Artikelilmiahs

Menampilkan 42.181-42.200 dari 48.852 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4218145547K1B017020Penentuan Gaji Tutor di Pusat Kegiatan Belajar Mengajar Budi Luhur dengan Sistem Inferensi Fuzzy metode TsukamotoPada penelitian ini dibahas penerapan metode Tsukamoto untuk menentukan gaji tutor di Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Budi Luhur Pekaja dengan menggunakan 3 variabel input yaitu jumlah jam pelajaran, jumlah jabatan, dan masa kerja, serta 1 variabel output yaitu gaji tutor per bulan. Perhitungan untuk menentukan gaji tutor dapat dilakukan secara manual maupun komputasi dengan menggunakan MATLAB. Data yang digunakan adalah data kriteria tutor yang mengajar di PKBM Budi Luhur Pekaja. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa gaji tertinggi yang diperoleh tutor adalah sebesar Rp925.000,-, dan gaji terendah adalah sebesar Rp620.000,-. Sebanyak 6 tutor mendapat gaji yang termasuk pada golongan 3, dan 7 tutor termasuk pada golongan 2. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata gaji tutor di PKBM Budi Luhur Pekaja adalah termasuk pada golongan 2.
This study discusses the application of the Tsukamoto method to determine the salaries of tutors at the Budi Luhur Pekaja Learning and Teaching Activity Center (LTAC) using three input variables: number of teaching hours, number of positions, and length of service, as well as one output variable: monthly tutor salary. The calculation for determining the tutor's salary can be performed manually or through computational using MATLAB. The data used are the criteria for tutors teaching at LTAC Budi Luhur Pekaja. From this research, it can be concluded that the highest salary received by a tutor is IDR 925,000, while the lowest salary is IDR 620,000. A total of 6 tutors fall into category 3, and 7 tutors fall into category 2. This indicates that the average tutor salary at LTAC Budi Luhur Pekaja falls into category 2.
4218245545K1B020023Perbandingan Metode SAW dan Metode TOPSIS Dalam Menganalisis Kelayakan Pemberian Kredit di PT Mitranet Software OnlinePrinsip C6 yaitu penilaian yang digunakan oleh lembaga keuangan untuk menilai kelayakan pemberian kredit dari calon nasabah. Penilaian ini mencakup enam faktor yaitu character, capacity, cashflow, capital, conditions, dan collateral dari nasabah. C6 Analisa Kredit Online merupakan aplikasi PT Mitanet Software Online (PT MSO) yang berfungsi untuk menganalisis kelayakan pemberian kredit. Aplikasi C6 Analisa Kredit Online menerapkan prinsip C6 dan menggunakan metode Simple Additive Weighting (SAW) dalam perhitungannya. Metode SAW atau dikenal dengan istilah metode penjumlahan terbobot merupakan salah satu metode Multiple Attribute Decision Making (MADM) yang memiliki konsep dasar mencari penjumlahan terbobot dari rating kinerja pada setiap alternatif pada semua atribut. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metode SAW yang sudah digunakan oleh PT MSO dengan metode Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS). Metode TOPSIS merupakan metode yang didasarkan pada konsep dimana alternatif terpilih yang terbaik tidak hanya memiliki jarak terpendek dari solusi ideal positif, namun juga memiliki jarak terpanjang dari solusi ideal negatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode TOPSIS lebih akurat dalam menganalisis kelayakan kredit dibandingkan metode SAW, dengan tingkat akurasi 0,922 dan F1-Score 0,953, sedangkan metode SAW memiliki akurasi 0,859 dan F1-Score 0,921.
Kata kunci: prinsip C6, atribut, ideal positif, ideal negatif, F1-Score.
The C6 principle refers to the assessment used by financial institutions to evaluate the creditworthiness of prospective borrowers. This assessment includes six factors: character, capacity, cash flow, capital, conditions, and collateral of the borrower. C6 Credit Analysis Online is an application developed by PT Mitranet Software Online (PT MSO) that functions to analyze creditworthiness. The C6 Credit Analysis Online application applies the C6 principle and uses the Simple Additive Weighting (SAW) method in its calculations. The SAW method, also known as the weighted sum method, is one of the Multiple Attribute Decision Making (MADM) methods, which is based on the concept of finding the weighted sum of performance ratings for each alternative across all attributes. This study aims to compare the SAW method, which has been used by PT MSO, with the Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) method. The TOPSIS method is based on the concept that the best alternative is the one that has the shortest distance from the positive ideal solution and the longest distance from the negative ideal solution. The results of the study show that the TOPSIS method is more accurate in analyzing creditworthiness compared to the SAW method, with an accuracy rate of 0.922 and an F1-Score of 0.953, whereas SAW method has an accuracy of 0.859 and an F1-Score of 0.921.
Keywords: C6 principle, attributes, positive ideal, negative ideal, F1-Score.
4218345549J1C020042Hasrat Tokoh Hanaoka Nao dalam Drama Watashitachi wa Douka Shiteiru (Kajian Psikoanalisis Lacanian)Penelitian ini membahas tentang hasrat tokoh utama dalam drama Watashitachi wa Douka Shiteiru berdasarkan teori psikoanalisis Lacan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan 1) Liyan (the Other), dan 2) pembentukan hasrat narsisistik dan hasrat anaklitik melalui penanda utama (master signifier) dan objet petit α (objek-penyebab-hasrat), pada tokoh utama Hanaoka Nao sebagai subjek yang berkekurangan dalam drama Watashitachi wa Douka Shiteiru. Lacan merumuskan tiga landasan pembeda hasrat pada tatanan simbolik, imajiner, dan real (fantasi), di antaranya membahas pembentukan hasrat berdasarkan objek ‘keliyanan’-nya. Data dalam penelitian ini berupa tangkapan layar adegan dan transkrip dialog yang berkaitan dengan hasrat tokoh utama dalam drama Watashitachi wa Douka Shiteiru. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, dengan mendeskripsikan dan menggambarkan fenomena-fenomena dalam data melalui interpretasi dan pendekatan naturalistik. Sebagai subjek berkekurangan, manifestasi hasrat Hanaoka Nao merupakan hasil represi dan kondensasi atas keterpisahannya dengan sosok ibu (penanda maternal). Adapun hasil dari penelitian ini yaitu ditemukannya hasrat narsisistik aktif, hasrat narsisistik pasif, dan hasrat anaklitik aktif pada tatanan simbolik beserta penanda ‘sakura’, ‘wagashi-shokunin’, dan ‘kogetsuan’ yang menjadi kekuatan pendorong hasrat. Selanjutnya, ditemukan objek α, yaitu ‘wagashi’ yang berperan dalam pembentukan hasrat narsisistik aktif dan pasif pada tatanan real (fantasi).This research discusses about the desire of the main character in Japanese drama Watashitachi wa Douka Shiteiru through Lacan’s theory of psychoanalysis. The purpose of this research is to describe 1) the Other, and 2) the formation of narcissistic desires and anaclitic desires through master signifier and objet petit α (object-cause-of desire), of Hanaoka Nao as the main character with a lack of being in Japanese drama Watashitachi wa Douka Shiteiru. Lacan formulated three fundamental point to distinguish desire in the symbolic, imaginary, and real orders, which includes discussing the formation of desire based on the object of 'otherness'. The data in this research are in the form of screenshots of scenes and dialog transcripts related to the main character's desires in Japanese drama Watashitachi wa Douka Shiteiru. The used method is a qualitative descriptive method, specifically by describing and representing the phenomena in the data through interpretation and a naturalistic approach. As a deficient subject, Hanaoka Nao's manifestation of desires are the result of repression and condensation of her separation from her mother figure as a maternal signifier. The results of this research are the identification of active narcissistic desire, passive narcissistic desire, and active anaklitik desire on the symbolic order along with the signifiers 'sakura', 'wagashi-shokunin', and 'kogetsuan' which become the driving force of desire. Furthermore, the α-object 'wagashi' was found to play a role in the formation of active and passive narcissistic desire at the real order.
4218445550I1D020079HUBUNGAN PENGETAHUAN, TINGKAT KONSUMSI DAN ASUPAN GULA MINUMAN MANIS DENGAN STATUS GIZI REMAJA DI BANYUMASLatar Belakang : Pada wilayah Banyumas prevelensi gizi lebih pada remaja sebesar 52,9%. Permasalahan gizi lebih pada remaja dapat disebakan oleh faktor konsumsi minuman manis yang dapat dipengaruhi oleh pengetahuan gizi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan minuman berpemanis dan tingkat konsumsi minuman manis dengan status gizi pada remaja di Banyumas.
Metodologi : Penelitian Cross Sectional melibatkan 100 remaja SMA Negeri 1 Jatilawang dan SMA Negeri 2 Purwokerto dilakukan pada bulan Mei 2024. Pengambilan data melalui wawancara menggunakan kuesioner pengetahuan minuman berpemanis dan SQ – FFQ minuman berpemanis pada satu bulan terakhir. Responden melakukan pengukuran antropometri (TB dan BB) guna mengetahui status gizi.
Hasil penelitian : Hasil uji Chi Square menunjukkan terdapat hubungan antara pengetahuan minuman berpemanis dengan status gizi (p = 0,025). Terdapat hubungan antara tingkat konsumsi minuman berpemanis dengan status gizi (p = 0,049). Tidak terdapat hubungan antara rata - rata asupan gula terhadap status gizi (p = 0,111).
Kesimpulan : Terdapat hubungan pengetahuan minuman berpemanis dengan status gizi dan terdapat hubungan antara tingkat konsumsi minuman berpemanis dengan status gizi. Tidak terdapat hubungan konsumsi asupan gula dari minuman berpemanis dengan status gizi.
Background : In the Banyumas area, the prevalence of overnutrition among teenagers is 52.9%. The problem of overnutrition in teenagers can be caused by the consumption of sweet drinks which can be influenced by nutritional knowledge. The research aims to determine the relationship between knowledge of sweetened drinks and the level of consumption of sweetened drinks with the nutritional status of adolescents in Banyumas.
Methods : Cross Sectional research involving 100 teenagers from SMA Negeri 1 Jatilawang and SMA Negeri 2 Purwokerto was conducted in May 2024. Data were collected through interviews using a questionnaire on knowledge of sweetened drinks and SQ – FFQ of sweetened drinks in the last month. Respondents took anthropometric measurements (TB and BW) to determine nutritional status.
Results : Chi Square test results show that there is a relationship between knowledge of sweetened drinks and nutritional status (p = 0.025). There is a relationship between the level of consumption of sweetened drinks and nutritional status (p = 0.049). There was no relationship between average sugar intake and nutritional status (p = 0.111).
Conclusion : There is a relationship between knowledge of sweetened drinks and nutritional status and there is a relationship between the level of consumption of sweetened drinks and nutritional status. There was no relationship between sugar intake from sweetened drinks and nutritional status.

4218545551D1A020071Hubungan Antara Paritas dan Tipe Kelahiran Terhadap Bobot Pra Sapih Cempe Kambing Lokal di Kecamatan Pengadegan Kabupaten PurbalinggaIlham Abdul Rozzak. Hubungan antara paritas dan tipe kelahiran terhadap bobot prasapih cempe kambing lokal di  Kecamatan Pengadegan Kabupaten Purbalingga. Tujuan penelitian untuk mengetahui paritas, tipe kelahiran dan bobot pra sapih cempe kambing Jawarandu dan Kejobong, serta pengaruh paritas dan tipe kelahiran terhadap bobot pra sapih cempe kambing Jawarandu dan Kejobong. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 27 Mei sampai 16 Juni 2024 di Kelompok Tani Ternak Kecamatan Pengadegan, Kabupaten Purbalingga. Pengambilan sampel dan penentuan wilayah penelitian dilakukan dengan metode purposive sampling. Sampel terdiri dari kambing Jawarandu 30 ekor dan kambing Kejobong 30 ekor dengan kriteria telah beranak dan memiliki cempe pra sapih berumur maksimal 90 hari. Variabel yang diukur yaitu paritas (1-4), tipe kelahiran (tunggal dan kembar), serta bobot pra sapih cempe kambing Jawarandu dan kambing Kejobong. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif, regresi linier berganda variabel Dummy, uji t dan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan persentase populasi pada paritas induk kambing Jawarandu diperoleh paritas kesatu 56,67%, kedua 36,67%, dan ketiga 6,67%, tipe kelahiran tunggal dan kembar masing-masing 50%, serta rataan dan simpang baku bobot pra sapih 9,94±3,26 kg/ekor. Kambing Kejobong memiliki persentase populasi pada paritas kesatu 20%, kedua 23,33%, ketiga 40%, dan keempat 16,66%, tipe kelahiran tunggal sebesar 46,67%, kembar 53,33%, serta rataan dan simpang baku bobot pra sapih 8,78±2,70 kg/ekor. Paritas dan tipe kelahiran tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot pra sapih cempe kambing Jawarandu dengan korelasi rendah sebesar 0,40 dan koefisien determinasi sebesar 16%. Paritas dan tipe kelahiran tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot pra sapih cempe kambing Kejobong dengan korelasi agak rendah sebesar 0,38 dan koefisien determinasi sebesar 14,53%. Paritas kambing Jawarandu dan Kejobong berbeda (P<0,05), sedangkan tipe kelahiran tidak berbeda (P>0,05). Bobot pra sapih cempe kambing Jawarandu dan kambing Kejobong menunjukkan ada perbedaan yang signifikan (P<0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hubungan paritas dan tipe kelahiran terhadap bobot pra sapih cempe pada kambing Jawarandu dan kambing Kejobong positif dan relatif sama.Ilham Abdul Rozzak. The relationship between parity and birth type on pre-weaning weight of local goats in Pengadegan District, Purbalingga Regency. The aim of the research was to determine parity, birth type and pre-weaning weight of Jawarandu and Kejobong cempe goats, as well as the influence of parity and birth type on pre-weaning weight of Jawarandu and Kejobong cempe goats. The research was carried out from 27 May to 16 June 2024 in the Livestock Farmers Group, Pengadegan District, Purbalingga Regency. Sampling and determining the research area was carried out using the purposive sampling method. The sample consisted of 30 Jawarandu goats and 30 Kejobong goats with the criteria of having given birth and having a maximum age of 90 days before weaning. The variables measured were parity (1-4), birth type (single and twins), and pre-weaning weight of Cempe Jawarandu goats and Kejobong goats. The data obtained were analyzed using descriptive analysis, multiple linear regression with Dummy variables, t test and chi square test. The results of the research showed that the percentage of the population in the parent parity of Jawarandu goats was obtained by first parity 56.67%, second 36.67%, and third 6.67%, single and twin birth types each 50%, as well as the mean and standard deviation of pre-weaning weight 9.94 ± 3.26 kg/head. Kejobong goats have a population percentage in the first parity of 20%, second 23.33%, third 40%, and fourth 16.66%, single birth type of 46.67%, twins 53.33%, and the average and standard deviation of pre weaning 8.78±2.70 kg/head. Parity and type of birth had no significant effect (P>0.05) on pre-weaning weight of Jawarandu goats with a low correlation of 0.40 and a coefficient of determination of 16%. Parity and type of birth had no significant effect (P>0.05) on the pre-weaning weight of Kejobong goats with a rather low correlation of 0.38 and a coefficient of determination of 14.53%. The parity of Jawarandu and Kejobong goats was different (P<0.05), while birth type was not different (P>0.05). The pre-weaning weights of Cempe Jawarandu goats and Kejobong goats showed a significant difference (P<0.05). Based on the research results, it can be concluded that the relationship of parity and type of birth on the pre-weaning weight of cempe in Jawarandu goats and Kejobong goats is positive and relatively the same.
4218645552I1D020053HUBUNGAN ASUPAN PROTEIN, SIKLUS, DURASI, DAN VOLUME DARAH MENSTRUASI TERHADAP ANEMIA REMAJA PUTRILatar Belakang : Anemia merupakan masalah kekurangan gizi yang banyak terjadi pada remaja putri. Asupan protein dan kehilangan darah menjadi salah satu faktor yang dapat menyebabkan anemia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat asupan protein, siklus, durasi, dan volume darah menstruasi terhadap kejadian anemia.
Metodologi : Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan teknik cluster random sampling sebanyak 70 responden dengan kriteria inklusi-ekslusi. Penelitian ini menggunakan SQ-FFQ untuk mengetahui tingkat asupan protein; kuesioner siklus, durasi, volume darah menstruasi untuk mengetahui riwayat menstruasi, Hb Meter Sejoy untuk mengetahui kadar Hb, serta aplikasi SPSS 26 untuk menganalisis data. Penelitian ini menggunakan uji Chi-Square dan Likelihood-Ratio dengan tingkat kepercayaan 95%.
Hasil Penelitian : Sebanyak 70% responden mengalami anemia; 88,6% memiliki asupan protein kurang; 68,6% memiliki siklus menstruasi tidak berisiko; 57,1% memiliki durasi menstruasi tidak berisiko; dan 60% memiliki volume darah menstruasi tidak berisiko. Tidak terdapat hubungan antara tingkat asupan protein (0,816) dan siklus menstruasi (0,736) terhadap kejadian anemia. Terdapat hubungan antara durasi (0,035) dan volume darah menstruasi (0,019) terhadap kejadian anemia.
Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan antara tingkat asupan protein dan siklus menstruasi terhadap kejadian anemia. Terdapat hubungan antara durasi dan volume darah menstruasi terhadap kejadian anemia.
Background : Anemia is a nutritional deficiency problem that occurs in many adolescent girls. The factors that can cause anemia is nutrient intake and blood loss. The purpose of this study was to determine correlation between the level of protein intake, cycle, duration, and volume of menstrual blood to the incidence of anemia in adolescent girls at SMP Negeri 6 Purwokerto.
Methodology : This study used a cross sectional approach and cluster random sampling technique of 70 respondents with inclusion-exclusion criteria. This study used SQ-FFQ to determined the level of protein intake, cycle questionnaire, duration, menstrual blood volume to determined the menstruation history, Sejoy Hb Meter to determined Hb levels, and SPSS 26 application to analyzed all data. This study used Chi-Square and Likelihood-Ratio tests with a 95% confidence level.
Results : A total of 70% of respondents experienced anemia; 88.6% had an insufficient level of protein intake; 68.6% had a menstrual cycle that was not at risk; 57.1% had a menstrual duration that was not at risk; and 60% had a menstrual blood volume that was not at risk of anemia. There was no correlation between the level of protein intake (0.816) and the menstrual cycle (0.736) on the incidence of anemia. There was a correlation between duration (0.035) and menstrual blood volume (0.019) on the incidence of anemia.
Conclusion : There was no correlation between the level of protein intake and the menstrual cycle on the incidence of anemia. There was a correlation between duration and menstrual blood volume on the incidence of anemia.
4218745553C1I017010The Influence of Capital, Raw Materials, and Labor on Levels of Production at the Convection Industry in Cilacap RegencyPenelitian ini berfokus pada sektor bisnis konveksi pakaian di Kabupaten Cilacap dengan tujuan menganalisis pengaruh modal, bahan baku, dan tenaga kerja terhadap tingkat produksi. Industri konveksi di Cilacap memiliki peran penting dalam perekonomian lokal, memberikan lapangan pekerjaan, dan memenuhi kebutuhan pasar pakaian baik lokal maupun nasional. Pemahaman mendalam tentang faktor-faktor yang mempengaruhi produksi sangat penting untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas industri tersebut.
Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada 40 unit usaha konveksi di Cilacap dari 6 Juni hingga 26 Juni 2024. Kuesioner ini dirancang untuk mengumpulkan informasi rinci mengenai modal, bahan baku, tenaga kerja, dan tingkat produksi. Responden hanya meliputi pemilik usaha saja yang memiliki pemahaman mendalam tentang operasional dan data finansial usaha.
Penelitian ini menggunakan berbagai uji statistik untuk memastikan keakuratan dan keandalan data yang diperoleh. Langkah pertama adalah uji normalitas untuk memastikan bahwa data memiliki distribusi normal, yang memungkinkan penggunaan metode statistik parametris yang lebih kuat. Selanjutnya, uji multikolinieritas dilakukan untuk memastikan tidak ada hubungan linear yang kuat antar variabel independen. Multikolinieritas yang tinggi dapat mengganggu interpretasi hasil regresi karena pengaruh masing-masing variabel menjadi sulit dipisahkan. Oleh karena itu, penting untuk memastikan variabel-variabel ini cukup independen satu sama lain. Uji reliabilitas dengan koefisien Cronbach's Alpha menilai konsistensi jawaban responden. Nilai tinggi koefisien ini menunjukkan bahwa kuesioner dapat diandalkan. Uji koefisien determinasi (R²) mengukur seberapa besar variabel independen menjelaskan variabel dependen. Nilai R² yang tinggi menunjukkan model regresi yang baik dalam menjelaskan variabilitas data.
Hasil analisis menunjukkan bahwa tenaga kerja memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat produksi konveksi pakaian di Cilacap, sementara modal dan bahan baku tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Temuan ini menyoroti pentingnya tenaga kerja dalam meningkatkan produksi. Efisiensi tenaga kerja meliputi keterampilan dan produktivitas pekerja. Pekerja yang terampil dapat mengoperasikan mesin lebih efisien, mengurangi kesalahan produksi, dan meningkatkan kecepatan produksi. Oleh karena itu, pelatihan dan pengembangan tenaga kerja sangat penting. Pelatihan yang sesuai dapat meningkatkan keterampilan pekerja dan output produksi, mengurangi biaya produksi per unit, dan meningkatkan keuntungan. Efisiensi tenaga kerja juga dapat meningkatkan kualitas produk akhir, yang pada gilirannya meningkatkan kepuasan pelanggan dan memperluas pangsa pasar.
Meskipun modal dan bahan baku tidak menunjukkan pengaruh signifikan, tetap penting untuk mempertahankan investasi yang memadai dalam kedua aspek tersebut. Modal mendukung operasi harian dan kapasitas produksi, sementara bahan baku berkualitas memastikan produk akhir yang berkualitas tinggi. Investasi dalam teknologi dan peralatan baru juga dapat membantu meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas produk, meskipun tidak secara langsung diidentifikasi sebagai faktor signifikan dalam penelitian ini.
Kesimpulannya, fokus utama harus diberikan pada peningkatan efisiensi tenaga kerja. Pelaku usaha konveksi disarankan untuk menginvestasikan lebih banyak sumber daya dalam pelatihan dan pengembangan keterampilan pekerja. Program pelatihan yang terstruktur dan berkelanjutan membantu pekerja menjadi lebih produktif. Pembuat kebijakan juga bisa mendukung industri konveksi dengan merancang program pelatihan tenaga kerja yang sesuai, memberikan insentif bagi perusahaan yang berinvestasi dalam pengembangan tenaga kerja, dan menciptakan regulasi yang mendukung pertumbuhan industri. Kerjasama antara pemerintah, industri, dan lembaga pendidikan dalam menciptakan kurikulum pelatihan yang relevan dan berbasis kebutuhan industri akan sangat bermanfaat.
Penelitian ini menegaskan bahwa tenaga kerja adalah faktor paling signifikan dalam menentukan tingkat produksi industri konveksi di Cilacap. Dengan meningkatkan keterampilan dan produktivitas tenaga kerja, diharapkan industri konveksi di wilayah ini terus berkembang dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah. Penelitian lebih lanjut dapat mengeksplorasi faktor lain yang mungkin mempengaruhi produksi, seperti teknologi dan manajemen operasional, serta menguji temuan ini di sektor atau daerah lain. Mengadopsi praktik manajemen terbaik dan teknologi inovatif dapat memberikan wawasan tambahan yang berharga untuk memperkuat daya saing industri konveksi di Cilacap.
This study focuses on the garment business sector in Cilacap Regency with the aim of analyzing the effect of capital, raw materials, and labor on production levels. The garment industry in Cilacap plays an important role in the local economy, providing jobs, and meeting the needs of both local and national clothing markets. A deep understanding of the factors that influence production is essential to improve the efficiency and productivity of the industry.
Data were collected through questionnaires distributed to 40 garment business units in Cilacap from June 6 to June 26, 2024. This questionnaire was designed to collect detailed information on capital, raw materials, labor, and production levels. Respondents only included business owners who had a deep understanding of business operations and financial data.
This study uses various statistical tests to ensure the accuracy and reliability of the data obtained. The first step is the normality test to ensure that the data has a normal distribution, which allows the use of more robust parametric statistical methods. Furthermore, a multicollinearity test was carried out to ensure that there was no strong linear relationship between the independent variables. High multicollinearity can interfere with the interpretation of regression results because the influence of each variable becomes difficult to separate. Therefore, it is important to ensure that these variables are sufficiently independent of each other. The reliability test with the Cronbach's Alpha coefficient assesses the consistency of respondents' answers. A high value of this coefficient indicates that the questionnaire is reliable. The coefficient of determination (R²) test measures how much the independent variables explain the dependent variable. A high R² value indicates a good regression model in explaining data variability.
The results of the analysis show that labor has a significant influence on the level of clothing convection production in Cilacap, while capital and raw materials do not show a significant influence. This finding highlights the importance of labor in increasing production. Labor efficiency includes worker skills and productivity. Skilled workers can operate machines more efficiently, reduce production errors, and increase production speed. Therefore, training and development of the workforce are very important. Appropriate training can improve worker skills and production output, reduce production costs per unit, and increase profits. Labor efficiency can also improve the quality of the final product, which in turn increases customer satisfaction and expands market share.
Although capital and raw materials do not show significant influence, it is still important to maintain adequate investment in both aspects. Capital supports daily operations and production capacity, while quality raw materials ensure high-quality end products. Investment in new technology and equipment can also help improve production efficiency and product quality, although not directly identified as significant factors in this study.
In conclusion, the main focus should be given to improving labor efficiency. Garment business actors are advised to invest more resources in training and developing worker skills. Structured and sustainable training programs help workers become more productive. Policy makers can also support the garment industry by designing appropriate labor training programs, providing incentives for companies that invest in workforce development, and creating regulations that support industry growth. Cooperation between the government, industry, and educational institutions in creating relevant and industry-need-based training curricula will be very beneficial.
This study confirms that labor is the most significant factor in determining the level of production of the garment industry in Cilacap. By improving the skills and productivity of the workforce, it is hoped that the garment industry in this region will continue to grow and contribute more to the regional economy. Further research can explore other factors that may affect production, such as technology and operational management, and test these findings in other sectors or regions. Adopting best management practices and innovative technologies can provide valuable additional insights to strengthen the competitiveness of the garment industry in Cilacap.
4218845554D1A020127PENGARUH PEMBERIAN PROBIOTIK LACSACPRO TERHADAP BOBOT DAN PERSENTASE KARKAS UTUH SERTA KARKAS DADA ITIK TEGAL AFKIR YANG DIPELIHARA SECARA TERKURUNGItik Tegal merupakan salah satu jenis itik asli Indonesia yang memiliki potensi besar dalam industri perunggasan di Indonesia, peran penting yang dimiliki unggas lokal tersebut ialah memenuhi kebutuhan konsumsi daging dan telur. Bobot dan persentase karkas utuh serta karkas dada itik tegal afkir dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kondisi lingkungan, genetik dan nutrien pakan. Pemberian probiotik Lacsacpro diharapkan menunjukkan potensinya untuk meningkatkan bobot dan persentase karkas serta dada itik tegal afkir yang dipelihara secara terkurung. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian probiotik Lacsacpro dalam meningkatkan bobot dan persentase karkas serta dada itik Tegal. Materi yang digunakan adalah Itik Tegal usia 14 bulan yang masa produksinya mulai menurun. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental, dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) one way classification (pola searah) dengan 3 perlakuan yaitu L1 = Lacsacpro dengan starter Lactobacillus casei 65 ml+Saccharomyces cerevisiae 15 gram, L2 = Lacsacpro dengan starter Lactobacillus casei 130 ml+Saccharomyces cerevisiae 10 gram, L3 = Lacsacpro dengan starter Lactobacillus casei 195 ml+Saccharomyces cerevisiae 5 gram dan 6 kali pengulangan menggunakan 540 ekor itik dengan kandang terkurung. Analisis yang dilakukan menggunakan analisis variansi. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan non signifikan (P>0.05) terhadap bobot dan persentase karkas utuh dan bagian dada pada itik Tegal. Kesimpulan dari hasil tersebut bahwa pemberian probiotik Lacsacpro masih belum mampu untuk meningkatkan Bobot dan persentase karkas serta dada pada itik Tegal afkir.Tegal duck is one of the native Indonesian duck species that has great potential in the poultry industry in Indonesia, the important role of local poultry is to meet the needs of meat and egg consumption. The weight and percentage of whole carcass and breast carcass of spent Tegal duck can be influenced by several factors such as environmental conditions, genetics and feed nutrition. The administration of Lacsacpro probiotics is expected to show its potential to increase the weight and percentage of carcass and breast of spent Tegal ducks that are kept intensively. The purpose of this study was to determine the effect of administering Lacsacpro probiotics on the weight and percentage of carcass and breast of Tegal ducks. The material used was 14-month-old Tegal ducks whose production period began to decline. The research method used was an experimental method, with a Completely Randomized Design (CRD) one-way classification (one-way pattern) with 3 treatments, namely L1 = Lacsacpro with 65 ml Lactobacillus casei starter + 15 grams of Saccharomyces cerevisiae, L2 = Lacsacpro with 130 ml Lactobacillus casei starter + 10 grams of Saccharomyces cerevisiae, L3 = Lacsacpro with 195 ml Lactobacillus casei starter + 5 grams of Saccharomyces cerevisiae and 6 times repeated using 540 ducks. The analysis was conducted using variance analysis. The results of the study showed that the treatment had no significant effect (P>0.05) on the weight and percentage of whole carcasses and breasts in Tegal ducks. The conclusion from these results is that the administration of Lacsacpro probiotics is still unable to affect the weight and percentage of carcasses and breasts in retired Tegal ducks.
4218945560I1I022006HUBUNGAN KEBIASAAN KONSUMSI JUNK FOOD DAN STATUS GIZI
DENGAN SIKLUS MENSTRUASI PADA
SISWI MAN 2 BANYUMAS
Latar Belakang : Salah satu tanda memasuki masa pubertas bagi seorang remaja putri yaitu mengalami menstruasi. Siklus menstruasi berperan sebagai tanda klinis dari berfungsinya reproduksi perempuan. Konsumsi junk food, yang mengandung rendah gizi namun tinggi lemak, dapat mengganggu siklus menstruasi dengan mempengaruhi metabolisme hormon progesteron. WHO menyatakan bahwa status gizi yang tidak normal dapat memengaruhi siklus menstruasi dengan mengganggu kinerja hipotalamus, yang berakibat pada gangguan pelepasan FSH dan LH oleh hipofisis. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis hubungan kebiasaan konsumsi junk food dan status gizi dengan siklus menstruasi pada siswi MAN 2 Banyumas.
Metodologi : Desain penelitian menggunakan metode desain cross-sectional study dengan 69 siswi MAN 2 Banyumas sebagai subjek dari penelitian. Instrumen penelitian dalam pengumpulan data menggunakan kuesioner yaitu karakteristik responden, FFQ (Food Frequency Quitionare) untuk kebiasaan konsumsi junk food, dan status gizi berdasarkan IMT/U. Analisis data menggunakan metode uji chi-square.
Hasil Penelitian : Hasil dari penelitian ini yaitu kebiasaan konsumsi junk food dengan sering (52,2%), status gizi tidak normal (20,3%), dan siklus menstruasi tidak normal (18,8%). Analisis data menggunakan chi-square dengan p-value <0,05. Dari penelitian ini terdapat hubungan antara kebiasaan konsumsi junk food dan status gizi dengan siklus menstruasi ditunjukkan dari p-value 0,002 dan 0,000.
Kesimpulan : Terdapat hubungan antara kebiasaan konsumsi junk food dan status gizi dengan siklus menstruasi.
Background : One of the signs of entering puberty for an adolescent girl is experiencing menstruation. The menstrual cycle acts as a clinical sign of the functioning of female reproduction that occurs once every 21-35 days and the duration of menstruation is 3-7 days. Consumption of junk food, which is low in nutrients and high in fat, can disrupt the menstrual cycle by affecting the metabolism of the hormone progesterone. In addition, WHO states that abnormal nutritional status can affect the menstrual cycle by disrupting the performance of the hypothalamus, which results in disruption of FSH and LH release by the hypophysis. The purpose of this study was to analyze the relationship between junk food consumption habits and nutritional status with the menstrual cycle in female students of MAN 2 Banyumas.
Methods : The research design used a cross-sectional study design method with 69 female students of MAN 2 Banyumas as the subject of the study. The research instrument in data collection used a questionnaire, namely the characteristics of respondents, FFQ (Food Frequency Quitionare) for junk food consumption habits, and nutritional status based on IMT/U. This analysis used the chi-square test method.
Results : The results of this study were frequent junk food consumption habits (52.2%), abnormal nutritional status (20.3%), and abnormal menstrual cycle (18.8%). Data analysis used chi-square with a p value <0.05. From this study there is a relationship between junk food consumption habits and nutritional status with the menstrual cycle indicated by the p-value of 0.002 and 0.000.
Conclusions : There is a relationship between junk food consumption habits and nutritional status with menstrual cycle.
4219045561K1A020036DESAIN DAN PEMBUATAN SPEKTROFOTOMETER SEDERHANA BERBASIS MIKROKONTROLER UNTUK PENENTUAN KADAR PROTEIN DENGAN
METODE BRADFORD
Peralatan laboratorium yang mudah diakses dan hemat biaya sangat penting untuk memajukan penelitian ilmiah dalam keterbatasan sumber daya. Penelitian ini memperkenalkan spektrofotometer sederhana berbiaya rendah yang dirancang dengan mikrokontroler Arduino, LED 595nm sebagai sumber cahaya dan sensor cahaya BH170 untuk mengukur konsentrasi protein menggunakan metode Bradford. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui validasi dari spektrofotometer sederhana pada penetapan kadar protein pada sampel susu yang ditentukan berdasarkan parameter tertentu. Hasil penelitian menunjukkan spektrofotometer sederhana dapat dibuat dengan sensor cahaya, LED serta mikrokontroler. Berdasarkan penelitian diperoleh nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,9960 dengan persamaan garis regresi y = 0,0007x + 0,1416 ; LOD sebesar 57,942 ppm; LOQ sebesar 193,14 ppm; nilai batas bawah (LOQ) sebesar 193,140 dan batas atas sebesar 940,57; presisi diperoleh dengan nilai HORRAT 0,07 menggunakan sampel 500 ppm; presisi antara ditunjukan HORRAT sebesar 0,161; dan akurasi menunjukkan perolehan kembali sebesar 103,34% dengan sampel 100 ppm; serta hasil selektivitas yang baik terhadap penambahan 200 ppm glukosa. Spektrofotometer sederhana yang digunakan dinyatakan valid karena sudah memenuhi parameter validasi metode analisis dan dapat digunakan untuk penetapan kadar protein pada sampel susu. Kadar rata-rata protein dalam sampel susu sebesar 32133,22 ppm, kadar tersebut tidak jauh dengan kadar yang tercantum pada label kemasan susu.Easily accessible and cost-effective laboratory equipment is essential to advancing scientific research in resource-limited settings. The research introduced a alternative, low-cost spectrophotometer designed with an Arduino microcontroller with 595nm LED as the light source and a BH170 light sensor to measure protein concentrations using the Bradford method. The purpose of this study was to determine the validation of a low-cost spectrophotometer on the performance of protein levels in milk samples determined based on certain parameters. The results showed a low-cost spectrophotometer can be made with a light sensor, LED and microcontroller. Based of this study obtained a coefficient of correlation (r) of 0.9960 with a regression line equation y = 0.0007x + 0.1416; LOD of 57.942 ppm; LOQ of 193.14 ppm; lower limit value (LOQ) of 193.140 and upper limit of 940.57; precision obtained with a HORRAT value of 0.07 using a sample of 500 ppm; intermediate precision show HORRAT of 0.161; and accuracy showed a recovery of 103.34% with a sample of 100 ppm; and good selectivity results against the addition of 200 ppm glucose. Low-cost spectrophotometer used is declared valid because it meets the validation parameters of the analysis method and can be used to determine protein levels in milk samples. The average protein content in milk samples was 32133.22 ppm, the level is not far from the levels listed on the milk packaging label.
4219145562B1A020047PREFERENSI LALAT RUMAH (Musca domestica L.) TERHADAP UMPAN DENGAN FORMULASI KARBOHIDRAT DAN PROTEIN BERBEDA Lalat rumah (Musca domestica) merupakan salah satu vektor pembawa penyakit yang dapat dengan mudah ditemukan di tempat yang lembab serta kotor. Contohnya, seperti tempat pembuangan akhir sampah yang memiliki banyak jenis sampah baik sampah organik yang mengandung nutrisi yang disukai lalat rumah maupun sampah non-organik. Populasi lalat rumah perlu dikendalikan menggunakan metode yang aman bagi lingkungan, salah satunya adalah pengendalian menggunakan umpan (bait). Agar pengendalian efektif makan umpan perlu diformulasikan persentase makronutrisinya yaitu karbohidrat dan protein. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi lalat rumah terhadap umpan dengan formulasi karbohidrat dan protein berbeda.
Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan metode pilihan (choice method) yang terdiri atas enam perlakuan dan empat kali ulangan. Perlakuan terdiri dari umpan yang mengandung rasio karbohidrat (K) : protein (P) yang berbeda yaitu K : P = 0, K : P = 100% : 0, K : P = 80% : 20%, K : P = 50% : 50%, K : P = 20% : 80% dan K : P = 0 : 100%. Pengambilan data dilakukan di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Rempoah, Pengelolaan Daur Ulang (PDU) Kober dan PDU Bobosan yang dilakukan selama dua bulan. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah jenis umpan yang digunakan dan variabel terikatnya adalah preferensi lalat rumah terhadap umpan dengan formulasi karbohidrat dan protein berbeda. Parameter yang diukur dalam penelitian ini yaitu jumlah lalat rumah yang hinggap, latensi, dan durasi hinggap pada setiap jenis umpan. Jumlah lalat rumah yang hinggap, latensi, dan durasi hinggap pada setiap jenis umpan dianalisis menggunakan ANOVA pada tingkat kesalahan 10%, dilanjutkan dengan uji Duncan pada tingkat kesalahan 10%. Analisis regresi dan korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan antara jumlah lalat dengan durasi hinggap.
Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa formulasi umpan berpengaruh nyata terhadap latensi, jumlah lalat dan durasi hinggap lalat rumah (p<0,10). Lalat rumah memiliki preferensi terhadap umpan dengan formulasi K : P = 0 : 100% yang lebih menarik dan disukai oleh lalat rumah. Berdasarkan analisis regresi ditunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah lalat yang hinggap terhdap durasi hinggap lalat dengan nilai korelasi sebesar 0,86. Maka, semakin tinggi kandungan protein pada formulasi yang dibuat semakin besar preferensi lalat rumah terhadap formulasi tersebut.
House fly (Musca domestica) are one of the disease-carrying vectors that can be easily found in humid and dirty places. For example, such as landfills that have many types of waste, both organic waste that contains nutrients favored by houseflies and non-organic waste. Housefly populations need to be controlled using environmentally safe methods, one of which is control using bait. For effective control, the percentage of macronutrients, namely carbohydrates and proteins, needs to be formulated. This study aims to determine the preference of houseflies for bait with different carbohydrate and protein formulations.
The research was conducted using an experimental method using the choice method consisting of six treatments and four replicates. The treatments consisted of baits containing different carbohydrate (K) : protein (P) ratios namely K : P = 0, K: P = 100% : 0, K : P = 80% : 20%, K : P = 50% : 50%, K : P = 20% : 80% and K: P = 0 : 100%. Data collection was carried out at the Integrated Waste Management Site (TPST) Rempoah, Recycling Management (PDU) Kober and PDU Bobosan which was carried out for two months. The independent variable in this study is the type of bait used and the dependent variable is the preference of houseflies for bait with different carbohydrate and protein formulations. The parameters measured in this study were the number of houseflies perching, latency, and duration of perching on each type of bait. The number of housefly perch, latency, and duration of perch on each type of bait were analyzed using ANOVA at 10% error level, followed by Duncan test at 10% error level. Regression and correlation analysis were used to determine the relationship between the number of flies and the duration of stay.
ANOVA test results showed that the bait formulation had a significant effect on latency, number of flies and duration of housefly stay (p<0.10). Houseflies had a preference for bait with formulation K : P = 0 : 100% which is more attractive and preferred by houseflies. Based on the regression analysis, it was shown that there was a significant relationship between the number of flies that landed on the duration of fly landing with a correlation value of 0.86. Thus, the higher the protein content in the formulation made, the greater the preference of houseflies towards the formulation.
4219245563A1C020001ANALISIS KARAKTERISTIK SIFAT FISIK DAN MEKANIK
BUAH JERUK LEMON (Citrus limon (L.) BERDASARKAN
LOKASI PERTUMBUHANNYA
Jeruk lemon adalah buah yang mempunyai aroma yang kuat serta bermutu tinggi. Hubungan mutu jeruk lemon terhadap lokasi pertumbuhan sangatlah penting, karena lokasi tumbuh meliputi ketinggian, suhu cuaca, tekanan udara, dan jenis tanah dapat mempengaruhi rasa, ukuran, dan kualitas buah tersebut. Pengetahuan terkait sifat fisik dan mekanik adalah suatu pemahaman untuk dapat menganalisis karakteristik suatu buah. Rancangan pengambilan sampel penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif menjelaskan gambaran umum terhadap objek (sampel) yang diteliti 15 buah tiap lahan sesuai wilayah terpilih di Kabupaten Banyumas (Kalibagor1 dan Kalibagor2), Kebumen (Klirong), dan Purbalingga (Kaligondang1 dan Kaligondang2). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian (TPPHP), Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman pada November 2023-Juli 2024. Variabel yang diukur dalam penelitian ini yaitu sifat fisik meliputi: massa jeruk lemon, kadar air, volume, densitas, spherisitas, roundness, dan sifat mekanik yaitu kekerasan jeruk lemon.
Hasil penelitian sifat fisik dan mekanik jeruk lemon menunjukkan bahwa nilai rata-rata parameter massa dan volume tertinggi terletak di daerah Kaligondang1 dengan rata-rata 105,46 g dan 99,53 cm3. Nilai rata-rata parameter kadar air tertinggi sebesar 5,62% terletak di daerah Kalibagor1. Nilai rata-rata parameter densitas tertinggi sebesar 1,15 g/cm3 terletak di daerah Kaligondang2. Nilai rata-rata parameter spherisitas dan roundness tertinggi sebesar 0,906 cm dan 0,82 cm terletak di daerah Kalibagor2. Nilai rata-rata parameter kekerasan terendah sebesar 9,88 kg/cm² terletak di daerah Klirong. Dari data sifat fisik dan mekanik yang telah diperoleh, untuk lokasi lahan yang potensial dijadikan budidaya jeruk lemon berdasarkan sifat fisik yaitu, di daerah Kaligondang1 dengan massa tertinggi sebesar 105,46 g merujuk pada SNI jeruk (SNI 01-3165-1992) yang dilihat parameter massa jeruknya, sedangkan sifat mekanik lokasi potensial budidaya jeruk lemon yaitu di daerah Kalibagor2 dengan nilai tekstur sebesar 9,88 kg/cm².
Lemon is a fruit with a strong aroma and high quality. The relationship between the quality of lemons and their growing location is very important because the growing conditions, including altitude, weather temperature, air pressure, and soil type, can affect the taste, size, and quality of the fruit. Understanding the physical and mechanical properties is crucial for analyzing the characteristics of a fruit. The research sampling design was conducted using a descriptive method, which provides a general overview of the objects (samples) being studied. Fifteen fruits were sampled from each selected area in Banyumas Regency (Kalibagor1 and Kalibagor2), Kebumen (Klirong), and Purbalingga (Kaligondang1 and Kaligondang2). The research was conducted at the Food and Agricultural Products Processing Engineering (TPPHP) Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, from November 2023 to July 2024. The variables measured in this study include physical properties such as lemon mass, moisture content, volume, density, sphericity, roundness, and mechanical properties such as lemon hardness.
The research results showed that the physical and mechanical properties of lemon indicated that the highest average values for mass and volume parameters were found in the Kaligondang1 area, with averages of 105.46 g and 99.53 cm³, respectively. The highest average moisture content was found in the Kalibagor1 area at 5.62%. The highest average density was 1.15 g/cm³, located in the Kaligondang2 area. The highest average values for sphericity and roundness were 0.906 cm and 0.82 cm, respectively, in the Kalibagor2 area. The lowest average hardness was 9,88kg/cm², found in the Kalibagor2 area. Based on the physical and mechanical properties data obtained, the most suitable location for lemon cultivation, based on physical properties, is the Kaligondang1 area, with the highest mass of 105.46 g, referring to the Indonesian National Standard for citrus (SNI 01-3165-1992), which considers the mass parameter. As for mechanical properties, the potential cultivation location is in the Kalibagor2 area, with a hardness value of 9.88 kg/cm².
4219345555C1A020046Determinan Permintaan Kredit Konsumsi Pada Bank Umum di Pulau Jawa Tahun 2007-2022Sebagai lembaga intermediasi, bank berperan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi negara. Lembaga perbankan mempunyai fungsi utama sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat. Penyaluran kredit merupakan salah satu aktivitas bank umum yang paling utama dalam menghasilkan keuntungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh BI Rate, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), penduduk usia produktif yang bekerja, dan Upah Minimum Regional (UMR) terhadap permintaan kredit konsumsi pada bank umum di Pulau Jawa. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan data sekunder secara tahunan dari 2007-2022 pada enam provinsi di Pulau Jawa. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis regresi data panel dengan bantuan software Eviews 10.
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dengan menggunakan regresi data panel menunjukan bahwa: (1) BI Rate, PDRB, penduduk usia produktif yang bekerja, dan UMR secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap permintaan kredit konsumsi. (2) BI Rate, PDRB dan UMR secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan kredit konsumsi. (3) Penduduk usia produktif yang bekerja secara parsial berpengaruh dan tidak signifikan terhadap permintaan kredit konsumsi.
Implikasi dari penelitian ini adalah Bank Indonesia perlu mengkaji kebijakan moneternya yaitu BI Rate supaya terjadi transmisi antara kebijakan BI Rate terhadap penyaluran kredit. Diperlukan kebijakan yang tepat untuk mendorong produktivitas masyarakat untuk dapat meningkatkan pendapatannya. Penduduk usia produktif yang bekerja dalam mengambil kredit perlu adanya pertimbangan yang matang. Menjaga komunikasi yang baik antara perwakilan pekerja, pengusaha, dan pemerintah dalam penetapan Upah Minimum Regional (UMR) agar tercipta kesejahteraan bersama.
As an intermediary institution, banks play an important role in supporting the country's economic growth. Banking institutions have the main function of collecting and distributing public funds. Credit distribution is one of the main activities of commercial banks in generating profits. The purpose of this study is to analyze the effect of the BI Rate, Gross Regional Domestic Product (GRDP), the working productive age population, and the Regional Minimum Wage (UMR) on the demand for consumer credit at commercial banks in Java. This type of research is quantitative research using secondary data annually from 2007-2022 in six provinces in Java. The research method used is panel data regression analysis with the help of Eviews 10 software.
Based on the results of the analysis that has been carried out using panel data regression, it shows that: (1) BI Rate, GRDP, the working productive age population, and UMR together have a significant effect on the demand for consumer credit. (2) BI Rate, GRDP and UMR partially have a positive and significant effect on the demand for consumer credit. (3) The working productive age population partially has an effect and is not significant on the demand for consumer credit.
The implication of this study is that Bank Indonesia needs to review its monetary policy, namely the BI Rate, so that there is transmission between the BI Rate policy and credit distribution. Appropriate policies are needed to encourage community productivity to increase their income. The productive age population who work in taking credit needs careful consideration. Maintaining good communication between representatives of workers, employers, and the government in determining the Regional Minimum Wage (UMR) in order to create shared prosperity.
4219445557B1A020116Optimasi Ekspresi Protein Rekombinan L1 Human papillomavirus Tipe 52 Pada Sistem Ekspresi Pichia pastoris GS115 Skala BioreaktorKanker serviks merupakan jenis kanker berbahaya yang dapat menyebabkan kematian bagi perempuan di seluruh dunia. Kanker serviks di Indonesia umumnya disebabkan oleh infeksi High-risk (HR) Human papillomavirus (HPV) tipe 52. Penanggulangan penyebaran kanker serviks melalui program vaksinasi di Indonesia terkendala oleh besarnya biaya yang diperlukan, sehingga timbul kepentingan untuk memproduksi vaksin dalam negeri. Produksi vaksin memanfaatkan protein kapsid virus L1 yang memiliki kemampuan self assembly membentuk partikel mirip virus (VLP). Pemanfaatan sistem ekspresi protein rekombinan pada methylothropic yeast, Pichia pastoris digunakan untuk menghadapi tantangan terhadap tingginya kebutuhan protein L1 sebagai bahan baku vaksin. Namun dalam aplikasinya, diperlukan optimalisasi ekspresi untuk memperoleh hasil yang terbaik dengan harga produksi yang minimal. Optimalisasi ekspresi protein rekombinan L1 menggunakan beberapa parameter berupa jenis media ekspresi, kecepatan agitasi, dan laju aerasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui media dan kondisi pertumbuhan yang optimal bagi isolat P. pastoris.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif untuk mengetahui pengaruh variasi suatu variabel terhadap variabel lain. Penelitian dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu optimasi pendahuluan, optimasi kondisi pertumbuhan dan upscalling. Pada setiap tahapan penelitian dilakukan analisis dua parameter yaitu : (1) Laju pertumbuhan berdasarkan nilai Optical Density (OD600) dan biomassa. (2) Uji kualitatif dan kuantitatif protein menggunakan metode SDS PAGE, WB dan ELISA.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media SYN6 lebih unggul dibandingkan dengan media BSM pada ekspresi protein L1 HPV tipe 52. Pengaturan kondisi optimal pada media SYN6 skala parallel bioreaktor pada kecepatan agitasi 350 rpm dan laju aerasi 2,0 vvm, sehingga hasil penelitian ini dapat diterapkan pada skala bioreaktor 1L dan mengekspresikan protein L1 HPV tipe 52 sebesar 0,199 µg/mL setelah diinkubasi selama 72 jam.
Cervical cancer is a dangerous type of cancer that can cause death for women around the world. Cervical cancer in Indonesia is commonlly caused by High-risk (HR) Human papillomavirus (HPV) type 52. Cervical cancer vaccination programs in Indonesia are constrained by high costs, necessitating the production of vaccines independently. Vaccine production utilizes the L1 viral capsid protein, which has the ability to self-assemble into virus-like particles (VLPs). The use of a recombinant protein expression system in methylotrophic yeast, Pichia pastoris, was used to address the issue of high demand for L1 protein as a vaccine raw material. However, expression optimization is required in order to achieve the best results with the lowest production costs. A variety of parameters are used to optimize recombinant L1 protein expression, including the type of expression media, agitation speed, and aeration rate. The purpose of this study was to determine the optimal media and growth conditions for P. pastoris.
This study used an descriptive method to determine the effect of modifications in one variable on another. The study was conducted in three stages: preliminary optimization, optimization of growth conditions, and upscaling. At each stage of the study, (1) the growth rate parameters were analyzed based on Optical Density (OD600) and biomass values, (2) protein characterization was carried out qualitatively and quantitatively using SDS PAGE, WB, and ELISA.
The study's findings revealed that SYN6 media outperformed BSM media in terms of HPV type 52 L1 protein expression. The optimal conditions in the SYN6 bioreactor were 350 rpm agitation speed and 2.0 vvm aeration rate. The results of the study were validated and confirmed to be applicable on a 1L bioreactor scale and successfully expressed L1 HPV type 52 protein at 0.199 µg/mL at 72 hours of incubation.
4219545558H1B019059ASESMEN KAPASITAS DAN KEMAMPUAN JARINGAN DRAINASE DI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANGenangan yang terjadi pada Kawasan Kampus Teknik Universitas Jenderal Soedirman menunjukkan bahwa debit hujan rencana lebih tinggi dibandingkan debit saluran yang menyebabkan drainase tidak dapat menampung sehingga air meluap dan mengakibatkan banjir, adapun faktor yang menyebabkan tingginya debit hujan rencana adalah intensitas curah hujan. Untuk menghitung debit hujan rencana digunakan metode rasional yang menggunakan 3 faktor utama yaitu intensitas curah hujan maksimum, luas wilayah, dan koefisien aliran (Run-Off). Intensitas curah hujan maksimum dari data curah hujan diolah dengan menggunakan Distribusi Log Person III, yang bertujuan untuk memperoleh harga debit hujan rencana dengan periode ulang (Q10). Hasil penelitian dan perhitungan didapatkan bahwa debit saluran (Qs) pada gedung A dan B lebih besar dibandingkan debit hujan rencana (Qt). Sedangkan pada gedung C, D dan E didapatkan bahwa debit saluran (Qs) lebih kecil dibandingkan debit hujan rencana (Qt). Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa banjir yang terjadi seluruhnya bukan disebabkan oleh dimensi saluran drainase. Berdasarkan hasil survei didapatkan banjir yang terjadi diakibatkan oleh beberapa saluran drainase yang rusak serta tidak adanya pembuangan akhir pada sistem drainase ini. Maka dari itu solusi untuk mengatasi masalah banjir ini yaitu memperbesar saluran drainase, memperbaiki saluran drainase yang rusak, serta membuat saluran pengantar/konveyor yang mengalirkan saluran drainase tiap gedung/tempat ke pembuangan akhir berupa sungai sehingga tidak terjadi banjir.The floods that occurred in the Engineering Campus Area of Universitas Jenderal Soedirman showed that the planned rain discharge was higher than the channel discharge, which caused the drainage to be unable to accommodate so the water overflowed and resulted in flooding. The factor that caused the high planned rain discharge was the intensity of the rainfall. To calculate the planned rain discharge, a rational method is used which uses 3 main factors, namely maximum rainfall intensity, area area, and flow coefficient (Run-Off). The maximum rainfall intensity from rainfall data is processed using the Log Person III Distribution, which aims to obtain the planned rainfall discharge value with a return period (Q10). The results of research and calculations show that the channel discharge (Qs) in buildings A and B is greater than the planned rain discharge (Qt). Meanwhile, in buildings C, D and E it was found that the channel discharge (Qs) was smaller than the planned rain discharge (Qt). Thus, it can be concluded that the flooding that occurred was not entirely caused by the dimensions of the drainage channel. Based on the survey results, it was found that the flooding was caused by several damaged drainage channels and the absence of final disposal in this drainage system. Therefore, the solution to overcome this flooding problem is to enlarge the drainage channels, repair damaged drainage channels, and create conveyor channels that carry the drainage channels of each building/place to the final disposal in the form of a river so that flooding does not occur.
4219645556G1A020090Hubungan Status Gizi dengan Kadar Hemoglobin (Hb) pada Siswi SMP di Wilayah Kerja Puskesmas Purwokerto Timur 2Latar Belakang: Anemia merupakan kondisi jumlah sel darah merah atau
hemoglobin kurang dari normal. Kurangnya kadar hemoglobin dapat dipengaruhi
oleh status gizi. Status gizi yang buruk dapat menyebabkan berkurangnya kadar
hemoglobin hingga terjadi anemia.
Tujuan: Mengidentifikasikan hubungan status gizi dengan kadar hemoglobin (Hb)
pada Siswi Putri SMP di Puskesmas Purwokerto Timur 2.
Metodologi: Penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional.
Sampel pada penelitian ini sebanyak 278 siswi kelas VII SMP yang diambil dengan
metode total sampling. Data yang diambil berupa nilai kadar hemoglobin dan nilai
status gizi yang ditentukan oleh Indeks Massa Tubuh, kedua data tersebut tercatat
dalam rekam medis.
Hasil: Terdapat hasil median 18.13 untuk status gizi dengan nilai minimum 10.84
dan nilai maximum 41.20. Sedangkan hasil median untuk kadar hemoglobin 11.20
dengan nilai minimum 4.70 dan nilai maximum 18.10. Jumlah Indeks Massa Tubuh
underweight mayoritas memiliki nilai (53.2%), sedangkan untuk anemia mayoritas
masuk dalam anemia sedang (36.7%).
Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara status gizi dengan kadar hemoglobin pada
siswi SMP di wilayah kerja Puskesmas Purwokerto Timur 2.
Background: Anemia is a condition where the number of red blood cells or
hemoglobin is less than normal. Lack of hemoglobin can be affected by nutritional
status. Poor nutritional status can lead to reduced hemoglobin levels resulting in
anemia.
Objective: To identify the relationship between nutritional status and hemoglobin
(Hb) levels in junior high school adolescent girls at Purwokerto Timur 2 Health
Center.
Methodology: Observational analytic research with a cross sectional approach.
The sample in this study was 278 seventh grade junior high school students who
were taken by total sampling method. Data taken in the form of hemoglobin levels
and nutritional status values determined by Body Mass Index, both data recorded
in medical records.
Results: There is a median result of 18.13 for nutritional status with a minimum
value of 10.84 and a maximum value of 41.20. While the median results for
hemoglobin levels were 11.20 with a minimum value of 4.70 and a maximum value
of 18.10. The number of Body Mass Index underweight majority had a value
(53.2%), while for anemia the majority were in moderate anemia (36.7%).
Conclusion: There is no relationship between nutritional status and hemoglobin
levels in junior high school students in the working area of Puskesmas Purwokerto
Timur 2.
4219745559A1D020064Pertumbuhan dan
Hasil Tiga Varietas Padi (Oryza sativa L.) yang Dibudidayakan Secara Gogo
Terhadap Pemberian Macam Bahan Organik di Tanah Ultisol
Ultisol merupakan jenis tanah yang memiliki sebaran luas di Indonesia. Salah satu pemanfaatan tanah ultisol yang dapat dilakukan adalah penanaman padi gogo varietas unggul. Permasalahan dari tanah ultisol salah satunya adalah kesuburan tanah yang rendah. Pemberian bahan organik seperti arang sekam, pupuk kandang sapi, dan pupuk kasgot penting untuk memperbaiki kesuburan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk
mendapat varietas padi, jenis bahan organik, serta interaksi yang lebih baik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman padi di tanah ultisol. Rancangan perlakuan yang digunakan pada penelitian ini yaitu Rancangan Acak Kelompok dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah varietas padi (V1: Inpari Unsoed P20 Tangguh, V2: Inpago Unsoed Protani, V3: Inpari Unsoed 79 Agritan). Faktor kedua adalah pemberian bahan organik (B1: Kontrol, B2: Arang Sekam, B3: Pupuk Kandang Sapi: B4: Kasgot). Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis menggunakan sidik ragam pada taraf α = 5 %. Ada atau tidaknya hubungan antar karakter pertumbuhan dan hasil dilakukan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan varietas yang paling baik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi adalah varietas Inpago Unsoed Protani (V2), jenis bahan organik terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi yaitu kasgot (B4), serta adanya interaksi antara perbedaan varietas padi dan macam bahan organik yaitu pada variabel luas daun umur 6 dan 8 MST dan bobot 1000 butir gabah.
Unsoed P20 Tangguh, V2: Inpago Unsoed Protani, V3: Inpari Unsoed 79 Agritan). The second factor is the application of organic matter (B1: Control, B2: Husk Charcoal, B3: Cow Manure: B4: Kasgot). The data obtained from the results were analyzed using varians at the level of α = 5%. If the results have a significant effect, then the analysis is continued with Duncan's Multiple Range Test (DMRT). The research results show that the best variety for the growth and yield of rice plants was the Inpago Unsoed Protani variety (V2), the best type of organic matter for the growth and yield of rice plants, namely casgot (B4), and there was an interaction between the difference in rice varieties and types of organic matter, namely in the variable of leaf area aged 6 and 8 MST and the weight of 1000 grains of grain.
4219845564A1A020053Analisis Permintaan Bahan Pokok pada Tingkat Rumah Tangga di Indonesia Tahun 2018-2023Energi merupakan kebutuhan tubuh yang diperlukan untuk menjalankan fungsi dasar seperti bernapas, sirkulasi darah, dan pencernaan. Kebutuhan ini sering diukur dalam kalori. Kebutuhan energi di Indonesia mengalami penurunan yang ditunjukkan angka kecukupan energi pada tahun 2022-2023 dibawah dari standar kecukupan energi yang seharusnya 2100 kkal/kapita/hari yaitu berkisar 2.079 – 2.087 kkal/kapita/hari. Pemenuhan energi utama bagi tubuh dapat berasal dari zat gizi makro terdiri dari karbohidrat, lemak dan protein. Pemenuhan zat-zat gizi makro dapat berasal dari sembilan bahan-bahan pokok dasar. Beras dan gula menjadi sebagai sumber karbohidrat utama yang dikonsumsi hampir seluruh masyarakat Indonesia. Setelah karbohidrat, bahan pokok yang digunakan dalam pemenuhan lemak dapat berasal dari minyak goreng. Zat gizi makro terakhir yaitu protein, dapat dikonsumsi dari bahan pokok daging ayam, daging sapi, telur dan susu. Salah satu bahan pokok yang penting bagi tubuh sebagai sumber zat gizi makro protein namun konsumsinya paling rendah dan kurang diminati adalah daging sapi. Melihat bahwa pemenuhan zat-zat makro dapat berasal dari bahan-bahan pokok, maka penelitian ini mengkaji tentang analisis permintaan bahan-bahan pokok di Indonesia dengan periode pengamatan 2018-2023.
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menganalisis permintaan bahan-bahan pokok di rumah tangga di Indonesia periode 2018-2023. 2) menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi rendahnya permintaan bahan pokok daging sapi. 3) menganalisis perbedaan permintaan berdasarkan pengelompokkan pendapatan. 4) menganalisis elastisitas permintaan bahan pokok daging sapi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan analisis data sekunder. Metode analisis data yang akan digunakan yakni analisis deskriptif, regresi data panel, ANOVA, dan elastisitas permintaan.
Hasil penelitian menunjukkan permintaan bahan pokok yang cenderung fluktuatif (meningkat dan menurun) dan permintaan bahan pokok terendah yaitu daging sapi. Setiap kenaikan harga daging sapi berpengaruh negatif terhadap permintaan daging sapi dan kenaikan harga daging ayam ras, harga telur ayam ras, harga ikan lele, harga ikan tongkol, tahu, pendapatan, dan jumlah penduduk berpengaruh positif terhadap permintaan daging sapi di Indonesia. Harga tempe, beras dan dummy wilayah tidak berpengaruh terhadap permintaan daging sapi. Terdapat perbedaan jumlah permintaan daging sapi antara pendapatan golongan tinggi dengan pendapatan sedang dan rendah, namun tidak terdapat perbedaan signifikan antara permintaan daging sapi pendapatan sedang dengan pendapatan rendah. Selain itu, elastisitas permintaan daging sapi bersifat elastis. Daging ayam ras, telur ayam ras, ikan lele, ikan tongkol dan tahu bersifat subtitusi, sedangkan tempe dan beras bersifat komplementer. Elastisitas pendapatan bersifat positif termasuk barang mewah.
Energy is a vital requirement for the body to perform basic functions such as breathing, blood circulation, and digestion. This need is often measured in calories. In Indonesia, the energy requirement has decreased, as shown by the energy adequacy figures for 2022-2023, which fall below the standard energy adequacy of 2100 kcal/capita/day, ranging between 2,079 and 2,087 kcal/capita/day. The primary source of energy for the body comes from macronutrients, which include carbohydrates, fats, and proteins. These macronutrients can be derived from nine basic staple foods. Rice and sugar are the main sources of carbohydrates consumed by nearly all Indonesians. Following carbohydrates, fats can be provided by cooking oil. The final macronutrient, protein, can be obtained from staple foods such as chicken, beef, eggs, and milk. Among these, beef is an important source of protein but is the least consumed and least preferred. Given that macronutrients can be sourced from staple foods, this study analyzes the demand for these staple foods in Indonesia over the period from 2018 to 2023.
The objectives of this study are: 1) to analyze the demand for staple foods in Indonesian households from 2018 to 2023. 2) to analyze the factors influencing the low demand for beef. 3) to analyze differences in demand based on income groups. 4) to analyze the elasticity of beef demand. This study uses a quantitative method with a secondary data analysis approach. The data analysis methods employed include descriptive analysis, panel data regression, ANOVA, and demand elasticity.
The results of the study indicate that the demand for staple foods tends to be fluctuating (increasing and decreasing), with the lowest demand being for beef. Any increase in beef prices negatively affects the demand for beef. Conversely, increases in the prices of broiler chicken, chicken eggs, catfish, skipjack tuna, tofu, as well as increases in income and population size, positively influence the demand for beef in Indonesia. The prices of tempeh, rice, and regional dummy variables do not affect the demand for beef. There is a difference in beef demand between high-income groups and those with medium and low incomes, but no significant difference between medium-income and low-income groups. Additionally, the price elasticity of beef demand is elastic. Broiler chicken, chicken eggs, catfish, skipjack tuna, and tofu are substitutes, while tempeh and rice are complements. Income elasticity is positive, indicating that beef is considered a luxury good.
4219945565K1A020026Sintesis dan Karakterisasi Surfaktan Minyak Biji Ketapang serta Aplikasinya dalam Formulasi Lotion Tabir Surya Nano dengan Ekstrak Daun Pandan WangiEkstrak daun pandan wangi (Pandanus ammaryllifolius Roxb.) merupakan salah
satu bahan alam yang memiliki aktivitas tabir surya sebagai perlindungan dari sinar
ultraviolet. Sediaan tabir surya yang paling sering digunakan yaitu dalam bentuk
lotion. Salah satu komponen penting dalam pembuatan sediaan lotion adalah
surfaktan yang berperan sebagai emulgator untuk menstabilkan fase minyak dan
fase air. Penelitian terdahulu membuktikan bahwa minyak biji ketapang berpotensi
sebagai bahan baku pembuatan surfaktan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat
lotion ekstrak daun pandan wangi dengan surfaktan yang bersumber dari minyak
biji ketapang (Terminalia cattapa L.) berupa Metil Ester Sulfonat (MES). Lotion
dibuat dengan variasi kandungan ekstrak daun pandan wangi sebesar 5%, 7%, dan
9% serta variasi MES 3%, 5%, dan 7%. Karakterisasi lotion meliputi uji
organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, dan viskositas. Lotion yang memiliki
karakteristik terbaik selanjutnya dibuat dalam bentuk partikel nano dan
dikarakterisasi kembali serta dilakukan uji PSA dan uji nilai SPF. Uji nilai SPF
dilakukan secara in vitro menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada rentang
panjang gelombang 290-320 nm dengan blanko berupa etanol. Hasil pengujian
menunjukkan bahwa formula F3 merupakan formula terbaik dengan ukuran partikel
142,5 nm sejumlah 63,4% yang memiliki distribusi partikel sangat luas dengan nilai
PDI sebesar 0,798. Sediaan F3 memiliki perbedaan nilai SPF sebelum dibuat
partikel nano dan setelah dibuat partikel nano sebesar 4,7 dan 5,34, dimana nilai
tersebut masuk pada kategori tabir surya dengan proteksi sedang.
Pandan leaf extract (Pandanus ammaryllifolius Roxb.) is one of the natural
ingredients that has sunscreen activity as protection from ultraviolet rays. The most
commonly used sunscreen preparations are in the form of lotions. One of the
important components in the manufacture of lotion preparations is the surfactant
which acts as an emulgator to stabilize the oil phase and the water phase. Previous
research proves that ketapang seed oil has the potential to be a raw material for
making surfactants. This research aims to make a lotion of pandan leaf extract with
surfactant sourced from ketapang seed oil (Terminalia cattapa L.) in the form of
Methyl Ester Sulfonate (MES). The lotion is made with variations in the content of
pandan leaf extract of 5%, 7%, and 9% and MES variations of 3%, 5%, and 7%.
Lotion characterization includes organoleptics, homogeneity, pH, dispersion, and
viscosity tests. The lotion that has the best characteristics is then made in the form
of nanoparticles and re-characterized and tested for PSA and SPF values. The SPF
value test was carried out in vitro using a UV-Vis spectrophotometer in the
wavelength range of 290-320 nm with a blank in the form of ethanol. The test results
show that the F3 formula is the best formula with a particle size of 142.5 nm
amounting to 63.4% which has a very wide particle distribution with a PDI value
of 0.798. The F3 formula has a difference in SPF values before making
nanoparticles and after making nanoparticles of 4.7 and 5.34, where these values
are included in the category of sunscreen with medium protection.
4220045474I1D020049PENGARUH PEMBERIAN EDUKASI TERHADAP PENGETAHUAN LABEL PANGAN DAN MAKANAN SEHAT SERTA SIKAP PEMILIHAN MAKANANPendahuluan : Pemilihan makanan merupakan salah satu komponen penting dalam menentukan kualitas hidup seseorang, termasuk remaja. Remaja cenderung lebih memilih makanan kemasan dibandingkan makanan sehat. Konsumsi makanan kemasan mengharuskan remaja untuk dapat memahami label pangan. Edukasi diketahui dapat meningkatkan pengetahuan label pangan dan makanan sehat, serta sikap pemilihan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian edukasi terhadap pengetahuan label pangan dan makanan sehat serta sikap pemilihan makanan.

Metode : Quasi Experimental dengan one group pre test dan post test design. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2024 selama 2 minggu dengan sampel sebanyak 22 responden kelas X dan XI. Analisis data berupa uji paired T-Test dan Uji Wilcoxon dengan menggunakan SPSS versi 25.0.

Hasil : Pengetahuan label pangan dan makanan sehat mengalami peningkatan yang signifikan setelah diberikan edukasi (p = 0,001 dan p = 0,000). Sikap pemilihan makanan mengalami perubahan yang signifikan pada aspek pengendalian berat badan (p = 0,003), aspek familiar (p = 0,022), dan aspek kesehatan (p = 0,017).

Kesimpulan : Terdapat pengaruh pemberian edukasi terhadap pengetahuan label pangan dan makanan sehat serta sikap pemilihan makanan.
Introduction: Food selection is one of the important components in determining the quality of life of a person, including adolescents. Adolescents prefer packaged food over healthy food. Consumption of packaged food requires adolescents to be able to understand food labels. Education is known to improve food label knowledge and healthy food, as well as food selection attitudes. This study aims to determine the effect of providing education on food label knowledge and healthy food and food selection attitudes.

Methods: Quasi Experimental with one group pre test and post test design. The research was conducted in June 2024 for 2 weeks with a sample of 22 respondents of class X and XI. Data analysis in the form of paired T-Test and Wilcoxon test using SPSS version 25.0.

Results: Knowledge of food labeling and healthy food has increased significantly after being given education (p = 0.001 and p = 0.000). Food selection attitudes experienced significant changes in the aspects of weight control (p = 0.003), familiar aspects (p = 0.022), and health aspects (p = 0.017).

Conclusion: There is an effect of providing education on food label and healthy food knowledge also food selection attitudes.