Artikelilmiahs

Menampilkan 3.721-3.740 dari 48.749 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
372113386G1H011027HUBUNGAN TINGKAT ASUPAN NATRIUM DAN INTERDIALYTIC WEIGHT GAIN PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS YANG MENJALANI HEMODIALISIS DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJOAsupan natrium yang tinggi pada subjek gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis merupakan salah satu dari terjadinya Interdialytic Weight Gain. Asupan natrium berhubungan erat dengan kontrol tubuh terhadap volume ekstraseluler. Keseimbangan natrium subjek gagal ginal yang menjalani hemodialisis ditentukan oleh asupan garam selama periode interdialisis dan kehilangan pada saat hemodialisis. Metode penelitian adalah analitik observasional dengan rancangan potong lintang. Subjek sebanyak 29 orang diambil secara total sampling yang dilakukan di RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Asupan natrium menggunakan metode food recall 2x24 jam. Pengukuran Interdialytic Weight Gain dengan cara menimbang berat badan subjek. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata umur subjek adalah 55-64 tahun dengan lama hemodialisis 28,17 bulan. Rata-rata asupan natrium subjek tergolong berlebih (176,78%). Hasil uji korelasi Spearman diperoleh nilai p = 0,311 (>0,05) yang artinya tidak terdapat hubungan antara tingkat asupan natrium dan Interdialytic Weight Gain. Penelitian ini disimpulkan tidak terdapat hubungan antara tingkat asupan natrium dan Interdilaytic Weight Gain pada subjek gagal ginjal kronis yang menjalani hemodilaisis.High sodium intake in patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis is one of the Interdialytic Weight Gain. Sodium intake is closely related to the body's extracellular volume control. Sodium balance chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis are determined by the intake of salt during the period interdialisis and lost during hemodialysis. The research method is analytical observational cross-sectional design. Patients were 29 people taken by total sampling conducted in Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospitals Purwokerto. Sodium intake using food recall 2x24 hours. Interdialytic Weight Gain Measurement by weighing the weight of the subject. The results showed that the average age of patients was 55-64 years old with long hemodialysis 28.17 a month. The average intake of sodium patients classified excess (176.78%). Spearman correlation test results obtained by value p = 0,311 (> 0.05), which means there is no significant correlation between the level of sodium intake and Interdialytic Weight Gain. This study concluded there was no correlation between the level of sodium intake and Interdilaytic Weight Gain in patients with chronic kidney disease undergoing hemodilaisis.
372213528H1F009074GEOLOGI DAN STUDI PALINOLOGI
DAERAH KARANGANYAR DAN SEKITARNYA
KECAMATAN KARANGANYAR KABUPATEN PURBALINGGA
PROVINSI JAWA TENGAH
Secara administratif lokasi penelitian berada pada tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Karanganyar, Kecamatan Bobotsari dan Kecamatan Kertanegara. Posisi geografis berada pada 321255 mE–326255 mE dan 9193375 mN–9188375 mN dengan luas daerah 25 km2. Satuan geomorfologi daerah penelitian dibagi menjadi empat satuan, yaitu Satuan Lembah Antiklin Tangkisan, Satuan Punggungan Sinklin Gondang, Satuan Punggungan Homoklin Ketipek-Kepetek dan Satuan Denudasional Struktur Patahan Karanganyar. Stratigrafi daerah penelitian dibagi menjadi tiga satuan tidak resmi dari tua ke muda, yaitu Satuan batulempung-batupasir (Formasi Tapak), Satuan batupasir (Formasi Kalibiuk) dan Satuan endapan aluvial. Struktur geologi yang mempengaruhi daerah penelitian terdiri dari struktur lipatan dan sesar. Struktur lipatan berupa antiklin dan sinklin yang berarah relatif barat–timur. Struktur sesar berupa sesar mendatar menganan dengan arah relatif baratlaut–tenggara. Tektonik kompresi pada daerah penelitian mengakibatkan satuan batuan terangkat, terlipat dan tersesarkan. Studi palinologi Satuan batulempung-batupasir (Formasi Tapak) dan Satuan batupasir (Formasi Kalibiuk) masuk kedalam Zona Dacrycarpidites autraliensis dengan umur Pliosen Akhir. Berdasarkan kurva dinamika perubahan muka laut dari data palinologi, maka daerah penelitian dibagi menjadi 4 zona, yaitu Zona I (AW1–AW5) dipengaruhi oleh proses regresi dengan iklim kering, Zona II (AW5–AW12) dipengaruhi oleh proses transgresi dengan iklim basah, Zona III (AW12–AW14) dipengaruhi oleh proses transgresi dengan iklim basah dan Zona IV (AW14–AW25) dipengaruhi oleh proses transgresi dengan iklim basah. Iklim purba yang berkembang pada daerah penelitian ditentukan dengan melihat kurva dinamika perubahan muka laut dari data polinomorf marine.
Administratively the study site located in three districts, there are District Karanganyar, District Bobotsari and District Kertanegara. The geographical position is at mE 321255–326255 mE and 9193375 mN–9188375 mN with an area of 25 km2 area. Geomorphological unit of study area was divided into four units, consist of Lembah Antiklin Tangkisan Unit, Punggungan Sinklin Gondang Unit, Punggungan Homoklin Ketipek-Kepetek Unit and Denudasional Stuktur Patahan Karanganyar Unit. Stratigraphy study area was divided into three units unofficial from old to young, consist of Claystone-sandstone unit (Tapak Formation), Sandstone unit (Kalibiuk Formation) and Alluvial deposition unit. Geological structures that affect the structure of the study area consists of folds and faults. The structure of the folds form trending anticline and syncline relatively west–east. Fault structure in the form of a right slip fault turn to the right with relatively northwest–southeast direction. Tectonic compression in the area of research resulted in lithologies uplifted, folded and faulted. Palynology study of Claystone-sandstone unit (Tapak Formation) and Sandstone unit (Kalibiuk Formation) into Zone Dacrycarpidites autraliensis with Late Pliocene age. Based on the palynology data of sea level change curve, the study area was divided into four zones, consists of Zone I (AW1–AW5) affected by the process of regression with dry climates, Zone II (AW5–AW12) affected by the transgression with wet climates, Zone III (AW12–AW14) affected by the transgression with the wet climate and zone IV (AW14–AW25) affected by the transgression with wet climates. Ancient climate that developed in the research area is determined by looking at the sea level change curve of the marine polinomorf.
372313529G1F011046FORMULASI GEL ANTI JERAWAT EKSTRAK ETIL ASETAT BUNGA KECOMBRANG (Nicolaia speciosa) DENGAN BASIS CARBOPOL 940 DAN UJI AKTIVITASNYA
TERHADAP Staphylococcus aureus
INTISARI
Bunga kecombrang (Nicolaia speciosa) dengan kandungan kimia flavonoid, alkaloid, steroid, dan triterpenoid memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat formula gel ekstrak bunga kecombrang dengan basis carbopol 940 yang memenuhi syarat evaluasi selama penyimpanan, serta mengetahui aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus.
Ekstraksi simplisia bunga kecombrang dilakukan secara maserasi bertingkat menggunakan pelarut n-heksan dan etil asetat. Formula gel dibuat dengan variasi kadar carbopol 940 (0,5%, 1%, 1,5%, dan 2% b/v) mengandung 3% b/v ekstrak bunga kecombrang. Formula terbaik yang memenuhi syarat sifat fisik dan stabilitas sediaan diuji aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus menggunakan metode difusi sumuran. Data organoleptik, homogenitas dan pH dianalisis secara deskriptif, sedangkan data viskositas, daya sebar, dan daya lekat dianalisis menggunakan Anova satu arah dilanjutkan dengan uji LSD/Dunnet T3. Data zona hambat bakteri formula terbaik dibandingkan dengan kontrol positif (gel Clindamycin) dan negatif menggunakan uji T independen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar Carbopol 940 dapat mempengaruhi sifat fisik dan stabilitas sediaan. Formula 1 merupakan formula terbaik yang memenuhi syarat sifat fisik dan stabilitas sediaan dengan nilai pH 6, viskositas 226.800-396.000 cps, daya lekat 1,00-1,92 detik, dan daya sebar 5,0-5,2 cm. Formula 1 menunjukkan aktivitas antibakteri dibanding kontrol negatif dengan zona hambat sebesar 4,23 mm dan tidak berbeda signifikan dengan kontrol positif gel Clindamycin. Namun viskositas Formula 1 sangat tinggi dan aktivitas antibakterinya lebih rendah dibanding ekstrak tanpa formulasi. Sehingga perlu dilakukan formulasi bentuk sediaan topikal lain untuk mengoptimalkan sifat fisik dan aktivitas antibakteri sediaan bunga kecombrang.
ABSTRACT
Etlingera flower (Nicolaia speciosa) which contains chemical compounds such as flavonoids, alkaloid, steroids and triterpenoids have an activity as antibacterial agents. The purpose of this research is to make a gel formulation of etlingera flower extract with Carbopol 940 that qualified from required of formulation evaluation during storage, and to know the activity of antibacterial agents againts Staphylococcus aureus.
Extraction of etlingera flower’s simplisia is carried out by storied maceration using n-hexane and ethyl acetate solvents. A gel formulation are made with variation of Carbopol 940 (0,5%, 1%, 1,5% and 2% b/v) contains 3% b/v etlingera flower’s extract. The best formula which qualified from evaluation of gel formulation is tested for an antibacterial activity against Staphylococcus aureus using well diffusion method. The organoleptyc data, homogenity and pH were analyzed descriptively, while the viscosity data, dispersive power, and the adhesive power was analyzed using one way ANOVA continued with LSD/Dunnet T3 test. The inhibition zone’s best formula data is compared with the positive (Clindamycin gel) and negative control using an independent T test.
The results showed that levels of Carbopol 940 may affect the physical properties and stability of the preparations. Formula 1 is the best formula qualified physical properties and stability of the preparation with a pH value of 6, 226.800 to 396.000 cps of viscosity, adhesive power 1,00 to 1,92 seconds, and the dispersive power from 5,0 to 5,2 cm. Formula 1 shows the antibacterial activity compared negative control with inhibition zone of 4,23 mm and do not differ significantly from the positive control of Clindamycin gel. But Formula 1’s viscosity is very high and antibacterial activity is lower than the extract without formulations. So we need another topical formulation dosage forms to optimize the physical properties and the antibacterial activity of etlingera flower’s preparations.
372413534G1F011059IDENTIFIKASI SENYAWA KIMIA EKSTRAK ETANOLIK DAUN KERSEN (Muntingia calabura L.) DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI Propionibacterium acnesAcne vulgaris (jerawat) merupakan penyakit kulit yang sampai saat ini menjadi masalah kesehatan yang serius khususnya dikalangan remaja atau dewasa muda. Salah satu bakteri yang menyebabkan munculnya jerawat adalah Propionibacterium acnes. Kersen (Muntingia calabura) merupakan salah satu tumbuhan yang banyak digunakan dalam masyarakat. Dalam daun kersen (M.calabura) terdapat kandungan senyawa flavonoid, saponin polifenol dan tannin yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa kimia dalam ekstrak etanol daun kersen dan mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun kersen dengan melihat nilai KHM dalam menghambat pertumbuhan bakteri P. acnes.

Daun kersen kering diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% selama 3x24 jam. Identifikasi kandungan senyawa kimia dilakukan dengan metode KLT. Aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun kersen terhadap bakteri P. acnes dilakukan dengan metode difusi Kirby Bauer. Digunakan pembanding antibiotik klindamisin sebagai kontrol positif dan aquades sebagai kontrol negatif.

Hasil Ekstraksi diperoleh ekstrak kental sebanyak 90 gram dengan rendemen sebesar 12,85 %. Profil KLT yang dihasilkan menunjukkan bahwa ekstrak mengandung flavonoid dan tannin. Dengan masing-masing Rf 80 dan 73. Nilai KHM yang diperoleh adalah 7,8 ppm dengan daya hambat sebesar 17,85 %. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun kersen berpotensi sebagai antibakteri terhadap bakteri P. acnes.
Acne vulgaris (acne) is a skin disease which until now has become a serious health problem, especially among teenagers or young adults. One of the bacteria that causes acne is Propionibacterium acnes. Cherry (Muntingia calabura) is one plant that is widely used in society. In the cherry leaf (M.calabura) are compounds flavonoids, saponins polyphenols and tannins which have antibacterial activity. Thus this study aims to determine the content of chemical compounds in ethanol extract of leaves of cherry and determine the antibacterial activity of the ethanol extract of leaves of cherry to see the value of the MIC inhibit the growth of P. acnes bacteria.

Dried cherry leaves extracted by maceration method using ethanol 96% for 3x24 hours. Identification of chemical compounds made by the method of TLC. Antibacterial activity of ethanol extract of leaves of cherry against P. acnes bacteria carried by Kirby Bauer diffusion method. Comparator antibiotic clindamycin used as a positive control and distilled water as a negative control.

The extraction results obtained viscous extract as much as 90 grams with a yield of 12,85%. TLC profiles generated demonstrate that the extract contains flavonoids and tannins.With each of Rf 80 and 73. MIC value obtained was 7,8 ppm with inhibition of 17,85%. From the results obtained it can be concluded that the ethanol extract of leaves of cherry potential as an antibacterial against P. acnes bacteria.
372513542G1B011002HUBUNGAN ANTARA FAKTOR-FAKTOR INDIVIDU DENGAN KINERJA KARYAWAN BAGIAN PRODUKSI (STUDI PADA KARYAWAN PT SURTECKARIYA INDONESIA
CIBITUNG)
Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Berdasarkan survey pendahuluan jumlah NG pada bulan juni 2015 telah melebihi target maximal NG (2%) yaitu mencapai 3,14% dari total produksi, selain itu tingginya angka absen karyawan (4,23%) menunjukkan adanya ketidak efektifan kinerja karyawan. Faktor-faktor individu yang mempengaruhi kinerja yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, masa kerja, kompetensi dan motivasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor individu yang berhubungan dengan kinerja karyawan PT Surteckariya Indonesia Cibitung. Jenis dan metode penelitian ini adalah observasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 52 responden. Data didapatkan melalui wawancara responden dengan menggunakan kuesioner dan observasi langsung menggunakan checklist. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat (Chi square). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan signifikan dengan kinerja adalah keterampilan (p=0,008) . Sedangkan variabel yang tidak berhubungan secara signifikan yaitu jenis kelamin (p=0,511), tingkat pendidikan (p=1,000), masa kerja (p=0,190), pengetahuan kerja (p=0,506) dan motivasi (p=0,118). Disarankan perusahaan sebaiknya mengadakan pelatihan secara rutin tentang pengoperasian mesin/ peralatan kerja dan pelatihan identifikasi bahaya di ruang kerja.Performance is the result of the quality and quantity of work accomplished by an employee in carrying out duties in accordance with the responsibilities assigned to him. Based on preliminary survey, number of NG in June 2015 has exceeded the target maximal NG (2%) which reached 3.14% of total production. In addition, the high number of absent employees (4.23%) showed the ineffectiveness of employee performance. Individual factors that affect performance are age, gender, education level, length of service, competence and motivation. The purpose of this
2
study was to determine the factors associated with the individual performance of employees of PT Surteckariya Indonesia Cibitung. The type and method of this study was observational using cross sectional approach. The total sample of 52 respondents. Data were obtained through interviews using questionnaires and direct observation using a checklist. Data analysis was performed using univariate and bivariate (Chi square). Results of this study showed that the significant variables related to the performance is a skill (p = 0.008). While unrelated variables significantly were gender (p = 0.511), educational level (p = 1.000), age (p = 0.190), a working knowledge (p = 0.506) and motivation (p = 0.118). Suggested the company should conduct regular training on the operation of machinery/equipment and hazard identification training in the workspace
372613531P2CC12071ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN BANJARNEGARAPURWOTO, Program Studi Manajemen Program Pasca Sarjana Universitas Jenderal Soedirman “ Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Kantor Pertanahan Kabupaten Banjarnegara”. Komisi Pembimbing Hj.Wiwiek R.Adawiyah, M.sc, Ph.D. dan Dr.Adi Indrayanto, SE, M.Sc.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja Kantor Pertanahan Kabupaten Banjarnegara dan untuk memberi rekomendasi kepada Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Banjarnegara guna mengatasi permasalahan yang dihadapi. Permasalahan yang dihadapi Kantor Pertanahan Kabupaten Banjarnegara yaitu penyelesaian layanan pertanahan yang belum tepat waktu sesuai dengan ketentuan dan rendahnya produktifitas sertipikat hak atas tanah.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan action research dengan pendekatan kualitatif. Model penelitian menggunakan Organization Level Diagnostic Model yang dikembangkan oleh Cumming and Worley (2005), dalam diagnosis model ini peneliti meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja, baik dari internal maupun eksternal Kantor Pertanahan Kabupaten Banjarnegara. Teknik pengumpulan data utama menggunakan Focus Group Discusion (FGD) sedangkan dalam penentuan para informan menggunakan purposive sampling. Analisis data menggunakan teori Miles dan Huberman (1992), yaitu aktifitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan dilakukan secara terus menerus sampai tuntas.
Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja Kantor Pertanahan Kabupaten banjarnegara disebabkan karena faktor internal dan eksternal. Faktor internal, yaitu kualitas database spatial Geo KKP rendah, kurangnya kualitas dan kuantitas Sumber Daya Manusia (SDM), pelayanan front office belum responsif dan penggunaan jaringan Information Technology (IT) belum optimal. Faktor eksternal terdiri : jumlah PPAT masih kurang, tidak ada satupun camat (ex-officio) yang mengajukan menjadi PPATS, animo masyarakat dalam mensertipikatkan tanahnya masih rendah.
Berdasarkan hasil kesimpulan, maka dalam upaya meningkatkan efektifitas Kinerja Kantor Pertanahan Kabupaten Banjarnegara, peneliti merekomendasikan faktor internal yaitu: perbaikan kualitas database spatial Geo KKP dengan Geographic Information Mapping (GIM) lapang, penggunaan surveyor berlisensi untuk pengukuran bidang tanah, peningkatan kualitas SDM petugas loket front office dan diklat, penataan kelengkapan front office, pengadaan peta tematik zoning jaringan provider. Sedangkan faktor ekternal yaitu : penambahan jumlah PPAT/Notaris, camat menjadi PPATS, penyuluhan pertanahan kepada masyarakat di desa-desa.


A SUMMARY
PURWOTO, program of Study Program Management post-graduate Jenderal Sudirman University “Analysis of The factors that influence The performance Land Office Banjarnegara Regency". The Commission Adviser Hj. Wiwiek R. Adawiyah, m. Sc, Ph.D. and Dr. Adi Indrayanto, SE, M.Sc.
The aim of the research is to know these factors which influence the performance Land Office Banjarnegara Regency and to make recommendations to the Land Office Banjarnegara Regency to overcome problems that need to be addressed. Problems faced by Land Office Banjarnegara Regency that land settlement services which have not yet been on time in accordance with provisions and low productivity certificate over land rights.
In this research, researchers used action research with the qualitative research approach. Methodology of the research is Organization Level Diagnostic model that has been developed by Cumming and Worley (2005), in the diagnosis, researcher examined factors which affect performance, both from internal and external Banjarnegara Regency Land Office. Technique of Data collection used Focus Group Discussion (FGD) while in determining the informers used purposive sampling. To analysis of data, theory Miles and Huberman on (1992) was used, the activities of analyzing of the data was done interactively and been conducted on a regular basis to complete.
Results of research show that these factors influence the performance of Land Office Banjarnegara Regency because of internal and external factors. The Internal factors are low quality of database spatial Geo KKP, lack of Human Resources (HR) , service of front office network usage has not been responsive and Information Technology is far from optimal.) External factors consist of : lack of number of PPAT, there is no sub-district (ex-officio) that put forward to PPATS, society interest in land certification is still low.
Based on the result conclusion, in an effort to enhance the effectiveness performance Land Office Banjarnegara Regency, researcher recommends internal factors, namely: improving database spatial Geo KKP with Geographic Information Mapping (GIM) spacious, using surveyor licensed to the measurement of land, increasing the human resource quality in the ticket window front office and training, ordering the front office thematic map a zoning program, providing the procurement network provider. Meanwhile, the external factors are increasing the number of PPAT,/Notary, head of the sub-district to PPATS, and land socialization to people in the villages.


Keywords : General environment, Desaign Component (Strategy, Structure, Technology, Human Recource System, Measurement System)

372713533G1F011035IDENTIFIKASI SENYAWA KIMIA DAN UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOLIK DAUN KERSEN (Muntingia calabura L.) SEBAGAI ANTIFUNGI Candida albicans.Candida albicans termasuk fungi seksual diploid (sebuah bentuk ragi), sebagai penyebab infeksi oral dan vaginal oportunis pada manusia. Daun kersen (Muntingia calabura L.) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder golongan flavonoid, triterpenoid, tanin, saponin dan steroid yang berpotensi sebagai antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa kimia dalam ekstrak etanol daun kersen yang memiliki aktivitas antifungi terhadap fungi C. albicans yang dinyatakan dengan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM).
Penelitian ini bersifat eksploratif. Bahan uji berupa ekstrak daun kersen dibuat dengan metode maserasi menggunakan etanol 96% selama 3x24 jam. Uji aktivitas antifungi dilakukan dengan metode difusi dengan mengukur diameter zona jernih. Identifikasi kandungan senyawa flavonoid dilakukan dengan metode KLT. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif untuk identifikasi golongan senyawa aktif sedangkan uji aktivitas antifungi dianalisis dengan penentuan KHM.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kersen memiliki aktivitas antifungi terhadap C. albicans. Ekstrak etanol daun kersen memiliki nilai KHM yaitu 15,625 ppm dengan zona hambat 1 mm persentase hambat 14,28%. Identifikasi senyawa kimia dari ekstrak ekstrak etanol daun kersen dengan KLT terdeteksi adanya senyawa golongan flavonoid, tannin dan saponin.
Candida albicans including sexual fungi diploid (a form of yeast), as the cause of oral and vaginal opportunistic infections in humans. Cherry leaf (Muntingia calabura L.) is known to contain secondary metabolites flavonoid compounds, triterpenoids, tannins, saponins and steroids potential as an antimicrobial. This study aims to determine the chemical compounds in ethanolic extract of leaves of cherry which have antifungal activity against C. albicans fungi represented by the MIC (Minimum Inhibitory Concentration).
This research is explorative. Test material in the form of cherry leaf extract prepared by maceration method using ethanolic 96% for 3x24 hours. Antifungal activity test was conducted using diffusion by measuring the diameter of the clear zone. Identification of flavonoid compounds made by the method of TLC. Descriptive data were analyzed qualitatively to identify classes of active compounds while antifungal activity test were analyzed by determining the Minimum Inhibitory Concentration (MIC).
The results showed that ethanolic extract of leaves of cherry have antifungal activity against C. albicans. Ethanolic extract of leaves of cherry has a MIC value is 15.625 ppm with inhibition zone of 1 mm. Identification of chemical compounds from ethanolic extract of leaves of cherry extract by TLC identified the flavonoid compounds, tannins and saponins.
372813535G1D011054HUBUNGAN PEMENUHAN TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA DENGAN KETERBUKAAN DIRI SISWA DI SMA N 1 SOKARAJA HUBUNGAN PEMENUHAN TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA DENGAN KETERBUKAAN DIRI SISWA DI SMA N 1 SOKARAJA
Shinta Adesti Eka Rini 1, Eva Rahayu 2, Asep Iskandar 3
1Mahasiswa Jurusan Keperawatan Universitas Jendral Soedirman
2Dosen Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jendral Soedirman
3Dosen Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jendral Soedirman

shintaadestie@gmail.com
ABSTRAK
Latar Belakang : Remaja memiliki tugas perkembangan yang harus dipenuhi dalam suatu keluarga. Kondisi keluarga yang kacau, seperti perceraian dapat mempengaruhi tugas tersebut. Keterbukaan diri merupakan aspek penting bagi remaja agar dapat diterima di lingkungan sosial. Kegagalan dalam pemenuhan tugas perkembangan remaja dapat mempengaruhi keterbukaan diri.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemenuhan tugas perkembangan keluarga dengan keterbukaan diri remaja.
Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan data menggunakkan stratified random sampling dengan jumlah responden 292 orang yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, seperti berikut . Instrumen yang digunakan adalah tugas perkembangan keluarga dan keterbukaan diri yang telah dimodifikasi. Data dianalisis menggunakan uji chi square dengan tingkat kemaknaan 0,05.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan nilai p = 0,228.
Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan antara pemenuhan tugas perkembangan keluarga dengan keterbukaan diri siswa di SMA N 1 Sokaraja.
Saran : Bisa dijadikan sebagai sumber informasi tentang keterbukaan diri dan tugas perkembangan keluarga.

Kata Kunci : keterbukaan diri, tugas perkembangan keluarga, remaja.
THE RELATIONSHIP OF COMPLIANCE DEVELOPMENT FAMILY TASK WITH SELF DISCLOSURE IN STUDENTS OF SENIOR HIGH SCHOOL SOKARAJA

Shinta Adesti Eka Rini 1, Eva Rahayu2, Asep Iskandar 3
1Student of Nursing Major of University of Jendral Soedirman
2Lecturer of Nursing Major of Health Scienes Faculty of University of Jendral Soedirman
2Lecturer of Nursing Major of Health Scienes Faculty of University of Jendral Soedirman
shintaadestie@gmail.com

ABSTRACT

Background: An adolescent should fulfills developmental task in a family. If family in a mess, like divorce, it could affects the task. Self-disclosure is an important aspect in adolescent to fulfill role in social environment. If adolescent fail to fulfill the developmental task, it could affect to self-disclosure.
Objective: Purpose of this study is find the correlation between fulfill developmental task of family with self-disclosure.
Method: This study used cross sectional approach. The sampling technic used stratified random sampling which anount of respondents is 292 people whom appropriate with inclusion and exclusion criteria. Data analyzed by chi square test with significant value is 0,05.
Results: The bivariate test shown p value is 0,228.
Conclusion: There is no correlation between fulfill developmental task of family with self-disclosure.
Suggestion: Can be refference about development family task and self disclosure.


Keywords: development family task, self disclosure, adolescent.
372913536P2CB13008ANALISIS PENGARUH DAMPAK DIMENSI KEBINGUNGAN KONSUMEN TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN, WORD OF MOUTH (WOM), KEPERCAYAAN, DAN LOYALITAS KONSUMEN PADA PT. NASMOCO CABANG PURWOKERTOConsumer confusion proneness (similarity, overload, dan ambiguity confusion) menjadi masalah bagi konsumen dan pemasar. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan menguji consumer confusion proneness terhadap kepuasan konsumen, word of mouth, kepercayaan, dan loyalitas. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode survei pada konsumen PT. Nasmoco Cabang Purwokerto. Objek penelitian ini yaitu mobil city car, dan sampel penelitian ini melibatkan 103 responden yang memiliki pengalaman dalam membeli mobil. Alat pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pengukuran skala likert. Responden memberikan jawaban pada rentang jawaban dari sangat tidak setuju hingga sangat setuju. Kemudian, analisisnya menggunakan analisis Structural Equation Modelling (SEM).

Dari hasil analisis SEM diketahui pengembangan model berbasis teori dalam penelitian ini sebanyak 7 variabel dan 23 indikator. Pada tahap Confirmatory Factor Analysis (CFA) telah memenuhi standar validitas. Kemudian, pada uji pengukuran terdiri dari uji validitas konstruk dan uji reliabilitas seluruhnya telah terpenuhi. Pada asumsi SEM yang terdiri dari evaluasi normalitas data, outliers, dan multicolinierity&singularity juga telah memenuhi kriteria yang disyaratkan. Dari 8 kriteria indeks kesesuaian model (goodness of fit test) yang dijadikan acuan dalam penelitian ini terdapat sebanyak 6 kriteria yang masuk kategori Baik dan sisanya sebanyak 2 kriteria masuk kategori Marginal. Berdasarkan hasil uji hipotesis diketahui bahwa similarity confusion dan ambiguity confusion memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap kepuasan konsumen, word of mouth, kepercayaan. Kemudian overload confusion memiliki dampak positif terhadap kepuasan konsumen word of mouth, kepercayaan. Selanjutnya penelitian ini mengujikan konsumen, word of mouth, kepercayaan memiliki dampak positif terhadap loyalitas.
Consumer confusion proneness (similarity, overload, ambiguity and confusion) become a problem for consumers and marketers. Therefore, this study was conducted to test consumer confusion proneness to customer satisfaction, word of mouth, trust, and loyalty. This research is a quantitative research using consumer survey at PT. Nasmoco Branch Purwokerto. The object of this study is a car city car, and samples of this study involved 103 respondents who have experience in buying a car. Measurement tools used in this study using a Likert scale measurement. Respondents gave answers on the answer ranges from strongly disagree to strongly agree. Then, the analysis using the analysis of Structural Equation Modeling (SEM).

Results of SEM analysis development model based on theory in this study were 7 variables and 23 indicators. Confirmatory Factor Analysis (CFA) as met the standards of validity. Then, test measurement of construct validity and reliability test have good criteria. On the SEM assumption consists of evaluate the normality of the data, outliers, and multicolinierity & singularity also have good criteria. 8 criterias of goodness of fit test were used as reference in this study were six criteria in the good category and two criteria categorized as marginal. Based on the of hypothesis testing results was generally known that the similarity confusion and ambiguity confusion have a significant negative impact on consumer satisfaction, word of mouth, trust. Then overload confusion have a positive impact on consumer satisfaction word of mouth, trust. Furthermore, this study examined the consumers, word of mouth, the trust has a positive impact on loyalty
373013538D1E010208PERSENTASE PRODUK, KADAR PROTEIN DAN VISKOSITAS MAYONES YANG DIBUAT DARI KUNING TELUR YANG BERBEDAPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai jenis kuning telur terhadap persentase produk, kadar protein dan viskositas pada pembuatan mayones. Materi yang digunakan pada penelitian adalah 37 butir telur ayam niaga petelur, 64 butir telur ayam arab dan 30 butir telur itik masing-masing berumur 3 hari, minyak nabati, mustard, cuka, garam, gula, dan air. Penelitian menggunakan metode eksperimental. Penghitungan persentase produk, kadar protein dan viskositas menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Perlakuan yang di uji adalah mayones dari telur ayam niaga petelur (T1), mayones dari telur itik (T2), mayones dari telur ayam arab (T3) dan diulang sebanyak 8 kali, Peubah yang diukur adalah persentase produk (%), kadar protein (%), dan viskositas (cPs). selanjutnya dilakukan analisis variansi data dan dilanjutkan dengan uji orthogonal kontras. Hasil analisis variansi menunjukan bahwa perlakuan penggunaan kuning telur yang berbeda pada mayones berpengaruh nyata (P˂0.05) terhadap kadar protein dan viskositas mayones, serta berpengaruh tidak nyata (P˃0.05) terhadap persentase produk. Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah penggunaan kuning telur itik mempunyai kualitas paling optimum diantara kuning telur lain ditinjau dari kualitas fisio-kimia yaitu : persentase produk, kadar protein dan viskositas.
This study aims to determine the effects of various types of egg yolks to the percentage of the product, protein content and viscosity in the manufacture of mayonnaise. The materials used in the study were 37 commercial eggs of laying chicken, 64 Arabic chicken eggs and 30 duck eggs of 3 days old, vegetable oil, mustard, vinegar, salt, sugar, water and nutrient agar medium. This research used experimental method. Percentage of the product, protein content and viscosity were calculated with the completely randomized design. The treatments tested were mayonnaise from commercial eggs of laying chicken (T1), mayonnaise from duck eggs (T2), mayonnaise from Arab chicken eggs (T3), each treatments were repeated 8 times. The variables measured were percentage of the product (%), protein content (%), and viscosity (cPs), then analyzed the data variance and proceed with orthogonal contrast test. The results of variance analysis showed that the treatment of the use of different yolks had a significant effect (P˂0.05) on the protein content of mayonnaise and viscosity but not significant (P˃0.05) on percentage of the product. This study concludes that the use of duck egg yolks has the most optimum quality of egg yolk in terms of physio-chemical qualities, namely: the percentage of the product, protein content and viscosity.
373113539G1B011042Perbedaaan Keluhan Low Back Pain Terhadap Pemakaian Sarana Kerja ERgonomis Pekerja Batik Tulis Desa Kauman SokarajaPekerja batik membutuhkan tiga sarana kerja ergonomis dalam melakukan
aktivitas melukis atau membatik. Sarana kerja tersebut terdiri dari gawangan,
meja kompor dan kursi. Rancangan sarana kerja ergonomis ini telah
mempertimbangkan aspek antropometri pekerja. Tujuan penelitian ini
menemukan model sarana kerja ergonomis yang dapat mengurangi timbulnya
keluhan low back pain. Metode penelitian menggunakan quasi eksperimen dengan
rancangan pretest posttest design. Sampel pada penelitian ini berjumlah 15 orang
pekerja batik. Analisis uji data yang digunakan adalah uji wilcoxon karena
keseluruhan data berdistribusi tidak normal. Ukuran rancangan gawangan
memiliki tinggi 90-110 cm, lebar alas 35 cm, panjang alas dan panjang gawangan
110 cm. Ukuran rancangan meja kompor memiliki tinggi 35-55 cm, lebar 35 cm
dan panjang 30 cm. Ukuran kursi memiliki tinggi 35-45 cm, panjang dan lebar
alas duduk 40 cm, tinggi sandaran 25-35 cm dan lebar sandaran 40 cm. Hasil
penelitian ini menyatakan bahwa (p<α) yaitu adanya perbedaan keluhan low back
pain sebelum dan setelah menggunakan rancangan sarana kerja ergonomis.
Pekerja diharapkan dapat menggunakan sarana kerja ergonomis dalam kegiatan
aktivitas membatik.
Batik workes need three means of ergonomic work in an activity or batik painting.
The working facilities consist og gawangan, the table of stove and chairs. The
ergonomic design of work facilities have to consider aspects of antropometry
workers. The purpose of this study found an ergonomic work tool models that can
reduce the incidence of low back pain comlaints. The research method using a
quasy experimental with pretest posttest design. The sample of this studyare 5
batik’s worker. Test analysis of the data used is Wilcoxon test because overall
distri bution data is not normal. Gawangan design size has a height of 90-110
cm, width 35 cm, the pedestal lenght and 110 cm long gawangan. Size design
stove table heigt 35-55 cm, width 35 cm and 30 cm long and 40 cm wide cushion,
backrest height 25-35 cm and widht of 40 cm back rest. Results of this study
stated that ( p < α ), namely the defference in complaints of low back pain before
and after using the ergonomic design of work facilities. Wokers are expected to
use the means of ergonomic work in the activities of batik activity.
373213540G1B011014FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU TOKOH MASYARAKAT DALAM PENCEGAHAN LEPTOSPIROSIS DI DESA KEDUNGPRING KECAMATAN KEMRANJENLeptospirosis merupakan penyakit yang menyerang hewan maupun manusia (zoonosis) yang tersebar di seluruh dunia dan masalah kesehatan masyarakat yang penting di negara berkembang. Tahun 2014 kasus leptospirosis di Kabupaten Banyumas 5 kasus dengan 4 kasus diantaranya di Desa Kedungpring Kecamatan Kemranjen. Membina peran serta masyarakat perlu dilakukan dengan mengoptimalkan sumber daya serta kerjasama masyarakat. Tokoh masyarakat perlu dilibatkan dalam pencegahan leptospirosis. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku tokoh masyarakat dalam pencegahan leptospirosis di Desa Kedungpring Kecamatan Kemranjen. Metode penelitian menggunakan rancangan survey dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah tokoh masyarakat formal dan informal sebanyak 86 orang. Sampel dipilih menggunakan total sampling dengan kriteria inklusi eksklusi, sampel terpilih sebanyak 74 responden. Uji statistik menggunakan Chi square dengan taraf signifikan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pendidikan responden dasar 45,9%, pengetahuan baik 60,8%, sikap mendukung 67,6%, dan peran petugas kesehatan baik 100%. Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan (p=0,167), pengetahuan (p=0,254), dan sikap (p=1,000) dengan perilaku tokoh masyarakat dalam pencegahan leptospirosis. Tokoh masyarakat diharapkan dapat mencari informasi mengenai leptospirosis dan menghimbau masyarakat untuk melakukan pencegahan leptospirosis.Leptospirosis is zoonosis of worldwide distribution, and an important public health problem in developing countries. In 2014, leptospirosis cases in Banyumas there were 4 from 5 cases from Kedungpring village, Kemranjen district. Fostering community participation needs to be done to optimize resources and community cooperation. Community leaders should be involved in the prevention of leptospirosis. This study aimed to analyze the factors related to prevention behaviour of Leptospirosis in the community leaders in Kedungpring village, Kemranjen district. The research method used survey design with Cross sectional approach. The population of this research was 86 people from formal and informal community leaders. The sample was selected using total sampling technique with criteria of inclusion and exclusion, sample selected was 74 respondents. Chi square test was used with level of significant α=0,05. The results showed that there were 45.9% the level of basic education, 60.8% good knowledge, attitude 67.6% support, and 100% the role of health workers was good. There was no relationship between the level of education (p=0.167), knowledge (p=0.254), and attitude (p=1.000) with the behavior of community leaders in the prevention of Leptospirosis. Community leaders were expected to seek information of Leptospirosis and influence the community to take precautions of Leptospirosis.
373313541G1B011082FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI
REMAJA PUTRI MELAKUKAN AKTIVITAS SEKSUAL PRANIKAH
(Studi Kualitatif pada Remaja Putri Tahap Menengah di Kecamatan Cilacap Tengah Kabupaten Cilacap Tahun 2015)
Remaja tahap menengah adalah usia dimana gairah remaja sedang berada di puncak. Salah satu kebutuhan yang menjadi perhatian akibat keadaan tersebut adalah hak reproduksi, namun sumber informasi mengenai kesehatan reproduksi yang didapatkan remaja tidak akurat sehingga hal ini dapat mempengaruhi perilaku seksual berisiko. Perilaku seksual sangat luas mulai dari berdandan, mejeng, merayu, masturbasi, berpegangan tangan, berpelukan, kissing, necking, petting, dan intercourse. Remaja putri di Kecamatan Cilacap Tengah menempati posisi tertinggi angka remaja hamil dalam lingkup Kota Adminstratip Cilacap tahun 2014. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor terkait pengetahuan, sikap, persepsi, komunikasi, peran guru BK, peran orang tua, dan peran kelompok sebaya yang menjadi latar belakang remaja putri melakukan aktivitas seksual pranikah. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian didapatkan bahwa pengetahuan terkait perilaku seksual yang masih belum diketahui subyek penelitian antara lain masturbasi, necking, dan petting. Persepsi perilaku seksual bervariasi, namun terdapat subyek penelitian yang mempersepsikan intercourse adalah hal yang biasa dan boleh dilakukan. Terdapat 1 subyek penelitian remaja putri yang mendukung sikap dari mulai perilaku berdandan hingga intercourse. Faktor pendukung komunikasi langsung pada subyek penelitian antara lain saran saudara, mendengar cerita, melihat maupun ajakan teman sedangkan faktor pendukung komunikasi tidak langsung adalah dari media cetak, elektronik, dan online. Semua subyek penelitian tidak pernah mendapat informasi mengenai perilaku seksual dari guru BK, semua orang tua dari subyek penelitian tidak menginformasikan mengenai perilaku seksual, dan semua subyek penelitian mendapat informasi perilaku seksual dari teman sebaya dan melakukan perilaku seksual dengan pacar. Remaja seharusnya mencari informasi kesehatan reproduksi dari sumber yang akurat agar tidak melakukan perilaku seksual berisiko.Teens intermediate stage is the age where youthful passion was at the peak. One kind of needs that concern as a result of these circumstances is the right of reproduction, but the source of information on reproductive health of adolescents inaccurate obtained so this may affect risky sexual behavior. Sexual behavior are take very wide ranging and class include grooming or dressing, being a stylish, seduce, masturbation, holding hands, hugging, kissing, necking, petting, and intercourse. Girls in Central Cilacap were took highest position numbers of pregnant teens in scope Cilacap Adminstrative City in 2014. The aim of this study was to determine the factors that have related with knowledge, attitudes, perception, communication, counseling teacher role, the role of parents, and the role of the peer group background of girls’s engage in sexual activity before marriage. This research method using descriptive qualitative. The result showed that the knowledge that have related to sexual behavior are still unknown research subjects include masturbation, necking and petting. Perceptions of sexual behavior varies, but the research subjects who perceive intercourse was common and can did as they want. There was one subject of the study who supports girl’s attitude of the start behavior in grooming up or dressed up to intercourse. Factors that support direct communication on the subject of research among other suggestions are family, stories, see or call a friend while the supporting factors were of indirect communication from hard media, electronic, and online. All the study subjects were never informed about the sexual behavior of conseling teachers, all the parents of the study subjects are not informed about sexual behavior, and all study subjects received information from peers sexual behavior and sexual behavior with a boyfriend. Teens should seek reproductive health information from an accurate source to refrain from risky sexual behavior.
373413543G1B011063HUBUNGAN BEBAN KERJA DAN MASA KERJA DENGAN STRES KERJA PERAWAT PELAKSANA RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT WIJAYAKUSUMA PURWOKERTOProfesi sebagai perawat memberikan kontribusi cukup tinggi terhadap kejadian stres kerja. Faktor-faktor penyebab stres kerja biasanya disebabkan oleh sistem tugas, beban kerja, masa kerja, lingkungan tempat kerja atau sebagai akibat ketidak-keharmonisan hubungan dengan budaya organisasi tempat kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan beban kerja dan masa kerja dengan stres kerja perawat pelaksana ruang rawat inap Rumah Sakit Wijayakusuma Purwokerto. Penelitian ini merupakan penelitian observasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik random sampling. Besar sampel yang digunakan sebanyak 57 perawat dan berstatus sebagai perawat pelaksana pada Rumah Sakit Wijayakusuma Purwokerto. Variabel penelitian yang diamati adalah beban kerja, masa kerja dan stress kerja. Analisis data yang digunakan Chi-square. Hasil penelitian didapatkan bahwa tidak ada hubungan antara beban kerja dengan stres kerja dan tidak ada hubungan masa kerja dengan stres kerja dengan nilai masing-masing (P>0.05). Perawat disarankan sebaiknya tingkat stres kerja yang berat dapat diminimalisasi dengan cara perawat memiliki beban kerja yang tidak terlalu ringan agar mengurangi kebosanan dan tidak terlalu berat agar memudahkan perawat melakukan aktifitas kerja yang dapat menimbulkan stres kerja.A profession as a nurse contributing a high enough to the incidence of job stress. The factors that cause occupational stress is usually caused by system tasks, workload, work period, workplace environment, or as a result of lack of harmonious relationships with the organization's workplace culture. The purpose of this research to finding out the relationship of workload and work period to the occupational stress nurse inpatient room of Wijayakusuma Hospital Purwokerto. Research types is observational survey with cross sectional approach. Technique sampling is simple random sampling. Number sample of 57 nurses at the Wijayakusuma Hospital Purwokerto. The research observed variables were workload, work period and occupational stress. Data analysis is used Chi-square. Base on the research has conclussion that there are no relationship between workload with occupational stress and there is no relationship between work period with occupational stress with the respective values (P> 0.05). Suggested that should be a heavy occupational stress levels in nurses can be minimized by means nurses have a workload that is not too light in order to reduce boredom and not too heavy in order to facilitate the work nurses do an activity that can lead to occupational stress.
373513581G1G011011PERBEDAAN FRACTURE RESISTANCE TEKNIK OPEN DAN CLOSED CENTRIPETAL BUILD-UP DENGAN FLOWABLE BULK FILL SEBAGAI INTERMEDIATE LAYER PADA RESTORASI KELAS IIKavitas kelas II memiliki sisa struktur gigi yang relatif sedikit serta memiliki nilai C factor besar, yang dapat mempengaruhi ikatan antara struktur gigi dan resin komposit. Penempatan flowable bulk fill dan modifikasi teknik penumpatan, dengan teknik centripetal build-up dapat meminimalkan efek polymerization shrinkage resin komposit. Kombinasi dari dua teknik tersebut memiliki dua percabangan, yaitu open centripetal build-up (OCT) dan closed centripetal build-up (CCT). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya fracture resistance dari kavitas kelas II, yang telah direstorasi dengan teknik OCT dan CCT dengan variasi ketebalan flowable bulk fill. Sebanyak 32 sampel dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu kelompok 1 kombinasi OCT dan flowable bulk fill 1mm, kelompok 2 kombinasi OCT dan flowable bulk fill 2mm, kelompok 3 kombinasi CCT dan flowable bulk fill 1mm, dan kelompok 4 kombinasi OCT dan flowable bulk fill 2mm. Pengujian dilakukan dengan menggunakan Universal Testing Machine, dengan jig bulat berdiameter 5mm kecepatan 0,5mm/min. Uji ANOVA menunjukkan tidak adanya perbedaan bermakna antara kelompok 1 dan kelompok 2 p=0,202, kelompok 3 dan 4 p=0,414, sedangkan perbedaan bermakna ditunjukkan antara kelompok 1 dan 3 p=0,006, serta kelompok 2 dan 4 p=0,018. Simpulan penelitian ini teknik closed centripetal build-up menghasilkan nilai fracture resistance yang lebih besar daripada teknik open centripetal build-up dan aplikasi flowable bulk fill dengan ketebalan 2 mm juga menghasilkan nilai fracture resistance yang lebih besar daripada ketebalan 1 mm. Pada penelitian selanjutnya diharapkan dapat dilakukan penelitian dengan mengaplikasikan flowable bulk fill yang lebih tebal.In class II cavity, the rest of tooth structure is relatively a bit and it has high C factor, that can influence the bond between tooth structure and composite. The aplication of flowable bulk fill and use centripetal build-up technique, can minimized the effect of polymerization shrinkage of composite. Combination of that technique has two branch, open centripetal build-up (OCT) and closed centripetal build-up (CCT). Aims of this research was to determine the fracture resistance of class II cavity, that has been restored with OCT and CCT technique, with the variation of flowable bulk fill thickness. Total of 32 samples were grouped into 4 groups, group 1 combination of OCT and 1mm flowable bulk fill, group 2 combination of OCT and 2mm flowable bulk fill, group 3 combination of CCT and 1mm flowable bulk fill, and group 4 combination of CCT and 2mm flowable bulk fill. Fracture resistance test was tested by Universal Testing Machine, with 5mm round jig and speed 0,5mm/min. ANOVA showed no significant difference between group 1 and 2 p=0,202, group 3 and 4 p=0,414, whereas significance difference was shown between group 1 and 3 p=0,006, as well as group 2 and 4 p=0,018. Based on data analysis can be concluded that closed centripetal build-up has better fracture resistance value than open centripetal build-up technique and 2 mm flowable bulk fill thickness has better fracture resistance value than 1 mm flowable bulk fill thickness. In subsequent research is expected to be carried out the aplication of thicker flowable bulk fill.
373613546G1B011049EFEKTIVITAS SILIKA, ZEOLIT DAN KARBON AKTIF DALAM MENURUNKAN KADAR BESI (Fe) Air merupakan kebutuhan pokok yang menjadi salah satu kebutuhan mendasar bagi kehidupan manusia. Sebagian air baku untuk menyediakan air bersih diambil dari air tanah. Air tanah mengalami kontak dengan berbagai macam material yang terdapat di dalam bumi salah satunya adalah besi. Hal tersebut dapat menyebabkan kualitas air sumur gali tercemar oleh besi. Salah satu metode untuk menurunkan Fe adalah dengan proses filtrasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas silika, zeolit dan karbon aktif dalam menurunkan kadar Besi (Fe). Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi experiment. Metode dalam penelitian ini menggunakan Rancang Acak Lengkap (RAL). Analisis statistik menggunakan uji Anova One Way dengan tingkat signifikan 5%, dan uji lanjut menggunakan LSD (Least Significance Difference). Hasil yang diperoleh menunjukkan efektivitas rata-rata pengolahan menggunakan media silika yaitu sebesar 81,4%, media zeolit sebesar 85,75%, media karbon aktif sebesar 93,77%, media silika-zeolit sebesar 93,47%, media silika-karbon aktif sebesar 80,41%, media zeolit-karbon aktif sebesar 90,9%. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa media yang paling efektif untuk menurunkan Fe adalah karbon aktif. Media karbon aktif dapat dijadikan sebagai alternativ pengolahan air untuk menurunkan kadar Fe.Water is a basic requirement that is becoming one of the fundamental needs for human life. Most of the raw water to provide clean water taken from groundwater. Ground water is in contact with a wide range of materials contained in the earth one of which is iron. This can cause the quality of dug well water contaminated by iron. One method to reduce Fe is the filtration process. The purpose of this study was to examine the effectiveness of silica, zeolite and activated carbon in lowering levels of iron (Fe). This type of research is a quasi experiment. The method in this study using Completed Random Design (RAL). Statistical analysis using ANOVA One Way test with a significant level of 5%, and a further test using LSD (Least Significance Difference). The results showed an average effectiveness of treatment using silica media that is equal to 81.4%, amounting to 85.75% of zeolite media, activated carbon media by 93.77%, medium-silica zeolite by 93.47%, silica-carbon media active amounted to 80.41%, zeolite-activated carbon media amounted to 90.9%. Results from this study indicate that the most effective media to reduce Fe is activated carbon. Activated carbon media can be used as the alternative water treatment to reduce levels of Fe.
373713549G1B011033Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Stres Kerja Pedagang Nasi Goreng Di Sekitar Kampus Unoed
Purwokerto
Seorang pekerja selain membutuhkan jasmani yang sehat juga membutuhkan lingkungan kerja yang kondusif untuk mendukung produktifitas kerja.. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada pedagang nasi goreng di sekitar kampus Unsoed Purwokerto. Penelitian ini merupakan penelitian observasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling. Besar sampel yang digunakan sebanyak 32 sampel pedagang nasi goreng yang berada di sekitar kampus Unsoed Purwokerto. Variabel penelitian yang diamati adalah umur, jenis kelamin, masa kerja, pendapatan, beban kerja, konflik peran, dan kebutuhan. Analisis dengan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian tidak didapatkan adanya hubungan antara umur, jenis kelamin, masa kerja, pendapatan, beban kerja, konflik peran dan kebutuhan terhadap stres kerja. Saran bagi pedagang yaitu mempertahankan tingkat stres ringan dan sedang dengan cara rotasi kerja, menata tempat jualan, dan media hiburan seperti mendengarkan radio atau menonton televisi utuk mengurangi bosan dan jenuhA worker not only requiring but also requiring condusive work enviroment to support their productivity. The purpose of this study was to determine the factors associated with work stress on fried rice seller around campus Unsoed Purwokerto. This study was observational analytic with cross sectional approach. Sampling was done by total sampling technique. The sample size used a total of 32 samples of fried rice seller who were around campus Unsoed Purwokerto. The research variables measured were age, gender, length of service, income, workload, role conflict, and needs. Analysis used Chi-square test. Results of the study found that there was no relationship between the variables under study with work stress. Results obtained their relationship not between age, gender, employment, income, employment charge, role conflict and needs to work stress. This study suggest that seller need to maintain moderate levels of stress light and how rotation work, arranging sales place, and listening to the radio or watching television reduce bored and tired
373813545G1B011070Hubungan Antara Intensitas Curah Hujan dan Kepadatan Penduduk dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Tahun 2010-2014 Di Kabupaten BanyumasDemam Berdarah Dengue adalah penyakit yang ditandai dengan demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-menerus selama 2-7 hari. Kabupaten Banyumas merupakan daerah endemis Demam Berdarah Dengue di Jawa Tengah. Jumlah kasus pada daerah ini mengalami fluktuatif. Banyaknya kasus DBD di Kabupaten Banyumas disebabkan karena adanya iklim yang tidak stabil dan curah hujan yang cukup tinggi pada musim penghujan yang merupakan sarana perkembangbiakan nyamuk Aedes aegepty. Curah hujan di wilayah Kabupaten Banyumas pada setiap tahunnya rata-rata mencapai 1.816 mm per tahun. Kabupaten Banyumas merupakan salah satu dari 5 kabupaten/kota di Jawa Tengah dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa faktor lingkungan yang berhubungan dengan kejadian Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Banyumas tahun 2010-2014. Metode penelitian merupakan analisis data sekunder dengan desain penelitian cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah semua kejadian Demam Berdarah Dengue per tahun yang tercatat di Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas tahun 2010 sampai 2014. Sampel dipilih mengunakan teknik total sampling dengan kriteria inklusi eksklusi, jumlah sampel sebanyak 14 kecamatan. Uji statisik menggunakan Regresi Linier Sederhana dengan taraf signifikan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara intensitas curah hujan dengan kejadian DBD di Kabupaten Banyumas (ρ=0,002) dan mempunyai pengaruh sebesar 11,7%. Tidak ada hubungan antara kepadatan penduduk dengan kejadian DBD (ρ= 0,687). Perumusan prediksi yang digunakan adalah Y= 0,427 + 0,001 x intensitas curah hujan. Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas diharapkan menindaklanjuti kebijakan yang telah ada.Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in which the symptomps include a sudden high fever without a causal, and lasts around 2-7 days. Banyumas district is DHF endemic area in Central Java, and the number of cases is fluctuating. The high number of DHF disease in Banyumas area caused by unstable climate and heavy rainfall during the rainy season which is a proper place for Aedes aegepty masquito to reproduce. The avarage rainfall in Banyumas area is 1.816 mm per year. Banyumas district is one of the top five most populated area in Central Java. The purpose of this research is to find out the relation of the some environment factors with the DHF disease in Banyumas district within 2010-2014. The research methodology is an analysis of secondary data with cross-sectional research design. The research population is all DHF events per year which taken from Banyumas district Health Department data in 2010 to 2014. The sample was selected using total sampling technique with the inclusion exclusion criteria, a total sample of 14 subdistricts. Statistical test using Simple Linear Regression with significance level α = 0.05. The results showed there is a correlation between the intensity of rainfall with incidence of dengue in Banyumas (ρ=0,002) and 11.7% have influence. There is no correlation between the density of population with incidence of dengue (ρ=0,687). Prediction formulation used is Y = 0,427 + 0,001 x rainfall intensity. Banyumas District Health Office is expected to follow existing policies.
373913552G1B011035KESIAPAN JURU MALARIA DESA (JMD) MENUJU ELIMINASI MALARIA DI EKS KAWEDANAN SUMPIUH KABUPATEN BANYUMASKabupaten Banyumas adalah salah satu kabupaten endemis malaria di Provinsi Jawa Tengah dan diharapkan pada tahun 2015 bisa memasuki tahap eliminasi sesuai kriteria WHO. Juru Malaria Desa (JMD) sangat dibutuhkan untuk mendukung eliminasi malaria khususnya di daerah endemis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kesiapan JMD menuju Eliminasi Malaria. Penelitian ini merupakan studi kualitatif. Informan utama yaitu berjumlah enam orang, informan pendukung berjumlah lima orang yaitu Kordinator program malaria masing-masing puskesmas di Eks Kawedanan Sumpiuh serta DKK Banyumas. Hasil penelitian ini adalah JMD tidak tahu tentang Eliminasi Malaria. Penemuan penderita oleh JMD melalui informasi dari masyarakat, tokoh masyarakat, kader dan PKK serta keliling desa. Pengambilan dan pengiriman sediaan darah sudah sesuai, namun pembuatan sediaan darah masih tidak sesuai. Pencatatan yang dilakukan adalah catatan register penderita. Pelaporan yang dilakukan belum sesuai jadwal. Tokoh masyarakat mendukung dalam memberikan informasi tentang adanya penderita gejala klinis dan eksodan. Pihak puskesmas mendukung dalam memberikan saran, honor, perlengkapan pengambilan darah, penyuluhan, refreshing, seragam dan keringanan biaya fasilitas kesehatan. Sarana dan prasarana yang dimiliki adalah slide, lancet, slide box, alkohol, kapas, paracetamol, giemsa, auto klik dan jarum, buku
catatan register penderita malaria dan alat transportasi. JMD disarankan meningkatkan kordinasi dengan puskesmas dan melakukan pelaporan rutin serta pembuatan sediaan darah yang sesuai.
Banyumas was one of malaria endemic districts in Central Java province in 2015 and is expected to enter the elimination stage according to WHO criteria. Village Malaria (VMWs) is needed to support the elimination of malaria, especially in endemic areas. The purpose of this study was to determine the readiness of VMWs towards malaria elimination. This study was a qualitative study. The main informants of six people, supporters of five informants which was Malaria Program Cordinator of each health center in Ex Kawedanan Sumpiuh and Health Districts of Banyumas. Results of this research was VMWs not know about Malaria Elimination. Case detection by VMWs through information from the public, community leaders, cadres and the PKK and around the village. Retrieval and delivery of blood clots was appropriate, but the preparation of the blood was still not appropriate. Recording is done with record of the patient registers. Reporting was done not on schedule. Supports community leaders in providing information about the patient and the clinical symptoms eksodan. The clinic support in giving advice, honor, blood sampling equipment, counseling, refreshing, uniform and waivers costs of health facilities. Owned facilities and infrastructure was slide, lancet, slide box, alcohol, cotton, paracetamol, giemsa, auto click, notebooks of register malaria and transportation. VMWs recommended improving coordination with community health centers and perform regular reporting and the preparation of appropriate blood.
374013574H1D012032ANALISIS KINERJA MODEL GEDUNG TIDAK BERATURAN 10 LANTAI DI WILAYAH BARLINGMASCAKEB PADA KONDISI TANAH SEDANG AKIBAT BEBAN GEMPA SNI 03-1726-2002 DAN SNI 03-1726-2012Indonesia merupakan salah satu wilayah dengan tingkat aktivitas gempa bumi tinggi karena merupakan negara yang termasuk ke dalam lingkaran cincin api pasifik dan pertemuan tiga lempeng besar. Kinerja struktur gedung pada daerah rawan gempa sangat penting untuk dicek karena dapat memberikan informasi mengenai dampak dan strategi mitigasi yang harus diterapkan. Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen) berdasarkan peta gempa Indonesia termasuk wilayah yang rawan gempa. Perubahan peraturan gempa SNI 2002 ke SNI 2012 berpeluang menyebabkan terjadinya perubahan perilaku struktur gedung. Hasil kajian menunjukan bahwa perubahan peraturan tidak memberi dampak bahaya yang signifikan bahkan cenderung aman. Secara umum telah terjadi penurunan gaya geser dasar dan simpangan tingkat pada semua analisis. Kinerja model struktur masih berada pada tingkat immediate occupancy (IO) yaitu tidak ada kerusakan struktur, komponen non struktural masih ada di tempat, bangunan tetap berfungsi tanpa adanya perbaikan. Pada analisa nonlinear pushover juga menunjukan distribusi sendi plastis balok terlebih dahulu yang mengalami kehancuran.Indonesia is one of the areas with a high level of seismicity activity because it is a country that belongs to the circle of the Pacific ring of fire and the confluence of three major plates. Performance of building structures in earthquake-prone areas is very important to be checked because it can provide information on the impact and mitigation strategies should be implemented. Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap and Kebumen) based on seismic maps Indonesia including areas prone to earthquakes. Regulatory changes earthquake ISO 2002 to ISO 2012 likely to cause behavioral changes in the structure of the building. The results showed that the rule change does not impact a significant danger even tend to be safe. In general there has been a decrease in the base shear force and deflection at all levels of analysis. Performance model of the structure is still in the level of immediate occupancy (IO) that there is no damage to structures, non-structural components still in place, the building continues to function without any improvement. In the nonlinear pushover analysis also shows the distribution of the first beam plastic hinge devastated.