Artikelilmiahs
Menampilkan 23.201-23.220 dari 51.900 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 23201 | 26422 | K1A015047 | Optimasi Sintesis Perak N-metil Kitosan dan Uji Aktivitas Antimikroba | Perak diketahui memiliki potensi sebagai senyawa antimikroba. N-metil kitosan merupakan salah satu turunan kitosan yang memiliki aktivitas antimikroba yang lebih baik dibandingkan kitosan. Penelitian ini dilakukan sintesis perak N-metil kitosan dengan berbagai variasi perbandingan mol antara N-metil kitosan dengan AgNO3 yang ditambahkan serta dilakukan variasi waktu sintesis. Perak N-metil kitosan dikarakterisasi dan diuji aktivitasnya dengan metode difusi dan total plate count. Berdasarkan hasil karakterisasi, spektra IR perak N-metil kitosan menunjukkan terjadi perubahan intensitas. Variasi sintesis perak N-metil kitosan kemudian diuji aktivitas antimikroba terhadap bakteri S. aureus, dan E. coli serta jamur C. albicans. Zona hambat terbesar yang diperoleh yaitu pada sampel perak N-metil kitosan dengan variasi mol terbesar dan variasi waktu optimum. Selanjutnya sampel perak N-metil kitosan yang memiliki zona hambat terbesar ditentukan nilai KHM dan KBM terhadap bakteri S. aureus & E. coli dan jamur C. albicans. | Silver is known to have potential as an antimicrobial compound. N-methyl chitosan is one of chitosan derivatives which has better antimicrobial activity than chitosan. This research was synthesized silver N-methyl chitosan with various variations of mole ratio between N-methyl chitosan & AgNO3 added and variations in synthesis time. Silver N-methyl chitosan was characterized and tested for its activity by diffusion method and total plate count. Based on the results of characterization, IR silver spectra of N-methyl chitosan showed a change in intensity. The synthesis of silver N-methyl chitosan was then tested for antimicrobial activity against S. aureus, and E. coli and C. albicans. The biggest inhibition zone obtained is in the sample silver N-methyl chitosan with biggest variations of mole ratio and a time variation optimum. Then, sample silver N-methyl chitosan that has biggest inhibition zone was determined the value of MIC, MBC and MFC for S. aureus, E. coli and C. albicans. | |
| 23202 | 26431 | J1D015010 | Implikatur Percakapan dalam Novel Ayah karya Andrea Hirata | Penelitian yang berbentuk deskriptif kualiatif ini mengkaji pelanggaran bidal dalam prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan, serta makna tersirat dalam tuturan tokoh. Data yang digunakan berupa tuturan yang mengandung pelanggaran prinsip kerja sama dan kesantunan, makna tersirat dalam tuturan yang mengandung pelanggaran, dan konteks yang melingkupi. Data-data tersebut diperoleh dari sumber data berupa novel Ayah karya Andrea Hirata. Adapun metode yang digunakan dalam pemerolehan data, yaitu metode simak menggunakan teknik dasar sadap dan teknik lanjutan simak bebas libat cakap (SBLC). Peneliti kemudian menganalisis data yang telah diperoleh menggunakan metode padan dengan daya pilah pragmatis. Teknik dasar metode padan yang digunakan adalah Pilah Unsur Penentu (PUP) dan menggunakan metode informal dalam penyajian hasil analisis data. Berdasarkan analisis data, terdapat pelanggaran pada setiap bidal dalam prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan. Pelanggaran bidal yang paling sering muncul, yaitu pelanggaran bidal keperkenaan. Adapun bidal yang paling sedikit mengandung pelanggaran, yaitu bidal cara. Adanya pelanggaran bidal-bidal tersebut menjadi penyebab munculnya implikatur percakapan dalam novel Ayah karya Andrea Hirata. Namun, adanya pelanggaran tersebut dapat memberikan manfaat bagi pembaca, khususnya bagi siswa. Pengkajian terhadap pelanggaran prinsip kerja sama dapat menambah wawasan mengenai prinsip-prinsip yang seharusnya digunakan dalam kegiatan bercakap-cakap. Kata kunci: pragmatik, pelanggaran, prinsip kerja sama, prinsip kesantunan, implikatur | This descriptive qualitative research-typed analyzes the maxim violations in cooperative and politeness principles, as well as the implicit meaning within the character’s speech. The data used in this research are the speech that contains the violations of cooperative and politeness principles, implicit meaning within the speech that contains violation, and its context. Those data were obtained from the source of data which is Ayah’s novel by Andrea Hirata. The method used in data acquisition are observation method by using tapping basic technique and Non-Participate Observation Technique (SBLC) of competent involvement. The data gotten for the research are then analyzed by using identity method with pragmatics sorting. Basic technique of equal method used is Selecting the Determinant Elements (PUP) and using informal method in serving the result of data analysis. Based on the data analysis, there is violation in every maxim of cooperative and politeness principles. The maxim violation which mostly occurs is approbation maxim violation. Besides, the maxim violation that contains the least violation is maxim of manner. Those maxims violations is the cause of conversational implicature in Ayah’s novel by Andrea Hirata. However, those violations can give some advantages for the readers, especially for the students. The study of cooperative principle violations can give more insights concerning the principles that have to be used in conversation. This knowledge is then applied in daily life. Keywords: pragmatics, violation, cooperative principles, politeness principles, implicature. | |
| 23203 | 26424 | F1C015023 | Identity Playing oleh Remaja Pelaku Role Player di Twitter | Fenomena cairnya identitas ini merupakan fenomena yang dapat ditemui dalam dunia virtual. Dalam dunia virtual, siapapun dapat menjadi siapa saja karena dalam dunia virtual dapat berbuat apa saja dengan bebas tanpa adanya batasan dan aturan. Salah satu contoh cairnya identitas adalah permainan dalam Twitter yaitu role player. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana representasi remaja pengguna akun role player dan motivasinya dalam bermain playing identity dan role player dalam Twitter. Sasaran penelitian adalah remaja pemilik akun role player. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Hiperrealitas. Penelitian ini menggunakan model penelitian etnografi virtual dengan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini sebanyak tiga orang dengan menggunakan teknik purposive sampling. Metode analisis data dari Miles dan Huberman, serta validitas data menggunakan triangulasi metode. Hasil penelitian ini yaitu: informan penelitian mengetahui bahwa role player merupakan salah satu contoh dari cairnya identitas dalam dunia virtual. Para informan merasa menjadi dirinya sendiri walaupun menggunakan identitas orang lain dalam role player. Role player dijadikan tempat pelarian disaat mereka jenuh dengan dunia nyata dan mereka menjadi nyaman dengan identitas palsu tersebut. | The phenomenom identity fluidity can we find on virtual world. On virtual world, everybody can be anybody and they can do everything that they want. The example to identity fluidity on Twitter are role player. This study aims to find out how adolescent representation that haved role player account and their motivation to play with that on Twitter. The target on this study was adolescent who had role player account. The theory used in this study is Hyper reality Theory. This study uses virtual etnography with qualitative methods. The technique of collecting data uses in-depth interviews, observation, and documentation. The informants in this study were three people using purposive sampling. Data analysis methods from Miles and Huberman, as well as data validity using method triangulation. The result of this study are: the informants aware that role player were one example of identity fluidity on virtual world. They feel that they would be themself on virtual world although they are using others identity. They are using role player account for run from reality, from their real life and they feel comfortable with that fake identity. | |
| 23204 | 28783 | G1A016037 | AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus | Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri yang paling sering menyebabkan infeksi. Antibiotik sebagai pilihan terbaik untuk menanggulangi infeksi. S. aureus dapat menjadi resisten akibat penggunaan antibiotik yang kurang tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan rancangan penelitian posttest only control group design. Penelitian ini menggunakan Staphylococcus aureus ATCC 25923 koleksi laboratorium Mikrobiologi FK Unsoed. Sampel dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan konsentrasi 20%, 40%, 60%, dan 80% lalu dibandingkan dengan kelompok kontrol akuades dan etanol sebagai kontrol negatif serta cefoxitin sebagai kontrol positif. Hasil diperoleh dengan mengukur zona hambat disekitar paper disc menggunakan penggaris. Hasil uji menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak buah mengkudu, maka zona hambat pertumbuhan S. aureus semakin besar. Hasil analisis menggunakan Kruskal-Wallis menunjukkan terdapat perbedaan bermakna signifikan secara statistik (p<0.05) pada kelompok uji. Analisis lanjutan dengan Post hoc Mann-Whitney didapatkan perbedaan bermakna signifikan (p<0.05) antara kontrol akuades, etanol, cefoxitin dengan perlakuan konsentrasi 40%, 60%, dan 80%. Antar kelompok konsentrasi 20%, 40%, 60%, dan 80% juga diperoleh nilai p<0.05 yang menunjukkan terdapat perbedaan bermakna signifikan kecuali pada konsentrasi 40% dengan 60% tidak ada perbedaan bermakna signifikan (p>0.05). Sedangkan antara kontrol akuades dan etanol dengan konsentrasi 20% tidak terdapat perbedaan bermakna signifikan (p>0,05). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak buah mengkudu mempunyai aktivitas antibakteri terhadap bakteri S. aureus. Pada konsentrasi 40%, 60%, dan 80%, diperoleh rerata luas zona hambat 8,7mm, 10,8mm, dan 16,9mm yang menunjukkan bahwa pada konsentrasi tersebut sudah mampu menghambat namun belum menunjukkan konsentrasi yang efektif. | Staphylococcus aureus is one of the bacteria that most often causes infections. Antibiotics as the best choice for tackling infections. Staphylococcus aureus can be resistant to inappropriate use of antibiotics. The purpose of this study was to study the antibacterial activity of noni fruit (Morinda citrifolia L.) extract in inhibiting the growth of S. aureus bacteria. This study is an experimental study with a posttest only a control group research design. This study uses the Staphylococcus aureus ATCC 25923 collection from the Laboratory of Microbiology FK Unsoed. Samples were divided into 4 treatment groups with concentrations of 20%, 40%, 60%, and 80% and compared with the control group of distilled water and ethanol as a negative control and cefoxitin as a positive control. Results are obtained by measuring the inhibition zone around the paper disc using a ruler. The test results showed that the higher the concentration of noni fruit extract, the greater the zone of S. aureus growth inhibition. The results of the analysis using Kruskal-Wallis showed that there were statistically significant differences (p<0.05) in the test group. Further analysis with Post hoc Mann-Whitney found significant differences (p<0.05) between aquades, ethanol, cefoxitin control with concentrations of 40%, 60%, and 80%. Between groups of concentrations of 20%, 40%, 60%, and 80% also obtained values of p <0.05 which showed there were significant significant differences except at concentrations of 40% with 60% there were no significant differences (p> 0.05). While between aquades and ethanol control with a concentration of 20% there was no significant difference (p>0.05). The conclusion of this study shows that noni fruit extract has antibacterial activity against S. aureus bacteria. At concentrations of 40%, 60%, and 80%, the average inhibition zone area of 8,7mm, 10,8mm, and 16,9mm was obtained, which showed that the concentration was able to inhibit but had not shown an effective concentration. | |
| 23205 | 26427 | D1E012090 | PERBANDINGAN PERSEPSI PETERNAK SAPI PERAH TERHADAP PENDIRIAN KOPERASI SUSU DI KABUPATEN BANJARNEGARA DAN WONOSOBO | Koperasi susu sangat diperlukan untuk mengembangkan sektor peternakan agar lebih baik, di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo belum ada Koperasi susu sehingga diperlukan pengetahuan tentang persepsi peternak di wilayah tersebut untuk menjadi acuan pendirian koperasi susu. Penelitian bertujuan untuk mengetahui persepsi peternak terhadap pendirian koperasi susu, dan membandingkan persepsi pendirian koperasi susu di Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo. Penelitian menggunakan metode survey. Pengambilan sampel wilayah dilakukan secara purposive sampling yaitu kecamatan yang memiliki populasi peternak sapi perah di Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo. Kecamatan terpilih di wilayah Kabupaten Banjarnegara adalah kecamatan Wanadadi, Rakit, Pajawaran, dan Wanayasa. Serta wilayah Kabupaten Wonosobo yang terpilih adalah kecamatan Selomerto, Wonosobo, Kertek, Kejajar dan Kalikajar. Pengambilan sampel responden dilakukan secara sensus sebanyak 98 peternak. Analasis yang digunakan adalah analisis deskriptif, Rank Spearman, dan Uji-t. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tidak ada perbedaan persepsi tentang pendirian koperasi susu antara peternak di Kabupaten Banjarnegara dengan peternak di Kabupaten Wonosobo, dan persepsi di kedua kabupaten tersebut dinilai baik terhadap pendirian koperasi susu. | Dairy cooperatives is needed to develop the livestock sector for the better, in the district of Banjarnegara and Wonosobo no dairy cooperatives so that the necessary knowledge about the perception of farmers in the region to be a reference establishment of dairy cooperatives. The study aims to determine the perception of farmers towards the establishment of dairy cooperatives, and to compare the perception of the establishment of dairy cooperatives in Banjarnegara and Wonosobo. The study used a survey method. Sampling was done by purposive sampling region is sub-district which has a population of dairy farmers in Banjarnegara and Wonosobo. Selected Subdistrict namely the district of Banjarnegara Wanadadi subdistrict, Raft, Pajawaran, and Wanayasa. As well as the selected region Wonosobo regency subdistricts Selomerto, Wonosobo, Kertek, Kejajar and Kalikajar. Sampling was done by census respondents in the two districts with the number of farmers as much as 98 farmers. Analasis used is descriptive analysis, Spearman Rank, and t-test. These results indicate that there are no differences in perception regarding the establishment of dairy cooperatives among farmers in Banjarnegara with farmers in Wonosobo and perceptions of the two districts is rated as good to the establishment of dairy cooperatives. | |
| 23206 | 26432 | F1C015009 | ANALISIS IDEOLOGI DALAM FILM AVENGERS INFINITY WAR | Film merupakan salah satu media penyampai pesan, juga hiburan, namun bukan hanya itu film juga dapat menjadi media penyampai ideologi,nilai,juga budaya yang dapat memberikan dampak negatif juga positif bahkan merubah perilaku. Film Avengers Infinity War adalah film yang menceritakan karakter villain Thanos untuk menghentikan kehancuran dunia dari overpopulation dengan cara melakukan penghancuran setengah populasi dunia. Fokus penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengembangan karaker Villain serta mendeskripsikan ideologi yang terdapat dibalik film Avengers Infinity War dengan menggunakan paradigma kritis, jenis penelitian kualitatif dan sifat penelitian deskriptif serta menggunakan metode analisis naratif Vladmir Propp. Penelitian ini menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud dan teori simbol Susanne langer . Hasil penelitian ini menunjukan karakter Thanos merupakan karakter id dan merupakan character development yakni karakter yang memiliki perkembangan kepribadian. Dalam perkembangan kepribadian Thanos menggunakan beberapa mekanisme pertahanan untuk meredakan konfik,juga ketegangan serta kecemasan yang dialaminya yaitu rasionalisasi, fixasi, displacement dan reaction formation. Ideologi sebenarnya dibalik film Avengers Infinity War adalah ideologi kapitalisme yang direpresentasikan oleh Thanos. Film ini juga berisi pesan kritik terhadap kapitalisme. | Film is one of the media to deliver messages, as well as entertainment, but not only that film can also be a medium to deliver ideology, values, and culture that can have a negative and positif impact as well as even change behavior. Avengers Infinity War is a film that tells the villain character Thanos to stop the destruction of the world from overpopulation by destroying half the world's population. The focus of this researchis to describe the development of the character of Villain and describe the ideology behind the Avengers Infinity War film by using a critical paradigm, qualitative research types and the nature of descriptive research and using Vladmir Propp's narrative analysis method. This research uses Sigmund Freud's psychoanalytic theory and Susanne Langer's symbol theory. The results of this study indicate Thanos is an id character and is a character development that is a character that has a personality development. In the development of Thanos's personality, he uses several defense mechanisms to ease conflicts, as well as the tensions and anxiety he experiences, namely rationalization, fixation, displacement and reaction formation. The real ideology behind the movie of Avengers Infinity War is the ideology of capitalism represented by Thanos . This film also contains a message of criticism of capitalism. | |
| 23207 | 26441 | F1C015020 | Dramaturgi Anggota Kelompok Arisan Rempongers di Purwokerto | Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage) dari anggota kelompok arisan rempongers di Purwokerto. Penelitian ini menggunakan teori dramaturgi dan beberapa konsep lainnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan model fenomenologi. Informan penelitian ditentukan dengan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis data Miles dan Huberman. Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa panggung depan (front stage) dari anggota kelompok arisan rempongers terlihat aktif dan komunikatif dengan penampilan yang rapih dan menarik dengan didukung oleh penggunaan aksesoris serta make up yang cukup menonjol. Sedangkan ketika berada di panggung belakang (back stage), mereka terlihat menunjukkan diri yang apa adanya tanpa dibatasi oleh hal-hal tertentu dengan penampilan yang santai dan sederhana. Selanjutnya proses penggunaan dan pemaknaan simbol-simbol dalam kelompok arisan rempongers ditunjukkan melalui proses pengelolaan kesan (management impression) dengan penampilan diri mereka secara non verbal. Dari hasil penelitian juga dapat diketahui bahwa latar belakang masing-masing informan sebagai anggota kelompok arisan rempongers yaitu karena adanya faktor kesamaan (similarity) dan kebutuhan emosional. | This research was conducted to find out how the front stage and the back stage of members of the rempongers arisan group in Purwokerto. This research uses dramaturgy theory and several other concepts. This research uses descriptive qualitative method with a phenomenological model. Research informants were determined by purposive sampling. Data collection is done by conducting interviews, participatory observation, and documentation. Data analysis was performed using data analysis of Miles and Huberman. From the results of the study, it can be seen that the front stage of the members of the arisan rempongers group looks active and communicative with a neat and attractive appearance supported by the use of accessories and makeup that is quite prominent. Whereas when they are on the back stage, they seem to show themselves as they are without being limited by certain things with a relaxed and simple appearance. Furthermore, the process of using and interpreting the symbols in the rempongers social gathering group is shown through the process of managing impressions with their non-verbal appearance. From the results of the study it can also be seen that the background of each informant as a member of the rempongers arisan group is due to the similarity factor and emotional needs. | |
| 23208 | 26429 | F1G013021 | LEKSIKON PADA PROSESI RITUAL ADAT KESRIPAHAN DI KECAMATAN SUSUKAN KABUPATEN BANJARNEGARA (KAJIAN ETNOLINGUISTIK) | Penelitian ini berjudul “Leksikon pada Prosesi Ritual Adat Kesripahan di Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara (Kajian Etnolinguistik)”. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan makna leksikal dan makna kultural pada leksikon ritual adat kesripahan, serta mendeskripsikan refleksi budaya yang terdapat dalam masyarakat Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara berdasarkan leksikon ritual adat kesripahan. Bentuk penelitian berupa deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode simak dan metode cakap. Metode simak dilakukan dengan teknik dasar sadap dan teknik lanjutan simak libat cakap. Metode cakap dilakukan dengan teknik dasar pancing dan teknik lanjutan cakap semuka. Data dianalisis dengan metode padan yakni metode padan intralingual dan metode padan ekstralingual. Metode padan intralingual digunakan untuk mengetahui makna secara leksikal, sedangkan metode padan ekstralingual digunakan untuk menganalisis unsur yang bersifat ekstralingual, seperti mendeskripsikan makna kultural dan refleksi budaya berdasarkan leksikon prosesi ritual adat kesripahan. Kedua metode padan tersebut diikuti dengan teknik dasar pilah unsur penentu (PUP) dan teknik lanjutan berupa teknik hubung banding menyamakan hal pokok (HBSP). Berdasarkan penelitian, leksikon yang terdapat pada prosesi ritual adat kesripahan antara lain: (1) nyuceni jisim “menyucikan jenazah”; (2) ngulesi “membungkus jenazah”; (3) nguntabna jisim “melepas kepergian”; (4) nyarekake jisim “mengubur jenazah”; dan (5) nyur tanah “balas jasa”. Makna leksikal dan makna kultural dari setiap leksikon yang ada, merefleksikan wujud kebudayaan antara lain: (1) sistem organisasi sosial, berupa konsep hormat dan etika; (2) sistem religi, berupa sistem kepercayaan dan konsep ketuhanan; dan (3) sistem pandangan hidup, berupa pola pikir dan kontinyuitas hidup. | This research titled "Lexicon in the Process of Ritual Indigenous Peoples in Susukan Subdistrict, Banjarnegara District (Ethnolinguistic Study)". The aim of the research was to describe the lexical and cultural meanings of the lexicon of traditional ritual kesripahan and to describe the cultural reflections of the comunity on Susukan Subdistrict of Banjarnegara District base on the lexicon of tradition ritual kesripahan. The form of research is qualitative descriptive. The method for collecting data was cakap method and simak method. Simak method was done with basic techniques sadap and continued with simak libat cakap. Cakap method was done with basic techniques pancing and continued with cakap semuka. Data was analyzed by using the padan method, that is intralingual method and extralingual method. The intralingual method was used to understand the lexical meaning, while the extralingual method is used to describing cultural meaning and cultural reflection through the lexicon of the ritual tradition kesripahan. Both of the method is followed by the basic technique Pilah Unsur Penentu (PUP) and the advanced technique the Hubung Banding Menyamakan Hal Pokok (HBSP). Based on the research, the lexicon found in the procession of the traditional rituals of kesripahan, among others: (1) nyuceni jisim "cleanse the body"; (2) ngulesi "wrapping the body"; (3) nguntabna "letting go"; (4) nyarekna "buried"; and (5) nyur tanah "return the ground ". The lexical meaning and cultural meaning of each existing lexicon reflect cultural manifestations, including: (1) the system of social organizations, in the form of concepts of respect and ethics; (2) religious systems, consisting of belief systems and the concept of God; and (3) life thought systems, consisting of thought patterns and life continuity. | |
| 23209 | 26435 | F1C015011 | Komunikasi Terapeutik dalam Menanggulangi Kecanduan Narkoba (Studi Kasus di Balai Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan NAPZA “Satria” Baturraden) | Proses rehabilitasi yang dilakukan oleh konselor dan pekerja sosial terhadap residen di BRSKP “Satria” merupakan sebuah bentuk komunikasi terapeutik. Peneliti menggunakan komunikasi terapeutik di BRSKP “Satria”. Selain itu terdapat komunikasi interpersonal yang terjadi antara konselor dan pekerja sosial dengan residen di balai. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan komunikasi terapeutik digunakan untuk melakukan kegiatan rehabilitasi di BRSKP “Satria”. Selanjutnya, penelitian ini digunakan untuk mengetahui hambatan serta dorongan residen untuk sembuh dalam kaitannya dengan proses rehabilitasi. Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menggambarkan tahapan komunikasi terapeutik konselor dan pekerja sosial terhadap residen dalam proses rehabilitasi sosial yang terdiri dari beberapa tahap. Tahap yang pertama merupakan tahap pra-interaksi yang diawali dengan tahap awal yaitu penjangkauan dan pengambilan data oleh residen di BRSKP. Tahap orientasi dilakukan dengan perkenalan residen dengan konselor beserta pekerja sosial. Terjadi dalam ruang observasi. Tahap kerja merupakan tahap konselor dan pekerja sosial melakukan kegiatan rehabilitasi terhadap residen dengan menggunakan terapi psikososial. Tahap terminasi merupakan tahap akhir dari kegiatan rehabilitasi dapat dilakukan dengan after care dan pemutusan program kegiatan. Hambatan dalam kegiatan rehabilitasi untuk kesembuhan residen adalah hambatan efek Napza dan tingkat pendidikan residen. Faktor pendorong residen untuk bisa pulih yaitu dari dalam diri residen sendiri dan hubungan residen dengan keluarga. | The rehabilitation process carried out by counselors and social workers for residents in BRSKP "Satria" is a form of therapeutic communication. Researchers used therapeutic communication at BRSKP "Satria". In addition, there is interpersonal communication that occurs between counselor and social workers with residents in the hall. This research was conducted to describe the therapeutic communication used to carry out rehabilitation activities at the "Satria" BRSKP. Furthermore, this study is used to determine the obstacles and the urge of residents to recover in relation to the rehabilitation process. Researchers used qualitative methods using data collection techniques using interviews, observation, and documentation. The results of this study describe the therapeutic communication stages of counselors and social workers towards residents in the social rehabilitation process which consists of several stages. The first stage is the pre-interaction stage which begins with the initial stage, namely outreach and data collection by residents at BRSKP. The orientation phase is carried out with the introduction of the resident with the counselor and social workers. Occurs in the observation room. The work phase is the stage of the counselor and social workers carrying out rehabilitation activities for residents using psychosocial therapy. Termination phase is the final stage of rehabilitation activities that can be done with aftercare and termination of the activity program. Obstacles in rehabilitation activities to cure residents are obstacles to the effects of drugs and the level of education of residents. Resident driving factors to be able to recover are from within the resident himself and the resident's relationship with the family. | |
| 23210 | 26447 | A1D015209 | PENGARUH BERBAGAI NILAI EC TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TIGA VARIETAS KAILAN (Brassica alboglabra) PADA SISTEM HIDROPONIK RAKIT APUNG | Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengkaji pengaruh pemberian EC yang berbeda terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kailan secara hidroponik rakit apung, (2) mengkaji varietas kailan yang memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik secara hidroponik rakit apung dan (3) mengkaji interaksi antara tingkat EC yang berbeda pada tiga varietas kailan secara hidroponik rakit apung. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2018 sampai bulan Februari 2019 di Screenhouse Pondok Pesantren Darul Qur’an Al-Karim, Desa Karangtengah, Purwokerto dan Laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian UNSOED, Purwokerto. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) yang tersusun secara faktorial menggunakan dua faktor percobaan, yakni nilai EC sebagai petak utama dan varietas kailan sebagai anak petak. Nilai EC terdiri dari tiga taraf perlakuan, yaitu EC 2,5 mS/cm, 3,5 mS/cm, dan 4,5 mS/cm, sedangkan taraf perlakuan pada anak petak terdiri dari tiga varietas, yaitu winsa, full white, dan new veg-gin. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, panjang akar, volume akar, kandungan klorofil, bobot tanaman segar, bobot tanaman kering, bobot akar segar, bobot akar kering, bobot tajuk segar dan bobot tajuk kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pemberian taraf EC 3,5 mS/cm memberikan hasil terbaik pada beberapa variabel pertumbuhan tanaman kailan, tetapi tidak berbeda nyata dengan EC 4,5 mS/cm, (2) Varietas new veg-gin merupakan varietas terbaik pada variabel tinggi tanaman luas daun, dan bobot tanaman segar, tetapi tidak berbeda dengan varietas full white pada variabel bobot tajuk segar, (3)Terdapat interaksi antara nilai EC dengan varietas Kailan terhadap bobot tanaman kering dan bobot tajuk kering. Nilai EC 3,5 mS/cm dan varietas new veg-gin merupakan kombinasi terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil Kailan.Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengkaji pengaruh pemberian EC yang berbeda terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kailan secara hidroponik rakit apung, (2) mengkaji varietas kailan yang memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik secara hidroponik rakit apung dan (3) mengkaji interaksi antara tingkat EC yang berbeda pada tiga varietas kailan secara hidroponik rakit apung. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2018 sampai bulan Februari 2019 di Screenhouse Pondok Pesantren Darul Qur’an Al-Karim, Desa Karangtengah, Purwokerto dan Laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian UNSOED, Purwokerto. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) yang tersusun secara faktorial menggunakan dua faktor percobaan, yakni nilai EC sebagai petak utama dan varietas kailan sebagai anak petak. Nilai EC terdiri dari tiga taraf perlakuan, yaitu EC 2,5 mS/cm, 3,5 mS/cm, dan 4,5 mS/cm, sedangkan taraf perlakuan pada anak petak terdiri dari tiga varietas, yaitu winsa, full white, dan new veg-gin. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, panjang akar, volume akar, kandungan klorofil, bobot tanaman segar, bobot tanaman kering, bobot akar segar, bobot akar kering, bobot tajuk segar dan bobot tajuk kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pemberian taraf EC 3,5 mS/cm memberikan hasil terbaik pada beberapa variabel pertumbuhan tanaman kailan, tetapi tidak berbeda nyata dengan EC 4,5 mS/cm, (2) Varietas new veg-gin merupakan varietas terbaik pada variabel tinggi tanaman luas daun, dan bobot tanaman segar, tetapi tidak berbeda dengan varietas full white pada variabel bobot tajuk segar, (3)Terdapat interaksi antara nilai EC dengan varietas Kailan terhadap bobot tanaman kering dan bobot tajuk kering. Nilai EC 3,5 mS/cm dan varietas new veg-gin merupakan kombinasi terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil Kailan. | This research aimed to (1) examine the effect of various EC (Electrical Conductivity) value towards growth and yield of Kailan plants in floating hydroponics system, (2) examine Kailan varieties that provide the best growth and yield in floating hydroponics system and (3) examine the interaction between different EC (Electrical conductivity) levels and Kailan varieties in floating hydroponics system. The research was conducted on December 2018 until February 2019 at the screenhouse of Darul Qur’an Al-Karim Islamic Boarding School, Karangtengah, Purwokerto and at the Agronomy and Horticulture Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. This research used a split-plot design factorial using two experimental factors, namely the EC value as the first factor (main plot) and Kailan varieties as the second factor (subplots). EC value consisted of three levels of treatment, namely EC 2,5 mS/cm, 3,5 mS/cm, and 4,5 mS/cm, while the subplots consisted of three varieties namely winsa, full white, and new veg-gin. The variables observed in this study were plant height, leaf number, leaf area, root length, root volume, chlorophyll content, fresh plant weight, dry plant weight, fresh root weight, dry root weight, fresh canopy weight, and dry canopy weight. The results showed that (1) EC 3,5 mS/cm gave the best results on Kailan’s growth and yield, but there was no difference with EC 4,5 mS/cm (2) New veg-gin gave the best response on plant height, leaf area, and fresh plant weight, , but there was no difference with full white varieties on fresh canopy weight (3) There was an interaction between EC value and varieties of Kailan on dry plant weight and dry canopy weight. EC 3,5 mS/cm and new veg-gin are the best combinations on Kailan’s growth and yield. | |
| 23211 | 26448 | K1B015045 | Semihipergrup Reguler | Pada artikel ini dibahas mengenai contoh semihipergrup reguler. Salah satu contoh dari semihipergrup reguler adalah himpunan bilangan asli yang dilengkapi dengan hiperoperasi yang mana hiperoperasi dari sembarang dua bilangan asli berupa bilangan asli yang lebih besar atau sama dengan maksimum dari kedua elemen tersebut. Selanjutnya, artikel ini membahas mengenai sifat-sifat semihipergrup reguler. Semihipergrup reguler mempunyai beberapa sifat yang antara lain sebagai berikut. Subsemihipergrup dari suatu semihipergrup reguler adalah semihipergrup reguler; dan hasil kali Cartesius dari dua semihipergrup reguler merupakan semihipergrup reguler. Selain itu, hipergrup pasti merupakan semihipergrup reguler. | This paper discusses some examples of regular semihypergroups. One of the example is the set of natural numbers endowed with an hyperoperation in which the hyperoperation of any two natural numbers yields natural numbers that are greater than or equal to the maximum of these two natural numbers. Further more, this paper also discusses some properties of regular semihypergroups. Regular semihypergroup has several properties as follows. A subsemihypergroup of a regular semihypergroup is a regular semihypergroup; and the Cartesian product of two regular semihypergroups is a regular semihypergroup. Furthermore, any hypergroup is a regular semihypergroup. | |
| 23212 | 28592 | C1C016050 | PENGARUH PERUBAHAN TARIF PAJAK, KONDISI KEUANGAN, MODERNISASI SISTEM PERPAJAKAN TERHADAP KEPATUHAN PERPAJAKAN DENGAN MOTIVASI MEMBUAT LAPORAN KEUANGAN SEBAGAI VARIABEL MODERASI | Pajak merupakan sumber pendapatan terbesar yang diterima oleh negara, tetapi dalam pelaksanaannya tax ratio di Indonesia masih sangat kecil dan kepatuhan pajak khususnya UKM di lingkungan Banyumas masih belum bisa mencapai target. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel perubahan tarif pajak, kondisi finansial, modernisasi sistem perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak UKM yang berada di Kabupaten Banyumas dengan motivasi membuat laporan keuangan sebagai variabel pemoderasi. Tipe penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode survey. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan convenience sampling serta analisis data menggunakan Analisis Regresi Berganda dan Moderrated Regression Analysis (MRA) pada SPSS versi 26. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan tarif pajak tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak UKM di Kabupaten Banyumas, namun kondisi keuangan dan modernisasi sistem perpajakan berpengengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak UKM di Kabupaten Banyumas. Selain itu, motivasi membuat laporan keuangan memoderasi pengaruh kondisi keuangan dan modernisasi sistem perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak UKM di Kabupaten Banyumas, namun motivasi membuat laporan keuangan tidak memoderasi pengaruh perubahan tarif pajak terhadap kepatuhan wajib pajak UKM di Kabupaten Banyumas. Kata kunci : Motivasi membuat laporan keuangan, perubahan tarif pajak, kondisi keuangan, modernisasi sistem perpajakan, kepatuhan wajib pajak UKM. | Tax is the largest source of income received by the state, but in its implementation the tax ratio in Indonesia is still very small and tax compliance, especially SMEs in the Banyumas environment has not been able to reach the target. This study aims to determine the effect of changes in tax rates, financial condition and modernization of the taxation system on MSME taxpayer compliance in Banyumas Regency with Motivation to make financial reports as a moderating variable. The type of this research is quantitative research using survey method. The selection of sample used was convinience sampling method, with amount 100 SMEs. In this research using primary data. Data collection is done by distributed questionnaires and analytical method used in this research is Multiple Regression Analsis and Moderrated Regression Analysis (MRA) in SPSS version 26. The result shows that changes in tax rate does not effect of SMEs Tax Compliance in Banyumas Regency, but financial condition and modernization of the taxation system has positive effect on SMEs taxpayer compliance in Banyumas Regency. In addition, the motivation to make financial reports moderated the effect of financial condition and modernization of the taxation system of SMEs taxpayer compliance in Banyumas Regency, but motivation to make financial reports did not moderate the effect of changes in tax rate on SMEs taxpayer compliance in Banyumas Regency. Keywords : motivation to make financial reports, changes in tax rate,financial condition, modernization of the taxation system, compliance with tax payers of SMEs. | |
| 23213 | 28784 | H1D013030 | KOMPARASI METODE PEMADATAN MANUAL, DENGAN VIBRATOR SERTA DAN TANPA PEMADATAN TERHADAP KUAT TEKAN SELF COMPACTING CONCRETE | Beton SCC (Self Compacting Concrete) adalah beton yang mampu mengalir sendiri yang dapat dicetak pada bekisting dengan tingkat pengunaan alat pemadat yang sangat sedikit atau bahkan tidak dipadatkan sama sekali. Beton ini, memanfaatkan pengaturan ukuran agregat, porsi agregat, dan van admixture superplastiziser untuk mecapai kekentalan khusus yang memungkinkannya mengalir sendiri tanpa alat pemadat. Pemadatan beton segar merupakan proses dalam pembuatan yang memiliki pengaruh pada kekuatan beton. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metode pemadatan terhadap kekuatan beton SCC. Benda uji yang digunakan adalah berbentuk silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm untuk pengujian kuat tekan dengan mutu beton yang di syaratkan adalah 20 MPa. Variasi pemadatan terdiri dari pemadatan manual sebanyak 30 sampel benda uji, pemadatan dengan vibrator 2 detik sebanyak 30 sampel benda uji, dan tanpa dilakukan pemadatan sebanyak 30 sampel benda uji. Pemadatan manual dilakukan dengan cara menusuk beton segar sebanyak 25 kali tusukan setiap lapisnya secara merata, sedangkan pemadatan menggunakan vibrator dengan cara memasukkan vibrator selama 2 detik. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemadatan menggunakan vibrator selama 2 detik lebih efisien terhadap beton dan tingkat kegagalan dalam pencapaian mutu beton lebih sedikit. Dari data uji kuat tekan beton dengan menggunakan Universal Testing Machine (UTM) serta hasil analisis berdasarkan PBI 1971 menunjukkan bahwa beton dengan pemadatan menggunakan vibrator 2 detik memiliki nilai kuat tekan karakteristik yang paling tinggi yakni 20,49 MPa, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa pemadatan menggunakan vibrator selama 2 detik memiliki efektifitas dan tingkat pencapaian mutu yang lebih baik. | COMBINATION OF MANUAL COMPETITION METHODS, WITH VIBRATORS AND WITHOUT NO COMPRESSION WITH THE COMPRESSIVE STRENGHT OF SELF COMPACTING CONCRETE SCC (Self Compacting Concrete) Concrete is a self-adhesive concrete that can be molded into fabric with very little or no compaction rate of compaction. This concrete utilizes aggregate size, aggregate portions, and van admixture superplastiziser to achieve a special flexibility that allows it to flow freely without the compressor. Fresh concrete compaction is a manufacturing process that has an impact on the strength of concrete. This study aimed to find out to compareof the compaction method on the strength of SCC concrete. The test material used is a cylinder with a diameter of 15 cm and a height of 30 cm for strong pressure testing with the required concrete quality of 20 MPa. Compaction variations consist of manual compaction of 30 test samples, 2-second vibrator compaction of 30 test samples, and no compaction of 30 test samples. Manual compaction is done by pruning fresh concrete 25 times each layer evenly, while compaction uses a vibrator by inserting a vibrator for 2 seconds. The results show that the 2-second vibrator compaction is more efficient on concrete and that the failure rate of concrete is less than that. From the concrete press test data using the Universal Testing Machine (UTM) as well as the results of the PBI 1971 analysis show that concrete with a 2-second vibrator compaction has the highest characteristic compressive strength of 20.49 MPa, so it can be concluded that the compaction using 2-second vibrators have better effectiveness and levels of performance. | |
| 23214 | 26406 | A1A015040 | IDENTIFIKASI TINGKAT KEPUASAN DAN LOYALITAS KONSUMEN MANISAN CARICA PADA CV YUASAFOOD BERKAH MAKMUR WONOSOBO | Manisan carica merupakan hasil olahan agroindustri unggulan di Kabupaten Wonosobo, hal tersebut menyebabkan semakin banyak bermunculan industri yang menghasilkan manisan carica, salah satunya adalah CV Yuasafood Berkah Makmur yang telah berdiri sejak tahun 2001. Meningkatnya persaingan industri pengolahan manisan carica di Wonosobo, menyebakan konsumen mudah berpindah ke produk manisan carica pada industri lain. CV Yuasafood Berkah Makmur perlu memahami perilaku konsumen terhadap produknya agar dapat mempertahankan konsumennya. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui tingkat kepuasan konsumen manisan carica pada CV Yuasafood Berkah Makmur, 2) mengetahui atribut apa saja yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan kepuasan konsumen manisan carica pada CV Yuasafood Berkah Makmur, dan 3) mengetahui tingkat loyalitas konsumen manisan carica pada CV Yuasafood Berkah Makmur. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 12 Februari sampai dengan 6 Maret 2019. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Jumlah konsumen yang dijadikan responden sebanyak 80 orang, yang penentuannya menggunakan metode purposive sampling. Alat analisis yang digunakan adalah Customer Satisfaction Index (CSI), Importance Performance Analysis (IPA), dan Piramida Loyalitas. Hasil penelitian menunjukkan: 1) tingkat kepuasan konsumen manisan carica di Toko Yuasafood sebesar 82,12 persen, nilai tersebut berada pada kriteria “sangat puas”. 2) atribut yang perlu diperbaiki yaitu promosi, kesigapan pramuniaga dalam melayani, dan penanganan keluhan konsumen. 3) tingkat loyalitas konsumen manisan carica di Toko Yuasafood dianggap sudah loyal, karena persentase committed buyer lebih besar dibandingkan dengan switcher buyer. | Sweets carica is a product of the best agro-industry in Wonosobo Regency, this has led to emerging more and more industries that produce sweets carica, one of the company known as CV Yuasafood Berkah Makmur has been established since 2001. Increasing competition for the sweets carica processing industry in Wonosobo, has caused consumers to easly move to other industrial sweets carica. CV Yuasafood Berkah Makmur needs to understand consumer behavior towards their products in order to be able to maintain their customers. This research aims to: 1) know the level of consumer satisfaction of sweets carica on CV Yuasafood Berkah Makmur, 2) know the kind of attributes that is needed to be improved to increase the consumer satisfaction of sweets carica at CV Yuasafood Berkah Makmur, and 3) know the level of consumer loyalty at CV Yuasafood Berkah Makmur. This research was conducted in February 12th until March 6th 2019. The research method used is survey method. The number of consumers used as respondents was 80 people, using purposive sampling method. The analytical tools used are Customer Satisfaction Index (CSI), Importance Performance Analysis (IPA), and Loyalty Pyramid. The results of the study shown: 1) the level of consumer satisfaction for sweets carica at Yuasafood store was 82,12 percent, the value was at criteria of very satisfied. 2) the attributes that must be improved, namely promotion, alertness of salespeople in serving, and handling consumer complaints. 3) the consumer loyalty level of sweets carica in Yuasafood store is considered to be loyal, because the percentage of committed buyers is greater than the switcher buyer. | |
| 23215 | 28896 | F2C018001 | Strategi Manajemen Brand Ambassador Artis pada Industri Kuliner di Purwokerto | Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimanastrategi manajemen menggunakan Brand Ambassador artis komedian Sule Sutisna berhasil mendorong kemajuan industri kuliner di Purwokerto, Jawa Tengah. Studi menempatkan Rumah Makan “Parte Ceker Rempah” milik Sule sebagai subyek penelitian dan konsumen bersama manajemen rumah makan itu sebagai informan penelitian. Sampel diambil menggunakan purposive sampling, yakni memilih informan yang mengetahui permasalahan. Analisa menggunakan analisis interaktif, meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Trend penggunaan Brand Ambassador artis Sule Sutikna dinilai tepat dari sisi pengelolaan manajemen rumah makan. Hasil penelitian dengan menggunakan metode SWOT menyatakan, strategi manajemen reputasi pada industri kuliner menggunakan brand ambassador berhasil menarik minat konsumen untuk berkunjung ke rumah maka “Parte Ceker Rempah” yang berujung pada peningkatan profit usaha setiap bulannya. Kata Kunci: Brand Ambassador, Industri kuliner, Manajemen Reputasi, Komedian, Ceker Rempah | Abstract The purpose of this study was to determine how the management strategy using Brand Ambassador comedian artist Sule Sutisna succeeded in encouraging the advancement of the culinary industry in Purwokerto, Central Java. The study places Sule's "Parte Ceker Rumbu" restaurant as a research subject and the consumer together with the restaurant management as a research informant. Samples were taken using purposive sampling, which is selecting informants who know the problem. Analysis uses interactive analysis, including data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The trend of using Brand Ambassador artist Sule Sutikna is judged right in terms of restaurant management. The results of the research using the SWOT method state that the reputation management strategy in the culinary industry using brand ambassadors has succeeded in attracting consumers to visit the home then "Parte Ceker R Spice" which leads to an increase in business profit every month. Keywords: Brand Ambassador, Culinary Industry, Reputation Management, Comedians, Chicken feet spices | |
| 23216 | 28941 | I1C015078 | Pengaruh Pemberian Edukasi kepada Pengawas Menelan Obat terhadap Peningkatan Kepatuhan Minum Obat Pasien Tuberkulosis Paru di Balai Kesehatan Paru Masyarakat kabupaten Banyumas | Abstrak Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) Paru adalah penyakit menular yang membutuhkan pengobatan jangka panjang. Ketidakpatuhan dalam meminum obat anti-tuberkulosis (OAT) dapat mengakibatkan kegagalan pengobatan. Salah satu strategi untuk meningkatkan kepatuhan adalah dengan pengawasan langsung menelan obat. Pengawas menelan obat (PMO) berperan untuk memotivasi pasien agar tetap patuh terhadap pengobatannya, sehingga PMO perlu diberikan edukasi mengenai TB Paru, serta tugas dan peranannya terhadap pasien. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian edukasi kepada PMO terhadap peningkatan kepatuhan minum obat pasien TB Paru di Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) kabupaten Banyumas. Metode: Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan desain prospektif two group pre-test/post-test (true experimental). Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling sesuai kriteria inklusi. Pengawas menelan obat pada kelompok intervensi diberikan modul dan edukasi selama 2 bulan penelitian oleh peneliti. Pengukuran kepatuhan minum obat pasien TB Paru dilakukan sebelum dan sesudah edukasi menggunakan kuesioner Medication Adherence Rating Scale (MARS-10). Hasil: Sampel pada penelitian ini adalah 11 pasien kelompok kontrol dan 11 pasien kelompok intervensi. Hasil uji Wilcoxon terhadap skor post-test antara kedua kelompok menunjukkan perbedaan kepatuhan minum obat yang signifikan secara statistik (=0,003; <0,05). Kesimpulan: Pemberian edukasi kepada pengawas menelan obat berpengaruh terhadap peningkatan kepatuhan minum obat pasien tuberkulosis paru di Balai Kesehatan Paru Masyarakat kabupaten Banyumas. Kata kunci: Tuberkulosis, Edukasi, Pengawas Menelan Obat, Kepatuhan, MARS | Abstract Background: Tuberculosis (TB) is a contagious disease that needs long-term medication, thus non-adherence on taking anti-tuberculosis medicine (OAT) would result in medication failure. One of the strategies to increase adherence was by providing direct supervision on taking the medicines. Treatment observers (PMO) play an important role in motivating patients to take medicine with responsibility, therefore it is crucial to educate PMOs on tuberculosis and their duties as treatment observes to the patients. Objectives: Understanding the impacts of educating PMOs to the improvement of tuberculosis patients’ medication adherence in Banyumas Region Pulmonary Health Center (BKPM) Methods: This research was an experimental study with prospective design of two group pre-test/post-test (true experimental). Samples were obtained using total sampling techniques in accordance with the criteria of inclusion. The PMOs of intervention groups were given modules and education for 2 months period of research by the researcher, and the measurements of tuberculosis patient’s medication adherence were conducted before and after the educational means using Medication Adherence Rating Scale (MARS-10) questionnaire. Results: Samples of this study were 11 control group patients and 11 intervention group patients. The Wilcoxon test result on post-test score between the two groups shows that there was a statistically significant distinction of tuberculosis patients’ medication adherence (=0,003; <0,05). Conclusion: Educating PMOs has significant impact on tuberculosis patients’ medication adherence in Banyumas Region Pulmonary Health Center (BKPM). Keywords: Tuberculosis, Education, Treatment Observer, Adherence, MARS | |
| 23217 | 26430 | K1C015063 | INTERPRETASI SEBARAN PASIR BESI MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS KONFIGURASI DIPOLE DIPOLE DI DAERAH PROSPEK PASIR BESI DESA PAGUBUGAN KABUPATEN CILACAP | Pasir besi adalah salah satu hasil dari sumber daya alam yang ada di Indonesia dan merupakan bahan utama atau bahan baku yang banyak memiliki peranan penting bagi perkembangan dunia industri. Penelitian tentang interpretasi sebaran pasir besi menggunakan metode geolistrik tahanan jenis (resistivitas) di Desa pagubugan Kabupaten Cilacap dilakukan untuk mengetahui persebaran dan kedalaman pasir besi di daerah penelitian, serta untuk mengetahui struktur lapisan bawah permukaan di daerah penelitian. Konfigurasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah konfigurasi dipole-dipole sebanyak tiga lintasan dengan masing-masing bentangan 200 meter. Hasil pengolahan data dan interpretasi menggunakan software Res2dinv menunjukan bahwa daerah penelitian terdiri dari empat lapisan yang diindikasi terdiri dari lapisan pasir berselingan dengan lanau, kerikil dan kerakal dengan nilai resistivitas berkisar >28,3 – >43,4 ohm meter, lapisan pasir besi dengan nilai resistivitas berkisar 20,1 – 43,4 ohm meter, lapisan lempung pasiran dengan nilai resistivitas berkisar 10,1 –26,0 ohm meter dan lapisan Pasir dengan nilai resistivitas berkisar 5,10 –15,5 ohm meter. Pasir besi pada daerah penelitian tersebar merata di semua lintasan. Pasir besi pada daerah penelitian diduga berada pada lapisan kedua dengan kedalaman 10,9 – 15 meter. | Iron sand is one of the results of natural resources in Indonesia and is the main ingredient or raw material that has an important role for the development of world industry. Research on interpretation of sand distribution using resistivity geoelectric methods in Pagubugan Village Cilacap Regency was conducted to determine the distribution and increase of sand in the study area, as well as for research related to research in the field of research. The configuration used in this study is dipole-dipole configuration of three tracks with each stretch of 200 meters. The results of data processing and interpretation using Res2dinv software showed that the study area consisted of four layers indicated to consist of layers of sand with silt, gravel and crust with resistivity values ranging from> 28.3 -> 43.4 Ωm, iron sand layers with values resistivity ranging from 20.1 - 43.4 Ωm, sandy clay layers with resistivity values ranging from 10.1 - 26.0 Ωm and Sand layers with resistivity values ranging from 5.10 - 15.5 Ωm. Iron sand in the study area is spread evenly on all tracks. Iron sand in the study area is thought to be in the second layer with a depth of 10.9 - 15 meters. | |
| 23218 | 26433 | K1A015063 | Optimasi Sintesis N-metil kitosan dan Uji Aktivitasnya sebagai Antimikroba | N-metil kitosan merupakan senyawa turunan kitosan yang bersifat polikationik dan memiliki kemampuan dalam merusak dinding sel pada mikroba. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan sintesis N-metil kitosan dan mengetahui aktivitas antimikroba. Sintesis N-metil kitosan pada penelitian ini dilakukan melalui reaksi reduksi aminasi dengan menggunakan larutan formaldehid yang divariaskan berdasarkan mol formaldehid dan variasi temperatur reaksi. Variasi N-metil kitosan hasil sintesis, dilakukan uji aktivitas antimikroba terhadap bakteri S.aureus dan E.coli serta pada C.albicans. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zona hambat N-metil kitosan pada bakteri S. aureus dan E. coli serta pada jamur C. albicans memiliki zona hambat yang lebih besar dibandingkan dengan kitosan. Hasil KHM dan KBM menunjukkan bahwa konsentrasi yang menunjukkan penghambatan dan bunuh minimum N-metil kitosan lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi pada kitosan. | N-methyl chitosan is a polycationic chitosan derivative compound and has the ability to damage cell walls in microbes. This study aims to synthesize N-methyl chitosan and determine antimicrobial activity. The synthesis of N-methyl chitosan in this research was carried out through the amination reduction reaction using formaldehyde solution which was varied based on moles of formaldehyde and the temperature variation of the reaction. Variation of N-methyl chitosan which was synthesized, was tested for antimicrobial activity against S. aureus and E. coli bacteria and C.albicans. The results showed that the inhibitory zone of N-methyl chitosan in S. aureus and E. coli bacteria and in C. albicans fungi had a greater inhibition zone than chitosan. The results of KHM and KBM showed that the concentration that showed minimum inhibition and killing of N-methyl chitosan was lower than the concentration in chitosan. | |
| 23219 | 26434 | F1B015025 | PROSES KOLABORASI ANTARA KELOMPOK SWADAYA MASYARAKAT DENGAN DINAS LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN BANYUMAS DALAM PENGELOLAAN SAMPAH | Pengelolaan sampah merupakan salah satu upaya untuk menyelsaikan permasalahan sampah yang ada di Kabupaten Banyumas dengan cara pilah sampah, manfaatkan dan musnahkan sisanya yang melibatkan semua elemen masyarakat dan pemerintah. Oleh karena itu, dibentuklah kolaborasi antara Kelompok Swadaya Masyarakat dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas untuk melakukan pengelolaan sampah. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Penelitian ini dilakukan di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas dan lima KSM yang berada di Kelurahan Karangwangkal, Sumampir, Purwanegara, Purwokerto Wetan dan Berkoh. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukan bahwa Kolaborasi antara Kelompok Swadaya Masyarakat dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas belum berjalan optimal dalam menyelesaikan masalah yang ada. Tahapan-tahapan dalam proses kolaborasi telah dilakukan mulai dari dialog tatap muka, membangun kepercayaan Kemudian tahapan berkomitmen dalam proses, saling memahami dan hasil sementara yang dirasakan berupa hasil negatif dan positif. | Waste management is one of the efforts to solve the waste problem in Banyumas Regency by sorting waste, using it and destroying the rest that involves all elements of society and government. Therefore, collaboration was formed between the Non-Governmental Organizations and the Banyumas District Environmental Agency to manage waste. The research method used in this study is a qualitative method. This research was conducted at the Environmental Service Office of Banyumas Regency and five Self-Help Groups located in Karangwangkal, Sumampir, Purwanegara, Purwokerto Wetan and Berkoh Sub-Districts. Data analysis method used is an interactive analysis method. The results showed that the Collaboration between Self-Help Groups and the Banyumas District Environmental Office had not been running optimally in solving existing problems. The stages in the collaboration process have been carried out starting from face-to-face dialogue, building trust Then the stages are committed in the process, mutual understanding and the temporary results felt in the form of negative and positive results. | |
| 23220 | 26436 | I1I017012 | Hubungan Tingkat Kecukupan Energi, Protein, Seng dan Riwayat Penyakit Infeksi dengan Stunting pada Balita di Puskesmas Tumbang Sangai Kalimantan Tengah | Abstrak HUBUNGAN TINGKAT KECUKUPAN ENERGI, PROTEIN, SENG DAN RIWAYAT PENYAKIT INFEKSI DENGAN STUNTING PADA BALITA DI PUSKESMAS TUMBANG SANGAI KALIMANTAN TENGAH Fricha Andalina, Yovita Puri Subardjo, Atikah Proverawati Latar Belakang : Stunting merupakan masalah pertumbuhan dan perkembangan balita yang termasuk indikator malnutrisi kronis. Faktor langsung yang berhubungan dengan stunting yaitu asupan makanan dan penyakit infeksi. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan tingkat kecukupan antara energi, protein, seng dan riwayat penyakit infeksi dengan stunting pada balita. Metodologi : Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Sebanyak 73 sampel dipilih secara cluster random sampling. Pengambilan data tingkat kecukupan energi, protein dan seng menggunakan metode SQ-FFQ dan data riwayat penyakit infeksi menggunakan kuesioner penelitian. Hubungan antar variabel dianalisis menggunakan uji Chi Square (p value < 0,05). Hasil Penelitian : 43,8% balita termasuk dalam kategori stunting. Tingkat kecukupan energi, protein dan seng berada dalam kategori kurang, masing-masing sebesar 50,8%, 65,4%, 66,7%. Balita yang sering mengalami riwayat penyakit infeksi ISPA sebesar 15,1% dan diare sebesar 76,5%. Ada hubungan antara tingkat kecukupan energi (p= 0,002), protein (p= 0,012), seng (p= 0,006), riwayat penyakit diare (p= 0,005), dan tidak terdapat hubungan riwayat penyakit ISPA dengan kejadian stunting (P= 0,194). Kesimpulan : Terdapat hubungan antara tingkat kecukupan energi, protein, seng dan riwayat penyakit diare dengan kejadian stunting, namun tidak terdapat hubungan riwayat penyakit ISPA dengan kejadian stunting. Kata Kunci : Energi, protein, riwayat penyakit infeksi, seng, stunting | Abstract CORRELATION ADEQUACY LEVELS OF ENERGY, PROTEIN, ZINC, AND HISTORY OF INFECTION DISEASES WITH STUNTING IN CHILDREN TUMBANG SANGAI HEALTH CENTER CENTRAL KALIMANTAN Fricha Andalina, Yovita Puri Subardjo, Atikah Proverawati Background : Stunting is growth and development issue and also an indicator of chronic malnutrition. The direct factors associated with stunting are food intake and infectious diseases. This study aimed to determine the correlation between the adequacy level of energy, protein, zinc and a history of stunting infectious disease in children. Methodology : The study used an observational study design with cross sectional approach. A total of 73 samples were selected by cluster random sampling. The energy, protein and zinc level data were collected by the SQ-FFQ method and infectious disease history data by questionnaire. The correlation between variables was analyzed using Chi Square test (p value <0.05). Results : 43.8% of children under five were included in the stunting category. The adequacy level of energy, protein and zinc is in the less category, each at 50.8%, 65.4%, 66.7%. Children who often experience a history of Acute Respiratory Infection were 15.1% and diarrhea was 76.5%. There was a correlation of between the adequacy level of energy (p= 0.002), protein (p= 0,012), zinc (p= 0,006), history of diarrheal disease (p= 0.005) with the incidence of stunting and was no correlation between the history of Acute Respiratory Infection and the incidence of stunting Conclusion : there was a correlation of between the adequacy level of energy, protein, zinc and history of diarrheal disease with the incidence of stunting, but there is no correlation between the history of Acute Respiratory Infection and the incidence of stunting. Keywords : Energy, protein, history of infectious diseases, zinc, stunting |