Home
Login.
Artikelilmiahs
12846
Update
KARIM AMRULLOH
NIM
Judul Artikel
Pertumbuhan dan Komposisi Tubuh Belut Sawah (Monopterus alba Zuiew) Setelah Tiga Bulan Diberi Pakan Alami dan Pakan Buatan Pellet
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Karim Amrulloh, NIM P2BA12029, Program Studi S2 Biologi Universitas Jenderal Soedirman. Judul Tesis: PERTUMBUHAN, KOMPOSISI TUBUH DAN JENIS KELAMIN BELUT SAWAH (Monopterus albus Zuiew) YANG DIBERI PAKAN ALAMI DAN PAKAN BUATAN. Pembimbing: Dra. Hj. Yulia Sistina, M.Sc.Stud.Ph.D dan Ir. H. Purnama Sukardi, Ph.D. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pertumbuhan, komposisi tubuh, kandungan gizi dan jenis kelamin belut sawah setelah perlakuan pemberian empat jenis pakan alami dan pakan buatan (pellet). Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret – Mei 2014 di Laboratorium Biologi SMA Karya Bakti Jatilawang. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan pola percobaan rancangan acak lengkap 5 perlakuan dengan 5 ulangan. Perlakuan yaitu pakan pellet (sebagai control), pakan alami keong mas, maggot, kecebong dan cacing tanah. Data kuantitatif berupa pertumbuhan panjang mutlak, pertumbuhan berat mutlak, laju pertumbuhan spesifik, sintasan dan komposisi tubuh belut dianalisis dengan Analisis of Variance (ANOVA) menggunakan software SPSS Versi 20. Jenis kelamin belut dievaluasi menggunakan metode Acetokarmin dan Paraffin dengan pewarnaan Haematoxylin-Eosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan alami dan pakan buatan (pellet) tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap pertumbuhan panjang mutlak, tetapi berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pertumbuhan berat mutlak, laju pertumbuhan spesifik (SGR), sintasan (SR) dan komposisi tubuh belut sawah perlakuan. Nilai pertambahan panjang mutlak berkisar antara 11,50 - 12 cm. Nilai pertambahan berat mutlak berkisar antara 93,94 - 142,48 gram. Perlakuan maggot dan kecebong lebih baik dari pada pellet (kontrol) dan cacing tanah jauh lebih baik daripada pellet, dan pellet lebih baik daripada keong mas dalam menghasilkan pertumbuhan berat mutlak belut sawah. Nilai SGR berkisar antara 0,69 - 0,93 %. Perlakuan cacing tanah lebih baik daripada pellet (kontrol), perlakuan maggot dan kecebong sama baiknya dengan pellet, sedangkan keong mas lebih buruk daripada pellet dalam menghasilkan laju pertumbuhan spesifik belut sawah. Nilai sintasan belut sawah berkisar antara 78,67 % - 100%. Perlakuan maggot, kecebong dan cacing tanah jauh lebih baik daripada pellet (kontrol), sedangkan kelompok perlakuan keong mas sama baiknya dengan kontrol (pellet) dalam menghasilkan sintasan belut sawah. Kandungan komposisi tubuh untuk kadar protein berkisar antara 59,53% - 67,08%. Perlakuan keong mas lebih baik daripada pellet, maggot, kecebong dan cacing tanah dalam menghasilkan protein kasar dalam komposisi tubuh belut sawah. Hasil pengamatan histologi membuktikan bahwa belut hasil perlakuan berukuran 20-30 cm berkelamin betina, dan belut alami berukuran kurang dari 20 cm, antara 20 – 30 cm, berkelamin betina dan juga yang berukuran >30cm, hasil dari ukuran 37-37,5 cm kelaminnya intersek dan ukuran panjang >40 cm jantan. Pertumbuhan berat mutlak dan SGR dari perlakuan cacing tanah merupakan perlakuan yang terbaik dalam menghasilkan pertumbuhan berat mutlak dan SGR. Hasil perlakuan maggot dan kecebong sebagai perlakuan terbaik dalam menghasilkan sintasan belut sawah. Perlakuan pakan buatan dan alami juga berpengaruh sangat nyata (P<0.01) menghasilkan komposisi protein kasar, lemak kasar, dan BETN tubuh belut sawah perlakuan. Perlakuan pemberian pakan buatan dan alami juga tidak mempengaruhi proses perubahan struktur organ reproduksi utama belut sawah yang bersifat hermaprodit. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah (1) pemberian pakan alami dan pakan buatan (pellet) menentukan pertumbuhan berat mutlak, laju pertmbuhan spesifik (SGR), dan kelangsungan hidup (SR) belut sawah perlakuan; (2) Pemberian pakan alami atau pakan buatan selama 3 bulan, menghasilkan kandungan gizi daging belut yang baik; dan (3) Hasil pengamatan histologi belut perlakuan membuktikan bahwa belut berukuran 20-30 cm berkelamin betina. Penelitian ini penting diteruskan dengan penambahan parameter kadar hormon, dan kadar lemak tubuh untuk melengkapi data memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif terhadap pertumbuhan dan kelamin belut sawah perlakuan pakan.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Effort to culture rice field eel is urgently needed since people now cathed them from nature. Food is one important part of fish culture. Five different kind of food, four natural food : worm, maggot, snail, tadpole, and artificial pellet were fed for three months period of rice farm eel (Monopterus albus Zuiew) culture. This study report on how natural food of snail, maggot, tadpole, or worm as compared to artificial one (pellet FF-999) fed for three months in size and meat composition of rice field eel culture. Result shown that growth of rice field eel was highly significant (P<0.01) different among treatments. Natural food of worm was highly significant (P<0.01) than pellet, natural food of snail, tadpole and/or maggot were significantly (P<0.05) better for eel growth than pellet food. Furthermore, the growth was positive allomatric growth, which proven also that culture condition was good. Value of specific growth rate (SGR) was also highly significant (P<0.01) different among treatments. Worm was the highest SGR value (averages 0.01 g/day or 0.9 g/3months) which was highly significant (P<0.01) to snail group and significantly (P<0.05) than pellet group. Survival of the treated ricefield eel was also higly sigificant (P<0.01) much better with natural food of worm, tadpole or maggot than pellet or snail. Results of eel meat composition shown that snail treated group highly significant has the highest protein (67%) contents; pellet group highly significant resulted in the highest (6,75%) crude fat contents was from pellet; and all treatments resulted in similar crude fiber contents. In conclusion, natural food gave better growth and protein content of eel meat compared to pellet food. Overal study proven that natural food were better than pellet for growth and eel survival and that eel size did not correlate with its sex.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save