Artikelilmiahs

Menampilkan 3.261-3.280 dari 48.740 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
326113050H1K011014ANALISIS HABITAT PENELURAN PENYU SISIK (Eretmochelys imbricata) DI PULAU KAYUANGIN BIRA, TAMAN NASIONAL LAUT KEPULAUAN SERIBU Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sarang Penyu Sisik
(Eretmochelys imbricata) dan faktor fisik habitat peneluran Penyu Sisik di Pulau
Kayuangin Bira, Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Metode penelitian yang
digunakan adalah metode survey, yaitu dengan melakukan observasi dan pengamatan
secara langsung. Hasil menunjukkan ditemukan 4 bekas sarang dan 1 sarang potensial.
Jenis vegetasi pantai yang ditemukan diantaranya adalah Casuarina sp dengan Indeks
Nilai Penting yang masuk dalam kategori tinggi. Suhu pada sarang Penyu Sisik berkisar
antara 28 - 29 °C, suhu tersebut termasuk dalam kategori normal. Kemiringan pantai
berkisar antara 4,8 - 10°, termasuk dalam katagori landai. Jarak sarang dari pasang
tertinggi sebesar 9 - 10,3 m, sehingga memudahkan aktivitas pendaratan dan peneluran
Penyu Sisik.
This study aimed to describe the characteristics of the nesting habitat an its physical
factors of Hawksbill (Eretmochelys imbricata) in the Kayuangin Bira Island National
Marine Park, Seribu Islands. Survey method was used by direct observation. The results
showed that was found four former nest and one potential nest. Coastal vegetation types
was found is Casuarina sp with the highest Importance Value Index are included in the
hig category. The Hawksbill nests temperature is in the range between 28-29 ° C, the
temperature is included in the normal category. Slope of the coast range between 4.8 to
10 °, included in the category rather steep (ramps). The distance from the highest tide of
9 up to 10.3 m, this can be easier to activity of landing and nesting for Hawksbill.
326213051A1C111012ANALISIS PERILAKU KOMUNIKASI PETANI DALAM BERUSAHATANI DAN FAKTOR EKSTERNAL YANG MEMPENGARUHINYA (Studi Kasus di Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang)
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: 1) perilaku komunikasi petani dalam berusahatani, 2) komponen pembentuk perilaku komunikasi petani dalam berusahatani, 3) pengaruh faktor-faktor eksternal petani terhadap perilaku komunikasi petani dalam berusahatani. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan rancangan pengambilan sampel two stage cluster random sampling. Jumlah responden yang diperoleh sebanyak 45 orang. Pengambilan data dengan cara observasi langsung, kuesioner, dan wawancara. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dengan pengukuran likert summated ratings dan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) perilaku komunikasi petani dalam berusatahani yang diukur dari 5 komponen pembentuk perilaku komunikasi petani yang termasuk dalam kategori cukup, 2) komponen pembentuk perilaku komunikasi petani adalah kontak antara petani dengan petani dalam sistem sosial, kontak antara petani dengan PPL, kontak antara petani dengan petani di luar sistem sosial, kontak antara petani dengan tokoh masyarakat dan kontak antara petani dengan lembaga Badan Penyuluhan Pertanian yang seluruhnya termasuk dalam kategori cukup, 3) Secara keseluruhan faktor eksternal petani (sarana prasarana jalan, handphone, TV dan radio, komputer, media cetak umum) memiliki pengaruh terhadap perilaku komunikasi petani. Sarana prasarana jalan, handphone dan komputer berpengaruh signifikan terhadap perilaku komunikasi petani, sedangkan TV dan radio, media cetak umum tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku komunikasi petani.
This research aimed to analyze: 1) the communication behavior of farmers to farm, 2) forming part of the communication behavior of farmers to farm, 3) the influence of external factors on the farmers' communication behavior of farmers to farm. The method used is the method of survey with two stage cluster random sampling. Respondents were obtaines by 45 people. Retrieval of data by direct observation, questionnaires, and interviews. The analytical method used is descriptive analysis with likert summated ratings and multiple linear regression analysis. The results Showed that: 1) the communication behavior of farmers to farm in measured from 5 forming part of the communication behavior of farmers in the category enough, 2) forming part of the communication behavior of farmers is contact between farmers and growers in the social systems, the contact between farmers and PPL, contact between farmers and farmers outside the social systems, the contact between farmers and community leaders and contact between farmers and Agency Agricultural Extension which are all included in the category enough, 3) Overall external factors farmers (infrastructure roads, phone, TV and radio, computer, general print media) have an influence on communication behavior of farmers. Road infrastructure, phones and computers significantly influence farmers 'communication behavior, while TV and radio, print media generally do not have a significant impact on farmers' communication behavior.
326313064H1K010063KANDUNGAN GULA TOTAL DAN SELULOSA Gracilaria gigas, Gracilaria verrucosa DAN Eucheuma cottonii PADA BAHAN BAKU DAN LIMBAH AGAR KERTASRumput laut merah memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan baku industri Agar. Rumput laut Gracilaria gigas, Gracilaria verrucosa dan Eucheuma cottonii merupakan jenis rumput laut yang paling umum digunakan sebagai bahan baku pembuatan Agar. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kandungan gula total dan selulosa pada bahan baku dan limbah pembuatan agar kertas. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan membedakan tiga jenis rumput laut untuk melihat perbedaan kandungan gula total dan selulosa pada tiga jenis rumput laut tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa kandungan gula total rumput laut tertinggi adalah Gracilaria verrucosa (15,90%) kemudian Eucheuma cottonii (15,87%) dan terendah Gracilaria gigas (14,15%). Gula total pada limbah tertinggi adalah pada Eucheuma cottonii (12,84%) kemudian Gracilaria verrucosa (12,12%) dan terendah Gracilaria gigas (10,28%). Kandungan selulosa rumput laut tertinggi adalah pada Gracilaria gigas (16,29%) kemudian Gracilaria verrucosa (15,06%) dan terendah Eucheuma cottonii (14,68%), dan selulosa tertinggi pada limbah adalah pada Eucheuma cottonii (10,63%) kemudian Gracilaria gigas (10,47%) dan terendah Gracilaria verrucosa (9,52%). Limbah produksi agar kertas berbahan baku rumput laut Eucheuma cottonii memiliki potensi paling tinggi untuk dimanfaatkan.Red seaweed contains a high carbohydrate, therefore it is potential to be used as raw materials of agar industry. Gracilaria gigas, Gracilaria verrucosa and Eucheuma cottonii are commonly used in the agar industry. The purpose of this research are to determine the total sugar content in raw materials and the waste of agar industrial. Experimental method was used in conducting this research. The research was conducted by analyzing sugar and cellulose content. The results showed that the higest sugar content of seaweed was found in Gracilaria verrucosa (15.90%) then Eucheuma cottonii (15.87%) and the lowest was found in Gracilaria gigas (14.15%). The highest sugar content of waste was found in Eucheuma cottonii (12.84%) then Gracilaria verrucosa (12.12%) and the lowest was found in Gracilaria gigas (10.28%). The highest seaweed cellulose content was found in Gracilaria gigas (16.29%) then Gracilaria verrucosa (15.06%) and the lowest was found in Eucheuma cottonii (14.68%). The highest cellulose content of waste was found in Eucheuma cottonii (10.63%) then Gracilaria gigas (10.47%) and the lowest was found in Gracilaria verrucosa (9.52%). The highest waste of agar found in Eucheuma cottonii has potential to be exploited.
326413053H1H011034TITER ANTIBODI DAN KONDISI HEMATOLOGI BENIH IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) DENGAN UKURAN TUBUH YANG BERBEDA Variasi ukuran ikan lele dumbo disebabkan oleh perbedaan tingkat pertumbuhan yang dapat mempengaruhi perbedaan nilai titer antibodi dan kondisi hematologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai titer antibodi dan kondisi hematologi yang meliputi jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit benih lele dumbo (Clarias gariepinus) dengan ukuran tubuh yang berbeda. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan benih lele dumbo yang berasal dari daerah Klampok, Banjarnegara yang terdiri atas 3 kelas dan berasal dari Kemangkon,Purbalingga yang terdiri atas 4 kelas ukuran. Darah diambil dari ikan untuk pengamatan hematologi dan diambil serumnya untuk pengamatan titer antibodi. Hasil penelitian menunjukkan nilai titer antibodi yang paling tinggi pada kelas ukuran A baik dari daerah Klampok dan Kemangkon yaitu 7,227 dan 6,584 kemudian sedikit perbedaan terdeteksi pada ikan dari Klampok. Jumlah eritrosit benih lele dumbo dari masing-masing daerah relatif sama, dari daerah Klampok berkisar 3-3,6 x 106 sel/mm3, dari daerah Kemangkon berkisar 2,23-4,44 x 106 sel/mm3. Kelompok ikan ukuran besar dari kedua daerah menunjukkan level hemoglobin yang relatif tinggi secara signifikan dibandingkan dengan kelompok ikan berukuran kecil. Nilai hematokrit benih lele dumbo daerah Klampok berkisar 24,8-33,6%, dan mengindikasikan tidak adanya perbedaan antar kelompok ukuran ikan, sedangkan dari daerah kemangkon terdapat sedikit perbedaan.Body size variation of African catfish (Clarias gariepinus) which is caused by an inequality of growth rate could influence antibody titer value and hematological condition. This research was done to know the antibody titer value and hematological parameters which included number of erythrocyte, and level of hemoglobin and hematocrit (on different size of the catfish ). This research was done by using fish fingerling from Klampok, Banjarnegara which was consisting of 3 groups of size and from Kemangkon, Purbalingga which was consisting of 4 groups of size. Blood sample was collected for hematological examination and the serum was separated for antibody titer. Results showed highest antibody titer was class A fish, both from Klampok and Kemangkon that was 7,277 and 6,584 however a slight difference was detected on fish from Klampok. Erythrocyte number of the fish ranged 3-3,6 x 106 sel/mm3 for Klampok and 2,23-4,44 x 106 sel/mm3 for Kemangkon and there was not a significant difference between size groups. Fish group of bigest size from both places showed significantly higher level of hemoglobin in comparison with smaller groups. Hematocrit level of the fish in Klampok ranged 24,8-33,6% and indicated no difference between groups of different sizes, but at Kemangkon there were slight difference.
326513106E1A011127REPOSISI KEDUDUKAN KEPOLISIAN DALAM SISTEM KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIAKepolisian merupakan lembaga hukum dan hidup dalam komunitas yang lebih besar, maka peletakan lembaga kepolisian dalam suatu organisasi negara menjadi lebih penting, karena akan berpengaruh terhadap pelaksanaan tugas dan tanggungjawab yang dibebankan serta kinerja (performance) lembaga kepolisian. Karena itu ketidak-tepatan dalam memposisikan lembaga kepolisian dalam ketatanegaraan akan menciptakan problematika bagi lembaga kepolisian tersebut dalam menjalankan tugas dan wewenanganya sebagai kepolisian negara.

Kedudukan polisi yang sekarang kembali menjadi perdebatan dalam kajian ilmiah. Publik memandang kedudukan polisi berada dibawah presiden cenderung akan dipolitisasi dan disalahgunakan. Sehingga Polri menjadi seperti state police dimana dominasi negara melekat padanya (polisi sebagai alat kekuasaan).

Penelitian ini menjelaskan mengenai kedudukan kepolisian dalam sistem ketatanegaraan Indonesia masa kini dan masa yang akan datang.Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan undang-undang, pendekatan konseptual, pendekatan perbandingan dan pendekatan analisis.

Hasil penelitian diperoleh bahwa kedudukan Kepolisan dibawah kementerian lebih banyak aspek positifnya, sehingga reposisi kedudukan kepolisian itu dibutuhkan untuk menciptakan kepolisian yang benar-benar melaksanakan peran dan fungsinya secara maksimal sesuai dengan amanat tujuan negara yang tercantum dalam paragraph keempat UUD 1945 serta dapat sekaligus mengembalikan aspek filosofi yang memuat nilai-nilai kepolisian sebagai abdi utama warga negara dalam menjaga ketertiban pribadi rakyat.

Kata Kunci : Kepolisian, Reposisi, Kedudukan.
Police is a legal institution and exist in a larger community, so positioning a police institution in state organization is becoming more important because it will affect the performance of duties, responsibilities and performance of the police. Because of that, the inaccuracy in positioning police institution in the state administration will create the problems for the police institution in performing their duties and authorities as a police state.
The position of police are now becoming a debate in the scientific study. Public argued that the police position under the president tends to be politicized and abused. So that the Police is like police state in which the dominance of state attached to it (the police as a tool of power).
This research explains the position of Indonesian police in the constitutional system of the present and the future. The method in this research is normative juridical with the legislation approach, conceptual approach, comparative approach and analytical approach.
The result showed that the position of Police under the Ministry has more positive aspects, thereby repositioning the police is needed to create Police that really carry out roles and functions optimally in accordance with the mandate of the destination countries listed in paragraph four of the 1945 Indonesian Constitution and can simultaneously restore the philosophy aspects which contains the values of the police as the main part of the citizens in keeping people's personal order.

Keywords: Police, Repositioning, Position.
326613082G1G011027KARAKTERISTIK NANOKOMPOSIT METAKAOLIN ZIRKONIA HASIL SINTESTIS DENGAN TEMPLATE TAPIOKA DAN COUPLING AGENT KITOSAN UNTUK MATERIAL RESTORASI GIGI
Komposit adalah salah satu material restorasi gigi direk yang tersusun dari tiga komponen utama yaitu matriks, filler, dan coupling agent. Saat ini banyak dikembangkan filler dengan ukuran nano yang disebut nanokomposit. Bahan yang berasal dari alam seperti metakaolin, zirkonia, tapioka, dan kitosan merupakan salah satu alternatif yang berpotensi sebagai material restorasi gigi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik nanokomposit metakaolin zirkonia dengan penambahan template tapioka 0,4% v/v, 0,8% v/v, 1,6% v/v dan coupling agent kitosan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratoris murni. Pembuatan sampel diawali dengan mensintesis metakaolin, zirkonia, dan penambahan template tapioka 0,4% v/v, 0,8% v/v, dan 1,6% v/v yang dibagi menjadi tiga kelompok, kemudian ketiga powder tersebut dicampurkan dengan kitosan sebagai coupling agent. Karakteristik nanokomposit dengan variasi penambahan tapioka sebagai template kemudian dievaluasi dari mikrostruktur dan kekerasan komposit. Hasil SEM dari ketiga sampel menunjukkan ukuran partikel rata-rata 100nm yang mengindikasikan ukuran tersebut telah memenuhi syarat untuk restorasi gigi yaitu sebesar 5-100nm. Hasil uji kekerasan pada sampel A: 36,83 VHN, sampel B: 32,44 VHN, dan sampel C: 40,01 VHN. Simpulan dari penelitian ini adalah sintesis nanokomposit metakaolin zirkonia dengan penambahan template tapioka berhasil dibuat dan memiliki nilai kekerasan rata-rata telah memenuhi nilai kekerasan restorasi komposit untuk gigi dengan nilai kekerasan tertinggi pada sampel C yang memiliki perlekatan dengan gigi paling baik.Composite is one of direct dental restoration material which is consisted of three main components such as matrix, filler, and coupling agent. Nowadays, there're many fillers that is developed in nano size, called nanocomposite. Ingredients derived from nature such as metakaolin, zirconia, tapioca, and chitosan are one of potential alternative as dental restoration material. The purpose of this study is to determine the characteristics of nanocomposite metakaolin zirconia nanocomposite synthetized with the addition of tapioca template variation of 0,4% v/v, 0,8% v/v, 1,6% v/v and chitosan as coupling agent. The study was pure experimental laboratory. The sample was made by synthetizing metakaolin, zirconia, and the addition of tapioca template 0,4% v/v, 0,8% v/v, and 1,6% v/v which were grouped into three, then the three powders were mixed with chitosan as coupling agent. Nanocomposite's characteristics with variations of the addition of tapioca template was then evaluated for its composite microstructure and hardness. The SEM result of the three samples shown a mean particle size of 100nm which indicated that the size was already suitable for dental restoration with value of 5-100nm. The hardness test were as follow, sample A: 36,83 VHN, sample B: 3,44 VHN, and sample C: 40,01 VHN. In this study, the making of nanocomposite metakaolin zirconia with the addition of tapioca template was successful and had mean hardness value which had met the hardness value used for dental composite restoration with the highest hardness value in the sample C which also had the best attachment to the teeth.
326713054H1K011028PREVALENSI PENYAKIT KARANG DI PERAIRAN WINDWARD DAN LEEWARD KAWASAN PULAU PARI KEPULAUAN SERIBU JAKARTAInfeksi penyakit karang merupakan salah satu faktor utama yang memperburuk kondisi terumbu karang dan memberikan dampak terhadap perubahan komunitas karang. Penelitian prevalensi penyakit karang dilakukan pada 3 stasiun di perairan windward dan leeward saat peralihan musim Barat dan Timur di kawasan Pulau Pari, Kepulauan Seribu Jakarta. Pengkoleksian data dilakukan secara in-situ menggunakan SCUBA dengan metode Belt Transect ukuran 2 x 10 m sebanyak 3 transek sebagai jumlah keterwakilan pada setiap stasiunnya, sehingga luas jangkauan transek yaitu 60m2. Pada stasiun penelitian ditemukan 8 jenis infeksi penyakit karang, antara lain growth annomaly/ tumor, black band disease, brown band disease, ulcerative white spot, pink purple spot, white syndrome, white band disease dan skeletal eroding band dengan nilai prevalensi berkisar 0,38- 19,85%. Nilai prevalensi jenis penyakit tertinggi terdapat pada jenis penyakit WSp di perairan leeward saat musim barat . Standar deviasi prevalensi tertinggi terdapat di perairan leeward saat peralihan musim Barat dan Timur. Faktor biotik dan abiotik pada daerah terbuka dapat menjadi penyebab infeksi penyakit karang. Kondisi tersebut dapat menjadi penyebab rusaknya ekosistem terumbu karang daerah tersebut.Coral disease infection is one of the main factors degrading condition of coral reefs. This study aimed to determine the coral disease prevalencies in three stations windward and leeward during the transition of western and eastern season in Pari Island, Thousand Islands Jakarta. Data was collected using SCUBA equipment applying 2x10m in size of belt transect method. There were 3 transects at each station, so the transect cover was 60m2. It’s been found eight types of coral diseases infections that identified such as growth anomaly / tumor, black band disease, brown band disease, ulcerative white spot, pink purple spots, white syndrome, white band disease and skeletal eroding band with prevalence values ranged from 0.38- 19.85%. The highest value of disease prevalence was white spot disease on leeward when transition of western season. The highest standard deviation of prevalence was found on leeward as long as the trsnsitional western season and eastern season. Biotic and abiotic factors in open areas can caused the coral disease infection. Such conditions could damage the area of coral reef ecosystems.
326813055E1A109009PERAN KANTOR PENANAMAN MODAL DAN PERIZINAN TERPADU DALAM PEMBERIAN IZIN USAHA INDUSTRI DAN TANDA DAFTAR INDUSTRI DI KABUPATEN PURBALINGGAOtonomi daerah mempunyai konsekuensi bagi setiap daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri termasuk dalam masalah perizinan, yaitu dengan meningkatkan pelayanan perizinan kepada masyarakat. Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Purbalingga mengeluarkan kebijakan membentuk Kantor Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu (KPMPT). KPMPT adalah kantor yang mengeluarkan dokumen perizinan bagi masyarakat . termasuk salah satunya tentang izin usaha industri dan tanda daftar industri di Kabupaten Purbalingga.
Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif, yaitu penelitian yang difokuskan untuk mengkaji penerapan kaidah-kaidah atau norma dalam hukum positif. Adapun mengenai tipe pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pendekatan Undang-Undang dan pendekatan analisis. Dan data yang terkumpul baik primer ataupun sekunder kemudian diolah, disajikan dan dianalisis secara kualitatif dengan penyajian teks naratif.
Hasil penelitian menyatakan bahwa peran Kantor Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu (KPMPT) dalam pemberian izin usaha industri dan tanda daftar industri di Kabupaten Purbalingga telah menjalankan fungsinya dengan baik sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Purbalingga No 1 tahun 2008 tentang Pelayanan Publik di Kabupaten Purbalingga. Otomatis dalam Pelaksanaanya yaitu meningkatkan pelayanan publik di bidang perizinan yang mudah, transparan,cepat, tepat, pasti, efisien dan efektif.
Regional autonomy has consequences for every area to take care of their own household are included in licensing issues, i.e improving licensing services to the public. Therefore, Purbalingga District Government issued a policy to form the Office of Investment and Integrated Licensing (KPMPT). KPMPT is the office that issued the licensing documents for public, including one of them is about the industrial business license and the sign of industrial registration in Purbalingga.
Approach method used in this study is normative juridical, i.e research focused to reviewing the application of the rules or norms of the positive law. As for the type of approach used in this study include Laws approach and analytical approach. And data collected both primary or secondary is then processed, presented and analyzed qualitatively with the presentation of narrative text.
The results stated that the role of the Office of Investment and Integrated Licensing (KPMPT) in the granting industrial business license and the sign of industrial registration in Purbalingga has been carry out their functions properly in accordance with the Regulation of Purbalingga District No. 1 of 2008 on Public Service in Purbalingga. Automatically in their implementation i.e to improve public services in the field of licensing easy, transparent, fast, precise, definite, efficient and effective.
326913058A1L011002UJI APLIKASI Pseudomonas fluorescens, PUPUK NPK, DAN
PUPUK DAUN PADA PERTUMBUHAN BIBIT JAMBU AIR CITRA DAN KETAHANANNYA TERHADAP PENYAKIT KARAT PUTIH
Penelitian bertujuan untuk 1) mengetahui dosis pemberian pupuk NPK yang tepat sehingga dapat memberikan pertumbuhan yang baik pada bibit jambu air citra, 2) mengetahui konsentrasi pupuk daun yang tepat sehingga dapat memberikan pertumbuhan yang baik pada bibit jambu air citra, 3) mengetahui efektivitas Pseudomonas fluorescens dalam meningkatkan ketahanan bibit jambu air citra terhadap penyakit karat putih, dan 4) mengetahui pengaruh kombinasi perlakuan pada pertumbuhan dan ketahanan bibit jambu air citra terhadap penyakit karat putih. Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan, dari bulan Desember 2014 sampai Mei 2015 di Laboratorium Perlindungan Tanaman dan Screen House Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial, yang terdiri dari 8 perlakuan dengan 3 kali ulangan. Variabel yang diamati meliputi intensitas penyakit, tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah daun, dan luas daun. Hasil penelitian menunjukkan dosis pupuk NPK 30 g/tanaman mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman sebesar 21,1%, sedangkan pupuk daun dengan konsentrasi 1 g/liter mampu menambah jumlah cabang jambu air citra sebesar 54,3%. Perlakuan P. fluorescens formulasi cair dan kombinasi perlakuan belum mampu meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan bibit jambu air citra terhadap penyakit karat putih.Research aims were to 1) determine the appropriate dosage of NPK to provide a good growth on seed of citra water apple, 2) determine the concentration of foliar fertilizer to provide a good growth on seed of citra water apple, 3) determine the effectiveness of Pseudomonas fluorescens to increased the resistance of citra water apple seed against white rust disease, and 4) determine the effect of combination treatment of the growth and resistance of water apple seed against white rust disease. The research was conducted for 6 months, from December 2014 to May 2015 at the Laboratory of Plant Protection and Screen House of Agriculture Faculty, University of Jenderal Soedirman, Purwokerto. Research used randomized block design (RBD) factorial, consisted of 8 treatments with 3 replications. Variables observed were disease intensity, plant height, number of branches, number of leaves and leaf areas. The results showed that dosage of NPK fertilizer 30 g/plant increased plant height about of 21.1%, the foliar fertilizer dosage of 1 g/liter was able to increased the number of branches of citra water apple by 54.3%, but the treatment of P. fluorescens liquid formulation and combined treatment has not been able to increased growth and resistance of citra water apple seed against white rust disease.
327013059H1G011002Potensi Lestari Ikan Tenggiri (Scomberomorus commerson) Yang Didaratkan Di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan, Jawa TengahIkan Tenggiri (Scomberomorus commerson) merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang memliki nilai ekonomi tinggi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis status penangkapan ikan Tenggiri dengan menggunakan indikator Maximum Sustainable Yield (MSY) dan FMSY. Data hasil tangkapan dan upaya dari tahun 2009-2014 diperoleh dari Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan. Data spesifikasi alat tangkap ikan Tenggiri diperoleh dari hasil wawancara kepada 38 nelayan. Data hasil tangkapan dan upaya dianalisis menggunakan Metode Surplus Produksi (Schaefer). Hasil penelitian menunjukan MSY ikan Tenggiri sebesar 4.879,389 ton/tahun dan fMSY sebesar 730,245 trip/ tahun. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan ikan Tenggiri di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan masih dalam kondisi lestari.


Narrow-barred Spanish Mackerel (Scomberomorus commerson) is one of Indonesia fishery commodity with high economic value. The purpose of this study was to analyze the status of Tenggiri fishery using Maximum Sustainable Yield (MSY) and FMSY as indicators. Catch-effort data from (2009-2014) were obtained from Nusantara Fishery Port, Pekalongan. Specification of fishing gear data were obtained by interviewing 38 fishermen. Catch-effort data were analyzed using Surplus Production Method (Schaefer). The results showed that the maximum production 4.879,389 ton/ year and fMSY 730,245 trip/ year. Based on the results of this study, it can be concluded that the status of narrow-barred Spanish Mackerel fishery at Pekalongan Fishing Port is under fishing.


327113062A1M011035Pengaruh Pragelatinisasi pada Tepung Jagung terhadap Karakteristik Fisikokimia dan Sensoris Mi BasahMi merupakan produk pangan yang dapat dikonsumsi oleh berbagai kalangan. Bahan baku utama yang digunakan dalam pembuatan mi adalah tepung terigu. Namun, untuk menekan angka impor gandum dan mensukseskan program swasembada pangan, produk mi mulai disubstitusi dengan tepung lain. Mi basah dalam penelitian ini menggunakan bahan baku utama tepung jagung pragelatinisasi. Pragelatinisasi merupakan modifikasi pati secara fisik. Tepung pragelatinisasi dapat memperbaiki kekenyalan, kelengketan dan kekerasan pada mi non gandum. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui karakteristik kimia tepung jagung pragelatinisasi; 2) mengetahui kombinasi formula pemanasan suspensi tepung jagung yang mempunyai respons maksimum terhadap kadar karbohidrat dan daya pengembangan, serta tingkat penerimaan pada mi basah; 3) mengetahui karakter fisikokimia dan sensoris dari mi basah dengan formula optimal.Metode yang digunakan dalam penelitian adalah Response Surface Methodology (RSM) dalam perangkat analisis Design Expert v. 9.0.5.1 dengan rancangan percobaan Central Composite Design (CCD). Penelitian optimasi ini terdiri atas tiga faktor, yaitu batas bawah waktu pemanasan 5 menit, nilai tengah 10 menit, dan batas atas 15 menit; batas bawah suhu pemanasan 65oC, nilai tengah 80oC, dan 95oC; serta batas bawah volume air yang ditambahkan pada suspensi tepung 10% b/v, nilai tengah 15% b/v, dan batas atas 20% b/v. Ketiga faktor tersebut menghasilkan 20 formula acakan. Hasil formula yang paling optimal berdasarkan hasil analisis zero-one adalah mi basah dengan penggunaan tepung jagung pragelatinisasi waktu pemanasan 7 menit, dengan suhu 71oC dan volume air suspensi tepung 13% b/v. Formula tersebut menghasilkan mi basah dengan kadar air 62,61%; kadar abu 0,322% bb; kadar lemak 1,37% bb; kadar protein total 4,18% bb; kadar karbohidrat by difference 31,51% bb; daya pengembangan mi 16,67%; warna kuning kecokelatan (2,5); aroma agak khas tepung (3,9); tekstur agak kenyal (2,5); rasa agak gurih (2,6); tingkat kesukaan agak suka sampaisuka (2,8).Noodle is one of food products that can be consumed by everyone. The main raw material used for noodle is wheat flour. However, for reducing the numbers of wheat import and to lift up the food self-sufficiency program, noodle can be substituted with another flours. Wet noodle in this research used pregelatinized corn flour as the material raw. Pregelatinized is a modification of the starch physically. Pregelatinized flours may improve elasticness, stickiness and hardness on noodle non wheat. This research aims to: 1) determine the chemical characteristics of pregelatinized corn flour; 2) determine the combination formula of corn flour heating suspension which has a maximum response towards levels of carbohydrates and swelling volume of noodle, as well as the acceptance rate on a wet noodle; 3) determine the physicochemical and sensory characteristics of wet noodles with optimum formula. The methods of this experiment was Response Surface Methodology (RSM) by using Design Expert v. 9.0.5.1 software, with experimental design Central Composite Design (CCD). The research of optimization consists three faktors, 1) the lower level of the heating time was 5 minutes, middle value was 10 minutes, and upper was 15 minutes; 2)the lower level of heating temperature of 65oC, middle value was 80oC, and upper was 95oC; 3) the lower level of water volume on flour suspension was 10% w/v, middle value was 15% w/v, and upper was 20% w/v. Those faktors resulted 20 combination formula. The most optimum formula based on the results of zero-one analysis show that wet noodle using pregelatinized corn flour with heating time 7 minutes, heating temperature and volume of starch suspension was 71oC flour and 13% w/v. The formula can produce product which contain of 62,61%wb water content; 0.322% wb ash content; 1.37% wb fat; 4.18% wb total protein; 31.51% wb carbohydrate; 16.67% swelling volume of noodle; tawny color (2.5); rather distinctive of flour (3.9); (2.5) middle chewy texture; (2.6) rather savory; slightly preferred until preferred (2.8)
327213063A1C111009ANALISIS KELAYAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA PERMEN JAHE DI INDUSTRI INDO NADA KABUPATEN CIREBON
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menghitung besar biaya, penerimaan, dan pendapatan yang diperoleh dalam usaha permen jahe di industri “Indo Nada”, 2) mengetahui kelayakan usaha permen jahe di industri “Indo Nada”, 3) merencanakan strategi pengembangan usaha permen jahe di industri “Indo Nada”. Penelitian ini dilaksanakan di industri “Indo Nada” Desa Megu Gede Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon pada bulan April-Mei 2015. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus pada industri “Indo Nada”. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis biaya dan pendapatan, R/C ratio, matriks Internal Factor Evaluation (IFE), matriks External Factor Evaluation (EFE), matriks Internal-Eksternal (IE), dan matriks Strength, Weaknesses, Opportunities, and Threats (SWOT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) biaya produksi total rata-rata per bulan April sebesar Rp125.469.370,00 dengan penerimaan rata-rata sebesar Rp154.400.000,00 sehingga diperoleh pendapatan bersih sebesar Rp28.930.630,00 per bulan, 2) nilai R/C usaha industri “Indo Nada” yaitu 1,23 atau lebih besar dari 1 sehingga usaha sudah efisien dan layak untuk dikembangkan, 3) Total nilai skor pada matriks IFE adalah 2,514, nilai skor EFE adalah 2,391, maka posisi industri pada matriks IE ada pada kuadran V strategi yang dapat diterapkan adalah jaga dan pertahankan. Alternatif strategi matriks SWOT adalah mempertahankan jaringan yang sudah ada dan menambah jumlah distributor untuk pengembangan pasar, menciptakan diversifikasi produk, menjalin kerjasama baik dengan pemerintah maupun mitra usaha lain untuk mendukung pembangunan modal dan kemampuan manajerial pengusaha, memperkuat dan mempertahankan daerah pasar yang sudah ada, dan melakukan perencanaan produksi dan efisiensi biaya.This research aimed to: 1) quantify the enormous cost, acceptance, and income of business acquired in the business industry ginger candy "Indo Nada", 2) analyzing the feasibility of ginger candy in "Indo Nada" industry, 3) formulate the strategy of business development industry ginger candy "Indo Nada". This research was carried out in the industry "Indo Tone" village Megu Gede Weru Subdistrict Cirebon district in April-May 2015. The research method used was a case study on the industry "Indo Nada". Methods of analysis used in this study is the analysis of cost and income ratio, RC, Internal Factor Evaluation Matrix (IFE) matrix, External Factor Evaluation (EFE) matrix, Internal-external (IE), and the matrix Strength, Industry, Opportunities, and Threats (SWOT). The results showed that: 1) the total production cost on average per month of April amounted Rp125.469.370,00 with acceptance by an average of Rp154.400.000,00 thus obtained net income of Rp28.930.630,00 per month, 2) the value of R / C industry business "Indo Nada "is 1.23 or greater than 1 so that the business has been efficient and deserve to be developed, 3) Total value of the matrix IFE score is 2,514, the value of EFE score is 2,391, the industry's position on the quadrant matrix V IE no strategy that can be applied is protected and maintained. Alternative strategies SWOT matrix is maintain the existing network and increase the number of distributors to market development, creating product diversification, cooperating with the government or partner other businesses to support the development of capital and managerial capabilities entrepreneur, strengthen and maintain existing market areas, and production planning and cost efficiency.
327314616E1A012007PENERAPAN PERATURAN DAERAH NOMOR 14 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN REKLAME (STUDI DI KABUPATEN BANYUMAS)Kabupaten Banyumas khususnya kota Purwokerto merupakan kawasan yang strategis untuk majunya perekonomian sehingga banyak diminati oleh pelaku usaha untuk mempromosikan barang dan jasa yang diproduksinya melalui media reklame. Banyak terdapat media reklame yang terpasang di sudut kota Purwokerto, namun dengan banyaknya aktivitas penyelenggaraan reklame di kota Purwokerto menimbulkan permasalahan yang mengakibatkan tidak tertib dalam penataan reklame yang merusak estetika wajah kota Purwokerto. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana Penerapan Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Reklame di Kabupaten Banyumas serta apa saja faktor penghambat dalam Penerapan Peraturan Daerah Nomor 14 Tentang Penyelenggaraan Reklame di Kabupaten Banyumas.
Penelitian dilakukan menggunakan jenis penelitian yuridis normatif yakni dalam menyelesaikan permasalahan yang akan dibahas, berdasar peraturan dengan tujuan mengetahui dan mengkaji Penerapan Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Reklame. Metode pengumpulan bahan yang digunakan adalah studi kepustakaan serta wawancara sebagai bahan pelengkap.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa, Penerapan Peraturan Daerah Nomor Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Reklame di Kabupaten Banyumas belum efektif karena masih banyak ditemukan reklame yang tidak sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Reklame serta ditemukannya Hambatan Intern dan Hambatan Ekstern yang menghambat dalam Penerapan Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2014 tentang penyelenggaraan reklame di Kabupaten Banyumas.
Kata Kunci : Penerapan, Peraturan Daerah, Penyelenggaraan Reklame
Banyumas Regency, especially city of Purwokerto is a strategic city for the economic side, so many company wants to promote their goods and services produced through media advertisement such as a billboard, banner and others. Nowadays, many media advertisement are installed in the corner of the city of Purwokerto, but it makes a problem and causing disorderly in the enforcement of the media advertisement itself and destructive the beauty of the city of Purwokerto. This study was conducted to determine how the implementation of the Regional Regulation Number 14 of 2014 about the Enforcement of Media Advertisement in Banyumas Regency and also to determine what is the factors that obstruct the implementation of the Regional Regulation Number 14 of 2014 about the Enforcement of Media Advertisement in Banyumas Regency.
The study is using juridical-normative method to solving the issues, based on the regulation in order to know and assess the implementation of the Regional Regulation Number 14 of 2014 about the Enforcement of Media Advertisement in Banyumas Regency. The data source used are literature and interviews as supplementary material.
The conclusions of this research is, the implementation of the Regional Regulation Number 14 of 2014 about the Enforcement of Media Advertisement in Banyumas Regency is not effective because there are still many media advertisement are not accordance with the Regional Regulation Number 14 of 2014 about the Enforcement of Media Advertisement in Banyumas Regency as well as the discovery of internal and external factors that obstruct the implementation of the Regional Regulation Number 14 of 2014.
Keyword: Implementation, Regional Regulation, Enforcement of Media Advertisement
327413065C1C008131PERSEPSI PEMAHAMAN, KUALITAS PELAYANAN, DAN KETEGASAN KETEGASAN SANKSI PERPAJAKAN TERHADAP KEPATUHAN PERPAJAKANPenelitian ini dilatarbelakangi oleh kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajaknya, terutama para pelaku usaha UMKM. Pemahaman tentang perpajakan, kualitas pelayanan dan ketegasan ketegasan sanksi perpajakan merupakan faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak. Dimana dengan adanya pemahaman yang baik tentang pajak diharapkan mampu mendorong pelaku usaha UMKM untuk patuh terhadap peraturan. Kualitas pelayanan yang baik akan memberikan kepuasan bagi wajib pajak sehingga mereka akan senantiasa patuh terhadap peraturan perpajakan. Penerapan sanksi pajak akan sangat efektif mendorong peningkatan kepatuhan wajib pajak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ketiga variabel yang digunakan, variabel pemahaman perpajakan tidak memiliki pengaruh terhadap kepatuhan perpajakan, sedangkan kualitas pelayanan dan ketegasan sanksi pajak berpengaruh terhadap ketegasan ketegasan sanksi perpajakan.
This research is motivated by the taxpayer compliance in paying taxes, especially the SMEs business operators. An understanding of taxation, quality of service and firmness firmness tax penalties are factors that affect taxpayer compliance in paying taxes. Where the presence of a good understanding of the tax is expected to encourage SMEs business operators to comply with the regulations. Good service quality will give you satisfaction for taxpayers so that they will always obey the tax laws. The application of tax penalties would be very effective boost tax compliance.
The results showed that of the three variables used, variable understanding of taxation has no influence on tax compliance, while the quality of service and tax penalties firmness firmness firmness effect on tax penalties.
327513066H1K010057Tingkah Laku Akustik Ikan Keting (Mystus gulio)Famili Bagridae termasuk golongan ikan yang menghasilkan suara, salah satunya Mystus gulio. Karakteristik suara pada ikan merupakan representasi tingkah lakunya. Tingkah laku ikan di laut tidak mudah untuk diamati secara langsung karena faktor visibilitas, area pengamatan terlalu luas dan adanya gaduh dari sumber suara lain, sehingga penelitian dilakukan pada skala laboratorium. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik suara ikan Mystus gulio dan wujud tingkah lakunya. Pendekatan pasif akustik skala laboratorium digunakan untuk mendapatkan karakteristik suara dan rekaman visual digunakan untuk memahami tingkah lakunya. Suara yang dihasilkan secara individu berbeda dengan suara saat berkelompok. Suara yang dihasilkan adalah suara “click”, “frog”, dan “boatwhistle”. Suara “click” sebagai suara stridulasi merepresentasikan tingkah laku ikan saat menyerang secara agresif, bergerak secara aktif dan diam di shelter maupun di luar shelter. Suara “frog” sebagai suara drumming merepresentasikan tingkah laku ikan saat interaksi dengan ikan lainnya, diam, dan mempertahankan wilayahnya. Suara “boatwhistle” sebagai suara hidrodinamika merepresentasikan tingkah laku ikan saat interaksi dengan lainnya dan diam.Family Bagridae is a fish family that produces the sound. One species of that family is Mystus gulio. The sound characteristic of fish is representation of it behaviour. The behaviour of fish in the sea isn`t too easy to observe caused by visibility factor, wide observation area, and any noise factors from other sound sources. For the reasons, this study was done on laboratory scale that aimed to find out the sound characteristic of Mystus gulio and behaviour that spesies. Acoustic passive approach used to obtain the sound characteristic and visual recording used to understanding it behaviour. The resuling showed individually sounds is different with the sound of fish group. The sounds of Mystus gulio are ”click”, ”frog”, and ”boatwhistle”. The “click” sound defined as stridulation sound which represent the agressive attack behaviour, active moving and keeping quiet in the shelter or out the shelter. The “frog” sound defind as drum sound which represent the interaction behaviour with others fishes, keeping quiet and protecting their area behaviour. The “boatwhistle”sound defind as hydrodynamics sound which represent the interaction behaviour with other and keeping quiet.
327613085A1M009040Penggunaan gula kelapa yang mengandung karoten dan jenis kemasan terhadap sifat kimia dan sensori isian nopia selama penyimpananMino merupakan produk olahan yang berbahan baku utama yaitu gula kelapa cetak yang diproduksi pada skala rumah tangga dan industri. Sebuah inovasi dilakukan pada mini nopia (mino) untuk meningkatkan kandungan gizi khususnya vitamin A, dengan cara menggunakan gula kelapa cetak yang ditambahkan crude palm oil (CPO) dan red palm oil (RPO). Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui jenis gula berkaroten terhadap sifat kimia dan sensori pada isi mini nopia (mino) yang dihasilkan, 2) Mengetahui pengaruh jenis kemasan pada isi mini nopia (mino) terhadap sifat kimia dan sensori selama penyimpanan, 3) Menentukan kombinasi perlakuan terbaik pada “mino” menggunakan uji Indeks Efektifitas berdasarkan sifat kimia dan sensori. Rancangan percoban yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap (RAL). Faktor yang dicoba yaitu: 1) Isi mino menggunakan gula yang mengandung karoten (R) terdiri dari gula RPO (R1) dan gula CPO (R2). 2) Jenis kemasan (P) terdiri dari plastik PP (P1) dan plastik pp + kertas coklat (P2). 3) Lama penyimpanan (M) terdiri dari 0 minggu (M0), 2 minggu (M1), 4 minggu (M2) dan 6 minggu (M3) sehingga diperoleh 16 kombinasi perlakuan, diulang sebanyak 2 kali dan diperoleh 32 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mino yang menggunakan gula CPO mempunyai kadar air, FFA, kadar gula reduksi dan kadar gula total yang lebih tinggi daripada mino yang menggunakan gula RPO. Jenis kemasan ganda (plastik polypropylene + kertas berwarna coklat) lebih tinggi sifat kimianya dibandingkan kemasan tunggal (plastik polypropylene) selama penyimpanan 6 minggu. Sifat sensori mino yang menggunakan kemasan tunggal tingkat kesukaan lebih tinggi dibandingkan dengan kemasan ganda. Kombinasi perlakuan terbaik berdasarkan uji indeks efektifitas adalah isi mino yang menggunakan gula CPO dengan kemasan tunggal dan penyimpanan selama 4 minggu. Nilai karotennya sebanyak 114,144 mcg/6g atau vitamin A sebesar 31,71 IU.Mini nopia (mino) is a coconut palm sugar based product processed in a house and also industrials scales. An innovation was done in “mino” processing to improve it’s nutrient contents, especially vitamin A. Through the usage of the coconut palm sugar vitamin A added from crude palm oil (CPO) and red palm oil (RPO). The purpose of this research were to determine : 1) The usage effect of type of sugar that contain carotene on it’s chemical and sensory charateristics of the stuffing of mini nopia (mino) 2) To determine the influence of the type of packaging to the stuffing of the mini nopia (mino) against chemical and sensory charateristics during storage. 3) To determine the best treatment combination towards “mino” and test Effectiveness Index is based on the chemical and sensory properties. The experimental design which being used was Completely Randomized Design (CRD). Factors examined, were: 1) the type of sugar that added as stuffing of “mino” that were palm oil sugar added with RPO (R1) and CPO (R2). 2) Types of packaging, were: polypropylene (P1) and polypropylene plastic + brown paper (P2). 3) Storage time variations, were: 0 week (M0); 2 weeks (M1); 4 weeks (M2); 6 weeks (M3) resulted in 16 combined treatments, repeated 2 times so 32 experimental units was obtained. Result of this research showed that the “mino” which is use CPO added sugar has water, FFA, fat, reduction sugar, and total sugar content of “mino” higher than the one that using the RPO added sugar. Storage for 6 weeks resulted in increasing of water, fat, reducing sugar, and total sugar content of both of the added CPO and RPO sugar “mino”. Double packaging (plastic polypropylene + brown paper) (P2) was proved can maintain the quality of “mino” during storage, compared by the single packaging (plastic polypropylene) (P1). The best “mino” treatment combination was CPO added sugar “mino”, with single packaging in the 4 weeks storage (R2P1M2), the total carotenoid is 114.144 mcg/6g or vitamin at 31.71 IU.
327713067H1G011015KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN ALAT TANGKAP JARING ARAD (Beach Seine) BERDASARKAN FASE BULAN DI PANTAI PANGANDARAN, JAWA BARATSumberdaya perikanan di Pangandaran cukup potensial, karena perairan Pangandaran berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Nelayan menggunakan berbagai macam alat tangkap salah satunya adalah jaring arad. Penelitian ini bertujuan mengetahui komposisi hasil tangkapan jaring arad meliputi jenis dan jumlah berdasarkan fase bulan. Metode yang digunakan adalah metode survei. Penelitian dilakukan selama 1 bulan, pengambilan sampel dilakukan pada setiap fase bulannya. Selama penelitian didapat 3 jenis krustacea, 1 jenis moluska dan 19 jenis ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil tangkapan pada setiap fase bulannya. Dimana hasil tangkapan tertinggi pada fase bulan 1 yaitu udang rebon, fase bulan 2 dan 3 yaitu ikan pepetek dan fase bulan 4 yaitu ikan layur. Hal tersebut menunjukkan bahwa fase bulan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi baik jumlah maupun keragaman hasil tangkapan jaring arad.

Fishery resources in Pangandaran is quite potential, because Pangandaran directly borders to the Indian Ocean. Fishermen use a variety of fishing gears, one of which is an Arad net. This study was aimed to determine the catch composition of Arad nets based on the moon phase. This research uses survey method. The research was conducted during one month, with sampling at each the moon phase. Three kinds of crustaceans, one species of mollusks and 19 species of fish. Were collected during the research periode. The highest catches where in lunar phase 1 is rebon, lunar phases 2 and 3 are pepetek fish and lunar phase 4 is layur fish. The result shows that the moon phase is one of factors that affect, both the number and diversity of arad net catch.

327815425D1E012120KONSUMSI DAN KECERNAAN ENERGI SAPI SUMBA ONGOLE YANG DIBERI TEPUNG DAUN WARU PADA IMBANGAN JERAMI PADI AMONIASI DAN KONSENTRAT YANG BERBEDAPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji interaksi antara taraf tepung daun waru dan imbangan hijuan konsentrat yang berbeda terhadap konsumsi dan kecernaan energi pada sapi Sumba Ongole (SO). Materi penelitian menggunakan 18 ekorsapi Sumba Ongole yang berasal dari Pulau Sumba dengan umur ±2 tahun dan bobot badan rata-rata 218,67± 17,62 (koefisien keragaman= 8,06). Ada dua perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini. Perlakuanyang pertama adalah taraf tepung daun waru,yaitu 0% (W1), 0.24% (W2) dan 0.48% (W3),dari bahan kering (BK) konsentrat. Perlakuan yang kedua adalah imbangan bahan kering (BK) Jerami Padi Amoniasi (JPA): Konsentrat 35:65 (I1) dan 30:70 (I2). Sehingga pada penelitian ini menggunakan pola faktorial 3x2 yang dirancang sesuai dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dengan demikian, ada kombinasi (I1W1, I1W2, I1W3, 12W1, I2W2, I2W3) sebagai perlakuan. Variabel yang diukur adalah konsumsi dan kecernaan energi. Data yang terkumpul dianalisa dengan menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan dengan orthogonal polynomial.

The research aimed to assess the interaction between the dosages of Hibiscus leaf meal and the different ratios of ammoniated rice straw to concentrates on the energy intake and digestibility on Sumba Ongole Cattle. The materials used in study were 18 Sumba Ongole cattle from Sumba island whose age were ±2 years old and average weight were 218,67± 17,62 (variation: 8.06). There were two treatments in the research. While the first treatment was the dosages of hibiscus leaf meal addition, which were 0% (W0), 0.24% (W2), 0.48% (W3), out of the dry matter concentrate, the second was the ratios of ammoniated rice straw concentrate 35:65 (I1) and 30:70 (I2). This research, therefore, used 3x2 factorial design according to randomized completely design and then the combinations (I1W1, I1W2, I1W3, 12W1, I2W2, I2W3) as the treatments. The measured variables were the energy intake and digestibility. The collected data was analysed by an analysis of variance and followed by orthogonal polynomial test.
327913069H1G011021MORTALITAS PENANGKAPAN DAN LAJU EKSPLOITASI IKAN TONGKOL (Euthynnus affinis) DI PERAIRAN PANGANDARAN, JAWA BARATPenelitian yang berjudul “Mortalitas Penangkapan dan Laju Eksploitasi Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) di Perairan Pangandaran Jawa Barat” bertujuan untuk mengetahui nilai mortalitas penangkapan serta laju eksploitasi ikan Tongkol di perairan Pangandaran Jawa Barat. Penelitian ini berlangsung selama bulan Mei-Juli 2015. Pengumpulan data primer dilakukan menggunakan metode survei melalui observasi dengan melakukan pengukuran secara langsung yaitu meliputi panjang total, panjang standar, tinggi, dan berat ikan tongkol yang didaratkan di TPI Pangandaran. Jumlah ikan yang diukur pada penelitian ini yaitu 1200 ekor ikan. Analisis parameter pertumbuhan (L∞ dan K) dilakukan dengan menggunakan metode ELEFAN I, sedangkan mortalitas dan laju eksploitasi dengan metode Pauly. Koefisien pertumbuhan (K) sebesar 0.54 pertahun dan panjang asimtotik (L∞) 51,24 cm. Laju mortalitas total (Z) sebesar 3,3887 pertahun dengan mortalitas alami (M) sebesar 0,8235 dan mortalitas penangkapan (F) sebesar 2,5652 pertahun. Nilai laju eksploitasi sebesar 0,757 dengan nilai E optimum yaitu 0,5 pertahun. Hal tersebut menunjukan bahwa penangkapan Euthynnus affinis di Perairan Pangandaran Jawa Barat telah mengalami “lebih tangkap” karena nilai E saat ini sudah mencapai 75,7% dari nilai optimumnya.The research entitled "Fishing Mortality and Exploitation Rate of Eastern Little Tuna (Euthynnus affinis) in Pangandaran Aquatic Area, West Java" is aimed to determine the value of fishing mortality and the exploitation’s rate of Eastern Little Tuna in Pangandaran’s aquatic area, West Java. This research was held from May to July 2015. The primary data was collected using survey method through observation by doing direct measurement method which includes the total length, standard length, height, and weight of Eastern Little Tuna taken from TPI Pangandaran. The number of fish that measured in this study are 1200 fishes. Analysis of the growth parameters (L∞ and K) were calculated using ELEFAN I, whereas the mortality and the rate of exploitation using Pauly’s method. Growth coefficient (K) was estimated as 0,54 per year and the asymptotic length (L∞) was 51,24 cm. Total mortality rate (Z) was 3,3887 per year with the natural mortality (M) was 0,8235 and the fishing mortality (F) was 2,5652 per year. The exploitation rate was calculated about 0,757 with E optimum value 0,5 per year. The result shows that the fishing of Euthynnus affinis in the Pangandaran aquatic area, West Java has been "over fishing" because of the value of E has reached 75,7% of the optimum value.
328013070A1C011066FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN PETANI MENGGUNAKAN BENIH KENTANG BERSERTIFIKAT DI KECAMATAN PAGUYANGAN KABUPATEN BREBESKentang merupakan salah satu jenis hortikultura yang berpeluang untuk pengembangan agribisnis dan agroindustri dibandingkan dengan komoditas hortikultura lainnya. Saat ini produktivitas kentang di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara-negara di Eropa. Rendahnya produktivitas kentang di Indonesia salah satunya disebabkan oleh rendahnya penggunaan benih kentang bersertifikat. Kondisi tersebut disebabkan oleh mahalnya harga benih kentang bersertifikat, sementara harga kentang konsumsi relatif rendah, sehingga petani kurang mampu membeli benih kentang bersertifikat. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengidentifikasi karakteristik petani kentang di Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, 2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani menggunakan benih kentang bersertifikat di Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes. Penelitian dilaksanakan di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes pada bulan Desember 2014 sampai dengan Januari 2015. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai. Pengambilan sampel menggunakan metode proportionate stratified random sampling. Jumlah responden sebanyak 35 orang petani, terdiri dari 11 orang petani pengguna benih kentang bersertifikat dan 24 orang petani pengguna benih kentang tidak bersertifikat. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Karakteristik petani kentang yang menggunakan benih kentang bersertifikat di Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes didominasi oleh kelompok umur 26 sampai dengan 35 tahun, tingkat pendidikan Sekolah Dasar, pengalaman berusahatani antara 4 sampai dengan 7 tahun dan luas lahan garapan 0,251 sampai dengan 0,5 hektar. Karakteristik petani kentang yang menggunakan benih kentang tidak bersertifikat didominasi oleh kelompok umur 31 sampai dengan 35 tahun, tingkat pendidikan Sekolah Dasar, pengalaman berusahatani antara 8 sampai dengan 15 tahun dan luas lahan garapan 0,251 sampai dengan 0,5 hektar. (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani menggunakan benih kentang bersertifikat di Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes yaitu pendidikan, pengalaman berusahatani, luas lahan garapan, harga benih, modal usahatani dan jumlah tanggungan keluarga.Potato is a kind of horticulture which can be used for the development of agribusiness and agroindustry compared with other horticulture comodities. Nowadays, the production of potatoes in Indonesia is lower than in the European countries. The low production of potatoes in Indonesia is caused by the low usage of certified potato seed. Such condition happened because the expensive price of certified potato seed, whereas the price of potato output is relatively low, so that farmers unable to buy the certified seed. This research aims to: 1) identify the characteristics of potato farmer in Paguyangan district, Brebes regency, 2) analyze the factors that influence the farmers’ decision in using certified potato seed in Paguyangan district, Brebes regency. This research is conducted in Pandansari village, Paguyangan district, Brebes regency on December 2014 to January 2015. The research method used is survey method. Sample is taken through proportionate stratified random sampling method. The amount of respondents are 35 farmers comprise of 11 users of certified potato seed and 24 users of uncertified potato seed.
The results of the research showed that (1) Characteristics of potato farmer who use the certified potato seed in Paguyangan district, Brebes regency is dominated by the age group 26 to 35, Graduated of elementary School, farming experience between 4 to 7 years and land area 0,251 to 0,5 hectares. Characteristics of potato farmer who use the uncertified potato seed is dominated by the age group 31 to 35, Graduated of elementary School, farming experience between 8 to 15 years and land area 0,251 to 0,5 hectares. (2) Factors that influence the farmers’ decision in using certified potato seed in Paguyangan district, Brebes regency is the education, farming-experience, land size, seed price, capital visibly, and the amount of family amenability.