Artikelilmiahs

Menampilkan 3.781-3.800 dari 48.758 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
378113596D1E011160HUBUNGAN ANTARA UMUR DAN JUMLAH PUTING SUSU INDUK DENGAN LITTER SIZE DAN SURVIVAL RATE ANAK BABI DI KABUPATEN KARANGANYAR, SOLO, JAWA TENGAHPenelitian yang bertujuan untuk mempelajari hubungan antara umur induk dengan litter size dan survival rate anak babi serta mempelajari hubungan antara jumlah puting susu induk dengan litter size dan survival rate anak babi. Penelitian menggunakan metode survey dengan purposive sampling sebanyak 250 ekor induk betina yang sudah pernah beranak minimal dua kali, siklus birahi normal dan jumlah puting susu yang genap. Variabel yang diamati yaitu umur induk (tahun), jumlah puting susu induk (buah), litter size (ekor), survival rate anak babi (%). Data dianalisis secara deskriptif dan analisis regresi linier. Hasil penelitian menunjukan bahwa induk babi dengan umur 2-3 tahun lebih baik jika dibandingkan dengan induk babi umur 3,5-5 tahun yang dapat terlihat dari nilai litter size 9,06 ± 1,51 ekor dan survival rate anak babi 90,87 ± 13,36%, sedangkan induk dengan jumlah puting susu yang banyak dapat mengahasilkan litter size yang baik yaitu ± 9 ekor, akan tetapi menghasilkan survival rate anak babi yang kurang baik yaitu ± 80% dikarenakan anak babi mendapatkan air susu dalam jumlah yang tidak sama. Tidak terdapat hubungan antara umur dan jumlah puting susu induk dengan litter size dan survival rate anak babi.The purpose of this research is to study the relationship between sows’ age with the litter size and survival rate of piglets and that between the number of the sows’ teats with the litter size and survival rate of the piglets. This research is using a survey method with purposive sampling 250 sows which have previously farrowed at least twice, have normal estrus cycle and even number of teats. The variables of observation are the sows’ age (year), the number of teats (teats), litter size (number of piglet), and piglets’ survival rate (%). The data analysis is a descriptif and linear regression analysis. The result of this research shows that the sows’ age of 2-3 years old is better than those of 3.5-5 years which can be seen from the value of litter size which is 9.06 ± 1.51 and the survival rate of piglets which is 90.87 ± 13.36%, while the sows with more teats can produce better litter size which is ± 9 but produce worse piglet survival rate which is ± 80% because the piglets get breast-fed not in the same amount. Therefore, it can concluded that, there is no any relationship between the sows’ age and the number of their teats with the litter size and piglets’ survival rate.
378213586D1E011023RESPON DAN EFEKTIVITAS SELEKSI INDIVIDU SAPI PERAH MENGGUNAKAN NILAI INTENSITAS SELEKSI YANG BERBEDA DI BBPTU-HPT BATURRADENPenelitian yang dilaksanakan di Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul Hijauan Pakan Ternak (BBPTU-HPT) Baturraden ini bertujuan untuk mengetahui respon dan efektivitas seleksi individu induk sapi perah dengan menggunakan nilai intensitas seleksi yang berbeda (50, 60, 70, 80 dan 90 persen). Materi penelitian yang digunakan adalah 430 catatan produksi susu laktasi pertama periode pencatatan tahun 2006-2014. Hasil penelitian menunjukkan produksi susu sapi perah (laktasi pertama) rata-rata 4878,73 ± 1722,56 kg dan produksi terkoreksi rata-rata 5063,01 ± 1282,68 kg, umur rata-rata 776,80 ± 78,70 hari, dan jumlah hari pemerahan rata-rata 356,40 ± 95,05 hari. Hasil respon seleksi tertinggi dalam penelitian sebesar 210,36 kg dan efektivitas seleksi 4,15% dengan ternak yang dipertahankan sebesar 50% (nilai intensitas sebesar 0,80). Hasil respon seleksi tertinggi kedua sebesar 168,29 kg dan efektivitas seleksi 3,32% dengan ternak yang dipertahankan sebesar 60% (nilai intensitas sebesar 0,64). Sedangkan hasil respon tertinggi ketiga sebesar 131,47 kg dan efektivitas seleksi 2,60% dengan ternak yang dipertahankan sebesar 70% (nilai intensitas sebesar 0,50). Hasil respon seleksi tertinggi keempat sebesar 92,03 kg dan efektivitas seleksi 1,82 % dengan ternak yang dipertahankan sebesar 80% (nilai intensitas sebesar 0,35). Dan hasil respon seleksi terendah sebesar 52,59 kg dan efektivitas seleksi 1,04 % dengan ternak yang dipertahankan 90% (nilai intensitas sebesar 0,20). Dapat disimpulkan bahwa semakin besar nilai intensitas seleksi maka semakin kecil atau sedikit ternak yang dipertahankan untuk dijadikan tetua, sehingga kenaikan nilai rata-rata fenotip dari generasi berikutnya (respon seleksi) meningkat (52,59 kg, 92,03 kg, 131,47 kg, 168,29 kg dan 210,36 kg), dan nilai efektivitas seleksinyapun meningkat (1,04%, 1,82%, 2,60%, 3,32% dan 4,15%).Conducted at Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul Hijauan Pakan Ternak (BBPTU-HPT) Baturraden, this research aimed at discovering the response and effectiveness of the individual selection of dairy cows by using different selection intensities (50, 60, 70, 80 and 90 percent). The research materials included 430 milk production records from the first lactation period that of 2006 to 2014. The results showed that the average of the milk production (lactation 1) was 4878,73 ± 1722,56 kg and that of the corrected production was 5063,01 ± 1282,68 kg, the average age was 776,80 ± 78,70 day, and that of the numbers of milking day was 356,40 ± 95,05 day. The results showed that the highest response of the selection was 210,36 kg and the selection effectiveness was 4,15% with dairy cows maintained 50% (the value of intensities was 0,80). The second highest response was 168,29 kg and the selection effectiveness was 3,32% with dairy cows maintained 60% (value of intensities was 0,64). The third highest response was 131,47 kg and the effectiveness of selection 2,60% with dairy cows maintained 70% (value of intensities was 0,50). The fourth highest selection response was 92,03 kg and the selection effectiveness was 1,82% with dairy cows maintained 80% (value of intensities was 0,35). And the lowest response was 52,59 kg and the effectiveness of selection 1,04% with dairy cows maintained 90% (value of intensities was 0,20). Therefore, it can be concluded that the greater the values of the selection intensities the less animals are used for parents, so that the average phenotype value of the next generation (selection response) increased (52,59 kg, 92,03 kg, 131,47 kg, 168,29 kg and 210,36 kg), and so did the value of its effectiveness (1,04%, 1,82%, 2,60%, 3,32% and 4,15%).
378313597H1G011028STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI PLAWANGAN BARAT SEGARA ANAKAN CILACAPLaguna Segara Anakan terletak di antara Pulau Nusakambangan dan Pulau Jawa memiliki 2 plawangan, Plawangan Timur dan Plawangan Barat. Skripsi ini berjudul “Struktur Komunitas Mangrove di Plawangan Barat, Segara Anakan, Cilacap”. Penelitian bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas mangrove di Plawangan Barat Segara Anakan Cilacap, karakteristik lingkungan mangrove di Plawangan Barat Segara Anakan Cilacap, serta hubungan antara kerapatan vegetasi mangrove dengan karakteristik lingkungannya di Plawangan Barat Segara Anakan Cilacap. Metode yang digunakan adalah survey, teknik pengambilan sampel purposive sampling pada 9 stasiun, 3 kali ulangan. Data dianalisis dengan Uji T dan PCA. Tingkat keanekaragaman pada tingkat pohon berkisar 0,36-1,75. Tingkat pancang berkisar 0,56-1,57. Tingkat semai berkisar 0-1,04. Indeks kemerataan jenis vegetasi tingkat pohon berkisar 0,36-0,98. Tingkat pancang berkisar 0,46-0,92. Tingkat semai berkisar 0,20-0,94. Indeks kekayaan jenis tingkat pohon berkisar 0,24-1,66. Tingkat pancang berkisar 0,25-1,35. Tingkat semai berkisar 0-1,27. Nilai kerapatan tingkat pohon berkisar 450-2800 ind/ha. Tingkat pancang berkisar 1467-7867 ind/ha. Tingkat semai 9167-40833 ind/ha. Tingkat pohon didominasi oleh Rhizopora sp, sedangkan tingkat pancang didominasi oleh Sonerratia sp. Seluruh parameter karakteristik lingkungan dalam batas normal untuk pertumbuhan mangrove, kecuali nilai COD melebihi ambang batas baku mutu. Kerapatan vegetasi mangrove memiliki korelasi yang rendah dengan faktor lingkungannya.Segara Anakan Lagoon is location between the Nusakambangan island and Java island have 2 Plawangan, Plawangan Timur and Plawangan Barat. A study entitled “ Community Structure of Mangrove at Plawangan Barat, Segara Anakan, Cilacap’. This study aimed knowing the structure of mangrove communities in the Plawangan Barat Segara Anakan Cilacap, characteristics of the mangrove environment in Plawangan Barat Segara Anakan Cilacap, determining the relationship between mangrove vegetation density with the characteristics of the environment in Plawangan Barat Segara Anakan Cilacap. This research using sampling tech with purposive sampling on 9 station with 3 replication. The datas are analyzed by T test and PCA. Diversity levels at tree level ranged from 0.36-1.75. Saplings level ranging from 0.56-1.57. Seeding level ranges from 0-1.04. Evenness index of vegetation tree level ranged from 0.36-0.98. Saplings levels ranged from 0.46-0.92. Seeding levels ranged from 0.20-0.94. Tree species richness index levels ranged from 0.24-1.66. Saplings level ranging from 0.25-1.35. Seeding level ranges from 0-1.27. Tree level density value ranging from 450-2800 ind/ha. Saplings level ranging from 1467-7867 ind/ha. Seedling level ranging from 9167-40833 ind/ha. Tree level is dominated by Rhizophora sp, while saplings dominated by Sonerratia sp. All of environmental quality have ranged normally, exception COD in fourth station has more than quality standards. Mangrove density has low correlation with the environment characteristic.
378413587H1A011046ANALISIS PARTIKULAT UDARA AMBIEN DI PALANGKARAYA DENGAN METODE GRAVIMETRI, EVANS ELECTROSELENIUM LIMITED (EEL) SMOKE STAIN REFRACTOMETRY, DAN X-RAY FLUORESCENCE (XRF)Kebakaran hutan di Palangka Raya merupakan peristiwa yang terjadi hampir setiap tahun. Kebakaran hutan ini dapat menyebabkan tingginya konsentrasi partikulat udara (PM2,5, PM10, dan Black Carbon) di udara. Karakterisasi partikulat udara dilakukan menggunakan metode Gravimetri, Evans Electroselenium Limited (EEL) Smoke Stain Refractometry, dan X-Ray Fluoresence (XRF). Pengambilan sampel dilakukan di jalan Tjilik Riwut selama periode April 2013 – Maret 2014. Hasil yang diperoleh konsnterasi rata-rata PM2,5, PM10 secara berturut-turut adalah 7,79 µg/m3 dan 20,17 µg/m3 serta mengalami peningkatan hingga 2 kali dan 1,7 kali ketika terjadi kebakaran hutan. Konsentrasi rata-rata BC dalam PM2,5 dan PM10 secara berturut-turut adalah 1,30 µg/m3 dan 0,44 µg/m3. Hasil analisis menggunakan XRF menunjukan bahwa dalam partikulat udara terkandung unsur-unsur Al, Ca, Cu, Cr, Fe, K, Mn, Ni, Pb, S, Si, Ti, dan Zn dimana S memiliki konsentrasi tertinggi yaitu 217,53 ng/m3 dan Ni memiliki konsentrasi terendah yaitu 1,74 ng/m3.ABSTRACT
Forest fires in Palangka Raya has almost become an annual events. This event causes high level of airborne particulate (PM2,5, PM10, and Black Carbon) in the air. Characterization of airborne particulate performed by using gravimetric method, Evans Electroselenium Limeted (EEL) Smoke Stain Refractometry, and X-Ray Fluoresence (XRF). Sample were collected on Tjilik Riwut during the Period of April 2013 – March 2014. The result shows that average concentration of PM2,5 and PM10 were 7,79 µg / m3 and 20,17 µg / m3 respectively which that increased by 2 times and 1,7 times in the event of a forest fire. An average concentration of BC in PM2,5 and PM10 were 1,30 µg / m3 and 0,44 mg / m 3 respectively. The results of XRF analysis showed that the airborne particulates contained elements of Al, Ca, Cu, Cr, Fe, K, Mn, Ni, Pb, S, Si, Ti, and Zn where S has the highest concentration 217,53 ng / m3 and Ni has the lowest concentration 1.74 ng / m3.
378513598G1A012040HUBUNGAN ANTARA RASIO PANJANG JARI KEDUA DAN KEEMPAT (2D:4D) TERHADAP KEJADIAN MIOPIA PADA MAHASISWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
Latar Belakang: Gangguan refraksi adalah masalah mata terbesar bagi penduduk berusia muda. Gangguan refraksi tersering adalah miopia. Prevalensi dan kasus baru miopia semakin meningkat. Derajat miopia dapat meningkat secara progresif sehingga menimbulkan berbagai macam komplikasi berbahaya. Kejadian miopia ternyata terkait dengan rasio panjang jari kedua dan keempat (2D:4D) melalui mekanisme genetik dan hormonal.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara rasio panjang jari kedua dan keempat (2D:4D) terhadap kejadian miopia pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman.
Metode: Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Mahasiswa angkatan 2012, 2013 dan 2014 dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok miopia dan kelompok emetropia (pembanding). Jumlah mahasiswa yang diambil disesuaikan dengan proporsi mahasiswa yang sesuai kriteria tiap angkatan. Jumlah sampel mahasiswa total yang diambil adalah 100 dari total populasi 410 mahasiswa. Pengukuran jari dilakukan dengan cara pengukuran menggunakan jangka sorong elektrik dan pengukuran metode scanning. Pemeriksaan visus dilakukan terhadap 100 sampel oleh refraksionis.
Hasil: Uji t tidak berpasangan menunjukkan perbedaan tidak bermakna (p>0,05) rasio 2D:4D pada kelompok miopia dan emetropia pada pengukuran pada kedua tangan dan kedua metode.
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara rasio panjang jari kedua dan keempat (2D:4D) terhadap kejadian miopia pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman.
Background: Refractive error is one of the biggest eye problem in young people. Most prevalent Refractive error is myopia. Prevalence and incidence of myopia is continuously increased. Myopia degree is progressively increased and ends in serious eye complication. Myopia is surprisingly associated with Second to Fourth Digit (2D:4D) Ratio by genetic and hormonal mechanism.
Objective: To observe association between Second to Fourth-Digit Ratio (2D:4D) with myopia case in medical student of Medical Faculty of Universitas Jenderal Soedirman.
Methods: This was a quantitative observational analitic research with cross sectional approach. The students from 2012, 2013 and 2014 cohort were divided into two groups: myopia group and emmetropia (control) group. The number of students each cohort were matched with the proportion of included students. Total sample was 100 students from total population 410 students. Digit measurement was done by digital vernier caliper and also with scanning method. Eye refraction test was done to 100 chosen sample by a Refractionist.
Result: Independent t test showed no significant 2D:4D difference (p>0,05) between myopia and emmetropia students in both hands and both methods.
Conclusion: There was no significant association between second to fourth-digit ratio (2d:4d) with myopia case in medical student of Medical Faculty of Universitas Jenderal Soedirman.
378613600F1A011040Kehidupan Buruh Bongkar Muat di Kelurahan Semampir Kecamatan Banjarnegara Kabupaten BanjarnegaraBuruh bongkar muat merupakan salah satu contoh pekerja di sektor informal. Buruh bongkar muat dalam bekerja dan mempertahankan posisinya, mereka menjalin interaksi sosial antar sesama buruh bongkar muat. Umumnya orang yang bekerja sebagai buruh bongkar muat adalah masyarakat Kelurahan Semampir dengan usia bervariatif, menjadi buruh tidak memerlukan keahlian khusus dan persyaratan bidang akademik sebab yang diutamakan adalah kekuatan fisik dan komitmen untuk bekerja. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan profil kehidupan buruh bongkar muat serta mendeskripsikan interaksi sosial yang terjalin antar sesama buruh bongkar muat di Kelurahan Semampir. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Semampir, Kecamatan Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif deskriptif. Teknik pengambilan sasaran penelitian adalah purposive sampling. Adapun teknik pengumpulan data yaitu melalui wawancara mendalam dan observasi. Validitas data diperkuat dengan triangulasi data. Proses analisis data menggunakan konsep analisis interaktif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa menjadi buruh bongkar muat merupakan langkah yang tepat bagi sebagian masyarakat Kelurahan Semampir yang belum mendapatkan pekerjaan dan berpendidikan rendah. Interaksi sosial antara buruh bongkar muat terjadi baik di Depo maupun di luar Depo, maka mereka pun pada akhirnya saling mengenal satu sama lain sehingga hubungan yang terjalin diantara mereka bersifat positif yaitu interaksi yang mengarah ke bentuk kerjasama. Implikasi yang diambil dalam penelitian ini adalah perlu diadakan kegiatan-kegiatan yang lebih berguna berupa pelatihan dan keterampilan oleh Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi untuk meningkatkan kemampuan sehingga dalam jangka panjang dapat meningkatkan taraf hidup buruh bongkar muat. Manual worker is an example of informal jobs. Manual workers work and keep their position, have social interaction with manual workers. Normally, people who work as manual workers are Semampir village people with various ages. Being manual workers don’t need specific skill and academic requirement because the things that need are physical strength and commitment for work. The purpose of this research is to describe life profile of manual workers in semampir sub-district and social interaction that happens of manual worker in Semampir Sub-District. This research was conducted in Semampir Village, Banjarnegara Sub-District, Banjarnegara Regency. The method used was qualitative-descriptive method. The technique used was purposive sampling. The data collection techniques in this research were in-depth interview and also observation. The data validation in this research was strengthened by triangulation data. Data analysis process used analysis-interactive concept. The result of the research showed that being manual worker is a better choice for them who have not a job and have low-education. Social interaction of manual workers works well in Depo also in out Depo or in daily activity, they know each other; therefore the relationship among them has positive effect that leads to cooperation. The conclusion is it needs to hold activities which are more useful such as; training and skills by the Department of Social Affairs, Labor, and Transmigration to improve the skills; therefore, in long-term can increase their lives.
378713601F1A011066Njangan Gandhul ( Fenomena Tradisi Njangan Gandul Pada Masyarakat Desa Melung Dalam Menghadapi Aktivitas Gunung Slamet )Terdapat berbagai macam tentang kebudayaan di Kabupaten Banyumas, khususnya Kecamatan Kedungbanteng Desa Melung. Salah satu dari sejarah kebudayaan Indonesia yang masih ada dan dipercaya sebagai suatu hal yang berupa ide, nilai, norma dan kebiasaan turun temurun adalah tradisi njangan gandul yang merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan oleh warga desa di kaki Gunung Slamet untuk menghadapi peningkatan aktivitas gunung. Penelitian ini berjudul “Njangan Gandul (Fenomena Tradisi Njangan Gandul pada Masyarakat Desa melung Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas)”. Sebagian masyarakat Desa Melung menjalankan tradisi tersebut melalui penerimaan dari generasi ke generasi saat kegempaan Gunung Slamet meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memberi penjelasan mengenai persepsi dan pemaknaan masyarakat desa Melung tentang fenomena tradisi njangan gandul yang ada di tengah masyarakat desa Melung kecamatan Kedungbanteng kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif sedangkan teknik pemilihan informan yang digunakan adalah purposive sampling.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagian warga masyarakat desa Melung masih melaksanakan tradisi njangan gandul sebagai hal yang dipercaya untuk mengatasi peningkatan aktivitas gunung Slamet. Akan tetapi, ada pula yang melaksanakan tradisi tersebut hanya karena ikut-ikutan dan sekedar untuk melestarikan tradisi yang ada. Mengenai makna njangan gandul itu sendiri juga menurut sebagian sesepuh desa bahwasanya makna njangan gandul adalah harus berpasrah dan bergantung pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Hal tersebut juga dibenarkan oleh Budayawan Banyumas, Ahmad Tohari njangan gandul itu sendiri memiliki filosofi makna bahwa kita sebagai manusia hendaknya selalu bergantung dan pasrah pada Yang Maha Kuasa atas setiap yang terjadi dan harus selalu berpegang teguh pada keyakinan diri sendiri. Implikasi dari penelitian ini adalah warga hendaknya menganggap tradisi tersebut tidak semata-mata sebagai penangkal meletusnya gunung, akan tetapi lebih condong kepada hanya untuk melestarikan tradisi budaya yang ada. Selain itu, aparat desa Melung hendaknya memfasilitasi kegiatan tradisi tersebut, seperti misalnya tradisi diadakan serentak di balai desa atau lapangan desa agar lebih khidmat.There are many cultures in Banyumas Regency especially Kedungbanteng District Melung Village. One of the remaining Indonesian’s heritage which is believed to have idea, value, norm, and hereditary habit is Njangan Gandul tradition, a hereditary tradition done by the villagers at the foot of the mountain in order to face the increasing activity of volcano.This research aims to know and explain about the perception and interpretation of the society in Melung village regarding the phenomenon of Njangan Gandul tradition existed within the society of Melung village Kedungbanteng district Banyumas regency. The research method is qualitative-descriptive research method whereas the informant selection technique is purposive sampling. The results show that a half of the society in Melung village still executes Njangan Gandul tradition as something believed to overcome the increasing activity of volcano. On the other hand, there are those who carries it out as to follow the others and only preserve the tradition. According to several village elders, the meaning of Njangan Gandul is to surrender and depend on the Almighty God. It is confirmed by a humanist from Banyumas, Ahmad Tohari, saying that Njangan Gandul itself has the philosophical meaning of the ideal humans who should always depend and surrender to the Almighty for anything that happens and always rely on the belief.The implication is how people should take this tradition not merely as the volcano repellent, but more as the preservation of the existing culture. Apart from that, the apparatus of Melung village should facilitate the tradition activity, such as executing the tradition in the hall or field for a solemn performance.

378813599H1L008007PEMODELAN SISTEM LATIHAN SOAL UJIAN NASIONAL ANTAR SEKOLAH MENGAH PERTAMA BERBASIS WEBAbstrak
Ujian nasional adalah sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah yang diselenggarakan oleh pemerintah. Ujian ini akan menentukan lulus atau tidaknya siswa dari jenjang pendidikan yang sedang ditempuhnya. Hal tersebut tentu menjadi sebuah alasan siswa untuk terus berlatih dan mengevaluasi kemampuanya dalam menjawab soal-soal ujian. Dalam Menghadapai Ujian Para siswa Umumnya berlatih dengan buku kumpulan soal ujian nasional dari tahun sebelumnya, untuk itu dibutuhkan sebuah sarana alternatif yang dapat digunakan siswa sehingga diharapkan siswa dapat lulus ujian dengan mendapat nilai yang memuaskan.
Pada penelitian ini dibangun sistem latihan soal ujian nasional yang dikhususkan untuk siswa sekolah menegah pertaman (SMP). Sistem latihan ini dirancang untuk memberikan alternatif sarana berlatih dan evaluasi bagi siswa dalam menjawab soal ujian. Dari sistem yang dibangun dapat menghasilkan pengolahan data berupa kumpulan naskah soal yang dapat dijawab oleh siswa dan siswa juga dapat mengetahui nilai yang diperoleh. Aplikasi ini dibangun menggunakan aplikasi berbasis web dengan menggunakan PHP sebagai bahasa pemrograman dan My SQL sebagai database.
National exam is a standard evaluation held by national government. This test determines the students' graduation from school level are being taken. It would be a reason for students to practice and evaluate the ability to answer the exam questions. Usually, student practice from book of exam quations collection.
In this study will develop a system for exercise national exam quation. this training system. This training system is designed to provide an alternative means of learning for students. System being developed can produce data processing such as document exam. development of the system uses website technology and PHP is used as a programming language.
378913602G1A011080HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN PERILAKU MASTURBASI PADA SISWA KELAS 3 SMA “X” KOTA TEGALLatar Belakang: Remaja merupakan masa transisi, dalam prosesnya terjadi perubahan yang muncul dan dapat menimbulkan gejala kecemasan. Kecemasan membutuhkan pelampiasan untuk mengalihkan stress dan cemas yang dihadapi. Pada remaja terjadi pula perkembangan seksual sekunder sehingga merubah pola perilaku seksual. Masturbasi merupakan aktifitas seksual dengan cara menstimulasi organ kelamin dengan tangan atau alat bantu, dapat dilakukan sendiri atau dengan bantuan guna mencapai klimaks. Masturbasi dilakukan sebagai eksplorasi dan mekanisme coping kecemasan yang dihadapi remaja.

Tujuan: Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara tingkat kecemasan dengan perilaku masturbasi.

Metode Penelitian: Desain Penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampling adalah total sampling dengan populasi siswa kelas 3 SMA . Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuisioner Lie Minnesota Multiphasic personality Inventory (L-MMPI), kuisioner Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS) dan kuesioner perilaku masturbasi. Analisis bivariat yaitu dengan menggunakan uji korelasi Spearman.

Hasil: Hubungan tingkat kecemasan dengan perilaku masturbasi menunjukan korelasi bermakna (p<0,012) dengan arah positif dan kekuatan korelasi sangat lemah (r=0,164).

Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat kecemasan dengan perilaku masturbasi pada siswa kelas 3 SMA.

Kata kunci: kecemasan, masturbasi, remaja
Background: Adolesence is a period of transition that involves several changes. These changes can trigger symptoms of anxiety. Adolescents need an outlet for relieving their stress and anxiety. There is also a secondary sexual development in adolescent, which will change the sexual behavior. Masturbation is a sexual activity to stimulate the genital organs by hand or tool. It can be done alone or with assistance, in order to reach an orgasm. Masturbation is being done not only as an sexual exploration but also as a coping mechanism for anxiety faced by adolescents.
Objective: This research was aimed to describe the correlation between anxiety level and masturbation behavior in senior high school students.
Method: This was an observational research with a cross-sectional approach. The subjects were students in 3rd grade of senior high school. We used the following instruments to measure the research variables: Lie Minnesota Multiphasic Personality Inventory (LMMPI) questionare, Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS) questionare, and masturbation behavior questionnaire.
Result: There was a significant but very weak correlation between anxiety level and masturbation behavior with positive direction (r = 0,164; p<0.012).
Conclusion: There was a correlation between anxiety level and masturbation behavior in grade 3 senior high school “X” Tegal.
Keyword: anxiety, masturbation, adolescent
379013603C1A008046KONTRIBUSI KOMPONEN PENDAPATAN ASLI DAERAH TERHADAP KEMANDIRIAN KEUANGAN KABUPATEN MAJALENGKA PASCA DIBERLAKUKANNYA OTONOMI DAERAHPenelitian ini mengambil judul. “Kontribusi Komponen Pendapatan Asli Daerah Terhadap Kemandirian Keuangan Kabupaten Majalengka Pasca Diberlakukannya Otonomi Daerah”. Lokasi penelitian yaitu di Kabupaten Majalengka dengan masa periode penelitian tahun 2008-2013. Dasar penelitian ini adalah diberlakukannya otonomi daerah sejak tahun 2001 sehingga setiap daerah harus mampu melaksanakan otonomi daerah secara luas dan bertanggung jawab. Tujuan dari penelitian ini yaitu yang pertama untuk mengetahui tingkat kemadirian keuangan daerah kabupaten majalengka dan kemudian untuk mengetahui komponen PAD yang paling dominan. Hipotesis yang ditarik dalam penelitian ini adalah yang pertama kabupaten Majalengka mempunyai tingkat kemandirian keuangan daerah yang rendah dan hipotesis yang kedua adalah lain-lain PAD yang sah memberikan kontribusi tertinggi daripada komponen PAD yang lain.
Untuk mengetahui tingkat kemandirian keuangan daerah dihitung dengan membandingkan antara PAD dengan bantuan pemerintah pusat/ propinsi. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan kemampuan Kabupaten Majalengka dalam membiayai penyelenggaraan pemerintahan dengan kemampuan daerah itu sendiri. Sedangkan untuk mengetahui komponen PAD yang pa,ing dominan, perlu diketahui sebelumnya kontribusi masing-masing komponen PAD tersebut. Komponen PAD yang memberikan kontribusi terbesar merupakan yang paling dominan.
Dari hasil perhitungan ini dapat digunakan sebagai masukan dalam usaha peningkatan PAD. Dari hasil penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa Kabupaten Majalengka mempunyai tingkat kemandirian keuangan daerah yang rendah, dan Lain-lain PAD yang sah merupakan komponen PAD yang paling dominan. Dari penelitian ini dapat diimplikasikan bahwa perlu diupayakan peningkatan sumber penerimaan dari PAD, sehingga diharapkan PAD kabupaten Majalengka terus meningkat untuk mencapai kemandirian keuangan daerah. Upaya peningkatan PAD tersebut dapat dilakukan dengan cara intensifikasi dan ekstensifikasi pemungutan penerimaan daerah. Selain itu Kabupaten Majalengka perlu terus menggali potensi-potensi ekonomi daerah yang ada untuk meningkatkan PAD.
This research take on titles “contributions components local revenue for financial independence of Kabupaten Majalengka after the regional autonomy” . Research locations in the Kabupaten Majalengka with a period of research years 2008-2013. Basic this research is the endorsement of regional autonomy since 2001 so that each regions should be capable of performing regional autonomy widely and responsible .The purpose of research is the first to know the level kemadirian regional financial kabupaten majalengka and then to know the most dominant components of local revenue. Hypothesis drawn in research is the first kabupaten majalengka have a financial independence a low area and the second hypotheses is another legitimate PAD contributed highest than other components of local revenue .
Determine the level of regional financial independence calculated by comparing between PAD with the help of the central government / province .The results shows kabupaten Majalengka ability to fund governance the region itself .While to know the most dominant local revenue, it is important to note the components each local revenues .This local revenue with the biggest contribution is most dominant .
The calculation result on it may be used as input in for increases in local revenue.Of the results of research conducted, be seen that kabupaten majalengka have a financial independence a low area, and another legitimate PAD is the most dominant component of PAD.From the study can implied that should be channeled increase sources of income of a PAD, it is expected that pad kabupaten majalengka continues to rise to reach regional financial independence .Efforts to improve the local revenue may be done by means intensification and extensification to collect regional income.In addition kabupaten majalengka need to keep exploring potentials economic regional government to increase local revenue.
379113605H1L011036RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI PERPUSTAKAAN DENGAN FITUR MESIN PENCARI MENGGUNAKAN METODE VECTOR SPACE MODEL (STUDI KASUS PONDOK PESANTREN ARRIYADLUSSALAM BOGOR)
Perpustakaan Ponpes Arriyadlussalam menyediakan berbagai macam buku pelajaran juga kitab-kitab tafsir dan buku agama islam lainnya yang dapat menjadi sumber pengetahuan bagi santri. Perpustakaan Ponpes Arriyadlussalam di Bogor dalam pengelolaannya masih menggunakan pencatatan di buku agenda perpustakaan sehingga proses rekap data buku cukup sulit dan menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Hal ini menyebabkan mutu pelayanan kepada anggota dirasa masih kurang. Sistem Informasi Perpustakaan berbasis website dapat menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi Ponpes Arriyadlussalam dan diharapkan pekerjaan pengelola perpustakaan akan lebih mudah dan pelayanan kepada anggota perpustakaan juga dapat meningkat. Sistem ini juga akan memiliki mesin pencari yang fungsinya mempercepat proses pencarian buku dan dapat digunakan oleh anggota. Mesin pencari ini dibangun dengan menerapkan metode vector space model. Alasan digunakannya metode tersebut adalah kemampuannya dalam menghitung derajat kemiripan suatu query pencarian dengan daftar dokumen. Selanjutnya proses peminjaman dan pengembalian buku akan dilakukan oleh pengelola perpustakaan.Library of Arriyadlussalam Boarding School provides a wide range of textbooks also tafseer and other Islamic religious books that can be a resources of knowledge for students. Library of Arriyadlussalam Boarding School in Bogor in its management of recording still uses an agenda book so the data recap process are quite difficult and spent a lot of time and efforts. This causes the quality of services to members are still lacking. Library Information System website based can be a solution to overcome the problems faced by Arriyadlussalam Boarding School and library managers will be expected to work more easily and the services to library members can also be increased. This system will also have a search engine to accelerate the process of finding books and can be used by members. This search engine is built by applying the vector space model method. The reason why the concept is used because its ability to calculate the similarity of each query and the documents. Furthermore, the process of borrowing and returning books will be performed by the library manager.
379213607G1A012100PERBANDINGAN EFEK RENOPROTEKTIF EKSTRAK DAGING BUAH MAHKOTA DEWA [Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.] DAN METFORMIN TERHADAP GAMBARAN HISTOLOGI GLOMERULUS : Studi pada Tikus Model Diabetes Melitus Tipe IILATAR BELAKANG
Prevalensi diabetes melitus (DM) dengan komplikasi nefropati diabetik (ND) di Indonesia cukup tinggi. Metformin adalah terapi untuk DM. Mahkota dewa (MD) berpotensi sebagai antidiabetik. Keduanya berpotensi mencegah ND. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efek renoprotektif MD dan metformin terhadap glomerulosklerosis pada tikus model DM tipe II.

METODE
Eksperimental dengan rancangan post test only with control group. Objek penelitian berupa 30 ekor tikus putih dibagi dalam 6 kelompok perlakuan. Kelompok A (kontrol sehat), kelompok B (kontrol sakit), kelompok C (MD 200 mg/kgBB), kelompok D (MD 250 mg/kgBB), kelompok E (MD 300 mg/kgBB), dan kelompok F (metformin 150 mg/kgBB). Semua hewan coba diinduksi nicotinamid dan streptozotocin kecuali kelompok A. Pada hari ke-22 dilakukan terminasi untuk pengambilan organ ginjal untuk pemeriksaan histologi glomerulus. Analisis data dengan software komputer. Uji distribusi menggunakan Saphiro-Wilk, uji beda menggunakan Kruskal-Wallis dan post hocMann-Whitney.

HASIL
Rerata grade glomerulosklerosis kelompok C dan E lebih rendah signifikan terhadap kelompok B (p=0,013 ; p=0,028) dan terhadap kelompok F (p=0,018 ; p=0,022).

KESIMPULAN
Ekstrak daging buah MD lebih efektif dalam mencegah ND pada tikus model DM tipe II dibandingkan metformin dengan dosis minimal 200 mg/kgBB.
BACKGROUND
Prevalence of diabetes melitus (DM) with diabetic nephropathy (DN) is high in Indonesia. Metformin is a therapy for DM. Mahkota dewa (MD) potential as anti-diabetic. Both of them potential to prevent DN. The aim of this research was to compare the renoprotective effect between MD and metformin on glomerulosclerosis in type II DM rats.

METHODS
Experimental study with post test only and control group design. Thirty albino rats as research object were divided into 6 groups. Group A (healthy control), group B (ill control), group C (MD 200 mg/kgBW), group D (MD 250 mg/kgBW), group E (MD 300 mg/kgBW), and group F (metformin 150 mg/kgBW). All the objects were inducted with nicotinamid and streptozotocin except object of group A. Termination was done at the 22nd day to take the kidney for glomeruus histology observation. Data analysis was done by coputer software. Distribution test was held by Saphiro-Wilk, difference test was held by Kruskal-Wallis and Mann-Whitney.

RESULTS
Mean of glomerulosclerosis grade of group C and E were significantly lower than group B (p=0,013 ; p=0,028) and group F (p=0,018 ; p=0,022).

CONCLUSION
MD is more effective to prevent DN than metformin with minimal dose is 200 mg/kgBW.
379313608C1J010003Telecommunication Infrastructure and Economic Growth: Evidence from Indonesia 2000-2012 Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif terhadap sektor telekomunikasi dan Produk Domestik Bruto di Indonesia. Judul dari penelitian ini adalah: "Infrastruktur Telekomunikasi dan Pertumbuhan Ekonomi: Bukti dari Indonesia 2000-2012". Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek dari jumlah BTS terhadap tingkat teledensitas, efek dari BTS dan teledensitas terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan kontribusi sektor telekomunikasi terhadap Produk Domestik Bruto di tiap sektor.

Populasi dalam penelitian ini adalah beberapa perusahan kabel dan nirkabel di Indonesia. Jumlah perusahaannya adalah 15 perusahaan termasuk empat besar perusahaan telekomunikasi nirkabel dengan pendapatan terbesar seperti PT. Telkomsel, PT. Indosat, PT. Tri Hutchinson Telecom dan PT. XL Axiata dengan menggunakan purposive sampling untuk memilih sampel.

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dengan menggunakan regresi linier dan korelasi berganda menunjukkan bahwa: (1) BTS memiliki efek signifikan positif terhadap tingkat teledensitas di Indonesia, (2) BTS dan teledensitas memiliki efek signifikan positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia, (3) sektor telekomunikasi berkontribusi lebih terhadap sektor tersier di Indonesia.

Implikasi dari kesimpulan di atas adalah dibutuhkannya penambahan variabel seperti sumber daya manusia untuk mempelajari kemampuan sumber daya manusia untuk menggunakan sektor telekomunikasi seperti pendapatan sektor telekomunikasi dan jumlah pengguna telekomunikasi. Implikkasi lainnya adalah karena adanya perkembangan di teknologi, cara untuk berkomunikasi juga ikut berkembang seperti menggunakan aplikasi di ponsel, jadi penelitian lebih lanjut untuk mempelajari tentang komunikasi dengan menggunakan internet diperlukan untuk dilakukan dalam penelitian selanjutnya.
This research is a quantitative research on telecommunication sector and Gross Domestic Product in Indonesia. The title of this research is: “Telecommunication Infrastructure and Economic growth: Evidence from Indonesia 2000-2012”. The purposes of this research are to knowing the effect of Base Transceiver Station on teledensity level, the effect of Base Transceiver Station and teledensity level on economic growth in Indonesia and the telecommunication sector contribution on Gross Domestic product each sector.

Populations on this research are several fixed-line and mobile phone telecommunication companies in Indonesia. The amount of the companies is 15 companies including top four mobile phone companies with biggest income such as PT. Telkomsel, PT. Indosat, PT. Tri Hutchinson Telecom and PT. XL Axiata with purposive sampling method to choose the sample.

According to the research result and data analysis with linear regression and multiple correlations method shows that: (1) Base Transceiver Station has a positive significant effect on teledensity level in Indonesia, (2) Base Transceiver Station and teledensity have a significant positive effect on economic growth in Indonesia, (3) Telecommunication sector contribute more on tertiary sector in Indonesia.

The implication from the conclusions above are needed to add more variable such as human resource to learn about the human resource capability in utilizing the telecommunication sector and telecommunication sector such as telecommunication income and subscribers number. Another implication is because there an advance in technology, the way to communicate is also develop such as communicate with internet with mobile phone application, so the advance study to learn about the communication by internet is need to be held on the next research.
379413609C1L011021ANALYSIS OF PUBLIC SERVICE THROUGH ELECTRONIC GOVERNMENT IN IMPROVING PUBLIC SERVICE EFFORTS TO MINIMIZE PRRACTICE OF MALADMINISTRATIONThe purpose of this research is to analyze the e-government implementation and its possibility of maladministration in public service. The research is conducted in several district offices at X city. The research method used is qualitative research with phenomenological method. The participant in this research is 20 informants consist of 10 peoples or citizen and 10 public officers from districts office. The technique of data analysis used in this research is interactive analysis models.
The research results show that the local government has adopted e-government in public services. However, the implementation has not been in all aspects of public services. Although e-government has not been fully implemented in all aspect of public services a lot of peoples or citizen can feel direct benefits or a positive impact of e-government implementation. The existence of e-government system reduces maladministration and violation of the rules by the government officers. Unfortunately, even there are some positive impact perceived by citizen, maladministration still exist in some sectors.
The purpose of this research is to analyze the e-government implementation and its possibility of maladministration in public service. The research is conducted in several district offices at X city. The research method used is qualitative research with phenomenological method. The participant in this research is 20 informants consist of 10 peoples or citizen and 10 public officers from districts office. The technique of data analysis used in this research is interactive analysis models.
The research results show that the local government has adopted e-government in public services. However, the implementation has not been in all aspects of public services. Although e-government has not been fully implemented in all aspect of public services a lot of peoples or citizen can feel direct benefits or a positive impact of e-government implementation. The existence of e-government system reduces maladministration and violation of the rules by the government officers. Unfortunately, even there are some positive impact perceived by citizen, maladministration still exist in some sectors.
379513610H1F010021PEMETAAN BAWAH PERMUKAAN DAN STUDI SIKUEN STRATIGRAFI FORMASI TALANGAKAR UNTUK IDENTIFIKASI POTENSI HIDROKARBON PADA LAPANGAN “ASSA” CEKUNGAN SUMATERA SELATANCekungan Sumatera Selatan merupakan salah satu dari 60 cekungan yang ada di Indonesia, daerah ini sangat menarik untuk dibahas dan dipelajari sehingga dapat diperoleh hal–hal baru yang berguna bagi dunia pendidikan dan industri. Dewasa ini tampak adanya peningkatan penggunaan konsep stratigrafi sikuen dalam pemecahan masalah eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi. Stratigrafi sikuen merupakan suatu strategi berorientasi proses yang menggunakan mekanisme sedimentasi untuk menjelaskan atau memprediksi kejadian, penyebaran, dan geometri paket sedimenter. Dengan menggunakan 20 lintasan seismik dan 4 data sumuran, berdasarkan atas kajian pemetaan bawah permukaan terdapat sesar reverse yang berarah tenggara-barat laut dan sesar normal yang berarah timur laut-barat daya. Daerah telitian terdiri atas 2 sikuen pengendapan, yaitu : Sikuen 1 terdiri atas : Lowstand System Tract-1, Transgressive System Tract-1 dan Highstand System Tract-1. Sikuen 2 terdiri atas : Lowstand System Tract-2 dan Transgressive System Tract-2. Sikuen ini termasuk tipe dengan batas sikuen tipe-1. Sumberdaya hidrokarbon pada daerah penelitian terdapat pada 1 zona prospek dan 5 zona lead yaitu pada endapan Lowstand System Tract-1 dan Highstand System Tract-1, dengan jumlah Original Oil In Place (OOIP) untuk P10 adalah 26,95 MMSTB, untuk P50 adalah 17,96 MMSTB, dan untuk P90 adalah 8,98 MMSTB.South Sumatra basin is one of the 60 basins in Indonesia, this area is very interesting to be discussed and studied in order to obtain new things that are useful for education and industry. Today looks to increased usage of sequence stratigraphic concepts in problem solving exploration and production of oil and gas. Stratigraphic sequence is a process-oriented strategy that uses sedimentation mechanism to explain or predict the occurrence, distribution, and geometry of sedimentary package. Based on the analysis using 20 seismic lines and 4 data wells, there are reverse fault have trend south east – north west and normal fault have trend north east – south west. This area consists of 2 deposition sequences, they are : sequence 1 consists of : lowstand System Tract-1, Transgressive System Tract-1 and Highstand Systems Tract-1. Sequence 2 consists of : Lowstand System Tract-2 and Transgressive System Tract-2. These sequences include of sequence boundary type-1 . Calculation of hydrocarbon resources there are 1 potential areas and 5 lead area of hydrocarbon based on sequence stratigraphic analysis in this area, they are Lowstand System Tract-1 and Highstand System Tract-1 with total Original Oil In Place (OOIP) for P10 is 26,95 MMSTB, for P50 is 17,96 MMSTB and for P90 is 8,98 MMSTB.
379613612A1L011176Pengaruh Tiga Sumber Auksin Dan Lama Perendaman Terhadap Pertumbuhan Setek Batang Tanaman Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav)Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui pengaruh sumber auksin alami terhadap pertumbuhan setek batang tanaman sirih merah (Piper crocatum Ruiz&Pav), 2) Mengetahui pengaruh lama perendaman sumber auksin alami terhadap pertumbuhan setek batang tanaman sirih merah, 3) Mengetahui sumber auksin alami dan lama perendaman yang tepat untuk pertumbuhan setek batang tanaman sirih merah.
Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Kedungwuluh, Kecamatan Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah terletak pada ketinggian tempat 110 meter di atas permukaan laut (dpl). Penelitian dilaksanakan mulai November 2014 sampai dengan Februari 2015. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok faktorial terdiri dari atas 9 perlakuan yang diulang 3 kali. Faktor pertama adalah lama perendaman terdiri dari 3 taraf yaitu 30, 45, dan 60 menit. Faktor kedua adalah tiga jenis sumber auksin, yaitu urin sapi, air kelapa dan ekstrak bawang merah. Variabel yang diamati terdiri dari saat tumbuh tunas, panjang tunas, jumlah daun, panjang akar terpanjang, jumlah akar, volume akar, bobot kering akar, bobot basah akar, bobot basah tunas, bobot kering tunas, luas daun tunas, persentase keberhasilan setek. Data dianalisis dengan uji F, apabila hasil tidak berpengaruh antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tiga jenis sumber auksin tidak memberikan pengaruh terhadap semua variabel. Lama perendaman yang optimal adalah selama 60 menit dan memberikan pengaruh terhadap luas daun. Interaksi perlakuan lama perendaman dan tiga jenis sumber auksin tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan setek batang tanaman sirih merah.
The research was amied to know 1) Determine the effect of source of auxin naturally to growth stem cuttings red betel plant (Piper crocatum Ruiz & Pav), 2) Determine the effect of natural auxin source soaking period on the growth of stem cuttings red betel plant, 3) Knowing the source of the natural auxin and soaking period is right for the growth of stem cuttings of red betel plant.
The research was carried out in the Kelurahan Kedungwuluh, West Purwokerto, Banyumas, Central Java, Laboratory of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman Purwokerto, Banyumas, Central Java Located in altitude 110 meters above sea level (asl). The research was conducted from November 2014 until February 2015. The design used was a randomized block design factorial consisted of over 9 treatments were repeated 3 times. The first factor is the long immersion consists of 3 levels are 30, 45 and 60 minutes. The second factor is the three kinds of auxin source are cow urine, coconut milk and red onion extract. Variables observed consisted of while growing shoots, shoot length, number of leaves, the longest root length, number of roots, root volume, root dry weight, wet weight root, bud wet weight, dry weight of shoots, buds leaf area, the percentage of successful cuttings. Data were analyzed by F test, if the results not give effect between the carrying out of the test, continued with Least Significant Difference (LSD).
The results showed that three kinds of auxin sources doesn’t gave effect on all of variables. The most optimal soaking time is 60 minutes and showed a real impact on broad leaf buds variable. The interaction of soaking and three kinds of auxin sources does not affect to growth of red betel stem cuttings.
379713613C1A012031ANALISIS PERMINTAAN EKSPOR MINYAK KELAPA SAWIT MENTAH/CRUDE PALM OIL INDONESIA KE LIMA NEGARA TUJUAN UTAMA PERIODE 1990-2014Ekspor merupakan komponen dalam neraca perdagangan yang sangat penting bagi perekonomian, tidak terkecuali bagi Indonesia. Komoditas ekspor yang cukup potensial di Indonesia adalah minyak kelapa sawit mentah. Indonesia menjadi pemasok CPO terbesar di dunia sejak tahun 2010. Pangsa pasar terbesar dari CPO Indonesia adalah India, Belanda, Italia, Singapura dan Spanyol. Kondisi ekspor CPO Indonesia ke lima negara tersebut mengalami penurunan selama lima tahun terakhir, akibat tekanan harga CPO dunia.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis factor-faktor yang mempengaruhi dan factor yang paling berpengaruh terhadap permintaan ekspor CPO Indonesia ke negara tujuan utama periode 1990-2014 dengan metode regresi data panel, serta untuk mengestimasi tren perkembangan dan prediksi ekspor CPO Indonesia ke negara tujuan utama di masa yang akan datang.
Hasil penelitian menunjukan bahwa harga ekspor CPO Indonesia, pertumbuhan ekonomi dan inflasi negara tujuan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap permintaan ekspor CPO Indonesia ke negara tujuan utama. Harga minyak kelapa dunia dan volume ekspor CPO Indonesia tahun sebelumnya berpengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan ekspor CPO Indonesia ke negara tujuan, sedangkan kurs US$/LCU tidak berpengaruh signifikan terhadap permintaan ekspor CPO Indonesia ke negara tujuan utama. Faktor yang paling mempengaruhi permintaan ekspor CPO Indonesia ke negara tujuan adalah harga minyak kelapa dunia sebagai barang substitusinya, dan tren perkembangan ekspor CPO Indonesia menunjukan tren positif.

Export is one of components that measured in balance payment which is very important in the economy, not exceptly for Indonesia. One of the most potential export commodity for Indonesia is Crude Palm Oil. Indonesia is the biggest supplier of CPO in the world since 2010. The big five countries which have greatest market share are India, Netherlands, Italy, Singapore and Spain. The CPO export of Indonesia showed that decreased for five years because of the world CPO price.
The objective of the research is to analyze the determinant factors of Indonesia’s CPO export demand to the main destination countries on 1990-2014 and to analyze the most influence factor, and then to estimate the trend of Indonesia’s CPO export demand to make the forecasting of Indonesia’s CPO export demand on the next period.
The results showed that Indonesian CPO export prices, economic growth and inflation of main destination countries have a negative significantly effect on the demand for Indonesia's CPO exports to the main destination countries. World oil prices and the volume of Indonesian CPO exports in previous year have a positive significantly effect on the demand for Indonesia's CPO exports to the main destination countries, while the exchange rate of US$/LCU not significantly effect on demand for Indonesia's CPO exports to main destination countries. The most influence factor of demand for Indonesia's CPO exports to the destination country is world coconut oil prices as substitute goods of CPO, and trend of Indonesian CPO exports showed a positive trend.
379813611F1B011026PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP GOOD GOVERNANCE DALAM PELAYANAN DI KANTOR URUSAN AGAMA (KUA) PURWOKERTO UTARA KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN BANYUMASKantor Urusan Agama (KUA) merupakan ujung tombak pelayanan Kementerian Agama yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Salah satu pelayanan yang diberikan yaitu pelayanan nikah. Pelayanan publik yang berkualitas tentunya menjadi faktor penting bagi penyelenggaraan pelayanan pernikahan seiring dengan semakin pesatnya kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Salah satu cara yang sesuai untuk mewujudkan pelayanan yang berkualitas dan mengatasi permasalahan yang sering timbul di dalam pelayanan adalah dengan menerapkan prinsip-prinsip good governance di Kantor Urusan Agama (KUA) Purwokerto Utara. Berdasarkan fakta tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan sejauhmana penerapan prinsip-prinsip good governance dalam pelayanan publik di Kantor Urusan Agama (KUA) Purwokerto Utara
Penelitian ini berlangsung di wilayah Purwokerto Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuantitatif deskriptif. Sedangkan jumlah responden adalah 50 orang responden yang telah mendapatkan layanan nikah. Penentuan responden dilakukan secara quota sampling. Teknik analisis yang digunakan yaitu distribusi frekuensi dan mean
Setelah melakukan analisis data yang diperoleh, diketahui berdasarkan penilaian responden pada kuesioner yang diberikan penerapan prinsip-prinsip good governance dalam pelayanan publik di Kantor Urusan Agama (KUA) Purwokerto Utara dalam kategori baik., Berdasarkan deskripsi dimensi variabel penerapan prinsip-prinsip good governance dalam pelayanan seperti akuntabilitas, transparansi, keterbukaan. dan supremasi hukum masyarakat beranggapan sudah baik.
For the Ministry of Religious Affairs, Kantor Urusan Agama (KUA; an official institution on religious affairs) has significant roles because it serves people directly. One of the services provided by the ministry of marriage. Quality public services would be an important factor for the holding of wedding services in line with the rapid needs and demands of society. One way that is appropriate to achieve quality service and overcome the problems that often arise in the ministry is to apply the principles of good governance in official institution on religious affairs (KUA) North Purwokerto. Thus this research is aimed to identify and describe the extent to which the application of the principles of good governance in the public service in official institution on religious affairs (KUA) North Purwokerto.
The study took place in the northern region of Purwokerto. The method used in this research is quantitative descriptive. While the number of respondents is 50 respondents who have obtained a marriage service. Determination of the respondents carried out by quota sampling. The analysis technique used is frequency distribution and mean.
After analyzing the data obtained, it is known based on the assessment of respondents on the questionnaire that was given the application of the principles of good governance in the public service in the Office of Religious Affairs (KUA) Purwokerto North in both categories., Based on the description of the dimensions of the variable application of the principles of good governance in the service such as accountability, transparency, openness. and the rule of law society thinks is good.
379913614E1A009227Penegakan Hukum Disiplin Pegawai Negeri Sipil Di Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten BanjarnegaraHukuman Disiplin adalah hukuman yang dijatuhkan kepada Pegawai Negeri Sipil karena melanggar Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Penegakan hukum Disiplin Pegawai Negeri Sipil diharapkan dapat Mengurangi Jumlah Kasus Pelanggaran Disiplin Yang dilakukan oleh para Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Banjarnegara. Penelitian ini menggunakan Metode Yuridis Normatif, Yaitu pendekatan Yang menggunakan konsep positif hukum, Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang penegakan hukum Disiplin Pegawai Negeri Sipil di Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Banjarnegara. Berdasarkan hasil Penelitian yang dilakukan, penegakan hukum Disiplin Pegawai Negeri Sipil di Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Banjarnegara terdiri dari Pengawasan dan Penerapan sanksi. Pengawasan yang dilakukan Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Banjarnegara sebagai Upaya penegakan hukum Disiplin pegawai negeri sipil meliputi Pengawasan Fungsional yang terdiri dari Apel pagi, absen Finger Print dan Retina yang dilakukkan bawahan dan diserahkan kepada atasan masing-masing, Laporan Bulanan yang dilakukan bawahan dan diserahkan Kepada atasan masing-masing Bagian, Laporan Bulanan tiap atasan masing-masing Bagian yang diserahkan Kepada kesekretariat Utama Mengenai hasil kerja, dan Pemantauan Langsung. Penerapan sanksi, selama Tahun 2011-2014 Pelanggaran Disiplin di Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Banjarnegara Selalu dapat ditindak tegas dengan Peraturan perundang-Undangan yang berlaku yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, Pelanggaran disiplin ringan di kenakan hukuman ringan berupa teguran lisan , pelanggaran disiplin sedang dikenakan hukuman berupa penundaan kenaikan Gaji Berkala selama 1 (satu) Tahun, dan Pelanggaran disiplin berat dikenakan hukuman Disiplin berat berupa pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan Sendiri sebagai Pegawai Negeri Sipil.Disciplinary punishment is the punishment meted out to the Civil Service for violating the Civil Service Disciplinary Regulations. law enforcement Discipline of Civil Servants are expected to reduce the violation Paid Posted Discipline done the Civil Servants in Banjarnegara. Research Methods of using the initials of normative juridical, ie the approach which uses the concept of positive law, research Husband aims to review acquire Overview ABOUT law enforcement Discipline of Civil Servants at the Regional Personnel Agency Banjarnegara And factors Anything That would impede law enforcement Discipline of Civil Servants District staffing agency Banjarnegara.
Based on the findings of research, law enforcement Discipline of Civil Servants in the Regional Employment Board consisting Banjarnegara From Monitoring and Application of sanctions. Supervision Yang Posted done Agency Kepefawaian District Banjarnegara AS efforts of law enforcement Discipline civil servants include oversight Functional Consisting Of Apples morning, absent Finger Print And Retina The subordinate done And To Submitted by their respective superiors, Monthly The subordinate done And To Submitted supervisor of each section, each boss Monthly Report each section Submitted To The Top kesekretariat Regarding the findings of the work, Dan Direct Monitoring. The imposition of sanctions, during the Year 2011-2014 Violation of Discipline in the Regional Employment Board Banjarnegara always dealt with firmly CAN WITH Laws Applicable Invitation Namely Government Regulation No. 53 of 2010 CONCERNING Civil Servant Discipline, Discipline Discipline Violation SUBJECT Lightweight Lightweight Form penalty oral reprimand , Disciplinary Punishments were SUBJECT delay penalty Form Periodic salary hikes IN for 1 (one) year, and Serious Violations Disciplinary Form Disciplinary dismissal penalty SUBJECT WITH NO differences Yours Alone AS request of the State Civil Service.
380013109C1A011071PENGARUH PENGANGGURAN, INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA, DAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO TERHADAP KEMISKINAN DI EKS KARESIDENAN BANYUMAS PERIODE 2004-2013
Penelitian ini berjudul “Pengaruh Pengangguran, Indeks Pembangunan Manusia, dan Produk Domestik Regional Bruto terhadap Kemiskinan di Eks Karesidenan Banyumas Periode 2004-2013”. Kemiskinan merupakan salah satu masalah dalam perekonomian. Oleh karenanya perlu dicari solusi untuk mengatasi atau mengurangi kemiskinan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengangguran, IPM, dan PDRB terhadap kemiskinan di Eks Karesidenan Banyumas periode 2004-2013.
Metode penelitian ini merupakan analisa data sekunder yang merupakan hasil survai dari badan atau dinas terkait seperti BPS dan dinas-dinas terkait. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data panel dengan pendekatan efek tetap (fixed effect).Hasil penelitian yang diperoleh adalah variabel pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan di Eks Karesidenan Banyumas periode 2004-2013, dan variabel IPM berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan di Eks Karesidenan Banyumas periode 2004-2013, sedangkan variabel PDRB tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kemiskinan di Eks Karesidenan Banyumas periode 2004-2013.
Implikasi dari penelitian ini adalah untuk mengurangi jumlah penduduk miskin di Eks Karesidenan Banyumas perlu adanya upaya untuk mengatasi pengangguran. Upaya lain untuk mengurangi jumlah penduduk miskin di Eks Karesidenan Banyumas yaitu dengan peningkatan pembangunan manusia melalui peningkatan kualitas pendidikan dengan pemberian beasiswa kepada pelajar yang berprestasi dan tidak mampu, serta peningkatan kualitas fasilitas pendidikan. Selain pendidikan, peningkatan pembangunan manusia dilihat dari aspek kesehatan dengan pemberian jaminan kesehatan masyarakat khususnya masyarakat tidak mampu, serta peningkatan kualitas fasilitas kesehatan.
This research is entitled 'The analysis of the Influence of Unemployment, Human Development Index, and Gross Regional Domestic product on Poverty in Ex Karesidenan Banyumas in 2004-2013'. Poverty is of the problem in economy. That is why it's necessary to find the solution to overcome or decrease poverty. The purpose of this research is to find out the influence of Unemployment, HDI, and GRDP bon poverty in Ex Karesidenan Banyumas in 2003-2014.
The analysis method used in this research is panel data analysis with fixed effect approach and using secondary data.The result that obtained is that the variable of Unemployment has positive and significant influence on poverty in Ex Karesidenan Banyumas in 2004-2013, and the variable of HDI has negative and significant influence on poverty in Ex karesidenan Banyumas in 2004-2013, while the variable of GRDP has negative and insignificant influence on poverty in Ex Karesidenan Banyumas in 2004-2013.
The implication of this research is to decrease the number of poor people in Ex Karesidenan Banyumas it's necessary to overcome unemployment. Other effort to decrease the number of poor people in Ex Karesidenan Banyumas area is by upgrading the human resources through a qualified education by giving scholarship for less fortunate students with certain achievement, and also the improvement of education quality. Other than education, the increase of human development seen from the health aspect by giving health assurance especially for the less fortunate, and also the improvement of health facility.