Artikelilmiahs

Menampilkan 23.461-23.480 dari 51.904 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
2346126652G1H012012Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap Personal Hygiene Ibu dengan Status Gizi Batita di Wilayah Kerja Puskesmas Karanglewas PurwokertoABSTRAK

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP PERSONAL HIGIENE IBU TERHADAP STATUS GIZI BATITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANGLEWAS PURWOKERTO
Fitri Annisha, Dyah Umiyarni P, Gumintang Ratna Ramadhan
Latar Belakang: Asupan gizi tidak hanya dilihat dari aspek kuantitas tetapi juga aspek kualitas yaitu seperti mutu makanan. Pengolahan makanan yang dilakukan oleh para ibu sangat berpengaruh dalam kualitas makanan para Batita serta berpengaruh pada penyerapan zat gizi pada Batita.

Tujuan Penelitian : Menganalisa keterkaitan antara pengetahuan dan sikap personal hygiene ibu dengan status gizi pada Batita di wilayah kerja Puskesmas Karanglewas

Metode: Desain cross-sectional dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan sampel sebanyak 55 Orang. Pengetahuan dan sikap tentang personal hygiene diukur menggunakan kuesioner. Status gizi Batita diperoleh dengan metode penimbangan. Analisis bivariat menggunakan Uji Spearman.

Hasi Penelitian: Sebagian besar anak responden berstatus gizi baik sebesar 43 anak. Pengetahuan personal hygiene di dapatkan berpengetahuan baik sebesar 61,8%. Sikap personal hygiene diperoleh hasil yang memiliki sikap positif sebesar 56,4%. Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan personal hygiene dengan status gizi Batita (P = 0,880) dan Tidak terdapat hubungan antara sikap personal hygiene dengan status gizi Batita (p =0,102).

Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan personal hygiene dengan status gizi Batita dan tidak terdapat hubungan antara pengetahuan personal hygiene dengan status gizi Batita di wilayah Puskesmas Karanglewas.

Kata Kunci: Personal hygiene, status gizi, Batita
ABSTRACT

CORRELATION BETWEEN KNOWLEDGE AND ATTITUDE OF MOTHER'S PERSONAL HYGIENE WITH NUTRITIONAL STATUS IN TODDLER UNDER 3 YEARS IN THE WORKING AREA OF KARANGLEWAS HEALTH CENTER PURWOKERTO
Fitri Annisha, Dyah Umiyarni P, Gumintang Ratna Ramadhan
Background: Nutrient intake not only seen in terms of quantity as well as quality aspects, such as food quality. Food processing which carried out by mothers is very influential in the food quality of toddlers and influences the absorption of nutrients in toddlers.
Research Objectives: To analyse correlation between knowledge and attitude of mother’s personal hygiene with nutritional status in toddlers under 3 years in the working area of Karanglewas Health Center
Method: Cross-sectional design using purposive sampling technique with a sample of 55 people. Knowledge and attitudes about personal hygiene measured by using a questionnaire. Toddler nutritional status obtained by weighing method. Bivariate analysis using the Spearman Test.
Research Results: Most of the respondent's children were in good nutrition as many as 43 children. Personal hygiene knowledge gained good knowledge of 61.8%. Personal hygiene attitude obtained results that have a positive attitude of 56.4%. There was no correlation between personal hygiene knowledge with toddler nutritional status (P = 0.880) and there was no correlation between personal hygiene attitudes and toddler nutritional status (p = 0.102).
Conclusion: There is no correlation between personal hygiene knowledge with nutritional status in toodler under 3 years and there is no correlation between personal hygiene knowledge with nutritional status in toodler under 3 years in the Karanglewas Puskesmas area.
Keywords: Personal hygiene, nutritional status, Toddle
2346226653A1C012002KAJIAN FINANSIAL PENGOLAHAN SERAT SABUT KELAPA BERKARET (SEBUTRET) PKBM AN-NUR
DI DESA TAMBAKSARI KECAMATAN WANAREJA
KABUPATEN CILACAP
Agroindustri merupakan usaha untuk meningkatkan efisiensi sektor pertanian hingga menjadi kegiatan sangat produktif melalui proses modernisasi pertanian. Usaha Kecil Menengah PKBM An-nur merupakan suatu industri pengolahan serat sabut kelapa berkaret (sebutret). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) besarnya biaya produksi, penerimaan dan pendapatan usaha pengolahan sebutret. 2) kelayakan usaha pengolahan sebutret. 3) sensitivitas saat terjadi perubahan biaya bahan baku, harga produk, dan biaya tenaga kerja. Penelitian ini dilaksanakan di PKBM An-nur di Desa Tambaksari Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap pada tanggal 26 Maret 2019 sampai 26 April 2019. Analisis data menggunakan analisis deskriptif, analisis biaya dan pendapatan, analisis R/C, analisis Break Even Point (BEP), dan analisis sensitivitas. Hasil penelitian menunjukkan usaha pengolahan sebutret di PKBM An-nur merupakan kegiatan usaha yang dilakukan sejak tahun 2007. Sebutret dijual langsung ke pedagang besar dan konsumen yang datang langsung ke tempat produksi. Produksi sebutret yang dihasilkan PKBM An-nur rata-rata 150 unit/lembar. Analisis biaya, penerimaan, dan pendapatan per bulan menunjukkan bahwa rata-rata biaya sebesar Rp 18.092.891, penerimaan sebesar Rp 25.500.000 dan pendapatan sebesar Rp 7.407.109. Industri sebutret di PKBM An-nur layak dikembangkan karena nilai R/C sebesar 1,40. BEP produksi sebesar 80 unit dengan penerimaan sebesar Rp 13.485.518 dan BEP harga sebesar Rp 120.619. Analisis sensitivitas menunjukkan usaha pengolahan sabut kelapa berkaret mengalami kerugian pada asumsi bahan baku naik 117%, harga jual turun 30%, dan upah tenaga kerja naik 556%.

Kata kunci : kelayakan finansial, serat sabut kelapa berkaret, agroindustri.
Agroindustry is an effort to improve the efficiency of the agricultural sector to become a very productive activity through the process of agricultural modernization. Small and medium enterprises in An-nur PKBM is a rubber coir fiber processing industry. This study aims to determine: 1) the magnitude of the cost of production, revenue, and income of the processing business. 2) financial feasibility of financial processing. 3) sensitivity when changes in raw material costs, product prices, production levels and labor costs occur. This reseacrh was conducted at An-nur PKBM in Tambaksari village, Wanareja sub-district, Cilacap district on March 26, 2019 to April 26, 2019 Analysis used descriptive analysis, cost and income analysis, R/C ratio analysis, Break Even Point analysis (BEP), and sensitivity analysis. The results showed that the processing of rubber coir fiber was a business carried out since 2007. Rubber coir fiber was sold directly to the production site. Produced by An-nur PKBM on average 150 units/production. Analysis of costs, revenues, and income every month from January tp December 2017 shows that the average cost is Rp. 18,092,891, revenue is Rp. 25,500,000, and income is Rp. 7,407,109. This industry is feasible to be developed because the R/C is 1.40. Break Even Point (BEP) production of 80 units with revenues of Rp. 13,485,518. Sensitivity analysis shows that rubber coir processing has suffered losses on the assumption that raw materials are down 117%, selling prices are 30%, and labor costs are 556%.
Keyword : financial viability,rubber coir fiber, agroindustry, central java.
2346326654A1H013061PENGARUH SUBSTITUSI KACANG KORO PEDANG (Canavalia ensiformis)DAN PENGGUNAAN KOAGULAN ASAM CUKA PADA PEMBUATAN TAHUKoro pedang (Canavalia ensiformis) memiliki potensi yang sangat besar menjadi produk pangan apabila ditinjau dari segi gizi, kandungan protein yang tinggi kacang koro pedang berpotensi sebagai alternatif pengganti kedelai. Tahu merupakan olahan kedelai sebagai makanan sumber protein yang bermutu tinggi karena banyak terdapat asam amino esensial. Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh substitusi kacang koro pedang dan asam cuka sebagai koagulan terhadap karakteristik tahu. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial dengan 3 kali ulangan. Faktor perlakuan proporsi kacang koro pedang (S1= 35% kacang koro pedang, 65% kacang kedelai, S2= 25% kacang koro pedang, 75% kacang kedelai, S3= 15% kacang koro pedang, 85% kacang kedelai) dan koagulan proporsi asam cuka (K1=20ml/l, K2=30ml/l, K3=40ml/l). Variabel yang diamati meliputi yaitu kadar air, kadar protein, rendemen dan uji organoleptik meliputi warna, aroma, rasa, tekstur dan rasa. Hasil pengukuran dari masing-masing variabel akan di analisis keragaman menggunakan sidik ragam ANOVA dilanjut dengan uji DMRT. Hasil nilai organoleptik dengan nilai tertinggi menurut penilaian panelis organoleptik warna pada perlakuan S2K2 yaitu 2,27, nilai aroma pada perlakuan S2K3 yaitu 2,59, nilai tekstur pada perlakuan S3K3 yaitu 3,31, nilai rasa pada perlakuan S2K1 yaitu 2,60. Hasil uji kadar protein tahu tertinggi adalah S1K1 sebesar 18,4%, kadar air S1K2 yaitu 85%, rendeman S2K1 dan S3K1 yaitu 1,02%. Berdasarkan analisis ANOVA asam cuka berpengaruh pada variabel rasa. Substitusi kacang koro pedang berpengaruh pada variabel aroma, tekstur dan kadar air. Perlakuan terbaik pada penelitian ini adalah S2K1 menggunakan metode indeks efektivitas.Jack bean (Canavalia ensiformis)have great potential to be a food product when it comes to nutrition, high protein of jack bean makes it potentially as an alternative of soybean. Tofu is a processed food as high quality protein source, because of lots essential amino acid contents. The aim of this study was to determine how the substitution of jack bean and vinegar acid a coagulant, influence characteristic of tofu. The design of the study is complete randomized design (RAL) which arranged in factorial with 3 repetitions. The proportion of treatment jack bean ( S1 = 35 % jack bean, 65 % soybeans , S2 = 25 % jack bean, 75 % soybeans, S3 = 15 % jack bean, 85 % soybeans ) and koagulan of the acid vinegar ( K1 = 20ml/l , K2 = 30m /l , K3 = 40ml/l ). The observed variables are water content, protein content, yield and organoleptic tests including color, aroma, taste, texture and taste. The data analysis technique used is ANOVA followed by the DMRT test. The result of organoleptic value with the highest value according to the organoleptic panelist color assessment in the S2K2 treatment was 2.27, the aroma value in the S2K3 treatment was 2.59, the texture value in the S3K3 treatment was 3.31, the taste value in the S2K1 treatment was 2.60. The highest tofu protein test results were S1K1 of 18.4%, water content of S1K2 was 85%, rendeman S2K1 and S3K1 were 1.02%. Based on ANOVA analysis vinegar acid effects the taste variable. Substitution of jack bean effects the variables of aroma, texture and water content. The best treatment in this study was S2K1 using the effectiveness index method.
2346426655A1C014051KINERJA ANGGOTA GAPOKTAN DALAM PENGELOLAAN PROGRAM PUAP (PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN) DI DESA BUNTON, KECAMATAN ADIPALA, KABUPATEN CILACAPProgram PUAP merupakan program pemerintah dalam bentuk pemberian bantuan modal kepada petani melalui gapoktan. Desa Bunton merupakan salah satu penerima dana PUAP yang pengelolaannya merupakan salah satu yang paling baik di Kecamatan Adipala. Perkembangan dana PUAP Desa Bunton pada tahun 2018 mencapai Rp 140.283.000. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) menegtahui pengelolaan PUAP oleh Gapoktan Desa Bunton, 2) mengetahui kinerja dari pengelolaan PUAP 3) mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja gapoktan dalam pengelolaan PUAP. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) di Desa Bunton karena merupakan pengelolaan PUAP terbaik di Kecamatan Adipala. Metode pemilihan responden yaitu sensus kepada anggota gapoktan penerimaan dana PUAP di Desa Bunton tahun 2018. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-Maret 2019. Analisis data menggunakan analisis deskriptif, Likert Summated Ratings untuk mengukur tingkat modal sosial dan kinerja gapoktan dalam pengelolaan PUAP serta analisis korelasi Rank Spearmans untuk mencari keeratan hubungan antara modal sosial dengan kinerja anggota Gapoktan dalam pengelolaan PUAP. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kinerja anggota gapoktan dalam pengelolaan PUAP, variabel modal sosial serta variabel pendapatan anggota penerima PUAP. Hasil analisis menujukan bahwa kinerja anggota gapoktan dalam pengelolaan PUAP cukup baik dimana perkembangan dana rata-rata mencapai 5% per tahun. Selain itu, kinerja anggota gapoktan dapat dari peningkatan kesejahteraan petani dengan adanya peningkatan pendapatan sebesar 12,3 % dan peningkatan luas lahan garapan petani sebesar 13%. Hal tersebut telah menunjukan bahwa sasaran dari program PUAP telah tercapai. Modal sosial anggota Gapoktan termasuk dalam kategori sangat baik dimana komponen yang rasa kepercayaan, timbal balik dan norma termasuk dalam kategori sangat baik dan jaringan sosial termasuk dalam kategori cukup baik. Aspek modal sosial mempunyai hubungan yang signifikan dengan kinerja gapoktan dalam kategori sedang. Komponen modal sosial yang memiliki hubungan signifikan dengan kinerja gapoktan dalam pengelolaan PUAP yaitu kepercayaan. Aspek pendapatan usahatani tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kinerja gapoktan dalam pengelolaan PUAP.PUAP program was a government program in the form of providing capital assistance to farmers through farmer group union. Bunton Village was one of the PUAP fund recipients whoose was one of the best management in Adipala District. PUAP funds in Bunton Village reached Rp 140,283,000 on 2018. This study aims to find out: 1) knowing PUAP management by Gapoktan Bunton Village, 2) knowing the performance of PUAP management 3) Knowing the factors related to the performance of gapoktan in PUAP management. The research location was chosen purposively selection method which Bunton Village’s Gapoktan is the best manager of PUAP. The respondent was choosen by the census of members of the PUAP fund receiving group in Bunton Village in 2018. The research was conducted in February-March 2019. Data analysis method used by this research are descriptive analysis, Likert Summated Ratings to measure the level of social capital and Gapoktan performance in PUAP management and Rank Spearmans correlation analysis to find the level of relationship between social capital and the performance of Gapoktan members in PUAP management. The varriable used on this research are Gapoktan’s members performance in PUAP management, social capital of Gapoktan’s members and PUAP recipient income. The analysis result showed that the performance of Gapoktan members in PUAP management was quite good where the developed of funds reach 5% per year. In addition, the performance of Gapoktan members proven by increase of farmers' welfare with an increase on income about 12.3% and an increase of the arable land about 13%. This has shown that the objectives of the PUAP program have been achieved. Social capital of Gapoktan members' was a very good category where the components of a sense of trust, reciprocity and norm are included in the very good category and the social network was included in the quite good category. The aspect of social capital had a significant relationship with the performance of gapoktan in the medium category. The component of social capital that had a significant relationship with Gapoktan performance in PUAP management is trust. The aspect of farm income did not have a significant relationship with the performance of farmer group union in PUAP management.
2346526657C1L013047THE INFLUENCE OF ACCOUNTING INFORMATION SYSTEM AND INTERNAL CONTROL SYSTEM ON EMPLOYEE'S PERFORMANCETujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh sistem informasi akuntansi terhadap kinerja karyawan di Lawson Kasuga-Cho (terdiri dari 2 toko). Waktu penelitian adalah periode waktu yang digunakan untuk penelitian mulai dari persiapan perencanaan proposal penelitian hingga penggandaan laporan penelitian. Waktu penelitian ini direncanakan pada Desember 2018. Daerah penelitian dilakukan dengan karyawan yang bekerja di Lawson Takamatsu-Shi, Kasuga-Cho, yang terdiri dari 2 toko. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dalam bentuk skor pada jawaban yang diberikan oleh responden terhadap pertanyaan dalam kuesioner, dapat disimpulkan bahwa variabel sistem informasi akuntansi tidak mempengaruhi kinerja karyawan, variabel lingkungan kontrol mempengaruhi karyawan kinerja, variabel penilaian risiko tidak berpengaruh pada kinerja karyawan, variabel informasi dan komunikasi memengaruhi kinerja karyawan, variabel aktivitas kontrol memengaruhi kinerja karyawan, dan variabel pemantauan tidak memengaruhi kinerja karyawan.The purpose of this research was to identify the influence of the accounting information system on performance of employees at Lawson Kasuga-Cho (consists of 2 shops). The research time is the time period used for research starting from the preparation of research proposal planning to doubl ing the research report. The time of this study is planned on December 2018. The research area was carried out with employees working at Lawson Takamatsu-Shi, Kasuga-Cho, consisting of 2 shops. The method used in this study uses a quantitative approach in the form of a score on the answers given by respondents to the questions in the questionnaire,it can be concluded that there accounting information system variable does not affect employee performance, Control environment variables affect employee performance, Risk assessment variables have no effect on employee performance, Information and communication variables affect employee performance, Control activity variables affect employee performance and Monitoring variables do not affect employee performance.
2346626658C1L013017THE ROLE OF BUSINESS STRATEGY AND SOCIAL RESPONSIBILITIES LESSON ON NIPPON EXPRESS CORPORATION
IN DEVELOPING BUSINESS IN OVERSEAS
(ACCOUNTING PERSPECTIVE)
Nippon express adalah salah satu perusahaan logistik paling terkenal di Jepang, dan juga salah satu perusahaan logistik tertua di Jepang yang masih bertahan hingga hari tesis ini dibuat.
Nippon Express memiliki sejarah panjang sejak didirikan pada tahun 1937. Dari sejarah panjang ini saya mengambil sampel dari 2006 - 2017 dan membuat analisis sendiri untuk menentukan tingkat efektivitas strategi mereka. Untuk menentukan efektivitas, informasi dari pendapatan perusahaan, pendapatan operasional, dan laba bersih digunakan. Setelah mengambil informasi, perbandingan antara apa yang seharusnya direncanakan dan realisasinya kemudian dihitung.
Sebagai hasilnya, Nippon Express Corporation berhasil mendapatkan skor 93,2% pada pendapatan, 73,8% pada pendapatan operasional, dan 69,4% pada laba bersih. Skor ini berarti bahwa Nippon Express dapat merealisasikan strategi bisnisnya pada pendapatan sebesar 93,2%, pendapatan operasional sebesar 73,8%, dan laba bersih sebesar 69,4%.
Selain itu Nippon Express juga memiliki tingkat ROE dan ROA yang rendah. Berdasarkan rendahnya ROE-nya, Nippon Express Corporation dikategorikan sebagai tipe defensive korporasi. Selain itu tingkat ROE yang rendah Nippon Express juga memiliki tingkat ROA yang rendah, yang menunjukkan bahwa korporasi adalah bisnis yang padat aset.
CSR yang diterapkan oleh Nippon Express juga telah memenuhi persyaratan yang disyaratkan oleh ISO 26000. Mereka bersedia menghabiskan miliaran dalam satu tahun untuk lingkungan yang lebih baik. Dan standar CSR ISO 26000 digunakan sebagai standar mereka saat ini.
Nippon express is one of Japan most famous logistic corporation, and also one of the oldest logistic corporation in Japan that still survive until now.
Nippon Express has a long history since its founding in 1937. From this long history I take a sample from 2006 – 2017 and make my own analysis to determine the effectivity rate of their strategy. To determine the effectivity, information from the corporation’s revenue, operating income, and net income are used. After taking the information, a comparison between what is supposedly planned and the realization are then calculated.
As a result Nippon Express Corporation manage to get a score of 93.2% on revenue, 73.8% on operating income, and 69.4% on net income. This score means that Nippon Express could realize its business strategy on revenue by 93.2%, operating income by 73.8%, and net income by 69.4%.
Beside that Nippon Express also has a low rate of ROE and ROA. Based on Its low rate of ROE, Nippon Express Corporation is categorized as defensive type of corporation. Besides its low rate of ROE Nippon Express also has a low rate of ROA, which indicates that the corporation are an asset-intensive business.
The CSR that were implemented by Nippon Express also has met the requirement required by ISO 26000. They are willing to spend billions in a single year for better environment. And ISO 26000 CSR standard is used as their standard nowadays.
2346726659E2B017012PENYELESAIAN SENGKETA MALPRAKTIK YANG DILAKUKAN OLEH NOTARIS Notaris merupakan pejabat umum yang diberikan kewenangan oleh negara dalam membuat akta autentik, kewenangan notaris tersebut telah diatur dalam Undang-Undang Jabatan Notaris (UUJN) dan Kode Etik Jabatan Notaris. Notaris dalam pembuatan akta autentik, terkadang mengalami permasalahan yang mengarah ke tindakan malpraktik.
Data yang digunakan adalah data sekunder dan data primer sebagai pelengkap dari data sekunder. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan yuridis normatif.
Hasil penelitian yang diperoleh menyimpulkan 3 (tiga) hal, yang pertama terdapat 3 (tiga) unsur komulatif notaris dapat dikatakan malpraktik, yaitu bentuk-bentuk pengingkaran atau penyimpangan atau kurangnya kemampuan dari tugas notaris, adanya kelalaian yang dapat dipertanggung jawabkan dan menimbulkan kerugian materiil dan/atau immateriil. Kedua, pertanggungjawaban notaris dalam hal terjadinya tindakan malpraktik dapat berupa tanggung jawab berdasarkan hukum maupun moral etika yang akan ditanggung oleh notaris bila mereka melakukan tindakan malpraktik. Ketiga, proses penyelesaian sengketa malpraktik yang diduga dilakukan oleh notaris dapat melalui Majelis Pengawas Notaris, namun tidak menutup kemungkinan notaris tersebut dapat diproses di Peradilan.
A notary is a public official who is authorized by the state to make an authentic deed, the authority of this notary has been regulated in the Act of Notary (UUJN) and the Code of Ethics for Notary. Notary in making authentic deeds, solving challenges that lead to malpractice.
The data used are secondary data and primary data as a complement to secondary data. The method used in this study is a method that discusses normative juridical.
The results of the study concluded that 3 (three) things, the first obtained 3 (three) not notary can be solved malpractice, namely the forms of denial or simplification of the ability of the notary's duty, the existence of negligence that can be accounted for and proven to cause material and / or immaterial. Second, notary responsibility in actions taken by malpractice that can be accounted for based on law and also moral will be borne by the notary when they carry out malpractice actions. Third, the process of resolving malpractice carried out by a notary can be done through the Notary Supervisory Board, but cannot close the approval that can be received in the Court.
2346826656E2B017034RELEVANSI AKTA NOTARIS DENGAN AKTA RISALAH LELANG YANG DIBUAT OLEH NOTARIS SEBAGAI PEJABAT LELANG KELAS II.NEZSA AGYU PERMATA, Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum, Universitas Jenderal Soedirman, Relevansi Akta Notaris dengan Akta Risalah Lelang yang dibuat oleh Notaris sebagai Pejabat Lelang Kelas II. Komisi Pembimbing, Ketua Dr. Kartono, S.H., M.H dan anggota Dr. Siti Kunarti, S.H.,M.Hum.
Akta risalah lelang merupakan berita acara pelaksanaan lelang yang dibuat oleh pejabat lelang yang merupakan akta otentik dan mempunyai kekuatan hukum yang sempurna. Berdasarkan Pasal 15 ayat (2) huruf g Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris menjelaskan bahwa membuat akta risalah lelang merupakan salah satu kewenangan Notaris. Ini berarti dapat diartikan bahwa Notaris mempunyai kewenangan yang sama dengan pejabat lelang untuk membuat akta risalah lelang. Pada pelaksanaanya pelaksanaan lelang untuk membuat akta risalah lelang ada 2 (dua) aturan mengatur hal yang sama, yakni Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 27/PMK.06/2016 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang.
Tujuan dilakukannya penelitian ini yakni untuk mengkaji, mengidentifikasi, menganalisis pelaksanaan kewenangan Notaris sebagai Pejabat Lelang Kelas II dan untuk mengkaji, menganalisis mengenai relevansi akta Notaris dengan akta risalah lelang yang dibuat oleh Notaris sebagai Pejabat Lelang Kelas II. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif, dengan pendekatan perundang-undangan. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan data primer sebagai data pendukungnya dan metode penyajian data menggunakan yuridis naratif, dan metode untuk menganalisa yang digunakan adalah normatif kualitatif.
Hasil penelitian yang diperoleh, yakni kewenangan Notaris dalam membuat akta risalah lelang dalam pelaksanaan lelang yakni kewenangan atribusi yang diperoleh melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris Pasal 15 ayat (2) huruf g. Pelaksanaan wewenang dalam lelang yakni disini Notaris yang dalam kapasitasnya sebagai Pejabat Lelang Kelas II, sehingga aturan mengenai tempat kedudukan Notaris sebagai Pejabat Lelang Kelas II mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 189/PMK.06/2017 tentang Pejabat Lelang Kelas II dan pembuatan akta risalah lelang harus disesuaikan dengan rumusan akta Notaris dan Pasal 1868 KUHPerdata.
NEZSA AGYU PERMATA, Notary Master’s Program at the Jenderal Soedirman Univeristy, Faculty of law. Relevance of The Notarial deed with the auction treatise deed made by the Notary Public as a class II auction official. Advisory commission Dr. Kartono, S.H., M.H and members Dr. Siti Kunarti, S.H.,M.Hum.
The auction treatise deed is an official report on the implementation of the auction made by the auction official, which is an authentic deed and has perfect legal force. Based on Article 15 paragraph (2) letter g of Law Number 2 of 2014 concerning Position of Notaru, it is explained that making the minutes of aution treaty is one of the Notary’s authoroties. This means it can be interpreted that the Notary has the same authority as the auction official to make the minutes of the auction treaty. In the implementation of the auction to make the minutes of auction there are 2 (two) rules governing the same thing, namely Law Number 2 of 2014 concerning Notary Position and Regulation on the Minister of Finance Number 27/PMK.06/2016 concerning Bidding Implementation Guidelines.
The purpose of thus research is to review, identify, analyze the implementation of the authority of the Notary Public as a Class II Auction Officer and to study, analize the relevance of the Notary Deed to the minutes of auction treaty prepared by the Notary Public as a Class II Auction Officer. The research method used is normative juridical, with statutory approach. Sources of used in this study are secondary and primary as supporting and the method of presenting using narrative juricial, and the method for analyzing used is qualitative normative.
The result of the research obtained, namly the authority of the Notary in making the minutes of the auction in the implementation of the auction, namely the attribution authority obtained through Law Number 2 of 2014 concerning The Position of Notary Article 15 paragraph (2) letter g. the exercise of authority in autions here is a Notary in his capacity as a Class II Auction Officer, so that the rules regarding the place of notary as as Class II Auction Officer refer to the Minister of Finance Regulation Number 189/PMK.06/2017 concerning Class II Auction Officers and the making of the minutes of aution treatise must be adjusted to the formulation of the Notarial deed and Article 1868 of the Civil Code.
2346926669G1A014058Hubungan Burnout Akademik Dengan Empati Pada Mahasiswa Preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman PurwokertoLatar Belakang: Sebuah tantangan abadi bagi setiap profesi adalah membangun dan menerapkan standar profesional yang baik. Empati sebagai salah satu elemen spesifik profesionalisme dokter merupakan suatu komponen dasar dalam hubungan terapeutik dokter-pasien. Pendidikan kedokteran berperan penting dalam mencetak dokter-dokter yang berempati. Namun, dewasa ini, isu menurunnya empati pada mahasiswa kedokteran selama pendidikan berlangsung menjadi topik perdebatan. Salah satu faktor yang ditengarai berkontribusi terhadap erosi empati pada mahasiswa kedokteran adalah burnout. Studi ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara burnout akademik dan empati pada mahasiswa kedokteran preklinik.
Metode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subyek penelitian adalah mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman Tahun Angkatan 2015-2018. Teknik pengumpulan sampel dilakukan dengan proportional stratified random sampling dengan total sampel 216 mahasiswa. Analisis statistik dilakukan dengan uji korelasi Pearson.
Hasil: Terdapat korelasi negatif bermakna (r = -0,236; p<0,05) antara skor burnout akademik dengan skor empati pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Tahun Angkatan 2015-2018. Rerata skor empati mahasiswa sebesar 104,33±11,89, sedangkan rerata skor burnout mahasiswa sebesar 45,78±11,70. Kesimpulan: Terdapat hubungan burnout akademik dan empati pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
Background: A perennial challenge for every profession is to collectively establish and enforce professional standards. Empathy as a specific element of physician professionalism is considered as main component in physician-patient relationship. Medical education serves a crucial role in order to create empathetic doctor. But, nowadays, issues concerning empathy decline of medical student during medical training are in dispute. One factor that may contribute to the phenomenon is burnout. This study is to examine the correlation between academic burnout and empathy of undergraduate medical students.
Methods: Analytical observational study design with cross-sectional approach. The study subjects were the first to fourth year undergraduate medical students at Faculty of Medicine University of Jenderal Soedirman Purwokerto. Sample were gathered with proportional stratified random sampling, including 216 undergraduate medical students. Statistical analysis was done using Pearson correlation test.
Result: There was a significant negative correlation (r = -0.236; p<0.05) between the score of academic burnout and empathy of the subjects. The means of the empathy score was 104.33±11.89, while the means of the burnout score was 45.78±11.70.
Conclusion: There is a correlation between undergraduate medical students’ academic burnout and empathy at Faculty of Medicine, University of Jenderal Soedirman Purwokerto.
2347026660F1C012055KOMUNIKASI SUAMI ISTRI BEDA BUDAYA
(Studi Kualitatif Tentang Komunikasi Suami Istri Beda Budaya antara Suku Jawa dan Suku Sunda dalam Romantisme Rumah Tangga)
ABSTRAK
Pernikahan beda budaya bukanlah hal baru bagi masyarakat Indonesia. Oleh karenanya, tidak heran jika sekarang ada banyak pasangan yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh pasangan suami istri dengan latar belakang budaya yang berbeda. Teori Akomodasi digunakan sebagai acuan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pemilihan informan dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Informan penelitian meupakan tiga pasang suami-istri yang berasal dari suku Jawa dan Sunda. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode Miles dan Huberman.
Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa komunikasi antar pribadi yang dilakukan antara suami istri beda budaya dilakukan secara langsung. Dalam hal ini, pasangan suami istri berkomunikasi langsung secara lisan serta melakukan komunikasi melalui ponsel. Hambatan yang dihadapi oleh para informan adalah perbedaan bahasa yang digunakan, namun mereka lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia. Jika dianalisis dengan menggunakan Teori Akomodasi, dapat dilihat bahwa pasangan suami istri tersebut mengurangi perbedaan di antara keduanya sehingga mereka mampu membangun lebih harmonis.
Kata kunci: komunikasi keluarga, beda budaya, Teori Akomodasi
ABSTRACT
Interpersonal Communication between Married Couple with Different Cultural Background
(Qualitative Study about Married Couple Communication between Javanese and Sundanese Individuals and Marriage Romantism)
The marriage between people with different culture background is not something new in Indonesia. Therefore, plenty of couples are the ones from different culture. This study aims to understand how they communicate between the individuals in married couple. The theory used in this study is study is Accommodation Theory. The informants are chosen using purposive sampling technique. The informants in this study is three married couples from Javanese and Sundanese culture. The data analysis in this study is from Miles and Huberman.
From the study result, it is found that the interpersonal communications done by the married couples with different cultural background is the direct verbal and direct via cellphone. The obstacle is the difference of the language used by them. But, somehow they use Bahasa Indonesia for communicating. When analysed using Accommodation Theory, the couples reduce differences between them so they can build a happy marriage.
Keyword: Family communication different cultural theories of accommodation
2347126661I1A015060FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN RHODAMIN B PADA JAJANAN PASAR DI WILAYAH PURWOKERTOLatar Belakang: Rhodamin B merupakan zat tambahan warna yang dilarang penggunaannya dalam produk pangan karena akan menimbulkan banyak penyakit. Hasil data BPOM pada jajanan pasar sebanyak 204 dari 2.873 sampel mengandung Rhodamin B. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan Rhodamin B pada jajanan pasar berupa kue ku, cenil, pacar cina, rainbow cake, kue mangkok di wilayah Purwokerto.
Metode: Penelitian kuantitatif dengan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dengan uji hipotesis tunggal yang berjumlah 45 pedagang.
Hasil: Terdapat 23 sampel (51,1%) mengandung Rhodamin B. Hasil uji bivariat menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan (p=0,011) dan sikap (p=0,025) dengan penggunaan Rhodamin B pada jajanan pasar di Wilayah Purwokerto. Ada hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan penggunaan Rhodamin B pada jajanan pasar serta tidak ada hubungan antara aksesibilitas, harga, peran sesama pedagang, peran pemerintah dan pengaplikasian dengan penggunaan Rhodamin B pada jajanan pasar.
Kesimpulan: Masih ditemukannya jajanan pasar mengandung Rhodamin B. 40 pedagang (88.9%) berpendidikan dasar dan 38 pedagang (84.4%) berjenis kelamin perempuan.

Background: Rhodamine B is an additive color that is prohibited from being used in food because it caused so many diseases. BPOM reported that 204 from 2.873 sample of Indonesian food snacks contained Rhodamine B. This study aims to determine factors that related to the use of Rhodamine B on Indonesian food snacks such as kue ku, cenil, pacar cina, rainbow cake, kue mangkok in Purwokerto area.
Methodolgy: Quantitative research using observational analysis methode and cross sectional approach. The samples of this study was 45 merchants which taken with the purposive sampling method.
Results: There was 23 sample (51,1%) still contained Rhodamine B. The results of bivariate analysis showed that there was significant relationship between knowledge (p=0,011) and attitude (p=0,025) with use of Rhodamine B on Indonesian food snacks in Purwokerto area. There was significant relationship between knowledge and attitude with use of Rhodamine B and there was no significant relationship between accessibility, price, role of merchants, role of government, and practice with use of Rhodamine B on Indonesian food snacks.
Conclusion: Indonesian food snacks still contained Rhodamin B. 40 merchants (88.9%) are primary school graduates and 38 of them are female.
Keywords: Rhodamine B, Indonesian food snacks
2347226662I1A015084Analisis Ketidaklengkapan Berkas Klaim Pasien Rawat Inap Peserta JKN di RSUD Prof. Dr. Margono SoekarjoANALISIS KETIDAKLENGKAPAN BERKAS KLAIM PASIEN
RAWAT INAP PESERTA JKN DI RSUD PROF. DR.
MARGONO SOEKARJO
Reka Biantika Pratiwi, Budi Aji, Arif Kurniawan
Latar Belakang: RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo membentuk tim verifikator
internal untuk memperlancar pembayaran klaim peserta JKN dari BPJS Kesehatan
ke rumah sakit. Dalam pelaksanaan administrasi klaim masih terjadi pengembalian
klaim karena berkas klaim belum lengkap. Tahun 2018 jumlah pengembalian
terbanyak terjadi pada bulan Desember. Sebanyak 548 berkas klaim dikembalikan
karena perlu konfirmasi diagnosa, entry kode INA-CBGs, serta pemeriksaan ulang
tanggal dan cara pulang pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
ketidaklengkapan berkas klaim pasien rawat inap peserta JKN di RSUD Prof. Dr.
Margono Soekarjo.
Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan
pendekatan thematic network. Sumber data didapatkan dari wawancara mendalam,
studi dokumen dan observasi. Analisis data menggunakan content analysis.
Hasil Penelitian: Keterbatasan SDM dan upaya peningkatan sarana prasarana
terhadap optimalisasi input, tahapan dalam administrasi klaim yang belum adekuat,
pengaruh kinerja SDM terhadap kualitas klaim, dukungan kebijakan dan
manajemen dalam administrasi klaim.
Kesimpulan: Kinerja SDM dalam administrasi klaim pasien rawat inap peserta
JKN terkendala kuantitas SDM dan sarana prasarana, proses manajemen yang
belum adekuat, serta kurangnya dukungan berupa kebijakan.
Kata kunci: administrasi klaim, rawat inap, JKN.
Abstract
ANALYSIS OF INCOMPLETE JKN CLAIM FOR INPATIENT
UNIT AT RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
Reka Biantika Pratiwi, Budi Aji, Arif Kurniawan
Background: : RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo has internal verification team
xpedite payment of JKN participant claims from BPJS Kesehatan to hospital. In the
implementation of claim administration there are still many claims returned. In
2018, the highest number of claim return occurred in December. There are 548
claims returned to hospital due to confirm diagnose, entry of INA-CBGs, check
patient’s discharge date and discharge method. This research aims to analyze of
incomplete JKN claim for inpatient unit at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo.
Methods: This research used qualitative descriptive with thematic network
approach. Data sources were obtained through in-depth interview, documentation
studies and observation. Data analysis use content analysis.
Results: Limitedness human resources and facilities to optimize input, inadequate
claim administration process, effect of human resources performance on claim
quality, policy and management support related to claim administration.
Conclusion: Effect of human resources in claim administration for inpatient unit
constrained human resources quantity and facilities, inadequate claim process,
policy and management support
Keywords: claim administration, inpatient unit, JKN.
2347326663F1B014004Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) Studi Manajemen Kehutanan di Desa Watuagung Kecamatan Tambak Kabupaten BanyumasPenelitian ini berjudul “Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) Studi Manajemen Kehutanan di Desa Watuagung Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas” bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan proses manajemen dalam program PHBM di Desa Watuagung mulai dari perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakan/pelaksanaan (actuating) dan pengawasan/evaluasi (controlling). Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan metode analisis model interaktif Miles dan Huberman. Keabsahan validitas data diuji dengan triangulasi sumber. Ringkasan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut, pelaksanaan PHBM sebagai model pengelolaan hutan banyak ditemui permasalahan, salah satunya pelaksanaan PHBM di Desa Watuagung. Proses manajemen PHBM mulai peencanaan hingga evaluasi belum dilaksanakan secara maksimal. Perencanaan yang menjadi dasar bagi pelaksanaan program hanya menjadi ajang penyampaian tujuan perhutani dalam mencapai target produksi getah, sedangkan LMDH hanya mampu merencanakan rencana kerja yang sama seperti pedoman PHBM dan tidak ada inisiatif pemberdayaan. Proses pengorganisasian, pembentukan LMDH dilakukan secara partisipatif antara Perhutani dengan masyarakat desa hutan, seluruh jabatan terisi dengan jobdesk masing-masing, namun penempatan orang-orang ke dalam jabatan organisasi tidak didasarkan pada kemampuan. Dan selama dua periode tidak terjadi pergantian pengurus LMDH atau rotasi pengurus. Proses pelaksanaan PHBM hanya dipahami LMDH sebagai upaya membantu Perhutani dalam mencapai target produksi, sehingga kegiatannya hanya berkutat pada produksi getah agar mendapat sharing bagi hasil dari Perhutani, orientasi LMDH telah serupa dengan perhutani sebagai perusahaan. Kemudian evaluasi PHBM hanya menjadi ajang formalitas semata agar terlihat telah dilakukan monitoring dan evaluasi, namun yang ditemui adalah dokumen hasil monev selalu beirisi laporan yang sama setiap tahunnya.

Kata Kunci : PHBM, Manajemen, Perencanaan, Pengorganisasian, Pengaktualisasian, Pengawasan.
The title of this research is “Community Based Forest Management (PHBM) study of forestry management in Watuagung”, it aims to understand and describe management processes of PHBM’s program in Watuagung of Banyumas Regency" from planning, organizing, actuating, and controlling. The research was used descriptive qualitative method with case studies approach. Data collected trough observation, interview and documentation. The data were analyzed using analytical methods, Miles and Huberman interactive model. The validity of data was examined using the triangulation of sources. The research summarized, that the implementation of the PHBM as models of forestry management contains many problems in it. The process of PHBM begin with planning to the evaluation and it has not been implemented to its full potential. The planning process which is the basis for the implementation of the program, only became the event of deliverying the purpose of the Perhutani in achieving target production, while the LMDH only able to produced programs that similar with the PHBM plans guideline and there is no initiative empowerment on it. The process of organizing, succesfully forming the organisation of LMDH are done in participatory between Perhutani and the community of forest village, the whole positions was filled, however the placement is not based on“the right man on te right place” principal. The implementation process of the PHBM was interpreted that LMDH assist to help Perhutani in achieving target production, so that its activities just dwelling on the production in order to gets results of sharing from Perhutani. The LMDH’s orientation has been similar to the Perhutani as a company. In addition, the evaluation process of the PHBM was seen as formality suggesting that monitoring and evaluation has been done. Therefore the monitoring and evaluation always produced the same documents each year.

Keywords : Community Based Forest Management (PHBM), Management, Planning, Organizing, Actuating and Controlling.
2347427018D1A015002PENGARUH PERENDAMAN MENGGUNAKAN ASAM CUKA PADA PROSES PENGASINAN TELUR
ITIK TERHADAP KADAR LEMAK DAN WARNA KUNING TELUR
Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh perendaman menggunakan asam cuka pada
proses pengasinan telur itik terhadap kadar lemak warna kuning telur. Metode penelitian ini
adalah Experimen. Rancangan percobaan dari penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok
(RAK) dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan
analisis variansi (ANOVA) dan dilanjutkan dengan Uji Orthogonal Polimonial jika hasil penelitian
berpengaruh nyata. Hasil penelitian kadar lemak menunjukkan perendaman telur itik
menggunakan asam cuka dapat meningkatkan kadar lemak dengan rata-rata : (P0) 48.23, (P1)
48.73, (P2) 56.85, (P3) 57.25, (P4) 58.74 dan Uji Ortogonal Polinomial dengan persamaan Y=
47.286811+0.47691351X, koefisien determinasi (R2 = 82.25 %), sedangkan hasil pada warna kuning
telur itik : (P0) 1,20 (P1) 3,60 (P2) 3,40 (P3) 2,80 (P4) 2,00 dan Uji lanjut Ortogonal Polinomial
dengan persamaanY = 1.2586156+0.33587629X-0.012447772X2, koefisien determinasi (R2=80.86
%) dan titik belok (11.162976, 3.6094337), dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
perendaman menggunakan asam cuka pada proses pengasinan telur itik padakadar lemak dan
warna kuning telur dapat meningkatkan kadar lemak dan warna kuning telur.
The purpose of this study was to determine the effect of using acetic acid in salting eggs process
on fat level and color of yolk egg. This research method is Experiment. The experimental design of
this study was a randomized block design (RBD) with 5 treatments and 5 replications. The data
obtained were processed using analysis of variance (ANOVA) and continued with the Polymonial
Orthogonal Test if the research have a significant effect. The results of the fat content study
showed that soaking of duck eggs using acetid acidcan increase the fat by an average : (P0) 48.23,
(P1) 48.73, (P2) 56.85, (P3) 57.25, (P4) 58.74 and the Polynomial Orthogonal Test by equation Y =
47.286811 + 0.47691351X, coefficient of determination (R2 = 82.25%), while the results on the
yolk color : (P0) 1.20 (P1) 3.60 (P2) 3.40 (P3) 2.80 (P4 ) 2.00 and further Polynomial Orthogonal
Tests are shown with the equation Y = 1.2586156 + 0.33587629X - 0.012447772X2, the coefficient
of determination (R2 = 80.86%) and the turning point (11.162976, 3.6094337), from the results of
the study it can be concluded that the immersion effect of uses acetid acidat the process of salting
duck eggs on fat level and color of yolk can increase the level of fat and the color of yolk.
2347526664I1C015058Optimasi Jumlah NaOH dan Waktu Sintesis 3,4,4'-Trimetoksikalkon dari 4'-Metoksiasetofenon dan 3,4-DimetoksibenzaldehidPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kondisi optimum meliputi jumlah NaOH optimum dan waktu optimum dalam sintesis 3,4,4’-trimetoksikalkon. Penelitian ini meliputi pembuatan rancangan percobaan dengan menggunakan Respon Surface Methodology (RSM) dengan matriks Central Composite Design (CCD) pada Software Design Expert Version 11, Sintesis 3,4,4’-trimetoksikalkon berdasarkan rancangan percobaan, dan optimasi hasil sintesis yang didapat dengan software Design Expert Version 11. Identifikasi senyawa hasil sintesis dilakukan menggunakan KLT, uji titik leleh, dan spektrofotometri UV. Pada penelitian ini jumlah NaOH dan waktu sintesis optimum yang didapatakan yaitu 8,96 mmol dan 191 menit. Nilai prediksi respon % rendemen sebesar 95.86%. Setelah dilakukan validasi pada nilai optimum dengan tiga kali replikasi didapatkan % rendemen yang sebenarnya yaitu 97,2%, 96,6%, dan 96,48%. Menurut statisika hasil tersebut sama dengan prediksi rendemen Software Design Expert Version 11 karena selisih prediksi dengan validasi kurang dari 5%.This study aims to obtain the optimum conditions including an optimum amount of NaOH and optimum synthesis time in synthesis 3,4,4'-trimethoxychalcone. This research included making the experimental design using Response Surface Methodology (RSM) with the Central Composite Design (CCD) matrix in Software Design Expert Version 11, Synthesis 3,4,4'- trimethoxychalcone based on experimental design, and optimization of the synthesis results obtained with Design Expert Version 11 software. Identification of the synthesized compound was carried out using TLC, melting point test, and UV spectrophotometry. In this study, the optimum amount of NaOH and synthesis time obtained was 8.96 mmol and 191 minutes. The optimum value is predicted to produce a response yield of 95.86%. After validating the optimum value with three replications, the actual yield is 96.805%. According to the statistics the results are the same as the predicted yield of Software Design Expert Version 11 because the difference between predictions with validation is less than 5%.
2347626665I1I017013Hubungan Tingkat Asupan Kalium, Kalsium dan Magnesium dengan Hipertensi pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Selawi Kecamatan LahatAbstrak

HUBUNGAN TINGKAT ASUPAN KALIUM, KALSIUM DAN MAGNESIUM DENGAN HIPERTENSI PADA LANSIA
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SELAWI
KECAMATAN LAHAT

Febriani Eka Sari1, Dyah Umiyarni Purnamasari1, Endo Dardjito1

Latar Belakang: Secara alamiah proses penuaan berdampak pada menurunnya fungsi berbagai organ tubuh. Salah satunya kemunduran fungsi organ tubuh yang terjadi memasuki lanjut usia adalah kemunduran fungsi kerja pembuluh darah. Penyakit degeneratif banyak dijumpai pada golongan lanjut usia adalah hipertensi. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hipertensi yaitu asupan kalium, kalsium dan magnesium. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2018 prevalensi hipertensi 34,1% Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat asupan kalium, kalsium dan magnesium hipertensi pada lansia.

Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional dengan sampel 55 responden diambil secara cluster random sampling, dilakukan pada bulan April sampai bulan Juni 2019 di wilayah kerja Puskesmas Selawi Kecamatan Lahat. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner, Food Recall 3x24 jam dengan dilakukan pengukuran tekanan darah responden. Uji yang digunakan adalah Uji Chi Square

Hasil Penelitian : 56,4% responden termasuk dalam kategori hipertensi. Tingkat asupan kalium, kalsium dan magnesium berada dalam kategori kurang, masing-masing sebesar 58,2%, 70,9% dan 65,5%. Ada hubungan tingkat asupan kalium (p=0,000), kalsium (p=0,000) dan magnesium (p=0,000) dengan hipertensi pada lansia

Kesimpulan : Terdapat hubungan tingkat asupan kalium, kalsium dan magnesium dengan hipertensi pada lansia.

Kata Kunci : Asupan Kalium, Asupan Kalsium, Asupan Magnesium, Hipertensi Lansia




Abstract

CORRELATION OF KALIUM, CALSIUM AND MAGNESIUM INTAKE OF THE ELDERLY IN PUBLIC HEALTH CENTER SELAWI LAHAT SUB - DISTRICT

Febriani Eka Sari1, Dyah Umiyarni Purnamasari1, Endo Dardjito1

Background: Natural aging process decrease the function of various organs. For instance, it declines the function of blood vessels in elderly group. Degenerative diseases that is common in the ederly are hypertension. There are several factors that can hypertension were Kalium, Calcium, and Magnesium intake. Based on data published by Riskesdas 2018, national prevalence of high blood pressure was 34,1%. The aim of this experiment is to find out the correlation of Kalium, Calcium, and Magnesium intake with blood pressure in the elderly.

Method: It was one of observational research within cross sectional design within 55 respondents as samples which were taken by cluster sampling, was done in April to June 2019 in Public Health Centre of Selawi, Lahat Sub-district working area. The instrumen of this research used questionnaire, 3X24 hours of Food Recall by measuring respondents’ blood pressure. It was also used Chi Square Examination.

Result: 56,4% of respondents were included in the hypertension category. The adequacy level of k alium, kalcium, magnesium intake in the less category, each at 58,2%, 70,9% and 65,5%. There was a correlation of between the kalium (p=0,000), calcium (p=0,000) and magnesium (p=0,000) intake with the elderly’s hypertension.

Conclusion: There was a correlation of between Kalium, Calcium, and Magnesium intake with hypertension in the elderly

Keywords: Calcium, Kalium, Magnesium intake, the elderly, hypertension







2347726666C1J012021COMPETITIVE ANALYSIS AND STRUCTURE OF INDONESIAN COAL EXPORT MARKETS IN 2017 AND 2018Penelitian ini berjudul “Analisis Daya Saing dan Struktur Pasar Ekspor Batubara Indonesia Tahun 2017 dan 2018”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis posisi daya saing dan stuktur pasar batubara Indonesia di pasar internasional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan data sekunder tahun 2017 dan 2018 yang diperoleh dari United Nations Commodity Trade Statistics Database (UN Comtrade). Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis struktur pasar dengan alat analisis Herfindahl Index (HI) dan Concentration Ratio (CR4) serta analisis daya saing dan posisi daya saing dengan alat analisis Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Export Product Dynamic (EPD)
Hasil penelitian menunjukan struktur pasar batubara di pasar intenasional bersifat oligopoly dengan kecenderungan yang mengarah ke monopoli. Pasar ekspor batubara masih dikuasai oleh beberapa eksportir terbesar seperti Australia, Indonesia, Rusia dan Amerika Serikat. Tidak adanya negara eksportir yang memiliki keunggulan komparatif pada komoditas batubara menunjukan bahwa negara eksportir tidak berfokus kepada komoditas batubara.Posisi daya saing ekspor batubara Indonesia di beberapa negara importir masih berada pada posisi yang kurang bagus, hanya di negara Korea saja posisi daya saing ekspor batubara Indonesia berada pada posisi “Rising Star”.
Struktur pasar ekspor batubara dunia yang bersifat oligopoli dan cenderung mengarah ke monopoli memberikan peluang yang cukup besar untuk Indonesia karena Indonesia merupakan negara eksportir batubara nomor dua terbesar di dunia setelah Australia. Mengingat potensi ekspor komoditas batubara di Indonesia cukup bagus, maka ekspor batubara di Indonesia harus ditingkatkan agar Indonesia bisa menjadi negara eksportir batubara nomor satu di dunia.Dengan peluang ekspor batubara yang cukup besar, Indonesia harus mampu meningkatkan efisiensi dan produktifitas dalam produksi komoditas batubara serta melakukkan spesialisasi terhadap ekspor batubara di Indonesia. Hal tersebut juga dapat menyebabkan posisi daya saing ekspor yang bagus di negara tujuan ekspor.
This study is entitled "Competitive Analysis and Structure of Indonesian Coal Export Markets in 2017 and 2018". The purpose of this study is to analyze the position of competitiveness and structure of the Indonesian coal market in the international market. The method used in this study is a descriptive method with secondary data for 2017 and 2018 obtained from the United Nations Commodity Trade Statistics Database (UN Comtrade). The data analysis technique used is market structure analysis with Herfindahl Index (HI) and Concentration Ratio (CR4) analysis tools as well as analysis of competitiveness and competitiveness position with Revealed Comparative Advantage (RCA) and Export Product Dynamic (EPD)
The results of the study showed the structure of the coal market in the international market is oligopoly with a tendency towards monopoly. The coal export market is still dominated by some of the biggest exporters such as Australia, Indonesia, Russia and the United States. The absence of an exporting country that has a comparative advantage in coal commodities shows that the exporting country doesn't focus on coal commodities. The position of Indonesia's coal export competitiveness in several importing countries is still in a not good position, only in Korea the competitiveness of Indonesia's coal exports is in the "Rising Star" position.
The structure of the world coal export market which is oligopoly and tends to lead to monopoly provides a sizable opportunity for Indonesia because Indonesia is the second-largest coal exporter in the world after Australia. Considering the potential export of coal commodities in Indonesia is quite good, then coal exports in Indonesia must be increased so that Indonesia can become the number one coal exporter in the world. With considerable coal export opportunities, Indonesia must be able to increase efficiency and productivity in the production of coal commodities and to specialize in coal exports in Indonesia. This can also lead to a good export competitiveness position in the export destination countries.
2347826667D1E012200Pengaruh Kombinasi Susu Kambing dan Susu Sapi pada Kefir Terhadap pH dan Kadar Asam LaktatTujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh dari kombinasi susu kambing dan susu sapi pada kefir terhadap pH dan kadar asam laktat. Penelitian dilakukan dalam enam perlakuan, yaitu 100% susu kambing (P1), 80% susu kambing 20% susu sapi (P2), 60% susu kambing 40% susu sapi (P3), 40% susu kambing 60% susu sapi (P4), 20% susu kambing 80% susu sapi (P5), dan 100% susu sapi (P6). Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen, dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dan 3 kali ulangan. Data dianalisis dengan analisis variansi dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi 100% susu kambing (P1), 80% susu kambing 20% susu sapi (P2), 60% susu kambing 40% susu sapi (P3), 40% susu kambing dan 60% susu sapi (P4), 20% susu kambing dan 80% susu sapi (P5), serta 100% susu sapi (P6) berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap asam laktat, sedangkan pengukuran nilai pH berpengaruh tidak nyata (P>0,05). Kesimpulan, komposisi susu sapi yang tinggi pada kombinasi bahan baku kefir cenderung menurunkan nilai pH kefir, kadar asam laktat pada kefir semakin naik dengan penambahan susu kambing pada kombinasi bahan baku kefir, hasil perlakuan yang paling baik berdasarkan pH dan kadar asam laktat kefir yaitu 100% susu sapi.


The purpose of this study is to know the effects were taken from the goat’s milk and cow’s milk combination in kefir on pH and lactic acid. This research was conducted in six treatments, there are 100% goat's milk (P1), 80% goat's milk 20% cow's milk (P2), 60% goat's milk 40% cow's milk (P3), 40% goat's milk and 60% cow's milk (P4 ), 20% goat's milk and 80% cow's milk (P5), and 100% cow's milk (P6). The research method used was experiment, with a Completely Randomized Design (CRD), and 3 replications. Data that has been analyzed continued with the Honestly Significant Difference Test (BNJ). The results showed that the average lactic acid in kefir given each treatment combination of 100% goat's milk (P1), 80% goat's milk 20% cow's milk (P2), 60% goat's milk 40% cow's milk (P3), 40% goat's milk and 60% cow's milk (P4), 20% goat's milk and 80% cow's milk (P5), and 100% cow's milk (P6) has a very significant effect (P< 0.01) to lactic acid, while the measurement of pH values showed that it has not significant results (P >0.05). The conclusion, High composition of cow’s milk in the combination of kefir raw materials reduces the pH value of kefir, the levels of lactic acid in kefir are higher with the combination of goat milk in the combination of kefir raw materials, the best combination results are based on the pH and levels of kefir lactic acid which is 100% cow’s milk.

2347926668I1A015023Hubungan Karakteristik Individu dan Iklim Kerja dengan Kejadian Heat Strain pada Pekerja Bagian Produksi Pabrik Es LIlin Brasil SokarajaAbstrak


HUBUNGAN KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN IKLIM KERJA DENGAN KEJADIAN HEAT STRAIN PADA PEKERJA BAGIAN PRODUKSI PABRIK ES LILIN BRASIL SOKARAJA

Yusuf Fahmi Jauhar Maknun, Suryanto, Setiyowati Rahardjo


Latar Belakang: Heat strain adalah gambaran efek yang terjadi pada tubuh diakibatkan oleh tekanan panas. Karakteristik individu yang berhubungan dengan heat strain antara lain umur, jenis kelamin, dll. Pekerja bagian produksi pabrik es lilin berisiko mengalami heat strain karena terpapar panas lingkungan kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan karakteristik individu dan iklim kerja dengan kejadian heat strain pada pekerja bagian produksi pabrik Es Lilin Brasil Sokaraja.

Metode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh pekerja pabrik Es Lilin Brasil Sokaraja. Sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling sejumlah 55 pekerja. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Heat Strain Score Index (HSSI). Data dianalisis dengan uji Chi Square.

Hasil Penelitian: Variabel yang berhubungan adalah umur (0.005), jenis kelamin (0.002), masa kerja (0.005) dan iklim kerja (0.011). Variabel yang tidak berhubungan adalah IMT (0.628).

Simpulan: Variabel yang berhubungan adalah umur, jenis kelamin, masa kerja dan iklim kerja.

Saran: Pihak manajemen memperbaiki kondisi lingkungan kerja khususnya suhu ruang kerja dengan memadukan ventilasi alami dan ventilasi mekanik seperti exhauser.


Abstract


CORRELATION OF INDIVIDUAL CHARACTERISTICS AND WORK CLIMATE WITH HEAT STRAIN INCIDENCE ON PRODUCTION WORKERS SOKARAJA BRASIL ICE LOLLY FACTORY

Yusuf Fahmi Jauhar Maknun, Suryanto, Setiyowati Rahardjo


Background: Heat strain is an effect that occurs in the body caused by heat stress. Individual characteristics related to heat strain include age, sex, etc. Workers in the production of ice lolly factory have a risk of heat strain because exposed to the heat of the work environment. The purpose of this research was to determine the correlation of individual characteristics and work climate with heat strain incidence on production workers Sokaraja Brasil Ice Lolly factory.

Methods: Analytic observational research with cross sectional approach. The population is all of Sokaraja Brasil Ice Lolly factory workers. Sample were taken using purposive sampling technique with 55 workers. Data collection using the Heat Strain Score Index (HSSI) questionnaire. Data was analyzed using Chi Square test.

Results: Variable which correlates with heat strain are age (0.005), sex (0.002), work period (0.005) and work climate (0.011). Variable which not correlates with heat strain are Body Mass Index (0.628).

Conclusion: Variable which correlates are age, sex, work period and work climate

Suggestion: The management improves working environment conditions, especially the temperature of the work space by combining natural ventilation and mechanical ventilation such as exhausers.



2348026670I1A015028STUDI IMPLEMENTASI DAN KUALITAS PELAYANAN
VOLUNTARY COUNSELING AND TESTING (VCT) DI PUSKESMAS KABUPATEN BANYUMAS (Studi di Puskesmas 1 Baturaden dan Puskesmas Purwokerto Selatan)
Latar Belakang: Kasus HIV merupakan suatu fenomena gunung es dimana penemuan jumlah kasus tidak menggambarkan total kasus HIV. Jumlah penemuan kasus HIV di Banyumas 2018 mencapai 152 jiwa, AIDS mencapai 95 jiwa, dan
meninggal karena HIV-AIDS mencapai 19 jiwa. Serta pencapaian SPM HIV di Jawa Tengah hanya mencapai 71,06 % dari target 100%. Dalam peningkatan kualitas pelayanan HIV, pemberian pelayanan orang risiko terinfeksi HIV diwujudkan dengan Pelayanan VCT di Puskesmas. Namun, pelayanan VCT masih terkendala dalam penyediaan sumber daya, sarana prasarana, kerjasama, dan kelangsungan pelayanan. Peneliti ini bertujuan untuk menganalisis Implementasi dan Kualitas pelayanan VCT di Puskesmas Kabupaten Banyumas (Puskesmas 1 Baturaden dan Puskesmas Purwokerto Selatan).
Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus kualitatif dengan pendekatan thematic network. Sumber data didapatkan dari wawancara mendalam, studi dokumen dan observasi. Analisis data menggunakan content analysis.
Hasil Penelitian: Keterbatasan kuantitas sumber daya, pelaksanaan hubungan komunikasi antar stakeholder, karaktersitik stakeholder pelaksana, penampilan kompetensi teknis, bentuk kenyamanan pelayanan, kelangsungan pelayanan sesuai standar.
Kesimpulan: Pelayanan VCT di Puskesmas masih terkendala kuantitas sumber daya, kompetensi teknis petugas, dan fasilitas yang dapat mempengaruhi kualitas pelayanan. Serta perlu adanya hubungan komunikasi dan kerjasama antar stakeholder dalam pelaksanaan pelayanan VCT.
Background: HIV cases is an iceberg phenomenon, where the case finding is not tottaly representative the total number of HIV cases. Number of HIV cases in Banyumas 2018 was 152 person, AIDS was 95 person, and died of infected by virus of HIV-AIDS was 19 person. SPM of HIV services in central java is 71,06% of 100%. In enhancement of quality HIV services for the risk community, the goverment manifested VCT services in Health Center. However, VCT services have a problems, the problems is quantity of human resources, facilities, networking, and continuity of services. And this research have purpose to analysis im plementation and quality of VCT services at Banyumas Health Center, study at Baturaden 1 Health Center and Purwokerto Selatan Health Center.
Methods: This research used case study qualitative with thematic network. Data sources were obtained through in-depth interview, documentation studies and observation. Data analysis use content analysis.
Results: limitedness human resources, communication with policy actors, the caracteristic of policy actors, competency of human resources, service convenience, and continuity of services.
Conclusion: VCT services in Health Center are still constrained from limitedness human resources, competency of human resources, and facilities that can affect quality of services, and need comunication and collaboration between stakeholder in implementation of VCT services.