Artikelilmiahs
Menampilkan 41.401-41.420 dari 48.878 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 41401 | 43504 | A1D019093 | IMPLEMENTASI SISTEM PERTANIAN KONVENSIONAL DAN ORGANIK DI WILAYAH BANYUMAS DAN CILACAP | Penelitian bertujuan untuk mengetahui mengetahui praktik budidaya padi konvensional dan organik yang diimplementasikan oleh petani di Kabupaten Banyumas dan Cilacap. Penelitian dilaksanakan dari bulan April-September 2023 di Kabupaten Cilacap dan Banyumas. Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan survei purposive random sampling. Kriteria purposive random sampling berupa budidaya padi organik telah berjalan minimal selama 2 tahun dan tanpa menggunakan input pupuk ataupun pestisida kimia sintetis. Responden petani diambil sebanyak 6 petani organik dan 6 petani konvensional. Variabel penelitian antara lain pH tanah, C-Organik, kapasitas tukar kation tanah. Data hasil percobaan dianalisis dengan uji independent sample T test. Hasil wawancara petani menunjukkan praktik budidaya padi konvensional menggunakan pupuk kimia dan pestisida sintetik, serta umumnya petani tidak menggunakan pupuk organik padat pada pengolahan lahan sawah. Praktik budidaya padi organik menggunakan pupuk organik serta pestisida organik. Pupuk organik dan pestisida organik yang digunakan umumnya merupakan pupuk dan pestisida organik yang dibuat sendiri, berupa pupuk organik padat dan cair, IMO, ecoenzym, dan lain-lain. | The research aims to find out conventional and organic rice cultivation practices implemented by farmers in Banyumas and Cilacap Regencies. The research was carried out from April-September 2023 in Cilacap and Banyumas Regencies. The research was carried out using a purposive random sampling survey approach. The criteria for purposive random sampling are that organic rice cultivation has been running for at least 2 years and without using synthetic chemical fertilizers or pesticides. The farmer respondents were 6 organic farmers and 6 conventional farmers. Research variables include soil pH, C-Organic, soil cation exchange capacity. The experimental data were analyzed using the independent sample T test. The results of farmer interviews show that conventional rice cultivation practices use chemical fertilizers and synthetic pesticides, and generally farmers do not use solid organic fertilizer in processing rice fields. Organic rice cultivation practices use organic fertilizer and organic pesticides. The organic fertilizers and organic pesticides used are generally self-made organic fertilizers and pesticides, in the form of solid and liquid organic fertilizers, IMO, ecoenzymes, etc. | |
| 41402 | 43505 | I1A020010 | FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KAPASITAS VITAL PARU PADA PEKERJA PENGGILINGAN PADI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUMBANG 1 | Latar Belakang: Penurunan kapasitas vital paru akibat pekerjaan atau faktor lingkungan kerja dapat menyebabkan penyakit akibat kerja. Tiga (3) dari 6 pekerja penggilingan padi mengalami penurunan kapasitas vital paru. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kapasitas vital paru pada pekerja penggilingan padi di wilayah kerja Puskesmas Sumbang 1. Metodologi: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Analisis data menggunakan Uji Spearman Rank dan Uji Wilcoxon Theta. Sampel adalah 32 pekerja penggilingan padi di wilayah kerja Puskesmas Sumbang 1. Hasil Penelitian: Analisis bivariat menunjukkan hubungan antara usia (p=0,009), riwayat penyakit paru (θ=0,3035), dan penggunaan masker (θ=0,2136) dengan kapasitas vital paru. Sementara itu, masa kerja (p=0,802), kebiasaan merokok (p=0,850), status gizi (p=0,315), durasi kerja (p=0,417), dan kebiasaan olahraga (p=0,190) tidak berhubungan dengan kapasitas vital paru. Kesimpulan: Usia, riwayat penyakit paru, dan penggunaan masker berhubungan dengan kapasitas vital paru pada pekerja penggilingan padi di wilayah kerja Puskesmas Sumbang 1. Pekerja penggilingan padi perlu menggunakan masker ketika bekerja dan memperhatikan jenis masker serta cara pemakaiannya dengan baik dan benar. | Background: Decreased lung vital capacity due to work or work environment factors can cause occupational diseases. Three (3) out of 6 rice mill workers had decreased lung vital capacity. The purpose of this study was to determine the factors associated with lung vital capacity in rice mill workers in the working area of Puskesmas Sumbang 1. Methodology: This study used a quantitative approach with a cross-sectional design. Data analysis used Spearman Rank Test and Wilcoxon Theta Test. The sample was 32 rice mill workers in the working area of Puskesmas Sumbang 1. Results: Bivariate analysis revealed associations between age (p=0,009), history of lung disease (θ=0,3035), and mask use (θ=0,2136) with lung vital capacity. Meanwhile, length of service (p=0,802), smoking habit (p=0,850), nutritional status (p=0,315), work duration (p=0,417), and exercise habit (p=0,190) were not associated with lung vital capacity. Conclusion: Age, history of lung disease, and mask use are associated with lung vital capacity in rice mill workers in the working area of Puskesmas Sumbang 1. Rice mill workers need to wear masks when working and pay attention to the type of mask and how to use it properly. | |
| 41403 | 43506 | E1A020080 | DISPARITAS PUTUSAN HAKIM DALAM TINDAK PIDANA PERKOSAAN DENGAN ANCAMAN KEKERASAN TERHADAP ANAK YANG DILAKUKAN OLEH ORANG TUA (Studi Kasus Putusan Nomor 79/Pid.Sus/2023/PN Unr dan Putusan Nomor85/Pid.Sus/2023/PN Bbu). | Disparitas merupakan adanya perbedaan atau jarak terhadap putusan hakim mengenai perkara yang sama. Maraknya kasus pelecehan seksual di Indonesia menimbulkan banyaknya perbedaan putusan yang berbeda pula dimasing-masing pengadilan. Penelitian ini bertujuan mengetahui disparitas putusan hakim dan mengetahui dasar pertimbangan hukum hakim dalam memutus perkara pada Putusan Nomor 79/Pid.Sus/2023/PN Unr dan Putusan Nomor 85/Pid.Sus/2023/PN Bbu. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian hukum yuridis normatif, dengan metode pendekatan undang-undang (Statute Approach), pendekatan kasus (Case Approach), dan pendekatan perbandingan (Comparative Approach). Spesifikasi penelitian ini adalah preskriptif, dengan jenis dan sumber data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder yang kemudian dikumpulkan melalui studi kepustakaan, serta diolah dan dianalisis dengan menggunakan metode normatif kualitatif yang disajikan dalam bentuk teks naratif. Hasil penelitian ini menunjukkan penyebab disparitas putusan antara lain faktor sistem hukum, faktor tidak adanya pedoman pemidanaan, dan faktor pendapat hakim. Dasar pertimbangan hakim dalam memutus perkara disparitas didasarkan pada pertimbangan yuridis, pertimbangan sosiologis, dan pertimbangan filosofis. Dimana hakim memutuskan bahwa dalam Putusan Nomor 79/Pid.Sus/2023/PN Unr terdakwa divonis 12 tahun penjara dan dalam Putusan Nomor 85/Pid.Sus/2023/PN Bbu terdakwa divonis penjara selama 15 tahun 6 bulan. | Disparity is the difference or distance between the judge's decisions regarding the same case. The rise in cases of sexual harassment in Indonesia has resulted in many different decisions in each court. This research aims to determine the disparity in judges' decisions and determine the basis of judges' legal considerations in deciding cases in Decisions Number 79/Pid.Sus/2023/PN Unr and Decision Number 85/Pid.Sus/2023/PN Bbu. This research uses a normative juridical type of legal research, with a statutory approach, a case approach and a comparative approach. The specifications of this research are prescriptive, with types and sources of secondary data consisting of primary legal materials and secondary legal materials which are then collected through literature study, and processed and analyzed using normative qualitative methods presented in the form of narrative text. The results of this research show that the causes of disparity in decisions include legal system factors, the absence of sentencing guidelines, and judges' opinions. The judge's basic considerations in deciding disparity cases are based on juridical considerations, sociological considerations and philosophical considerations. Where the judge decided that in decision No. 79/Pid.Sus/2023/PN Unr the defendant was sentenced to 12 years in prison and in decision No. 85/Pid.Sus/2023/PN Bbu the defendant was sentenced to prison for 15 years and 6 months. | |
| 41404 | 43507 | E1A020171 | KEDUDUKAN SAKSI KORBAN ANAK DALAM PROSES PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA PERKOSAAN TERHADAP ANAK (Studi Putusan Nomor 60/Pid.Sus/2023/PN Pbg) | Proses pembuktian dalam mengungkap suatu tindak pidana salah satunya dengan menghadirkan para saksi untuk diminta keterangannya. Apabila seseorang yang memberi keterangan sebagai saksi dalam persidangan telah memenuhi persyaratan sahnya sebagai alat bukti yang diatur dalam undang-undang tentu tidak akan menimbulkan permasalahan dalam proses pembuktiannya. Putusan Nomor 60/Pid.Sus/PN Pbg adalah tentang perkara tindak pidana perkosaan terhadap anak yang hanya anak sebagai satu-satunya saksi yang melihat, mendengar, dan mengalami sendiri peristiwa tersebut. Proses pembuktian di persidangan melibatkan korban anak sebagai saksi yang tentunya tidak memenuhi syarat formil sebagai saksi karena korban anak memberikan keterangan tidak di bawah sumpah. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana kedudukan Saksi Korban Anak dalam proses pembuktian tindak pidana terhadap anak dan bagaimana pertimbangan hukum hakim terhadap kedudukan Saksi Korban Anak dalam penjatuhan pidana pada putusan nomor 60/Pid.Sus/2023/PN Pbg. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian yuridis normatif, metode pendekatan perundang-undangan dan kasus, serta spesifikasi penelitian preskriptif analitis. Data yang digunakan adalah data sekunder dengan pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan yang disajikan melalui uraian secara sistematis dan logis dengan bentuk teks naratif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kedudukan Saksi Korban Anak dalam proses pembuktian tindak pidana perkosaan terhadap anak adalah sangat penting walaupun keterangan yang diberikan oleh Saksi Korban Anak bukan merupakan alat bukti yang sah dan kesaksiannya tidak dapat dipertanggung jawabkan secara sempurna karena memberikan keterangan tidak di bawah sumpah yang mana tidak memenuhi syarat formil untuk dikatakan sebagai saksi yang sah. Akan tetapi, keterangan Saksi Korban Anak berkesesuaian dengan alat bukti sah lainnya yang ada dalam persidangan sehingga dapat dijadikan sebagai petunjuk untuk menguatkan keyakinan hakim dan dipergunakan sebagai tambahan alat bukti yang sah lainnya dengan tetap menjamin keselamatan anak yang menjadi saksi sesuai dengan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak. | One of the evidentiary processes in uncovering a criminal act is by presenting witnesses to ask for their statements. If someone who gives testimony as a witness in a trial has fulfilled the legal requirements as evidence as regulated by law, this will certainly not cause problems in the evidentiary process. Decision Number 60/Pid.Sus/PN Pbg is about the criminal case of rape against a child where the child was the only witness who saw, heard and experienced the incident for himself. The evidentiary process at trial involved child victims as witnesses who of course did not fulfill the formal requirements as witnesses because the child victims gave statements not under oath. The formulation of the problem in this research is what is the position of Child Victim Witnesses in the process of proving criminal acts against children and what is the judge's legal consideration of the position of Child Victim Witnesses in sentencing in decision number 60/Pid.Sus/2023/PN Pbg. This research uses a normative juridical research type, statutory and case approach methods, as well as analytical prescriptive research specifications. The data used is secondary data with data collection using library research which is presented through systematic and logical descriptions in the form of narrative text. The results of this research indicate that the position of the Child Victim Witness in the process of proving the crime of rape against a child is very important even though the information given by the Child Victim Witness is not valid evidence and his testimony cannot be fully accounted for because he gave the statement not under oath. which does not meet the formal requirements to be said to be a valid witness. However, the testimony of Child Victim Witnesses is in accordance with other legal evidence available in the trial so that it can be used as a guide to strengthen the judge's confidence and be used as additional legal evidence while still ensuring the safety of children who are witnesses in accordance with the Justice System Law Child Crime. | |
| 41405 | 45117 | L1C020066 | Klasifikasi Habitat Perairan Laut Dangkal Menggunakan Citra Sentinel 2-A Berbasis Google Earth Engine di Pulau Payung, Kepulauan Seribu | Sebagai negara kepulauan, potensi Indonesia di bidang kelautan dan perikanan sangat luar biasa. Secara ekologis, perairan laut dangkal memiliki peranan penting dalam ekosistem laut, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam keberlangsungan hidup biota laut. Habitat perairan laut dangkal menjadi tempat berlindung dan tinggal bagi beberapa jenis spesies. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi habitat bentik di Pulau Payung, Kepulauan Seribu, serta mengevaluasi tingkat akurasinya. Survei dilakukan pada 12-14 Juni 2024 di Pulau Payung dengan pengambilan titik koordinat sebagai data lapangan. Penilaian akurasi dilakukan menggunakan confusion matrix. Algoritma Random Forest dan Support Vector Machine menghasilkan empat kelas habitat bentik, dengan dominasi kelas lamun. Hasil uji akurasi menunjukkan bahwa algoritma Random Forest memiliki tingkat akurasi sebesar 92,85%, sedangkan Support Vector Machine sebesar 85,70%. Hal ini membuktikan bahwa algoritma Random Forest lebih unggul dibandingkan Support Vector Machine dalam klasifikasi habitat bentik. Penelitian ini memberikan informasi penting bagi pengelolaan sumber daya laut, terutama dalam upaya konservasi dan deteksi perubahan lingkungan secara berkala. | As an archipelagic country, Indonesia's potential in marine and fisheries sectors was remarkable. Ecologically, shallow marine waters played a crucial role in marine ecosystems, both directly and indirectly supporting the survival of marine biota. Shallow marine habitats served as shelter and habitat for various species. This study aimed to obtain information on benthic habitats in Payung Island, Kepulauan Seribu, and evaluate their accuracy. Surveys were conducted from June 12-14, 2024, in Payung Island, with field data collected from coordinate points. Accuracy assessment was performed using a confusion matrix. The Random Forest and Support Vector Machine algorithms produced four benthic habitat classes, predominantly seagrass. The accuracy test results showed that the Random Forest algorithm had an overall accuracy of 92.85%, while the Support Vector Machine had 85.70%. The results proved that the Random Forest algorithm was superior to the Support Vector Machine in benthic habitat classification. This study provided essential information for marine resource management, particularly in conservation efforts and periodic environmental change detection. | |
| 41406 | 43503 | E1A019234 | TIDAK DIGANGGUGUGATNYA GEDUNG PERWAKILAN ASING MENURUT KONVENSI WINA 1961 TENTANG HUBUNGAN DIPLOMATIK (Studi Kasus tentang Penembakan Yvonne Fletcher di Wilayah Kedutaan Besar Libya untuk Inggris pada 1984) | Dalam pelaksanaan hubungan diplomatik yang melibatkan agen diplomatik, terkadang terjadi penyalahgunaan hak kekebalan dan keistimewaan diplomatik. Berdasarkan kasus dalam penelitian ini, agen diplomatik Libya melakukan penembakan dari dalam gedung perwakilan diplomatik yang menewaskan seorang polisi yaitu Yvonne Fletcher, Inggris sekalu negara penerima tidak dapat melakukan penyelidikan karena terhalang oleh prinsip inviolability gedung perwakilan diplomatik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaturan tidak dapat diganggugugatnya gedung perwakilan asing menurut Konvensi wina 1961 tentang hubungan diplomatik dan menganalisis prinsip tidak diganggugugatnya gedung perwakilan asing dalam kasus penembakan Yvonne Fletcher pada 1984 oleh staf perwakilan diplomatik Libya serta tanggung jawab negara Libya. Penelitian ini menggunakan pendekatan perundang-undangan, pendekatan analisis, dan pendekatan kasus, serta menggunakan spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder. Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan yang disajikan dengan deskriptif naratif serta menggunakan metode analisis kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian, gedung perwakilan mendapatkan kekebalan dan tidak dapat diganggu gugat berdasarkan Pasal 22 ayat (1) Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik, namun agen diplomatik negara pengirim juga harus menghormati hukum negara penerima dan dilarang untuk mempergunakan gedung perwakilan di luar fungsinya sebagaimana Pasal 41 ayat (1) dan (3). Agen diplomatik Libya melakukan pelanggaran Pasal 41 ayat (1) dan (3) dengan melakukan penembakan yang berakibat tewasnya Yvonne Fletcher. Dalam kejadian ini kepolisian Inggris tidak dapat melakukan penyelidikan terhadap gedung kedutaan Libya karena menurut Pasal 22 ayat (1) untuk memasuki gedung kedutaan harus berdasarkan izin dari kepala perwakilan. Atas kejadian ini Inggris memutuskan hubungan diplomatik dengan Libya dan mendeklarasikan persona non grata kepada semua agen dan staf diplomatik Libya yang berada di Inggris dan memulai penyelidikan atas kematian Fletcher di gedung perwakilan Libya. | In the implementation of diplomatic relations involving diplomatic agents, sometimes there is an abuse of diplomatic immunity and privileges. In the case under study, Libyan diplomatic agents carried out a shooting from within the diplomatic mission premises, resulting in the death of a police officer, namely Yvonne Fletcher. The UK, as the receiving state, was unable to conduct an investigation due to the principle of the inviolability of the diplomatic mission premises. The objective of this research is to understand the regulation of the inviolability of foreign mission premises according to the Vienna Convention on Diplomatic Relations 1961 and to analyze the principle of the inviolability of foreign mission premises in the case of the shooting of Yvonne Fletcher in 1984 by the staff of the Libyan diplomatic mission and the responsibility of the Libyan state. This research employs legislative approach, analytical approach, and case approach, and uses a descriptive analytical research specification. The data sources used are secondary data. The data collection method is conducted through literature review presented with descriptive narrative and employs qualitative analysis methods. Based on the research findings, the diplomatic mission premises are granted immunity and inviolable according to Article 22 paragraph (1) of the Vienna Convention on Diplomatic Relations 1961. However, diplomatic agents of the sending state must also respect the laws of the receiving state and are prohibited from using the mission premises beyond its functions, as stipulated in Article 41 paragraphs (1) and (3). The Libyan diplomatic agents violated Article 41 paragraphs (1) and (3) by carrying out the shooting that resulted in the death of Yvonne Fletcher. In this incident, the British police were unable to investigate the Libyan embassy premises because, according to Article 22 paragraph (1), entry into the embassy premises must be based on permission from the head of the mission. Due to this incident, the UK decided to sever diplomatic ties with Libya, declared persona non grata to all Libyan diplomatic agents and staff in the UK, and initiated an investigation into Fletcher's death at the Libyan diplomatic mission | |
| 41407 | 43509 | J0A019015 | Writing English Public Service Information Booklet in Immigration Office Class II Tasikmalaya | Laporan pelatihan kerja ini diberi judul “Writing English Public Service Information Booklet in Immigration Office Class II Tasikmalaya”. Diselenggarakan pada tanggal 08 Maret 2022 – 08 April 2022. Tujuan dilaksanakannya pelatihan kerja ini adalah untuk menyediakan booklet berbahasa Inggris untuk memudahkan warga negara asing mengetahui informasi layanan publik yang ada di Kantor Imigrasi Kelas II Tasikmalaya, dan mengetahui hambatannya dan mencari solusinya. Dalam kegiatan pelatihan kerja ini metode yang digunakan adalah, observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk menambah referensi penulis. Dalam melaksanakan pelatihan kerja, ditemukan bahwa penggunaan bahasa Inggris dalam booklet perusahaan jarang digunakan. Selain itu pemanfaatan Media Sosial sebagai media publikasi belum maksimal di perusahaan. Ada beberapa kendala yang dihadapi dalam melaksanakan kerja praktek ini, seperti terbatasnya pengetahuan penulis tentang uraian tugas yang dilakukan selama pelatihan kerja untuk menunjang informasi dalam booklet, kurangnya kemampuan penulis dalam mendesain sampul booklet dan isi booklet, terbatasnya pengetahuan penulis dalam menguasai beberapa bahasa, tata bahasa, dan kosa kata yang sering digunakan dalam kantor imigrasi.. Berdasarkan pembahasan, terdapat beberapa kesimpulan. Bahasa Inggris adalah bahasa yang dapat membantu pengunjung asing. Booklet berbahasa Inggris ini dapat sangat bermanfaat karena membantu memudahkan pengunjung asing mengetahui informasi pelayanan publik di Kantor Imigrasi Kelas II Tasikmalaya. | This job training report is entitled “Writing English Public Service Information Booklet in Immigration Office Class II Tasikmalaya”. It was held on March 08, 2022 - April 08, 2022. The purpose of implementing this job training is to provide English booklet for making it easier for foreign citizens to find out the public service information that is in Immigration Office Class II Tasikmalaya, and know the obstacles and to find the solutions. In this job training activity, the methods were observation, interview, and documentation. In carrying out the job training, it was found that the use of English in booklet of the company is seldom used. Besides, the use of social media as the publication was not maximum in the company. There were several obstacles faced in carrying out this job training, such as the limited knowledge of the writer about the job description carried out during job training to support the information in the booklet, the lacked of the writer’s skill in design about the cover and the content of the booklet, the limited knowledge of the writer in mastering several languages, grammar, and vocabulary that are often spoken in immigration office. Based on the discussion, there are several conclusions. English is a language that can help the foreign visitors. This English booklet can be very useful because it helps to make it easier for foreign visitors to know about public service information at Immigration Office Class II Tasikmalaya. | |
| 41408 | 43512 | A1A017076 | Analisis Perwilayahan Komoditas Padi Sawah di Kabupaten Banjarnegara | Padi sawah merupakan komoditas tanaman pangan yang memiliki jumlah produksi tertinggi dibandingkan dengan tanaman pangan lainnya di Kabupaten Banjarnegara. Hampir setiap kecamatan di Kabupaten Banjarnegara terdapat usahatani padi sawah dengan jumlah produksi yang berbeda-beda dan belum dapat dipastikan apakah padi sawah merupakan komoditas basisnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian peran komoditas padi sawah dalam pembangunan daerah di Kabupaten Banjarnegara. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui daerah basis padi sawah di Kabupaten Banjarnegara, (2) mengetahui karakteristik penyebaran komoditas padi sawah berdasarkan lokalita dan spesialisasi di Kabupaten Banjarnegara, dan (3) mengetahui peranan padi sawah sebagai sektor basis dalam mendukung kegiatan sektor pertanian tanaman pangan di Kabupaten Banjarnegara. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif, jenis data digunakan yaitu data sekunder dengan metode pengambilan data menggunakan metode dokumentasi dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam kurun waktu 2013-2022. Data sekunder diolah menggunakan Software Excel 2010. Objek penelitian yaitu produksi padi sawah tahun 2013-2022. Metode analisis data digunakan yaitu Analisis Location Quotient (LQ); Analisis Lokalita dan Spesialisasi; dan Analisis Basic Service ratio (BSR) dan Regional Multiplier (RM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) wilayah basis komoditas padi sawah di Kabupaten Banjarnegara tahun 2013-2022 adalah Kecamatan Susukan, Purwareja Klampok, Mandiraja, Banjarnegara, Pagedongan, Sigaluh, Madukara, Banjarmangu, Wanadadi, Rakit, Karangkobar, Pagentan, Kalibening dan Pandanarum, (2) karakteristik penyebaran komoditas padi sawah di Kabupaten Banjarnegara tidak terkonsentrasi pada suatu kecamatan dan tidak satu pun kecamatan yang menspesialisasikan pada komoditas padi sawah saja, dan (3) sektor basis komoditas padi sawah tahun 2013-2022 mampu mendukung kegiatan pertanian di Kabupaten Banjarnegara. | Lowland rice is a food crop commodity that has the highest production volume compared to other food crops in Banjarnegara Regency. Almost every sub-district in Banjarnegara Regency has lowland rice farming with different production levels and it is not certain whether lowland rice is the basic commodity. Therefore, it is necessary to research the role of lowland rice commodities in regional development in Banjarnegara Regency. This research aims to: (1) determine the base areas for lowland rice in Banjarnegara Regency, (2) determine the characteristics of the distribution of lowland rice commodities based on locality and specialization in Banjarnegara Regency, and (3) determine the role of lowland rice as a base sector in supporting agricultural sector activities food crops in Banjarnegara Regency. This research is quantitative descriptive research, the type of data used is secondary data with data collection methods using documentation methods from the Central Statistics Agency (BPS) in the period 2013-2022. Secondary data was processed using Excel 2010 software. The research object was lowland rice production in 2013-2022. The data analysis method used is Location Quotient (LQ) Analysis; Locality and Specialization Analysis; and Analysis of Basic Service Ratio (BSR) and Regional Multiplier (RM). The research results show that (1) the commodity base areas for lowland rice in Banjarnegara Regency in 2013-2022 are the Districts of Susukan, Purwareja Klampok, Mandiraja, Banjarnegara, Pagedongan, Sigaluh, Madukara, Banjarmangu, Wanadadi, Rakit, Karangkobar, Pagentan, Kalibening and Pandanarum, (2) the characteristics of the distribution of lowland rice commodities in Banjarnegara Regency are not concentrated in one sub-district and not a single sub-district specializes in lowland rice commodities alone, and (3) the lowland rice commodity base sector in 2013-2022 is able to support agricultural activities in Banjarnegara Regency. | |
| 41409 | 43448 | A1A019063 | Analisis Usahatani dan Perhitungan Harga Pokok Produksi Padi Protani di kecamatan Kemangkon dan Kecamatan Padamara Kabupaten Purbalingga | Padi Inpago Unsoed Protani merupakan padi hasil persilangan antara padi Ciherang dengan padi G 39 yang dirakit oleh tim pemulia tanaman Universitas Jenderal Soedirman. Kecamatan Kemangkon dan Kecamatan Padamaran, Kabupaten Purbalingga merupakan lokasi penghasil padi Protani. Padi Protani masih merupakan varietas baru di kalangan petani maka diperlukan perhitungan usahatani dan perhitungan harga pokok produksi untuk mengetahui secara pasti analisis usahatani dan perhitungan harga pokok produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biaya, penerimaan, keuntungan, kelayakan usahatani padi Protani, dan harga pokok produksi padi Protani. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Kemangkon dan Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga pada bulan Juli hingga September 2023 dengan 50 petani menjadi sampel. Analisis data menggunakan analisis keuntungan, analisis Break Even Point, analisis Revenue Cost, dan analisis perhitungan harga pokok produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya total yang dibutuhkan pada usahatani padi Protani per hektar adalah Rp20.434.204. Penerimaan yang diterima pada usahatani padi Protani per hektar adalah Rp32.142.857. Keuntungan yang diterima pada usahatani padi Protani per hektar adalah Rp11.708.653. Hasil analisis usahatani padi Protani selama satu periode menunjukkan bahwa usahatani tersebut layak dijalankan dilihat dari hasil penjualan berada di sebelah kanan garis biaya total dengan garis biaya penerimaan atau berada di daerah laba atau melebihi nilai Break Even Point dan nilai Revenue Cost yang sudah lebih dari 1 yaitu 1,57. Harga pokok produksi padi Protani adalah sebesar Rp18.842.622. | Inpago Unsoed Protani is resulting from a cross between Ciherang rice and G39 rice which was assembled by a team of plant breeders at Jenderal Soedirman University. Kemangkon District and Padamaran District, Purbalingga Regency are Protani rice producing locations. Protani is still a new variety among farmers, accordingly farming calculations and calculation of the cost of production are needed to know exactly the farming analysis and calculating cost of production. This research aims to determine the costs, revenues, profits, feasibility of Protani rice farming, and calculation of the cost of Protani production. The research was carried out in Kemangkon District and Padamara District, Purbalingga Regency from July to September 2023 with 50 farmers as samples. Data analysis uses profit analysis, Break Even Point analysis, Cost of Income analysis, and cost of production calculation analysis. The research results show that the total costs required for Protani farming per hectare are IDR 20.434.204. The income received from Protani farming per hectare is IDR 32.142.857. The profit received from Protani farming per hectare is IDR 11.708.653. The results of the analysis of the Protani rice farming business during one period show that the farming is feasible to run as seen from the sales results which are to the right of the total cost line with the revenue cost line or are in the profit area or exceed the Break Even Point value and the Revenue Cost value which is more than 1, namely 1,57. The cost of production for Protani is IDR 18.842.622. | |
| 41410 | 45119 | F1A020050 | Ngopi dan Pecinta Alam Studi tentang Ngopi Bareng sebagai Sarana Transmisi Ilmu Kepecintaalaman di Unit Pandu Lingkungan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Jenderal Soedirman | Unit Pandu Lingkungan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Jenderal Soedirman (UPL MPA Unsoed) merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa yang bergerak dalam bidang kepencintaalaman. Selain kegiatan lapangan (outdoor), UPL MPA Unsoed juga banyak melakukan kegiatan di dalam ruangan, seperti rapat dan diskusi kepencintaalaman. Salah satu hal menarik dari kegiatan UPL MPA Unsoed adalah kebiasaan berdiskusi dengan suguhan satu cangkir kopi hitam yang dapat dinikmati bersama-sama. Bagi sebagian anggota, Ngopi bareng merupakan salah satu metode paling efektif untuk mentransfer pengetahuan dalam diskusi. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan tradisi Ngopi bareng sebagai sarana transmisi ilmu kepecintaalaman UPL MPA Unsoed. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sasaran penelitiannya adalah para pengurus, anggota dan alumni UPL MPA Unsoed yang pernah atau sering melakukan tradisi Ngopi bareng di UPL MPA Unsoed. Tehnik penentuan informan menggunakan purposive sampling serta analiasa data menggunakan analisis data interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minum kopi bersama bagi anggota UPL MPA Unsoed menjadi sarana untuk transmisi ilmu kepecintaalaman dan meningkatkan ikatan solidaritas di antara anggota. | The Environmental Guide Unit for Nature Lovers Students at Jenderal Soedirman University (UPL MPA Unsoed) is one of the student activity units that operates in the field of nature lovers. Apart from field activities (outdoor), UPL MPA Unsoed also carries out many indoor activities, such as meetings and discussions on nature. One of the interesting things about UPL MPA Unsoed activities is the habit of discussing with a cup of black coffee which can be enjoyed together. For some members, having coffee together is one of the most effective methods for transferring knowledge in discussions. Therefore, the aim of this research is to describe the tradition of drinking coffee together as a means of transmitting knowledge about nature at UPL MPA Unsoed. The method used in this research is a descriptive qualitative method with a case study approach. Data collection was carried out through interviews, observation and documentation. The target of the research is the administrators, members and alumni of UPL MPA Unsoed who have or often carry out the tradition of drinking coffee together at UPL MPA Unsoed. The technique for determining informants uses purposive sampling and data analysis using interactive data analysis. The results of the research show that drinking coffee together for members of UPL MPA Unsoed is a means for transmitting knowledge of nature and increasing bonds of solidarity between members. | |
| 41411 | 43511 | I1A020056 | PENGARUH KEBIASAAN HIDUP DAN LINGKUNGAN FISIK TERHADAP KEJADIAN TUBERKULOSIS DI DESA BEJI TAHUN 2023 | Latar Belakang: Desa Beji di wilayah kerja Puskesmas Kedungbanteng memiliki jumlah kasus tuberkulosis tertinggi yaitu 29 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kebiasaan hidup dan lingkungan fisik terhadap kejadian tuberkulosis di Desa Beji. Metodologi: Desain penelitian menggunakan kasus kontrol. Sampel penelitian berjumlah 72 orang (24 kasus dan 48 kontrol). Data kasus diperoleh dari Puskesmas Kedungbanteng mulai dari Bulan Januari – Oktober 2023. Analisis data menggunakan analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Variabel yang diteliti antara lain kebiasaan merokok, kebiasaan membuka jendela, kebiasaan menjemur kasur, luas ventilasi, jenis dinding, jenis lantai, dan pencahayaan. Hasil Penelitian: Hasil p value kebiasaan merokok (0,185), kebiasaan membuka jendela (0,452), kebiasaan menjemur kasur sebesar (0,488), luas ventilasi sebesar (0,096), jenis dinding (0,205), jenis lantai (0,022), pencahayaan (0,017). Nilai OR pencahayaan (3,389). Kesimpulan: Pencahayaan merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian tuberkulosis di Desa Beji. Diharapkan masyarakat untuk senantiasa memperhatikan kondisi rumah. Bagi peneliti selanjutnya bisa menambahkan variabel yang mungkin berhubungan dengan kejadian tuberkulosis. | Background: Beji Village in the Kedungbanteng Community Health Center working area has the highest number of tuberculosis cases, namely 29 cases. This research aims to determine the influence of living habits and physical environment on the incidence of tuberculosis in Beji Village. Methodology: The research design used case control. The research sample consisted of 72 people (24 cases and 48 controls). Case data was obtained from the Kedungbanteng Community Health Center starting from January – October 2023. Data analysis used univariate, bivariate and multivariate analysis. Variables that studied included smoking habits, window opening habits, mattress drying habits, ventilation area, wall type, floor type and lighting. Research result: Results p value smoking habit (0.185), window opening habit (0.452), mattress drying habit (0.488), ventilation area (0.096), wall type (0.205), floor type (0.022), lighting (0.017). Lighting OR value (3.389). Conclusion: Lighting is the variable that has the most influence on the incidence of tuberculosis in Beji Village. It is hoped that the public will always pay attention to the condition of the house. Future researchers can add variables that may be related to the incidence of tuberculosis. | |
| 41412 | 43514 | F1C020028 | IMPLEMENTASI PEMANFAATAN MEDIA HANDLING CUSTOMER COMPLAINT DI RUMAH SAKIT ORTHOPAEDI PURWOKERTO (RSOP) | Rumah sakit sebagai pelayanan kesehatan memberi berbagai jenis pelayanan kepada masyarakat, baik dari fasilitas maupun pelayanan medik. Memperhatikan pelayanan kepada masyarakat sebagai pelanggan (pasien di rumah sakit) tentu sangat penting karena mereka dapat mengajukan keluhan tentang pelayanan yang diterima dan akan berdampak besar pada penyedia layanan. Untuk menangani keluhan tersebut, maka ada suatu syarat yang penting bagi setiap instansi rumah sakit dalam meningkatkan pelayanan yang prima, yakni penanganan keluhan (handling complaint). Penanganan complaint harus dilakukan tanpa terkecuali dengan Rumah Sakit Orthopaedi Purwokerto (RSOP) yang sudah menyediakan berbagai media sebagai wadah saran dan kritik dari masyarakat. Maka dari itu, tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui implementasi pemanfaatan media handling customer complaint di Rumah Sakit Orthopaedi Purwokerto (RSOP). Penelitian ini merupakan bagian dari kajian strategi public relations dengan merepresentasikan bahwa media handling customer complaint sejalan atau tidaknya dengan strategi public relations yang disampaikan oleh Cutlip tahun 2000. Sementara itu teori yang digunakan pada penelitian ini adalah Teori Komunikasi Krisis Coombs Model Situasional Crisis Communication Theory (SCCT) . Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif yang datanya diperoleh dengan teknik wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian menjelaskan bahwa penyampaian keluhan yang dilakukan oleh pasien, keluarga pasien, maupun pengunjung RSOP dapat disampaikan melalui beberapa media, yakni formulir keluhan, media sosial (Instagram dan Facebook), hotline WhatsApp, maupun Google Review. Media yang dominan digunakan oleh pasien dan bidang customer care di RSOP adalah formulir keluhan dikarenakan formulir tersebut diisi oleh pasien saat ada keluhan di dalam rumah sakit dan dapat ditanggapi oleh bidang customer care dalam waktu yang sama. Untuk jenis keluhan yang disampaikan juga beragam, baik keluhan atas pelayanan, fasilitas, maupun komunikasi yang seringkali terjadi di RSOP. Implementasi pemanfaatan media customer komplain tersebut ditangani oleh customer care dengan SPO Penanganan Keluhan/Komplain yang ada dimulai dari identifikasi keluhan, pendampingan pasien, hingga tahap tindak lanjut. Kemudian, penanganan tersebut dievaluasi oleh internal customer care. Berdasarkan standar penanganan komplain, penanganan keluhan customer yang dilakukan oleh bidang customer care RSOP masih termasuk dalam kategori krisis tingkat rendah (grading warna hijau) yang terselesaikan dalam waktu 1x24jam. | Hospitals as health services provide various types of services to the community, both in terms of facilities and medical services. Paying attention to services to the public as customers (patients in hospitals) is of course very important because they can submit complaints about the services they receive and this will have a big impact on service providers. To handle these complaints, there is an important requirement for every hospital agency to improve excellent service, namely handling complaints. Complaint handling must be carried out without exception by the Purwokerto Orthopedic Hospital (RSOP) which has provided various media as a forum for suggestions and criticism from the public. Therefore, the aim of this research is to determine the implementation of the use of media handling customer complaints at the Purwokerto Orthopedic Hospital (RSOP). This research is part of a study of public relations strategies by representing whether media handling customer complaints is in line with the public relations strategy presented by Cutlip in 2000. Meanwhile, the theory used in this research is Coombs' Crisis Communication Theory, Situational Crisis Communication Theory (SCCT). The research was conducted using descriptive qualitative research methods where data was obtained using in-depth interview and observation techniques. The research results explain that complaints made by patients, patient families, and RSOP visitors can be conveyed through several media, namely complaint forms, social media (Instagram and Facebook), WhatsApp hotline, and Google Review. The dominant media used by patients and the customer care sector at RSOP is the complaint form because this form is filled in by patients when there is a complaint in the hospital and can be responded to by the customer care sector at the same time. The types of complaints submitted also vary, including complaints about services, facilities and communication which often occur at RSOP. The implementation of the use of customer complaint media is handled by customer care with the existing SPO for Handling Complaints starting from complaint identification, patient assistance, to the follow-up stage. Then, the handling is evaluated by internal customer care. Based on complaint handling standards, customer complaint handling carried out by the RSOP customer care department is still included in the low level crisis category (green grading) which is resolved within 1 x 24 hours. | |
| 41413 | 43515 | I1E017075 | EVALUASI PEMBINAAN PRESTASI OLAHRAGA BELADIRI JUDO DI KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2020 | Latar Belakang : Pembinaan Prestasi Olahraga merupakan wadah untuk menigkatkan bakat secara terstruktur dengan mengembangkannya melalui setiap klub disuatu daerah. Untuk mengetahui kondisi obyek dari sebuah sebuah perencanaan sampai mengetahui hasil prestasi diperlukan proses evaluasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pembinaan prestasi olahraga beladiri judo yang dilaksanakan di Kabupuaten Banyumas dengan pendekatan CIPP (Context, Input, Process, Product). Metodologi : Menggunakan metode studi deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian terdiri dari 4 pengurus, 2 pelatih, dan 6 atlet. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode Purposive Sampling. Hasil Penelitian : Berdasarkan analisis data yang dilakukan, diperoleh hasil evaluasi pelaksanaan kegiatan pembinaan PJSI Kabupaten Banyumas secara keseluruhan, aspek konteks sebesar 81,25% (pengurus), 90% (pelatih) dan 85,50% (atlet) sedangkan untuk aspek input 76,50% (pengurus), 89,25% (pelatih) dan 86% (atlet) sedangkan untuk aspek proses 81,25% (pengurus), 87,50% (pelatih) dan 88,58% (atlet). untuk aspek produk 91,50% (pengurus), 90%(pelatih) dan 90,75% (atlet). Kesimpulan : Dari analisis data yang dilakukan, menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatan pembinaan prestasi judo PJSI Kabupaten Banyumas masuk pada kategori baik dengan persentase sebesar 86,1%. | Background: Sports Achievement Development is a forum for improving talent in a structured manner by developing it through each club in an area. To find out the condition of an object from a plan to knowing the results of achievements, an evaluation process is needed. The aim of this research is to evaluate the development of judo martial arts performance carried out in Banyumas Regency using the CIPP (Context, Input, Process, Product) approach. Methodology: Using quantitative descriptive study methods. The research sample consisted of 4 administrators, 2 coaches and 6 athletes. The sampling technique uses the Purposive Sampling method. Results: Based on the data analysis carried out, the results obtained from the evaluation of the implementation of PJSI coaching activities in Banyumas Regency as a whole, the context aspect was 81.25% (managers), 90% (coaches) and 85.50% (athletes) while for the input aspect it was 76 .50% (managers), 89.25% (coaches) and 86% (athletes) while for the process aspect 81.25% (managers), 87.50% (coaches) and 88.58% (athletes). for product aspects 91.50% (managers), 90% (coaches) and 90.75% (athletes). Conclusion: From the data analysis carried out, it shows that the implementation of judo PJSI achievement development activities in Banyumas is in the good category with a percentage of 86.1%. | |
| 41414 | 43516 | A1C019072 | TEKNIK PENGOLAHAN LIMBAH LUMPUR (SLUDGE) MENJADI PUPUK KOMPOS DI PT. PECU (PACIFIC EASTERN COCONUT UTAMA) PANGANDARAN | PT. PECU (Pacific Eastern Coconut Utama) Pangandaran adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang pengolahan kelapa yang menghasilkan limbah lumpur padat (sludge) dari proses pengolahan kelapa. Limbah lumpur (sludge) adalah endapan suspensi dari limbah cair, yang berasal dari Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Pemanfaatan limbah sludge sebagai bahan pengomposan dilakukan untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Faktor yang digunakan pada pembuatan pupuk kompos yaitu dengan bahan baku limbah sludge, aktivator EM4, sekam padi, dan arang sekam. Perbedaan komposisi bahan yang digunakan bertujuan untuk mengetahui hasil kombinasi yang paling ideal berdasarkan standar mutu kualitas kompos SNI 19-7030-2004. Pengomposan dilakukan selama 18 – 21 hari. Parameter yang diamati dengan berpedoman pada SNI 19-7030-2004 yaitu kadar air, temperatur, warna, bau, ukuran partikel, kemampuan ikat air, pH, Nitrogen, Phosfor (P2O5), Kalium (K2O). Limbah lumpur (sludge) memiliki potensi sebagai bahan pupuk kompos, dan kombinasi bahan yang sesuai dengan kombinasi bahan yaitu limbah lumpur (sludge) 500 gram, aktivator EM4 100 ml, dan arang sekam padi 500 gram. Instalasi terebut memiliki kadar air sebesar 15,3 %, temperatur 34 ℃, berwarna abu-abu hitam, berbau tanah, ukuran partikel sebesar 1 mm, kemampuan ikat air sebesar 180 %, pH sebesar 6,8, Nitrogen 0,56032 %, Phosfor (P2O5) 0,01999 %, Kalium (K2O) 0,4 – 0,49 %. | PT PECU (Pacific Eastern Coconut Utama) Pangandaran is a company engaged in coconut processing that produces solid sludge waste from the coconut processing process. Sludge waste is a suspension sediment from liquid waste, which comes from the Waste Water Treatment Plant (WWTP). Utilization of sludge waste as composting material is done to reduce environmental pollution. The factors used in making compost fertilizer are the raw materials of sludge waste, EM4 activator, rice husk, and husk charcoal. The difference in the composition of the materials used aims to determine the results of the most ideal combination based on the quality standards of compost quality SNI 19-7030-2004. Composting was carried out for 18-21 days. Parameters observed based on SNI 19-7030-2004 are moisture content, temperature, color, odor, particle size, water binding ability, pH, Nitrogen, Phosphorus (P2O5), Potassium (K2O). Waste sludge has potential as a compost material, and the appropriate combination of materials is 500 grams of waste sludge, 100 ml EM4 activator, and 500 grams of rice husk charcoal. The installation has a moisture content of 15.3%, temperature of 34 ℃, black gray in color, smells soil, particle size of 1 mm, water binding ability of 180%, pH of 6.8, Nitrogen 0.56032%, Phosphorus (P2O5) 0.01999%, Potassium (K2O) 0.4 - 0.49%. | |
| 41415 | 43517 | F1B019089 | Pengembangan Desa Wisata Berbasis Community Based Tourism di Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas | Program desa wisata diharapkan menjadi sarana untuk memberdayakan masyarakat agar lebih mandiri dan lebih maju khususnya pelaku pariwisata. Namun dalam kenyataannya, pelaku pariwisata belum berdaya secara maksimal, seperti halnya pengembangan desa wisata di Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan pengembangan desa wisata berbasis Community Based Tourism di Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan teori partisipasi yang dikemukakan oleh Cohen dan Uphoff, meliputi empat tahap yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap menikmati hasil, serta tahap evaluasi. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata berbasis Community Based Tourism di Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas sudah terlaksana, tetapi belum berjalan secara optimal. Masyarakat belum terlibat sepenuhnya dalam tahap perencanaan. Pada tahap menikmati hasil, masyarakat belum terlibat dalam pemeliharaan dan perawatan proyek yang sudah dibangun. Pada tahap evaluasi, masyarakat cenderung pasif dalam memberikan kritik maupun saran dalam pengembangan desa wisata. Sedangkan dalam tahap pelaksanaan, masyarakat sudah terlibat dalam menyumbangkan material dan tenaga sebagai anggota proyek dalam membangun wisata. Dalam hal ini, seharusnya masyarakat lebih berpartisipasi dalam setiap tahap pengembangan desa wisata, selain itu dari pihak pemerintah desa juga harus mensosialisasikan program secara transparan kepada masyarakat. | The tourism village program is expected to be a means of empowering communities to be more independent and more advanced, especially tourism actors. However, in reality, tourism actors are not yet maximally empowered, as is the case with the development of tourist villages in Sambirata Village, Cilongok District, Banyumas Regency. This research aims to determine and describe the development of a community-based tourism village in Sambirata Village, Cilongok District, Banyumas Regency. This research uses the participation theory proposed by Cohen and Uphoff, including four stages, namely the planning stage, implementation stage, enjoying the results stage, and evaluation stage. The research method uses descriptive qualitative methods. Data collection techniques use interview, observation and documentation methods. The results of the research show that the development of a community-based tourism village in Sambirata Village, Cilongok District, Banyumas Regency has been implemented, but is not yet running optimally. The community has not been fully involved in the planning stage. At the stage of enjoying the results, the community is not yet involved in the maintenance and upkeep of the projects that have been built. At the evaluation stage, the community tends to be passive in providing criticism and suggestions in developing tourist villages. Meanwhile, in the implementation stage, the community has been involved in donating materials and labor as project members in developing tourism. In this case, the community should participate more in every stage of developing a tourist village, apart from that, the village government must also socialize the program transparently to the community. | |
| 41416 | 43518 | E1A019298 | SANKSI DEWAN KEAMANAN PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENURUT HUKUM INTERNASIONAL (Studi tentang Kasus Sanksi Dewan Keamanan terhadap Invasi Irak atas Kuwait pada 1990) | Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa merupakan satu-satunya badan internasional yang diberikan kewenangan menggunakan kekuatan non-militer dan militer dalam rangka menegakkan perdamaian dan keamanan dunia. Invasi Irak terhadap Kuwait pada 2 Agustus 1990 merupakan pelanggaran terhadap perdamaian internasional. Dewan Keamanan meresponnya dengan menjatuhkan sanksi ekonomi dan militer. Dewan Keamanan melalui Resolusi 678 mengesahkan penggunaan cara apapun termasuk militer untuk memaksa Irak agar menarik mundur pasukan militernya dari Kuwait dan mengembalikan kedaulatan Kuwait. Resolusi tersebut telah digunakan oleh Koalisi Militer pimpinan Amerika Serikat sebagai alat untuk membenarkan penyerangan militer tanpa batas kepada Irak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaturan dan bentuk-bentuk sanksi Dewan Keamanan dan menganalisis penerapan sanksi militer Dewan Keamanan kepada Irak pada 1991. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan spesifikasi preskriptif. Pendekatan yang digunakan adalah perundang-undangan dan kasus. Data dikumpulkan dengan metode studi pustaka, kemudian dianalisis secara kualitatif dan disajikan dalam bentuk deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa kewenangan Dewan Keamanan dalam menjatuhkan sanksi diatur dalam Pasal 39, Pasal 41, dan Pasal 42 Piagam PBB. Keputusan yang diambil berdasarkan ketiga Pasal tersebut bersifat memaksa dan mengikat. Dewan Keamanan berdasarkan Pasal 39, berwenang untuk menentukan situasi yang termasuk ancaman terhadap perdamaian, pelanggaran terhadap perdamaian, dan tindakan agresi. Pasal ini menjadi syarat yang harus dipenuhi, sebelum Dewan Keamanan menjatuhkan sanksi non-militer berdasarkan Pasal 41 dan sanksi militer berdasarkan Pasal 42. Dalam menerapkan sanksi militer kepada Irak, Dewan Keamanan telah mengabaikan beberapa kewajiban yang tercantum dalam Piagam PBB. Pertama, tidak dipenuhinya persetujuan bulat anggota tetap ketika pemungutan suara Resolusi 678 yang mengesahkan sanksi militer. Kedua, tidak dibuatnya perjanjian khusus antarnegara anggota PBB untuk menyerahkan pasukan militer atau bantuan fasilitas lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan Pasal 42 kepada Dewan Keamanan. Ketiga, tidak dibentuknya Komite Staf Militer yang akan memegang komando pelaksanaan sanksi militer, kewajiban ini tercantum dalam Pasal 45 sampai Pasal 47 Piagam PBB. | The United Nations Security Council is the only international body authorized to use non-military and military force in order to uphold world peace and security. Iraq's invasion of Kuwait on August 2, 1990 was a violation of international peace. The Security Council responded by imposing economic and military sanctions. The Security Council through Resolution 678 authorized the use of any means including military to force Iraq to withdraw its military forces from Kuwait and restore Kuwaiti sovereignty. The resolution has been used by the US-led Military Coalition as a tool to justify unlimited military attacks on Iraq. This study aims to determine the arrangements and forms of Security Council sanctions and analyze the application of Security Council military sanctions against Iraq in 1991. This research is a normative legal research with prescriptive specification. The approaches used are legislation and cases. Data is collected by literature study method, then analyzed qualitatively and presented in descriptive form. Based on the results of research and discussion, it shows that the authority of the Security Council in imposing sanctions is regulated in Article 39, Article 41, and Article 42 of the UN Charter. Decisions taken based on the three Articles are compelling and binding. The Security Council under Article 39, is authorized to determine situations that include threats to peace, violations of peace, and acts of aggression. This article is a requirement that must be met, before the Security Council imposes non-military sanctions under Article 41 and military sanctions under Article 42. In applying military sanctions against Iraq, the Security Council has ignored several obligations listed in the UN Charter. First, the unanimous consent of permanent members was not met when voting on Resolution 678 which authorized military sanctions. Second, no special agreement was made between UN member states to submit military forces or other facility assistance needed in the implementation of Article 42 to the Security Council. Third, there is no Military Staff Committee that will hold the command of the implementation of military sanctions, this obligation is stated in Article 45 to Article 47 of the UN Charter. | |
| 41417 | 43520 | J1E019043 | THE EFFECTIVENESS OF MINI-SHORT CREATIVE DRAMA AS LEARNING MEDIA TO IMPROVE SPEAKING SKILL (Pre-Experimental Research on Eight-Grade Students of SMP Negeri 1 Gandrungmangu in the Academic Year of 2023/2024) | Mini-short creative merupakan istilah dari drama kreatif dan drama pendek yang dipadukan dan menjadi media pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berbicara. Penelitian ini berfokus pada pengaruh mini-short creative drama sebagai pembelajaran berbasis proyek, keefektifan mini-short creative drama sebagai pembelajaran berbasis proyek, dan untuk mengetahui persepsi siswa ketika pembelajaran menggunakan mini short creative drama sebagai proyek. pembelajaran berbasis untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Dengan menggunakan mini-short creative drama sebagai pembelajaran berbasis proyek, siswa meningkatkan keterampilan berbicara mereka melalui kefasihan, pengucapan, tata bahasa dan kosa kata. Penelitian ini menggunakan model penelitian Pra-eksperimental dengan tiga instrumen penelitian: tes, angket, dan observasi. Instrumen tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji beda berpasangan (paired-sample t-test) yang terdiri dari post-test dan pre-test. Pada setiap pre-test dan post-test terdapat empat aspek penilaian yaitu kelancaran, tata bahasa, pengucapan, dan kosa kata. Masing-masing hasil pada keempat aspek tersebut mempunyai tanda. (2-tailed) nilai 0,000. yang mana hipotesis alternatif (Ha) dari penelitian ini diterima. Kuesioner menggunakan skala penilaian satu sampai empat (sangat tidak setuju (1), tidak setuju (2), setuju (3), dan sangat setuju (4)). Hasil instrumen angket dibagi menjadi dua aspek yaitu pembelajaran berbasis proyek dan mini-short creative drama. Pada pembelajaran berbasis proyek, rata-rata SA+A sebesar 79% dan mini-short creative drama sebesar 78%. Observasi penelitian menggunakan pertanyaan tertutup. Dari hasil observasi dapat disimpulkan bahwa dari pertemuan satu sampai empat siswa sudah mengalami perkembangan terutama rasa percaya diri untuk menunjukkan unjuk kemampuan berbicaranya. Hasil tes, angket, dan observasi meyakinkan bahwa mini-short creative drama meningkatkan keterampilan berbicara siswa, namun siswa memerlukan waktu untuk membangun kepercayaan diri mereka. Penelitian ini juga dapat digunakan sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian serupa terkait keterampilan berbicara siswa untuk membuat inovasi pembelajaran yang lebih baik. | Mini-short creative drama is a term from creative drama and short drama which is combined and become learning media to improve speaking skill. This research focused on the influence of mini-short creative drama as project-based learning, the effectiveness of mini-short creative drama as project-based learning, and to found out the perception of students when learning using mini-short creative drama as project-based learning to improve students speaking skill. With using mini-short creative drama as project-based learning, students improved their speaking skill through fluency, pronunciation, grammar and vocabulary. This research used a Pre-experimental research model with three research instruments: test, questionnaire, and observation. In test instrument, this study used a paired-sample t-test consist of post-test and pre-test. In each pre-test and post-test, there were four assessment aspect, such as fluency, grammar, pronunciation, and vocabulary. Each result on these four aspects had a sig. (2-tailed) value 0.000. which that the alternative hypothesis (Ha) from this research was accepted. The questionnaire used a rating scale of one to four (strongly disagree (1), disagree (2), agree (3), and strongly agree (4)). The results of questionnaire instrument were divided into two aspects, namely project-based learning and mini-short creative drama. In the project-based learning, the average SA+A was 79% and mini-short creative drama was 78%. The research observation used close-ended questions. From the observation results, it can be concluded that from meeting one to four, students had developed, especially in their confidence to show the performance of their speaking skills. The test, questionnaire and observation results assured that mini-short creative drama improved the students’ speaking skill, but students need time to build their confidence. This research also can be used as a reference for future researchers to conduct similar research related to students speaking skill to make better learning innovation. | |
| 41418 | 43519 | A1C017003 | Analisis Iklim Mikro pada Pembedaan Ukuran Chamber Floating Hydroponic System (FHS) dengan Computational Fluid Dynamics (CFD) | Hidroponik merupakan teknik budidaya tanaman menggunakan media tanam selain tanah yang mampu meningkatkan produktifitas tanaman secara kontinu. Salah satu sistem hidroponik adalah Floating Hydroponic System (FHS). Budidaya hidroponik FHS dapat menghasilkan produk yang optimal dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi produktifitas tanaman diantaranya instalasi yang digunakan, iklim mikro yang tercipta di sekitar greenhouse, dan nutrisi yang diberikan pada tananam. Penggunaan chamber FHS harus diperhatikan karena ukuran chamber berpengaruh pada terciptanya iklim mikro disekitar tanaman dan greenhouse. Oleh karena itu, prediksi iklim mikro (suhu udara) di dalam chamber FHS penting dilakukan. Prediksi iklim mikro dapat memanfaatkan CFD sebagai tools untuk melihat pola distribusi iklim mikro (suhu udara) di dalam chamber FHS yang hasil akhirnya diperoleh kontur warna suhu udara sehingga dapat memahami fenomena yang terjadi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pola iklim mikro (suhu udara) pada sistem hidroponik FHS dengan ukuran chamber yang berbeda menggunakan CFD dan mendapatkan hasil pertumbuhan tanaman dari pola iklim yang terbentuk (tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot tanaman). Distribusi suhu dengan ukuran chamber yang berbeda menggunakan CFD, menunjukkan bahwa penggunaan ukuran chamber yang berbeda tidak begitu berpengaruh terhadap iklim mikro (suhu udara) yang ada, hanya terdapat perbedaan rata-rata suhu 0,5°C antara chamber A dan chamber B. Nilai validasi suhu udara chamber A dan B dari data hasil simulasi dengan hasil pengukuran di lapangan didapatkan rata-rata nilai error kedua chamber pada saat cuaca terik sebesar 0,5%, cuaca mendung 1,01%, dan cuaca hujan 0,54%. Nilai tersebut menunjukkan hasil error <5%, maka simulasi pola distribusi suhu udara kedua chamber baik. Pertumbuhan tanaman pada hidroponik FHS dengan ukuran chamber yang berbeda, diperoleh hasil produksi tanaman chamber A lebih optimal daripada chamber B. Rata-rata tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar tanaman, dan bobot segar akar pada chamber A ialah berturut-turut berkisar 25,08 cm, 21 helai, 57,12 gram, 16,03 gram dan chamber B berturut-turut berkisar 16,08 cm, 16 helai, 41,28 gram, dan 9,68 gram. | Hydroponics is a plant cultivation technique using planting media other than soil which is able to continuously increase plant productivity. One hydroponic system is the Floating Hydroponic System (FHS). FHS hydroponic cultivation can produce optimal products by paying attention to factors that influence plant productivity, including the installation used, the microclimate created around the greenhouse, and the nutrition given to the plants. The use of an FHS chamber must be considered because the size of the chamber influences the creation of a microclimate around the plants and greenhouse. Therefore, it is important to predict the microclimate (air temperature) in the FHS chamber. Microclimate prediction can use CFD as a tool to see the distribution pattern of microclimate (air temperature) in the FHS chamber, with the final result being a color contour of air temperature so that we can understand the phenomena that occur. The aim of this research is to analyze microclimate patterns (air temperature) in FHS hydroponic systems with different chamber sizes using CFD and obtain plant growth results from the climate patterns formed (plant height, number of leaves, and plant weight). The temperature distribution with different chamber sizes using CFD shows that the use of different chamber sizes does not really affect the existing microclimate (air temperature), there is only an average temperature difference of 0.5°C between chamber A and chamber B. Value validation of the air temperature of chambers A and B from simulation data with field measurements showed that the average error value for the two chambers in hot weather was 0.5%, cloudy weather was 1.01%, and rainy weather was 0.54%. This value shows an error <5%, so the simulation of the air temperature distribution pattern in both chambers is good. Plant growth in FHS hydroponics with different chamber sizes, obtained that chamber A's plant production results were more optimal than chamber B. The average plant height, number of leaves, fresh weight of plants, and fresh weight of roots in chamber A were respectively around 25, 08 cm, 21 strands, 57.12 grams, 16.03 grams and chamber B ranges from 16.08 cm, 16 strands, 41.28 grams and 9.68 grams. | |
| 41419 | 43531 | L1B019033 | ANALISIS POTENSI REPRODUKSI RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN DESA PACIRAN, KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR | Rajungan (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) merupakan komoditas perikanan Indonesia dengan nilai ekonomis tinggi. Pengelolaan perikanan rajungan yang berkelanjutan diperlukan informasi biologis maupun data hasil tangkapan yang presisi di setiap wilayah penangkapan. Hubungan lebar karapas-berat rajungan, dan tingkat kematangan gonad rajungan betina merupakan informasi biologis untuk mengetahui potensi reproduksi dan musim pemijahan rajungan di alam. Desa Paciran merupakan salah satu daerah penghasil rajungan di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi reproduksi rajungan berdasarkan hubungan panjang berat dan tingkat kematangan gonad rajungan betina di Desa Paciran, Kecamatan Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Penelitian dilakukan dari bulan Agustus- Oktober 2022 di Desa Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Sampel yang diidentifikasi sejumlah 100 sampel setiap bulannya. Identifikasi yang dilakukan meliputi lebar karapas dan berat rajungan serta tingkat kematangan gonad rajungan betina. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive dan data hasil sampling dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan hubungan panjang berat rajungan pada bulan Agustus - Oktober 2022 bersifat alometrik negatif. Penurunan kualitas perairan di Lamongan yang mempengaruhi kelimpahan makanan bagi rajungan dan genetik rajungan diduga menjadi penyebab pertumbuhan berat rajungan di Perairan Desa Paciran menjadi lebih lambat. Tingkat kematangan gonad rajungan betina pada fase akhir tertinggi adalah pada bulan Oktober (41,07%). Hal tersebut mengindikasikan bahwa pada bulan Oktober merupakan waktu potensial bagi rajungan di Perairan sekitar Desa Paciran untuk memijah. | Rajungan (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) is an Indonesian fishery commodity with high economic value. Sustainable blue swimming crab (BSC) fisheries management requires biological information and precise catch data in each fishing area. The relationship between carapace width- weight and maturity level of female crab gonads is biological information to determine the reproductive potential and spawning season of crabs in nature. Paciran Village is one of the BSC producing areas in Lamongan Regency, East Java. This study was conducted to determine the reproductive potential of BSC based on the relationship between weight length and gonad maturity level of female BSC in Paciran Village, Paciran District, Lamongan, East Java. The study was conducted from August-October 2022 in Paciran Village, Lamongan, East Java. A total of 100 samples are identified each month. The identification includes carapace length and weight of the BSC as well as the degree of gonad maturity of the female. Sampling is done purposively and the sampling data is analyzed descriptively. The results showed that the length of BSC weight in August-October was negative allometric. The decline in water quality in Lamongan Water which affects the abundance of food for BSC and genetic of BSC in Paciran Water causes the growth of crab weight to be slower. The highest level of gonadal maturity of female BSC in the late phase was in October (41.07%). This indicates that October is a potential time for rajungan in Paciran Village to spawn. | |
| 41420 | 45037 | A1D019173 | Kajian Status Unsur Hara Fosfor (P) dan Serapannya oleh Tanaman Padi di DAS Serayu Kecamatan Klampok Kabupaten Banjarnegara | Unsur Fosfor (P) merupakan hara makro esensial yang memegang peranan penting dalam berbagai proses, seperti fotosintesis, asimilasi, dan respirasi. Peran penting yang dimiliki oleh unsur P pada tanaman menyebabkan unsur ini harus selalu tersedia pada saat penanaman padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketersedia P di lahan sawah DAS Serayu Kecamatan Klampok Kabupaten Banjarnegara dan mengetahui hubungan P-tersedia dan P serapan dengan hasil tanaman padi di DAS Serayu Kecamatan Klampok Kabupaten Banjarnegara. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan September 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah survei lapangan secara purposive random sampling. Variabel yang diamati adalah pH H2O, pH KCl, DHL tanah, potensial redoks, P-tersedia, Serapan P tanaman, dan hasil tanaman padi. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebaran unsur hara Fosfor (P) pada lahan sawah DAS Serayu berkisar 21,5 – 201,2 ppm P2O5 yang berharkat rendah hingga sangat tinggi. Hubungan korelasi antara P-tersedia dengan hasil tanaman padi di Kecamatan Klampok Kabupaten Banjarnegara pada kedalaman 0-25 memiliki hubungan korelasi positif dengan nilai r= 0,415 (harkat korelasi sangat sedang), sedangkan hubungan korelasi antara P-serapan dengan hasil tanaman memiliki nilai korelasi positif kuat dengan nilai r= 0,785**. Rekomendasi pemupukan pada lokasi penelitian titik 1 membutuhkan peningkatan hara P sebesar 38,5 ppm P2O5, sehingga perlu dibutuhkan pupuk P sebanyak 108,7 kg/ha setara dengan pupuk SP36 sebanyak 302,1 kg/ha atau setara dengan 241,6 kg/ha pupuk TSP. | The element Phosphorus (P) is an essential macro nutrient which plays an important role in various processes, such as photosynthesis, assimilation and respiration. The important role that the P element plays in plants means that this element must always be available when planting rice. This research aims to determine the availability of P in rice fields in the Serayu Watershed, Klampok District, Banjarnegara Regency and to determine the relationship between P-availability and P-absorption with rice crop yields in the Serayu Watershed, Klampok District, Banjarnegara Regency. The research was carried out from February to September 2023. The research method used was a field survey using purposive random sampling. The variables observed were pH H2O, pH KCl, soil DHL, redox potential, available P, plant P uptake, and rice yield. The research results show that the distribution of the nutrient element Phosphorus (P) in the rice fields of the Serayu Watershed ranges from 21.5 - 201.2 ppm P2O5 which is low to very high. The correlation between P-available and rice crop yield in Klampok District, Banjarnegara Regency at a depth of 0-25 has a positive correlation with a value of r= 0.415 (very moderate correlation value), while the correlation between P-uptake and crop yield has a positive correlation. strong with a value of r= 0.785**. Fertilization recommendations at research location point 1 require an increase in P nutrients of 38.5 ppm P2O5, so 108.7 kg/ha of P fertilizer is needed, equivalent to 302.1 kg/ha of SP 36 fertilizer or the equivalent of 241.6 kg/ha. ha TSP fertilizer. |