Artikelilmiahs
Menampilkan 23.381-23.400 dari 51.902 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 23381 | 26619 | A1A015003 | HUBUNGAN KARAKTERISTIK PETANI DENGAN PROSES ADOPSI USAHATANI PADI ORGANIK DI KECAMATAN BANYUMAS KABUPATEN BANYUMAS | Masyarakat telah mengetahui dan memahami manfaat pertanian organik yang baik karena dapat membantu memperbaiki kualitas tanah dan meningkatan pendapatan. Hal tersebut yang membuat petani mulai mengadopsi sistem pertanian organik. Petani yang belum beralih pada budidaya padi organik diakibatkan karena kegiatan pertanian organik memiliki resiko yang lebih besar jika dibandingkan dengan petani konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui proses adopsi usahatani padi organik yang dicapai oleh petani padi organik di Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas; dan (2) mengetahui hubungan karakteristik petani (umur, pendidikan formal, pengalaman berusahatani, dan luas lahan) dengan proses adopsi usahatani padi organik di Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dan pengambilan data menggunakan teknik survei. Sasaran penelitian adalah petani yang sudah melaksanakan usahatani padi organik di Desa Dawuhan dan Kalisube, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas minimal selama dua musim tanam dalam satu tahun dengan metode sensus dan diperoleh responden sebanyak 26 orang petani padi organik. Analisis data menggunakan Analisis Deskriptif dan Analisis Chi-Square. Hasil penelitian menunjukan bahwa tahapan proses adopsi usahatani padi organik di Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas berada pada tahap trial dan adoption. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik petani (umur, pendidikan formal, pengalaman usahatani, dan luas lahan) dengan proses adopsi usahatani padi organik di Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas. | The community knows and understands the benefits of good organic farming because it can help improve soil quality and increase income. This makes farmers begin to adopt organic farming systems. Farmers who have not switched to organic rice cultivation are caused because organic farming has a greater risk compared to conventional farmers. This study aims to (1) Know the process of adoption of organic rice farming achieved by organic rice farmers in Banyumas District, Banyumas Regency; and (2) knowing the relationship of farmer characteristics (age, farming experience education, and land area) to the process of adopting organic rice farming in Banyumas District, Banyumas Regency. The research design used is qualitative research and data collection using survey techniques. The research objectives were farmers who had carried out organic rice farming in Dawuhan and Kalisube Village, Banyumas District, Banyumas Regency for at least two planting seasons in one year using the census method and obtained as many as 26 organic rice farmers. Data analysis using Descriptive Analysis and Chi-Square Analysis. The results showed that the stages of adoption of organic rice farming in Banyumas District, Banyumas Regency were in the trial and adoption stage. There is no significant relationship between farmer characteristics (age, education, farming experience, and land area) with the adoption process of organic rice farming in Banyumas District, Banyumas Regency. | |
| 23382 | 26585 | A1H014012 | PENGARUH SUHU PADA PEMBUATAN BIODIESEL DARI MINYAK KELAPA SAWIT MENGGUNAKAN REVERSE FLOW BIODIESEL REACTOR | Biodiesel merupakan salah satu sumber energi alternatif yang dapat dijadikan pilihan. Minyak yang berasal dari tumbuhan dan lemak hewan serta turunannya mempunyai kemungkinan sebagai pengganti bahan bakar diesel. Biodiesel dibuat dengan mereaksikan minyak nabati dari metanol dan katalis dengan penggunaan suhu reaksi. Suhu reaksi yang semakin tinggi dapat meningkatkan jumlah rendemen biodiesel, sehingga reaksi dapat berjalan semakin cepat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh suhu reaksi 30⁰C, 45⁰C, dan 60⁰C dengan katalis 0,3% menggunakan reverse flow biodiesel reactor dan mendapatkan data kualitas biodiesel dengan variabel suhu yang baik. Percobaan pada setiap variasi suhu dilakukan sebanyak 3 kali ulangan. Variabel yang diukur dalam penelitian ini meliputi kualitas biodiesel yang dihasilkan yang terdiri dari: angka penyabunan, angka asam, gliserol total dan kadar metil ester. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan analisis deskriptif dan dibandingkan dengan penelitian yang telah ada untuk mengetahui pengaruh variasi suhu yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan angka asam biodiesel pada masing-masing variasi suhu menunjukkan peningkatan. Angka penyabunan terendah terjadi pada suhu 30⁰C yaitu 170,53 mg/ml dan tertinggi pada suhu 60⁰C yaitu 172,11 mg/ml. Gliserol total dengan variasi suhu 60⁰C memenuhi syarat SNI-04-7182-2015. Kadar metil ester pada suhu 30⁰C , 45⁰C , dan 60⁰C memenuhi syarat SNI-04-7182-2015. | Biodiesel is one alternative energy source that can be chosen. Oils derived from plants and animal fats and their derivatives have the possibility of replacing diesel fuel. Biodiesel is made by reacting vegetable oil from methanol and catalyst using the reaction temperature. The higher reaction temperature can increase the amount of biodiesel yield, so the reaction can run faster. The purpose of this study was to determine the effect of the reaction temperatures of 30⁰C, 45⁰C and 60⁰C with a 0.3% catalyst using a reverse flow biodiesel reactor and obtain biodiesel quality data with the best temperature variables. Experiments on each temperature variation were carried out three times. The variables measured in this study included the quality of the biodiesel produced which consisted of: saponification rates, acid numbers, total glycerol and methyl ester levels. Data obtained were then analyzed by descriptive analysis and compared with existing research to determine the effect of different temperature variations. The results showed an acid biodiesel number at each temperature variation showed an increase. The lowest saponification rate occurs at a temperature of 30⁰C which is 170,53 mg/ml and the highest at a temperature of 60⁰C which is 172,11 mg/ml. Total glycerol with a temperature variation of 60⁰C meets the requirements of SNI-04-7182-2015. Methyl ester levels at temperatures of 30⁰C, 45⁰C, and 60⁰C meet the requirements of SNI-04-7182-2015. | |
| 23383 | 37794 | L1A018048 | Kelayakan Karakteristik Perairan di Pesisir Randusanga Kulon, Kabupaten Brebes Sebagai Lokasi Budidaya Kerang Hijau (Perna viridis) | Kerang hijau (Perna viridis) merupakan salah satu sumberdaya hayati berasal dari laut yang memiliki nilai komersial menguntungkan. Pertumbuhan kerang hijau erat kaitannya dengan kondisi lingkungan perairan yang akan berpengaruh terhadap peningkatan pertumbuhan kerang hijau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan juvenile kerang hijau, mengetahui karakteristik fisika-kimia perairan, serta mengetahui hubungan pertumbuhan kerang hijau dengan karakteristik fisika-kimia perairan di Pesisir Randusanga Kulon, Kabupaten Brebes. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Purposive Random Sampling atau metode acak terpilih. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan April hingga Juni 2022 di Pesisir Randusanga Kulon, Kabupaten Brebes. Penelitian pada pertumbuhan juvenile kerang hijau yang dilakukan memiliki empat perlakuan kepadatan, yaitu (A) tali kelapa kepadatan 80, (B) tali kelapa kepadatan 40, (C) tali cakil kepadatan 80, dan (D) tali cakil kepadatan 40. Hasil penelitian yang didapat, nilai pertumbuhan kerang hijau yang paling baik berdasarkan Specific Growth Rate, total growth, dan survival didapat pada perlakuan kepadatan 40 dengan tali kelapa. Karakteristik fisika perairan yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi parameter fisika, yakni: suhu, kecepatan arus, Total Dissolved Solid, Total Suspended Solid, dan konduktivitas. Sedangkan untuk karakteristik kimia yang dilakukan meliputi salinitas, pH, Dissolved Oxygen, Biology Oxygen Demand, Chemical Oxygen Demand, nitrat, fosfat dan amonia. | Green mussel (Perna viridis) is one of the marine biological resources that has a profitable commercial value. The growth of green mussels is closely related to the conditions of the aquatic environment which will affect the increase in the growth of green mussels. The purpose of this study was to determine the growth of juvenile green mussels, to determine the physico-chemical characteristics of the waters, and to determine the relationship between the growth of green mussels and the physico-chemical characteristics of the waters in the Randusanga Kulon Coast, Brebes Regency. The method used in this study uses purposive random sampling or a randomly selected method. Sampling was carried out from April to June 2022 in the Randusanga Kulon Coast, Brebes Regency. Research on the growth of juvenile green mussels carried out has four density treatments, namely (A) coconut rope density 80, (B) coconut rope density 40, (C) cakil rope density 80, and (D) Cakil rope density 40. obtained, the best growth value of green mussels based on Specific Growth Rate, total growth, and survival was obtained at density 40 treatment with coconut rope. The physical characteristics of the waters carried out in this study include physical parameters, namely: temperature, current velocity, TDS, TSS, and conductivity. As for the chemical characteristics carried include salinity, pH, DO, BOD, COD, nitrate, phosphate and ammonia. | |
| 23384 | 26587 | H1H013050 | ANALISIS PENULARAN PARASIT PADA IKAN GUPPY (Poecilia reticulata) DAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) MELALUI KOHABITASI BERSEKAT | Sistem kohabitasi adalah sistem pemeliharaan dengan mencampur ikan dalam kurun waktu tertentu. Penyakit dapat ditularkan secara horizontal dengan metode kohabitasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis ektoparasit yang menular ke ikan Guppy dari ikan Nila yang dipelihara secara kohabitasi bersekat. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental di laboratorium. Ikan dipelihara dalam 3 buah kontainer. Kontainer 1 terdiri dari 10 ekor ikan Guppy, kontainer 2 terdiri dari 10 ekor ikan Guppy dan 10 ekor ikan Nila dalam kondisi bersekat, dan kontainer 3 terdiri dari 10 ekor ikan Nila. Ikan dipelihara selama 10 hari dan parasit diamati pada hari ke 11. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis ektoparasit yang menular dari ikan Nila ke ikan Guppy adalah Monogenea dan Ichthyophthirius multifiliis. Kedua jenis parasit tersebut ditemukan menginfeksi permukaan tubuh ikan Guppy. | Cohabitation system is a maintenance system by mixing fish in a certain period of time. Disease can be transmitted horizontally by cohabitation method. The purpose of this study was to determine the types of ectoparasites that were transmitted to Guppy fish from tilapia which were kept by cohabitation. The research method used is experimental in the laboratory. The fish are kept in 3 containers. Container 1 consists of 10 guppy, container 2 consists of 10 guppy and 10 tilapia in cohabitation, and container 3 consists of 10 tilapia fish. The fish were kept for 10 days and parasites were observed on day 11. The results showed that the types of ectoparasites that were transmitted from tilapia to Guppy were Monogenea and Ichthyophthirius multifiliis. Both types of parasites were found to infect the surface of the Guppy fish. | |
| 23385 | 26631 | A1C015003 | UJI PERFOMANSI TUNGKU LORENA BERBAHAN BAKAR KAYU BAKAR PADA PRODUKSI GULA SEMUT DI UD. TARBIYAH DESA RANCAMAYA KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS | RINGKASAN Gula merupakan salah satu kebutuhan bahan pangan yang sangat penting bagi kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangga maupun industri makanan dan minuman baik yang berskala besar maupun kecil. Gula menjadi sangat penting karena gula mengandung kalori yang dibutuhkan bagi kesehatan dan gula juga digunakan sebagai bahan pemanis utama yang digunakan oleh banyak industri makanan dan minuman (Sugiyanto, 2007). Gula semut memiliki peluang untuk memenuhi kebutuhan gula (bahan pemanis) nasional yang selama ini sebagian besar masih impor dan juga berpeluang untuk masuk di pasaran luar negeri (ekspor) seperti ke Singapura, Jepang, Hongkong, USA dan Jerman. Berdasarkan survei pasar, permintaan gula untuk ekspor sangat besar sekitar 400 ton/tahun dan baru terpenuhi sekitar 50% dari total permintaan (Pragita, 2010). Penggunaan tungku pemasakan berbahan bakar biomassa masih digunakan oleh masyarakat, digunakan pada rumah tangga ataupun di industri kecil. Akan tetapi permasalahan yang biasanya ada pada tungku pemasakan bahan bakar biomassa ini yakni efisiensi pemasakan, polusi udara yang tinggi, panas yang tidak merata, dan lama waktunya pemasakan. Sehingga perlu adanya tindak lanjut untuk mengatasi permasalahan ini. Alat yang digunakan dalam penelitian uji performansi tungku yaitu tungku kayu bakar, termometer infrared, timbangan, stopwatch, refraktometer, pH meter, wajan dan alat tulis. Bahan yang digunakan dalam penelitian uji performansi tungku ini yaitu kayu bakar jenis selatri dan bahan yang digunakan untuk pembuatan gula semut yaitu nira. Pembuatan gula semut di Desa Rancamaya Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas tanpa bahan kimia pengawetannya menggunakan kulit manggis sehingga gula yang di hasilkan gula organik yang tentu lebih aman dikonsumsi oleh masyarakat. Variabel penelitian yang digunakan meliputi energi yang dibutuhkan untuk memanaskan wajan, energi yang digunakan untuk memanaskan dan menguapkan nira kelapa, energi yang tersedia pada bahan bakar. Variabel tersebut dihitung guna menghasilkan data untuk menentukan efisiensi dari tungku kayu bakar dan dari sistem. Efisiensi tungku lorena berbahan bakar kayu bakar yang digunakan UD. Tarbiyah adalah 18,96 %. Efisiensi energi sistem pada tungku yang didapatkan adalah 18,59 %. Nilai efisiensi tungku dan nilai efisiensi energi sistem kayu ini rendah sehingga dapat dikatakan tungku ini memiliki efektivitas pembakaran yang cukup rendah. Laju konsumsi bahan bakar yang dibutuhkan pada proses produksi gula semut sebanyak 4,8 kg, 5,2 kg, 4,8 kg berturut-turut adalah 8,549 kg/jam, 8,293 kg/jam dan 7,089 kg/jam. Waktu yang dibutuhkan untuk memasak 30 kg nira adalah 3.34 jam, 3.32 jam dan 3.33 jam. Efisiensi tungku di pengaruhi oleh suhu awal tungku, suhu lingkungan, kadar air bahan bakar, ukuran dari bahan bakar yang digunakan dan kesetabilan nyala api. Kata kunci : Uji Performansi Tungku, Gula Semut, Kayu Selatri | SUMMARY Sugar is one of the food needs that is very important for daily needs in the household and the food and beverage industry both large and small scale. Sugar is very important because sugar contains calories needed for health and sugar is also used as the main sweetener used by many food and beverage industries (Sugiyanto, 2007). Granular sugar has the opportunity to meet the needs of national sugar (sweetener) which so far is still mostly imported and also has the opportunity to enter overseas markets (exports) such as to Singapore, Japan, Hong Kong, USA and Germany. Based on market surveys, the demand for sugar is very large at around 400 tons / year and only about 50% of total demand has been met (Pragita, 2010). The use of biomass-fired cooking stoves is still used by the public, used in households or in small industries. However, the problems that are usually present in cooking biomass fuel stoves are cooking efficiency, high air pollution, uneven heat, and long cooking time. So there is a need for follow-up to overcome this problem. The tools used in the furnace performance test are firewood stoves, infrared thermometers, scales, stopwatches, refractometers, pH meters, frying pans and stationeries. The material used in this furnace performance test is selatri firewood and the material used to make ant sugar, namely sap. Making ant sugar in Rancamaya Village, Cilongok Subdistrict, Banyumas Regency without preserving chemicals uses mangosteen peel so that sugar produced by organic sugar is certainly safer for people to consume. The research variables used included the energy needed to heat the pan, the energy used to heat and evaporate coconut sap, the energy available in the fuel. These variables are calculated to produce data to determine the efficiency of the firewood stove and from the system. The efficiency of the lorena furnace fueled by firewood used by UD. Tarbiyah is 18.96%. The energy efficiency of the system in the furnace obtained was 18.59%. The furnace efficiency value and the energy efficiency value of this wood system are low so it can be said that this furnace has a relatively low combustion effectiveness. The rate of fuel consumption needed in the production process of ant sugar is 4.8 kg, 5.2 kg, 4.8 kg respectively 8.549 kg / hour, 8,293 kg / hour and 7.089 kg / hour. The time needed to cook 30 kg of sap is 3.34 hours, 3.32 hours and 3.33 hours. The efficiency of the furnace is influenced by the furnace's initial temperature, ambient temperature, fuel water content, the size of the fuel used and the stability of the flame. Keywords: Furnace Performance Test, Granular Sugar, Selatri Wood | |
| 23386 | 28791 | H1B016027 | Studi Eksperimental Kuat Lekat Baja Tulangan Polos Dan Ulir Pada Beton Fas 0,52 Berdasarkan Pengujian Pull Out | Beton bertulang dapat bekerja dengan maksimal disebabkan salah satunya oleh faktor lekatan. Sambungan baja tulangan harus mampu mengikat kuat agar tidak terjadi kegagalan struktur. Perlu dilakukan penelitian mengenai kuat lekat tulangan dan beton dengan tujuan mengetahui kekuatan sambungan lewatan baja tulangan polos dengan kait dan ulir lurus serta mengetahui panjang penyaluran optimum baja tulangan polos dengan kait dan ulir lurus terhadap beton fas 0,52. Semen yang digunakan dalam campuran adukan beton adalah Semen Portland I dan tidak menggunakan bahan tambah. Baja tulangan polos dan ulir berdiameter 10 mm dengan variasi yang diteliti adalah baja tulangan polos kait 180° dan ulir lurus dengan panjang penyaluran 100 mm, 200 mm, 300. Benda uji yang digunakan berbentuk balok. Waktu pengujian dilakukan setelah beton mencapai umur 28 hari. Pada hal ini, benda uji tidak dirawat pada standar laboratorium. Pengujian yang dilakukan ialah pengujian mutu beton, kuat baja tulangan dan pull out dengan alat Universal Testing Machine (UTM). Dari penelitian yang telah dilakukan, diperoleh kuat lekat sambungan baja tulangan polos dengan kait 180° lebih besar dari sambungan tulangan ulir lurus dan panjang penyaluran optimum penelitian lebih besar daripada SNI. | Reinforced concrete can work optimally due to one of them is adhesion. Reinforcing steel joints must be able to bind tightly to prevent structural failure. Research needs to be done on the reinforcement strength of reinforcement and concrete to know the strength of the plain reinforcement steel crossing joints with straight hooks and threads as well as know the optimum length of distribution of plain reinforcing steel with hooks and straight threads to 0.52 fas concrete. The cement used in the concrete mix is Portland Cement I and does not use added materials. Plain reinforcing steel and 10 mm diameter thread with the variations studied were 180 ° plain reinforced steel and straight thread with a distribution length of 100 mm, 200 mm, 300. The test object used was a beam. When the test is done after the concrete reaches 28 days of age. In this case, the test specimen is not treated to laboratory standards. Tests conducted are testing the quality of concrete, reinforcement steel strength and pull out with a Universal Testing Machine (UTM). From the research that has been done, it is obtained that the bond strength of a plain reinforcing steel joint with a 180 ° hook is greater than a straight thread reinforcement connection and the optimum distribution length of the study is greater than SNI. | |
| 23387 | 29029 | H1B016071 | ANALISIS LAJU SEDIMENTASI PADA DAS KALISAPI BANJARNEGARA DENGAN METODE USLE DAN METODE MUSLE | Sedimentasi merupakan permasalahan yang selalu muncul disetiap sungai yang mengalir. Perubahan akibat sedimentasi sangat berpengaruh pada badan sungai itu sendiri. Salah satunya adalah Sungai Kalisapi. Sungai Kalisapi terbentang sepanjang 35 km dengan total luas DAS ±134 km2. Sungai ini memiliki sarana penyaluran air, yaitu Bendung Gajah Uling. Namun, tahun-tahun berlalu fungsi akan bendung ini semakin kurang dirasakan oleh masyarakat sekitar. Penyebabnya tidak lain adalah terjadinya Sedimentasi sekitar ±500 m dari bendung tersebut. Untuk mengetahui besar laju sedimentasi yang terjadi setiap tahunnya pada DAS tersebut, maka digunakanlah Metode USLE (Universal Soil Lost Equation) dan Metode MUSLE (Modified Soil Lost Equation). Kedua metode ini dihitung menggunakan variabel yang hampir sama. Namun, bedanya Metode MUSLE merupakan kembangan dari Metode USLE. Keduanya membutuhkan data hujan, data erodibilitas tanah, data kemiringan lereng serta data tutupan lahan. Terdapat 2 variabel yang pada analisisnya digunakan secara time series yaitu data hujan dan data tutupan lahan. Hasil yang diperoleh laju erosi dari tahun 1985 sampai dengan tahun 2014 mengalami penurunan pada kedua metode tersebut. Penurunan tersebut juga selaras dengan data-data yang ada. Berdasarkan hasil analisis, laju erosi dengan menggunakan Metode USLE dan Metode MUSLE menunjukkan hasil yang hampir serupa. Nilai-nilai laju erosi dari kedua metode tersebut memiliki perbandingan USLE : MUSLE = 1 : 0,9. | Sedimentation is a problem that always arises in every river that flows. Changes due to sedimentation are very influential on the river body itself. One of them is the Kalisapi River. The Kalisapi River stretches along 35 km with a total watershed area of ±134 km2. This river has a means of channeling water, namely the Gajah Uling Dam. However, over the years the function of the weir has become less and less felt by the surrounding community. The cause is none other than the occurrence of Sedimentation about ±500 m from the weir. To find out the amount of sedimentation that occurs every year in the watershed, the USLE (Universal Soil Lost Equation) method and the MUSLE (Modified Soil Lost Equation) method are used. Both of these methods are calculated using almost the same variables. However, the difference between the MUSLE Method is the development of the USLE Method. Both require rain data, soil erodibility data, slope data and land cover data. There are 2 variables in the analysis used in time series, namely rain data and land cover data. The results obtained from the erosion rate from 1985 to 2014 decreased in both methods. The decrease is also in line with existing data. Based on the results of the analysis, the rate of erosion using the USLE Method and MUSLE Method showed almost similar results. The erosion rate values of the two methods have a ratio of USLE : MUSLE = 1: 0.9 | |
| 23388 | 26525 | F1A015027 | PERILAKU KONSUMSI PRODUK KOSMETIK DI KALANGAN MAHASISWA LAKI-LAKI UNSOED | Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan motif mahasiswa laki-laki Unsoed menggunakan kosmetik, dan yang kedua mendeskripsikan perilaku konsumsi produk kosmetik di kalangan mahasiswa laki-laki Unsoed. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara mendalam sebanyak enam informan utama dan 10 informan pendukung, dokumentasi, dan observasi. Teknik sampling yang digunakan snowball sampling dan purposive sampling dengan kriteria mahasiswa laki-laki Unsoed, berpenampilan menarik, menggunakan kosmetik dekoratif dan menggunakan produk perawatan kulit. Lokasi penelitian di Universitas Jendral Soedirman Purwokerto. Sumber data meliputi data primer dan data sekunder. Teknik analisis data menggunakan Analisis Interaktif dari Milles dan Huberman yang komponennya terdiri atas Pengumpulan data, Reduksi data, Penyajian data, dan Penarikan Kesimpulan. Hasil penelitian menemukan motif mahasiswa laki-laki Unsoed dalam menggunakan produk kosmetik dibagi menjadi dua yaitu motif dari dalam seperti meningkatkan percaya diri, menyamarkan noda pada jerawat, serta memiliki masalah pada kulit wajah. Sedangkan motif dari luar individu meliputi adanya dukungan dari orangtua dan adanya kasus pembully-an. Penelitian ini juga menemukan perilaku mahasiswa laki-laki Unsoed dalam penggunaan kosmetik untuk sehari-hari. Sebanyak empat informan utama menggunakan produk kosmetik dekoratif yang berupa faoundation, bedak, eyeliner, eyebrow, lipstik, serta eyeshadow. Sedangkan dua informan utama lainnya menggunakan produk perawatan kulit atau skin care, seperti serangkaian produk dari klinik kecantikan dan produk dari Jepang. Alokasi dana oleh mahasiswa laki-laki Unsoed untuk membeli produk kosmetik dekoratif dan serangkaian perawatan kulit lainnya berkisar mulai dari Rp 100.000 hingga lebih dari Rp 1.000.000 setiap bulannya. Meskipun stereotipe masih melekat pada masyarakat yang menganggap bahwa laki-laki menggunakan kosmetik dianggap tidak gagah, macho, dan menyimpang, akan tetapi seiring dengan orientasi dan kebutuhan akan perawatan, fenomena penggunaan kosmetik telah banyak digunakan oleh laki-laki khususnya mahasiswa laki-laki Unsoed. | This study aims to describe motive of Unsoed male students using cosmetics, and the second to describe the consumption behavior of cosmetic products among Unsoed male students. This research uses descriptive qualitative research methods. Data collection techniques namely in-depth interviews of six main informants and 10 supporting informants, documentation, and observation. The sampling technique used was snowball sampling and purposive sampling with Unsoed male student criteria, attractive appearance, using decorative cosmetics and using skin care products. Research location at the University of Jendral Soedirman Purwokerto. Data sources include primary data and secondary data. Data analysis techniques using Interactive Analysis from Milles and Huberman whose components consist of data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results found Unsoed male student's motives for using cosmetic products were divided into two, namely internal motives such as increasing confidence, disguising blemishes on pimples, and having problems on facial skin. While motives from outside the individual include the support of parents and the case of bullying. The research also found the behavior of Unsoed male students in the use of cosmetics for daily use. Four main informants used decorative cosmetic products in the form of faoundation, powder, eyeliner, eyebrow, lipstick, and eyeshadow. Meanwhile, two other key informants used skin care products, such as a series of products from beauty clinics and products from Japan. Funds allocated by Unsoed male students to buy decorative cosmetic products and a range of other skin treatments range from IDR 100,000 to more than IDR 1,000,000 per month. Although stereotypes are still inherent in the society which considers that men using cosmetics are considered not handsome, macho, and deviant, but along with the orientation and need for treatment, the phenomenon of using cosmetics has been widely used by men, especially male students Unsoed. | |
| 23389 | 26588 | I1A015013 | STUDI TERKAIT TINGKAT ANCAMAN DAN PESAN EFIKASI DARI PICTORIAL HEALTH WARNING (PHW) TERHADAP NIAT BERHENTI MEROKOK PADA SISWA PEROKOK DI BANYUMAS | Latar Belakang : Rokok menjadi salah satu faktor risiko kesehatan yang perlu menjadi perhatian khusus karena perilaku merokok pada remaja yang meningkat saat ini. Pemerintah telah berupaya untuk mengurangi dan mencegah perilaku merokok di Indonesia khususnya untuk remaja, salah satunya adalah pencantuman gambar peringatan kesehatan di bungkus rokok. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat ancaman dan pesan efikasi dari Pictorial Health Warning (PHW) terhadap niat berhenti merokok pada siswa perokok di Banyumas Metode : Desain penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan utama adalah siswa perokok yang dipilih dari beberapa sekolah menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data yang dilakukan adalah reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil : Hasil telaah dokumen dari Pictorial Health Warning terdapat tiga gambar dengan ancaman tinggi dan dua gambar dengan ancaman rendah. Pesan efikasi yang didapat yaitu tiga label dengan vicarious experience, satu label dengan social persuasion, dan satu label dengan mastery experience. Hasil wawancara mendalam didapat bahwa informan memang merasa takut dan terancam terhadap pictorial health warning sehingga mereka memiliki niat berhenti merokok, namun mereka masih merasa sulit untuk mengimplementasikannya ke dalam perilaku. Simpulan : Pictorial Health Warning dengan ancaman tinggi ini dinilai hanya memunculkan niat untuk berhenti saja namun belum bisa membuat seseorang benar-benar berhenti merokok, karena perokok hanya merasa terancam dan takut sementara. Saran : Memperbarui jenis gambar pada pictorial health warning secara berkala sehingga tidak monoton serta mengiklankan bahaya rokok dalam bentuk video di beberapa media massa seperti televisi, internet dan videotron. | Background : Cigarettes become one of the health risk factors that need to be a special attention because teenager’s smoking behaviour is increasing nowadays. The government has tried to reduce and prevent smoking behavior in Indonesia especially for adolescents, one of them is pictorial health warning on cigarette packs. The purpose of this research is to know threat level and efficacy message of Pictorial Health Warning (PHW) towards intention to quit smoking on teenage smoker in Banyumas. Method : The design of research is descriptive qualitative with phenomenological approach. Primary informants were smoker students who were selected from several schools using purposive sampling techniques. Data analysis that being used on research are data reduction, data presentation and data verification. Result : The results of the document research are three images with high threat and two images with low threat. The efficacy messages were three labels with vicarious experience, one label with social persuasion, and one label with mastery experience. The result of in depth interview is that informants did feel scared and threatened towards pictorial health warning so they have the intention to stop smoking, but they still find it difficult to implement it into behavior. Conclusion : Pictorial Health Warning with high threat is considered only raises the intention to stop it but can not make someone really stop smoking, because smokers only feel threatened and scared temporarily. Suggestion : Updating the types of images on pictorial health warnings regularly so that they are not monotonous and advertise the dangers of smoking in a video in several mass media such as television, internet and videotron. | |
| 23390 | 26589 | B1A015097 | PENGGUNAAN MARKA RAPD SEBAGAI PEMBEDA JENIS KELAMIN PADA KANTUNG SEMAR Nepenthes gymnamphora KOLEKSI KEBUN RAYA BATURRADEN | Nepenthes gymnamphora merupakan spesies kantung semar endemik di Pulau Jawa. Spesies ini menjadi salah satu koleksi tumbuhan di Kebun Raya Baturraden, yang terletak di kawasan lereng selatan Gunung Slamet. N. gymnamphora merupakan tumbuhan dioecious atau memiliki bunga jantan dan betina yang terpisah pada individu yang berbeda. Di habitat alami ke dua N. gymnamphora jantan dan betina tidak dapat dibedakan secara morfologi. Secara umum N. gymnamphora jantan dijumpai lebih banyak dari tanaman N. gymnamphora betina. Apabila jenis kelamin tanaman tersebut dapat diketahui secara dini, maka upaya konservasi dapat dilakukan dengan lebih efisien karena pengembangan jenis kelamin tertentu dapat dilakukan secara dini. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan dalam identifikasi jenis kelamin N. gymnamphora adalah penggunaan marka Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan pola RAPD antara N. gymnamphora jantan dan betina, serta mengetahui bagaimana perbedaan pola RAPD tesebut. Penelitian dilakukan secara eksploratif dengan melibatkan lima individu N. gymnamphora koleksi Kebun Raya Baturraden dari jenis kelamin yang berbeda sebagai sampel. DNA genomik diekstraksi dari daun ke dua pada kelima sampel tersebut (dua jantan, dua betina, dan satu sampel yang belum diketahui jenis kelaminnya). Selanjutnya, DNA genomik ini digunakan sebagai templat untuk amplifikasi marka RAPD. Sebanyak lima macam primer acak digunakan untuk amplifikasi marka tersebut, yaitu OPK-16, OPP-15, OPA-15, OPP-08, dan OPD-20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua primer, yaitu OPP-08 (5’-ACATCGCCCA-3’) dan OPD-20 (5’-ACTTCGCCAC-3’), menghasilkan pita RAPD berukuran kurang lebih 300 pb, yang spesifik terdapat pada individu jantan dan individu yang belum diketahui jenis kelaminnya. Pada individu betina tidak dihasilkan pita tersebut sehingga dapat diduga bahwa pita RAPD tersebut berkaitan dengan gen-gen penentu jenis kelamin pada N. gymnamphora. Primer OPP-08 juga menghasilkan pita RAPD berukuran kurang lebih 250 pb, yang spesifik terdapat pada individu betina. Pita tersebut tidak terlihat pada individu jantan, sehingga dapat diduga pita tersebut terkait dengan gen-gen penentu jenis kelamin pada N. gymnamphora. | Nepenthes gymnamphora is an endemic pitcher plant species in Java Island. This is one of the plant collections of Baturraden Botanical Garden located in the southern slope of Mount Slamet. N. gymnamphora is a dioecious plant, having male and female reproductive organs separated in individuals of different sex. Conservation efforts can be carried out more efficiently when sex identification is performed earlier thus leading to effective development of particular sexes. Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) technique is one molecular approach that can be employed in early identification of N. gymnamphora sex. The aims of this study are to assess whether there is difference of RAPD patterns between male and female N. gymnamphora and to find out how the difference is. Explorative method was applied to this study involving five N. gymnamphora individuals of Baturaden Botanical Garden collection of different sexes as samples. Genomic DNAs were extracted from youngest leaves of the five samples (two males, two females and one individual of unknown sex). The genomic DNAs were then used as templates to amplify RAPD markers. Five random primers were used in the amplification, i.e. OPK-16, OPP-15, OPA-15, OPP-08, and OPD-20. Two primers, i.e. OPP-08 (5’-ACATCGCCA-3’) and OPD-20 (5’-ACTTCGGCCAC-3’), produced RAPD bands of approximately 300 bp in males and sexually unknown individual. These bands did not appear in females, so that it can be presumably related to sex determination genes in N. gymnamphora. Primer OPP-08 also produced RAPD bands of approximately 250 bp in females individual. These bands did not appear in males, so that it can be presumably related to sex determination genes in N. gymnamphora. | |
| 23391 | 26591 | I1A015114 | PERBEDAAN EFEK SAMPING PENGGUNAAN KONTRASEPSI PADA AKSEPTOR DEPO MEDROKSI PROGESTERON ASETAT (DMPA) DAN IMPLAN DI PUSKESMAS PURWOKERTO SELATAN KABUPATEN BANYUMAS | Latar Belakang: Efek samping utama dari kontrasepsi DMPA dan implan adalah kenaikan berat badan dan gangguan menstruasi. Efek samping tersebut merupakan faktor penyebab drop out. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan efek samping penggunaan kontrasepsi pada akseptor DMPA dan implan di Puskesmas Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas tahun 2019. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini sebanyak 65 orang, ditentukan dengan teknik stratified random sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji Chi Square. Hasil Penelitian: Hasil uji Chi Square menunjukkan nilai p=0,000 pada efek samping kenaikan berat badan dan perubahan menstruasi. Pada efek samping amenore didapatkan nilai p=0,309, spotting nilai p=0,470 dan hipermenore nilai p=0,667. Kenaikan berat badan rata-rata pada akseptor DMPA adalah 4,56 kg, dan pada akspetor implan adalah 8,17 kg. Total kenaikan berat badan tertinggi pada akseptor DMPA sebanyak 15 kg (8 tahun), pada akseptor implan sebanyak 13 kg (3 tahun). Sedangkan yang terendah pada akseptor DMPA sebanyak 1 kg (1 tahun), akseptor implan sebanyak 1 kg (2 tahun). Simpulan: Terdapat perbedaan efek samping kenaikan berat badan dan perubahan siklus menstruasi pada akseptor DMPA dan implan di Puskesmas Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas. | Background: The main side effects of DMPA and implant contraception are weight gain and menstrual disorders. These side effects are the factors causing drop out. The purpose of this study is to determine the differences between side effects of contraceptive use on DMPA and implant acceptors in the South Purwokerto Community Health Center, Banyumas Regency in 2019. Method: This study is a quantitative study with cross sectional approach. The sample of this study were 65 people determined by proportionate stratified random sampling technique. Data analysis using univariate analysis and bivariateanalysis using Chi Square test. Results: Chi Square test result showed a value of p = 0,000 on the side effects of weight gain and menstrual changes. On the side effect of amenorrhea showed p = 0.309, spotting p = 0.470 and hypermenorrhea p = 0.667. The average weight gain on the DMPA acceptors was 4.56 kg, and the implant acceptors was 8.17 kg. The highest total weight gain on the DMPA acceptor was 15 kg (8 years), the implant acceptor was 13 kg (3 years). While the lowest total on DMPA acceptors was 1 kg (1 year), implant acceptor was 1 kg (2 years). Conclusion: There are differences between side effects of increasing body weight and changes in menstrual cycle on DMPA and implant acceptors in the South Purwokerto Community Health Center, Banyumas Regency. | |
| 23392 | 28613 | F1G013029 | TINJAUAN ATAS STRUKTUR NOVEL MEREKA BILANG AKU GILA KARYA RY KUSUMANINGTYAS | Penelitian ini bertujuan menggambarkan struktur cerita melalui unsur intrinsik yang meliputi tema, alur, latar, tokoh, sudut pandang, dan amanat dalam novel Mereka Bilang Aku Gila karya Ry Kusumaningtyas. Untuk mencapai tujuan tersebut, dalam mengkaji novel ini digunakan pendekatan struktural yang menekankan pada unsur intrinsik yang terdapat dalam novel. Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis dengan memfokuskan pada unsur pembangun novel yang meliputi tema, alur, latar, tokoh, sudut pandang, dan amanat dalam novel. Subjek penelitian ini adalah novel Mereka Bilang Aku Gila karya Ry Kusumaningtyas. Novel Mereka Bilang Aku Gila memiliki ketebalan 336 halaman. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah membaca dan memahami isi novel, kemudian mencatat data yang dibutuhkan. Data-data yang telah terkumpul kemudian dikelompokan berdasarkan permasalahannya dan data ini digunakan dalam menyelesaikan masalah. Hasil penelitian ini berupa unsur pembangun novel Mereka Bilang Aku Gila. Tema yang terdapat dalam novel ini adalah perjuangan dalam menjalani kehidupan. Alur yang digunakan ada tiga tahapan yaitu tahap awal, tahap tengah, dan tahap akhir. Tokoh yang ada dalam novel yaitu Yuniarti, Andy, Budhi, Mas Alex, Mbak Nana, Yangkakung, dan Yangti. Latar dibagi menjadi tiga yaitu latar waktu, latar tempat, dan latar sosial. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama. Amanat yang terkandung adalah dalam menjalani hidup, setiap orang pasti mempunyai masalah, tetapi bagaimana kita seharusnya menyikapinya. | This research aimed to describe the structure of the story through intrinsic elements which include themes, plot, setting, characters, points of view, and message in the novel Mereka Bilang Aku Gila by Ry Kusumaningtyas. To achieve such goals, in studying this novel a structural approach is used that emphasizes the intrinsic elements contained in the novel. The research method used is descriptive analysis by focusing on the novel’s building elements that include the theme, plot, setting, character, point of view, and message in novel. The subject of this research was Ry Kusumaningtyas’s novel Mereka Bilang Aku Gila. The novel Mereka Bilang Aku Gila has a thickness of 336 pages. The technique of collecting data is to read and understand the content of the novel and then to record what is needed. The data that’s been collected are brought up on the basis of their problems and used to slove problems. The results of this study are in the from of structural elements the builder of the novel Mereka Bilang Aku Gila by Ry Kusumaningtyas. The theme found in this novel is the struggle with life. The plot used has three steps, which are the beginning, the middle, and the end. The character in this novel are Yuniarti, Andy, Budhi, Mas Alex, Mbak Nana, Yangkakung, and Yangti. The setting divided into three, setting of the place, time setting, and social setting. The viewpoint used was that of the first person. From the novel we can take a message that everyone has problems in life, but how we should treat them. | |
| 23393 | 26592 | F2A015024 | Pendelegasian Kewenangan Bupati Kepada Camat dalam Pelaksanaan Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan di Kabupaten Purbalingga | Penelitian ini dilaksanakan untuk menganalisis dua hal, yaitu proses pendelegasian kewenangan Bupati Purbalingga kepada camat yang berdasarkan dimensi kewenangan dan prosedur pendelegasian kewenangan. Untuk mencapai tujuan penelitian, masalah penelitian dirumuskan dalam dua pertanyaan: (1) Bagaimana proses pendelegasian kewenangan bupati kepada camat berdasarkan dimensi kewenangan dalam hal pelaksanaan Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (PATEN) di Kabupaten Purbalingga? dan (2) Bagaimana proses pendelegasian kewenangan bupati kepada camat berdasarkan prosedur pendelegasian kewenangan dalam hal pelaksanaan PATEN di Kabupaten Purbalingga? Guna mendukung analisis, penelitian ini dilaksanakan di beberapa kecamatan di Purbalingga pada tahun 2018 dengan metode kualitatif deskriptif. Data primer diperoleh melalui wawancara dan observasi, sementara data sekunder diambil dari dokumen terkait. Pada akhirnya, kedua pertanyaan penelitian terjawab dengan kesimpulan bahwa pendelegasian kewenangan Bupati Purbalingga kepada camat dalam pelaksanaan PATEN di Kabupaten Purbalingga telah dilaksanakan, tetapi masih mengabaikan unsur dimensi dan prosedur pendelegasian. Kata kunci: Desentralisasi, Pendelegasian Kewenangan, PATEN | This research aims at analyzing two things; the process of Bupati (Major) Purbalingga delegating authority to camat based on authority dimension and procedur of authority delegation. The whole analysis in this research comprises in two points (1) How is the delegation process between the major (bupati) to head of districts (camat) conducted based on authority dimension in the case of PATEN implementation? And (2) How is the process auhority delegation based on the procedure of authority delegation in the case of PATEN implementation in Kabupaten Purbalingga? In order to complete the paper, the data were collected in Purbalingga in 2008 with descriptive qualitative method. The primary data are collected through interview and observation, and the secondary data are collected through the related documents. Finally, the two research questions lead to a conclusion in which the authority delegation of Bupati Purbalinga to camat in order to implement PATEN in Purbalingga has already been implemented, but the dimension factors and delegation procedures are still neglected. Keywords: decentralization, authority delegation, PATEN | |
| 23394 | 26594 | B1A015103 | EFEK SUBLETAL LIMBAH BATIK TERHADAP AKTIVITAS ENZIM SERUM GLUTAMAT PYRUVAT TRANSAMINASE PADA SERUM IKAN NILA (Oreochromis niloticus) | Limbah batik mengandung logam berbahaya diantaranya adalah Cr, Cu, Zn, dan Mn. Limbah batik yang dihasilkan dari industri tekstil umumnya merupakan senyawa anorganik non-biodegradable, yang dapat menyebabkan pencemaran terutama lingkungan perairan. Logam yang masuk dalam bentuk ion akan diikat oleh protein darah (Metalotionin), disebut ikatan M+Mt. Ikatan tersebut bersifat stabil dan tidak mudah lepas, sehingga memicu pembentukan radikal bebas. Radikal bebas akan menimbulkan reaksi peroksidasi lipid yang dapat merusak hati, sehingga terjadi peningkatan kadar enzim SGPT yang merupakan parameter gangguan pada fungsi hati. Ikan Nila (Oreochromis niloticus) dianggap sebagai bioindikator untuk studi toksikologi perairan dan monitoring lingkungan, mudah beradaptasi di segala kondisi lingkungan, dan memiliki nilai komersial yang tinggi. Penelitian dilakukan di Stasiun Percobaan Program Studi D3 Pengelolaan Sumberdaya Perikanan, Laboratorium Ekotoksikologi, dan Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Analisis data menggunakan uji Anova dengan taraf kepercayaaan 95% dan tingkat kesalahan 5%, dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa efek subletal limbah batik terhadap aktivitas enzim SGPT pada serum ikan Nila (Oreochromis niloticus) nilainya berbanding lurus. Hasil perhitungan rerata aktivitas enzim SGPT selama 48 jam pada perlakuan kontrol 6,17±0,98 U/L, konsentrasi 17% v/v yaitu 11,67±1,51 U/L, konsentrasi 34% v/v yaitu 17,67±1,51 U/L, dan konsentrasi 51% v/v yaitu 121.83±1,9 U/L. Analisis Anova (α=0,05) didapatkan nilai F hitung (199,552) > F tabel (4,30). Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa perlakuan limbah batik dengan konsentrasi 51% v/v selama 48 jam, paling berdampak terhadap penurunan fungsi enzim SGPT. | Batik waste contains dangerous metals including Cr, Cu, Zn, and Mn. Batik waste produced from the textile industry is generally non-biodegradable inorganic compound, which can cause pollution especially the aquatic environment. Metals that enter in the form of these ions will be bound by blood proteins (Metalotionin), called the M+Mt bond. The bond is stable and not easily separated, thus triggering the formation of free radicals. Free radicals will cause lipid peroxidation reactions that can damage the liver, resulting in an increase in the levels of the SGPT enzyme which is a parameter of impaired liver function. Tilapia (Oreochromis niloticus) is considered a bioindicator for aquatic toxicology studies and environmental monitoring, is adaptable in all environmental conditions, and has high commercial value.The research was conducted at the Experiment Station D3 Fisheries Resource Management Program, Ecotoxicology Laboratory, and Plant Physiology Laboratory, Faculty of Biology, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. This research was conducted experimentally with a Completely Randomized Design (CRD). Data analysis used the Anova test with a confidence level of 95% and an error rate of 5%, followed by the Duncan test. The results of this study indicate that the sublethal effect of batik waste on SGPT enzyme activity in serum Tilapia (Oreochromis niloticus) is directly proportional. The results of the calculation of the average SGPT enzyme activity for 48 hours in the control treatment 6.17 ± 0.98 U/L, concentration of 17% v/v which is 11.67 ± 1.51 U/L, concentration of 34% v/v which is 17.67 ± 1.51 U / L, and concentration of 51% v/v which is 121.83 ± 1.9 U/L. Anova analysis (α = 0.05) obtained the calculated F value (199.552)> F table (4.30). Duncan's test results showed that the treatment of batik waste with a concentration of 51% v/v for 48 hours, most had an impact on the decline in SGPT enzyme function. | |
| 23395 | 26593 | I1B015085 | GAMBARAN PERILAKU ALTRUISTIK PADA MAHASISWA KEPERAWATAN DI WILAYAH PURWOKERTO | Latar belakang: Perilaku altruistik merupakan perilaku yang diharapkan untuk dimiliki oleh seorang perawat. Seorang perawat yang altruistik dapat memberikan andil yang cukup besar bagi kesehatan pasien, oleh karena itu mahasiswa sebagai calon perawat diharapkan untuk memiliki perilaku ini. Tujuan penelitian: Mengetahui gambaran perilaku altruistik pada mahasiswa keperawatan yang ada di wilayah Purwokerto. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain crosssectional. Total sampel sebanyak 349 orang mahasiswa yang diambil dengan teknik proportional random sampling dan pengambilan data penelitian ini menggunakan kuesioner. Hasil penelitian: Gambaran perilaku altruistik pada mahasiswa keperawatan di wilayah Purwokerto menunjukan 76,2% mahasiswa memiliki derajat altruistik yang tinggi. Gambaran perilaku altruistik berdasarkan karakteristik respondennya menunjukan mahasiswa pada kategori usia 17-20 tahun memiliki derajat altruistik tinggi dengan persentase sebanyak 76,9%, jenis kelamin perempuan dengan persentase sebanyak 78,1%, angkatan 2017 dengan persentase sebanyak 82,1%, program studi D3 dengan persentase sebanyak 86,7%, serta IPK >3,50 memiliki derajat altruistik yang tinggi dengan persentase sebanyak 80,6%. Kesimpulan: Mayoritas mahasiswa keperawatan di wilayah purwokerto memiliki perilaku altruistik yang tinggi. | Background: Altruistic behaviour an expected murses behaviour. An altruist nurse can contribute to patient's health status. Therefore the nurse student is expected to have this behaviour too. Purpose: To describe the altruistic behaviour of nursing students in Purwokerto. Method: It was a cross-sectional study. Totality 349 student was rescued as respondent sample obtained through proportional random sampling. Data were collected using questionnaires and univariate analysis was applied. Results: The description of altruistic behaviour in nursing students in the Purwokerto area showed that 76.2% of students got a high degree of altruistic. The description of altruistic behaviour based on respondents' characteristic showed that those students who were 17-20 years have high altruistic degrees with a percentage of 76.9%, women's gender with a percentage of 78.1%, were in 2017 batch with a percentage of 82.1%, study program D3 with a percentage of 86.7%, and >3,50 for their GPA had a high altruistic degree with a percentage of as much as 80.6%. Conclusion: A lot of nursing students in the Purwokerto shows that most students are at a high level of altruistic behavior. | |
| 23396 | 26595 | I1C015092 | Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Pengobatan Pasien Rawat Jalan Skizofrenia di RSUD Banyumas | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan pengobatan pasien rawat jalan skizofrenia di RSUD Banyumas. Teknik pengambilan sampel secara total sampling selama 1 bulan dengan jumlah 35 pasien dan caregiver. Dukungan keluarga diukur menggunakan Kuesioner Dukungan Keluarga dan kepatuhan pengobatan diukur menggunakan kuesioner MARS. Hasil penelitian dukungan keluarga diperoleh 94,3% caregiver memberikan dukungan tinggi dan 5,7% memberikan dukungan rendah, sedangkan kepatuhan pengobatan diperoleh 68,6% pasien memiliki kepatuhan tinggi, 25,7% kepatuhan sedang, dan 5,7% kepatuhan rendah. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara kepatuhan pengobatan pasien rawat jalan skizofrenia (p<0,001) dengan kekuatan korelasi sangat kuat (r=0,8456). Hal ini menunjukkan semakin tinggi dukungan keluarga, maka semakin tinggi kepatuhan pengobatan. | This study aimed to determine the relationship between family support and adherence to the treatment of schizophrenia outpatients in Banyumas District Hospital. The sampling technique was total sampling for 1 month with a total of 35 patients and caregivers. Family support was measured using the Family Support Questionnaire and treatment compliance was measured using the MARS questionnaire. Family support research results obtained 94.3% of caregivers gave high support and 5.7% gave low support, while medication adherence obtained 68.6% of patients had high adherence, 25.7% moderate adherence, and 5.7% low adherence. Spearman correlation test results showed a significant relationship between adherence to schizophrenia outpatient treatment (p <0.001) with a very strong correlation strength (r = 0.8456). This shows that the higher the family support, the higher the medication adherence. | |
| 23397 | 26584 | A1D015096 | KERAGAMAN GENETIK DAN HERITABILITAS KARAKTER KOMPONEN HASIL LIMA VARIETAS PADI (Oryza sativa L.) PADA SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO SUPER | Penelitian dilaksanakan di Desa Sumilir, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga dan analisis komponen hasil di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman pada bulan Desember 2018 – Mei 2019. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Petak Terbagi (Split Plot) dengan dua faktor empat kali ulangan. Faktor pertama adalah sistem tanam sebagai main plot terdiri dari dua macam yaitu sistem tanam jarwo super dan sistem tanam jarwo. Faktor kedua adalah penggunaan varietas sebagai sub plot terdiri dari lima jenis yaitu varietas Inpago Unsoed-1, Inpari 32, Inpari Logawa, Inpari Mugibat dan Unsoed Parimas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem tanam mempengaruhi tinggi tanaman, panjang malai, persentase gabah bernas, bobot gabah per malai dan bobot 1000 biji. Perbedaan varietas padi menimbulkan variasi pada seluruh karakter komponen hasil padi. Varietas Inpari Logawa unggul pada panjang malai, jumlah gabah per malai, persentase gabah bernas, bobot gabah per malai, bobot gabah per petak efektif dan bobot gabah per hektar, meskipun memiliki umur panen yang paling panjang. Varietas Inpago Unsoed-1 memiliki umur paling pendek dan menampilkan jumlah anakan produktif, bobot gabah per rumpun dan bobot gabah per hektar yang tidak berbeda dengan varietas Inpari Logawa. Interaksi antara sistem tanam dan varietas terjadi pada tinggi tanaman dan bobot gabah per malai yang mengindikasikan bahwa pengaruh sistem tanam tergantung pada varietas yang digunakan. Jumlah anakan total, jumlah anakan produktif, panjang malai, persentase gabah bernas, bobot gabah per malai, bobot 1000 biji, bobot gabah per petak efektif dan bobot gabah per hektar termasuk karakter dengan nilai keragaman genetik luas dan heritabilitas yang tinggi, sehingga memberi peluang untuk perbaikan penampilan karakter melalui seleksi. | This research was carried out in Desa Sumilir, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga and yield component analysis at the Agronomy and Horticulture Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University from December 2018 to May 2019. The experimental design was using the Split Plot Design with two factors four replications. The first factor is cropping system as the main plot, which consists two type; jarwo super cropping system and jarwo cropping system. The second factor is the use of varieties as sub plots in which consisting five variety; Inpago Unsoed-1 variety, Inpari 32, Inpari Logawa, Inpari Mugibat and Unsoed Parimas. The results show that the planting system affected plant height, panicle length, percentage of rice grain, grain weight per panicle and weight of 1000 seeds. Differences in rice varieties cause variations in all characteristics of rice yield components. Inpari Logawa varieties are superior in panicle length, grain number per panicle, percentage of rice grain, grain weight per panicle, grain weight per effective plot and grain weight per hectare, despite having the longest harvesting age. The Inpago Unsoed-1 variety has the shortest age and displays the number of productive tillers, grain weight per clump and grain weight per hectare that are not different from the Inpari Logawa variety. The interaction between the cropping system and variety occurred in plant height and grain weight per panicle, which indicated that the effect of the cropping system is depending on the variety used. Total number of tillers, number of productive tillers, panicle length, percentage of rice grain, grain weight per panicle, weight of 1000 seeds, effective grain weight per plot and grain weight per hectare having high genetik diversity and high heritability, revealed the possibility to improve the character’s appearance through selection. | |
| 23398 | 26605 | F1A015057 | PROBLEMATIKA PENERAPAN SISTEM ZONASI PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU DI INDONESIA | Tahun 2017 Kemendikbud menerapkan sistem baru bagi pendidikan formal bernama zonasi dalam PPDB di Indonesia. Penerapan sistem zonasi dalam PPDB mengacu pada aturan Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017. Sistem zonasi mewajibkan sekolah negeri menerima calon siswa didik yang berdomisili pada radius zona terdekat paling sedikit sebesar 90% dari jumlah peserta didik yang diterima. Di awal penerapan zonasi tahun 2017 menuai kritik, sehingga memunculkan beberapa masalah di beberapa tempat. Artikel ini bertujuan menggambarkan problemitka pelaksanaan sistem zonasi PPDB di tahun 2017-2018. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analisis isi kuantitatif. Penelitian ini mencoba untuk menjelaskan mengenai problematika sistem zonasi PPDB yang termuat dalam berita Kompas dan Tempo periode 2017-2018. Penelitian ini menunjukkan jika pelaksanaan sistem zonasi dalam PPDB 2017-2018 mengalami berbagai permasalahan karena kurangnya kesiapan pemerintah dalam mempersiapkan program zonasi PPDB. | In 2017, Ministry of Education and Culture (Kemdikbud) applied an advanced system of formal education called “Zoning System” in Indonesian PPDB. This system imposed based on the regulation of Ministry of Education and Culture No. 17 of 2017. Zoning System enrollment compels schools to accept students in the closest radius at least 90% quota of the total recruits. In the first trial, zoning system that applied in 2017 had already collected many problem. Through content analysis quantitative method approach, this research tries to elaborate every aspect of zoning system enrollments as reported in Kompas and Tempo of 2017-2018. This research reveals that zoning system enrollments in 2017-2018 emerged many problems as it was not solid enough yet government applied it still. | |
| 23399 | 28686 | C1I015025 | FACTORS THAT INFLUENCE THE USE OF ACCOUNTING INFORMATION WITH THE ENVIRONMENTAL UNCERTAINTY AS A MODERATING FACTOR | Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh skala usaha, umur usaha, pengalaman manajer dan persepsi atas akuntansi terhadap penggunaan informasi akuntansi dengan ketidakpastian lingkungan sebagai variabel moderasi. Populasi di penelitian ini adalah UKM di Purwokerto. Teknik pengumpulan data menggunakan data primer berupa kuisioner. Data analisis menggunakan analisis linear berganda. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa skala usaha berpengaruh positif terhadap penggunaan informasi akuntansi, umur usaha berpengaruh negatif terhadap penggunaan informasi akuntansi, pengalaman manajer berpengaruh positif terhadap penggunaan informasi akuntansi, persepsi atas akuntansi berpengaruh positif terhadap penggunaan informasi akuntansi, ketidakpastian lingkungan tidak memoderasi pengaruh dari skala usaha, umur usaha, pengalaman manajer, dan persepsi atas akuntansi terhadap penggunaan informasi akuntansi | The purpose of this research is to examine the effect of business scale, business age, manager experience and perceptions of accounting on the use of accounting information with environmental uncertainty as a moderating variable. The population in this study are SME in Purwokerto. Data collection techniques using primary data in the form of a questionnaire. Data analysis was carried out using multiple linear analysis. The results of this study indicate that business scale has a positive effect on the use of accounting information, business age has a negative effect on the use of accounting information, manager's experience has a positive effect on the use of accounting information, perceptions of accounting have a positive effect on the use of accounting information, environmental uncertainty does not moderate the effect of the business scale , business age, manager experience, and perceptions of accounting for the use of accounting information | |
| 23400 | 26596 | I1C015106 | Hubungan Estimasi Kadar Aminofilin dalam Darah dengan Kejadian Toksisitas di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto | Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan estimasi kadar aminofilin dalam darah dengan kejadian toksisitas terkait tanda toksik yang muncul pada pasien rawat inap RSUD Margono Soekarjo Purwokerto. Penelitian observasional ini dilakukan secara prospektif dengan mencatat rekam medik rawat inap dan wawancara pasien. Metode pengambilan data adalah total sampling pada pasien rawat inap bangsal paru RSUD Margono Soekarjo Purwokerto selama bulan Mei hingga Juli 2019. Estimasi kadar aminofilin dan kejadian tanda toksik dikumpulkan dalam lembar pengumpul data. Analisis statistik yang digunakan uji korelasi koefisien kontingensi. Hasil penelitian didapatkan 19 pasien yang didapatkan selama penelitian, 2 pasien mengalami perubahan interval pemberian yang dianalisis menjadi 21 kasus. Sebanyak 13 kasus dengan estimasi kadar aminofilin dalam rentang terapi (10-20 mg/L), 5 kasus di bawah rentang terapi (<10 mg/L), dan 3 kasus di atas rentang terapi (>20 mg/L). Tanda toksik yang terjadi hanya takikardia pada masing-masing 2 pasien dengan estimasi dibawah KTM (<20 mg/L) dan di atas KTM (>20 mg/L). Hasil uji statisik menunjukkan ada hubungan antara estimasi kadar aminofilin dalam darah dengan kejadian toksisitas pada pasien di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto (p=0,023) dengan kekuatan hubungan kategori sedang (r=0,444). Estimasi kadar aminofilin dalam darah dapat dipertimbangkan sebagai metode alternatif dalam pemantauan terapi obat di rumah sakit. | This study aimed to determine the correlation of aminophylline levels in the blood by estimation method and incidence of toxicity in hospitalized patients at RSUD Margono Soekarjo Purwokerto. This study was an observational study with a prospective design. Data collected by transcribing patient data from medical records and interviews of toxicity signs to patients. Samples collected by total sampling methods in hospitalized patients at RSUD Margono Soekarjo Purwokerto from May to June 2019. Estimated aminophylline levels and toxicity events were collected in the data collection sheet. Data were analyzed statistically by the coefficient contingency test. Samples were collected in 19 patients during the study, 2 patients have experienced changes in the administration interval so analyzed as 21 cases. There were 13 cases with estimated aminophylline levels in the therapeutic range (10-20 mg / L), 5 cases under the therapeutic range (<10 mg / L), and 3 cases above the therapeutic range (> 20 mg / L). The toxic sign that occurs was tachycardia appeared in 2 cases with estimated aminophylline levels below KTM (<20 mg / L) and 2 cases with estimated aminophylline levels above KTM (> 20 mg / L). The results showed that there was a correlation between the estimation of aminophylline levels in blood and incidence of toxicity in hospitalized patients at RSUD Margono Soekarjo Purwokerto (p=0,023) with the level of correlation was moderate (r=0.444). Estimation of aminophylline levels in the blood can be considered as an alternative method of therapeutic drug monitoring in hospitals. |