Home
Login.
Artikelilmiahs
45564
Update
RISMA OCTAVIA PUTRI
NIM
Judul Artikel
Analisis Permintaan Bahan Pokok pada Tingkat Rumah Tangga di Indonesia Tahun 2018-2023
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Energi merupakan kebutuhan tubuh yang diperlukan untuk menjalankan fungsi dasar seperti bernapas, sirkulasi darah, dan pencernaan. Kebutuhan ini sering diukur dalam kalori. Kebutuhan energi di Indonesia mengalami penurunan yang ditunjukkan angka kecukupan energi pada tahun 2022-2023 dibawah dari standar kecukupan energi yang seharusnya 2100 kkal/kapita/hari yaitu berkisar 2.079 – 2.087 kkal/kapita/hari. Pemenuhan energi utama bagi tubuh dapat berasal dari zat gizi makro terdiri dari karbohidrat, lemak dan protein. Pemenuhan zat-zat gizi makro dapat berasal dari sembilan bahan-bahan pokok dasar. Beras dan gula menjadi sebagai sumber karbohidrat utama yang dikonsumsi hampir seluruh masyarakat Indonesia. Setelah karbohidrat, bahan pokok yang digunakan dalam pemenuhan lemak dapat berasal dari minyak goreng. Zat gizi makro terakhir yaitu protein, dapat dikonsumsi dari bahan pokok daging ayam, daging sapi, telur dan susu. Salah satu bahan pokok yang penting bagi tubuh sebagai sumber zat gizi makro protein namun konsumsinya paling rendah dan kurang diminati adalah daging sapi. Melihat bahwa pemenuhan zat-zat makro dapat berasal dari bahan-bahan pokok, maka penelitian ini mengkaji tentang analisis permintaan bahan-bahan pokok di Indonesia dengan periode pengamatan 2018-2023. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menganalisis permintaan bahan-bahan pokok di rumah tangga di Indonesia periode 2018-2023. 2) menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi rendahnya permintaan bahan pokok daging sapi. 3) menganalisis perbedaan permintaan berdasarkan pengelompokkan pendapatan. 4) menganalisis elastisitas permintaan bahan pokok daging sapi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan analisis data sekunder. Metode analisis data yang akan digunakan yakni analisis deskriptif, regresi data panel, ANOVA, dan elastisitas permintaan. Hasil penelitian menunjukkan permintaan bahan pokok yang cenderung fluktuatif (meningkat dan menurun) dan permintaan bahan pokok terendah yaitu daging sapi. Setiap kenaikan harga daging sapi berpengaruh negatif terhadap permintaan daging sapi dan kenaikan harga daging ayam ras, harga telur ayam ras, harga ikan lele, harga ikan tongkol, tahu, pendapatan, dan jumlah penduduk berpengaruh positif terhadap permintaan daging sapi di Indonesia. Harga tempe, beras dan dummy wilayah tidak berpengaruh terhadap permintaan daging sapi. Terdapat perbedaan jumlah permintaan daging sapi antara pendapatan golongan tinggi dengan pendapatan sedang dan rendah, namun tidak terdapat perbedaan signifikan antara permintaan daging sapi pendapatan sedang dengan pendapatan rendah. Selain itu, elastisitas permintaan daging sapi bersifat elastis. Daging ayam ras, telur ayam ras, ikan lele, ikan tongkol dan tahu bersifat subtitusi, sedangkan tempe dan beras bersifat komplementer. Elastisitas pendapatan bersifat positif termasuk barang mewah.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Energy is a vital requirement for the body to perform basic functions such as breathing, blood circulation, and digestion. This need is often measured in calories. In Indonesia, the energy requirement has decreased, as shown by the energy adequacy figures for 2022-2023, which fall below the standard energy adequacy of 2100 kcal/capita/day, ranging between 2,079 and 2,087 kcal/capita/day. The primary source of energy for the body comes from macronutrients, which include carbohydrates, fats, and proteins. These macronutrients can be derived from nine basic staple foods. Rice and sugar are the main sources of carbohydrates consumed by nearly all Indonesians. Following carbohydrates, fats can be provided by cooking oil. The final macronutrient, protein, can be obtained from staple foods such as chicken, beef, eggs, and milk. Among these, beef is an important source of protein but is the least consumed and least preferred. Given that macronutrients can be sourced from staple foods, this study analyzes the demand for these staple foods in Indonesia over the period from 2018 to 2023. The objectives of this study are: 1) to analyze the demand for staple foods in Indonesian households from 2018 to 2023. 2) to analyze the factors influencing the low demand for beef. 3) to analyze differences in demand based on income groups. 4) to analyze the elasticity of beef demand. This study uses a quantitative method with a secondary data analysis approach. The data analysis methods employed include descriptive analysis, panel data regression, ANOVA, and demand elasticity. The results of the study indicate that the demand for staple foods tends to be fluctuating (increasing and decreasing), with the lowest demand being for beef. Any increase in beef prices negatively affects the demand for beef. Conversely, increases in the prices of broiler chicken, chicken eggs, catfish, skipjack tuna, tofu, as well as increases in income and population size, positively influence the demand for beef in Indonesia. The prices of tempeh, rice, and regional dummy variables do not affect the demand for beef. There is a difference in beef demand between high-income groups and those with medium and low incomes, but no significant difference between medium-income and low-income groups. Additionally, the price elasticity of beef demand is elastic. Broiler chicken, chicken eggs, catfish, skipjack tuna, and tofu are substitutes, while tempeh and rice are complements. Income elasticity is positive, indicating that beef is considered a luxury good.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save