Artikelilmiahs

Menampilkan 38.161-38.180 dari 48.974 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
3816140836C2C021011Factors Causing delayed Claims at the Hospital in Collaboration With Health Social Security Agency (BPJS) branch office of TasikmalayaLatar Belakang: Upaya Pemerintah dalam meringankan biaya pelayanan kesehatan dan meningkatkan kesehatan rakyat Indonesia telah dijalankan Program Jaminan Kesehatan Nasional oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan), BPJS Kesehatan adalah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan yang merupakan badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial yang bekerja sama dengan fasilitas kesehatan untuk membantu rakyat Indonesia untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar. Rumah Sakit merupakan salah fasilitas kesehatan tingkat lanjutan yang melayani peserta JKN dengan syarat sudah menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan untuk dapat menyelenggarakan program JKN. Berdasarkan studi-studi terdahulu masih terjadi pending klaim di berbagai rumah sakit di seluruh Indonesia, sehingga mengganggu cashflow rumah sakit.Tujuan Penelitian: Mengetahui faktor-faktor penyebab pending klaim BPJS kesehatan di RS yang bekerja sama dengan KC Tasikmalaya. Metode Penelitian: Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif Hasil Penelitian: dari hasil penelitian diketahui bahwa factor penyebabnya antara lain terdapat kekeliruan penagihan dan pembayaran klaim obat kronis, klaim yang tidak sesuai dengan ketentuan episode perawatan, penagihan klaim dengan kode diagnosa dan prosedur yang tidak sesuai kaidah koding ICD-10 dan ICD-9 CM Tahun 2010, aturan pengkodingan lainnya serta panduan penatalaksanaan solusi permasalahan klaim, klaim kecelakaan lalu lintas yang tidak sesuai ketentuan dan ditagihkan secara fragmentasi. Kesimpulan: Saat ini Secara umum klaim BPJS di fasilitas kesehatan tingkat lanjut yang bekerja sama dengan BPJS KC Tasikmalaya berjalan dengan baik, masih terdapatnya beberapa penyebab klaim pending yang bisa diperbaiki, saran perlu dilakukan Analisa tingkat pengetahuan SDM di bagian Casemix Rumah Sakit, perlu adanya aplikasi untuk membantu penyelesaian klaim dar segi warning atau bloking terhadap aturan regulasi serta evaluasi utilitazation review setiap rumah sakit terhadap pelayanan yang telah diberikan.Background: The Government's efforts to reduce the cost of health services and improve the health of the Indonesian people have been carried out by the National Health Insurance Program by the Health Social Security Agency (BPJS), Health Social Security Agency is the Health Social Security Administering Body which is a legal entity formed to administer the health insurance program. social services that work closely with health facilities to help Indonesian people to obtain basic health services. The hospital is an advanced level health facility that serves National Health Insurance participants on condition that they have collaborated with Health Social Security Agency to be able to organize the National Health Insurance program. Based on previous studies, there are still pending claims in various hospitals throughout Indonesia, thus disrupting hospital cashflow. Research Objectives: To find out the factors causing pending claims for BPJS health in hospitals in collaboration with Health Social Security Agency (BPJS) branch office of Tasikmalaya. Research Methods: The type of research used is descriptive with a qualitative approach Research Results: from the results of the study it is known that the contributing factors include billing and payment of chronic drug claims, claims that are not in accordance with the provisions of the treatment episode, billing claims with diagnostic codes and procedures that not in accordance with the 2010 ICD-10 and ICD-9 CM coding rules, other coding rules and guidelines
International Sustainable Competitiveness Advantage
2022
for the management of claims problem solutions, traffic accident claims that are not in accordance with the provisions and are billed in a fragmented manner. Conclusion: Currently, in general, BPJS claims at advanced health facilities in collaboration with Health Social Security Agency (BPJS) branch office of Tasikmalaya are going well, there are still several causes of pending claims that can be improved, suggestions need to be done. Analysis of the level of knowledge of HR in the Hospital Casemix section, there is a need for an application to assist in the settlement of claims in terms of warnings or blocking of regulatory rules as well as evaluating the utilization review of each hospital on the services provided.
Keywords: Health insurance administration body, Pending, Claim
3816240837E1A019073PERAN MEDIATOR DALAM PERSELISIHAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA DI PT. FREEPORT INDONESIA
(Studi Pada Putusan Nomor 1268 K/Pdt.Sus-PHI/2022)
Penelitian ini bersumber pada Putusan Mahkamah Agung Nomor 1268K/Pdt.Sus-PHI/2022 yang menguatkan Putusan Pengadilan Hubungan Industrial Nomor 46/Pdt.Sus-PHI/2021/PN. Jap. mengenai pemutusan hubungan kerja oleh karyawan PT. Freeport Indonesia yaitu Pekerja S. Berdasarkan mekanisme penyelesaian perselisihan hubungan industrial, mediasi yang dilakukan oleh Pekerja S dengan PTFI gagal dan PTFI melanjutkan penyelesaian ini ke Pengadilan Hubungan Industrial.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian preskriptif. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder berupa studi kepustakaan. Penelitian ini diuraikan dengan menggunakan teks naratif yang dianalisis dengan metode normatif kualitatif.
Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa penyelesaian PHK antara Pekerja S dengan PTFI perlu dilakukan perundingan Bipartit terlebih dahulu sesuai dengan Pasal 163 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 yang merujuk pada ketentuan Pasal 151 ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 namun perundingan bipartit gagal maka sesuai dengan Pasal 4 ayat 4 Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 dianjurkan untuk melakukan mediasi, namun mediasi juga tidak tercapai kata sepakat yang artinya gagal sehingga penyelesaian ini dilanjutkan ke Pengadilan Hubungan Industrial. Perlindungan hukum bagi para pihak telah sesuai dengan indikator secara prosedural/mekanisme dalam penyelesaian perselisihan hubungan industrial berdasarkan Pasal 30 UU Nomor 5 Tahun 2004. Indikator secara substansi didasarkan pada Pasal 158 ayat 2 dan Pasal 155 ayat 3 UU Nomor 13 Tahun 2003, dengan memberikan perlindungan hukum berupa pemenuhan hak dan kewajiban yang dirugikan oleh pekerja.
This research originates from the Supreme Court Decision Number 1268 K/Pdt.Sus-PHI/2022 which strengthens the Industrial Relations Court Decision Number 46/Pdt.Sus-PHI/2021/PN. Jap. regarding termination of employment by employees of PT. Freeport Indonesia (PTFI), namely Worker S. Based on the settlement mechanism industrial relations dispute, the mediation carried out by Worker S. Based on settlement mechanism industrial relations dispute, the mediation carried out by Worker S with PTFI failed and PTFI continued this settlement to the Industrial Relations Court
The research method used in this study uses a normative juridical method with prescriptive research specifications. The data source used is secondary data in the form of literature studies. This study is described using narrative texts which are analyzed using qualitative normative methods.
The results of the research and discussion show that the settlement of layoffs between S Workers and PTFI needs to be carried out by bipartite negotiations first in accordance with Article 163 of Law Number 13 of 2003 which refers to the provisions of Article 151 paragraph (2) and paragraph (3) of Law Number 13 of 2003 but bipartite negotiations fail then in accordance with Article 4 paragraph 4 of Supreme Court Regulation Number 1 of 2016 it is recommended to carry out mediation, but mediation also does not reach an agreement which means failure so that this settlement is continued to the Industrial Relations Court. Legal protection for the parties is in accordance with procedural indicators/mechanisms in resolving industrial relations disputes based on Article 30 of Law Number 5 of 2004. The indicators in substance are based on Article 158 paragraph 2 and Article 155 paragraph 3 of Law Number 13 of 2003, by providing legal protection in the form of fulfilling the rights and obligations that have been harmed by workers.
3816340838B1A019018UJI SITOTOKSIK EKSTRAK JAMUR LINGZHI (Ganoderma lucidum) TERHADAP SEL KANKER PAYUDARA SERTA IDENTIFIKASI SENYAWA BIOAKTIFNYA MENGGUNAKAN
PELARUT BERBEDA
Kanker merupakan penyakit yang terjadi karena adanya pembelahan sel yang abnormal dan banyak menyebabkan kematian bagi para penderitanya. Salah satu jenis kanker yaitu kanker payudara. Dalam upaya penyembuhannya banyak dilakukan berbagai macam cara pengobatan seperti kemoterapi namun pengobatan tersebut memiliki efek samping terhadap tubuh sehingga perlu dilakukan penelitian tentang senyawa antikanker yang diperoleh secara alami tanpa menimbulkan efek toksisitas terhadap tubuh manusia, salah satunya dengan memanfaatkan senyawa antikanker pada ekstrak Ganoderma lucidum.Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kemampuan sitotoksik ekstrak G. lucidum dan mengetahui kandungan senyawa bioaktif dalam ekstrak G. lucidum. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan melakukan uji sitotoksik ekstrak etil asetat dan ekstrak kloroform G. lucidum terhadap sel kanker payudara MCF7 serta T47D pada konsentrasi ekstrak 31,25; 62,50; 125; 250; dan 500 μg.mL-1, kemudian dilakukan metode deskriptif menggunakan uji KLT untuk mengidentifikasi kandungan senyawa bioaktif ekstrak G. lucidum. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2022 hingga Februari 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak G. lucidum bersifat sitotoksik terhadap sel kanker payudara MCF7 dan T47D dengan nilai IC50 uji sitotoksik ekstrak kloroform dan etil asetat G. lucidum terhadap sel kanker payudara MCF7 masing-masing diperoleh sebesar 260,87 μg.mL-1 dan 352,051μg.mL-1 sedangkan nilai IC50 uji sitotoksik ekstrak kloroform dan etil asetat G. lucidum terhadap sel kanker payudara T47D masing-masing diperoleh 169,70 μg.mL-1 dan 243,68 μg.mL-1. Adapun senyawa bioaktif yang diidentifikasi yaitu alkaloid, flavonoid dan terpenoid terbukti dengan penampakan warna pada plat KLT yaitu orange untuk alkaloid, biru untuk flavonoid ungu kehitaman untuk terpenoid. Cancer is a disease that occurs due to abnormal cell division and causes many deaths for sufferers. One type of cancer is breast cancer. In an effort to cure it, there are many ways of treatment such as chemotherapy but the treatment has side effects on the body so it is necessary to conduct research on anticancer compounds obtained naturally without causing toxicity effects on the human body, one of which is by utilizing anticancer compounds in Ganoderma lucidum extract. The purpose of this study is to determine the cytotoxic ability of G. lucidum extract and determine the content of bioactive compounds in G. lucidum extract. The study used experimental methods by conducting cytotoxic tests of ethyl acetate extracts and chloroform extracts of G. lucidum against MCF7 and T47D breast cancer cells at extract concentrations of 31.25; 62.50; 125; 250; and 500 μg.mL-1, then descriptive methods using KLT tests to identify the content of bioactive compounds in G. lucidum extracts. This research was conducted from November 2022 to February 2023. The results showed that G. lucidum extract was cytotoxic to MCF7 and T47D breast cancer cells with the IC50 value of the cytotoxic test of chloroform and ethyl acetate extracts of G. lucidum against MCF7 breast cancer cells obtained 260.87 μg.mL-1 and 352.051μg.mL-1, respectively, while the IC50 value of the cytotoxic test of chloroform and ethyl acetate extracts of G. lucidum against T47D breast cancer cells obtained 169.70 μg.mL-1 and 243.68 μg.mL-1, respectively. The bioactive compounds identified are alkaloids, flavonoids and terpenoids as evidenced by the appearance of color on the KLT plate which is orange for alkaloids, blue for flavonoids purple-black for terpenoids.
3816444312B1A019141EFEKTIVITAS PENAMBAHAN SUPLEMEN TERHADAP PERTUMBUHAN MISELIUM JAMUR TIRAM COKLAT (Pleurotus cystidiosus)Salah satu produk hortikultura dengan minat pasar yang tinggi adalah jamur. Tempat budidaya jamur tiram di Jawa Barat yang aktif memenuhi permintaan pasar adalah CV Asa Agro Corporation Cianjur (CV AAC). Jamur pangan yang dibudidayakan di CV AAC, di antaranya adalah jamur tiram coklat (Pleurotus cystidiosus). Masa tumbuh miselium jamur tiram coklat (P. cystidiosus) relatif lama berkisar antara 45-60 hari. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut yaitu memenuhi nutrisi dasar yang dibutuhkan jamur tiram coklat berupa nitrogen dan karbon dalam bentuk suplemen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan suplemen terhadap pertumbuhan miselium jamur tiram coklat (P. cystidiosus) dan dosis penambahan suplemen yang sesuai untuk mendapatkan pertumbuhan optimal dari miselium jamur tiram coklat (P. cystidiosus). Penelitian dilakukan di CV AAC menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Penelitian dilaksanakan dengan 4 perlakuan dan diulang sebanyak 6 kali, sehingga didapatkan 24 unit percobaan. Faktor yang diujikan yaitu dosis pemberian suplemen pada medium baglog, meliputi 100 gram, 200 gram, dan 300 gram. Penelitian menunjukkan hasil bahwa penambahan suplemen berpengaruh terhadap pertumbuhan miselium jamur tiram coklat (P. cystidiosus). Dosis penambahan suplemen yang sesuai untuk mendapatkan pertumbuhan optimal dari miselium jamur tiram coklat (P. cystidiosus) adalah sebesar 0 gram atau tanpa tambahan suplemen.One of the horticultural products with high market interest is mushrooms. An oyster mushroom cultivation site in West Java that actively meets market demand is CV Asa Agro Corporation Cianjur (CV AAC). Among the food mushrooms cultivated at CV AAC are brown oyster mushrooms (Pleurotus cystidiosus). The mycelium growth period of brown oyster mushrooms (P. cystidiosus) is relatively long, ranging from 45-60 days. Efforts that can be made to overcome this are to fulfill the basic nutrients needed by brown oyster mushrooms in the form of nitrogen and carbon in the form of supplements. This study aims to determine the effect of supplement addition on the growth of brown oyster mushroom mycelium (P. cystidiosus) and the appropriate dose of supplement addition to obtain optimal growth of brown oyster mushroom mycelium (P. cystidiosus). The research was conducted at CV AAC using an experimental method with a completely randomized design (CRD). The research was conducted with 4 treatments and repeated 6 times, resulting in 24 experimental units. The factor tested was the dose of supplementation on the baglog medium, including 100 grams, 200 grams, and 300 grams. The results showed that the addition of supplements affected the growth of brown oyster mushroom mycelium (P. cystidiosus). The appropriate dose of supplement addition to obtain optimal growth of brown oyster mushroom mycelium (P. cystidiosus) is 0 grams or without additional supplements.
3816540840I1C018059FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN ESSENCE SHEET MASK EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana)Kulit manggis (Garcinia mangostana) mengandung senyawa xanthon yang memiliki aktivitas antioksidan yang kuat. Berbagai sediaan skincare yang mengandung ekstrak kulit buah manggis telah beredar di pasaran. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak kulit buah manggis sebagai essence sheet mask dan menganalisis aktivitas antioksidannya. Ekstraksi simplisia kulit manggis menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96% dilanjutkan uji antioksidan DPPH. Essence sheet mask diformulasikan dengan variasi konsentrasi pada ekstrak yang ditambahkan. Evaluasi organoleptis, pH, viskositas, homogenitas, stabilitas freeze-thaw dan antioksidan DPPH diujikan terhadap essence sheet mask. Hasil menunjukkan nilai IC50 ekstrak etanol kulit buah manggis sebesar 4,59 ppm. Essence sheet mask yang dihasilkan memenuhi semua pengujian sifat fisik dan stabilitas. Nilai IC50 essence sheet mask pada konsentrasi ekstrak 0%, 0,5%, 1%, dan 2% berturut-turut ialah 398,33 ppm; 138,31 ppm; 75,04 ppm; dan 40,22 ppm.Mangosteen rind (Garcinia mangostana) contains xanthones which have strong antioxidant activity. Various skincare containing mangosteen rind extract have been circulated in the market. This study aims to formulate the extract of mangosteen rind as an essence of sheet mask and analyze its antioxidant activity. Extraction of mangosteen rind simplicia using the maceration method with ethanol 96% followed by DPPH antioxidant test. Sheet mask essence are formulated with varying concentrations of extracts. Organoleptic, pH, viscosity, homogeneity, freeze-thaw stability, and DPPH antioxidant evaluation were tested on the sheet mask essence. The ethanol extract of mangosteen rind has a very strong antioxidant activity with IC50 value 4.59 ppm. The sheet mask essence reach the standard of physical quality and stable. The IC50 value of sheet mask essence at extract concentrations of 0%, 0.5%, 1%, and 2% were 398.33 ppm; 138.31 ppm; 75.04 ppm; and 40.22 ppm.
3816640843F1D019029FASILITAS UMUM RAMAH DISABILITAS, PARTISIPASI POLITIK, DAN KEBERPENGARUHANNYAPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat ketersediaan fasilitas umum ramah disabilitas terhadap partisipasi politik dan tingkat pemahaman penyandang disabilitas terhadap partisipasi politik dan keberadaan Fasilitas Umum Ramah Disabilitas di Kabupaten Banyumas. Teori utama yang digunakan pada penelitian ini adalah teori tentang Partisipasi Politik yang dielaborasikan dengan Teori tentang Penyandang Disabilitas, Fasilitas Umum, dan Kebijakan Publik sebagai pendukung. Adapun metode yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif dengan teknik cluster sampling yang melibatkan 320 responden yang mewakili 3.344 populasi penyandang disabilitas. Dengan
fokus penelitian di Kabupaten Banyumas, penelitian ini membuktikan bahwa ketersediaan fasilitas umum ramah disabilitas bukan merupakan faktor yang mempengaruhi secara signifikan terhadap partisipasi politik penyandang disabilitas. Hal ini ditunjukkan dari persentase hubungan yang sangat rendah yakni 1,7%, dimana hal ini bermakna bahwa ketersediaan fasilitas umum ramah disabilitas tidak menjadi satu-satunya aspek dalam mempengaruhi kualitas partisipasi politik penyandang disabilitas. Temuan ini menunjukkan bahwa pemenuhan hak penyandang disabilitas berupa penyediaan fasilitas umum tidak berkorelasi positif dengan tingkat partisipasi politik penyandang disabilitas.
This research aims to discover the effect of Disability-Friendly Public Facilities availability on the Political Participation of People with Disabilities in Banyumas District. Also to discover Political Participation and the existence of Disability-Friendly Public Facilities knowledge from People with Disabilities in Banyumas District. The main theory used in this research is the theory of Political Participation which elaborated with the theory of People with Disabilities, Public Facilities, and Public Policy as support theory. The method used is a quantitative research method involving 3.344 populations with disabilities. This population was narrowed down to 320 individuals as a sample and was taken using the cluster sampling technique. Overall, this research proves that the availability of disability-friendly public facilities is not a factor that significantly influences the political participation of people with disabilities in Banyumas District. This is shown by low percentage of its correlation, which is 1.7%, that indicating the availability of disability-friendly public facilities is not the main aspect to influencing the quality of political participation of persons with disabilities in Banyumas Regency. This result implies that discourses about disability regarding fulfillment of their rights in form of public facilities are not too precarious when viewed from the fulfillment aspect to support the political participation of persons with disabilities in Banyumas Regency.
3816744313A1F019067KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN ANTIOKSIDAN SERBUK EKSTRAK TEMPURUNG KELAPA MUDA DENGAN VARIASI JENIS BAHAN PENGISI DAN KONSENTRASINYATempurung kelapa memiliki senyawa antioksidan, antimikroba, tanin, flavonoid, dan fenol. Tempurung kelapa bisa digunakan sebagai bahan pengawet seperti dibuatnya asap cair. Bahan pengawet yang bersifat cair atau basah tidak bisa tahan lama, agar umur simpan lebih lama dapat dilakukan alternatif dengan membuatnya menjadi serbuk tempurung kelapa.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial dengan 9 perlakuan dan 3 kali ulangan. Faktor yang diteliti adalah variasi jenis bahan pengisi (A) yaitu maltodekstrin (A1), gum arab (A2), dan dekstrin (A3) serta konsentrasi jenis bahan pengisi (B) yang terdiri dari konsentrasi 10% (B1), 15% (B2), dan 20% (B3). Bubuk tempurung kelapa dibuat menjadi ekstrak dengan metode Microwave Assisted Extraction. Ekstrak dilakukan rotary evaporator setelah itu dilakukan pembuatan serbuk menggunakan metode foam mat-drying dengan jenis bahan pengisi dan pengemulsi (tween 80). Pada serbuk ekstrak tempurung kelapa muda dilakukan uji kuantitatif pada fisikokimia meliputi kadar air, kadar abu, uji warna, kelarutan, aktivitas air (aw), total fenol, tanin, dan flavonoid. Dilakukan uji kuantitatif pada aktivitas antioksidan IC50. Data variabel fisikokimia dan antioksidan diuji dengan ANOVA dan uji lanjut Duncan Multiple Range Test pada taraf 95%. Penentuan perlakuan terbaik menggunakan metode indeks efektivitas.
Hasil penelitian pada serbuk ekstrak tempurung kelapa muda menunjukkan bahwa perlakuan penambahan konsentrasi bahan pengisi memberikan pengaruh pada variabel total fenol, total flavonoid, tanin, aktivitas antioksidan, dan warna L* (Lightness). Perlakuan penambahan variasi jenis bahan pengisi memberikan pengaruh hanya pada variabel total fenol serta perlakuan kombinasi jenis bahan pengisi dan konsentrasi memberikan pengaruh pada variabel warna L* (Lightness). Perlakuan terbaik serbuk ekstrak tempurung kelapa muda diperoleh pada perlakuan penambahan dekstrin 10% dengan nilai total fenol 2,62 mg GAE/g; total flavonoid 4,89 mg GAE/g; tanin 108,13 mg TAE/g; aktivitas antioksidan 28,71 ppm; warna L* 52,76; warna a* 17,75; warna b* 33,05; kadar air 4,92%; kelarutan 94,57%; aktivitas air (aw) 0,58; dan kadar abu 1,30%.
Coconut shells contain antioxidant, antimicrobial, tannin, flavonoid and phenol compounds. Coconut shells can be used as a preservative such as making liquid smoke. Preservatives that are liquid or wet cannot last long, so that the shelf life is longer, you can alternatively make it into coconut shell powder.
This research is an experimental study using a completely randomized factorial design with 9 treatments and 3 replications. The factors studied were variations in the type of filler (A), namely maltodextrin (A1), gum arabic (A2), and dextrin (A3) as well as the concentration of the filler (B), which consisted of concentrations of 10% (B1), 15% (B2). ), and 20% (B3). Coconut shell powder is made into an extract using the Microwave Assisted Extraction method. The extract was carried out on a rotary evaporator after which powder was made using the foam mat-drying method with filler and emulsifier (tween 80). Quantitative physicochemical tests were carried out on young coconut shell extract powder including water content, ash content, color test, solubility, water activity (aw), total phenols, tannins and flavonoids. A quantitative test was carried out on the IC50 antioxidant activity. Data on physicochemical and antioxidant variables were tested using ANOVA and the Duncan Multiple Range Test at the 95% level. Determining the best treatment uses the effectiveness index method.
The results of research on young coconut shell extract powder showed that the treatment of adding filler concentration had an influence on the variables total phenols, total flavonoids, tannins, antioxidant activity, and L* (Lightness) color. The treatment of adding variations in the type of filler has an influence only on the total phenol variable and the combination treatment of the type of filler and concentration has an influence on the color variable L* (Lightness). The best treatment for young coconut shell extract powder was obtained in the treatment with the addition of 10% dextrin with a total phenol value of 2.62 mg GAE/g; total flavonoids 4.89 mg GAE/g; tannin 108.13 mg TAE/g; antioxidant activity 28.71 ppm; color L* 52.76; color a* 17.75; color b* 33.05; water content 4.92%; solubility 94.57%; water activity (aw) 0.58; and ash content 1.30%.
3816844314B1B018052Morpholigical Diversity of Piper spp. in Baturraden Botanical GardenPiper merupakan anggota Piperaceae. Piper tumbuh pada ketinggian 100-700 m dpl dengan suhu berkisar antara 23-32⁰ C. Kebun Raya Baturraden merupakan kawasan konservasi tumbuhan ex situ sehingga dapat ditemukan berbagai macam Piper. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui keanekaragaman karakter morfologi Piper dan hubungan fenetiknya di Kebun Raya Baturraden. Metode penelitian yang digunakan adalah metode jelajah berdasarkan purposive sampling. Variabel yang digunakan sebanyak 4 karakter morfologi yaitu karakter morfologi akar, batang, daun, dan bunga dengan parameter yang diamati adalah akar adventif, panjang akar adventif, tinggi batang, diameter batang, arah tumbuh batang, warna batang, bentuk daun, pangkal daun, ujung daun, tepi daun, susunan tulang daun, permukaan atas daun, permukaan bawah daun, warna permukaan atas daun, warna permukaan bawah daun, tipe daun, panjang daun, lebar daun, panjang tangkai daun, tipe bunga, warna bunga, panjang karangan bunga, panjang ibu tangkai bunga. Data pengamatan yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui keanekaragaman, sedangkan hubungan fenetik dianalisis menggunakan uji UPGMA dengan software MEGA X. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman Piper di Kebun Raya Baturraden, ditemukan 10 spesies Piper yaitu Piper aduncum L., Piper baccatum Blume., Piper betle L., Piper betle var. nigra, Piper borbonense (Miq.) C.DC., Piper crocatum Ruiz & Pav., Piper lanatum Roxb., Piper macropiper Pennant., Piper nigrum L., and Piper sarmentosum Roxb. Hubungan fenetik Piper yang paling dekat adalah Piper nigrum dan Piper betle dengan indeks disimilaritas 0,043, sedangkan hubungan fenetik paling jauh adalah Piper aduncum dan Piper crocatum dengan indeks disimilaritas 0,565.Piper is a member of Piperaceae. Piper can grow at an altitude of 100-700 masl with temperatures ranging from 23-32 oC. Baturraden Botanical Garden is an ex situ plant conservation area so that various kinds of Piper can be found. This study aims to determine the diversity of morphological characters of Piper and their phenetic relationships in Baturraden Botanical Garden. The research method used is explorating method with purposive sampling. The variables used were 4 morphological characters namely the morpological characters of roots, stems, leaves, and flowers with the observed parameters being adventitious roots, adventitious root length, stem height, stem diameter, stem growth direction, stem color, leaf shape, leaf base, leaf tip, leaf edge, leaf venation, upper surface leaf, lower surface leaf, upper surface leaf color, lower surface leaf color, leaf type, leaf length, leaf width, petiole length, flower type, flower color, wreath flower length, pedicel length. The observation data obtained was analyzed descriptively to determine diversity, while the phenetic relationship were analyzed using the UPGMA test with MEGA X software. The results of the research show that the diversity of Piper, based on the results of exploration in Baturraden Botanical Garden, found 10 species, namely Piper aduncum L., Piper baccatum Blume., Piper betle L., Piper betle var. nigra, Piper borbonense (Miq.) C.DC., Piper crocatum Ruiz & Pav., Piper lanatum Roxb., Piper macropiper Pennant., Piper nigrum L., and Piper sarmentosum Roxb. Piper’s closest relationship is Piper nigrum and Piper betle with a dissimilarity index of 0,043, while the most distant phenetic relationship is Piper aduncum and Piper crocatum with the dissimilarity index of 0,565.
3816944318I1E020037HUBUNGAN POWER OTOT TUNGKAI, KOORDINASI MATA KAKI DAN TINGKAT KONSENTRASI TERHADAP AKURASI SHOOTING SISWA EKSTRAKURIKULER
FUTSAL SMA N 1 PLUMBON
HUBUNGAN POWER OTOT TUNGKAI, KOORDINASI MATA KAKI DAN TINGKAT KONSENTRASI TERHADAP AKURASI SHOOTING SISWA EKSTRAKURIKULER
FUTSAL SMA N 1 PLUMBON

Latar Belakang: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari hubungan power otot tungkai, koordinasi mata kaki, dan tingkat konsentrasi terhadap akurasi shooting futsal.

Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode korelasional. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Plumbon dengan 17 sampel siswa ekstrakurikuler futsal dengan teknik total sampling. Instrumen tes power otot tungkai menggunakan standing board jump, koordinasi mata kaki menggunakan soccer wall volley test, tingkat konsentrasi menggunakan grid concentration test, dan akurasi shooting menggunakan shooting 9 target. Analisis data melibatkan uji korelasi pearson product moment, regresi linear berganda, serta sumbangan efektif dan sumbangan relatif.

Hasil Penelitian: Ada hubungan power otot tungkai dengan akurasi shooting atas nilai p = 0,000, r = 0,759, dan SE = 40,1%, ada hubungan koordinasi mata kaki dengan akurasi shooting atas nilai p = 0,000, r = 0,813, dan SE = 23,3%, ada hubungan tingkat konsentrasi dengan akurasi shooting atas nilai p = 0,004, r = 0,658, dan SE = 22,9% serta nilai koefisien determinasi ketiga variabel bebas Rsquare = 0,773, artinya kontribusi simultan sebesar 77,3%.

Kesimpulan: Terdapat hubungan antara power otot tungkai, koordinasi mata kaki, dan tingkat konsentrasi, terhadap akurasi shooting futsal.

1Mahasiswa Jurusan Pendidikan Jasmani FIKes Universitas Jenderal Soedirman
2Departemen Jurusan Pendidikan Jasmani FIKes Universitas Jenderal Soedirman
Abstract

THE RELATIONSHIP BETWEEN LEG MUSCLE POWER, FOOT EYE COORDINATION AND CONCENTRATION LEVEL ON SHOOTING ACCURACY OF EXTRACURRICULAR STUDENTS
FUTSAL SMA N 1 PLUMBON
Naufal Taufiqurrahman, Rohman Hidayat, Fuad Noor Heza

Background: This research is intended to how much influence the power relationships of the muscle limbs, eye coordination, and concentration levels have on the accuracy of futsal shooting.

Methods: This research uses correlational methods. The research was conducted at Plumbon State High School with 17 samples of extracurricular futsal students using total sampling techniques. Instruments use standing board jump, foot eye coordination using soccer wall volleyball test, concentration level using grid concentration test, and shooting accuracy using shooting 9 targets. Data analysis involves pearson product moment correlation tests, double linear regression, as well as effective and relative contributions.

Results: There is a correlation between the muscle power and the shooting accuracy of p = 0,000, r = 0.759, and SE = 40.1%, there is a coordination of the foot with the shoot accuration of p=0,000, r=0.813, and SE=23.3%, there's a relationship between the level of concentration and shooting precision of p=0.004, r=0.658, and SE=22.9% as well as the third determination coefficient of the free variable Rsquare=0.773, meaning a simultaneous contribution of 77.3%.

Conclusion: There's a relationship between muscle power, eye coordination, and concentration, to futsal shooting accuracy.

1Student Department of Physical Education Faculty of Health Sciences, Jenderal Soedirman University
2Department of Physical Education Faculty of Health Sciences, Jenderal Soedirman University

3817052342B1B021005Species Diversity and Phenetic Relationship Analysis of Gobiid Fish (Family Gobiidae) at Menganti Beach, Kebumen, Central Java Ikan Gobiid merupakan kelompok ikan yang menunjukkan tingkat keanekaeagaman yang tinggi dalam aspek morfologi, ekologi, dan fisiologi. Famili Gobiidae (Perciformes) menunjukkan variasi morfologi yang luas, yang mencerminkan hubungan evolusioner yang kompleks. Kajian mengenai keanekaragaman dan hubungan fenetik ikan gobiid sangat penting untuk mendukung proses identifikasi dan penentuan taksonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kekayaan spesies Gobiidae, mengidentifikasi karakter fenetik, serta menganalisis hubungan berdasarkan karakter fenetik antar ikan gobiid untuk menyediakan informasi karakter diagnostik dalam kajian taksonomi. Penelitian ini dilaksanakan di Pantai Menganti, Kebumen dengan menggunakan metode eksploratif. Spesimen diidentifikasi berdasarkan karakter morfometrik dan meristic. Hubungan kekerabatan dianalisis menggunakan indeks Jaccard dan metode pengelompokan UPGMA dengan menggunakan PAST 5. Terdata 42 individu ikan Gobiidae termasuk ke dalam lima genus dan delapan spesies. Berdasarkan kesamaan karakter morfologi, analisis pengelompokan fenetik menunjukkan bahwa Bathygobius cocosensis dan Bathygobius fuscus (0,86) memiliki hubungan kekerabatan paling dekat, sedangkan Gnatholepis anjerensis dan Acanthogobius sp. (0,53) menunjukkan tingkat kesamaan paling rendah. Analisis hubungan fenetik menunjukkan ada dua kelompok utama. Kelompok pertama terdiri atas Gnatholepis anjerensis dan Acanthogobius sp. (0,53). Kelompok kedua mencakup enam spesies. Subkelompok, pertama beranggotakan Istigobius ornatus dan Gobius sp. (0,59), sedangkan subkelompok kedua beranggotakan Bathygobius fuscus dan Bathygobius cocosensis (0,86), Bathygobius coalitus dan Bathygobius antilliensis (0,71). Penelitian ini menunjukkan bahwa karakter morfometrik dan morfologi berupa pola kepala, ornamentasi, linea lateralis, bentuk tubuh, sirip dorsal, serta tipe sisik merupakan dasar identifikasi spesies dan klasifikasi fenetik Gobiidae di Pantai Menganti.Gobiidae has high levels of diversity in morphological, ecological, and physiological aspects. The family Gobiidae (Perciformes) displays extensive morphological variation, reflecting complex evolutionary relationships. Studies on the diversity and phenetic relationships of gobiid fishes are essential to support species identification and taxonomic determination. This study aimed to determine the species richness of Gobiidae, identify phenetic characters, and analyze interspecific relationships based on phenetic traits to provide diagnostic character information for taxonomic studies. The research was conducted at Menganti Beach, Kebumen, using an exploratory approach. Specimens were identified based on morphometric and meristic characters. The Gobiid relationships were analyzed using the Jaccard index and UPGMA clustering method implemented in PAST 5. A total of 42 gobiid individuals were recorded, representing five genera and eight species. Based on clustering analysis, Bathygobius cocosensis and Bathygobius fuscus exhibited the closest relationship (0.86), while Gnatholepis anjerensis and Acanthogobius sp. showed the lowest similarity(0.53). Phenetic relationship analysis revealed two main clusters. The first cluster consisted of Gnatholepis anjerensis and Acanthogobius sp. (0.53). The second cluster comprised six species, further divided into two subclusters: the first subcluster included Istigobius ornatus and Gobius sp. (0.59), while the second subcluster consisted of Bathygobius fuscus and Bathygobius cocosensis (0.86), and Bathygobius coalitus and Bathygobius antilliensis (0.71). This study confirms that head pattern, ornamentation, lateral line, body shape, dorsal fin, and scale type characteristics serve as the basis for species identification and phenetic classification, and the clustering pattern highlights the taxonomic relevance of thus key diagnostic traits.
3817140844F1C019001Strategi Promosi Wisata Pabugugan Desa Melung Melalui Media Sosial Instagram @pagubugan_melungIndonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulau yang banyak dan indah. Dari keindahan tersebut indonesia memiliki banyak tempat yang bisa dikategorikan sebagai tempat wisata. Mulai dari wisata laut, pegunungan yang kaya akan keindahan alamnya. Desa wisata Melung menjadi salah satu destinasi wisata yangbisa dikunjungi. Desa Wista Melung merupakan salah satu desa wisata yang ada di kabupaten Banyumas dan mendapatkan SK Bupati Banyumas pada tanggal 20 Maret 2020.

Di era serba digital ini media sosial bukan hal yang asik bagi masyarakat, bahkan menjadi sumber informasi utama bagi masyarakat dunia termasuk masyarakat Indonesia salah satunya Instagram. Selain, menjadi sumber informasi, sosial media kini sudah banyak dijadikan sebagai salah satu media promosi dengan kemudahan yang disediakan. Hal ini juga diimplementasikan oleh akun @pagubugan_melung yang merupakan akun instagram wisata Pagubugan. Dalam melakukan promosi terdapat strategi-strategi yang dilakukan oleh pengelola guna memaksimalkan proses promosi.

Penelitian ini meggunakan metode kualitatif deskriptif dengan Teknik penelitian yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Proses penelitian dilaksanakan di Wista Pagubugan, Desa Melung, Kecamatan Kedungbanten. Hasil penelitian menunjukan dalam melakukan promosi peihak Pagubugan memanfaatkan fitur-fitur yang ada pada Instagram seperti hashtag, arroba, multiple image, location, caption, Instagram story, Instagram reels, dan Instagram live. Selain itu, pihak pengelola juga menggunakan strtagei promosi dengan menggunakan strategi bauran promosi atau Promotion mix, berupa iklan atau advertising , hubungan masyarakat atau public relation, Direct Marketing atau penjualan langsung. ketiga unsur inilah yang digunakan. Meskipun sudah menggunakan strategi promosi tidak dipungkiri proses promosi dirasa belum maksimal, namun, sejauh ini hasil dari promosi sudah berdampak positif pada wisata Pagubugan.
Abstract
Indonesia is an archipelagic country with many and beautiful islands. From this beauty, Indonesia has many places that can be categorized as tourist attractions. Starting from sea tourism, mountains which are rich in natural beauty. Melung tourist village is one of the tourist destinations that can be visited. Wista Melung Village is one of the tourist villages in the Banyumas district and received a Banyumas Regent Decree on March 20 2020.
In this all-digital era, social media is not a cool thing for the community, it has even become the main source of information for the world community, including the people of Indonesia, one of which is Instagram. Apart from being a source of information, social media has now been widely used as one of the promotional media with the facilities provided. This is also implemented by the @pagubugan_melung account which is the Pagubugan tourism Instagram account. In carrying out promotions, there are strategies carried out by managers in order to maximize the promotion process.
This study uses descriptive qualitative methods with research techniques namely interviews, observation and documentation. The research process was carried out at Wista Pagubugan, Melung Village, Kedungbanten District. The results of the study show that in conducting promotions, Pagubugan parties utilize existing features on Instagram such as hashtags, arroba, multiple images, locations, captions, Instagram stories, Instagram reels, and Instagram live. In addition, the manager also uses a promotional strategy by using a promotion mix strategy, in the form of advertising, public relations, direct marketing or direct selling. these three elements are used. Even though the promotion strategy has been used, it is undeniable that the promotion process is not optimal, however, so far the results of the promotion have had a positive impact on Pagubugan tourism.
3817240845B1A019129Status Resistensi Kecoak Jerman (Blattella germanica L.) Strain Semarang terhadap Fipronil dan IndoxacarbKecoak jerman (Blattella germanica L.) merupakan salah satu hama permukiman yang sulit dikendalikan karena tingkat reproduksinya yang tinggi. Selain itu, kecoak jerman juga telah mengalami resistensi terhadap 42 bahan aktif insektisida termasuk fipronil dan indoxcarb. Laporan terkait resistensi telah ada di beberapa kota di Indonesia, akan tetapi belum ada laporan terkait resistensi kecoak jerman dari Kota Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status resistensi kecoak jerman strain Kota Semarang terhadap fipronil (fenilpirazol) dan indoxacarb (oksadiazine) dengan metode pengumpanan.
Penelitian dilakukan di Laboratorium Entomologi dan Parasitologi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman menggunakan metode pengumpanan. Kecoak jerman yang digunakan adalah kecoak jerman strain lapangan yang berasal dari Kota Semarang sebanyak tiga strain serta satu strain standar World Health Organization (WHO), masing-masing strain menggunakan 50 ekor kecoak jerman jantan. Perlakuan menggunakan dua macam bahan aktif yaitu fipronil 0,05% dan indoxacarb 0,6% yang diaplikasikan melalui metode pengumpanan. Data mortalitas dianalisis menggunakan analisis probit untuk menentukan nilai Lethal time 50 (LT50). Tingkat resistensi/rasio resistensi 50 (RR50) dihitung menggunakan perbandingan nilai LT50 strain lapangan dengan nilai LT50 strain VCRU.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecoak jerman strain Semarang 1, Semarang 2, dan Semarang 3 resisten terhadap dua insektisida umpan fipronil 0,05% dan indoxacarb 0,6%. Tingkat resistensi terhadap fipronil 0,05% pada strain Semarang 1 adalah rendah dengan RR50 sebesar 2,533 kali. Tingkat resistensi terhadap fipronil 0,05% pada strain Semarang 2 adalah sedang dengan RR50 sebesar 7,568 kali. Tingkat resistensi terhadap fipronil 0,05% pada strain Semarang 3 adalah sedang dengan RR50 sebesar 5,701 kali. Tingkat resistensi terhadap indoxacarb 0,6% pada strain Semarang 1 adalah rendah dengan RR50 sebesar 1,489 kali. Tingkat resistensi terhadap indoxacarb 0,6% pada strain Semarang 2 adalah rendah dengan RR50 sebesar 1,379 kali. Tingkat resistensi terhadap indoxacarb 0,6% pada strain Semarang 3 adalah rendah dengan RR50 sebesar 1,417 kali.
Kecoak jerman yang berasal dari tiga hotel di Kota Semarang telah mengembangkan resistensinya terhadap insektisida umpan fipronil 0,05% dengan tingkat resistensi rendah sampai sedang, sedangkan tingkat resistensi terhadap insektisida umpan indoxacarb 0,6% seluruhnya rendah. Oleh karena itu perlu pendekatan terpadu dalam pengendalian kecoak jerman, serta penggunaan insektisida yang lebih bijaksana. Monitoring resistensi perrlu dilakukan untuk mendeteksi perubahan tingkat resistensi.
German cockroach (Blattella germanica L.) is a residential pest that is difficult to control because of its high reproduction rate. In addition, German cockroach has also experienced resistance to 42 insecticide active ingredients including fipronil and indoxcarb. There have been reports regarding resistance in several cities in Indonesia, but there have been no reports regarding German cockroach resistance from the city of Semarang. This study aims to determine the resistance status of the German cockroach strain of Semarang City to fipronil (phenylpyrazole) and indoxacarb (oxadiazine) using the baiting method.
The research was conducted at the Entomology and Parasitology Laboratory, Faculty of Biology, Universitas Jenderal Soedirman using the baiting method. The German cockroaches used were field strain German cockroaches originating from Semarang City as many as three strains and one World Health Organization (WHO) standard strain, each strain using 50 male German cockroaches. The treatment used two kinds of active ingredients, namely fipronil 0.05% and indoxacarb 0.6% which were applied through the baiting method. Mortality data were analyzed using probit analysis to determine the value of Lethal time 50 (LT50). Resistance level/resistance ratio 50 (RR50) is calculated by comparing the LT50 value of field strains with the LT50 value of VCRU strains.
The results show that resistance in the German pest Semarang strain to two bait insecticides fipronil 0.05% and indoxacarb 0.6%. The resistance level to fipronil 0.05% in the Semarang 1 strain was lower with an RR50 of 2.533 times. The resistance level to fipronil 0.05% in the Semarang 2 strain was medium with an RR50 of 7.568 times. The resistance level to fipronil 0.05% in the Semarang 3 strain was medium with an RR50 of 5.701 times. The level of resistance to indoxacarb 0.6% in the Semarang 1 strain was low with an RR50 of 1.489 times. The resistance level to indoxacarb 0.6% in the Semarang 2 strain was low with an RR50 of 1.379 times. The level of resistance to indoxacarb 0.6% in the Semarang 3 strain was low with an RR50 of 1.417 times.
German cockroaches from three hotels in Semarang City had developed resistance to the fipronil 0.05% bait insecticide with low to medium levels of resistance, whereas the indoxacarb 0.6% bait insecticide was all low levels of resistance. Therefore there is a need for an integrated approach to control of German cockroaches, as well as a more judicious use of insecticides. Resistance monitoring needs to be done to detect changes in resistance levels.
3817340846F1B019111Analisis Kualitas Media Digital Pemerintah Kabupaten Purbalingga Dalam Membentuk “New Public Sphere” Guna Mewujudkan Digital GovernanceMasyarakat sebagai unsur utama dalam sistem pemerintahan harus diberi ruang publik untuk berpartisipasi dalam rangka menciptakan kebijakan dan penyelenggaraan pelayanan publik yang berkualitas. Partisipasi publik telah berkembang melalui media digital sebagai ruang publik baru. Penggunaan tersebut dilatarbelakangi dari kehidupan dunia yang semakin dinamis membuat pola dan gaya hidup masyarakat juga berubah. Pemerintahan digital di Indonesia dan khususnya Kabupaten Purbalingga memiliki potensi dan problematika yang terjadi. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pola karakteristik individu terhadap persepsi kualitas media digital Pemerintah Kabupaten Purbalingga dalam membentuk new public sphere guna mewujudkan digital governance. Pendekatan kuantitatif, pemilihan responden dengan teknik cluster sampling, sampel sebesar 384 yang ditentukan menggunakan rumus Lemeshow, pengolahan data menggunakan Knowlegde Discovery in Databases dan Analisis data menggunakan skala likert serta pohon keputusan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media digital pemerintah telah membentuk ruang publik baru yang penting bagi masyarakat. Media sosial sebagai platform yang paling digemari dimana preferensi WhatsApp digunakan untuk berkomunikasi, sementara Instagram adalah sumber utama informasi. Tingkat media digital pemerintah Kabupaten Purbalingga sebesar 70,66%, masuk dalam kategori berkualitas. Selain itu, pola karakteristik individu yang paling dominan adalah atribut usia, pekerjaan, dan domisili. Temuan ini dapat membantu pemerintah merancang strategi komunikasi dan penyebaran informasi yang lebih efektif dan efisien. The community as the main element in the government system must be given public space to participate in creating policies and implementing quality public services. Public participation has developed through digital media as a new public space. This use is motivated by an increasingly dynamic world life that makes people's patterns and lifestyles also change. Digital government in Indonesia and especially Purbalingga Regency has the potential and problems that occur. This article aims to analyze the pattern of individual characteristics on the perception of the quality of digital media in the Purbalingga Regency Government in forming a new public sphere in order to realize digital governance. Quantitative approach, the selection of respondents using cluster sampling technique, a sample of 384 which was determined using the Lemeshow formula, data processing using Knowlegde Discovery in Databases and data analysis using a Likert scale and decision trees. The results of this study indicate that the government's digital media has formed a new public space that is important to society. Social media is the most popular platform where WhatsApp preferences are used to communicate, while Instagram is the main source of information. The level of government digital media in Purbalingga Regency is 70.66%, which is included in the quality category. In addition, the most dominant individual characteristic patterns are age, occupation, and domicile attributes. These findings can help the government design a more effective and efficient communication and information dissemination strategy.
3817440798H1E019015PENJADWALAN BATCH FLOWSHOP MULTI-STAGES DENGAN DEDICATED MACHINE UNTUK MEMINIMUMKAN TOTAL ACTUAL FLOW TIME
(STUDI KASUS: CV PRABU JAYA UTAMA)
CV Prabu Jaya Utama (PJU) merupakan perusahaan manufaktur penghasil cerutu dengan sistem produksi flowshop serta strategi produksi make to order (MTO), yang memproses produknya dalam batch. Pada proses produksinya terdapat 14 stages, dengan dedicated machine pada Stage 2 dan 4, serta common machine pada stage lainnya. Produk yang dihasilkan terbagi menjadi dua jenis produk, yaitu corona dan robusto. Masalah yang dihadapi CV PJU saat ini adalah ketidakmampuan perusahaan dalam memenuhi due date yang telah disepakati dengan pelanggan. Hal ini disebabkan karena tidak adanya sistem penjadwalan produksi yang digunakan oleh perusahaan. Penelitian ini membahas model penjadwalan batch flowshop multi-stages yang mempertimbangkan dedicated machine. Kriteria performansi yang digunakan adalah meminimumkan Total Actual Flow Time (TAFT). Variabel keputusan dalam penelitian ini adalah jumlah batch (N), ukuran batch (Q_[i] ), dan urutan pemrosesan batch. Metode pemecahan masalah diselesaikan dengan menggunakan algoritma heuristik. Berdasarkan pengolahan data didapatkan nilai Total Actual Flow Time minimum yaitu F_ ^a=1848000 menit dengan N_ =4 batch. Kuantitas masing- masing batch yang terbentuk adalah Q_[1] =50 pcs, Q_[2] =200 pcs , Q_[3] =200 pcs , Q_[4] =200 pcs .Untuk pemrosesan batch yang terbentuk adalah b_(1[1])- b_2[2] - b_2[3] - b_(1[4]), di mana batch 1 dan 4 merupakan produk corona serta batch 2 dan 3 merupakan produk robusto. Pengujian model penjadwalan menunjukkan penurunan keterlambatan dari 10.927,5 menit menjadi 10.000 menit atau sebesar 9,3%. Hal ini menujukkan model penjadwalan mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh CV PJU dan memberikan solusi yang lebih baik disbanding kondisi aktual. Selain itu, solusi yang diberikan adalah solusi layak. CV Prabu Jaya Utama (PJU) is a cigar manufacturing company with a flow shop production system and a make-to-order (MTO) production strategy that processes its products in batch. There are 14 stages in the manufacturing process, with dedicated machines on stages 2 and 4, also common machines on the other stages. The products are divided into two types: corona and robusto. CV PJU's issue is its inability to fulfill the customer’s due date. This is due to the absence of a production scheduling system. This study focuses at a batch scheduling model for a multi-stage flow shop that considers dedicated machines. The performance criterion used is to minimize Total Actual Flow Time (TAFT). In this study, the decision variables are the number of batches (N), batch size (Q_[i] ), and batch processing sequence. A heuristic algorithm is used for the problem-solving procedure. The minimal TAFT value obtained is F_ ^a = 1848000 minutes with N_ =4 batches. Each batch has a quantity of Q_[1] =50 pcs, Q_[2] =200 pcs , Q_[3] =200 pcs , Q_[4] =200 pcs. The batch processing sequence is b_(1[1])- b_2[2] - b_2[3] - b_(1[4]), where batch 1 and 4 are corona products and batch 2 and 3 are robusto products. Testing of the scheduling model results in a reduction of tardiness by 9.3%, from 10,927.5 minutes to 10,000 minutes. This indicates that the scheduling model is able to solve CV PJU's problem and provide better solutions than the actual situations. Aside from that, the solution obtained is a feasible solution.
3817540852E2B021007PENERAPAN RISALAH LELANG EKSEKUSI HAK TANGGUNGAN PADA PERBANKAN DAN IMPLIKASI HUKUMNYA (Studi Putusan Pengadilan Negeri Nomor 6/pdt.g/2018/pn dmk dan Pengadilan Tinggi Nomor 332/pdt/2019/pt smg)Risalah Lelang adalah berita acara jalannya penjualan dimuka umum atau lelang yang disusun secara teratur dan dipertanggungjawabkan oleh Pejabat Lelang dan para pihak (penjualan dan pembelian) dalam pelaksanaan lelang. Salah satu contoh pelaksanaan lelang terdapat pada putusan pengadilan negeri nomor 6/pdt.g/2018/PN Dmk. Pengadilan Negeri Demak menyatakan Risalah Lelang dan Salinan Risalah Lelang tidak memiliki kekuatan hukum dikarenakan Tergugat IV telah bertindak tidak cermat dan tidak teliti berkenaan dengan luas tanah yang dilelang. Pada Putusan Pengadilan Tinggi Semarang menyatakan Tergugat IV
hanya untuk memperbaiki Risalah Lelang berkenaan dengan luas tanah. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan menggunakan pendekatan perundangundangan, pendekatan kasus dan pendekatan konseptual.
Hasil penelitian yang diperoleh yaitu Penerapan Risalah Lelang eksekusi Hak
Tanggungan pada perbankan pada Putusan Pengadilan Negeri nomor 6/pdt.g/2018/pn dmk sudah tepat dengan PMK pelaksanaan lelang karena dalam risalah lelang yang dikeluarkan oleh pejabat lelang tidak memuat Surat keterangan tanah (SKT)/ Surat Keterangan Pendaftaran Tanah (SKPT) dari BPN Kabupaten Demak. Pada putusan Pengadilan Tinggi Semarang nomor 332/pdt/2019/pt smg penerapan risalah lelang kurang tepat dengan PMK Pelaksanaan lelang dikarenakan tidak adanya SKT/SKPT pada syarat lelang tidak ada atau tidak tercantum sehingga batal. Namun pada putusan pengadilan tinggi semarang risalah lelang tatap di sahakan dengan perbaikan pada luas tanah, sehingga menimbulkan kerugian terhadap debitur yaitu luas tanah yang bekurang sehingga nilai yang diterima menjadi kurang. Implikasi Hukum sahnya Risalah Lelang dalam putusan Pengadilan Negeri nomor 6/pdt.g/2018/pn dmk adalah tidak berimplikasi hukum karena pada putusan pengadilan Risalah lelang dan Salinan Risalah Lelang tidak berkekuatan hukum, bagi para pihak, objek lelang kembali dalam kepemilikan debitur, masih terpasang hak tanggungan atas nama kreditur, hak pemenang lelang atas objek lelang berakhir dan uang yang telah dibayarkan dikembalikan oleh kreditur. Pada Pengadilan Tinggi nomor 332/pdt/2019/pt smg adalah berimplikasi hukum pada proses Levering pemenang lelang karena Risalah Lelang dan Salinan Risalah lelang berkekuatan hukum sehingga proses Levering tetap berjalan dan perjanjan kredit dan Hak Tanggungan berkahir.
Minutes of Auction are minutes of the course of public sales or auctions that are
compiled regularly and accounted for by the Auction Officer and the parties (sales and purchases) in the implementation of the auction. One example of the implementation of the auction is found in district court decision number 6/pdt.g/2018/PN Dmk. The Demak District Court stated that the Minutes of Auction and Copies of Minutes of Auction did not have legal force because Defendant IV had acted carelessly and inaccurately regarding the size of the land being auctioned. The Semarang High Court Decision stated that Defendant IV only had to correct the Minutes of Auction regarding the size of the land. The research method used is normative juridical, using a statutory approach, a case approach, and a conceptual approach. The results of the research obtained indicate that the Application of Minutes of Auction for the execution of Mortgage Rights in banking in District Court Decision number 6/pdt.g/2018/pn dmk is appropriate with the PMK for the implementation of the auction because the minutes of auction issued by the auction officer do not contain a land certificate (SKT) or Land Registration Certificate (SKPT) from BPN Demak Regency. In Semarang High Court decision number 332/pdt/2019/pt smg, the application of the minutes of auction is less precise with the PMK for the implementation of the auction because the SKT or SKPT does not exist or is not listed, so it is canceled. However, in the Semarang High Court decision, the minutes of the auction were validated with improvements to the land area, causing losses to the debtor, namely the reduced land area, so that the value received was less. The legal implication of the validity of the Minutes of Auction in the District Court decision number 6/pdt.g/2018/pn dmk is that it has no legal implications because in the court's decision the Minutes of Auction and a copy of the Minutes of Auction are not legally enforceable. For the parties, the auction object returns to the debtor's ownership, there is still a mortgage on behalf of the creditor, the auction winner's right to the auction object ends, and the money paid is returned by the creditor. In High Court number 332/pdt/2019/pt smg, it has legal implications for the auction winner's Levering process because the Minutes of Auction and Copies of Minutes of Auction are legally valid, so that the Levering process continues and the credit agreement and Mortgage Rights end.
3817640847C1L016044PENGARUH KREATIVITAS GURU DAN MINAT BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA SMA NEGERI 3 PURWOKERTO
Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui, menganalisis, dan menguji pengaruh kreativitas guru dan minat belajar terhadap hasil belajar siswa SMA Negeri 3 Purwokerto. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPS SMA Negeri 3 Purwokerto, tahun ajaran 2022/2023 dengan sampel sebanyak 124 siswa.
Hasil penelitian ini menggunakan alat analisis regresi linear berganda yang menunjukkan bahwa: 1) Kreativitas guru berpengaruh positif signifikan terhadap hasil belajar siswa SMA Negeri 3 Purwokerto, 2) Minat Belajar berpengaruh positif signifikan terhadap hasil belajar siswa SMA Negeri 3 Purwokerto, 3) Kreativitas guru dan minat belajar secara bersama-samaberpengaruh positif signifikan terhadap hasil belajar siswa SMA Negeri 3 Purwokerto.
Implikasi dari penelitian ini adalah, pentingnya sinergi antara kreativitas guru dan minat belajar untuk mempengaruhi hasil belajar siswa. Guru yang kreatif mampu menarik perhatian siswa, membangkitkan rasa ingin tahu, dan menghadirkan pengalaman pembelajaran yang menarik. Di sisi lain, minat belajar siswa mencerminkan motivasi intrinsik mereka untuk terlibat dalam proses belajar. Sehingga Hasil belajar yang berkualitas dicapai ketika keduanya bekerja secara sinergis.
The research conducted is a quantitative descriptive study with the aim of determining, analyzing, and testing the influence of teacher creativity and learning interest on the learning outcomes of students at SMA Negeri 3 Purwokerto. The population in this study consisted of all students in the 11th grade social science program at SMA Negeri 3 Purwokerto, academic year 2022/2023, with a sample size of 124 students.
The results of this study used multiple linear regression analysis, which showed that: 1) Teacher creativity has a significant positive effect on the learning outcomes of students at SMA Negeri 3 Purwokerto, 2) Learning interest has a significant positive effect on the learning outcomes of students at SMA Negeri 3 Purwokerto, 3) Teacher creativity and learning interest together have a significant positive effect on the learning outcomes of students at SMA Negeri 3 Purwokerto.
The implications of this study are the importance of synergy between teacher creativity and learning interest in influencing student learning outcomes. Creative teachers are able to capture students' attention, stimulate curiosity, and provide engaging learning experiences. On the other hand, students' learning interest reflects their intrinsic motivation to engage in the learning process. Therefore, quality learning outcomes are achieved when both work synergistically.
3817740848I1E019049TINGKAT KESADARAN PENDAKI DALAM MENJAGA
LINGKUNGAN ALAM GUNUNG SLAMET JALUR
PENDAKIAN BASECAMP KOMPAK
ABSTRAK
TINGKAT KESADARAN PENDAKI DALAM MENJAGA LINGKUNGAN ALAM
GUNUNG SLAMET JALUR PENDAKIAN BASECAMP KOMPAK
Ade Atkiya Musofa1 Ajeng Dian Purnamasari2 Fuad Noor Heza3
Latar Belakang: Mendaki gunung adalah olahraga yang membutuhkan pengetahuan tentang
alam, stamina fisik, stamina mental, pelatihan, perlengkapan, pengalaman, dan kemampuan untuk
mempersiapkan kegiatan dengan baik. Kegiatan mendaki juga akan terhubung secara langsung
dengan lingkungan. Berdasarkan observasi banyak sampah yang di tinggalkan pendaki pada jalur
pendakian. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kondisi lingkungan alam pendakian
Gunung Slamet dan mengetahui pengetahuan, sikap serta perilaku para pendaki gunung dalam
menjaga lingkungan.
Metode: Penelitian ini merupakan deskritif dengan analisis data kuantitatif. Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh pendaki Gunung Slamet jalur basecamp kompak. Sampel diambil
kepada 57 pendaki dengan teknik purposive sampling. Teknik pengambilan data menggunakan
kuesioner dengan penetapan skor skala likert.
Hasil Penelitian: Data keseluruhan hasil penelitian meliputi tiga aspek yaitu pengetahuan, sikap
dan perilaku. Tingkat pengetahun pendaki kategori sangat tahu dengan persentase 91,4%, tingkat
sikap pendaki kategori sangat baik dengan presentase 90,1% dan tingkat perilaku pendaki kategori
sangat baik dengan presentase 91,2%. Nilai persentase terendah pada aspek sikap dengan nilai
indeks 90,1% dan nilai persentase tertinggi pada aspek pengetahuan dengan nilai indeks 91,4%,
maka dari itu dengan sedikitnya selisih perbandingan hasil dari aspek pengetahuan, sikap dan
perilaku tersebut sangat berpengaruh dalam menjaga lingkungan alam dengan baik.
Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian tentang tingkat kesadaran pendaki dalam menjaga
lingkungan alam Gunung Slamet dikategorikan sangat baik.
Kata Kunci: Kesadaran, Lingkungan, Pendaki, Gunung, Slamet.
ABSTRACT
THE LEVEL OF AWARENESS OF CLIMBERS IN PROTECTING THE NATURAL
ENVIRONMENT OF MOUNT SLAMET KOMPAK BASECAMP HIKING TRAIL
Ade Atkiya Musofa1
Ajeng Dian Purnamasari2
Fuad Noor Heza3
Background: Mountain climbing is a sport that requires knowledge of nature, physical stamina,
mental stamina, training, equipment, experience, and the ability to prepare for activities well.
Hiking activities will also be directly connected to the environment. Based on observations, a lot
of trash is left by climbers on the hiking trail. The purpose of this study is to determine the
condition of the natural environment of climbing Mount Slamet and find out the knowledge,
attitudes and behavior of mountain climbers in protecting the environment.
Method: This research is descriptive with quantitative data analysis. The population in this study
was all climbers of the compact basecamp trail. Samples were taken on 57 climbers using
purposive sampling techniques. Data collection technique using questionnaire with Likert scale
score assignment.
Results: The overall data of the research results include three aspects, namely knowledge,
attitudes and behavior. The level of knowledge of category climbers is very knowledgeable with a
percentage of 91.4%, the level of attitude of category climbers is very good with a percentage of
90.1% and the level of behavior of category climbers is very good with a percentage of 91.2%.
The lowest percentage value in the attitude aspect with an index value of 90.1% and the highest
percentage value in the knowledge aspect with an index value of 91.4%, therefore with the least
difference in the comparison of the results of the aspect of knowledge, attitudes and behavior is
very influential in maintaining the natural environment well.
Conclusion: Based on the results of research on the level of awareness of climbers in maintaining
the natural environment of Mount Slamet is categorized as very aware.
Keywords: Consciousness, Environment, Climber, Mountain, Slamet.
3817840849B1A019022ANALISIS PERBEDAAN DENSITAS DAN KOMPOSISI BIOBRIKET LIMBAH BAGLOG BERBAGAI JENIS JAMUR TIRAM TERHADAP NILAI KALOR
Jamur tiram merupakan komoditas hortikultura dengan prospek ekonomi sangat tinggi karena limbahnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif ramah lingkungan yaitu biobriket. Komposisi bahan dalam pembuatan biobriket ini masing-masing berperan penting dalam menghasilkan kualitas produk dan diolah menggunakan teknik pirolisis yang akan menambah nilai kalor biobriket tersebut. Tujuan penelitian ini secara khusus adalah untuk mengetahui pengaruh variasi densitas dan komposisi biobriket berbagai jenis jamur tiram terhadap nilai kalor yang dihasilkan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan tiga faktor. Dalam penelitian ini menggunakan 3 faktor dengan masing-masing terdiri dari 3 taraf setiap faktornya. Faktor pertama terdiri atas Pleurotus cystidiosus, Hypsizygus ulmarius, dan Pleurotus ostreatus, faktor kedua terdiri dari densitas 0,5 g/cm³; 0,75 g/cm³; dan 1 g/cm³, dan faktor ketiga terdiri dari persentase kadar pengarangan 50%, 75%, dan 100%. Terdapat 27 kombinasi perlakuan media dan tiga kali ulangan sehingga terdapat 81 unit percobaan. Teknik analisis data pada penelitian ini dengan bantuan software SPSS 26 dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Dalam penelitian ini juga dilakukan metode skoring untuk mengetahui komposisi terbaik suatu biobriket limbah jamur tiram. Data analisis biobriket dari hasil percobaan juga dibandingkan dengan Standar Nasional Indonesia Nomor 01-6235-2000 untuk briket arang kayu. Dari hasil penelitian ini didapatkan nilai kalor terbaik pada Jamur Pleurotus cystidiosus dengan komposisi 100% arang dan densitas 1 g/cm3 yaitu sebesar 4170 kal/gr dengan nilai kadar air 2,23%, nilai kadar abu 17,1%, kuat tekan 25,77 kgf/cm2, dan laju pembakaran 0,0153 g/detik.The oyster mushroom is a horticultural commodity with very strong economic prospects because its waste can be used as an environmentally friendly alternative fuel, namely bio briquettes. The composition of the ingredients in this bio briquette production process, each of which plays an important role in creating the quality of the product, and pyrolysis treatment adds value energy of bio briquettes. The aim of this study was precisely to determine the effect of varying density and biobriquet composition of different oyster mushrooms on the obtained calorific value. This study is a completely randomized block design (RCBD) with 3 factors. This study uses 3 factors, each factor includes 3 levels of each factor. The first factor includes Pleurotus cystidiosus, Hypsizygus ulmarius and Pleurotus ostreatus, the second includes a density of 0.5 g/cm³; 0.75g/cm³; and 1 g/cm³, and the third factor included rates of coagulation levels of 50%, 75%, and 100%. There were 27 combinations of media treatment and three replicates to get 81 experimental units. Data analysis techniques in this study with the help of SPSS 26 software and continue with Duncan test. In this study, a scoring method was also performed to determine the best composition of oyster mushroom bio briquettes. The briquette analysis data from the experimental trials were also compared with Indonesian National Standard Number 01-6235-2000 for briquettes. According to the results of this study, the best calorific value obtained for the fungus Pleurotus cystidiosus with 100% charcoal composition and 1 g/cm3 density was 4170 cal/gr with a moisture value of 2.23%, one ash content value 17.1%, compressive strength 25.77 kgf/cm2 and burning rate 0.0153 g/s.
3817940850I1D019004HUBUNGAN PENERAPAN FEEDING RULES, POLA PEMBERIAN MAKAN,
DAN KUALITAS ASUPAN PROTEIN SEBAGAI FAKTOR RISIKO
KEJADIAN STUNTED PADA ANAK USIA 12-24 BULAN
Latar Belakang : Kejadian stunted paling berisiko terjadi pada masa dua tahun pertama kehidupan dan berhubungan erat dengan peran ibu. Anak dianjurkan diberikan asupan yang baik dan berkualitas sesuai jenis, jumlah, dan jadwal makan. Aturan dasar pemberian makan (feeding rules) pada anak juga perlu diperhatikan untuk menunjang status gizi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penerapan feeding rules, pola pemberian makan, dan kualitas asupan protein sebagai faktor risiko kejadian stunted pada anak usia 12-24 bulan di wilayah Puskesmas 1 Sumbang.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain case control dengan sampel 72 baduta di Desa Banteran dan Desa Tambaksogra, Sumbang. Responden dipilih berdasarkan metode purposive sampling dengan perbandingan kelompok kasus dan kontrol 1:1 berdasarkan matching usia. Pengambilan data menggunakan kuesioner penerapan feeding rules, Child Feeding Questionnare, dan NHANES FFQ. Analisis bivariat menggunakan uji chi square.
Hasil Penelitian: Hasil analisis menunjukkan pola pemberian makan (p=0,001; OR=6,19; 95% CI 2,19-17,50) dan kualitas asupan protein (p=0,003; OR=4,60; 95% CI, 1,69-12,46) berhubungan signifikan dengan kejadian stunted pada anak usia 12-24 bulan, sedangkan penerapan feeding rules (p=0,086) tidak berhubungan dengan kejadian stunted pada anak usia 12-24 bulan.
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara pola pemberian makan dan kualitas asupan protein dengan kejadian stunted pada anak usia 12-24 bulan di wilayah kerja Puskesmas 1 Sumbang
encouraged to eat good and quality food. Basic rules for feeding in children also need to be considered to support children nutritional status. This study aims to determine the relationship between the application of feeding rules, feeding patterns, and the quality of protein intake as a risk factor for stunting in children aged 12-24 months in the Sumbang 1 Health Center area.
Methodology Case control study was conducted involving 72 mothers in Desa Banteran and Tambaksogra. Comparison between case and control groups with age matching 1:1. Data collected by using the questionnaire application of feeding rules, the Child Feeding Questionnaire, and the NHANES FFQ. Data analysis used the chi square test.
Results: The results of the analysis showed feeding patterns (p=0.001; OR=6.19; 95% CI 2.19-17.50) and the quality of protein intake (p=0.003; OR=4.60; 95% CI, 1.69-12.46) was significantly associated to the incidence of stunted, while the application of feeding rules (p=0.086) was not associated with the incidence of stunted in children aged 12-24 months.
Conclusion: There was significant relationship between feeding patterns and quality of protein intake with the incidence of stunted in children aged 12-24 months in the working area of the Sumbang 1 Health Center
3818040851I1E019056ANALISIS PERSPEKTIF GURU PJOK SE-PURWOKERTO TENTANG POTENSI OBJEK WISATA TAMAN APUNG MAS KEMAMBANG SEBAGAI PRASARANA PEMBELAJARAN AKTIVITAS LUAR KELASLatar Belakang: Aktivitas luar kelas menjadi bagian penting dalam pendidikan untuk tercapainya tujuan pendidikan nasional. Pembelajaran aktivitas luar kelas masih jarang diajarkan di luar lingkungan sekolah karena kajian beberapa faktor. Satu di antara beberapa faktor penting yang mempengaruhi pembelajaran luar kelas jarang dilakukan karena masih kurangnya tempat atau prasarana untuk proses pembelajaran luar kelas.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Lokasi penelitian dilaksanakan di Wisata Taman Apung Mas Kemambang. Sampel dalam penelitian ini yaitu 84 guru PJOK Se-Purwokerto dengan teknik total sampling. Metode pengumpulan data menggunakan metode survei atau kuesioner dengan jumlah 32 pernyataan. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif dalam bentuk persentase.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukan bahwa Objek wisata Taman Apung Mas Kemambang memiliki potensi yang baik untuk dijadikan sebagai prasarana pembelajaran luar kelas dengan persentase 72,7% kategori baik dengan rincian sebagai berikut, memiliki ukuran standar 70% kategori baik, memiliki keanekaragaman 72% kategori baik, memiliki aturan keamanan 72% kategori baik, dan aksesibilitas 76% kategori baik.
Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini bahwa Objek wisata Taman Apung Mas Kemambang memiliki potensi yang baik untuk dijadikan sebagai prasarana pembelajaran luar kelas. Faktor-faktor yang memberikan informasi kepada guru terhadap potensi wisata Taman Apung Mas Kemambang sebagai prasarana pembelajaran luar kelas yaitu indikator memiliki ukuran standar, memiliki keanekaragaman, memiliki aturan keamanan, dan aksesibilitas.
Background: Outdoor activities become an important part of education to achieve national education goals. Learning activities outside the classroom are still rarely taught outside the school environment due to the study of several factors. One of several important factors that affect out of class learning is rarely done because there is still a lack of space or infrastructure for the outdoor learning process.
Metod: This study used a quantitative descriptive method. The location of the research was carried out at Taman Apung Mas Kemambang. The sample in this study was 84 PJOK Se-Purwokerto teachers with total sampling technique. The data collection method uses a survey method or questionnaire with a total of 32 statements. Data analysis techniques use descriptive analysis in the form of percentages.
Result: The results showed that Taman Apung Mas Kemambang tourist attractions have good potential to be used as out of class learning infrastructure with a percentage of 72.7% good categories with the following details, have a standard size of 70% good categories, have diversity 72% of good categories, have security rules 72% of good categories, and accessibility of 76% good categories.
Conclusion: The conclusion of this study is that Taman Apung Mas Kemambang tourism objects have good potential to be used as infrastructure for learning outdoor. Factors that provide information to teachers about the potential of Taman Apung Mas Kemambang tourism as an outdoor learning infrastructure are indicators that have standard measures, have diversity, have safety rules, and accessibility.