Artikelilmiahs

Menampilkan 39.061-39.080 dari 48.940 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
3906141591H1E016027ANALISIS KUALITAS WEBSITE ELDIRU MENGGUNAKAN METODE WEBQUAL 4.0 DAN IPAPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas website Eldiru milik Universitas Jenderal Soedirman dengan pendekatan Webqual. Webqual adalah sebuah pendekatan pengukuran kualitas website melalui persepsi pengguna berdasarkan tiga dimensi yaitu Usability, Information Quality dan Services Interaction Quality. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman dimana jumlah sampel diambil sebanyak 100 mahasiswa dan 3 dosen secara purposive sampling. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan kuesioner berbasis Webqual 4.0 yang dianalisis dengan IPA (Importance Performance Analysis) untuk mengetahui tingkat kepuasan pengguna yang merupakan gap antara kepentingan dan kinerja. Hasil uji validitas dan reliabilitas menunjukkan keseluruhan item kuesioner valid dan reliabel karena telah memenuhi persyaratan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 19 item kuesioner mahasiswa yang dianalisis dengan metode IPA dikelompokkan ke dalam kuadran I (6 item), kuadran II (4 item), kuadran III (4 item) dan kuadran IV (5 item). Sedangkan untuk kuesioner dosen terdiri dari 15 item yang dianalisis dengan metode IPA dikelompokkan ke dalam kuadran I (1 item), kuadran II (4 item), kuadran III (6 item) dan kuadran IV (4 item). Item yang dianggap penting oleh mahasiswa dan perlu segera ditingkatkan terletak pada kuadran I yaitu tampilan yang interaktif, informasi pengumuman yang akurat dan dapat dipercaya, kemudahan mengunggah dan mengunduh materi pembelajaran, akses cepat dan tidak melambat saat jam sibuk. Sedangkan yang dianggap penting oleh dosen dan perlu segera ditingkatkan yaitu tampilan yang interaktif.This study aims to evaluate the quality of the Eldiru website owned by Universitas Jenderal Soedirman with the Webqual approach. Webqual is an approach to measuring website quality through user perceptions based on three dimensions, namely Usability, Information Quality and Services Interaction Quality. The population in this study were all students of Jenderal Soedirman University where the sample size was taken as many as 100 students and 3 lecturers by purposive sampling. The research method used is a survey with a Webqual 4.0-based questionnaire which is analyzed with IPA (Importance Performance Analysis) to determine the level of user satisfaction which is the gap between interests and performance. The validity and reliability test results show that all questionnaire items are valid and reliable because they meet the requirements. The results showed that of the 19 items of the student questionnaire analyzed by the IPA method were grouped into quadrant I (6 items), quadrant II (4 items), quadrant III (4 items) and quadrant IV (5 items). Meanwhile, the lecturer questionnaire consists of 15 items analyzed by the IPA method grouped into quadrant I (1 item), quadrant II (4 items), quadrant III (6 items) and quadrant IV (4 items). Items that are considered important by students and need to be improved immediately are located in quadrant I, namely interactive displays, accurate and reliable announcement information, ease of uploading and downloading learning materials, fast access and not slowing down during peak hours. Meanwhile, what is considered important by lecturers and needs to be improved immediately is an interactive display.
3906241592J1C019011MAKNA KOSAKATA BAHASA JEPANG DAN PENANDA
PADA LABEL KEMASAN PRODUK SABUN DAN SAMPO
DI INDONESIA
Penelitian ini membahas tentang makna kosakata bahasa Jepang pada kemasan produk sabun dan sampo di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan makna dan keterkaitannya dengan kemasan produk sabun dan sampo yang menggunakan bahasa Jepang pada kemasannya sehingga akan terlihat bahwa hubungan antara makna kosakata bahasa Jepang dengan Penanda yang terdapat pada label kemasan saling terkait dan saling mendukung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan metode survei, simak catat sebagai teknik dalam metode observasi, dan teknik analisis data dengan metode padan dan agih. Sumber data sabun dan sampo berdasarkan hasil survei menunjukkan bahwa kecenderungan responden memilih produk dari negara Jepang pada produk sabun dan sampo dengan ketertarikan dari segi bahasa yang terdapat pada kemasan. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa makna yang terkandung dalam kosakata bahasa Jepang pada label kemasan produk sabun dan sampo di indonesia sebagian besar menemukan makna leksikal yang terkandung pada produk adalah dapat memberikan manfaat kepada tubuh seperti membersihkan tubuh dari bakteri, makna konotasinya kulit menjadi lembab, tidak kusam dan terlihat lebih cerah. Makna denotatif pada produk adalah penggunakan huruf romaji, hiragana, katakana, kanji, dan keterkaitannya dengan penanda pada label kemasan untuk memberikan informasi mengenai manfaat produk, dan deskripsi produk seperti sabun yang berasal dari Jepang dengan menggunakan gambar bunga sakura untuk memberikan gambaran kulit yang lembab, kencang dan dapat mengatasi kulit kusam agar terlihat lebih cerah secerah perempuan Jepang. Gambar dapat mempengaruhi persepsi konsumen mengenai manfaat produk. Peranan kemasan juga terlihat dalam penyampaian pesan, menjual dan melindungi produknya sangat besar. This study discusses the meaning of Japanese vocabulary on the packaging of soap and shampoo products in Indonesia. The purpose of this study is to describe the meaning and its association with the packaging of soap and shampoo products that use Japanese on the packaging so that it will be seen that the relationship between the meaning of Japanese vocabulary and the markers on the packaging labels are interrelated and mutually supportive. This study uses a qualitative descriptive method with data collection techniques using the survey method, see notes as a technique in the observation method, and data analysis techniques using the matching and agih methods. Soap and shampoo data sources based on the survey results show that the tendency of respondents to choose products from Japan in soap and shampoo products with an interest in terms of the language on the packaging. Based on the results of data analysis, it can be concluded that the meaning contained in Japanese vocabulary on the packaging labels of soap and shampoo products in Indonesia mostly found that the lexical meaning contained in the product is that it can provide benefits to the body such as cleaning the body from bacteria, the connotative meaning is that the skin becomes moist, not dull and looks brighter. The denotative meaning of the product is the use of the letters romaji, hiragana, katakana, kanji, and their association with markers on the packaging label to provide information about the benefits of the product, and product descriptions such as soap originating from Japan using images of cherry blossoms to depict moist skin. firm and can overcome dull skin to make it look brighter as bright as Japanese women. Images can influence consumer perceptions of product benefits. The role of packaging can also be seen in conveying messages, selling and protecting the product.
3906341593A1C018052IDENTIFIKASI KEMURNIAN MINYAK NILAM TERCAMPUR MINYAK KEDELAI MENGGUNAKAN SENSOR MICRO ELECTRO MECHANICAL SYSTEM DAN METODE PRINCIPAL COMPONENT ANALYSISPenelitian ini ditujukan untuk mengidentifikasi Minyak Nilam yang tercampur dengan Minyak Kedelai menggunakan sensor Micro Electro Mechanical System dengan melihat respon dan tingkat akurasi dari masing-masing sensor. Penelitian dilaksanakan dengan persiapan alat dan bahan, pengambilan data berupa Minyak Nilam murni, Minyak Kedelai murni, Minyak Nilam adulterasi, Minyak Nilam tercampur Minyak Kedelai dan Minyak Nilam tercampur Minyak Kedelai dengan konsentrasi 1%, 5%, 10%, 15%, 20%. Penelitian dilakukan dengan 2 perlakukan tanpa pemanasan dan dengan pemanasan. Pengujian yang dilakukan antara lain: (a) Pengujian A yaitu pengujian untuk membedakan Minyak Nilam murni dengan Minyak Kedelai murni, (b) Pengujian B yaitu pengujian untuk membedakan Minyak Nilam murni dengan Minyak Nilam adulterasi, (c) Pengujian C yaitu pengujian untuk membedakan Minyak Nilam murni dengan Minyak Nilam tercampur Minyak Kedelai, (d) Pengujian D yaitu pengujian untuk membedakan Minyak Nilam murni dengan Minyak Nilam tercampur Minyak Kedelai dengan konsentrasi 1%, 5%, 10%, 15%, 20%. Data yang digunakan yaitu data atsiri measurement (Rg) dan data sensitivitas (S) yang diperoleh dari hasil bagi antara baseline measurement (Ro) dan atsiri measurement (Rg). Hasil analisis loading plot PCA menunjukan bahwa sensor MEMS yang responsif terhadap Minyak Nilam antara lain sensor M6814, M4541, C811 dan M5524. Sedangkan sensor M9541 tidak responsif. Uji akurasi pada beberapa pengujian dengan analisis score plot PCA yang dilanjutkan dengan penentuan center of gravity dan euclidean distance menunjukan bahwa sistem memiliki akurasi yang tinggi untuk pengujian A (akurasi 98,1%), B (akurasi 85,6%) dan C (akurasi 85,6%). Sedangkan pengujian D memiliki akurasi tidak terlalu tinggi yaitu sebesar 66,7%.This study aims to identify Patchouli Oil mixed with Soybean Oil using a Micro Electro Mechanical System sensor by looking at the response and accuracy level of each sensor. The research was carried out with the preparation of tools and materials, data collection in the form of pure Patchouli Oil, pure Soybean Oil, Alterations Patchouli Oil, Patchouli Oil mixed with Soybean Oil and Patchouli Oil mixed with Soybean Oil with concentrations of 1%, 5%, 10%, 15%, 20% . The research was conducted with 2 treatments without heating and with heating. Tests carried out include: (a) Test A, which is a test to distinguish between pure Patchouli Oil and pure Soybean Oil, (b) Test B, which is a test to distinguish pure Patchouli Oil from alterations Patchouli Oil, (c) Test C, which is a test to distinguish Pure Patchouli Oil from Pure Patchouli Oil with Patchouli Oil mixed with Soybean Oil, (d) Test D is a test to distinguish pure Patchouli Oil from Patchouli Oil mixed with Soybean Oil with a concentration of 1%, 5%, 10%, 15%, 20%. The data used are measurement atsiri data (Rg) and sensitivity data (S) obtained from the quotient between baseline measurement (Ro) and volatile measurement (Rg). The results of the PCA loading plot analysis show that the MEMS sensors that are responsive to Patchouli Oil include the M6814, M4541, C811 and M5524 sensors. Meanwhile, the M9541 sensor is unresponsive. Accuracy test on several tests with PCA score plot analysis followed by determining the center of gravity and euclidean distance shows that the system has high accuracy for tests A (accuracy 98.1%), B (accuracy 85.6%) and C (accuracy 85.6%). While the D test has an accuracy that is not too high, namely 66.7%.
3906441594K1A019063EFEKTIVITAS PENURUNAN KADAR
LINEAR ALKYLBENZENE SULFONATE DAN FOSFAT
PADA LIMBAH CAIR LAUNDRY MENGGUNAKAN
SISTEM MULTI SOIL LAYERING
Usaha laundry memberikan berbagai macam keuntungan, seperti memudahkan kegiatan mencuci dan menyetrika pakaian serta memberikan lapangan pekerjaan. Namun, limbah yang dihasilkan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Salah satu cara yang dapat digunakan dalam mengatasi pencemaran akibat pembuangan limbah cair laundry yaitu menggunakan metode Multi Soil Layering (MSL). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan sistem MSL dalam menurunkan kadar LAS dan fosfat, mengetahui pengaruh penambahan aerasi, dan menentukan persentase efektivitas sistem MSL. MSL merupakan suatu metode pengolahan limbah cair yang memanfaatkan fungsi tanah sebagai media pengolahannya. Metode ini dibuat dalam bak akrilik yang terdiri dari lapisan anaerob (campuran tanah andisol dan arang kayu) dan lapisan aerob (zeolit dan kerikil) yang disusun dalam pola bata yang dikembangkan dengan penambahan aerasi. Air limbah dialirkan ke dalam sistem MSL pada kecepatan pengisian 480 L.m-2.hari-1 dan diberikan aerasi dengan variasi 0, 2, 4, dan 6 L/menit untuk mengetahui aerasi optimum yang nantinya digunakan dalam menentukan efektivitas sistem MSL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan limbah cair laundry menggunakan sistem MSL dapat menurunkan kadar LAS dan fosfat secara optimum pada penambahan aerasi 6 L/menit. Dengan efektivitas sistem MSL dalam menurunkan kadar LAS dan fosfat masing-masing sebesar 98,663% dan 97,241%.Business Laundry provides various kinds of benefits, such as facilitating the activities of washing and ironing clothes and providing jobs. However, the waste generated can cause environmental pollution. One method that can be used to overcome pollution due to the disposal of laundry wastewater is to use the Multi Soil Layering (MSL) method. The purpose of this research was to determine the use of the MSL system in reducing the concentration of LAS and phosphate, the effect of adding aeration, and the percentage of effectiveness of the MSL system. MSL is a method of wastewater treatment that utilizes the soil's function as a processing medium. This method was made in an acrylic bath consisting of an anaerobic layer (a mixture of andisol soil and wood charcoal) and an aerobic layer (zeolite and gravel) arranged in a brick pattern which developed by adding aeration. The liquid waste laundry flows into the MSL system at a filling speed of 480 L.m-2.hari-1 with added variations of aeration 0, 2, 4, and 6 L/minute to determine the optimum aeration needed by the system, then specify the effectiveness of the MSL system. The results of the research show that the processing of liquid waste laundry using the MSL system can reduce the concentration of LAS and phosphate optimally at the additional aeration of 6 L/minute. The effectiveness of the MSL system in reducing LAS and phosphate concentrations in laundry wastewater was 98.663% and 97.241%, respectively.
3906541595I1D019016PENGARUH TELENUTRITION EDUCATION TERHADAP PERSEN LEMAK, KOLESTEROL DAN AKTIVITAS FISIK PADA DEWASA DENGAN KELEBIHAN BERAT BADANLatar Belakang : Overweight dan obesitas dapat disebabkan oleh aktivitas fisik yang kurang serta ketidakseimbangan asupan energi dan pengeluaran energi. Salah satu upaya untuk memperbaiki pola hidup sehat dapat dilakukan dengan edukasi gizi. Perkembangan teknologi saat ini bisa memberikan peluang untuk meningkatkan kegiatan telehealth di Indonesia salah satunya adalah telenutrition. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh Telenutrition education terhadap perubahan persen lemak, kolesterol dan aktivitas fisik pada dewasa dengan kelebihan berat badan.
Metodologi: Desain penelitian yang digunakan adalah pre-test post-test kontrol group design dengan sampel penelitian yaitu 46 dewasa (19-49 tahun) yang dipilih secara purposive sampling. Kelompok eksperimen diberikan perlakuan khusus yaitu edukasi gizi berbasis telenutrition, sedangkan kelompok kontrol diberikan perlakuan dengan edukasi gizi berbasis leaflet secara langsung.
Hasil Penelitian: Tidak ada pengaruh persen lemak tubuh sebelum dan setelah diberikan edukasi gizi pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (p>0,05). Ada pengaruh kadar kolesterol dan aktivitas fisik sebelum dan setelah diberikan edukasi gizi pada kelompok eksperimen dengan kelebihan berat badan sedangkan pada kelompok kontrol tidak ada pengaruh kadar kolesterol sebelum dan setelah diberikan edukasi gizi (p<0,05).
Kesimpulan: : Edukasi gizi berbasis telenutrition maupun leaflet tidak memiliki pengaruh terhadap ersen lemak tubuh. Terdapat pengaruh edukasi gizi melalui telenutrition terhadap kadar kolesterol dan aktivitas fisik sedangkan dengan edukasi gizi melalui leaflet tidak terdapat pengaruh.

Background: Overweight and obesity can be caused by less physical activity and an imbalance in energy intake and energy expenditure. One effort to improve a healthy lifestyle can be done with nutrition education. Current technological developments can provide opportunities to increase telehealth activities in Indonesia, one of which is telenutrition. This study aims to determine the effect of telenutrition education on changes in percent fat, cholesterol and physical activity in overweight adults.
Methodology: The research design used was a pre-test post-test control group design with a sample of 46 adults (19-49 years) selected by purposive sampling. The experimental group was given special treatment, namely telenutrition-based nutrition education, while the control group was given direct leaflet-based nutrition education.
Results: There was no effect of percent body fat before and after being given nutrition education in the experimental group and the control group (p>0.05). There was an effect on cholesterol levels and physical activity before and after being given nutrition education in the overweight experimental group, while in the control group there was no effect on cholesterol levels before and after being given nutrition education (p<0.05).
Conclusion: Telenutrition-based nutrition education and leaflets have no effect on body fat levels. There is an effect of nutrition education through telenutrition on cholesterol levels and physical activity, while nutrition education through leaflets has no effect.

3906641596A1D019119Pengaruh Pemberian Bakteri Penghasil IAA dan Pengurangan Dosis Dolomit terhadap Pertumbuhan Tanaman Jahe Emprit (Zingiber officinalle Var. Amarum) pada Tanah UltisolJahe merupakan salah satu tanaman herbal jenis rimpang yang memiliki banyak khasiat bagi kesehatan. Kandungan yang terdapat dalam rimpang jahe antara lain energi, karbohidrat, serat, protein, sodium, zat besi, potassium, dan vitamin C serta jenis zat gizi lainnya. Berdasarkan data BPS (2022) produksi jahe di Indonesia dari tahun 2019 - 2022 mengalami penurunan di tahun 2022 degan rincian data yaitu 174 ribu ton (2019), 183 ribu ton (2020), 307 ribu ton (2021) dan 247 ribu ton (2022). Produksi jahe emprit dapat ditingkatkan dengan upaya memanfaatkan bakteri penghasil IAA dan lahan marginal tanah ultisol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bakteri penghasil IAA dan pengurangan dosis dolomit terhadap pertumbuhan tanaman jahe emprit serta mengetahui jenis bakteri dan dosis dolomit yang tepat untuk memacu pertumbuhan jahe emprit. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan 2 faktorial. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), jumlah anakan, kehijauan daun, luas daun (cm2), berat segar berangkas (g), berat kering berangkas (g), berat segar rimpang (g), berat kering rimpang (g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bakteri IAA isolate S3 berpengaruh pada variabel tinggi tanaman, luas daun, jumlah daun, warna daun, berat berangkas segar, berat rimpang segar. Dosis dolomit 100% menunjukkan pengaruh paling baik pada variabel tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, berat berangkas segar, berat rimpang kering. Interaksi antara bakteri IAA dan dosis dolomit berpengaruh pada variabel tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, dan berat berangkas segar.Ginger is a rhizome-type herbal plant that has many health benefits. The content contained in ginger rhizomes includes energy, carbohydrates, fiber, protein, sodium, iron, potassium, and vitamin C and other types of nutrients. Based on BPS data (2022), ginger production in Indonesia from 2019 - 2022 has decreased in 2022 with detailed data, namely 174 thousand tons (2019), 183 thousand tons (2020), 307 thousand tons (2021) and 247 thousand tons (2022). Ginger emprit production can be increased by utilizing IAA-producing bacteria and ultisol marginal soil. The purpose of this study was to determine the effect of IAA-producing bacteria and reduced dolomite doses on the growth of emprit ginger plants and to determine the type of bacteria and the right dolomite dose to spur the growth of emprit ginger. The experiment used a randomized complete group design with 2 factorials. Parameters observed were plant height (cm), number of leaves (strands), number of tillers, leaf greenness, leaf area (cm2), fresh weight of pruned (g), dry weight of pruned (g), fresh weight of rhizomes (g), dry weight of rhizomes (g). The results showed that the application of IAA bacteria isolate S3 influenced the variables of plant height, leaf area, number of leaves, leaf color, fresh prune weight, fresh rhizome weight. The dolomite dose of 100% showed the best effect on the variables of plant height, number of leaves, number of tillers, fresh pruned weight, rhizome weight, and rhizome weight.
3906741597A1A019013Analisis Kelayakan UMKM Keripik Sale Pisang di Kecamatan Wangon Kabupaten BanyumasUMKM merupakan usaha milik perorangan yang bergerak dalam skala kecil. UMKM biasanya memiliki permasalahan yaitu belum menganalisis kelayakan usahanya. Analisis kelayakan usaha perlu dilakukan untuk melakukan evaluasi dan pengembangan usaha kedepannya. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mengetahui UMKM keripik sale pisang di Kecamatan Wangon yang mengeluarkan biaya terbesar dan terkecil dan UMKM dengan pendapatan terbesar dan terkecil, serta mengetahui kelayakan UMKM berdasarkan aspek finansial dan aspek non finansialnya. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Wangon pada bulan Mei 2023 dengan jumlah sampel 5 UMKM. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah sensus. Alat analisis yang digunakan adalah R/C ratio, BEP, dan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini yaitu 1) UMKM Murni Sari memiliki total biaya terbesar dan UMKM 2F memiliki total biaya terkecil, UMKM Ragil Jaya memiliki total pendapatan dalam satu bulan produksi terbesar dan UMKM 2F memiliki total pendapatan terkecil. 2) Berdasarkan perhitungan R/C Ratio dan BEP maka UMKM keripik sale pisang di Kecamatan Wangon dapat dikatakan layak dijalankan. 3) Berdasarkan aspek hukum UMKM keripik sale pisang telah memiliki legalitas usaha NIB dan P-IRT. Aspek teknis dan teknologi UMKM keripik sale pisang masih secara sederhana dalam proses produksinya dan lokasi usaha strategis. Aspek manajemen dan sumber daya manusia UMKM keripik sale pisang memiliki sistem pembagian kerja dengan sistem penggajian per minggu. Aspek pasar dan pemasaran UMKM keripik sale pisang memiliki pelanggan tetap. Aspek sosial ekonomi UMKM keripik sale pisang berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja. Aspek dampak lingkungan UMKM keripik sale pisang mengelola limbah dengan menjadikan limbah sebagai pakan ternak.SMEs are individual-owned businesses that operate on a small scale. SMEs usually have problems, namely they have not analyzed the feasibility of their business. Business feasibility analysis needs to be carried out to evaluate and develop business in the future. This research was carried out with the aim of knowing which SMEs banana sale chips in Wangon District which incur the largest and smallest costs and SMEs with the largest and smallest income, and to determine the feasibility of SMEs based on their financial and non-financial aspects. This research was conducted in Wangon District in May 2023 with a sample size of 5 SMEs. The sampling method used is census. The analytical tool used is R/C system, BEP, and descriptive analysis. The results of this study are 1) Murni Sari SMEs have the largest total costs and 2F SMEs have the smallest total costs, Ragil Jaya SMEs have the largest total income in one month of production and 2F SMEs have the smallest total revenue. 2) Based on calculations R/C ratio and BEP, it can be said that SME banana sale chips in Wangon District is feasible. 3) Based on the legal aspect, SMEs banana sale chips already have NIB and P-IRT business legality. The technical and technological aspects of SMEs banana sale chips are still simple in their production processes and strategic business locations. Aspects of management and human resources, SMEs banana sale chips have a division of labor system with a payroll system per week. Market and marketing aspects of banana sale chips SMEs have regular customers. The socio-economic aspects of SMEs banana sale chips have an effect on employment absorption. The environmental impact aspect of SME banana chips sale manages waste by turning the waste into animal feed.
3906841598A1D019131PENGARUH NAUNGAN TERHADAP KERAGAAN TIGA VARIETAS CABAI HIASCabai hias dapat berfungsi sebagai dekorasi baik di dalam maupun di luar ruangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh naungan terhadap pertumbuhan tanaman cabai, pertumbuhan 3 varietas cabai hias, dan interaksi antara 3 varietas cabai hias dengan perlakuan naungan. Penelitian dilaksanakan
bulan Oktober sampai Februari 2023 di screen house Fakulas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini menggunakan rancangan petak tersarang dengan 2 faktor, yaitu petak utama yang terdiri atas N0 (tanpa naungan), N1 (naungan 25%), N2 (naungan 50%) dan anak petak yang
terdiri atas V1 (Ayesha IPB), V2 (Thai Pumpkin), dan V3 (Lembayung IPB) sehingga terdapat 9 kombinasi perlakuan. Perlakuan diulang sebanyak 3 ulangan,
sehingga diperoleh 27 unit percobaan. Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, umur berbunga, jumlah cabang, jumlah buah, diameter
buah, bobot buah, kandungan klorofil daun, kandungan antosianin, warna daun muda dan dewasa, warna buah matang dan fruit set. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F dan uji lanjut menggunakan analisis DMRT pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perlakuan naungan memberikan pengaruh sangat nyata pada variabel jumlah cabang, umur berbunga dan pengaruh nyata pada variabel fruit set. Ketiga varietas cabai hias memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah cabang, umur berbunga, diameter buah, dan bobot buah. Interaksi perlakuan naungan dan varietas memberikan pengaruh nyata terhadap variabel jumlah daun. Perlakuan naungan maupun varietas tidak memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah buah dan kandungan antosianin. Kombinasi perlakuan terbaik pada pertambahan jumlah daun dijumpai pada kombinasi antara varietas Lembayung dengan tanpa naungan.
Ornamental chilies can serve as a decoration both indoors and outdoors. This study aims to determine the effect of shade on the growth of chili plants, the
growth of 3 ornamental chili varieties, and the interaction between the 3 ornamental chili varieties with shade treatment. The research was carried out at
the screen house of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. This study used a nested plot design with 2 factors, namely the main plot which consisted of N0 (no shade), N1 (25% shade), N2 (50% shade) and subplots consisting of V1 (Ayesha IPB), V2 (Thai Pumpkin), and V3 (Lembayung
IPB) so that there were 9 treatment combinations. The treatment was repeated 3 times to obtain 27 experimental units. The variables observed were plant height, number of leaves, age of flowering, number of branches, number of fruits, fruit diameter, fruit weight, leaf chlorophyll content, anthocyanin content, mature leaf color, ripe fruit color and fruit set. The data obtained were analyzed using the F test and follow-up tests using DMRT analysis at an error level of 5%. The results of this study indicate that the shade treatment has a very significant effect on the number of branches, flowering age and fruit set variables. The three ornamental chili varieties had a significant effect on plant height, number of branches, flowering time, fruit diameter and fruit weight. The interaction of shade treatment and variety has a significant effect on the variable number of leaves. Shade treatment and variety did not significantly affect the number of fruits and anthocyanin content. The best combination of treatments for increasing the number of leaves was found in the combination of Lembayung IPB and no shade.
3906944395I1A019076ANALISIS KEBUTUHAN MEDIA PROMOSI KESEHATAN TALASEMIA UNTUK REMAJA DI KABUPATEN BANYUMASLatar Belakang : Talasemia adalah kelainan genetik. Banyumas memiliki prevalensi pembawa sifat 8% lebih tinggi dari Indonesia 3,8%. Pengetahuan remaja tentang talasemia masih rendah dari 100 orang, 80% hanya mendapat nilai 40 dari 100. Media promosi kesehatan yang sesuai kebutuhan dapat mengatasi pengetahuan rendah tentang talasemia. Tujuan penelitian ini mengeksplorasi kebutuhan media promosi kesehatan talasemia untuk remaja di Kabupaten Banyumas.
Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian menggunakan variasi maksimal besar sampel 14, 9 informan utama dan 5 pendukung serta menggunakan thematic analysis.
Hasil : Pengetahuan remaja tentang talasemia terbatas. Masih terdapat stigma dan diskriminasi akan tetapi perlahan remaja mengetahui kebutuhan dukungan dari pasien talasemia. Munculnya kekhawatiran remaja terhadap talasemia langkah bagus untuk pencegahan talasemia. Kemudahan remaja dalam mengakses internet, menjadikan internet sumber informasi utama. Munculnya kebutuhan media promosi kesehatan video namun, masih dibutuhkan media konvensional. Video yang dibutuhkan dalam format seperti animasi, siniar, dan monolog untuk media sosial. Sebab talasemia yang belum umum, remaja butuh pengenalan talasemia. Selain itu, butuh informasi layanan skrining. Diperlukan peran berbagai pihak dalam pembentukan media promosi kesehatan karena ini merupakan masalah yang harus diselesaikan dengan kolaborasi lintas sektor.
Kesimpulan : Pengetahuan remaja terbatas, remaja membutuhkan media digital video dan media konvesional untuk pengenalan talasemia dan skrining. Itu dapat diwujudkan dengan kolaborasi lintas sektor.
Background: Talasemia is a genetic disorder. Banyumas has a trait carrier prevalence 8% higher than Indonesia's 3.8%. Adolescent knowledge of talasemia is still low out of 100 people, 80% only score 40 out of 100. Appropriate health promotion media can overcome low knowledge about talasemia. The purpose of this study explores the need for talasemia health promotion media for adolescents in Banyumas Regency.
Research Method: The type of research used is qualitative with a case study approach. The study used a maximum variation of a large sample of 14, 9 main informants and 5 supporters and used thematic analysis.
Research Results: Adolescent knowledge of talasemia is limited. There is still stigma and discrimination, but slowly adolescents know the need for support from talasemia patients. The emergence of adolescent concern about talasemia is a good step for talasemia prevention. The ease of teenagers in accessing the internet, making the internet the main source of information. The emergence of the need for video health promotion media, however, conventional media is still needed. Videos are needed in formats such as animations, podcasts, and monologues for social media. Because talasemia is not yet common, adolescents need to introduce talasemia. In addition, it needs screening service information. The role of various parties is needed in the formation of health promotion media because this is a problem that must be solved by cross-sector collaboration.
Conclusion: Adolescent knowledge is limited, adolescents need video and conventional media for talasemia introduction and screening. It can be realized with cross-sector collaboration.
3907041599A1F016050Pengaruh Jenis Kemasan dan Lama Penyimpanan Terhadap Kualitas Susu Kacang Tanah Pada Suhu Ruang.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis kemasan dan lama waktu simpan terhadap kualitas susu kacang tanah pada suhu ruang. Penelitian ini dilakukan pada Maret 2021 sampai Juli 2021 di Laboratorium Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Rancangan penelitian yang digunakan Rancangan Acak Kelompok menghasilkan 16 perlakuan faktorial, diulang sebanyak 2 kali, sehingga terdapat 32 unit percobaan. Faktor pertama yaitu jenis kemasan terdiri dari 3 taraf; botol kaca, botol plastik PET, dan gelas plastik PP. Faktor kedua yaitu lama waktu simpan terdiri dari 6 taraf; penyimpanan selama 0 jam, 5 jam, 10 jam, 15 jam, 20 jam, dan 25 jam. Variabel pengamatan meliputi derajat keasaman (pH), atribut sensori warna, aroma, kenampakan produk, dan penerimaan keseluruhan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F, apabila terdapat keragaman dilanjutkan Uji Duncan’s Multiple Range Test pada taraf kepercayaan 95%. Lama waktu simpan berpengaruh terhadap derajat keasaman, atribut sensori warna, aroma, kenampakan, dan penerimaan keseluruhan produk. Susu kacang tanah masih layak dikonsumsi pada penyimpanan selama 10 jam di suhu ruang. Jenis kemasan yang sesuai untuk penyimpanan susu yaitu kemasan botol. Didapatkan kombinasi saat produk masih layak konsumsi antara penyimpanan selama 10 jam dan pengemas botol terhadap kualitas susu kacang tanah pada suhu ruang dengan karakteristik: nilai pH 7,36, atribut warna 11,23, atribut aroma 10,10, atribut kenampakan produk 8,03, dan penerimaan keseluruhan panelis 7,13.This research aims to know the effect of the type of packaging and the time of storage on the quality of peanut milk at room temperature. This research was conducted in March 2021 to July 2021 at the Agricultural Technology Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. The research design used randomized block design resulted in 16 factorial treatments, repeated 2 times, so there were 32 experimental units. The first factor is the type of packaging consisting of 3 levels; glass bottles, PET plastic bottles, and PP plastic cups. The second factor is the long storage time consisting of 6 levels; storage for 0 hours, 5 hours, 10 hours, 15 hours, 20 hours, and 25 hours. Observational variables include pH value, sensory attributes of color, aroma, product appearance, and overall acceptance. The data obtained were analyzed using the F test, if there was diversity then continued with the Duncan's Multiple Range Test at the 95% level of confidence. The length of storage time affects the pH value, color sensory attributes, aroma, appearance, and overall product acceptance. Peanut milk is still suitable for consumption when stored for 10 hours at room temperature. The type of packaging suitable for milk storage is bottle packaging. The combination when the product is still fit for consumption between storage for 10 hours and bottle packaging on the quality of peanut milk at room temperature with the characteristics: pH value 7.36, color attribute 11.23, aroma attribute 10.10, product appearance attribute 8.03, and the overall acceptance of the panelists 7.13.
3907144750K1A020067KARAKTERISASI EKSTRAK AQUEOUS DARI KAYU TINGI, KAYU TEGERAN DAN DAUN MANGGA SEBAGAI
PEWARNA ALAMI PADA KAIN KATUN
Kekayaan alam Indonesia yang berupa keragaman hayati berpotensi menghasilkan pewarna alami untuk tekstil. Pewarna alami dapat diperoleh dari bahan alami seperti kayu Tingi, kayu Tegeran dan daun Mangga. Kualitas dan potensi pewarna alami dapat diketahui ketika pewarna alami digunakan dalam proses pewarnaan kain yang meliputi tahapan mordanting dan fiksasi. Tujuan penelitian adalah untuk mengekstraksi pewarna alami dari kayu Tingi, kayu Tegeran dan daun Mangga, mengetahui ekstrak pewarna alami yang dihasilkan dari kayu Tingi, kayu Tegeran dan daun Mangga untuk pewarnaan kain dan mengkarakterisasi kain dengan pewarna alami dari kayu Tingi, kayu Tegeran dan daun Mangga serta mengetahui pengaruh mordan yang digunakan. Uji karakterisasi kain dengan pewarna alami dilakukan dengan menguji tahan luntur warna dan menguji nilai L*a*b*. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kayu Tingi, kayu Tegeran dan Daun Mangga berpotensi sebagai pewarna alami untuk pewarnaan kain. Karakterisasi kain dengan pewarna alami dilakukan dengan uji tahan luntur warna dan uji arah warna. Hasil pengujian tahan luntur warna diperoleh nilai cukup baik (3-4) hingga baik (4-5). Mordan dengan hasil uji tahan luntur warna yang paling baik adalah mordan ATF. Hasil pengujian arah warna diperoleh nilai kecerahan (L*) tertinggi terdapat pada daun Mangga sebesar 53,15 dan nilai terendah terdapat pada kayu Tingi sebesar 33,39; nilai kemerahan (a*) tertinggi pada kain dengan pewarna alami kayu Tingi sebesar 32,49 yang mengarah ke warna merah dan nilai kekuningan (b*) tertinggi pada kain dengan pewarna alami kayu Tegeran sebesar 42,25 yang mengarah ke warna kuning. Penggunaan mordan tawas, aluminium asetat dan aluminium triformat berpengaruh terhadap nilai L*a*b* pada kayu Tingi, kayu Tegeran dan daun Mangga.Indonesia’s natural wealth of biodiversity have the potential to produce a natural dye for textiles. Natural dyes can be obtained from natural materials such as Tingi wood, Tegeran wood and Mango leaves. The quality and potential of natural dyes can be known when natural dyes are used in the fabric dying process which includes mordanting and fixation stages. The purpose of the research are extracting natural dyes from Tingi wood, Tegeran wood and Mango leaves, determine the colors produced from the natural dyes of Tingi wood, Tegeran wood and Mango leaves for fabric dyeing and characterizing fabric with natural dyes from Tingi wood, Tegeran wood and Mango leaves and the influence of mordant used. The characterization of fabric with a natural dye carried out by testing color fastness and testing the value of L*a*b*. The result suggested that natural dyes of Tingi wood, Tegeran wood and mango leaves are potential for fabric dying. Color fastness test results obtained is good enough (3-4) to good (4-5). Mordant with the best color fastness test results is ATF. The results of color direction testing obtained the highest value of lightness (L*) found on the mango leaves of 53,15 and the lowest value is on the Tingi wood of 33,39; the highest reddish value (a*) is found on the Tingi wood of 32,46 that leads to red color and the highest value of yellowness (b*) is found on the Tegeran wood of 42,25 that leads to yellow. The use of tawas, AA and ATF mordants affects the L*a*b* value of Tingi wood, Tegeran wood and Mango leaves.
3907241600A1D019163Pengaruh Komposisi Nutrisi Diperkaya Bahan Organik dan Jenis Media Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Melon (Cucumis melo L.) HidroponikPenelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca, Flos Hidroganik, Bansari, kabupaten Temanggung, selama 7 bulan dari November 2022 hingga Mei 2023. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAKL) dua faktor dengan 9 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan. Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah bunga, luas daun, kadar klorofil total, umur panen awal, diameter buah, bobot buah, ketebalan daging buah, dan total padatan terlarut (TPT). Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan P2 (urine kelinci + kulit nanas) 50% menunjukan hasil berbeda nyata terhadap kandungan klorofil total. Namun, ketiga perlakuan nutrisi tidak berbeda nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah bunga, luas daun, kadar klorofil total, umur awal panen, diameter buah, bobot buah, ketebalan daging, dan TPT. Perlakuan M3 (Kombinasi cocopeat dan arang sekam (1:1)) menunjukan pengaruh yang nyata terhadap variabel tinggi tanaman, jumlah daun, dan luas daun. Rekomendasi penelitian lanjutan agar menguji kualitas buah untuk mengetahui pengaruh komposisi nutrisi organik dan media tanam terhadap fisiologis buah.This Reasearch was conducted at the Screen house Flos hidroganik, Bansari, kabupaten Temanggung, for 7 months from November 2022 to May 2023. This study used two factors Completely Randomized Design (CRD) with 9 combine treatments and 3 replications. The variables observed were plant height, number leaves, number of flowers, leaf area index, total chlorophyll, fisrts harvesting time, diameter of fruit, average fruit weight, diameter of fruit fles,and total dissolved solids. The results showed that the P2 treatment (rabbit urine + pineapple peel) 50% showed different results in terms of total chlorophyll content. However, the three nutritional treatments were not significantly different on plant height, number of leaves, number of flowers, leaf area, total chlorophyll content,early harvest age, fruit diameter, fruit weight, thickness of fruit flesh,and total soluble solids.The M3 treatment (a combination of cocopeat and husk charcoal (1:1)) showed a significant effect on the variable plant height, number of leaves, and leaf area. Recommendations for further research to test fruit quality to determine the effect of organic nutrient composition and planting media on fruit physiology.
3907341601J1A019043The Analysis of Code-Switching in The Second Season of Emily in Paris Series Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan fungsi alih kode dalam serial Emily in Paris musim
kedua dengan menggunakan teori Wardhaugh (2006) untuk menganalisis jenis alih kode dan teori
Gumperz (1982) untuk menganalisis fungsi alih kode. Ucapan atau ujaran yang terdapat sepanjang
season kedua serial Emily in Paris digunakan sebagai data dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa ada 26 total tipe data alih kode. Selanjutnya, terdapat 26 total data fungsi code-switching yang terbagi menjadi 6 bagian, fungsi kutipan, fungsi spesifikasi penerima, fungsi interjeksi,
fungsi reiterasi, fungsi kualifikasi pesan, dan fungsi personalisasi versus fungsi objektifikasi.
This research aims to determine the types and functions of code-switching in the second season of the
Emily in Paris series by using Wardhaugh's (2006) theory to analyze the types of code-switching and
Gumperz’s (1982) theory to analyze the function of code-switching. The data taken in this research
were obtained from the utterances contained in the second season of the Emily in Paris series. The
results of this research indicate that there are 26 total data types of code-switching. Furthermore, there
are 26 total code-switching function data which are divided into 6 parts, namely quotation, addressee
specification, interjection, reiteration, message qualification function, and personalization versus
objectification.
3907441602J1B018039Kepribadian Tokoh Utama dalam Novel Re: (2014) Karya Maman SuhermanNovel adalah salah satu sarana penulis dalam menuangkan ide gagasannya. Novel menjadi salah satu karya sastra yang banyak digunakan untuk menyampaikan ide pengarang karena di dalamnya mencakup tokoh, alur, hingga konflik yang padat namun dapat menyampaikan pesan dengan tidak terburu-buru. Cara pengarang dalam menyampaikan pesan dan isi karya sangat berpengaruh terhadap karakter tokoh yang diciptakan. Pengaruh tersebut menimbulkan gejolak yang membentuk kepribadian dari tokoh ciptaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur kepribadian tokoh utama dalam novel Re: karya Maman Suherman dengan menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud yang terdiri dari Id, Ego, dan Superego. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan analisis konten atau analisis isi yang meneliti dengan lebih mendalam isi dari suatu informasi yang ada di dalam suatu buku atau media massa. Informasi tersebut dalam penelitian ini adalah objek yang akan diteliti yaitu novel Re: karya Maman Suherman. Data yang diambil bersumber dari data primer dan sekunder berupa novel Re: karya Maman Suherman dan data sekunder diperoleh dari studi pustaka dengan menelaah buku, jurnal, dan laporan-laporan penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian. Hasil dari penelitian ini ditemukan adanya struktur kepribadian yaitu Id, Ego, dan Superego pada tokoh utama Rere yang mengacu pada teori psikoanalisis Sigmund Freud.Novel is one of the writer’s means in expressing his ideas. Novel is one of the literary works that is widely used to convey the author’s ideas because it includes characters, plots, and conflicts that are dense but can convey messages without rushing. The way the author convey messages and content of the work greatly influences the character of the characters created. This influence creates turmoil that shapes the personality of the characters he creates. The purpose of this research is to describe the personality structure of the main character of Maman Suherman’s novel tittled Re: by using Sigmund Freud’s psychoanalytic theory which consists of Id, Ego, and Superego. This research is included in qualitative descriptive research using content analysis. The research data source are from primary and secondary data in form of the novel Re: by Maman Suherman and literature study by reviewing books, journals, and previous research reports. The result of this research is that there are personality structure of Id, Ego, and Superego in the main character Rere which refers to Sigmund Freud’s psychoanalytic theory.
3907541603J1A019039An Analysis of Code Switching Used by All Characters in Pixar's "Coco" (2017) MovieTujuan dari penelitian ini untuk menjelaskan dan menganalisis berbagai jenis alih kode yang terjadi dalam film dan menentukan fungsi yang digunakan oleh setiap karakter dalam film Pixar tahun 2017 “Coco” menggunakan alih kode. Data dikumpulkan dari ucapan semua karakter dalam film Pixar "Coco" (2017) yang dianalisis menggunakan teori alih kode Wardhaugh (2006) dan Holmes (2001). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada dua jenis alih kode yang digunakan oleh semua karakter dalam film Pixar "Coco" (2017), yaitu alih kode metaforis dan alih kode situasional.The purpose of this study to explain and analyze the various types of code switching that occur in movies and determine the functions for which each character in Pixar's 2017 movie "Coco" uses code switching. The data was gathered from the utterances of all the characters in the Pixar "Coco" (2017) movie which were analyzed using Wardhaugh's (2006) and Holmes' (2001) theories of code switching. The results of this research indicate that there are two types of code switching used by all the characters in the Pixar "Coco" (2017) movie, which are metaphorical code switching and situational code switching.
3907645649A1A020039Sikap Petani Terhadap Program Climate Smart Agriculture (Studi Kasus di Desa Ungaran, Kabupaten Kebumen)Program Climate Smart Agriculture (CSA) bertujuan untuk mendukung ketahanan pangan berkelanjutan dalam menghadapi perubahan iklim. Penerapan program ini masih terkendala karena belum semua petani menggunakan teknologi CSA. Penelitian ini memiliki tujuan untuk: (1) menganalisa sikap petani terhadap program CSA; (2) menganalisa faktor-faktor yang memengaruhi sikap petani terhadap program CSA. Kajian dilakukan di Desa Ungaran, Kabupaten Kebumen, menganalisa sikap petani terhadap CSA dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode studi kasus digunakan, dengan analisis data mencakup uji validitas, reliabilitas, likert’s summated ratings, metode successive interval, dan regresi linear berganda. Hasil menunjukkan sikap positif petani, dengan skor rata-rata 16,61. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan nonformal, pendapatan, luas lahan, ketersediaan sarana produksi, dan jaminan harga berpengaruh signifikan, sedangkan pendidikan formal, pengalaman usahatani, dan ketersediaan modal tidak berpengaruh signifikan.The Climate Smart Agriculture (CSA) program aims to support sustainable food security in the face of climate change. The implementation of this program is still constrained because not all farmers use CSA technology. This study aims to: (1) analyze farmers' attitudes towards the CSA program; (2) analyze factors that influence farmers' attitudes towards the CSA program. The study was conducted in Ungaran Village, Kebumen Regency, analyzing farmers' attitudes towards CSA and the factors that influence them. A case study method was used, with data analysis including validity, reliability, likert's summated ratings, successive interval method, and multiple linear regression. Results showed farmers' positive attitudes, with an average score of 16.61. The results showed that non-formal education, income, land size, availability of production inputs, and price guarantee had a significant effect, while formal education, farming experience, and capital availability did not.
3907741604I1E019048POTENSI OBJEK WISATA CANDI SEBAGAI SARANA DAN PRASARANA PEMBELAJARAN AKTIVITAS LUAR KELASLatar belakang: Aktivitas luar kelas adalah upaya untuk mengarahkan siswa melakukan aktivitas di luar kelas dengan menyesuaikan materi yang diajarkan. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan diobjek wisata candi bahwa obejek wisata candi perpotensi untuk pembelajaran aktivtias luar kelas, tapi belum dimanfaatkan oleh guru disekitar objek wisata tersebut. Sehingga peneliti berkeinginan untuk melaukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui potensi objek wisata candi sebagai sarana dan prasarana pembelajaran aktivitas luar kelas.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan cara survey dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan ke 53 guru PJOK SD dan MI di keccamatan karanglewas dan Purwokerto Barat.
Hasil Penelitian: Hasil dari instrumen luas area wisata menghasilkan persentase sebesar 73,98% dengan kategori baik, keanekaragaman wisata sebesar 73,93% dengan kategori baik, memiliki aksesibilitas sebesar 72,77% dengan kategori baik, memiliki keamanan sebesar 75,88% dengan kategori baik, dan bebas sebesar 78,22% dengan kategori baik.
Kesimpulan: Hasil dari penelitian menunjukan bahwa objek wisata candi di Kecamatan Karanglewas berpotensi untuk pembelajaran aktivtias luar kelas karena sarana dan prasarana ditempat tersebut sudah memenuhi standar dimana untuk indikator luas area, keanekaragaman, aksesibilitas, keamanan dan bebas sudah berada dalam kategori baik.
Background: Outdoor activity is an effort to direct students to do activities outside the classroom by adjusting the material being taught. Based on the results of observations made at the temple tourism object that the temple tourism object has the potential for learning activities outside the classroom, but has not been utilized by teachers around the tourist attraction. So that researchers wish to carry out research that aims to find out the potential of temple tourism objects as learning facilities and infrastructure for learning outdoor activity the classrom
Methods: This study used a quantitative method by means of a survey using a questionnaire which was distributed to 53 PJOK SD and MI teachers in Karanglewas and West Purwokerto sub-districts.
Result: The results of the tourism area area instrument produce a percentage of 73.98% in the good category, tourism diversity of 73.93% in the good category, has accessibility of 72.77% in the good category, has security of 75.88% in the good category, and free of 78.22% with good category.
Conclusion: The results of the study show that the temple tourism object in Karanglewas District has the potential for learning activities outside the classroom because the facilities and infrastructure at the place have met the standards where the indicators for area area, diversity, accessibility, security and freedom are in the good category.
3907841606A1C019002PENGEMBANGAN SISTEM MANDIRI ENERGI PADA PROSES PENGGILINGAN PADI MENGGUNAKAN MODEL TERTUTUP DI TEACHING INDUSTRY UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANKebutuhan akan energi semakin meningkat seiring dengan peningkatan kebutuhan beras yang disebabkan karena meningkatnya sumber daya manusia. Penggilingan padi berkontibusi untuk memenuhi dan menjaga ketersediaan beras baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Hasil samping pada saat proses penggilingan padi menjadi beras giling berupa sekam, dedak atau bekatul, dan menir. Sumber energi biomassa yang bisa menjadi alternatif untuk menggantikan energi fosil setelah proses penggilingan adalah sekam padi, karena kandungan nilai kalornya cukup tinggi yaitu sebesar 14,8 MJ/kg. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan energi dan kesetimbangan massa pada penggilingan padi, serta mengembangkan sistem produksi penggilingan padi menggunakan model tertutup. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu model kesetimbangan level I, II, dan III kemudian dianalisis menggunakan persamaan efisiensi dari setiap proses produksinya. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan dengan total input 5.100 kg mendapatkan hasil yaitu model kesetimbangan I menghasilkan rendemen sebesar 70% sebanyak 3.570 kg, model kesetimbangan II mendapat rendemen sebesar 62,64% sebanyak 3.257,63 kg, dan model kesetimbangan III mendapat rendemen sebesar 62,48% sebanyak 3.186,65 kg. Kebutuhan energi pada penggilingan padi sebesar 66.305 watt untuk sekali proses penggilingan dengan kapasitas 5.100 kg gabah panen. Proses penggilingan padi mendapatkan hasil samping sekam padi sebesar 885,18 kg sehingga memiliki potensi sebagai energi alternatif dengan hasil konversi biomassa sebesar 46,43 kWh/hari.The need for energy is increasing along with the increase in the need for rice due to increased human resources. Rice milling contributes to fulfilling and maintaining the availability of rice both in terms of quality and quantity. By-products during the process of milling rice into milled rice are husks, bran or rice bran, and groats. Biomass energy source that can be an alternative to replace fossil energy after the milling process is rice husk, because it contains a high calorific value of 14.8 MJ/kg. This study aims to determine the energy requirements and mass balance in rice mills, and to develop a rice mill production system using a closed model. The method used in this study is the equilibrium model level I, II, and III and then analyzed using the efficiency equation of each production process. Based on calculations made with a total input of 5,100 kg, the results are that the equilibrium model I produces a yield of 70% of 3,570 kg, the equilibrium model II obtains a yield of 62.64% of 3,257.63 kg, and the equilibrium model III obtains a yield of 62.48 % as much as 3,186.65 kg. The energy requirement for a rice mill is 66,305 watts for a single milling process with a capacity of 5,100 kg of harvested grain. The rice milling process produces a by-product of 885.18 kg of rice husk so that it has potential as an alternative energy with a biomass conversion of 46.43 kWh/day.
3907944423E1A018168PERBANDINGAN HUKUM TINDAK PIDANA KORUPSI DI INDONESIA DAN DI CHINAKorupsi merupakan salah satu faktor yang menjadi permasalahan dalam pembangunan suatu negara, termasuk Indonesia di mana penanganannya masih dinilai kurang efektif. Meskipun telah diancamkan sanksi berat seperti pidana mati bagi koruptor, namun efek pencegahannya masih diragukan. Menyikapi hal di atas, diperlu perbandingan hukum dengan negara maju yang dianggap mampu menekan angka tindak pidana korupsi, dalam hal ini yaitu China. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji dan membandingkan tindak pidana korupsi di Indonesia dan China. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan pengaturan tindak pidana korupsi Indonesia dan China dan perbandingan hukum pegaturan tindak pidana korupsi dikedua negara tersebut. Penelitian ini mengggunakan metode pendekatan perundang-undangan dan pendekatan komparatif. Sumber data yang digunakan adalah bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Data yang disajikan dalam bentuk teks deskriptif naratif dengan menggunakan interpretansi gramatikal, sistematis dan teologis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di Indonesia upaya pemberantasan korupsi telah diwujudkan melalui pembentukan berbagai peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai pencegahan dan pemberantasan tindak pidan korupsi, baik di dalam KUHP maupun di luar KUHP. Adapun di China, KUHP telah mengatur tindak pidana korupsi sejak tahun 1980, dengan amendemen yang menguatkan organ peradilan dan sanksi untuk melindungi properti negara dan swasta. Peraturan di Indonesia dan China tentang pemberantasan korupsi memiliki persamaan dan perbedaan signifikan. Persamaannya yaitu ancaman sanksi pidana pokok yang berupa pidana mati dan pidana penjara, pidana tambahan yang berupa denda, kehilangan hak politik, penyitaan harta benda dan adanya regulasi terkait penundaan penjatuhan pidana mati. Sedangkan perbedaanya UU Tipikor di Indonesia telah mengatur klasifikasi pelaku korupsi dan besar denda secara rinci, namun memiliki kekurangan seperti sanksi minimal tidak diatur berdasarkan pada besar kerugian yang disebabkan dan kurang rincinya ketentuan terkait pidana mati, sementara KUHP China memiliki kelebihan seperti pengaturan sanksi berdasarkan jumlah kerugian dan menekanan pada pencegahan suap.Corruption is one of the factors posing challenges to the development of a country, including Indonesia, where its handling is still deemed ineffective. Despite severe penalties such as the death penalty for corruptors being imposed, their deterrent effect remains doubtful. In response to this, a comparison with advanced countries known for effectively combating corruption, such as China, is necessary. This research aims to examine and compare corruption offenses in Indonesia and China, focusing on the development of regulations regarding corruption offenses in both countries. The study employs legislative and comparative approaches, utilizing primary, secondary, and tertiary legal materials as data sources. Data are presented in the form of descriptive narrative texts using grammatical, systematic, and theological interpretations. The research findings reveal that in Indonesia, efforts to combat corruption have been realized through the establishment of various legislative regulations governing the prevention and eradication of corruption offenses, both within and outside the Criminal Code. Meanwhile, in China, the Criminal Code has regulated corruption offenses since 1980, with amendments strengthening the judicial system and sanctions to protect state and private property. The regulations in Indonesia and China regarding the eradication of corruption have similarities and significant differences. The similarities include primary criminal penalty threats such as the death penalty and imprisonment, additional penalties such as fines, loss of political rights, asset seizure, and regulations related to delaying the imposition of the death penalty. Meanwhile the difference lies in Indonesia's Corruption Eradication Law, which regulates the classification of corruptors and the amount of fines in detail but has shortcomings such as the minimum sanction not being based on the amount of loss caused and the lack of specificity in provisions related to the death penalty, while China's Criminal Code has advantages such as regulating sanctions based on the amount of loss and emphasizing bribery prevention.
3908044751K1A020072POTENSI EKSTRAK AQUEOUS DARI KAYU SECANG,
KAYU MERR, DAN DAUN KETAPANG SEBAGAI PEWARNA
ALAMI PADA KAIN KATUN
Kekayaan alam Indonesia yang berupa keberagaman flora berpotensi menghasilkan pewarna alami bagi produk tekstil. Pewarna alami dapat diperoleh dari bahan alami seperti kayu Secang, kayu Merr, dan daun Ketapang. Kualitas dan potensi pewarna alami dapat diketahui melalui uji karakterisasi pewarna alami ketika digunakan dalam proses pewarnaan kain yang meliputi tahap mordanting dan fiksasi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui potensi pewarna alami dari kayu Secang, kayu Merr, dan daun Ketapang, mengetahui warna yang dihasilkan dari pewarna alami kayu Secang, kayu Merr, dan daun Ketapang dan mengkarakterisasi kain dengan pewarna alami dari kayu Secang, kayu Merr, dan daun Ketapang serta pengaruh mordan yang digunakan. Uji karakterisasi kain dengan pewarna alami dilakukan dengan menguji nilai L*a*b* dan menguji tahan luntur warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu Secang, kayu Merr, dan daun Ketapang berpotensi sebagai pewarna alami. Warna yang dihasilkan dari kayu Secang, kayu Merr, dan daun Ketapang berturut-turut berupa warna merah keunguan, kuning, dan cokelat muda. Ekstrak kayu Secang berwarna merah keunguan karena mengandung senyawa braziline, ekstrak kayu Merr berwarna kuning karena mengandung senyawa berberine, dan ekstrak daun Ketapang berwarna cokelat muda karena mengandung tanin. Hasil tahan luntur warna yang diperoleh yaitu cukup (3) hingga baik (4-5). Mordan ATF memberikan nilai tahan luntur warna yang paling baik. Hasil pengujian arah warna diperoleh nilai kecerahan (L*) tertinggi terdapat pada kayu Secang sebesar 62,65 dan terendah pada daun Ketapang sebesar 50,36; nilai kemerahan (a*) tertinggi pada kayu Merr sebesar 17,10 dan terendah pada daun Ketapang sebesar 13,61; dan nilai kekuningan (b*) tertinggi sebesar 36,06 pada daun Ketapang dan terendah adalah kayu Secang sebesar 17,68. Penggunaan mordan tawas, AA, dan ATF tidak berpengaruh terhadap nilai L*a*b* pada kayu Secang dan berpengaruh pada kayu Merr dan daun Ketapang.Indonesia's natural wealth in the form of diverse flora has the potential to produce natural dyes for textile products. Natural dyes can be obtained from natural materials such as Secang wood, Merr wood, and Ketapang leaves. The quality and potential of natural dyes can be known through the characterization test of natural dyes when used in the fabric dyeing process which includes the mordanting and fixation stages. The purpose of the study was to determine the potential of natural dyes from Secang wood, Merr wood, and Ketapang leaves, determine the colors produced from the natural dyes of Secang wood, Merr wood, and Ketapang leaves and characterize fabrics with natural dyes from Secang wood, Merr wood, and Ketapang leaves and the influence of mordant used. The characterization test of fabrics with natural dyes is carried out by testing the L*a*b* value and testing the color fastness. The results showed that Secang wood, Merr wood, and Ketapang leaves have potential as natural dyes. The colors produced from Secang wood, Merr wood, and Ketapang leaves are purplish-red, yellow, and light brown respectively. Secang wood extract is purplish red because it contains braziline compounds, Merr wood extract is yellow because it contains berberine compounds, and Ketapang leaf extract is light brown because it contains tannins. The color fastness results obtained are sufficient (3) to good (4-5). Mordan ATF provides the best color fastness value. The results of the color direction test obtained the highest brightness value (L*) found in Secang wood of 62.65 and the lowest in Ketapang leaves of 50.36; the highest reddish (a*) value in Merr wood at 17.10 and the lowest in Ketapang leaves at 13.61; and the highest yellowness value (b*) was 36.06 in Ketapang leaves and the lowest was Secang wood at 17.68. The use of alum, AA, and ATF mordant has no effect on the L*a*b* value of Secang wood and affects Merr wood and Ketapang leaves.