Artikelilmiahs
Menampilkan 23.141-23.160 dari 50.225 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 23141 | 26374 | F1B015004 | Kualitas Pelayanan PT. Pos Indonesia Melalui Inovasi Layanan untuk Menjaga Eksistensi dan Daya Saing (Studi Pada PT. Pos Indonesia Kantor Purwokerto) | Ombudsman RI pada tahun 2015-2017 tercatat ada sebanyak 25.573 aduan terkait buruknya pelayanan publik di Indonesia. Buruknya pelayanan juga terjadi pada PT. Pos Indonesia kantor Purwokerto sebagai salah satu perusahaan BUMN. Penurunan performan PT. Pos Indonesia kantor Purwokerto ini terjadi karena adanya perkembangan teknologi dan munculnya kompetitor pada bidang yang sama. PT. Pos Indonesia kantor Purwokerto untuk menghadapi situasi tersebut melakukan inovasi yaitu melalui inovasi layanan online menggunakan aplikasi online Fast Pos dan web. Metode Penelitian menggunakan kualitatif dengan fokus penelitian kualitas pelayanan melalui inovasi layanan PT. Pos Indonesia kantor Purwokerto. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa inovasi layanan yang bertujuan untuk menjaga eksistensi dan daya saing belum mampu meningkatkan kualitas pelayanan. Keberadaan inovasi pelayanan di PT. Pos Indonesia kantor Purwokerto belum memberikan perubahan hasil yang signifikan, akan tetapi upaya inovasi layanan melalui aplikasi online merupakan upaya yang cukup efektif dimana penggunaan smartphone dan media online tengah digandrungi kaum milenial dan sebagian besar kegiatan transaksi zaman sekarang. | The Indonesian Ombudsman in 2015-2017 recorded 25,573 complaints related to poor public services in Indonesia. Poor service also occurs at PT. Pos Indonesia Purwokerto office as one of the state-owned companies. Decreased performance of PT. Pos Indonesia Purwokerto office is due to technological developments and the emergence of competitors in the same field. PT. Pos Indonesia Purwokerto office to deal with the situation is to innovate through online service innovation using the Fast Pos online application and the web. The research method uses qualitative research with a focus on service quality through service innovation PT. Pos Indonesia Purwokerto office. The results of this study indicate that service innovation that aims to maintain existence and competitiveness has not been able to improve service quality. The existence of service innovation at PT. Pos Indonesia Purwokerto office has not yet made significant changes in results, but efforts to innovate services through online applications are quite effective in which the use of smartphones and online media is loved by millennials and most of the transaction activities today. | |
| 23142 | 26375 | G1H012011 | HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN GIZI, BESAR UANG SAKU, DAN TINGKAT ASUPAN MAKRONUTRIEN DENGAN STATUS GIZI PADA MAHASISWA ILMU GIZI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN | HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN GIZI, BESAR UANG SAKU, DAN TINGKAT ASUPAN MAKRONUTRIEN DENGAN STATUS GIZI PADA MAHASISWA ILMU GIZI UNSOED Ajeng Rahmawati, Dyah Umiyarni Purnamasari, Widya Ayu Kurnia Putri Latar Belakang: Status gizi penting diperhatikan guna mencegah terjadinya masalah gizi. Asupan makanan, besar uang saku dan pengetahuan gizi dapat mempengaruhi status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan gizi, besar uang saku, dan tingkat asupan makronutrien dengan status gizi mahasiswa Ilmu Gizi Unsoed Metodologi: Desain penelitian cross-sectional dengan sampel 34 mahasiswa semester VI yang dipilih dengan purposive sampling. Pengetahuan gizi diukur dengan kuisioner, asupan makanan diukur dengan food recall 24 jam. Analisis bivariat dengan uji Rank Spearman. Hasil: 50% mahasiswa memiliki pengetahuan gizi yang baik. Sebanyak 67,65% asupan energi kurang, 64,7% dan 29,4% asupan protein dan lemak lebih, 67,6% asupan karbohidrat sangat kurang. Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan gizi dengan status gizi (P=0,299), tidak ada hubungan besar uang saku (P=0,305) dan tingkat asupan makronutrien (Energi (P=0,281); Protein (P=0,699); Lemak (P=202); Karbohidrat (P=918)) dengan status gizi. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan gizi, besar uang saku dan asupan makronutrien (energi, protein, lemak, dan karbohidrat) dengan status gizi. Kata Kunci: pengetahuan gizi, uang saku, asupan makronutrien, status gizi, mahasiswa | THE RELATIONSHIP OF NUTRITIONAL KNOWLEDGE, POCKET MONEY, AND LEVEL OF MACRONUTRIENT INFLUENCE WITH NUTRITIONAL STATUS OF NUTRITION SCIENCE OF UNSOED STUDENTS Ajeng Rahmawati, Dyah Umiyarni Purnamasari, Widya Ayu Kurnia Putri Background: Nutritional status is considered in order to prevent the occurrence of nutritional problems. Food intake, large allowances and nutritional knowledge could affect the nutritional status of college students. This study aim to examine the correlation between the level of nutrition knowledge, the amount of pocket money, and level of macronutrient intake with the nutritional status of Nutrition Sciences of Unsoed students. Methods: The study design cross-sectional with a sample of 34 students in the sixth semester selected by purposive sampling. The nutrition knowledge was measured by questionnaire, food intake was measured by 24-hour food recall. Bivariate analysis with the Spearman Rank test. Results: 50% of students have good nutritional knowledge. As much as 67.65% less energy intake, 64.7% and 29.4% more protein and fat intake, 67.6% carbohydrate intake is very less. There was no relationship between nutritional knowledge and nutritional status (P = 0.299), there was no significant relationship between allowance (P = 0.305) and the level of macronutrient intake (Energy (P = 0.281); Protein (P = 0.699); Fat (P = 202 Carbohydrate (P = 918)) with nutritional status. Conclusion: There is no correlation between nutritional knowledge, pocket money and macronutrient intake (energy, protein, fat, and carbohydrate) with nutritional status. Keywords: nutritional knowledge, pocket money, macronutrient intake, nutritional status, college students. | |
| 23143 | 28584 | D1A016118 | Analisis Pendapatan dan Break Event Point Usaha Itik Petelur di Wilayah Pemalang dan Tegal | Penelitian ini bertujuan untuk menghitung pendapatan peternak itik petelur di wilayah Pemalang dan Tegal, menghitung Break Even Point (BEP) usaha ternak itik petelur di wilayah Pemalang dan Tegal, dan mengidentifikasi faktor faktor yang mempengaruhi BEP usaha ternak itik petelur di wilayah Pemalang dan Tegal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey, teknik pengambilan sampel adalah Purpossive Sampling dengan kriteria yaitu populasi minimal 100 ekor dan periode itik yang dipelihara umur 8-12 bulan (periode produksi), metode penetapan sampel adalah Accidental Sampling. Jumlah peternak itik yang disurvei adalah 20 peternak di Pemalang dan 20 peternak di Tegal. Variabel yang digunakan adalah pendapatan peternak itik, BEP dan faktor faktor yang mempengaruhi BEP usaha itik petelur di wilayah Pemalang dan Tegal. Analisis yang digunakan adalah analisis pendapatan, analisis BEP produk dan harga, dan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan rata rata pendapatan peternak itik di Tegal adalah Rp 6.090.500/bulan dengan rata rata jumlah kepemilikan ternak 714 ekor, sedangkan pendapatan di Pemalang Rp 2.058.260/bulan dengan rata rata jumlah kepemilikan ternak 290 ekor. BEP produk di Tegal 9.918 butir/bulan sedangkan Pemalang 4.783 butir/bulan. BEP harga di Tegal Rp 1.057/butir sedangkan Pemalang Rp 1.007/butir. Penelitian dapat disimpulkan faktor yang mempengaruhi BEP Produk yaitu jumlah kepemilikan ternak. Faktor yang mempengaruhi BEP Harga yaitu wilayah. Jumlah kepemilikan ternak, tingkat pendidikan, lama beternak dan wilayah secara bersama sama berpengaruh terhadap BEP Produk dan BEP Harga. Kata kunci: Itik tegal, Pendapatan, BEP Harga, BEP Produk. | This study aims to calculate the income of laying duck farmers, calculate the Break Even Point (BEP) of laying duck business, and identify the factors that influence the BEP of laying duck business in Pemalang and Tegal area. The research method used was a survey method, the sampling technique was Purpossive Sampling with the criteria of a population of at least 100 duckswith 8-12 months of age (laying period), the sampling method was Accidental Sampling. The number of farmers surveyed was 20 farmers in Pemalang and 20 farmers in Tegal. The variables used are duck farmer income, BEP and factors that affect BEP in laying duck business. Analysis used are income analysis, BEP price and product analysis, and multiple linear regression analysis. The results shown that the average income of duck farmers in Tegal was Rp 6,090,500 / month with an average number of livestock ownership of 714 ducks, while income in Pemalang was Rp2,058,260 / month with an average number of livestock ownership of 290 ducks. BEP products in Tegal were 9,918 items / month while Pemalang are 4,783 items / month. BEP prices in Tegal were Rp 1,057 while Pemalang were Rp 1.007. It included, the factor that affected BEP Products is the number of the livestock ownership. Factor that affects BEP Prices was the region. BEP Product and the BEP Prices were influenced by the amount of livestock ownership, level of education, farming experience and also region simultaneously. Keywords: Tegal ducks, income, BEP price, BEP product. | |
| 23144 | 26376 | A1L113060 | PENGARUH PUPUK ORGANIK CAIR DARI RUMEN SAPI TERHADAP SERAPAN NITROGEN DAN PRODUKSI PADA DUA VARIETAS BAWANG MERAH (Allium cepa) | ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk organik cair terhadap serapan N tanaman bawang merah, mengetahui pengaruh varietas terhadap serapan N tanaman bawang merah, mengetahui interaksi antara pupuk organic dan varietas terhadap serapan N tanaman bawang merah. Penelitian ini dilaksanakan di lahan bawang merah di Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes. Analisis serapan N dilakukan di Laboratorium Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Jawa Tengah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus – Oktober 2018. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan RAK faktorial. Faktor pertama adalah dosis pupuk terdiri dari (P0) 100% pupuk rekomendasi kimia + 0% POC rumen sapi, (P1) 50% pupuk rekomendasi kimia + 10 ml/l/m2 POC rumen sapi, (P2) 50% pupuk rekomendasi kimia + 20 ml/l/m2 POC rumen sapi, (P3) 50% pupuk rekomendasi kimia + 30ml/l/m2 POC rumen sapi, (P4) 50% pupuk rekomendasi kimia + 40 ml/l/m2 POC rumen sapi. Faktor kedua adalah varietas yaitu (V1) Bima Curut, dan (V2) Keling. Total terdapat 10 unit perlakuan yang diulang 3 kali sehingga diperoleh 30 unit kombinasi perlakuan. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan pupuk organik rumen sapi pada 40 ml/l/m2 belum dapat mengunggulkan penyerapan unsur hara N tanaman bawang merah. Dibandingkan dengan varietas Keling memiliki kemampuan menyerap N lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Bima Curut. Tidak ada interaksi antara perlakuan pupuk dan varietas tanaman bawang merah | ABSTRACT The purposes of this research were to determine effect of fermented cow rumen dosage on N uptake in Allium cepa, determine the effect of varieties on N uptake in Allium cepa and determine the interaction between liquid rumen organic fertilizer and varieties to N uptake.. Research was conducted in August 2018 - October 2018 with two factors. The first factor was the doses of fertilizer, which were (P0) 100% chemical fertilizer + 0% of fermented cow rumen, (P1) 50% chemical fertilizer + 10ml/l/m2 of fermented cow rumen, (P2) 50% chemical fertilizer + 20ml/l/m2 of fermented cow rumen, (P3) 50% chemical fertilizer + 30ml/l/m2 of fermented cow rumen, (P4) 50% chemical fertilizer + 40ml/l/m2 of fermented cow rumen. The second factor was varieties, which were (V1) Bima Curut, and (V2) Keling. The results showed that fermented cow rumen was able to produce same effect on N uptake and bulb yield as compared with 100% chemical fertilizer application N uptake on Allium cepa. Keling has the ability to N uptake higher than Bima Curut. There is no interaction between fertilizer treatment and varieties of Allium cepa. | |
| 23145 | 26377 | F1A015004 | Minat Perempuan dalam Berbelanja ke Pasar Tradisional Segawe Pasca Relokasi | Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang pandangan dan minat perempuan dalam berbelanja ke Pasar Tradisional Segawe pasca relokasi. Penelitian menggunakan metode kuantitatif jenis survey deskriptif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum pandangan perempuan mengenai Pasar Tradisional Segawe dilihat dari indikator kecukupan, aksesibilitas, keamanan, kenyamanan, kesehatan, keselamatan dan estetika lebih baik di Pasar Segawe yang baru. Untuk minat berbelanja ke Pasar Segawe dilihat dari indikator intensitas berbelanja ke pasar, lama waktu berbelanja, cara atau usaha yang digunakan untuk berbelanja, biaya yang dihabiskan saat berbelanja, ada atau tidaknya unsur keterpaksaan dalam berbelanja, ada atau tidaknya semangat dalam berbelanja, sikap dalam mengikuti informasi mengenai pasar dan tempat berbelanja yang paling sering dikunjungi secara umum lebih tinggi di pasar yang lama. Selain itu untuk pandangan perempuan mengenai Pasar Segawe pasca relokasi dikategorikan sangat baik. Namun, untuk minat berbelanja ke Pasar Segawe pasca relokasi dikategorikan rendah. | This study aims to describe the views and interests of women in shopping at Segawe Traditional Market after relocation. Research using quantitative methods descriptive survey type. Data collection methods used were questionnaires and interviews. The results showed that in general women's views on the Segawe Traditional Market were seen from indicators of adequacy, accessibility, security, comfort, health, safety and aesthetics better in the new Segawe Market. For shopping interest in Segawe Market, it can be seen from the indicators of the intensity of shopping at the market, the length of time spent shopping, the method or business used for shopping, the costs spent while shopping, whether or not there is an element of compulsion in shopping, the presence or absence of enthusiasm in shopping, the attitude in following information about the markets and places of shopping that are most frequently visited is generally higher in the old markets. In addition, for the views of women regarding the Segawe Market after relocation, it is categorized very well. However, interest in shopping at Segawe Market after relocation is categorized as low. | |
| 23146 | 26378 | E1A012272 | TINDAK PIDANA MENYALAHGUNAKAN NARKOTIKA GOLONGAN I BAGI DIRI SENDIRI (Tinjauan Yuridis terhadap Putusan Pengadilan Negeri Purwokerto Nomor 282/Pid.Sus/2018/PN. Pwt) | Narkotika Golongan I adalah Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, karena mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan pada pengguna itu sendiri. Penyalahgunaan narkotika adalah merupakan suatu tindak kejahatan dan pelanggaran yang mengancam keselamatan, baik fisik maupun jiwa si pemakai dan juga terhadap masyarakat secara sosial. Pecandu Narkotika dan korban penyalahgunaan Narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui penerapan unsur-unsur tindak pidana menyalahgunakan Narkotika Golongan I bagi diri sendiri, dan untuk mengetahui dasar pertimbangan hukum Hakim Pengadilan Negeri Purwokerto dalam menjatuhkan pidana pada perkara Nomor : 282/Pid.Sus/2018/PN Pwt. Menggunakan metode pendekatan yuridis normatif. Spesifikasi penelitian deskriptif analisis, Sumber data sekunder, Putusan Pengadilan Negeri Purwokerto Nomor 282/Pid.Sus/2018/PN Pwt. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan hasil bahwa penerapan unsur-unsur tindak pidana menyalahgunakan Narkotika Golongan I bagi diri sendiri dalam putusan Pengadilan Negeri Purwokerto Nomor 282/Pid.Sus/2018/PN Pwt. telah sesuai dengan Pasal 127 ayat (1) huruf a Jo Pasal 54 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, telah terbukti secara sah dan menyakinkan memenuhi unsur-unsur sebagai berikut: Setiap Orang; Penyalahguna Narkotika Golongan I bagi diri Sendiri. Dasar pertimbangan hukum Hakim Pengadilan Negeri Purwokerto dalam menjatuhkan pidana terhadap terdakwa, yaitu berdasarkan telah terpenuhinya unsur-unsur Pasal 127 ayat (1) huruf a Jo Pasal 54 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika; menggunakan kelengkapan alat bukti: keterangan para saksi, keterangan ahli, surat dan keterangan terdakwa, hal yang meringankan dan yang memberatkan serta fakta yang terungkap dalam persidangan. Terdakwa dipidana penjara selama 2 (dua) Bulan dan 21 (dua puluh satu) Hari; Terdakwa menjalani pengobatan dan perawatan melalui rehabilitasi medis dan sosial di Instalasi Pelayanan Kesehatan Jiwa Terpadu Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas selama 6 (Enam) bulan; Terdakwa tetap berada dalam tahanan | Narcotic Faction I is Narcotic which can only be used by for the purpose of science development and do not be used in therapy, because having potency very high result depend on itself consumer. Abuse of Narcotic is to represent an acting collision and badness menacing safety, good of soul and also physical the wearer as well as to society socially. Addiction Narcotic and victim abuse of Narcotic is obliged to experience to rehabilitate medical and rehabilitate social. This research is conducted as a mean to know applying of doing an injustice elements misuse Narcotic Faction I to ownself, and to know consideration base punish Judge of district court Purwokerto in let fall crime at Number case : 282/Pid.Sus/2018/PN Pwt. Using method approach of normative juridical. Specification of descriptive research of analysis, Source of secondary data, Decision District Court Purwokerto Number 282/Pid.Sus/2018/PN Pwt. Pursuant to result of research, got by result of that applying of doing an injustice elements misuse Narcotic Faction I to ownself in District Court Purwokerto Number decision 282/Pid.Sus/2018/PN Pwt. have as according to Section 127 sentence (1) Jo Section a letter 54 Law No. 35 Year 2009 about Narcotic, have proven validly and convince fulfill the following elements: Each And Everyone; Abuse Narcotic Faction I to ownself Consideration base punish Judge of district court Purwokerto in let fall crime to defendant, that is pursuant to have fufilled of Section elements 127 sentence (1) Jo Section a letter 54 Law Number 35 Year 2009 about Narcotic; using equipment of evidence appliance: witnesses boldness, expert boldness, defendant boldness and letter, matter lightening and weighing against and also fact which is expressed in conference. Defendant punished by prison during 2 (two) Month and 21 (twenty one) Day; Defendant experience treatment and medication through to rehabilitate social and medical in Installation Service Health of Inwrought Soul of Public Hospital of Area Banyumas during 6 (six) Month; Defendant remain to stay in prisoner. | |
| 23147 | 28585 | B1A015143 | DIVERSITAS DAN FILOGENETIK TERIPANG (Echinodermata: Holothuroidea) DI PULAU MATAKUS DAN SELARU KEPULAUAN TANIMBAR MALUKU | Maluku merupakan salah satu produsen utama teripang di Indonesia, tetapi sumber dayanya telah menurun dengan signifikan sebagai konsekuensi dari peningkatan permintaan pasar dan manajemen penangkapan teripang yang masih lemah. Indentifikasi yang akurat sangat penting untuk mengetahui diversitas spesies dalam suatu komunitas guna merumuskan langkah konservasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies teripang menggunakan teknik DNA barcoding di Pulau Matakus dan Selaru Kepulauan Tanimbar Maluku dan merekonstruksi hubungan filogenetik berdasarkan karakter urutan basa nukleotida gen cytochrome c oxidase subunit I (COI). Barcoding dilakukan dengan membandingkan urutan basa nukelotida masing-masing sampel dengan urutan basa nukelotida yang sebelumnya telah dipublikasi di bank data (BOLD dan GenBank). Rekonstruksi pohon filogenetik dilakukan menggunakan metode maximum parsimony (MP), maximum likelihood (ML) pada software MEGA 6, bayesian inference (BI) pada software MrBayes 3.2, dan metode jarak neighbor-joining (NJ) pada software PAUP* 4. Identifikasi awal di lapangan diperoleh 17 spesies teripang dari Pulau Matakus dan Selaru Kepulauan Tanimbar yang terbagi ke dalam 4 genus, yaitu Actinopyga, Bohadschia, Holothuria, dan Stichopus. Spesies teripang yang berhasil diidentifikasi melalui teknik DNA barcoding adalah A. lecanora, A. miliaris, B. marmorata, B. vitiensis, H. atra, H. coluber, H. fuscocinerea, S. ocellatus, dan S. vastus. Semua pohon filogenetik mendukung bahwa Actinopyga, Bohadschia, dan Stichopus merupakan genus monofiletik. MP, ML, dan BI menunjukkan bahwa Holothuria adalah genus monofiletik, akan tetapi pada pohon NJ Holothuria merupakan genus polifiletik. Semua pohon filogenetik mendukung bahwa Actinopyga adalah basal group dari genus teripang lainnya dan Holothuriidae adalah familia parafiletik dengan tidak mengikutsertakan genus Stichopus. | Maluku is the main producer of trepang in Indonesia, but the resource has been declining significantly as a consequence of increased the market demand and the weak of regulation. Accurate identification is essential for estimating species diversity in a community in order to formulate its conservation measures. The aims of the study are to identify trepang species using DNA barcoding techniques in the Matakus and Selaru Islands Tanimbar Maluku and reconstruct phylogenetic based on cytochrome c oxidase subunit I (COI) gene sequences. Initial identification in the field used external morphological characters. Barcoding was based on sequences similarity to conspecific sequence available in BOLD and identity to conspecific sequence available gene bank with BLAST. Phylogenetic reconstruction was performed using the maximum parsimony (MP), maximum likelihood (ML) in MEGA 6 software, bayesian inference (BI) in MrBayes 3.2 software, and distance-method by neighbor-joining (NJ) in PAUP*4 software. Initial identification found 17 species of trepang which are divided into 4 genus: Actinopyga, Bohadschia, Holothuria, and Stichopus. Trepang species identified through barcoding include A. lecanora, A. miliaris, B. marmorata, B. vitiensis, H. atra, H. coluber, H. fuscocinerea, S. ocellatus, and S. vastus. All phylogenetic trees support that Actinopyga, Bohadschia, and Stichopus are monophyletic genus. MP, ML, and BI shows that Holothuria is a monophyletic genera, but in the NJ tree Holothuria is a polyphyletic genus. All phylogenetic trees also support that Actinopyga is the basal group of the other genus of trepang and Holothuriidae is a parafiletic family by excluding the genus Stichopus. | |
| 23148 | 29026 | D1A016087 | ANALISIS KONVERSI PAKAN DAN UMUR PANEN AYAM BROILER DENGAN PAKAN NON ANTIBIOTIC GROWTH PROMOTERS DI WILAYAH BANYUMAS, PURBALINGGA DAN CILACAP | Tujuan penelitian ini adalah: (1) Menganalisis konversi pakan ayam broiler dengan pakan non antibiotic growth promoters (NAGP) pada kandang open house pada ketiga kabupaten; (2) Membandingkan umur panen ayam broiler dengan pakan non antibiotic growth promoters (NAGP) pada kandang open house pada ketiga kabupaten. Penelitian menggunakan metode survei terhadap peternak yang bermitra dengan PT. Cemerlang Unggas Lestari pada Kabupaten Banyumas, Purbalingga, dan Cilacap. Metode penetapan sampel dengan purposive random sampling. Teknik pengambilan sampel menggunakan Accidental Sampling. Sampel peternak yang digunakan sebanyak 27 peternak yang terbagi menjadi 9 peternak per wilayahnya dengan skala pemeliharaan 3000 – 20.000 ekor. Variabel yang diamati yaitu konversi pakan dan umur panen ayam broiler dengan pakan non antibiotic growth promoters (NAGP) pada kandang open house pada ketiga kabupaten. Analisis yang digunakan yaitu Univariate One Way Analysis of Variance (Anova Satu Arah). Hasil penelitian sebagai berikut: (1) Rata-rata nilai konversi pakan Kabupaten Banyumas setelah dibulatkan yaitu 2,05, Kabupaten Purbalingga 1,94, dan Kabupaten cilacap 1,85; (2) rata-rata umur panen ayam broiler pada Kabupaten Banyumas yaitu 31,44 hari, Kabupaten Purbalingga 32,44 hari dan Kabupaten cilacap 33,33 hari; (3) Hasil uji anova satu arah yaitu tidak terdapat perbedaan yang nyata konversi pakan dan umur panen ayam broiler dengan pakan non antibiotic growth promoters pada kandang open house di wilayah berbeda. Peternak dapat membangun usaha ternak didaerah mana saja di ketiga kabupaten hanya saja perlu manajemen pemeliharaan yang baik agar produksi dan hasil yang diperoleh dapat maksimal. | The objectives of this study are: (1) To analyze the conversion of broiler chicken feed with non-antibiotic growth promoters (NAGP) feed in open house cages in the three districts; (2) Comparing the harvest age of broiler chickens with non antibiotic growth promoters (NAGP) feed in open house cages in the three districts. The study used a survey method for farmers who partnered with PT. Cemerlang Lestari in Banyumas, Purbalingga and Cilacap Regencies. The method of determining the sample with purposive random sampling. The sampling technique uses accidental sampling. Samples of breeders used were 27 farmers divided into 9 breeders per area with a maintenance scale of 3000-20,000 animals. The observed variables were feed conversion and harvest age of broiler chickens with non antibiotic growth promoters (NAGP) feed in open house cages in the three districts. The analysis used is Univariate One Way Analysis of Variance (Anova Satu Arah). The results of the study are as follows: (1) The average conversion value of Banyumas Regency after rounding is 2.05, Purbalingga Regency is 1.94, and Cilacap Regency is 1.85; (2) the average age of harvest of broiler chickens in Banyumas Regency is 31.44 days, Purbalingga Regency 32.44 days and Cilacap Regency 33.33 days; (3) One-way ANOVA test results that there is no significant difference in feed conversion and harvest age of broiler chickens with non antibiotic growth promoters in open house cages in different areas. Farmers can build a livestock business in any area in the three districts, but only need good maintenance management so that the production and the results obtained can be maximized. | |
| 23149 | 26333 | G1I014015 | Perbandingan Latihan Plyometric Knee Tuck Jump dan Barrier Hops Terhadap Jauhnya Tendangan Long Pass pada Peserta Ekstrakurikuler Sepak Bola SMP Negeri 2 Sokaraja Kabupaten Banyumas | Abstrak PERBANDINGAN LATIHAN PLYOMETRIC KNEE TUCK JUMP DAN BARRIER HOPS TERHADAP JAUHNYA TENDANGAN LONG PASS PADA PESERTA EKSTRAKURIKULER SEPAK BOLA SMP NEGERI 2 SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS Thomas Adi Pamungkas, M Nanang Himawan K, Didik Rilastiyo B Latar Belakang: Melakukan long pass dengan baik bagi siswa sekolah bukan hal yang mudah. Bagi siswa pemula sering sekali dalam melakukan long pass tidak tepat pada sasaran yang diinginkan, terlebih pada permasalahan siswa ekstrakurikuler sepak bola SMP Negeri 2 Sokaraja. Agar siswa dapat menguasai teknik long pass dengan baik diperlukan sebuah latihan. Latihan dengan cara plyometric knee tuck jump dan barrier hops yang dilakukan secara berulang-ulang dengan aturan dan batasan waktu yang sudah ditentukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh latihan plyometric knee tuck jump dan barrier hops terhadap hasil tendangan long pass pada peserta ekstrakurikuler sepak bola SMP Negeri 2 Sokaraja Kabupaten Banyumas. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan One Group Pretest Posttest Design. Desain ini menggunakan dua kelompok eksperimen dengan melakukan pretest, treatment, dan posttest. Instrumen penelitian dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah long pass test (Frank M. Verduci. Ed.D, 1980). Sampel penelitian ini adalah siswa ekstrakurikuler sepak bola SMP Negeri 2 Sokaraja dengan jumlah 34 anak. Teknik analisis data menggunakan uji t dengan nilai signifikan 5%. Hasil Penelitian: Hasil nilai rerata jauhnya tendangan long pass kelompok plyometric knee tuck jump saat pretest adalah sebesar 26,26 m dan saat posttest sebesar 26,77 m atau meningkat sejauh 0,51 m. Sedangkan nilai rerata jauhnya tendangan long pass kelompok plyometric barrier hops saat pretest adalah sebesar 26,01 m dan saat posttest sebesar 27,99 m atau meningkat sejauh 1,98 m. Berdasarkan hasil penelitian bahwa latihan plyometric knee tuck jump memiliki nilai Thitung (5,826) > Ttabel (2,131) dan barrier hops memiliki nilai Thitung (8,925) > Ttabel (2,131) dan sama-sama memperoleh nilai sig. (2-tailed) (0,00) < (0,05), maka dapat disimpulkan kedua latihan terbukti berpengaruh terhadap hasil tendangan long pass. Berdasarkan hasil persentase peningkatan, latihan plyometric barrier hops lebih baik daripada latihan plyometric knee tuck jump (7,61>1,94). Kesimpulan: Terdapat pengaruh dari latihan plyometric knee tuck jump dan barrier hops, dan latihan plyometric barrier hops terbukti lebih baik daripada latihan plyometric knee tuck jump terhadap hasil tendangan long pass peserta ekstrakurikuler sepak bola SMP Negeri 2 Sokaraja Kabupaten Banyumas. Kata Kunci: Plyometric, Knee Tuck Jump, Barrier Hops, Long Pass. | Abstract THE COMPARISON OF PLYOMETRIC KNEE TUCK JUMP AND BARRIER HOPS EXERCISES TOWARD LONG PASS RESULT IN FOOTBALL EXTRACURICULAR STUDENTS OF JUNIOR HIGH SCHOOL 2 SOKARAJA BANYUMAS REGENCY Thomas Adi Pamungkas, M Nanang Himawan K, Didik Rilastiyo B Background of Study: Practicing well long pass for students was not easy as they did. Amateur students often did it deviatedly, especially for football extracuricular students of Junior High School 2 Sokaraja. In order to do well long pass, students should be trained regularly. The exercises consisted of plyometric knee tuck jump and barrier hops that should be done repetaedly followed by time limit and rules appropriatedly. The purpose of this study was to find out plyometric knee tuck jump and barrier hops exercises effect toward long pass result in football extracuricular students of Junior High School 2 Sokaraja, Banyumas Regency. Method of Study: This study used One Group Pretest Posttest Design. This design used two experiment group by accomplishing pretest, treatment, and posttest. Instrument and collecting data of study used long pass test (Frank M. Verduci. Ed.D, 1980). The sample of study was 34 of Junior High School 2 Sokaraja football extracuricular students. Data technique analysis used t-test followed by significant value was 5%. Result of Study: The average value of long pass kick away in plyometric knee tuck jump group pretest was 26,26 m and posttest was 26,77 m or increasing about 0,51 m. Whereas the average value of long pass kick away in plyometric barrier hops group pretest was 26,01 m and posttest was 27,99 m or increasing about 1,98 m. According to the result above plyometric knee tuck jump exercise had Tcount value (5,826) > Ttable (2,131) and barrier hops had Tcount value (8,925) > Ttable (2,131) and both of them gained sig value (2-tailed) (0,00) < (0,05), it can be concluded that both of exercises proved influental toward hasil tendangan long pass kick result. Based on enhancement percentage, plyometric barrier hops exercise was preferable than plyometric knee tuck jump (7,61>1,94). Conclusion: There was an effect from plyometric knee tuck jump and barrier hops exercises, and also plyometric barrier hops exercise preferably aproved than plyometric knee tuck jump toward the result of long pass kick at Junior High School 2 Sokaraja football extracuricular students in Banyumas Regency. Key Words: Plyometric, Knee Tuck Jump, Barrier Hops, Long Pass. | |
| 23150 | 28586 | E1A015074 | CERAI GUGAT BESERTA AKIBAT HUKUMNYA KARENA KURANGNYA NAFKAH BATIN (Tinjauan Yuridis Putusan Pengadilan Agama Cikarang Nomor 1481/Pdt.G/2019/PA.Ckr) | Tujuan perkawinan menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 maupun menurut Kompilasi Hukum Islam dalam kenyataannya sulit untuk diwujudkan, seperti kasus yang terjadi dalam putusan Pengadilan Agama Cikarang Nomor : 1481/Pdt.G/2019/PA.Ckr mengenai cerai gugat beserta akibat hukumnya karena kurangnya nafkah batin. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pertimbangan hukum Hakim dalam mengabulkan cerai gugat beserta akibat hukumnya karena kurangnya nafkah batin pada putusan Pengadilan Agama Cikarang Nomor 1481/Pdt.G/2019/PA.Ckr. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif, spesifikasi penelitian preskriptif analitis, metode pengumpulan data studi kepustakaan dengan inventarisasi data, alaisis data normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertimbangan hukum hakim dalam memutuskan perkara tersebut hanya mendasar pada Pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan jo Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam. Menurut peneliti, sebaiknya Hakim mempertimbangkan Pasal 19 huruf (e) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 dan Pasal 116 huruf (e) Kompilasi Hukum Islam tentang salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau isteri | The purpose of marriage according to Law Number 1 of 1974 and according to the Compilation of Islamic Law in reality is difficult to realize, as in the case that occurred in the decision of the Cikarang Religious Court Number: 1481/Pdt.G/ 2019 /PA.Ckr regarding divorce and legal consequences due to lack of conjugal needs. The formulation of the problem in this research is how the legal considerations of Judge in granting divorce and their legal consequences due to lack of conjugal needs on the decision of the Cikarang Religious Court Number: 1481/Pdt.G/2019/PA.Ckr. The research method used is a normative juridical approach, research specification is an analytical prescriptive, data collection method is library studies with data inventory, and data analysis method is qualitative normative. The results showed that the legal considerations of judge in deciding the case were only based on Article 19 letter (f) of Government Regulation Number 9 of 1975 Concerning the Implementation of Law Number 1 of 1974 ConcerningMarriagein conjunction with Article 116 letter (f) of Compilation of Islamic Law. According to the author, the Judge should consider Article 19 letter (e) of Government Regulation Number 9 of 1975 and Article 116 letter (e) of Compilation of Islamic Law about one of the parties gets a disability or illness due to one of the parties being unable to carry out the obligations as a husband or a wife. | |
| 23151 | 26382 | A1C014041 | ANALISIS KESEDIAAN MEMBAYAR (WILLINGNESS TO PAY) BERAS ORGANIK DI JAKARTA BARAT | Beras organik dianggap sebagai bahan pangan alternatif yang lebih sehat dibandingkan beras anorganik. Beras organik banyak dijual di supermarket maupun toko khusus produk organik yang ada di Jakarta Barat sehingga mudah dijangkau oleh konsumen. Akan tetapi, meskipun mudah dijangkau oleh konsumen, masih banyak konsumen yang terhalang untuk membeli beras organik karena harganya yang lebih tinggi dibandingkan beras anorganik. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menganalisis nilai kesediaan membayar atau willingness to pay (WTP) beras organik; 2) Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kesediaan membayar beras organik. Penelitian dilaksanakan di Jakarta Barat pada bulan Januari hingga April 2019. Sasaran penelitian ini adalah konsumen di Jakarta Barat yang pernah mengonsumsi beras organik dan berumur di atas 18 tahun. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode accidental sampling yang melibatkan 80 orang responden. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, Contingent Valuation Method (CVM) dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden yang pernah mengonsumsi beras organik mayoritas berlatar pendidikan sarjana, sudah menikah dan memiliki jumlah anggota keluarga 1 sampai 4 orang. Selain itu, mayoritas responden berumur 46 – 54 tahun, memiliki pekerjaan sebagai pegawai swasta dengan pendapatan rumah tangga di atas Rp7.500.000,00 dan mayoritas responden juga belum memiliki pengetahuan tentang nilai lingkungan yang secara tidak langsung dihasilkan beras organik. Kemudian, sebanyak 66,25 persen atau 53 orang responden bersedia membayar beras organik dengan harga di bawah Rp25.000,00 per kg. Nilai rataan WTP menghasilkan nilai sebesar Rp24.150,00 per kg yang menunjukkan harga maksimum yang bersedia responden bayarkan untuk beras organik. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai WTP secara positif dan signifikan pada tingkat kepercayaan 95 persen adalah pendapatan rumah tangga dan pengetahuan tentang nilai lingkungan. | Organic rice is claimed as one of staples food alternative choice which is healthier than non-organic rice. Organic rice is available in many modern retails and organic foods’ shops in West Jakarta so that it is affordable enough to be consumed. However, even though it is affordable for consumers, there are still many consumers who are hindered from buying organic rice because the price is higher than non-organic rice. The aims of study were to: 1) Analyze willingness to pay (WTP) for organic rice; 2) Analyze factors affected WTP value of organic rice. This study was conducted in West Jakarta during January to April 2019. The target of this study was consumers in West Jakarta who had consumed organic rice and were over 18 years old. This study involved 80 respondents which were intentionally selected based on their convenience and readiness to be interviewed. The data analysis used were descriptive analysis, Contingent Valuation Method (CVM) and multiple linear regression analysis. The results showed that the characteristics of respondents who had consumed organic rice were from undergraduate education, were married and had a family members less than 4 people. In addition, the majority of respondents’ age were 46 - 54 years old, have job as private employees with household incomes above Rp7.500.000,00 and the majority of respondents also didn’t have knowledge about environmental values which indirectly produced by organic rice. Then, 66,25 percent or 53 respondents were willing to pay for organic rice with the price under Rp25,000.00 per kg. The average value of WTP were Rp. 24,150.00 per kg which shows the maximum price that the respondents is willing to pay for organic rice. Factors that influence WTP value positively and significantly at the 95 percent confidence level were household income and knowledge of environmental values. | |
| 23152 | 28632 | A1H013015 | EVALUASI KETERSEDIAAN DEBIT AIR IRIGASI PADA DAERAH IRIGASI ANDONG BANG KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui debit air tersedia di Daerah Irigasi Andong Bang, Mengetahui jumlah penggunaan air untuk irigasi di Daerah Irigasi Andong Bang, dan Mengevaluasi kebutuhan Rencana Tata Tanam yang sedang berlangsung Jenis penelitian menggunakan metode deskriktif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah sawah irigasi teknis seluas 5126 ha. Teknik pengumpulan data yaitu dari pengumpulan data sekunder, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menemukan sebagai berikut: Debit rata-rata Batang Selo yaitu sebesar 5,41 m3/dt dan debit yang sampai ke saluran irigasi pada saluran primer adalah sebesar 1,56 m3/dt, pada saluran sekunder sebesar 0,024 m3/dt dan saluran tersier 0,0011 m3/dt. Kebutuhan air untuk pertanian yaitu berkisar antara 0,10 m3/dt sampai 0,62 m3/dt untuk masa tanam I dan kebutuhan air untuk masa tanam II yaitu 0,10 sampai 0,57 m3/dt dan untuk pola tanam yang tepat pada daerah penelitian adalah Padi-padi-palawija dengan kebutuhan air pada masa tanam I yaitu 0,12 sampai 0,40 dan untuk kebutuhan air pada masa tanam II yaitu 0,11 sampai 0,42 m3/dt. | This study aims to determine the amount of water available in the Andong Bang Dam, to know the needs of agricultural water in the Andong Bang Irrigation Area. Evaluate the water balance between agricultural water needs and the availability of water in the Andong Bang Irrigation Area. This type of research uses quantitative descriptive methods. The population in this study is a technical irrigation paddy area of 5126 ha. Data collection techniques namely from data collection secondary, observation and documentation. The results of the study found the following: The average discharge of Batang Selo is equal to 5.41 m3 / s and the discharge reaching the irrigation channel in the primary canal is 1.56 m3 / s, the secondary channel is 0.024 m3 / s and the tertiary channel is 0.0011 m3 / s. Water needs for agriculture, ranging from 0.10 m3 / sec to 0.62 m3 / sec for planting period I and water needs for the second planting period is 0.10 to 0.57 m3 / sec and for the right cropping pattern in the area The research is paddy-rice-palawija with water needs during planting I which is 0.12 to 0.40 and for water needs during the second planting period, namely 0.11 to 0.42 m3 / sec. | |
| 23153 | 26383 | A1C014047 | ANALISIS KOMPARATIF USAHATANI KENTANG (Solanum tuberosum L.) PADA LAHAN BEDENGAN SEARAH LERENG DENGAN LAHAN BEDENGAN SEARAH KONTUR DI DESA PANDANSARI KECAMATAN PAGUYANGAN KABUPATEN BREBES | Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan tanaman sumber makanan pokok terbesar di dunia selain padi, gandum dan jagung. Kebiasaan petani dalam menanam kentang di lahan curam searah lereng akan mempercepat laju erosi dan secara tidak langsung akan menyebabkan ketidakpastian pada penerimaan dan pendapatan usahatani kentang. Salah satu cara untuk meminimalisir erosi tersebut yaitu dengan tindakan konservasi seperti membuat pola tanam sejajar kontur terhadap laju erosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) biaya, penerimaan, dan pendapatan usahatani kentang pada lahan bedengan searah lereng dengan lahan bedengan searah kontur, dan (2) membandingkan biaya, penerimaan, dan pendapatan usahatani kentang antara lahan bedengan searah lereng dengan lahan bedengan searah kontur. Penelitian dilaksanakan di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Brebes. Penelitian ini berlangsung selama 3 bulan dari bulan Agustus 2018 sampai Oktober 2018. Sasaran penelitian adalah anggota petani aktif dalam kelompok tani Murgi Tani di Desa tersebut. Metode pengambilan sampel menggunakan kaji tindak. Rancangan percobaan yang digunakan adalah 24 petak tanam pada lahan pola tanam bedengan searah lereng dengan luas lahan 4000m2 dan 48 petak tanam pada lahan pola tanam bedengan searah kontur dengan luas lahan 6000m2. Data dianalisis menggunakan analisis biaya, penerimaan dan pendapatan, analisis kelayakan usahatani, dan uji beda. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerimaan dan pendapatan usahatani kentang dengan pola tanam mengikuti bedengan searah kontur lebih besar dibandingkan pola tanam mengikuti bedengan searah lereng. Hasil uji t menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang nyata terhadap pendapatan usahatani kentang pada lahan bedengan searah lereng dan bedengan searah kontur. | Potato (Solanum tuberosum L.) is one of the largest staple food crops in the world besides rice, wheat, and corn. The habit of farmers in planting potatoes on steep land in the direction of the slope will increase the rate of erosion and indirectly will have an impact on the profit and income of potato farming. One of the efforts to minimize erosion is by conservation measures such as making the cropping pattern parallel of contour to land erosion rate. This research aim to: (1) find out the costs, profits, and incomes of potato farming on land with a slope direction and land with parallel planting pattern of contour, and (2) to compare the costs, profits, and income of potato farming between land with a slope direction and land with parallel planting pattern of contour. This research was carried out in Pandansari village, Paguyangan district, Brebes. The research lasted for 3 months from August 2018 until October 2018. The objects research are farmers who active as member at Murgi Tani farmer association at those villages. The research method used in this research was action research. The research design used 24 planting plots on 4000m2 land with a slope direction and 48 plots on 6000m2 land with parallel planting pattern of contour. Data was analyzed using cost, income, and profit analysis, farming feasibility analysis, and different t-tset analysis. The results showed that the revenue and income of potato farming on land with parallel planting pattern of contour is higher than potato farming on land with a slope direction. T-test result shows that there is a significant difference between the income of potato farming on land with a slope direction and parallel planting pattern of contour. | |
| 23154 | 26384 | L1B015006 | KUALITAS SPERMA IKAN NILEM (Osteochilus hasselti) YANG DISIMPAN PADA MEDIA AIR KELAPA MUDA DAN MADU DENGAN RASIO PENGENCERAN BERBEDA | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sperma ikan nilem (Osteochilus hasselti) yang disimpan pada media air kelapa muda dan madu dengan rasio pengenceran yang berbeda terhadap motilitas, viabilitas, fertilitas dan daya tetas. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dan 4 ulangan yaitu P1 = 1: 10 (1 mL Sperma : 10 mL bahan pengencer), P2 = 1: 15 (1 mL sperma : 15 mL bahan pengencer), dan P3 = 1: 20 ( 1 mL sperma : 20 mL bahan pengencer ) dosis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 99,4% air kelapa muda + 0,6% Madu. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sperma ikan nilem (Osteochilus hasselti) yang disimpan pada media air kelapa muda dan madu selama 7 hari dalam suhu -200C tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) antar perlakuan terhadap motilitas, viabilitas, fertilitas dan daya tetas. | This study aims to determine the effect of sperm nilem (Osteochilus hasselti) stored on the medium of young coconut water and honey with different dilution ratios for motility, viability, fertility and hatchability. This study used an experimental method with Completely Randomized Design (CRD) consisting of 3 treatments and 4 replications, namely P1 = 1: 10 (1 mL Sperm: 10 mL diluent), P2 = 1: 15 (1 mL sperm: 15 mL material diluent), and P3 = 1: 20 (1 mL of sperm: 20 mL of diluent) doses used in this study, namely 99.4% young coconut water + 0.6% honey. The results of this study showed that the sperm of nilem (Osteochilus hasselti) stored in the medium of young coconut water and honey for 7 days at -200C did not have a significant effect (P> 0.05) between treatments for motility, viability, fertility and hatchibility. | |
| 23155 | 26385 | E1A012333 | KEKUATAN PEMBUKTIAN ALAT BUKTI SURAT LABORATORIUM FORENSIK DALAM TINDAK PIDANA NARKOTIKA GOLONGAN 1 (TINJAUAN YURISDIS PUTUSAN PENGADILAN NEGERI REMBANG NOMOR : 2/PID.Sus/2019/PN.RBG) | Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yang pertama, bagaimana kekuatan pembuktian alat bukti surat laboratorium forensik tentang narkotika di persidangan dalam Putusan Nomor 2/Pid.Sus/2019/PN Rembang dan pertimbangan hukum hakim dalam menjatuhkan Putusan Nomor 2/Pid.Sus/2010/PN Rembang. Metodologi penelitian yang digunakan adalah yuridis normative dengan mengunakan data primer .Pengumpulan data berupa studi pustaka .Penyajian dan analisis yang berupa narasi sitematisdan normative kualitatif. Kekuatan pembuktian alat bukti surat laboratorium forensik dalam tindak pidana narkotika golongan 1 Perkara Nomor : 2/Pid.sus/2019/PN.Rbg terhadap alat bukti surat adalahyang apabila ditinjau dari segi formal bahwa alat bukti surat tersebut merupakan keterangan ahli yang dibuat oleh pejabat yang berwenang di atas sumpah jabatandan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku , maka kekuatan pembuktian alat bukti surat dalam putusan tersebut adalah bernilai sempurna . Pertimbangan hokum hakim dalam menjatuhkan Perkara Nomor : 2/Pid.Sus/2019/PN.Rbg menjatuhkan putusan pidana berdasarkan Pasal 183 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menyebutkan bahwa: “Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.” | Based on the description above, the first problem can be formulated, how the strength of proof of forensic laboratory evidence about narcotics in the trial in Decision Number 2 / Pid.Sus / 2019 / PN Rembang and judicial legal considerations in dropping Decision Number 2 / Pid.Sus / 2010 / PN Rembang The research methodology used is normative juridical using primary data. Data collection is in the form of literature study. Presentation and analysis in the form of systematic and normative qualitative narrative.The strength of proof of forensic laboratory evidences in narcotics crime group 1 Case Number: 2 / Pid.sus / 2019 / PN.Rbg against the evidence of letter is that when viewed from a formal perspective that the evidence of the letter is an expert statement made by officials authority over the oath of office and based on the applicable laws and regulations, the strength of proof of evidence in the decision is of perfect value. Judge legal considerations in dropping Case Number: 2 / Pid.Sus / 2019 / PN.Rbg handed down a criminal decision based on Article 183 of Law Number 8 of 1981 concerning Criminal Procedure (KUHAP) states that: "Judges must not convict a person unless, with at least two legal pieces of evidence, he gains the conviction that a crime has actually taken place and that the defendant is guilty of committing it." | |
| 23156 | 26386 | K1B015027 | MODEL REGRESI RIDGE PADA KASUS INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI PROVINSI BANTEN | Salah satu instrumen untuk mengukur tingkat kesejahteraan manusia adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Penggunaan model regresi pada studi kasus data IPM di Provinsi Banten tahun 2017 menunjukkan tidak dipenuhinya asumsi multikolinearitas. Untuk mengatasi masalah multikolinearitas ini, pemodelan data IPM di Provinsi Banten tahun 2017 diselesaikan dengan menggunakan model regresi ridge. Untuk memperoleh hasil yang diharapkan, dalam penelitian ini dilakukan dengan studi pustaka dan studi kasus. Dari model tersebut diperoleh bahwa faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap IPM adalah Angka Harapan Hidup (AHH), Harapan Lama Sekolah (HLS), Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan pengeluaran per kapita yang disesuaikan. | One of the instruments to measure the level of human welfare is the Human Development Index (HDI). The use of regression models in the case study of HDI data in Banten Province in 2017 shows that the multicollinearity assumption is not fulfilled. To overcome this multicollinearity problem, the modeling of HDI data in Banten Province in 2017 was completed using the ridge regression model. To receive the expected results, this research was conducted with literature studies and case studies. From these models obtained factors that significantly influence the HDI are Life Expectancy, School Length Expectation, School Length Average and published per capita adjusted. | |
| 23157 | 26387 | F1C012033 | Analisis Framing Pemberitaan Isu Kebocoran Anggaran APBN dalam Media Online (Studi Kasus Isu Kebocoran Anggaran APBN pada Tempo.co dan Mediaindonesia.com periode Februari 2019) | Perkembangan teknologi saat ini telah semakin berkembang. Kebutuhan akan informasi atau berita semakin banyak. Hal ini tentu menjadikan semakin signifikan peran media dalam memberikan informasi. semakin signifikan peran media kemudian dimanfaatkan beberapa pemilik kekuasaan dalam mencapai tujuan mereka baik itu menojolkan suatu kelompok atau menghilangkan peran suatu kelompok. Framing sebagai salah satu strategi yang sering digunakan media dalam memberitakan isu untuk mencapai tujuan atau kepentingan media. Media online adalah salah satu media yang saat ini menjadi referensi masyarakat dalam mendapatkan informasi. Awal Februari muncul isu adanya kebocoran anggaran APBN yang mencapai 25% atau 500 triliun rupiah. Isu ini muncul berawal dari pidato Prabowo Subianto dalam acara ulang tahun Federasi Serikat Buruh Metal Indonesia di Sport Mall Jakarta, Rabu 06 Februari 2019. Hal ini tentu saja menarik perhatian masyarakat mengingat APBN merupakan satuan anggaran yang menentukan seluruh wilayah indonesia. Tempo.co dan Mediaindonesia.com menjadi salah satu media yang gencar memberitakan isu tersebut. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui serta menjelaskan framing pemberitaan isu kebocoran anggaran APBN di media online Tempo.co dan Media Indonesia periode Februari 2019. Jenis penelitian ini deskriptif kualitatif, dengan menggunakan analisis framing model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tempo.co terlihat lebih bersikap netral dan objektif sedangkan Mediaindonesia.com lebih memihak pemerintah. Cara mengonstruksi berita dari Tempo adalah mengkonstruksikan bahwa memang benar terjadi kebocoran anggaran namun besarnya tidak mencapai 25%, sedangkan Mediaindonesia memaparkan opini bahwa klaim Prabowo tentang kebocoran anggaran mencapai 25% adalah mengada-ada dan berlebihan. | Recently, technology keeps evolving, including more demand of information and news. This phenomenon causes the shift of media role to share information as it becomes more necessary and used by authority to reach their goal by showing some group or removing some group role. Framing, as a common strategy media usually use to expose some issues to pursue their goals. Online media is an influential media to gain information in today’s society. In the beginning of February, the issue of leaked APBN in the amount of 25% or 500 trillion rupiah emerged. It was all started with Prabowo Subianto’s speech at Federasi Serikat Buruh Metal Indonesia anniversary at Sport Jakarta Mall on Wednesday February 6th 2019. The issue certainly attracted Indonesians because APBN is a national budget that allocated for all of Indonesian provinces. Tempo.co and Mediaindonesia.com became media that rapidly spread this issue.The purpose of this study is to understand and explain how Tempo.co and Mediaindonesia.com framed the issue of leaked APBN on February 2019. This study use descriptive qualitative method with Zhongdang Pan and Gerald M. Kosicki framing models for analyzing the news. The result of this study shows that Tempo.co tried to be neutral and objective while Mediaindonesia.com was in government side. Tempo constructed the information to show there is leaked budget but it didn’t reach 25%. Meanwhile, Mediaindonesia tried to explain their opinions that Prabowo’s speech about leaked budget reach 25% is an exaggerate. | |
| 23158 | 26388 | J1D015027 | Pelanggaran Prinsip Kerja Sama dan Prinsip Kesantunan dalam Talk Show Kick Andy: Mendobrak Keterbatasan. Edisi 29 Juni 2018 | Penelitian ini berjudul “Pelanggaran Prinsip Kerja Sama dan Prinsip Kesantunan dalam Talk Show Kick Andy: Mendobrak Keterbatasan. Edisi 29 Juni 2018”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pelanggaran prinsip kerja sama Grice dan prinsip kesantunan Leech dalam talk show tersebut. Bentuk penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif, dengan data berupa transkripsi tuturan ke bentuk kalimat dari tuturan yang mengandung pelanggaran prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan pada tuturan dalam Talk Show Kick Andy: Mendobrak Keterbatasan. Pada metode pengumpulan data, peneliti menggunakan metode simak dengan teknik dasar berupa teknik sadap dan teknik lanjutan berupa teknik simak bebas libat cakap dan teknik catat. Metode analisis data yaitu metode padan dengan teknik dasar berupa teknik pilah unsur penentu dan teknik lanjutan berupa teknik hubung banding memperbedakan. Berdasarkan penelitian, ditemukan 33 data dengan 48 pelanggaran. Pada prinsip kerja sama Grice ditemukan sebanyak 20 pelanggaran. Pada prinsip kesantunan Leech ditemukan sebanyak 28 pelanggaran. Adanya pelanggaran yang ditemukan menunjukkan beberapa tuturan dalam talk show Kick Andy berjudul Mendobrak Keterbatasan cenderung tidak kooperatif dan tidak santun sehingga menyimpang dari hakikat talk show yang merupakan acara yang berkualitas dan mendidik menurut responden. Implementasi hasil penelitian ini yaitu dapat digunakan sebagai soal latihan tentang pematuhan dan pelanggaran tuturan yang santun dan objektif. Hal ini agar siswa dapat mengerti batasan antara tuturan yang kooperatif dan santun dengan tuturan yang melanggarnya sehingga siswa dapat mengungkapkan tanggapan atau kritik dengan cara yang baik. | This research is entitled “Violation of The Cooperative Principle and Politeness Principles in Kick Andy’s Talk Show: Mendobrak Keterbatasan. June 29, 2019 edition”. This study aimed at describing the form of violations of the Grice’s cooperative principle and Leech’s politeness principles in the talk show. This research used descriptive qualitative method, while the source of data used is the speech transcription to sentence forms directed from the speechs containing violations of the cooperative principle and the politeness principle in Kick Andy’s Talk Show: Mendobrak Keterbatasan. Data collection technique were done by using the observation method with basic technique of tapping technique and the advanced techniques of non-participate observation technique and note taking technique. Data analysis method is an identity method by using determinant sorting technique as the basic and the technique of comparing to distinguish them as the continuation. Based on the research, there are 48 violations in 33 data. In the Grice’s cooperative principle, there are 20 violations. While based on the Leech’s politeness principle, there are 28. The violations found, shows that some utterances in the Kick Andy talk show entitled Mendobrak Keterbatasan and they tend to be uncooperative and impolite, so they deviate the nature of talk show quality and educational programs according to respondents. The implementation of the results of this study can be used as practice questions about compliance and violations of polite and objective speech. This will help students understand the boundary between cooperative and polite speech, also the speech that violates in order to express their responses or criticisms in good way. | |
| 23159 | 28587 | E1A015190 | ¬¬CERAI GUGAT BESERTA AKIBAT HUKUMNYA KARENA SUAMI MENINGGALKAN SELAMA DUA TAHUN BERTURUT-TURUT (Tinjauan Yuridis Putusan Pengadilan Agama Serang Nomor 1301/Pdt.G/2018/PA.Srg) | Sudah menjadi kodrat bahwa manusia sejak dilahirkan mempunyai kecenderungan untuk hidup bersama di dalam suatu pergaulan hidup, dimana pergaulan hidup yang akrab antara manusia dipersatukan dengan cara-cara tertentu oleh hasrat kemasyarakatan mereka. Hasrat yang dimiliki manusia mendorong manusia untuk mencari pasangan hidup yaitu dengan membentuk suatu keluarga dengan adanya ikatan perkawinan. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 merumuskan bahwa ikatan suami isteri berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, perkawinan merupakan perikatan yang suci. Tidak setiap perkawinan akan mencapai tujuan yang diharapkan sehingga terjadilah perceraian yang berakibat putusnya hubungan suami istri yang berdampak pada status masing-masing pihak. Didalam penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan terdapat asas perkawinan yang salah satunya adalah asas mempersukar terjadinya perceraian. Salah satu contoh alasan terjadinya perceraian adalah Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya. Dalam penelitian ini peneliti menganalisis bagaimana pertimbangan hukum hakim dalam memutus cerai gugat pada putusan Nomor : 1301/Pdt.G/2018/PA.Srg dan bagaimana akibat hukum dari cerai gugat tersebut, dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif dihasilkan dua kesimpulan. Pertama, bahwa Pertimbangan hukum hakim dalam memutus cerai gugat didasarkan pada Pasal 39 ayat (2) Penjelasan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 jo Pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam. Hendaknya dalam pertimbangan hukum hakim dilengkapi dengan menambahkan juga Pasal 39 ayat (2) huruf (b) Penjelasan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Kedua, akibat hukum dari cerai gugat ini hakim menjatuhkan talak satu ba’in sughra Tergugat terhadap Penggugat, yang menimbulkan akibat hukum bahwa suami boleh kembali pada isteri akan tetapi dengan syarat harus ada akad nikah baru dan mahar baru serta bagi isteri boleh menikah dengan pria lain. | It is natural that humans from birth have a tendency to live together in a social association, where the close association of life between humans is united in certain ways by their social desires. Desires possessed by humans encourage humans to look for a life partner that is by forming a family with marriage ties. Law Number 1 of 1974 formulates that the bond of husband and wife is based on the Almighty God, marriage is a sacred engagement. Not every marriage will achieve the expected goals so that there will be a divorce which results in the breaking up of the marital relationship which affects the status of each party. In the general explanation of Law Number 1 of 1974 concerning Marriage there is the principle of marriage, one of which is the principle of making it difficult to divorce. One example of the reason for divorce is that one party leaves the other party for 2 (two) years in a row without the permission of the other party and without a valid reason or for anything else beyond its ability. In this study, researchers analyzed how the legal considerations of judges in deciding divorce in decision Number: 1301 / Pdt.G / 2018 / PA.Srg and how the legal consequences of the divorce, using normative juridical research methods produced two conclusions. First, that judges' legal considerations in deciding divorce are based on Article 39 paragraph (2) Explanation of Law Number 1 of 1974 jo Article 19 letter (f) Government Regulation Number 9 of 1975 jo Article 116 letter (f) Compilation of Islamic Law. The judges' legal considerations must be supplemented by adding Article 39 paragraph (2) letter (b) of the Explanation of Law Number 1 of 1974. Secondly, due to the legal consequences of this divorce the judge dropped divorce one ba'in sughra Defendant against the Plaintiff, which caused due to the law that the husband may return to his wife but on condition that there must be a new marriage contract and new dowry and for the wife may marry another man. | |
| 23160 | 26390 | D1E014183 | Tingkat Kesejahteraan Peternak Sapi Potong di TPA Jatibarang Semarang | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur peternak, pendidikan, dan jumlah pemilikan ternak terhadap tingkat kesejahteraan peternak sapi potong di TPA Jatibarang Semarang. Metode penelitian menggunakan metode survei. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dengan responden, berdasarkan kuisioner yang telah dipersiapkan dan observasi. Pengambilan sampel wilayah dilakukan dengan purposive sampling. Sampel responden diambil secara acak sebanyak 20% dari jumlah total 200 peternak di Kelurahan Kedungpane. Analisis data menggunakan analisis Nilai Tukar Pendapatan Rumah Tangga Peternak (NTPRP) dan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, rata - rata umur peternak adalah 51,175 tahun, rata - rata lama pendidikan peternak 6 tahun, rata - rata jumlah pemilikan ternak sebanyak 6,86 ST dan mayoritas peternak sapi potong telah sejahtera dengan rata – rata nilai NTPRP sebesar 2. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan umur peternak tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat kesejahteraan peternak, dengan nilai koefisien sebesar 0,002. Lama pendidikan berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat kesejahteraan peternak, dengan nilai koefisien 0,073. Jumlah pemilikan ternak berpengaruh signifikan terhadap tingkat kesejahteraan peternak, dengan nilai koefisien sebesar 0,019. Nilai R2 yaitu 0,384; variasi kesejahteraan peternak mampu dijelaskan oleh variasi umur peternak, pendidikan peternak dan jumlah pemilikan ternak sebesar 38,4%. | This research aims to determine the influence of farmers’ age, education, and the number of livestock ownership on the welfare level of beef cattle farmers in the Jatibarang landfill Semarang. The research method uses the survey method. Data was collected by interviews with respondents, based on the prepared questionnaire and observations. Regional samples were taken by purposive sampling. Respondent samples were taken randomly as much as 20% of the total 200 farmers in Kedungpane Village. Data analysis used the analysis of Farmer Household Revenue Exchange (NTPRP) and multiple regression analysis. The results showed that the average age of farmers was 51,175 years, the average length of farmers’ education was 6 years, the average number of livestock ownership was 6.86 ST and the majority of farmers were prosperous beef cattle. The results of multiple regression analysis showed that the age of the farmer does not significantly influence the welfare levelof the farmer, the coefficient value is 0.002. The duration of education has a significant effect on the welfare level of farmers, the coefficient value is 0.073. The number of livestock ownership has a significant effect on the welfare level of farmers, the coefficient value is 0.019. R2 value is 0.384; variations in farmers’ welfare can be explained by variations in the age of farmers, farmer education and number of livestock ownership by 38.4%. |