Artikelilmiahs

Menampilkan 41.301-41.320 dari 48.877 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4130143415A1C019005Uji Performa Irigasi Tetes Otomatis Berbasis Waktu Untuk Budidaya Serai Wangi Pada Polibag Tanah MarginalTanaman serai wangi merupakan penghasil minyak atsiri yang mempunyai nilai ekonomi, khasiat, serta kegunaan dalam menambah sumber devisa negara. Dalam tujuan memenuhi kebutuhan serai wangi, diperlukan adanya budidaya tanaman serai wangi dengan mengimplemantasikan teknologi budidaya tepat guna. Salah satu upaya yang dilakukan yaitu dengan menanam serai wangi pada lahan marginal, dan penerapan sistem irigasi tetes otomatis berbasis waktu (timer). Pada penelitian ini digunakan perlakuan jadwal irigasi tetes otomatis yang berbeda, yaitu SI3 (irigasi tetes per 3 hari), SI5 (irigasi tetes per 5 hari), dan SI7 (irigasi tetes per 7 hari) dengan durasi nyala timer selama 10 menit. Pengambilan data untuk pengujian performa irigasi tetes otomatis dilakukan sebanyak 3 kali pada setiap variasi jadwal irigasi (awal, tengah, dan akhir). Pada setiap pengambilan dilakukan 3 kali percobaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi jadwal irigasi memiliki nilai performa yang berbeda. Hasil performa paling tinggi ditemukan pada jadwal irigasi per 5 hari (SI5) dengan nilai debit (Q) sebesar 0,101 l/menit (SI5), nilai CU 92,84%, dan nilai EU 89,07%. Pada pertumbuhan tanaman serai wangi, nilai optimum bobot kering tanaman serai wangi terdapat pada perlakuan SI5 dengan nilai sebesar 483,1 gram, dan produktivitas air tanaman yaitu 0,035 g/ml (SI5). Pada variabel tinggi tanaman didapatkan nilai tertinggi 123,27 cm pada SI7. Dengan demikian, penjadwalan irigasi tetes otomatis berbasis waktu dengan nilai paling tinggi untuk budidaya tanaman serai wangi pada penelitian ini terdapat pada variasi penjadwalan irigasi per 5 hari (SI5).
Citronella plants are the producers of essential oils that have economic value, efficacy, and utility in increasing the country's foreign exchange resources. In order to fulfil the needs of citronella, it is required to cultivate citronella plants by implementing an appropriate cultivation technology. One of the measures that can be applied is by planting citronella on marginal land, and applying a time-based automatic drip irrigation system (timer). In this research is used different automatic drip irrigation schedule treatments, that are SI3 (drip irrigation every 3 days), SI5 (drip irrigation every 5 days), and SI7 (drip irrigation every 7 days) with a timer flame duration of 10 minutes. Data were collected for testing the performance of automatic drip irrigation 3 times for each variation of irrigation schedule (early, middle, and late). In each collection were carried out by 3 time of measurement trial.
The results showed that the variation of drip irrigation schedule has different performance results. The highest performance results were found in the irrigation schedule every 5 days (SI5) with discharge (Q) value of 0,101 l/min (SI5), a CU value of 92,84%, and an EU value of 89,07%. Then, in terms of citronella plant growth, the optimum dry weight value is found in SI5 treatment with a value of 483,1 gram, and plant water productivity is 0,035 g/l (SI5). The highest value of plant height variable was obtained at 123,27 cm in SI7 treatment. Therefore, the highest result of time-based automatic drip irrigation schedule for citronella cultivation in this research is found in the variation of irrigation schedule every 5 days (SI5).
4130243416A1C019055Uji Performa Irigasi Tetes Otomatis Berbasis Waktu Dalam Budidaya Tanaman Serai Wangi Pada Lahan MarginalSerai wangi (Cymbopogon nardus) adalah tumbuhan jenis rumput-rumputan. Serai wangi menghasilkan minyak serai wangi yang sangat diminati oleh banyak negara. Tanaman serai wangi dapat tumbuh di hampir semua jenis tanah, termasuk tanah marginal. Tanah marginal merupakan tanah kering yang memiliki kandungan hara terbatas, sehingga diperlukanya irigasi, seperti irigasi tetes. Irigasi tetes merupakan salah satu teknologi irigasi yang berguna untuk memanfaatkan ketersediaan air yang sangat terbatas secara efisien dan meningkatkan nilai pendayagunaan air. Namun aplikasi irigasi tetes untuk budidaya serai wangi pada lahan marginal masih belum banyak diperhatikan sehingga diperlukan kajian lebih spesifik terkait penjadwalan dan uji performa agar irigasi tetes tersebut dapat berjalan dengan optimal serta pengelolaan air secara efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja sistem irigasi tetes otomatis berbasis waktu dan sistem irigasi tetes otomatis berbasis waktu yang efektif dan efisien untuk lahan marginal tanaman serai wangi. Pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu dengan menampung volume air yang keluar dari emitter ke dalam gelas plastik selama 10 menit sesuai durasi penyiraman. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 kali selama penelitian dan setiap pengambilan sampel diulang sebanyak 3 kali.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa SI5 merupakan variasi penjadwalan irigasi yang efektif dan efisien dibandingkan dengan penjadwalan lainnya dengan nilai rata-rata debit pada SI5 yaitu sebesar 5,17 L/jam. Nilai koefisien keseragaman (CU) dan keseragaman emisi (EU) yaitu 90,38% dan 85,59%. Jika dihubungkan dengan pertumbuhan tanaman, rata-rata nilai produktivitas air, biomassa dan tinggi tanaman pada SI5 yaitu 0,07 g/ml; 972,22 g; dan 99,33 cm.
Citronella (Cymbopogon nardus) is a grass type plant. Citronella produces citronella oil which is in great demand in many countries. Citronella can grow in almost all types of soil, including marginal soil. Marginal land is dry land that has limited nutrient content, so irrigation such as drip irrigation is needed. Drip irrigation is irrigation that is useful for utilizing very limited water availability efficiently and increasing the value of water use. However, the application of drip irrigation for cultivating citronella on marginal land has not received much attention, so more specific studies are needed regarding scheduling and performance tests so that drip irrigation can run optimally and manage water effectively and efficiently. This research aims to determine the performance of a time-based automatic drip irrigation system and an effective and efficient time-based automatic drip irrigation system for marginal land for citronella plants. Samples were taken in this study by holding the volume of water coming out of the emitter into a plastic cup for 10 minutes according to the duration of watering. Sampling was carried out 3 times during the research and each sampling was repeated 3 times.
The research results show that SI5 is an effective and efficient variation of irrigation scheduling compared to other scheduling with an average discharge value in SI5 of 5,17 L/hour. The uniformity coefficient (CU) and emission uniformity (EU) values are 90,38% and 85,59%. If related to plant growth, the average value of water productivity, biomass and plant height in SI5 is 0,07 g/ml; 972,22 g; and 99,33 cm.
4130343417A1D019057KARAKTERISTIK KERAPATAN STOMATA TANAMAN BAWANG MERAH DAN MELON BERBASIS SISTEM PERTANAMAN PEMATAH ANGIN ANTAR MUSIM DI LAHAN PASIR PANTAIMelon merupakan salah satu buah yang digemari oleh masyarakat, begitu pula dengan tanaman bawang merah yang sering dipakai sebagai bumbu masakan Indonesia. Kedua komoditas tersebut permintaannya terus meningkat, namun dibatasi oleh lahan pertanian yang semakin sempit. Pemanfaatan lahan marginal pasir pantai merupakan salah satu upaya dalam mengatasi lahan pertanian yang semakin terbatas. Lahan marginal pasir pantai memiliki faktor pembatas seperti kecepatan angin yang tinggi dan membawa garam yang dapat menyebabkan tanaman tercekam salinitas. Selain itu, perlu diberikan pembenah tanah seperti pupuk kandang dan tanah lempung untuk memperbaiki struktur tanah. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk membedakan pengaruh jenis musim, jenis pematah angin, dan jenis tanaman yang digunakan terhadap fisio;ogi tanaman melon dan bawang merah pada lahan pasir pantai, serta mengetahui interaksi antara jenis musim, jenis pematah angin, dan jenis tanaman terhadap fisiologi tanaman melon dan bawang merah.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) Petak-Petak Terbagi (Split-Split Plot) dengan tiga faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu jenis musim (Kemarau dan Penghujan). Faktor kedua yaitu jenis pematah angin (Tanpa pematah angin, pematah angin plastik 1,5 m, pematah angin jagung 3 baris, pematah angin jagung sela). Faktor ketiga yaitu jenis tanaman [Tanaman peka salinitas (melon) dan tanaman tahan salinitas (bawang merah)]. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Uji F dan Uji lanjut DMRT pada taraf kesalahan 5%. Variabel yang diamati adalah kerapatan stomata.
Hasil penelitian menunjukkan jenis musim terbaik yaitu musim penghujan karena memiliki kadar salinitas yang lebih rendah (64,40 EC) dari musim kemarau (75,81 EC). Kerapatan stomata dengan pematah terbaik adalah pematah plastik 1,5 m (117,17 stomata/mm2). Jenis tanaman peka salinitas (melon) menunjukkan hasil rerata kerapatan stomata (85,56 stomata/mm2). Interaksi perlakuan 2 faktor antara jenis tanaman dan usia tanaman berbeda nyata pada variabel kerapatan stomata.
Kata kunci: bawang merah, melon, salinitas, pematah angin, dan pasir pantai.
Melon is one of the fruits favored by Indonesian people, as well as shallots which are often used as a spice for Indonesian cuisine. The demand for these two commodities are increased continuously, but the land for agriculture purpose is limited. Utilization marginal land of coastal sand is a solution to deal with increasingly limited agricultural land. Marginal land of coastal sand has limiting factors such as high wind speed that carrying salt which can cause salinity stress for plants. In addition, it is necessary to add soil amendments such as manure and clay to improve soil structure. The purpose of this study was to distinguish the effect of season types, windbreak types, and types of plants used on the growth and yield of melon and shallot plants on coastal land, and to determine the interaction between season types, windbreak types, and plant types on growth and yields of melon and shallot.
This study used a Completely Randomized Block Design (RAKL) of Split-Split Plots with three factors and three replications. The first factor is the type of season (dry and rain). The second factor is the type of windbreaker (without windbreaker, 1.5 m plastic windbreaker, 3 rows corn windbreaker, alley corn windbreaker). The third factor is the type of plant [salinity sensitive plants (melon) and salinity resistant plants (shallots)]. The result of the observation data were observed by means of variance and the Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) 5% test was performed. The variables observed is stomata density.
The results showed that the best type of season is the rainy season because it has a lower salinity level (64.40 EC) than the dry season (75.81 EC). The type of windbreaker has a significant effect on the stomata density variable with the best type of windbreaker is a 1.5 m plastic windbreaker (117,17 stomata/mm2). The 2-factor treatment interaction between plant types and the age of the plant was significantly different in the stomata density variable.
Keyword: shallot, melon, salinity, windbreaks, coastal soil.
4130443418I1E019007PEMANFAATAN OBJEK WISATA ALAM JENGGALA
SEBAGAI PRASARANA AKTIVITAS LUAR KELAS (ALK)
Latar belakang : Pendidikan luar kelas merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas belajar anak melalui pembelajaran diluar sekolah. untuk mendukung tercapainya suatu pembelajaran luar kelas, maka perlu diperhatikan prasaran pendukung kegiatan tersebut. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan objek wisata alam Jenggala sebagai prasarana kegiatan pembelajaran aktivitas luar kelas.
Metodologi : Penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif Kuantitatif. Penelitian dilaksanakan di Objek wisata alam Jenggala, dengan sampel 32 guru PJOK kecamatan Baturaden. Penelitian ini menggunakan intrumen berupa kuesioner sebagai alat pengambilan data.
Hasil penelitian : Hasil penelitian menunjukan bahwa pemanfaatan objek wisata alam jenggala sudah dilakukan dengan baik dan memenuhi landasan penataan prasarana aktivias luar kelas. Indikator keamanan memperoleh rata-rata 82,5% (sangat baik). Indikator spesifikasi lingkungan belajar luar kelas memperoleh rata-rata 80,5% (sangat baik). Indikator ukuran yang standar memperoleh rata-rata 80,7% (sangat baik). Idikator kontur tanah yang sesuai memperoleh rata-rata 75,8% (baik).
Kesimpulan : Berdasarkan hasil analisis data penelitia objek wisata alam jenggala sudah dimanfaatkan sebagai sarana prasarana aktivitas luar kelas karena objek wista alam jenggala memiliki landasan atau indikator yang mendukung tercapainya aktivitas luar kelas seperti indikator keamanan, spesifikasi lingkungan belajar luar kelas, ukuran yang standar, dan kontur tanah yang sesuai.

Out of Class Activities.education is an effort to increase children's learning capacity through learning outside of school. to support the achievement of an Out of Class Activities. it is necessary to pay attention to the supporting infrastructure of these activities. The purpose of this study is to determine how the utilization of Jenggala natural attractions as infrastructure for learning activities outside the classroom.

This research is a Quantitative Descriptive research. The research was conducted at Jenggala natural attractions, with a sample of 32 PJOK teachers in Baturaden sub-district. This study uses a questionnaire as a data collection tool.

The results showed that the utilization of Jenggala natural attractions has been carried out well and fulfills the basis for structuring infrastructure for outdoor activities. The safety indicator obtained an average of 82.5% (very good). Indicators of outdoor learning environment specifications obtained an average of 80.5% (very good). Standard size indicators obtained an average of 80.7% (very good). The appropriate land contour indicator obtained an average of 75.8% (good).

Based on the results of the data analysis, Jenggala natural attractions have been utilized as infrastructure facilities for outdoor activities because Jenggala natural attractions have a foundation or indicators that support the achievement of outdoor activities such as safety indicators, outdoor learning environment specifications, standard sizes, and appropriate land contours.


4130543419F1B019101PENERAPAN KEBIJAKAN SISTEM ZONASI PADA PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU TINGKAT SMP DALAM PERSPEKTIF KEADILAN DI KABUPATEN BANYUMAS Kebijakan sistem zonasi merupakan sistem penerimaan peserta didik baru
berdasarkan radius zona untuk mengatasi permasalahan pendidikan di Indonesia
yang tidak merata. Di Kabupaten Banyumas sistem zonasi masih menimbulkan
kesenjangan dalam penerimaan siswa karena tidak meratanya jumlah SMP negeri.
Frederickson (1997) mengungkapkan bahwa isu keadilan sosial menempati posisi
yang penting dalam pembuatan kebijakan publik sehingga pemerintah dalam
membuat keputusan dan tindakan tidak merugikan dan terjadi ketimpangan di
masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan sistem
zonasi di Banyumas serta menganalisis penerapan sistem zonasi dengan aspek
aspek keadilan sosial. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif
dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek daya tanggap, persamaan hak, dan pilihan masyarakat telah memenuhi aspek
keadilan sosial dalam penerapan sistem zonasi di Kabupaten Banyumas, namun
masih terdapat hal yang belum optimal yaitu aspek partisipasi pegawai dan
masyarakat dalam pengambilan keputusan serta aspek tanggung jawab Dinas
Pendidikan terhadap efektivitas program sebab dampak dari sistem zonasi di
Kabupaten Banyumas belum adil dan merata bagi masyarakat.
The zoning system policy is a new student admission system based on the radius of the zone to overcome the problem of uneven education in Indonesia. In Banyumas Regency, the zoning system still causes inequalities in student enrollment because of the uneven number of public junior high schools. Frederickson (1997) revealed that the issue of social equity occupies an important position in public policy making so that the government in making decisions and actions does not harm and create inequality in society. This study aims to describe the implementation of the zoning system in Banyumas and analyze the implementation of the zoning system with aspects of social equity. The method in this research is descriptive qualitative with purposive sampling technique. The results show that the aspects of responsiveness, equal rights, and community choice have fulfilled the aspects of social equity in the implementation of the zoning system in Banyumas Regency, but there are still aspects that are not optimal, namely the aspect of employee and community participation in decision making and the aspect of the Education Office's responsibility for program effectiveness because the impact of the zoning system in Banyumas Regency is not fair and equitable for the community.
4130643388G1A020064HUBUNGAN ANTARA LITERASI KESEHATAN DAN PENGENDALIAN HIPERTENSI PADA PESERTA PROLANIS JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI KABUPATEN BANYUMASHubungan Antara Literasi Kesehatan dan Pengendalian Hipertensi pada Peserta Prolanis Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Kabupaten Banyumas
ABSTRAK
Latar Belakang: Hipertensi menjadi salah satu kontributor utama angaka kematian di dunia dengan prevalensi yang progresif setiap tahunnya. Prolanis merupakan program yang dilaksankaan oleh BPJS Kesehatan untuk mengendalikan penyakit kronis di Indonesia, termasuk hipertensi. Pengendalian hipertensi dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah literasi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara literasi kesehatan dan pengendalian hipertensi pada peserta Prolanis JKN di Kabupaten Banyumas.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain studi cross-sectional. Pengambilan data dilakukan di sembilan FKTP dengan jumlah responden 175 orang. Pengendalian hipertensi dilihat dari pengukuran tekanan darah dalam 3 bulan terakhir. Literasi kesehatan diukur menggunakan kuesioner HLS-EU-16Q versi Indonesia. Data dianalisis dengan uji chi-square dan uji regresi logistik.
Hasil: Dari 175 responden, 58,3% responden berada pada kelompok pengendalian hipertensi yang terkontrol sedangkan sebanyak 41,7% berada pada kelompok yang tidak terkontrol. Hubungan antara literasi kesehatan dan pengendalian hipertensi yang dianalisis dengan chi square memiliki p-value sebesar 0,69 dan dengan uji regresi logistik memiliki p-value sebesar 0,53 (OR (95%CI) = 1,24) pada kelompok literasi kesehatan yang sufficient. Oleh karena itu, literasi kesehatan tidak memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan pengendalian hipertensi tetapi masih cenderung memiliki peran yang penting dalam pengendalian hipertensi yang ditunjukkan oleh peningkatan OR-nya.
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara literasi kesehatan dan pengendalian hipertensi.
Background: Hypertension is one of the main contributors to death rates in the world with a progressive prevalence every year. Prolanis is a program implemented by BPJS Health to control chronic diseases in Indonesia, including hypertension. Hypertension control can be influenced by many factors, one of them is health literacy. This study aims to determine whether there is a association between health literacy and hypertension control in Prolanis JK’s participants in Banyumas Regency.
Method: This study is an analytical observational study with a cross-sectional study design. Data collection was carried out in nine FKTPs with a total of 175 respondents. Hypertension control is seen from blood pressure measurements in the last 3 months. Health literacy was measured using the Indonesian version of the HLS-EU-16Q questionnaire. Data were analyzed using chi-square and logistic regression.
Results: From 175 respondents, 58.3% of respondents are in the controlled hypertension group while 41.7% are in the uncontrolled group. The association of health literacy and hypertension control which was analyzed using chi square had a p-value of 0.69 and using the logistic regression had a p-value of 0.53 (OR (95%CI) = 1.24) in the sufficient health literacy group. Therefore, health literacy does not have a significant relationship with hypertension control statistically but tends to have an important role in hypertension control as indicated by its increased odd ratio.
Conclusion: There is no significant relationship between health literacy and hypertension control.

4130743392F1B019110Implementasi Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap Tahun 2022 Di Desa Kedunggede Kecamatan BanyumasImplementasi kebijakan merupakan tahap yang krusial dalam kebijakan publik yang berperan sebagai penghubung antara tujuan kebijakan dengan hasil kebijakan pemerintah. Program Pendaftaran Sistematis Lengkap sebagai salah satu solusi dari masalah publik terkait bidang pertanahan dalam pelaksanaannya masih ditemukan permasalahan yaitu rendahnya minat masyarakat dan kurangnya kesadaran akan pentingnya kepemilikan sertifikat tanah khususnya di Desa Kedungede Kecamatan Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses implementasi Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap di Desa kedunggede berjalan. Adapun metode penelitian yang menggunakan metode penelitian kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dalam proses implementasi Program PTSL terciptanya kebijakan yang ideal dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berkesinambungan yaitu kelompok sasaran, badan-badan pelaksana, serta faktor lingkungan.Policy implementation is a crucial stage in public policy that acts as a link between policy objectives and government policy outcomes. The Complete Systematic Registration Program as one of the solutions to public problems related to the land sector in its implementation still found problems, namely low public interest and lack of awareness of the importance of land certificate ownership, especially in Kedunggede Village, Banyumas District. This research aims to find out how the implementation process of the Complete Systematic Registration Program in Kedunggede Village. The research method used qualitative research methods. Based on the results of the study, it is known that in the process of implementing the PTSL Program, the creation of an ideal policy is influenced by sustainable factors, namely target groups, implementing agencies, and environmental factors.
4130843420A1A019101PENGARUH MOTIVASI DAN KOMPENSASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN PERUM BULOG DIVRE DKI JAKARTA DAN BANTENPenelitian ini dilakukan di Perum Bulog Divre DKI Jakarta dan Banten. Perum Bulog Divre DKI Jakarta dan Banten berlokasi di Jl. Pelepah Raya No.5, RT.9/RW.5, Kelapa Gading Barat, Kelapa Gading, Kota Jakarta Utara, DKI Jakarta, pada bulan November 2023. Responden yang menjadi objek penelitian ini sebanyak 53 karyawan Perum Bulog Divre DKI Jakarta dan Banten yang diambil berdasarkan simple random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara kuesioner. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis SEM-PLS dengan bantuan software SmartPLS 3.2.9. Hasil penelitian ini adalah variabel kompensasi berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan, variabel kompensasi berpengaruh positif terhadap motivasi terhadap variabel motivasi, variabel motivasi tidak berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan, serta kompensasi tidak berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan dengan motivasi sebagai variabel mediasi.This research was conducted at Perum Bulog Divre DKI Jakarta and Banten. Perum Bulog Divre DKI Jakarta and Banten is located on Jl. Pelepah Raya No. 5, RT.9/RW.5, Kelapa Gading Barat, Kelapa Gading, North Jakarta City, DKI Jakarta, in November 2023. The respondents who were the object of this research were 53 employees of Perum Bulog Divre DKI Jakarta and Banten, who were selected based on simple random sampling. Data collection was carried out by means of questionnaire interviews. The analysis used in this research is SEM-PLS analysis with the help of SmartPLS 3.2.9 software. The results of this research indicate that the compensation variable has a positive effect on employee performance, the compensation variable has a positive effect on motivation, the motivation variable does not have a positive effect on employee performance, and the compensation variable does not have a positive effect on employee performance with motivation as a mediating variable.
4130945029G1A020096PENGARUH MEDIA STARVASI TERHADAP PROLIFERASI SEL PUNCA MESENKIMAL (SPM) TALI PUSATLatar Belakang: Sel punca mesenkimal (SPM) merupakan agen terapi regeneratif jaringan rusak dengan kemampuan self-renewal dan diferensiasi yang multipoten. SPM tali pusat mampu berikan efek terapeutik melalui prosedur transplantasi. Namun, prosedur ini dapat terjadi kegagalan pascatransplantasi akibat menurunnya kemampuan proliferasi. Pengondisian menggunakan media starvasi dapat meningkatkan kemampuan hidup SPM pascatransplantasi ke jaringan tubuh yang rusak melalui inisiasi quiescence dan sinkronisasi siklus sel.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media starvasi terhadap proliferasi SPM tali pusat.
Metode: Penelitian ini merupakan eksperimental murni dengan desain post-test only. Dilakukan kultur SPM dalam tiga kelompok perlakuan yakni media komplit Alpha-MEM + serum (MK), media starvasi α-MEM tanpa serum (BASAL), dan media starvasi asam amino (HBSS). Sampel gambar mikroskop cahaya pada jam ke-4, 8, 24, 48, dan 72 diolah menjadi gambar biner menggunakan Adobe Photoshop lalu persentase luas penutupan SPM dianalisis menggunakan ImageJ.
Hasil: Rerata persentase tertinggi pada MK 48 jam (85,56±8,01%) dan terendah pada HBSS 72 jam (27,69±9,81%). Uji Kruskal-Wallis menunjukkan adanya pengaruh media starvasi terhadap proliferasi SPM (p<0,001). Uji Post-Hoc Mann-Whitney mengemukakan adanya signifikansi pada 19 perbandingan kelompok perlakuan (p<0,05).
Kesimpulan: Kultur SPM tali pusat dalam media starvasi Alpha-MEM tanpa serum atau media starvasi asam amino (HBSS), menunjukkan persentase luas penutupan sel yang lebih rendah dibandingkan kultur dalam Alpha-MEM + serum secara signifikan pada pengamatan jam ke-24, 48, dan 72, yang menunjukkan bahwa kultur SPM tali pusat dalam media starvasi Alpha-MEM tanpa serum atau media starvasi asam amino (HBSS) memiliki proliferasi yang lebih rendah dibandingkan kultur dalam Alpha-MEM + serum secara signifikan.
Background: Mesenchymal stem cells (MSC) are regenerative therapeutic agents of damaged tissues with the ability of self-renewal and multipotent differentiation. Umbilical cord MSC are able to provide therapeutic effects through transplantation procedures. However, this procedure may result in post-transplantation failure due to decreased proliferation ability. Conditioning using starvation medium can improve the viability of MSC post-transplantation into damaged body tissues through initiation of quiescence and cell cycle synchronization.
Objective: This study aimed to determine the effect of starvation medium on umbilical MSC proliferation.
Methods: This study was a pure experimental with post-test only design. MSC culture was carried out in three treatment groups, namely complete Alpha-MEM + serum medium (MK), α-MEM starvation medium without serum (BASAL), and amino acid starvation medium (HBSS). Samples of light microscopy images at 4, 8, 24, 48, and 72 hours were processed into binary images using Adobe Photoshop and then the percentage of SPM closure area was analyzed using ImageJ.
Results: The mean percentage is highest at MK 48 hours (85.56±8.01%) and lowest at HBSS 72 hours (27.69±9.81%). Kruskal-Wallis test showed the effect of starvation medium on MSC proliferation (p<0.001). Mann-Whitney Post-Hoc test suggested significance in 19 treatment group comparisons (p<0.05).
Conclusion: Umbilical cord MSC cultures in Alpha-MEM starvation medium without serum or amino acid starvation medium (HBSS), showed a significantly lower percentage of cell coverage area than cultures in Alpha-MEM + serum at 24, 48, and 72 hours of observation, indicating that umbilical MSC cultures in Alpha-MEM starvation medium without serum or amino acid starvation medium (HBSS) had significantly lower proliferation than cultures in Alpha-MEM + serum.
4131043422G1A020043PENGARUH PREKONDISI LIPOPOLISAKARIDA TERHADAP SEKRESI HEPATOCYTE GROWTH FACTOR PADA SEKRETOM SEL PUNCA MESENKIMALLatar Belakang – Sel Punca Mesenkimal (SPM) memiliki kemampuan dalam mensekresi molekul bioaktif yang disebut sekretom. Molekul bioaktif tersebut salah satunya adalah HGF yang memiliki peran penting dalam perbaikan jaringan. Sekretom SPM dapat dimodifikasi oleh berbagai stimuli salah satunya senyawa biokimiawi. LPS merupakan salah satu senyawa biokimiawi utama yang memicu inflamasi. Variasi dosis LPS yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh induksi LPS terhadap sekresi HGF pada sekretom SPM.
Metode – Penelitian ini menggunakan metode true experimental dengan desain post-test only with control group. Sampel SPM dibagi ke dalam 4 kelompok penelitian, terdiri atas satu kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan (HGF = 0,5; 1; 2 ng/ml) dimana induksi LPS diberikan pada SPM selama 24 jam. Kadar HGF diukur dengan metode ELISA. Analisis data dilakukan menggunakan uji One-way ANOVA.
Hasil – Tidak terdapat pengaruh signifikan antar kelompok (p = 0,225). Rerata kadar HGF pada setiap kelompok, yakni: kelompok II = 1068,61 ± 89,71 ng/L; kelompok III = 1091,30 ± 40,12 ng/L; kelompok IV = 1122,42 ± 43,33 ng/L; dan kelompok I = 1151,31 ± 99,30 ng/L
Simpulan – Induksi LPS tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar HGF sekretom SPM.
Background – Mesenchymal Stem Cell (MSC) has the ability to secrete bioactive molecules called secretome. One of the secretome is HGF which has important roles in tissue repair and regeneration. MSC’s Secretome can be modified in various way by using stimuli, LPS is one of them. LPS is one of biochemical stimuli that could trigger inflammation. LPS dosage varied to discover the effect of LPS precondition to HGF rate in MSC’s secretome.
Method – This research employs a true experimental method with a post-test only design with a control group. The SPM samples are divided into four research groups, consisting of one control group and three treatment groups (HGF = 0.5, 1, 2 ng/ml), where LPS induction is administered to the SPM for 24 hours. The HGF levels are measured using the ELISA method. Data analysis is conducted using a One-way ANOVA test.
Result – There is no significant influence among the groups (p = 0.225). The mean HGF levels in each group are as follows: Group II = 1068.61 ± 89.71 ng/L; Group III = 1091.30 ± 40.12 ng/L; Group IV = 1122.42 ± 43.33 ng/L; and Group I = 1151.31 ± 99.30 ng/L.
Conclusion – LPS precondition does not have a significant effect on the HGF secretion levels of MSC.
4131143423K1C019047STUDI KOMPARASI REDUKSI KE KUTUB DAN REDUKSI KE EKUATOR DATA ANOMALI MAGNETIK PADA DAERAH LINTANG RENDAH
(Studi Kasus : Desa Pekuncen dan Karanglewas Kecamatan Jatilawang)
Komparasi pemodelan reduksi ke kutub dan reduksi ke ekuator dilakukan untuk mengetahui filter mana yang lebih cocok digunakan untuk mengetahui pola sebaran anomali dan struktur bawah permukaan pada daerah lintang rendah Desa Karanglewas dan Pekuncen Kecamatan Jatilawang, terutama intrusi batuan basaltik. Pemodelan penelitian ini dilakukan secara 3D berdasarkan data anomali magnetik reduksi ke kutub dan reduksi ke ekuator. Data yang digunakan merupakan data sekunder dengan batas koordinat 7°33’40.94” LS - 109°6’27.35” BT sampai 7°34’33.59” LS - 109°8’3.99” BT. Data tersebut, selanjutnya dikoreksi dan direduksi sehingga diperoleh data anomali magnetik lokal dengan nilai berkisar -2.800 – 1.600 nT. Peta anomali magnetik lokal masih menunjukkan closure yang rumit, sehingga mempersulit interpretasi. Untuk mengurangi kerumitan, data anomali magnetik lokal ini direduksi ke kutub dan reduksi ke ekuator. Berdasarkan interpretasi terhadap peta kontur anomali reduksi ke kutub dan reduksi ke ekuator, intrusi batuan beku basaltik diperkirakan terpusat pada kontur anomali berwarna biru yang mempunyai nilai medan magnet 3.500 nT – 4.500 nT untuk reduksi ke kutub dan 400 nT – 1000 nT untuk reduksi ke ekuator. Pemodelan inversi 3D terhadap data anomali reduksi ke kutub dan reduksi ke ekuator dilakukan, hingga diperoleh model anomali bawah permukaan dengan nilai suseptibilitas batuan berkisar -0,001 – 0,028 cgs. Hasil interpretasi menunjukan bahwa reduksi ke ekuator lebih cocok dibandingkan dengan reduksi ke kutub dikarenakan pola sebaran intrusi batuan basaltik terlihat lebih jelas.A comparison of pole reduction and equator reduction modeling was carried out to find out which filter is more suitable to use to determine the anomaly distribution pattern and subsurface structure in the low latitude areas of Karanglewas and Pekuncen Villages, Jatilawang District, especially basaltic rock intrusions. This research modeling was carried out in 3D based on magnetic anomaly data reduced to the poles and reduced to the equator. The data used is secondary data with coordinate boundaries 7°33'40.94" South Latitude - 109°6'27.35" East Longitude to 7°34'33.59" South Latitude - 109°8'3.99" East Longitude. This data was then corrected and reduced to obtain local magnetik anomali data with values ranging from -2,800 – 1,600 nT. The local magnetik anomali map still shows complicated closures, making interpretation difficult. To reduce complexity, this local magnetik anomali data is reduced to the poles and reduced to the equator. Based on the interpretation of the contour maps of reduction to the poles and reduction to the equator, the intrusion of basaltic igneous rock is estimated to be centered on the blue anomali contour which has a magnetic field value of 3,500 nT – 4,500 nT for reduction to the poles and 400 nT – 1000 nT for reduction to the equator. 3D inversion modeling of anomaly data reduced to the poles and reduced to the equator was carried out, to obtain a subsurface anomaly model with rock susceptibility values ranging from -0.001 – 0.028 cgs. The interpretation results show that reduction to the equator is more suitable than reduction to the poles because the distribution pattern of basaltic rock intrusions is seen more clearly.
4131243425A1F019006Pengaruh Variasi pH Pelarut pada Ekstrak Aquades Biji Kesumba (Bixa orellana L.) terhadap Potensinya sebagai Antibakteri Bacillus cereusIndonesia merupakan Negara dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, salah satunya adalah berbagai jenis tanaman yang memiliki beragam manfaat. Tanaman kesumba (Bixa orellana) adalah salah satu tanaman yang memiliki banyak khasiat, tetapi jarang diketahui oleh masyarakat luas. Biji kesumba mengandung senyawa bioaktif yang bersifat antimikroba seperti saponin, tannin, steroid dan glikosida. Manfaat kesumba sebagai antibakteri bisa didapatkan melalui proses ekstraksi. Pada penelitian ini proses ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi. pH pelarut merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi aktivitas antibakteri pada ekstrak kesumba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi pH pelarut pada ekstrak aquades biji kesumba terhadap aktivitas antibakteri Bacillus cereus. Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok non-faktorial yang terdiri dari 6 perlakuan dan 4 kali ulangan. Faktor yang dicoba yaitu variasi pH pelarut yang terdiri dari 4, 5, 6, 7, 8 dan 9. Pengujian potensi ekstrak biji kesumba sebagai antibakteri B. cereus dilakukan dengan uji clear zone menggunakan metode difusi cakram, pengujian MIC dan TPC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pH pelarut mulai dari pH 4 hingga pH 9 menyebabkan penurunan aktivitas antibakteri pada ekstrak biji kesumba. Diameter clear zone paling besar dihasilkan oleh ekstrak dengan perlakuan pH 4 yaitu 10,68 mm dengan kategori penghambatan kuat. Nilai MIC diperoleh pada konsentrasi 5% dan TPC terendah diperoleh pada konsentrasi 35% dengan nilai berturut-turut 0,562; 6,638 log CFU/ml.Indonesia is a country with abundant natural resources, one of which is various types of plants which have various benefits. The sumba plant (Bixa orellana) is a plant that has many benefits, but is rarely known by the general public. Corsumba seeds contain bioactive compounds that are antimicrobial such as saponins, tannins, steroids and glycosides. The benefits of sumba as an antibacterial can be obtained through the extraction process. In this research, the extraction process was carried out using the maceration method. The pH of the solvent is one of the factors that influences the antibacterial activity of kesumba extract. This study aims to determine the effect of varying the pH of the solvent in distilled water extract of sumba seeds on the antibacterial activity of Bacillus cereus. The research was conducted using an experimental method with a non-factorial Randomized Block Design consisting of 6 treatments and 4 replications. The factors tested were variations in solvent pH consisting of 4, 5, 6, 7, 8 and 9. Testing for the potential of coriander seed extract as an antibacterial for B. cereus was carried out by clear zone testing using the disk diffusion method, MIC and TPC testing. The results showed that increasing the pH of the solvent from pH 4 to pH 9 caused a decrease in the antibacterial activity of the coriander seed extract. The largest clear zone diameter was produced by extracts treated with pH 4, namely 10.68 mm with a strong inhibition category. The MIC value was obtained at a concentration of 5% and the lowest TPC was obtained at a concentration of 35% with values ​​respectively 0.562; 6.638 log CFU/ml.
4131343426F2C021028Peran Modal Sosial dalam Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen Kabupaten BanyumasBUMDes Singa Barong Kebarongan merupakan program pemerintah guna membantu perekonomian masyarakat Desa Kebarongan dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat agar masyarakat Desa Kebarongan dapat hidup secara layak. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui peran modal sosial sebagai motor penggerak dalam pengelolaan BUMDes Singa Barong Kebarongan di Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Objek penelitian ini adalah BUMDes Singa Barong Kebarongan. Sedangkan subjek informan dari penelitian ini adalah Kepala Desa, Perangkat Desa, Pengurus BUMDes, dan Masyarakat yang mengetahui tentang BUMDes. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial berupa kepercayaan, norma dan jaringan sosial dalam pengelolaan BUMDes Singa Barong Kebarongan dapat dikatakan cukup baik sehingga BUMDes mampu berkontribusi dalam pembangunan desa khususnya dalam bidang ekomi. Penerapan modal sosial dalam pengelolaan BUMDes Singa Barong Kebarongan dikatakan berhasil menjadikan BUMDes Singa Barong Kebarongan sebagai kategori BUMDes yang berkembang.BUMDes Singa Barong Kebarongan is a government program aimed at assisting the economy of Kebarongan Village and achieving the welfare of the community, enabling them to live decently. The purpose of this research is to understand the role of social capital as a driving force in the management of BUMDes Singa Barong Kebarongan in Kebarongan Village, Kemranjen District, Banyumas Regency. This study is a descriptive qualitative research. The object of this study is BUMDes Singa Barong Kebarongan. While the informants subjects from this study were the Village Head, Village Officials, BUMDes Management, and the community who knew about BUMDes. The research method uses observation, interview, and documentation to collect data.The result of this study shows that social capital in the form of trust, norms, and social network in the management of BUMDes Singa Barong Kebarongan is good enough to be able to contribute to village development, particularly in the economic field. The application of social capital in the management of BUMDes Singa Barong Kebarongan has succeeded to make a growing BUMDes.
4131443428G1A020051Efek Pemberian Bawang Hitam terhadap Gambaran Nekrosis Tubulus Ginjal Tikus Putih (Rattus norvegicus) Model HiperurisemiaLatar Belakang: Kadar asam urat yang tinggi dalam darah dapat menghasilkan kristal asam urat dan menurunkan kadar NO. Keduanya menginduksi nekrosis melalui pelepasan mediator inflamasi, peningkatan ROS, dan iskemia. Bawang hitam memiliki senyawa SAC, flavanoid, alkaloid, dna polifenol yang berpotensi sebagai antiinflamasi dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian bawang hitam terhadap gambaran nekrosis tubulus ginjal tikus putih model hiperurisemia.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental terhadap BBT dengan post-test only with control group design. Tiga puluh hewan coba dibagi secara acak menjadi lima kelompok perlakuan. Kelompok A sebagai kontrol hiperurisemia, Kelompok B induksi hiperurisemia dan allopurinol, Kelompok C, D, dan E sebagai kelompok perlakuan yang diberikan bawang hitam dosis 240 mg, 480 mg, dan 960 mg. Hasil: Rerata skor nekrosis tubulus kelompok A, B, C, D, dan E berturut-turut 3,33±0,27, 1,77±0,15, 1,80±0,33, 2,37±0,29, 3,67±0,33. Hasil uji One Way ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan dengan (p<0,05). Hasil uji post hoc LSD menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kelompok A dengan E, dan
kelompok B dengan C. Kesimpulan: Pemberian larutan bawang hitam dapat mengurangi nekrosis tubulus ginjal tikus putih model hiperurisemia, dengan dosis yang tidak menimbulkan toksik adalah 240 mg dan tidak terdapat perbedaan signifikan dengan alopurinol
sebagai obat standar hiperurisemia.
Background: High uric acid levels in the blood can produce uric acid crystals and reduce NO levels. Both induce necrosis through the release of inflammatory mediators, increased ROS, and ischemia. Black garlic contains SAC compounds, flavonoids, alkaloids, and polyphenols which have the potential effect as anti-inflammatory and antioxidants. This study aims to determine the effects of administering black garlic on the renal tubular necrosis in a hyperuricemia model of white rats. Method: This research is an experimental study on Biological Maaterial Preserved (BMP) using post-test only with control group design. Thirty experimental animals were randomly divided into five treatment groups. Group A as hyperuricemia control, Group B with hyperuricemia and allopurinol induction, while Groups C, D, and E were treated with black garlic solution at dose of 240, 480, and 960 mg. Results: The mean scores of renal tubular necrosis in groups A, B, C, D, and E were 3,33\pm0,27, 1,77\pm0,15, 1,80\pm0,33, 2,37\pm0,29, and 3,67\pm0,33, respectively.The results of One Way ANOVA test showed a significant difference with (p<0.05). The results of the LSD post hoc test showed that there were a significant differences between control group A and black garlic group B and C, and there was no significant difference between allopurinol group B and black onion group C. Conclusion: Administration of black garlic solution can reduce renal tubular necrosis in white rat with hyperuricemia model, with the best dose being 240 mg and there is no significant difference with allopurinol as a standard drug for hyperuricemia.
4131543424C2C020017PENGARUH CITRA EVENT TERHADAP MINAT BERKUNJUNG KEMBALI DENGAN NILAI PERSEPSI SEBAGAI VARIABEL MEDIASIPariwisata merupakan salah satu kekuatan pemerintah untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi. Indonesia merupakan salah satu negara yang mengutamakan pariwisata sebagai salah satu pendapatan negara. Pemasaran wisata olahraga merupakan salah satu dari sekian banyak strategi untuk meningkatkan kehadiran wisatawan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh citra acara terhadap niat berkunjung kembali dengan nilai yang dipersepsikan sebagai variabel mediasi. Model penelitian yang diusulkan didasarkan pada penggunaan teori organisme stimulus (SOR). Studi ini menggunakan peristiwa partisipan Tour de Borobudur sebagai kasus untuk memverifikasi hubungan dalam model yang diusulkan. Data dikumpulkan dengan melakukan kuesioner survei online kepada 138 responden dan dianalisis dengan menggunakan PLS. Hasil dari penelitian ini event image berpengaruh positif terhadap revisit intention. Variabel perceived value berperan memediasi hubungan event image dengan revisit intention.Pariwisata merupakan salah satu kekuatan pemerintah untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi. Indonesia merupakan salah satu negara yang mengutamakan pariwisata sebagai salah satu pendapatan negara. Pemasaran wisata olahraga merupakan salah satu dari sekian banyak strategi untuk meningkatkan kehadiran wisatawan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh citra acara terhadap niat berkunjung kembali dengan nilai yang dipersepsikan sebagai variabel mediasi. Model penelitian yang diusulkan didasarkan pada penggunaan teori organisme stimulus (SOR). Studi ini menggunakan peristiwa partisipan Tour de Borobudur sebagai kasus untuk memverifikasi hubungan dalam model yang diusulkan. Data dikumpulkan dengan melakukan kuesioner survei online kepada 138 responden dan dianalisis dengan menggunakan PLS. Hasil dari penelitian ini event image berpengaruh positif terhadap revisit intention. Variabel perceived value berperan memediasi hubungan event image dengan revisit intention.
4131643421E1B019033BUSINESS RESPONSIBILITIES TOWARDS CONSUMERS
PURCHASING PLOTS UNDER LAW NUMBER 8 OF 1999
CONCERNING CONSUMER PROCTION
(STUDY DESCRIPTION NUMBER 459/PID.SUS/2022/PN.PLG
Pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan usahanya harus memperhatikan hak dan kewajibannya sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, namun pada kenyataannya pelaku usaha lebih mementingkan haknya sehingga hak konsumen terabaikan atau dengan kata lain pelaku usaha tidak bertanggung jawab. Penelitian ini mengkaji tentang tanggung jawab pelaku usaha terhadap konsumen pembelian kavling yang bertujuan untuk mengetahui tanggungjawab pelaku usaha dan akibat hukum terhadap konsumen pembelian kavling dalam Putusan Nomor: 459/Pid.Sus/2022/PN.Plg berdasarkan dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.
Penelitian ini dibuat menggunakan metode pendekatan yuridis normatif. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder dengan pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan yang disajikan melalui uraian secara sistematis dan logis dengan bentuk teks naratif, dan dianalisis secara normative kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, pelaku usaha tidak bertanggungjawab yang seharusnya sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Pasal 7 huruf b dimana pelaku usaha tidak memenuhi kewajiban dan pasal huruf g dimana pelaku usaha tidak memberikan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian kepada konsumen dan berakibat hukum terhadap konsumen pembelian kavling yang tidak sesuai dengan pasal 4 huruf c Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Kawasan Pemukiman pasal 129 hueuf c dan pasal 7 huruf b Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999. Putusan ini memberikan perlindungan hukum terhadap konsumen pembelian kavling atas hak konsumen dari tanggungjawab pelaku usaha telah terpenuhi dengan dijatuhkannya pidana penjara.
Business actors in carrying out their business activities must pay attention to their rights and obligations as regulated in Law Number 8 of 1999 concerning Consumer Protection, but in reality business actors are more concerned with their rights so that consumer rights are neglected or in other words business actors are irresponsible.This research examines the responsibilities of business actors towards consumers purchasing plots with the aim of finding out the responsibilities of business actors and the legal consequences for consumers purchasing plots in Decision Number: 459/Pid.Sus/2022/PN.Plg based on Law Number 8 of 1999 Regarding Consumer Protection.
This research was made using the normative juridical approach method. The data source used is secondary data with data collection using literature studies which are presented through systematic and logical descriptions in the form of narrative text, and analyzed normatively qualitatively.
Based on the results of research and data analysis, business actors are not responsible as they should be as stated in Law Number 8 of 1999 concerning Consumer Protection Article 7 letter b where business actors do not fulfill their obligations and article g where business actors do not provide compensation, compensation and/or compensation to consumers and legal consequences for consumers purchasing plots that do not comply with article 4 letter c of Law Number 1 of 1999 and Law Number 1 of 2011 concerning Residential Areas article 129 hueuf c and article 7 letter b of Law Number 8 1999. This decision provides legal protection for consumers purchasing plots because the consumer's rights from the responsibility of business actors have been fulfilled by imposing a prison sentence.
4131743429I1A020070Analisis Kebijakan Pembiayaan Program Tuberkulosis Paru di Puskesmas Purwokerto Timur II Latar Belakang: Berdasarkan profil Puskesmas Purwokerto Timur II tahun 2022 bahwa terdapat sejumlah 83 kasus TB paru di mana mengalami kenaikan dari tahun 2021 sejumlah 27 kasus. Terdapat dua kegiatan yaitu, penemuan kasus dan kunjungan rumah serta pemantauan minum obat dengan masing-masing dana adalah Rp. 3.600.000. Namun dalam pelaksanaannya belum mencapai target pelaksanaan program. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebijakan pembiayaan yang berfokus pada kecukupan, pemerataan, efisiensi, dan efektivitas dari pembiayaan program TB.
Metodologi: Desain Penelitian yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan 6 informan, yaitu Kepala Puskesmas, Penanggung Jawab Program TB, Penanggung Jawab Sarana Prasarana, Penanggung Jawab Administrasi, Dokter, Dinas Kesehatan.
Hasil Penelitian: Kecukupan dana untuk kegiatan prioritas dan kegiatan tambahan dengan berbagai sumber dana yang berdasarkan fungsinya. Pemerataan dana dalam pendistribusian anggaran program tuberculosis yang melihat dari pendistribusian antar kegiatan program tuberkulosis dan pengajuan dokumen. Optimalisasi penggunaan dana dalam efektivitas program tuberculosis dengan melihat perhitungan anggaran yang telah sesuai dengan perencanaan dan target pelaksanaan kegiatan program tuberkulosis. Efisiensi pembiayaan yang melihat pemberdayaan fungsi sarana prasarana dengan pengoptimalan sumberdaya yang dimiliki dan pemenuhan kebutuhan sarana prasarana.
Kesimpulan: Kecukupan dana program TB belum tersegmentasi secara merata. Pemerataan program TB sudah cukup merata dilihat dari prioritas kegiatan program. Pembiayaan untuk ketersediaan sarana prasarana penunjang TB sudah efisien. Efektivitas pendanaan belum mencapai target pelaksanaan. Puskesmas Purwokerto Timur II diharapkan dapat meningkatkan dana untuk setiap kegiatan serta mengevaluasi kembali kesesuaian pelaksanaan program berdasarkan pedoman penanggulangan program TB.
Background: Based on the profile of the East Purwokerto II Health Center in 2022, there were 83 cases of pulmonary TB, which has increased from 2021, which was 27 cases. There are two activities, namely, case finding and home visits as well as monitoring medication taking with each fund being IDR. 3,600,000. However, in its implementation it has not achieved the program implementation target. This research aims to determine financing policies that focus on adequacy, equity, efficiency and effectiveness of TB program financing.
Methodology: The research design carried out in this study used a qualitative design with a case study approach with 6 informants, namely the Head of the Community Health Center, Person in Charge of the TB Program, Person in Charge of Facilities and Infrastructure, Person in Charge of Administration, Doctor, Health Service.
Research result: Adequate funding for priority activities and additional activities with various funding sources based on their function. Equal distribution of funds in the distribution of the tuberculosis program budget, which looks at the distribution between tuberculosis program activities and submission of documents. Optimizing the use of funds in the effectiveness of the tuberculosis program by looking at budget calculations that are in accordance with the planning and targets for implementing tuberculosis program activities. Financing efficiency that looks at empowering the function of infrastructure facilities by optimizing existing resources and meeting infrastructure needs.
Conclusion: The adequacy of TB program funding has not been segmented evenly. The distribution of the TB program is quite even, judging from the priority of program activities. Funding for the availability of TB supporting infrastructure is efficient. The effectiveness of funding has not yet reached the implementation target. It is hoped that the East Purwokerto II Community Health Center can increase funding for each activity and re-evaluate the suitability of program implementation based on TB program control guidelines
4131843430J1E019016THE CHOICE OF POLITENESS STRATEGIES IN REQUEST USED BY EFL UNIVERSITY STUDENTS AS REFLECTED IN DCT

(A Descriptive Qualitative Study to the Seventh Semester Students of English Education Study Program Jenderal Soedirman University in the Academic Year 2023/2024)
Penelitian ini menginvestigasi strategi tindak tutur meminta dan strategi kesopanan yang dipilih oleh mahasiswa pembelajar Bahasa Inggris sebagai bahasa asing saat membuat pesan permintaan kepada dosen. Pertama, studi ini ditujukan untuk mengindentifikasi pilihan startegi tindak tutur meminta dengan menganalisis tingkat keterusterangan pada pesan permintaan yang yang dibuat oleh mahasiswa untuk dosen. Kedua, studi ini bertujuan untuk mengetahui strategi tidak tutur meminta yang dipilih mahasiswa untuk menyampaikan permintaan dengan tingkat pembebanan rendah dan tingkat pembebanan tinggi. Ketiga, penelitian ini bertujuan mengetahui strategi kesopanan yang paling dominan dipilih oleh mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan Discourse Completion Test (DCT) sebagai instrumen pengumpulan data. Data tersebut dianalisis berdasarkan studi Blum Kulka, House, and Kasper (1989) tentang Cross-cultural pragmatics: Requests and Apologies dan studi Brown dan Levinson (1987) tentang kesopanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi tidak langsung konvensional dalam bentuk query preparatory adalah yang paling dominan. Namun hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan frekuensi strategi pada pesan dengan tingkat pembebanan tinggi dan tingkat pembebanan rendah. Frekuensi strategi langsung meningkat ketika siswa menyampaikan permintaan dengan timgkat pembebanan rendah. Sedangkan pada permintaan dengan tingkat pembebanan tinggi, mahasiswa lebih banyak menggunakan strategi tidak langsung. Hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya penggunaan query preparatory dan strong hints. Strategi kesopanan negative politeness mendominasi dalam pesan permintaan mahasiswa kepada dosen. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan lebih untuk meningkatkan efektifitas pengajaran pragmatic di universitas.This study investigated politeness strategies and request strategies employed by EFL university students in their request messages which were addressed to their lecturers. First, this study sought to identify request strategies by analyzing the level of request directness. Second, it attempted to find out what request strategies that were chosen for low imposition and high imposition request. Third, it explored politeness strategies to find out the most dominant politeness strategies chosen by the EFL university students. This study was a qualitative study which provided the analysis of politeness and request strategies. A Discourse Completion Test (DCT) was employed as data collection instrument. The data were then analyzed based on Blum Kulka, House, and Kasper (1989)’s study of Cross-cultural pragmatics: Requests and Apologies and Brown and Levinson (1987)’s study on politeness. The results revealed that conventionally indirect strategy in form of query preparatory was the most frequently chosen request strategy. However, the results showed different frequency emerged with the difference on the levels of imposition which consisted of low imposition and high imposition request. The number of direct strategies increased when the students conveyed low imposition request. While in high imposition request, the students made the request fainter by using indirect strategies. It could be seen by the increasing number of query preparatory and strong hints. Furthermore, the EFL university students employed a great deal of negative politeness in making request messages to the lecturers. Finally, these results offered profound insights in EFL setting to enhance teaching pragmatics in university.
4131943431I1A020046Gotong Royong Sebagai Modal Sosial dalam Penanggulangan Tuberkulosis di Wilayah Kerja Puskesmas Purwokerto Utara IILatar Belakang : Tuberkulosis menjadi penyakit menular paling mematikan pada urutan kedua di dunia setelah Covid-19 dan berada pada urutan ketiga belas sebagai faktor penyebab utama kematian di seluruh dunia. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam penurunan angka kasus tuberkulosis di Indonesia untuk mencapai target Eliminasi TBC 2030. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana gotong royong sebagai modal sosial dapat digunakan dalam upaya penanggulangan tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Purwokerto Utara II. Metodelogi : Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain fenomenologi. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara mendalam melibatkan 2 informan dari pemerintah Kelurahan Grendeng dan Kelurahan Sumampir dan 4 informan dari tetangga penderita tuberkulosis yang kemudian
dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil Penelitian : Belum adanya keterlibatan berbagai pihak dalam membentuk suatu jaringan sosial untuk mengatasi masalah tuberkulosis. Terdapat dukungan moril maupun dukungan materi yang diberikan kepada penderita tuberkulosis, namun belum terdapat pertisipasi masyarakat dalam program
penanggulangan tuberkulosis karena tidak ada program penanggulangan tuberkulosis di Kelurahan Grendeng dan Kelurahan Sumampir. Kepercayaan antar warga dan kepercayaan warga kepada tokoh masyarakat dalam mengelola bantuan sudah terbentuk sejak lama. Norma sosial dalam masyarakat tercermin melalui nilai-nilai budaya gotong royong yang masih dilestarikan hingga saat ini. Masyarakat juga bersosialisasi dan berperilaku baik terhadap penderita tuberkulsois.Kesimpulan : Gotong royong dalam upaya penanggulangan tuberkulosis belum terbentuk pada jaringan sosial yang belum menunjukkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah kelurahan perlu memperkuat
modal sosial dalam upaya penanggulangan tuberkulosis dengan membentuk kader TBC di wilayah Kelurahan Grendeng dan Kelurahan Sumampir
Background : Tuberculosis is the second most deadly infectious disease in the world after Covid19 and is in thirteenth place as the main cause of death worldwide. The government has made various efforts to reduce the number of tuberculosis cases in Indonesia to achieve the TB Elimination target by 2030. The aim of this research is to explore how mutual cooperation as social capital can be used in efforts to control tuberculosis in the working area of the North Purwokerto II Community Health Center. Methodology:This research uses a qualitative method with a phenomenological design. Data collection was carried out using in-depth interviews involving 2 informants from the Grendeng subdistrict government and Sumampir sub-district government and 4 informants from neighbors of tuberculosis sufferers who were then analyzed using thematic analysis.Research result :There is no involvement of various parties in forming a social network to overcome the problem of tuberculosis. Be found moral support and material support are provided to tuberculosis sufferers, but there is no community participation in the tuberculosis control program because there is no tuberculosis control program in Grendeng sub-district and Sumampir subdistrict. Trust between residents and residents' trust in community leaders in managing aid has been established for a long time. Social norms in society are reflected through the cultural values of mutual cooperation which are still preserved today. The community also socializes and behaves well towards tuberculosis sufferers. Conclusion :Mutual cooperation in efforts to control tuberculosis is carried out by the sub-district government and the community in the form of moral and material assistance. The sub-district government needs to strengthen social capital in efforts to control tuberculosis by forming TB cadres in the Grendeng sub-district and Sumampir sub-district areas
4132043432A1D019074APLIKASI BIO P60 DAN POC NASA TERHADAP PERKEMBANGAN PENYAKIT MOLER DAN HASIL TANAMAN BAWANG MERAHPenelitian ini dilaksanakan di Desa Banjarsari Wetan, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas dan Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman dari bulan Juli hingga bulan Desember 2023. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) yang terdiri dari dua faktor dengan 16 perlakuan dan 3 ulangan. Variabel yang diamati yaitu masa inkubasi, intensitas penyakit, AUDPC, tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah umbi, bobot basah tanaman, bobot basah umbi, bobot kering tanaman, bobot kering umbi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi Bio P60 sebanyak 5 kali merupakan perlakuan terbaik dalam menunda masa inkubasi sebesar 61,71%, menekan intensitas penyakit sebesar 66,67% dan menurunkan nilai AUDPC sebesar 69,84%, mampu meningkatkan komponen pertumbuhan dan hasil seperti tinggi tanaman sebesar 40,7%, jumlah daun sebesar 30,75%, jumlah umbi sebesar 83,35%, bobot basah umbi sebesar 104,53%, bobot kering umbi sebesar 105,07%, bobot basah tanaman sebesar 93,21% dan bobot kering tanaman sebesar 99,07% dibandingkan kontrol. Aplikasi POC belum mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap semua variabel pengamatan. Tidak adanya interaksi antara Bio P60 dan POC NASA terhadap semua variabel pengamatan.

This research was conducted in Banjarsari Wetan Village, Sumbang District, Banyumas Regency, and Plant Protection Laboratory, Faculty of Agriculture, Universitas Jenderal Soedirman, from July to December 2023. This study used a Completely Randomized Group Design (CRD) consisting of two factors with 16 treatments and 3 replicates. The variables observed were incubation period, disease intensity, AUDPC, plant height, number of leaves, number of tubers, plant wet weight, tuber wet weight, plant dry weight, and tuber dry weight. The results showed that the application of Bio P60 5 times was the best treatment in delaying the incubation period by 61.71%, suppressing disease intensity by 66.67%, and reducing AUDPC value by 69.84%, increase growth and yield components such as plant height by 40.7%, number of leaves by 30.75%, number of tubers by 83.35%, tuber wet weight by 104.53%, tuber dry weight by 105.07%, plant wet weight by 93.21%, and plant dry weight by 99.07% compared to the control. POC application has not been able to have a significant effect on all observation variables. There is no interaction between Bio P60 and NASA POC on all observation variables.