Home
Login.
Artikelilmiahs
26631
Update
AMINUDIN
NIM
Judul Artikel
UJI PERFOMANSI TUNGKU LORENA BERBAHAN BAKAR KAYU BAKAR PADA PRODUKSI GULA SEMUT DI UD. TARBIYAH DESA RANCAMAYA KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS
Abstrak (Bhs. Indonesia)
RINGKASAN Gula merupakan salah satu kebutuhan bahan pangan yang sangat penting bagi kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangga maupun industri makanan dan minuman baik yang berskala besar maupun kecil. Gula menjadi sangat penting karena gula mengandung kalori yang dibutuhkan bagi kesehatan dan gula juga digunakan sebagai bahan pemanis utama yang digunakan oleh banyak industri makanan dan minuman (Sugiyanto, 2007). Gula semut memiliki peluang untuk memenuhi kebutuhan gula (bahan pemanis) nasional yang selama ini sebagian besar masih impor dan juga berpeluang untuk masuk di pasaran luar negeri (ekspor) seperti ke Singapura, Jepang, Hongkong, USA dan Jerman. Berdasarkan survei pasar, permintaan gula untuk ekspor sangat besar sekitar 400 ton/tahun dan baru terpenuhi sekitar 50% dari total permintaan (Pragita, 2010). Penggunaan tungku pemasakan berbahan bakar biomassa masih digunakan oleh masyarakat, digunakan pada rumah tangga ataupun di industri kecil. Akan tetapi permasalahan yang biasanya ada pada tungku pemasakan bahan bakar biomassa ini yakni efisiensi pemasakan, polusi udara yang tinggi, panas yang tidak merata, dan lama waktunya pemasakan. Sehingga perlu adanya tindak lanjut untuk mengatasi permasalahan ini. Alat yang digunakan dalam penelitian uji performansi tungku yaitu tungku kayu bakar, termometer infrared, timbangan, stopwatch, refraktometer, pH meter, wajan dan alat tulis. Bahan yang digunakan dalam penelitian uji performansi tungku ini yaitu kayu bakar jenis selatri dan bahan yang digunakan untuk pembuatan gula semut yaitu nira. Pembuatan gula semut di Desa Rancamaya Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas tanpa bahan kimia pengawetannya menggunakan kulit manggis sehingga gula yang di hasilkan gula organik yang tentu lebih aman dikonsumsi oleh masyarakat. Variabel penelitian yang digunakan meliputi energi yang dibutuhkan untuk memanaskan wajan, energi yang digunakan untuk memanaskan dan menguapkan nira kelapa, energi yang tersedia pada bahan bakar. Variabel tersebut dihitung guna menghasilkan data untuk menentukan efisiensi dari tungku kayu bakar dan dari sistem. Efisiensi tungku lorena berbahan bakar kayu bakar yang digunakan UD. Tarbiyah adalah 18,96 %. Efisiensi energi sistem pada tungku yang didapatkan adalah 18,59 %. Nilai efisiensi tungku dan nilai efisiensi energi sistem kayu ini rendah sehingga dapat dikatakan tungku ini memiliki efektivitas pembakaran yang cukup rendah. Laju konsumsi bahan bakar yang dibutuhkan pada proses produksi gula semut sebanyak 4,8 kg, 5,2 kg, 4,8 kg berturut-turut adalah 8,549 kg/jam, 8,293 kg/jam dan 7,089 kg/jam. Waktu yang dibutuhkan untuk memasak 30 kg nira adalah 3.34 jam, 3.32 jam dan 3.33 jam. Efisiensi tungku di pengaruhi oleh suhu awal tungku, suhu lingkungan, kadar air bahan bakar, ukuran dari bahan bakar yang digunakan dan kesetabilan nyala api. Kata kunci : Uji Performansi Tungku, Gula Semut, Kayu Selatri
Abtrak (Bhs. Inggris)
SUMMARY Sugar is one of the food needs that is very important for daily needs in the household and the food and beverage industry both large and small scale. Sugar is very important because sugar contains calories needed for health and sugar is also used as the main sweetener used by many food and beverage industries (Sugiyanto, 2007). Granular sugar has the opportunity to meet the needs of national sugar (sweetener) which so far is still mostly imported and also has the opportunity to enter overseas markets (exports) such as to Singapore, Japan, Hong Kong, USA and Germany. Based on market surveys, the demand for sugar is very large at around 400 tons / year and only about 50% of total demand has been met (Pragita, 2010). The use of biomass-fired cooking stoves is still used by the public, used in households or in small industries. However, the problems that are usually present in cooking biomass fuel stoves are cooking efficiency, high air pollution, uneven heat, and long cooking time. So there is a need for follow-up to overcome this problem. The tools used in the furnace performance test are firewood stoves, infrared thermometers, scales, stopwatches, refractometers, pH meters, frying pans and stationeries. The material used in this furnace performance test is selatri firewood and the material used to make ant sugar, namely sap. Making ant sugar in Rancamaya Village, Cilongok Subdistrict, Banyumas Regency without preserving chemicals uses mangosteen peel so that sugar produced by organic sugar is certainly safer for people to consume. The research variables used included the energy needed to heat the pan, the energy used to heat and evaporate coconut sap, the energy available in the fuel. These variables are calculated to produce data to determine the efficiency of the firewood stove and from the system. The efficiency of the lorena furnace fueled by firewood used by UD. Tarbiyah is 18.96%. The energy efficiency of the system in the furnace obtained was 18.59%. The furnace efficiency value and the energy efficiency value of this wood system are low so it can be said that this furnace has a relatively low combustion effectiveness. The rate of fuel consumption needed in the production process of ant sugar is 4.8 kg, 5.2 kg, 4.8 kg respectively 8.549 kg / hour, 8,293 kg / hour and 7.089 kg / hour. The time needed to cook 30 kg of sap is 3.34 hours, 3.32 hours and 3.33 hours. The efficiency of the furnace is influenced by the furnace's initial temperature, ambient temperature, fuel water content, the size of the fuel used and the stability of the flame. Keywords: Furnace Performance Test, Granular Sugar, Selatri Wood
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save