900 dari 48.746 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 45881 | 49247 | J0A022018 | Creating Bilingual E-brochure for Public Service at The Department of Social Affairs and Community and Village Empowerment Banyumas | Laporan praktik kerja ini berjudul “Creating Bilingual E-brochure for Public Service at The Department Social Affairs and Community and Village Empowerment Banyumas”. Praktek kerja ini dilaksankan pada tanggal 13 Agustus hingga 31 Desember 2024 di Dinsospermasdes Banyumas. Studi ini menekankan pentingnya layanan departemen dalam meningkatkan efisiensi komunikasi dan mendorong tindakan optimal kepada masyarakat dan komunitas. Tujuannya adalah untuk membuat brosur informatif berdasarkan layanan publik dan informasi untuk promosi, membedakannya dari brosur tradisional yang menyebabkan ketegangan dan kerusakan lingkungan. Terdapat tiga metode yang digunakan dalam membuat e-brosur yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan observasi penulis wawasan tentang kualitas dan efektivitas pelayanan publik di Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, membantu menciptakan e-brochure yang efektif. Dalam wawancara, penulis mengajukan berbagai pertanyaan mengenai layanan publik dan prosedur yang terlibat dalam pembuatan e-brosur dan brosur sebagai media yang diperlukan untuk penyebaran informasi yang luas. Dalam metode dokumentasi penulis mengumpulkan arsip dan foto untuk pendukung visual dalam e-brochure. Penulis menghadapi tiga tantangan utama: manajemen waktu, keterbatasan koordinasi dari staf humas, dan kurangnya pengalaman menggunakan Canva. Untuk mengatasinya, diterapkan penjadwalan fleksibel, pencarian referensi desain, serta pengembangan keterampilan Canva melalui penelusuran mandiri dan tutorial daring. Solusi tersebut memungkinkan penulis untuk mengumpulkan informasi dan mengedit brosur secara efisien. | This job training report is entitled “Creating the Bilingual E-brochure for Public Service at the Department of Social Affairs and Community and Village Empowerment”. This job training report was conducted from August 13 to December 31, 2024, at the Department of Social Affairs and Community and Village Empowerment Banyumas. Persistent misunderstandings regarding departmental services highlight the need for greater community involvement to improve communication effectiveness and ensure optimal access to social affairs and village empowerment programs. The main purpose is to create an informational e-brochure based on public service and information available for promotion to the community. The author chooses e-brochures as a promotional tool due to their ease of updates, accessibility, and cost-effectiveness, in contrast to traditional printed brochures, which present challenges and have negative environmental impacts. There are three methods used in creating an e-brochure, namely, observation, interview, and documentation. Based on the observation the author gained insight into the quality and effectiveness of public services at the Department of Social and Community and Village Empowerment, aiding in creating an effective e-brochure. In the interview, the author raises various questions regarding public services and the procedures for creating e-brochures and printed brochures as media for the widespread distribution of information. In the documentation method the author collected archive and photos for visual support in the e-brochure. The author faced three main challenges: time management issues due to overlapping deadlines, limited time for public relations staff to coordinate information, and a lack of experience using Canva. To overcome this challenges, flexible scheduling, searching for design references and enhancing Canva skills through self-exploration and online tutorials were implemented. The solution allows the author to gather information and edit the brochure efficiently. | |
| 45882 | 49251 | A1C021032 | PENGARUH JENIS MULSA ORGANIK TERHADAP KEPADATAN TANAH PADA KEDALAMAN 0 – 50 CM: CASE 6 BULAN SETELAH PERLINTASAN TRAKTOR RODA DUA | Perlintasan traktor di lahan pertanian dapat menyebabkan pemadatan tanah yang berdampak negatif terhadap pertumbuhan tanaman akibat menurunnya porositas dan kadar air tanah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengkaji pengaruh jenis mulsa organik terhadap pemadatan tanah enam bulan setelah perlintasan traktor roda dua pada kedalaman 0 – 50 cm, (2) menentukan jenis mulsa organik paling efektif dalam mengurangi dampak pemadatan, serta (3) menganalisis hubungan antar variabel fisik tanah yang dipengaruhi mulsa dan pemadatan. Penelitian dilakukan di Desa Karangduren, Banyumas, dan Laboratorium Universitas Jenderal Soedirman pada Agustus 2024 – Mei 2025 menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan: tanpa mulsa (M0), mulsa jerami padi (Mj), mulsa sekam padi (Ms), dan mulsa serasah daun bambu (Md). Parameter yang diamati meliputi kerapatan massa tanah kering (ρd), konduktivitas hidrolik jenuh (ks), porositas (f), dan kadar air tanah (w). Hasil menunjukkan bahwa semua jenis mulsa organik menurunkan nilai ρd serta meningkatkan ks, f, dan w dibandingkan tanpa mulsa, dengan efektivitas tertinggi ditunjukkan oleh Mj. Kedalaman tanah berbanding terbalik dengan nilai ρd dan sebanding dengan ks, f, dan w. Regresi menunjukkan hubungan negatif antara ρd dan ks (R² = 0,5048), serta hubungan positif antara porositas dan kadar air dengan ks (R² = 0,5048 dan 0,3152). Enam bulan setelah perlintasan traktor, terjadi perubahan signifikan pada sifat fisik tanah, terutama peningkatan ρd serta penurunan f dan ks pada M0. Mulsa jerami padi terbukti paling efektif menahan degradasi sifat fisik tanah. | Tractor traffic on agricultural land can lead to soil compaction, which negatively affects plant growth due to reduced porosity and soil moisture content. This study aimed to: (1) examine the effect of organic mulch types on soil compaction six months after two-wheel tractor passage at a depth of 0 – 50 cm, (2) determine the most effective type of organic mulch in mitigating compaction, and (3) analyze the relationship between soil physical properties influenced by mulch application and compaction. The research was conducted from August 2024 to May 2025 in Karangduren Village, Banyumas Regency, and at the Integrated Laboratory of Universitas Jenderal Soedirman using a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments: no mulch (M0), rice straw mulch (Mj), rice husk mulch (Ms), and bamboo leaf litter mulch (Md). Observed variables included dry bulk density (ρd), saturated hydraulic conductivity (ks), porosity (f), and soil moisture content (w). Results showed that all organic mulch types reduced ρd and increased ks, f, and w compared to the control (M0), with Mj being the most effective. Increasing soil depth was associated with decreasing ρd and increasing ks, f, and w. Regression analysis indicated a negative relationship between ρd and ks (R² = 0.5048), and a positive relationship between porosity and moisture content with ks (R² = 0.5048 and 0.3152, respectively). After six months, significant changes in soil physical properties were observed, especially an increase in ρd and a decrease in f and ks in the control treatment. Rice straw mulch was found to be the most effective in minimizing the degradation of soil physical properties. | |
| 45883 | 49252 | H1B021091 | Pengaruh Penambahan Belerang Pada Karakteristik Reologi Aspal Berdasarkan Pengujian Standar AASHTO | Peningkatan permintaan infrastruktur jalan mendorong inovasi aspal modifikasi belerang (4-6%) untuk meningkatkan ketahanan perkerasan. Berdasarkan uji propertis AASHTO/SNI pada aspal PEN 60/70, kadar 4% belerang meningkatkan densitas (+7,7%) tanpa segregasi, sedangkan kadar 5-6% meningkatkan fleksibilitas (daktilitas +12,3%) dan kelunakan (penetrasi +17,7%). Namun, kadar >4% menurunkan titik nyala (-39,8%) dan viskositas (-30,01%), meningkatkan risiko kebakaran dan rutting. Kadar 4-5% optimal untuk menyeimbangkan performa reologi dan risiko, direkomendasikan untuk aplikasi di iklim dingin dengan pengawasan suhu ketat dan uji emisi gas (H₂S/SO₂). Penelitian lanjutan dapat mengkombinasikan belerang dengan polimer seperti crumb rubber untuk mitigasi kelemahan. | Rising demand for road infrastructure drives innovation in sulfur-modified asphalt (4-6%) to enhance pavement durability. Based on AASHTO/SNI property tests of PEN 60/70 asphalt, 4% sulfur increased density (+7.7%) without segregation, while 5-6% sulfur improved flexibility (ductility +12.3%) and softness (penetration +17.7%). However, concentrations >4% reduced flash point (-39.8%) and viscosity (-30.01%), increasing fire risk and rutting susceptibility. A 4-5% sulfur content optimally balances rheological performance and risk, recommended for cold-climate applications with strict temperature monitoring and gas emission testing (H₂S/SO₂). Future research should combine sulfur with polymers like crumb rubber to address limitations. | |
| 45884 | 49253 | H1B021075 | Kinerja Campuran Aspal Modifikasi Belerang Berdasarkan Pengujian Alat Dynamic Shear Rheometer | Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui pengaruh pencampuran belerang terhadap aspal. Pada saat ini kita dihadapkan dengan adanya tantangan pada mahalnya bahan baku perkerasan aspal. Pada perkembangannya bitumen mulai dikembangkan dengan berbagai inovasi untuk meningkatkan daya tahan serta mengurangi dampak lingkungan, salah satunya adalah menggunakan sulfur untuk campuran aspal. Penelitian ini menggunakan belerang dengan campuran belerang 4%, 5%, dan 6%. Sampel benda uji akan diuji menggunakan alat Dynamic Shear Rheometer (DSR) untuk mendapatkan nilai PG. Suhu yang digunakan pada pengujian ini adalah suhu 58°C, 64°C, dan 70°C. Superpave (Superior Performing Asphalt Pavement) adalah salah satu teknologi dalam perancangan campuran aspal yang dikembangkan untuk menghasilkan jalan menjadi tahan lama, memiliki tingkat efisiensi yang tinggi, dan lebih responsif terhadap perubahan iklim dan beban lalu lintas (Rys et al., 2020). Pada penelitian ini juga membahas mengenai rutting dan cracking dari pengaruh penambahan belerang terhadap aspal. | This research aims to determine the effect of mixing sulfur into asphalt. Currently, we are faced with the challenge of expensive raw materials for asphalt pavement. In its development, bitumen has been innovated in various ways to improve durability and reduce environmental impact—one approach is using sulfur in asphalt mixtures. This study uses sulfur with mixing contents of 4%, 5%, and 6%. Test specimens will be evaluated using a Dynamic Shear Rheometer (DSR) to obtain their Performance Grade (PG) values. The testing temperatures are 58 °C, 64 °C, and 70 °C. Superpave (Superior Performing Asphalt Pavement) is a technology for designing asphalt mixtures developed to produce long-lasting roads, ensure high efficiency, and respond better to changing climates and traffic loads. (Rys et al., 2020). This study also discusses rutting and cracking due to the effect of adding sulfur to asphalt. | |
| 45885 | 49256 | J1C021019 | Dinamika Hubungan Senpai dan Kouhai dalam Perusahaan Jepang | Penelitian ini mengkaji dinamika hubungan senpai-kouhai di sebuah perusahaan Jepang modern, dengan fokus pada perubahan sosial, tantangan profesional, dan persepsi generasi muda terhadap sistem senioritas tradisional. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif dan wawancara mendalam dengan karyawan di Komeda Coffee, penelitian ini menemukan bahwa meskipun struktur hirarkis berdasarkan urutan masuk ke dunia kerja tetap dipertahankan, implementasi hubungan senpai-kouhai telah mengalami adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan perubahan nilai-nilai generasi muda. Hubungan ini tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme hirarkis formal, tetapi juga sebagai proses pendampingan dan transfer nilai yang memengaruhi motivasi, kesejahteraan psikologis, dan inovasi kerja. Penelitian ini menyoroti pentingnya komunikasi yang terbuka, keseimbangan antara otoritas dan empati, serta peran penting senpai dalam membimbing kouhai dengan empati dan keterbukaan. Temuan ini memberikan kontribusi teoritis terhadap pemahaman budaya organisasi Jepang dan memberikan rekomendasi praktis bagi perusahaan untuk mengelola hubungan hirarkis agar tetap adaptif dan inklusif dalam konteks kerja modern. | This study examines the dynamics of the senpai-kouhai relationship in a modern Japanese company, focusing on social changes, professional challenges, and the younger generation's perception of the traditional seniority system. Through a descriptive qualitative approach and in-depth interviews with employees at Komeda Coffee, this study found that while the hierarchical structure based on the order of entry into the workforce has been maintained, the implementation of the senpai-kouhai relationship has undergone adaptation to technological developments and the changing values of the younger generation. This relationship not only functions as a formal hierarchical mechanism, but also as a mentoring and value transfer process that influences motivation, psychological well-being and work innovation. This research highlights the importance of open communication, the balance of authority and empathy, and the critical role of senpai in mentoring kouhai with empathy and openness. The findings make a theoretical contribution to the understanding of Japanese organizational culture and provide practical recommendations for companies to manage hierarchical relationships to remain adaptive and inclusive in the modern work context. | |
| 45886 | 49254 | D1A021148 | HUBUNGAN UKURAN-UKURAN TUBUH DENGAN BOBOT BADAN DOMBA EKOR GEMUK DI LANCAR JAYA FARM | Latar Belakang. Sebagian besar peternak domba skala kecil menghadapi kendala dalam hal ketersediaan alat timbangan yang memadai untuk mengukur bobot badan ternaknya secara tepat dan akurat. Pengukuran bobot badan ternak tidak hanya dapat dilakukan dengan alat timbangan secara langsung, melainkan juga dapat diperkirakan melalui beberapa parameter ukuran tubuh ternak. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara ukuran-ukuran tubuh dengan bobot badan ternak domba ekor gemuk. Materi dan Metode. Ternak domba yang digunakan pada penelitian ini yaitu 100 ekor domba ekor gemuk jantan yang berumur 1- 1,5 tahun. Alat yang digunakan yaitu timbangan digital gantung, alat tulis, pita ukur (metline) sepanjang 2 meter, dan tali tambang. Metode yang digunakan penelitian yaitu metode purposive random sampling. Variabel penelitian meliputi lingkar dada (LD/X1), panjang badan (PB/X2), tinggi pundak (TP/X3), lingkar pinggul (LP/X4), dan bobot badan ternak (BB/Y). Data yang telah diperoleh dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda dan korelasi. Hasil. Hasil penelitian dapat diketahui persamaan regresi Y= −38,35 + 0,50X1 + 0,32X2 + 0,13X3 + 0,04X4. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,921, atau setara dengan 92,1% menunjukan tingkat akurasi antara variabel ukuran-ukuran tubuh dengan bobot badan domba ekor gemuk. Variabel lingkar dada memiliki korelasi sangat kuat (0,93), variabel panjang badan memiliki korelasi sangat kuat (0,90), sedangkan variabel tinggi pundak memiliki korelasi kuat (0,74), dan variabel lingkar pinggul memiliki korelasi sangat kuat (0,84). Kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan diperoleh kesimpulan bahwa bobot badan domba ekor gemuk dapat diduga dengan ukuran tubuh (lingkar dada, panjang badan, tinggi pundak, dan lingkar pinggul). | Background. Most small-scale sheep farmers face challenges regarding the availability of adequate weighing equipment to measure the body weight of their livestock accurately and precisely. Body weight measurement of livestock is not only conducted directly using scales but can also be estimated through several body measurement parameters. The purpose of this study is to determine the relationship between body measurements and the body weight of fat-tailed sheep. The objective of this study is to determine the relationship between body measurements and body weight in fat-tailed sheep. Materials and Methods. The livestock used in this study consisted of 100 male fat-tailed sheep aged between 1 to 1.5 years. The equipment utilized included a digital hanging scale, writing tools, a 2-meter measuring tape (metline), and a rope. The research employed a purposive random sampling method. The variables observed in this study comprised chest girth (CG/X1), body length (BL/X2), withers height (WH/X3), hip circumference (HC/X4), and body weight (BW/Y). The collected data were analyzed using multiple linear regression and correlation analysis.. Results. The results of the study indicated that the regression equation was Y = −38.35 + 0.50X1 + 0.32X2 + 0.13X3 + 0.04X4. The coefficient of determination (R²) was 0.921, or 92.1%, indicating a high level of accuracy between the body measurement variables and the body weight of fat-tailed sheep. The chest girth variable exhibited a very strong correlation (0.93), body length showed a very strong correlation (0.90), withers height showed a strong correlation (0.74), and hip circumference demonstrated a very strong correlation (0.84). Conclusion. Based on the analysis and discussion, it can be concluded that he body weight of fat-tailed sheep can be estimated using body measurements, specifically chest girth, body length, withers height, and hip circumference. | |
| 45887 | 49258 | J1C021017 | Stigma Kesehatan Mental dan Narasi Jisatsu di Jepang | Penelitian ini menganalisis stigma terhadap kesehatan mental dan bunuh diri (jisatsu) di Jepang melalui pendekatan netnografi pada cuitan Twitter berbahasa Jepang. Hasil menunjukkan bahwa stigma ini masih kuat dan dipengaruhi nilai budaya seperti gaman (ketahanan diri), haji (rasa malu), dan dualisme tatemae-honne (ekspresi publik vs. perasaan pribadi). Twitter menjadi ruang aman bagi individu untuk mengekspresikan honne (perasaan sejati) secara anonim, sementara stigma menghambat akses ke layanan kesehatan mental. Penelitian ini menggunakan teori stigma Goffman dan analisis tematik budaya Jepang, menyimpulkan bahwa norma sosial dan media digital saling memengaruhi narasi kesehatan mental. Untuk mengurangi stigma, diperlukan edukasi berbasis media sosial dan pendekatan berbasis komunitas yang sensitif budaya. | This study examines the stigma surrounding mental health and suicide (jisatsu) in Japan through a netnographic analysis of Japanese-language Twitter posts. Findings reveal that stigma remains pervasive, shaped by cultural values like gaman (perseverance), haji (shame), and tatemae-honne duality (public facade vs. private feelings). Twitter serves as a safe space for individuals to anonymously express honne (true emotions), while stigma discourages seeking professional help. Using Goffman’s stigma theory and thematic analysis of Japanese cultural concepts, the study concludes that social norms and digital media jointly shape mental health narratives. Culturally sensitive interventions, including social media-based education and community support systems, are recommended to reduce stigma. | |
| 45888 | 49259 | A1D021197 | APLIKASI KOMBINASI BIO P60 DAN BIO T10 TERHADAP BENIH SEBAGAI UPAYA MENGHASILKAN BIBIT CABAI RAWIT SEHAT | Cabai rawit sering kali terinfeksi oleh patogen bawaan benih, sementara benih unggul yang tersedia belum terjamin kesehatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi patogen bawaan benih yang terdapat pada benih yang tidak berkecambah, menentukan lama perendaman dan konsentrasi yang efektif dari kombinasi Bio P60 dan Bio T10 untuk mengendalikan penyakit bawaan benih, serta menghasilkan bibit cabai yang sehat. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Rumah Kaca Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, dari Oktober 2024 hingga Januari 2025, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat ulangan. Perlakuan terdiri dari kontrol dan kombinasi konsentrasi Bio P60 dan Bio T10 (Bio P60 5 mL/L + Bio T10 10 mL/L, Bio P60 5 mL/L + Bio T10 20 mL/L, dan Bio P60 10 mL/L + Bio T10 10 mL/L) serta lama perendaman 30 dan 60 menit. Pengamatan meliputi identifikasi patogen, kejadian penyakit, parameter pertumbuhan tanaman, dan bobot biomassa. Hasil penelitian menunjukkan adanya patogen jamur bawaan benih Curvularia lunata pada benih yang tidak berkecambah. Perlakuan tunggal Bio P60 10 mL/L yang dikombinasikan dengan Bio T10 10 mL/L mampu menekan infeksi patogen hingga 84,05% dan meningkatkan biomassa kering sebesar 25%. Perendaman selama 60 menit secara signifikan meningkatkan tinggi tanaman sebesar 3,33% dan jumlah daun sebesar 4,87%. Perlakuan paling efektif adalah kombinasi Bio P60 10 mL/L dan Bio T10 10 mL/L dengan lama perendaman 30 menit, yang mampu menurunkan kejadian penyakit sebesar 85,89% dan meningkatkan biomassa kering sebesar 40%. Perlakuan ini efektif dalam mengendalikan patogen bawaan benih dan menghasilkan bibit cabai rawit yang sehat. | Bird’s eye chili peppers are frequently affected by seed-borne pathogens, while the available superior seeds have not yet been guaranteed to be healthy. This study aimed to identify the seed-borne pathogens present in non-germinating seeds, determine the optimum soaking duration and effective concentration of the Bio P60 and Bio T10 combination to control seed-borne diseases, and produce healthy the chili seedlings. The research was conducted at the Plant Protection Laboratory and Greenhouse, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, from October 2024 to January 2025, using a Completely Randomized Design with four replications. The treatments consisted of control and combinations of Bio P60 and Bio T10 concentrations (Bio P60 5 mL/L + Bio T10 10 mL/L, Bio P60 5 mL/L + Bio T10 20 mL/L, and Bio P60 10 mL/L + Bio T10 10 mL/L) and soaking durations of 30 and 60 minutes. Observations included pathogen identification, disease incidence, plant growth parameters, and biomass weight. Results revealed the presence of the seed-borne fungal pathogen Culvularia lunata in non-germinating seeds. The single treatment of Bio P60 10 mL/L combined with Bio T10 10 mL/L reduced pathogen infection by up to 84,05% and increased dry biomass by 25%. Soaking for 60 minutes significantly increased plant height by 3.33% and leaf number by 4.87%. The most effective treatment was the combination of Bio P60 10 mL/L and Bio T10 10 mL/L with a 30-minute soaking time, which reduced disease incidence by 85.89% and enhanced dry biomass by 40%. This treatment effectively controls seed-borne pathogens and produces healthy bird’s eye chili seedlings. | |
| 45889 | 49255 | D1A021147 | KALIBRASI RUMUS DENMARK DALAM PENDUGAAN BOBOT BADAN DOMBA EKOR TIPIS | Latar Belakang. Pendugaan bobot badan domba ekor tipis dengan menggunakan rumus Denmark. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui ketepatan rumus Denmark dalam menduga bobot badan domba ekor tipis dan dilakukan kalibrasi untuk meningkatkan keakuratannya. Materi dan Metode. Materi yang digunakan yaitu domba ekor tipis dengan berumur 4 – 24 bulan, pitta ukur dan timbangan digital. Data penelitian yang diperoleh dianalisis deskriptif, uji korelasi dan uji regresi. Hasil. Pendekatan menggunakan metode coba-coba (trial and error) dengan membandingkan bobot badan penddugaan dan bobot badan asli. Kalibrasi rumus Denmark dengan mengubah pembilang dari 18 menjadi -18,5 sehingga diperoleh rumus : (LD – 18,5)2/100 dan selisih antara rata-rata bobot badan asli dengan rata-rata bobot badan pendugaan sebesar 0,17 kg. Simpulan. Rumus Denmark yang sudah dikalibrasi dengan pembilang -18,5 menghasilkan rata-rata bobot badan yang paling mendekati bobot asli dengan deviasi -0,78%. | Background. Estimation of body weight of thin-tailed sheep using the Danish formula. The purpose of the study was to determine the accuracy of the Danish formula in estimating the body weight of thin-tailed sheep and calibration to improve its accuracy. Materials and Methods. The materials used were thintailed sheep aged 4-24 months, measuring pitta and digital scales. The research data obtained were analysed descriptively, correlation test and regression test. Results. The approach uses the trial and error method by comparing the estimated body weight and the original body weight. Calibration of the Danish formula by changing the numerator from 18 to -18.5 so that the formula is obtained: (LD - 18.5)2/100 and the difference between the average original body weight and the average estimated body weight of 0.17 kg. Conclusion. The calibrated Danish formula with a numerator of -18.5 produced an average body weight closest to the original weight with a deviation of -0.78%. | |
| 45890 | 49257 | C1G021026 | The Effect of Education, Health, and Economic Infrastructure on Labor Productivity in Indonesia 2010-2023 | Produktivitas tenaga kerja di Indonesia terus mengalami pertumbuhan, namun masih belum merata dan relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur ekonomi terhadap produktivitas tenaga kerja di 33 provinsi di Indonesia selama periode 2010 hingga 2023. Metode yang digunakan adalah regresi data panel dengan pendekatan Fixed Effect Model menggunakan EViews 12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan ketiga variabel tersebut berpengaruh signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja. Secara parsial, variabel kesehatan dan infrastruktur ekonomi berpengaruh positif dan signifikan sedangkan pendidikan tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Temuan ini menunjukkan pentingnya penguatan sistem layanan kesehatan dan akses TIK terutama di daerah tertinggal serta perlunya peninjauan kembali strategi pendidikan melalui penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja dan peningkatan pendidikan vokasi guna mendukung peningkatan produktivitas tenaga kerja. | Labor productivity in Indonesia continues to grow, yet remains uneven and relatively low compared to other ASEAN countries. This study aims to analyze the effect of education, health, and economic infrastructure on labor productivity across 33 provinces in Indonesia from 2010 to 2023. The research employs panel data regression using the Fixed Effect Model with EViews 12. The results show that simultaneously, all three variables significantly affect labor productivity. Partially, health and economic infrastructure have a significant positive effect while education shows no significant effect. These findings imply the importance of strengthening healthcare systems and ICT access especially in underdeveloped areas while reevaluating education strategies by aligning curricula with job market needs and improving vocational education to better support labor productivity. | |
| 45891 | 49260 | A1D021046 | Pengaruh Penambahan Mineral Wollastonite dan Fly Ash Bottom Ash (FABA) Terhadap Sifat Kimia Tanah Entisol Pada Tanaman Melon (Cucumis melo L.) | Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui pengaruh aplikasi wollastonite dan FABA terhadap sifat kimia tanah entisol. 2) Mengetahui pengaruh aplikasi wollastonite dan FABA terhadap pertumbuhan tanaman melon pada tanah entisol. 3) Mengetahui dosis optimal wollastonite dan FABA yang paling signifikan dalam meningkatkan sifat kimia tanah entisol. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan dua (2) faktorial dan tiga (3) ulangan. Faktor pertama adalah FABA yang terdiri atas 4 dosis dan faktor kedua adalah wollastonite yang terdiri atas 4 dosis. Jumlah perlakuan 16 kombinasi perlakuan, sehingga didapatkan total percobaan sebanyak 48 polybag. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian FABA dan Wollastonite mampu meningkatkan sifat kimia tanah entisol dan pertumbuhan tanaman melon. Pemberian FABA berpengaruh nyata terhadap pH KCl 6 MST (meningkat 26,8%), C organik (meningkat 80%), P-tersedia (meningkat 52,88%), K-tersedia (meningkat 108%), kadar hara P daun, Ca-tersedia (meningkat 53,57%), dan jumlah bunga. Pemberian Wollastonite berpengaruh nyata terhadap pH KCl 6 MST (meningkat 25,6%), C-organik (meningkat 80%), dan jumlah bunga. Dosis terbaik didapat pada perlakuan F3 (600g FABA/polybag) dan W3 (600g Wollastonite/polybag). | This study aims to: 1) Investigate the effect of Wollastonite and FABA application on the chemical properties of Entisol soil. 2) Examine the impact of Wollastonite and FABA application on melon plant growth in Entisol soil. 3) Determine the optimal doses of Wollastonite and FABA that significantly improve the chemical properties of Entisol soil. This research employed a Randomized Block Design (RBD), with a 2x4 factorial arrangement and three replications. The first factor was FABA, which included 4 doses, and the second factor was Wollastonite, which also included 4 doses. The total treatment combinations amounted to 16, resulting in 48 polybag experiments. The results showed that the application of FABA and Wollastonite significantly improved the chemical properties of Entisol soil and melon plant growth. FABA application significantly affected pH KCl at 6 MST (increased by 26.8%), organic carbon (increased by 80%), available phosphorus (increased by 52.88%), available potassium (increased by 108%), leaf phosphorus content, available calcium (increased by 53.57%), and the number of flowers. Wollastonite application significantly affected pH KCl at 6 MST (increased by 25.6%), organic carbon (increased by 80%), and the number of flowers. The best dose was found in the treatment F3 (600g FABA/polybag) and W3 (600g Wollastonite/polybag). | |
| 45892 | 49261 | A1D021095 | VARIABILITAS INFESTASI HAMA SERANGGA PADA PADI (Oryza sativa) VARIETAS PROTANI DI TIGA AGROEKOLOGI: STUDI KASUS PEKALONGAN, BREBES, DAN CILACAP | Varietas unggul yang dikembangkan untuk menjawab tantangan kebutuhan pangan Indonesia salah satunya adalah Inpago Unsoed Protani yang resmi diedarkan pada tahun 2020 melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 980/HK.540/C/10/2020. Sebagai varietas baru, perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengkaji adaptasi dan ketahanannya terhadap hama di berbagai kondisi agroekologi. Infestasi hama, yakni serangan organisme pengganggu dalam jumlah merugikan, perlu dievaluasi lintas lingkungan karena keberhasilan varietas tidak hanya ditentukan oleh genetik, tetapi juga oleh kemampuannya menghadapi tekanan lingkungan dan hama. Penelitian ini menganalisis variabilitas infestasi hama serangga pada padi Protani di tiga zona agroekologi di Jawa Tengah bagian utara, tengah, dan selatan: Pekalongan (70 mdpl), Brebes (500 mdpl), dan Cilacap (8 mdpl). Kajian meliputi identifikasi hama utama, intensitas serangan, serta pengaruh suhu, curah hujan, dan ketinggian terhadap pola infestasi. Dampaknya terhadap produktivitas panen juga dianalisis secara kuantitatif. Data dikumpulkan melalui observasi langsung pada fase generatif padi. Pekalongan mencatat infestasi tertinggi (1,65%) dan hasil panen terendah (3,28 ton/Ha), didominasi ulat grayak, ngengat, dan belalang hijau. Brebes menunjukkan infestasi terendah (0,83%) dan hasil tertinggi (7,82 ton/Ha), hanya diserang belalang hijau. Cilacap memiliki curah hujan tertinggi, infestasi 0,79%, dan hasil 7,20 ton/Ha. Korelasi menunjukkan suhu, curah hujan, dan ketinggian tidak berpengaruh signifikan terhadap intensitas serangan. Perbedaan agroekologi secara keseluruhan, yang mencakup kondisi fisik, keberadaan musuh alami, dan pola budidaya, berkontribusi terhadap variasi hasil panen antar lokasi. Uji ANOVA dan Tukey mengonfirmasi perbedaan signifikan antar lokasi. Hasil menunjukkan Brebes unggul berkat keberadaan musuh alami dan ekosistem penyangga. Sebaliknya, Pekalongan membutuhkan strategi pengendalian yang lebih intensif. Meskipun Cilacap memiliki curah hujan tinggi dan keanekaragaman hama lebih besar, hasil panennya tetap tinggi karena dukungan praktik pengelolaan tanaman dan kehadiran musuh alami seperti capung dan kumbang koksi. | One of the superior varieties developed to address Indonesia’s food security challenges is Inpago Unsoed Protani, which was officially released in 2020 through the Decree of the Minister of Agriculture No. 980/HK.540/C/10/2020. As a newly introduced variety, further research is necessary to evaluate its adaptation and resistance to insect pests under various agroecological conditions. Pest infestation—defined as the damaging presence of pest organisms in significant numbers—must be assessed across different environments, as the success of a variety depends not only on its genetic potential but also on its ability to cope with environmental and biotic stressors. This study analyzes the variability of insect pest infestation on Oryza sativa var. Protani across three agroecological zones in northern, central, and southern Central Java: Pekalongan (70 m asl), Brebes (500 m asl), and Cilacap (8 m asl). The study includes the identification of key pest species, evaluation of infestation intensity, and analysis of the effects of temperature, rainfall, and elevation on infestation patterns. The impact of pest infestation on yield productivity is also quantitatively assessed. Data were collected through direct field observations during the generative stage of rice, a critical phase for yield formation. Pekalongan recorded the highest infestation rate (1.65%) and the lowest yield (3.28 tons/ha), with armyworms, moths, and green grasshoppers as dominant pests. Brebes exhibited the lowest infestation (0.83%) and the highest yield (7.82 tons/ha), with only green grasshoppers present. Cilacap, with the highest rainfall, showed an infestation rate of 0.79% and a yield of 7.20 tons/ha. Correlation analysis indicated that temperature, rainfall, and elevation did not significantly influence infestation intensity. The overall differences in agroecological conditions, including physical factors, the presence of natural enemies, and cultivation patterns, contribute to the variation in crop yields between locations. ANOVA and Tukey tests confirmed significant differences among locations. The findings indicate that Brebes outperforms the other sites due to the presence of natural enemies and a supporting agroecosystem. In contrast, Pekalongan requires more intensive pest management strategies. Despite higher rainfall and greater pest diversity, Cilacap maintained high yields, supported by effective crop management practices and the presence of natural enemies such as dragonflies and lady beetles. | |
| 45893 | 48943 | B1A021001 | Profil Metabolit Sekunder Lima Spesies dari Famili Lamiaceae yang Tumbuh di Kebun Raya Baturraden | Famili Lamiaceae mempunyai berbagai jenis metabolit sekunder baik dari golongan flavonoid, tannin, fenolik, dan minyak atsiri. Pada penelitian ini akan menggunakan lima spesies dari famili Lamiaceae yaitu senggugu (Clerodendrum laevifolium Blume), bunga pagoda (Clerodendrum japonicum (Thunb.) Sweet)), nona makan sirih (Clerodendrum thomsoniae Balf.f.), lavender (Lavandula angustifolia Mill.), dan kumis kucing (Orthosiphon aristatus (Blume) Miq.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakteristik morfologi lima spesies famili Lamiaceae di Kebun Raya Baturraden, mengetahui pengaruh lima spesies famili Lamiaceae di Kebun Raya Baurrraden terhadap kandungan metabolit sekunder, dan menentukan kandungan metabolit sekunder yang paling tinggi dari lima spesies famili Lamiaceae yang tumbuh di Kebun Raya Baturraden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik yang paling membedakan dari kelima spesies adalah arah tumbuh batang pada semua spesies tegak lurus, namun pada nona makan sirih merambat. Kandungan alkaloid tertinggi yaitu pada kumis kucing dengan rata-rata 42,051 mg QNE/L. Kandungan flavovoid tertinggi yaitu pada nona makan sirih dan bunga pagoda dengan rata-rata 148,519 mg QE/L dan 149,753 mg QE/L. | The Lamiaceae family has various types of secondary metabolites both from the flavonoid, tannin, phenolic, and essential oil groups. This study will use five species from the Lamiaceae family, namely senggugu (Clerodendrum laevifolium Blume), pagoda flower (Clerodendrum japonicum (Thunb.) Sweet)), nona makan sirih (Clerodendrum thomsoniae Balf.f.), lavender (Lavandula angustifolia Mill.), and cat whiskers (Orthosiphon aristatus (Blume) Miq.). This study aims to determine the differences in morphological characteristics of five species of the Lamiaceae family in Baturraden Botanical Garden, determine the effect of five species of the Lamiaceae family in Baurrraden Botanical Garden on the content of secondary metabolites, and determine the highest secondary metabolite content of five species of the Lamiaceae family growing in Baturraden Botanical Garden. The results showed that the most distinguishing characteristic of the five species is the direction of stem growth in all species perpendicular, but in nona eating betel creeping. The highest alkaloid content is in cat whiskers with an average of 42.051 mg QNE/L. The highest flavovoid content was in nona makan sirih and pagoda flower with an average of 148.519 mg QE/L and 149.753 mg QE/L. | |
| 45894 | 49263 | A1C021087 | ANALISIS PENGERINGAN CHIP UBI KAYU MENGGUNAKAN ALAT PENGERING ENERGI SURYA TIPE RAK | Ubi kayu memiliki masa simpan yang singkat setelah panen akibat kadar air yang tinggi sehingga mudah mengalami kerusakan. Oleh karena itu, penanganan pascapanen seperti pengeringan diperlukan untuk memperpanjang masa simpan dan menjaga kualitas bahan. Penelitian ini membandingkan pengeringan chip ubi kayu menggunakan alat pengering energi surya tipe rak dengan pengeringan konvensional. Tujuan penelitian adalah menganalisis karakteristik pengeringan chip ubi kayu menggunakan alat pengering energi surya tipe rak dengan pengeringan konvensional dan efisiensi alat pengering energi surya tipe rak pada pengeringan chip ubi kayu. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan dua perlakuan, yaitu pengeringan dengan alat pengering energi surya tipe rak (P1) dan pengeringan konvensional (P2), kedua perlakuan dilakukan dengan kapasitas bahan yang sama untuk memudahkan perbandingan. Variabel yang diukur meliputi iradiasi surya, suhu pengeringan, kelembaban udara, susut bobot, lama pengeringan, kadar air, laju pengeringan, dan efisiensi pengeringan. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan menggunakan uji T independent sample. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua metode berhasil menurunkan kadar air chip ubi kayu di bawah 12% sesuai standar SNI selama waktu pengeringan 12 jam. Pada alat pengering energi surya, kadar air awal 57,2%, 57,3%, dan 56,6% pada rak 1, 2, dan 3 berkurang masing-masing menjadi 3%, 5,6%, dan 3,7% dengan suhu rata-rata antara 39,1°C sampai 41,2°C. Sedangkan pada pengeringan konvensional kadar air turun dari 56% menjadi 3% dengan suhu rata-rata 37,4°C. Efisiensi alat pengering energi surya tipe rak tercatat sebesar 23%. Uji T menunjukkan terdapat perbedaan signifikan kadar air akhir antara pengeringan menggunakan alat pengering energi surya tipe rak dan pengeringan konvensional | Cassava has a short shelf life after harvest due to its high moisture content, making it prone to spoilage. Post-harvest handling such as drying is needed to extend shelf life and maintain quality. This study compares drying of cassava chips using a rack-type solar dryer and conventional sun drying. The objectives were to analyze the drying characteristics of cassava chips using a rack-type solar dryer and conventional sun drying and determine the efficiency of the rack-type solar dryer in drying cassava chips. An experimental method with two treatments was used: solar drying with a rack-type solar dryer (P1) and conventional drying (P2), each with the same chip capacity for comparison. Variables measured included solar radiation, drying temperature, air humidity, weight loss, drying time, moisture content, drying rate, and drying efficiency. Data were analyzed descriptively and tested using an independent samples t-test. Results showed both methods reduced cassava chip moisture content below 12%, meeting SNI standards within 12 hours. In the solar dryer, initial moisture contents of 57.2%, 57.3%, and 56.6% on racks 1, 2, and 3 decreased to 3%, 5.6%, and 3.7% respectively, with average temperatures between 39.1°C and 41.2°C. Conventional drying reduced moisture from 56% to 3% at an average temperature of 37.4°C. The efficiency of the rack-type solar dryer was 23%. Statistical analysis showed a significant difference in final moisture content between the solar dryer and conventional drying. | |
| 45895 | 49264 | J1C021010 | Perkembangan Karakter Tokoh Utama Anime Watashi No Shiawase Na Kekkon Karya Akumi Agitogi: Perspektif E.M. Forster | Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan karakter tokoh utama yaitu Miyo Saimori dalam anime Watashi no Shiawase na Kekkon. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan teori karakter bulat vs datar oleh E.M. Forster sebagai landasan teori. Data dikumpulkan melalui observasi dan analisis dialog serta adegan-adegan kunci yang merepresentasikan perkembangan karakter Miyo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Miyo mengalami perubahan signifikan yang tercermin dalam tiga karakteristik bulat dan satu karakteristik datar, yang menandakan bahwa Miyo berhasil mengembangkan karakternya secara kompleks dan realistis. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa seseorang dapat mengalami pertumbuhan pribadi melalui dukungan emosional, interaksi dengan karakter lain, adanya motivasi internal, dan penyelesaian konflik. | This study aims to describe the main character development of Miyo Saimori in the anime Watashi no Shiawase na Kekkon. This study uses a qualitative approach and E.M. Forster's round vs flat character theory as the theoretical foundation. Data were collected through observation and analysis of dialog and key scenes that represent Miyo's character development. The results showed that Miyo underwent significant changes reflected in three rounded characteristics and one flat characteristic, indicating that Miyo managed to develop her character in a complex and realistic manner. The conclusion of this study shows that a person can experience personal growth through emotional support, interaction with other characters, the presence of internal motivation, and conflict resolution. | |
| 45896 | 49262 | I2A023007 | Faktor- Faktor yang mempengaruhi Turnover Intention Perawat Di Rumah Sakit Swasta Purwokerto Tahun 2024 | FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TURNOVER INTENTION PERAWAT DI RUMAH SAKIT SWASTA PURWOKERTO TAHUN 2024 Latar Belakang: Tingkat turnover intention perawat di Rumah Sakit di Indonesia cukup tinggi, yakni melebihi 10% setiap tahunnya (di atas batas normal). Fenomena ini juga terjadi di Purwokerto, dimana pada tahun 2023 tingkat turnover melampaui ambang batas minimal 10% per tahun. Penyebab turnover intention perawat antara lain beban kerja, stres kerja, persepsi dukungan organisasi, kepuasan kerja, dan kompensasi. Turnover intention perawat dapat mengakibatkan berkurangnya perawat yang terlatih dan ahli di bidangnya. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 302 orang dari 6 rumah sakit swasta di Purwokerto. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified proporsional random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan analisis menggunakan regresi logistik biner dengan metode enter. Hasil: Analisis hubungan beban kerja, stres kerja, persepsi dukungan organisasi, kepuasan kerja, dan kompensasi terhadap turnover intention perawat menunjukkan nilai p<0,001. Analisis multivariat menggunakan metode enter menemukan bahwa beban kerja dan stres kerja memiliki pengaruh yang signifikan (p = 0,001), sedangkan dukungan organisasi yang dirasakan (p = 0,368), kepuasan kerja (p = 0,125), dan kompensasi (p = 0,175) tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara beban kerja, stres kerja, dukungan organisasi yang dirasakan, kepuasan kerja, dan kompensasi dengan turnover intention perawat. Namun, analisis multivariat menunjukkan bahwa beban kerja dan stres kerja secara simultan memengaruhi turnover intention perawat di rumah sakit. Kata Kunci : Kepuasan, kompenasasi, Perceived Organizational Support Turnover Intention ,Beban Kerja, Stres Kerja | FACTORS INFLUENCING NURSE TURNOVER INTENTION AT PRIVATE HOSPITALS IN PURWOKERTO IN 2024 Background : The turnover intention rate among nurses in hospitals in Indonesiais quite high, exceeding 10% annually (above the normal limit). This phenomenon also occurred in Purwokerto, where in 2023 theturnover rate exceeded the minimum threshold of 10% per year. Thecauses of nurse turnover intention include workload, work stress, perceived organizational support, job satisfaction, and Keywords: compensation. Nurse turnover intention can lead to a decrease intrained and expert nurses in their field. Methods : This study used across-sectional design with 302 respondents from 6 private hospitalsin Purwokerto. The sampling technique was stratified proportional random sampling. Data were collected using questionnaires, and theanalysis employed binary logistic regression with the enter method. Results: The analysis of the relationship between workload, workstress, perceived organizational support, job satisfaction, and compensation on nurse turnover intention showed a p-value <0.001. Multivariate analysis using the enter method found that workloadand work stress had significant effects (p = 0.001), while perceived organizational support (p = 0.368), job satisfaction (p = 0.125), and compensation (p = 0.175) did not have significant effects. Conclusion: There is a relationship between workload, work stress, perceived organizational support, job satisfaction, and compensation with nurse turnover intention. However, multivariate analysis shows that workload and work stress simultaneously influence nurse turnover intention in hospitals Keyword : Compensation, Perceived Organizational Support, Turnover Intention,Work Stress,Workload | |
| 45897 | 49269 | H1B021026 | PERBANDINGAN WIREMESH SLAB DENGAN COMPOSITE SLAB PC STRAND KADAR 1,5 % DAN PC STRAND SLAB KADAR 1,5% MUTU K-350 TERHADAP KAPASITAS ULTIMIT DAN DEFLEKSI PADA PERKERASAN KAKU JALAN PEDESAAN | Salah satu model perkuatan perkerasan kaku yaitu dengan penambahan serat baja atau biasa disebut dengan Steel Fiber Reinforced Concrete (SFRC). Beton dapat diperkuat dengan serat baja (steel-fibre) untuk meningkatkan kuat tarik lenturnya dan mengendalikan retak pada pelat khususnya. Salah satu serat baja yang dapat digunakan adalah limbah pc strand. Penelitian ini melakukan pengujian 6 benda uji silinder untuk pengujian early strength dengan varian pc strand 0% dan 1,5% masing – masing 3 silinder, dan benda uji slab untuk pengujian kapasitas ultimit dan defleksi masing - masing 3 benda uji dengan varian slab dengan varian pc strand 0% perkuatan wiremesh (Wiremesh Slab), slab dengan varian pc strand 1,5% perkuatan wiremesh (SFRC 1,5% Composite Slab), dan slab dengan varian pc strand 1,5% tanpa perkuatan tulangan (SFRC 1,5% PC Strand Slab). Hasil pengujian kapasitas ultimit menunjukkan Wiremesh Slab , SFRC 1,5% Composite Slab dan SFRC 1,5% PC Strand Slab masing – masing sebesar 104,477 kN; 96,138 kN; dan 94,235 kN. Pada pengujian defleksi pada beban yang sama menunjukkan Wiremesh Slab masih lebih optimal menahan defleksi dibandingkan SFRC 1,5% Composite Slab dan SFRC 1,5% PC Strand Slab. Untuk pola retak pada Wiremesh Slab dan SFRC 1,5% Composite Slab memiliki pola retak yang menyebar (retak lentur) dan lebar retakan tipis yang menunjukkan bahwa beban terdistribusi merata dengan baik. Sedangkan pada SFRC 1,5% PC Strand Slab menunjukkan pola retak yang menyebar dan retakan lebih lebar dibandingkan variasi slab lainnya, hal ini disebabkan pada slab tersebut tidak diperkuat dengan tulangan sehingga beban kurang terdistribusi dengan baik. | The road damage problems that have occurred in the field for years indicate that the current road performance does not meet expectations. This indicates the need for research to strengthen rigid pavement structures to improve structural durability. One model for reinforcing rigid pavements is by adding fibers to the rigid pavement, such as adding steel fibers, commonly known as Steel Fiber Reinforced Concrete (SFRC). Concrete can be reinforced with steel fibers to increase its flexural tensile strength and control cracking, particularly in the slab. One of the steel fibers that can be used is PC strand waste. This study tested slab specimens with 0% and 1.5% PC strand variations, totaling 9 specimens. Three samples were wiremesh-reinforced slabs with 0% PC strand (Wiremesh Slab), another three samples were wiremesh-reinforced slabs with 1.5% PC strand (SFRC 1.5% Composite Slab), and the remaining three samples were slabs with 1.5% PC strand without reinforcement (SFRC 1.5% PC Strand Slab). The test results showed that the wiremesh slab was still more optimal in withstanding ultimate load and deflection compared to the SFRC 1.5% composite slab and the SFRC 1.5% PC strand slab. The crack patterns in the wiremesh slab and the SFRC 1.5% composite slab were widespread (flexural cracks) and the crack widths were thin, indicating that the load was well distributed. In contrast, the SFRC 1.5% PC strand slab showed widespread cracks and wider crack widths compared to the other slab variations, which was due to the lack of reinforcement in that slab, resulting in poor load distribution | |
| 45898 | 49270 | H1B021056 | Analisis Pengaruh Sebaran Banjir DAS Kendal dan DAS Buntu terhadap Potensi Kerusakan Lahan Menggunakan Pemodelan HEC-RAS 2D | Banjir merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Kerusakan lahan akibat banjir dapat berdampak pada berbagai sektor, terutama sektor ekonomi dan lingkungan. Oleh karena itu, analisis terhadap pola dan sebaran genangan banjir penting dilakukan untuk memahami potensi kerusakan lahan yang terjadi diwilayah DAS Kendal dan DAS Buntu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sebaran banjir DAS Kendal dan DAS Buntu terhadap potensi kerusakan lahan dengan untuk memperoleh gambaran terkait dampak banjir dan rencana penanggulangan bencana di wilayah tersebut. Sebaran banjir DAS Kendal dan DAS Buntu diperoleh menggunakan pemodelan software HEC-RAS 2D dengan debit banjir rancangan yang dimodelkan menggunakan software HEC-HMS. Data untuk pemodelan debit banjir rancangan yaitu hujan jam-jaman Alternating Block Method (ABM) yang menggunakan curah hujan rancangan dari distribusi Gumbel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas genangan banjir DAS untuk debit periode ulang 2 tahun yaitu sebesar 683,259 ha, sedangkan untuk debit banjir periode ulang 25 tahun sebesar 806,50 ha dengan lahan yang berpotensi mengalami kerusakan yaitu tambak, sawah, dan permukiman. Luas genangan banjir DAS Buntu untuk debit banjir periode ulang 2 tahun sebesar 589,90 ha, sedangkan untuk debit banjir periode ulang 25 tahun sebesar 973,19 ha dengan lahan yang berpotensi mengalami kerusakan yaitu tambak, sawah, permukiman, dan pertanian lahan kering. | Flooding is a frequent natural disaster in Indonesia, and the resulting land damage can significantly affect various sectors, particularly the economy and the environment. Therefore, analyzing the patterns and distribution of flood inundation is crucial for understanding the potential land damage in the Kendal watershed and Buntu watershed areas. This research aims to analyze the influence of flood distribution in the Kendal and Buntu watersheds on potential land damage to provide an overview of flood impacts and disaster mitigation plans in these regions. The flood distribution for the Kendal and Buntu watersheds was obtained using HEC-RAS 2D software modeling with design flood discharge modeled by HEC-HMS software. The data for design flood discharge modeling utilized hourly rainfall from the Alternating Block Method (ABM), which incorporated design rainfall derived from the Gumbel distribution. The results showed that the flood inundation area of the watershed for the 2-year return period discharge amounted to 683.259 ha, while for the 25-year return period flood discharge amounted to 806.50 ha with potentially damaged land, namely ponds, rice fields, and settlements. The flood inundation area of the Buntu watershed for the 2-year return period flood discharge amounted to 589.90 ha, while for the 25-year return period flood discharge amounted to 973.19 ha with potentially damaged land, namely ponds, rice fields, settlements, and dry land agriculture. | |
| 45899 | 49265 | H1B021054 | STUDI EKSPERIMENTAL KAPASITAS KOLOM KAYU DENGAN PERKUATAN EXTERNALLY BONDED-FIBER REINFORCED POLYMER (FRP) | Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sifat fisik dan mekanis kayu rambutan dengan perkuatan Fiber Reinforced Polymer (FRP) yang ditekan dengan UTM. Jumlah benda uji kontrol yang tidak dibalut FRP (R) sebanyak 3 buah dan benda uji yang dibalut FRP dengan perletakan FRP yang berbeda-beda sebanyak 9 buah.Hasil pengujian kayu perkuatan FRP menunjukkan adanya peningkatan kapasitas kolom yang signifikan. Kayu dengan perkuatan meningkat hingga 170% dibandingkan dengan benda uji kontrol. Berdasarkan hasil pengujian, perkuatan FRP pada kolom kayu dapat meningkatkan kapasitas kolom kayu dan kekakuannya. Hal ini menunjukkan bahwa perkuatan FRP pada kolom kayu dapat diaplikasikan pada struktur kayu yang menerima beban ekstrim seperti gempa bumi. | This study was conducted to determine the physical and mechanical properties of rambutan wood with Fiber Reinforced Polymer (FRP) reinforcement pressed with UTM. The number of control test specimens not wrapped in FRP (R) was 3 pieces and test specimens wrapped in FRP with different FRP placements were 9 pieces. The results of the FRP-reinforced timber test showed a significant increase in column capacity. Reinforced timber increased by 170% compared to the control test specimen. Based on the test results, FRP reinforcement on timber columns can increase the capacity of timber columns and their stiffness. This shows that FRP reinforcement on wooden columns can be applied to wooden structures that receive extreme loads such as earthquakes. | |
| 45900 | 49266 | J1B021011 | Pengaruh Arketipe Terhadap Perilaku Tokoh Utama dalam Novel Jatuh ke Matahari Karya Djokolelono | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh arketipe terhadap perilaku tokoh utama novel Jatuh ke Matahari karya Djokolelono. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikologi sastra. Penelitian ini menggunakan teknik kepustakaan dengan tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sumber data pada penelitian ini berupa kutipan novel Jatuh ke Matahari yang menunjukkan adanya arketipe yang memberikan pengaruh terhadap perilaku tokoh utama. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku dan sifat tokoh utama dipengaruhi oleh arketipe. Pada tokoh Sweta ditemukan arketipe persona, bayangan, dan anima yang memiliki pengaruh terhadap perilakunya. Persona menjadi topeng sosial yang digunakan Sweta untuk menjaga citra diri, bayangan menekan Sweta untuk bertindak secara instingtif, dan anima menunjukkan sisi feminin dalam diri Sweta. Persona membuat Sweta menunjukkan sisi tegas, berwibawa, dan patuh agar mendapat nilai bagus untuk naik kelas. Bayangan Sweta menekannya untuk melakukan tindakan berbahaya yang didasari oleh sisi gelapnya. Anima dalam diri Sweta membuat sisi emosionalnya muncul saat menghadapi sebuah kenyataan memilukan. Pada tokoh Adrian ditemukan arketipe bayangan atau shadow yang mendominasi. Bayangan tokoh Adrian bahkan menguasai dan membuatnya tenggelam dalam sisi gelapnya. Ia menjadi arogan, apatis, dan egois dengan mementingkan kepentingan pribadinya. | The purpose of this research is to analyze the influence of archetypes to the main character’s behaviour in the novel Jatuh ke Matahari by Djokolelono. The method is qualitative descriptive with a literary psychology approach. This research applied library techniques with procedures of data reduction, data presentation, and drawing conclusion. The source of the data come from excerpts of the novel Jatuh ke Matahari, which highlight the presence of archetypes that influencing the main characters' behaviour. The results of this research shows that the behaviour and traits of the main characters are influenced by archetypes. For the character Sweta, the archetypes of Persona, Shadow, and Anima have big impacts to his behaviour. The persona as a social mask is used to maintain a good image, the Shadow press him to act instinctively, and the Anima reflects Sweta's feminine side. Sweta's Persona drives him to display firmness, authority, and obedience to achieve good grades and advance to the next level. His Shadow compels him to take dangerous actions driven by his darker nature. Meanwhile, the Anima brings out his emotional side when faced with heartbreaking realities. For the character Adrian, the Shadow archetype dominates. Adrian's Shadow overwhelms him, plunging him into his dark side. He becomes arrogant, apathetic, and selfish, prioritizing his own goal. |