Artikelilmiahs
Menampilkan 3.181-3.200 dari 48.736 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 3181 | 12965 | H1H011024 | PRODUKSI Daphnia sp. DENGAN PEMBERIAN SUMBER PAKAN DARI HASIL CAIR FERMENTASI SAWI PUTIH (Brassica chinensis) | Daphnia sp. merupakan salah satu jenis pakan alami sering diberikan pada benih ikan. Salah satu kultur Daphnia sp. dengan memberikan pakan yang sesuai dengan kebutuhan Daphnia sp. yaitu pemberian sumber pakan hasil cair fermentasi sawi putih. Tujuan penelitian yaitu mengetahui pengaruh penambahan dosis hasil cair fermentasi sawi putih serta mengetahui penambahan dosis terbaik terhadap kepadatan populasi, produksi dan pertumbuhan harian Daphnia sp. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan RAL 4 perlakuan dan 4 kali ulangan berupa dosis cairan hasil fermentasi sawi putih (F0) 2 mL/L/hari, (F1) 4 mL/L/hari, (F2) 6 mL/L/hari dan (F3) 8 mL/L/hari dengan sistem tehnik daily feeding. Variabel yang diukur berupa kepadatan populasi, produksi dan pertumbuhan harian Daphnia sp. serta parameter adalah jumlah populasi Daphnia sp., pH fermentasi, temperatur, pH dan oksigen terlarut media kultur Daphnia sp. Analisis data menggunakan SPSS 17.0. Hasil rata-rata menunjukkan bahwa kepadatan populasi tertinggi pada perlakuan F3 (8 mL/L/hari) sebanyak 5471,42 Ind/L, produksi yaitu 875-2425 Ind/L sedangkan pertumbuhan harian yaitu 62,5-173,2 Ind/hari. Hasil kualitas air adalah suhu media pagi dan sore hari berkisar 23°C-28°C, oksigen terlarut pagi dan sore hari awal penelitian berkisar 3,5-5,1 ppm dan pagi dan sore hari akhir penelitian berkisar 3,8-5,1 ppm dan pH media berkisar 6,5-8,4. pH fermentasi sawi putih selama diperam 6 hari berkisar 3,2-5,7. . | Daphnia sp. is one kind of natural food often given to the fish fry. One of the cultures of Daphnia sp. to provide food that is appropriate to the needs of Daphnia sp. namely providing a source of liquid fermented feed results chicory. The aim of research is to know the effect of adding a dose of liquid yield fermented cabbage as well as determine the best dose additions to the density of population, production and daily growth of Daphnia sp. Research using experimental methods with RAL 4 treatments and 4 replicates the form of a dose of a liquid fermented white cabbage (F0) 2 mL/L/day, (F1) 4 mL/L/day, (F2) 6 mL/L/day and (F3) 8 mL/L/day with daily feeding technique system. Measured variables such as population density, production and daily growth of Daphnia sp. as well as the population parameter is the number of Daphnia sp., the fermentation pH, temperature, pH and dissolved oxygen Daphnia sp. culture medium. Data analysis using SPSS 17.0. Average results showed that the highest population density in the treatment F3 (8 mL/L/day) as much as 5471,42 Ind/L, the production of which is 875-2425 Ind/L while the daily growth, namely from 62.5 to 173,2 Ind/day , Results of water quality is medium temperature morning and evening around 23°C-28°C, dissolved oxygen morning and afternoon start of the study ranged from 3.5 to 5.1 ppm and the morning and afternoon end of the study ranged from 3,8 to 5,1 ppm and the pH of the media ranges from 6,5 to 8,4. fermentation pH chicory for ripened 6 days ranged from 3,2 to 5,7. | |
| 3182 | 12976 | F1B011013 | AKUNTABILITAS PELAPORAN KEUANGAN ALOKASI DANA DESA (Studi Kasus Program Alokasi Dana Desa di Desa Karangsoka Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas) | Alokasi Dana Desa (ADD) merupakan salah satu pengelolaan dana yang bersumber dari pemerintah pusat yang kemudian dialokasikan kepada desa-desa, yang bertujuan dalam pemerataan kemampuan keuangan untuk mendanai kebutuhan desa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan serta pelayanan masyarakat. Dalam pengelolaannya ADD harus dipertanggungjawaban setiap tahapan dan pada akhir tahun anggaran sesuai peraturan sistem keuangan negara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui akuntabilitas pelaporan keuangan program ADD di Desa Karangsoka. Metodologi yang digunakan adalah kualitatif menggunakan pendekatan studi kasus. Teknik pengambilan informan dengan purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah wawancara mendalam, dokumentasi dan observasi. Metode analisis yang digunakan yaitu model analisis interaktif Milles dan Huberman dan keabsahan data diuji dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Karangsoka belum bisa mewujudkan akuntabilitas administrasi pelaporan keuangan dalam program ADD. Rendahnya akuntabilitas ini dapat dilihat dari lima dimensi yang meliputi transparancy, liability, controllability, responsibility, dan responsiveness. Kegagalan untuk mencapai akuntabilitas disebabkan karena adanya penguasaan kewenangan oleh pribadi tanpa adanya koordinasi oleh seluruh aparat pemerintahan desa dalam pengelolaan ADD sehingga menyebabkan tidak dapat membuat laporan keuangan dengan baik dan tepat waktu sesuai aturan. Kemudian tidak adanya sanksi yang tegas terhadap permasalahan ketidaktertiban pelaporan keuangan. | Village Allocation Funds (VAF) is one of the management of funds by the central government and allocated to the villages, which aims at the equal distribution of financial capability to fund the village needs in the context the administration and developmentas well public service. Management VAF budget must be accountable every stage and of end fiscal year with regulation state financial. This research aims to find out the accountability of financial reporting administration VAF program the village goverment in Karangsoka. This research used qualitative method with case study aproach. The techniques for choosing informan with purposive sampling. Data collection techniques used observation, documentation and depth interview. The analytical method used interactive model by Milles and Huberman and data validity tested with source triangulation. The results showed most of the village goverment in Karangsoka not can realize accountability financial reporting administration VAF program. Low accountability can be seen from the five dimensions that include transparancy, liability, controllability, responsibility, and responsiveness. Failure to achieve financial accountability is caused by the existence mastery personal authority without coordination all government officer in managing of VAF thus causing can not make financial statements well and on time according to the rules. Then the absence of firm sanctions against late of financial reporting. | |
| 3183 | 12966 | F1B011067 | REFORMASI BIROKRASI KECAMATAN MELALUI PENYELENGGARAAN PELAYANAN ADMINISTRASI TERPADU KECAMATAN (PATEN) DI KABUPATEN BANYUMAS | ABSTRAK Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (PATEN) merupakan inovasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Reformasi birokrasi sebagai upaya memperbaiki pelaksanaan pelayanan publik salah satunya dilakukan melalui pelaksanaan pelayanan terpadu di kecamatan yang dilaksanakan berdasarkan Paraturan Kemendagri Nomor 04 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan yang bertujuan untuk menjadikan kecamatan sebagai simpul pelayana kabupaten/kota. Pemerintah Kabupaten Banyumas mengeluaran Peraturann Bupati banyumas Nomor 09 tahun tahun 2010 tentang Pelimpahan Kewenangan Perizinan Kepada Camat di Kabupaten Banyumas. Diselenggarakannya pelayanan terpadu di kecamatan dapat lebih mempermudah masyarakat dalam memperoleh pelayanan dengan waktu yang lebih cepat, biaya yang lebih murah. Reformasi birokrasi yang telah dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Banyumas dilakukan dengan membuat prosedur pelayanan yang lebih sederhana, pelatihan dan pendidikan pegawai, kegiatan monitoring dan evaluasi serta pengadaan sarana dan prasarana pelayanan publik. Kata kunci : Reformasi birokrasi, Pelayanan Publik | ABSTRACT The District Integrated Administrative Service is an innovation on public service . Reform of the bureaucracy as an effort to improve the implementation of public services one of which is done through the implementation of integrated services in the districts held by paraturan Kemendagri Number 04 Year 2010 on Guidelines for the District Integrated Administrative Service which aims to make the districts as a node ministry district / city. Government mengeluaran Peraturann Banyumas Regent Banyumas No. 09 of 2010 concerning Delegation To the Head of the Licensing Authority in Banyumas. Convening of integrated services in the district can better facilitate the public in obtaining services with faster time, a cheaper cost. Bureaucratic reforms that have been undertaken by the government Banyumas done by making the procedure simple services, training and education of employes, monitoring and evaluation as well as the provision of infrastructure facilities and public services. Keywords: Bureaucracy Reformation , the Public Service | |
| 3184 | 13020 | G1A009137 | KARAKTERISTIK LUKA-LUKA PENYEBAB KEMATIAN PADA KECELAKAAN LALU LINTAS WILAYAH KERJA KEPOLISIAN RESORT BANYUMAS PERIODE JUNI 2013 – JUNI 2014 | KARAKTERISTIK LUKA-LUKA PENYEBAB KEMATIAN PADA KECELAKAAN LALU LINTAS WILAYAH KERJA KEPOLISIAN RESORT BANYUMAS PERIODE JUNI 2013 – JUNI 2014 ABSTRAK Penelitian ini ingin meninjau tentang Karakteristik Luka-Luka Penyebab Kematian Pada Kecelakaan Lalu Lintas Wilayah Kerja Kepolisian Resort Banyumas periode Juni 2013 sampai Juni 2014. Pengumpulan data dilakukan di Rumah SakitMargonoPurwokerto, karena di asumsikan sama dengan data kepolisian. Luka-luka yang secara spesifik ingin ditinjau oleh peneliti adalah tentang Luka Kepala penyebab kematian, Luka Thoraks penyebab kematian, Luka Abdomen penyebab kematian, dan Luka Ekstremitas penyebab kematian. Data penelitian ini disajikan dalam bentuk diagram, hal ini karena peneliti ingin menampilkan tren pada periode tersebut. Analisis data dalam penelitian ini adalah univariat, karena peneliti hanya ingin melihat tren tidak untuk menganalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luka kepala adalah penyebab kematian terbanyak, dan Contusio Cerebria dalah yang paling banyak. | CHARACTERISTICSOFINJURIESCAUSE OF DEATH INTRAFFIC ACCIDENTS ON POLICERESORTOF BANYUMASAT JUNE 2013 TO JUNE 2014 ABSTRACT This research want to review aboutthe characteristicsofinjuriescause of death intraffic accidents onPoliceResortof Banyumas at June 2013 to June 2014. The datacollectionis donein Margono Hospital of Purwokerto, because itis assumed to bethe same as the policedata.The specific injuries that want to review by researcher is about Headinjuriescause of death, Thoracicinjuriescause of death, Abdominal injuriescause of death, and Extremity injuriescause of death. Thisresearch dataispresent in the diagrams, this is because theresearcher wanted to shown the trendin the period. The data analysis in this researchisunivariate, because the researcherjustwanted to seethe trendnot toanalyze. The results showedHeadinjuriesisthe cause ofmost deaths, and ContusioCerebriisthe most widely. | |
| 3185 | 12968 | G1A011122 | HUBUNGAN KEMOTERAPI SISPLATIN DENGAN KEJADIAN SENSORINEURAL HEARING LOSS PADA PASIEN KARSINOMA NASOFARING DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO | Latar Belakang: Karsinoma nasofaring (KNF) adalah tumor ganas yang berasal dari epitel nasofaring. Sisplatin merupakan kemoterapi yang banyak digunakan karena dapat memperkecil tumor, mengurangi kemungkinan terjadinya mikrometastasis serta meningkatkan sensitivitas tumor terhadap radiasi. Namun, efek samping dari kemoterapi sisplatin ini yaitu ototoksik yang berupa SNHL (Sensorineural Hearing Loss). Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kemoterapi sisplatin dengan kejadian Sensorineural Hearing Loss pada pasien karsinoma nasofaring di Rumah Sakit Margono Soekarjo Purwokerto. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian ini adalah pasien karsinoma nasofaring yang mendapat kemoterapi sisplatin di Rumah Sakit Margono Soekarjo Purwokerto. Subjek penelitian terdiri dari 23 pasien karsinoma nasofaring yang mendapat kemoterapi sisplatin dan 23 kontrol sehat. Untuk mengetahui adanya Sensorineural Hearing Loss dilakukan tes pendengaran dengan uji penala. Analisis statistik yang digunakan adalah uji chi square. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan pada kejadian Sensorineural Hearing Loss pada pasien karsinoma nasofaring yang mendapat kemoterapi sisplatin dan kontrol sehat (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kemoterapi sisplatin dengan kejadian Sensorineural Hearing Loss pada pasien karsinoma nasofaring di Rumah Sakit Margono Soekarjo Purwokerto. | Background: Nasopharyngeal carcinoma (NPC) is a malignant tumor originating from the epithelium of the nasopharynx. Cisplatin is a chemotherapy that is widely used because it is proven to shrink tumors, reduce the possibility of micrometastases and to increase the sensitivity of tumors to radiation. However, the side effects of cisplatin chemotherapy is ototoxic form SNHL (Sensorineural Hearing Loss). Objective: To determine the relationship between the incidence of chemotherapy cisplatin with Sensorineural Hearing Loss in patients with nasopharyngeal carcinoma in Margono Soekarjo Hospital Purwokerto. Method: This study used analytic observational study design with cross-sectional approach. The subjects were patients with nasopharyngeal carcinoma who received cisplatin chemotherapy in Margono Soekarjo Hospital Purwokerto. Subjects consisted of 23 patients with nasopharyngeal carcinoma who received cisplatin chemotherapy and 23 healthy controls. Hearing function test is use to determine patient with Sensorineural Hearing Loss. Data were analyse used chi square test. Result: There were significant differences in the incidence of Sensorineural Hearing Loss in patients with nasopharyngeal carcinoma who received chemotherapy cisplatin and healthy controls (p <0.05). Conclusion: There is a relationship between the incidence of chemotherapy cisplatin with Sensorineural Hearing Loss in patients with nasopharyngeal carcinoma in Margono Soekarjo Hospital Purwokerto. | |
| 3186 | 12969 | C1B009055 | PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN SERVANT LEADERSHIP TERHADAP LOYALITAS KARYAWAN DENGAN KEPUASAN KARYAWAN SEBAGAI VARIABEL MEDIASI (Studi Empiris di Kabupaten Banyumas) | Penelitian ini berjudul “Pengaruh Budaya Organisasi dan Servant Leadership Terhadap Loyalitas Karyawan dengan Kepuasan Karyawan Sebagai Variabel Mediasi (Studi Empiris di Kabupaten Banyumas)”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan dan menganalisis pengaruh budaya organisasi dan servant leadership terhadap kepuasan karyawan dan loyalitas karyawan pada pamong desa di Kabupaten Banyumas. Penelitian diproses menggunakan tujuh pengembangan hipotesis sebagai model. Penelitian menggunakan data primer yang diperoleh dengan menyebarkan kuesioner. Teknik pengambilan sampel dengan simple proposional cluster sampling yaitu sebanyak 185 pamong desa di Kabupaten Banyumas. Metode analisis yang digunakan adalah analisa Regresi Mediasi. Berdasarkan analisis dapat disimpulkan bahwa: 1. Budaya Organisasi berpengaruh positif terhadap Kepuasan Karyawan 2. Servant Leadership berpengaruh positif terhadap Kepuasan Karyawan 3. Budaya Organisasi berpengaruh positif terhadap Loyalitas Karyawan 4. Servant Leadership berpengaruh positif terhadap Loyalitas Karyawan 5. Kepuasan Karyawan berpengaruh positif terhadap Loyalitas Karyawan 6. Kepuasan Karyawan memediasi hubungan Budaya Organisasi terhadap Loyalitas Karyawan 7. Kepuasan Karyawan memediasi hubungan Servant Leadership terhadap Loyalitas Karyawan | This study entitled "The Influence Organizational Culture and Servant Leadership on Employee’s Loyalty with Employee’s Satisfaction as mediating variables (Empirical studies in Banyumas district)". Purpose of this study is to explain and analyse the influence of organizational culture and servant leadership on employee’s loyalty and employee’s satisfaction in the village officials in Banyumas district. The research processed with seven development hypothesis as a model. Research using primary data obtained by distributing questionnaires. Sampling with simple proposional cluster sampling as many as 185 village officials in Banyumas district. The analytical method used was analysis of regression mediation. Based on the analysis it can be concluded that: 1. Organizational culture positive effect on employee satisfaction 2. Servant leadership positive effect on employee satisfaction 3. Organizational culture positive effect on employee loyalty 4. Servant leadership positive effect on employee loyalty 5. Employee satisfaction positive effect on employee loyalty 6. Employee satisfaction mediates the relationship of organizational culture on employee loyalty 7. Employee satisfaction mediates the relationship of servant leadership on employee loyalty | |
| 3187 | 12970 | C1A011032 | ANALISIS EFISIENSI USAHA PADA SENTRA INDUSTRI BATIK TULIS DI KABUPATEN PURBALINGGA | Penelitian ini berjudul “Analisis Efisiensi Usaha Pada Sentra Industri Batik Tulis Di Kabupaten Purbalingga”. Alasan dilakukannya penelitian ini dikarenakan pengusaha tidak bisa menghitung secara pasti dan tidak ada catatan yang rinci mengenai biaya yang dikeluarkan dalam usaha pembuatan batik tulis. Tujuan penelitian ini untuk menghitung pendapatan total, biaya total, tingkat keuntungan serta tingkat efisiensi ekonomis usaha batik tulis yang ada di Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari hasil wawancara dan kuesioner. Alat analisis yang digunakan adalah R/C untuk mengetahui kelayakan usaha pembuatan batik tulis. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan rata-rata tiap pengusaha batik tulis di Kabupaten Purbalingga tiap bulan sebesar Rp6.025.000,00. Biaya rata-rata yang dikeluarkan oleh pengusaha tiap bulan sebesar Rp3.997.072,00. Keuntungan rata-rata yang diperoleh pengusaha tiap bulan sebesar Rp2.027.928,00. Tingkat keuntungan rata-rata tiap pengusaha sebesar 50,74%. Apabila dibandingkan dengan suku bunga tabungan saat ini yang maksimal sebesar 7,75%, maka pendapatan yang diperoleh pengusaha lebih baik digunakan untuk usaha kembali daripada disimpan di bank karena keuntungan yang diperoleh akan lebih tinggi. Tingkat efisiensi ekonomis rata-rata tiap pengusaha sebesar 1,54. Ini artinya usaha pembuatan batik tulis di Kabupaten Purbalingga layak untuk dijalankan karena menguntungkan (dilihat dari nilai R/C >1). Implikasi dari penelitian ini adalah usaha pembuatan batik tulis di Kabupaten Purbalingga perlu dipertahankan karena usaha ini sudah mencapai tingkat efisiensi secara ekonomis. Pengusaha sebaiknya lebih hemat dalam biaya dan penggunaan barang-barang input sehingga akan memperoleh keuntungan yang lebih tinggi baik secara nominal maupun relatif. Selain itu diharapkan juga adanya peningkatan pembinaan dan pelatihan dari dinas atau instansi terkait seperti pengembangan diversifikasi produk dan pengembangan sumber daya manusia sehingga pengusaha dapat berinovasi serta memperluas pemasaran produknya. | This research entitled "Analysis of Business Efficiency In the Small Industry Batik in Purbalingga". The reason for this research because employers can not count with certainty and there is no record that details of the costs incurred in the business of making batik. Purpose of this research was to calculate the total revenue, total costs, profit rate and economic efficiency in the business of making batik in Purbalingga. This research uses primary data obtained from interviews and questionnaires. The analysis tool used is the R/ C to determine the feasibility of making batik. Based on the results show that the average revenue of each employer batik Purbalingga each month for Rp6.025.000,00. The average cost incurred by the employer each month for Rp3.997.072,00. The average profit earned by employers each month for Rp2.027.928,00. The average profit rate of 50.74%. When compared with the current savings interest rate of 7.75% maximum, then the revenue earned better employers used to venture back rather than stored in the bank because the profit will be higher. The level of economic efficiency on average each employer of 1,54. This means that the business of making batik in Purbalingga feasible because it is profitable (seen from the value of R / C>1). The implication of this research is the business of making batik in Purbalingga should be maintained because this effort has reached the level of economic efficiency. Employers should be more efficient in cost and use of goods input so that it will obtain higher profits both in nominal and relative. Also expected an increase in coaching and training of departments or agencies such as the development of product diversification and the development of human resources so that employers can innovate and expand it’s product marketing. | |
| 3188 | 12964 | F1I011005 | Posisi Indonesia di Dunia Internasional dalam Isu Perubahan Iklim Global Pada Masa Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014) | Penelitian dengan judul “Posisi Indonesia di Dunia Internasional dalam Isu Perubahan Iklim Global Pada Masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono Tahun 2004 -2014” ini merupakan yang menganalisa kebijakan luar negeri Indonesia dalam merespon isu internasional. Kebijakan tersebut kemudian dijakdikan dasar untuk menentukan posisi Indonesia dalam dinamika hubungan internasional. Penelitian ini menggunakan teori rezim yang diperkuat dengan tipologi strategi politik luar negeri, tingkat adaptasi politik luar negeri dan proses perumusan kebijakan luar negeri. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif analisis yang menggunakan metode pengumpulan data studi pustaka serta reduksi data. Fokus penelitian ini ada pada proses dan dinamika perumusan kebijakan luar negeri Indonesia terkait dengan isu lingkungan hidup pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2004 – 2014. Penelitian ini kemudian menyimpulkan bahwa ada korelasi antara proses perumusan kebijakan luar negeri terhadap posisi suatu negara di dunia internasional. Sedangkan pada proses perumusan kebijakan luar negeri sendiri terjadi interaksi antar faktor internal dan faktor eksternal yang membuat kebijakan luar negeri Indonesia menjadi adaptif terhadap berbagai isu internasional. Karakteristik adaptif tersebut yang kemudian menjadi jembatan bagi Indonesia untuk memposisikan dirinya dalam dinamika hubungan internasional. | Research with the title "Indonesia's position in the International World in Global Climate Change Issues In The Reign of Susilo Bambang Yudhoyono Year 2004 -2014 " is analyzing the foreign policy of Indonesia in responding to international issues . The policy is then used as the basis for determining the position of Indonesia in the dynamics of international relations . This study uses the theory reinforced regime typology foreign policy strategy , the level of adaptation of foreign policy and foreign policy formulation process . This study used qualitative research methods with descriptive analysis using data collection methods literature and data reduction. The research focus is on the process and dynamics of Indonesia's foreign policy formulation related to environmental issues in the administration of President Susilo Bambang Yudhoyono in 2004 - 2014. The study then concluded that there is a correlation between the process of formulating foreign policy towards a country's position in the world. While in the process of formulating its own foreign policy interaction between internal factors and external factors that make Indonesia's foreign policy be adaptable to a wide range of international issues . The adaptive characteristics which later became a bridge for Indonesia to position itself in the dynamics of international relations. | |
| 3189 | 12971 | D1E009094 | KECERNAAN BAHAN KERING DAN BAHAN ORGANIK PAKAN KAMBING PERAH PADA BERBAGAI MACAM LEGUMINOSA DAN BAHAN PAKAN PENGUAT SECARA IN VITRO | Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh interaksi antara penggunaan leguminosa dan pakan penguat terhadap kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik pakan secara in vitro. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 2 x 3, faktor pertama adalah 2 jenis pakan penguat JSB (jagung, singkong cacahan dan bekatul) dan POD (pollard, onggok dan dedak) dan faktor kedua adalah 3 jenis leguminosa (daun turi, lamtoro dan kaliandra), terdiri dari 6 kombinasi perlakuan dan masing-masing diulang sebanyak 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara penggunaan leguminosa dan bahan pakan penguat tidak berpengaruh secara nyata terhadap kecernaan bahan kering, namun demikian penggunaan leguminosa dan pakan penguat masing-masing berpengaruh secara sangat nyata (P<0,01) terhadap kecernaan bahan kering. Sedangkan pada kecernaan bahan organik, interaksi antara penggunaan leguminosa dan pakan penguat berpengaruh sangat nyata (P<0,01). Kesimpulan dari penelitian adalah pakan yang menggunakan leguminosa daun turi memiliki kecernaan bahan kering tertinggi kemudian disusul oleh lamtoro dan kaliandra dan pakan penguat JSB memiliki kecernaan bahan kering yang lebih baik dibanding pakan penguat POD. Pakan perlakuan kombinasi leguminosa daun turi dengan pakan penguat JSB memiliki nilai kecernaan bahan organik yang terbaik. | The research objective was to assess the effects of interaction between the use of legume and energy sources on the digestibility of dry and organic matters of feed by using in vitro method. The research was conducted within the Completely Randomized Design (CRD) factorial pattern of 2 x 3 where the first factor were two mixes of energy sources consisting of PCR (pollard, cassava and rice bran) and CCR (corn, chopped cassava and rice bran), and the second one was three kinds of legumes (Sesbania grandiflora, Leucaena leucocephala, and Calliandra calothyrsus leaves). There were 6 treatments each of which was repeated 4 times. The results showed that, on the digestibility of the dry matter, the interaction between the use of the legumes and the energy sources was not significantly affective, but, the individual use of the two was (P <0.01). Meanwhile, on the digestibility of the organic matter, the interaction was significantly effective (P <0.01). The conclusion of the study is, the feed that uses legume of Sesbania grandiflora leaves has the highest dry matter digestibility followed by Leucaena leucocephala and Calliandra calothyrsus and the energy sources that were prepared by using corn, chopped cassava and rice bran have a better dry matter digestibility than that compiled by using pollard, cassava and rice bran. The combination of the Sesbania grandiflora leaves as the legume and PCR as the energy sources has the higest value of organic matter digestibility. | |
| 3190 | 12972 | C1C011078 | ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK RAKYAT INDONESIA SEBELUM DAN SESUDAH MEMBUKA BANK SYARIAH | Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif komparatif pada BRI sebelum dan sesudah membuka bank syariah. Penelitian ini mengambil judul “Analisis Tingkat Kesehatan Bank Rakyat Indonesia Sebelum Dan Sesudah Membuka Bank Syariah”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesehatan BRI sebelum dan setelah membuka bank syariah. Juga untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan dalam tingkat kesehatan perbankan antara sebelum dan setelah membuka bank syariah. Untuk menilai tingkat kesehatan perbankan digunakan metode penghitungan yang menggunakan analisis CAEL. penghitungan mencakup penilaian terhadap rasio-rasio kapital, aset, earning, dan likuiditas, yang diatur berdasarkan Surat Edaran BI No. 6/23/DPNP, 2004 pada tanggal 31 Mei 2004. Setelah data diolah, menunjukkan hasil bahwa tingkat kesehatan BRI sebelum dan sesudah membuka bank syariah dalam kondisi baik, serta menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat kesehatan yang signifikan antara sebelum dan setelah membuka bank syariah. Implikasi dari kesimpulan di atas yaitu BRI hendaknya melakukan inovasi-inovasi, serta harus mampu menciptakan produk atau unit usaha baru yang mampu untuk menopang dan meningkatkan kinerja dan tingkat kesehatan perbankan. | This research is descriptive-comparative research to BRI before and after opening syaria bank. This research takes title “Analysis of health rate of Bank Rakyat Indonesia Before And After Opening Syaria Bank”. The purpose of this research was to determine the rate of health of BRI before and after opening the syaria bank, and to determine is there any significance difference of rate of health of BRI before and after opening syaria bank. To assess the rate of health banking, it will using CAEL analysis method. The assessment include capital ratio, asset ratio, earning ratio, and liquidity ratio based on BI regulation No. 6/23/DPNP, 2004. After processing data, show that the rate of health of BRI before and after opening syaria bank is in good condition, and show that there is no significance difference of rate of health of BRI before and after opening syaria bank. The implication from that conclusion is BRI should do innovations. BRI should create new product or new subsidiary that can hold and raise profit and the rate of health banking. | |
| 3191 | 12974 | G1A011084 | HUBUNGAN MEKANISME KOPING DENGAN TINGKAT DEPRESI PASIEN SISTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS STADIUM RINGAN DI YAYASAN OEMAH KUPU YOGYAKARTA | Latar belakang: Sistemik Lupus Erithematosus (SLE) merupakan salah satu penyakit reaksi autoimun yang bersifat kronis dan dapat mengakibatkan penderitaan secara fisik, mental serta permasalahan sosial bagi penderitanya. Banyaknya stressor yang dirasakan oleh odapus dapat menyebabkan depresi. Oleh karena itu,untuk mengurangi dampak negatif dari stressor dapat dilakukansuatu mekanisme kopingagar pasien tidak depresi dan dapat mengontrol kondisi psikisnya tetap stabil sehingga diharapkan kondisi fisik mereka pun ikut membaik Tujuan: Untuk Mengetahui hubungan mekanisme koping dengan tingkat depresi pasien SLE Metode: Studi observasional analitik cross sectional ini dilakukan pada 30 orang penderita penyakit SLE di Yayasan Oemah kupu Yogyakarta. Pengambilan data dilakukan dengan pengisian kuesioner oleh responden, untuk mekanisme koping menggunakan Kuesioner Brief COPE Scale dan untuk tingkat depresi diukur dengan Kuesioner Beck Depression Inventory (BDI). Analisis univariat menggunakan tabel distribusi frekuensi dan analisis bivariat yang digunakan adalah uji Koefisien Kontingensi. Hasil: hubungan mekanisme koping dengan tingkat depresi menunjukan korelasi yang bemakna (p<0,029) dengan arah negatif dan kekuatan korelasi sedang (r=-0,481). Arah hubungan yang negatif menunjukkan bahwa semakin adaptif mekanisme koping maka depresi yang dimiliki penderita lupus akan semakin rendah. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara mekanisme koping dengan tingkat depresi pasien Sistemik Lupus Erithematosus stadium ringan di Yayasan Oemah Kupu Yogyakarta | Background: Systemic Lupus Erythematosus (SLE) was a disease which Is a chronic autoimmune reaction and can lead tophysical, mental and social problems for odapus. The number of stressors perceived by odapus can lead to depression. Coping mechanism can reduced the negative impact of the stressor to prevent depression and to keep the patiens psychological condition remain stable, so that their physical condition can improved. Objective: The aim of this study is to determine correlation between coping mechanisms and depression level in SLE patients. Methods: This study was an observational analytic study with cross sectional design, conducted on 30 patients withSLE disease in Oemah Kupu FoundationYogyakarta. The data was obtained with the brief cope scale questionnaire for coping mechanism and questionnaire Beck Depression Inventory (BDI) for the depression levels. Univariate analysis used was frequency distribution tables and bivariate analysis used was is the coefficient of contingency. Result: There was significant correlation between coping mechanisms with the levelof depression (p <0.029) with negative direction and strength of the correlation was moderate (r =-0.481). The direction of a negative relationship suggests that more adaptive coping mechanisms, the depression in lupus patient would be lower. Conclusion: There was correlation between coping mechanisms with level of depression in patients with mild stage Systemic Lupus Erythematosus at Oemah Kupu Foundation Yogyakarta. | |
| 3192 | 12975 | G1A011115 | Perbandingan Skor Aspartate Aminotransferase (AST) To Platelet Ratio Index (APRI) Antara Pasien Karsinoma Hepatoseluler dan Sirosis Hati | Latar Belakang: Aspartate Aminotransferase to Platelet Ratio Index (APRI) merupakan indeks pengukuran sederhana dan non invasif yang digunakan untuk menilai tingkat fibrosis dan sirosis hati sebagai pengganti biopsi hati. Karsinoma hepatoseluler merupakan keadaan lanjut dari sirosis hati. Skor APRI dapat memprediksi adanya sirosis, namun belum diteliti pada pasien karsinoma hepatoseluler. Tujuan: Untuk mengetahui perbandingan antara skor Aspartate Aminotransferase to Platelet Ratio Index (APRI) pada pasien karsinoma hepatoseluler dan sirosis hati. Metode: Studi observasional analitik cross sectional ini dilakukan pada 30 pasien karsinoma hepatoseluler dan 30 pasien sirosis hati yang didapat dari data rekam medik RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Penilaian skor APRI menggunakan rumus APRI yang dikalkulasikan menggunakan kalkulator. Uji normalitas data menggunakan uji Saphiro-Wilk. Analisis univariat menggunakan tabel distribusi frekuensi dan analisis bivariat dengan uji T test tidak berpasangan. Hasil: Rerata skor APRI pada pasien karsinoma hepatoseluler adalah 4,62 ± 3,62. Rerata skor APRI pada pasien sirosis hati adalah 2,93 ± 2,29. Terdapat perbedaan rerata skor Aspartate aminotransferase (AST) to platelet ratio index (APRI) antara pasien karsinoma hepatoseluler dan sirosis hati yang bermakna secara statistik dengan hasil p=0,041 (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat perbedaan rerata skor Aspartate aminotransferase (AST) to platelet ratio index (APRI) antara pasien karsinoma hepatoseluler dan sirosis hati. | Backround: Aspartate Aminotransferase to Platelet Ratio Index (APRI) is a simple noninvasive index were used to assess the degree of fibrosis and cirrhosis of the liver as a subtitute for a liver biopsy. Hepatocellular carcinoma is an advanced stage of liver cirrhosis. APRI score can predict cirrhosis, but has never been studied in patient with hepatocellular carcinoma. Aim: To determine the comparison between Aspartate Aminotransferase to Platelet Ratio Index (APRI) score in patient with hepatocellular carcinoma and liver cirrhosis. Method: This analytic observational cross sectional study is conducted to 30 patients with hepatocellular carcinoma and 30 patients with liver cirrhosis from medical record in Prof. Dr. Margono Soekarjo hospital. The APRI score is counted by using APRI’s formula then using calculator for the calculation. Normality test used Saphiro-Wilk. Univariat analysis used frequency distribution table and bivariat analysis used unpaired T test. Result: The average of APRI score in hepatocellular carcinoma patients is 4.62 ± 3.62. The average of APRI score in liver cirrhosis patients is 2.93 ± 2.29. The differences between Aspartate aminotransferase (AST) to platelet ratio index (APRI) score in hepatocellular carcinoma patients and liver cirrhosis was statistically significant with the result p=0.041 (p<0.05). Conclusion: There is differences between Aspartate aminotransferase (AST) to platelet ratio index (APRI) score in hepatocellular carcinoma patients and liver cirrhosis. | |
| 3193 | 12980 | A1M011078 | PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP PERBAIKAN KEMASAN GETUK GORENG SARI MURNI, SOKARAJA | Getuk goreng Sari Murni merupakan salah satu makanan tradisional khas Kabupaten Banyumas yang dikemas menggunakan kemasan besek (anyaman bambu). Kemasan masih sangat sederhana dan kurang menarik. Inovasi pada kemasan diharapkan dapat memberikan nilai tambah pada produk getuk goreng Sari Murni sehingga dapat meningkatkan penjualan dan memperluas pemasarannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis bahan, warna label, dan ukuran kemasan baru getuk goreng yang paling disukai konsumen. Penelitian ini merupakan penelitian kebijakan untuk memilih model kemasan getuk goreng. Penelitian dilaksanakan di IKM getuk goreng Sari Murni, Sokaraja pada bulan Januari sampai Mei 2015. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode accidental sampling. Total responden sebanyak 31 orang. Data yang diperoleh dari responden diuji menggunakan uji skoring dan dianalisis menggunakan analisis varian (uji F), apabila hasil menunjukkan ada pengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test pada taraf 5%. Variabel yang diamati meliputi preferensi konsumen terhadap jenis bahan, warna label, dan ukuran kemasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis bahan kemasan yang paling disukai konsumen adalah dus dupleks. Warna dasar label kemasan yang paling disukai konsumen adalah warna coklat. Ukuran kemasan yang paling disukai konsumen adalah ukuran kemasan isi 500 g. | Sari Murni’s getuk goreng is one of traditional food from Banyumas regency which is packed use besek packaging (wooven bammbo). Its package is still very simple and unattractive. Innovation in packaging is expected to provide added value to getuk goreng products of Sokaraja, so as to increase sales and expand its market. The research was aimed to know the thype of pakaging, color of label, and size of getuk goreng’packaging which is most preferred by consumers. This research is a policy research study aimed to choose packaging’s model of getuk goreng. The research was carried out by survey methode on Sari Murni’s getuk goreng company, Sokaraja in January to May 2015. Sampling was conducted using accidental sampling method. Respondents was 31 peoples. The data were analyzed using scoring test and analyze of varian, the real different of results will be followed by Duncan’s Multiple Range Test at 5% level. Variables of this research are consumer’s preference on type of material, label’s color, and size’s packaging. The results showed that the type of material most preferred by consumers is duplex box packaging. The label’s color of packaging most preferred by consumers is chocholate. The size’s packaging most preferred by consumers is packaging which contains 500 g. | |
| 3194 | 12979 | E1A111005 | Kajian Tentang Status Perusahaan Transnasional Dalam Hukum Internasional Dan Hukum Ekonomi Internasional | Perusahaan transnasional dalam beberapa dekade terakhir diperdebatkan oleh para sarjana hukum internasional karena statusnya yang diakui sebagai subjek hukum internasional dan juga sebagai subjek hukum nasional oleh sebagian sarjana lain. Perusahaan transnasional dianggap memiliki hak dan kewajiban di bawah hukum internasional yang diterapkan melalui masing-masing negara penerima modal. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui status perusahaan transnasional dalam hukum internasional dan hukum ekonomi internasional, serta hubungannya dengan negara, individu, organisasi internasional, serta perusahaan transnasional. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif. Data-data sekunder yang terkumpul diolah, disajikan, dan dianalisis secara kualitatif dengan penyajian data teks naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan transnasional belum diakui sebagai subjek hukum internasional yang bersifat publik. Perusahaan transnasional tidak memiliki hak dan kewajiban seperti subjek hukum internasional publik lainnya. Hak dan kewajiban perusahaan transnasional terbatas hanya pada kegiatan ekonomi dalam hukum internasional yang bersifat privat seperti perjanjian penanaman modal. Perusahaan transnasional berstatus sebagai subjek hukum nasional dari negara penerima modal. Hal ini selaras dengan aturan-aturan internasional seperti kode etik yang diadopsi dan dipakai oleh negara penerima modal, yang secara umum menjelaskan bahwa negara penerima modal memiliki kewenangan untuk mengatur perusahaan transnasional yang ada di wilayahnya. Perusahaan transnasional tidak memiliki kewajiban untuk tunduk secara langsung terhadap hukum internasional termasuk terhadap kode etik. Tanggung jawab perusahaan transnasional adalah terhadap hukum nasional dari negara penerima modal. Perusahaan transnasional dalam menjalankan aktivitas ekonominya juga memiliki hubungan hukum dan ekonomi dengan negara, individu, organisasi internasional, dan perusahaan transnasional lainnya. | Transnational corporations in recent decades debated by scholars of international law because of its status that recognized as a subject of international law and subject of national law by most other scholars. Transnational corporations considered to have the rights and obligations under international law which applied by each host countries. This research was conducted in order to determine the status of transnational corporations in international law and international economic law, and its relationship with the states, person, international organizations, and transnational corporations. This research was conducted by using normative juridical approach. Secondary data that has been collected then managed, presented, and analyzed qualitatively with the presentation of narrative data texts. The research results shows that transnational corporations has not been recognized as a subject of public international law. Transnational corporations does not have the rights and obligations like other subjects of international public law. The rights and obligations of transnational corporations is limited only to the economic activity of the international private law such as investment treaties. Transnational corporations existed as a subject of national law of the host country. This is in accordance with international rules such as codes of conduct that adopted and used by host country, which generally explained that host country has the authority to regulate transnational corporations in their territories. Transnational corporations have no obligation to submit directly to the international law, including codes of conduct. The responsibility of transnational corporations is to the national law of host country. Transnational corporations in carrying out economic activities also have legal and economic relations with states, person, international organizations, and other transnational corporations. | |
| 3195 | 12978 | H1A011044 | PEMBUATAN BIODIESEL DARI MINYAK BIJI KAPUK (Ceiba pentandra) MENGGUNAKAN KATALIS HIDROTALSIT Mg/Al DENGAN VARIASI WAKTU REAKSI DAN KECEPATAN ADUK | Penelitian pembuatan biodiesel dari minyak biji kapuk dengan menggunakan katalis hidrotalsit Mg/Al telah dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari variasi kecepatan aduk dan waktu reaksi terhadap karakteristik biodiesel, serta mengetahui konversi biodiesel dari minyak biji kapuk yang memiliki karakteristik terbaik. Variasi kecepatan aduk yang dilakukan yaitu pada 300, 500, 700, 900 dan 1100 rpm, sedangkan variabel waktu reaksi yang dilakukan pada 90, 120, 150, 180 dan 210 menit. Katalis hidrotalsit Mg/Al di sintesis dengan metode kopresipitasi. Hasil sintesis menunjukkan kandungan hidrotalsit Mg/Al sebanyak 69,24%. Karakterisasi biodiesel yang dilakukan yaitu kadar air, densitas, viskositas, bilangan asam dan bilangan penyabunan. Hasil penelitian menghasilkan karakteristik biodiesel terbaik pada variasi kecepatan aduk 700 rpm dengan waktu reaksi 150 menit. Nilai karateristik biodiesel pada kondisi terbaik yaitu kadar air 2,22%, densitas 0,8836 g/mL, viskositas 22,6293 cSt, bilangan asam 12,8082 mg KOH/g minyak dan bilangan penyabunan 119,3929 mg NaOH/g minyak. Hasil analisis H-NMR didapatkan konversi sebesar 60,44% dari biodiesel pada kecepatan aduk 700 rpm dan waktu reaksi 150 menit. | The research of biodiesel making from kapok seed oil using catalysts hydrotalcite Mg / Al has been done. This study was conducted to determine the effect of variations in the speed of stirring and reaction time on the characteristics of biodiesel, as well as knowing the conversion of biodiesel from kapok seed oil which has the best characteristics. Variations of speed stir are 300, 500, 700, 900 and 1100 rpm, while variation of reaction times performed are 90, 120, 150, 180 and 210 minutes. Catalysts hydrotalcite Mg/Al was synthesized by coprecipitation method. The synthesis results show hydrotalcite Mg/Al contains as much as 69.24%. Characterization of biodiesel are made the water content, density, viscosity, acid and saponification number. The results of research showed that the best characteristic of biodiesel product on 700 rpm stirring speed with 150 minutes reaction time. Characteristics value of biodiesel on the best condition are 2.22% water content, 0.8836 g/mL density, 22.6293 cSt viscosity, 12.8082 mg KOH/g oil acid number and 119.3929 mg NaOH/g oil saponification number. Result of H-NMR analysis is obtained 60.44% conversion of biodiesel at 700 rpm stirring speed and 150 minutes reaction time. | |
| 3196 | 12981 | F1C009068 | Visualisasi Suku Baduy Melalui Fotografi (Studi Analisis Semiotika Buku Foto “Urang Kanekes (Baduy People)” Karya Don Hasman) | Suku Baduy adalah satu diantara berbagai macam suku asli dari kebudayaan Indonesia yang hingga kini masih menjaga keaslian peninggalan leluhurnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna yang ada pada lambang-lambang visual pada buku foto Urang Kanekes (Baduy People) karya Don Hasman yang menggambarkan kehidupan Suku Baduy Luar dan Dalam. Penelitian ini menggunakan jenis kualitatif yang bersifat deskriptif dengan metode semiotika dan menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Peneliti memilih beberapa foto dalam buku foto Urang Kanekes (Baduy People). Dari penelitian yang telah dilakukan dengan mengggunakan teori semiotika Barthes, yaitu pemaknaan denotatif, konotatif, dan mitos. Hasil penelitian menyimpulkan masih terjaganya kebudayaan baduy hingga sekarang. Meskipun sudah ada sedikit campur tangan dengan budaya luar. Pembedahan makna pada tahapan konotatif menimbulkan suatu makna baru yang interpretasinya akan berbeda bagi setiap orang dengan subyektifitas yang berbeda. | Baduy is one of many origin tribes in Indonesia's culture which still exist and and keeps the authenticity of its ancestors's heritage until now. The purpose of this research is to study about the meaning of visual symbol that written in Urang Kanekes (Baduy People), a photograph book by Don Hasman. It is describe the full life story of Outside Baduy's tribe and Inside. This research is uses qualitative type which has descriptive character with semiotic method and semiotic Roland Barthes theory. The writer choosed some photos in photograph book of Urang Kanekes (Baduy People). According to the research that uses theory of semiotic Barthes (definition making that use denotative, connotative, and myth), the writer made a conclusion that Baduy's culture are still well existing until now. Although mix with some little acculturation. Redefinition of meaning in connotative phase will make a new meaning that has different interpreting for everyone with different subject. | |
| 3197 | 12982 | C1J009043 | BUSINESS ANALYSIS OF QUAIL LAYER FARMING AT SUMBANG SUB-DISTRICT IN BANYUMAS REGENCY | The study entitled “BUSINESS ANALYSIS OF QUAIL LAYER FARMING AT SUMBANG SUB-DISTRICT IN BANYUMAS REGENCY”. Some purpose of the research are to find out the level of bussiness efficiency and to find out the sensitivity level of business revenue of quail layer farming at Sumbang sub-district in Banyumas Regency on the price of animal feed and mortality level. Research use is a survey method, the objects of research were efficiency and sensitivity analysis of quail layer farming at Sumbang Sub-district. The hypotheses of the research are the business of quail layer farming at Sumbang Sub-district has been efficient and business revenue of quail layer farming at Sumbang Sub-district is sensitive with the increase of quail feed and mortality level. Analysis methods that are used in the research are tabulation analysis through the calculation of revenue and cost (R/C) ratio and sensitivity analysis. The result of this research are data analysis, it could be concluded that in a business condition normally, the quail layer farming at Sumbang Sub-district was efficient. So, it was worth to be developed continuously. The business revenue of quail layer farming at Sumbang Sub-district was sensitive with the level of quail mortality, but not sensitive with increasing the price of quail feed. This was because the price of egg and the culling price of quail layer as a source of farmers’ income could be raised or tended to increase in accordance with the inflation rate. The Implications of the research are an effort to expand it is business, the farmers of quail layer farming at Sumbang Sub-district should still run their business farming by continuing to improve the effectiveness and efficiency supported by the innovative and professional management as well as to expand their business network through building the cooperation with the government institutions of animal husbandry, banking institutions and the other stakeholders in the environment of quail layer business. Sub-district should be able to anticipate and reduce the level of quail mortality because it will influence significantly their business revenue level. The ways can be done are by providing the quail feed, vitamins and vaccines in accordance with the advice of experts in the field of quail layer farm. Additionally, the farmers should be selective and precise in purchasing the day-old-quail (DOQ) to be farmed. | The study entitled “BUSINESS ANALYSIS OF QUAIL LAYER FARMING AT SUMBANG SUB-DISTRICT IN BANYUMAS REGENCY”. Some purpose of the research are to find out the level of bussiness efficiency and to find out the sensitivity level of business revenue of quail layer farming at Sumbang sub-district in Banyumas Regency on the price of animal feed and mortality level. Research use is a survey method, the objects of research were efficiency and sensitivity analysis of quail layer farming at Sumbang Sub-district. The hypotheses of the research are the business of quail layer farming at Sumbang Sub-district has been efficient and business revenue of quail layer farming at Sumbang Sub-district is sensitive with the increase of quail feed and mortality level. Analysis methods that are used in the research are tabulation analysis through the calculation of revenue and cost (R/C) ratio and sensitivity analysis. The result of this research are data analysis, it could be concluded that in a business condition normally, the quail layer farming at Sumbang Sub-district was efficient. So, it was worth to be developed continuously. The business revenue of quail layer farming at Sumbang Sub-district was sensitive with the level of quail mortality, but not sensitive with increasing the price of quail feed. This was because the price of egg and the culling price of quail layer as a source of farmers’ income could be raised or tended to increase in accordance with the inflation rate. The Implications of the research are an effort to expand it is business, the farmers of quail layer farming at Sumbang Sub-district should still run their business farming by continuing to improve the effectiveness and efficiency supported by the innovative and professional management as well as to expand their business network through building the cooperation with the government institutions of animal husbandry, banking institutions and the other stakeholders in the environment of quail layer business. Sub-district should be able to anticipate and reduce the level of quail mortality because it will influence significantly their business revenue level. The ways can be done are by providing the quail feed, vitamins and vaccines in accordance with the advice of experts in the field of quail layer farm. Additionally, the farmers should be selective and precise in purchasing the day-old-quail (DOQ) to be farmed. | |
| 3198 | 13003 | G1G011032 | HUBUNGAN KONSUMSI AIR MINUM YANG MENGANDUNG CADMIUM (Cd) DENGAN KEJADIAN KARIES GIGI PADA ANAK DI KELURAHAN TRITIH KULON KECAMATAN CILACAP UTARA KABUPATEN CILACAP | Tingginya kadar logam berat Cadmium (Cd) di dalam Sungai Donan akan mencemari air sumur gali yang digunakan oleh warga di sekitar Sungai Donan. Penggunaan air sumur gali untuk konsumsi sehari-hari mengakibatkan masuknya Cadmium ke dalam tubuh individu, kemudian masuk ke dalam aliran darah dan menyebar ke seluruh bagian tubuh. Cadmium yang ada di dalam aliran darah kemudian masuk ke dalam glandula saliva melalui proses difusi pasif. Cadmium yang berada di dalam saliva memiliki hubungan yang erat terhadap terjadinya karies gigi pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa besar hubungan antara konsumsi air minum yang mengandung Cadmium dengan kejadian karies gigi anak. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan case control. Jumlah sampel penelitian ini adalah 33 responden untuk kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar. Kedua kelompok ini telah dilakukan pemeriksaan karies gigi dengan indeks def-t dan pengukuran kadar Cadmium dalam saliva dengan menggunakan Spektrofometer Serapan Atom. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perbedaan bermakna antara kadar Cadmium dalam saliva kelompok terpapar dan tidak terpapar dan skor def-t kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar. Hasil uji korelasi dengan menggunakan spearman Rank menunjukan nilai korelasi spearman yang positif antara kadar Cadmium dengan karies gigi pada anak yang artinya semakin tinggi kadar Cadmium maka akan semakin tinggi kejadian karies gigi pada anak. Masyarakat hendaknya meningkatkan kesehatan gigi dan mulut supaya dapat meminimalisasi terjadinya karies gigi. | The high levels of heavy metals Cadmium (Cd) in the Rivers Donan water will pollute a well used by residents around Rivers Donan. The use of water well dug for daily consumption resulted in the entry of he Cadmium into the body of individuals and then enter into blood flow, spread to all parts of the body. Cadmium in the blood stream then is entering in salivary glandula through a process of passive diffusion. Cadmium who was inside the saliva have a close relation against an onset of dental caries on child. This research aims to look at how big the relationship between consumption drinking water that contains Cadmium with the genesis dental caries child. The study is done by adopting both case control. The total sample of this study is 33 of respondents to the group exposed to and the group are not exposed to. The two groups has been conducted examination dental caries with an index def-t and measurement of cadmium levels in saliva by using spektrofometer absorption atoms. The results showed that the difference between levels for cadmium in saliva the exposure and are not exposed to score groups and def-t exposure and groups are not exposed. Test correlation using spearman rank show correlation value spearman positive between levels cadmium with dental caries in children who that is the cadmium so high levels are significantly higher scene dental caries on child. The community should improve the health of the teeth and the mouth in order to minimize the occurrence of dental caries. | |
| 3199 | 12988 | H1C011045 | RANCANG BANGUN DAN ANALISIS BUCK-CHOPPER DENGAN KONTROL ARUS PI BERBASIS MIKROKONTROLER | Teknologi elektronika daya sekarang ini semakin maju. Kemajuan tersebut ditandai dengan ditemukannya teknologi insulated gate bipolar transistor (IGBT) dan metal oxide semiconductor field effect transistor (MOSFET). Konverter DC ke DC (DC to DC Converter) adalah suatu alat yang digunakan untuk mengubah suatu tegangan searah ke tegangan searah yang lain dengan nilainya dapat ditingkatkan atau diturunkan. Buck Chopper merupakan salah satu jenis dari DC to DC Converter, yang memiliki fungsi mengubah tegangan DC pada nilai tertentu menjadi tegangan DC yang lebih rendah. DC Chopper tipe Buck menggunakan komponen switching yang diatur Duty Cycle-nya. Pada penelitian ini, topologi rangkaian buck chopper terdiri dari dua jenis sakelar yaitu satu saklar aktif (MOSFET) dan satu sakelar pasif (dioda). Fungsi MOSFET dan dioda pada rangkaian buck chopper adalah sebagai komponen penyaklaran sesuai dengan prinsip kerja buck chopper itu sendiri, sedangkan mikrokontroler diberikan program untuk menghasilkan sinyal kontrol MOSFET. Sedangkan untuk memberikan kestabilan pada arus keluaran yang dihasilkan rangkaian pada kondisi yang tidak ideal, diberikan pengontrolan Proporsional dan Integral (kendali PI) berupa program yang dimasukkan pada mikrokontroler ATmega 8. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimental dimana penelitian dimulai dengan perancangan simulasi dengan menggunakan software PSIM 9.0.3 dan Proteus 7 kemudian membuat prototype sesuai dengan hasil simulasi tersebut dan mengujinya di laboratorium. Pada pengujian rangkaian Buck-Chopper yang dibangun, rangkaian mampu menstabilkan arus keluaran pada nilai set-point arus sebesar 1 Ampere dengan pengujian variasi beban 12 Ohm, 6 Ohm, 4 Ohm dan 3 Ohm. | Power electronics technology is now more advanced. The advancement of technology is characterized by the discovery of insulated gate bipolar transistor (IGBT) and metal oxide semiconductor field effect transistor (MOSFET). DC to DC converter (DC to DC Converter) is a tool used to convert a direct voltage direct voltage to another value can be increased or decreased. Buck Chopper is one type of DC to DC Converter, which has the function of converting DC voltage at a certain value into a DC voltage is lower. DC Buck Chopper type using switching components arranged by Duty Cycle. In this study, the buck chopper circuit topology consists of two types of switches: one active switch (MOSFET) and one switch passive (diode). Function MOSFET and the diode in the circuit of buck-chopper is as a switching component in accordance with the principle of buck-chopper itself, while the microcontroller is given a program to generate a control signal of MOSFET. Meanwhile, to provide stability to the output current generated in the circuit conditions were not ideal, given the Proportional and Integral control (PI control) be included in the program the microcontroller ATmega 8. The method used in this study is the experimental method which the research began with the design simulation using PSIM software 9.0.3 and Proteus 7 then create a prototype in accordance with the simulation results and test it in the laboratory. In the test series Buck-Chopper, the circuit is able to stabilize the output current set-point value at 1 Ampere with 12 Ohm, 6 Ohm, 4 Ohm and 3 Ohm load variation test. | |
| 3200 | 13008 | A1M011068 | Pengaruh Penambahan Bubuk Kecombrang Terhadap Variabel Kimia, Mikrobiologi dan Organolepetik pada Nugget Tahu | Nugget umumnya dibuat dengan bahan dasar daging ayam, ikan serta udang dan jarang ditemui nugget yang dapat dikonsumsi oleh vegetarian. Tahu dapat dimanfaatkan sebagai pengganti bahan dasar nugget supaya nugget dpat dikonsumsi oleh vegetarian. Meskipun demikian, tahu merupakan bahan pangan yang memiliki kadar air tinggi dan rentan tercemar oleh mikrobiologi penyebab kebusukan. Oleh karena itu, nugget berbahan dasar tahu perlu ditambah pengawet. Salah satu tanaman rempah yang memiliki potensi sebagai pengawet alami dengan berperan sebagai antioksidan dan antimikroba adalah kecombrang (Nicolaia speciosa). Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menetapkan bagian tanaman kecombrang yang paling sesuai sebagai pengawet nugget tahu; (2) menentukan konsentrasi bubuk kecombrang yang optimal sebagai pengawet nugget tahu; (3) menentukan kombinasi perlakuan terbaik antara bagian tanaman kecombrang dan konsentrasi bubuk kecombrang agar menghasilkan nugget tahu dengan sifat kimia dan mikrobiologi yang terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik diperoleh dari nugget tahu dengan penambahan bubuk kecombrang bagian bunga sebanyak 3% (B1K3). Produk memiliki kadar air 54,2877%; kadar total asam tertitrasi 0,000330% bk (0,000153% bb); total bakteri 2,1 x 10^5 cfu/g; total kapang khamir 1,6 x 10^5 cfu/g dan total mikroba 5,3 x 10^5 cfu/g. Sementara itu, perlakuan B3K1 (nugget tahu dengan bubuk batang 1%) merupakan perlakuan terbaik untuk karakteristik sensoris dengan warna putih keabuan; tekstur agak kenyal; flavor kecombrang sedikit kuat; aroma kecombrang sedikit kuat dan tingkat kesukaan panelis berada di skor 4,1 (suka). | Nugget is mostly made from chicken, fish or shrimp and it is very rare to find nugget for vegetarians. Tofu can be used to replace meat as one of ingredient of nugget in order to be an alternative for vegetarians in consuming nugget. However, tofu is perishable because it contains high amount of water activity and protein that is very suitable for microbial growth. One of the potential plants that can be used as food preserve is Nicolaia speciosa Horan or kecombrang. The purpose of this study are: (1) to determine the best part of kecombrang that can be used to preserve tofu nugget (2) to determine the exact concentration of kecombrang that can be used to preserve tofu nugget (3) to determine the best combination of the treatment between part of kecombrang and the concentration of powder to produce tofu nugget with best characteristic in chemical, microbiology and organoleptic. Result of the research showed that the best tofu nugget was made by the treatment B1K3 (flower powder with concentration 3%). This product contains 54,2877% of water; 0,000330% dry basis of titratic acid; total bacteria 2,1 x 10^5 CFU/g; total of yeast and mold 1,6 x 10^5 CFU/g and total plate count 5,3 x 10^5 CFU/g. Meanwhile, nugget tofu with addition of 1% stem powder (B3K1) is the best treatment in sensory variable with white-grayish colored, slightly chewy, slightly strong of kecombrang aroma and flavor and the score given by panelists for overall liking is 4,1 out of 5. |