Artikelilmiahs
Menampilkan 3.741-3.760 dari 48.749 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 3741 | 13548 | G1B011076 | FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PEMANFAATAN PUSAT INFORMASI DAN KONSELING KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA (PIK-KRR) “SEKAR MELATI” DI SMA N 5 KOTA TEGAL TAHUN 2015 | FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PEMANFAATAN PUSAT INFORMASI DAN KONSELING KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA (PIK-KRR) “SEKAR MELATI” DI SMA N 5 KOTA TEGAL TAHUN 2015 Nadia Ade Pratiwi1, Bambang Hariyadi2, Colti Sistiarani3 1Kesehatan Masyarakat, Ilmu Kesehatan Reproduksi, Universitas Jenderal Soedirman 2Kesehatan Masyarakat, Ilmu Kesehatan Reproduksi, Universitas Jenderal Soedirman 3Kesehatan Masyarakat, Ilmu Promosi Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman Alamat Korespondensi : Kesehatan Masyarakat, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia, 53122, Email nadiaade94@yahoo.com ABSTRAK Kota Tegal ada 75 kasus narkoba tahun 2011-2014, ditemukan 65 penderita kasus HIV/AIDS tahun 2008-2012. 9 kasus HIV/AIDS ditemukan pada remaja/pemuda. Menurut hasil wawancara dengan guru BK, permasalahan yang terjadi di SMA N 5 adalah mengenai perilaku berpacaran yang kurang sehat dan perilaku merokok. Tujuan penelitian ini untuk Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pemanfaatan Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) “Sekar Melati” di SMA N 5 Kota Tegal Tahun 2015. Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan pendekatan crosssectional. Populasi berjumlah 454 siswa kelas XI dan XII, sampel berjumlah 76 orang dengan menggunakan stratified random sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Berdasarkan analisis bivariat menggunakan uji Chi Square dihasilkan ada hubungan antara sumber informasi, peran guru, dan peran teman sebaya; tidak ada hubungan antara pengetahuan, sikap, dan kebutuhan dengan pemanfaatan PIK-KRR pada siswa di SMA N 5 Kota Tegal. Berdasarkan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik menunjukkan bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap pemanfaatan PIK-KRR pada siswa di SMA N 5 Kota Tegal yaitu peran teman sebaya. Saran: Sebaiknya frekuensi pelatihan dan seminar diperbanyak agar pengetahuan siswa semakin bertambah. Sebaiknya guru dan anggota PIK-KRR lebih banyak memberikan materi dengan berbagai jenis media (leaflet, dan poster) agar pengetahuan siswa semakin meningkat. Kata Kunci : Faktor-faktor, Remaja, PIK-KRR Kepustakaan : (58) 2003-2015 | FACTORS THAT INFLUENCE UTILIZATION “SEKAR MELATI” ADOLESCENT REPRODUCTION HEALTH INFORMATION AND COUNSELING CENTER IN SENIOR HIGH SCHOOL 5 TEGAL CITY 2015 Nadia Ade Pratiwi1, Bambang Hariyadi2, Colti Sistiarani3 1Public Health, Reproductive Health, Jenderal Soedirman University 2Public Health, Reproductive Health, Jenderal Soedirman University 3Public Health, Health Promotion, Jenderal Soedirman University Address correspondence : Public Health, Jenderal Soedirman University, Purwokerto, Central Java, Indonesian, 53122, Email nadiaade94@yahoo.com ABSTRACT There were 75 drug cases in Tegal, in 2011 up to 2014, and 65 cases of HIV/AIDS in 2008 up to 2012. 9 of 65 HIV/AIDS sufferers were teenagers or adolescents. From the interview with counseling and guidance teacher, it was informed that there are problems faced by SHS 5, due to unhealthy behavior on courtship (Dating) And Smoking. The study is to obtain the relationship between the factors that influence utilization “sekar melati” adolescent reproduction health information and counseling center in senior high school 5 tegal city 2015. The study is analytic survey with cross sectional approach, the population is 454 students of grade XI and XII, 76 sample using stratified random sampling based on inclusion and exclusion criteria. Data collection is using questioner. Based on Bivariate analysis with Chi Square Test, there is no relationship between knowledge, attitude and needs. There is relationship between information source, teacher’s role and peer’s role towards the use of PIK-KRR on Senior High School 5 Tegal, 2015. Based on multivariat analysis with logistic regression test, it is found source of information, teacher’s role, and peer’s role. It means the factors have influenced the use of PIK-KRR on the students of Senior High School 5 Tegal City. The suggestion is to increase the frequency of training and seminar in order to improve the student knowledge. Teachers and PIK-KRR members should give more material in different media to improve student knowledge. Keywords : adolescents, PIK-KRR Reference : (58) 2003 – 2015 | |
| 3742 | 13553 | G1B011067 | FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KAPASITAS PARU PENGRAJIN BATU AKIK DI KELURAHAN BANCAR PURBALINGGA | Penyakit akibat kerja merupakan suatu risiko yang harus ditanggung oleh tenaga kerja dalam rangka melakukan kerja di suatu industri. Terjadinya penyakit akibat kerja disebabkan karena lingkungan kerja yang mempunyai potensi bahaya melebihi ambang batas yang diperkenankan. Penyakit akibat kerja secara umum didefinisikan sebagai penyakit atau kelainan yang disebabkan oleh karena faktor pekerjaan. Penyakit yang diakibatkan oleh pekerjaan salah satunya yaitu penyakit yang berhubungan dengan pernapasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kapasitas paru pengrajin batu akik di Kelurahan Bancar, Purbalingga. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel 30 orang. Penelitian dilakukan pada bulan Juli tahun 2015. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen penelitian berupa Spirometer, Personal Dust Sampler (PDS), Microtoise, timbangan berat badan dan kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukan bahwa pekerja yang mengalami gangguan kapasitas paru sebanyak 23 orang (76,7%). Hasil uji Chi Square menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara penggunaan APD (masker) (p value = 0,002) dengan gangguan kapasitas paru. Untuk menurunkan risiko gangguan kapasitas paru pada pengrajin batu akik, disarankan pengrajin selalu menggunakan APD ketika bekerja. Pekerja yang memiliki kebiasaan merokok, sebaiknya berhenti merokok dan meningkatkan aktivitas olahraganya. | Occupational disease is a risk that should be borne by the workforce in order to do work in an industry. The occurrence of occupational diseases caused by work environment has the potential danger of exceeding the permitted threshold. Occupational disease is generally defined as diseases or disorders caused by occupational factors. Diseases caused by work one of which is associated with respiratory disease. This study aims to determine the factors associated with lung capacity artisans in the Bancar village Purbalingga. This type of research is analytic observational with cross sectional approach with a sample of 30 people. The study was conducted in July 2015. Data collection was performed using research instruments such as spirometer, Personal Dust Sampler (PDS), microtoise, weight scales and questionnaires. Data analysis was performed using univariate and bivariate with Chi Square test. The results showed that workers with impaired lung capacity by as much as 23 people (76.7%). Chi Square test results showed no significant association between the use of PPE (mask) (p value = 0,002 with impaired lung capacity.To lower the risk of lung capacity disorders agate artisans, artisans are advised always to use PPE when working. Workers who have a habit of smoking, you should quit smoking and improve athletic activity. | |
| 3743 | 13554 | G1B011015 | FAKTOR-FAKTOR INDIVIDU YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU AMAN (SAFETY BEHAVIOR) PEKERJA BAGIAN PRODUKSI DI PT SURTECKARIYA INDONESIA TAHUN 2015 | Penyebab kecelakaan kerja dapat diakibatkan oleh tindakan pekerja yang tidak aman. Upaya pencegahan kecelakaan kerja dapat dilakukan dengan pendekatan behavior based safety. PT Surteckariya Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak dibidang elektroplating. Selama awal 2015 pernah terjadi kecelakaan ringan disebabkan karena pekerja belum bekerja sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditentukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor individu yang berhubungan dengan perilaku aman (safety behavior) pekerja bagian produksi di PT Surteckariya Indonesia Tahun 2015. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian observasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 270 pekerja bagian produksi di PT Surteckariya Indonesia. Sampel sebanyak 40 responden diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Analisa data yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi-square. Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas pekerja memiliki pengetahuan yang baik (67,5%), terampil (72,5%), memiliki motivasi tinggi (52,5%), memiliki disiplin kerja tinggi (82,5%), dan memiliki perilaku aman baik (70%), namun masih terdapat pekerja yang belum menggunakan APD (97,5%). Hasil analisis statistik menujukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan (p 0,000 < α 0,05) dan keterampilan teknis (p 0,001 < α 0,05) dengan perilaku aman pekerja. Penelitian ini menyarankan kepada perusahaan untuk meningkatkan pemahaman pekerja mengenai perilaku aman saat bekerja khusunya penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) saat bekerja. | One of the causes of accidents caused by unsafe acts at workers. Behavioral based safety approach is one of the keys to successful accident prevention. PT Surteckariya Indonesia is an electroplating company. During the early 2015 there has been a minor accidents because the worker was not working with Standard Operating Procedures (SOP). This study aimed to determine individual factors that related to worker’s safe behavior at Production Unit PT Surteckariya Indonesia in 2014. This research was analytic survey using quantitative method with a cross-sectional design. The population in this study amounted to 270 workers in Production Unit PT Surteckariya Indonesia. Sample totaled 40 respondents taken by purposive sampling technique. Data analysis were applied in univariate and bivariate used chi-square test. Based the majority of workers have a good knowledge (67.5%), skilled (72.5%), have a high motivation (52.5%), have a high work discipline (82.5%), already have the good behavior (70%) when working, but still there were workers who didn’t use Personal Protective Equipment (PPE) a number of 97,5%. Statistical analysis showed there was a relations between knowledge (p 0.000 <α 0.05) and techical skills (p 0.001 <α 0.005) with safety behavior. The suggestion for this research for the company is to increase the knowledge workers about safety behavior especially the importance of the use a PPE when working. | |
| 3744 | 13550 | G1B011026 | EFEKTIVITAS AERASI, SEDIMENTASI, DAN FILTRASI UNTUK MENURUNKAN KEKERUHAN DAN KADAR BESI (Fe) DALAM AIR | Air adalah materi esensial di dalam kehidupan. Air dengan tingkat kekeruhan dan kadar Fe yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan manusia. Pengolahan air dapat dilakukan dengan cara tray erator, sedimentasi, dan filtrasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas perlakuan aerasi sistem tray, sedimentasi, dan filtrasi dalam menurunkan tingkat kekeruhan dan kadar Fe dalam air. Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu (Quasi Eksperiment) dengan desain penelitian post test only with control group design. Metode dalam dalam penelitian ini adalah perlakuan dengan aerasi sistem tray, sedimentasi, filtrasi, aerasi sistem tray-sedimentasi, aerasi sistem tray-filtrasi, sedimentasi-filtrasi, aerasi sistem tray-sedimentasi-filtrasi. Penelitian dilakukan di Laboratorium Jurusan Perikanan Kelautan Unsoed dan pengujian kadar Fe dilakukan di Laboratorium Kesehatan Daerah Purbalingga. Hasil yang diperoleh menujukkan perlakuan aerasi sistem tray-sedimentasi-filtrasi efektif dalam menurunkan tingkat kekeruhan dan kadar besi pada air sampel. Masyarakat dapat menerapkan metode aerasi, sedimentasi, dan filtrasi untuk menurunkan tingkat kekeruhan dan kadar Fe dalam air tanah. Kata kunci : kekeruhan, Fe, aerasi sistem tray, sedimentasi, filtrasi Kepustakaan : 33 (1993-2015) | Water is an essential material in live. Water with high level of turbidity and iron can lead to health problems. Water treatment can be done by aerasi sistem tray, sedimentation and filtration. The aim of this study was to know the effectiveness of aerasi sistem tray, sedimentation and filtration on reducing turbidity and iron level in water. This study was a quasy experiment with post test only with control group design. The methods are treatment with aerasi tray system, sedimentation, filtration, aerasi tray system-sedimentation, aerasi tray system-filtration, sedimentation-filtration, and aerasi tray system-sedimentation-filtration. The study has been conducted in Fishery and Marine Departement Laboratory UNSOED and iron level test has beed conducted in Health Laboratory o Purbalingga. The result showed treatment of aerasi tray system-sedimentation-filtration efektif to reduce turbidity and iron level in groundwater. The society can apply the aerator, sedimentation and filtration methods to reduce turbidity and iron level in groundwater Keywords : turbidity, iron, aerasi sistem tray, sedimentation, filtration References : 33 (1993-2015) | |
| 3745 | 13564 | P2CB14010 | PENGARUH KEADILAN ORGANISASI ORGANIZATIONAL SILENCE DAN KEPUASAN KERJA TERHADAP ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR | Organizational citizenship behavior menjadi topik yang populer dalam bidang Manajemen Sumber Daya Manusia karena dapat meningkatkan efektifitas serta memberikan pengaruh yang positif bagi organisasi. Literatur yang meneliti tentang organizational citizenship behavior sudah banyak ditemukan pada bidang ilmu manajemen akan tetapi dalam penelitian ini peneliti menambahkan variabel organizational silence sebagai salah satu faktor yang dapat mempengaruhi organizational citizenship behavior, terlebih lagi literatur mengenai organizational silence sangatlah terbatas. Organizational silence itu sendiri adalah perilaku negatif yang ditandai dengan banyaknya individu yang memilih untuk tidak berbicara mengenai masalah dalam organisasi pada atasannya, padahal mereka sadar dan mengetahui tentang isu-isu dan masalah dalam organisasi. Penelitian ini berjudul “Pengaruh keadilan organisasi, organizational silence, dan kepuasan kerja terhadap organizational citizenship behavior”. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh keadilan organisasi, organizational silence, dan kepuasan kerja terhadap organizational citizenship behavior. Populasi dalam penelitian ini adalah guru di SMAN Kota Tasikmalaya. Sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 286 responden dengan menggunakan metode kuesioner/angket. Alat analisis pada penelitian ini adalah Structural Equation Modeling (SEM) dengan menggunakan program AMOS 21. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa keadilan organisasi yang terdiri dari keadilan distributif, prosedural, dan interaksional berpengaruh negatif terhadap organizational silence, keadilan distributif dan kepuasan kerja mempunyai pengaruh positif terhadap organizational citizenship behavior, untuk hasil dari pengujian variabel mediasi organizational silence menunjukan bahwa organizational silence tidak mampu memediasi hubungan antara keadilan organisasi yang terdiri dari keadilan distributif, prosedural, dan interaksional dengan organizational citizenship behavior. Saran untuk penelitian mendatang adalah mengembangkan penelitian dengan cara menerapkan variabel organizational silence pada institusi non-pendidikan misalnya seperti perbankan, institusi berorientasi profit, dan keagamaan. | Organizational citizenship behavior becomes a popular topic in the field of the management of human resources because it can increase effectiveness and give a positive influence for organization. Literatures examine about organizational citizenship behavior have already been well established in the fields of management sciences, but in this study authors add variable organizational silence as one of the factors that can influence organizational citizenship behavior. Moreover the literature about organizational silence is very limited .Organizational silence itself is negative behavior marked with a number of individuals who choose not to speak or act about the issue regarding organization, whereas they were conscious and aware of issues and problems in the organization and kept silence to their superior organization. The aims of this research were to analyze the influences of organizational justices, organizational silence, and job satisfaction to organizational citizenship behavior. The population in this research is all teachers in SMAN Tasikmalaya City. Sample was determined using proportional random sampling which means that each members taken in the population had same opportunity to selected as the sample. The samples used in this research are 286 respondents by using questionnaire as a method of this research. The analysis tool in this research is Structural Equation Modeling (SEM) and using Amos 21 program. The results show that the organizational justice consists of distributive justice, procedural justice, and interactional justice had negative effect towards organizational silence, job satisfaction and distributive justice had positive influence on organizational citizenship behavior, from the assessment of the intervening variable organizational silence show that the organizational silence can’t be mediating relationship between organizational justice consists of distributive justice, procedural justice, and interactional justice with organizational citizenship behavior. Suggestion for future researcher is extend this research with using organizational silence variable and apply it in non-educational organizations such as banking, charity, profit oriented, and religion based. | |
| 3746 | 13555 | G1B011046 | FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELUHAN LOW BACK PAIN PADA PENGRAJIN BATU AKIK DI KELURAHAN BANCAR KECAMATAN PURBALINGGA KABUPATEN PURBALINGGA | Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan upaya untuk mencegah terjadinya berbagai bahaya maupun risiko potensial yang dapat menimbulkan kecelakaan dan PAK. Salah satu PAK adalah low back pain. Industri informal yang baru booming saat ini adalah batu akik. Pengrajin batu akik merupakan salah satu kegiatan yang berpotensi risiko terjadinya LBP. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan LBP pada pengrajin batu akik. Metode yang digunakan adalah studi crossesctional. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan umur, status gizi, beban kerja, lama kerja, dan sikap kerja dengan keluhan LBP dengan p value masing-masing sebesar 1,000; 0,708; 1,000; 0,225; dan 1,000. Dengan demikian, disarankan pengrajin untuk tetap memperhatikan kondisi kesehatan tubuh, jika mengalami LBP maka diharuskan istirahat segera. | Occupational safety and health is an attempt to prevent the dangers and potential risks that can cause accidents and PAK. One of PAK is low back pain. The new informal industry booming today is the agate. Craftsmen agate is one of the activities that have the potential risk of LBP. The purpose of this study was to determine the factors associated with complaint of LBP on craftsman agate. The methoed used is the study crossectional. Results of this study showed that no relationship between age, nutritional status, workload, length of working, and work attitude with complaints of LBP with p value of 1,000; 0,708; 1,000; 0,225, and 1,000. Therefore, craftsmen are advised to keep attention to the health condition of the body, if you have LBP then required to break soon. | |
| 3747 | 13557 | P2PA13001 | KAJIAN TINDAKAN BUDIDAYA DAN KONDISI SOSIAL EKONOMI KARYAWAN TERHADAP POPULASI Elaeidobius kamerunicus DAN PRODUKSI BUAH KELAPA SAWIT DI PTPN III KABUPATEN SIMALUNGUN | Kegiatan usaha PTPN III mencakup tindakan budidaya, pengolahan lahan, dan pemanenan kelapa sawit dan karet. Keberhasilan tindakan budidaya tanaman kelapa sawit tidak hanya ditentukan oleh kehandalan teknologi dan dukungan sumberdaya alam, tetapi juga oleh kondisi pekerja. Keberhasilan suatu tindakan budidaya dan produksi kelapa sawit salah satunya ditandai oleh populasi serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicus Faust yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tindakan budidaya karyawan BHL di Afd. IV Kebun Bangun PTPN III; mengetahui kondisi sosial ekonomi karyawan BHL; mengetahui populasi serangga E. kamerunicus Faust di Afd. IV Kebun Bangun PTPN III; mengetahui produksi buah kelapa sawit di Afd. IV Kebun Bangun PTPN III; dan menganalisis hubungan antara tindakan budidaya dan kondisi sosial ekonomi karyawan terhadap produksi buah kelapa sawit di Afd. IV Kebun Bangun PTPN III. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2015. Pengambilan sampel karyawan BHL, serangga E. kamerunicus Faust, dan produksi buah kelapa sawit dilakukan pada lima stasiun. Pengambilan stasiun dilakukan dengan metode survei secara purposive sampling. Sampel responden, serangga E. kamerunicus Faust, dan produksi buah kelapa sawit dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan kondisi sosial ekonomi karyawan BHL termasuk dalam keluarga sejahtera I dan berstatus keluarga dengan sosial ekonomi bawah. Tindakan budidaya tanaman kelapa sawit yang dilakukan oleh karyawan BHL termasuk dalam kriteria baik. Tindakan budidaya yang baik akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas tanaman kelapa sawit. Populasi serangga E. kamerunicus Faust di perkebunan Afd. IV Kebun Bangun PTPN III telah memenuhi kebutuhan serangga penyerbuk dalam proses penyerbukan untuk menaikkan jumlah produksi kelapa sawit. Produksi buah kelapa sawit di Afd. IV Kebun Bangun PTPN III berada pada kriteria sangat baik. Kuantitas buah kelapa sawit yang diperoleh akan meningkatkan keuntungan perusahaan. Secara umum, tindakan budidaya mempengaruhi kualitas dan kuantitas tanaman kelapa sawit. Tindakan budidaya yang baik berdampak pada populasi serangga E. kamerunicus yang hidup di tanaman kelapa sawit sebagai serangga penyerbuk. Masa kerja yang lama dan usia karyawan BHL yang masih produktif mendukung karyawan BHL bekerja dengan baik walaupun dalam kondisi sosial ekonomi yang rendah. | PTPN III business activities include the cultivation action, land management, and harvesting of oil palm and rubber. The success of oil palm cultivation action is not only determined by the reliability of technology and supporting of natural resources, but also by the labour condition. The success of cultivation action and oil palm production are indicated by high population of pollinating weevil Elaeidobius kamerunicus Faust. This study is aimed to determine the cultivation action of the daily freelance labour at Afd. IV Kebun Bangun PTPN III; to determine socio economic condition of daily freelance labour at Afd. IV Kebun Bangun PTPN III; to determine the weevil population of E. kamerunicus Faust at Afd. IV Kebun Bangun PTPN III; to determine oil palm production at Afd. IV Kebun Bangun PTPN III; and to analyze the relationship between the cultivation action and socio economic condition of daily freelance labour toward oil palm production at Afd. IV Kebun Bangun PTPN III. A study was conducted during March – April 2015. Daily freelance labour, weevil E. kamerunicus Faust, and oil palm production were taken at five stations by applying survey method through purposive sampling. Respondent, weevil E. kamerunicus Faust, and oil palm production samples are analyzed descriptively. The result shows that socio economic condition of daily freelance labour include in the welfare family I and family status is below social economic. Oil palm cultivation action of the daily freelance labour include in good criteria. Good cultivation action will affect oil palm quality and quantity. The weevil population of E. kamerunicus Faust at Afd. IV Kebun Bangun PTPN III has met the pollinator weevil need in pollinating process to increase oil palm production. Oil palm production at Afd. IV Kebun Bangun PTPN III is in the best criteria. Oil palm quantity will increase the company profit. Generally, cultivation action affect oil palm quality and quantity. Good cultivation action impact to the weevil population of E. kamerunicus Faust that inhabit in the oil palm as pollinator weevil. The long work period and the productive daily freelance labour’s age support to the daily freelance labour to work well although their socio economic condition are low. | |
| 3748 | 13558 | P2PA12008 | KAJIAN KUALITAS LINGKUNGAN SUNGAI CONDONG YANG MENERIMA BUANGAN LIMBAH CAIR INDUSTRI BATIK TRUSMI DI KABUPATEN CIREBON | Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan status kualitas air Sungai Condong tentang perubahan parameter fisika, kimia, biologi sebelum dan sesudah pembuangan limbah cair industri batik; menggambarkan persepsi masyarakat tentang perubahan kualitas Sungai Condong akibat limbah cair industri batik; dan menganalisis hubungan antara kualitas air dan persepsi masyarakat disekitar Sungai Condong. Pengambilan sampel dilakukan di tujuh stasiun dengan 3 kali pengulangan dengan interval satu bulan. Kualitas air dianalisis secara deskriptif berdasarkan acuan Baku Mutu Air. Penentuan status mutu air dengan menggunakan metode Storet. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa kualitas air Sungai Condong melebihi Baku Mutu Air kelas II berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 dan baku mutu limbah tekstil khususnya TSS, DO, BOD5, COD, NH3, sulfida, Cr ( VI), fenol, minyak dan lemak. Parameter biologi menggunaka indeks keanekaragaman makrobenthos(H ') diperoleh nilai yang rendah yaitu 0-1,7077. Status mutu berdasarkan metode Storet, diperoleh nilai> -31. Persepsi masyarakat tentang kualitas air Sungai Condong baik. Dapat disimpulkan hasil penelitian menunjukkan bahwa status kualitas Sungai Condong sebelum dan sesudah pembuangan air limbah batik sangat tercemar berat. Persepsi masyarakat tentang kualitas air baik. Secara umum, status kualitas mutu sungai sebenarnya tercemar berat, namun persepsi masyarakat terhadap kualitas air masih baik karena mereka tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang pengaruh kromium logam yang dapat menyebabkan kerusakan tulang hidung mereka, dan ada juga menemukan penurunan air kualitas Condong River dengan menemukan cacing merah atau cacing darah; dan masyarakat tidak tahu tentang kandungan limbah cair batik, warna air limbah batik berbahaya bagi organisme air, limbah cair industri batik yang mengandung bahan sintetis dan logam berat yang berbahaya bagi kesehatan, logam berat dapat merusak dinding usus dan paru-paru, dan setiap industri yang tidak memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah merupakan pelanggaran hukum. | This study aims to describe the water quality status of Condong River among its parameter changes on physics, chemistry, biology before and after discharge of wastewater from batik industry; describe public perception of changes of wastewater from batik industry; and analyze the relationship between water quality and public perception among the Condong River. Sampling was carried out in seven stations with 3 repetitions at intervals of one month. Water quality were analyzed descriptively by reference raw Water Quality Standard. Determination of the status of water quality using methods Storet. Results of laboratory tests showed that the water quality of the River Condong exceed the Water Quality Standard Group II based on Government Regulation No. 82 of 2001 and in particular textile waste quality standard TSS, DO, BOD5, COD, NH3, sulfide, Cr (VI), phenols, oils and fats. Biology parameters using makrobentos diversity index (H ') obtained a low value is from 0 to 1.7077. Quality status based Storet method, the value of > -31. The perception of the community about water quality was good. It can be concluded the results showed that the quality status of the Condong River before and after the dumping of batik wastewater was very heavily polluted. The perception of the community about water quality was good. In general, the quality status of river quality was actually heavily polluted, but public perception on the quality of the water is still good because they do not have enough knowledge on the effect of metal chromium that can cause damaged their nose bone, and there was also found a water decline in Condong River quality by finding red worms or blood worms; and people do not know that the content of the batik’s waste, color wastewater of batik is harmful to aquatic organisms, industrial wastewater batik containing synthetic material and heavy metal which harmful to the health, the heavy metal can damage intestinal wall and lungs, and any industry that does not have Waste Water Treatment Installation is against the law. | |
| 3749 | 13562 | P2CD14012 | FLYPAPER EFFECT PADA PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI JAWA TENGAH: PENDEKATAN VECTOR AUTOREGRESSIVE (VAR) DAN FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) | Permasalahan yang melatarbelakangi penelitian ini adalah rendahnya tingkat kemandirian daerah yang dibuktikan dengan angka kemiskinan yang tinggi dan kapasitas fiskal daerah yang rendah serta dominasi dana transfer pada struktur pendapatan daerah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya fenomena flypaper effect beserta faktor-faktor penyebabnya pada pemerintah kabupaten/kota di Jawa Tengah. Fenomena flypaper effect pada pemerintah kabupaten/kota di Jawa Tengah selama periode 2008-2014 akan dibuktikan dengan analisis kuantitatif melalui pengujian vector autoregressive (VAR) dan analisis kualitatif melalui hasil focus group discussion (FGD). Penelitian ini merupakan penelitian metode kuantitatif dengan tambahan data pendukung. Sampel penelitian adalah 35 pemerintah kabupaten/kota di Jawa Tengah periode 2008-2014 dan 12 responden FGD. Analisis data yang digunakan adalah (a) analisis kuantitatif berupa pengujian ekonometrika dengan metode VAR dimana pengujian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan kausalitas antar variabel yang mengindikasikan ada tidaknya fenomena flypaper effect dan (b) analisis kualitatif sebagai analisis tambahan berupa FGD dimana hasil FGD bertujuan sebagai data pembanding pengujian kuantitatif dan penjelas atas faktor-faktor yang menjadi motivasi/penyebab terjadinya fenomena flypaper effect. Hasil penelitian ini menyatakan adanya fenomena flypaper effect pada 35 pemerintah kabupaten/kota di Jawa Tengah periode 2008-2014. Fenomena flypaper effect terjadi didasarkan pada hasil pengujian kuantitatif melalui VAR dimana terdapat adanya hubungan kausalitas searah antara dana transfer dengan belanja operasi dan belanja modal namun di lain sisi tidak terdapat adanya hubungan kausalitas antara Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan belanja operasi dan belanja modal. Lebih lanjut, berdasarkan analisis kualitatif melalui hasil FGD para responden menyatakan adanya fenomena flypaper effect dari sudut pandang birokrat yang ditandai dengan adanya keleluasaan birokrat dalam penetapan standar harga yang tidak sesuai dengan perkembangan harga pasar. Belanja pegawai disimpulkan sebagai faktor pemicu/penyebab adanya fenomena flypaper effect yang ditunjukkan dari hasil FGD dimana para responden menyatakan bahwa belanja pegawai mendominasi sebesar 50-60% dari total belanja daerah. Adanya fenomena flypaper effect ini menunjukkan masih tingginya tingkat ketergantungan pemerintah daerah atas dana transfer dari pemerintah pusat. . | Research problem that can be defined is low level of regional independency (autonomy) which can be proved by high number of poverty, low of regional fiscal capacity and domination of transfer funds on revenue’s structure. The aims of this study are to examine whether the flypaper effect is exist or not and to examine causing factors in regency/city of Central Java. Flypaper effect phenomenon in regency/city of Central Java for 2008-2014 will be proved by quantitative analysis through vector autoregressive (VAR) test and additional qualitative analysis through focus group discussion (FGD). Quantitative method with additional qualitative data was used in this study with the research sample 35 regency/city of Central Java for 2008-2014 period and also 12 of FGD respondents. Data analysis that used are (a) quantitative analysis in form of econometrics test with VAR method in which this test aimed to examine whether there is causality among the variables or not that indicate flypaper effect phenomenon and (b) qualitative analysis as additional analysis in form of FGD whereas the result of FGD will be used as comparable data of quantitative analysis and as explanatory of factors that causing flypaper effect phenomenon. Result study is proved that flypaper effect exist in 35 regency/city of Central Java for 2008-2014 period. The existence of flypaper effect phenomenon based on quantitative test through VAR since unidirectional causality relationship occurred among transfer funds with operating expenditure and capital expenditure but in the other hand there is no causality relationship among Local Own Revenue with operating expenditure and capital expenditure. Furthermore, according to qualitative analysis through FGD the respondents stated that there is flypaper effect from bureaucratic perspective that prove by easy access of bureaucrat to set the price standard that unfit with market price. Employee expenditure concluded as the factor causing flypaper effect that can be seen from FGD whereas respondents stated that employee expenditure dominated until 50-60% of regional revenues. The existence of flypaper effect shows that regional still depends on transfer funds from central government. | |
| 3750 | 13567 | P2DA13003 | SUPLEMENTASI TEPUNG DAUN SEMBUNG (Blumea balsamifera) SEBAGAI AGEN DEFAUNASI PROTOZOA DAN PENGARUHNYA TERHADAP KECERNAAN SERAT KASAR DAN KARAKTERISTIK FERMENTASI RUMEN SAPI POTONG SECARA IN VITRO | Penelitian bertujuan mengkaji pengaruh suplementasi tepung daun sembung (Blumea balsamifera) sebagai agen defaunasi terhadap total protozoa hidup, kecernaan serta karakteristik fermentasi rumen sapi potong secara in vitro. Penelitian dirancang menurut Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan taraf suplementasi tepung daun sembung 0%, 2%, 4%, dan 6% dari bahan kering (BK) ransum sebagai perlakuan. Pakan dasar terdiri dari jerami pada amoniasi dan konsentrat dengan imbangan BK adalah 70% dan 30%. Amoniasi jerami padi menggunakan urea dan onggok masing-masing 5% dan 2,5% dari berat kering jerami padi. Sumber inokulum adalah cairan rumen yang diperoleh dari tiga ekor sapi segera setelah dipotong di RPH Mersi Purwokerto. Peubah yang diukur yaitu jumlah protozoa hidup, kecernaan bahan kering dan serat kasar, pH rumen, konsentrasi VFA total dan NH3. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa suplementasi tepung daun sembung (Blumea balsamifera) berpengaruh (P<0.05) terhadap total protozoa hidup, kecernaan BK dan serat kasar, produksi VFA dan NH3. Peningkatan suplementasi tepung daun sembung menurunkan (P<0,05) total protozoa hidup secara kubik dan juga menurunkan secara liner (P<0.01) kecernaan serat kasar, akan tetapi meningkatkan secara linear (P<0,05) kecernaan bahan kering. Produksi VFA dan NH3 meningkat (P<0.01) secara kuadratik sejalan dengan peningkatan taraf suplementasi tepung daun sembung. Dapat disimpulkan bahwa suplementasi tepung daun sembung (Blumea balsamifera) 1,6% dari jumlah pakan pakan dasar dapat menurunkan total protozoa hidup, meningkatkan kecernaan bahan kering, meningkatkan VFA total dan NH3 tanpa mempengaruhi pH cairan rumen sapi potong. | The aim of this research was to study the effect of supplementation of sembung flour (Blumea balsamifera) as defaunate agents on live protozoa, digestibility and rumen fermentation characteristics of beef cattle in vitro. The research was designed according to Completely Randomized Design (CRD) with. sembung leaf meal supplementation level were 0%, 2%, 4% and 6% as treatments. Each treatment was replicated five times. Basal diets were consisted of ammoniation rice straw and concentrate with dry matter ratio of 70% : 30%. Ammoniation of rice straw used urea of 5% added with 2.5% of cassava waste as additive. As inoculum sources were rumen fluid obtained from three beef cattle after slaughtering in Mersi slaughter houses, Purwokerto. The variable measured were the number of live protozoa, digestibility of dry matter and crude fiber, rumen pH, VFA total and NH3. Analysis of variance showed that supplementation of flour sembung (Blumea balsamifera) significant affect (P<0.05) on total of protozoa, digestibility of dry matter and crude fiber, VFA and NH3 total. Increasing of sembung flour supplementation decreased cubically (P<0.05) total of protozoa living and linearly (P<0.05) on crude fiber digestibility. However, enhancing of sembung flour supplementation caused increasing of dry matter digestibility linearly (P<0.05). VFA and NH3 production increased quadratically (P<0.01) in line with the increase of sembung flour supplementation. It can be concluded that supplementation of flour sembung (Blumea balsamifera) at level of 1.6% from basal diet can reduce total protozoa living and increase digestibility of dry matter, VFA and NH3 production without affecting the pH of the rumen fluid beef cattle. | |
| 3751 | 13573 | G1G011026 | PENGARUH KONSUMSI OMEGA 3 TERHADAP KAPASITAS TOTAL ANTIOKSIDAN SALIVA PADA PENDERITA GINGIVITIS DIABETES MELITUS TIPE 2 PEROKOK DAN NON PEROKOK (Studi Cross-Sectional di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto) | Gingivitis merupakan kondisi adanya tanda-tanda inflamasi gingiva. Tanda-tanda inflamasi gingiva meliputi kemerahan, bengkak, dan/atau bleeding on probing. Proses inflamasi yang terjadi pada gingiva berakibat pada meningkatnya Reactive Oxygen Species(ROS) dalam tubuh. Peningkatan ROS memicu penurunan antioksidan tubuh. Total Antioxidant Capacity (TAOC) merupakan komponen total sistem antioksidan saliva, berupa molekul dan enzim yang berperan dalam menangkal radikal bebas. Omega 3 merupakan salah satu polyunsaturated fatty acid (PUFA) yang memiliki efek anti-inflamasi dengan menurunkan produksi sitokin pro-inflamasi seperti interleukin-8 (IL-8) dan interleukin-6 (IL-6). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh konsumsi omega 3 terhadap kapasitas total antioksidan saliva pada penderita gingivitis diabetes melitus tipe 2 perokok dan non perokok di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Sampel saliva sebelum dan setelah mengkonsumsi omega 3 (1000mg EPA+DHA) dikumpulkan dari perokok dan non perokok. Kapasitas total antioksidan dari sampel klinis ditentukan secara spektrofotometri dengan panjang gelombang 532 nm. Data dianalisis menggunakan paired t-test, independent sample t-test, dan mann-whitney test. Penelitian ini terdiri dari 60 subjek, 30 perokok dengan rerata umur 57 (42-65) tahun dan 30 non perokok dengan rerata umur 60 (42-65) tahun. Konsumsi omega 3 dapat meningkatkan kadar TAOC. Kadar kapasitas total antioksidan sebelum dan setelah konsumsi omega 3 ditemukan lebih rendah pada sampel saliva perokok dibandingkan dengan non perokok (p<0,05). Simpulan penelitian ini adalah omega 3 mempengaruhi kadar TAOC sampel saliva pada penderita gingivitis DM tipe 2 perokok dan non perokok. Saran untuk penelitian selanjutnya agar menjaga oral hygiene dan mengontrol diet selama pemberian konsumsi omega 3. | Gingivitis was defined as the presence of signs of gingival inflammation. Signs of gingival inflammation including redness, swelling, and/or bleeding on probing. The inflamation could cause the increasing of Reactive Oxygen Species or ROS in the body. Moreover, the increasing of ROS could reduce the amount of antioxidant in the body. Total antioxidant capacity or TAOC is total antioxidant defence systems components of saliva like molecule and enzym that play a role as radical-scavenging. Omega 3 is one of polyunsaturated fatty acid (PUFA) that have anti-inflammatory effect. Omega 3 reduced production of the pro-inflammatory cytokines interleukin 8 (IL-8) dan interleukin 6 (IL-6). The aim of study was to evaluate the effect of consuming omega 3 to total antioxidant capacity in the saliva of gingivitis type 2 diabetes mellitus (DM) patients smokers and non smokers at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. A saliva samples before and after consume omega 3 (1000mg EPA+DHA) were collected from smokers and non smokers. The total antioxidant capacity of the clinical samples was determained spectrophotometrically at 532nm. Data were analyzed using paired t-test, independent sample t-test, and mann-whitney test. Of the 60 subjects in the study, 30 were smokers with a mean age of 57 (42-65) years and 30 were non smokers with a mean age of 60 (42-65) years. Consuming omega 3 increase TAOC levels. Total antioxidant capacity levels before and after consuming omega 3 were found lower in the saliva samples of smokers compared with non smokers (p<0,05).The study concludes that omega 3 affected TAOC levels in the saliva samples of gingivitis type 2 DM patients smokers and non smokers. The study suggests for further research to keep oral hygiene and diet control during consuming omega 3. | |
| 3752 | 13559 | H1D010007 | IMPLEMENTASI K3 (KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA) PADA PROYEK KONSTRUKSI | Indonesia tingkat kecelakaan kerja merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Sedikitnya 65.000 kasus kecelakaan kerja terjadi di Indonesia pada periode tahun 2007. Penerapan K3 merupakan suatu jaminan terhadap setiap sumber produksi dapat dipakai secara aman dan efisien. Selain itu, hal ini juga merupakan suatu jaminan agar proses kerja dapat berjalan dengan lancar. Namun kelalaian penggunaan K3 masih sangat banyak terjadi pada proyek konstruksi. Hal ini menimbulkan terjadinya risiko kecelakaan konstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi K3 pada proyek rusunawa di Jawa tengah. Proses pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan kuesioner, wawancara, dan kunjungan langsung. Adapun lokasi pengambilan sampel dilakukan pada 16 proyek rusunawa di Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Cilacap, Banjarnegara, dan Kebumen dengan responden kontraktor/pengawas. Metode yang digunakan adalah menggunakan kualitatif deskriftif. Dari hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan banyak pekerja yang kurang memahami dan menyadari akan pentingnya K3. Pelaksanaan K3 di proyek rusunawa kurang baik (57,88%). Hal-hal yang mendorong dilaksanakannya prinsip K3 adalah adanya rasa tanggung jawab kontraktor terhadap pekerja (100%), banyaknya pengalaman kerja dari kontraktor dan pengawas (68,75%), dan mengetahui dan menyadari hal yang dapat menyebabkan risiko K3(50%). Faktor-faktor yang menghambat dilaksanakannya K3 adalah faktor kesadaran pekerja (75%), faktor biaya (75%), kurang tegasnya pengawas dan kontraktor terhadap pekerja (68,75%), tidak adanya sistem manajemen K3 (SMK3) (68,75%), dan faktor pendidikan (50%). | Occupational accident rate in Indonesia is among the highest in the world. At least 65,000 cases occupational accidents occured in Indonesia in the period 2007. The implementation of health and safety is a guarantee against any source production can be used safely and efficiently process. In addition, it is also a guarantee that the work process can run smoothly. But negligence health and safety use at work is still very common in construction projects. This raises the risk of a construction accidents. This study aims to determine the implementation of occupational health and safety at rusunawa project in Central Java. The process of data collection is done by questionnaires provide, Interviews, nd site visits. The location of sampling carried out on 16 project rusunawa in the district of Banyumas, Purbalingga, Cilacap, Banjarnegara, and Kebumen with respondents contractor / supervisor. The analytical method used is qualitative descriptive. From the results of this study can be concluded a lot of workers who do not understand and realize the importance of occupational health and safety. Implementation occupational health and saferty rusunawa project are less well (57.88%). Case that encourage implementation of the principle of occupational health and safety is the sense of responsibility of the contractor against workers (100%), work experience from contractors and supervisors (68.75%), to know and be aware of things that can cause health and safety risk (50%). Factors inhibiting the implementation of health and safety are workers awareness factor(75%), cost faktor (75%), lack of sharpness supervisors and contractors against workers (68.75%), there is no managemet systemof occupational health and safety (68.75%), and education factor (50%). | |
| 3753 | 13561 | H1F010049 | SUKSESI FORMASI HALANG, DALAM PENGISIAN CEKUNGAN DALAM BUSUR (INTRA-ARC BASIN) PADA MIOSEN AKHIR DI BANTARKAWUNG, JAWA TENGAH | Penelitian berada di daerah Kecamatan Bantarkawung, Jawa Tengah. Secara fisiografi masuk kedalam zona Bogor-North Serayu-Kendeng. Daerah tersebut pernah menjadi bagian dari cekungan belakang busur pada Oligosen-Miosen Tengah dan berubah menjadi cekungan dalam busur di Miosen Tengah-Resen. Dari stratigrafi yang ada, cekungan ini merekam aktivitas gunungapi dari Oligosen-Resen. Formasi Halang merupakan produk dari material rombakan gunungapi yang diendapkan dengan mekanisme arus gravitasi pada lingkungan kipas bawah laut pada Miosen Tengah-Akhir. Maping detail dan observasi lapangan mengenai Formasi ini secara garis besar dihasilkan empat fasies asosiasi yaitu endapan slump, batupasir submarine-channel, batupasir submarine-fan lobe, dan mudstone basin plain. Secara umum Formasi Halang didominasi perselingan batupasir dengan mudstone. Hadirnya sikuen Bouma dari interval Ta-Te hampir di setiap singkapan menandakan bahwa Formasi ini didominasi oleh sitem arus turbit. Adanya bidirectional ripple pada interval Tc mengindikasikan hasil dari mekanisme reflected turbidit, menandakan bahwa cekungan tersebut dibatasi oleh dua tinggian. Hal tersebut cocok dengan keadaan cekungan yang berada pada sistem cekungan dalam busur. Secara komposisi material Formasi Halang didominasi oleh plagioklas feldspar (labradorite-bytonite) dan setempat terdapat sisipan tuff yang menandakan adanya pengaruh volkanik pada pengendapan Formasi ini. Dari data arus purba menunjukkan arah dominan barat dan timur, dan diinterpretasikan bagian barat gunungapi Kumbang dan timur Proto Slamet.Pengendapan Formasi Halang didominasi oleh siklus kenaikan muka air laut, terlihat dari system tract yang ada yaitu trasgressive system tract, hihgstand system tract dan dilanjut dengan transgressive system tract ke dua. Hal ini berbanding terbalik dengan keadaan iklim global yang cenderung mengalami pola pendinginan. Kenaikan muka air laut diperkirakan karena aktivnya penurunan cekungan. | Bantarkawung is one of area in Central Java that a part of Bogor-North Serayu- Kendeng physiography zone. This area was formed in the back-arc basin during Oligocene-Middle Miocene and turned into intra-arc basin in the Middle Miocene-Holocene that has recorded volcanic activity since Oligocene. Halang Formation revealed that presently being reworked-volcanic materials that was deposited by gravity flow in submarine-fan during Middle Miocene-Late Miocene. The resulting detailed-map and field observations consist of four major facies associations : slump deposits, submarine-channel sandstone, submarine-fan lobe sandstone, mudstone basin plain. Halang Formation is dominated by intercalated sandstone-mudstone. Bouma sequence (intervals Ta-Te) was quitely founded in outcrop that indicates turbidity current was existed. At the interval Tc sequences have shown bidirectional climbing ripple as a result of reflected-turbidite mechanism. Consequently, the basin was bounded by two paleo-high that take place in intra-arc basin system. Petrographic composition is dominated by calc-plagioclase (labradorite-bytonite) and locally tuff (vitric tuff) that indicates volcanic-influenced was deposited. Based on paleocurrent direction is predominantly western-eastern and the existence of paleohigh may be interpreted Kumbang Volcano in the western part and Proto Slamet in eastern part, respectively. Sedimentation of the Halang Formation is dominated by sea level rise, its consist of trasgressive system tract, hihgstand system tract and second transgressive system tract that are against global climate conditions that tend to be cool. Sea level rise presumed due to an active subsidence in the basin. | |
| 3754 | 13556 | G1D008049 | HUBUNGAN KADAR GULA DARAH SEWAKTU DENGAN TINGKAT KOGNITIF LANSIA FASE PRASENIUM DI POSYANDU LANSIA KELURAHAN GRENDENG | Latar Belakang: Penurunan fungsi kognitif pada seseorang dapat disebebkan karena adanya penyakit diabetes millitus. Penurunan fungsi kognitif menyebabkan gangguan saraf otak, yaitu, penurunan masa otak. Tujuan: Untuk mengetahui Hubungan Kadar Gula Darah Sewaktu dengan Tingkat Kognitif Lansia Fase Prasenium (55-65 tahun) di Posyandu Lansia Kelurahan Grendeng. Metode: Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi seluruh lansia yang ada di Posyandu Lansia Kelurahan Grendeng sebanyak 68. Teknik yang digunakan pada penelitian ini menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel 40 lansia. Analisis menggunakan uji statistik Rank-Spearment. Hasil: Sebagian besar responden berusia 59 tahun sebanyak 7 (20,6%), berjenis kelamin perempuan sebanyak 25 (73,5%), jenis pekerjaan IRT sebanyak 24 (70,6%), tingkat pendidikan sekolah dasar sebanyak 18 (52,9%), kadar gula darah sewaktu normal sebanyak 33 (97,1%) dan kerusakan fungsi tingkat kognitif ringan sebanyak 32 (94,1%). Terdapat hubungan antara kadar gula darah sewaktu dengan tingkat kognitif pada lansia fase prasenium. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kadar gula darah sewaktu dengan tingkat kognitif pada lansia fase prasenium. | Background: The decline cognitive function a person can caused due to diabetes mellitus. The decline cognitive functions of the brain caused neurological disorders is a decrease in brain future. Objective: To determine the relationship Blood Sugar Levels When the Elderly Cognitive Phase Prasenium (55-65 years) in Elderly IHC Grendeng village. Methods: Descriptive research is correlative with cross sectional approach. The entire elderly population in the Village Elderly IHC Grendeng many as 68. The technique used in this study using purposive sampling with a sample of 40 elderly. Analysis using statistical test of Rank-Spearment. Results: Most respondents aged 59 years as many as seven (20.6%), female as many as 25 (73.5%), type of work IRT as many as 24 (70.6%), primary school education level as many as 18 (52, 9%), normal blood sugar levels as much as 33 (97.1%) and the rate of mild cognitive dysfunction by 32 (94.1%). There is a relationship between blood sugar levels when the level of cognition in elderly prasenium phase. Conclusion: There is a relationship between blood sugar levels when the level of cognition in elderly prasenium phase. | |
| 3755 | 12920 | H1A011019 | PEMBUATAN BIOSENSOR MENGGUNAKAN CRYOGEL ALGINAT UNTUK ANALISIS KADAR GLUKOSA DARAH | Diabetes melitus merupakan suatu penyakit yang ditunjukkan dengan kadar glukosa darah yang lebih dari 120 mg/dL. Penyakit ini akan berakibat fatal apabila tidak terdeteksi sejak dini. Hal ini merangsang peneliti untuk dapat mengembangkan metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi kadar glukosa darah. Berbagai cara telah dilakukan untuk memodifikasi alat pendeteksi glukosa darah, salah satunya adalah biosensor. Pada penelitian ini, biosensor dirancang menggunakan cryogel alginat sebagai material pendukung amobilisasi enzim glukosa oksidase. Polimerisasi cryogel alginat menggunakan CaCl2 sebagai crosslinker dalam pembuatan cryogel. Biosensor ini dibuat dengan menanamkan cryogel alginat diujung tip, agar pembuatan dan pengoperasiannya lebih sederhana. Sistem pendeteksiannya didasarkan pada reaksi antara H2O2 sebagai produk reaksi enzimatis, yang dideteksi dengan indikator redoks KMnO4. Hasil penelitian ini menunjukkan perbandingan alginat (5%) dan CaCl2 (0,25 M) yang paling tepat untuk membuat cryogel alginat adalah 100 µL : 12 µL. Hasil pengujian biosensor cryogel alginat menunjukkan bahwa biosensor ini dapat digunakan untuk mengukur kadar glukosa secara linear pada jangkauan 0,5 – 15 mM. Biosensor ini dapat digunakan berulang sampai 11 kali (respon >90%), dengan nilai LOD sebesar 0,38 mM dan LOQ sebesar 1,27 mM. Keberulangan pembuatan biosensor juga diuji, yang menunjukkan nilai RSD sebesar 0,03% (tiga kali pengulangan pembuatan). Spesifisitas biosensor sedikit terganggu dengan senyawa pengganggu asam askorbat. Biosensor untuk menganalisis kadar glukosa darah yang menunjukkan hasil yang berbeda dengan metode standar yang digunakan di rumah sakit, tetapi menunjukkan kecenderungan hasil yang mirip. Hal ini menunjukkan adanya gangguan matriks dalam pengujian kadar glukosa darah. | Diabetes mellitus is disease indicated by a high level of blood glucose of more than 120 mg/dL. This disease would be come a serious problem if it is not detected early. This condition encourages researchers to develop methods to detect blood glucose levels. Many methods have been reported to modify the blood glucose detection devices, one of them was biosensor. In this research, a glucose biosensor was fabricated using alginate cryogel for glucose oxidase enzym immobilization support. The polymerization of alginate cryogel was used CaCl2 as a crosslinker in the cryogel preparation. This biosensor was made by growing alginate cryogel on a tip of micro pipette, for easier production and operation. The detection was based on the reaction between H2O2 as enzymatic product with a redox indicator of KMnO4. The result of this research showed the best ratio of alginate (5%) and CaCl2 (0.25 M) to make alginate cryogel was 100 μL : 12 μL. The test results of the biosensor alginate cryogel showed this biosensor can be used to measure glucose levels in a linear range of 0.1 mM to 15 mM. This biosensor can be used repeatedly up to 11 times (response >90%), with the calculated LOD of 0.38 mM and LOQ of 1.27 mM. The reproducibility of the biosensor alginate cryogel preparation was also tested, which showed the RSD of 0.03 % (three fabrication). The spesicificity of the biosensor showed a few responses of interference subtance of ascorbic acid. The biosensor was used to analyze blood glucose levels, which showed different results with the standard method used in the hospital, but showed a similar trend result. This indicates a matrix interference had effect on the measuring of blood glucose levels. | |
| 3756 | 13560 | P2CD14034 | PENGARUH TINGKAT SUKU BUNGA, TINGKAT BAGI HASIL, LIKUIDITAS, INFLASI, UKURAN BANK, DAN PERTUMBUHAN PRODUK DOMESTIK BRUTO TERHADAP DEPOSITO MUDHARABAH BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA | Penelitian ini bertujuan untuk menguji bagaimana pengaruh tingkat suku bunga, tingkat bagi hasil, likuiditas, inflasi, ukuran bank, dan pertumbuhan produk domestik bruto secara bersama-sama dan parsial terhadap deposito mudharabah Bank Umum Syariah di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain uji hipotesis atas data sekunder berbentuk time series untuk rentang waktu triwulan yaitu triwulan I tahun 2011 sampai dengan triwulan IV tahun 2014. Penelitian ini menggunakan sampel enam Bank Umum Syariah yang ada di Indonesia. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, uji asumsi klasik, analisis regresi berganda, uji hipotesis menggunakan uji F, dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua variabel penelitian secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap deposito mudharabah Bank Umum Syariah di Indonesia. Sedangkan secara parsial variabel tingkat bagi hasil dan ukuran bank berpengaruh positif signifikan terhadap deposito mudharabah Bank Umum Syariah di Indonesia, tetapi variabel tingkat suku bunga, inflasi, likuiditas, dan pertumbuhan produk domestik bruto tidak berpengaruh signifikan terhadap deposito mudharabah Bank Umum Syariah di Indonesia. | The purpose of this study is to examine the influence of interest rates, the level of profit sharing, liquidity, inflation, the size of the company, and the growth of gross domestic product simultaneously and partially on mudaraba deposits at Islamic Commercial Banking in Indonesia. This study conduct quantitative research with hypothesis testing on secondary data in term of time series on the quartely financial statements starting from the first quarter of 2011 to fourth quarter of 2014. The reserach sample is six Islamic Commercial Banking in Indonesia. The data analysis technique in this study are descriptive analysis, classical assumption test, multiple regression analysis, hypothesis test uses F test, and t test. The result showed that variable of interest rates, the level of profit sharing, liquidity, inflation, the size of the company, and the growth of gross domestic product simultaneously significant influence on mudaraba deposits at Islamic Commercial Banking in Indonesia. while partially variable of the level of profit sharing, and the size of the company positivelly significant influence on mudaraba deposits at Islamic Commercial Banking in Indonesia, but interest rates, liquidity, inflation, and the growth of gross domestic product does not significant influence on mudaraba deposits at Islamic Commercial Banking in Indonesia | |
| 3757 | 12977 | H1A011010 | PENURUNAN BOD, COD DAN TSS LIMBAH CAIR BATIK MENGGUNAKAN MEMBRAN SELULOSA ASETAT DARI KULIT PISANG (NATA DE BANANA SKIN) | Salah satu pemanfaatan dari limbah kulit pisang yaitu mengolahnya menjadi nata de banana skin dengan bantuan Acetobacter xylinum. Nata de banana skin dibuat menjadi selulosa asetat melalui proses asetilasi. Selulosa asetat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan membran yang kemudian diaplikasikan untuk menurunkan nilai BOD, COD dan TSS pada limbah cair batik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik membran selulosa asetat dari nata de banana skin berdasarkan nilai fluks dan mengetahui persentase penurunan nilai BOD, COD dan TSS pada limbah cair batik. Membran dari nata de banana skin memiliki nilai fluks air sebesar 6,09 L/m2.jam dan nilai fluks limbah sebesar 2,44 L/m2.jam. Membran tersebut dapat menurunkan nilai BOD sebesar 43,46%, COD sebesar 50%, dan TSS sebesar 96,55%. | One of utilization of waste banana peels is by processing it into nata de banana skin with the addition of Acetobacter xylinum. Nata can be made into a cellulose acetate with acetylation process. The cellulose acetate is used as a basic material for making a membrane that can be applied to reduce the value of BOD, COD and TSS in batik wastewater. The purposes of this research were to determine the characteristics of cellulose acetate membrane from nata de banana skin based on the value of flux and to determine the percentage of decreasing BOD, COD and TSS in batik wastewater. The result shows that membrane from nata the banana skin have a water flux value of 6.09 L/m2.hour and a waste flux value of 2.44 L/m2.hour. The membrane can decrease BOD value to 43.46%, COD to 50% and TSS to 96.55%. | |
| 3758 | 13565 | F1A010079 | DRAMATURGI BIDUAN DANGDUT ZONE CAFE BATURADEN (Studi tentang peran ganda seorang istri yang bekerja sebagai biduan dangdut di Zone Cafe Baturraden kabupaten Banyumas) | Penelitian ini berjudul DRAMATURGI BIDUAN DANGDUT ZONE CAFE BATURADEN (Studi tentang peran ganda seorang istri yang bekerja sebagai biduan dangdut di Zone Cafe Baturaden kabupaten Banyumas). Setiap manusia memainkan peran layaknya seperti dalam sebuah pertunjukan sandiwara, dimana manusia adalah aktor utama yang membagi dua wilayah untuk terjun ke kehidupan sosial. Dua wilayah yang dimainkan sang aktor disebut sebagai panggung depan dan panggung belakang. Dalam penelitian ini Zone Cafe Baturaden adalah panggung depan bagi sang biduan. Sedangkan Panggung belakang biduan adalah di lingkungan keluarga. Biduan memerankan kedua peran yang berbeda dimana di lingkungan kerja sang biduan memainkan perannya sebagai seorang penyanyi dangdut yang berpenampilan sensual. Namun disisi lain sang biduan merubah perannya sebagai istri dan orang tua. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran ganda wanita berkeluarga yang berprofesi sebagai biduan dangdut di Zone Cafe Baturaden, dengan metode penelitian Kualitatif Deskriptif melalui model pendekatan Etnometodologi. Hasil penelitian ini yaitu panggung depan seorang biduan dangdut di Zone Cafe Baturaden ketika berada di klub malam tempat ia bekerja. Sang biduan berusaha untuk bersikap profesional dan maksimal dihadapan konsumen atau penonton. Sedangkan panggung belakang sang biduan adalah ketika ia dilingkungan keluarga dimana perannya sudah berubah menjadi seorang ibu rumah tangga dibalik sosoknya sebagai biduan dangdut yang berpenampilan sensual. Terdapat fakta bahwa tingkat profesionalitas biduan berbanding lurus terhadap permasalahan keluarga yang dibina oleh biduan. Fakta lainya adalah pandangan negatif masyarakat terhadap profesi biduan tidak dapat dibenarkan karena profesi biduan juga menciptkan sebuah hal positif bagi beberapa kalangan khususnya pecinta musik dangdut. | This study titled DRAMATURGY OF BATURADEN CAFE ZONE DANGDUT SINGER (Study on the dual role of a wife who works as a dangdut singer in Baturaden Cafe Zone of Banyumas). Every people plays their roles like in the drama show where people are the main actor how divide two areas to act in social life. Two ares that played by actor are the front stage and the back stage. In this study, Baturaden Cafe Zone is the front stage of the singers. while the back stage of singers is in the family environment. The singers play two different roles where is in the job environment the singer played a role as a sensual dangdut singers. The other side, the singers change their roles as wives and parents. The purpose of this study is to know how the dual roles of married women who works as dangdut singer of Baturaden Zone Cafe by using descriptive qualitative research methods through models ethnometodology approach. The results of this studies is the front stage of Baturaden Zone Cafe dangdut singer where they are in the night club they work. The singer try to be professional and show maximum perfomance in front of the consumer or the audience. While the back stage of singers when they are in the family environment. They change the role as house wife eventhough they are dangdut singers who have the sensual performance. There are the fact that the level of singer professionalism singer proportional to family problems that are fosiered by the singer. The other fact is people's negative view to singer profession can not be justified because singer profession also creates a positive thing for some circles, especially for dangdut lovers. | |
| 3759 | 13566 | G1A011002 | HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG GIZI SEIMBANG DAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN STATUS GIZI BALITA DI PUSKESMAS II SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS | HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG GIZI SEIMBANG DAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN STATUS GIZI BALITA DI PUSKESMAS II SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS Widyasari Imelda, Agus Prastowo, Madya Ardi Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Email: imeldawidyasari@gmail.com ABSTRAK Latar belakang: Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2014, Indonesia termasuk di dalam 17 negara diantara 117 negara di dunia yang memiliki tiga permasalahan utama dalam gizi yaitu stunting, wasting, dan overweight.UNICEF tahun 1998 menyatakan bahwa tingkat pengetahuan ibu dan sanitasi lingkungan merupakan faktor penyebab tidak langsung terjadinya gizi kurang pada balita. Tujuan: Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dan sanitasi lingkungan dengan status gizi balita di Puskesmas II Sumbang Kabupaten Banyumas Metode: Studi analitik observational dengan pendekatan potong lintang. Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Analisis univariat menggunakan tabel distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan Chi Square dan Fisher exact. Hasil: Keseluruhan responden berjumlah 34 orang. Hasil menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dengan status gizi balita (p=1,00 ; p>0,05), serta terdapat perbedaan signifikan antara sanitasi lingkungan dengan status gizi balita (p= 0,001 ; p<0,05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dengan status gizi balita di Puskesmas II Sumbang Kecamatan Banyumas. Terdapat hubungan antara sanitasi lingkungan dengan status gizi balita di Puskesmas II Sumbang Kecamatan Banyumas. | RELATIONSHIP BETWEEN LEVEL OF MOTHER’S KNOWLEDGE ABOUT BALANCED NUTRITION AND ENVIRONMENT SANITATION WITH CHILDRENS’ NUTRITIONAL STATUS AT THE PRIMARY HEALTH CARE II OF SUMBANG, BANYUMAS DISTRICT Widyasari Imelda, Agus Prastowo, Madya Ardi Medical Faculty of Jenderal Soedirman University Purwokerto Email: imeldawidyasari@gmail.com ABSTRACT Background: World Health Organization (WHO) in 2014, Indonesia including in 17 countries among 117 countries in the world that has three main issues of nutrition. They are stunting, wasting, and overweight. UNICEF in 1998 states that the level of mother’s knowledge and the environment sanitation ares indirect factor of malnutrition among children under five years. Objective: To determine relationship between the level of mother’s knowledge about balanced nutrition and environment sanitation with the childrens’ nutritional status in the Primary Health Care II of Sumbang, Banyumas. Method: This study is an observational analytic study with cross sectional design. Univariate analysis used frequency distributon tables and bivariate analysis used Chi Square test and Fisher exact. Results: There are 34 respondents. The results showed that there’s no significant relationship between level of mother’s knowledge about balanced nutrition and childrens’ nutritional status (p= 1.00;p> 0.05), there’s significant relationship between environment sanitation and childrens’ nutritional status (p = 0.001 ;p <0.05 ). Conclusions: There is no relationship between level of mother’s knowledge about balanced nutrition and childrens’ nutritional status and there’s relationship between environment sanitation and childrens’ nutritional status in the Primary Health Care II of Sumbang. | |
| 3760 | 13595 | D1E011114 | PENGARUH PENGGUNAAN BERBAGAI JENIS PREBIOTIK TERHADAP KONSUMSI PROTEIN DAN BOBOT PROTEIN DAGING DADA ITIK TEGAL JANTAN UMUR DUA BULAN | Penelitian yang dilaksanakan pada tanggal 2 Mei 2015 sampai 10 Juni 2015 di Selo Arum Farm, Sokaraja, ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan prebiotik (FOS (frcutoologoscaride), GOS (galactooligosacaride) dan Inulin) dalam pakan terhadap konsumsi protein dan bobot protein daging dada itik Tegal jantan umur 2 bulan. Materi yang digunakan adalah 100 ekor itik Tegal jantan umur 2 bulan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan perlakuannya adalah Pakan basal (R0), pakan basal +0,2 % FOS (R1), pakan basal +0,2% GOS (R2) dan pakan basal +0,2% Inulin (R3). Data dianalisis dengan menggunakan analisis variansi. Hasil analisis variansi menujukkan bahwa perlakuan penggunaan prebiotik (FOS, GOS dan Inulin) dalam pakan itik Tegal jantan umur 2 bulan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi protein dan bobot protein daging dada. Rataan hasil konsumsi protein adalah 18,91 g/ekor/hari (R 0); 19,23 g (R 1); 18,84 g (R 2); 18,72 g (R 3); 18,83 g) dan rataan hasil bobot protein daging dada adalah 14,02 g (R 0); 13,49 g (R 1); 13,96 g (R 2); 12,59 g (R 3); 16,09 g. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan prebiotik FOS, GOS, dan Inulin dalam ransum itik Tegal jantan umur 2 bulan yang menghasilkan konsumsi protein dan bobot protein daging dada yang relativ sama. | This study aimed to determine the effects of the usage of prebiotic FOS, GOS, and inulin in feed on the protein consumption and protein mass of breast of male Tegal ducks. The material used were 100 four-week-old male Tegal ducks (Anas plathyrhincos). The research was conducted from May 2nd until June 10th, 2015 at Seloarum Farm and Science and Nutrition Laboratory, Faculty of Animal Husbandry,Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The treatments were basal feed (R 0), basal feed + 0.2% FOS (R 1), basal feed + GOS 0.2% (R 2), basal feed + Inulin 0.2% (R 3) which were given twice a day in the morning and afternoon as much as 100 g/ duck/ day and drinking water ad libitum. This research used experimental method, which was designed by using the Complettely Randomized Design (CRD). The parameters measured were the protein consumption and protein mass of breast. The data were analyzed by using the analysis of variances. The results of the analysis showed that the use of prebiotics in the diet did not affect significantly (P>0.05) on the feed consumption and protein mass of breast. The average result of protein consumption was 18,91 g/duck/day (R 0); 19,23 g (R 1); 18,84 g (R 2); 18,72 g (R 3); 18,83 g and the average result of the growth was 14,02 g (R 0); 13,49 g (R 1); 13,96 g (R 2); 12,59 g (R 3); 16,09 g. This research concludes that the addition of the prebiotics in the feed of the ducks yields a relatively equal protein consumption and protein mass of breast. |