Artikelilmiahs

Menampilkan 38.221-38.240 dari 48.952 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
3822140839L1B019022STUDI KASUS TINGKAT KEMATIAN DAN HAMA BUDIDAYA KERANG HOTATE (Mizuhopecten yessoensis) PADA PERIODE BUNSANG DI UCHIUMI GYOGYO-BU HOKKAIDO, JEPANGSalah satu tahapan pada siklus budidaya kerang Hotate (Mizuhopecten yessoensis) di Jepang adalah bunsang yang merupakan tahap penyortiran dan pemeliharaan spat kerang hotate untuk meningkatkan produktivitas. Permasalahan yang ditemukan pada pendederan moluska adalah kematian yang dapat disebabkan oleh perlakuan saat budidaya, hama/parasit, ataupun perubahan lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui persentase kematian dan jenis hama spat kerang Hotate yang ditemukan pada periode bunsang di Perusahaan Uchiumi gyogyo-bu di Hokkaido, Jepang. Sampel adalah spat kerang hotate dari kerang yang tidak tersortir pada periode bunsang akhir yang diambil dengan acak sederhana. Hasil menunjukkan rata – rata kematian spat kerang hotate 10,325±2.69 % dengan persentase kematian tertinggi sebesar 13,10%. Hama spat kerang hotate yang ditemukan pada penelitian ini adalah juvenile kepiting, bintang laut (Asteria amurensis), dan isopoda (Cymodoce japonica) yang bersifat predator ; “black mussel” (Mytilus galloprovincialis) hama yang bersifat kompetitor. Bunsang or intermediate culture is one of phase in Hotate Scallop (Mizuhopecten yessoensis) culture at Japan which is sorting phase of scallop spat in order to increase the productivity. Problems that found in mollusk intermediate culture was mortality that can be caused by handling, pest/parasite, or environtment change. Aims of this research were to determine the percentage of mortality and investigate the pest of hotate scallop spat at bunsang phase at Uchiumi Gyogyo-bu, Hokkaido, Japan. Sample were scallop spat that did not pass sorting criteria from latest bunsang and collected by simple random sampling. Results of this research were average percentage of scallop spat mortality was 10,325±2.69 % with largest mortality of 13,10%. Pests that found in this research were crab juveniles , seastar (Asteria amurensis) , and isopod (Cymodoce japonica) as predator of scallop spat ; as well as black mussle (Mytilus galloprovincialis) as competitor of scallop spat.
3822240897I1E019032Pemanfaatan Bumi Perkemahan Wana Wisata Baturraden sebagai Prasarana Kegiatan Kepramukaan Lomba Tingkat III BanyumasABSTRAK
PEMANFAATAN BUMI PERKEMAHAN WANA WISATA BATURRADEN
SEBAGAI PRASARANA KEGIATAN KEPRAMUKAAN
LOMBA TINGKAT III BANYUMAS

Latar Belakang: Bumi Perkemahan Wana Wisata Baturraden merupakan prasarana yang dimanfaatkan oleh para pecinta alam dan Pramuka khususnya pada kegiatan kepramukaan Lomba Tingkat III Banyumas. Penelitian bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan dan faktor pendukung Bumi Perkemahan Wana Wisata Baturraden sebagai Prasarana Kegiatan Kepramukaan Lomba Tingkat III Banyumas.


Metodologi: Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini berlokasi di Bumi Perkemahan Wana Wisata Baturraden, 2 MTs dan 26 SMP/sederajat se-Kabupaten Banyumas. Sampel penelitian berjumlah 26 guru pendamping Lomba Tingkat III Banyumas dengan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan model Miles dan Hubermen.

Hasil Penelitian: Bumi Perkemahan Wana Wisata Baturraden layak untuk dijadikan sebagai prasarana kegiatan kepramukaan Lomba Tingkat III Banyumas. Bumi Perkemahan Wana Wisata Baturraden juga sangat bermanfaat karena menambah wawasan tentang keindahan alam. Namun, masih perlu adanya peningkatan pada MCK, drainase, dan mushola pada Bumi Perkemahan Wana Wisata Baturraden.

Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan: 1) Pemanfaatan Bumi Perkemahan Wana Wisata Baturraden berpotensi untuk dijadikan sebagai prasarana kegiatan kepramukaan Lomba Tingkat III Banyumas. 2) Faktor pendukung Bumi Perkemahan Wana Wisata Baturraden yaitu fasilitas yang mendukung dan secara alam sangat menunjang.

Kata kunci: Bumi Perkemahan, Wana Wisata Baturraden, Prasarana, Lomba Tingkat III Banyumas
ABSTRACT
UTILIZATION OF WANA WISATA BATURRADEN CAMPGROUND AS INFRASTRUCTURE FOR SCOUTING ACTIVITIES BANYUMAS
LEVEL III COMPETITION


Background: Wana Wisata Baturraden Campground is a infrastructure used by nature lovers and Scouts, especially in scouting activities for the Banyumas Level III Competition. The study aims to determine how the utilization and supporting factors of the Wana Wisata Baturraden Campground as a Infrastructure for Banyumas Level III Competition Scouting Activities.

Methodology: This research is included in qualitative descriptive research. This research was located at Wana Wisata Baturraden Campground, 2 MTs and 26 junior high schools / equivalent in Banyumas Regency. The research sample amounted to 26 teachers accompanying the Banyumas Level III Competition with purposive sampling techniques. Data analysis using the Miles and Hubermen models.

Result: Wana Wisata Baturraden Campground is worthy to be used as a infrastructure for scouting activities for the Banyumas Level III Competition. Wana Wisata Baturraden Campground is also very useful because it adds insight into the beauty of nature. However, there still needs to be improvements in MCK, drainage, and prayer rooms at Wana Wisata Baturraden Campground.

Conclusion: Based on the results of the study, conclusions can be drawn: 1) The use of Wana Wisata Baturraden Campground has the potential to be used as infrastructure for scouting activities for the Banyumas Level III Competition. 2) The supporting factors of Wana Wisata Baturraden Campground are supporting facilities and naturally very supportive.

Keyword: Wana Wisata Baturraden, Campground, Infrastructure, Banyumas Level III Competition
3822340896J1A019055Subtitling Strategies and Acceptability of Humour in “Modern Family” Season 6 (2014) Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis-jenis humor verbal, strategi penerjemahan, dan keberterimaan dalam Modern Family Season 6. Penelitian dilakukan dengan menggunakan teori penerjemahan humor verbal oleh Raphaelson-West (1989), teori strategi penerjemahan oleh Gottlieb (1992) dan teori keberterimaan terjemahan yang dikemukakan oleh Nababan, et al. (2012). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Selain itu, dalam prosesnya, penelitian ini menggunakan kuesioner dengan masukan dari para rater sebagai pertimbangan dalam menganalisis terjemahan. Datanya adalah ucapan-ucapan yang mengandung humor verbal dari Modern Family Season 6. Hasilnya menunjukkan jenis yang paling sering muncul adalah universal humour (45), diikuti linguistic humour (19), dan cultural humour (13). Selanjutnya, 8 dari 10 strategi penerjemahan diterapkan oleh penerjemah. Strategi yang paling dominan adalah strategi paraphrase (28), diikuti dengan transfer (15), expansion (11), condensation (10), deletion (6), imitation (4), transcription (2), dan decimation (1). Selain itu, tingkat keberterimaan terjemahan dapat diterima sebanyak 69 data dan kurang dapat diterima sebanyak 8 data. Berdasarkan hasil, objek penelitian menyajikan humor dalam interaksi keluarga biasa yang bersifat universal. Namun, bahasa sumbernya adalah bahasa Inggris yang memiliki aturan gramatikal, kosa kata, dan sintaksis yang berbeda dengan bahasa Indonesia. Dengan demikian, paraphrase strategy adalah yang paling sering digunakan untuk menyampaikan pesan secara alami dan sesuai dengan aturan bahasa sasaran tanpa kehilangan unsur humor. Oleh karena itu, subtitle humor verbal dalam Modern Family Season 6 adalah alami dan relevan dengan aturan Indonesia yang menyampaikan makna dengan tetap melestarikan aspek humor. This research aims to analyse the types of verbal humour, the subtitling strategies, and its acceptability in Modern Family Season 6. The research is conducted by using the theory of verbal humour translation by Raphaelson-West (1989), theory of subtitling strategies by Gottlieb ( 1992) and theory of translation acceptability proposed by Nababan (2012).This research uses descriptive qualitative method. In the process, this research utilises a questionnaire with inputs from raters as a consideration in analysing the translation. The data are utterances containing verbal humour from Modern Family Season 6. The result shows the most frequent type is universal humour (45), followed by linguistic humour (19), and cultural humour (13). Furthermore, 8 out of 10 subtitling strategies are applied by the subtiler. The most dominant strategy is the paraphrase strategy (28), followed by transfer (15), expansion (11), condensation (10), deletion (6), imitation (4), transcription (2), and decimation (1). The acceptability level of the subtitle is acceptable in 69 data and less acceptable in 8 data. The object of the research proposes to serve humour in a usual relatable family interaction that is universal. However, the source language is English which has different grammatical, vocabulary, and syntactic rules than Indonesian. Thus, paraphrase strategy is the most frequently used to transfer the message naturally and appropriately to the target language rules without losing the humour. Hence, the subtitle of verbal humour in Modern Family Season 6 is natural and relevant to the Indonesian rules that conveys the meaning and preserve the humour aspects.
3822440833C1B019090PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP PENGHINDARAN PAJAK (TAX AVOIDANCE)
(Studi pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2018-2022)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel Good Corporate Governance yang terdiri dari kepemilikan institusional, dewan komisaris independen, komite audit, dan kualitas audit baik secara parsial maupun secara simultan terhadap penghindaran pajak (tax avoidance) pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2018-2022. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dan dilakukan dengan menggunakan data sekunder. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive sampling. Dari populasi sebanyak 47 perusahaan perbankan, kemudian terpilih sebanyak 27 sampel perusahaan yang memenuhi kriteria, sehingga data penelitian sebanyak 27 x 5, yaitu 135 data penelitian. Kemudian jumlah keseluruhan data yang diolah setelah outlier sebanyak 104 data pengamatan. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda, dengan menggunakan bantuan alat analisis Statistical Package for Social Science (SPSS).
Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa variabel Good Corporate Governance yang terdiri dari Proporsi Komisaris Independen, Komite Audit, dan Kualitas Audit tidak berpengaruh terhadap tax avoidance. Sedangkan kepemilikan institusional berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tax avoidance. Kemudian variabel Good Corporate Governance yang terdiri dari kepemilikan institusional, proporsi komisaris independen, komite audit, dan kualitas audit secara simultan berpengaruh terhadap tax avoidance.
This study aims to examine the influence of Good Corporate Governance variables, including institutional ownership, independent board of commissioners, audit committee, and audit quality, both partially and simultaneously, on tax avoidance in banking companies listed on the Indonesia Stock Exchange during the period of 2018-2022. The research method employed in this study is quantitative research, utilizing secondary data. The sampling technique used in this study is purposive sampling. From a population of 47 banking companies, a sample of 27 companies that met the criteria was selected, resulting in a total of 27 x 5 which amounted to 135 research data. After handling outliers, a total of 104 observation data points were processed. The analysis technique used is multiple linear regression analysis, performed using the Statistical Package for Social Science (SPSS) software.
The results of this study indicate that the Good Corporate Governance variables, including the Proportion of Independent Commissioners, Audit Committee, and Audit Quality, do not have a significant influence on tax avoidance. However, institutional ownership has a negative and significant effect on tax avoidance. Furthermore, when considering the simultaneous effect of the Good Corporate Governance variables, including institutional ownership, proportion of independent commissioners, audit committee, and audit quality simultaneously has an effect on tax avoidance.
3822540898F1D019077Ekonomi Politik di Balik Popular Culture Asia Timur (China, Jepang, dan Korea Selatan)Menurunnya tren kebijakan-kebijakan yang bersifat militeristik dan pemaksaan (Hard power), menjadi kebijakan-kebijakan yang bertujuan untuk mempengaruhi tanpa paksaan (soft power) oleh negara-negara dunia mendorong persaingan menggunakan identitas kultural dan sosial mereka. Kawasan Asia Timur, terutama Jepang, dan Korea Selatan, telah menghasilkan sebuah fenomena popular culture yang terlahir dari industri hiburan dalam negerinya, seperti Jepang dengan Anime dan Korea Selatan dengan K-popnya, yang kemudian berkembang sebagai soft power yang bernilai tinggi di mata global. Fenomena tersebut sebenarnya terjadi bukan tanpa disengaja, terdapat kebijakan-kebijakan dan fenomena ekonomi politik yang mendorong industri tersebut agar semakin berkembang. Kasus berbeda terjadi dengan China, yang tidak memiliki citra apapun dalam industri hiburan sebesar Jepang dan Korea Selatan, namun, namun memiliki ambisi besar untuk membesarkan pengaruhnya ke seluruh dunia. China pada saat ini telah memiliki pengaruh ekonomi yang kuat, dengan terikatnya banyak negara secara ekonomi dalam program Belt and Road Initiative mereka. Meskipun begitu, China masih mengembangkan militernya, sehingga meskipun berusaha meningkatkan soft power mereka, soft power China yang sekarang dipandang sebagai soft power yang buruk. Oleh karena itu, sejalan dengan meningkatnya konsumerisme masyarakatnya terhadap Popular Culture Jepang dan Korea Selatan, serta dengan potensi ekonomi yang menjanjikan, China berusaha untuk mengejar ketertinggalan mereka dalam industri popular culture, membentuk identitas kultural populernya sendiri yang diharapkan mampu melebihi tetangga kawasannya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan menggunakan kualitatif dengan teknik penelitian studi pustaka.The declining trend of militaristic and coercive policies (hard power), to policies that aim to influence without coercion (soft power) by world nation encourages competition using their cultural and social identities. The East Asian region, especially Japan and South Korea, has produced a popular culture phenomenon that was born from its domestic entertainment industry, such as Japan with Anime and South Korea with K-pop, which then developed as a high-value soft power in the eyes of the global community. The phenomenon is actually not accidental, there are policies and political economy phenomena that encourage the industry to grow. A different case occurs with China, which does not have any image in the entertainment industry as big as Japan and South Korea, but has great ambitions to raise its influence throughout the world. China currently has a strong economic influence, with many countries economically tied to their Belt and Road Initiative program. However, China is still developing its military, so despite trying to improve their soft power, China's current soft power is seen as a bad soft power. Therefore, in line with the increasing consumerism of its people towards Japanese and South Korean popular culture, as well as with the promising economic potential, China is trying to catch up with them in the popular culture industry, forming its own popular cultural identity that is expected to surpass its regional neighbors. Therefore, this research was conducted using qualitative with literature study research techniques
3822640899J1D019012STRATEGI PENGGUNAAN KOSAKATA DAN TATA BAHASA PADA PEMBERITAAN KANJURUHAN MALANG OLEH MEDIA ONLINE TEMPO.CO (ANALISIS WACANA KRITIS MODEL ROGER FOWLER)Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategi kosakata dan tata bahasa yang digunakan Tempo.co dalam pemberitaan Kanjuruhan Malang berdasarkan teori analisis wacana kritis Roger Fowler. Masalah penelitian ini adalah pemberitaan yang tidak berimbang. Bentuk penelitian ini adalah kualitatif. Data penelitian ini adalah penggalan wacana pada tujuh berita yang menjadi sumber data. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode simak dengan teknik dasar sadap serta teknik lanjutan SBLC dan catat. Analisis data penelitian ini menggunakan teori analisis wacana kritis model Roger Fowler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tempo menggunakan seluruh strategi kosakata dan tata bahasa pada pemberitaannya. Strategi kosakata dan tata bahasa yang paling banyak digunakan adalah kosakata membatasi pandangan dan tata bahasa nominalisasi. Kosakata membatasi pandangan banyak ditemui karena Tempo ingin terlihat netral dengan tidak memberikan penilaian terhadap pihak yang terlibat. Tata bahasa nominalisasi banyak ditemui karena Tempo ingin lebih memfokuskan pandangan pembaca pada peristiwa yang terjadi dibandingkan dengan pihak yang terlibat.This study aims to describe the vocabulary and grammar strategies employed by Tempo.co in its reporting on Kanjuruhan Malang based on Roger Fowler's theory of critical discourse analysis. The research problem addressed in this study is the issue of imbalanced reporting. The research takes a qualitative approach. The research data consists of discourse excerpts from seven news articles serving as the data source. Data collection for this study is conducted through observation using basic recording techniques as well as advanced techniques of Uninvolved Conversation Observation (UCO) and note-taking. The data analysis of this research employs Roger Fowler's model of critical discourse analysis. The research findings indicate that Tempo utilizes a range of vocabulary and grammar strategies in its reporting. The most frequently employed vocabulary and grammar strategies include vocabulary that limits perspective and the use of nominalization in grammar. The use of vocabulary that limits perspective is prevalent as Tempo aims to present a neutral stance by refraining from passing judgments on the parties involved. The abundant use of nominalization in grammar serves Tempo's purpose of directing the readers' focus more towards the events transpiring rather than the involved parties.
3822740900H1B019077EKSPERIMEN BANGUNAN SEMI PERMANEN SEBAGAI SUMBER MATERIAL DEBRIS TSUNAMI MENGGUNAKAN METODE DAMBREAKAbstrak - Salah satu bencana alam yang mematikan dan merusak yang ada di dunia adalah Tsunami. Di era sekarang, dampak yang ditimbulkan dari tsunami mengalami peningkatan lebih dari 100 kali dalam dua puluh tahun terakhir, jika dibandingkan dengan dua dekade sebelumnya. Pada setiap tahunnya, diperkirakan sekitar 60.000 orang dan aset senilai $4 miliar (US$) menjadi salah satu dampak yang ditimbulkan dari tsunami (Imamura et al., 2019). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh adanya debris terhadap gaya tsunami pada bangunan dibandingkan dengan kondisi tsunami tanpa debris. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lingkungan dan Keairan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Jenderal, Tsunami dibangkitkan menggunakan dam break. Pengambilan data dilakukan pada kondisi clear water dan kondisi saat ada debris. Gaya total pada bangunan diukur menggunakan load cell. Kecepatan pada kondisi clear water dan pada kondisi ada debris diukur menggunakan kamera dan stopwatch. Debris (Bangunan Semi permanen) diletakkan di depan bangunan dengan jarak,100 cm. Kedalaman air di hulu dam break divariasikan sedalam 10 cm, 20 cm, 30 cm, 40 cm, dan 50 cm. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh debris dari bangunan semi permanen jika dibandingkan dengan kondisi clear water (tanpa debris). Adapun gaya yang terjadi pada bangunan akibat tsunami yang membawa debris meningkat dibandingkan pada kondisi clear water. Pada kondisi terdapat bangunan semi permanen sebagai debris jika dibandingkan dengan pada kondisi clear terdapat selisih gaya yang berkisar antara 17% - 19,5%. Konsep kesebangunan pada penelitian ini diperhitungkan sebagai kesebangunan dinamik yang nantinya akan merepresentasikan kondisi asli yang diterima bangunan permanen di pesisir pantai. Kecepatan debris teoritis dapat dirumuskan sebagai fungsi kecepatan surge dan kecepatan debris awal. Sedangkan gaya total akibat tsunami dan debris berdasarkan kajian teoritis dapat dirumuskan sebagai gaya surge ditambah gaya impact. Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat menjadi masukan dalam perencanaan bangunan dengan pertimbangan adanya gaya impact debris.Abstract - One of the most deadly and destructive natural disasters in the world is the Tsunami. In the present era, the impact of tsunamis has increased more than 100 times in the last two decades compared to the two decades before. Each year, approximately 60,000 people and assets worth $4 billion (US$) are estimated to be affected by tsunamis (Imamura et al., 2019). This study aims to understand the influence of debris on tsunami forces acting on buildings compared to tsunami conditions without debris. The research was conducted at the Laboratory of environmental and water, Civil Engineering Faculty, Universitas Jenderal. Tsunamis were generated using a dam break method. Data collection was performed under clear water conditions and conditions with debris. The total force on the buildings was measured using load cells. Velocity under clear water conditions and conditions with debris was measured using a camera and stopwatch. Debris (semi-permanent buildings) was placed in front of the building at a distance of 100 cm. The water depth upstream of the dam break was varied at depths of 10 cm, 20 cm, 30 cm, 40 cm, and 50 cm. The results of the study show that the presence of debris from semi-permanent buildings has an impact compared to clear water conditions (without debris). The forces on the buildings resulting from a tsunami carrying debris increased compared to the clear water conditions. When comparing the presence of semi-permanent buildings as debris to clear water conditions, there was a difference in forces ranging from 17% to 19.5%. The concept of similarity in this research is considered as dynamic similarity, which will represent the actual conditions experienced by permanent buildings on the coastal area. The theoretical velocity of debris can be formulated as a function of surge velocity and initial debris velocity. Meanwhile, the total force resulting from a tsunami and debris, based on theoretical studies, can be formulated as surge force plus impact force. It is hoped that this research will provide input for building planning, considering the impact force of debris.
3822840901H1B018084PERBANDINGAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA BERDASARKAN HARI KERJA MENGGUNAKAN METODE ACTIVITY SAMPLINGProduktivitas tenaga kerja memiliki peran penting dalam pengaruhnya terhadap pekerjaan dalam suatu proyek. Tingkat produktivitas tenaga kerja cenderung berbeda setiap harinya. Untuk memahami perbandingan tingkat produktivitas tenaga kerja pada hari-hari kerja yang berbeda, diperlukan pengukuran produktivitas yang dapat membantu mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas tersebut. Hal ini bertujuan untuk melakukan perbaikan dan peningkatan produktivitas.
Penelitian ini dilakukan melalui pengamatan terhadap aktivitas tenaga kerja yang terlibat dalam pekerjaan fabrikasi tulangan. Selain itu, wawancara dengan supervisor juga dilakukan untuk mendapatkan pandangan mereka mengenai hasil pengamatan aktivitas tenaga kerja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Activity Sampling dengan menggunakan pendekatan field rating, five minutes rating, dan work sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat produktivitas pada hari senin sampai hari kamis mengalami peningkatan. Setelahnya, pada hari jumat dan sabtu mengalami penurunan yang cukup ekstrim.
Labour productivity plays a crucial role in its influence on job performance within a project. The level of labour productivity tends to vary each day. To comprehend the comparative levels of labour productivity on different working days, the measurement of productivity is necessary to identify the factors that affect it. The objective is to initiate improvements and enhance productivity.
This research is conducted through the observation of labour activities involved in reinforcement fabrication work. Additionally, interviews with supervisors are conducted to obtain their perspectives on the observed labour activities. The research methodology employed in this study is Activity Sampling, utilizing the field rating, five minutes rating, and work sampling approaches.
The research findings indicate an increase in productivity levels from Monday to Thursday. However, a significant decline in productivity is observed on Friday and Saturday.
3822940902I1A019005Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Praktik Pengelolaan Sampah Pada Petugas Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Di Kabupaten BanyumasLatar Belakang : Permasalahan sampah merupakan masalah yang tidak dapat diabaikan dikarenakan pertambahan aktivitas manusia serta sampah yang akan dihasilkan berbanding terbalik dengan kesiapan pemerintah atau pemerintah daerah dalam menyiapkan infrastruktur pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah di Kabupaten Banyumas berfokus pada pengelolaan sampah di TPST dengan Kelompok Swadaya Masyarakat. Petugas TPST dari ikut serta juga dalam proses pengelolaan sampah di TPST. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi petugas TPST dalam praktik pengelolaan sampah di TPST.
Metodologi : Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 70 orang. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan stratified proportional random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi. Analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat,bivariat melalui uji chi square dan multivariat melalui uji regresi logistik berganda.
Hasil : Terdapat pengaruh ketersediaan fasilitas (p-value=0,003) dan tingkat pendidikan (p-value=0,024) terhadap praktik pengelolaan sampah pada petugas TPST. Faktor yang paling berpengaruh adalah ketersediaan fasilitas dengan Odds Ratio = 5.378.
Kesimpulan : Petugas TPST yang belum dilengkapi dengan fasilitas pengelolaan sampah memiliki peluang dalam praktik pengelolaan sampah yang buruk 5.378 lebih besar dibandingkan dengan petugas TPST yang sudah dilengkapi fasilitas pengelolaan sampah
Kata Kunci : Ketersediaan fasilitas, tingkat pendidikan dan pengelolaan sampah
Background : The problem of waste is a problem that can not be ignored due to the increase in human activities and waste that will be produced inversely proportional to the preparations of the government or local government in preparing waste management infrastructure. Waste Management in Banyumas Regency focuses on Waste Management in TPST with non-governmental groups. TPST workers from participating also in the process of waste management at TPST. The purpose of this study was to determine the factors that affect TPST officers in waste management practices in TPST.
Methodology : This study is a quantitative study with cross-sectional research design. The study sample was 70 people. Sampling was done using stratified proportional random sampling. Data collection was done by interview and observation. Data analysis was conducted using univariate,bivariate analysis through chi square test and multivariate through multiple logistic regression test.
Research Result : There is influence between facility availability (p-value=0.003) and education level (p-value=0.024) on the waste management activity of TPST workers. The most influential factor is the availability of facilities with Odds Ratio = 5.378.
Conclusion : TPST workers who have not been equipped with waste management facilities have a chance of poor waste management practice 5,378 greater than TPST officers who have been equipped with waste management facilities.
Keywords : Facility availability, education level dan waste management
3823040930A1D019023Pengaruh Kasgot terhadap Serapan Hara N dan Hasil Beberapa Varietas Tanaman Jagung Manis (Zea mays L. Saccharata Sturt)Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji pertumbuhan, hasil dan serapan hara N beberapa varietas tanaman jagung manis, mendapatkan dosis pupuk kasgot yang optimum untuk meningkatkan hasil tanaman jagung manis, mengetahui dan mengkaji pengaruh interaksi antara dosis kasgot dan varietas terhadap serapan hara N dan hasil tanaman jagung manis. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor perlakuan dan diulang tiga kali. Faktor pertama Varietas V1: Talenta; V2: Secada; V3: Exsotic. Faktor kedua dosis pupuk kasgot K0: 0 ton/ha; K1: 15 ton/ha; K2: 30 ton/ha. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji ANOVA pada taraf kesalahan 5%, jika menunjukkan pengaruh nyata, maka dilanjutkan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kesalahan 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian dosis kasgot berpengaruh terhadap serapan N tanaman, tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, kehijauan daun, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, panjang tongkol berkelobot, bobot tongkol berkelobot, bobot tongkol tanpa kelobot, diameter tongkol berkelobot, diameter tongkol tanpa kelobot, hasil petak efektif dan hasil per hektar. Varietas jagung manis menunjukkan adanya perbedaan serapan N tanaman, tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot segar tanaman, hasil petak efektif dan hasil per hektar. Interaksi antara dosis pupuk kasgot dan varietas jagung manis berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan luas daun. Dosis pupuk kasgot 15 ton/ha menghasilkan pertumbuhan dan hasil jagung manis terbaik.This study aimed to determine and assess the growth, yield and N uptake of several varieties of sweet corn plants, to obtain the optimum dose of maggot frass to increase the yield of sweet corn plants, to determine and assess the effect of the interaction between the dose of maggot frass and varieties on N uptake and yield of sweet corn plants. The design used was a Randomized Completely Block Design (RCBD) with factorial pattern and repeated three times. The first factor was Variety V1: Talenta; V2: Secada; V3: Exsotic. The second factor was the dose of maggot frass K0: 0 ton/ha; K1: 15 ton/ha; K2: 30 ton/ha. The research data were analyzed using the ANOVA, if there was a significant differents, continued with Duncan's Multiple Range Test (DMRT) at an error level of 5%. The result showed that the application of maggot frass had a significant effect on the variables of plant N uptake, plant height, number of leaves, leaf area, leaf greenness, plant fresh weight, plant dry weight, cob length, cob weight, cob weight without cob, cob diameter, cob diameter without cob, effective plot yield and yield per hectare. Sweet corn varieties showed differences in plant N uptake, plant height, number of leaves, leaf area, plant fresh weight, effective plot yield and yield per hectare. The interaction between the dose of maggot frass and sweet corn varieties had an effect on plant height, number of leaves, and leaf area. The dose of 15 tons/ha of maggot frass was produced the best growth and yield of sweet corn.
3823140903F1B018075Manajemen Bencana Erupsi Gunung Merapi Melalui Program Sister Village Di Kabupaten MagelangTerbentuknya program Sister Village di Kabupaten Magelang karena
terjadinya suatu peristiwa erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010 silam khususnya
di Desa Ngargomulyo sebagai daerah yang masuk dalam KRB III. Pada saat itu,
proses penanganan bencana erupsi Gunung Merapi tidak terorganisir dengan baik
sehingga menimbulkan beberapa masalah seperti banyaknya korban jiwa dan harta
benda milik masyarakat, jumlah pengungsi yang melebihi kapasitas pengungsian,
kondisi pengungsian yang tidak memadai, dsb. Sister Village menjadi sebuah
program pengurangan risiko bencana akibat erupsi Gunung Merapi yang pada
prosesnya juga dilakukan berbagai upaya untuk menciptakan manajemen bencana
yang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana manajemen
bencana erupsi Gunung Merapi melalui Sister Village di Kabupaten Magelang
berdasarkan model kerangka kerja Sendai (Sendai Framework).
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif.
Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling dan snowball
sampling. Informan dari penelitian ini adalah Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan
Pencegahan BPBD Kabupaten Magelang, Ketua LPBDes Ngargomulyo dan
Tamanagung, serta Tokoh Kebencanaan Desa Ngargomulyo. Metode analisis data
yang digunakan adalah metode analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa manajemen bencana erupsi Gunung Merapi di Desa Ngargomulyo telah
mengikuti Kerangka Kerja Sendai untuk pengurangan risiko bencana. Sehingga,
dengan penerapan manajemen bencana tersebut, dampak yang ditimbulkan dari
ancaman erupsi Gunung Merapi dapat diminimalisir.
The formation of the Sister Village program in Kabupaten Magelang was
due to the eruption of Gunung Merapi in 2010, especially in Desa Ngargomulyo as
an area included in KRB III. At that time, the process of handling the eruption of
Gunung Merapi was not well organized, causing several problems such as the large
number of victims and property belonging to the community, the number of refugees
that exceeded the capacity of the evacuees, the condition of the refugees who could
not afford it, etc. Sister Village became a disaster risk management program due to
the eruption of Gunung Merapi, which in the process also carried out various
efforts to create good disaster management. The purpose of this study was to find
out how the Gunung Merapi eruption disaster management through Sister Village
in Kabupaten Magelang is based on the Sendai Framework model.
The method used in this research is descriptive qualitative. The selection of
informants used purposive sampling and snowball sampling techniques. Informants
from this study were the head of division Kesiapsiagaan dan Mitigasi BPBD
Kabupaten Magelang, head of LPBDes Tamanagung and Ngargomulyo, as well as
Desa Ngargomulyo disaster figures. The data analysis method used is an
interactive analysis method. The results of the study show that the management of
the Gunung Merapi eruption disaster in Desa Ngargomulyo has followed the
Sendai Action Plan for disaster risk mitigation. So that with the implementation of
disaster management, the impact arising from the threat of Gunung Merapi
eruption can be minimized.
3823240904F1B018084Evaluasi Strategi Pengembangan Kampung Iklim di Desa Sambak Kecamatan Kajoran Kabupaten MagelangDampak perubahan iklim menggerakkan masyarakat untuk meningkatkan ketahanan melalui adaptasi dan mitigasi secara mandiri. Pemerintah berupaya melakukan penguatan adaptasi dan mitigasi dengan basis masyarakat melalui Program Kampung Iklim. Desa Sambak membentuk PokJa ProKlim dalam menjalankan strategi adaptasi, mitigasi, dan pembinaan desa untuk mengembangkan Kampung Iklim. Adanya strategi tersebut mendorong Desa Sambak memperoleh penghargaan ProKlim Lestari dan menjadi barometer nasional dalam penanganan perubahan iklim. Pengembangan yang dilakukan akan berdampak pada peningkatan ketahanan iklim bagi masyarakat dan lingkungan apabila dilaksanakan dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menilai pelaksanaan strategi pengembangan kampung iklim di Desa Sambak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukan pelaksanaan pengembangan kampung iklim telah memenuhi sebagian kriteria konsistensi, kesesuaian, kelayakan, dan keunggulan, namun program yang telah ditetapkan tidak terealisasikan secara optimal karena keterbatasan kapasitas SDM dan pendistribusian sumber daya yang ada. The impacts of climate change drive communities to increase resilience through adaptation and mitigation independently. The government seeks to strengthen adaptation and mitigation on a community basis through the Climate Village Program. Sambak Village formed PokJa ProKlim in carrying out adaptation, mitigation, and village coaching strategies to develop Climate Village. The existence of this strategy encouraged Sambak Village to obtain the ProKlim Lestari award and become a national barometer in handling climate change. The development carried out will have an impact on increasing climate resilience for the community and the environment if implemented properly. The purpose of this study was to determine and assess the implementation of the climate village development strategy in Sambak Village. This research used a descriptive qualitative approach. The results showed that the implementation of climate village development has partially met the criteria of consistency, consonantly, feasibility, and advantage, but the program that has been determined is not optimally realized due to limited human resource capacity and the distribution of existing resources.
3823344319A1F019056OPTIMASI PERENCANAAN PRODUKSI DODOL DENGAN METODE GOAL PROGRAMMING PADA IKM CAHAYA BULAN, DESA KALISARI, KABUPATEN BANYUMASIKM Cahaya Bulan merupakan produsen dodol yang berdomisili di Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Hingga tahun 2023, telah diproduksi 8 jenis varian dodol, yaitu durian, belimbing wuluh, jambu biji, nanas, pisang cavendish, nangka, sirsak, dan mangga. Pada kegiatan produksinya, IKM Cahaya Bulan belum menerapkan perencanaan produksi yang baik. Jumlah produksi dodol ditentukan berdasarkan permintaan yang ada sebelumnya. Jadwal produksi untuk tiap varian juga dibuat secara bergilir dalam satu bulan, namun tidak menentu dan disesuaikan dengan pesanan yang masuk sehingga terdapat beberapa varian yang tidak diproduksi sesuai dengan urutannya. Kapasitas produksi di IKM Cahaya Bulan juga belum dimanfaatkan seluruhnya. Akibatnya, IKM Cahaya Bulan hanya dapat memenuhi sekitar 1500 pak dodol dari total 3000 pak permintaan dodol yang ada tiap bulannya. Upaya yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan berbagai tujuan permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan perhitungan matematis menggunakan metode goal programming. Tujuan penelitian ini adalah untuk merancang strategi perencanaan produksi dan mengoptimalkan perencanaan tersebut pada IKM Cahaya Bulan dengan goal programming.
Penelitian ini merupakan penelitian terapan dengan metode studi kasus dari IKM Cahaya Bulan. Data diperoleh dengan cara observasi dan wawancara secara langsung dengan pemilik IKM. Kemudian data berupa angka akan disusun menjadi model matematis dan diolah menggunakan rumus statistik pada aplikasi LINDO (Linear, Interactive, and Discrete Optimizer). Ketika hasil optimasi telah diperoleh akan dilakukan analisis sensitivitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa goal programming mampu memberikan solusi atas permasalahan optimasi yang dihadapi oleh IKM Cahaya Bulan. Pada kondisi optimum, terdapat jumlah produksi dodol varian pisang cavendish dapat ditingkatkan sebesar 540% dari 27 kilogram menjadi 172 kilogram, biaya produksi mampu ditekan sebesar 13% dari Rp25.000.000 menjadi Rp21.692.600, kapasitas produksi digunakan secara maksimal, yaitu 450 kilogram per bulan dan keuntungan yang diperoleh juga dapat meningkat sebesar 47% dari Rp8.923.400 menjadi Rp13.128.400. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa batas perubahan yang dapat dilakukan untuk jumlah produksi tiap varian dodol maksimal 145 kilogram per bulan dan batas minimal produksi adalah nilai ruas kanan saat ini, kecuali jumlah produksi varian pisang cavendish yang berapa pun nilai pengurangannya tidak akan mempengaruhi hasil optimasi. Biaya produksi dapat dikurangi hingga Rp3.307.400 dan berapapun penambahannya tidak mempengaruhi hasil optimasi. Kapasitas produksi memiliki batas minimum 71,9 kilogram dan batas maksimal penambahan 145 kilogram. Nilai keuntungan mampu ditambah hingga Rp4.205.000 dan pengurangan tidak akan mempengaruhi hasil optimasi.
SUMMARY
IKM Cahaya Bulan is a dodol producer based in Kalisari Village, Cilongok District, Banyumas Regency. Until 2023, 8 types of dodol variants have been produced, namely durian, bilimbi, guava, pineapple, cavendish banana, jackfruit, soursop, and mango. In its production activities, Cahaya Bulan has not implemented good production planning. Previous orders are used as guidelines for the quantity dodol is produced. Each variant's production schedule also gets created by rotation over a month but becomes erratic and liable to change by orders that are received, resulting in some variants not being able to be produced according to the production schedule. Production capacity at Cahaya Bulan is also not fully utilized. As a result, Cahaya Bulan can only fulfill around 1500 packs of dodol out of a total of 3000 packs of dodol requests that exist each month. By implementing mathematical calculations using the goal programming method, efforts can be made to address multiple kinds of problem objectives. Creating a production planning approach as well as employing goal programming to optimize planning on Cahaya Bulan are the goals of this study.
This study implements a case study method from IKM Cahaya Bulan as uses applied research. Direct observation and an interview with the IKM owner are the methods used to acquire data. Next, taking advantage of statistical methods in the LINDO (Linear, Interactive, and Discrete Optimizer) application, the numerical data will be assembled into a mathematical model. A sensitivity study will be performed once the optimization results are acquired.
The results showed that Cahaya Bulan's problems with optimization were able to be resolved using goal programming. The production of cavendish banana dodol grows by 540%, from 27 kilograms to 172 kilograms, in optimal conditions. Production costs can be decreased by 13%, from Rp25,000,000 to Rp21,692,600, while capacity is used at its highest level, or 450 kg per month. Revenues are boosted as well by 47%, from Rp8,923,400 to Rp13,128,400. The sensitivity analysis's results point out that, except for the quantity of production of cavendish banana variants, which is unaffected by decreased values, the maximum amount of changes that can be made for each dodol variant's production is 145 kilograms per month, and the minimum production limit is the current right-hand side (RHS). Production costs can be reduced up to Rp3,307,400 and any increase will not affect the optimization results. Production capacity has a minimum limit of 71.9 kilograms and a maximum additional limit of 145 kilograms. The profit value can be increased up to Rp4,205,000 and any reduction will not affect the optimization results.
3823440906B1A016038KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN PAKU TERESTRIAL (Pteridophyta) PADA BERBAGAI KETINGGIAN TEMPAT DI KECAMATAN KEDUNGBANTENG BANYUMAS Keanekaragaman merupakan variasi yang terdapat diantara semua makhluk hidup pada tingkat gen, spesies, dan ekosistem. Keanekaragaman hayati yang dapat diamati di Indonesia diantaranya kelompok tumbuhan paku (Pteridophyta). Keanekaragaman yang berbeda pada tumbuhan paku dipengaruhi oleh lingkungan tempat tumbuh. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui keanekaragaman dan dominasi tumbuhan paku terestrial yang tumbuh diberbagai ketinggian tempat.Penelitian ini menggunakan metode petak kuadrat pada ketinggian 150-750 mdpl, dengan membuat 4 petak pada masing–masing stasiun berukuran 2mx2m. Variabel terikat yang diamati yaitu tumbuhan paku terestrial dengan parameter jumlah spesies dan jumlah individu per spesies, variabel bebas yang diamati yaitu faktor lingkungan dengan parameter ketinggian tempat, suhu, kelembaban, intensitas cahaya,dan pH tanah. Analisis data menggunakan Indeks Keanekaragaman (H’), Indeks Kemerataan Spesies (E), Indeks Nilai Penting (INP), dan Indeks Kesamaan Spesies (IS). Hasil penelitian diperoleh tumbuhan paku di Kecamatan Kedungbanteng sebanyak 6 familia dan 14 spesies yang terdiri atas 1.383 individu. Spesies yang banyak ditemukan yaitu Tectaria crenata dan paling sedikit ditemukan adalah Davallia solida. Diperoleh indeks kemerataan tinggi yaitu 0,846, dengan indeks nilai penting tertinggi pada ketinggian 300 mdpl dan indeks kesamaan komunitas dikatakan tinggi karena lebih dari 75% yaitu 76,92% pada ketinggian 600 mdpl dengan 750 mdpl.Diversity is the variation that exists among all living things at the gene, species, and ecosystem level. Biodiversity that can be observed in Indonesia among groups of ferns (Pteridophyta). The different diversity of ferns is also influenced by the environment in which they grow. The aim of this study was to determine the diversity and dominance of terrestrial ferns that grow at various altitudes. This study used the quadratic plot method at an altitude of 150-750 meters above sea level, by making 4 plots at each station measuring 2mx2m. The dependent variable observed was terrestrial ferns with the parameters of the number of species and the number of individuals per species, the independent variables observed were environmental factors with the parameters of different altitudes, temperature, humidity, light intensity and soil pH. Data analysis uses Diversity Index (H'), Index Species Evenness (E), Important Value Index (INP), and Species Similarity Index (IS). The results of the study in Kedungbanteng District obtained 6 families and 14 species of ferns consisting of 1,383 individuals. The most commonly found species is Tectaria crenata and the least found is Davallia solida. The highest evenness index was obtained 0.846, with the highest important value index at an altitude of 300 meters above sea level and a high community similarity index because it was more than 75%, namely 76.92% at an altitude of 600 meters above sea level and 750 meters above sea level.
3823540907F1B018008EFEKTIVITAS SISTEM EVALUASI KINERJA MELALUI
PENGGUNAAN APLIKASI E-VISUM Dl BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh efektivitas aplikasi E-Visum PKB dalam mendigitalisasi pencatatan dan pelaporan kinerja Penyuluh KB di lini lapangan. Aplikasi E-Visum merupakan sistem aplikasi yang difasilitasi oleh BKKBN untuk mempermudah Penyuluh KB dalam melakukan pencatatan dan pelaporan kinerja serta terakselerasi dengan perhitungan tunjangan kinerja. Keberhasilan sistem aplikasi E-Visum yang tercermin pada konsistensi dan keberlanjutan perkembangan terhadap sistem aplikasi E-Visum. Oleh karena itu, studi tentang efektivitas sistem aplikasi E-Visum perlu dilakukan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif. Pemilihan informan menggunakan Teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis interaktif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas sistem evaluasi kinerja mengalami enam aspek yaitu: Relevansi, Reliabilitas, Sensitivitas, Akseptabilitas, Praktikal, Tidak melanggar Undang-Undang. Berdasarkan enam aspek kajian yang telah dilalui, efektifitas sistem Aplikasi E-Visum PKB dapat menghasilkan manfaat-manfaat untuk organisasi BKKBN sebagai pengelola program maupun tenaga lini lapangan sebagai sasaran program. Aplikasi E-Visum Penyuluh KB menjadi sarana digitalisasi pencatatan dan pelaporan di lini lapangan yang efektif dan efisien
This research is motivated by the effectiveness of the PKB E-Visum application in digitizing the recording and reporting of the performance of family planning counselors in the field. The E-Visum application is an application system facilitated by the BKKBN to make it easier for family planning counselors to record and report performance and accelerate the calculation of performance allowances. The success of the E-Visum application system is reflected in the consistency and sustainability of the development of the E-Visum application system. Therefore, it is necessary to study the effectiveness of the E-Visum application system. The method used in this research is qualitative. Selection of informants using purposive sampling technique. Collecting data using interviews, observation, and documentation. The data analysis method used is an interactive analysis method.
The results of the study show that the effectiveness of the performance evaluation system has five aspects, namely: Relevance, Reliability, Sensitivity, Acceptability, Practicality, Not Violating the Law. Based on the five aspects of the study that have been passed, the effectiveness of the PKB E-Visum Application system can generate benefits for the BKKBN organization as program managers and field staff as program targets. The KB Extension E-Visum application is a means of digitizing effective and efficient recording and reporting in the field line.
3823640908B1A019080Bioprospeksi Isolat Actinobacteria Asal Tanah Hutan Taman Nasional Kutai sebagai Penghasil Senyawa Antibakteridikenal sebagai penghasil senyawa antibakteri. Sebanyak 44 isolat telah dipreservasi dalam bentuk L-drying sejak tahun 2006, yang diisolasi dari lingkungan tanah hutan di Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur. Isolat ini belum diketahui kemampuannya dalam menghasilkan senyawa antibakteri. Tujuan penelitian yaitu mengetahui kemampuan isolat Actinobacteria sebagai penghasil senyawa antibakteri dan mengetahui identitas isolat Actinobacteria yang memiliki aktivitas antibakteri yang tertinggi. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif untuk memperoleh isolat potensial sebagai penghasil senyawa antibakteri. Tahapan penelitian yaitu aktivasi isolat, skrining isolat penghasil senyawa antibakteri, produksi senyawa antibakteri, uji MIC, uji KLT, uji bioautografi, dan identifikasi isolat yang menunjukkan aktivitas antibakteri tertinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 26 isolat berhasil diaktivasi dan terdapat 2 isolat yang menunjukkan kemampuan antibakteri, yaitu isolat ID06-A0306 dan ID06-A0325. Diameter hambat yang dihasilkan pada skrining awal sebesar 16,75 mm dan 18,5 mm. Diameter hambat yang dihasilkan pada uji disc diffusion assay berkisar antara 14 mm hingga 27,5 mm. Nilai MIC isolat ID06-A0306 dan ID060A0325 adalah 0,2 mg/mL dan 1,16 mg/mL. Isolat ID06-A0306 menghasilkan senyawa antibakteri terhadap Bacillus subtilis pada nilai Rf 0,13. Isolat ID06-A0325 menghasilkan senyawa antibakteri terhadap B.subtilis pada nilai Rf 0; 0,58; dan 0,67. Berdasarkan analisis data hasil sequencing, isolat ID06-A0306 memiliki kemiripan dengan Streptomyces yokosusukanensis dengan persentase kemiripan sebesar 98,47%. Isolat ID06-A0325 memiliki kemiripan dengan Streptomyces chartreusis dengan persentase kemiripan sebesar 100%.Actinobacteria are Gram-positive bacteria. They are capable of producing spores and have filamentous structures. Actinobacteria are considered as the producer of beneficial secondary metabolites, especially antibacterial compounds. Most of the Actinobacteria that have been identified are found in soil. In this research, 44 Actinobacteria isolates were isolated from the forest soil of Kutai National Park in 2006 and preserved by lyophilization. This study is an explorative research to obtain potential isolates that have the ability to produce antibacterial compounds. The stages of the research were divided into reactivation of the preserved isolates, primary screening, secondary metabolites production, disc diffusion assay, MIC test, TLC and bioautography test, and identification of the potential isolates. The result indicated that 26 isolates were successfully reactivated. There were two isolates that showed antibacterial activity, which have sample codes ID06-A0306 and ID06-A0325. The resulting inhibition diameters at the primary screening were 16,75 mm and 18,5 mm. The resulting inhibition diameter in the disc diffusion assay test ranged from 14 mm to 27,5 mm. The MIC value of the ID06-A0306 isolate was 0,2 mg/mL, and the MIC value of ID06-A0325 isolate was 1,16 mg/mL. Isolate ID06-A0306 produced an antibacterial compound against Bacillus subtilis with Rf value of 0.13. ID06-A0325 produced antibacterial compounds against B.subtilis with Rf values of 0.58 and 0.67. Based on analysis of the sequencing data, isolate ID06-A0306 is similar to Streptomyces yokosusukanensis with a similarity percentage of 98.47%. Isolate ID06-A0325 is similar to Streptomyces chartreusis with a 100% similarity percentage.
3823740910J1E016040Assessment Types Used By Teachers In Assessing Students' Speaking Skills During Online Learning At SMK Kesatrian Purwokerto ( A Narrative Research of Teachers' Assessment Types during Covid-19 Pandemic) Penilaian adalah prosedur mengumpulkan, menganalisis, mendokumentasikan, dan menggunakan informasi tentang tanggapan siswa terhadap tugas-tugas pendidikan. Ini memberikan dasar yang sistematis untuk menarik kesimpulan lebih banyak tentang pembelajaran dan perkembangan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki jenis penilaian guru dalam menilai kemampuan berbicara siswa serta penerapannya dalam proses pembelajaran.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis Narrative inquiry. Objek penelitian ini adalah para guru di SMK Kesatrian Purwokerto. Penelitian ini menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan analisis dokumen. Data dianalisis melalui analisis data tematik.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) kedua guru menggunakan jenis penilaian yang berbeda dalam menilai keterampilan berbicara siswa. Bapak Ad dengan penilaian Imitatif, sedangkan Bapak Ag dengan penilaian interaktif dan ekstensif. (2) alasan mereka menggunakan asesmen tersebut adalah untuk meningkatkan pemahaman, melatih pelafalan bahasa Inggris siswa dan mengembangkan pemikiran kritis siswa sambil mengungkapkan ide-ide (3) dalam melaksanakan proses pembelajaran, kedua guru menggunakan grup WhatsApp untuk diskusi tambahan terkait kegiatan pembelajaran dan powerpoint sebagai media pembelajaran.
Kesimpulannya, masing-masing guru memiliki jenis penilaiannya tersendiri dan pada kenyataannya cukup berhasil dalam mengembangkan kemampuan berbicara siswa.
Assessment is the procedure of collecting, analyzing, documenting, and using the information about students' responses to educational tasks. It provides a systematic basis for drawing conclusions more about learning and development of students. This research aims to investigate teacher’s assessment types in assessing student’s speaking also the implementing in learning process.
This study is a qualitative research with a Narrative inquiry as a research design. The objects of this study are the teachers at SMK Kesatrian Purwokerto. This research uses purposive sampling. The data were collected through interview and document analysis. The data were analyzed through thematic data analysis.
The results of this study show that (1) both the teachers used different assessment types in assessing student’s speaking skills. Mr. Ad with Imitative assessment, while Mr. Ag with interactive and extensive assessments. (2) the reasons why they used those assessments were to improve student’s comprehension in practicing English pronunciation and to develop student’s critical thinking while expressing ideas, (3) in the implement of the learning process, both the teachers used WhatsApp group for additional discussion related to learning activities and powerpoint as teaching media.
In conclusion, the teachers had their own types of assessment, and in fact it was quite successful in developing students' speaking ability.
3823840911I1D019029Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kadar Kolesterol Darah Mahasiswa Fikes Universitas Jenderal SoedirmanPendahuluan: Hiperkolesterolemia merupakan kondisi peningkatan kadar kolesterol ≥200 mg/dl yang dapat terjadi akibat faktor gaya hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kadar kolesterol darah mahasiswa. Metode: Penelitian cross sectional terhadap 71 mahasiswa menggunakan purposive sampling dengan kriteria usia 18-25 tahun, tidak merokok dan tidak memiliki riwayat PTM. Variabel yang digunakan yakni pola konsumsi fast food, asupan serat, persen lemak tubuh dan aktivitas fisik. Data dianalisis dengan uji Pearson dan Spearman untuk selanjutnya dianalisis dengan uji regresi linier berganda. Hasil: Pola konsumsi fast food (p=0,004), persen lemak tubuh (p=0,001), dan aktivitas fisik (p=0,002) berkorelasi dengan kolesterol darah. Sedangkan asupan serat tidak berkorelasi dengan kolesterol darah (p=0,458). Hasil analisis multivariat menunjukan persen lemak tubuh berpengaruh terhadap kolesterol (p=0,009) dengan nilai koesfisien determinasi sebesar 20%. Kesimpulan: Pola konsumsi fast food, persen lemak tubuh dan aktivitas fisik berkorelasi dengan kolesterol darah, sedangkan asupan serat tidak berkorelasi dengan kolesterol darah. Persen lemak tubuh diketahui menjadi faktor yang berpengaruh terhadap kolesterol darah mahasiswa.Introduction: Hypercholesterolemia is a condition of increased cholesterol levels ≥200 mg/dl which can occur due to lifestyle factors. This study aims to analyze the relationship between fast food consumption patterns, dietary fiber intake, body fat percentage and physical activity with blood cholesterol levels of university students. Methods: The cross-sectional study of 71 students were used purposive sampling with the criteria of age 18-25 years, no smoking, no history of non-communicable diseases. Data of fast food consumption patterns were obtained with FFQ, dietary fiber intake used 3x24 hour estimated food records, body fat percentage used BIA and physical activity used IPAQ. Data were analyzed with Pearson and Spearman tests and then analyzed with multiple linear regression tests. Results: Fast food consumption pattern (p=0.004), percent body fat (p=0.001), and physical activity (p=0.002) were correlated with blood cholesterol. While fiber intake is not correlated with blood cholesterol (p=0.458). The results of multivariate analysis showed that body fat percentage had an effect on cholesterol (p=0.009) with a coefficient of determination of 20%. Conclusion: Fast food consumption patterns, body fat percentage and physical activity are correlated with blood cholesterol, while dietary fiber intake is not correlated with blood cholesterol. Body fat percentage is known to be a factor that affects the blood cholesterol of students.
3823940912I1C018101Identifikasi Parasetamol dan Ibuprofen Dalam Jamu Pegal Linu Menggunakan Spektrofotometri Uv-Vis dan KemometrikParasetamol dan ibuprofen dilaporkan sebagai bahan kimia obat yang ditambahkan ke dalam jamu pegal linu. Metode-metode pada penelitian sebelumnya yang digunakan untuk analisis BKO dalam jamu membutuhkan waktu cukup lama untuk preparasi sampel seperti pemisahan komponen-komponen selain BKO karena jamu memiliki komponen yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode analisis spektrofotometri UV-Vis dengan kemometrik. Analisis spektrofotometri UV-Vis dilakukan dengan software UVProbe untuk mendapatkan hasil absorbansi pada panjang gelombang 200-400 nm. Analisis kemometrik PCA menggunakan Minitab 21 pada rentang panjang gelombang 215-300 nm. Hasil analisis menunjukkan klasifikasi dan pengelompokkan yang baik. Model PCA dapat diaplikasikan ke jamu pegal linu yang beredar di Purwokerto.Paracetamol and ibuprofen has been reported as a medicinal chemical that is added to jamu pegal linu. Several method that have been used to analyze or detect chemical adulteration on jamu use separation as basic concept, which requires substantial times. This study aimed to develop a combination method between spectrophotometry UV-Vis and chemometric to analyze adulterated traditional medicine. Analysis using UV-Vis spectrophotometry was carried out with UVProbe software with the aim of obtaining absorbance results at a wavelength of 200-400 nm. Chemometric analysis, PCA, used Minitab 21 at a wavelength of 215-300 nm. The result of PCA analyze showed good differentiation. PCA model’s can be applicated to jamu pegal linu at Purwokerto.
3824040939L1A019050Penggunaan Arang Aktif untuk Depurasi Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) pada Kerang Hijau (Perna viridis)Perairan Brebes di Jawa Tengah terkontaminasi logam berat, terutama timbal (Pb). Budidaya kerang hijau sangat penting di daerah ini karena kerang hijau dapat hidup di perairan tropis dan dipanen sepanjang tahun. Kerang hijau memiliki kemampuan mengakumulasi logam berat Pb karena sifat mereka yaitu filter feeder. Sampel kerang hijau dari Perairan Brebes mengandung Pb sebesar 0,50 mg/kg, di bawah batas aman yang ditetapkan oleh BPOM (2009) sebesar 1,5 mg/kg. Penelitian ini menggunakan metode depurasi resirkulasi dengan arang aktif selama 24 dan 48 jam untuk mengurangi kandungan logam berat pada kerang hijau. Penelitian ini menunjukkan hasil kandungan Pb yang bervariasi sebesar 0,49 - 0,68 mg/kg. Peningkatan pada penelitian ini diduga disebabkan oleh tingginya kandungan Pb di air sumber yang melebihi ambang batas. Perhitungan nilai EDI, THQ, dan MTI menunjukkan hasil dibawah batas aman yang ditetapkan. Perlakuan yang menunjukkan nilai paling baik yaitu Kontrol 24 jam dengan nilai secara berturut-turut sebesar 1,2 × 10-3 mg/kg/hari, 0,29, dan 2,21 kg/mingguBrebes coastal in Central Java are contaminated with heavy metals, especially lead (Pb). Green mussel cultivation is highly important in this area because green mussels can thrive in tropical waters and be harvested year-round. Green mussels have the ability to accumulate heavy metal Pb due to their filter feeder behavior. Samples of green mussels from the Brebes coastal were found to contain a Pb concentration of 0.50 mg/kg, which is below the safe limit set by BPOM (2009) at 1.5 mg/kg. This research using depuration recirculation method by using activated carbon in a 24 to 48 hour to reduce the heavy metal content on green mussel. Current study showed an increase in Pb heavy metal levels ranging from 0.52 to 0.68 mg/kg. This increase was presumptively caused by the high Pb content in the water source, which exceeds the threshold limit. The calculations of EDI, THQ, and MTI have an results below the established safe limit. The treatment that showed the best value was the 24 hour control with values are 1.2 × 10-3 mg/kg/day, 0.29 and 2.21 kg/week.